Cerpen

Kerajaan yang Kosong

Cerpen Puput Sekar

Hari pertama di Kerajaan Tong Tong Sot, Raja Petruk Kantong Bolong duduk di singgasananya dengan mahkota di kepalanya yang penyok. Tapi hatinya bungah dan semringah. Akhirnya ia benar-benar menjadi raja. Setelah janji Prabu Kresna ia tagih bertahun-tahun dan hanya dibalas dengan keputusan yang menyakitkan hati.

Dulu Petruk disuruh mengalahkan raksasa yang mengancam Amarta. “Cuma kamu yang bisa,” kata Prabu Kresna. Imbalannya adalah anaknya sendiri, alias mau dikawinkan dengan Prantawati. Petruk yang tidak punya kesaktian pun langsung siap maju perang. Naluri kejantanannya berdiri tegak karena dijanjikan anak raja. Ternyata raksasa itu adalah Gareng, kakaknya sendiri.

Setelah urusan beres, Petruk menagih janji. Tapi Prabu Kresna malah sen kanan belok kiri, alias berencana menjodohkan Prantawati dengan Raden Lesmana Candrakumara, putra mahkota Hastina yang cengeng.

Petruk nangis gerung-gerung. Ia kabur ke pertapaan Balaseta, curhat ke Begawan Salantara-ayahandanya.

“Romo, aku bosan jadi abdi. Aku mau jadi raja. Biar bisa melamar Prantawati. Tetapi aku mau pakai maharnya istana. Romo kan sakti.”

Begawan Salantara diam lalu menatap Petruk dalam. Tatapan mata Begawan Salantara sedalam samudera dengan ombak yang begitu besar dan tidak terencana. Sejurus kemudian ia berkata dengan tenang. Setenang air yang tidak tertebak ke mana arusnya mengalir.

“Aku kabulkan. Sebuah kerajaan. Tapi ini hanya uji coba dulu. Satu bulan saja. Kalau kamu bisa memakmurkan, kerajaan itu jadi milikmu selamanya. Tapi kalau gagal, kamu melamar Prantawati sebagai Petruk saja. Apa adanya.”

“Siaaap! Jangankan sebulan, sehari juga jadi, Romo!” Petruk asal jawab.

Keinginan Petruk menjadi nyata. Sekedipan mata, ia telah duduk di singgasana dengan mahkota yang kebesaran. Begawan Salantara berdiri di depannya. “Satu bulan. Kerajaan ini bukan untuk kamu miliki, tetapi untuk kamu pahami. Kekuasaan itu bukan sekadar dapat.”

Begawan Salantara lalu menghilang. Mendadak istana ramai. Mahapatih, punggawa, hulubalang, rakyat. Semuanya lengkap. Semuanya berjanji untuk mengabdi kepada Raja Petruk Kantong Bolong.

Pekan pertama di istana, Petruk membuat program “Raja dekat dengan rakyat”. Makan malam gratis di alun-alun, dangdutan semalam suntuk. Pekan kedua: gerakan minum susu bersama raja. Susu dibagi-bagi ke rumah-rumah. “Biar rakyat sehat wal afiat!”

Tetapi setelah itu Petruk ongkang-ongkang kaki mendengar rakyatnya menggaungkan namanya. Hidungnya kembang kempis. Ternyata benar dugaannya: enak betul menjadi raja.

Dua pekan berlalu. Petruk tidak sadar kalau lumbung makanan perlahan menipis. Tetapi dari waktu dua pekan itu, tidak ada  interupsi. Jelas ia merasa kondisi baik-baik saja. Waktu terus bergulir, tidak pernah ada evaluasi. Hingga akhirnya terhenti di suatu hari. Ketika suara-suara itu mulai terdengar dari luar istana. Suara-suara itu seperti sebuah retakan dari celah tembok istana. Mereka berteriak kalau susunya ternyata basi. Mereka menuntut nasi yang porsinya semakin sedikit, dan rasa asam pada sayur dan lauk pauk karena makin tidak layak saji.

Namun Petruk menganggap sebagai angin lalu. Parahnya ia menganggap itu adalah suara-suara dari orang-orang yang tidak bersyukur. Ia tetap saja duduk manis, ngopi-ngopi sambil makan roti dengan kaki diangkat di atas singgasana sembari dikipasi pelayan.

Ia juga tidak mengetahui kalau orkestra dangdut di alun-alun mulai sayup. Penonton jarang berdatangan karena tidak ada lagi acara makan malam bersama. Persediaan makanan sudah benar-benar habis.

Pekan keempat, terdengar suara Begawan Salantara menggema tanpa wujud: “Waktumu habis besok, Petruk! Kerajaanmu nggak maju!”

Petruk tergagap. Tetapi ia masih memiliki nyali untuk menyanggah dengan pongah.  “Rakyat saya bahagia, Romo! Tiap hari minum susu, tiap malam dangdutan. Program kerja saya berhasil!”

“Mana? Sebagian rakyatmu hilang. Kamu bahkan tidak  tahu kalau negeri ini sudah tidak ada rakyatnya lagi.”

Petruk sontak tergagap. Ia gegas berlari menuju menara. Dari atas sana ia bisa melihat dengan jelas bahwa ternyata pemukiman rakyatnya sudah lenyap. Panggung alun-alun tinggal padang rumput. Tidak ada jejak. Seluruh persendian Petruk seperti dilolosi satu per satu. Perutnya mulas. Ia terduduk lemas di tepian dinding menara.

 “Romo, minta tambahan waktu lagi, ya ….” pintanya memelas.

“Tidak ada lagi tambahan waktu. Kamu gagal jadi pemimpin. Aku sudah beri kesempatan tapi kamu sia-siakan.”

Petruk balik ke singgasana. Punggawa dan pelayan raib. Ia gontai sendirian. Jam berdentang dua belas kali. Pilar istana rontok satu-satu. Singgasana lenyap. Mahkota di kepalanya berubah jadi kupluk lusuh.

Petruk berdiri di gelapnya belantara. Tepat sebulan. Tidak tersisa apa-apa kecuali kenangan yang mirip mimpi di siang bolong.

Nuraninya mengakui bahwa ia gagal menjadi raja. Ternyata memimpin kerajaan tidak semudah mengedipkan mata. Padahal di luar sana banyak raja-raja tidak mumpuni yang masih hidup enak, tidur nyaman, dan tidak ditinggalkan rakyatnya. Tapi mengapa ia tidak bernasib serupa.

Petruk tercenung. Seandainya bisa, ia sebenarnya ingin diberi kesempatan lagi. Tetapi itu hal yang paling mustahil. Ia tidak akan pernah dapat membeli waktu dan kesempatan.

Pelan-pelan ia mencoba bangkit sambil mengais kembali serpihan hatinya yang hancur berceceran. Ia berdiri tegak sambil mengepalkan tangan. Terbayang wajah Prantawati yang ingin ia banggakan. Niatnya untuk menyenangkan hati kekasihnya musnah sudah. Namun ia telah bertekad untuk memperjuangkan Prantawati dengan segala cara. Jika cara pertama gagal, masih ada pintu-pintu kemungkinan untuk bisa menagih janji Prabu Kresna. Besok tetap akan berangkat ke Dwarawati. Melamar Prantawati sebagai dirinya sendiri. Petruk Kantong Bolong, abdi dalem Amarta. Apa adanya, meski mungkin nyawa taruhannya.***

Kalasan Sept 2026

____________________

Puput Sekar. Ibu dua orang anak, lulusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Jakarta yang masuk di dunia sastra. Lalu memutuskan berhenti mengajar di sekolah formal. Saat ini aktif menulis di beberapa media.

Cerpen

Bancakan

Cerpen Puput Sekar

“Ndri, nanti sore kita ke rumah ibu, ya,” ucap Mas Is seraya duduk di sebelahku.

Aku menutup halaman buku yang tengah kubaca, lalu menghela napas panjang. Sebelumnya kami sebenarnya sudah berencana makan malam di luar, tapi kalau Ibu sudah meminta, kami tak kuasa menolaknya.

“Dua hari lalu kita baru dari sana, Mas. Terus acara kita malam nanti?”

Sorry, kemarin aku lupa bilang, acara sore nanti memang sudah direncanakan ibu. Katanya nanti ada bancakan Dito,” ujar Mas Is lirih.

“Bancakan lagi, bancakan lagi! Mau sampai berapa kali, Mas?” sahutku dengan emosi tertahan.

Aku memang tidak suka dengan kebiasaan ibu mertuaku itu, bancakan! Meski katanya bancakan adalah tradisi leluhur untuk melindungi diri dari malapetaka, wabah, atau apalah namanya. Terlebih bancakan untuk Dito, anakku yang sudah meninggal. Jujur, bukannya aku senang, tapi malah sedih.

Bancakan yang dilakukan ibu seolah menampar diriku dan Mas Ismanto berulang-kali. Karena bukan sekali atau dua kali ibu menyebut-nyebut bahwa meninggalnya Dito disebabkan kesalahan kami berdua. Katanya, karena kami kurang sedekah, kurang bancakan, sehingga Dito menjadi “bancakan” roh-roh jahat. Padahal kepergian Dito sudah jelas penyebabnya. Di usia setahun, ia telah divonis menderita leukimia. Lantas di usia dua tahun, Dito pergi meninggalkan kami semua. Berat, tentu saja, tetapi semua sudah kehendak-Nya.

Menurutku, kepergian Dito sama sekali tidak ada hubungannya dengan roh jahat atau hal mistis apa pun. Obatnya bukan bancakan, melainkan serangkaian pengobatan medis oleh dokter spesialis penyakit dalam.

“Tapi nyatanya tidak bisa menyelematkan nyawa anak kita?” kata Mas Is.

Aku menelan ludah, tidak berani menjawab. Sebab percuma, mendebatnya, yang hal itu hanya akan menjadi abu. Jika mungkin menang pun hanya jadi arang. Tapi bagiku, berobat ke dokter adalah bentuk usaha. Bersedekah tidak harus dengan bancakan seperti yang kerap dilakukan ibu. Sesungguhnya sudah dua tahun sejak kepergian Dito, aku mulai ikhlas. Entah ikhlas yang seperti apa, tetapi aku aku yakin Dito telah bahagia di sana.

Namun tidak dengan pendapat ibu, yang hal itu kutahu dari Mas Is. Dia pernah menyampaikannya kepadaku. Katanya aku belum ikhlas melepas Dito. Katanya ibu juga pernah menyinggung, bahwa mungkin saja tidak segeranya aku mengandung lagi, juga karena hal itu.

“Bahkan ibu pernah mengatakan, terkadang kamu diselubungi oleh energi negatif,” kata Mas Is menyampaikan apa yang disampaikan ibu. Saat itu aku berpikir, sebegitu kejamnya ibu menuduhku seperti itu. Jika mengingatnya, perasaanku jadi berantakan, seketika mataku memanas. Namun, seperti biasanya, Mas Is mendekat, lalu memelukku erat.

“Aku tahu perasaanmu, Ndri,” ujar Mas Is yang sepertinya mengerti perasaanku. “Tapi sebaiknya kita memang tidak perlu membuat konflik dengan ibu. Meski berat, tapi berusahalah untuk bertahan. Yang pasti aku akan selalu berada di sampingmu,” bisik Mas Is menenangkanku.

Dadaku terasa sesak, isak ini pun tak tertahan lagi. Mas Is benar, jika kami tidak menuruti permintaan ibu, hal itu sama saja menabuh genderang perang.

***

Di ruang keluarga ibu duduk bersila.  Di depannya terdapat sebuah tampah besar beralas daun pisang, berisi aneka urapan sayur,  nasi tumpeng, dan lauk pauknya. Hal yang paling membuatku takjub, ibu mampu membuat sendiri semua hidangan istimewa itu. Meski usianya telah senja, berlama-lama di dapur tidak membuat staminanya menurun.

Sementara di sekeliling ibu, duduk rapi anak-anak kecil yang menjadi tamunya. Sebelum makan, ibu memulai berdoa. Dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti ibu mengutarakan permohonan. Permohonan agar Dito tenang di alamnya, permohonan untuk kesehatan kami berdua, juga kesehatannya sendiri. Terlebih permohonan agar aku diberikan momongan lagi. Sebuah permohonan yang terkesan formalitas. Doa yang itu-itu saja yang diucapkan ibu setiap melakukan bancakan, bahkan hal itu sampai kuhafal.

Aku tidak antusias dengan acara rutinitas itu, lagi pula kami baru datang. Tapi ucapan ibu kerap mampu memperburuk kondisi hatiku. Meski sebenarnya aku tahu perkataan itu disampaikan untuk anak-anak yang ikut bancaan, tapi aku tetap merasa tersindir.

“Bancakan ini wujud sedekah. Kebiasaan baik dari leluhur kita. Semoga kebiasaan baik seperti ini tidak dipandang buruk oleh siapa pun. Namanya saja kebiasaan baik, jika kita sedang melakukannya, harus dengan perasaan ikhlas.”

Aku mengigit bibir, meski aku tidak tahu apakah pernyataan ibu itu sengaja untuk menyindirku atau tidak tapi, kata-kata ibu tadi sukses melukai perasaanku. Setelah itu benakku mengembara ke mana-mana. Lantas aku memikirkan apa saja yang ibu katakan dan lakukan. Dari situ aku merasa sejak awal pernikahan kami, ibu sepertinya memang tidak pernah bersikap lunak kepadaku. Menurutku bukan hanya sikap, bahkan jika bicara pun tidak pernah enak didengar. Jika sudah begitu biasanya aku hanya bisa mengelus dada, lalu masuk kamar, seperti yang kulakukan saat ini, menjauh dari mereka, sekadar untuk meluruhkan air mata.

Hari ini, sebenarnya banyak aneka kudapan yang menguarkan aroma sedap hingga terasa menggiurkan, tapi hal itu sama sekali tidak menerbitkan nafsu makanku. Bahkan setiap kakiku menginjak rumah ibu, rasanya semua lantainya penuh dengan duri tajam. Aku ingin acara itu cepat berakhir dan kami bisa pamit pulang. 

Perlahan aku keluar kamar, menuju teras, tetap memisahkan diri dari ibu dan Mas Ismanto. Namun sesekali pandanganku mengarah pada wajah-wajah polos yang tengah menyantap bancakan itu. Jika Dito masih hidup, barangkali dia pun tengah menyantap bancakan dengan lahap, dan tentu saja diiringi dengan canda tawa bersama mereka. Seketika air mataku jatuh lagi.

“Lo, Bulik kenapa nangis? Enggak dapat bancakan, ya?” Suara polos seorang anak mengagetkanku.

Ternyata anak itu Wibi, lengkapnya Wibisono. Usianya tujuh tahun, tetangga sebelah rumah. Ia memang sering main ke rumah ibu. Sepertinya ibu memang menyukai anak kecil, bukan hanya Wibi, tapi juga yang lain. Barangkali karena ibu merindukan seorang cucu, sebab cucu semata wayang, yaitu anak kami, meninggal dengan cepat. Di rumah ini ibu hanya tinggal bersama Bulik Pur, adik sepupunya yang telah lama menjanda.

Sebenarnya ibu telah meminta Mas Is untuk tetap di sini, tetapi Mas Is memilih tinggal jauh dari ibu. Waktu itu alasan Mas Is, agar dekat dengan kantornya. Padahal Mas Is sedang menyelamatkan aku dari konflik dengan ibu. Paling tidak hal itu yang pernah Mas Is ungkapkan kepadaku.

Wibi mengulangi perkataannya.

Aku menoleh ke arahnya. Aku tersenyum lalu menggeleng. “Belum lapar, Wibi,” sahutku kemudian.

 “Oalah, padahal mau kukasih iwak,” ujarnya sambil menyorongkan paha ayam untukku.

“Eh, enggak usah, untuk kamu saja. Ayam itu protein, bagus buat kesehatan kamu.”

“Kok, Bulik ngomongnya sama sih, kayak Simbah Surti. Kalau kami lagi makan, lalu Simbah memberi kami iwak. Katanya bagus untuk kesehatan.”

Aku tersenyum kaku. Ada sebersit rasa iri di hati ini. Ibu bisa bersikap lunak kepada orang lain, tetapi kepadaku—menantunya sendiri—tidak pernah bersikap begitu. Setidaknya begitu yang kurasakan selama ini. Beruntunglah Wibi yang selalu disayangi ibu mertuaku.

“Oh iya,Bulik, semalam aku nginep di sini, lo.”

“Kamu enggak dicariin ibumu?”

“Ibuku tidak di rumah, kok. Dia pergi jauh. Kerja. Jadi aku sama bapak dan Mbak Nita. Kalau aku sedang kesepian, aku pergi ke sini. Aku suka dibacain buku cerita sama simbah,” terangnya antusias.

Wibi anak pintar dan cerdas, ia senang berceloteh. Barangkali inilah salah satu penyebab ibu menyukainya. Pastinya ibu juga menaruh iba kepada anak yang ditinggal ibunya. Tapi apa pun itu aku sedang tidak ingin menilai kondisi orang lain.

“Setelah aku dibacakan cerita, sebelum tidur aku disuruh berdoa.”

“Oh, ya, pintar,” jawabku pendek sembari tersenyum dan mengusap kepalanya.

“Doanya itu panjang. Selain doa mau tidur, juga doa agar aku dan Mbah Surti sehat. Doa untuk Paklik dan Bulik juga ada. Katanya biar sehat dan banyak uang, dan segera dikasih adek lagi.” Usai mengatakan begitu, Wibi izin kembali berkumpul dengan mereka.

Sementara, aku yang mendengar kalimat itu, mataku kembali memanas. Diam-diam kuperhatikan ibu yang tengah makan sambil bersenda gurau dengan tamu-tamu kecilnya. Beberapa detik kemudian, meski pandanganku masih tertuju pada mereka, tapi ingatanku terpaku oleh pesan Mas Is, yang katanya hal itu adalah kata-kata ibu. Isi pesan itu menyatakan bahwa bisa jadi selama ini aku tengah dikelilingi energi-energi buruk.**


Puput Sekar, lulusan Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari terbitan Republika, tahun 2012. Splash Love in Seoul, Beo Zelga, tahun 2020, terbitan Prudencia. Aktif menulis di komunitas literasi Nulis Aja Dulu dan Opinia. Pecinta mi ayam dan kebudayaan.