
Pada mulanya, ia getol menghasilkan cerita dan berita. Di kancah sastra, ia tercatat memberi novel pada masa 1920-an. Namanya tak setenar Abdoel Moeis, Noer Soetan Iskandar, atau Soetan Takdir Alisjahbana. Ia memang bergairah dalam sastra, mewujudkan cerita-cerita. Pada situasi politik dan sosial-kultural masa 1920-an, tokoh yang bernama Adinegoro makin meyakini pesona dan kekuatan kata. Maka, ia berada di jalan kata, melampaui pikat sastra dan pers.
Silam masih bisa teringat melalui tulisan-tulisan, yang dihasilkan pengarang-pengarang turut membentuk dan memajukan bahasa Indonesia, sejak awal abad XX. Di situ, ada Adinegoro yang memerlukan nama samaran untuk turut menggerakkan tulisan pada masa kolonial. Ia percaya nama itu memberi “pengenalan” dan “keberuntungan:, yang nantinya tercatat dalam lembaran sejarah Indonesia.

Siapa masih membaca tulisan-tulisan Adinegoro, setelah abad XX berlalu tergantikan abad yang “memalaskan” orang berhadapan dengan tulisan-tulisan tercetak? Ia bukan pengarang pujaan jutaan orang. Namun, buku-buku yang ditulisnya menjadi bukti keberanian orang Indonesia melakukan perlawatan jauh dan panjang ke pelbagai negeri.
Yang pernah di hadapan rak-rak memiliki buku-buku lama, Adinegoro adalah penulis yang menghasilkan novel, ensiklopedia, kisah perjalanan, kamus, dan lain-lain. Ia tidak kesulitan menulis tentang politik, geografi, atau kebudayaan. Pada masa kolonial sampai masa revolusi, ia membuktikan ketekunan yang elok.

Tulisan mengesankan yang dihasilkannya adalah Melawat ke Barat. Buku itu memikat para pembaca sejak masa kolonial. Yang membaca ikut merasakan perjalanan yang mendebarkan, menyenangkan, membingungkan, dan mengharukan. Ia naik kapal, turun ke pelbagai negeri. Sosok yang merasakan perjalanan darat di kota-kota yang sering memukau. Adinegoro menceritakannya kepada para pembaca yang ada di Indonesia.
Buku terbitan Balai Pustaka masa 1930-an, beberapa kali cetak ulang. Pada suatu hari, buku itu berada di pasar buku Gladag (Solo). Buku berada di tumpukan yang tak keruan. Di bagian bawah, buku ditemukan saat tangan makin kotor oleh debu-debu yang menempel. Buku yang hampir berusia seratus tahun. Melawat ke Barat menjadi bacaan memikat sejak 1930.
Penemuan yang menggirangkan. Kondisi buku masih bungkus. Halaman-halaman awal hilang. Artinya, data buku tidak diperoleh. Buku berhasil dibeli dengan harga murah, sangat jauh dari harga dipasang di pasar.

Setelah sampul, tangan yang membukanya langsung menemukan halaman 4, yang dijuduli “Sampai di Nederland”. Adinegoro yang naik kapal sudah sampai ke Belanda. Perjalanan dilakukan pada masa 1920-an. Kita membayangkan orang Indonesia yang berkelana di Eropa sambil mengikuti perkembangan-perkembangan politik di Tanah Air. Ia menjadi saksi sejarah tapi berada jauh dari Indonesia.
Yang dirasakan Adinegoro selama mengunjungi kota-kota di Belanda: “Barang siapa jang datang ke Eropah dan tinggal disini beberapa lamanja, tjepat ia terlepas dari ketimurannja. Adat istiadat dan kebiasaan jang lazim kita pakai tiada lagi akan terbajang keluar, sesudah beberapa bulan disini. Perasaan lain datanglah kepada kita. Perasaan itu disebabkan oleh karena peraturan kita disini berlainan sekali dari dinegeri kita sendiri. Terutama sekali perasaan serba rendah dan serba pitjik sudah hilang semendjak dari Marseile, jaitu semendjak kita mendjedjak tanah benua ini. Pendek kata, pengertian kita tentang keduniaan lahir dan batin sudah bertambah luas dan pribadi bertambah kuat.”
Penjelasan itu mengingatkan kita dengan tokoh Hidjo saat belajar dan tinggal di Belanda. Pemuda asal Jawa itu mengalami beragam pengalaman saat berada di negeri penjajah. Di novel berjudul Student Hidjo gubahan Marco Kartodikromo, kita mengetahui kaum muda Jawa di Eropa mendapat guncangan dan dilema. Pengalaman seru mungkin milik Sosrokartono dan Soewardi Soerjaningrat.
Di Belanda dan pelbagai negeri, Adinegoro tak boleh lama-lama. Ia seperti dalam tergesa. Yang dinantikan di tanah jajahan adalah tulisan-tulisannya. Melawat mengandung arti pemenuhan tugas sebagai pemberi berita dan pencerita.

Pengamatan sejenak oleh Adinegoro selama di Utrecht: “Didjalan tiada pula banjak kelihatan nona-nona jang berpakaian bagus-bagus sebagai tampak di Parijs atau Den Haag. Jang lalu lintas didepan kita hanja perempuan-perempuan biasa sadja, jang pergi ketoko-toko akan membeli-beli. Jang banjak kelihatan disini ialah studenten karena dalam kota Utrecht ini adalah lebih kurang tiga ribu peladjar jang menuntut ilmu diuniversiteit. Mereka itu memodekan (mengadakan mode atau tjara) memakai topi jang lemah tepinja serta petjak diatasnja. Dasinja seboleh-bolehnja jang berwarna merah tua atau kuning langsat karena dalam masa ini warna jang seperti warna kulit anak Indonesia digemari sekali. Dan achirnja dimodekan mereka pula memakai tongkat dari rotan, besarnja sebesar ampu kaki.” Yang dilihat itu masa 1920-an, yang mungkin lekas berubah pada masa 1930-an dan 1940-an. Kita kaget mengetahui Indonesia dijadikan “sumber” bagi orang-orang sedang memodekan di Utrecht. Di situ, ada imajinasi dan politisasi warna.
Keterangan penting bertema pers pun diberikan oleh Adinegoro. Ia mendapatkan data-data yang mencengangkan. “Pers itu boleh didjadikan mata air uang,” ungkap Adinegoro. Kalimat yang cocok untuk industri pers di Eropa dan Amerika Serikat. Yang disampaikan Adinegoro: “Banjaknja surat kabar harian jang terbit dinegeri Belanda dalam bahasa Belanda adalah kira-kira serratus. Boleh dikatakan bahwa tiap-tiap koran itu rata-rata ada langganannja sepuluh ribu. Di Amsterdam sadja jang berpenduduk lebih kurang tiga perempat miliun, terbit dua belas surat kabar harian.” Kita menduga selama di sana Adinegoro sekalian belajar tentang (industri) pers, yang bisa dicontoh bila kembali ke Indonesia.
Adinegoro melanjutkan lawatannya ke Jerman. Ingat, ia tidak sekadar melakukan perjalanan. Yang sebenarnya terjadi adalah perjalanan kata-kata. Adinegoro selalu menuliskan babak-babak selama di Eropa. Yang disampaikan mirip nasihat: “Barang siapa jang pergi ke Djerman dengan maksud hendak mempeladjari kultuurnja, haruslah pandai berbahasa Djerman, sebagai kalau kita hendak pergi ke negeri Belanda. Kalau hanja mengetahui sapatah dua sadja, takkan berhasillah apa jang dimaksud, berusaha menjelami kebudajaan Djerman jang sedalam-dalamnja.” Adinegoro ke Jerman, sebelum ada lakon terbesar oleh Hitler mengguncang dunia.
Ia sampai di Berlin. Kota besar yang membawa sejarah dan mengalami petaka-petaka pada abad XX. Bagaimana orang Indonesia menilai Berlin? Adinegoro menulis: “Tetapi di Berlin boleh dikatakan tak ada anak Indonesia; djika ada anak Indonesia jang datang kesana, mereka disangka anak Korea atau Japan. Didalam kota ini ada sekolah untuk beladjar politik dan djournalistiek, tjukup dengan profesor-profesornja. Memang djournalistiek dan politik itu mesti sedjalan, supaja djangan si penulis itu djadi kuli tinta sadja, melainkan supaja dapat pula ia memandang keadaan pergaulan hidup dan pemerintah, serta segala golongan penghidupan dinegerinja dan diluar negerinja dengan pemandangan jang lebar.” Jerman memili kekuatan dalam sastra. Selama di sana, Adinegoro pun membuktikan kekuatan Jerman dalam pers.
Buku berjudul Melawat ke Barat sekadar bacaan meski memuat beberapa foto. Kini, kita yang membaca dan membayangkan akan kelelahan saat dunia bisa mudah dilihat melalui gawai. Perlawatan tak lagi harus membawa raga ke tempat-tempat jauh. Konon, perlawatan masa sekarang bisa menemukan banyak hal dengan ongkos yang murah.
Dulu, yang dilakukan Adinegoro adalah melawat yang bergelimang kata ketimbang foto. Yang ditulis adalah pengalaman dan kesaksian ikut memberi pengetahuan kepada ribuan pembaca di Indonesia, dari masa ke masa. Namun, buku itu perlahan susah terbaca oleh kaum yang bergawai. Mereka tidak lagi memerlukan halaman-halaman kertas yang sesak ribuan kalimat. Mereka tinggal menghidupkan gawai untuk melawat ke pelbagai negara.
_____________________
Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.
