ketika kau patah hati berbaringlah di ranjang puisi
bantal yang empuk dan selimut yang hangat akan memelukmu
sehingga kau tak merasa sendiri lagi
pandang pula langit-langit kamar puisi. kau temukan bintang-bintang
kau temukan angin menggulung awan dan udara putih lagi sejuk
dadamu tak usah berkobar-kobar api
rasakanlah semilir yang datang dan pergi
terkadang pikiran sumpek dan cupet itu berasal
dari dendam yang diam-diam merencanakan penyesalan
maka tak usahlah jalan-jalan di luar ada peperangan
lebih baik memasuki kamar puisi
membaringkan diri di ranjangnya yang peduli
dan sejenak letakkan kesedihan dekat jendela
sebentar lagi ia akan berubah jadi pot dengan bunga
atau guguran daun saja atau burung yang terbang ke angkasa
2022
Ibadah Sepi
jam dua pagi aku bangun dari kasur
suara detik nyaring
menyisir ke sudut ruangan terpencil
dingin memutih pada udara
air kran berbunyi menyentuh hati
aku terpaku pada bayang-bayang gaib
sajadah yang tergelar
kubah megah masjid entah
kepalaku seolah telah lepas dari tubuhku
dan mataku seakan menghapus ketakutan
dan menyisakan cuma keindahan
nyaris ke puncak puisi
2022
Putih
adalah buih-buih di pantai
adalah awan gemawan di langit
adalah lampu-lampu kota
adalah bulu-bulu burung
adalah hati seorang pecinta
yang serupa cermin bagi Kekasihnya
2022
Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya berupa puisi, cerpen dan esai tersiar di berbagai media massa, serta terikut dalam buku-buku antologi bersama. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas, penerjemah lepas, dan penjual buku-buku baru maupun lawas. Sekarang tinggal di Srandakan, Bantul, Yogyakarta bersama istri, sembari melukis dan bikin aneka kerajinan dan tentu saja masih terus aktif menulis. Penulis bisa dihubungi melalui email: [email protected].
“Ndri, nanti sore kita ke rumah ibu, ya,” ucap Mas Is seraya duduk di sebelahku.
Aku menutup halaman buku yang tengah kubaca, lalu menghela napas panjang. Sebelumnya kami sebenarnya sudah berencana makan malam di luar, tapi kalau Ibu sudah meminta, kami tak kuasa menolaknya.
“Dua hari lalu kita baru dari sana, Mas. Terus acara kita malam nanti?”
“Sorry, kemarin aku lupa bilang, acara sore nanti memang sudah direncanakan ibu. Katanya nanti ada bancakan Dito,” ujar Mas Is lirih.
“Bancakan lagi, bancakan lagi! Mau sampai berapa kali, Mas?” sahutku dengan emosi tertahan.
Aku memang tidak suka dengan kebiasaan ibu mertuaku itu, bancakan! Meski katanya bancakan adalah tradisi leluhur untuk melindungi diri dari malapetaka, wabah, atau apalah namanya. Terlebih bancakan untuk Dito, anakku yang sudah meninggal. Jujur, bukannya aku senang, tapi malah sedih.
Bancakan yang dilakukan ibu seolah menampar diriku dan Mas Ismanto berulang-kali. Karena bukan sekali atau dua kali ibu menyebut-nyebut bahwa meninggalnya Dito disebabkan kesalahan kami berdua. Katanya, karena kami kurang sedekah, kurang bancakan, sehingga Dito menjadi “bancakan” roh-roh jahat. Padahal kepergian Dito sudah jelas penyebabnya. Di usia setahun, ia telah divonis menderita leukimia. Lantas di usia dua tahun, Dito pergi meninggalkan kami semua. Berat, tentu saja, tetapi semua sudah kehendak-Nya.
Menurutku, kepergian Dito sama sekali tidak ada hubungannya dengan roh jahat atau hal mistis apa pun. Obatnya bukan bancakan, melainkan serangkaian pengobatan medis oleh dokter spesialis penyakit dalam.
“Tapi nyatanya tidak bisa menyelematkan nyawa anak kita?” kata Mas Is.
Aku menelan ludah, tidak berani menjawab. Sebab percuma, mendebatnya, yang hal itu hanya akan menjadi abu. Jika mungkin menang pun hanya jadi arang. Tapi bagiku, berobat ke dokter adalah bentuk usaha. Bersedekah tidak harus dengan bancakan seperti yang kerap dilakukan ibu. Sesungguhnya sudah dua tahun sejak kepergian Dito, aku mulai ikhlas. Entah ikhlas yang seperti apa, tetapi aku aku yakin Dito telah bahagia di sana.
Namun tidak dengan pendapat ibu, yang hal itu kutahu dari Mas Is. Dia pernah menyampaikannya kepadaku. Katanya aku belum ikhlas melepas Dito. Katanya ibu juga pernah menyinggung, bahwa mungkin saja tidak segeranya aku mengandung lagi, juga karena hal itu.
“Bahkan ibu pernah mengatakan, terkadang kamu diselubungi oleh energi negatif,” kata Mas Is menyampaikan apa yang disampaikan ibu. Saat itu aku berpikir, sebegitu kejamnya ibu menuduhku seperti itu. Jika mengingatnya, perasaanku jadi berantakan, seketika mataku memanas. Namun, seperti biasanya, Mas Is mendekat, lalu memelukku erat.
“Aku tahu perasaanmu, Ndri,” ujar Mas Is yang sepertinya mengerti perasaanku. “Tapi sebaiknya kita memang tidak perlu membuat konflik dengan ibu. Meski berat, tapi berusahalah untuk bertahan. Yang pasti aku akan selalu berada di sampingmu,” bisik Mas Is menenangkanku.
Dadaku terasa sesak, isak ini pun tak tertahan lagi. Mas Is benar, jika kami tidak menuruti permintaan ibu, hal itu sama saja menabuh genderang perang.
***
Di ruang keluarga ibu duduk bersila. Di depannya terdapat sebuah tampah besar beralas daun pisang, berisi aneka urapan sayur, nasi tumpeng, dan lauk pauknya. Hal yang paling membuatku takjub, ibu mampu membuat sendiri semua hidangan istimewa itu. Meski usianya telah senja, berlama-lama di dapur tidak membuat staminanya menurun.
Sementara di sekeliling ibu, duduk rapi anak-anak kecil yang menjadi tamunya. Sebelum makan, ibu memulai berdoa. Dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti ibu mengutarakan permohonan. Permohonan agar Dito tenang di alamnya, permohonan untuk kesehatan kami berdua, juga kesehatannya sendiri. Terlebih permohonan agar aku diberikan momongan lagi. Sebuah permohonan yang terkesan formalitas. Doa yang itu-itu saja yang diucapkan ibu setiap melakukan bancakan, bahkan hal itu sampai kuhafal.
Aku tidak antusias dengan acara rutinitas itu, lagi pula kami baru datang. Tapi ucapan ibu kerap mampu memperburuk kondisi hatiku. Meski sebenarnya aku tahu perkataan itu disampaikan untuk anak-anak yang ikut bancaan, tapi aku tetap merasa tersindir.
“Bancakan ini wujud sedekah. Kebiasaan baik dari leluhur kita. Semoga kebiasaan baik seperti ini tidak dipandang buruk oleh siapa pun. Namanya saja kebiasaan baik, jika kita sedang melakukannya, harus dengan perasaan ikhlas.”
Aku mengigit bibir, meski aku tidak tahu apakah pernyataan ibu itu sengaja untuk menyindirku atau tidak tapi, kata-kata ibu tadi sukses melukai perasaanku. Setelah itu benakku mengembara ke mana-mana. Lantas aku memikirkan apa saja yang ibu katakan dan lakukan. Dari situ aku merasa sejak awal pernikahan kami, ibu sepertinya memang tidak pernah bersikap lunak kepadaku. Menurutku bukan hanya sikap, bahkan jika bicara pun tidak pernah enak didengar. Jika sudah begitu biasanya aku hanya bisa mengelus dada, lalu masuk kamar, seperti yang kulakukan saat ini, menjauh dari mereka, sekadar untuk meluruhkan air mata.
Hari ini, sebenarnya banyak aneka kudapan yang menguarkan aroma sedap hingga terasa menggiurkan, tapi hal itu sama sekali tidak menerbitkan nafsu makanku. Bahkan setiap kakiku menginjak rumah ibu, rasanya semua lantainya penuh dengan duri tajam. Aku ingin acara itu cepat berakhir dan kami bisa pamit pulang.
Perlahan aku keluar kamar, menuju teras, tetap memisahkan diri dari ibu dan Mas Ismanto. Namun sesekali pandanganku mengarah pada wajah-wajah polos yang tengah menyantap bancakan itu. Jika Dito masih hidup, barangkali dia pun tengah menyantap bancakan dengan lahap, dan tentu saja diiringi dengan canda tawa bersama mereka. Seketika air mataku jatuh lagi.
“Lo, Bulik kenapa nangis? Enggak dapat bancakan, ya?” Suara polos seorang anak mengagetkanku.
Ternyata anak itu Wibi, lengkapnya Wibisono. Usianya tujuh tahun, tetangga sebelah rumah. Ia memang sering main ke rumah ibu. Sepertinya ibu memang menyukai anak kecil, bukan hanya Wibi, tapi juga yang lain. Barangkali karena ibu merindukan seorang cucu, sebab cucu semata wayang, yaitu anak kami, meninggal dengan cepat. Di rumah ini ibu hanya tinggal bersama Bulik Pur, adik sepupunya yang telah lama menjanda.
Sebenarnya ibu telah meminta Mas Is untuk tetap di sini, tetapi Mas Is memilih tinggal jauh dari ibu. Waktu itu alasan Mas Is, agar dekat dengan kantornya. Padahal Mas Is sedang menyelamatkan aku dari konflik dengan ibu. Paling tidak hal itu yang pernah Mas Is ungkapkan kepadaku.
Wibi mengulangi perkataannya.
Aku menoleh ke arahnya. Aku tersenyum lalu menggeleng. “Belum lapar, Wibi,” sahutku kemudian.
“Oalah, padahal mau kukasih iwak,” ujarnya sambil menyorongkan paha ayam untukku.
“Eh, enggak usah, untuk kamu saja. Ayam itu protein, bagus buat kesehatan kamu.”
“Kok, Bulik ngomongnya sama sih, kayak Simbah Surti. Kalau kami lagi makan, lalu Simbah memberi kami iwak. Katanya bagus untuk kesehatan.”
Aku tersenyum kaku. Ada sebersit rasa iri di hati ini. Ibu bisa bersikap lunak kepada orang lain, tetapi kepadaku—menantunya sendiri—tidak pernah bersikap begitu. Setidaknya begitu yang kurasakan selama ini. Beruntunglah Wibi yang selalu disayangi ibu mertuaku.
“Oh iya,Bulik, semalam aku nginep di sini, lo.”
“Kamu enggak dicariin ibumu?”
“Ibuku tidak di rumah, kok. Dia pergi jauh. Kerja. Jadi aku sama bapak dan Mbak Nita. Kalau aku sedang kesepian, aku pergi ke sini. Aku suka dibacain buku cerita sama simbah,” terangnya antusias.
Wibi anak pintar dan cerdas, ia senang berceloteh. Barangkali inilah salah satu penyebab ibu menyukainya. Pastinya ibu juga menaruh iba kepada anak yang ditinggal ibunya. Tapi apa pun itu aku sedang tidak ingin menilai kondisi orang lain.
“Setelah aku dibacakan cerita, sebelum tidur aku disuruh berdoa.”
“Oh, ya, pintar,” jawabku pendek sembari tersenyum dan mengusap kepalanya.
“Doanya itu panjang. Selain doa mau tidur, juga doa agar aku dan Mbah Surti sehat. Doa untuk Paklik dan Bulik juga ada. Katanya biar sehat dan banyak uang, dan segera dikasih adek lagi.” Usai mengatakan begitu, Wibi izin kembali berkumpul dengan mereka.
Sementara, aku yang mendengar kalimat itu, mataku kembali memanas. Diam-diam kuperhatikan ibu yang tengah makan sambil bersenda gurau dengan tamu-tamu kecilnya. Beberapa detik kemudian, meski pandanganku masih tertuju pada mereka, tapi ingatanku terpaku oleh pesan Mas Is, yang katanya hal itu adalah kata-kata ibu. Isi pesan itu menyatakan bahwa bisa jadi selama ini aku tengah dikelilingi energi-energi buruk.**
Puput Sekar, lulusan Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari terbitan Republika, tahun 2012. Splash Love in Seoul, Beo Zelga, tahun 2020, terbitan Prudencia. Aktif menulis di komunitas literasi Nulis Aja Dulu dan Opinia. Pecinta mi ayam dan kebudayaan.
Telah direnggut segala yang ada di diriku. Habis sudah segala yang kupunya kecuali nyawa yang melekat, mungkin ini juga tidak berguna lagi. Aku terbuang, jauh dari segala yang kuidamkan dan kucintai. Di tubuhku ini darah hanya mengalir, sebatas itu, karena memang tidak ada hal yang bisa menggantikan harga diri. Aku sudah selesai, semuanya sudah dirampas….
Jo terbatuk. Mata lelaki berambut perak itu menerawang ke luar jendela. Tampak bunga azalea di seberang jalan. Dalam pandangannya, bunga itu seperti bunga kemboja yang seakan anomali di tengah padatnya pemukiman. Bunga yang dilihat Jo membawa pada ingatan masa lalu. Tentang dia yang sebelum menahan beban dan keterasingan.
Jo masih ingat persis. Segalanya mencekam, malam itu seorang teman yang masih indekos di asrama yang sama dengan Jo ditangkap. Sedikit beruntung karena Jo saat itu sedang keluar bersama beberapa kawan lain. Dia tidak sampai dibawa oleh yang konon katanya petugas, meski segala tentang berkas-berkas dan perihal administrasinya raib—disita.
Keesokan hari di sebuah surat kabar memasang headline tentang penangkapan beberapa mahasiswa yang dicap komunis. Jo tahu dan sadar tapi semuanya seakan terlambat. Kuliahnya terkatung, hidupnya juga. Menjadi pelarian—dari Belanda ke Rumania, singgah sebentar di Belgia lalu kembali lagi ke negeri kincir angin itu. Terasing di sana, dan pasrah yang akhirnya itu juga dia gadaikan untuk bekerja di sebuah bengkel, meski kemampuannya tak seberapa, hanya bisa utak-atik sepeda ala kadarnya seperti yang dia lakukan di kampung dulu.
Jalanan lengang, hanya beberapa pejalan kaki yang tampak di pelupuk mata lelaki tua itu. Di kamar, Jo melambungkan pandangan ke arah birunya langit. Biasanya jalanan padat dan ramai meski bisa dikata tempat tinggal Jo ada di daerah Amsterdam pinggiran. Salah satu sebab jalanan kota ramai selain saat hari kerja adalah karena ada pertandingan sepak bola. Mengingat permainan bola kaki itu dada Jo sesak. Ingatan terus berkelindan, tak bisa dicegah terus saja berdesakan hingga akhirnya meruncing pada kaki-kaki dekil, bola lusuh, tanah becek, serta berbagai kegembiraan yang sekarang semua itu hanya sisa, abadi dalam sebatas bulir-bulir kenangan. Segala tak pernah kembali, batin Jo. Semua pupus, lalu sirna bagai debu jalan yang dihempas angin Amsterdam tanpa terkecuali harapannya. Dia lelaki tua yang tidak lagi percaya akan hal itu. Ditaruhnya harapan di dalam lubuk hati, lalu pintu hati ditutup rapat dan dikunci bagai lemari kayu yang ada di kamarnya dulu. Kamar di mana dia dilahirkan dan dirawat lentik jemari ibunya.
Satu hal dan seakan hanya itu yang ingin dikatakannya, dan sebab itu dia mengguratkan penanya di atas secarik kertas meski untuk saat ini—saat matanya menerawang ke luar kamar, dia seakan mengambil jeda untuk menarikkan tinta-tinta pena. Dia kini melangkah kecil, asbak di meja dekat lampu duduk diambil, tangannya merogoh saku kanan celana. Satu kretek diloloskan. Jo terbatuk, riak kental dan menguning keluar, ditutup dengan telapak tangan. Tapi tetap saja rokok dihisap dalam, diembuskan, asap keluar deras bagai kereta uap Belanda menyemprotkan sisa pembakaran.
Kembali dan selalu pandangan Jo tertuju pada jalan yang ada di bawah kamarnya. Di balik kacamata, dua bola mata itu seakan berisyarat bahwa dia ingin bebas, sebebas terbangnya burung di desanya dulu. Dia ingin hidup yang benar-benar hidup, bukan hidup yang terus menerus berjalan dengan membawa beban masa lalu yang ia sendiri tidak pernah tahu dengan persis kesalahannya.
“Andai,” begitu gumam Jo. Tapi pengandaian menjadi kekeliruan yang besar. Sudah tidak ada baginya kejayaan. Masa lalu yang dia ingat hanya tentang keriangan yang sekarang sungguh kabur dan berjarak jauh. Masa lalu tak ubahnya suara yang keras di pikiran, namun lamat di telinga.
….. maaf. Jika memang kata itu pantas dan kiranya aku tidak punya kata yang lain lagi. Bukan aku menduga atau berpikir tentang segala yang buruk, tapi aku berpikir kalau ibu dan bapak sudah mati. Aku memang terlampau brengsek, dan untuk saat ini aku sudah benar-benar kalah. Kuakui, aku memang pecundang, tapi bukan di mata mereka. Aku pecundang karena tidak bisa menjagamu, membanggakan kedua orangtua kita, dan malah menjadi orang asing di negeri asing pula. Semua dalam hidupku mungkin telah keliru. Untuk itu aku minta maaf.
Umurku mungkin sudah tak lama lagi. Bukan aku hendak mendahului keputusan Tuhan, tapi begitu yang kupikirkan. Betapa kematian tidak lagi menakutkan karena beban yang berhimpit di dalam hati dan pikiran ini yang selalu dan terus saja membuatku menggigil setiap malam.
Kembali Jo berhenti menulis. Dalam duduknya dia memandang jendela, tak ubahnya jendela itu jeruji besi yang mengungkungnya selama ini. Rumah susun dengan cat warna cokelat tanah dipandanginya lama dari balik jendela. Matanya nanar menatap itu. Tanpa satu aba-aba, air matanya menetes. Bayangan masa lalu tentang harapannya meninggalkan Indonesia dengan penuh bangga kini seakan koyak. Hanya menjadi luka batin yang dalam.
Ingatan Jo seakan kembali ditarik. Sebuah desa bernama Kepuh gempita bukan main, seluruh warga tampak mengantar Jo yang bernama asli Sumarjo untuk melanjutkan kuliah di negeri yang berpuluh ribu kilometer jauhnya. Jo tak mungkin lupa, setidaknya orangtuanya yang hanya buruh tani bisa membanggakan dirinya, putra sulung mereka. Marwanto dan Hartini kedua adik Jo yang saat itu masing-masing masih terlalu dini untuk tahu tentang arti sebuah perpisahan tidak pernah mengira bahwa hari itu menjadi hari terakhir mereka bertemu kakaknya. Begitu juga dengan Jo yang tidak terbesit sedikit pun kecemasan saat harus meninggalkan tanah kelahirannya. Tanah yang saat ini begitu dirindukannya.
Saat perpisahan itu ibunya juga membawakan sebuah kemboja putih yang memang menjadi kebiasaan ibunya dalam setiap pagi mengumpulkan kemboja. Dulu Jo menganggap ibunya sekadar iseng atau memang tidak ada pekerjaan lain, tapi karena ingatan tentang kemboja itu, Jo kini sangat rindu akan segala yang telah lampau berlalu. Luka pikiran dan batin, geram, mengutuk pada suratan nasibnya sendiri, Jo meneteskan air mata, terus saja menetes. Bulir lembut air mata bagai genangan masa lalu yang tak bisa dihindari.
Sebuah klakson mobil yang terdengar keras membuyarkan lamunan Jo. Matanya melihat sedan kecil berwarna perak, seperti milik seorang sahabat bernama Theo. Ya karena seorang kawan itu juga Jo merindukan tanah air.
Di sebuah bar tempat biasa klub penggemar musik blues berkumpul, Jo dan Theo bertemu. Lelaki berdarah Belanda-Maluku yang bisa sedikit berbicara bahasa Indonesia namun dengan aksen Belanda kental dan mahir memainkan harmonika itu mulanya mengawali pembicaraan dengan Jo lewat cerita bahwa dia baru saja pulang dari Indonesia, tanah nenek-kakeknya. Lelaki yang berumur tak beda jauh dengan Jo itu juga mengatakan kondisi Indonesia saat ini sudah aman dan kondusif. Pemimpin di sana sudah berganti.
“Apa kamu tak rindu keluargamu?” tanya Theo usai bercerita panjang lebar tentang politik Indonesia. Cerita yang disampaikan dengan sangat antusias dan semangat.
Jo diam seribu bahasa. Matanya merah, antara kemarahan dan rasa penuh harapan ada di dua bola mata lelaki itu. Theo seakan paham dengan perasaan kawannya. Kebisuan dan keheningan milik mereka jelas kontras dengan suasana bar yang riuh. Jo mengambil gelas yang ada di meja dengan tangan yang bergetar.
“Apa barang sedikit kau tidak bisa berdamai dengan masa lalu, Jo?” tanya Theo setelah beberapa saat diam dan hening milik masing-masing menguasai meja mereka. Kembali Theo menyampaikan pandanganya, “Jika kau memang rindu pada keluargamu sebaiknya kau pulang. Jangan permasalahkan segala yang telah berlalu.”
Jo hanya mengangguk seakan mahfum dengan hal yang sedang diutarakan Theo. Tapi Theo menatap Jo dengan penuh heran, tidak tahu mesti memberi nasihat macam apa untuk kawannya itu, karena bukan sekali ini saja Theo memberi masukkan pada Jo.
“Jelas kau terlalu egois, Jo,” ucap Theo lirih.
Jo masih saja diam. Dia menandaskan minumannya dalam satu kali tegukan. Kemarahan tampak dari air muka lelaki tua yang menjadi pelarian itu.
Theo menatap Jo dengan saksama. Tapi yang ditatap itu justru mengarahkan pandang ke panggung kecil yang ada di bar. Sudah jelas tidak ada hal lain yang memang dipikirkan Jo kecuali perkataan Theo. Kembali Theo menyapa Jo dan kali ini ditambah gerakan kecil ke bahu. Beberapa pengunjung bar tampak memicingkan mata penuh heran ke arah mereka.
“Kau benar. Jelas benar. Aku memang rindu keluargaku tapi jika kau katakan tentang pulang. Lain. Jelas ini lain!” Jo meloloskan sebatang rokok seolah mencari ketenangan tapi dalam raut muka itu masih saja ketegangan yang tampak.
“Kupikir kau paham tentangku. Kau yang kuanggap sahabat ternyata tidak semua kau mengerti. Jelas aku rindu keluarga, rindu kampung halamanku. Tapi sudah habis segala yang kupunya. Aku orang gelap di sini. Pulang dengan apa? Aku harus bagaimana? Aku sendiri tidak tahu. Bukan aku mengungkit tentang harga diri tapi ini semua justru tentang aku yang menahan agar segala masa lalu tidak lagi muncul. Telah kukubur segalanya. Aku hanya berpikir, ada kalanya sebuah dendam tidak perlu lagi kutuntaskan dengan hal apapun. Dalam hal ini, aku memilih tidak melakukan apa-apa lebih berarti terutama bagiku sendiri, karena hal itu yang telah kupilih.” Panjang lebar Jo mengatakan itu usai dia mengembuskan kepulan asap yang tebal dari mulutnya. Sebentar setelah itu Jo pamit, hanya kata pendek yang diucapkannya pada Theo, lantas dia meninggalkan bar.
Saat itu jam belum terlalu larut meski angin yang berembus cukup membuat gigil tubuh Jo. Dalam perjalanan pulang menuju apartemen yang Jo sewa dengan harga cukup murah bayangan datang. Sekat antara masa lalu dan keinginan pulang beradu dalam pikiran Jo, terus berputar dan terus begitu. Hingga dia sampai rumah pikiran tentang kata-kata Theo terus mengejar Jo.
Air mata menetes, kertas surat menyerap air itu. Kembali Jo mengarah pandang ke luar jendela. Ada suara berisik, di kamar sebelah seorang ibu sedang membentak anaknya. Segala yang sentimental dan nostalgik menarik ingatan Jo tentang orangtuanya yang kerap marah. Terutama ibunya sendiri. Bukan Jo serba tahu tapi jika rambutnya saja sudah memutih, dia berpikir orangtuanya pasti sudah meninggal dunia, meski dia tidak tahu bagaimana persisnya. Prediksi dari kelogikaan, pikir Jo.
Kabar kematian memang tidak didapat Jo, dia sadar dan tahu sekalipun kabar itu ingin disampaikan, adiknya pasti tidak tahu persisnya harus bagaimana mengirimkan kabar duka pada Jo. Lagi, bayangan kematian bukan kedukaan karena bagi Jo duka sudah menempel lekat dalam sisa umur hingga sekarang, bahkan untuk ke depannya.
Jo melangkah kecil. Menuju dapur, mengambil sebotol air putih dan meneguknya. Setelah itu dia kembali ke kursinya, kembali mengambil pena dan bersiap menggoreskan tinta-tinta hitam pada kertas.
Kertas yang semula telah dibubuhi tulisan dirobeknya. Kata-kata seperti mati bagai jiwanya dalam segala keterasingan selama ini. Ditulis ulang surat itu dengan kalimat yang hampir sama dengan sebelumnya. Yang kali ini berbeda perihal permintaan maafnya yang ditulis di bagian awal surat.
Entah kenapa menulis surat untuk kali ini seperti siksaan yang secara tidak langsung terus bertalu dalam dada Jo. Gemuruh hatinya jelas tampak ketika mata tuanya kembali menerawang ke arah luar jendela. Terus saja mata Jo ke arah yang sama, seakan dia tidak kehabisan kata-kata tentang hal yang selama ini dia rindukan namun tidak bisa ditulisnya. Hanya pada kaca dia seperti meminta pengertian. Sendiri.
Kamar sunyi, amukan tetangga hilang setelah diakhiri dengan bantingan pintu yang sangat kuat. Sudah biasa bagi Jo, bahkan hampir saban hari dia mendengar pertengkaran ibu dan anak itu. Jo sudah tidak memedulikan karena segala yang terus dia pedulikan seperti sudah tidak membutuhkannya. Dalam duduknya kembali pengandaian itu keluar. Ya seandainya dia tidak mendapat beasiswa studinya ke luar negeri untuk meneruskan sebagai insinyur tentu sekarang dia bisa menikmati masa tuanya di tanah air. Terpandang syukur, jadi buruh tani tak masalah bagi Jo, asal masih tetap di tanah airnya sendiri. Bukan bekerja sebagai seorang montir di sebuah bengkel meski bengkel itu ada di luar negeri. Tapi satu yang jelas dalam hidupnya, dan itulah yang dia inginkan, bukan hidup dalam keterasingan dan pengasingan yang sampai mati harus dia terima.
Seperti telah puas menatap jendela, Jo mengarah pandang pada kertas surat. Beberapa buku yang ada di meja juga tak luput dari pandangannya. Merah mata Jo dibakar marah begitu dia melihat buku itu. Tapi Jo seperti tersadar segala marah tiada menemui guna. Bertahun lalu begitu tentang konflik politik itu pecah sempat dia ingin membakar buku-bukunya, tapi hal itu dia urungkan. Tidak tega Jo membakar buku miliknya. Buku yang padahal bukan dengan uang Jo membelinya, melainkan dengan rasa persahabatan. Ya, seorang sahabat kerap membawakannya buku-buku itu. Yang tersisa dari persahabatan itu tak lain tinggal buku dan kenangan. Tidak ada lagi hal lain, karena setelah konflik itu pecah sahabat Jo tidak pernah lagi terlihat. Rumor berkembang tentang dia yang diculik oleh sekelompok orang.
Kalian mungkin menganggapku sudah mati karena aku tidak pernah pulang bahkan mengirim kabar pun tak pernah. Sampai saat ini bahkan hingga aku menulis surat ini, aku merasa malu atas hidupku. Memang aku tak pernah mendengar kabar dari kalian, tapi aku yakin kalian bernasib lebih baik daripada aku. Tentang Indonesia aku kerap mendengar dari kawan atau membaca di surat kabar. Kondisi di sana setidaknya tidak lebih buruk dari puluhan tahun yang berlalu. Aku tidak tahu persisnya, tapi pada intinya, aku harap semua baik-baik saja.
Sudah kutulis segala dalam hidupku berantakan. Jangan pernah pikirkan kakakmu ini. Memang begitu adanya waktu yang masih saja misteri. Aku tidak hendak membela diri tapi memang aku tidak mau secara terang untuk pulang. Cukup bagiku untuk mendengar kabar tentang Indonesia dari sini, meski kabar itu bukan disampaikan langsung oleh adikku sendiri.
Kubuat pengakuan kalau memang ini sudah menjadi bulat keputusan. Yang aku ingin kalian tahu setidaknya aku rindu kampung halaman meski tak sudi aku pulang. Bukan sekadar tak sudi karena pada kenyataannya aku tidak akan pernah bisa pulang. Semua sudah habis seperti yang sudah kutulis sebelumnya.
Beruntung. Bisa kukatakan demikian karena setidaknya aku masih bisa bernapas hingga sekarang, lain daripada beberapa temanku yang jejaknya sampai sekarang hilang. Ada dua hal yang ingin kukatakan yaitu tentang penyesalan dan harapan, meski aku sendiri tidak lagi sepenuhnya percaya dengan semua itu. Segalanya sudah sepantasnya kukubur, sekarang aku hanya lelaki tua yang kerap menggerutui nasibku di tengah segala yang makin hari makin asing saja bagiku.
Sumarjo kakakmu ini masih sama seperti dulu. Masih sesekali suka bercanda meski lebih banyak marah. Jika kelak kita bertemu karena kamu ke sini aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, bahkan aku bingung harus menaruh mukaku sendiri di mana.
Ingin aku mengubur atau menyimpan wajahku, bahkan sudah jauh-jauh waktu ingin kulakukan layaknya aku telah melupakan penyesalan dan harapan, seperti aku mengubur dendam masa lalu. Tapi itu semua susah untuk kulakukan bahkan hingga sekarang.
Betapa aku bodoh, tersadar akan segalanya ketika seorang kawan bercerita dan terus memberi nasihat. Mungkin kalian, dua adikku tidak perlu susah payah menganggapku kakak karena aku sudah menabur garam pada luka kalian. Surat ini terasa perih bagiku. Aku memang benar-benar tidak berguna. Dalam segala sesal aku tulis semua ini. Jika harapan masih ada, kelak kalian akan terbang ke negeri kincir angin ini. Kutulis alamatku dalam surat, tanya tentang lelaki tua bernama Jo. Satu harapanku lagi tentang semua, entah aku masih hidup atau sudah mati, bawakan aku setangkai bunga kemboja putih. Hanya itu yang kuinginkan, tak lebih. Jika kelak aku sudah mati taruh itu di pusaraku.
Rindu kalian semua, rindu tanah airku, jelas itu tak bisa kubantahkan. Tapi kerinduan yang paling hakiki menurutku adalah kerinduan yang kali ini buntu, tanpa sebuah pertemuan. Sudah jelas segala kerinduan ini kutahan, biar begini adanya. Jauh dari sini di pengasingan dan aku memang benar-benar asing, kakakmu hanya ingin kemboja putih itu, kemboja yang selalu membawa kerinduanku pada tanah air. Memang selayaknya kerinduan adalah kesucian yang seperti terpancar dari bunga yang kuiingikan itu. Kemboja yang selalu saja membuatku terpanggil akan segala kehidupan keluarga kita dulu, sebelum aku pergi jauh dan tak pernah kembali lagi.
Salamku,
Sumarjo, kakakmu.
Ruly R, bagian dari Kamar Kata dan Rusamenjana Books Store & Club. Suratmenyurat:[email protected]
Ia membunuh satu persatu kucing di kota itu dan menggantungnya di tempat-tempat umum, seolah memperlihatkan pada semua orang bahwa ia telah bangkit, dan ia bukan kucing sembarangan. Ketakutan berembus ke seluruh penjuru kota. Tak seorangpun berani menjawab tantangannya.
Dua hari sebelum hari itu, orang-orang menguburnya di antara kuburan dukun dan kuburan ibunya. Di hari ketiga, ia bangkit. Tubuhnya masih utuh, lengkap dengan rupa dan lentur tubuh kucingnya. Ia berjalan dengan langkah acuh. Matanya yang dulu bulat sayu kini menyala, memancarkan kebencian. Taringnya mengeras. Orang-orang berlari menghindar dan menutup pintu.
Sepuluh tahun hidup dengan hinaan dan pukulan, tujuh tahun hidup di penjara, kini ia terlahir kembali sebagai manusia bebas. Ia bangkit dari kematian dan penindasan orang-orang yang berniat membunuhnya. Kini ia yakin, ia memiliki tujuh nyawa di dalam tubuhnya. Ia telah bangkit dari kematian untuk mewujudkan apa saja yang ditanamkan pada dirinya. Sepenuhnya ia mengamini, tujuh lapis nyawa yang lekat pada dirinya adalah kebenaran yang tak bisa disangkal. Kebangkitan telah melahirkan nyawa baru baginya.
Langkah pertama yang dilakukannya adalah memburu dan membantai semua kucing. Ia menganggap kucing adalah binatang lemah. Mereka, dan juga pecinta kucing itu, telah menanamkan kemalasan dengan memberi kenyamanan dan kemuliaan pada para kucing. Semua itu membuat kucing menjadi tidak bermartabat. Mereka tak pernah paham fungsi cakar yang dimilikinya, dan kumisnya menjadi begitu lentur tak berwibawa. Mereka hanyalah pembual yang lebih bangga pada kehebatan bulu ketimbang cakar dan tajam taringnya.
***
Kelahirannya dimulai dari sebuah gerhana. Berkali-kali dukun beranak menahan nafas. Dukun mengelus kening perempuan di depannya yang berleleran keringat. Kali ini benar-benar tak biasa. Dukun ikut kehabisan nafas. Bibirnya tak lepas merapal mantra.
Malam itu adalah malam gerhana, malam penuh rahasia. Dukun menjaga agar persalinan tak diganggu roh jahat. Niat jahat dan segala kegaiban dipercaya berhembus saat gerhana benar-benar sempurna. Kiriman teluh, tenung, dan semua kejahatan datang saat gerhana hitam. Perjanjian dengan segala setan dibayar lunas saat malam meremang. Kelahiran di waktu-waktu ganjil dipercaya membawa petaka.
Di kejauhan bebunyian dipukul bergantian. Para lelaki berjaga tanpa jeda. Bulan meremang. Orang-orang semakin keras memukuli apa saja, pohon-pohon, kentongan, dan juga panci atau peralatan nyaring yang lain. Binatang-binatang malam pun hening. Tak ada keributan. Semua terdiam seolah mengetahui apa-apa yang tak tertangkap kasat mata.
Perempuan itu kehabisan tenaga. Bayi di dalam perutnya bergerak seolah mencakar, menendang dan merobek dinding perutnya. Tubuhnya semakin lemah. Lamat-lamat masih didengarnya rapalan mantra si dukun agar ia terus terjaga demi bayinya. Lalu sosok itu muncul dari kegelapan. Dua purnama bundar melintasi kegelapan, melintasi tubuhnya. Perempuan itu menghembuskan nafas terakhirnya begitu dua cahaya melompati tubuhnya. Tak sempat didengarnya tangis bayi yang seketika keluar dari jalan rahimnya.
Bulan kembali benderang. Burung-burung berkelepak di pepohonan. Bayangan kucing hitam berjalan keluar. Tangis bayi diikuti teriakan histeris beberapa perempuan di dalam ruangan. Dukun bayi ternganga tak percaya. Kucing hitam melintas tepat di depannya ketika gerhana. Bayangan samar-samar dan gesekan bulu ekornya yang lembut menyapu telapak tangannya. Kucing itu membawa pergi nyawa perempuan di depannya persis ketika gerhana benar-benar sempurna.
Kabar kelahiran bayi kucing saat gerhana itu menyebar. Orang-orang hendak membinasakan bayi itu, bayi yang dianggap sebagai siluman kucing yang menjadi kutukan.
“Bunuh bayi itu! Ia siluman!” teriak orang-orang.
“Tak semudah itu membunuh siluman kucing!” suara lantang si dukun memukul mundur nyali orang-orang.
Malam itu mereka bersikeras menghabisi nyawa siluman kecil itu. Mereka meletakkan bayi itu di atas rakit, lalu mengutus beberapa pelarung membawa bayi itu ke tengah danau, membiarkan bayi itu menjadi santapan ikan. Menjelang subuh, perahu para pelarung merapat ke pinggir. Betapa kaget dan terbelalak mata mereka demi mendapati rakit kecil itu menepi. Rakit kecil berisi bayi itu terapung dimainkan gelombang kecil air. Tangis bayi itu begitu bising. Tak ada yang membantah kata si dukun, siluman kecil itu tak bisa dibunuh begitu saja. Enam nyawa masih menempel di tubuhnya. Petaka membayang di kepala mereka. Gerhana telah membawa kelahiran bencana.
Malam itu ia merenungi nasib. Memikirkan jalan hidup yang mengantarnya ke bui. Tak pernah terbersit dalam pikirannya sekantong ikan itu akan menjadi muasal celaka dirinya. Selama ini ia hidup dalam kejaran demi kejaran orang-orang. Tatapan bengis, jahil, dan bahkan jijik setiap kali harus diterimanya. Pukulan dan guyuran air seringkali harus dirasakannya tanpa tahu kesalahannya.
Semua orang menyebutnya siluman kucing. Semua orang berlomba-lomba menyakiti, bahkan membunuhnya. Tak seorang pun iba padanya, kecuali si dukun yang tinggal di ujung kampung. Hanya si dukun yang membela dan membesarkannya selama ini. Dukun itu melindunginya dari kejaran dan pukulan orang-orang. Namun semua itu tak berlangsung lama. Dukun beranak itu meninggal ketika ia berusia tujuh tahun. Tak ada lagi orang yang mengasihinya.
Banyak kucing berkeliaran di tempat itu. Kucing-kucing itu justru memiliki nasib yang lebih baik dari dirinya. Orang-orang akan memberinya makan, bocah-bocah kecil mengelus kepalanya, atau bergelung malas di dekat perapian. Kucing-kucing itu dimuliakan. Mereka hidup nyaman, berjemur dan bermalasan sepanjang hari. Berbeda dengan dirinya yang tak pernah jeda dari siksa dan kejaran sepanjang waktu. Sering ia berpikir apakah takdirnya tertukar dengan takdir kucing-kucing itu hingga ia selalu tertimpa sial dan penderitaan akibat rupa kucingnya. Begitulah, ke manapun ia pergi, setiap mata mengincarnya. Karenanya ia lebih senang keluar di malam hari.
Tak ada yang mengganggunya di malam hari. Tak ada yang menyentuhnya ketika gelap malam datang. Ia menyukai malam dengan segala ketenangan dan kegelapannya, karena begitu pagi tiba, semua akan kembali seperti semula. Kesialan dan kejahatan baginya tak akan berhenti sepanjang hari. Seperti pagi itu, saat ia melihat tukang sayur mendorong dagangannya. Bukan salahnya ketika ia tergiur melihat sekantong ikan yang tergantung di gerobaknya. Aroma amis ikan segar itu menyumpal hidung, mengoyak naluri kucingnya yang tiba-tiba lapar. Ia mengikuti si tukang sayur hingga ujung gang, tempat tukang sayur itu biasa mangkal. Tiba-tiba tukang sayur itu melihat ke arahnya.
“Pergi kau, bocah setan!”
Antara kaget dan lapar, demi mendengar hardikan itu, amarahnya tersengat. Diserangnya tukang sayur itu tanpa ampun. Dicakar dan digigitnya tukang sayur itu hingga tak berkutik. Meski tak punya taring tajam, namun giginya cukup kuat untuk mencacah leher berdaki si tukang sayur.
Polisi segera tiba. Ia lari meninggalkan tempat itu. Disambarnya sekantong ikan yang telah diincarnya. Namun sial, ia tertangkap. Pukulan dan gebukan bertubi-tubi menimpa tubuhnya. Ia meronta-ronta lalu limbung tak sadarkan diri. Sejak itu hidupnya berlanjut di penjara rehabilitasi anak-anak. Usianya baru sepuluh tahun. Sekantong ikan yang raib dan banyaknya kesaksian memberatkan semua tuduhan yang ditimpakan padanya.
Ia tak pernah tahu apakah benar ia adalah titisan kucing yang memiliki tujuh nyawa dalam tubuhnya sebagaimana yang diyakini orang-orang. Beberapa kali ia selamat dari maut yang ditimbulkan orang-orang padanya. Namun ia tak percaya memiliki tujuh nyawa yang menyelamatkan dirinya selama ini, nyawa cadangan yang selalu membuatnya hidup kembali.
Malam mulai gelap, lampu-lampu telah mati, penghuni sel pun telah lelap. Ia mengeluarkan pisau di bawah bantal. Ia mencuri pisau itu dari dapur seusai makan malam. Dihunjamkannya pisau itu ke dada. Sedetik ia sempat memekik, namun ia memilih kembali bungkam. Ia ingin tahu apakah benar ia memiliki enam nyawa lain yang akan menggantikan nyawa utamanya. Ia ingin tahu apakah nyawa lain akan membuatnya kembali hidup. Kalaupun harus mati di dalam bui, ia sudah tak peduli. Baginya penderitaan yang tak berkesudahan itu tak pernah terganti.
Darah menggenang di lantai bui yang kusam, mengalir hingga ke tempat opsir penjaga. Ruam amis menguar dan menggegerkan penghuni sel. Di kamar selnya, tubuhnya telah menjadi mayat. Pucat, beku, dan mati. Ia benar-benar mati. Orang-orang menguburnya di antara kuburan si dukun dan kuburan ibunya.
***
Dewan perlindungan binatang memburunya. Dengan dalih kemanusiaan dan perikehewanan, mereka membuat rencana pembunuhan terhadap dirinya. Hukum dan peradilan tak lagi mampu mengurungnya. Rencana itu diamini semua orang.
Mereka mengadakan pasar malam. Seseorang ditugaskan untuk membakar ikan. Aroma ikan segar yang dibakar itu begitu menggoda. Ia pun tak dapat menahan nafsu kucingnya. Dilahapnya sepotong besar ikan berlumur racun itu tanpa curiga. Sejak kebangkitan itu, ia tak pernah takut pada apapun, bahkan pada maut yang telah direncanakan untuknya. Maka tak perlu curiga pada segala upaya orang-orang untuk menangkap atau menyiksanya.
Ia terbatuk-batuk. Mulut dan matanya berair, lalu membusa. Tubuhnya menggigil hingga kuyub. Matanya membelalak mengejan. Bulu-bulu di tubuhnya kuyub lengket ke tubuh. Racun telah menyurutkan nyawanya. Orang-orang membawanya ke rumah sakit terdekat setelah ia benar-benar tak bergerak. Dokter memvonis racun itu telah bekerja, merenggut nyawanya. Semua bersorak gembira.
Dengan dalih peringatan, dewan perlindungan binatang pun mengusulkan untuk membuat patung dirinya dari tubuhnya yang telah memayat. Tak ada yang keberatan. Mereka bersiap mengawetkan tubuhnya di dalam sebuah peti kaca. Patung itu diletakkan di menara kota supaya semua orang dapat melihat dan mengingat perilaku genosida yang pernah dilakukannya terhadap kucing-kucing di kota itu. Ada pula yang menganggap patung itu sebagai batu peringatan bagi kucing-kucing yang mati.
Malam itu, gerhana kembali berlaga. Tak ada yang memedulikannya. Orang-orang tetap melaksanakan pekerjaan seperti biasanya. Di hening redup remang gerhana bulan yang samar, patung kucing di dalam peti kaca itu menggerakkan bola matanya, yang kini kembali bercahaya. Ia membarutkan cakarnya pada kotak kaca, mengibaskan kakinya, melepaskan tubuh lenturnya, melepaskan diri dari ruang kaca yang mengurungnya.
“Praaangg…!!” lemari kaca itu pecah berkeping. Tubuh besarnya telah bebas. Ia kembali terlahir untuk kesekian kalinya. Orang-orang pun panik, berlarian menutup pintu rumahnya. Ia berjalan membelah kota. Ia percaya, ia adalah kucing yang tak perlu takut pada apapun, termasuk pada kematiannya.
Rumah Ladam, Agustus 2022
Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.
Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022.
Mat Juking melesakkan sebelah tangannya ke dalam saku baju bagian bawah. Lembut terasa remasan kertas itu, bersebelahan dengan sepotong setanggi yang pendeknya menyerupai telunjuk. Di saku itu juga ada korek api yang kemarin lusa ia comot dari meja sebuah depot saat dirinya membeli nasi. Ia tertarik karena korek itu bergambar wajah perempuan rupawan.
Lokasi pemakaman sangat sunyi dan mencekam. Ia berharap bulan tipis bersinar temaram yang mematung di ujung pucuk kemboja itu segera lenyap. Karena pekat, cekam dan segala bentuk kesunyian kuburan telah menjadi teman karib yang membuat dirinya yakin hajatnya akan terkabul.
Ia berharap musang, kucing, burung hantu, bahkan—jika ada—ia ingin kuntilanak di sekitar pemakaman itu segera berbunyi dengan nada yang paling seram. Karena suara seram adalah bumbu bagi ritualnya supaya keinginannya tercapai.
Setanggi telah ia nyalakan dengan sebatang korek bergambar wajah perempuan rupawan. Setelah mengembalikan korek itu ke dalam saku, giliran kertas penuh remasan yang ia ambil. Diratakan di datar pusara dengan bantuan telapak tangan yang digosokkan perlahan dan berkali-kali, hingga kertas itu samar-samar menampakkan foto seorang calon kepala desa bernama Risun.
Mat Juking tersenyum. Sebentar menatap langit seraya menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
“Semoga kau sukses jadi kepala desa,” gumam Mat Juking. Sepasang matanya menatap potret Risun yang berkumis dan berjas biru di remasan kertas itu.
Mat Juking sadar, calon itulah yang empat tahun lalu membunuh ayahnya, dan mestinya hari ini dirinya menjauhi orang itu. Tapi uang telah mengubah segalanya.
***
Politik selalu membuat Mat Juking jadi bunglon. Adaptasi warna bagi Mat Juking adalah cara mempertahankan hidup, agar pancuran uang mengarah pada hidupnya yang haus harta dan penghormatan, agar perutnya terus buncit dalam kemakmuran, dan agar Sulima, istrinya setia kepada dirinya serta tak berontak jika suatu saat dimadu dengan beberapa wanita lain di kampung Baliyan.
Baginya, ukuran kesetiaan memperjuangkan seseorang yang mencalonkan diri jadi kepala desa adalah tergantung pada seberapa banyak uang yang diberikan kepadanya. Tak hirau calon itu punya watak kancil atau buaya, yang penting memberi uang banyak, maka urusan akan lancar. Dan Mat Juking selalu beranggapan, dirinya pro-demokrasi, merasa jauh lebih bermakna ketimbang para tetangganya yang merantau untuk cari uang di luar pulau Madura dan mereka tidak pulang saat pemilihan.
Siang itu ia bergegas ke belakang gedung bekas sekolah dasar yang sudah dilabur kerak lumut kering yang menghitam. Tangan kanannya merogoh kertas remasan yang berhari-hari disimpan di saku bajunya dan setiap dini hari selalu ia bacakan mantra di kuburan. Sebentar mengamati potret Risun itu dengan teliti. Ia tersenyum seolah tengah mengungkapkan sesuatu pada potret itu. Kemudian tangan kirinya meraih kertas remasan itu dari tangan kanannya. Tangan kanannya merogoh saku baju dan mengeluarkan korek api. Setelah sejenak mengamati sekitar dan ketika dirinya yakin tak ada siapa-siapa, ia lalu membakar kertas remasan itu hingga berubah jadi arang. Angin menghempasnya hingga hancur luluh menjadi abu yang menyatu dengan pasir.
Semua itu ia lakukan setelah ada seorang calon lain berjas kuning memakai peci yang memberi uang lebih banyak kepadanya, dan ia berjanji akan menikahkan Mat Juking dengan perempuan rupawan seperti gambar di korek api itu.
Mat Juking tersenyum memandangi gambar korek yang sedang ia angkat dan dibiarkan menggantung oleh jimpitan jarinya.
***
Tak ada remasan kertas, tak ada setanggi, dan tak ada korek api di saku bajunya. Malam itu ia hanya membawa sebilah bambu yang panjangnya sejengkal bertulis nama calon kepala desa yang di sepanjang jalan kampung balihonya sudah berjajar ramai terpacak di pohon, tiang listrik, dan cagak bambu; memakai jas kuning dan berpeci hitam: SURAKNA namanya.
Semuanya berawal dari obrolan kecil di warung Mastoni. Mulanya Surakna membayar nasi yang Mat Juking makan beserta seluruh lauk dan camilannya. Mat Juking bilang “Tidak usah”, tapi Surakna memaksa bahkan ia menyelipkan amplop ke saku baju Mat Juking sambil berbisik “Itu masih tahap awal, jika kamu membantuku dalam Pilkades maka akan ada banyak tambahan uang, kamu akan diangkat jadi perangkat, dan kamu akan kunikahkan dengan seorang wanita cantik yang wajahnya sebanding dengan itu.” Surakna menunjuk gambar korek api di tangan Mat Juking. Mat Juking sekadar tersenyum dan tidak mengangguk, tetapi setiba di rumahnya, setelah tahu isi amplop itu tujuh juta, ia pun langsung menuju bekas gedung sekolah dasar itu dan membakar potret Risun.
“Beginilah politik. Uang Surakna lebih banyak. Dia masih menjanjikan jabatan dan wanita cantik. Dia juga tidak pernah terlibat konflik dengan keluargaku. Rasanya lebih waras jika aku lebih baik membela Surakna daripada membela Risun si pembunuh ayah itu,” timbang Mat Juking saat itu sambil bergegas pulang setelah selesai membakar potret Risun di belakang gedung bekas sekolah dasar.
Ia mengingat bagaimana empat tahun lalu ayahnya meninggal dalam keadaan babak belur dan mayatnya dibuang ke jurang kampung tanpa sehelai kain. Seminggu kemudian terungkaplah bahwa pembunuhnya adalah Risun. Alasan ia membunuh hanya masalah sepele; karena ayah Mat Juking mengambil selembar daun pisang untuk diberikan pada kambingnya. Tapi anehnya, ia terbebas dari hukum, hidupnya tetap tenang, seperti tak ada apa-apa, membunuh ayah Mat Juking seolah hanya membunuh seekor semut yang tak perlu terbebani oleh bayangan dosa, dan malah ia mendekati Mat Juking dua bulan menjelang Pilkades. Mat Juking pun merasa dirinya tak perlu memperhitungkan dia sebagai pembunuh ayahnya setelah sepuluh uang kertas seratus ribuan ia julurkan.
Tapi kini, setelah Surakna memberi uang yang lebih banyak, Mat Juking berubah haluan. Sekeras mungkin ia berusaha untuk memenangkan Surakna di Pilkades. Salah satunya, seperti yang biasa ia lakukan pada calon kades yang minta bantuan; datang ke sebuah kuburan, membawa benda-benda yang berhubungan dengan si calon, lalu ia membaca mantra, ya mantra, bukan doa.
Malam itu, nama Surakna di sebilah bambu ia taruh di atas kuburan, lalu tangannya kembali merogoh saku bajunya. Bukan korek api atau setanggi yang ia ambil, namun sehelai tali kutang warna biru. Tali itu ia ikat kuat pada bilah bambu yang bertuliskan nama Surakna. Itu bukan tali kutang sembarangan, Mat Juking mengambilnya dari kutang milik istri Risun di suatu malam yang senyap dengan langkah awas dan hati-hati.
“Kejayaan akan jadi milikmu, Bos Surakna,” suara Mat Juking dihalau angin. Di langit tak ada bulan. Beberapa ekor kelelawar bercericit di rimbun kemboja. Mat Juking kemudian menatap langit kelam sembari tersenyum.
“Logika dalam berpolitik bagiku tak lebih dari sekadar menyimpulkan ikan berenang dalam akurium sebagai sosok bidadari, dan itu akan kulakukan tergantung uang yang diberikan oleh si calon,” ucapnya pelan. Sebelum akhirnya duduk bersila, terpejam, dan membaca mantra. Tangannya memutar bilah bambu itu hingga tali kutang menggesek debu di permukaan kuburan.
Hari setelah itu, istri Risun ribut saat mendapati tali kutangnya hilang. Surakna terbahak-bahak mendapat bilah bambu bertulis nama dirinya terikat tali kutang. Mat Juking semakin yakin dirinya akan mendapat uang yang banyak, jabatan mentereng, juga istri yang cantik.
***
Tanpa terasa, hari pemilihan kepala desa sudah tiba. Surakna melompat girang sambil bernyanyi-nyanyi, lalu bersujud syukur setelah penghitungan suara selesai dan dirinya dinyatakan jadi pemenang. Sedang Risun termangu mengelus dadanya yang renyuh seperti dipatuk puluhan kapak. Tak terasa air matanya menetes. Orang-orang yang kemarin jadi tim pemenangan satu per satu menjauh lalu menghilang. Ia kini hanya berdua bersama istrinya mengenyam luka setiap waktu. Istrinya kadang menghubung-hubungkan tali kutangnya yang hilang dengan kekalahan Risun.
Bulan berikutnya Mat Juking tak pernah menduga Surakna akan jadi kacang yang lupa kulitnya. Saat ia menagih janji kepada Surakna, ia malah dibentak dan dipukul. Surakna membantah jika hasil kemenangannya karena hasil mantra Mat Juking. Sudah tidak menepati janji. Beberapa bulan kemudian, ia malah mengambil Sulima dari Mat Juking, dan menikahinya.
Cerita politik memang kelabu dan cepat berlalu, Mat Juking kembali berpihak kepada Risun. Suatu pagi, ia mendatangi rumah Risun dengan tergopoh dan dada penuh dendam. Lantas ia bercerita, bahwa Surakna telah mencuri tali kutang istri Risun untuk dijadikan bahan guna-guna demi memenangkan Pilkades. Risun naik darah. Megepal tangan dan meninjukannya ke meja.
***
Malam itu lokasi kuburan sangat senyap. Mat Juking mengeluarkan remasan kertas bergambar wajah Surakna. Risun duduk di sebelahnya, fokus mengamati apa yang dilakukan Mat Juking dengan tatap redup dengan bantuan cahaya bulan yang hampir tenggelam. Kembali tangan Mat Juking terbenam ke dalam saku bajunya, mengambil korek api, yang ketika gambarnya dilihat, ia jadi teringat perempuan rupawan yang dijanjikan Surakna. Diam-diam hatinya teriris, karena janji Surakna ternyata bualan belaka, sudah begitu, ia malah menikahi Sulima.
“Ini kuburan ayahku yang kaubunuh empat tahun lalu. Kau memang pembunuh yang lembut. Aku dan almarhum ayah akan memaafkanmu asal kamu mau membunuh Surakna malam ini juga dengan korek api ini. Kamu pasti punya cara yang lembut. Buatlah Surakna seperti ini,” Mat Juking membakar potret Surakna penuh dendam.
Lalu sebatang korek api ia selipkan di saku baju Risun. Keduanya tersenyum. Tak menunggu waktu lama, Risun langsung bergegas untuk melaksanakan perintah Mat Juking. Mat Juking yakin, Risun akan membakar rumah Surakna hingga Surakna mati atau minimal mengalami kerugian. Ia juga yakin, Risun pasti akan ditangkap dan juga dibunuh oleh warga, tapi Mat Juking lupa bahwa Risun pasti akan menyebut Mat Juking sebagai pesuruhnya.***
A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di pelbagai media. Juara II Lomba Cipta Cerpen ICLaw Pen Award 2019. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Surat menyurat surel: [email protected]
Sudah lama Lendra tak melihat istrinya—Lian—berjalan-jalan keluar rumah. Yang dikerjakan sehari-hari hanya merenung, makan biskuit, kemudian membaca buku di sudut ruangan. Lama juga Lendra tak melihat Lian sibuk mengurusi Poni, kucing persia kesayangan mereka. Lian seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga, namun tidak punya gairah untuk mencarinya.
“Menurutmu … hari apa Tuhan pasti tertidur lelap?” Lian bertanya pada Lendra, wajahnya serius. Dahi Lendra berkerut untuk kesekian kali, gamang. Lendra melirik wajah Lian beberapa detik, mencoba menebak apa yang dipikirkan Lian. Pertanyaan yang sama, sejak seminggu lalu, yang saban malam selalu terulang dari bibir Lian membuatnya semakin was-was. Satu alis lelaki itu bertaut, ia pijit-pijit kemudian. Tak tahu harus menjawab apa.
“Mungkin senin,” jawab Lendra asal. Ia kembali pada aktivitasnya, membaca komik, sementara istrinya menganguk-anguk, mengangkat buku, membaca. Sesekali wajah Lendra mencuri pandang wajah istrinya yang seperti tegang.
“Bukankah,” istrinya menyela ucapan Lendra, “Senin itu hari sibuk. Mana mungkin Tuhan tidur di hari sibuk,” Lian nampak merenung, ia berdiri, mondar-mandir, mendekati meja makan, tempat suaminya menyeruput kopi.
“Kau sepertinya terlalu lelah, kau perlu tidur, Sayang. Tidak usah baca buku lagi,” Lendra merangkul istrinya, mencium lehernya dengan lembut.
“Tapi,”
***
Lian memerhatikan bagian belakang kepala suaminya ketika tidur. Bayinya—Audrey—sudah ia susui, dan ikut tertidur pulas. Pandangannya semakin khidmat, ia usap rambut Lendra beberapa kali, mencari-cari sesuatu yang seperti kasat, sesaat ia melenguh, karena tidak menemukan apa-apa. Seharusnya Lian percaya, tidak akan ada apa-apa—selain dirinya—yang bersarang di otak suaminya. Ia tahu cinta Lendra hanya untuk Lian. Tidak ada yang lain.
***
Esoknya, Lian bangun pagi sekali. Sengaja memasak nasi goreng untuk sarapan suaminya yang akan berangkat kerja. Bayi Audrey masih terlelap. Perasaan Lian begitu gempita, si bayi yang saban malam tidak rewel, membuatnya bisa bangun lebih pagi. Ketika Lendra selesai mandi, Lian menengok ke arah suaminya sejenak, memerhatikannya dengan saksama, Lendra hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawah, otot-otot tangan Lendra mencuat di sana-sini, tampak kekar dan gagah, pun bagian perutnya yang berlekuk-lekuk serupa binaragawan membuat Lian sejenak teringat perkataan sahabat-sahabatnya dulu.
“Suamimu itu putih, ganteng, badannya berotot, siapa cewek yang tidak suka melihat cowok kayak gitu, Li!” Sandra, kawan SMA-nya nyeletuk. Sandra berbicara sambil mengeryit genit, mungkin membayangkan badan Lendra yang seksi.
“Iya Lian, rawan punya suami kayak suamimu tahu, bikin jantung perempuan kreces-kreces gimana gitu. Kamu harus benar-benar jaga deh pokoknya, jangankan cewek, cowok aja kalau lihat suamimu jantungnya bisa kebat-kebit, huuu!” Alona–sahabat Lian yang lain, yang kini menyahut, diiringi tawa tipis di ujung pipi kirinya yang lesung.
Lian hanya meringis, tidak menjawab apapun perkataan kedua sahabatnya, ia hanya memainkan makanan di depannya tanpa punya keinginan untuk menghabiskan, pertemuan dengan sahabat-sahabatnya hari itu, membuat selera makan Lian rontok. Pun hatinya dikecam perasaan gelisah, takut apa yang dikhawatirkan kedua sahabatnya menjadi kenyataan. Seharusnya Lian tidak memikirkan hal ini sampai berlarut-larut, tapi nyatanya omongan teman-temannya itu sudah merasuki pikirannya sedemikian pelik. Lian cemburu pada sesuatu yang belum tahu apa. Itu sungguh di luar nalar.
“Kok malah bengong?” Lendra kini sudah ada di belakang punggung Lian, memberikan kecup kecil di bibirnya yang ranum, pipi Lian merona. Lendra memang suami yang romantis. Senyum tipisnya terpeta. “Nah gitu dong, kan cantik kalau senyum gitu!”.
“Kamu,” Lian tersipu. Lantas tangannya dengan sigap menyendokkan nasi goreng ke atas piring Lendra, menaruh mentimun, bawang goreng, serta kerupuk di atasnya. Lian kemudian memberikan piring itu ke Lendra.
Setelah Lendra berangkat kerja. Lian kembali memikirkan hari itu: hari di mana Tuhan pasti tertidur lelap. Tidak tahu mengapa, otaknya bisa mengelana sejauh itu. Namun ia penasaran tentang lubang bersuara itu. Pun setelah seruan-seruan ejek tentang “Bunuh aku kalau kau bisa!” yang menghantui kehidupannya setiap kali ia melihat lubang besar di kepala Poni, mendulang beragam stigma-stigma negatif dalam kesehariannya. Lontaran-lontaran Lendra yang tak acuh jika Lian menanyakan hal yang sama. Hatinya benar-benar dilanda gemuruh. Masygul, karena Lendra kerap tak sependapat. Jam delapan pagi, Lian melirik jendela. Ia menatap Poni yang sedang membersihkan diri dengan menjilati seluruh tubuh. Poni yang dulu berbulu lebat dan cantik, teman segala duka dan suka sejak ia menikah dengan suaminya beberapa bulan lalu, namun kini fisik Poni telah berubah. Penyakit scabies menyerang beberapa bagian tubuh kucing itu dengan ganas sejak satu minggu yang lalu. Melihat Lian tengah memerhatikannya, kucing itu balas melirik ke jendela, lekas Poni segera berhenti menjilati seluruh tubuhnya dan mendekat ke arah pintu. Mengeong keras–sembari menatap mata Lian penuh manja. Lian salah tingkah, melengos, menutup gorden cepat-cepat, berbalik arah, kemudian duduk di kursi tamu. Ingatan akan ucapan suaminya kembali mengudara.
“Kenapa sekarang kau membenci Poni, padahal dulu kau sangat menyayanginya. Apa kau jijik dengan scabies yang dideritanya, kau sudah putus asa lantas kau ingin membunuhnya!” Lendra bertutur dengan rentetan kalimat menyudutkan. Lian melotot ke arah Lendra, tatapannya sinis, bibirnya belum bersua apa pun, bergetar. Seperti ada taring yang mencabik-cabik tubuhnya, posisi Poni di matanya sama seperti Lendra, tapi kejadian beberapa hari silam membuat hati Lian begitu patah, ada sebak yang meluber seperti api menyembur-nyembur.
“Aku jijik sama Poni bukan karena scabiesnya, tapi karena hal lain!” Lian berteriak lantang, membela diri.
“Lalu apa? Apa yang membuatmu membenci Poni?” Lendra bertanya, menyudutkan. Lian masih terpaku di kasur, tidak menyahut, tak lama Lian masuk ke dalam kamar, mengambil guling dan memelintir-melintir ujung sarungnya. Sesekali Lian menahan nafas, mendengus-dengus, kemudian melepaskan, emosi telah merajam kepalanya bak air panas yang meletup-letup. Aku benci Poni, aku tidak suka dibohongi, gusarnya, sambil terisak.
***
Beberapa menit Lian berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Lubang yang menganga di kepala Poni membuatnya teringat tentang kejadian menjijikkan itu. Poni seperti halnya Lendra adalah miliknya–utuh, namun ketika Poni tidak lagi setia kepada Lian, dan memilih wanita lain sebagai mahkota hati. Itu membuat Lian jijik. Satu minggu yang lalu, Poni seringkali kelayapan, pergi dari rumah diam-diam, dan pulang ke rumah saat mau makan atau mandi saja, esoknya Lian mengikuti Poni ke mana kucing itu berkeliaran. Poni menyambangi sebuah rumah tak jauh dari tempatnya tinggal. Seorang wanita muda mengenakan scarf hijau dan blus dengan warna senada keluar dari rumah bergaya klasik eropa itu dan memberikan Poni makanan kaleng, jari-jari lentiknya mengelus-elus bulu-bulu Poni dengan penuh kasih sayang. Sore hari, Lian melihat kepala Poni memiliki lubang sebesar lingkaran bola tenis, sosok wanita muda itu tergambar di kepala kucing itu. Hal inilah yang membuat Lian merasa tersisih dan jijik kepada Poni. Lian tidak suka diduakan.
“Hari ini hari senin, aku akan melakukannya!” Lian menyambar kunci sepeda motor, menggendong Audrey, dan memasukkan Poni ke dalam kandang. Lian menstarer motornya– terburu-buru.
***
Setengah jam kemudian. Lian sudah sampai ke gym DeQuote, tempat Lendra bekerja. Dari kejauhan Lian melihat sosok yang tak asing. Suaminya tengah berbincang akrab dengan seorang wanita muda berpakaian ketat dekat peralatan kettlebells. Wanita muda yang sangat ia kenal. Sambil menenteng Poni di tangan kiri dan menggendong bayi Audrey, mata Lian melotot, murka, angkaranya ruah, otaknya memutar memori tentang ucapan Lendra beberapa waktu silam, mata Lian mengerucut, kian liar menelusur gerak-gerik keduanya dari kejauhan, Lian berjalan pelan-pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Lendra masih membelakanginya.
Lian semakin maju, dan maju, matanya terus menerus memerhatikan kepala Lendra yang kini tampak berlubang besar, ada sosok wanita lain tergambar di sana. Lian jijik. Lubang itu sama seperti yang dipunyai Poni. Kecamuk prasangka mengaliri darah di kepalanya, perasaan marah mendentum-dentum tanpa henti.
Barrbell yang ada di sebelahnya ia angkat. Keduanya menoleh bersamaan, dalam hitungan detik Lian mengayunkan barrbell itu ke kepala Lendra disusul si wanita.
“Aku sudah mengakhirinya, aku sudah mengakhirnya. Aku yakin Tuhan tidak akan melihat perbuatanku!” oceh Lian berulang-ulang.
Lendra dan wanita itu terkapar. Tawa Lian pecah berderai-derai. Darah tumpah bak air bah, hal itu membuat Lian bertambah jijik.***
Dia Gaara Andromeda. Pencinta kuliner dan penyuka warna hijau. Hobinya membaca buku, menulis, dan memasak. Ibu dua anak. Kumcernya Percakapan Sepasang Takdir (Penerbit Mediakita, 2014). Bisa dihubungi di IG: @diagaara atau FB: Dia Gaara Andromeda atau email: [email protected].
Setiap bertemu dengan Sabri, ia selalu berkata padaku satu kalimat singkat yang sama. Mulanya aku tidak mengindahkannya. Namun pada setiap perjumpaan dia akan mengatakannya, hingga aku menjadi yakin jika dia memang sengaja dan pastilah memiliki maksud tertentu.
“Datanglah ke Talang Siring,” kata Sabri. Aku mendengar ucapan itu pertama kali tujuh tahun lalu. Aku tak memedulikan kala itu. Tak ada juga pikiran macam-macam ketika mendengarnya. Sabri, teman sekampungku itu mengatakannya dengan serius. Bahkan pernah tiga kali diucapkan pada kesempatan yang sama, saat kami bertemu di warung bakso yang terletak di pasar.
Pada lebaran berikutnya, saat aku pulang kampung, bertemu Sabri lagi di warung bakso tersebut. Warung Mbok Lamin itu memang tempat biasa kami mangkal saat aku mudik. Di warung itu, kami tak hanya makan bakso, tetapi juga minum kopi sambil berbincang dengan beberapa anak muda yang menjadikan warung itu sebagai base camp. Di warung itu, aku bisa bertemu dengan banyak teman yang rumahnya jauh-jauh, seperti Sabri. Meski begitu aku jarang mudik karena harus menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi di pulau seberang.
Sabri mengucapkan kalimat itu lagi yang kali ini terdengar lebih serius. Roman mukanya menunjukkan tidak sedang bergurau. Aku tak menjawab, hanya tersenyum kecil, setelah itu aku bercanda dengan teman-teman yang lain. Sabri tak beranjak dari tempatnya, tapi tidak lantas bergabung dengan kami yang asyik bercanda. Beberapa waktu kemudian, Sabri pamit, setelah mengucapkan kalimat itu lagi. Aku hanya mengangguk-angguk.
Dua lebaran berikutnya, saat aku tinggal menunggu wisuda, aku bertemu Sabri lagi. Dia mengucap kalimat yang sama. Ini berarti tahun keempat Sabri sengaja mencari dan menemuiku di warung Mbok Lamin. Perempuan itu menceritakan padaku jika Sabri sering bertanya tentangku. Jika Sabri mendengar aku mudik, ia akan menungguku di warung itu.
“Aku sungguh-sungguh, Fer. Datanglah ke Talang Siring.” Sabri kali ini mengajakku bicara serius dengan meminta waktu khusus. Aku tinggalkan beberapa teman yang sedang asyik mengobrol denganku.
“Kenapa kau menyuruhku datang ke sana, Sab?”
“Ferdi, apa kau benar-benar telah lupa?” Sabri balik bertanya dengan nada terperanjat.
“Ya. Aku memang tak tahu apa maksudmu.” Sabri melenguh panjang mendengar jawabanku.
“Seseorang menunggumu di Talang Siring. Ia benar-benar menunggumu”
“Siapa, Sab?” Kulihat Sabri terdiam. Aku kemudian mengingat-ingat, memang ada satu nama yang samar membayang di pikiranku. Jika tak salah, ia berasal dari Talang Siring. Aku tak mau menebak-nebak, memastikan dahulu jawaban dari bibir Sabri.
“Sita. Nama lengkapnya Sita Masita. Apa kau lupa nama itu? Jika kau mau, aku bisa mengantarmu ke sana,” terang Sabri.
“Aku tak punya waktu lagi, Sab. Besok aku akan kembali ke seberang, setelah itu aku akan mulai bekerja di perusahaan di sana juga.”
“Kita bisa ke sana sekarang. Aku bisa mengantarmu. Sebentar saja.” Nada Sabri terlihat lebih seperti memohon, bukan paksaan.
“Aku tak bisa, Sab. Banyak yang harus kupersiapkan sekarang ini.”
“Kalau begitu, lebaran tahun depan. Aku akan sampaikan pada Sita Masita.” Aku terdiam, tapi pikiranku melayang-layang.
“Aku tak janji, Sab.” Aku mulai disesapi rasa bersalah tapi coba kusembunyikan.
“Boleh aku minta nomor ponselmu? Biar Sita bisa menghubungimu.”
“Ah maaf, aku tak sedang membawa ponsel, sedang kuisi daya baterainya di rumah.” Aku katakan pula jika aku tak hafal nomor ponselku. Sabri tampak tak percaya, tapi ia seperti berpikir. Aku sendiri sengaja mencari cara untuk menghindar darinya. Aku bilang padanya, aku mau pergi untuk mencari oleh-oleh yang akan kubawa ke kota esok. Sungguh pikiranku memang mulai terusik dengan nama Sita dan Talang Siring.
“Tunggu bentar,” kata Sabri, lantas berlalu meminta lembaran kertas dan meminjam pulpen pada Mbok Lamin. Ia menulis sesuatu di kertas itu. “Ini nomor Sita. Segeralah hubungi dia,” Aku menerima lembaran itu lalu berpamitan padanya.
***
Samar, pikiranku mulai mengingat Talang Siring dan Sita Masita. Sita berusia dua tahun di bawahku. adik kelasku dua tingkat namun kami beda sekolah. Saat SMA, aku sekolah di kota kabupaten yang jaraknya dua jam perjalanan dari kampungku. Aku biasanya pulang kampung satu atau dua sekali, begitu juga Sita. Kampung kami terletak di pedalaman dan memang belum ada SMA.
Aku duduk di kelas tiga pada semester kedua dan Sita duduk di kelas satu saat aku iseng memacari perempuan itu. Bagiku memacari Sita hanyalah sekadar selingan atau hiburan. Aku sudah punya pacar di kampungku. Tapi sifat play boy-ku kadang kumat. Sita anak yang ramah dan baik Ia tinggal indekos tak jauh dari tempatku indekos. Jadi cocoklah jika Sita menjadi teman dekat yang bisa kuajak ngobrol atau jalan. Masa SMA memang paling indah untuk dinikmati.
Aku tak tahu di mana kampung Sita, tapi dia dulu sempat cerita bahwa ia berasal dari Talang Siring. Aku sendiri belum pernah datang ke kampung itu. Ketika aku pulang kampung, sebenarnya melewati tugu kecil Talang Siring di pinggir jalan. Namun kampungnya masih masuk ke dalam lagi beberapa kilometer. Kampungku sendiri masih jauh dari tugu kampung itu.
Pada saat kelulusan sekolah, Sita sempat menemuiku di indekos, dan ingin main ke kampungku, tentu saja aku tak mengizinkannya. Aku tak ingin Linda, pacarku di kampungku tahu keberadaan Sita. Bisa berbahaya. Setelah itu aku melanjutkan di perguruan tinggi pulau seberang. Aku sengaja tak mengabari Sita Masita. Aku mengganti nomor ponselku untuk menghindarinya. Aku benar-benar melupakannya, sibuk dan asyik dengan petualanganku sendiri.
***
“Kenapa kau belum juga menghubungi Sita, Fer? Sudah tiga tahun sejak aku memberimu nomornya. Sita selalu bertanya tentangmu.”
“Kertas yang kau berikan padaku terselip entah di mana sebelum aku sempat memindahkan ke ponselku.” Aku jawab sebisa mungkin pertanyaan lelaki itu. Ini adalah lebaran tahun ketujuh Sabri menemuiku.
Aku telah bekerja di perusahaan ibu kota. Belum lama aku bekerja, pandemi menghantam bumi. Dua kali lebaran aku tak bisa mudik karena ada larangan dari pemerintah. Lantas aku bekerja dari rumah. Bersyukur aku masih bisa bekerja sementara banyak rekan lain terpaksa dirumahkan.
“Bagaimana jika sekarang kau datang ke Talang Siring? Aku siap menemanimu.” Entahlah kalimat sama yang sering Sabri katakan ini menjadi sesuatu yang sangat mengusikku. Aku sebenarnya sangat tak ingin mendengar kalimat itu. Bayangan wajah Sita menghantuiku. Aku merasa bersalah, tapi aku benar-benar ingin melupakannya.
Aku tak mau bertanya pada Sabri tentang Sita dan Talang Siring. Nama kampung itu belakangan mulai terngiang-ngiang di telingaku. Meski aku bisa menduga-duga, namun kisahku dengan Sita sudah cukup lama. Itu juga serupa peristiwa yang sekadar lewat saja. Selain itu hubunganku dengan Linda akhirnya putus, dan aku semakin asyik dengan diriku sendiri.
“Datanglah ke Talang Siring. Setidaknya sekali untuk terakhir. Temui Sita. Aku siap menemanimu.” Sabri memberi penekanan pada kalimatnya. Kalimat Sabri cukup menusuk jantungku. Tapi aku merasa tak ada gunanya lagi ke sana.
“Maaf Sab. Aku tak bisa. Aku telah memiliki kekasih di kota. Aku akan menikah dengannya tahun depan,” jawabku tegas. Aku memang tak ingin bertanya mengapa Sabri segigih itu memintaku datang ke Talang Siring. Aku ingin benar-benar mengakhiri semuanya dengan mengatakan begitu pada Sabri karena bagiku kisah dengan Sita telah berakhir lama.
***
“Hampir setiap hari Minggu, dua pekan sekali aku datang ke Talang Siring,” Sabri akhirnya bercerita tanpa kuminta. Sebelumnya ia memohon agar aku tak pergi dan mau mendengarnya.
Sabri memiliki kekasih di Talang Siring, namanya Ratih, yang rumahnya persis di sebelah rumah Sita Masita. Karenanya Sabri akhirnya kenal dengan Sita. Mengetahui Sabri berasal dari kampung yang sama denganku, Sita akhirnya banyak bertanya tentangku. Sabri tentu saja tak tahu banyak karena memang aku jarang berada di kampung.
Hubungan Sabri dengan Ratih berjalan baik dan awet. Sabri memang bersungguh-sungguh menjalin hubungan dengan kekasihnya itu. Sita pun berani bercerita pada Sabri dan Ratih bahwa ia dulu pacarku.
“Sampaikan pada Kak Ferdi untuk datang ke Talang Siring. Begitu selalu kata Sita padaku,” tutur Sabri.
Sabri akhirnya menikah dengan Ratih. Sementara Sita masih tenggelam dengan perasaannya padaku, masih selalu mengucapkan hal sama seperti yang Sabri ucapkan padaku. Sabri pun merasa berempati dan memberi saran padanya agar tak menantiku datang ke Talang Siring. Itu karena Sabri merasa bahwa aku tak mengindahkan pesan Sita yang ia sampaikan padaku.
“Aku akan menyampaikan berita ini pada Sita bahwa kau akan menikah tahun depan. Semoga setelah ini ia tak lagi meminta dan menantimu lagi.” Sabri berkata dengan tarikan napas panjang. Seperti ia juga menahan beban batin yang dalam. Sorot matanya tampak kosong, seolah menyembunyikan kesedihan. Ia terdiam lama, bibirnya seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi yang terdengar kemudian hanya desahan panjang lagi.
“Terima kasih, Sab. Ya, semoga Sita juga segera menemukan jodoh dan menikah dengan pria yang benar-benar mencintainya. Pria yang baik dan bertanggung jawab,” jawabku lirih.***
Mahrus Prihany, lahir di Peninjauan, Lampung Utara, pada 17 April. Meluluskan studi di Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO) dan STAI Publisistik Thawalib, Jakarta. Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia Tangerang Selatan (KSI Tangsel), kepala sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), ketua komite sastra DKTS, dan Redpel portal sastra litera.co.id. Karyanya tersiar di sejumlah media massa. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Raliatri (2016), Seseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai (2019), Bidadari dalam Secangkir Kopi (2021), dan Di Way Kulur, Tak Ada Lagi yang Kucari (2022).
Seorang lelaki muda turun dari sebuah kereta jarak jauh di Stasiun Bekasi. Ia menggendong sebuah tas dan menyeret koper abu-abu berukuran sedang. Ia melepas kacamata dan menyampirkan sweternya di bahu. Tubuh lelaki itu cenderung kurus, tapi caranya berjalan begitu bertenaga dan optimistik seolah-olah tidak akan ada sesuatu pun yang bisa mencelakakannya.
Di atas sebuah kursi tunggu, ia duduk sebentar. Dipandanginya sekeliling stasiun di mana orang-orang yang baru turun dari kereta berlalu lalang, orang-orang menunggu di kursi plastk yang dingin, dua orang petugas mempercakapkan sesuatu, dan batangan rel tampak berkilau disepuh cahaya siang. Ia beranjak dari kursi setelah beberapa menit mengambil jeda. Ia buru-buru keluar dari area stasiun. Ia memanggil tukang ojek, menyebut alamat, dan bergegaslah motor bebek yang bunyi knalpotnya berisik itu ke alamat yang dituju. Tak jauh, kurang dari lima belas menit, ia tiba di tempat tujuan.
Sebuah rumah besar dengan pohon beringin di seberang pagar yang daun-daunnya bertebaran di tanah tampak di hadapannya. Ia memandangi rumah itu saksama seakan hendak memastikan bahwa ia tidak salah alamat. Tempat itu memang agak jauh dari jalan besar. Sopir ojek mesti melalui beberapa gang kecil dan sepi sebelum tiba di rumah besar itu. Setiba di sana, suasana jalan makin sepi saja. Sejauh mata memandang, lelaki itu tak mendapati satu pun orang—entah tetangga ataupun orang yang sekadar lewat—tampak. Area itu begitu sepi seperti sebuah jalan yang sedang diisolasi. Hanya ada beberapa pohon besar dengan burung-burung yang sesekali bertengger di dahannya untuk kemudian terbang kembali ke langit. Pohon-pohon itu menghadirkan keteduhan yang membuat Bekasi menjadi tak begitu panas. Lelaki itu merasa nyaman dengan yang kini dirasakannya. Ia merogoh saku celana, mengambil kunci, dan membuka pagar rumah besar dengan kunci tersebut.
Rumah itu terdiri atas dua lantai. Lelaki itu menyisiri satu demi satu ruangan rumah. Dengan langkah-langkah pelan dan waspada, ia memeriksa keadaan rumah yang sudah ditinggalkan penghuninya selama tiga tahun itu. Si penghuni terakhir—Pak Simon dan keluarga—sebelumnya menitipkan rumah itu kepada tetangganya yang tinggal persis di sebelah rumah. Pak Simon membayar tetangga itu untuk rutin membersihkan rumah agar tidak kusam dan kotor seperti barang tak berguna.
Dua tahun lebih lamanya si tetangga menjalani rutinitas membersihkan rumah besar itu, sampai sebulan lalu Pak Simon mendapat kabar tetangga itu mati karena terpeleset saat membersihkan kamar mandi rumah besar. Itulah penyebab Pak Simon meminta tokoh kita—si lelaki muda—untuk menyambangi rumah besarnya. Pak Simon meminta pada lelaki itu untuk menjaga dan merawat rumah besar sekitar satu pekan sebelum penghuni baru datang ke sana. Ya, rumah besar Pak Simon itu sudah dipinang oleh sepasang pengantin baru asal Bali. Mereka sudah membayar uang muka dan mengatakan minggu depan akan mulai menghuni rumah besar.
Pada hari pertama kedatangannya, setelah bersih-bersih sekadarnya lelaki muda bersantai dan tiduran di atas sofa yang sangat empuk. Ia tidak pernah merasakan sofa seempuk dan selembut itu. Ia membayangkan betapa nikmatnya kalau bisa menghuni rumah itu selamanya. Ia mendesah dan membuang impian muluk itu. Dengan televisi menyala, lelaki itu ketiduran di atas sofa.
Hari sudah berangsur gelap ketika lelaki itu terbangun. Televisi, lampu, dan pendingin ruangan mati. Ia mengecek meteran listrik dan mendapatinya baik-baik saja. Listrik tidak turun atau korslet. Mati listrik datang begitu tiba-tiba. Ia keluar dari rumah. Jalanan di depan rumah sangat lengang dan sepi. Matahari sudah lama pergi, berganti cahaya bulan yang tipis dan hanya menghasilkan keremangan. Dedaunan bertiup terbawa angin. Petang itu udara sejuk sekali. Lelaki muda mengenakan sweter dan mulai berkeliling. Ia hendak mencari seseorang yang bisa diajaknya berbicara atau sekadar menjadi tempatnya bertanya mengapa listrik mati tiba-tiba.
Ia berjalan menyusuri jalan. Rumah-rumah di kanan-kirinya tampak gelap dan sepi. Semuanya tak berpenghuni. Rumah-rumah yang berukuran cukup besar itu meruakkan sensasi ganjil. Lelaki itu merinding dan mempercepat langkah. Ia menembus gang lain. Di gang itu beberapa lampu menyala dan tampak beberapa orang sedang berkumpul. Saat ia melambaikan tangan dan hendak menghampiri orang-orang itu, mereka terperanjat dan membubarkan diri. Ia merasa heran dan meneruskan perjalanan. Azan magrib berkumandang. Jalanan begitu sunyi dan dingin. Saat berhenti sejenak dan duduk di atas sebuah kursi beton, ia tiba-tiba teringat pintu utama rumah tidak dikunci. Ia hanya mengunci pintu pagar karena memang tadi ia agak terburu-buru. Mengingat itu, lelaki itu bergegas kembali ke rumah besar. Sementara ia berjalan cepat, sayup-sayup azan dan suara orang mengaji masih terdengar.
Setiba di area rumah besar, ia terkejut senang mendapati lampu-lampu sudah menyala. Ia membuka pagar dengan cekatan, lantas mendorong pintu utama. Benar saja, pintu itu tidak terkunci. Ia buru-buru memeriksa keberadaan televisi, guci, perhiasan porselen, dan sebuah lukisan mooi indie yang tergantung dinding. Syukurlah, semua barang-barang berharga itu tak bergeser seinci pun dari tempatnya. Tidak ada barang-barang yang hilang. Tidak ada barang-barang yang dicuri. Ia bisa tidur dengan tenang malam ini.
Lantaran lelah, lelaki itu memutuskan untuk merebahkan diri di sofa. Tak lama ia pun tertidur. Beberapa jam setelah tidur, kandung kemihnya terasa penuh. Ia kebelet buang air kecil. Cepat-cepat ia menuju kamar mandi lantai satu. Ia pun menunaikan hajatnya dan merasakan kelegaan selepasnya. Tanpa kecurigaan ia membuka pintu. Di depan pintu, seorang perempuan berpakaian serbahitam dengan muka hitam melompat ke hadapannya dan memandanginya dengan mata melotot. Lelaki itu terlonjak ke belakang. Kepalanya membentur pinggiran kloset. Darah mengucur dari kepala lelaki malang itu. Tiga hari setelahnya, seorang pemulung merasa heran burung-burung berbulu hitam berkerumun di halaman rumah besar. Si pemulung coba-coba memasuki pagar rumah yang lupa dikunci, membuka pintu utama yang juga tak dikunci, dan samar-samar mencium bau busuk. Ia menemukan mayat seorang lelaki muda dan segera melaporkannya ke warga terdekat.
***
Sepasang pengantin baru asal Bali yang hendak membeli rumah besar mengurungkan niat mereka usai mengetahui fakta-fakta seram soal rumah besar. Selain kematian tiba-tiba si tetangga dan si lelaki muda, rupanya ada satu kematian juga yang baru terungkap saat polisi menggeledah rumah besar selepas kematian lelaki muda. Di sebuah ruangan yang selalu dikunci di dekat kamar mandi, polisi menemukan seonggok mayat beku yang sudah diawetkan. Mayat itu berpakaian serbahitam dan wajahnya hitam seluruh seolah diolesi arang. Setelah polisi melakukan penyelidikan, didapatilah bahwa mayat serbahitam itu tak lain istri pertama Pak Simon. Istri pertama Pak Simon lama bekerja di Arab Saudi dan rutin mengirimi uang setiap bulan kepada Pak Simon dan anak mereka yang masih berusia lima tahun. Bertahun-tahun istri Pak Simon tak kunjung pulang. Sang istri bilang ia selalu ditahan-tahan oleh majikan sehingga tak bisa pulang. Kendati tak pulang-pulang, sang istri tak pernah lupa mengirimkan uang yang jumlahnya lumayan banyak. Bosan menunggu, suatu hari Pak Simon berjumpa seorang janda kaya raya yang tak lain adalah temannya sewaktu sekolah menengah. Pertemuan mereka berakhir dengan perkawinan. Pak Simon mengatakan kepada anak mereka dan petugas KUA bahwa istri pertamanya sudah meninggal di Arab Saudi. Ia tidak mengabarkan keluarga istrinya ketika menikahi janda kaya raya itu. Suatu malam, beberapa bulan setelah pernikahan itu, istrinya datang. Waktu itu istri kedua dan anaknya sedang pergi ke rumah mertuanya. Kedatangan istri pertama itu tak ia sambut dengan ramah. Alih-alih ia langsung menjambak sang istri, membawanya ke sebuah ruangan dekat kamar mandi, dan menyiksanya sampai mati. Ia mengawetkan mayatnya dan membiarkannya tergeletak dengan hanya ditutupi lapisan kain hitam. Semenjak itu, ia melarang siapa pun mendekati apalagi berusaha membuka pintu ruangan yang selalu terkunci itu.
***
Pada malam pertama di penjara, Pak Simon izin ke kamar mandi. Sipir yang berjaga merasa heran Pak Simon tak muncul juga dari kamar mandi selama berjam-jam. Ketika sang sipir mendobrak pintu, ia mendapati tubuh Pak Simon sudah tak bernyawa dengan sekujur tubuh berwarna hitam seolah baru saja dibakar massa.***
Tambun Selatan-Bekasi, 14 April 2020
Erwin Setia, lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis cerpen dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Cerpennya terkumpul antara lain dalam antologi bersama Dosa di Hutan Terlarang (2018) dan Berita Kehilangan (2021). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].
“Mengapa kau tak mencoba rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu.”
“Soalnya adalah pihak ketiga,” katanya datar. “Dari pihak dia,” imbuhnya lagi.
Lalu kami sama-sama terdiam. Matanya kembali larut di layar komputer, dan aku tenggelam dengan pikiranku sendiri. Gadis macam apa dia sebenarnya? Mengapa begitu sulit menebak yang ada di batok kepalanya? Aku menghela napas panjang. Ia menoleh padaku.
“Kau kenapa? Galau?” Aku menggeleng.
“Aku sedang jatuh cinta.”
“Oya?” katanya pendek, lalu tenggelam lagi pada layar di depannya. Sesungguhnya aku mengharap terjadi perubahan pada mimik mukanya. Setidaknya ia kaget, atau konsentrasinya hilang, lalu berhenti mengetik demi mendengar jawabanku. Tapi tidak. Ceritaku tidak mempengaruhi kehidupannya, konsentrasinya. Ia kembali mengetik dan mengetik.
“Aku baru merasakan mencintai yang sebenar-benar mencintai,” kataku lagi.
“Seperti apa itu?” tanyanya tanpa menoleh. Sial, jarinya tak juga berhenti mengetik.
“Mencintai tanpa syarat. Sebagai lelaki aku selalu mencintai perempuan dengan sejumlah catatan, karena ia baik, karena hidungnya mancung, karena kakinya panjang. Namun kali ini benar-benar cinta tanpa syarat. Aku mencintainya begitu saja. Semua terasa nikmat sekali,” kataku menerawang. Ia menoleh sekilas ke arahku lalu tertawa kecil.
“Berarti kau benar-benar sudah dewasa,” katanya tersenyum. Aku juga tertawa. Itulah yang membuatku menyukainya. Ia cantik, lucu, dan jujur. Aku harus mengakuinya, aku mencintainya tanpa syarat.
“Kalau kau sudah merasakan cinta semacam itu, kau harus mengejarnya. Kalau tidak, kau akan menyesal kehilangan dia,” suaranya tidak terdengar menggurui. Namun entah mengapa, tiba-tiba aku menyusut di hadapannya. “Apabila tertolak, kau akan merasakan sebenar-benar pahit dan sakitnya,” katanya berfilusuf.
Aku mencermati kata-katanya. Sebagai guru, ia memiliki kemampuan memahami tanpa harus menggurui. Ia kembali sibuk mengetik seolah mengatakan hal itu dengan sekilas saja. Apa Tuhan menciptakan cinta yang buruk padanya? Mengapa ia mengucapkan semua itu dengan datar? Apa ia telah mengalami dan melewati rasa sakit itu? Ia mengetik dan terus mengetik, tak menghiraukanku yang duduk di sampingnya dengan perasaan yang tak menentu.
Sisa hari itu sungguh tak menyenangkan. Aku melewati banyak jam kosong karena tidak ada jam mengajar. Sebagai guru olahraga, jamku memadat di pagi hari. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini.
Bel istirahat berbunyi dan ia selesai mengetik. Dengan bernyanyi kecil ia berlalu dari depan komputer pusat. Tinggal aku yang termangu menyesapi kalimat demi kalimatnya yang mengendap di kepalaku. Tak tahukah dia bahwa aku mencintainya? Aku mengambil napas berat dan dalam. Aku tak tahu lagi cara yang harus kulakukan demi mengungkapkan perasaan. Inikah bentuk sakit dari cinta tanpa syarat?
***
Kupencet tombol off, dan semua ocehan mama berakhir. Kubiarkan mama uring-uringan di seberang karena aku tak mau bicara. Mama tak berhenti menjodohkanku dengan anak-anak teman papa. Berkali-kali aku menolak segala bentuk pernikahan kolega. Terakhir dengan Boni, anak atasannya. Sebagai kepala Dirjen, papa memiliki banyak kolega. Tiga kakak perempuanku menikah dengan anak-anak teman papa. Tanpa cinta, tentu saja. Semua berdasar harta dan jabatan. Terakhir, pernikahan kakak kedua kandas di tengah jalan karena suaminya selingkuh. Kakak kedua memang menderita, namun ia tetap kaya raya. Ia memiliki perkebunan dan vila mewah di pegunungan. Dan mama tak pernah belajar dari hal itu. Mama tetap memaksaku menikah dengan salah satu anak teman-teman papa. Kau ini bodoh atau apa? Tidak semua orang bisa bersuamikan anak Pak Direktur!
Aku menentang keras pernikahan dengan dasar kolega. Aku sudah muak dengan semua tawaran perjodohan keluargaku. Aku tak mau seperti mereka. Aku menyelesaikan kuliah dan hengkang dari kehidupan mereka, menentukan jalanku sendiri. Aku memutuskan menjadi guru dan menjalani kehidupanku sendiri. Kehidupan yang lebih sederhana daripada kehidupan pejabat yang terus menerus harus memasang bibir manis dan basa-basi karena wartawan berkeliaran di mana saja. Kunikmati gaji kecilku.
Kesederhanaan itu tercermin dari kisah cinta yang kurasakan. Aku mencintai Pak Yo, guru olahraga. Tidak tampan dan tidak kaya. Dipastikan apabila aku mengajukannya sebagai calon suami, mama akan berang. Aku tak peduli. Hal pelik yang kuhadapi saat ini hanyalah: aku tak tahu perasaannya padaku.
Aku melihatnya duduk di sana. Ia tampak murung dan tidak bersemangat. Tatapan matanya mengarah pada Bu Sinta, guru Matematika yang sedang mengetik ulangan di komputer kantor. Bu Sinta adalah teman dekatku. Meja kerjanya tepat di sebelahku. Meski demikian, karakter kami benar-benar jauh berbeda. Bu Sinta adalah orang yang supel dan mudah bergaul dengan siapa saja, sedangkan aku lebih tertutup dan pendiam.
“Aku baru merasakan mencintai yang sebenar-benar mencintai”
“Seperti apa itu?” tanya Bu Sinta.
“Mencintai tanpa syarat. Sebagai lelaki aku selalu mencintai perempuan dengan sejumlah catatan, karena ia baik-baik, karena hidungnya mancung, karena kakinya panjang. Tapi kali ini benar-benar cinta tanpa syarat. Aku mencintainya begitu saja. Semua terasa nikmat sekali,” katanya bersungguh-sungguh.
“Berarti kau benar-benar sudah dewasa,” kata Sinta tersenyum nakal. Mereka tertawa. Aku mencermati pembicaraan mereka dengan saksama. Aku cemburu dengan kedekatan mereka. Seandainya saja aku bisa seperti Bu Sinta, barangkali aku bisa lebih beruntung dalam hal asmara.
“Kalau kau sudah merasakan cinta semacam itu, kau harus mengejarnya. Kalau tidak, kau akan kehilangan dia,” kata Bu Sinta. “Apabila tertolak, kau akan merasakan sebenar-benar pahit dan sakitnya”
Bel berbunyi. Bu Sinta keluar dari ruangan diikuti tatapan mata Pak Yo. Dalam hati aku mengeluh. Benar kata Bu Sinta, kini cinta tanpa syarat datang kepadaku sebagai ujian. Aku harus bersiap dengan segala kepahitan.
***
“Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu.” Pertanyaan Pak Yo, guru olahraga itu kembali mengusikku. Pertanyaan yang sering kuajukan pada diriku sendiri. Memang benar, Pras masih menyayangiku. Ia masih sering menelepon, dan beberapa kali mengajak menonton bioskop. Kuterima semua tawaran itu sebagai kawan. Sebelum berpacaran, kami sudah berkawan baik. Rasanya tak pantas juga hanya karena pernah menjadi pacar harus memutuskan pertemanan.
Dulu kami sama-sama berada di organisasi mahasiswa pecinta alam. Saat itu ia adalah ketua tim penjelajah. Ia melindungi anak buahnya, termasuk aku, dengan penuh tanggung jawab. Setahun setelah itu kami resmi berpacaran. Tiga tahun kemudian semua menjadi kacau. Barangkali memang benar, cinta memiliki masa kadaluarsa. Ia selingkuh dengan teman sekantornya. Sejak saat itu aku merasa semua lelaki seperti babi. Mereka lupa pada janji dan komitmen yang dibangunnya sendiri. Dari awal aku sudah menegaskan, Aku bisa menempuhi apapun, kecuali satu hal, orang ketiga. Dan ironis memang bila pada akhirnya hubungan kami harus kandas karena pihak ketiga. Aku memutuskan untuk pergi. Aku tak mau dibodohi cinta ketiga. Saat itu juga aku memutuskan untuk menghapus Pras dari hidupku berikut nomor telepon dan segala hal tentangnya. Sebaliknya, ia selalu menghubungiku dan aku tak membalas semua pesan yang ia kirimkan. Dan ia benar-benar seperti babi, menyuruk ke sana kemari meminta dan memohon-mohon padaku untuk kembali padanya. Entah mengapa aku tidak tertarik pada tawaran itu. Tapi sebagai teman yang pernah berada di satu atap organisasi, tentu saja tidak sesederhana itu. Ia tetaplah teman. Dan rasanya aku tetap menjadi juniornya.
Aku begitu khusyuk dengan luka dan sakit hatiku pada lelaki hingga waktu tak lagi menjadi hal penting. Waktu terus berlalu dan kubiarkan lukaku sembuh dengan sendirinya. Sedikit demi sedikit semua menjadi biasa. Tak ada kebencian, tak ada rindu, tak ada cinta, tak ada apa-apa lagi di sana. Hatiku benar-benar kosong. Satu dua lelaki datang, tapi entah mengapa aku merasa tak ada yang benar-benar tepat.
Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu. Pertanyaan itu kembali mengiang. Pras tidak seburuk itu. Barangkali saat itu aku yang terlalu berlebihan. Aku menafsirkan segala sesuatu dengan emosi. Kemarahanku benar-benar meluap dan aku tak sudi lagi memaafkannya.
Lima tahun berlalu dan usia terus merambat ke angka-angka matang. Bapak ibuku berkali-kali mencoba menjodohkanku dengan anak-anak temannya. Aku menggelengkan kepala. Aku tidak sepahit itu. Bagiku perjodohan tak akan mengubah hidup menjadi lebih bahagia. Terlebih lagi perjodohan dengan orang yang tak kukenal. Aku tak juga mengiyakan tawaran itu.
Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu. Pertanyaan itu berulang-ulang menyentil rongga kepala. Aku tak tahu ke mana perginya rasa cinta, rindu, dan semua rasa kagum pada Pras yang dulu pernah singgah. Beberapa kali aku mendatangkan perasaan itu melalui kenangan. Menurut buku-buku picisan yang kubaca, kenangan akan membangkitkan kembali cinta yang hilang, kenangan indah akan menghidupkan kembali suasana sepasang kekasih. Bagiku kenangan tak begitu dibutuhkan. Semua kebahagiaan yang pernah kami lewati saat naik ke Bromo, Pangrango, dan sejumlah perjalanan sepanjang pantai selatan dengan motor bututnya tak mampu membangkitkan perasaan itu. Lalu bagaimana cara untuk kembali rujuk dengan Pras? Apakah aku benar-benar bisa berdamai dengan semua itu? Aku tidak yakin. Luka yang ditorehnya masih menganga di dasar dada.
Kutatap Pak Yo, guru olahraga yang duduk di belakangku. Ia juga tengah galau perihal cinta. Ia bercerita tentang cinta tak bersyarat. Semua itu membuatku berpikir ulang tentang perasaanku.
Bel berbunyi. Aku harus mengisi beberapa kelas lagi. Ada enggan yang menyergap, memintaku untuk tetap tinggal.
Bu Mita guru Bahasa Inggris tersenyum kepadaku. Tempat duduk Bu Mita tepat di sebelahku. Harum parfum floral menguar seiring tubuhnya yang berkelibat melintasiku. Inilah yang membuatku tak bisa rujuk kembali dengan Pras. Makhluk cantik yang mungil, rapi, dan anteng itu selalu menyedot perhatianku, membuat dadaku naik turun tak menentu. Aku mengagumi Bu Mita seperti dulu aku mengagumi Pras. Perasaan itu datang sebagai cinta tak bersyarat bagiku, meski bagi orang lain, termasuk bapak ibuku adalah hal yang tidak mungkin.
Aku tak tahu, apakah ini wujud dari sakit dan pahit cinta yang tak bersyarat itu? Bagiku cinta adalah omong kosong besar. Tak ada cinta yang benar-benar memenuhi syarat.***
Maret 2018-Oktober 2019
Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.