Film, Resensi

Antara Luka, Algoritma, dan Kebencian

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

Judul               : Inside the Manosphere 

Produser          : Louis Theroux

Tema utama     : Dinamika komunitas “manosphere”, maskulinitas modern, relasi gender, dan pengaruh media digital

Tahun rilis       : 2024

Tahun tayang  : 2026

Pemeran          : Anggota komunitas manosphere, akademisi, jurnalis, dan pengamat sosial

Film dokumenter Inside the Manosphere menghadirkan potret yang tajam sekaligus menggelisahkan tentang sebuah ekosistem digital yang selama ini sering luput dari perhatian publik luas, tetapi memiliki dampak sosial yang nyata. Disutradarai dengan pendekatan observasional yang kuat, film ini membawa penonton menyelami dunia “manosphere”; sebuah istilah yang merujuk pada komunitas online yang berisi berbagai kelompok pria dengan pandangan tertentu tentang maskulinitas, hubungan, dan posisi laki-laki dalam masyarakat modern.

Alih-alih sekadar menjadi tontonan sensasional, film ini berusaha memahami, mengurai, dan sekaligus mengkritisi dinamika yang berkembang di dalamnya. Sejak awal, film dokumenter ini tidak langsung menghakimi. Narasinya dibangun perlahan, dimulai dari pengenalan tentang bagaimana komunitas ini terbentuk dan berkembang di ruang digital. Penonton diperlihatkan forum-forum, kanal video, hingga ruang diskusi anonim yang menjadi tempat berkumpulnya individu dengan keresahan yang beragam.

Ada yang merasa terpinggirkan secara sosial, ada yang kecewa dalam relasi personal, dan ada pula yang mencari identitas diri di tengah perubahan norma gender yang semakin kompleks. Film ini dengan cermat menunjukkan bahwa di balik label kontroversial tersebut, terdapat manusia dengan latar belakang yang tidak seragam. Kekuatan utama film ini terletak pada cara ia memberi ruang bagi berbagai suara.

Beberapa tokoh yang diwawancarai diberi kesempatan untuk menjelaskan pandangan mereka tanpa interupsi yang berlebihan. Mereka berbicara tentang pengalaman pribadi, kegagalan, hingga rasa frustrasi yang kemudian membentuk cara pandang mereka terhadap dunia. Pendekatan ini membuat film terasa lebih jujur, meskipun di saat yang sama juga memunculkan ketegangan bagi penonton yang mungkin tidak sepakat dengan pandangan yang disampaikan.

Di sinilah letak keberanian film ini: ia tidak menyederhanakan persoalan menjadi hitam-putih. Namun, Inside the Manosphere tidak berhenti pada tahap eksplorasi. Secara perlahan, film ini mulai mengungkap sisi gelap dari komunitas tersebut. Beberapa bagian menyoroti bagaimana narasi tertentu dapat berkembang menjadi bentuk kebencian, terutama terhadap perempuan. Retorika yang awalnya berangkat dari pengalaman pribadi kemudian berkembang menjadi generalisasi yang berbahaya.

Film ini memperlihatkan bagaimana algoritma media sosial turut berperan dalam memperkuat echo chamber, sehingga pandangan ekstrem menjadi semakin sulit untuk ditantang dari dalam. Salah satu momen paling kuat dalam film ini adalah ketika narasi personal bertabrakan dengan realitas sosial yang lebih luas.

Ada adegan di mana seorang narasumber menceritakan perasaannya yang terisolasi, lalu dipotong dengan analisis dari ahli yang menjelaskan bagaimana perasaan tersebut dapat dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan ideologi yang lebih radikal. Kontras ini menciptakan efek yang menggugah: penonton diajak untuk melihat bahwa persoalan ini bukan hanya tentang individu, tetapi juga tentang sistem yang memungkinkan ide-ide tersebut berkembang.

Dari segi sinematografi, film ini menggunakan gaya yang sederhana namun efektif. Banyak adegan diambil dari layar komputer, rekaman percakapan online, dan dokumentasi kehidupan sehari-hari para narasumber. Pendekatan ini memberikan kesan autentik, seolah penonton benar-benar masuk ke dalam ruang privat yang selama ini tersembunyi.

Tidak ada dramatisasi berlebihan; justru kesederhanaan visual inilah yang membuat pesan film terasa lebih kuat. Musik latar yang digunakan juga minimalis, berfungsi sebagai penguat suasana tanpa mendominasi emosi penonton. Selain itu, struktur naratif film ini patut diapresiasi. Alih-alih mengikuti alur linear yang kaku, film ini bergerak secara tematik.

Setiap bagian membahas aspek berbeda dari manosphere, mulai dari asal-usul, dinamika internal, hingga dampaknya terhadap dunia nyata. Perpindahan antar segmen dilakukan dengan halus, sehingga meskipun topiknya kompleks, penonton tetap dapat mengikuti alur pemikiran yang dibangun. Penyuntingan yang rapi membantu menjaga ritme film agar tidak terasa membosankan.

Yang menarik, film ini juga menghadirkan perspektif dari pihak luar komunitas, termasuk akademisi, jurnalis, dan aktivis. Kehadiran mereka memberikan konteks yang lebih luas, sekaligus menjadi penyeimbang terhadap narasi dari dalam komunitas. Mereka membahas fenomena ini dari sudut pandang sosial, psikologis, hingga politik.

Diskusi ini memperkaya pemahaman penonton, sekaligus menegaskan bahwa fenomena manosphere tidak bisa dilepaskan dari perubahan sosial yang lebih besar, seperti pergeseran peran gender dan krisis identitas di era modern. Meski demikian, film ini tidak sepenuhnya bebas dari kekurangan.

Dalam beberapa bagian, penjelasan yang diberikan terasa terlalu padat, sehingga berpotensi membuat penonton kewalahan. Ada juga momen di mana film seolah ingin menyampaikan terlalu banyak hal sekaligus, sehingga fokusnya sedikit terpecah. Beberapa penonton mungkin juga merasa bahwa film ini kurang memberikan solusi konkret, karena lebih banyak berfungsi sebagai refleksi daripada panduan.

Kendati demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai penting film ini secara keseluruhan. Justru, ketidaklengkapan jawaban yang ditawarkan menjadi kekuatan tersendiri, karena mendorong penonton untuk berpikir lebih jauh. Film ini tidak memaksa kesimpulan, melainkan membuka ruang diskusi. Dalam konteks isu yang kompleks seperti ini, pendekatan tersebut terasa lebih relevan dibandingkan penyederhanaan yang berlebihan.

Salah satu aspek yang patut dicatat adalah bagaimana film ini memperlakukan empati. Di satu sisi, ia berusaha memahami individu-individu di dalam komunitas tersebut tanpa menghakimi secara langsung. Di sisi lain, ia tetap tegas dalam mengkritisi ide-ide yang berpotensi merugikan orang lain. Keseimbangan ini tidak mudah dicapai, tetapi film ini berhasil melakukannya dengan cukup baik. Penonton diajak untuk melihat manusia di balik ideologi, tanpa harus menerima ideologi tersebut.

Dampak emosional film ini juga cukup kuat. Ada rasa tidak nyaman yang sengaja dibiarkan mengendap, terutama ketika penonton menyadari bahwa fenomena yang ditampilkan bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Internet, yang selama ini dianggap sebagai ruang bebas, ternyata juga dapat menjadi tempat berkembangnya ide-ide yang problematis. Film ini mengingatkan bahwa apa yang terjadi di dunia digital memiliki konsekuensi nyata di dunia fisik.

Secara keseluruhan, Inside the Manosphere adalah dokumenter yang penting dan relevan dengan kondisi sosial saat ini. Ia berhasil mengangkat topik yang sensitif dengan pendekatan yang cermat dan seimbang. Film ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mengajak penonton untuk merenung tentang hubungan antara teknologi, identitas, dan dinamika sosial. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, film ini layak menjadi bahan diskusi, baik di kalangan akademisi maupun masyarakat umum.

Kekuatan terbesar film ini terletak pada kemampuannya untuk membuka percakapan. Ia tidak menawarkan jawaban yang mudah, tetapi justru mengajak penonton untuk bertanya: bagaimana kita memahami perubahan yang terjadi di sekitar kita? Bagaimana kita merespons perasaan keterasingan yang dialami sebagian orang tanpa membiarkannya berkembang menjadi kebencian? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana kita menciptakan ruang dialog yang lebih sehat di tengah perbedaan pandangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak langsung terjawab setelah menonton film ini, tetapi justru di situlah nilai utamanya. Inside the Manosphere bukan sekadar film yang ditonton lalu dilupakan, melainkan pengalaman yang memicu refleksi jangka panjang. Ia menantang penonton untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga bagian dari solusi.

____________________

T.H. Hari Sucahyo. Penikmat Film Layar Kaca dan Layar Lebar.  Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

Cerpen

Kamar Belakang

Cerpen Erna Surya

Aku tidak pernah mengunci pintu kamar belakang. Istriku yang memintanya. Katanya supaya udara tetap masuk. Katanya supaya tidak lembap. Katanya supaya tidak seperti gudang. Padahal memang itu gudang.

Sebelum anak itu datang, ruangan itu hanya berisi kardus bekas, kipas rusak, dan koper lama yang tidak pernah kami buka lagi sejak pindah rumah. Setelah anak itu datang, semua barang kami keluarkan. Kami bersihkan lantainya. Kami beli kasur tipis. Kami tidak beli lemari. Anak itu tidak punya banyak barang.

Namanya Damar. Umurnya sembilan tahun waktu pertama kali datang. Anak dari adik istriku. Orang tuanya kecelakaan motor di jalan provinsi. Mati di tempat. Tidak ada yang mau mengurusnya.

“Kita saja,” kata istriku waktu itu. Aku tidak langsung jawab.

Aku hanya melihat foto anak itu yang dikirim lewat WhatsApp. Kulitnya gelap. Matanya kosong. Seperti tidak sedang melihat siapa pun.

“Kita tidak punya anak,” kata istriku lagi. Aku tetap tidak jawab.

Dua minggu kemudian, anak itu sudah tidur di kamar belakang.

***

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Damar bangun pagi, makan, duduk, kadang membantu Rani, istriku, di dapur kalau diminta. Dia tidak pernah meminta sesuatu. Tidak pernah rewel. Tidak pernah mengganggu.

Aku memperhatikannya dari jauh. Cara dia berjalan, cara dia duduk, cara dia menatap sesuatu. Ada yang tidak pas. Tapi aku tidak bisa menjelaskannya dengan tepat. Seolah-olah dia tidak benar-benar hadir.

Suatu malam, aku bangun karena ingin ke kamar mandi. Rumah gelap. Lampu di ruang tengah mati. Tapi dari arah kamar belakang, ada cahaya. Pintunya terbuka sedikit.

Aku mendekat tanpa suara. Dari celah itu aku melihat Damar duduk di lantai. Dia tidak memakai baju. Hanya celana pendek. Tubuhnya kurus. Tulang bahunya menonjol. Dia tidak bergerak. Tidak sedang bermain. Tidak sedang melakukan apa pun. Hanya duduk.

Aku berdiri di sana beberapa detik, menunggu dia menyadari keberadaanku. Tapi dia tidak menoleh. Tidak bereaksi. Seolah-olah aku tidak ada. Akhirnya aku kembali ke kamar.

Aku tidak menceritakan itu kepada Rani.

Beberapa hari kemudian, aku kehilangan uang. Tidak banyak. Seratus ribu. Tapi aku yakin aku menyimpannya di dompet. Aku bukan tipe orang yang ceroboh soal uang. Aku tidak langsung menuduh,hanya mencoba memastikan.

Saat makan malam, aku bertanya dengan nada biasa.

“Damar, kamu ambil uang Om?”

Dia menggeleng. “Tidak.”

Jawabannya cepat. Tidak ragu. Aku melihat matanya. Tetap datar. Tidak ada perubahan.

Rani langsung menyela. “Ngapain kamu nuduh anak kecil?”

“Aku cuma tanya.”

“Ya jangan begitu.”

Nada suaranya berubah. Lebih tajam. Aku tidak melanjutkan.

Malamnya, aku masuk ke kamar belakang saat Damar sudah tidur. Aku membuka tas kecilnya pelan-pelan. Tidak ada banyak barang di dalamnya. Dua baju, satu celana, dan sebuah plastik kecil. Di dalam plastik itu ada uang. Lebih dari yang hilang dariku. Aku menutup tas itu kembali tanpa mengambil apa pun, lalu keluar tanpa suara.

Sejak itu, aku mulai lebih sering memperhatikan. Damar sering bangun malam. Tidak selalu, tapi cukup sering untuk membuatku sadar itu bukan kebetulan. Kadang dia duduk seperti yang kulihat sebelumnya. Kadang berdiri di dekat pintu. Kadang menghadap ke sudut ruangan. Dia tidak pernah menangis. Tidak pernah mengeluh. Rani tetap menganggap semuanya normal.

“Anak trauma memang begitu,” katanya suatu kali ketika aku menyinggungnya.

Aku tidak yakin dia benar. Tapi aku juga tidak ingin berdebat.

***

Suatu sore, aku pulang lebih cepat dari biasanya. Rumah sepi. Rani belum pulang kerja. Aku meletakkan tas di ruang tengah dan langsung menuju dapur. Tapi langkahku berhenti ketika melihat pintu kamar belakang terbuka.

Aku mendekat. Damar ada di dalam. Dia sedang memegang ponsel. Aku justru baru tahu kalau Damar punya ponsel. Dia menatap layar dengan serius. Jarinya bergerak pelan. Membuka sesuatu. Lalu berhenti.

“Ngapain?”

Suaraku membuatnya kaget. Ponsel itu jatuh ke lantai. “Tidak apa-apa,” katanya cepat.

Aku mengambil ponsel itu. Layar masih menyala. Ada foto. Foto Rani. Tanpa pakaian. Tanganku tiba-tiba gemetar. Aku tidak tahu kapan foto itu diambil.  Aku menatap Damar.

“Apa ini maksudnya?”

Dia tidak menjawab. Aku mendekat. Memegang lengannya.

“Kamu ngerti ini apa?”

Dia tetap diam. Tanganku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Aku menamparnya. Tidak terlalu keras. Tapi cukup membuatnya jatuh ke samping. Dia tidak menangis. Tidak berteriak. Dia hanya menatapku. Tatapannya tetap sama seperti pertama kali aku melihatnya di foto. Kosong.

Malam itu, aku menceritakan semuanya kepada Rani. Aku pikir dia akan marah kepada Damar. Ternyata tidak. Dia marah kepadaku.

“Kamu mukul anak kecil?”

“Dia punya ponsel!”

“Terus?”

“Ada foto kamu di situ.”

“Terus kamu mukul dia?”

Aku tidak punya jawaban yang bisa dia terima. Rani berdiri dan pergi ke kamar belakang. Aku tidak ikut.

Dari ruang tengah, aku mendengar suaranya pelan. Seperti sedang menenangkan seseorang. Aku tidak mendengar suara Damar. Itu membuatku lebih tidak nyaman.

***

Sejak malam itu, sesuatu berubah. Pintu kamar belakang mulai dikunci. Bukan olehku. Oleh Rani. Dari luar.

Aku tidak pernah melihat langsung kapan dia menguncinya. Tapi setiap malam, setelah Damar masuk, pintu itu tertutup dan tidak bisa dibuka dari dalam. Aku sempat bertanya sekali.

“Kenapa dikunci?”

Rani menjawab singkat. “Supaya dia tidak keluar malam-malam.”

Aku tidak membantah. Aku juga tidak setuju. Aku hanya diam.

Damar tidak keluar lagi dari kamar itu. Makanannya diantar. Air minumnya diantar. Kadang Rani masuk sebentar, lalu keluar lagi. Aku jarang pergi ke kamar belakang. Hanya sesekali, saat pintu terbuka, aku bisa melihat bayangan tubuhnya di dalam.

Hari-hari selanjutnya, rumah tetap berjalan seperti biasa. Kami tetap bekerja. Tetap makan bersama, meski sekarang hanya berdua. Tidak ada pembicaraan tentang apa yang sedang terjadi. Seolah-olah kami sepakat untuk tidak menyentuhnya.

Beberapa hari kemudian, bau mulai muncul. Awalnya samar. Aku pikir dari saluran air. Rani bilang mungkin dari luar. Kami tidak terlalu memikirkannya. Tapi bau itu tidak hilang. Justru semakin kuat. Aku mulai merasa tidak nyaman setiap kali melewati lorong menuju kamar belakang.

Suatu sore, aku berhenti di depan pintu itu. Pintunya tertutup. Terkunci. Aku mengetuk pelan.

“Damar.”

Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi. Tetap tidak ada suara. Aku melihat Rani yang berdiri di ruang tengah.

“Kamu buka!” kataku.

Dia tidak bergerak.

Aku mendekat padanya.

“Kamu buka sekarang!”

Dia tetap diam. Aku tidak menunggu lagi. Aku mengambil kunci yang tergantung di dekat dapur. Tanganku sedikit gemetar saat memasukkannya ke lubang kunci. Aku memutarnya perlahan.

Pintu terbuka.

Bau itu langsung keluar. Lebih kuat dari sebelumnya. Aku tidak masuk. Aku hanya berdiri di ambang pintu. Rani berdiri di belakangku. Aku bisa merasakan napasnya. Kami tidak bicara.

Tidak ada yang bergerak. Aku menutup pintu itu kembali. Perlahan.

***

Malam itu, kami tetap tidur seperti biasa. Lampu dimatikan. Tidak ada percakapan. Tidak ada keputusan. Kami berbaring di tempat tidur masing-masing, menghadap arah yang berbeda. Aku tidak tahu apakah Rani tidur. Aku sendiri tidak benar-benar tidur.

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal. Rumah masih sunyi. Aku berpakaian tanpa suara. Saat hendak keluar, aku berhenti di lorong. Melihat ke arah kamar belakang. Pintunya sedikit terbuka. Aku tidak ingat pernah membukanya lagi. Aku tidak melihat ke dalam. Aku tidak mendekat. Aku hanya berdiri beberapa detik. Lalu pergi. Aku tidak tahu siapa yang membuka pintu itu. Dan aku tidak yakin aku ingin tahu.

Klaten, 30 Maret 2026

____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Cerpen

Pada Sebuah Malam

Cerpen Erna Surya

Gang itu selalu berbau air got. Aku sudah hafal baunya seperti hafal garis-garis di telapak tanganku sendiri. Malam turun pelan-pelan, dan lampu-lampu kuning menggantung dengan cahaya remang. Di kursi plastik yang retak, aku duduk bersama dua perempuan lain, menunggu nasib datang dalam bentuk laki-laki dengan uang.

Aku menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam, lalu membiarkan asapnya keluar dari hidung. Rasanya seperti mengusir sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi. Sesuatu itu semacam kekhawatiran bila esok aku tak bisa makan, atau pekan depan tak ada uang yang bisa kukirimkan ke kampung. Panen gagal, bapak sudah berkabar kemarin.

“Sepi,” kata Santi di sebelahku.

“Belum jamnya,” jawabku.

Padahal kami tahu, kadang bukan soal jam. Kadang soal keberuntungan, kadang soal muka, kadang soal siapa yang lebih dulu berdiri saat ada lelaki lewat. Dunia kecil kami punya hukum yang tidak tertulis, tapi ditaati.

Lalu aku melihatnya.

Seorang lelaki muda berdiri di mulut gang. Aku melihatnya seperti orang tersesat yang tidak yakin apakah ia benar-benar ingin menemukan jalan kecil ini. Wajahnya biasa saja, terlalu biasa malah, seperti wajah-wajah yang mudah dilupakan. Tapi ada sesuatu di matanya. Aku bisa menangkapnya di tengah cahaya remang ini.

Aku melambaikan tangan. “Mau main, Mas?”

Ia mendekat pelan-pelan, aku melihat ada ketakutan di matanya.

“Yang murah,” katanya.

Aku tertawa kecil. “Semua di sini murah. Tinggal kuat-kuatan saja.”

Ia tidak ikut tertawa. Hanya menatapku sebentar, lalu mengangguk.

Aku berdiri, mematikan rokok dengan ujung sandal, lalu memberi isyarat agar ia mengikutiku. Kami masuk ke gang sempit yang hanya cukup untuk satu orang berjalan. Ia berjalan di belakangku. Kulihat langkahnya ragu-ragu. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku.

Di kiri kanan, pintu-pintu terbuka sedikit. Potongan hidup orang lain berjatuhan seperti serpihan kaca: seorang ibu memarahi anaknya yang menangis, seorang lelaki tua batuk sambil meludah ke lantai, televisi menyala dengan suara yang terlalu keras untuk ruangan sekecil itu.

“Pertama kali?” tanyaku.

Ia tidak langsung menjawab. Lalu pelan-pelan, ia mengangguk.

Aku tersenyum, meski ia tidak bisa melihatnya. “Kelihatan.”

Kami sampai di kamarku. Kecil, pengap. Dindingnya mengelupas. Kasur tipis tergeletak di lantai, sprei lusuh bergambar kartun yang dulu mungkin lucu, sebelum semuanya jadi seperti ini.

“Duduk saja,” kataku.

Ia duduk di ujung kasur, kaku seperti patung yang belum selesai dipahat.

Aku membuka jepit rambut, membiarkan rambutku jatuh berantakan. Aku sudah melakukan ini ratusan kali, gerakan yang sama, urutan yang sama, seperti ritual yang kehilangan makna tapi tetap dijalankan.

“Kamu kerja apa?” tanyaku.

“Tidak kerja.”

“Sekolah?”

“Tidak juga.”

Aku menoleh. “Terus ngapain?”

Ia berpikir lama, seperti pertanyaan itu terlalu besar untuk dijawab.

“Hidup saja,” katanya akhirnya.

Aku tertawa kecil. “Semua orang juga begitu.”

Tapi entah kenapa, dari mulutnya, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang lain. Aku mulai membuka pakaianku. Satu per satu. Seperti menghitung sesuatu yang tidak pernah selesai.

“Mau cepat atau lambat?” kataku.

Ia menatapku. Terlalu lama.

Aku berhenti. “Kenapa?”

“Tidak apa-apa,” katanya.

Udara dingin tiba-tiba menyentuh kulitku, tapi aku sudah kebal. Tubuh ini bukan lagi milikku sepenuhnya. Ia sudah dibagi-bagi menjadi waktu dan tarif.

Ia mendekat. Tangannya menyentuh lenganku dengan hati-hati, seperti aku ini kaca yang bisa pecah kapan saja. Aku hampir tertawa, bukan karena lucu, tapi karena aneh.

“Kamu unik,” kataku.

“Ibu saya bilang begitu juga,” jawabnya.

“Ibumu masih hidup?”

Ia mengangguk.

“Baik?”

Ia diam. Matanya beralih ke cermin retak di sudut ruangan. Bayangannya terbelah-belah.

“Kadang. Tapi banyak tidak baiknya,” katanya pelan.

Aku tidak bertanya lagi. Aku sudah belajar bahwa beberapa jawaban hanya akan melukai kalau dipaksa keluar.

Kami berbaring. Kasur berderit, seperti mengeluh pada nasibnya sendiri.

Setelah semua selesai, ia terus menatapku.

“Jangan dilihatin terus,” kataku. “Bikin risih.”

Ia mengalihkan pandangan, tapi sebentar saja. Lalu kembali lagi, lebih dalam, lebih tajam.

“Kamu pernah ingin mati?” tanyanya tiba-tiba.

Aku tertawa. “Setiap hari.”

“Kenapa tidak?”

“Belum sempat,” jawabku. “Utang masih banyak.” Tiba-tiba, aku teringat pada rentenir yang akan menagih uang esok pagi.

Ia mengangguk, lalu ia mulai bercerita. Tentang kucing yang ia lihat di pinggir jalan. Tentang suara kereta di malam hari. Tentang seorang anak perempuan yang menangis di halte. Cerita-cerita kecil yang tidak penting, tapi ia ceritakan dengan keseriusan yang membuatku tidak enak untuk memotongnya.

Kadang ia berhenti di tengah kalimat, menatap ke sudut ruangan, lalu melanjutkan seolah-olah tidak ada yang terjadi. Aku mulai merasa lelah. Tapi ada sesuatu yang membuatku tetap diam. Mungkin rasa ingin tahu. Mungkin juga rasa takut yang pelan-pelan menyusup.

“Kamu sering ke sini?” tanyaku, mencoba mengalihkan.

Ia menggeleng.

“Kenapa ke sini?”

Ia tersenyum tipis. “Disuruh.”

“Siapa?”

Ia tidak langsung menjawab. Matanya kembali ke cermin retak itu.

“Mereka,” katanya.

Aku mengerutkan kening. “Mereka siapa?”

Ia menatapku lagi. “Yang suka bicara.”

Aku tertawa, tapi terasa kering. “Kamu bercanda ya?”

Ia tidak tertawa.

Di luar, suara orang bertengkar terdengar. Botol pecah. Seseorang berteriak. Dunia terus berjalan seperti biasa, tapi di dalam kamar ini, aku merasakan waktu  seperti tersangkut di sesuatu yang tak terlihat.

“Kamu minum?” tanyaku setelah merasakan ada sesuatu yang aneh di bola matanya.

“Tidak.”

“Obat?”

Ia menggeleng.

Aku ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi kata-kata terasa seperti tidak punya tempat untuk jatuh. Ia menyentuh wajahku. Kali ini tidak selembut tadi. Ada tekanan kecil, seperti ingin memastikan aku benar-benar ada.

“Kamu mirip,” katanya.

“Mirip siapa?”

Ia tidak menjawab. Tiba-tiba, aku merasa ruangan ini terlalu sempit. Udaranya terlalu tebal. Seperti ada sesuatu yang ikut masuk bersama kami tadi, dan sekarang berdiri di sudut, menonton.

Lalu semua gelap. Tapi, aku masih bisa mendengar suara terakhirnya: Ibuku. Dia suka pukul aku.

***

Orang-orang bilang aku mati malam itu. Mereka menemukan tubuhku di kasur esok harinya, dengan mata yang masih terbuka. Seolah-olah aku belum selesai melihat sesuatu.

_____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Ragam

Elegi: Raga Bertameng, Jiwa Telanjang

Oleh Yuditeha

Pameran tunggal perdana Ariwur bertajuk Elegi yang digelar di Kopi Parang, Surakarta, pada pertengahan Maret 2026 ini (tepatnya dari 13 Maret 2026 sampai dengan 20 Maret 2026), bukan hanya pajangan estetika di dinding kafe, melainkan sebuah otopsi visual atas kondisi manusia modern yang kian hari kian kehilangan substansi. Melalui sembilan lukisan yang lahir dalam rentang waktu 2022 hingga 2024, Ariwur mencoba membedah narasi tentang lubang jiwa, sebuah konsep yang ia yakini sebagai residu tak terelakkan dari interaksi antarmanusia. Ada ironi yang getir saat kita melangkah masuk ke ruang pameran ini; di tengah dunia yang terobsesi pada kesempurnaan tampilan dan kepenuhan materi, Ariwur justru hadir dengan perayaan atas kekosongan. Ia tidak sedang menawarkan keindahan yang memanjakan mata, melainkan sebuah cermin retak yang memaksa kita bertanya: jika seluruh atribut duniawi kita ditanggalkan, apa sebenarnya yang tersisa dari diri kita selain lubang-lubang yang menganga?

​Lubang dalam karya Ariwur bukan sekadar ketiadaan pigmen di atas kanvas, melainkan pusat gravitasi filosofis. Ariwur tampak sedang melakukan satire terhadap cara kita berkomunikasi hari ini. Di era di mana validasi ditentukan oleh seberapa viral sebuah konten, kebenaran pun mengalami penyusutan makna menjadi sekadar masalah suka atau tidak suka. Ia menyindir fenomena di mana orang-orang begitu gemar bereproduksi di dalam benak tanpa memiliki kearifan untuk memahami pikiran mereka sendiri. Maka, sosok-sosok dalam lukisan Elegi ditampilkan dengan tubuh yang bolong, seolah ingin mengatakan bahwa kemajuan teknologi informasi yang kita banggakan sebenarnya hanyalah panggung narsistik yang membuat jiwa kita semakin keropos. Ada komedi tragis di sini; kita merasa semakin terhubung secara digital, namun secara eksistensial kita hanya sekumpulan tameng yang saling berbenturan dan saling meninggalkan luka.

Berfoto bersama pelukisnya

​Menariknya, Ariwur memilih untuk menguratori pamerannya sendiri dengan sikap yang ia sebut sebagai suka-suka. Ini sebuah pemberontakan halus terhadap pakem dunia seni rupa yang sering terjebak dalam birokrasi wacana yang kaku. Dengan memosisikan diri sebagai kurator atas keresahannya sendiri, ia menjaga agar proses kreatifnya tidak terpasung oleh ekspektasi publik atau pasar. Pemilihan warna biru yang mendominasi pameran menjadi sangat krusial. Ariwur menyebut biru tidak memiliki hubungan filosofis yang saklek selain sebagai penentu suasana hati, namun ia juga mengakui biru simbol ilusi. Sebuah pilihan jenius sekaligus sinis. Biru dalam Elegi adalah biru yang dingin, biru yang menjebak kita dalam ilusi kedamaian, padahal di baliknya tersimpan kekalahan-kekalahan manusia yang sering dianggap eksternal namun sebenarnya sangat personal.

​Bicara soal kekalahan, pameran ini membawa pesan spiritualitas yang sangat membumi, spiritualitas yang tidak selesai hanya dengan ritual, melainkan proses yang berlangsung sampai mati. Ariwur mengeksplorasi konsep kalah dengan cara yang tidak lazim. Baginya, dalam proses kreatif tidak ada istilah kalah menang. Kekalahan hanya konstruksi pikiran yang muncul saat kita mulai membandingkan diri dengan orang lain. Sosok-sosok dalam karyanya adalah representasi jiwa yang berusaha menjelaskan dirinya tanpa embel-embel jabatan, status sosial, atau pencapaian. Ketika dunia menuntut kita untuk terus membangun identitas yang kokoh dan mengkilap, Ariwur justru mengajak kita untuk mengakui kerapuhan kita. Ini bukan melawan arus, melainkan sebuah jawaban jujur atas tantangan zaman yang semakin gila akan identitas semu.

​Kehadiran ikon mata yang tersebar di berbagai sudut lukisannya menambah lapisan misteri sekaligus satire. Saat ditanya, ia menjawab dengan santai bahwa: “Tuhan ada di mana-mana,” dan penempatan mata itu hanya soal suasana hati. Namun, jika kita melihat lebih dalam, mata-mata itu seolah menjadi saksi bisu atas kebodohan sekaligus kepintaran spesies manusia. Kita cukup pintar untuk menciptakan peradaban yang rumit, namun cukup bodoh untuk terjebak dalam penderitaan yang kita buat sendiri. Mata-mata tersebut seakan menertawakan usaha keras kita untuk tampil sempurna di permukaan, sementara di bawahnya, kita semua sedang berjuang dengan lubang-lubang yang sama. Ada sisi spiritual yang sangat privat di sini, di mana Tuhan tidak ditampilkan sebagai sosok yang menghakimi, melainkan sebagai kehadiran yang sekadar melihat tanpa suara di tengah kesunyian jiwa yang lara.

​Keputusan Ariwur untuk mulai muncul ke permukaan setelah sekian lama menjaga jarak dengan hiruk-pikuk media sosial juga menjadi bagian dari narasi pameran ini. Ia tidak lagi melihat dunia digital sebagai musuh, melainkan sebagai medan tempat setiap orang berhak bicara. Namun, ia tetap menekankan pentingnya kemampuan untuk menyelam. Ironinya, sebagian besar dari kita terlalu takut untuk menyelam karena di kedalaman itulah kita akan bertemu dengan lubang-lubang jiwa yang selama ini kita tutupi dengan filter dan status bahagia. Pameran Elegi adalah momen di mana Ariwur memilih untuk melihat permukaan, namun dengan tetap membawa sisa-sisa kegelapan dari kedalaman yang pernah ia jelajahi. Ini adalah keseimbangan yang sulit, sebuah manajemen waktu dan emosi yang ia akui dilakukan secara sederhana, namun dampaknya terasa sangat kuat dalam setiap goresan kuasnya.

​Konsistensi dalam berkarya sering kali menjadi hantu menakutkan bagi banyak seniman, namun bagi Ariwur, konsistensi bukan soal produktivitas mekanis, melainkan soal menjaga pondasi niat. Ada semacam kejujuran yang menggelitik ketika ia mengakui bahwa ia pun pernah terjebak dalam pertanyaan eksistensial yang klise: Mengapa saya menggambar? Namun, alih-alih mencari jawaban muluk melalui teori seni, ia justru membiarkan pertanyaan itu menguap dan kembali ke kanvas. Di sinilah letak antitesis yang ia bangun. Ariwur seolah menjadi pengrajin kesunyian yang tidak butuh idola atau pemujaan pada sosok tertentu. Meski ia menyadari bahwa karya seni memiliki daya sinergi yang tak bisa dilepas dari peran orang lain, ia tetap memilih untuk tidak memiliki “tuhan” dalam bentuk idola seni. Ini adalah bentuk kemandirian estetika yang cukup berani di tengah komunitas seni yang sering terjebak pada pengkultusan gaya atau tokoh tertentu.

​Ironi lain yang muncul dalam pameran Elegi adalah bagaimana Ariwur memandang kebuntuan kreatif. Bagi kebanyakan orang, buntu adalah kegagalan, sebuah tembok besar yang harus diruntuhkan dengan kerja keras. Namun bagi Ariwur, solusi atas kebuntuan adalah tidur atau pindah kanvas. Ini sebuah satire halus terhadap budaya hustle yang menuntut manusia untuk terus memeras otak demi hasil instan. Ia percaya bahwa karya yang lahir dari hati tidak bisa dipaksa. Sebuah karya baru dikatakan selesai bukan ketika teknisnya sempurna, melainkan ketika sang perupa sudah merasa mentok namun tidak lagi merasakan kegelisahan. Selesai, bagi Ariwur, adalah pencapaian emosional, bukan sekadar garis terakhir yang ditarik. Di titik ini, kita melihat bahwa Elegi tidak hanya tentang kesedihan, tapi tentang penerimaan terhadap keterbatasan diri sebagai manusia.

​Komunitas pun dipandang dengan cara yang unik oleh Ariwur. Ia tidak menafikan pentingnya komunitas, namun ia juga tidak ingin tenggelam di dalamnya sampai kehilangan identitas selamnya. Ada masa di mana ia merasa perlu hadir di permukaan, seperti dalam pameran ini, namun ada pula masa di mana ia harus menghilang ke kedalaman subyektifitasnya sendiri. Sikap menjaga jarak ini sering dianggap sebagai bentuk kesombongan atau ketertutupan, padahal itu mekanisme pertahanan jiwa agar tetap stabil. Ia sadar betul bahwa masyarakat tidak harus memberi dukungan pada setiap langkahnya, dan ia tidak merasa terbebani oleh itu. Sikap bodo amat yang elegan justru membuat karyanya terasa lebih murni, karena ia tidak sedang melukis untuk menyenangkan siapa pun kecuali untuk menjawab tantangan zaman yang menuntut jawaban atas identitas yang hilang.

​Jika kita menilik kembali pada simbol lubang yang menjadi benang merah seluruh karya, kita akan menemukan sebuah ironi puitis. Lubang biasanya diidentikkan dengan sesuatu yang harus ditutup atau diperbaiki. Namun dalam pandangan Ariwur, lubang adalah bagian dari keindahan itu sendiri. Ia merasa lebih nyaman jika ada lubangnya. Ini sebuah antitesis terhadap konsep keutuhan yang selama ini diagung-agungkan. Manusia utuh, dalam perspektif Elegi, mungkin justru manusia yang paling palsu karena ia menyembunyikan retakan-retakan jiwanya di balik topeng kesempurnaan. Melalui sembilan lukisan ini, kita diajak untuk melihat bahwa menjadi berlubang, menjadi kalah, dan menjadi sunyi adalah bagian dari perjalanan spiritual yang tak pernah selesai sampai mati.

​Pameran Elegi adalah sebuah undangan bagi kita untuk berhenti sejenak dari kegilaan dunia yang serba cepat dan serba digital. Ariwur, dengan segala kesederhanaan bicaranya, telah berhasil menciptakan sebuah ruang di mana kegelisahan diubah menjadi keindahan yang sunyi. Ia membuktikan bahwa untuk menjawab tantangan zaman, kita tidak perlu selalu berteriak di garis depan. Terkadang, kita hanya perlu diam, menyelam ke dalam lubang jiwa kita sendiri, dan berani menunjukkan bahwa di balik raga yang bertameng, ada jiwa yang memilih telanjang. Elegi di Kopi Parang bukan sekadar perayaan kesedihan, melainkan perayaan atas keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah dunia yang semakin kehilangan kemanusiaannya.***

Yuditeha: Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Berikut Sembilan Lukisan Ariwur.

Buku, Resensi

Mengintip Luka-Luka di Sekitar Kita

Oleh Yuditeha

Judul Buku : Petaka, Kenangan, dan Cerita Lain

Penulis : Kelas Menulis Intensif Klub Buku Suakata 2025

Penerbit : Penerbit Meja Tamu

Cetakan : Januari 2026

Halaman : x+106 hlm, 14×20 cm

ISBN : 978-623-854-290-1

Ada sesuatu yang menarik ketika sebelas orang menulis cerita dari ruang yang sama, kelas menulis, tetapi menghasilkan sebelas arah kegelisahan yang berbeda. Antologi Petaka, Kenangan, dan Cerita Lain (Penerbit Meja Tamu, Januari 2026) seperti kumpulan serpihan kaca, yang masing-masing kecil tetapi jika dikumpulkan ia memantulkan wajah masyarakat dengan cukup jujur, bahkan agak menyakitkan. Yang terasa sejak awal, buku ini memang berupaya untuk jujur. Dan kejujuran dalam sastra sering kali memang tidak nyaman.

Cerpen pembuka Petaka Sarung karya Melati Puspita Febriyanti memotret salah satu ritual paling lazim dalam dunia remaja lelaki, solidaritas palsu yang sering lahir dari ejekan. Evan adalah tipe anak yang mudah ditemukan di banyak sekolah, tidak cukup kuat untuk dihormati, tidak cukup berani untuk melawan, sehingga menjadi sasaran empuk humor yang sebenarnya kejam. Melati tidak menggurui pembaca tentang tawuran remaja. Ia hanya memperlihatkan bagaimana solidaritas sering muncul setelah kematian, ketika penyesalan sudah tidak punya guna. Yang terasa pahit justru sikap teman-teman Evan yang tiba-tiba berubah menjadi pahlawan setelah Devan mati. Dalam cerpen ini, tawuran bukan lagi soal keberanian, melainkan soal bagaimana rasa bersalah kolektif mencari kambing hitam baru. Evan akhirnya bukan sekadar korban polisi, tetapi korban dari kebutuhan orang lain untuk merasa berani.

Cerpen kedua, Dia Tidak Lagi Melenggok karya Angelina Regina Wawo, terasa seperti pisau yang diarahkan pada maskulinitas yang rapuh. Tokoh Wiryo ingin membuktikan dirinya laki-laki tangguh melalui anaknya, Wiro. Masalahnya sederhana sekaligus tragis: Wiro tidak tertarik menjadi lelaki versi ayahnya. Di tangan Angelina, konflik ini tidak ditulis sebagai drama keluarga biasa, tetapi sebagai warisan trauma. Ada masa lalu yang diam-diam mengendap dalam diri Wiryo, sebuah pengalaman yang membuatnya merasa harus terus membuktikan dirinya lelaki sejati. Cerpen ini seperti mengingatkan bahwa sebagian besar kekerasan terhadap identitas sebenarnya lahir dari rasa takut yang tidak pernah diakui. Wiryo bukan sekadar ayah yang keras; ia adalah lelaki yang sepanjang hidup berusaha melarikan diri dari bayangannya sendiri.

Tema benturan individu dan sistem muncul dalam Anak dari Pabrik dan Sungai karya Farah Iqlillah Arifri. Sungai Brantas dalam cerita ini bukan hanya sungai; ia adalah ingatan masa kecil yang pelan-pelan berubah menjadi limbah. Jojo pulang dengan idealisme yang masih bersih, tetapi desa sudah belajar cara lain untuk bertahan hidup: diam. Yang membuat cerpen ini menarik bukan aksi protes Jojo, melainkan kesunyian yang mengelilinginya. Orang-orang tahu sungai itu rusak, tetapi mereka juga tahu dapur harus tetap menyala. Farah menulis konflik klasik pembangunan: siapa sebenarnya yang berhak marah ketika kerusakan lingkungan juga memberi makan banyak keluarga? Di sini, keberanian Jojo terasa heroik sekaligus naif, dan justru di situlah daya pukul cerpen ini.

Rosul Jaya Raya dalam Kemarin, memilih teknik yang cukup berisiko, menggunakan sudut pandang orang kedua, kamu. Teknik ini menciptakan jarak yang aneh sekaligus intim. Pembaca seolah didorong masuk ke dalam kepala seorang lelaki yang hidupnya diatur oleh keputusan orang lain, ibunya, pekerjaannya, bahkan rasa penyesalannya sendiri. Cerpen ini menguliti satu hal yang sering tidak dibicarakan: bagaimana stabilitas hidup kadang dibayar dengan kematian mimpi. Tokoh kamu akhirnya mendapatkan hidup yang mapan, tetapi kehilangan sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli kembali, kemungkinan. Rosul tampaknya ingin mengatakan bahwa kegilaan tidak selalu datang dari kekacauan; kadang ia tumbuh dari hidup yang terlalu mulus.

Nada satir mulai terasa kuat dalam Seperti Bermain Catur karya Satria A. Ramadhan. Cerpen ini memotret ambisi politik tingkat desa dengan cara yang hampir komikal. Hamzah percaya bahwa jabatan kepala desa bisa diraih seperti langkah catur, cukup dengan strategi dan sedikit bantuan supranatural. Satria tampaknya sedang menertawakan kebiasaan lama dalam politik lokal: keyakinan bahwa kekuasaan bisa dinegosiasikan dengan dunia gaib. Pertemuan Hamzah dengan Mbah Kholik menjadi semacam alegori tentang cara orang mencari jalan pintas menuju kekuasaan. Ironinya, ketika Hamzah kalah, ia masih menyalahkan dukun, bukan dirinya sendiri. Di sinilah cerpen ini terasa tajam: kegagalan tidak pernah benar-benar mengajarkan sesuatu kepada orang yang terlalu yakin dirinya pantas menang.

Sementara itu, Akhmad Gerrard Efrad dalam Sehari Bersama Burna, menulis cerita yang terasa sangat kontemporer: kegagalan ekonomi anak muda. Alif bukan kriminal besar; ia hanya seseorang yang salah memperhitungkan masa depan. Utang yang membesar membuatnya hidup dalam ketakutan yang hampir absurd. Gerrard berhasil membangun suasana psikologis yang membuat pembaca merasa bahwa utang bukan hanya angka, melainkan tekanan yang terus menempel di kepala seseorang. Yang menarik, tokoh Pak Burna tidak digambarkan sekadar antagonis. Ia lebih mirip simbol dari sistem yang dingin, utang harus dibayar, apa pun keadaan manusianya.

Ketika sampai pada cerpen ketujuh, nada antologi ini berubah sedikit lebih kontemplatif, bahkan agak surealis. Gerundelan Patung Gajah karya M. Alvin Sanah adalah cerita yang diam-diam menguji kesabaran pembaca. Tokoh aku dalam cerpen ini bukan manusia, melainkan sebuah patung gajah di taman kota. Pilihan perspektif ini bisa saja jatuh menjadi gimmick semata, tetapi Alvin memanfaatkannya untuk berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam, nasib benda-benda yang pernah diagungkan lalu dilupakan. Patung gajah itu pada mulanya menjadi simbol kebanggaan, lalu pelan-pelan berubah menjadi latar yang tak lagi diperhatikan. Cerita ini terasa seperti sindiran halus terhadap cara masyarakat memperlakukan simbol-simbol publik. Kita gemar meresmikan sesuatu, memotretnya, memujinya, lalu meninggalkannya ketika hal baru datang. Yang menarik, hubungan antara patung itu dan seorang gadis kecil menghadirkan dimensi lain, ingatan ternyata bisa menjadi jembatan yang lebih kuat daripada waktu. Di sini Alvin tampaknya sedang berkata bahwa sesuatu baru benar-benar mati ketika tidak ada lagi yang mengingatnya.

Dalam Ra Sa Ma, Allan Edpe menulis cerita keluarga yang diam-diam menyimpan perlawanan kecil. Nama, dalam cerpen ini, bukan sekadar penanda identitas; ia menjadi medan konflik. Tradisi keluarga yang mengharuskan awalan nama tertentu, Ra, Sa, atau Ma, pada awalnya terlihat sebagai hal remeh. Namun Allan memperlihatkan bagaimana aturan kecil dalam keluarga bisa menjadi bentuk kontrol yang sangat kuat. Ketika Ratih menamai anaknya dengan awalan yang berbeda, itu bukan sekadar pilihan nama. Itu adalah bentuk protes yang sunyi tetapi tajam terhadap sejarah hidupnya sendiri. Cerpen ini menarik karena tidak menampilkan pemberontakan yang dramatis. Ratih tidak berteriak, tidak melawan secara terbuka. Ia hanya memilih sebuah huruf. Dan huruf itu ternyata cukup untuk mengganggu tradisi yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Dalam kesederhanaannya, cerpen ini mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu harus besar; kadang ia cukup berupa keputusan kecil yang sengaja tidak mengikuti aturan lama.

Cerpen kesembilan, Perihal Dua Orang Asing karya Abu Wafa, membawa pembaca ke dunia rumor desa yang sering kali lebih kuat daripada fakta. Cerita ini bergerak dari kabar kecil tentang pembangunan jembatan layang yang kemudian berkembang menjadi kegaduhan kolektif. Yang menarik di sini bukan soal pembangunan itu sendiri, melainkan bagaimana warga memproduksi kepanikan mereka sendiri. Tokoh Pak Darkam menjadi contoh figur yang sering muncul dalam dinamika sosial: seseorang yang merasa mewakili suara rakyat, padahal sebenarnya sedang memanfaatkan kegelisahan orang lain. Abu Wafa menulis dengan cara yang cerdik; ia tidak secara langsung menghakimi siapa yang benar atau salah. Namun pada akhir cerita, pembaca disodori momen yang menggelitik sekaligus sinis: seseorang yang paling lantang bicara justru dengan mudah diarahkan menuju masalah hukum. Cerpen ini terasa seperti komentar kecil tentang politik lokal, tentang bagaimana suara rakyat sering kali hanya menjadi alat bagi ambisi individu.

Nada tragis kembali muncul dalam Ibu Muda karya Mufa Rizal. Cerpen ini menyingkap realitas yang sering disembunyikan di balik statistik: kehamilan remaja. Mufa tidak menulisnya dengan gaya sentimental; ia memilih pendekatan yang hampir dingin. Ratri digambarkan sebagai gadis yang mencoba memahami tubuhnya sendiri dalam situasi yang tidak pernah ia bayangkan. Ketika ia berusaha menggugurkan kandungan, atau memaksa tubuhnya melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, pembaca tidak diajak untuk menghakimi. Justru di situlah kekuatan cerpen ini: ia memaksa kita melihat bagaimana kepanikan seorang remaja bisa berubah menjadi keputusan-keputusan yang sangat berbahaya. Cerpen ini terasa menohok karena tidak menyalahkan siapa pun secara eksplisit, tetapi meninggalkan pertanyaan besar tentang sistem sosial yang membuat seorang gadis harus menghadapi peristiwa sebesar itu sendirian.

Cerpen terakhir, Kenangan di Balongcangkring karya AH Baskoro, menutup antologi ini dengan nada yang paling muram sekaligus paling puitis. Tokoh Nadia adalah perempuan yang hidup di ruang yang sering dianggap gelap oleh masyarakat: lokalisasi. Namun Baskoro tidak menulisnya sebagai kisah moralitas. Ia justru menempatkan Nadia sebagai seseorang yang memiliki kenangan, harapan, dan luka yang sangat manusiawi. Balongcangkring dalam cerita ini lebih dari sekadar tempat, ia menjadi lanskap kehidupan yang penuh janji kosong. Sosok Indra, pejabat yang rajin memberi harapan tanpa pernah menepatinya, terasa seperti simbol kekuasaan yang gemar menjanjikan penyelamatan tetapi selalu menunda realisasinya. Bagian mimpi Nadia, tentang rawa tempat tubuh-tubuh perempuan muncul tanpa rasa malu, memberi sentuhan surealis yang menarik. Seolah-olah dalam mimpi itulah perempuan-perempuan itu akhirnya bebas dari penilaian dunia luar.

Jika ditarik satu langkah ke belakang, sebelas cerpen dalam buku ini sebenarnya sedang berbicara tentang hal yang sama, kekuasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kekuasaan teman sebaya yang mendorong seseorang ikut tawuran. Kekuasaan seorang ayah terhadap identitas anaknya. Kekuasaan industri terhadap sungai. Kekuasaan tradisi terhadap nama. Kekuasaan utang terhadap kebebasan hidup. Kekuasaan rumor terhadap warga desa. Kekuasaan moral masyarakat terhadap tubuh perempuan. Yang menarik, sebagian besar kekuasaan itu tidak muncul sebagai sesuatu yang besar dan spektakuler. Ia justru hadir dalam bentuk yang sangat biasa: ejekan, tradisi keluarga, janji politik, atau bahkan diamnya orang-orang di sekitar kita.

Dalam konteks itu, judul antologi ini terasa cukup tepat, petaka dan kenangan. Petaka tidak selalu datang sebagai tragedi besar, kadang ia lahir dari keputusan kecil yang terus dibiarkan. Sedangkan kenangan, baik atau buruk, sering menjadi satu-satunya cara manusia memahami apa yang sudah terjadi.

Yang membuat buku ini menarik bukan karena semua cerpennya memikat. Justru sebaliknya. Ada bagian-bagian yang terasa masih mentah, ada ide yang bisa digali lebih dalam. Namun di situlah daya tariknya sebagai karya yang lahir dari kelas menulis. Kita bisa melihat bagaimana sebelas penulis mencoba memotret dunia dari sudut pandang mereka masing-masing. Dari sebelas sudut pandang itu muncul satu kesan yang sulit diabaikan: masyarakat kita tampaknya penuh dengan cerita yang tampak kecil, tetapi menyimpan luka yang tidak kecil sama sekali.

Buku ini, dengan cara yang sederhana, mengingatkan kita bahwa sastra kadang tidak perlu mencari tragedi jauh-jauh. Ia cukup membuka jendela rumah, mendengarkan percakapan tetangga, lalu menuliskannya dengan jujur. Karena sering kali, luka-luka memang tinggal di dekat kita.***

Yuditeha

Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Puisi

Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

Buku-Buku Tertawa

Melihat seorang penulis

tertidur kalah bertarung

dengan deadline

yang meninjunya hingga terkapar.

Semoga penulis yang budiman itu

bisa bangkit lagi keesokan harinya.

Purbalingga, Januari 2026

_____________________

Berita Pagi Ini

Seorang penulis ditemukan

tidak sadarkan diri di kantornya

setelah menelan ratusan pil puisi.

Diperkirakan ia meninggal

karena overdosis cinta, harapan

dan imajinasi.

Semoga di kehidupan

selanjutnya ia bisa lebih bijak

dalam mengonsumsi puisi.

Purbalingga, Januari 2026

__________________________

Tahun Baru

Ingat nasihat

kalender di akhir tahun

lalu

“Hidup harus terus berjalan”

gagal, tangis, duka, suka, tawa,

gelak, cinta, senang, riang

adalah musim yang silih berganti

dalam hidupmu.

Selamat hidup kembali

Selamat menikmati

Semoga saling asyik-mengasyiki.

Purbalingga, Januari 2026

__________________________

Rimba

Tidak ada yang lebih berbahaya

dari belantara kata

yang diciptakan oleh imajinasi

seorang penulis yang membuat

pembaca tersesat di

dalam sajaknya untuk

selama-lamanya!

Purbalingga, Januari 2026

________________________

IPK

Aku hanyalah

angka-angka

bisu yang

tidak bisa

bicara pada

proses interview.

Purbalingga, Januari 2026

__________________________

Anak Sulung

Tiang pemecah

gelombang yang harus

tetap gagah

meski

badai menghantamnya

ribuan kali.

Purbalingga, Januari 2026

_________________________

Yanuar Abdillah Setiadi

Lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Dua buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023) dan Melihat Lebih Dekat (2024).  Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023.  Buku terbarunya Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (Penerbit Kolofon Yogyakarta,2025) Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.

Film, Resensi

Elegi di Balik Jendela: Saat Kehilangan Menjadi Bahasa Cinta yang Baru

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

Judul Film: Hamnet

Tahun Rilis: 2025

Sutradara: Chloé Zhao

Penulis Skenario: Chloé Zhao (adaptasi dari novel Hamnet karya Maggie O’Farrell)

Produser: Sam Mendes, Pippa Harris, Steven Spielberg, Liza Marshall, Nicolas Gonda  

Pemeran Utama: Paul Mescal sebagai William Shakespeare, Jessie Buckley sebagai Agnes Hathaway

Durasi: ± 130 menit

Rumah Produksi: Amblin Partners

Film Hamnet (2025) hadir sebagai pengalaman sinematik yang lebih dekat dengan perenungan daripada tontonan konvensional. Ia tidak bergerak cepat, tidak mengejar klimaks demi klimaks, dan tidak menawarkan jawaban yang gamblang. Sebaliknya, film ini mengajak penonton untuk berjalan perlahan menyusuri ruang-ruang batin yang dipenuhi cinta, kehilangan, dan pencarian makna melalui seni. Terinspirasi dari novel Maggie O’Farrell, Hamnet tidak sekadar mengisahkan tragedi kematian seorang anak, tetapi menjadikannya poros emosional yang menggerakkan refleksi tentang bagaimana manusia bertahan setelah kehilangan yang paling sunyi dan paling menyayat.

Sejak awal, film ini menempatkan cinta sebagai sesuatu yang rapuh namun mengakar kuat. Cinta dalam Hamnet bukanlah cinta yang meledak-ledak atau romantis dalam pengertian populer, melainkan cinta domestik yang tumbuh dari keseharian: tatapan yang saling memahami, kebiasaan-kebiasaan kecil yang tampak sepele, dan kehadiran yang sering baru terasa ketika ia lenyap. Hubungan antara suami dan istri digambarkan sebagai dua jiwa yang saling terikat namun juga terpisah oleh dunia batin masing-masing. Ada kedekatan, tetapi juga jarak; ada kehangatan, tetapi juga kesunyian yang tak terucap. Film ini dengan lembut menunjukkan bahwa cinta tidak selalu berarti kebersamaan yang utuh, melainkan kesediaan untuk hidup berdampingan dengan ketidaksempurnaan dan keterpisahan.

Kematian hadir sebagai bayang-bayang yang tak pernah benar-benar pergi. Ia tidak datang dengan teriakan dramatis atau visual yang mengejutkan, melainkan merayap perlahan, hampir tak disadari, hingga akhirnya menetap sebagai kekosongan yang permanen. Ketika kehilangan itu terjadi, film ini tidak tergesa-gesa menggambarkan ledakan emosi. Tidak ada ratapan berlebihan atau musik yang memaksa penonton untuk menangis. Yang ada justru keheningan panjang, jeda-jeda yang terasa canggung, dan ruang kosong yang membuat penonton ikut merasakan kebisuan batin para tokohnya. Dalam keheningan itulah, kematian menjadi sangat nyata: bukan sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai kondisi yang terus hidup bersama mereka yang ditinggalkan.

Yang membuat Hamnet terasa istimewa adalah caranya memperlakukan duka sebagai pengalaman yang personal dan tak terstandarkan. Setiap tokoh memikul kehilangan dengan cara yang berbeda. Ada yang menutup diri, ada yang mencari pelarian, ada pula yang mencoba menamai rasa sakitnya melalui bahasa dan imajinasi. Film ini tidak menghakimi cara-cara tersebut, tidak pula memaksakan satu bentuk penyembuhan yang dianggap benar. Duka digambarkan sebagai proses yang berlapis, kadang bergerak maju, kadang kembali mundur, dan sering kali terjebak di tempat yang sama. Penonton diajak memahami bahwa kehilangan tidak pernah benar-benar selesai; ia hanya berubah bentuk.

Di titik inilah seni masuk sebagai jembatan antara cinta dan kematian. Hamnet memandang seni bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai kebutuhan eksistensial. Seni hadir sebagai cara manusia memberi makna pada penderitaan yang tak terjelaskan. Dalam film ini, proses kreatif digambarkan sebagai pergulatan batin yang panjang dan melelahkan, bukan sebagai ledakan inspirasi yang romantis. Kata-kata lahir dari kesunyian, dari rasa bersalah, dari kerinduan yang tak menemukan alamat. Seni menjadi ruang di mana kehilangan diolah, diputar ulang, dan diberi bentuk, agar dapat ditanggung.

Film ini juga jujur menunjukkan ambiguitas seni. Di satu sisi, seni menawarkan pelipur lara dan kemungkinan keabadian. Di sisi lain, ia menuntut pengorbanan: waktu, perhatian, bahkan hubungan dengan orang-orang terdekat. Ada ketegangan halus antara dorongan untuk mencipta dan kebutuhan untuk hadir bagi keluarga yang terluka. Hamnet tidak memihak secara sederhana. Ia tidak mengagungkan seniman sebagai pahlawan, tetapi juga tidak menuduh seni sebagai bentuk pelarian egois. Ketegangan itu dibiarkan menggantung, seperti pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal.

Secara visual, film ini memilih pendekatan yang kontemplatif. Kamera sering bertahan lebih lama dari yang diharapkan, seolah memberi ruang bagi penonton untuk bernapas dan merasakan. Lanskap alam, cahaya yang masuk melalui jendela, dan detail-detail kecil kehidupan sehari-hari ditampilkan dengan perhatian yang hampir meditatif. Semua itu membangun suasana yang intim, sekaligus menegaskan hubungan antara manusia dan dunia di sekitarnya. Alam tidak digambarkan sebagai latar pasif, melainkan sebagai saksi bisu atas cinta dan kehilangan yang terjadi di dalam rumah-rumah manusia.

Ritme film yang lambat mungkin menjadi tantangan bagi sebagian penonton. Hamnet menuntut kesabaran dan keterlibatan emosional yang aktif. Ia tidak memberi pegangan naratif yang kuat dalam bentuk konflik eksternal yang jelas. Sebaliknya, konflik utama berlangsung di dalam diri para tokohnya. Namun, justru di situlah kekuatan film ini. Dengan menolak kemudahan dramatik, Hamnet memberi ruang bagi pengalaman menonton yang lebih reflektif, di mana penonton diajak untuk berdiam, merenung, dan mungkin mengaitkan kisah di layar dengan kehilangan mereka sendiri.

Narasi film ini terasa seperti aliran ingatan, tidak selalu linear, kadang meloncat dari satu momen ke momen lain dengan logika emosional, bukan kronologis. Pilihan ini memperkuat kesan bahwa duka dan cinta bekerja dengan cara yang tidak teratur. Masa lalu dan masa kini saling tumpang tindih, kenangan hadir tiba-tiba, dan waktu kehilangan batas yang jelas. Film ini seolah berkata bahwa setelah kehilangan besar, hidup tidak lagi berjalan lurus; ia berputar, berkelok, dan sering kembali ke titik-titik yang sama.

Yang menarik, Hamnet juga memberi ruang besar pada perspektif perempuan dan pengalaman domestik yang sering terpinggirkan dalam narasi besar tentang seni dan kejeniusan. Kehidupan rumah tangga, kerja-kerja perawatan, dan pengetahuan intuitif tentang alam dan tubuh tidak diposisikan sebagai latar belakang semata, melainkan sebagai pusat pengalaman manusia. Film ini dengan halus menantang anggapan bahwa seni besar lahir dari ruang yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa justru dari dapur, kebun, dan kamar tidur, lahir pemahaman paling mendalam tentang cinta dan kehilangan.

Emosi dalam Hamnet tidak pernah dipaksakan. Banyak momen penting disampaikan melalui gestur kecil: tangan yang ragu-ragu, tatapan yang menghindar, napas yang tertahan. Dialog digunakan dengan hemat, memberi kesempatan bagi bahasa tubuh dan suasana untuk berbicara. Pendekatan ini membuat emosi terasa lebih jujur dan dekat. Penonton tidak diberi tahu apa yang harus dirasakan; mereka diajak untuk merasakannya sendiri.

Sebagai resensi, sulit untuk menilai Hamnet hanya dari aspek teknis atau alur cerita. Kekuatan film ini terletak pada resonansi emosionalnya, pada kemampuannya untuk tinggal bersama penonton bahkan setelah layar menjadi gelap. Ia mungkin tidak akan diingat karena plotnya yang rumit atau twist yang mengejutkan, tetapi karena suasana dan pertanyaan-pertanyaan yang ditinggalkannya. Pertanyaan tentang bagaimana kita mencintai, bagaimana kita menghadapi kematian, dan bagaimana kita menggunakan seni untuk bertahan hidup.

Hamnet adalah film tentang ketidakhadiran: tentang anak yang hilang, tentang kata-kata yang tak terucap, tentang jarak yang tumbuh di antara orang-orang yang saling mencintai. Namun, dari ketidakhadiran itu, film ini justru menemukan bentuk kehadiran yang lain. Kehadiran ingatan, kehadiran rasa sakit, dan kehadiran seni sebagai upaya manusia untuk memberi makna pada apa yang tak dapat diubah. Ia mengingatkan kita bahwa cinta tidak berhenti ketika kematian datang, dan bahwa seni, meskipun lahir dari luka, dapat menjadi cara untuk terus berbicara dengan mereka yang telah pergi.

Dengan pendekatan yang lembut, puitis, dan penuh empati, Hamnet (2025) menempatkan dirinya sebagai film yang tidak hanya ingin ditonton, tetapi juga dirasakan. Ia bukan film yang akan memuaskan semua orang, terutama mereka yang mencari hiburan cepat dan jawaban tegas. Namun bagi penonton yang bersedia meluangkan waktu dan hati, Hamnet menawarkan pengalaman sinematik yang jarang: sebuah perenungan mendalam tentang cinta, kematian, dan seni, yang terjalin dalam keheningan, dan justru karena itu, terasa begitu manusiawi.

_______________________

T.H. Hari Sucahyo. Penikmat Film Layar Kaca dan Layar Lebar.  Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

Cerpen

Nasib

Cerpen Drew Andre A. Martin

“Perhatikan mereka,” bisik Maria ke telingaku dengan bola matanya melihat seseorang yang dibicarakan. Mendengarnya, aku terkekeh seraya menelangkupkan telapak tangan ke bibirku. “Benar, kan?!” Kembali Maria berucap dengan cukup lantang dan percaya diri, sembari kami melanjutkan perjalanan.

Kalina, namaku. Sedangkan Maria, temanku sejak kami balita. Usia kami tak terpaut tahun. Aku, lahir di bulan Mei, sedangkan Maria di bulan Desember. Berbeda dengan usia kami yang terpaut jauh oleh bulan, nasib kami amat sama. Aku bekerja sebagai penyemir sepatu dan pelukis jalanan. Sedangkan Maria, pengamen. Rute jalan menuju kantor—salah satu cara kami mencintai nasib—berlawanan arah saat sampai di perempatan jalan. Maria, ke arah barat. Sedangkan aku ke timur.

Menjadi penyemir sepatu bukanlah perkara mudah di akhir-akhir ini. Orang-orang beralih dari sepatu kulit ke sepatu canvas. Kadang juga, satu per satu langgananku, mulai menyemir sepatunya sendiri di rumah, apalagi harga semir tak begitu mahal akibat turunnya peminat. Karenanya, aku mencoba menjadi pelukis jalanan. Biasanya aku pergi ke kantor hanya membawa sikat sepatu dan semir, sekarang aku juga membawa peralatan lukis di dalam tasku. Sempat terpikir olehku, untuk melukis gambar di sepatu-sepatu canvas, mungkin nanti.

Sesampainya di kantorku—tempat biasa aku berhenti untuk menawarkan jasa semir sepatu dan melukis—seorang laki-laki yang kutaksir usianya empat puluhan, menghampiriku. Bertanya dia. “Mbaknya sudah nggak nyemir lagi?”

“Masih, Pak.”

“Tolong semirkan sepatu saya.”

“Silakan duduk di sini, Pak.”

Bapak itu duduk. Bersandar dia di tempat duduknya. Sepatu yang dikenakannya bertumpu ke kursi kecil. Sengaja kupersiapkan agar sepatu tak perlu dilepas.

“Kamu melukis juga?” tanya bapak itu dengan matanya yang terfokus di layar ponselnya.

“Iya, Pak,” jawabku sembari tetap fokus menyemir. “Kalau Bapak mau, saya bisa melukis sesuai keinginan Bapak.” Berharap, si bapak tersebut mengiyakan.

“Boleh, tapi …” Sebentar dia, melihat arloji di lengan kirinya. “Ah, tidak masalah. Untuk harga, murah, ‘kan?”

“Bagi Bapak, tentulah murah,” jawabku setelah menyelesaikan pekerjaan menyemir sepatunya, sembari mendongakkan kepala dan tersenyum.

“Berapa?”

Kedua matanya nyaris keluar saat melihat daftar harga melukisku. Seolah ada yang salah soal harga. Kujawab, tentulah tidak, Pak. Itu sudah benar.

“Terlalu mahal kurasa dengan harga lima belas ribu, nyaris sepadan dengan harga jasa semir sepatumu.”

“Itu sangat murah bagi Bapak.” Tak lupa aku memuji penampilannya dengan sangat baik di hari ini. Kata Maria, aku harus melakukan pujian, karena orang-orang yang berada tak seperti kami, amatlah suka bila diberi pujian, apalagi dibesarkan segala kebaikannya, meski sebenarnya tak baik.

Menurut Maria, hanya itu yang bisa membuat mereka membeli apa yang sebenarnya tak ingin mereka beli. Ibarat kata, mereka membayar pujian yang sudah kadung, ketimbang membeli produk barang atau jasa. Imbuh Maria, orang-orang rendahan, orang-orang miskin di mata mereka, kepalang tanggung kalau tidak memerankan nasib yang sudah jadi nasibnya.

“Kau gila! Apa kau tak ingin memiliki nasib seperti mereka?” Aku menghardik Maria.

“Kau sama saja seperti mereka.” Maria melirik dengan tawa menyebalkan. “Kau mengataiku gila, sedangkan kau pun gila. Mana mungkin, aku tidak mau jadi seperti mereka? Tentulah aku mau.”

“Ucapan adalah doa. Kau sendiri, ‘kan yang mengajarkan itu kepadaku? Termasuk idemu menyebut kantor untuk tempat kita bekerja.” Aku kesal, Maria menjadi munafik.

Maria tertawa dengan jeda, lalu membuang muka, lanjut meludah. “Cara untuk bahagia, ya …, dengan cara itu. Mencintai nasib. Dan saat kau sudah mencintai nasib dengan baik, maka amatlah kepalang tanggung, jika kau tidak totalitas memerankannya.”

“Memerankan nasib atau memanfaatkan keadaan?” tanyaku dengan merendahkan intonasi.

“Memerankan nasib.”

Berulang kali aku mencoba memerankan nasibku.

Sejujurnya memerankan nasib, nyatanya membuahkan hasil di tiap harinya. Namun, tidak dengan hari ini. Entah aku kurang totalitaskah? Atau, bukan hariku? Atau, justru bapak itulah yang lebih totalitas memerankan nasibnya?

“Kalau sepuluh ribu, mungkin aku mau. Itu pun kalau kamu mengiyakan,” ujar bapak tersebut.

“Boleh, Pak. Setidaknya bisa membuat Bapak senang.”

“Tidak-tidak, akulah yang justru membutamu senang. Selain aku membeli jasa semir, aku juga membeli produk lukisanmu.”

“Terima kasih, Pak.” Aku menahan emosi.

Sejak hari itu, aku menjadi tahu apa yang pernah dibicarakan Maria kepadaku. Jika ingin tidak kena masalah, jangan sekali-kali adu nasib dengan orang-orang yang beruntung, Harga dirimu bisa dibelinya.

Soal harga diri yang dibelinya itu, menurut dia tidaklah sama dengan merendahkan diri untuk mendapatkan keuntungan. Aku menyipitkan mata, kemudian disusul dengan melipat kedua lengan, jari telunjuk kanan, mengetuk lengan kiri. Kau akan tahu sendiri. Kau tak akan mengerti yang kumaksud Kalina, kalau kau tak mengalaminya sendiri nanti. Penjelasanku yang berupa ucap kata ini, tak akan mampu dicerna dengan baik oleh lambung di kepalamu. Maria tertawa puas. Aku, mencoba ikut tertawa juga, setidaknya aku mencoba tak cukup keras dengan diri dan nasib yang perlahan-lahan sedang kucoba nikmati dan kucintai sepenuhnya.

Diulurkan oleh si bapak sekerat foto yang sedikit usang. “Lukislah ini. Nanti pukul lima sore, aku ambil.”

“Kalau besok pagi diambilnya bagaimana?”

“Aku bisanya sore ini. Kalau kamu tidak bisa, ya, tidak apa-apa. Aku urungkan.”

“Baik, akan selesai hari ini.”

Bapak itu tersenyum tipis, lalu pergi meninggalkan kantorku.

Mendengkus lalu aku. Ditolak tidaklah mungkin, karena butuh uang. Tak ditolak pun, harga bayar jasa tak sepadan dengan usaha melukis foto dengan kondisi gambar yang tidak memungkinkan. Kalau sudah begini, kata terakhir yang sekaligus meredakan sesal, kesal, amarah, ialah kata-kata Maria yang kemudian kulontarkan dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kedua telingaku. “Mari kita memerankan peran kita dengan totalitas!”

Datang lalu seorang ibu. Membawa tas keresek besar, berisi lima pasang sepatu milik anak laki-lakinya.

“Tak jadi masalah jika tidak bisa selesai hari ini. Aku hanya minta kau selesaikan sepasang saja, bisa, ‘kan?” pinta ibu yang baru datang ke kantorku, setelah kukatakan alasanku tidak bisa menyelesaikan menyemir hari itu.

“Boleh, Bu. Tapi untuk empat pasang, benar-benar boleh saya selesaikan besok?”

“Iya, tidak apa-apa.”

Selesai kusemir, ibu tersebut pergi. Dia membayarnya lunas. Bahkan memberikan tips yang lumayan banyak. “Terimalah semua.”

Kudongakkan kepalaku melihat hamparan langit biru di atas dengan senyum yang terkembang, sembari ucap, “barangkali ini adalah usaha memerankan dan mencintai nasib dengan benar.”

Sejenak sebentar, aku merasa geli. Lama-lama bahasaku, agaklah seperti Maria. Tapi, tak salah juga. Dengan cara itu, aku tak terlalu keras dengan nasib. Tak pula marah menyalak kepada ibu dan bapak, yang tak memberikan kewajibanku sebagai seorang anak, sepertinya, yang kini berhasil menjadi seorang manusia yang benar-benar mencintai dengan ikhlas pada nasib sendiri.

***

“Hei! Kau juga belum pulang? Untung saja di perempatan jalan tadi, aku tak langsung menuju rumah. Ke sini, mampir beli es teh langgananku.” Maria melihat wajahku dengan wajah simpan tanda tanya.

“Lembur.”

“Aduh, duh, rezeki besar nih!” Maria menepuk bahuku.

“Syukurlah. Kau tidak ingin bertanya, berapa ongkos lukisan ini?”

“Berapa memangnya?”

“Sepuluh ribu.” Aku tertawa.

Bukannya ikut tertawa, Maria tercengang. Untungnya dia tak marah seperti bisanya. “Kau serius? Sedetail ini? Melukis gambar dua orang, ditambah lagi dengan pepohonan rindang dan rerumputan, sepuluh ribu?” Maria masih tidak percaya.

“Apa aku terlihat sedang berbohong?”

Maria menggeleng.

“Kau gila!”

“Kau pun juga gila!”

Kami tertawa bersama-sama.

“Bukankah begini harusnya memerankan nasib? Sedikit banyak harus kita iyain, selain nikmatin?”

“Kau terlalu gila, Kalina! Kau banting harga dirimu di bawah rata-rata kerendahan status sosialmu.” Maria tertawa, lantas terdiam sejenak. “Maksudku, rata-rata kerendahan status sosial kita. Ya, kerendahan status sosial kita, Kalina!” Maria tersenyum garis dan memelukku.

“Sekali, dua atau tiga kali, tak masalah, ‘kan?” tanyaku sembari merapikan alat-alat semir dan lukis.

“Lima, enam atau berkali-kali juga tidak masalah. Asal jangan terlalu sering juga, laaah! Itung-itung sebagai, jeda lelah.”

“Jeda lelah? Kurasa tidak.” Aku menyangkal.

“Lalu?”

“Membuat bahagia orang-orang yang ngakunya berduit, kaya raya, tapi aslinya kere!”

“Udah pinter nih, Kalina!”

Kami tertawa lagi dan lagi. Tak peduli banyak orang melihat ke arah kami.

“Tunggu-tunggu.”

“Kenapa, Maria?”

“Bukan aslinya, kere sih.”

“Terus?”

“Yaaa, emang kere!” Maria tertawa paling keras.

“Garing!”

“Enggak … Enggak. Ini serius, Kalina.”

“Awas kalau garing!”

“Ya, emang …” Maria menggantungkan ucapannya.

“Kere, lagi!”

“Bukan-bukan.” Ada jeda sebentar saat dia selesaikan tawa gelinya. “Ya, karena dia tidak siap aja jadi kere. Kebutuhan pamer ke orang-orang aja, harganya tinggi, tak sebanding dengan  kemampuan daya beli barang yang benar-benar miliki kualitas! Dia takut, uangnya habis sedikit demi sedikit karena gengsinya, sih yah.”

“Terus yang kere siapa dong?” tanyaku.

“Nggak perlu dijawab, udah taulah kau.”

Lima menit setelah aku selesai membereskan alat-alat kerjaku, bapak pemesan lukisan datang.

“Cukup bagus juga, sebagai pelukis jalanan,” ujar si bapak sembari memperhatikan lukisanku dengan foto miliknya yang kukembalikan padanya. “Bisa kusarankan nanti, ke teman-teman kantorku. Kalau perlu kita bisa kerja sama. Bisa, ‘kan?” tanya si bapak sembari memberikan dua lembar uang kertas yang bernilai sepuluh ribu.

Kuanggukkan kepala, meski tak begitu yakin bisa bekerja sama dengannya.

“Paaak!” Maria memanggil si bapak.

Kembali lagi dia ke arah kami.

“Kau, kenapa panggil dia lagi!” aku lumayan gusar.

“Diam, kau. Diam!” pinta dengan memejamkan kedua matanya, dan menaruh telunjuknya ke bibirnya yang mengatup.

“Ini, Pak.” Maria memberi dua lembar yang bernilai sepuluh ribu, ke bapak tersebut. “Lukisan itu gratis untuk Bapak. Kalina, yang melukis foto Bapak tadi, hari ini sedang berbahagia.”

“Wah, sering-sering bahagia, yah.  Biar aku dapat gratis lagi!” pekik bapak dengan mata berbinar-binar.

Kuanggukkan kepala.

“Kau gila?” Aku memarahi Maria, setelahnya si bapak pergi. “Aku tidak mau gratisin dia!”

“Membahagiakan orang kok setengah-setengah. Sekalianlah.” Nada bicara Maria terdengar selengekan.

Kubayar sepuluh ribu ke Maria, sebagai gantinya.

“Kau, ‘kan tadi sudah membuatnya bahagia. Nah, sekarang aku ingin membuatnya bahagia.” Maria tak mau menerimanya.

“Kurasa kita tidak membuatnya bahagia, Mar. Melainkan mempermalukannya!” geramku.

“Malu? Kau yakin dia malu?” tanya Maria dengan wajah merah padam, menahan tawanya. “Tidak ada malu yang tampak di wajahnya itu, justru yang tampak urat malunya sudah putus, seperti urat malu milik kita.” Maria kemudian lepaskan pingkal tawanya amat keras. kalau sudah terpingkal seperti itu, air matanya pasti keluar. Sampai aku tak bisa membedakan, apakah dia benar-benar terpingkal, atau justru, dia sedang menertawai lelahnya.

________________________

Drew Andre A. Martin. Lahir di Jawa. Karya tunggal pertamanya; Virama Dvasasa, yang berisi dua belas judul cerita pendek. Selain sebagai penulis dan pengarang, Drew juga sebagai, cartomancer dan numerologist.

Sosial media miliknya:

Facebook dan Instagram: @drewandreamartin

X: @drwandreamartin.

Cerpen

Alisa

Cerpen Depri Ajopan

Kampung terpencil dengan dua jembatan gantung yang tampak menyeramkan. Awal Alisa tinggal di situ, selalu ketakutan saat melewati dua jembatan yang bergoyang-goyang itu. Untung ada Sakib yang menemani jika suaminya berhalangan.

Selama ini Sakib tidak tergolong laki-laki kurangajar di kampung itu. Tidak pernah sekali pun ia membuat keributan, apalagi gara-gara perempuan. Ia tidak genit, seperti kebanyakan pemuda di situ. Ia tidak pernah buat onar. Itulah yang membuatnya terpilih jadi ketua pemuda. Mengenai ia yang jarang bicara kecuali yang penting-penting, justru rmenaikkan derajatnya di mata masyarakat, menjadikan ia dipandang sebagai pemuda berwibawa. Ia jarang masuk warung duduk bersama orang-orang pencerita yang suka membual.

Tapi setelah kedatangan Alisa, perempuan dari Bekasi, Sakib tersihir pada kecantikan perempuan itu. Ia jadi bahan omongan di kampungnya karena ketahuan telah bermain api dengan Alisa.

Selama ini ia tak pernah terseok-seok perihal cinta. Bahkan mungkin ia tak begitu pahan apa itu cinta. Ia berubah seketika setelah kenal Alisa, perempuan bermata lentik, kulit bersih dan putih. Badannya tidak terlalu tinggi. Alis matanya seksi, bibirnya tipis bergaris, rambutnya lurus dan panjang. Sakib yang terpesona tidak bisa membendung perasaannya. Hal itu adalah pertama kalinya ia mencintai perempuan. hanya saja perempuan itu sudah bersuami. Anehnya ia terus mengikuti jalan salah itu, jatuh cinta pada istri orang. Apakah ia harus siap-siap kehilangan cintanya sebelum mendapatkan cinta itu?

Ia sudah pernah berterus terang tentang hasrat hatinya. Hal itu terjadi ketika ia dan Alisa bersama putranya yang masih berumur tiga tahun jalan-jalan ke pasar malam. Suami Alisa tidak pernah menaruh  curiga sedikit pun. Ia sering ke luar kota karena ada keperluan.

Namun, saat itu Alisa tak pernah menggubris. Dan kali ini Sakib kembali berusaha mengutarakannya, dan ia ingin mendengarkan jawaban jujur dari perempuan itu. “Aku serius mencintaimu Alisa,” ucapnya sambil memegang tangan Alisa dalam keramaian. Cepat-cepat Alisa melepasnya.

“Cinta?” sahut Alisa lantas tertawa sembari menutup mulut dengan tangan kanannya. Sementara tangan yang satu lagi, tetap memegang anaknya.

“Kenapa kau tertawa?”

Sakib merasa dipermainkan. Ia tak menerima perlakuan perempuan itu, karena selama ini mereka sering jalan berdua, dan pulang larut malam saat suaminya tidak di rumah. Sakib juga pernah memeluk perempuan itu jika ada kesempatan. Bahkan ia pernah mencium bibirnya. Alisa sendiri pun sering membalasnya dengan melumat bibir Sakib.

Sakib memang tidak pernah melakukan lebih dari itu, walaupun ia yakin jika ia minta Alisa pasti akan menurutinya. Ia merasa cocok mengobrol apa saja dengan perempuan itu, dan obrolan mereka selalu nyambung. Ia merasa semakin hari hidupnya semakin berwarna. Karenanya ia menyimpulkan bahwa mereka saling cinta. Mengenai perempuan bermata lentik yang sudah bersuami, ia tak peduli. Sakib yakin cintanya yang kuat tidak akan bisa terjadi pada perempuan lain, sampai akhir hayatnya. Dan sudah tergambar dalam imajinasinya, bagaimana ia nanti akan terus mencintai perempuan itu.

Namun, tawa perempuan itu, sungguh-sungguh melukai hatinya. “Kau ini aneh Alisa. Apa kau menganggapku bercanda?”

 “Yang aneh itu kamu, Mas. Bukan aku,” jawab Alisa masih dalam keadaan tertawa. Tapi kali ini ia tidak lagi menutup mulutnya seperti tadi. Tawanya lepas begitu saja.

“Kenapa kau bilang begitu?”

“Yalah Mas. Aku kan sudah bersuami, sudah punya anak juga. Jadi tak pantas jika Mas bilang begitu padaku.”

Sakib menggaruk-garuk kepalannya. Ia membayangkan apa yang telah mereka lakukan selama ini. Ia ingin mempertanyakan itu pada Alisa.

“Terus,” kata Alisa.

“Terus apa?” Sakib ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tahan karena tak berani.

“Mungkin Mas mau bilang, terus kenapa kamu mau aku peluk, cium kening, bahkan lebih dari itu?” lanjut Alisa sembari menggoyang-goyang tubuhnya.

“Iya,” jawab Sakib.

“Jawabannya tidak sekarang, yang penting kita jalani saja.”

“Sampai kapan?”

“Sampai bosan.”        

Sakib mendesah, tapi tetap ia belum mau membawa pulang perempuan dengan anaknya itu. Ia belum percaya keputusan Alisa, ia anggap Alisa tidak serius.                                               

* * *

Suami Alisa baru saja pulang dari luar kota. Ia mendapat kabar dari orang-orang tentang istrinya telah bermain serong dengan laki-laki bernama Sakib di kampung itu. Ia bilang tak kenal dengan Sakib, dan ia tidak ada niat untuk menuntutnya. Cerita miring itu tidak mengganggu pikirannya. Dan ketika ia berduaan di meja makan dengan Alisa, ia cerita tentang apa yang disampaikan orang-orang. Alisa terkejut dan ketakutan. Ia berpikir tidak ada harapan lagi bisa bertemu Sakib pemuda yang sebenarnya ia cintai selain suaminya. Bahkan ia berpikir, suaminya akan menceraikannya saat itu juga. Ia semakin deg-degan, menunggu keputusan apa yang akan diambil suaminya setelah mendengar cerita itu. Ia pura-pura tak merasakan apa-apa, seolah ia tak bersalah. Padahal hatinya bergetar.

“Aku percaya denganmu Alisa. Aku tidak mau direpotkan, apalagi bikin pusing gara-gara cerita-cerita sampah yang tidak ada pembuktiannya. Aku juga tidak ada niat untuk menelusurinya, benar atau tidaknya cerita itu. Aku percaya padamu sepenuh hatiku, kau pasti menjaga cinta kita seperti janjimu dulu.”

Alisa yang semula merasa napasnya seperti terhenti, akhirnya bisa bernapas dengan lega sembari menuju dapur. Tak lama kemudian ia membawa secangkir kopi, meletaknya di meja. Suaminya yang duduk santai di kursi mengaduk secangkir kopi yang asapnya masih mengepul terbang diseret angin. Ia tak berkata apa-apa lagi. Ia juga tak membahas tentang yang lain, tentang perkembangan bisnisnya yang sebenarnya hampir hancur. Setelah menghidupkan TV, suami Alisa menghidupkan rokoknya, mengisapnya dalam, dan sesekali mencicipi cemilan yang dihidangkan Alisa.

“Kenapa semudah itu percaya padaku, Mas?” tanya istrinya berhati-hati..

“Sudah kubilang, aku tidak mau pusing gara-gara mendengar cerita menjijikkan seperti itu.” Alisa mengangguk-angguk.

“Bagaimana kalau cerita itu benar?”

Pertanyaan itu membuat suaminya terperanjat. Ia terbayang pada seorang perempuan bernama Finka, perempuan selingkuhannya, mantan kekasihnya dulu. Setiap kali ia pergi ke luar kota, Finka selalu hadir di sana. Mereka menginap berdua di homestay.

Dan kini ketika ia mendengar berita tentang istrinya, ia diam saja. Bahkan jika berita itu benar, ia memang sudah rencana tak akan marah pada istrinya. Karena ia merasa dirinya juga telah mengkhianatinya. Bahkan ia lebih dulu melakukan perselingkuhan sebelum istrinya melakukannya. Ia menyadari akan risiko yang harus ia hadapi. Ia berpikir, Alisa mungkin sudah mengerti kenapa ia tidak cemburu ketika ia mendengar kabar tentang apa yang dilakukan Alisa.

______________________

Depri Ajopan. Lulusan Pesantren Musthafawiyah Purba-Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Menyelesaikan S-1 Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang. Menulis fiksi dan diterbitkan di sejumlah media. Novel terbarunya Pengakuan Seorang Novelis. Ia bergiat di Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau, sebagai guru Bahasa Indonesia.

Cerpen

Helena

Cerpen Yulputra Noprizal

Sudah mulai gelap di seantero kota. Sinar lampu-lampu merkuri menyiram jalan dan trotoar. Lampu di teras-teras toko dan di dalamnya pun mulai menyala seluruhnya. Suara orang yang berjalan kaki di trotoar terdengar sedang bercanda. Angin malam semilir meniup lembut pori-pori. Selepas makan di sebuah rumah makan di pinggiran Kota JT tadi, mereka memutuskan kembali ke kedai itu.

“Aku tak mau menyesal seumur hidup karena mengabaikan Helen dulu,” kata Syaf sembari berjalan ke kulkas dan mengeluarkan dua botol soft drink dari dalamnya. Ia membuka kedua tutup botol soft drink di depan kulkas. Lantas, ia letakkannya di meja dan mengeluarkan sebungkus rokok serta korek gas.

“Kan memang tradisi kampus kita. Sehabis ospek, dijodoh-jodohkan. Ini berjodoh dengan ini, itu berjodoh dengan itu. Ini gebet ini, itu gebet itu,” kata Ramli. Ia mengambil bungkus rokok, mengeluarkannya sebatang dengan tangan yang mengunting, lantas memantik korek gas, menyalakannya.

“Helen sudah mengajakmu kenalan. Sudah tahu banyak latar-belakangmu. Sudah tebar pesona di depanmu. Mengajakmu jalan bareng. Kau malah tak acuh,” lanjut Ramli.

“Aku merasa rendah diri di hadapan Helen. Aku orang dusun, orang jauh. Dari Sumatera. Merantau ke Jawa, kuliah di universitas besar pula. Belum paham tradisi kampus kita. Bisa kuliah saja sudah kemewahan bagiku. Helena kan anak Bandung. Mustahil dia tidak punya mantan. Aku pikir waktu itu, aku akan dijadikannya pelarian saja dari cintanya yang mungkin kandas sewaktu SMA,” kata Syaf. Ia mencabut sebatang rokok dari bungkusnya, menyalakan korek gas, dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Tapi kau kan suka pada Helen,” kata Ramli.

“Waktu itu belum. Belum cinta pada pandangan pertama. Tapi seiring waktu aku menyukainya, setelah ia jadian dengan Yogi.

“Kau menghindar dari Helena. Membiarkan Helena jadian dengan Yogi adalah kesalahanmu. Lantas, kau jauh dari kami, teman-teman kelasmu. Menjalani hari-hari dengan berandal kampus yang tak jelas juntrungannya. Menurutku mereka berasal dari keluarga yang bermasalah,” kata Ramli.

Kendaraan berlalu-lalang dan klakson sesekali berbunyi. Seorang mahasiswa dengan tas di punggung nampak berjalan di trotoar. Mungkin sehabis mengerjakan tugas dari rumah kawannya. Angin bertiup tambah semilir, dan udara mulai terasa agak dingin.

“Aku berkawan dengan Sadi. Aku tidak tahu ia baru ditolak cintanya oleh Rini. Katanya hampir seharian mereka di atas mobil Sadi. Entah tujuan ke mana. Ketika Rini menanyakan mau ke mana, Sadi mengecup bibir Rini. Rini mengelak. Membentak, minta mobil berhenti. Berpisahlah mereka dengan cara yang tak baik. Ah, Sadi. Belum juga jadian, sudah main cium saja. Terlalu pede orangnya, menurutku,” kata Syaf.

“Dengan Sadi itulah lantas kau dekat. Juga dengan Supri dan Riko. Mereka berandal semua. Orang-orang ‘gila’,” kata Ramli, lantas menyesap soft drink-nya.

“Aku tidak tahu Sadi orangnya begitu,” kata Syaf. “Sehabis cintanya ditolak Rini, ia jadi beringas. Setiap malam aku, Supri, dan Riko diajak keliling Kota B. Mencari perempuan-perempuan kesepian. Kadang bersama pelacur-pelacur menghabiskan malam dengan vodka. Aku tahu belakangan, sehabis dari kota B, sementara aku pulang ke kosan. Mereka juga mengisap ganja di kosan Supri. Tapi sumpah, aku tak pernah bersetubuh dengan perempuan kesepian, apalagi pelacur,” kata Syaf sambil mengangkat dua jari tangan kanannya. “Pernah suatu malam Sadi mengajak kami ke Kota G untuk mengunjungi sebuah tempat wisata. Bertemu dengan beberapa perempuan malam di sana. Menyewa kamar. Aku tidak ikut masuk dan menginap malam itu. Aku kembali ke Kota JT, naik bus. Melihat mereka–Sadi, Supri, dan Riko–dengan tiga orang perempuan malam aku jadi tahu mereka sudah terbiasa dengan hal itu. Ketika suatu ketika aku datang ke kosan Sadi, di kamarnya, banyak koleksi fotonya sedang berciuman dan berpelukan tanpa baju dan celana dengan perempuan yang berbeda-beda. Semua ia pajang di dinding.”

“Itu kan,” kata Ramli. Ia layangkan pandang ke sebuah lampu merkuri di pinggir jalan. Di bukit-bukit nampak lampu-lampu berwarna orange. Kendaraan yang lewat tambah ramai, silih berganti. “Kau cuti kuliah. Kami dengar kau hanya di kosan, membaca novel-novel sastra demi mengisi waktu. Saat kau kembali ke kampus, kau jadi penyair dan terkenal,” lanjut Ramli. “Pada Semester VI biasanya kau ngobrol dengan kami di bawah kanopi sehabis kelas, dan bareng mengerjakan tugas. Tapi tidak lagi karena terlalu asyik dan pacaran dengan Sonia.”

“Ah,” Syaf menghembuskan napas. Ia mengeluarkan sebatang rokok lagi dan menyedot soft drink-nya. “Aku salah pilih. Tak seharusnya kuterima cintanya. Dia begitu gigih, setiap pagi menungguku di kampus. Menatapku terus, mengajak mata bertemu mata. Sering ia melenggak-lenggok di depanku ketika aku sedang duduk sendiri. Setiap puisi yang kutulis dan dimuat di majalah kampus dan blog, ia peragakan lewat pakaian dan gerak tubuhnya seperti pemain teater. Kata pepatah, dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Akhirnya kami jadian. Dalam pacaran sebenarnya aku banyak pasif, dia terus yang mengajakku makan bareng dan jalan. Sampai akhirnya aku membentaknya dan besoknya tersiar kabar di kampus kalau ia patah hati. Tersiar juga aku telah memerkosa hatinya, padahal sebenarnya hanya ingin menguras uangnya. Semua orang tahu, aku mahasiswa kere. Datanglah tatapan-tatapan kebencian dari kawan-kawan Sonia kepadaku.”

“Bersamaan dengan itu Helena kan juga putus dengan Yogi.” kata Ramli. “Mengapa kau tak langsung jadian dengannya?

“Helena membuka hatinya padaku. Kami lama saling pandang. Tapi ketika kulihat ia sudah berantakan. Orang-orang mengatakan, Helen sudah kayak pecun,” kata Syaf.

“Ya, aku dengar juga bisik-bisik begitu. Apakah Syaf meniduri Sonia? Di mana Syaf membuang spermanya? Pakai pengamankah? Atau Syaf lari ke tempat pelacuran? Nyatanya Sonia tidak hamil. Lantas, Sonia sendiri yang akhirnya memutarbalikkan fakta, mengatakan ke orang-orang kau yang tergila-gila dengannya. Sudah sejak semula, sebelum jadian, kaulah yang terus mengejarnya. Nama baikmu dia buat hancur sehancur-hancurnya,” kata Ramli.

“Aku menenggelamkan diriku ke sastra. Sibuk membaca buku sastra dan menulis puisi hingga akhirnya lupa akan kuliahku.”

“Kau kemudian hilang selera. Ketika Dedi menawarkanmu beberapa cewek di kampus kita, kau tak juga memilih. Mengapa pula kau tak juga jadian dengan Helen waktu itu?” tanya Ramli.

Betapa iba Syaf dulu melihat keadaan Helen setelah putus dari Yogi. Terenyuh. Helen seperti orang yang jatuh miskin. Ketika orang-orang mengatakan, Helena sudah kayak pecun, hati Syaf begitu pilu mendengarkannya–tulang-belulangnya jadi gigil.

                                   *

“Tapi semua sudah berlalu kan Syaf. Sudah lima tahun lalu. Kau meninggalkan kuliahmu. Dan Helena, kau harus tahu, ia berhasil bangkit. Karirnya bagus di perusahaan sekarang.”

“Aku tidak ingin tahu sebenarnya. Tapi aku takut jadi laki-laki yang menyesal seumur hidup karena sudah dua kali Helen membuka hatinya untukku. Aku tidak juga merimanya. Dulu aku berbohong kepada hatiku sendiri,” kata Syaf.

Sesaat mereka sama-sama terdiam.

“Sudahkah dia menikah?” tanya Syaf tiba-tiba, sembari menatatap wajah Ramli. Hatinya berharap dan sungguh penasaran. Bibir Syaf sedikit bergetar mengucapkan pertanyaan itu. Ada rasa terdalam yang tak terungkapkan.

“Sudah. Helen tinggal di Jakarta. Suaminya pns.”

                                    *

Mereka bertemu di medsos. Sehabis menghilang dari kampus, tidak ada lagi kontak kawan-kawan seangkatan dengan Syaf. Syaf tak bisa lagi dihubungi. Baru bertahun-tahun kemudian, Ramli bertemu akun medsos Syaf. Mereka pun berteman dan bertukar no. WA. Ramli sudah jadi wartawan–sesuai jurusannya sewaktu kuliah–bekerja di sebuah media online di Kota Bandung. Ramli mengira selama ini Syaf pulang kampung. Tak kan kembali lagi ke Jawa selamanya. Ternyata Syaf di Jakarta, bekerja di usaha konveksi Mamak-nya (Paman).

Lewat sebuah pesan WA mereka janjian bertemu di Kota JT, di kedai tempat dulu mereka sering duduk sore sehabis kuliah, bercerita, dan kadang curhat juga.

Syaf memandang sebuah mesin ATM dekat minimarket. Di hatinya, ada rasa tersendiri dengan kota ini. Rasa yang memanggil-manggil untuk berlama-lama tinggal. Juga kampus, yang tak jauh dari kedai, terbayang atap-atapnya oleh Syaf dari tempatnya duduk.

“Lantas, apa rencanamu Syaf,” kata Ramli.

“Aku sudah mengumpulkan puisi-puisiku yang pernah termuat di media. Ada penerbit yang tertarik. Kalau jadi terbit, itulah buku pertamaku.”

_______________________

Yulputra Noprizal. Lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat.