
Curhat Zoe Lora
Minggu pagi ini aku sengaja bangun lebih awal. Kupikir mulai sekarang aku akan mengisi pagiku dengan olahraga. Ada sepeda statis di teras yang entah baru berapa kali kupakai sejak awal dibeli. Baru sekitar lima belas menit berlalu, bahkan keringatku juga belum sempat keluar, mama muncul dengan kantong belanja terlipat di tangan kanan, serta dompet di sebelah tangannya yang lain.
“Ke pasar ya, Mah? Aku ikut ya.” Tanpa menunggu jawaban, aku turun dari sepeda statis dan mengintilnya. Jarak rumah dengan pasar tradisional terdekat sekitar setengah kilometer. Jadi lumayanlah, aku bisa berjalan kaki sejauh satu kilometer pagi ini. Awal yang cukup baik untukku. Lain halnya dengan mama, setidaknya 3-4 kali seminggu pasti belanja ke pasar.
Saat itu kami berjalan mengambil rute ke selatan, melewati SD-ku dulu. Karena belum terlalu jauh dari lingkungan rumah, tentu saja sesekali kami berjumpa dengan tetangga. Ada yang sedang duduk di teras, sengaja berjemur matahari pagi. Ada yang sedang menyapu halaman. Ada juga yang berpapasan di jalan karena hendak pergi ke suatu tempat. Pemandangan normal yang memang akan sering dijumpai saat tinggal di kampung. Aku sering mengistilahkannya dengan basa-basi. Eits, bukan dalam hal buruk. Bukankah memang begitu kodrat hidup bermasyarakat? Menjadi manusia sosial yang peka terhadap sesama sebagai bentuk kepedulian.
Sepanjang perjalanan, mama sudah seperti kaset yang memperdengarkan kisah hidup anak si A yang barusaja lulus S2 Psikologi di UGM. Atau suami si B yang pulang kerja dari kapal pesiar dengan membawa mobil baru. Termasuk tentu saja perihal si C, janda tak beranak yang sedang menjadi perbincangan hangat saat ini, ia memutuskan pindah agama karena diduga sedang dekat dengan pria kaya. Tanpa terasa, bangunan pasar sudah mulai terlihat. Obrolan kami akhirnya terputus. Sepertinya aku bisa cukup terhibur juga dengan cerita hidup orang lain. Beruntung, mama tidak mempertanyakan soal perkembangan skripsiku yang sampai saat ini masih bertahan pada Bab III.
“Kerapunya berapa sekilo?” tanya mama pada pria penjual ikan laut. Keduanya terlibat dalam prosesi tawar menawar. Aku tidak begitu memperhatikan karena mataku tertuju pada simbah penjual jenang tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku mendekatinya setelah sebelumnya pamit pada mama dengan mengatakan kalau aku akan menunggu saja di dekat penjual jenang hingga mama menyelesaikan belanjanya.
Kulihat dagangan simbah masih cukup banyak dan lengkap. Aku mengatakan padanya kalau aku ingin seporsi lengkap yang kurang lebih berisi: biji salak, jenang sumsum, jenang mutiara, ketan hitam, dan jenang gempol. Simbah mengangguk tersenyum sembari menyiapkan pincuk daun pisang sebagai wadah. Aku menerima ulurannya, lalu menikmati dengan sendok yang juga terbuat dari daun pisang, atau biasa orang sebut suru. Tidak lama, banyak pelanggan datang mengerubung. Aku sampai tidak enak dan bermaksud duduk menjauh, namun simbah mengatakan bahwa aku tidak perlu ke mana-mana. Jadi aku memutuskan menurut, menyantap jenang lezat di hadapanku sembari sesekali melihat interaksi antar manusia di pasar.
“Berapa, Mbah?” tanyaku setelah ibu-ibu pembeli terakhir pergi.
“Limaribu,” jawabnya singkat.
Aku menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan dan mengatakan tiga porsi lainnya dibungkus saja. Simbah mengangguk.
Perhatianku berpindah pada seorang pria paruh baya penjual pepaya dan pisang yang berada tepat di samping kiriku. Ia sedang bernegosiasi dengan seorang calon pembeli yang berniat memborong. Namun karena harga yang diminta masih terlampau rendah, penjual sepertinya belum rela melepas dagangannya. Hingga pada satu titik, telah terjadi kesepakatan harga meski kulihat wajah penjual tidak terlalu senang dengan keputusannya sendiri. Hal itu tampak nyata sesaat setelah pembeli berlalu dengan membawa puluhan papaya dan lima tandan pisang raja di mobilnya, lalu penjual bergumam, “Lebih baik tidak untung daripada merugi.”
Tidak lama, simbah memanggil dan menyerahkan bungkusan pesananku. Usai mengucapkan terima kasih dan pamit, aku memutuskan menyusul mama ke dalam pasar. Aku berjalan cukup pelan. Selain karena penuh sesak dengan manusia, semalam juga hujan, jadi masih ada sisa-sisa genangan air yang memungkinkan lantai menjadi licin. Sepanjang pencarianku akan keberadaan mama, sesekali aku memusatkan perhatian pada interaksi antar penjual dan pembeli. Tentu saja prosesi tawar menawar tidak terhindarkan. Hanya saja, seringkali aku merasa tidak nyaman ketika pembeli menawar seenaknya pada penjual yang sebagian besar telah lanjut usia. Bukan ingin sok-sokan, hanya saja aku kesal. Aku merasa penampilan ibu-ibu pembeli itu tidak sepantasnya dipakai saat ke pasar, maksudku, aku melihat mereka mengenakan perhiasan yang sangat mencolok. Selain itu, kalimat yang terlontar juga seperti tanpa filter. Tidak lagi memandang sedang bicara dengan orang tua yang sepatutnya bisa lebih sopan, bukan dengan berteriak-teriak atau memaksa begitu. Aku curiga, mungkin saja sebenarnya mereka sedang memiliki masalah di rumah, lalu melampiaskan kekesalan dengan menindas orang-orang tak berdaya berkedok alasan belanja ke pasar. Bisa juga, sebenarnya emas-emas yang melingkari tubuh mereka bukanlah emas asli. Mereka hanya ingin mencari perhatian. Bukan mencari perhatian pencopet tentunya, karena menurutku, pencopet sekarang sudah lebih pintar memilih target mana yang memang benar-benar berdompet tebal dan beremas asli.
“Loh, katanya nunggu di luar,” tegur mama yang seketika mengalihkan perhatianku. Aku hanya nyengir. Kulihat tentengan di kedua tangannya sudah cukup banyak. Aku mengambil salah satu kantong belanjaan terbesar. Mama berjalan menuju lapak penjual tahu tempe. Kebetulan, penjualnya simbah-simbah. Aku memperhatikan mama dengan perasaan cukup was-was. Aku tidak ingat kapan terakhir ikut mama belanja ke pasar. Sepertinya sudah lama sekali, mungkin waktu masih kecil.
“Satunya berapa, Mbah?” tanya mama.
“Delapan ribu, Den,” jawab penjual.
Aku melihat mama mengambil lima papan tempe dan menyerahkan ke penjual untuk dibungkus. Perutku mulai mulas menantikan apa yang akan terjadi setelahnya. Mama mengeluarkan selembar lima puluh ribuan dari dalam dompet, lalu memberikannya ke penjual.
“Tidak usah kembali ya, Den? Saya kasih tujuh saja bagaimana?” tawar penjual.
Mama mengangguk dan meraih bungkusan berisi tujuh papan tempe, lalu memasukkannya ke kantong belanjaan yang kupegang. Seketika aku berpikir, ternyata ada juga cara menawar yang cukup elegan. Setelahnya kami berlalu pergi. Mama memutuskan memanggil tukang becak untuk kembali pulang mengingat belanjaan kami yang banyak. Aku menurut saja. Sepertinya, untuk beberapa waktu ke depan, aku akan olahraga dengan memanfaatkan sepeda statis di teras rumah saja. Tidak akan ikut mama belanja ke pasar lagi sampai aku benar-benar mengerti dan telah siap.***
Zoe Lora
Seorang mahasiswi semester akhir yang hobi traveling dan mengamati hal-hal di sekitar. Penikmat roti tawar yang dicelup cokelat panas.



M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Buku-bukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital, serta sejumlah antologi nasional.



Muhammad Gibrant Aryoseno, lahir di Kulon Progo, DIY. Biasa menulis novel, cerpen, dan puisi. Karya-karyanya dapat dijumpai di beberapa media daring, termasuk di laman Instagram-nya (@gibrantha). Novelnya “Machine with a Heart” adalah pemenang Wattys Indonesia 2022 kategori fiksi ilmiah.



