Cerpen

Dua Alasan Hukuman Mati

Cerpen Koesmiyati Harsanto

Bagaikan busur raksasa, kerumunan ratusan manusia membentuk setengah lingkaran di lapangan kompleks militer yang kering dan berdebu. Mereka saling berkelisik satu sama lain seraya memandang tiang pancang yang berdiri kokoh, siap memeluk seorang  terpidana yang nantinya akan diikat di situ untuk menerima hukuman mati. Di antara tiang pancang dan penonton, sebarisan regu tembak berdiri memunggungi kerumunan, bersiap dengan senapan masing-masing.

Pengelana Muda menyelinap di antara kerumunan. Jiwa petualangnya berdebar menduga-duga apa yang akan dia lihat selanjutnya. Telah belasan negeri ia jelajahi. Banyak sudah kematian dia saksikan. Namun baru kali ini dia menjumpai prosesi hukuman mati yang dipertontonkan pada khalayak ramai. 

Dengung yang semula memenuhi udara berubah senyap tatkala dari pintu salahsatu bangunan di sana, lima orang berseragam warna khaki muncul menggiring seorang perempuan bertubuh mungil yang bagian matanya terbebat kain hitam.

“Kejahatan apa yang dilakukan perempuan itu hingga harus dihukum mati?” dengan rasa penasaran Pengelana Muda bertanya pada pemuda di sampingnya. Pemuda itu menatapnya dengan pandangan menyelidik.

“Kau pasti berasal dari negeri yang jauh,” kata pemuda itu kemudian. Pengelana Muda menelan ludah. Tak perlu usaha keras untuk tahu dia pendatang dari jauh. Meski dia bisa berbicara bahasa yang sama dan berpakaian layaknya penduduk negeri ini, matanya yang kehijauan dan kulitnya yang terang jelas menunjukkan kalau dia berbeda.

“Negeriku berjarak separuh bumi dari tempat ini,” jawab Pengelana Muda.

“Tertawa,” Si Pemuda berkata pendek. Butuh sekian detik untuk Pengelana Muda menyadari itu jawaban atas pertanyaannya sebelumnya. Keningnya berkerut. Jadi perempuan itu dihukum mati karena tertawa?  Demi bumi yang berputar, negeri macam apa yang menganggap tertawa  adalah suatu kejahatan berat?!

“Di saat pemakaman Sang Terpilih,”  lanjut pemuda itu seolah bisa membaca pikiran Pengelana Muda.

“Meskipun begitu, apa pantas dihukum mati? Bukankah itu terlalu kejam?” tanya Pengelana Muda heran. Dia tahu pemimpin negeri ini baru saja mangkat. Itulah salahsatu alasannya datang ke tempat ini, untuk melihat secara langsung pemakaman Sang Terpilih, julukan dari mendiang pemimpin negara.

“Kau tidak memikirkan orang macam apa yang bisa tertawa saat pemakaman pemimpin negara. Jenis pemberontak yang membenci pemerintahan,” jawab Si Pemuda.

“Begitukah? Jadi perempuan itu pemberontak?” Pengelana Muda tak yakin. Perempuan mungil yang sedang digelandang menuju ke tiang hukuman itu, jauh dari gambaran pembangkang. Tak ada perlawanan samasekali meski para lelaki berpakaian militer itu membawanya dengan setengah diseret. Sekadar bersuara pun tidak.

Prosesi pemakaman Sang Terpilih baru saja kemarin dilaksanakan. Dan sekarang perempuan itu sudah menghadapi hukuman mati. Jika alasannya karena dia tertawa saat pemakaman Sang Terpilih, bisa dipastikan dia dihukum tanpa proses pengadilan yang wajar.

“Dia tak terlihat berbahaya. Mungkin tawanya cuma kelepasan karena sesuatu yang lucu melintas di pikirannya saat itu,” kata Sang Pengelana. Pemuda di sampingnya hanya mengangkat bahu tampak tak peduli.

“Bagaimanapun, itu sudah cukup bagi pemerintah negeri ini untuk mencap dia sebagai pemberontak,” kata pemuda itu kemudian. Pandangannya beralih dari Pengelana Muda ke tiang pancang.

“Pemerintah? Tapi negeri ini bahkan secara resmi belum punya pemimpin baru, bagaimana bisa sudah ada yang menerima hukuman mati?” sahut Pengelana Muda makin tak mengerti.

Dipandangnya perempuan terpidana yang sekarang sudah terikat di tiang bagai benalu menempel di pohon biangnya. Dia tak bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi perempuan itu. Sepertinya dia sudah pasrah atau mungkin putus asa. Bisa jadi masih berharap keajaiban. Prosesi pemakaman Sang Terpilih kemarin begitu agung dan sakral. Bilamanakah perempuan itu terpergok saat tertawa? Tawa macam apa hingga pantas diganjar kematian? batin Sang Pengelana  Muda dipenuhi banyak tanya.

Dia ingin bertanya lebih jauh lagi pada pemuda di sampingnya, tapi diurungkan saat dilihatnya pemuda itu tampak antusias menantikan proses eksekusi yang akan segera dimulai. Sementara Pengelana Muda masih ragu apakah dia sanggup menyaksikan eksekusi ini atau tidak. Telah dijumpainya sejumlah kematian tragis. Dia pernah melihat seorang buronan ditembak polisi, seorang anak yang mati terlindas mobil, bahkan seorang perempuan yang terjun dari lantai tujuh, namun semua itu disaksikannya tanpa dia sangka sebelumnya. Kali ini situasinya beda. Apalagi menurutnya, siapa pun perempuan itu tidaklah pantas dihukum mati. Yang dirasakannya saat ini justru keinginan kuat untuk menyelamatkan perempuan malang itu. Namun bunyi senjata yang terkokang menyadarkannya bahwa keinginannya mustahil terwujud, serentetan suara letusan berikutnya memperjelas hal itu. Dia tertunduk, tak sanggup untuk menyaksikan saat peluru menerjang Si Terpidana.

Perlahan Pengelana Muda mendongak, melihat suasana usai eksekusi. Perempuan itu masih terikat di sana dengan dahi yang mengalirkan darah. Regu penembak tampak melakukan penghormatan militer purna tugas. Penghormatan yang ditujukan pada sebuah foto sebesar papan tulis berbingkai pigura warna emas. Dua orang berseragam khaki memegangi sisi kanan dan kiri pigura. Seolah mendiang Sang Terpilih bisa melihat prosesi hukuman mati lewat fotonya.

“Ini tidak adil!”  Pengelana Muda tak bisa menahan kegeramannya. “Perempuan itu mungkin hanya tertawa di tempat dan saat yang salah. Dan karena itu dia harus dihukum mati?” suara Pengelana Muda terdengar gusar. Pemuda di sampingnya menatapnya dengan sorot mata bijak dan tenang.

“Biar kuberitahukan sesuatu padamu, Tuan, di negeriku ini orang bisa saja dihukum mati karena dua alasan yang tampaknya sepele. Dan itu berlaku untuk siapa pun. Satu seperti yang kau katakan tadi, tertawa di tempat dan saat yang salah. Kau sudah menyaksikan sendiri perempuan tadi ditembak mati karena alasan itu,” Si Pemuda berbicara dengan lambat dan jelas, bagai seorang guru mengajar muridnya.

“Dan perempuan tadi adalah kakakku,” lanjut pemuda itu dengan intonasi lebih tegas. Pengelana Muda terperangah. Ditatapnya pemuda itu dengan rasa tak percaya. Matanya bertemu dengan sepasang mata dingin milik pemuda itu, dan seulas senyum yang sama dinginnya. Hati Pengelana Muda mencelos ketika dia menyadari satu hal, wajah pemuda di hadapannya bak replika dari foto mendiang Pemimpin Negara.

“Dan alasan yang satunya lagi?” tanya Pengelana Muda dengan suara bergetar.

“Bertanya pada orang yang salah,” jawab pemuda itu dengan pelan, namun sesuatu dalam diri Pengelana Muda menyuruhnya untuk segera berlari.

***

Koesmiyati Harsanto wirausaha kuliner yang belajar menulis. Giat di Komunitas Sastra Alit, Surakarta.

Puisi

Puisi Saiful Bahri

malam

malam masih dibingungkan

dengan derita yang hujan bawa:

entah lebih jauh mana antara jarak

tanpa tempuh atau rindu tanpa temu?

pagi memilih mata hujan bertandang

merayakakan gerimis bayang-bayang

(2019)

cincin waktu

empat ribu hari daun bersemi

ia teringat bunga kembang

merayakan cincin melingkar

umpama hujan rintik berkabar

cincin hujan di tangan waktu

pertanda aku merindukanmu

suara telepon, suara hujan,

suara ayam di kebun frasa

semuanya tengah gembira

nun di alifnya hijrah pergi

ke tanah ritme mahligainya

(2019)

Malam Rabu

Suara-suara alif kiai

Serupa suruhan senja

Melampiaskan makna

Hujan tadi sore pergi

Kalimat tinggal dua

Nama aku dan kamu

Jumpa malam hanyut

Pergi ke sungai kali

Ikan-ikan diam bisu

Daun tetap tumbuh

Kaloni mimpi kata

Selatan arah kami

Ada rona perempuanku

Malam Rabu kesaksian

Menyaksikan perasaan

Bersaksi dan beraksi,

Bahwa kita ini puisi

(2019)

Zikir Waktu

Cinta dan percintaan tengah saling bermesraan.

Di luar hujan badai sedang di dalam api berandai.

Petir hitam malam menyambar serupa waktu-waktu bisu.

Berzikir adalah kebiasaan yang dirahasiakan riak doanya.

Zikir waktu. Zikir yang tak pernah dirahasiakan api malam

Di bibir waktu. Suara tengah melintas ke ubun mata alis api.

Halal kita tiga puluh hari kemudian. Gurun singgah di mata.

Berulang kali epilog dan keterbatasan alur cerita yang hanya

sampai di batas doa dan namaku menjadi waktu paling zikir

(Selasa, 30 April 2018)

Restu Kita

Kita dan waktu duduk meminum

campuran sepi dan puisi. Kongko.

Sesekali puisi dan kopi merasa

cemburu melihat rindu minum restu

Entah barangkali kita adalah mohon

yang dirahasiakan doa di ubun restu

Ya, Tuhan. Restu kita restu puisi

(2019)

pernikahan aku dan hujan

petang. pernikahan aku dan hujan disaksikan

kabut hitam yang menyambut tamu undangan

terundang petir awan duduk rapi di pangkuan

bahwa aku telah resmi disaksikan kesendirian

jejak rabun mata laun. angin hitam bertiup lunglai

hanya saja hujan kabung menerjemahkan sayap burung

ada banyak tamu undangan hadir di laman hati rumput

di antaranya adalah kenangan, kerinduan, bahkan kesepian

pernikahan aku dan hujan, basah, kuyup,

keindahan yang kuundang, yang datang bayang-bayang

(Pangabasen, 2018)

asmaraloka

“di sini, mereka lupa kata

angin dan aku bercerita;

   tutur daun aku gugur,

      cetus jauh aku jarak,

         ucap mendung aku hujan,

            kata rumput aku rasa,

ucap rasa aku kata; gampang

mencintai, tapi susah dicintai

(Bungduwak, 2018)

ilmu

belajarlah ilmu resah. paling tidak sesekali dalam ilusi.

memang iya. ilmu itu susah sekali. boleh saja kauucap

gampang, tapi kini, kau belum fasih menerangkan

bayang-bayang. tak ada ilmu gampang. merindu(pun)

butuh kamu. bahkan, mencintai butuh puisi. yang

gampang hanyalah ilmu percintaan, selain bab kerinduan

(Bungduwak, 2018)

taksa

sederas tangan hujan berdoa.

ia duduk, melamun, kadang

hijrah jatuh melilit makna abu

lunglai di mata batin kayu.

kayu-kayu daun terhindar

dari kemarau api gelisah.

searah mata hujan terpana

merias desir-desir makna.

(April 2018)

Saiful Bahri, lahir di Sumenep-Madura, pada tanggal O5 Februari 1995. Mengabdi di Madrasah Al-Huda. Mahasiswa aktif di STAIM Terate Sumenep. Selain suka menulis, juga aktif di kajian sastra dan teater “Kosong” Bungduwak, Perkumpulan dispensasi Gat’s (Gapura Timur Solidarity), Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-Huda), Perkumpulan (Pemuda Purnama), Pengasuh ceria di grup (Kampus Literasi) dan pendidik setia di komunitas (Literasi Kamis Sore). Tulisannya di berbagai media, dan beberapa Antologi Bersama. Buku puisinya: Senandung Asmara dalam Jiwa (2018).

Film, Resensi

Ida dan Kesunyian Sejarah

Resensi Film oleh Kiki Sulistyo

Okupasi Nazi Jerman (bersama Uni Soviet) ke Polandia yang dimulai pada 1 September 1939 tidak hanya mengawali Perang Dunia II di Eropa, tetapi lebih dari itu juga menyisakan luka yang susah disembuhkan, terutama di bagan sosial terkecil; di tingkat domestik keluarga. Lubang-lubang gelap sejarah berupa kejadian selama perang coba diberi cahaya penerang oleh generasi setelahnya, agar dapat terlihat apa yang sesungguhnya terjadi. Upaya itu bukan tanpa risiko, sebab bayangan kengerian masa lalu, bisa saja menggagalkan niat rekonsiliasi dan menjadikan situasi yang sudah berubah jadi lebih baik malah berlumur dendam. Nazi Jerman menggunakan mesin genosida untuk menjalankan proyek invasi dan okupasinya, menyebabkan jutaan nyawa musnah, dan menjadikan tahun-tahun itu sebagai salah satu era paling gelap dalam sejarah modern.

Film Ida garapan sutradara Pawel Pawlikowski mengambil latar belakang sejarah itu untuk setting cerita tahun 1962, hampir dua dekade setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Anna (dimainkan Agata Trzebuchowska), gadis muda calon biarawati, baru mengetahui bahwa ia sebenarnya adalah seorang Yahudi setelah bertemu dengan bibinya Wanda Gruz (Agata Kulesza). Menjelang kaulnya untuk menjadi biarawati, kepala biara wanita meminta Anna untuk menemui satu-satunya kerabatnya yang masih hidup. Setelah bertemu Wanda, Anna baru tahu kalau nama sebenarnya adalah Ida Lebenstein.

Fakta baru itu membuat Ida mendadak berniat mengunjungi makam orangtuanya yang dibunuh semasa perang. Namun seperti banyak orang Yahudi yang tewas di masa itu, makam orangtua Ida pun tidak jelas tempatnya, bahkan mungkin tidak ada. Tetapi Wanda Gruz, yang pernah menjadi seorang jaksa, punya petunjuk. Maka dimulailah perjalanan mencari makam orangtua Ida, sekaligus juga anak laki-laki Wanda yang semasa perang dititip di keluarga Lebenstein.

Sutradara Pawel Pawlikowski menjadikan perjalanan membongkar masa lalu itu sebagai narasi utama film berdasarkan naskah yang ia tulis bersama Rebecca Lenkiewicz. Dalam perjalanan, mereka dipertemukan dengan Lis (Dawid Ogronik) seorang pemain alto-sax berparas tampan, yang berada ‘di luar sejarah’ mereka dan nantinya menjadi simpang dalam kehidupan Ida. Sementara, kunci bagi pintu untuk mengetahui peristiwa masa lalu ada di tangan keluarga Skiba, keluarga yang saat itu mengambil alih kepemilikan rumah keluarga Lebenstein. Lewat Feliks Skiba (Adam Szyszkowski) mereka akhirnya mengetahui fakta yang sebelumnya hanya menjadi rahasia.

Ida dan Wanda, sebagai dua karakter utama, punya watak yang bertolak-belakang. Kontras antara keduanya seperti memberi “warna” bagi layar film yang hitam-putih. Sebagai gadis remaja yang dibesarkan di biara, Ida menyiratkan pikiran, perasaan, maupun hasratnya dalam ekspresi-eksresi kecil, nyaris datar dan dingin. Meski dalam satu-dua kesempatan, seperti kata Wanda, “ia bisa juga bersikap kasar”. Sedangkan Wanda sendiri, meski punya posisi terhormat dan kekebalan hukum, tampak kacau hidupnya. Ia intimidatif, sinis, perokok berat, suka minum-minum, dan melakukan seks bebas dengan sembarang lelaki.    

Kita bisa menduga perbuatan-perbuatan itu ialah upaya Wanda untuk melarikan diri dari hantu masa lalu, bayangan gelap yang tak bisa lenyap. Tetapi ketika kenyataan terbuka di depan mata, ada sesuatu yang tak tertanggungkan lagi, dan proses rekonsiliasi mengalami resistensi dari diri yang telanjur tenggelam dalam upaya pelarian tersebut. Puncaknya, Wanda memilih satu tindakan ekstrem bagi dirinya sendiri. Tindakan ini hadir dalam satu adegan yang bisa membuat penonton ingin berkali-kali melihat kembali adegan tersebut karena tak percaya.

Berbeda dengan Wanda, Ida Lebenstein yang secara teknis “tak mengalami” peristiwa di masa lalu, sebab dia masih terlalu kecil ketika peristiwa pembunuhan orangtuanya terjadi, menyikapi proses rekonsiliasi dengan cara lain. Tampak jelas segala sesuatu asing baginya, seolah-olah ia baru saja diturunkan ke dunia dengan kenyataan yang melingkupinya. Ida tumbuh di biara wanita, agama adalah tulang punggungnya. Meskipun begitu, bias psikologi khas remaja terpancar di ekspresinya ketika Wanda menyarankan ia, sebelum menjadi biarawati, agar mencoba dulu nikmat dunia, sesuatu yang dianggap “dosa” dalam perspektif ketat agama. Apalagi ketika ia mulai dekat dengan Lis, pemuda tampan murah senyum, si pemain alto-sax yang menumpang di mobil Wanda dalam perjalanan ke kota yang sama dengan tujuan Wanda dan Ida untuk sebuah acara konser musik.

Maka ketika-pasca tindakan ekstrem Wanda-pada akhirnya Ida mencoba minum minuman keras dan tidur bareng Lis, kita tidak melihat ada penyesalan di wajahnya, juga tidak melihat bahwa ia sungguh-sungguh menikmatinya. Ida Lebenstein seperti ingin memanifestasikan rekonsiliasi yang gagal dilakukan Wanda dengan, untuk sesaat saja, menjadi seperti Wanda, melakukan apa yang sering dilakukan Wanda. Sebelum akhirnya dengan mantap, tanpa mengusik apapun, melangkah menuju pilihan hidupnya.

Film ini minim dialog. Dialog yang hadir pun cenderung pendek-pendek. Kesunyian yang dominan seakan memendam sekam dalam gambar-gambar yang dihadirkan. Selain pada cerita dan karakter, kekuatan film ini memang bertumpu pada sinematografi. Lukasz Zal dan Ryszard Lenczewski menggarap setiap gambar dengan brilian, seperti arsitektur puitika dengan ekonomi cahaya yang natural. Dalam banyak sekuen, karakter tak diletakkan di sentral, melainkan di tepi atau di bawah bidang layar, atau terselip di antara struktur benda-benda. Gambar-gambar tersebut seakan hendak menghadirkan kenyataan betapa sejarah orang-orang biasa selalu menjadi subordinat dari sejarah arus utama hasil konstruksi otoritas, baik yang pernah maupun yang sedang berkuasa, apalagi jika sejarah itu menjadi sejarah dunia, yang pada waktunya menjadi pemicu berbagai perubahan. Padahal orang-orang biasa adalah korban sesungguhnya, martir bagi tatanan dunia yang lebih baik.

Dan sebagai orang biasa, Ida Lebenstein telah menjalankan rekonsiliasi sejarahnya dan mengalami sejarah rekonsiliasinya dalam kesunyian pribadi. Sejarah yang tak dilihat orang banyak, dan takkan dicatat dalam buku besar sejarah formal.***

  • Data Film:
  • Judul: Ida
  • Sutradara: Pawel Pawlikowski
  • Skenario: Rebecca Lenkiewicz dan Pawel Pawlikowski
  • Sinematografi : Lukasz Zal dan Ryszard Lenczewski
  • Genre: Drama
  • Durasi: 82 Menit
  • Pemain: Agata Trzebuchowska, Agata Kulesza, Dawid Ogrodnik
  • Tahun Rilis: 2014

Tentang PenulisKiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni TEMPO 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).

Esai

Mengencani Jakarta

Esai oleh Shela Kusumaningtyas

Sebentar lagi kereta akan tiba di stasiun pemberhentian  berikutnya. Begitulah pekik yang diumumkan. Speaker yang dipasang di sudut-sudut kereta melantangkan dan terus mengulang pemberitahuan itu. Para penumpang yang berjejalan di tengah gerbong telah bersiap menembus barisan penumpang lain yang juga berjibaku dengan pegangan.

Mereka yang akan turun lantas menyusun jurusnya masing-masing supaya tidak terjepit di dalam kereta yang penuh sesak. Lalu akhirnya terlewat untuk keluar kereta. Sebab pintu kereta terbuka tak lebih dari lima menit.

Penumpang yang kebetulan dapat tempat duduk pun mesti beranjak dari bangku. Mereka harus menyibak celah-celah sempit antara para penumpang yang berdiri. Kemudian mendekatkan posisi dengan pintu kereta.

Gerak mereka mesti gesit. Pasalnya, penumpang di luar juga telah menunggu untuk dapat masuk kereta. Sehingga, dibutuhkan kerja sama antara penumpang yang turun dan naik. Supaya tidak ada yang dirugikan.

Di situlah kesabaran dan emosi diuji. Penumpang yang akan turun akan menyingkal dan menghalau penumpang yang buru-buru naik. Lalu teriakan yang memekakan telinga akan dilontarkan. Bahwa penumpang naik mesti menunggu dulu semua penumpang benar-benar turun.

Sementara penumpang yang akan naik kadung tidak sabar. Mereka abaikan peringatan dari penumpang yang turun. Sebab, jika benar-benar memasuki kereta ketika penumpang dari dalam sudah tidak ada yang turun, kemungkinan untuk bisa dapat ruang di dalam kereta akan sulit.

Kereta sudah begitu sesak sehingga pasti yang akan naik akan dicegah. Lalu mereka disuruh untuk menanti kereta selanjutnya. Padahal, mereka sudah menunggu terlalu lama, hingga parfum yang mereka semprotkan dengan semangat telah menguap baunya. Daya pikat aromanya telah berbaur dengan udara yang mulai tersusupi asap knalpot.

Riasan para perempuan yang akan naik juga mulai terhiasi bulir keringat. Alis yang mereka lukis hampir makan waktu sejam pelan-pelan kehilangan goresannya yang indah. Sebab tak sengaja terseka oleh tisu yang harusnya untuk mengelap keringat.

Penumpang kereta seolah menjelma jadi sosok yang egois. Hampir semuanya menghindari sikap untuk mengalah, karena dengan mengalah, kepentingan mereka akan kacau. Misalnya, waktu untuk tiba ke kantor jadi terlambat.

Selain perilaku saling serobot dan terabas untuk masuk dan turun kereta, keegoisan juga tampak saat kereta melaju. Rasa kantuk seakan langsung menyergap para penumpang yang beruntung bisa menaruh pantat di kursi yang tersedia. Mata langsung disetel terpejam sesaat setelah penumpang duduk, supaya tidur bisa pulas sepanjang perjalanan, mulut dibungkam oleh masker. Tangan mendekap tas. Ini agar sensasi tidur memeluk guling layaknya di rumah bisa dirasakan. Tampilan yang begini menjadi semacam tanda bagi penumpang lain untuk tidak mengusik tidur mereka.

Jika sudah begitu, penumpang lain menjadi patuh terhadap kebijakan tak tertulis tapi telah mengakar di kalangan para pelaju kereta. Dengan demikian, tidak ada yang berani  menepuk pundak penumpang yang tidur.

Tentu bukan tanpa sebab tidur mereka diganggu. Karena penumpang lain akan meminta izin supaya tempat duduknya mereka berikan kepada penumpang yang lebih membutuhkan. Seperti lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan orang membawa balita.

Itulah pemandangan yang jamak ditemui di commuter line. Baik dari atau menuju Jakarta, perjalanan menumpang commuter line menjadi sebuah pertarungan usaha. Ada perjuangan yang mesti dibayarkan supaya tiba di tempat tujuan.

Sikap tolong-menolong dipertaruhkan di dalam gerbong. Kedewasaan dan kebaikan tersorot nyata dalam setiap perlintasan yang dilalui.

Memang betul, acap kali penumpang muda yang sebenarnya masih kuat berdiri dan bergelantungan enggan untuk berbagi kursi. Dalih yang dipakai adalah mereka menempuh perjalanan dari titik mulai hingga titik terakhir relasi kereta.

Dari situ biasanya perdebatan sengit tercetus di dalam gerbong. Semua adu argumen. Tiap mulut kukuh menumbangkan pendapat lawan bicara. Dan masker penutup menjadi pengaman supaya ketika terjadi cekcok soal kursi, tak ada yang mengidentifikasi wajah mereka masing-masing.

Sedangkan penumpang lain asyik jadi penonton sembari mengabadikan momen itu lewat gawai pintar. Sudah bisa ditebak, keributan itu akan sampai ke akun-akun Instagram yang kerap menyebarkan peristiwa viral dan menggemparkan.

Apakah kejadian singkat di kereta listrik tersebut bisa jadi cerminan betapa memburu waktu di Jakarta bisa mengubah kelembutan hati seseorang? Wajar saja, secara psikologis memang jiwa manusia akan lebih tertekan jika dihadapkan pada ketergesaan. Sedangkan Jakarta selalu menuntut orang-orang untuk gesit dan tahan banting meski sesempit apapun waktunya.

Maka dari itu, banyak perantau di Jakarta yang akhirnya tak lagi jadi dirinya. Jakarta mengubah mereka menjadi egois sekaligus temperamen. Pasalnya, jika tidak beradaptasi seperti itu, orang-orang itulah yang akan tergilas. Lalu keok di tengah laju Jakarta yang terus mengebut dengan kecepatan tinggi, tanpa memperhatikan sekitar.

Bahkan Jakarta nyaris lupa tentang arti bernapas lega, karena seluruh penghuninya dipaksa untuk menabrak batas demi mencapai tujuan tanpa pernah berhenti. Padahal manusia sesekali butuh rehat, hanya sekadar untuk mengamati sekeliling yang perlu dibantu.

Itulah anehnya Jakarta. Kejam tapi banyak yang cinta, sehingga jadi rebutan banyak pendatang yang nafsu untuk mengencaninya.

Tak percaya soal Jakarta yang jadi incaran bak gadis yang ditaksir banyak lelaki? Tengok saja betapa penuhnya Transjakarta yang melayani berbelas koridor? Seluruh Jakarta kini memang telah tersambung dengan bus ber-AC kebanggan pemerintah provinsi ini. Bahkan, masyarakat dari kota penyangga di sekitar Jakarta juga terlayani dengan bus ini. Trayeknya telah diperpanjang lintas provinsi dan menjamah kota satelit seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Tangerang Selatan.

Transportasi yang terintegrasi seperti itu tentu memudahkan mereka yang ingin mengadu nasib di Jakarta. Belum lagi ditambah mudahnya moda transportasi lain untuk menjangkau Jakarta. Sebut saja kereta listrik yang bisa memangkas waktu tempuh dari Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Rangkasbitung ke Jakarta.

Itu baru moda transportasi yang terhitung jarak pendek. Belum lagi layanan transportasi yang memudahkan masyarakat seantero Indonesia untuk berduyun-duyun datang ke Jakarta. Misalnya, kereta ekonomi dengan tarif termurah dari Semarang ke Jakarta bisa ditebus dengan harga kurang dari Rp. 150.000,-. Kendati penumpang mesti merasakan duduk di bangku yang keras sembari berbagi dengan satu atau dua orang penumpang lain, nyatanya tiket kereta ini hampir pasti laris terjual terutama saat akhir pekan atau pasca lebaran.

Lihat saja berita-berita yang memenuhi media massa. Kebanyakan mencatat bahwa perpindahan penduduk dari daerah ke Jakarta mencapai puncaknya ketika lebaran telah usai. Saat itu, para perantau lama ada yang “menyusupkan” pendatang baru yang tergiur dengan bayangan kesuksesan yang bakal direguk ketika bekerja di Jakarta.

Tak ayal, kontrakan petakan yang menjamur di gang-gang sempit di balik gedung-gedung pencakar akan semakin sesak terisi. Tidak ada yang kosong di Jakarta. Semua lahan bisa disulap jadi tempat tinggal atau tempat memungut rezeki. Di Jakarta yang sepi hanyalah hati para warganya yang telanjur dirasuki oleh hasrat ekonomi sebab untuk mengencani Jakarta butuh modal yang terlampau besar.

Jakarta juga telah menukar segala yang ia punya untuk penghuninya. Apa saja yang telah Jakarta beri ke penghuninya tentu tidak bisa ditukar dengan sikap angkuh para masyarakat. Bayangkan saja, Jakarta rela merusak tubuhnya. Tepian laut diuruk menjadi daratan padat demi masyarakat berkantong tebal yang butuh hunian dengan panorama laut yang membentang eksklusif. Selain itu, tanah makin dikeruk untuk disumpal dengan rel-rel yang bakal dilalui kereta bawah tanah layaknya di negara maju. Tanah juga makin digali demi mendapatkan setetes air untuk membasuh badan yang penuh peluh dan debu polusi. Sekaligus untuk memeroleh air yang mampu menghidupi keringnya kerongkongan.

Demikianlah Jakarta, banyak yang memaki namun tak banyak yang rela terusir dari ibu kota negeri ini. Jakarta mungkin seperti kekasih yang tidak romantis dengan cara-cara yang lumrah dan pasaran. Jakarta gengsi memberikan sebatang coklat atau seikat bunga bagi penghuni tercintanya. Jakarta hanya akan mencurahkan kelimpahan cintanya kepada mereka yang mau bergerak demi perubahan dan kemajuan.

Shela Kusumaningtyas, mendefinisikan diri sebagai seorang yang gemar membaca, menulis, berenang, dan jalan-jalan. Tulisannya dimuat di pelbagai media—baik cetak dan online. Telah menerbitkan dua buku di Ellunar Publisher, Kumpulan Puisi Berjudul Racau dan Kumpulan Opini di Media Massa Berjudul Gelisah Membuah. Bisa dihubungi via e-mail [email protected]

Ragam

Menangkap Refleksi Energi dari Jakarta

Pameran Seni Rupa Rob Pearce

Apa yang kita pikirkan ketika membayangkan sebuah kota bernama Jakarta? Tentu saja, banyak di antara kita akan menggambarkan sebuah kota dengan kepadatan manusia yang berlebihan, kemacetan, polusi udara, dan segala keruwetan hidup di dalamnya. Mengawali bulan Mei ini, Galeri Kertas Studio Hanafi menghadirkan pameran tunggal karya Rob Pearce “It’s All About Story: Past, Present, Future”.

Pameran yang digelar sepanjang 1 – 30 Mei 2019 ini merupakan pameran pembuka untuk rentetan program selanjutnya di tahun 2019. Rob merupakan seniman asal Inggris yang telah berdomisili di Jakarta sejak 1990-an. Ia merasa memiliki keterikatan tersendiri sejak ia pertama kali datang ke Jakarta pada tahun 1970-an. Pada awal kedatangannya, Rob menggeluti bidang fotografi dokumenter sebelum pada akhirnya, ia memilih berkarya melalui jalur seni rupa murni. Ia mengatakan, pameran ini sebagai perayaan. Sebuah perayaan dari energi Jakarta yang ia dapatkan selama tinggal di salah satu kota besar di Indonesia ini.

“Hampir semua inspirasi dan praktik seni dari karya ini berhutang pada jalanan Jakarta. Elemen-elemen yang menginspirasi diperoleh selama beberapa tahun dengan menjelahi jalan-jalan, dan jembatan, suara gaduh, tempat- tempat bising yang dipenuhi oleh debu dan asap knalpot” kata Rob Pearce.

Pada pamerannya ini, Rob Pearce memajang 15 karyanya. Di antaranya ada, Dia Masih Berdansa Denganku, Fragmen Kebenaran, Tanah Melayu: Di Dunia Facebook dan Instagram, Lingkaran Padi, Kesayangan Paco, dan sederet karya lainnya.

Foto-Foto: Dok. Galeri Kertas Studio Hanafi

Pameran It’s All About Story: Past, Present, Future dibuka pada Rabu, 1 Mei 2019 oleh John McGlynn, pendiri Yayasan Lontar. Menurut John, karya Robert Pearce yang ditampilkan kali ini adalah karya-karya fotografis sederhana yang dia kerjakan selama beberapa dekade sebelum menjadi karya-karya artistik yang luar biasa kompleks dan sangat bergairah. “Setiap elemen sesungguhnya adalah “sebuah cerita”, seperti layaknya sebuah dongeng, ia dibuat untuk dipelajari, dipahami dan memperkaya mental pembacanya,” kata Jhon McGlynn.

Pada pameran ini, Rob Pearce menggunakan material yang berasal dari buku-buku yang sudah dibacanya. Selayaknya memasang kanvas pada spanram, lembar demi lembar halaman buku itu dicopot dan ditempelkan sampai pada ketebalan tertentu pada spanram. “Kertas-kertas buku tersebut ditempeli dengan variasi atau pengolahan sederhana atas kertas warna yang biasa dipakai dalam ritual sembahyang warga Tionghoa. Dengan demikian, pameran ini menjadi penanda penting bahwa usaha untuk menemukan modus penciptaan karya kertas lainnya masih terus akan terus dilakukan Galeri Kertas,” kata Curator in House Galeri Kertas Studio Hanafi, Heru Joni Putra.

Ia mengatakan, pameran Rob Pearce ini merupakan salah satu wujud dari program-program Galeri Kertas Studio Hanafi. “Dari pameran ini sampai ke pameran penutup di penghujung tahun nanti, kita akan terus mencari kait dan simpul antar berbagai karya kertas agar salah satu wilayah penciptaan yang tidak terlalu populer dalam seni rupa kita ini tidak berujung pada keterputusan. Sebab, pada tahun 2019 ini, Galeri Kertas Studio Hanafi mengusung tema “Let’s Fill This Town With Artist,” ujar Heru.

Acara pembukaan gelaran seni itu sendiri juga turut diramaikan oleh pertunjukan musik dari Oppie Andaresta bersama Windy Setiadi, Chiko, dan Arman Chaniago. Mereka menyanyikan puisi Joko Pinurbo yang berjudul “Baju Bulan”. Pada sesi itu, acara bertambah meriah dengan kehadiran Iwan Fals yang turut menyanyikan dua puisi yang disodorkan oleh Oppie. Selain pameran, Rob bersama Galeri Kertas Studio Hanafi juga melangsungkan empat agenda lainnya, di antaranya: Diskusi Presentasi Perupa Muda bersama Rob Pearce, Diskusi Publik Pameran Rob Pearce bersama dengan Douglas Ramage, Heru Joni Putra, Ika Kusumawardhani, dan perupa Hanafi. Kemudian masih dilanjutkan dengan agenda sharing kolaborasi para pemusik dari Depok yang memiliki genre musik yang berbeda yaitu Lawe Samagaha, Elegi dan Dipo. Mereka akan berkolaborasi untuk menciptakan karya baru.  Pada sesi terakhir pameran tersebut, akan diadakan Workshop Kertas Perupa Muda bersama Rob Pearce. [] Wahyu Indro Sasongko

Cerpen

Di Atas Daun Jati, Ia Bersaksi

Cerpen Sasti Gotama

Gadis mungil itu tidur dengan tenang. Ia tergeletak di atas tumpukan daun jati kering berwarna  kuning kecokelatan. Bayang-bayang pokok jati yang menjulang terbiaskan pada tubuh yang telentang diam. Kontras dengan kulit si gadis yang  sepucat bulan. Jika bukan karena jemari Tara yang terlatih mampu merasakan denyut nadi  di lekuk leher gadis itu, mungkin para warga desa yang ikut dalam pencarian akan mengira nyawanya telah hilang.

“Nadinya lemah, tapi ia baik-baik saja,” gumam Tara, sedikit tak yakin.

Dengung lebah segera terdengar, berasal dari mulut-mulut penduduk desa yang saling berbincang,  tentang praduga-praduga, tentang kemungkinan-kemungkinan, tentang prasangka-prasangka. Seorang lelaki tua maju dan membalutkan sarung hitam yang tadi dikenakannya pada tubuh gadis mungil itu, membuatnya tampak seperti kepompong hitam. Seorang pemuda desa berbadan tegap mengangkat tubuh pucat itu dalam sekali helaan. Langkah-langkah tergesa segera terdengar dari kaki-kaki yang memijak ranting-ranting kering. Semua bergegas. Semua tergesa.

Malam masih muda dan bulan pucat bersembunyi di balik awan,  tapi Tara berfirasat malam akan terasa panjang. 

Mata gadis itu terbuka, memandang kosong ke langit-langit kamar ruang periksa. Sedetik kemudian ia mengerang. Separuh kesedihan, separuh kengerian. Suara itu menelusup ke dalam lorong telinga, menggetarkan gendangnya, dan merangsang rumah siput melepas sinyal-sinyal ke sel-sel kelabu Tara hingga ia terbangun dengan gelagapan. Hampir saja kursinya terjatuh. 

Seperti dugaannya, tadi malam memang terasa panjang. Semalaman ia membersihkan luka-luka gores di sekujur tubuh gadis mungil itu, memberinya oksigen, dan mengalirkan larutan glukosa ke dalam pembuluh darahnya yang kolaps. Gadis itu seperti baru saja diserang kera gila, atau manusia gila berotak kera. Tara tak tahu, mana yang lebih mengerikan.

Mulut mungil itu mengucap sesuatu. Tak terlalu jelas. Hampir serupa gumaman. Tara tak terlalu paham bahasanya. Ia baru seminggu menjejakkan kaki di pedalaman pulau Lombok ini demi  sebuah pengabdian.

“Bu Bidan, ia bilang apa?” tanyanya pada perempuan setengah baya yang baru saja masuk ke ruang periksa.

Bidan  itu  mendekatkan telinganya ke mulut mungil itu, lalu mengangguk-angguk perlahan. Sejenak kemudian, wajahnya berubah seolah-olah ia bertemu hantu paling seram.

Perempuan berbaju putih itu mendekat ke arah Tara yang  kebingungan. “Dok,” ucapnya bergetar, “sepertinya kita perlu memanggil polisi.”

Dari balik jendela berbingkai putih, Tara melihat tiga orang petugas berbaju cokelat mendekat. Dua diantaranya wanita. Puluhan penduduk yang tampak penasaran, membentuk setengah lingkaran di halaman puskesmas. Dengung manusia serupa suara lebah terdengar lebih tajam.

Salah seorang wanita berambut sebahu itu meminta Tara menunggu sejenak di depan ruang periksa. Ia memilih menunggu di belakang bangunan tua itu yang menghadap ke hamparan kuning sabana di kaki gunung Rinjani. Ia mendongak, memandang mendung gelap menggantung. Padahal belum musim penghujan, keluhnya. Seolah-olah alam bersekutu mengutuk peristiwa yang terjadi semalam. Sesuatu yang terlalu kejam untuk terjadi pada seorang gadis mungil berumur belasan.

Salamah namanya. Jika bukan karena peristiwa semalam, Tara tak akan memperhatikan gadis itu. Ia sama sekali tak mencolok, terlalu biasa untuk anak berusia sebelas tahun. Wajahnya bisa dibilang tak cantik dengan kulit cokelat pucat sewarna pokok jati. Rambut ikalnya berwarna hitam sedikit kemerahan dengan panjang sebatas bahu. Ia seperti gadis kampung Sasak pada umumnya. Yang membedakannya adalah tragedi yang terjadi padanya. 

Saat ia belum lagi usai menjalani masa balita, ayahnya meninggal ketika menjadi porter di gunung Rinjani. Senja itu badai, dan ia terpeleset di tebing Senaru. Ibunya menyusul pergi selamanya sebulan setelahnya, mungkin karena kepedihan yang tak bisa ditahannya. Salamah harus tinggal dengan keluarga paman jauhnya yang dipanggilnya tuaq[1]. Semua informasi ini tak tertulis di rekam medis, tapi  meluncur dengan lancar dari mulut Bu Bidan yang mengenal gadis itu semenjak ia kecil.

Tara tersentak ketika seseorang memanggil namanya. Bidan itu sudah berada di sampingnya dengan wajah setengah prihatin setengah marah. “Diminta visum, Dok. Surat permintaannya akan disusulkan nanti sore,” ucap perempuan itu sebelum berbalik badan. Baru tiga langkah, bidan itu berhenti  dan berbalik badan. “Oya, dokter tak akan percaya apa yang akan saya ceritakan nanti.”

Gadis itu terbaring di atas tempat tidur sederhana berangka kayu jati. Alas kasur yang berwarna hijau muda, senada dengan baju hijau daun khusus pasien yang dikenakannya. Wajahnya tak sepucat tadi malam. Ada rona merah muda di pipi tirusnya. Matanya memandang jauh keluar menembus kaca jendela. 

“Salamah,  saya periksa sedikit di bagian, ehm.” Tara tak bisa meneruskan kata-katanya. Biasanya ia tak pernah merasa serba salah seperti ini, terutama saat melakukan tindakan di daerah kewanitaan pasiennya. Namun, kasus ini membuat ia merasa tak nyaman. Ia memberi isyarat pada bidan yang mendampinginya untuk menjelaskan dengan bahasa daerah setempat. Perempuan setengah baya itu mengangguk, lalu berbisik lembut di telinga gadis itu. Gadis itu bereaksi. Ia mengangguk ragu, lalu memejamkan mata. Erat-erat. Terlalu erat. 

Tara berjuang memasukkan tangannya ke dalam sarung tangan lateks yang berukuran satu nomor di bawah dari yang biasa ia pakai. Namun, pikirannya bukan terpusat ke sarung tangan itu, melainkan  pada kejadian senja temaram, ketika seorang anak harus menghadapi takdir kejam.

Sepuluh menit yang lalu, bidan itu menceritakan apa yang ia dengar saat mendampingi Salamah. Katanya, dari mulut mungil Salamah yang bergetar, meluncurlah cerita tentang seorang pemuda dari keluarga terpandang dan berpendidikan yang sedang pulang dari perantauan, memaksakan hasratnya pada seorang gadis berumur belasan. Tara membayangkan teriakan gadis itu yang teredam bekapan tangan, juga tubuh mungilnya yang memberontak di tengah hutan yang temaram. Mengerikan. Terlalu kejam.

“Saya mulai periksa, ya,” ucap Tara selembut mungkin. “Lampu, Bu Bidan.” Lalu, cahaya yang kuat terarahkan tepat ke satu titik. Titik yang membuat Tara terperangah.

Sentuhan itu. Salamah merasakan sentuhan tangan berlapis karet pada bagian pangkal pahanya. Sentuhan yang membuatnya terseret ke suatu malam ketika ia masih berusia sembilan tahun.

Malam itu, ada yang membuka kelambunya. Perlahan, hampir tak terdengar, kalah dengan suara desau angin di luar dinding papan. Lalu, ia merasakan sentuhan. Perlahan, lembut, dari mata kaki kanan, lalu merayap semakin ke atas. Embusan napas yang ia dengar begitu memburu, berkejaran dengan detak jantungnya sendiri. 

“Salamah rindu Amaq[2], Inak[3]?” Suaranya berat, seperti derau badai di lereng Rinjani. Lalu ia dengar dengkusan, serupa dengusan anjing hitam yang berkeliaran di sekitar hutan. Dengkusan yang semakin lama semakin cepat, seiring rasa menyengat di sebuah titik di bagian bawah tubuhnya.

Salamah diam. Ia tak ingin diam, tapi terpaksa diam, ketika telapak yang lembab berkeringat membekap mulutnya. Ia harus diam. Saat itu, juga keesokannya, juga hari-hari selanjutnya.

Malam-malam itu selalu terulang, lalu tiba-tiba terhenti setelah pemuda yang  biasa membantu di ladang tuaq, pulang kampung. Malam-malamnya kembali hening. Namun, ia merasa ada yang hilang. Sesuatu yang tak bisa terpuaskan hanya dengan sentuhan jarinya.

Lalu pemuda itu datang. Putra tetua desa yang pulang dari perantauan. Lelaki itu tampak bersinar di bawah mentari Lombok kala ia membacakan buku-buku yang ia bawa dari kota. Buku tentang roket ataupun jenis-jenis bunga-bungaan. Puluhan anak Sasak yang mengelilinginya, mendengarkan setiap ceritanya. Termasuk Salamah. Suara lelaki itu begitu lembut. Terdengar lamat-lamat di setiap hening malam Salamah. Seperti bisikan, seperti gendam. 

“Bu Bidan,” desis Tara, “coba lihat.” Perempuan itu membungkuk dan menajamkan pandangan pada titik yang ditunjuk Tara. Tampak beberapa robekan di sana. Sesuatu yang seharusnya tak terjadi pada anak seusia Salamah.

 “Ajari aku tentang daun-daun jati yang meranggas di musim kemarau.” Lelaki itu menyanggupi permintaan Salamah, menemani ke hutan jati. 

Sore itu, Salamah sudah berhias secantik mungkin. Rambutnya yang hitam ia jepit ke belakang. Ia pilih pakaian terbaiknya, putih seperti warna bulan. Blus itu selalu berhasil menonjolkan lekuk tubuhnya yang mulai matang. Tak pernah gagal.

Seharusnya semua berjalan lancar sesuai yang ia bayangkan. Seharusnya tiap lelaki akan seperti kucing yang disodori ikan. Seharusnya. 

Namun,  lelaki itu tak menanggapinya. Ia hanya  tertawa dan malah menasihatinya. Ia akan menyesal, pikir gadis itu, geram.  Lelaki itu akan mendapat hukum adat untuk sesuatu yang ia tolak. Untuk sebuah kebohongan yang gadis itu ungkapkan pada pihak kepolisian sejam yang lalu. Seharusnya lelaki itu tak menolak. Seharusnya, jangan. 

Salamah memejamkan mata. Ia menikmati sentuhan yang begitu ia rindukan dari tangan bersarung lateks. Seperti hujan yang turun menyiram tanah kering sabana Sembalun setelah kemarau panjang. Ia menginginkan hujan ini selalu ada. Juga sentuhan itu.

Ia membuka mata dan menatap lurus pada iris cokelat gelap berbingkai kaca mata yang menatapnya. Salamah tersenyum, sekejap. Ia, rindu.

Tara memandang sorot mata sendu itu. Sekilas, mata itu berkilat, binal. Lalu redup kembali. Tara terkesiap. Ia bingung, bagaimana menuliskan laporan visumnya. Memang ada robekan pada selaput dara. Namun bukan luka baru. Tak ada luka baru. Hanya ada bekas koyakan lama. Sepertinya sangat lama.***


[1]Tuaq: paman

[2]Amaq: ayah

[3]Inak: ibu

Sasti Gotama Seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan Cerita Penafsir Mimpi, Antologi Journey to Infinity, Antologi Jejak Perempuan, Antologi Perempuan di Sisi Waktu, Antologi Kampung Humor dan Antologi Rahasia Cinta Bunda.