Kepada Seorang Novelis yang Malas Bersilat Bahasa Api di Depan Publik
Sekawanan
api kata-kata dalam mesin kepalamu
melorot
menjelma ular-ular beracun di sarang
hati-hati
para penguasa yang kehilangan induk
kasih-sayang.
Sementara,
kau sendiri terbenam dalam genangan kesunyian
kesunyian
yang jauh dari suara-suara tuhan yang kebingungan
mencari
obat untuk bangsanya yang sekarat, akibat persoalan-
persoalan
kekuasaan yang semakin memberat.
Barangkali,
kesunyian adalah keruwetan ingatanmu menganyam
dongeng-dongeng
dari sisa air mata kenangan tentang
orang-orang
jelata terpinggirkan, atau tentang bandit-bandit
gendut
yang mencita-citakan surga kekuasaan.
Itulah
kenyataan satir yang menyihir manusia getir memasuki
hutan-hutan
cerita api dalam novelmu. Namun, nyala api nyalimu
masih
sepercik korek api di tengah angin puting beliung:
padam
induk kobarnya, bak susut nyali nyala api hatimu.
Sebab,
kau hanya mampu melayangkan layang-layang kata tajam
di
langit-langit negerimu yang terancam kegelisahan.
padahal,
demonstrasi kata-kata tak lagi mampu menyembuhkan
duka-cita
kehidupan. Di saat kepulan asap persoalan hukum,
korupsi,
agama dan kekuasaan menyesaki paru-paru negeriku-negerimu.
Setan di Hatimu Memanen
Kesesatan
Kepadamu yang terlahir
sebagai imam kesesatan
Tak
kutemukan tuhan dalam dirimu
Hanya
berlembar-lembar bahasa dosa
dan
metafora kesesatan setebal buku
kamus
dibaca waktu.
Padahal,
telah kucari letak tuhan
paling
strategis di tikungan jalan hatimu
di
mana denting doa-doa bisa kudengar
dari
sepasang sunyi bibirmu karat dusta.
Barangkali
kau perlu menjadi bayi kencur
kembali
ke gendongan ibumu. Lalu dewasa
sebagai
manusia wibawa.
Sebab,
walau selautan air tobat pun tak mampu
menghapus
kata-kata dusta dan keangkuhanmu
di
kejauhan mata sana.
Tuhan Sedang Berkabung
Dulu
agama adalah ladang surga kasih-sayang
kini
menjadi biang cacimaki, pembunuhan
dan
permusuhan.
Di
saat nama tuhan disadekahkan
ke
orang-orang tolol soal agama
demi
keuntungan massa dukungan.
Dikara
segalanya menyenang-nyenangkan tuhan.
Padahal,
tuhan sendiri tertawa terkencing-kencing
atau
sedang hobi berkabung di hutan sunyi sana.
Melihat
raja-raja ahli ilmu agama
Berkoar-koar
meremuk-redamkan
rumah-rumah
agama lain.
Dikira
agama sendiri surga,
dan
yang lain adalah neraka.
Agamaku Kopi dan Tuhanku
Puisi
Di
saat agamamu tak lagi mengepulkan sedap aroma
Kasih-sayang
dan perdamaian. Kuputar haluan
Hatiku
ke secangkir kopi agama legit kenikmatan.
Di
sini, tuhanku bukan lagi ciptaan mesin imajinasi
Tapi,
tuhanku realita yang berwujud kata-kata puisi.
Hatinya
abadi menyimpan diksi-diksi sakit hati
Atau
melunakkan metafor-metafor rasa benci.
Dan
rakyatnya adalah perasaan-perasaan sendiri
Yang
terbuat dari sebekan-sobekan hati habis dicabik-cabik
Anjing-anjing
agama kenangan yang tak menyimpan
Rasa
manis ketenangan.
Pada Hatimu
Pada segelas kopi, kuseduh kental hatimu
manis
di lidah pahit luka di cecap hatiku
kali ini dedak tidak melekat di lepek waktu
Kecuali jernih sendumu yang kuaduk lalu
Kuseruput kata sampai larut rasa resah di bibir jiwa
dengan pintu mata terbuka tanpa lelap alpa mengunci.
Reportase Akhir Tahun
Tahun
terbaring lemah di ranjang waktu dengan
muka
senja, sebentar lagi susut ke liang kematian
Sebelum
tahun di kubur tengah malam dan letusan
bintang
api merayakan tahun perawan di langit kelam
Kukalkulasi
detik-detik kehadiran baru tahun
lalu
kukalikan hatiku dengan hari-hari sendu
Agar
genap suka-luka
tigapuluh satu
kenangan
di
almanak puisiku.
Ayat Pengantin Senja
Menanam beling dendam dalam hati
lebih pedih dari segunung
api membakar diri
Pengantin
senja haramlah saling
memutihkan mata
atau
gemar menjerat kata sekedar menyapa
Lihatlah
betapa masak buah resah
di ranting hati
Merasa
malulah kepada kerukunan burung-burung di langit
dari
gelap ke terang senyap di ribaan waktu
bagaikan alpa ada apa apa janganpun
tutur sapa
tetapi diam mendekap
dendam bukan berarti aman
dari bala bencana
Bencana sepasang jiwa
lebih dahsyat berguncang dari gempa dunia
meski keduanya saling menghapus corak resah di kedua
wajahnya
tetapi bila di bilang buah
hati, sepeser pun ada getir di dalam hatiku
Duh,
pengantin jiwa sambung kembali asmara dalam hati
lalu
eratkan tali-tali setia pada pohon kasih meski berumur tua
sebab percintaan yang tua
mengalahkan masa muda
Kecupan Terakhir
Lapar
atau kenyang satu padu dalam rahim ini
menangis
dan tertawa wajib kawinkan di aula hati
supaya tak ada cerai dan perang
dalam diri
Dan
hidup tak usah cerewet melulu di pertanyakan
walau
kematian setia menjadi momok menyeramkan
di
masa muda sampai tua
Padahal
maut bukan binatang buas yang hobi menerkam
mengapa
harus ditakutkan mengapa,
kematian
adalah kecupan terakhir yang di berkati Tuhan.
Kematian Kawanku
Kematian
adalah teman lamamu
yang
kutunggu jua sejak hidup ini
Siapa
yang mahir menafsirkan
maut
kan datang ?
Tetapi
dirimu sendiri paham
bahwa
kematian akan menjelang
Setelah
bisikan malaikat kepada napasmu
sendiri
dirasakan kini
Pengantin Songkok dan Sarung
Berulangkali
kunikahkan songkok dan sarung di aurat diri
setiap
keluar kuberjalan atau tamu menghampiri
Penghulunya
hatiku sendiri,
berucap ijab ikhlas sebulat bumi
Boleh
sekedip mata waktu sejoli
songkok dan sarung bercerai
tetapi
tak boleh keluar pagar
Sebab
jika kepala kehilangan
songkok, lebih baik tulangku
seputih
kapur ketimbang putih mata
Atau
perut ke kaki telanjang merana menalak sarung, menjadi sobek
baju
kewibawaanku legam mata kancing hatiku dan tercemar
Sebab
songkok dan sarung adalah seperangkat bendera yang tak pernah
sungkan
kukibarkan di tiang tubuhku di mana-mana.

Norrahman Alif lahir di Jurang Ara
-Sumenep Madura. Menulis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ) dan
beberapa karyanya sudah pernah dimuat di berbagai media. Buku puisi terbarunya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan.
0 Komentar