Cerpen

Pengakuan Dosa

Cerpen Aliurridha

Aku mengenalnya sebagai sosok pendiam yang menyimpan kelam dalam luka peristiwa. Tak banyak yang aku tahu tentangnya, meski sedari kecil aku tinggal bersamanya dalam sebuah rumah dingin yang tak pernah dihangatkan percakapan keluarga. Tiada satu pun yang kuketahui tentang masa lalunya, selain dia adalah seorang prajurit, seorang pria gagah berseragam yang membuat setiap mata yang memandangnya silau oleh pukau. Dia adalah alasanku memilih jalan hidup sebagai prajurit dan mengabdikan diriku untuk negara karena aku ingin menjadi seperti dirinya. Namun, begitu aku memutuskan masuk militer, dia adalah orang yang paling keras menentangnya.

“Untuk apa kamu masuk militer? Kita tidak sedang berperang. Carilah kerja lain seperti kakak-kakakmu,” kata ayah.

Aku tidak membantah. Tapi, tetap saja, aku tidak punya keinginan menjadi seperti kedua kakakku. Aku tidak ingin menjadi pengusaha seperti kakak laki-lakiku dan tidak ingin menjadi guru seperti kakak perempuanku. Keputusanku sudah bulat, aku ingin menjadi tentara. Sejak saat itu, hubunganku dengan ayah yang tak pernah akrab itu, menjadi semakin renggang, hingga akhirnya aku memutuskan meninggalkan rumah. Aku berani melakukannya setelah seorang sahabat ayah berjanji akan membantu mencarikanku jalan, membantuku agar bisa masuk militer.

Ayahku memang aneh, dia tidak seperti kebanyakan orang tua dengan latar belakang militer, yang selalu menginginkan anaknya mengikuti jejak mereka; ayahku tak pernah sedikit pun mengarahkan aku maupun kedua kakakku untuk mengikuti jejaknya. Ketiga anaknya dibebaskan memilih mau menjadi apa pun—asal tidak masuk militer. Aku bahkan merasa ada upaya darinya untuk membuat kami, anak-anaknya ini, menjauh dari dunia militer. Setiap temannya dari angkatan darat berkunjung ke rumah, ayah tak memperbolehkanku dan kakak-kakakku berada di dekatnya. Kadang, dia  sampai perlu menyuruh ibu membawa kami pergi ke rumah kakek ketika teman-temannya berkunjung ke rumah.

Ketika masih kecil, aku tak benar-benar menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah agar aku jauh dari teman-temannya, agar aku tidak mengikuti jejaknya. Namun, aku yang sejak kecil telah mendengarkan cerita-cerita kepahlawanan ayah ketika di Timor Leste dulu, selalu memendam cita-cita untuk bisa seperti dirinya. Kemudian ketika aku memberanikan diri untuk menceritakan cita-citaku kepadanya, ayah malah menunjukkan ketidaksukaannya atas ide itu. Dan yang lebih menyakitkan dari semua itu adalah, dia sama sekali tidak pernah mengungkapkan alasannya. Baru ketika nyawa telah berada di pangkal lidah, dia mengungkapkan alasannya kepadaku bersama sebuah pengakuan dosa atas apa yang dilakukannya di masa lalu…

Lima tahun telah berlalu sejak aku meninggalkan rumah. Ibu menghubungiku—mengabarkan bahwa ayah sakit keras dan ingin sekali bertemu denganku. Dia mulai sering mengigau, memanggil-manggil namaku. Aku sebenarnya tak ingin bertemu dengannya, rasa kesal di hatiku belum hilang sejak dia menentang keinginanku dulu. Namun, aku tak mampu menolak permintaan Ibu. Jika ada satu orang saja yang tidak ingin kusakiti di dunia, mungkin hanya ibu orangnya.

Setelah bertahun-tahun meninggalkan rumah, aku tidak melihat adanya perubahan berarti pada rumah itu. Rumah itu masih seperti dulu, dingin sedingin angin musim kemarau, dan orang yang bertanggung jawab membuatnya seperti itu, kini terbaring lemah tak berdaya dalam sebuah kasur dengan tubuh separuh lumpuh oleh stroke. Kini, dia hanya seonggok daging tak berdaya yang tenggelam dalam rutinitas menunggu ajal.

“Kaukah itu Anton?” suaranya serak seperti ada pecahan kaca tersangkut di pita suaranya. Ibu menyentuh punggungku ketika aku terpaku menatap kondisi ayah. Ibu memintaku mendekat, dia menjelaskan kedua mata ayah hampir buta oleh katarak dan nyaris tidak bisa melihat.

“Kenapa tidak dioperasi Bu? Memangnya kita semiskin itu?”

Ibu menjelaskan ayah tidak ingin dioperasi. “Buat apa memperbaiki sesuatu yang hampir mati,” kata ayah kepada ibu. Tidak bisa kupungkiri ada getir dalam hatiku melihat sosok yang dulu terlihat begitu tangguh, terbaring lemah tak berdaya dimakan usia.

Aku berjalan mendekat ke arah ranjang tempatnya berbaring. “Ini aku Ayah. Anton. Anakmu,” kataku pelan. Semburat senyum memancar dari wajahnya yang terlihat lemah tak berdaya. Tangannya yang renta berusaha menggapaiku, meraba-raba wajahku, berhenti pada kumis tipis di atas bibirku. “Kau benar-benar sudah dewasa,” katanya. Aku menggenggam tangannya yang tiada henti bergetar. Kuperhatikan kulitnya yang kaku itu dipenuhi urat-urat kecil menonjol.

“Ada yang perlu ayah ceritakan kepadamu,” katanya lirih. Begitu ayah mengatakan kalimat itu, ibu keluar kemudian menutup pintu. Tampaknya ayah benar-benar tidak ingin ada orang lain yang mendengarkan ceritanya; ia sepertinya telah merencanakan ini.

“Ayah mau menceritakan kepadamu mengapa selama ini ayah tak pernah setuju kamu masuk militer.” Kata-kata ayah terdengar sangat lancar. Dia tidak lagi seperti pria yang tadi kulihat terbaring lemah di kasur. Kemudian dia menceritakannya sesuatu yang telah berpuluh-puluh tahun menjadi beban hidupnya.

Ayah bercerita kepadaku pengalamannya lebih dua puluh tahun lalu ketika direkrut dalam suatu badan intelijen yang dibentuk untuk memadamkan gerakkan yang berupaya menggulingkan pemerintahan. Ketika itu adalah masa-masa paling kacau sejak rezim berkuasa. Sesuatu yang bergerak di akar rumput sedang membangun basis-basis kekuatannya. Ayahku ditugaskan untuk mencari tahu, memantau, dan menangkap mereka yang dianggap mengganggu ketenteraman negeri.

Satu per satu orang yang dianggap berbahaya berhasil ditangkap berkat kerja kerasnya. Beberapa di antara mereka tidak memberi informasi apa pun, terpaksa dihilangkan karena dianggap menyimpan ancaman, beberapa lainnya menemui ajal di ruang introgasi karena tak mampu menahan siksa, beberapa lainnya beruntung hanya menjadi tahanan politik untuk waktu yang tidak ditentukan.

Aku tentu saja pernah berkali-kali mendengar berbagai cerita ini sebagai cerita liar yang beredar untuk menyudutkan pihak militer. Tapi aku tak menyangka akan mendengar cerita ini langsung dari mulut pelaku—ayahku sendiri. Aku bergidik ngeri mendengar detail cerita ayah, bagaimana dia melakukan upaya paksa, mengorek informasi dari mereka yang tertangkap.

“Jika kamu berpikir penderitaan hanya dirasakan oleh pihak yang duduk di kursi menahan siksa dan tidak di pihak yang memberi siksa, mungkin kamu benar-benar telah kehilangan kemanusiaan. Awalnya aku ikut merasa sakit ketika pertama kali aku melakukannya pada mereka. Namun, semakin lama, semakin sering aku melakukannya, aku nyaris tidak merasakan apa-apa lagi. Hal itu membuatku ngeri pada diriku sendiri. Dan yang paling mengerikan dari semua itu, aku melihat begitu banyak rekan-rekanku yang mulai menikmati apa yang mereka lakukan kepada orang-orang malang itu.”

“Aku tidak mau kamu menjadi seperti mereka,” kata ayah menatapku dengan mata keruhnya. Seketika itu leherku terasa kaku dan tenggorokanku kering. Padahal aku hanya mendengarkannya bercerita, namun entah mengapa aku yang merasa lelah dan kehilangan kata-kata.

“Sekarang situasi tidak lagi seperti dulu, Ayah. Rezim telah berganti dan kita telah mengalami reformasi. Hal-hal seperti itu tak terjadi lagi.” Aku menyentuh bahunya ketika mengatakan itu.

“Tidak ada yang berubah, Nak. Rezim boleh berganti, penguasa di mana pun sama saja. Satu-satunya tujuan mereka adalah mempertahankan kekuasaan, dan mereka akan melakukannya, bagaimanapun caranya,” kata ayah tegas.

Setelah itu dia diam sejenak, mengambil napas panjang dan bertanya, “Kamu sekarang bekerja di intelijen bukan? Memangnya apa pekerjaanmu jika tidak menyerang mereka yang mencoba menggoyangkan kaki penguasa?”

“Tapi kami tidak melakukannya dengan menangkapi mereka.”

Ayah bangkit dari pembaringannya dengan susah payah dan aku membantunya duduk. “Lalu dengan apa? Berita palsu?” tanyanya sedikit membentak. “Aku mendengar berita enam orang terbunuh dalam sebuah upaya penangkapan, memangnya itu berbeda? Ya, mungkin berbeda karena sekarang mereka bahkan tidak perlu sembunyi-sembunyi menghilangkan nyawa manusia.”

“Itu berbeda. Mereka membahayakan negara, mereka melawan aparat, mereka tidak bisa dibiarkan begitu saja.”

“Semua selalu dimulai seperti itu, Nak. Segalanya bermula sebagai upaya mempertahankan dan menjaga stabilitas negara.” Suara Ayah melembut. “Tapi, cepat atau lambat kegentingan akan datang dan kamu akan dipaksa bertindak, kamu akan dipaksa melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan dan akan kamu sesali seumur hidup. Dan yang terburuk dari itu, kamu tidak diperbolehkan menceritakannya kepada siapa pun.”

Ketika aku pikir dia sudah selesai bicara, ayah menambahkan. “Kamu tahu, seandainya aku bisa meminta maaf kepada korban-korbanku, kepada keluarga-keluarga mereka, aku akan melakukannya. Tapi itu tidak mungkin.”

Sampai di sini apakah kamu mempercayai cerita ayahku? Mungkin kamu berpikir cerita seperti ini tidak akan terjadi di dunia nyata. Bahkan, kamu mungkin telah menyadari bahwa ada lubang pada cerita ini. Kamu mungkin akan berkata bahwa tentara tidak mungkin seperti itu, dan aku bukanlah tentara, dan cerita ini hanyalah karangan belaka. Kamu benar dan aku tidak akan menghindar. Aku mengakui bahwa aku bukanlah tentara, dan ayahku pun bukan seorang tentara, jadi dia tidak perlu melakukan pengakuan dosa. Aku hanyalah seorang anak yang kehilangan sosok ayah dua puluh tiga tahun silam, ketika tangan dingin razim dengan tak berperasaan membuang tubuh tak bernyawanya entah di mana. Jika kamu berpikir bahwa cerita ini hanyalah imajinasiku semata, kamu sekali lagi benar; tentu saja ini hanyalah imajinasiku semata.  Lagi pula, mana mungkin orang yang tidak merasa salah, melakukan pengakuan dosa, apalagi sampai meminta maaf.****

*Untuk Wiji Thukul dan para aktivis lainnya yang sampai saat ini belum diketahui kabarnya

Gang Metro, 5 Oktober 2022  


Aliurridha, penerjemah dan pengajar penerjemahan di suatu perguruan tinggi. Ia menulis esai, opini, puisi dan cerpen. Karyanya tersebar di berbagai media. Cerpennya berjudul Metamorfosa Rosa masuk dalam antologi Cerpen Pilihan Kompas 2021. Ia tinggal di Lombok dan bergiat di komunitas Akarpohon.

Cerpen

Tameng

Cerpen Puspa Seruni

Setelah pertengkarannya dengan Mae, di antara suara isak tangis juga angin yang menerpa wajahnya, Hasbi akhirnya mensyukuri keberadaan benda di tangannya. Benda yang terlihat bergaris dua itu menjadi penyelamatnya. Hasbi tersenyum samar menatap benda yang sedikit berbau pesing itu, meski sebelumnya benda itu pula yang memantik amarahnya seolah Mae sedang mengencingi wajahnya.

Lima belas menit yang lalu, Hasbi menerima benda yang disodorkan Mae dengan tangan bergetar. Mae membangunkan Hasbi yang masih bergelung dengan sarung dan gulingnya di atas kasur tipis di lantai yang terletak di sebelah ranjang. Hasbi bergeming menatap benda yang disodorkan Mae. Hasbi pernah melihat benda serupa saat dia memergoki teman sekolahnya menangis di toilet perempuan. Benda kecil yang membuat temannya harus dikeluarkan dari sekolah. Dengan mata yang masih mengantuk, Hasbi mengalihkan pandangan dari benda di tangannya kepada Mae dengan wajah penuh tanya.

“Aku hamil,” ucap Mae singkat dengan wajah yang datar tanpa rasa bersalah.

Perempuan itu kemudian beranjak lagi ke atas ranjang sambil memijat-mijat dahinya, seolah ucapannya hanya angin lalu yang tak perlu ditanggapi oleh Hasbi. Mae memang tidak membutuhkan tanggapan Hasbi, dia hanya merasa perlu memberitahukan informasi itu karena Hasbi adalah suaminya. Mae tak peduli pada raut wajah Hasbi yang berkerut. Alih-alih merasa bahagia karena istri yang dinikahinya satu tahun lalu itu mengandung, Hasbi justru bingung dan merasa seolah Mae sedang mempermalukannya. Hasbi membeku di tempatnya.

Kedua mata Hasbi terus menatap benda di tangannya. Akan tetapi pandangannya tidak pada benda itu, melainkan tembus pada kejadian satu tahun lalu. Hasbi baru lulus SMA saat itu. Dia melihat Pi’i, Bapak Mae, duduk di ruang tamunya. Jantungnya kebat kebit apalagi setelah mendengar penuturan ibunya.

“Kang Pi’i datang kesini untuk melamar kamu, Le.”

Jangan … jangan … emak …. Batin Hasbi berkecamuk. Jantungnya semakin berdegup kencang.

“Maksudnya, Mak?” tanya Hasbi tak mengerti.

Seolah memahami kebingungan anaknya, Zubaidah memberi penjelasan. Sontak saja Hasbi terperangah. Hasbi semakin bingung karena melihat wajah ibunya yang semringah. Terdengar suara berdehem dari Pi’i. Suara berat itu membuat nyali Hasbi ciut. Lelaki bertato itu selalu berhasil memaksakan kehendaknya kepada Hasbi.

“Aku mau kamu menikah dengan Mae. Kudengar kamu teman dekat Mae, dia sering menyebut-nyebut namamu.”

Hasbi semakin terkejut. Sejak kapan Mae menjadi teman dekatnya? Hasbi bergumam dengan dahi berkernyit. Siapa yang tidak mengenal Mae di sekolah, perlakuannya kepada Hasbi tentu tak bisa diartikan mereka berteman.

Menikah dengan Mae? Itu artinya …. Hati Hasbi merintih.

“Akan ada imbalannya, tenang saja. Aku sudah bicarakan dengan Zubaidah, biaya sekolah adik-adikmu aku yang tanggung. Selama kamu menjadi suami Mae dan bersikap baik, kamu dan adik-adikmu aman. Bagaimana?”

Hasbi menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Dia menoleh pada ibunya yang sedang menoleh ke arahnya. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya akan menikah dengan orang yang selalu mengganggunya di sekolah. Mae tentu tak akan diam saja jika mengetahui bapaknya akan menikahkannya dengan Hasbi.

Dan kenyataannya Mae memang menolak dengan keras rencana perjodohan itu. Dia tidak mau menjadi ejekan teman-temannya. Mae bergidik jijik membayangkan harus satu ranjang dengan lelaki kurus, dekil yang rambutnya selalu diminyaki itu. Dia tahu dirinya bersalah. Bapaknya teramat marah saat memergoki Mae berduaan dengan Arifin tanpa pakaian di sebuah gerbong kereta tua. Kejadian itu membuat Pi’i mengurung Mae selama satu bulan di kamarnya.

Pernikahan Mae dan Hasbi dianggap sebagai jalan keluar terbaik menurut Pi’i. Satu bulan setelah lamaran itu, pernikahan akhirnya di gelar. Pi’i tidak peduli penolakan Mae serta kebingungan Hasbi. Hasbi tidak punya pilihan karena dia harus membantu ibunya membiayai sekolah adik-adiknya. Lagipula, Hasbi selalu tidak kuasa menolak permintaan Pi’i.

“Ingat, ya. Kita hanya menikah pura-pura. Jangan coba menyentuhku,” ucap Mae di malam pertama pernikahan mereka.

Ijab Kabul sudah dilaksanakan pagi tadi. Acara selamatan dan resepsi sudah digelar dengan sederhana di halaman rumah Mae. Di malam pertama mereka menikah, Mae sangat menolak berdekatan dengan Hasbi. Mae tidak pernah mengijinkan Hasbi mendekat ke ranjang. Selama satu tahun mereka tidur terpisah. Hasbi menggelar kasur tipis di lantai sementara Mae menguasai dipan. Sampai pagi ini, saat Mae mengatakan dirinya hamil, Hasbi sama sekali belum pernah menyentuhnya.

“Anak siapa ini, Mae?”

Hasbi terbangun dari lamunannya. Dia menoleh pada Mae yang sudah berselimut di atas kasur. Mae tidak menjawab, dia hanya mengusap wajahnya yang berkeringat sambil menahan mual yang mulai mengganggunya.

“Bagaimana kamu bisa hamil?” desak Hasbi, menghampiri Mae.

“Tidak perlu marah begitu. Sejak awal bukannya kamu tahu bahwa pernikahan ini memang hanya tameng?” Mae menatap tajam kepada Hasbi.

“Bukankah kehamilanku memang diperlukan supaya kamu bisa terus hidup dengan duniamu? Supaya orang-orang tak lagi berkasak-kusuk membicarakanmu yang dianggap aneh oleh mereka?” Mae mencerca Hasbi dengan pertanyaan yang membuat Hasbi gemetar.

“Terima saja kehamilanku. Aku juga tidak tahu siapa bapaknya. Anggap saja anak ini penyelamatmu, maka balaslah dengan menjadi bapak yang baik juga untuknya. Sama-sama diuntungkan, bukan? Kita berdua butuh tameng untuk menutupi kebusukan kita masing-masing.”

Mae tersenyum sinis menatap Hasbi yang terlihat terkejut dan pucat pasi. Mae berbalik, memunggungi Hasbi dan sibuk dengan rasa mual di perutnya. Sementara Hasbi membeku. Bulir hangat mengalir di pipinya.

Perkataan Mae membuatnya teringat pada kejadian tujuh tahun lalu, saat usianya masih dua belas tahun. Siang itu Pi’i datang mengetuk pintu rumahnya. Hasbi bergegas membuka.

“Ibu masih di pasar,” ucap Hasbi.

Pi’i hanya tersenyum kemudian masuk. Lelaki itu memang kerap datang. Hasbi mengenalnya karena Pi’i sering membantu ibunya mengangkut barang dagangan di pasar. Pi’i petugas parkir sekaligus preman pasar. Dia lelaki yang baik dan sering membantu keluarga Hasbi. Bahkan Hasbi sempat berpikir bahwa Pi’i tertarik pada ibunya yang sudah menjadi janda sejak usía Hasbi tiga tahun.

Penilaian Hasbi kemudian berubah 180 derajat saat Pi’i mendekat dan menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Hasbi berusaha memalingkan wajah. Pi’i terus mendekat, mendesak dan dengan tangannya yang kekar menarik Hasbi. Hasbi nyaris berteriak sebelum tangan kiri Pi’i membekap mulutnya.

Sejak kejadian siang itu, Pi’i kerap datang. Dia terus mengulangi perbuatannya kepada Hasbi. Parahnya, setelah usía Hasbi beranjak remaja, ada satu hal yang disadarinya. Dia seringkali merindukan sentuhan lelaki dewasa, seperti Pi’i menyentuhnya. Hasbi sangat tahu itu salah, tetapi hasratnya kerap tak bisa dibendung. Dia mulai terbiasa dan merasa nyaman dengan keberadaan Pi’i.

“Kamu tinggal saja di rumahku. Mae membutuhkanmu, begitu juga aku,” bujuk Pi’i sebelum día datang melamar Hasbi kepada Zubaidah.

Ingatan itu membuat Hasbi menggigil ketakutan. Dia beranjak keluar kamar meninggalkan Mae yang masih berselimut di atas ranjang. Hasbi mengayuh sepedanya, menjauh dari rumah. Dia memang butuh tameng untuk menutupi masa lalunya.

Tapi bayi itu tidak bersalah, Hasbi menggumam sambil menyeka sudut matanya.***

Jembrana, 27 Desember 2022


Puspa Seruni, penulis kelahiran Situbondo-Jawa Timur yang saat ini menjadi pengajar di Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana, Bali. Penulis terpilih sebagai Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2022.

Cerpen

1.001 Kura-Kura

Cerpen Beri Hanna

Aku mendengar Selin bercerita tentang lompat tali. Ceritanya hampir selesai. Setelah dia adalah giliranku. Aku semakin gerogi. Seharusnya aku memilih cerita yang serupa seperti teman-teman sebelumnya. Tapi aku sudah tidak punya waktu.

Teman-teman bertepuk tangan, tanda selesainya cerita lompat tali itu. Ibu guru berdiri, mengangkat buku absensi lalu menyebut namaku.

***

Di sudut bumi tempat mama bekerja, tak terlihat seekor kura-kura seperti yang pernah diceritakan papa. Aku kecewa sekaligus sedih saat mendapati suasana di sini tak seperti yang aku bayangkan.

“Sungguh membosankan sekali,” kataku ketus, tak sadar begitu gampang aku katakan.

“Hei! Apa katamu?” mama bertanya tetapi aku tak menjawabnya bahkan tidak melihat ke arahnya.

Aku masih melihat sekeliling, mencari sesuatu yang dapat menghibur. Tetapi tak ada apa-apa selain kelengangan panjang bagai tiada habisnya. Seluruh tempat ini berwarna putih pucat. Hal ini menambah suasana jenuh yang sepertinya mampu membuat orang sepertiku menjadi gila dalam hitungan menit.

Baru sebentar berada di sini, aku langsung merindukan rumah. Rasanya perjalanan dengan mesin waktu ini sia-sia. Aku ingin kabur tetapi sama sekali tak tahu ke mana jalan yang harus aku lalui. Menggunakan mesin waktu seperti tadi aku dan mama tiba di sini, sepertinya akan membuatku mati lebih cepat sebelum sampai tujuan, atau paling tidak aku akan tersesat di tempat antah berantah. Mesin itu terdiri dari banyak tombol dan lain-lainnya yang tidak aku mengerti. Seolah didesain khusus untuk perorangan yang berkepentingan.

Ini satu kesalahan terbesar dan sepertinya memang aku harus berada di sini, terkutuk untuk waktu yang tidak akan aku ketahui. Lagi pula mama sudah mulai bekerja dan tentu saja dia akan melupakan aku.

“Kenapa ya, aku bisa ikut ke sini,” kataku kemudian.

Aku tahu mama mendengar tetapi pura-pura sibuk dengan pekerjaan memasukkan angka-angka di permukaan pokok pohon. Waktu kecil aku sering diceritakan papa tentang pekerjaan mama yang mengharuskannya tidak pulang selama bertahun-tahun.

“Aneh,” kataku kepada papa suatu hari. Papa berkata itu tidak aneh dan aku langsung mendebatnya bahwa tidak ada satu pun orangtua temanku yang bekerja seperti mama. Lagi pula, tak ada seorang anak yang mengatakan tentang pekerjaan mama ketika ditanyai guru tentang cita-cita mereka.

“Mama, apakah kita tidak salah tempat?” tanyaku dan mama menjawab tidak, dengan suara yang hampir tak kudengar. Aku mendekat dan menanyakan lagi pada mama.

“Tidak mungkin salah,” jawabnya, masih sibuk memasukkan angka-angka ke pokok pohon.

“Lalu mana kura-kura seperti yang diceritakan papa itu?”

“Tunggu saja,” kata mama. “Kura-kura itu akan datang. Jumlahnya seribu satu dan tidak pernah kurang atau lebih.”

“Berapa lama lagi, Mama?”

“Tidak lama, kok. Pasti sebentar lagi.”

Begitulah mama. Aku tahu sejak dulu ia mudah menjawab setiap hal yang aku tanyakan meskipun tak pernah tepat dan akurat. Mama memang tidak pernah memuaskan—mungkin juga termasuk memuaskan papa.

Seharusnya sejak dulu papa merencanakan sesuatu yang besar. Seperti Tua Gundul (aku lupa namanya, tetapi Gundul ini teman papa) yang berbakat mengingat nomor telepon serta alamat rumah setiap perempuan. Rumor tentang Gundul yang suka menghubungi perempuan untuk diajak berkencan ke bioskop benar adanya. Papa, aku dan semua temanku tahu Tua Gundul telah menikah sebanyak dua belas kali. Tetapi papa, masih setia kepada mama yang hampir tidak pernah pulang.

“Apa, sih, yang Papa harapkan dari Mama?” tanyaku suatu hari kepada papa. Kalau tidak salah saat itu aku masih berusia sepuluh tahun. Papa dengan mantap menjawab ia hanya mengharapkan mama pulang. Itu membuatku tak ingin lagi menanyakan perihal hubungan papa dan mama. Aku tidak peduli meski sebenarnya aku ingin papa mencari perempuan lain karena mama, bagiku, seperti yang tadi aku katakan: Tidak pernah memuaskan.

Suatu hari ketika mama pulang dengan mesin waktunya secara tiba-tiba, aku sama sekali tidak takjub karena bagiku itu bukanlah sesuatu yang hebat. Teman-temanku tidak pernah membicarakan mesin waktu, keajaiban semacam itu. Begitu pintu mesin waktu terbuka, mama melengos berjalan ke arah kamar tanpa menyapaku. Saat itu aku kesal dan mengejarnya. “Jangan masuk kamar, dulu,” kataku, menahannya.

“Apa yang kau inginkan?”

“Jawaban.”

“Kalau begitu siapkan pertanyaanya.”

Aku langsung bertanya, mengapa anjing menggonggong sedangkan kucing mengeong? Dan mama menjawab karena anjing tidak mungkin mengeong dan kucing tidak mungkin menggonggong.

“Sederhana sekali jawaban, Mama,” kataku dan mama mengatakan: “itu, kan menurutmu.” Ia juga menambahkannya dengan balik bertanya kepadaku, apa jawaban yang aku harapkan. Aku ingin memperpanjang obrolan ini seperti apa arti kata tidak mungkin, yang dimaksud mama? Inilah yang tidak pernah mama jelaskan kepadaku! Tetapi, andaikata aku benar-benar menanyakannya tentu saja mama akan menjawab itu sesuatu yang tidak terjadi. Selagi aku berpikir, mama telah melengos lagi. Membuka pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Aku tak dapat menahannya. Aku hanya bergumam geram, “licik sekali.”

Jawaban-jawaban mama selalu mengambang penuh misteri atau bisa aku katakan tidak pernah pasti. Mama tak pernah memikirkan apa yang ingin aku ketahui. Seperti saat ini, ia membiarkan aku menunggu sementara ia sibuk dengan pokok pohon dan angka-angka. Bagaimana bila aku menunggu hingga warna putih pucat di seluruh tempat ini menjadi hitam gelap? Sementara seribu satu kura-kura itu tidak datang. Apakah mama akan menjeda kerjanya lalu medekat kepadaku sambil membisikkan kata; sabar. Aku rasa itu tidak akan terjadi. Paling pasti, mama tidak akan mendekat dan malah menyarankan aku untuk terus menunggu.

“Apakah papa pernah menipu Mama?” tanyaku setelah bosan mengingat-ingat yang telah berlalu. Lagi pula, kini aku dan mama telah jauh dari rumah.

“Mama lupa.”

“Pasti papa pernah menipu Mama,” simpulku.

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Karena mama tak ingin mengingatnya. Oh tidak. Mama lupa karena memang tidak pernah ada di rumah.” Mama diam tidak menjawabku, dan kembali bekerja.

Pada satu kesempatan papa banyak bercerita tentang seribu satu kura-kura. Aku takjub karena cerita papa seperti legenda penuh keajaiban. Sejak mulai kura-kura terjun ke dalam laut, menuduh raja ikan sebagai dalang perpecahan kaum tawar dan asin, memberantas penjahat yang memperbudak musang, lalu menunggangi kuda emas hingga terbang bergentayangan di malam hari. Kura-kura bersenjata pedang berkilau. Dan masih banyak lagi.

Satu hal yang dilupakan oleh papa dan baru pada saat mendapati kenyataan kelengangan di sinilah, aku menyadarinya. Aku jadi berpikir, kira-kira apa ya, yang dilakukan seribu satu kura-kura sebelum datang ke sudut bumi, tempat di mana mereka akan muncul dan aku dapat melihatnya seperti kata papa itu. Aku bisa saja menduga-duga, tetapi dugaanku tak lebih hebat dari cerita-cerita papa.

Bertanya kepada mama adalah jalan terburuk. Mama akan merusak apa yang aku bayangkan. Demikian nanti dia berkata, “Seribu satu kura-kura sedang dalam perjalanan. Mereka capai dan berhenti lalu melanjutkan perjalanan.” Lebih baik aku tidak menanyakannya. Lebih baik pula jika aku mencari tahu sendiri. Ya. Sepertinya itu lebih baik. Sembari menunggu—karena menunggu teramat membosankan—aku akan berjalan untuk melihat-lihat apa yang dapat aku temukan.

Beberapa langkah dari tempat mama bekerja aku merasakan kesunyian seperti memang telah mengutuk tempat ini. Oh, sungguh menyedihkan mamaku yang bekerja di sini. Aku rasa mama pernah bosan dan bahkan mungkin melewati fase gila. Setelah jauh melangkah, kesunyian ini benar-benar nyata. Semakin lama semakin lengang. Aku pernah membaca beberapa cerita yang menggambarkan kesunyian, semuanya menceritakan si tokoh dapat mendengar detak jantungnya sendiri, nafas, langkah kaki, atau suara serangga hingga tetesan air. Tetapi aku, semakin berjalan menjauh semakin tak mendengar apa-apa. Benar-benar hening bahkan aku semakin sulit menangkap suara hatiku sendiri.

Ketika melewati hal-hal aneh yang tidak pernah aku lihat bahkan aku tak punya pengandaian untuk menarasikan semua ini, aku semakin merasa kosong. Oh, apa ya semua ini. Aku benar-benar bingung. Aku dapat melihat semuanya. Aneh. Sesuatu yang begitu rusak. Yang begitu membusuk dan mencair, berserakan di mana-mana, bertumpuk dan meninggi. Aku dapat mencium bau yang menyengat.

Aku berjalan lagi. Kira-kira sudah sangat jauh dari tempat mama tadi bekerja. Aku menyadari sesuatu, apa yang aku pikirkan benar adanya. Mama tidak pernah memanggilku. Dia membiarkan aku bergerak, tersesat dalam kelengangan aneh seperti ini. Benar-benar licik.

***

Dua menit lagi bel sekolah berbunyi. Teman-teman yang mendengar ceritaku sudah menguap sejak tadi. Ibu guru juga begitu. Sesekali saat bercerita, aku melihat ibu guru termenung memandang kekosongan dengan segudang pikirannya sendiri yang berkeliaran di dalam kepalanya. Hanya dia yang tahu apa isinya.

Aku berteriak, ceritaku telah selesai. Teman-teman mengangkat kepala. Bertepuk tangan. Ibu guru berdiri dan menyilakan aku duduk. “Jadi, kesimpulannya, hari ini kita punya cerita aneh,” kata ibu guru.

Bel berbunyi. Semua teman berhamburan keluar kelas. Aku menyusun buku ke dalam tas. Aku dengar saura Selin berbisik kepadaku, “Lalu bagaimana dengan seribu satu kura-kura itu?” Aku melihatnya. Tersenyum.****


Beri Hanna, lahir di Bangko. Bergiat di Teater Tilik Sarira dan Kamar Kata Karanganyar.

Cerpen

Jalan Lain

Cerpen Indra Agusta

Dengan penuh sukacita aku melenggang menuju halaman. Mesin Vespa Sprint sudah dipanasi, setengah berlari aku segera naik dek depan meski kendara masih dijagrak dua. Tuas gas kuputar beberapa kali, raungan dan kepulan asap terasa meriah secerah hari.

Ayahku melenggang dengan kaos oblong dan celana pendek, tangan kirinya menenteng seperangkat alat pertukangan dan listrik dari dalam rumah lalu memasukkannya ke jok samping vespa.

Segeralah kami berangkat menuju gereja.

“Pegangan,” tutur ayahku.

Turut bersamaan dengan ucapan itu, kedua jemari kuletakkan di atas spedometer vespa, mengail-ngail apa yang bisa dijadikan pegangan. Perjalanan menuju gereja terasa menyenangkan, langit cerah meskipun pagi sudah mulai terasa gerah.

***

Ayahku seorang tukang kebun di sebuah SD Kristen di kota. Setiap hari ia sibuk di sekolah bekerja dan membersihkan apa saja. Tak hanya itu, ayah juga tukang kayu yang handal. Dengan tangannya yang piawai segala perkakas sekolah yang patah dan rusak bisa ia perbaiki.

Di rumah pun begitu, setiap kali pintu diketuk oleh tetangga, ayah selalu menerima keluhan dan kemudian disempatkan untuk ke rumah tetangga dan menyelesaikan masalah mereka. Memperbaiki apa saja. Talang bocor, jalur listrik mati, genting pecah, hingga membantu membenahi kandang ayam juga pernah dilakukan oleh ayahku.

Tidak seperti sekolah negeri, sekolah ayahku biasanya memang libur lebih dahulu jika menjelang natal. Seperti biasanya, hari libur pun tak mengurangi porsi ubêt-nya ayahku. Selain membantu ibuku membersihkan seluruh rumah, men-service kompor lalu mencat ulang ruangan, ayahku akan membuatkan pohon natal versi terbaiknya. Tiap tahun selalu berbeda. Terkadang pohon natal itu dibuat dari pohon utuh, lalu dari kardus, ada lagi dari botol plastik bekas, tahun ini ayahku membuatnya dengan ranting-ranting kering. Selalu ada kejutan setiap akhir tahun.

***

Kami sampai di jalan depan gereja, suara latihan paduan suara lantun terdengar. Lalu suara vespa seperti menyambar nada indah bertalu. Setelah bebek besi terhenti, aku berlari menuju pastoran, ayahku berjalan di belakang. Melihat kami datang, Pak pendeta menyambut, ketika berhadapan ia tersenyum lalu mengelus rambutku. Ayahku mempercepat langkahnya.

“Maaf Pak Pendeta perjalanan molor, tadi kami harus memutar jalan karena jembatan dusun kami rusak terkena banjir semalam.”

“Ah, tak masalah Pak Yosef, masih ada jalan yang lain menuju kemari, tho? Mari masuk dulu.”

Selepas banyak kelakar tentang kabar, pak pendeta kemudian mengajak kami ke ruangan utama gereja. Ruangan yang sebenarnya hanya disekat tripleks dengan ruang tamu pastoral tempat kami menyeduh teh buatan ibu pendeta.

Beberapa jemaat sudah di situ menghias pintu dan dinding dengan pita dan balon. Sebuah salib besar dari kayu jati menggantung persis di belakang mimbar, aku sangat kenal salib itu, salib yang dibuat juga oleh ayahku. Sebuah pohon natal kecil ditaruh di atas kursi berbahan besi supaya terlihat lebih menjulang tinggi terletak di samping kanan mimbar. Ruang tempat pak pendeta memberikan kotbah jadi lebih meriah.

“Begini Pak Yosef, saya ingin ada palungan kecil nanti ditaruh di bawah pohon natal itu, bisakah njenengan membuatnya, supaya mengingatkan kita pada kelahiran Sang Juru Selamat.”

“Tentu saja bisa Pak Pendeta, namun apakah Pak Pendeta punya kayu untuk bahan membuatnya?”

Pak pendeta hanya termenung cukup lama. Ia tampak kebingungan dan mulai menggaruk kepalanya.

“Atau apa saja, Pak. Ndak harus kayu.”

“Coba kau lihat di gudang saja, Pak Yosef.”

Pak pendeta kemudian mengajak ayahku ke belakang bangunan gereja, ke gudang pribadinya. Aku mengekor di belakang. Tempat yang dinamai gudang ini sebenarnya lebih mirip kandang domba karena hanya berwujud kotakan sederhana dari bambu lalu diberi atap sekenanya dari tripleks bekas. Di situ ayahku membolak-balik beberapa barang, kemudian menemukan keranjang sepeda yang sudah tak terpakai.

“Nah ini saja, Pak.”

Dengan sigap ayahku kembali ke Vespa, mengeluarkan peralatannya, memotong beberapa bagian keranjang bekas itu supaya lebih pendek dan menjadi mirip peti kecil. Lalu dengan agak malu meminta beberapa lembar kapas kecantikan milik ibu pendeta untuk ditempelkan pada peti tersebut. Ibu pendeta hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tak kurangnya akal ayahku. Keranjang sepeda bekas sekejap kemudian menjadi palungan putih bersih dan kosong. Setelah dihaturkan ke pak pendeta, lalu beliau sendiri yang meletakkan di bawah pohon natal. Tersenyum kembang bahagia pak pendeta.

“Selalu ada jalan lain kan, Pak Pendeta,” kelakar ayahku.

Menjelang tengah hari, ibu-ibu paduan suara tadi bersama ibu pendeta memasakkan mie instan untuk kami makan bersama. Sederhana namun sangat nikmat.

Seperti tidak sabar aku mandi pagi-pagi sekali, ayahku sudah menyemir sepatunya, sementara ibuku tak masak hari ini. Ia memilih membeli bubur di tetangga supaya segera bisa tepat waktu ke gereja. Ayahku menggunakan setelan jas terbaiknya, sedang ibu mengenakan  dres berwarna biru.

Setelah sarapan, dan segala sesuatunya siap, ayahku memimpin doa jelang berangkat. Vespa Sprint itu dipanasi lagi. Setengah berlari aku segera naik dek depan meski kendara masih dijagrak dua. Tuas gas kuputar beberapa kali, raungan dan kepulan asap terasa meriah secerah hari.

Setelah penyalaan lilin dibarengi dengan Malam Kudus, Pak pendeta memulai kotbah Natalnya. 

“Mari kita buka Alkitab kita, Matius 2;

Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.

Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.”

Demikianlah, ayahku hanya tersenyum sembari manggut-manggut melirikkan matanya ke arah palungan.

Selalu ada jalan lain.**

Selamat Natal.

Sragen, 24 Desember 2022.


Indra Agusta, tinggal di Sragen, alumni kelas kepenulisan Cerpen KOMPAS (2020), dan kelas resensi KOMPAS (2021). Novel pertama Padma Jalma (Rusamenjana, 2022). Bergiat aktif di komunitas pencinta Jawa Kuna Sraddhasala dan Maiyah Suluk Surakartan. Bisa dihubungi di panawijen@gmail

Cerpen

Todo dan Lak Wahar

Cerpen Erwin Setia

Todo adalah lelaki bernasib mujur sampai ia bertemu lelaki bercodet sepanjang telunjuk di dahi kiri pada suatu siang yang sangat terik. Saking panasnya, ia merasa jarak pemisah antara kepalanya dan matahari hanyalah selembar plastik. Todo sedang berjalan di emperan terminal dengan ransel padat di punggung. Ia berjalan setenang orang saleh sampai Lak Wahar, lelaki bercodet itu menjambret ponselnya dan berlari secepat rusa.

Lelaki sialan itu sudah berbelok ke suatu gang ketika Todo baru sadar akan situasi yang terjadi. Ia berteriak, terengah-engah menyebut kata ‘maling’. Puluhan kali ia meneriakkan kosakata itu, namun tak seorang pun beranjak dan sekadar bertanya, “Pergi ke mana malingnya?” Tidak ada. Orang-orang yang tengah makan siang dan minum kopi di warung bergeming. Begitu pula para pengguna jalan, sopir angkot, tukang ojek, pedagang asongan, pemarkir liar, seorang petugas lalu lintas di kejauhan—mereka tetap terpaku pada pekerjaan masing-masing.

Todo mengutuk orang-orang yang hanya menonton nasib buruknya. Setelah kata ‘maling’ tak digubris siapa-siapa, dengan volume sedikit lebih keras, ia melemparkan makian sambil mengedarkan pandangan kepada muka-muka yang bisa dijangkaunya.

“Dasar pecundang kalian semua! Goblok! Ada orang kesusahan cuma planga-plongo. Pecundang!”

Di satu deretan kursi, sekelompok tukang ojek memelototi Todo seraya menggeleng-gelengkan kepala.

“Orang sinting!” umpat seorang tukang ojek berjaket hitam yang mengenakan kaos Juventus.

“Dia pikir dia saja yang pernah kemalingan. Kayak baru kenal dunia saja,” ujar seorang yang lain setengah mencibir.

Sebetulnya Todo tinggal menumpangi satu angkutan lagi ditambah berjalan kaki kira-kira lima menit sebelum tiba di rumahnya. Istri dan anaknya yang genap berumur setahun sebelas hari lalu sudah menunggunya. “Yah, kabari ya kalau sudah naik angkot.” Demikian pesan istrinya.

Angkot yang menuju ke arah rumahnya tak terhitung melintas di hadapannya. Ia bisa segera menaikinya kalau mau. Namun, bara dalam dada Todo belum padam. Ia masih belum rela ponsel kesayangannya lenyap begitu saja. Ia ingin mengejar penjambret kurang ajar itu sampai dapat dan membayangkan akan menghajar mukanya sampai sebonyok bangkai tikus terlindas ban truk.

Todo sekilas melihat wajah Lak Wahar. Sekilas artinya sebentar saja dan tidak banyak yang dapat ia ingat. Yang paling diingatnya adalah codet seukuran telunjuk di jidat orang itu. Ingatan tentang codet membuat Todo terkesiap. Ia berusaha menggali ingatan lain perihal penjambret tadi, tapi tak kunjung mendapat detil yang lebih lengkap. Setelah mengeratkan ransel di punggungnya, Todo berlari, menuju gang tempat si penjambret berbelok. Dadanya berdebar-debar.

***

Sepuluh tahun lalu Todo adalah seorang anak SMA yang lurus belaka. Ia tak punya catatan buruk selama di sekolah dan nilai rapornya juga melulu menerbitkan senyum bangga di wajah kedua orang tuanya. Namun, sebagaimana lazimnya remaja puber, hatinya pernah disusupi gairah cinta. Gairah itulah yang kemudian membuatnya berani menerima tantangan Harwo, murid kelas lain yang sesumbar mengaku sebagai satu-satunya orang yang berhak menjadi kekasih Melati. “Hadapi gua kalau ada yang coba-coba berani mendekati Melati.”

Harwo memang seorang murid yang berada di kutub berseberangan dengan Todo. Kalau Todo tergolong dalam murid baik-baik, tidak demikian Harwo. Harwo adalah kepala geng kelompok murid nakal yang hobi tawuran dan mengganggu anak-anak lemah. Sementara peringkat Todo di kelas selalu berada di puncak, Harwo adalah antitesanya, kemampuan akademiknya terbenam sedalam lumpur tempat anak-anak pada masa itu bermain kala musim hujan.

Maka tibalah hari itu, hanya beberapa pekan sebelum ujian akhir sekolah diselenggarakan. Disaksikan beberapa murid lain, Todo dan Harwo berdiri berhadap-hadapan di lapangan belakang sekolah. Lima puluh menit sebelumnya bel pulang berbunyi. Lingkungan sekolah sudah melompong. Tinggal ada petugas kebersihan dan satpam yang tak begitu memedulikan apa-apa yang terjadi di luar jam sekolah.

Keduanya saling menatap dengan pandangan beringas seolah sepasang macan yang hendak mencabik diri masing-masing. Postur tubuh mereka terbilang setara. Tidak ada yang kelewat lebih tinggi atau lebih gemuk. Menit-menit awal mereka berdiam-diaman. Tidak ada yang terburu-buru menyerang. Sorak-sorai kian menggeru di sekeliling mereka. Dada yang panas pun kian berapi-api. Akhirnya, setelah sekira tujuh menit kesunyian, Todo dan Harwo sama-sama bergerak maju, melayangkan pukulan, dan… Bam! Mereka terkena pukulan masing-masing. Namun, lantaran kekuatan pukulan yang lebih baik dan jam terbang perkelahian lebih banyak, pukulan Harwolah yang mampu menjatuhkan lawan tanding, bahkan Todo sampai tersungkur tak bangun-bangun beberapa lama di atas tanah. Sedangkan pukulan Todo yang tipis saja mengenai pipi Harwo, hanya membikin pipi Harwo agak perih. Tapi, bagi Harwo, itu bukanlah apa-apa.

Berhasil menjatuhkan Todo, Harwo menepuk dada bangga. Sebelum pertarungan, keduanya bersepakat, siapa yang jatuh duluan maka ialah yang kalah dan harus menjauh dari Melati.

Todo yang masih terbujur kesakitan, memandangi lekat-lekat sebuah benda keras dan panjang yang tergeletak sejangkauan tangan darinya. Pelan-pelan, ia mengangsurkan tangannya menuju benda itu. Saat Harwo masih berlari-lari kecil penuh jemawa mengelilingi lapangan, Todo sudah menggenggam benda itu. Ia bangkit cepat, menyabitkan kawat besi tersebut kepada Harwo yang tak pernah menduga bakal mendapat serangan dadakan. Kawat itu menggores dahi kiri Harwo. Menyisakan rasa perih yang sangat. Sebagai balasan, Harwo mendorong tubuh Todo, memukul dan menendanginya berkali-kali.

Todo pingsan. Satpam sekolah melerai keributan itu. Beberapa minggu setelahnya, ujian akhir sekolah diadakan. Todo lulus dengan nilai sangat memuaskan. Sedangkan Harwo sudah lebih dulu dikeluarkan dari sekolah gara-gara membikin pingsan Todo. Sejak itu, ia tak lagi bersekolah, dan sejak itu pula orang-orang menjauhinya—termasuk Melati, perempuan yang begitu dicintainya.

***

Todo akhirnya menemukan penjambret itu. Lelaki bercodet itu tengah menyuapi seorang anak kecil yang tampak lungkrah ketika Todo memapasinya di suatu rumah papan yang berada di pojok gang.

“Hei, kau!” seru Todo.

Lelaki bercodet menoleh. Seorang perempuan muda—istri lelaki itu sekaligus ibu dari bocah yang disuapinya—mengambil sang bocah dari si lelaki.

“Hapemu sudah kujual,” kata lelaki bercodet. “Aku terpaksa harus menjambret barangmu itu untuk membeli makanan dan obat buat anakku.”

Suara lelaki itu lemah. Tak terlihat seperti orang yang belum lama dengan gagah dan nekat melakonkan penjambretan. Istrinya mendekap anaknya yang bermuka pucat lebih erat.

“Namaku Lak Wahar. Kau Todo, kan?”

Kini, Todo yakin sudah dengan apa-apa yang diduganya. Lelaki itu betul-betul Harwo, yang sudah bermalih nama menjadi Lak Wahar. Meski namanya sudah berubah, namun Todo masih bisa mengenalinya. Terutama karena codet di dahi kirinya itu. Codet yang dibuatnya sebagai sejarah luka di tubuh Harwo bertahun-tahun lalu.

Sejak lama Todo ingin menebus dosanya atas Harwo. Bagaimanapun, dirinyalah yang menyebabkan Harwo mesti dikeluarkan dari sekolah sehingga mengalami rentetan kemalangan sampai sekarang. Paling tidak itulah yang dilihatnya. Harwo menempati rumah yang jauh dari kata layak. Rupa istrinya polos tak disepuh riasan, juga anaknya yang tampak penyakitan.

Todo pikir, merelakan ponsel miliknya bisa menjadi tebusan yang sepadan atas dosa masa silamnya.

“Tak apa. hapeku itu untukmu saja. Anggap saja itu permintaan maafku karena kesalahan yang dulu pernah kuperbuat kepadamu.”

Pandangan Lak Wahar menyelidik. Lalu, ia menunduk dan berubah mengiba. Lelaki bertubuh liat dengan bentuk rahang yang keras itu tiba-tiba menangis sesenggukan. Refleks, Todo mendekatinya dan berusaha menenangkannya. “Tak apa. Tak masalah. Kau lebih membutuhkan itu daripada aku.”

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud mencuri. Aku sama sekali tidak mau melakukan perbuatan biadab itu kalau saja bukan karena terpaksa. Lihat, anakku ini, ia tidak makan berhari-hari.”

Lak Wahar semakin mengiba. Todo mengusap-usap punggung lelaki yang tengah menunduk itu. Mata Lak Wahar menerka bagian belakang tubuh Todo. Sesaat saja.

“Ya sudah. Gunakanlah uang hasil penjualan hapeku itu untuk keperluanmu dan anak-istrimu. Aku ikhlas.”

“Terima kasih,” ujar Lak Wahar.

Tak berapa lama, Todo pamit undur diri. Ia mesti segera menuju rumah. Melati dan Mawar—istri dan putri semata wayangnya—pasti sudah tak sabaran menantikan kedatangannya. Ia sengaja tak mau lama bercakap-cakap dengan Lak Wahar. Ia merasa tidak nyaman sejak menginjakan kaki di depan rumah papan itu. Ia ingin lekas pulang, menciumi istri dan anaknya, dan memberikan mereka oleh-oleh yang telah dibelinya di kota seberang, tempat ia menghabiskan beberapa waktu belakangan untuk bekerja.

Todo menghentikan sebuah angkot. Angkot yang sepi. Hanya ada ia seorang diri. Dua menit setelah angkot berjalan, Todo memeriksa saku celananya. Kosong. Dompetnya hilang! Dompet berisi uang yang telah dikumpulkannya selama bekerja di luar kota. Dari jendela angkot, ia memandang panik ke arah luar. Di sana, di suatu trotoar, dua orang sedang berkejar-kejaran. Ia tak mengenal siapa lelaki yang berada di posisi belakang. Tapi ia tahu betul, orang yang berada di depan sambil menggondol sepucuk tas dan sedang dikejar-kejar itu tak lain adalah Harwo—yang sudah berganti nama jadi Lak Wahar!***

Tambun Selatan, 11 Juli-30 November 2019


Erwin Setia lahir tahun  1998. Penulis lepas. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Puisi

Puisi Deny Firmansyah

Nelayan Kata

Biar saja hujan menggenang

menjadi sungai

di belantara sajakmu

yang banal

agar ikan-ikan yang berenang

di kamusmu tahu bahwa hujan

masih setia

mengunjungi mereka

Biar saja biduk air itu

Membuat kau

Jadi satu-satunya nelayan

Yang menjaring sajak

Biar rindu menggenang

Bagai hujan yang setia

Mengunjungi kamus

Dan ikan-ikan


Pranajiwa

Mata hati yang bisu

Lidah yang kelu

Belulang

Yang menyimpan

rahasia masa depan

lampu jalanan yang redup

dan langit yang diterangi bintang-bintang

lima jam perjalanan

atau beribu menit lagi

menuju putaran bumi

Indera mencium

Dan hati merasa

Tetapi tubuh hanya pasrah

Terhanyut

Negeri yang menyediakan sembilu

Dan belati, bedil dan peluru

Kapan waktu saling membidik

Dan menusuk

Bola mata melintas kota kecil

Makin rabun oleh uap dan embun

Menuju tepi-tepi yang sama

Rumah-rumah hancur

Dan dada yang berdebar

Yang ringkih

Mengepakkan sayapnya

Mengatasi nyeri

Akan maut


Tak Terasa

Tak terasa sunyi terbelah dua

dan cintamu masih awet saja

Kumismu tak terasa beranjak dewasa

Makin jantan dan memesona

Tak terasa berapa dekade

Merdeka telah jadi penjara

Dan kanakmu yang lucu

Sudah tumbuh jua taringnya

Mau ngembara dan merdeka

Dari kungkungan dan pelukan waktu

Mau berpotret diri di sini

Untuk luka yang tak terasa

Dan tampang waktu

yang makin merana


Cinta Si Alex

Cuma sepotong kampus

Yang mesti dilipat

Dan sepotong sastra

Yang mesti digunting

Untuk isyarat cinta yang cuma angin lalu

Si Alex pria bermasalah itu

Belum siap menerima

bayangan di kamar mandi

dan hologram

di kejauhan pantai

Alex dilanda sepotong cinta

yang mosaiknya

ibarat badai sepi

tak berkesudahan


Filter Ketakutan

Aku pasang filter ketakutan

Supaya bisa sikat gigi dengan tenang

Filter etika untuk letupan tak terduga

Daun sirih dalam rangka kumur-kumur

Filter kejujuran untuk aku

Yang semakin tolol

Filter ketololan untuk bisa dikenang

Sebagai penampil berbakat

Kapal sandar tanpa filter untuk

Merompak dan menyisakan

Kuburan pembajak

Filter kenaifan agar tidak dituduh

Berpolitik hingga aku

Hancur menjadi pecahan filter

Yang bukan siapa-siapa lagi


Luka Kita

Semoga waktu sudi

Meminjamkan dirinya

untuk takdir yang menunggu


Bola Mata Adam

Pada adam ada satu kata atau satu nama

Yang masih rahasia

Testimoni: jangan beri dia bola matamu

Bola matanya bola mata Adam

Semua pesona ada pada Adam

Ia kesayangan Tuhan

Dari-Nya Adam belajar nama-nama

Dalam Adam ada Hawa

Nama baru bagi Adam

Testimoni: jangan sodorkan padanya namamu

Di lubuk hati Adam tersimpan

Segala nama yang dirahasiakan

Jangan kagumi Adam

Nanti ada yang cemburu

Jangan jebak Adam

Nanti lahir kisah-kisah baru

Pada Adam ada satu kata atau satu nama

Yang hingga kini masih rahasia

Di bola matamu.


Deny Firmansyah, S.S, bekerja sebagai staf litbang lembaga pendidikan di Bekasi.

Cerpen

Yang Membusuk di Dada Badri

Cerpen Indarka P.P.

Moncong perak perahu sandek telah memagut bibir pantai pulau Kapuang, tempat di mana Badri menjalani nasib hidupnya. Sore ini arah angin memang sedang tidak bersahabat. Badri tahu gelagat alam demikian pertanda badai kemungkinan datang. Belumlah kepisnya terisi penuh, Badri terpaksa puas dengan enam ekor ikan sunu. Hasil yang tak sebanding daripada biaya perahu sandek yang ia sewa.

“Lupa mi jadi nelayan?” ketus Haji Jalili, memamer gigi taring emas sambil menulis nama Badri di buku catatan utang.

“Biasa tidak cepat ji cuaca berubah, Pak Haji. Saya pikir bisa maki melaut sampai malam.”

“Banyak sekali alasan ta’,” tanggap Haji Jalili, “Tunggakan ta’ tujuh ratus lima puluh ribu, nah. Aih, coba ada anak, Badri, bisa nanti kita wariskan ini,” tandasnya seraya menguar tawa.

Badri cuma tertunduk dan mengangguk. Lepas itu ia bertolak dari pangkalan perahu untuk pulang ke rumahnya di kampung Ujung Bulo. Petang menemani perjalanan yang bimbang. Dalam ceruk dada paling sunyi, gelombang gahar tiba-tiba muncul dan berdeburan dari ujung kaki hingga pusar kepala. Setengah lusin ikan sunu jelas tidak membuat Badri yakin bisa menebus riwayat utang di warung-warung tetangga. Artinya, lagi-lagi ia juga harus bersiap menahan bising amuk dari Muna.

Sejak pagi memang istrinya itu sudah berang setengah mati. Persediaan beras tinggal dua cangkir, sementara utang sudah bejibun. Suasana pagi itu tampak bancuh, seperti api obor yang melahapi dinding kayu rumah panggung mereka. Badri yang disergap gagu enggan menanggapi. Lantaran tak mau sia-sia menjadi abu, ia gegas keluar menuju beranda. Mula-mula ia mengambil potongan galah di sudut beranda sisi barat. Kemudian mengambil kepis dan badik yang menggantung di sisi timur. Kepis dikaitkannya pada ujung galah. Badik dililitkan memakai tali melingkari pinggang. Badri pun berjalan menuruni empat baris anak tangga. Sementara dari dalam dapur, mulut Muna terus-menerus memuntah kecam pada Badri, lelaki yang membuat dirinya pandai berpura-pura hidup tabah selama ini.

Persoalan-persoalan yang datang barang tentu tiada jauh dari urusan perut belaka. Hari-hari mereka bagai api dalam sekam. Prahara bisa mengemuka kapan saja. Oleh sebab itu, satu-satunya pengharapan Muna akan seorang anak sungguh menjadi pelita dalam kelam, yang tiap kali mampu mengendurkan amarahnya. Ia berpikir, kehadiran buah hati setidaknya mampu menepis letih yang tiada juga berpaling selama delapan tahun belakangan.

Sayang, harapan itu kini tinggallah omong kosong. Rupanya ada masalah pada kejantanan Badri. Itulah sebabnya sampai sekarang Muna tak kunjung mengandung, sebagaimana Badri yang tak juga kunjung berhasil menimang darah dagingnya. Begitu kira-kira kata seorang tabib yang pernah didatangi Badri dan Muna, beberapa waktu silam.

Gejolak-gejolak keji senantiasa berputar di kepala Badri sejauh kaki melewati satu-satunya jalur kampung Ujung Bulo. Menerobos remang malam, menyusuri jalan setapak pejal, menyapu kesiur angin yang membikin beku ikan-ikan di kepisnya. Di tengah langkah yang mulai gontai, tetiba mata Badri nyalang melihat sesuatu tergeletak sekitar delapan langkah dari tempat ia berdiri. Dalam denyut nadi terhitung, kepala Badri bergoyang-goyang menajamkan pandang. Seperti kerikil lolos dari gagang ketapel, Badri berlari ke arah di mana matanya tertuju. Begitu tahu benda apa yang ditemukannya, Badri lekas-lekas meraihnya sambil bersorai, “Sekomandi! Sekomandi!”

Ya, sekomandi, sebuah kain rajut yang konon bernilai tinggi. Dalam cerita-cerita tetua pulau Kapuang, sekomandi disebut-sebut cuma bisa dimiliki orang yang berderajat tingkat wahid. Itulah mengapa air muka Badri tampak takjub begitu jemarinya menyentuh selembar kain rajut itu. Lebih-lebih saat membayangkan betapa banyak duit yang bakal didapat apabila ia berhasil menjualnya. Selain itu, sekomandi diyakini pula sebagai simbol kesejahteraan. Barang siapa menyimpan baik-baik kain sekomandi, maka hidupnya akan bertabur berkah dan kecukupan. Namun, bagi Badri, pengertian yang kedua tak perlu diambil peduli. Ia lebih percaya kalau kesejahteraan justru akan datang dengan cara menjual sekomandi itu. Bukan sebaliknya.

Pusaran di kepala Badri pun lekas berganti. Ia merasa angan-angan untuk hidup sejahtera berhilir terbayang kian nyata. Karena enggan mematung lebih lama, Badri giat menggulung selembar sekomandi itu, lalu memasukkannya ke dalam kepis; menyelimuti ikan-ikan kedinginan. Lagipula waktu juga semakin merengkuh gelap. Angin menerjang pepohonan dengan tidak beraturan. Sekali dua kali air langit bahkan sudah melandai di kening Badri, bercampur dengan bulir-bulir keringatnya.

***

Muna mengguncang-guncangkan tubuh suaminya yang terlelap di atas dipan. Badri yang terkesiap mengacungkan badik di tangan kanannnya. Mata Badri merah mendelik penuh tanya ada apa?

“Di mana ki dapat ini?” suara Muna gemetar, iasorong sekomandi ke hadapan Badri.

“Kenapa kita ini? Bikin jantungan saja!” sergah Badri, berupaya memulangkan kesadaran, seraya meletakkan badiknya kembali.

“Dapat di mana ki ini sekomandi, heh!?” suara Muna terdengar lebih lugas.

“Di jalan.” Begitu kesadaran Badri kembali, ia mulai bercerita. Muna masih tugur berdiri, tiada berpaling sekata pun. Tapi begitu tiba pada bagian di mana Badri berniat menjual sekomandi itu, Muna buru-buru memotong.

“Gengge! Orang miskin punya sekomandi satu ji kemungkinannya!” Mata Muna melotot. Urat keningnya menjalar-jalar.

“Maksudnya mencuri? Jangan ki sembarang tuduh, Muna!”

“Cukup mi hidup sulit. Jangan mi ki bikin saya malu karena dibilang istri pencuri!”

Maka Badri bersumpah kalau sekomandi itu bukanlah hasil mencuri. Lantas Badri meyakinkan Muna kalau apa-apa yang dikhawatirkannya tidak akan terjadi. Kemudian tangan Badri merambati pundak Muna, merendahkan tubuh tegang itu untuk duduk di sebelahnya.

“Sekomandi ini, Muna,” kata Badri seraya mengambil alih kain dari tangan istrinya, “Akan na rubah hidup ta’.”

“Tidak i,” Muna menggeleng. Matanya berbalik menyoroti Badri dalam-dalam. “Anak ji ini yang bisa membuat semuanya lebih baik.”

Setitik air mata jatuh ke lengan legam Badri yang bersilang di pangkuan Muna. Mendadak beku mulut lelaki itu mendengar ucapan istrinya. Seingatnya, baru kali ini dadanya—yang ia tahbiskan sendiri setegar karang—runtuh oleh ungkapan yang dirapal serupa doa dari suara magis Muna, kawan hidupnya dalam penantian-penantian panjang. Satu windu bukan waktu sebentar bagi sepasang suami-istri itu menantikan anak. Juga bukan waktu yang singkat dalam menanggung penghakiman orang-orang yang kerap mengatai mereka.

Usai sekian menit bergeming, agaknya suasana berangsur berubah. Tampak Badri dan Muna sama-sama mulai beralih pikiran. Mereka merebahkan diri di atas dipan. Sekomandi pun lolos dari tangan Badri. Jari-jarinya yang terampil itu mengawalinya dengan mengurai kancing-kancing di pakaian Muna. Satu… tiga… lima… dan… belum tiba di kancing terakhir, Muna malah mengambil tindakan lain. Didorongnya dada Badri bangkit dari atas tubuhnya. Sambil menyelami alam pikir Badri lewat tatapan mata yang muskil dijelaskan dalam cerita ini, Muna menggulingkan tubuh satu kali, membalikkan ketakberdayaan. Bibir tipis perempuan itu tertarik ke dalam. Seulas senyum tertangkap mata Badri yang berada persis di bawah wajahnya. Perlahan Muna mendekatkan bibir ke daun telinga suaminya. Lembut sutera ia berbisik, “Pejamkan mata ta’.”

Mudah bagi Badri menuruti perintah banal Muna. Ia memejam dengan sungguh-sungguh, menanti kejutan di pagi yang ranum itu. Tangan kiri Muna sedikit demi sedikit merambat ke sekujur kening, kuping, bibir, leher, hingga dada Badri. Di waktu yang sama, tangan kanan Muna meraih badik yang tersungkur di sudut dipan. Sementara pejaman mata Badri masih rapat dan khusyuk menikmati penantian. Senyum Badri merekah tiap kali degup jantungnya dibuat laju lantaran sentuhan lembut tangan Muna.

Di atas tubuh Badri, Muna menatap masa depan pada selembar sekomandi yang sudah terjuntai ke tanah. Dan dalam posisi serupa, Muna juga melihat kejujuran pada badik yang tergenggam di tangan kanannya. Tak lama usai mengelus bibir sang suami, Muna mulai mengakhiri penantian-penantiannya yang panjang.

Dan waktu berpelesat sudah. Kini, satu nyawa telanjur tercerai dari raga salah seorang dari mereka. Karenanya, sejak pagi didewasakan siang dan menjadi celaka, siang dimatangkan malam dan berubah petaka, yang membusuk hanyalah burai-burai sekomandi, juga sesal di dada Badri. ***

Keterangan:

  • Kita: anda, kamu
  • Ta’: kepunyaanmu (uang ta’ = uangmu)
  • Ji, mi, ki, pi, di, na, nah, maki, dst: klitika dalam bahasa orang-orang Sulawesi
  • Gengge: umpatan

Indarka P.P, lahir di Wonogiri (Jawa Tengah). Saat ini bermukim di Mamuju (Sulbar). Menulis buku “Penumpasan” (Sirus Media, 2021), dan bergiat di Komunitas Kamar Kata.

Cerpen

Suro Gentho

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Setelah lima belas menit berlari tanpa henti, bocah itu pun terkapar di halaman rumah seorang warga. Mulutnya megap-megap seolah-olah sedang dicekik lehernya. Pemilik rumah lalu buru-buru memberinya segelas air putih. Tak seberapa lama berbagai macam racauan seperti orang gila berhamburan dari mulut si bocah. Meskipun ocehannya membingungkan, orang-orang yang sedang berkerumun di tempat itu bisa memahaminya: Suro Gentho hidup lagi.

Warga Awon-Awon pun geger. Para pengecut buru-buru masuk rumah. Menutup pintu rapat-rapat. Menyembunyikan harta bendanya di dasar sumur. Mengungsikan istri dan anak perempuannya ke desa tetangga. Pada saat matinya, Suro Gentho adalah perampok. Sudah pasti saat ini masih suka merampok juga. Begitu barangkali yang ada dalam benak mereka.

Lima orang yang merasa punya nyali segede gajah bengkak segera ke kuburan untuk membuktikan kabar tersebut. Dari balik pagar kompleks pemakaman yang hampir rubuh itu, mereka memusatkan pandangan ke dalam makam. Dan di pojokan sana, seperti iblis baru saja bangkit dari kematiannya, Suro Gentho tampakberdiri termangu-mangu di pinggir lubang kuburannya.

Tubuh Suro Gentho terlihat kurus kering mirip jerangkong. Sepasang matanya sangat cekung bagaikan cerukan mangkuk bakso sehingga sebutir telor bisa diletakkan di dalamnya. Pakaian yang biasa dikenakan para pejuang kemerdekaan itu masih melekat pada tubuhnya. Bolong-bolong bekas tembakan peluru.

Terdengar Suro Gentho menggerundel: tentara telah bertindak biadab. Memperlakukannya seperti binatang. Menggantung mayatnya seperti jemuran basah.

Dari jarak dua puluh meter, lima orang sok pemberani tersebut terus gemetaran. Terduduk di tanah tanpa sadarnya. Pemandangan mengerikan itu ternyata lebih mengerikan daripada bayangan mereka.

Sementara itu, Suro Gentho masih tetap belum bisa memahami perjalanan hidupnya. Ilmu kesaktian yang dibangga-banggakannya itu ternyata justru membuat hidup dan matinya selalu dalam keadaan koma. Sambil menepis sisa tanah kuburan pada pakaiannya, Suro Gentho berjalan gontai menuju luar makam, lalu berhenti tepat di depan pintu gerbang. Ditolehnya  lima orang berwajah seputih kapas yang sedang jongkok berhimpit-himpitan di samping pohon teh-tehan itu.

“Di mana ini? Daerah mana?” tanya Suro.

Suara tersebut pelan saja, tapi tetap saja telah mengguncang dada mereka yang mendengarnya. Salah satu dari mereka yang merasakan kakinya lumpuh tiba-tiba, tapi belum sampai terkencing-kencing, buru-buru menunjuk papan nama di atas pintu gerbang, tanpa berani mengangkat muka. Melirik ke arah si penanya pun tidak.

Suro Gentho menoleh ke arah yang ditunjuk. Sesaat kemudian dia terlihat menyeringai. Memperlihatkan giginya yang masih utuh dan cokelat kehitam-hitaman. Papan kayu itu bertuliskan Sasono Layu, Desa Awon-Awon, Kecamatan Colomadu. Ada kenangan indah di tempat ini dan semoga anak laki-lakinya itu belum mati.

“Tahun berapa sekarang?” tanyanya lagi.

Mula-mula lima orang yang sok berani tersebut tak segera menjawab. Namun, setelah menyadari si penanya adalah orang yang sudah lama mati dan sangat pantas menanyakannya, seseorang segera menyebutkan angka tahun ini.

Sesaat kemudian bibir Suro Gentho berkomat-kamit, mengikuti gerakan jemarinya, menghitung jumlah tahun yang telah dia habiskan di dalam kuburnya. Segera saja mukanya yang keriput itu berkerut. Umurnya sudah 108 tahun. Semua perawan pasti menolak dikawininya.

“Tahu rumahnya Warto? Warto Digdo? Masih hidupkah dia?” tanya Suro Gentho lagi.

Kelima orang tersebut serentak mengangguk.

“Tahu!”

Lalu menggeleng. Juga berbarengan.

“Sudah meninggal.”

***

Hampir semua warga Desa Awon-Awon yang berusia di atas lima puluh tahun kenal nama Suro Gentho. Bahkan pada era 60-an, kekejaman Suro Gentho dan gerombolannya disebut-sebut melampaui kebengisan tentara Jepang.

Ketika belum ada embel-embel genthonya, Suro adalah pejuang. Selain rajin mengganggu pasukan Belanda yang lagi berpatroli di pinggiran Boyolali dengan lemparan bom kotoran kuda dan sambitan ketapel,  Suro dan lima temannya juga pernah hendak menyerbu tangsi Belanda di Desa Bangak, Banyudono. Namun, mereka dipergoki tentara Belanda yang lagi patroli naik jip bersenjatakan stengun dan siap ditarik pelatuknya. Satu pejuang dihabisi penembak jitu. Peluru dari jarak dua ratus meter itu menembus belakang kepalanya. Sementara tiga lainnya kena berondongan timah panas sebelum sempat bersembunyi di balik batu. Peristiwa penyerbuan yang gagal itu menyisakan Suro seorang.

Suro juga pernah bahu-membahu dengan Tentara Pelajar dan pasukan Slamet Riyadi saat menggempur Belanda yang sedang berlindung di Benteng Vastenburg, Gladak, Solo. Pertempuran yang berlangsung empat hari penuh itu memakan korban banyak sekali. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan yang kini dinamai Jalan Slamet Riyadi itu. Namun, Slamet Riyadi yang hilir-mudik sambil memberikan komando justru tidak terluka sedikit pun. Bahkan, tak ada sehelai rambut pun yang kena serempet peluru tentara Belanda. Konon, Slamet Riyadi punya ilmu lembu sekilan. Semua peluru yang mengarah kepadanya tiba-tiba berbelok arahnya sejengkal sebelum mengenai tubuh.

Setelah Belanda benar-benar minggatdari Indonesia, Suro yang sangat ingin menjadi tentara resmi dan digaji negara itu ikut mendaftar sebagai anggota TNI, tapi ditolak. Selain umurnya dianggap terlalu tua, tentara tidak butuh orang yang bertabiat garong seperti dirinya. Tentara yang berisikan orang-orang yang maunya bertindak seenak perutnya dan tak patuh pada pimpinan seperti itu hanya akan mengacaukan seluruh rencana.

Suro mengajukan protes kepada panitia seleksi, tapi tak ada yang menggubris. Bahkan, Suro diusir dan diancam akan ditangkap. Dengan menahan perasaan dongkol yang luar biasa, Suro dan orang-orang yang bernasib sama dengannya kembali ke hutan. Meneruskan perjuangan.

Pasukan liar pimpinan Suro yang selanjutnya disebut gerombolan oleh polisi dan tentara itu tak lagi menyerang para bule atau prajurit kate, melainkan merampok orang-orang kaya, terutama para saudagar, dan tak peduli warna kulit atau tinggi badannya. Menurut Suro, tabiat para pedagang itu tak ubahnya penjajah. Tega berlaku aniaya dan mengeruk harta sebanyak-banyaknya demi kepentingan sendiri. Tak peduli orang lain makan bonggol pepaya agar tidak mati kelaparan.

Setelah beberapa kali hampir kehilangan nyawa dalam duel melawan  para jawara pengawal orang-orang kaya, juga polisi dan tentara yang terus mengubernya, suatu hari Suro teringat akan Slamet Riyadi. Walau tak berminat namanya kelak akan diprasastikan sebagai nama jalan raya di seantero Nusantara, Suro ingin mempunyai kesaktian yang sama. Syukur-syukur melampaui. Suro pun pamit kepada gerombolannya. Mengajukan cuti dari merampok demi mencari guru sakti.

Entah siapa pemberi informasinya, Suro pergi Gunung Lawu dan bertapa di puncaknya sebulan lamanya. Merasa belum mendapat kesaktian seperti keinginannya, Suro melanjutkan bersemedi di Gunung Merapi selama tujuh malam tujuh hari. Tirakat kelas berat itu dia jalani tanpa busana, makan, dan minum kecuali meneguk air liurnya sendiri. Belum juga puas akan ilmu yang sudah dia dapatkan, Suro pergi ke Parang Kusuma untuk  mengabdi kepada Nyi Roro Kidul selama tiga bulan lamanya.

Walau tubuhnya yang dulu gemuk itu telah menjadi kurus kering seperti sebatang ranting, Suro pulang ke gerombolannya sambil menepuk dada: mengklaim dirinya tak bisa mati. Sejak itu pula Gerakan Rakyat Kelaparan (Grayak) yang biasa beroperasi di wilayah MMC, Merapi-Merbabu Complex, itu bagai mendapat tambahan segudang amunisi.

Gerombolan Suro lalu merampok di mana-mana dan siapa saja. Tak peduli  cuaca, tempat, dan waktu. Bahkan, keberadaan polisi atau tentara sekali pun. Suro yang kemudian mendapat gelar gentho itu kadang-kadang justru sengaja ingin mempermalukan para petugas negara itu dengan cara mendatangi rumahnya, merampok harta bendanya, dan tidak lari ketika mereka menembakkan senjata.

Begitulah, walaupun kepala Suro Gentho pecah, dadanya ditembus peluru, dadanya berlubang segede gelindingan bakso, darahnya tumpah melimpah-limpah, begitu tubuhnya menyentuh tanah, Suro Gentho hidup lagi. Tanpa menyisakan bekas luka sama sekali. Begitu yang terjadi setiap kali.

Makin hari kelakuan Suro Gentho makin gila. Dia menentang dan menantang siapa saja untuk melawannya. Lupa di atas langit masih ada langit. Begitu juga di atasnya lagi.  Orang sakti dan berilmu tinggi–sebut saja namanya Kumbang–yang oleh para tetangganya hanya dikenal sebagai marbut musala merasa terusik hatinya. Kumbang pun mendatangi markas tentara, membocorkan rahasia kelemahan ilmu pancasona milik Suro Gentho.

Pagi harinya lima belas tentara menguber Suro Gentho ke lereng Gunung Merbabu. Selain senjata, mereka juga membawa jaring yang biasa dipakai untuk memerangkap celeng. Kalau biasanya nyali mereka menciut seperti kelaminnya saat  kedinginan, kali itu mereka berangkat dengan langkah gagah. Apalagi sang komandan sudah mewanti-wanti: kalau sampai gagal lagi menangkap Suro Gentho, bakal dikurung di ruang isolasi ditemani ular berbisa sebanyak lima belas biji.

Mendapat laporan dari mata-mata yang bertugas di pinggir Hutan Gondho Mayit bahwa tentara bersenjata lengkap sedang menuju markas Grayak, alih-alih kabur, Suro  Gentho justru menyongsongnya seorang diri. Disuruhnya anak buahnya sembunyi. Boleh juga lari dan tidak akan dianggap sebagai pelaku disersi. Namun, anak buah Suro Gentho yang pernah berkali-kali menyaksikan kesaktian pimpinan mereka itu tak mau memilih keduanya. Mereka justru ingin menonton. Apalagi sudah lama sekali mereka tidak mendapatkan hiburan. Wayang kulit terakhir yang mereka tonton sudah dua tahun lalu. 

Sesuai petunjuk dari Kumbang, kali ini para tentara tidak langsung menembak Suro Gentho yang terus mengayun-ayunkan goloknya. Namun, mengeroyoknya. Memukuli Suro Gentho hingga pingsan. Lalu meletakkan tubuhnya di atas jaring yang direntangkan. Membungkusnya seakan-akan laba-laba sedang menggulung serangga yang masuk ke dalam perangkapnya.

Dengan sebatang kayu cemara seukuran lengan, dua orang tentara memanggul Suro Gentho seolah-olah celeng yang hendak dibawa ke tempat penjagalan. Sang pimpinan regu segera mendekat.  Berdiri tegak di samping tubuh yang lagi terayun-ayun itu. Setelah memberi hormat, ditembaknya kepala Suro Gentho tiga kali.

Setelah menunggu lima belas menit dan ternyata Suro Gentho tetap juga mati, seratus dua anggota gerombolan yang sedang bersembunyi di balik gerumbul ilalang dan batang pohon jati itu pun segera berhamburan. Pontang-panting seperti sedang dikejar setan.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada pejuang yang telah beralih kiblat menjadi bajingan itu, komandan tentara memerintahkan anak buahnya agar memakamkan Suro Gentho di tempat kelahirannya. Atau di tempat lain yang barangkali disukainya. Karena tak ada yang asal usul Suro gentho, dipilihlah opsi kedua. Setelah seharian dipajang di lapangan sepak bola seperti babi panggang, mayat Suro Gentho dibawa ke kompleks pemakaman berjarak lima belas kilometer dari markas tentara. Di Desa Ngawon-Awon itu ada perempuan yang diakui Suro Gentho sebagai istrinya.

Setelah diadakan upacara militer sederhana, diiringi tembakan salvo tiga kali, Suro Gentho dikubur dengan cara khusus. Mayatnya diikat kawat pada potongan besi yang tergantung setengah meter dari dasar lubang. Sebelum jasadnya mulai ditimbun tanah, di atas potongan besi yang silang menyilang seumpama kerangka cor-coran jembatan itu ditutupi lembaran seng.

Selain tentara, tak ada pelayat lain di kompleks pemakaman  berumur sangat tua itu kecuali perempuan yang sedang menggendong bayi laki-lakinya. Keduanya terus menangis. Si perempuan karena sedih; si bayi sebab lapar. Ingin menyusu, tapi ibunya tak mau lagi membuka bajunya di depan tentara.

Bayi yang terus menangis itu Warto Digdo alias Mbah Mantan, kepala desa lama. Namun, sudah meninggal.  Saat ini kepala desanya Wagino Digdo, anak laki-laki Warto Digdo, yang berarti cucu Suro Digdo alias Suro Gentho.

***

Suro Gentho tiba di rumah Wagino Digdo menjelang Magrib. Sang cucu menyambutnya di depan pintu gerbang. Lima menit sebelumnya salah satu orang yang tadi menyaksikan kebangkitan kakeknya itu telah memberitahu.  Wagino Digdo memeluk Suro Gentho penuh keakraban, memperkenalkan istri dan anak laki-lakinya, lalu membawanya ke ruang keluarga. Semua lampu dinyalakan seolah-olah ada pesta. Semua hidangan disajikan seakan-akan sedang kedatangan raja.

Seperti wabah kolera, berita tentang Suro Gentho yang bangkit dari kuburnya itu pun menyebar ke mana-mana. Tanpa menunggu datangnya pagi, orang-orang berdatangan ke rumah Wagino Digdo yang besar dan mewah itu. Demi bisa menonton Suro Gentho, mereka bahkan rela berdesakan-desakan di halaman dan jalanan dan berebut memanjat pohon. Ada juga yang tak memasang tenda di samping comberan di dekat sumur.

Paginya Wagino Digdo menjumpai para penonton yang menyemut di sekitar rumahnya. Sang kepala desa yang sedang digadang-gadang oleh partai politik berlambang kepala celeng untuk dimajukan sebagai calon bupati pilkada tahun depan itu mengatakan, Suro Gentho telah pergi. Itu saja. Lalu masuk rumah lagi. Ditutupnya pintu rumahnya rapat-rapat. Dibiarkannya orang-orang bergelut dengan tanda tanya.

***

Konon kabarnya, sebenarnya, Suro Gentho tidak ke mana-mana. Masih di rumah itu juga. Menyiapkan cucunya menjadi penerusnya.***

Kajen, 8 November 2021


Dewanto Amin Sadono, guru SMP dan penulis, tinggal di Kajen, Pekalongan. Cerpen-cerpennya memenangkan beberapa lomba dan diterbitkan dalam beberapa kumpulan cerpen juara. Novel Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit menjadi Juara 1 lomba Novel yang diadakan Perpusnas Writingthon Festival, Oktober 2022.

Cerpen

Lucy di Bulan

Cerpen Febriana Widyat Sari

Lucy, seorang anak gadis berusia belasan yang terhitung pendiam. Ia lebih sering terlihat duduk sendiri. Membayangkan dirinya menjadi seorang astronot dan pergi ke luar angkasa. Sejak kecil ia selalu takjub keindahan langit. Ia sering membayangkan dirinya terbang ke luar angkasa, menjadi astronot. Melihat bulan dari dekat, bermain bersama bintang seperti dalam video musik Twinkle Twinkle Little Star yang sering ia lihat. Lucy mulai menyadari betapa besar tak terukur luasnya angkasa raya. Ketika ia melihat bumi, tempatnya tinggal bersama bapak ibunya, ia merasa kecil. Bumi nampak cukup besar dan ia selalu merasa bagaikan sebuah butiran pasir kecil di luasnya padang gurun Sahara. Kemudian, ia teringat sebuah teori yang dikemukakan oleh John Dalton yang pernah ia baca di buku mengenai atom. Ya, ia merasa ia adalah atom, begitu juga manusia lainnya. Partikel paling kecil di dalam suatu ruang, begitu kecilnya ia sehingga tak dapat lagi dibagi.

Lucy terpana melihat luasnya angkasa raya. Melihat dan merasakan di kedalaman ruang hitam yang sebelumnya selalu ia perhatikan ketika ia di bumi, jauh di bawah sana. Ruang hitam diantara kedipan bintang satu dan lainnya, dan yang mengelilingi bulan.  Kini Lucy memahami apakah bumi itu bulat. Apakah ia berputar. Apakah ia justru dikelilingi dengan gerakan memutar dari objek lain. Apakah bintang dan bulan dapat berpijar terang dengan kekuatannya sendiri, dan ataukah ada kekuatan lain di balik kedipan kilauan mereka.

Lucy melihat Jupiter, planet terbesar di alam semesta, dan planet terjauh dari bumi. Ia pernah membaca dari bukunya tentang tata surya. Lalu ia ingat ketika di bumi, ia sering tidak sepaham dengan pendapat kebanyakan orang. Saat itulah ia selalu berpikir ingin tinggal di Jupiter saja dan menjauh dari kebanyakan orang.

Akan tetapi, Lucy lalu merindukan senyuman manis ibunya. Ia juga merindukan pelukan sayang bapaknya. Baginya, bapak ibunya adalah dua manusia berjiwa lembut yang paling memahaminya. Tempat bertukar gagasan tentang memahami bagaimana dunia dan manusia di dalamnya berpikir. Berdiskusi tentang diri Lucy sendiri dalam menghadapi dunia dan semesta, kelak bila ia hidup sendiri tanpa ibu bapaknya. Membantu Lucy memahami bagaimana bertahan hidup, salah satunya dengan menjadi orang baik. Lucy ingat kata ibunya, ia boleh terbang setinggi apapun ia bisa, tapi ia tidak boleh lupa untuk kembali memijakkan kakinya ke tanah. Kata bapak, karena tanah adalah sepenuhnya kesadaran manusia.

“Lucy, makan dulu, Sayang”, panggil Ibu.

“Iya, Bu”, jawab Lucy.

Lucy turun dari rumah pohonnya kemudian, dan berlari menemui ibunya, menceritakan pengalamannya kepada ibu dan bapaknya yang sedang menunggu Lucy di ruang makan. Lucy mencuci tangannya lalu bergabung dengan ibu bapaknya di ruang makan.

“Jadi hari ini Lucy ke mana?”, tanya Bapak.

Bapak selalu tahu, Lucy selalu menghabiskan harinya sepulang sekolah di rumah pohon, di kebun belakang rumah mereka. Kebun itu langsung dapat terlihat dari dapur dan ruang makan, karena pintu keluar dan masuk dari ruang dapur dan ruang makan ke arah kebun terbuat dari kaca. Pertanyaan bapaknya mengacu kepada imajinasi Lucy hari ini di rumah pohon. Setiap kali ke rumah pohon, Lucy selalu berimajinasi bahwa dirinya berada di ruang dan waktu yang berbeda. Buku-buku kesayangannyalah yang selalu membawanya ke dalam imajinasi. Tempo hari, imajinasinya membawanya ke Inggris abad 19. Ia mengikuti detektif kesukaannya; Sherlock Holmes dan sahabatnya Dokter Watson menyelesaikan kasus petualangan Silver Blaze.

“Ke bulan, Pak”, jawab Lucy. Lalu Lucy menceritakan semua, sampai pada panggilan ibu untuk makan. Ibu dan bapaknya menyimak ceritanya dengan antusias.***


Febriana Widyat Sari, lahir dan menetap di Surakarta, Jawa Tengah. Seorang ibu, guru sekaligus murid. Pecinta kata-kata, penghayat realita. 

Cerpen

Seseorang yang Ingin Mati di Aokigahara

Cerpen Galuh Ayara

Seorang teman tiba-tiba menelepon dan memberitahuku bahwa ia hendak bunuh diri dan pergi ke hutan Aokigahara? Ia memintaku membantunya melewati masa krisis sampai ia bisa membebaskan pikiran negatifnya. Bukankah setiap orang yang ingin bunuh diri berpikir dan berharap di detik-detik terakhir, ia masih bisa selamat di dunia yang serba menjeratnya?

Namanya Fujio. Dia adalah sahabatku ketika aku kuliah di Universitas Waseda di Tokyo, Jepang. Fujio adalah seorang penulis sastra. Karyanya dimuat di koran, majalah, dan media daring. Ia yang mengenalkanku kepada buku-buku sastra Jepang seperti buku Kazuo Ishiguro, Haruki Murakami, dan para terdahulunya seperti Junichiro Tanizaki dan Yasunari Kawabata. Dia juga yang akhirnya membuatku sangat menyukai ‘Midaregami’, buku kumpulan tanka, puisi berpola khas jepang, yang dianggap kontroversial karya Akiko Yosano.

Fujio adalah sosok lelaki sederhana yang selain menulis, kadang ia suka memasak dan bergaya bak koki restoran. Ia akan mengenakan baju dan topi koki berwarna putih terang saat ingin menunjukkan keahliannya meracik ramen pedas kepadaku. Aku selalu antusias dengan pertunjukan memasak kecil-kecilan di dapur apartemennya yang agak sempit itu. Gaya Fujio yang kocak dan sebenarnya tidak alami ketika meracik ramen itu selalu sukses mengocok perutku. Aku terpingkal-pingkal sampai keluar air mata, sementara Fujio dengan senyum cengengesannya fokus melanjutkan kegiatannya. Ketika mengaduk bumbu di panci ia sengaja membenturkan sendok yang agak besar itu ke pinggiran kuali hingga mengeluarkan suara yang berisik. Aku menutup telinga sambil terbahak-bahak.

Di balik kesederhanaannya, sesungguhnya Fujio lahir dari keluarga kaya di Tokyo. Kekayaan keluarganya mencakup beberapa restoran, bar, hotel, juga dorm berikut salah satu sekolah bahasa di Shinjuku. Rumah tinggal keluarga Fujio berada di Denenchofu, sebuah kawasan pemukiman elit yang dikembangkan oleh seorang industrialis yang dianggap sebagai bapak kapitalisme Jepang. Karena kekayaan keluarga tersebutlah, Fujio dipaksa kuliah bisnis oleh ayahnya untuk meneruskan bisnis keluarganya. Akan tetapi, Fujio lebih tertarik dengan bidang sastra. Takdir itu kemudian mempertemukanku dengan Fujio di Universitas Waseda.

Pada saat itu–bulan Mei, Jepang mengalami periode ‘tsuyu’ atau musim hujan. Saat itulah aku seringkali bermalam di apartemen Fujio yang terletak tidak begitu jauh dari taman Shinjuku Gyoen. Aku tidak tahu apakah Fujio menyukaiku atau tidak. Dia tidak pernah mengungkapkan apapun soal perasaannya kepadaku. Aku tidak tahu, tapi sejujurnya kami sering melakukan hubungan seks setiap kali aku menginap di apartemennya, atau pun sebaliknya, ia yang datang ke apartemenku.

“Hidupku sangat berat, Hanin,” katanya suatu ketika. Saat itu aku baru saja menghabiskan satu mangkuk besar ramen pedas buatannya yang berhasil membuat tubuhku panas dan berkeringat. Kami makan ramen sambil menonton film anime Kotonoha No Niwa-Makoto Shinkai yang banyak memakai latar keindahan taman Gyoen. Film itu adalah salah satu film anime Jepang yang aku suka. Selain karena berlatar taman Gyoen yang terasa amat dekat dan digambarkan sangat indah dan mendetail itu, juga karena cerita cintanya yang melankolik dengan dihiasi kutipan tanka lama yang penuh teka-teki.

Aku bergeser untuk membelai punggung Fujio lalu memeluknya dari belakang.

“Kenapa? Apa yang membuat hidupmu berat?”

Aku bertanya sembari membenahi posisi dudukku di atas tatami.

“Entahlah. Kadang aku merasa dikejar-kejar sesuatu di kota ini hingga aku sangat takut dan tertekan.”

“Soal ayahmu?”

“Mungkin lebih dari itu? Aku merasa kota ini penuh tuntutan. Dan aku hanya seorang yang keras kepala. Hmm, terlalu keras kepala untuk mempertahankan ketertarikanku pada dunia sastra.”

Aku menyandarkan kepala di pundaknya.

“Kamu satu-satunya orang paling baik yang pernah aku kenal, Fujio. Aku senang bisa mengenalmu, dan akan sedih jika suatu saat aku harus pulang ke Indonesia dan kita akan berpisah dalam waktu yang lama, mungkin selamanya.”

Aku mengucapkan kata-kata itu untuk membesarkan hatinya sekaligus mempertanyakan secara terselubung, kenapa dia belum juga mau berkomitmen denganku?

“Maafkan aku, Hanin. Aku tidak ingin kamu ikut masuk ke dalam kehidupanku yang sangat rumit. Maaf.”

Ia berkata seolah mengerti kegelisahanku. Aku menelan ludah mendengar kenyataan yang agak pahit itu. Akan tetapi di luar itu, aku begitu nyaman setiap kali dekat dengan Fujio, sehingga aku tidak dapat menuntut apapun darinya, asalkan dia ada.

Aku berdiri dan berjalan ke muka jendela. Hujan rintik-rintik di luar membuat Jepang seperti sebuah lukisan dengan orang-orang berpayung yang berjalan di antara gedung-gedung menyala. Aku ingat, aku pernah melihat lukisan seperti itu di rumah kakekku di Bandung. Jepang benar-benar seperti lukisan yang sangat besar ketika memasuki periode tsuyu.

“Di kaki gunung Fuji ada hutan yang bernama Aokigahara. Orang-orang pergi ke sana untuk bunuh diri. Kau pernah dengar?”

Fujio mengambil satu batang rokok dari atas meja. Aku berjalan kembali ke dekatnya. Aku berjongkok untuk mengambilkan korek lalu menyalakan api ke rokok yang sudah ada di mulutnya.

“Ya. Hmm, aku kurang suka mendengarnya.”

Aku mengambil rokok itu lalu mencium bibirnya yang basah dan berasap. Perlahan tubuhku bergerak dan menjadi sangat melekat dengan Fujio. Aku memeluk dan membuka pahaku lebar-lebar di atas pangkuannya.

“Tolong jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu, di mana pun. Sebab aku akan sedih dan merasa bersalah.”

 Aku mengembalikan batang rokok itu ke mulutnya.

“Aku tidak tahu apakah hidupku berharga?”

Fujio mematikan rokok dengan menekan ujungnya di permukaan meja kecil di samping kami.

“Dengar, tidak ada hidup yang sia-sia. Kuatkan dirimu, ya. Sabar.”

“Suatu hari aku akan meneruskan bisnis ayahku. Dan saat itu mungkin aku hanyalah mayat hidup.”

“Kamu masih bisa menulis nanti.”

“Entahlah. Aku muak dengan segala tuntutan di hidupku.”

“Jangan pernah putus asa.”

“Iya.”

Ia lantas memeluk tubuhku sangat erat. Aku merasakan tangannya yang dingin masuk ke dalam blus dan bra-ku. Tangan itu meremas-remas payudaraku hingga aku berdebar bukan main. Aku menurunkan resleting blusku lalu melepas bra dengan napas naik turun dan tergesa. Aku meraih tangannya yang agak kasar itu lalu menciuminya dengan mata terpejam. Aku merasakan seluruh kecemasannya masuk ke pori-pori kulitku, sehingga aku sangat sulit lepas darinya. Aku tidak pernah bisa lepas seakan tubuhku diikat. Aku hanya bisa menerima tubuh itu menyatu dengan tubuhku semakin dalam, semakin dalam. Lalu di kedalaman itu, aku berharap seluruh kegelisahannya reda.

***

Aku menutup panggilan telepon itu dengan tangan yang gemetar, dan hatiku begitu hancur lebur.

“Siapa yang meneleponmu? Kenapa kamu menangis? Apakah dia temanmu sewaktu kuliah di Universitas Waseda?”

Aku tidak segera menjawab. Hatiku terlalu berkecamuk. Fujio baru saja meneleponku setelah kami hilang kontak selama dua tahun selepas aku pulang ke Indonesia. Ia menutup semua akun media sosialnya, juga mengganti nomor ponselnya atau bagaimana aku tidak tahu. Lalu sekarang ia tiba-tiba muncul dan berkata ingin bunuh diri. Aku bisa mendengar suara tangisnya yang berat seolah ia tak sanggup lagi menanggung pikiran-pikiran negatifnya? Bagaimana jika ia benar-benar pergi ke Aokigahara sendirian lalu tidak pernah kembali ke apartemennya, ke rumah keluarganya atau ke mana pun? Ah, aku tidak sanggup membayangkannya.

“Hanin? Kamu baik-baik aja?”

“Hmm, bisa kita pulang sekarang?”

“Yakin? Makan malam kita baru saja datang?”

“Kalau kamu enggak ingin mengantarku pulang, biar aku pulang naik taksi.”

“Wait, wait, Hanin. Oke, kita pulang ya.”

“Thank’s, Adit.”

“Bukan masalah. Kamu kekasihku. Akan kuturuti apapun kehendakmu.”

Setelah Aditya membayar makanan yang tidak kami makan, kami segera meninggalkan restoran itu.

***

Sesampainya di rumah, aku langsung menangis tersedu-sedu. Aku berguling di atas kasur dan kesulitan mengatasi kegelisahanku yang menjadi-jadi. Di tengah perasaan sedih dan khawatir itu, tiba-tiba aku merasa bersalah kepada Aditya. Perasaan bersalah itu merasuk begitu saja seperti roh yang mendesak dan menguasai diriku. Aku menangis semakin menjadi. Aku kebingungan mengatasi seluruh kegelisahan itu yang saling tindih menindih dan bertumpuk tebal di atas tubuhku.

Aditya adalah temanku sejak taman kanak-kanak. Sewaktu SD, kami pernah mencuri dewandaru sebesar gundu dari halaman sekolah SMA Strada di belakang sekolah kami. Adit yang memetik dewandaru itu karena aku begitu menginginkannya, karena aku tergoda dengan warna merahnya. Buah itu seperti lampion kecil yang menyala. Aku benar-benar tergoda dan amat menginginkannya. Setelah berhasil mendapatkannya, kami tunggang langgang dikejar satpam. Aditya memberikanku dewandaru sebesar gundu, tapi aku merasa ia baru saja memberikan bumi dan seisinya.

Sedari kecil, Aditya selalu memberikan apapun yang kumau, tapi aku tak pernah memberikannya apapun milikku. Sepulang aku dari Jepang, Adit menyatakan perasaannya sekaligus melamarku. Bahkan saat itu aku tidak memberikan hatiku, meski aku mengatakan “ya”. Aku bahkan selalu menolak ketika ia ingin menciumku, padahal sewaktu di Jepang hampir setiap malam aku tidur dengan Fujio. Fujio? Mengapa harus Fujio yang ingin aku berikan segalanya milikku? Padahal jelas-jelas lelaki itu selalu menolak membuat komitmen hubungan denganku.

Aku meraih novel Naomi. Naomi adalah sebuah novel karya Junichiro Tanizaki. Buku itu merupakan hadiah ulang tahun yang diberikan Fujio. Naomi berkisah tentang percintaan yang muskil, mendebarkan, provokatif dan penuh tragedi. Aku selalu suka kisah cinta yang melankolik, penuh teka-teki dan tragedi. Mengapa di Jepang penuh tragedi? Mengapa Fujio ingin bunuh diri? Ah, tiba-tiba kepalaku sangat pusing.

Buku itu selalu kubawa ke mana pun bersama dengan buku Midaregami. Aku membuka buku tersebut lalu foto Fujio yang kusimpan di dalam buku itu terjatuh. Aku menangis sambil memeluk foto itu. Segera saja aku meraih ponselku dari atas meja. Aku berusaha menelepon nomor ponsel yang dipakai Fujio tadi, tetapi tidak ada jawaban.

***

Pagi sekali, Aditya datang ke rumahku. Dia membuatkanku sarapan dan membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Dari meja makan aku bisa mencium aroma cabai merah dan bawang putih yang ditumis dan dicampurkan dengan udang segar dan nasi putih. Tidak lama, Adit datang dengan baki berisi sepiring nasi goreng dan teh jeruk lemon.

“Nasi goreng udang untuk Nona Hanin yang paling cantik.”

Adit menaruh nasi goreng udang dan teh jeruk lemon itu di depanku. Aku tersenyum alakadarnya sambil mulai memasukkan sesendok penuh nasi goreng ke dalam mulut.

“Apa perasaanmu sudah lebih baik?”

Aku mengangguk.

“Kalau boleh tahu, siapa orang itu, Sayang? Hmm?”

“Namanya Fujio. Ia teman kuliahku.”

“Dia pasti teman baikmu.”

“Ya, kami hanya berteman, tidak lebih.”

“Lalu apa yang membuatmu menangis semalam?”

“Dia dalam masa-masa krisis. Semalam dia bilang akan mengakhiri hidupnya dan sepertinya dalam perjalanan ke Aokigahara. Entahlah. Dia orang yang sangat rentan dan sulit berteman.”

“Aokigahara? Aku pernah menonton film dokumenter tentang hutan itu. Hutan di kaki gunung Fuji yang dijuluki hutan bunuh diri, kan?”

Tiba-tiba tak terasa air mataku banjir lagi. Aku menangis sesenggukan seperti bocah yang baru saja kehilangan mainan. Adit seketika mendekat dan merangkul tubuhku.

“Teleponku enggak diangkat. Gimana kalau dia sungguh-sungguh. Aku merasa bersalah. Dia menelponku karena dia tidak tahu harus menghubungi siapa. Dia memintaku membantu melewati masa krisisnya. Tapi waktu aku telepon balik, dia enggak angkat teleponku.”

Tangisku lantas semakin keras.

“It’s ok, Sayang. Cup cup cup, semua akan baik-baik aja. Kalau kamu mau, nanti aku beli tiket pesawat ke Jepang. Kita sama-sama ke sana biar kamu tenang, sekalian aku juga lagi butuh libur.”

“Kita?”

“Kenapa?”

“Enggak apa-apa. Terima kasih selalu memberi apa yang aku mau.”

“Aku cinta kamu, Hanin. Tidak ada yang lebih penting dari itu.”

Setelah itu, setelah memastikan aku sudah lebih tenang, Adit berangkat ke kantornya, sementara aku memutuskan tidak bekerja hari ini. Aku terlalu sedih dan sulit menguasai diri.

Aku membuka laptop, mencari tahu kanal berita online di Jepang yang memuat kabar tentang orang bunuh diri di hutan Aokigahara. Berjam-jam aku tidak menemukan nama Fujio Shinkai dari Shinjuku. Lalu aku mengetik nama pena Fujio yaitu Kawamura. Hasil pencarian nama itu hanya karya-karya Fujio yang dimuat di media-media jepang. Aku baru tahu, ternyata sudah banyak sekali karya yang ditulis Fujio. Karena penasaran akhirnya aku ketik nama ayah Fujio, yaitu Yukio Shinkai. Nama itu cukup populer sebagai pebisnis di Tokyo. Dan apa ini? Ada sebuah artikel memuat tentang Yukio Shinkai yang menggelar pernikahan putra tunggalnya dengan seorang anak pengusaha asal Hongkong.

Mendadak udara sangat dingin, tubuhku keram dan sulit bergerak.

Ponselku tiba-tiba berdering. Kulihat panggilan itu dari nomor yang dipakai Fujio semalam.

“Ha-Hanin.”

Mendengar suara yang terbata itu, tiba-tiba aku sangat ingin bunuh diri detik itu juga.***

2022


Galuh Ayara, suka menulis puisi dan cerpen. Karyanya dimuat di beberapa media. Buku kumcernya yang berjudul ‘Nyanyian Origami’ terbit pada tahun 2020.