
Kuyang Membeli Labubu
Di swalayan penghancur iman
aku melongo menyaksikan Kuyang
terbang dengan jeroan yang melayang
menjemput Labubu sedang mendekam
dalam blind box seperti ia saban hari
ingin melahap janin dalam kandungan.
Lalu Sang Kuyang menghampiriku
dengan kepala miang berkeluh kesah
sebab dirinya usai dirundung gelisah.
“Maharnya sungguh mahal.
Aku terpaksa menggadai
tubuhku hingga menyisakan
kepalaku demi bisa membeli
Labubu untuk anakku
tersandung FOMO, agar ia lekas
berhenti menggerutu sebab
kawan-kawannya lebih dulu
membeli Labubu limited edition.”
(2025)
_______________________
Liturgi Nasi Kuning
Dari dapur kecil tercium
molekul wangi kunyit yang
mengepul seperti aroma
bumbu habang melumat
mulut Acil Kintul.
Ia pun menguning berkat
sumpah yang dikukus oleh
rempah leluhur dengan
bau tungku memukat jelang pagi.
Bersama taburan serundeng,
disajikan di atas mini altar bagi
perjamuan kecil dari ragam ibadah.
Tak akan menanyakan silsilah,
ia hanya penasaran apakah
tanganmu ikut menyuap bersama
doa-doa yang tak seamin denganmu.
Ia adalah pesan singkat yang
ingin disampaikan bersama
kepala haruan dan dibagikan
secara nikmat yang setara.
Barangkali, itulah cara ia
bersua dengan kita yang
dibungkus daun pisang sebagai
wasiat mun tanah kita segera
menua juga langit ikut memudar.
(2025)
______________________
Dongeng Belom Bahadat
Pada sebuah lantunan sempuri purba
aku simak sangat suara Kai Piduka.
“Belom Bahadat, anakku,
ialah tubuh adat bagai rajah iban
melekat di atas kulit dadamu.”
Kai Piduka kian masyuk membalada
kisah Belom Bahadat serupa tetua
kayu bakar datang membawa kabar.
“Belom Bahadat, anakku,
ia membentang bersama Anoi
yang telah tumbang demi
bepekat besar tanpa sempat
bicara dengan angin begasa.”
“Dan, berkat Belom Bahadat
mereka tak saling melayangkan
mandau, bukan?” Ujarnya.
“Begitulah Belom Bahadat menetaskan
kepada mereka serupa acil menguntai
erat janur dengan simpul ikat mati,
serupa kain kebat merangkul punggung
hangat tambi adat.” Pungkasnya.
(2025)
_____________________
Cahaya Daffa Fuadzen. Aktif bergiat di Komune TerAksara Indonesia. Puisinya termaktub dalam antologi bersama Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (Ruang Sastra Kaltim, 2023). Penulis terpilih di Singaraja Literary Festival 2025. Alumnus Majelis Sastra Asia Tenggara 2025 Kategori Puisi.
