Katalog

Cerpen

Keadilan yang Dikunyah Gerimis

Cerpen Diana Rustam

Kucing liar yang selalu hinggap di bingkai jendela kamar Gerimis itu, mati hari ini. Menurut Pak Harum—pemilik kontrakan tempat Gerimis dan Ilalang menyewa kamar—kucing itu tertabrak sepeda motor Pak Januari, laki-laki paruh baya yang rumahnya berjarak 100 meter dari kontrakan milik Pak Harum.

Kucing hitam itu, tidak sengaja Gerimis temukan di bawah jendela kamarnya dalam keadaan sudah kaku dan dikerubungi semut.

Pak harum bercerita dengan semangat, sehingga Gerimis bisa membayangkan kejadian tertabraknya kucing hitam itu seperti halnya menonton sebuah film.

“Kucing itu melintas di jalan depan kontrakan, sepertinya ingin bermain dengan seekor kucing lain yang ada di seberang. Sewaktu kucing itu tepat berada di tengah jalan, motor Pak Januari lewat dengan kecepatan tinggi. Kelihatan kalau Pak Januari sedang buru-buru.”

“Lalu?”

“Lalu, brak! Ujung ban depan motor Pak Januari menabrak perut kucing hitam. Kucing hitam menggelepar sebentar. Saya langsung melompat dari duduk saya waktu itu. Padahal, saya sedang ingin duduk, karena saya baru saja selesai membersihkan sumur karena kamu dan Ilalang menjatuhkan bungkus sabun cuci  ke dalam sumur. ”

“Hm… Lanjut, Pak, ceritanya. Bungkus deterjen  jangan diungkit dulu,” kata Gerimis protes.

“Anggap saja itu jeda iklan. Baik, saya lanjut, ya. Tadi sampai mana?”

“Pak Harum melompat dari duduk yang… padahal… Ah sudah, pokoknya begitu.”

“Nah, saya dekati kucing itu, tapi kucing itu mendadak berdiri dan lari ke arah belakang rumah.”

“Lalu?”

“Saya ikuti, tapi…lari saya kurang kencang, kamu tahu, kan, kalau saya waktu itu sedang capek karena baru saja membersihkan sumur karena—“

Ucapan Pak Harum dipotong Gerimis, “Karena bungkus detergen yang masuk ke sumur, itu kerjaan saya sama Ilalang!”

“Nah itu! Oh iya, barusan kamu kubur di mana kucing itu?”

“Di tanah kosong sebelah rumah Pak Januari. Di bawah pohon pisang.”

“Baguslah…soalnya pekarangan kita ini sempit.”

Gerimis menarik napas panjang. Meskipun ia punya rambut gondrong yang selama ini terkesan seperti anak muda yang cuek, tapi sebenarnya Gerimis termasuk orang yang gampang terharu.

Singkat cerita, Gerimis menangis.

“Gondrong, Kok, nangis. Nangisin kucing pula, gak cocok,” sindir Pak Harum.

“Panjang pendeknya rambut tidak menentukan kadar ketahanan mental, Pak.”

“Bahasamu, kok, canggih? Gak seperti biasanya? Eh, sory, saya lupa kalau kamu itu mahasiswa hehehehehe.“

Gerimis tidak menanggapi. “Kucing itu saya kasih nama Keadilan, Pak.”

Pak Harum mengangkat kedua alis matanya yang tebal.

“Keadilan itu sudah jadi belahan hati saya. Tiap malam dia saya ajak ngobrol. Keadilan tidak protes kalau saya selalu mengeluh. Semua masalah saya, saya ceritakan padanya. Dia duduk seperti roti di jendela, sambil mendengarkan saya bicara. Sekali-kali Keadilan saya kasih makan mie instan, Keadilan tidak menolak, malahan dia makan dengan lahap.”

“Lalu?” Pak Harum menagih cerita dilanjutkan.

“Mula-mula keadilan itu takut-takut mendekat. Eh, lama kelamaan setelah saya pancing dengan ikan asin dia mulai berani. Pertama-tama di bingkai jendela, lama-kelamaan dia tidur di tempat tidur saya, Pak. Tapi saya tidak keberatan, toh Keadilan juga menyenangkan, tidak pernah merusak barang-barang dalam kamar saya. Jangankan kasur, kalau dia butuh baju, akan saya pakaikan di badannya.”

“Eh, apa kamu juga membicarakan saya pada kucingmu?”

“Tenang saja, Pak. Kucing tidak suka bergosip.”

“Iya, ya. Tapi kenapa namanya Keadilan? Bukan si Hitam, Si Manis, atau si Belang?”

“Tidak mungkin si Belang, soalnya bulunya melulu hitam.”

“Oh iya, kamu betul. Terus?”

“Ya, begitulah, Pak. Saya merasa sangat kehilangan. Saya sedih.”

“Tapi kenapa harus Keadilan?” Pak Harum masih penasaran.

“Entahlah… Keadilan langsung saja muncul di kepala saya waktu itu. Tapi si Keadilan ini memang punya sikap yang adil. Contohnya, sewaktu saya kasih makan, dia tidak mencoba mengambil ikan bagian saya, padahal bagian saya ada di depannya. Kucing lain mungkin akan menggasak milik tuannya kalau makanannya sudah habis. Saya pernah lihat kucing yang rakus, seolah-olah kucing itu tidak pernah kenyang. Kucing itu memakan semua ikan di atas meja tanpa sisa, tulang pun ikut dikunyah sampai habis.”

Keluh kesah Gerimis selesai ketika Ilalang sebahatnya pulang dari kerja. Pak Harum menepuk-nepuk pundak Gerimis. Ilalang ikut menenangkan Gerimis setelah mendengar cerita yang panjang itu dituturkan kembali oleh Pak Harum. “Sabar, ya. Keadilan tidak mati, dia hanya pindah ke tempat lain,” kata Ilalang.

***

Suatu malam, ada ketukan di pintu kamar Gerimis. Segera Gerimis menyudahi menonton televisi dan beranjak membuka pintu. Di depannya, Pak Januari sudah tersenyum kemudian memberi salam.

“Begini, Dik Gerimis…kejadian bulan lalu itu, saya minta maaf,” Kata Pak Januari setelah duduk dan sedikit berbasa-basi. “Saya baru tiba dari kampung kemarin, dan langsung mendengar sedikit cerita dari Pak Harum soal kucing hitam yang saya tabrak itu. Saya betul-betul tidak tahu kalau kucing itu kucing Dik Gerimis. Waktu itu saya terburu-buru, soalnya dapat kabar dari kampung kalau Bapak saya habis jual sawah dan saya mendapat bagian.”

Gerimis merenggut. “Lalu?”

“Ya, saya mau minta maaf. Sudah terlambat sebenarnya. Tapi, kan, tidak ada kata terlambat untuk minta maaf dan menyesali kesalahan, bukan begitu?”

Gerimis menghela napas. “Jadi kalau kucing itu bukan punya saya, Pak Januari gak akan minta maaf?”

“Bukan begitu hehehehe. Anu, kok, masalahnya jadi ribet, ya. Intinya, saya itu paham kesedihan, Dik Gerimis. Tapi itu, kan, hanya seekor kucing, lagi pula—“

Ucapan Pak Januari mendadak dipangkas Gerimis. “Cuma? Anda ini benar-benar tidak menghargai kehidupan. Anda tidak adil pada makhluk hidup.”

“Anu, bukan begitu, Dik Gerimis. Kejadian itu, kan, di luar kesengajaan saya.”

“Hm…sudahlah. Keadilan sudah tidak ada, saya marah-marah pun, dia tidak akan bangkit dari kuburnya.”

“Wah, Dik Gerimis ini memang bijak sekali. Oh iya, ini saya bawakan goreng pisang buatan istri saya. Dia titip salam untuk Dik Gerimis. Goreng Pisang ini dilapisi cokelat dan parutan keju. Rasanya enak sekali. Dik Gerimis pasti suka.”

Setelah meletakkan sekotak pisang goreng yang dibawanya, Pak Januari pamit pulang.

Gerimis mengintip kotak kertas yang dibawa Pak Januari, aromanya memang menerbitkan air liur. Gerimis berpikir, kalau Keadilan masih ada, pasti dia tidak akan menolak disuguhi makan malam dengan pisang goreng. Gerimis kemudian mengajak Ilalang menyantap pisang goreng cokelat keju itu ditemani secerek kopi sebagai kawan menonton pertandingan sepakbola sampai larut.

Esok harinya, Pak Januari datang lagi membawa dua sisir pisang kepok yang sudah matang sempurna. “Dik Gerimis, pisang di rumah saya banyak, ini saya bagi lagi. Soalnya perut saya sudah tidak sanggup menampung semua pisang ini. Saya hampir muntah disuguhi pisang setiap hari. Bayangkan, pagi-pagi saya dikasih pisang rebus, siang dikasih kolak pisang, sore dikasih pisang bakar, malam dikasih pisang goreng, apa tidak mabok pisang lambung saya?

“Bawaan dari kampung, ya, Pak?” tanya Gerimis.

“Oh, bukan. Ngapain saya repot-repot bawa pisang dari kampung. Toh di sini juga banyak yang jual di pasar. Pisang ini hasil panen dari pohon pisang yang saya tanam di tanah kosong samping rumah saya hehehehehe.”

Gerimis terbelalak. “Astaga!”

“Apanya yang astaga?”

“Saya sudah memakan Keadilan, saya sudah mengunyahnya dengan perasaan senang sampai kenyang. Kejam sekali!”

Pak Januari bingung. “Pisang dan keadilan, apa hubungannya? Sejak kapan keadilan bisa dikunyah? Kalau keadilan diinjak-injak, saya biasa dengar di televisi. Begitu kata pembawa berita.”

Gerimis menatap Pak Januari. Mulutnya masih menggumamkan nama Keadilan.

Makassar, September 2025.

______________________________________________

Diana Rustam, menulis cerpen dan puisi, tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Facebook: SuaraTonggeret. Ig: @dianarustam_

Cerpen

Penambang Bermahkota Sorban

Cerpen Heri Haliling

Samar bayang pelan memperjelas gambar. Pada sebuah cermin, rupa terungkap. Tak lagi ada rangkuman 5 jari menutup muka. Oleh tahta ilmu yang terbilas harga.

Nyatanya keberlakuan inilah yang bersemayam dalam diri Komisaris Daif. Mata tuanya nyalang memandang ke arah gerung ekskavator yang menguliti Pulau Sanuri. Komisaris Daif terkekeh. Semua sesuai mimpinya tentang umat. Sang Daif pencipta kesejahteraan itu. Meskipun sekecil lalat pun tahu bahwa pria bersorban itu tak ubahnya parasit pemakan inang.

Kabut debu menari di udara, membawa aroma logam, oli, dan ispa. Komisaris Daif menutup hidung dengan sejadah yang ia lingkarkan di leher. Di singgasana yang ia duduki sekarang, jemarinya mengetuki meja di depan. Meja yang berlapis kaca itu dulunya berisikan peta Sanuri. Di sana ada sungai, hutan hujan tropis, tanah gambut, dan garis-garis kontur pegunungan berusia ribuan tahun. Komisaris Daif mengangguk mantap, semua kini berganti oleh angka, titik bor, dan jalur hauling.

“Hutan bukan untuk dilukai, suamiku. Sungguh sikapmu kini terlampau berani,” tukas Luria Hanifa, istri Daif.

Sang suami memutar kursi mewahnya. Secerah cahaya yang dulu gemilang mulai redup meski sorban yang mengintari kepalanya itu pernah merengkuh Luria dalam suci asmara.

Komisaris Daif berdiri menjejak lantai kayu jati yang sesekali bergetar oleh blasthing tambang. Tangannya masuk ke saku jubah hijaunya. Dari dalam ia keluarkan tasbih kecil. Sekejab biji-biji tasbih itu mulai berputar beriring dengan kedut dua bibirnya.

“Jika kita tidak masuk dalam dimensi kapital ini, kaum yang percaya padaku hanya akan jadi jongos di negaranya sendiri. Melalui PT Umat, kita akan mulai restorasi baru. Mungkin tak adil, istriku. Tapi telah dari dulu bahwa tak akan ada tanaman bunga di ladang api.”

“Ladang api itu dari kita, Abi,” potong Suni, pemuda tegas dengan roman pucat terutama pada lingkar mata.

“Selesaikan kuliahmu dulu. Sampai masa di mana kau paham arti kebangkitan barulah pendapatmu kudengar,” urai Daif kepada putranya yang berusia bujang itu.

Suni yang kuliah jurusan kehutanan semester 6 maju menghadap sang ayah.

“Izin Suni jelaskan arti kebangkitan yang Abi elu-elukan,” katanya sambil mengeluarkan peta. Suni bentangkan peta yang ia pelajari dan yakini. Peta itu bertema vegetasi lahan dari hasil citra satelit dan data kemungkinan longsor. Luria mendekat menunggu penjelasan. Tidak dengan suaminya yang kokoh pada prinsipnya.

“Struktur geologi yang rapuh, seperti lapisan tanah lepas, retakan batuan, dan kemiringan lereng yang curam, membuat Pulau Sanuri rentan terhadap longsor,” urai Suni mengetuki peta dengan jari. Dia melanjutkan, “Kemiringan lereng tebing sangat terjal lebih dari 45 derajat, lokasi gerakan tanah berada di area tambang terbuka dengan metode penambangan teknik under cutting, ditambah kondisi tanah pelapukan litologi batuan yang labil. Ini belum semuanya,” tatap Suni ke ayahnya yang beku enggan peduli. “Potensi metana di Pulau Sanuri telah terdeteksi dengan kadar yang belum diketahui.” Suni menahan napas, “Cukup, kembalilah Abi seperti dulu. Hal ini tidak mungkin diteruskan. Ini genosida ekologis, Abi. “

Komisaris Daif melipat tangan. Dia lalu berjalan pelan menuju koridor samping. Sebuah gelas berisi kopi yang tinggal setengah ia dekati. Dingin kopi ia cecap, tapi ambisi itu tetaplah panas.

“Kita ini khalifah, bukan penjaga taman. Bumi diciptakan untuk dieksplorasi, bukan untuk disembah. Reboisasi adalah romantisme kaum urban. Kita bicara kebutuhan umat, listrik, baja, dan kemajuan. Semuanya telah diperhitungkan oleh sarjana geologi di perusahaan ini. Analisamu itu hanya sekelumit risiko.”

Luria mendekat, “Suamiku, kau bilang Islam itu fleksibel. Tapi bukan elastis sampai bisa membungkus mesin bor dan alat berat. Masa bencana itu datang, semua tafsirmu pun akan runtuh.  Bisakah nanti kau jelaskan ayat tentang longsor yang menelan desa? Apakah ada dalam khotbahmu tentang hadis yang mampu menenangkan ibu-ibu yang kehilangan anak?”

“Diam kalian!” bentak Daif. Dan ekspresi itu tak pernah Luria lihat seumur rumah tangganya sekarang.

Ruangan itu pun menebar rasa kaku dan panas meski mesin pendingin terus berupaya embuskan napasnya.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu menarik perhatian Komisaris Daif. Dia segera berjalan untuk membukanya.

“Ohh Anda, Tuan Cheng? Mari masuk,” pinta Daif semringah oleh tamunya.

Tiga pria berjas rapi masuk ke kantor. Luria dan Suni yang melihat itu kemudian memutuskan pergi.

“Jadi bagaimana perkembangannya Tuan Cheng, apakah nikel kiriman saya cukup?”

Tuan Cheng yang bertubuh tambun dengan mata sipit itu menyulam jari jemarinya.

“Tuan Daif, saya ke sini atas saran atasan Anda juga. Tuan Abidah, selaku menteri SDA dan Energi memandati Tuan untuk tingkatkan ekspor nikel.”

Komisaris Daif memundurkan punggungnya agar lebih mudah bersandar di kursi. Sedikit gelisah mencuat di antara air mukanya.

“Pak Abid belum menghubungi saya terkait ini?”

Satu ajudan Tuan Cheng maju untuk mengantarkan map. Tanpa dipersilakan, Komisaris Daif segera membuka map itu. Isinya surat kontrak persetujuan dari Tuan Abid. Bahkan ada tanda tangan sosok negarawan yang Komisaris Daif tak bisa tolak.

Membaca itu tubuh Komisaris Daif mendadak penuh menguap. Seperti hendak meledak memikirkan tentang kemungkinan yang bakal terjadi.

“Hanya itu saja yang saya mau kabarkan ke Anda, Tuan Daif,” kata Tuan Cheng berdiri. Keduanya bersalaman meski raut wajah Komisaris Daif tak secerah dan seramah di awal. Kebalikannya, roman puas dan perasaan menang membuncah dalam sinar wajah Tuan Cheng.

Setelah langkah ketiganya menghilang di balik pintu, Komisaris Daif lalu menarik laci. Dia ambil sebuah buku catatan dan membukanya. Target rencana kerja, kalkulasi perhitungan, dan keuntungan komersil keluarga tertulis detail di buku itu. Komisaris Daif melepas sorban di kepalanya dan menaruh di meja. Uban di kepala itu bukanlah dusta dari sebuah usia dan mungkin pemikiran. Dia sadar semua tak akan berjalan sesuai targetnya. Alunan pikiran itu juga mengarah tentang sumpah serapah yang akan ia sandang dengan lebih gencar. Betapa tidak, semua ekspor nikel tersebut meningkatkan titik pengeboran. Berpotensi besar warga Sanuri semakin murka. Ironis lainnya, bahkan Pak Abid sendiri baru setengah melakukan pembayaran.

Blarrrr!

Mendadak bunyi dentuman seperti guntur menggelegar dari balik bukit Pulau Sanuri. Semua bergetar hebat dalam penuh keterkejutan. Komisaris Daif yang hampir terjatuh dari singgasananya menyaksikan bagian selatan seperti diatapi awan hitam yang mengepul disusul jilatan api setan raksasa. Lekas ia pasang sorban itu dan berdiri. Dia sadar betul ini bukan guncangan dari bom blasthing.

Brakk! Pintu terdobrak dari luar. Luria dan Suni berlari mendekati sang ayah.

“Abi! Longsor di jalur tambang selatan!” teriak Suni.

Alarm di pusat kantor meraung. Bagai semut semua pekerja dari karyawan lapangan, driver, sampai OB berhambur keluar. Telepon berdering.

Tanpa salam pembuka, Komisaris Daif yang mengangkatnya segera diberitahukan si penelepon tentang insiden dan potensi.

“Keluar dari pulau segera, Pak. Lakukan evakuasi! Kemiringan lereng dalam lubang tambang mengakibatkan longsor dahsyat! Parahnya longsoran itu juga mengoyak lapisan tanah yang mengandung metana! Ini bencana!”

Maka makin terperanjatlah Komisaris Daif. Dan rasa kengerian bercampur ketakutan itu sangat jelas terbaca oleh istri dan anaknya.

*

Seminggu berlalu. Dalam ruang persidangan, hakim menyetujui permohonan jaksa penuntut umum yang membacakan surat tuntutan mengenai bencana tambang di Pulau Sanuri. Tuntutan itu merupakan gabungan dari beberapa elemen bidang meliputi WALHI, tokoh adat, Dinas Kehutanan, bahkan dari pihak perusahaan. Bencana longsor dan meledaknya gas metana menjadikan sebagian Pulau Sanuri hancur berkalang tanah dan batu. Korban jiwa dan kerugian materi dipaparkan dengan rinci. Jaksa pembela seperti hilang taring manakala data telak mendebatnya.

Komisaris Daif duduk di kursi pesakitan. Mendengarkan setiap dakwaan tentang keteledoran sehingga menghilangkan berpuluh-puluh nyawa nyatanya adalah luka yang tersiram garam. Terlebih pihak tingkat tinggi juga ikut mendakwa dengan alasan perjanjian kontrak telah dibuat tapi mangkrak di tengah jalan. Perusahaan mengalami kerugian besar ditambah harus ikut terlibat dengan semua anarki masyarakat yang terdampak.

Luria dan Suni tak mampu berbuat banyak kecuali hanya tangisan sebagai simbol pengantar lara. Mereka berdua yang mendengar dakwaan bercampur hujatan tak sanggup lagi ingin berucap atau bertindak apa.

Bagaimana ini? Pikir Komisaris Daif. Dakwaan 20 tahun penjara telah tersemat. Semua aset dibekukan. Hutang membelit keluarga yang ditinggalkan. Belum lagi ancaman-ancaman untuk keluarganya. Sebagai pria yang dikenal tegas dan mengerti agama, ia tak hendak menangis. Namun kejadian ini sungguh menjungkalkan asanya. Sejatinya ia sadar mengenai bagaimana sebuah profesi mesti terikat pada satu tempat. Mungkin jika bukan pujian dari para penjujungnya atas kemampuan dan prestasi Komisaris Daif. Dia tak akan terima posisi tinggi ini. Pujian yang menjatuhkan. Atau mungkin memang ini hanya jebakan agar ada yang dikambinghitamkan. Akh! Ngiangan tentang dirinya yang mengajari santri mengaji di pondok mendadak muncul kembali. Mengajari ilmu yang seharusnya berlaku tegak lurus. Apa pun, baginya semua hanya nestapa. Komisaris Daif memutar kepalanya. Dia lihat istri dan anaknya yang rapuh itu. Dalam ringkih jiwa, mulut keringnya melontarkan suara lirih.

“Maafkan Abi, keluargaku. Harusnya Abi tak mencampurbaurkan antara ilmu agama dan ambisi dunia.”

________________________________

Heri Haliling, nama pena dari Heri Surahman  Pria kelahiran Kapuas, 17 Agustus 1990 itu adalah seorang guru di SMAN 2 Jorong di Kalimantan Selatan. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif sebagai penulis. Beberapa karyanya antara lain Novel Perempuan Penjemput Subuh (Aksara Pustaka Media, 2024), Novelet Rumah Remah Remang (J-Maestro, 2024), dan buku kumpulan cerpen Perempuan Penggenggam Pasir (Guepedia, 2025).  Adapun untuk cerita pendek, karya-karyanya telah dimuat di beberapa majalah sastra dan koran digital atau cetak. Untuk berdiskusi dengan Heri Haliling pembaca dapat berkunjung ke akun Ig heri_haliling

Cerpen

Mo dan Kuci

Cerpen Septi Rusdiyana

Untuk Pak Rio

Mo masuk kamar dengan tergesa. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh lima menit. Ia pulang sejam lebih lambat dari biasa karena petugas keamanan kantor menahannya.

“Babi-babi gendut itu lama-lama mulai menyusahkan,” gerutu Mo.

Mo meletakkan tas dan goodybag di ranjang. Berjalan menuju akuarium khusus berisi enam ekor kecoa. Empat dewasa dan dua sisanya masih kecil. Mo memanggil semua dengan sebutan Kuci. Ia raih botol berisi air di dekatnya, lalu menyemprot ke arah serangga-serangga bertubuh mengilap itu dari atap akuarium yang penuh lubang kecil. Mereka berlarian tak tentu arah. Beberapa ada yang terbang meski pada akhirnya menabrak dinding-dinding kaca. Tak ada celah yang bisa membuat mereka kabur.

“Kuci-kuci, makanlah, Sayang.” Mo memasukkan tangan kanannya di lubang samping akuarium untuk meletakkan sepotong keju. Ia juga mengisi wadah kosong di dalamnya dengan susu cair. Malam itu Mo tak sempat makan malam di luar bersama teman-temannya. Kini, ia kelaparan. Binatang-binatang cokelat itu bisa cukup menghiburnya. Setidaknya, untuk sesaat.

Mo sangat memperhatikan peliharaannya. Setiap dua hari sekali ia selalu membersihkan akuarium dengan cairan disinfektan. Mo juga selektif pada kualitas makanan dan minuman yang diberikan. Ia ingin membuktikan bahwa semua binatang itu sama. Tidak ada istilah binatang hina karena jorok. Mo yakin, asal lingkungan dan makanannya selalu dijaga, maka binatang itu akan tumbuh sesuai dengan kebiasaan hidupnya.

Ponsel Mo berdering. Ada panggilan masuk dari Kara, teman Mo. “Cepat datang atau aku akan mati kelaparan,” ancam Mo. Panggilan pun terputus usai suara di seberang menjelaskan bahwa dirinya tak lama lagi akan sampai.

Mo duduk di ranjang. Menyaksikan para Kuci berkerumun di sekitar keju dan susu. Sejenak Mo seperti sedang berpikir. Ia teringat dengan gosip yang akhir-akhir ini berembus di kantor tempatnya kerja. Memang tidak spesifik menyebut namanya, tapi Mo sangat yakin jika perempuan langu yang mereka maksud adalah dirinya.

Tadi sore, saat Mo menyusuri koridor menuju dapur, sekelompok staf dari divisi perencanaan tertawa ngakak, seperti tak tahan menahan geli. Namun, saat Mo masuk, seketika tawa itu terhenti. Tapi bukannya menjadi hening, justru lanjut dengan saling berbisik dengan volume yang bahkan bisa terdengar dari ruang sebelah. Sialnya, setelah Mo keluar dari dapur usai mengambil tumbler miliknya, mendadak tawa ngakak kembali bergema. Fenomena itu membuat Mo akhirnya yakin, dialah sumber lelucon itu.

“Sori sori, aku harus dua kali pindah tempat karena warungnya jorok.” Kara nyelonong masuk ke kamar. Ia menyerahkan bungkusan berisi salad buah jumbo pada Mo. Tanpa ba bi bu, gegas Mo membuka dan menikmatinya.

“Kamarmu sudah lama nggak dibersihin, ya?” tuduh Kara. Raut wajahnya mulai berubah. Ia bahkan menutup hidungnya.

“Sembarangan kamu!”

“Soalnya bau.”

“Bau salad dan susu maksudmu?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Bau kecoa,” jawab Kara singkat. “Menjijikkan,” lanjut Kara.

Mendengar kalimat itu, sejenak Mo menghentikan aktivitas makannya. Mo merasa tidak pernah mencium bau kecoa di kamarnya. Ia bahkan tak pernah lupa membersihkan kamarnya setiap hari. Ia juga yakin telah memberi makanan dan treatment terbaik bagi binatang kesayangannya itu. Jadi rasanya tidak mungkin Kuci-kucinya bau.

“Seperti sedang di rumah hantu saja,” komentar Kara. Tangan Kara menyambar parfum di atas meja rias Mo dan mulai menyemprot ke seluruh ruangan. Saat sampai di sudut kamar, Kara mematung. Ia melirik ke arah Mo dengan tatapan menyelidik. “Kamu gila ya? Bisa-bisanya kamu memelihara kecoa. Di kamar. Bahkan kamu bisa sembari makan?”

Mo melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Ia juga tidak berminat menjawab pertanyaan Kara. Kara masih terus saja mengomel seperti ibu tiri yang kesal saat anak kandungnya kehilangan kesempatan untuk didekati pria kaya gara-gara ulah anak tirinya. Sesaat sebelum akhirnya Kara memilih keluar kamar meninggalkan Mo, ia sempat mengatakan satu kalimat yang membuat Mo tertegun: Hanya kamar-kamar alien yang punya aroma begini.

Mo mulai kehilangan nafsu makan. Bukan karena bau kecoa seperti yang Kara bilang, melainkan kalimat terakhir Kara membuat Mo kembali teringat pada gosip-gosip yang ia anggap murahan itu. Mo kesal. Apa salahnya jika ia berteman dengan alat pel lantai? Mereka jauh lebih bisa mendengarkan keluh kesahnya dengan tanpa menghakimi. Mo sering duduk di atas tumpukan kardus bekas dan bicara dengan sarang laba-laba di gudang belakang. Tak ada prasangka. Tak ada nasihat-nasihat klise seperti di buku-buku motivasi yang kalimatnya justru membuat kepala Mo sering berdenyut.

Sekarang, Kara, satu-satunya sahabat yang Mo pikir bisa mengerti dirinya, memilih kabur hanya karena Mo memiliki kandang kecoa di kamarnya. Mo berpikir. Apakah usahanya sia-sia? Bukankah ia telah memberi perawatan dan makanan terbaik untuk binatang peliharaannya itu? Tapi kenapa Kara bilang masih bau?

Mo mulai menciumi aroma tubuhnya sendiri. “Mungkin Kara dan orang-orang di kantor benar. Bau itu bisa jadi berasal dari tubuhku,” gumam Mo. Mo tertawa. Semakin lama tawanya semakin keras. Ia tak lagi peduli dengan Kara. Tak juga peduli pada rekan-rekan kerjanya. Ia hanya ingin bekerja seperti biasa. Menyelesaikan tepat waktu, dan memilih makan bersama kucing kampung yang sering mendatanginya di halaman belakang kantor saat Mo istirahat. Atau sesekali Mo akan naik ke gudang barang bekas di loteng kantor untuk sekadar bernyanyi sambil berdiri dekat jendela, menikmati pemandangan makam dan aroma kemboja yang menurut Mo semua penghuninya suka pada suara Mo. Mo kangen teman-teman di kantornya itu. Rasanya ingin segera esok dan kembali menjalani rutinitas seperti biasa.

Mo lapar lagi. Sejenak ia lupa pada embusan-embusan kabar terkait dirinya di tempat kerja. Mo melanjutkan suapan demi suapan yang sebelumnya sempat terhenti. Mo tidak peduli lagi dengan apa pun. Mo hanya memikirkan satu hal: sore tadi, sebelum bos Mo kembali pulang, bos Mo sempat meminta bertemu di ruang kerja. Di sana, untuk pertama kalinya sejak ia bekerja di perusahaan, Mo benar-benar merasa menjadi manusia.

“Aku tidak masalah dengan hobi dan kebiasaan anehmu itu. Aku sudah minta petugas kebersihan dan keamanan untuk tetap meletakkan perabot yang sudah kau anggap kawan itu di tempat seharusnya. Bahkan, di satu tempat agar kau senang,” kata bos Mo dengan senyum terbaik yang pernah dilihatnya.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya lebih kamu sukai: mengerjakan pekerjaanmu, atau bekerja di tempat ini. Yang pasti, kebiasaan-kebiasaanmu di luar jam kerja tidak pernah menggangguku.”

Sejak mendengar kalimat-kalimat itu, Mo merasa terlahir kembali. Suci. Bersih. Meski tak wangi, setidaknya tidak bau. Itulah yang Mo rasakan.

Setelah menuntaskan makan salad buahnya, Mo beranjak dari ranjang menuju kandang di sudut kamar. Ia mengeluarkan binatang cokelat mengilap itu, lalu mengajak Kuci-kucinya untuk mandi bersamanya. Ya, Mo hanya perlu memilih aroma sabun yang bisa memberi efek menenangkan. Bukan sekadar untuknya sendiri, tapi juga untuk binatang kesayangannya.***

______________________________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.

Samping

MENYENTUH JEJAK DEBU

Di tengah hiruk pikuk hidup, ada kalanya kita menemukan diri sendiri terdiam di depan kandang ayam, merenungi butiran pakan jatuh ke tanah. Atau, mungkin, kita terpaku pada pantulan diri di jendela, jari-jari kita tanpa sadar menyentuh jejak debu, seolah ada rahasia tak terucap. Ini bukan sekadar momen kosong, melainkan jeda yang sengaja kita ciptakan, pelarian yang sering kali kita sadari. Kita melakukannya bukan karena membenci manusia, melainkan kita butuh ruang untuk bernapas, ruang yang tidak menuntut, tidak menghakimi, dan tidak pernah berkhianat.

​Fenomena ini sebuah paradoks. Di satu sisi, ada pembelaan halus, sebuah narasi yang kita ciptakan sendiri: “Aku lebih baik menghabiskan waktu dengan merawat tanaman daripada melampiaskan amarah pada anakku.” Ini tindakan protektif, cara untuk menjaga diri dan orang-orang terdekat dari sisi gelap kita. Memilih untuk menyalurkan energi pada benda mati atau makhluk yang lebih sederhana, karena interaksi dengan mereka terasa aman, tanpa risiko, dan minim drama. Mereka tidak akan mengkhianati, tidak akan ada perberdebatan. Gawai tidak akan pernah memarahi kita, dan tanaman tidak akan mempertanyakan keputusan hidup kita.

​Namun, di sisi lain, ada kenyataan yang lebih getir: terkadang, apa yang kita pikir pelarian, sebenarnya pengalihan. Kita menjadi begitu mahir mencintai hal yang tidak bisa membalas, hingga kita lupa bagaimana mencintai sesama manusia. Cinta kita kepada gawai, kendaraan, atau hewan peliharaan menjadi begitu besar, hingga tak sadar hati kita justru mengeras terhadap orang-orang paling dekat.

​Ironi ini juga sering digambarkan dalam karya fiksi, dan salah satunya dapat kita temukan dalam novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Kita melihat sebuah pergeseran nilai yang begitu menyakitkan. Ayah Margio, Komar, sosok yang kejam terhadap istri dan anaknya. Ia seringkali memukuli mereka, melampiaskan amarah dan frustrasi. Namun, ironisnya, ia begitu peduli pada ayam-ayamnya. Merawat, memberi makan, bahkan mungkin bercerita pada mereka. Kita bisa saja berargumen Komar memelihara ayam sebagai pelarian, sebagai cara menyalurkan sisi baik yang tidak mampu ia tunjukkan kepada keluarganya. Itu pembelaan yang kita inginkan untuknya, senyum kecut yang menyadari betapa rumitnya hati manusia.

​Namun sebenarnya keadaan itu gambaran satir tajam, mengungkap kebenaran yang jauh lebih menyakitkan: perbuatan Komar bukan pelarian, melainkan manifestasi dari nilai yang bergeser. Baginya, ayam adalah aset yang lebih berharga daripada istri dan anak. Ayam bisa menghasilkan telur, daging, dan uang. Istri dan anak, di mata Komar, hanya beban. Ini sindiran jenaka sekaligus tragis: Seorang manusia rela merawat ayam dengan penuh kasih, sementara ia tega merusak jiwa dan raga keluarganya sendiri. Ini bukan perlindungan diri, tetapi tentang kehilangan esensi kemanusiaan.

​Mencintai benda mati, lalu melupakan manusia. Fenomena ini, sayangnya, bukan sekadar fiksi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menyaksikan betapa mudahnya kita jatuh cinta pada hal yang tidak bisa membalas. Kita melihat orang-orang lebih peduli pada kondisi mobil atau sepeda motor mereka daripada kepada orangtua yang sedang sakit. Kita menghabiskan ribuan jam bersama gawai, tapi tak punya lima menit pun untuk mendengarkan cerita anak usai pulang sekolah. Ini ironi memilukan, kenyataan yang seharusnya menggelitik nurani.

​Mengapa kita memilih jalur yang lebih mudah ini? Mungkin, benda dan hewan tidak akan pernah berkhianat. Mereka tidak akan mengecewakan kita dengan kata-kata kasar atau sikap acuh. Gawai akan selalu merespons sentuhan jari, dan hewan peliharaan akan selalu menyambut pulang tanpa pertanyaan. Keterhubungan dengan mereka terasa aman, minim risiko, dan memberikan ilusi kontrol yang tidak pernah bisa kita dapatkan dari manusia lain. Kita rela terperangkap dalam kepalsuan koneksi, memilih kepastian dari benda mati daripada kerumitan dan ketidakpastian dari hubungan antar manusia.

​Mungkin ada yang perlu kita lihat dari samping, bahwa di balik kasih yang kita curahkan pada benda mati, ada kesepian mendalam. Kita mengisi kekosongan hati dengan hal-hal yang tidak bisa membalas cinta, karena kita takut untuk mencintai dan dicintai manusia yang bisa melukai. Kita membiarkan hati kita mengeras, seolah itu tameng pelindung dari kekecewaan. Tanpa kita sadari, hal itu justru mengunci diri dalam sebuah penjara emosional, di mana kita menjadi satu-satunya tahanan.

​Ini pertanyaan yang harus kita jawab: kepada siapa kita mencurahkan cinta? Apakah mencintai benda dan hewan sebagai pelarian sehat, atau sebagai pengalihan yang menyakitkan? Kebaikan yang kita berikan pada benda dan hewan adalah refleksi dari sisi terbaik kita. Namun, kebaikan itu sia-sia jika tidak mampu kita berikan pada sesama manusia. Lalu bagaimana? Kita sering berkata: “Aku lebih suka ditemani kucingku daripada teman-temanku.” Kalimat itu bisa saja pelarian sehat, tapi bisa juga menjadi pengakuan menyakitkan: kita sudah terlalu lelah dengan drama manusia, hingga kita memilih untuk bersembunyi di balik hal-hal yang tidak bisa menuntut.

​Ini bukan tentang menghakimi, tetapi tentang refleksi. Mungkin, kita bisa mulai menyayangi manusia dengan cara yang sama seperti kita menyayangi barang-barang kita. Kita tidak membiarkan mobil kita berkarat, lalu mengapa kita membiarkan hubungan kita memburuk? Kita tidak membiarkan tanaman layu, lalu mengapa kita membiarkan persahabatan kita mati?

​Ada haru dalam kesadaran ini. Ketika kita menyadari terkadang kita berlaku adil pada hal-hal remeh dan berlaku sewenang-wenang pada manusia, kita akan tertegun. Kita mungkin tersenyum kecil, senyum yang diselimuti penyesalan, saat menyadari betapa lucunya cara kita mencintai. Kita memeluk erat gawai, seolah itu nyawa kita. Tapi, di balik layar, kita bisa saja melupakan ada manusia yang butuh pelukan jauh lebih hangat.

​Pada akhirnya, esensi kemanusiaan tidak terletak pada seberapa besar kita bisa mencintai, melainkan kepada siapa kita mencurahkan cinta. Kita hanya perlu menyingkirkan debu di hati, agar bisa menyentuh jejak debu dari kemanusiaan yang nyaris terlupa. Dan kita tidak ingin orang-orang terdekat ada yang menjelma seperti Margio, yang tega membunuh bukan karena jahat. Ia membunuh karena tidak pernah diajari cara mencintai. Ia tidak tahu bagaimana menjadi manusia, karena tidak pernah melihat bagaimana seorang manusia yang sedang bertindak dengan layak. Ia hanya tahu bagaimana meniru amarah, dan itu satu-satunya pelajaran yang ia dapat dari ayahnya. Harimau itu ada karena tak ada kasih yang mengisi dirinya.***

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Belakang

NEGARA: KAMUS DAN TIKUS

Negara dibuat dari kata-kata. Kalimat yang gagah tapi bisa salah. Kita tidak sedang membayangkan peristiwa membuat roti. Beberapa hal digunakan dan dikerjakan agar tersaji roti itu tampak mata. Benda-bendanya bisa disentuh dan dipegang tangan. Rasa yang bisa dicicipi. Pilihan rupa dan warna yang mengikuti selera. Padahal, selera cepat berubah jika tidak menyadari adanya ketetapan atau pembakuan.

Negara dan roti itu berbeda! Kalimat yang gampang dimengerti murid di SD, tidak perlu meminta tanggapan dari sarjana. Negara bukan dibuat dari adonan tepung, telur, coklat, dan gula. Negara bukan makanan yang disukai anak-anak. Pada situasi yang misterius, negara sangat sulit dimengerti oleh anak yang memiliki pengetahuan beragam roti: nama, harga, rasa, dan lain-lain, Negara itu tidak menarik. Yang lezat adalah roti.

Kita mengulangi lagi kalimat yang gagah mungkin mengandung salah: “Negara dibuat dari kata-kata”. Yang kita pikirkan adalah Indonesia. Ingatan sebagai negara merujuk 1945. Tahun itu memiliki kejadian-kejadian bersejarah, yang memunculkan tokoh-tokoh yang nasibnya sulit ditebak untuk mulia atau terpuruk. Indonesia itu 1945.  Negara itu teks proklamasi dan undang-undang dasar. Kita menyangka itu kebenaran yang terjadi dalam sejarah.

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia,” kalimat penentuan sejarah. Yang terimajinasikan adalah tulisan tangan Soekarno ketimbang kertas berisi teks hasil mesin tik yang dikerjakan Sajoeti Melik. Sejarah ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa yang sedang bertumbuh dan sangat dipengaruhi oleh politik.

Pada 1945, bahasa Indonesia “beruntung” setelah Jepang membuat kebijakan mengandung dusta: pelarangan penggunaan bahasa Belanda dan “merestui” bahasa Indonesia. Ingat, yang disampaikan Jepang adalah taktik mencipta jinak, patuh, dan tertib. Bahasa Indonesia masuk dalam kepentingan membenarkan hasrat kekuasaan meski terselenggara dalam waktu yang singkat.

Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo yang duduk bareng dan bercakap di waktu menegangkan sebelum perwujudan teks proklamasi adalah sosok-sosok yang memiliki penguasaan beberapa bahasa. Yang pasti mereka mampu berbahasa Belanda. Kebiasaan membaca buku dan pergaulan intelektual membenarkan mereka untuk mengetahui atau menguasai bahasa Inggris, Prancis, Arab, Jerman, Latin, dan lain-lain. Di arus pergerakan politik, mereka tentu memuliakan bahasa Indonesia.

Mereka berada dalam zaman pergolakan bahasa yang ikut menentukan pembentukan Indonesia. Maka, sumber-sumber belajar beragam bahasa memberi bekal mengolah identitas dalam laju politik, yang masuk lakon besar Perang Dunia II. Yakinlah bahwa Soekarno punya keseriusan memajukan bahasa Indonesia! Percayalah bahwa Mohammad Hatta membuktikan kemahiran berbahasa Indonesia melalui tulisan-tulisan, tidak cuma pidato!

Jadi, Indonesia dibuat dari kata-kata? Sementara kita menganggap itu benar sambil melacak asal kata-kata yang akhirnya dipilih dalam penulisan teks proklamasi. Konon, bahasa Indonesia cepat bertumbuh disokong oleh pelbagai bahasa, yang berdatang sejak berabad-abad lampau. Bahasa Indonesia itu “bahasa baru”, yang bergerak lincah sekaligus salah tingkah dalam masa kolonial Belanda, berlanjut pada masa pendudukan Jepang.

Apakah membentuk negara dari kata-kata memerlukan kamus? Kita belum bisa menjawabnya secara tepat. Yang bisa dilakukan adalah mundur ke masa perang untuk menilik produksi dan penyebaran kamus-kamus. Pentingkah kamus dalam pembuatan sejarah yang bimbang dan menakjubkan?

Kita menemukan buku kecil yang memiliki judul dalam tiga bahasa: Inggris, “Melajoe”, dan Belanda. Kita sodorkan yang berbahasa “Melajoe” saja berkepentingan mengingat 1945. Buku itu berjudul “Kamoes ketjil terdiri dari 25.000 kata-kata Melajoe, Belanda, Inggeris”. Buku di tangan adalah cetakan kedua. Kita menyebutnya “Kamoes Ketjil” sambil mencarikan tempat dalam pembentukan negara (Indonesia).

Dulu, “Kamoes Ketjil” tersedia di Boekhandel Sunrise yang beralamat di Klenteng Pekapoeran 3, Batavia. Kita mengetahuinya di stempel warna merah yang terdapat di halaman awal. “Kamoes Ketjil” pernah dimiliki dan dipelajari oleh Liem Hok Soen, yang tinggal di Petjienan Keitjil 32, Malang. Buku yang pernah berada di Malang, yang disahkan melalui stempel pemilik. Pada suatu masa, buku adalah kepemilikan yang membuat orang mafhum kehormatan intelektual dan kebangsaan. 

Yang membuat buku itu mengejutkan adalah tempat terbit. Siapa pernah menyangka “Kamoes Ketjil” menghubungkan Indonesia dan Australia? Buku diterbitkan di Melbourne, Australia. Pergaulan tiga bahasa yang turut dalam lakon pembentukan Indonesia memiliki alamat yang jauh. Maka, penjual dan pemilik buku yang berada di Indonesia berarti melakukan proses yang tidak mudah. Buku datang dengan kapal menyeberangi laut atau samudera. Yang belum kita ketahui adalah harga. “Kamoes Ketjil” berasal dari Australia mungkin berharga mahal berdasarkan jalur distribusi, kualitas cetakan, dan jumlah eksemplar. Ada nama yang kita perlu mengetahui biografinya atau sumbangsih dalam keilmuan. “Kamoes Ketjil” disusun oleh N Helsloot, yang diberi keterangan: “Head Malay Department Netherlands Indies Government Information, Service, Melbourne.”

Apakah “Kamoes Ketjil” pernah dipegang oleh kaum pergerakan politik atau kaum terpelajar dalam hari-hari penentuan Indonesia, sebelum dan setelah 17 Agustus 1945? Apakah kamus itu berguna bagi para pedagang, militer, seniman, atau mata-mata? Yang pasti tahun penerbitan membuat kita penasaran dalam meragukan atau meyakini bahwa negara disusun dari kata-kata.

Di kata pengantar cetakan kedua, kita cuma mendapat sedikit keterangan. Yang kita baca adalah yang berbahasa “Melajoe”. Kamus itu belum menyebut bahasa Indonesia. Penyusun menerangkan: “Soenggoehpoen kamoes ketjil ini djaoeh dari pada sempoerna, tetapi didalam peraktek njata pergoenaannja. Kenjataan itoe tampak bahwa didalam tempoh satoe tahoen tjetakan jang pertama jang tiada sedikit banjaknja, sama sekali habis terdjoeal dan tjetakan jang kedoea dipandang telah perloe poela.” Kita menduga cetakan pertama: 1944. Penganta untuk cetakan kedua ditulis di Melbourne, 30 April 1945.

Kita mengutip paragraf yang terpenting: “Bahagian daftar kata-kata bahasa Belanda dan bahagian bahasa Inggeris pada tjetakan jang kedoea ini tiadalah beroebah. Bahagian daftar kata-kata bahasa Melajoe diloeaskan dengan kira-kira seriboe perkataan. Berhoeboeng dengan demikian, maka nama boekoe ketjil ini diganti.” Pengumuman bahwa ada penambahan jumlah yang banyak untuk kata-kata dalam bahasa “Melajoe”. Artinya, bahasa itu bertumbuh subur dalam beragam sisi hidup. Kita mengingat dua peristiwa penting menandakan perkembangan bahasa “Melajoe” atau Indonesia: Kongres Pemoeda II (1928) dan Kongres Bahasa Indonesia I (1938). Pembuat buku kecil ditentukan jumlah kata, yang dibuktikan dengan pemberian judul. Bila kita membaca di judul ada 25.000 kata, yang memberi tambahan banyak adalah bahasa “Melajoe”.

Kita mulai dulu dengan mengambil satu kata dalam peengantar: “tempoh”. Di teks proklamasi (17 Agustus 1945), kita pun menemukan “tempo”. Namun, kita jangan tergesa menganggap Soekarno atau Hatta menggunakan “Kamoes Ketjil” dalam keputusan memilih diksi “tempo”. Mereka pasti sudah berurusan dengan “tempo” melalui beragam bacaan atau percakapan. Yang membedakan adalah penulisan. Di “Kamoes Ketjil”, kita membaca itu “tempoh”. Mana penulisan yang benar: tempoh atau tempo?

Kita membuka “Kamoes Ketjil”. Di halaman 56, “tempoh” dalam bahasa Belanda adalah “tijd”. Di bahasa Inggris: “time”. Konon, “tempoh” itu berasal dari bahasa Latin, yang datang dalam bahasa Indonesia lewat bahasa Italia. Terbuktilah bahasa Indonesia bertambah oleh kedatangan bahasa-bahasa dari segala arah. “Tempo” tercantum dalam teks proklamasi. “Tempo” terdapat dalam kamus-kamus. Pada suatu masa, “Tempo” dijadikan nama untuk terbitan majalah dan koran. Penulisan bukan “tempoh” seperti dalam “Kamoes Ketjil”.

1945 itu penentuan revolusi. Istilah yang sudah muncul sejak lama, akhir abad XIX atau awal abad XX. Para jurnalis, pengarang, dan tokoh politik di tanah jajahan terbiasa menulis dan berseru revolusi. Pastilah diksi itu berasal dari bahasa asing untuk diterima dalam bahasa Indonesia. Dulu, ada yang menulis “revolusi” dan “repolusi”.

Di “Kamoes Ketjil”, halaman 98, kita menemukan lema “revolution”. Kata itu diterjemahkan “pemberontakan”. Di bahasa Belanda, ditulis “revolutie”. Pada masa kolonial, “revolusi” itu bikin gejolak dan guncangan. Para tokoh atau partai politik dituduh “revolusi” biasa berkaitan dengan “radikal”, “kiri”, “pemberontak”, “komunis”, dan lain-lain.

Pada masa bergolak, Soekarno yang mengaku paling paham revolusi. Ia sering mengucap revolusi dalam pidato. Jumlah diksi revolusi dalam tulisan-tulisannya mungkin mencapai ribuan. Ia menghendaki revolusi Indonesia. Padahal, kita tidak menemukan “revolusi” di teks proklamasi. Namun, peristiwa-peristiwa sesudahnya, Soekarno sering menginginkan pengulangan dalam penggunaan revolusi. Kita bisa membayangkan itu kata paling dahsyat di Indonesia dalam masa kekuasaan Soekarno. Kini, revolusi adalah kenangan yang tidak perlu mengikutkan adanya “Kamoes Ketjil”.

Kemarin, orang-orang membuat peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Yang dirayakan adalah teks proklamasi. “Kamoes Ketjil” cetakan kedua juga berusia 80 tahun. Apa ada yang mau membuat peringatan meski kecil-kecilan?

Yang merayakan adalah tikus. Setahun yang lalu, “Kamoes Ketjil” dibeli dan masuk menghuni rumah bersama ribuan buku. Pembeli dan pemilik sembarangan menaruh “Kamoes Ketjil”. Buku yang menua ditaruh di tumpukan buku di bawah ranjang (amben). Di situ, tikus-tikus berkeliaran, meninggalkan telek, dan berani mengencingi buku-buku. Tikus-tikus membuat “peringatan” dengan merusak punggun buku. Kain di punggung buku rusak parah. Sebagian kain mungkin masuk ke perut tikus. Sisa-sisanya berceceran.

Yang pasti, tikus tidak makan huruf. Ia hanya makan kain yang digunakan di punggung buku. Tikus tidak doyan kata-kata dalam bahasa Inggris, “Melajoe, dan Belanda. Urusannya dengan “Kamoes Ketjil”, bukan untuk belajar bahasa. Tikus pun tidak ingin menengok sejarah.

Akhirnya, buku yang berusia 80 tahun tak mulus lagi. Ia tetap tampak memikar meski terluka. Kita melihatnya sebagai kamus yang teluka, belum kamus yang terlupa. Yakinlah, jumlah kata dalam kamus tetap 25.000, tidak ada yang dimakan tikus atau dihilangkan oleh tikus. Yang payah adalah pembeli dan pemilik “Kamoes Ketjil”. Ia hampir berdosa besar saat membiarkan “Kamoes Ketjil” menjadi mangsa tikus-tikus. Ia yang berlagak mau mengerti sejarah justru biadab dalam kehancuran buku.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Ragam

Wawancara Imajiner Bersama Wiji Thukul: Kata yang Tak Pernah Istirahat

Tempat: Sebuah warung kopi di pojok langit. Wiji Thukul telah datang lebih dulu, mengenakan kaus oblong bertuliskan “Lawan!” dan sandal jepit. Ia memesan kopi tubruk, tanpa gula. Kami duduk di bangku kayu, dengan asap rokok yang menggantung malas di udara.

Pewawancara: Mas Wiji, pertama-tama, apa kabar? Di sana masih tetap melawan?

Wiji Thukul: Kabarku ya begini-begini saja. Hidup di alam antara setengah jadi poster, setengah jadi hantu. Tapi tidak apa, toh puisiku masih hidup. Lagipula, di negeri ini yang mati kadang justru lebih cerewet daripada yang hidup.

Pewawancara: Sudah banyak penyair baru bermunculan. Apa Mas Wiji masih sempat baca-baca puisi mereka?

Wiji Thukul: Kadang aku nyelinap ke rak-rak toko buku. Jadi bayangan. Kubaca diam-diam. Ada yang bagus, ada yang bikin aku ingin mati dua kali. Banyak yang sibuk bermain metafora, tapi lupa bagaimana rasanya lapar.

Pewawancara: Wah, agak pedas ini, Mas.

Wiji Thukul: Nggak pedas, cuma jujur. Kalau puisimu bisa dijadikan nasi bungkus buat tukang becak yang baru pulang narik, itu puisi yang benar. Tapi kalau puisimu cuma cocok dibacakan di kafe dengan lampu temaram dan suara musik pelan, ya itu mungkin bukan puisi. Itu dekorasi.

Pewawancara: Puisi-puisi sekarang bukan di kertas, Mas. Koran pada tutup.

Wiji Thukul: Ah, kau ini. Aku tahu. Itu hanya pengandaian.

Pewawancara: Tapi bukankah puisi memang punya banyak rupa, Mas? Ada yang eksperimental, ada yang spiritual, ada yang visual.

Wiji Thukul: Iya, aku ngerti. Tapi banyak penyair sekarang terlalu sibuk mengukir bentuk sampai lupa isi. Puisinya indah, tapi kosong. Seperti lemari kaca tanpa piring. Atau lebih parah: seperti seminar tentang kemiskinan di hotel bintang lima.

Pewawancara: Jadi Mas merasa puisi-puisi sekarang terlalu estetis?

Wiji Thukul: Estetis boleh. Tapi jangan sampai jadi topeng untuk menutupi bahwa kamu tidak punya sikap. Aku nggak minta semua penyair jadi aktivis. Tapi kalau puisimu bisa dibaca tanpa bikin orang mikir apa-apa, itu artinya kamu berhasil menulis tanpa mengganggu siapa-siapa. Dan itu bahaya.

Pewawancara: Bahaya?

Wiji Thukul: Iya. Kekuasaan itu senang sekali pada puisi yang tidak menggugat. Puisi yang bisa dijadikan kutipan instagram pejabat. Puisi yang seperti teh manis: nyaman, sopan, dan cepat dilupakan. Padahal puisi seharusnya seperti kopi pahit: bikin melek dan kadang bikin mules.

Pewawancara: Kalau begitu, bagaimana harapan Mas terhadap perkembangan puisi sekarang?

Wiji Thukul: Harapanku sih sederhana. Biar puisi kembali ke rakyat. Kembali ke jalan. Jangan terlalu sering ngumpet di ruang diskusi ber-AC. Aku pengen lihat puisi dicoretkan di tembok, diteriakkan di demo, disisipkan di selebaran pasar. Bukan sekadar dibukukan, diluncurkan, lalu difoto dengan latar bunga plastik.

Pewawancara: Tapi ada juga penyair muda yang berani bicara soal ketimpangan, Mas.

Wiji Thukul: Benar. Dan itu menyenangkan. Tapi mereka kadang tenggelam di antara penyair-penyair yang sibuk merapikan rima seperti tukang cukur. Yang lebih penting dari berani adalah konsisten. Banyak yang berani hari ini, besok jadi buzzer.

Pewawancara: Jadi Mas menganggap puisi itu harus punya keberpihakan?

Wiji Thukul: Harus. Puisi yang netral itu mitos. Seperti wartawan yang katanya objektif padahal disokong iklan. Bahkan diam pun sikap. Kalau kau diam di depan ketidakadilan, berarti kau sudah memilih berpihak. Hanya saja pada pihak yang salah.

Pewawancara: Jadi bagaimana bentuk puisi yang baik menurut Mas?

Wiji Thukul: Puisi yang bikin orang biasa merasa didengar. Bikin buruh pabrik merasa dia tidak sendirian. Puisi yang bikin mahasiswa nggak cuma sibuk bikin skripsi, tapi juga mikir: “Kok harga kosanku makin mahal, ya?”

Pewawancara: Mas Wiji, kalau boleh menanggapi sedikit, sekarang pemerintah seenaknya menentukan pajak. Kadang rakyat kecil diperas, sementara pengusaha besar dapat keringanan. Apa tanggapan Mas?

Wiji Thukul: Pajak itu seharusnya gotong royong. Tapi di negeri ini, gotong royong artinya rakyat yang gotong, pejabat yang borong. Rakyat kecil ditagih pajak macam-macam, sementara konglomerat bisa tidur nyenyak karena dapat insentif investasi. Itu bukan pajak, itu perampokan yang pakai jas.

Pewawancara: Tapi katanya demi pembangunan, Mas.

Wiji Thukul: Ah, kata pembangunan itu sering jadi jimat. Padahal yang dibangun cuma gedung-gedung mewah, sementara jalan ke kampung masih becek. Kalau benar demi pembangunan, kenapa rumah rakyat bocor tiap hujan? Jadi pertanyaannya bukan pajak untuk apa, tapi pajak untuk siapa.

Pewawancara: Baik. Kita geser sedikit. Apa Mas Wiji mengikuti berita tentang korupsi dan nepotisme yang masih merajalela?

Wiji Thukul: Tentu. Itu acara rutin. Seperti sinetron tapi bintangnya selalu sama. Bedanya, kalau sinetron bisa tamat, korupsi kita kayak serial tak berkesudahan. Aku yakin, kalau nanti dinosaurus hidup lagi, berita pertama yang mereka baca adalah: Anak pejabat ditangkap KPK, tapi dilepas karena tidak cukup bukti dan terlalu muda untuk paham hukum.

Pewawancara: Ada satu kasus lucu, Mas. Seorang pejabat bilang tidak bisa menjelaskan asal uangnya karena katanya “dikasih Tuhan”. Tanggapan Mas?

Wiji Thukul: Nah itu! Tuhan sering dijadikan kambing hitam oleh orang yang takut jadi kambing beneran di pengadilan. Kalau Tuhan beneran kasih uang segitu banyak, kenapa bukan ke juru sapu sekolah atau ibu-ibu penjual nasi uduk? Kadang aku yakin Tuhan pun bingung: “Ini siapa yang bilang aku ngasih itu?”

Pewawancara: Jadi menurut Mas, humor bisa jadi cara melawan?

Wiji Thukul: Tentu! Humor itu alat subversif. Ketika kamu menertawakan kekuasaan, kamu sedang mencabut jubah sakralnya. Dulu aku menulis puisi. Sekarang mungkin aku akan bikin stand-up di pasar, temanya: Cara Menjadi Pejabat Tanpa IQ. Bayangkan betapa lucunya kalau rakyat tertawa sambil sadar bahwa mereka sedang dijahili.

Pewawancara: Mas, kalau boleh jujur, banyak orang sekarang mulai apatis. Capek. Merasa percuma marah-marah. Apa Mas punya pesan?

Wiji Thukul: Apatis itu bukan dosa. Itu tanda luka yang dalam. Tapi jangan biarkan luka jadi lumpur. Kita boleh lelah, tapi jangan kehilangan rasa geli terhadap ketidakadilan. Selama kita masih bisa menertawakan kebohongan, berarti kita belum kalah sepenuhnya. Jangan biarkan negara mengatur sampai kapan kamu boleh tertawa.

Pewawancara: Mas, terakhir. Kalau sekarang Mas punya akun media sosial, apa yang bakal Mas unggah pertama?

Wiji Thukul: Mungkin foto sandal jepitku yang bolong. Lalu kutulis: Sandal ini sudah lebih jujur daripada pejabat yang sepatunya selalu mengkilap. Atau video aku baca puisi di WC umum sambil nyemprot pewangi, dengan caption: Inilah tempat paling bersih di negeri yang suka pura-pura wangi.

Pewawancara: Ada pesan khusus untuk penyair muda?

Wiji Thukul: Tentu. Jangan takut bikin puisi yang jelek asal jujur. Daripada bikin puisi indah tapi palsu. Jangan sibuk mengutip Derrida kalau kamu belum pernah ngobrol dengan tukang parkir. Dan yang paling penting: jangan jadi penyair yang takut kehilangan undangan baca puisi. Lebih baik kehilangan panggung daripada kehilangan hati nurani.

Pewawancara: Terakhir, Mas. Kalau Mas bisa turun lagi ke dunia, apa yang akan Mas lakukan pertama kali?

Wiji Thukul: Aku akan ke pasar, beli bakwan, terus duduk di emperan dan baca puisi pakai toa. Biar semua orang denger. Biar mereka tahu: kata-kata belum mati. Dan selagi masih ada ketidakadilan, kata-kata juga belum boleh istirahat.

Pewawancara: Terima kasih, Mas Wiji. Salam untuk langit.

Wiji Thukul: Jangan cuma salam. Lawan juga!

Ragam

BABAD DI ATAS TIKAR DAN SEBOTOL TEH

Lampu-lampu menyala dan tikar-tikar menanti para pembaca yang mengaku memiliki malam di perbatasan Solo. Mereka duduk semaunya, menaruh raga di bawah lampu-lampu putih, yang tidak seutuhnya terang. Yang di atas tikar ingin merayakan buku, yang memerlukan lampu. Buku tak terbaca saat gelap.

Tempat itu berlantai kayu. Namun, orang-orang memilih menggelar tikar. Kepatutan dalam pertemuan. Bangunan yang berkayu dan berbambu seperti lama dalam kesepian. Malam itu sedang menantikan kata-kata yang dihambur-hamburkan oleh moderator, pembicara (pengulas buku), dan pengarang.

Penyapu saat itu ikut duduk bersama kaum buku. Ia sejenak menaruh tubuh di atas tikar, bergeser sebentar untuk duduk di papan-papan kayu yang ditata lumayan rapi. Semula, ia berpikir Minggu, 3 Agustus 2025, bakal rampung dengan sapu dan tongkat pel. Malam itu ia berhasil mendatangi tempat yang cukup jauh. Senja, ia meninggalkan GOR Badminton Blulukan (Colomadu) setelah keringat mengalir dan lelah. Di situ, setiap hari, ia menyapu dan mengepel untuk tiga lapangan yang digunakan para pemain bulutangkis dari pelbagai klub dan kelompok. Pamit dari gedung yang masih ramai dengan jamaah badminton. Permintaan izin untuk bisa dolan dan bertemu (kaum) buku di sebelah timur Solo.

Malam yang meminta angin. Penyapu merasakan angin yang kencang. Angin itu datang dari atas. Tampaklah dua kipas angin yang kusam. Buku pun merindu angin. Di sisi kiri tempat obrolan, penyapu melihat “petromaks” yang tidak menyala. Ia sudah karatan dan kotor. Bertahun-tahun, ia pastinya tidak menyala, hanya tergantung saja. Yang bertugas memberi terang saat malam adalah lampu-lampu, yang saat itu ikut menentukan nasib buku. Penyapu membayangkan masa lalu saat orang-orang berani membaca buku menggunakan lentera atau “petromaks,” belum lampu-lampu berlistrik. Pembaca yang mungkin syahdu.

Lampu dan kipas ingin merestui orang-orang yang lesehan di tikar untuk mengobrolkan novel berjudul Babad Kemuning (2025) gubahan Yuditeha. Novel yang baru saja lahir di jagat sastra Indonesia oleh Penerbit Buku Kompas. Penyapu datang untuk menghormati pengarang, sebelum ingin mengerti buku. Ia belum memiliki dan membacanya. Kedatangan memang untuk menjadi awam, yang tak berbekal khatam novel atau mengikuti arus perkembangan sastra mutakhir. Lama, ia dalam keterpencilan.

Di samping penyapu, pengarang yang makin kehilangan rambut. Ia penikmat kretek yang tulus. Berulang A Sampoerna menyala, menghasilkan abu-abu ditaruh di asbak gadungan berupa irisan gedebok pisang. Pengarang yang berasap, yang mulai menuturkan masa subur sebagai pengarang. Sebelum perayaan Babad Kemuning, ia terbukti rajin membuat cerita pendek yang beredar di pelbagai koran cetak dan situs. Ia pun menggarap esai-esai kecil mengenai bacaan dan kepengarangan.

Penyapu menikmati kata-kata dari lelaki yang sopan, diselingi tawa yang merdu. Percakapan dua lelaki yang lama tidak bertemu. Yang satu adalah tukang sapu. Yang satu adalah pengarang novel. Yang terbukti adalah Yuditeha memastikan sastra Indonesia tidak sekarat. Ia selalu mengabarkan pemuatan cerita pendek, yang membuat orang-orang masih bersantap sastra ketimbang debat sembrono atau marah-marah yang picik di media sosial.

Malam tanpa “petromaks” yang menyala, penyapu mendapat suguhan teh. Ia terlarang mengeluh gara-gara di hadapannya bukan segelas teh panas atau hangat. Yang tersaji adalah sebotol teh yang mencantumkan kata-kata “Teh Pucuk Harum”. Gelas sedang absen. Panas dan hangat cuma khayalan.

Sebelum buku adalah lagu. Panji Sukma menjadi lelaki bergitar. Ia masih membutuhkan mikrofon, yang menjadikan suara menjadi terdengar keras. Mengapa lagu-lagu mengawali buku? Penyapu belum kepikiran dengan model acara-acara sastra yang turut menghadirkan lagu. Kapan-kapan ia ingin membuat catatan kecil agar menemukan keselarasan yang lama terabaikan.

Tiba saatnya orang-orang bicara tanpa duduk di kursi. Moderator dan dua pembicara lesehan, memastikan tikar plastik menjadi saksi bahwa novel masih dambaan di zaman yang keparat.

Septi Rusdiyana, yang menjadi moderator, memberi awalan sebagai pembaca Babad Kemuning, yang mengarah ke perasaan-perasaan para tokoh, terutama yang perempuan. “Yuditeha menceritakan perasaan perempuan dengan lugas dan jernih,” ujar Septi, Penyapu hanya mendengar, tidak mampu membantah atau menyetujui. Ia belum pembaca Babad Kemuning. Ia sengaja hadir sebagai awam, yang kangen obrolan novel dan menonton pengarang yang sedang kondang di seantero Indonesia.

Di tangan Budi Waluya, terlihat kertas berisi catatan. Pada mulanya, kertas itu terlipat. Pada saat jatahnya untuk bicara selaku pengulas, Budi membuka lipatan kertas. Matanya kadang mengarah ke kertas, sebelum menyampaikan kepada orang-orang yang memberikan telinga. Ia tidak membuat makalah, sekadar catatan meski di keseharian dirinya adalah dosen di UNS dan bergelar doktor.

“Pengenalan konflik lambat,” kritik yang diajukan Budi. Ia agak malu-malu untuk membaca beberapa kritik, Namun, keberanian perlahan muncul saat mulai tersenyum. Buktinya, 50-an halaman awal dalam Babad Kemuning menjadikan Budi merasa lambat berjalan di cerita. Ia mungkin capek tapi akhirnya menemukan konflik, yang mengesahkan novel pantas terpuji, selain kritik-kritik.

Penyapu menyimak sambil berperang melawan selusin nyamuk perkasa. Ia membahasakan ulang apa-apa yang diucapkan Budi, lelaki yang mulai beruban dan tampak mengenakan kaos bergambar Semar. Yang dicatat penyapu setelah menyimak: “Novel butuh teka-teki!”. Perkara itulah yang ikut menentukan nasib Babad Kemuning bagi pembaca yang keranjingan novel atau orang yang menjadi pemula menikmati fiksi.

Giliran Yulita Putri mempersembahkan kata-kata. Ia tampil tak berkerudung tapi penyapu melihatnya berkerudung cerita. Yulita terlalu serius mengurusi novel, yang membuatnya lancar memasalahkan hak-hak anak, seksualitas, alam, kolonialisme, dan lain-lain. Ia bicara lantang, hampir tak ada keraguan dalam menyatakan pendapat-pendapat.

Yulita mahir mementingkan sisi perempuan dalam Babad Kemuning. “Novel ini membuat ingatan teh melebar,” katanya. Ia meyakinkan orang-orang yang bersantai di atas tikar bahwa perkebunan teh bukan sekadar latar untuk sinetron atau film picisan. Teh pun tak hanya minuman. Teh lebih dari komoditas. Novel yang dianggapnya memanggil sejarah. Namun, Yulita malah memanggul beban kebingungan atas sejarah.

Konklusi yang agak tergesa dari Yulita: “Babad Kemunging membuat pembaca banyak pertanyaan.” Ia mungkin menempatkan diri sebagai pembaca yang menggunakan seribu mata. Pembacaan yang bakal melelahkan dan berkepanjangan. Di hadapan novel, ia telanjur “bercocok tanam” pertanyaan, yang belum diketahui jadwal panennya.

Yang mendengar pembahasan Yulita Putri menemukan kekhasan. Pada tuturan-tuturan yang emosional, ia mengakhirinya dengan “seperti itu”. Usaha agar pembaca meyakini omongan atau pendapatnya, setidaknya mau memberi perhatian terhadap hal-hal yang sebelumnya disampaikan. Jadi, penyapu maklum saat mendengar belasan “seperti itu” terucap dalam nada tinggi atau rendah.

“Aku tidak mau klarifikasi,” perkataan Yuditeha sebagai bentuk tanggapan atas hal-hal yang sudah disampaikan Budi dan Yulita. Hampir semua yang dikritik oleh dua pengulas diterima Yuditeha. Ia senang berdalil bahwa kritik itu “peringatan-peringatan dari pembaca yang mahal”. Pengarang yang mengaku beruntung mendapat hasil pembacaan yang serius. “Dikritik jangan marah,” pesannya. Pada saat ikut duduk bergabung bareng moderator dan dua pembicara, pengarang itu tidak merokok. Sebungkus rokoknya tertinggal di samping penyapu.

“Kritik membuatku menyadari ketidaksempurnaan,” ungkap Yuditeha. Yang membuat pengarang terharu adalah “ketepatan” pembacaan Yulita atas tokoh perempuan dalam novel. Pengarang yang merasa menemukan pembaca yang intim, menyentuh pengalamannya sebagai pemulis fiksi dan pembuat album biografi perempuan, terutama ibu. Terharu yang disusul pengakuan tidak kentara mengandung sesalan dan kecewa. Ia merasa belum matang dalam penokohan dan luput menghadirkan pembayangan sejarah dalam novel melalui makanan, pakaian, bunga, dan benda-benda.

Pendengar yang khusyuk selama obrolan adalah perempuan yang rambutnya dikepang. Ia menyebut nama Sekar. Berbagi cerita dan sedikit mengajukan pertanyaan. Yang terasakan sebagai pembaca novel adalah “emosi membuncah”. Penyapu memandangi perempuan dengan rambut berkepang, yang seperti menemukan tokoh dalam novel-novel lawas di Indonesia.

Pertanyaan dijawab pengisahan ke sembarang arah oleh Yuditeha. Siasat agar jawaban tidak terlalu gamblang. Yang mengejutkan, Yuditeha menyatakan bahwa novel itu semula berjudul “Daun Emas.” Pada akhirnya, penulisan dirampungkan dan terbit berjudul Babad Kemuning.

Seorang gadis bernama Gadis memberi penampilan lain, pembacaan puisi karya Chairil Anwar, berjudul Kerawang Bekasi.

Pada saat mau berakhir, Panji Sukma duduk lagi di kursi. Tangan tampak bergitar dan mulut di depan mikrofon. Pengarang kondang yang mengoleksi beragam penghargaan, yang malam itu memilih menjadi penyanyi. Ia berada di kursi tapi tidak berpredikat sebagai pembicara meski sempat memberi ocehan-ocehan kritis dan agak lucu.

Malam makin malam. Penyapu berhasil menghabiskan sebotol teh, yang iklannya dulu sering muncul di televisi. Pengalaman pertama menikmati teh yang dinamakan “pucuk harum”. Padahal, yang minum tidak harum alias kecut oleh keringat dan kenestapaan. Ia tidak berpamitan kepada pengarang dan teman-teman, lekas pulang terkencing-kencing. Minum teh mengakibatkan mudah kencing saat malam di jalanan yang berangin kencang dan dingin.

Sampai di rumah, penyapu ingin merawat segala ingatan selama obrolan buku sambil mencuci seember pakaian keluarga yang kotor. Duduk untuk mengucek dan menyikat sambil membayangkan sebagai pembaca Babad Kemuning. Pengarang yang santun itu memberikan Babad Kemuning. Malam untuk mencuci, belum untuk membaca buku yang diulas oleh Budi dan Yulita. Moderator pun teringat sempat memberi kritik susulan: “Yuditeha unggul di cerita pendek ketimbang novel.” Selama mencuci, ingatan omongan-omongan itu bekal bila telah membuat jadwal sebagai pembaca novel.

Sebelum ikut menghadiri obrolan Babad Kemuning, penyapu membaca The Novelist gubahan Dean Koontz di jeda menyapu, mengepel, dan membantu mengurusi kantin di GOR Badminton Blulukan (Colomadu). Tiga hari menikmati novel mengenai penulis novel, editor, dan kritikus sastra yang seru dan menyebalkan. Malam itu penyapu sengaja tak menyampaikan kepada Yuditeha. Ia merasa sedang mencari pembuktian nasib Yuditeha sebagai novelis dan dua pembicara berlagak kritikus sastra.

Obrolan buku selesai. Mencuci pun selesai. Minggu mau berganti Senin. Penyapu itu lega dan lelah memiliki Minggu. Ia mendambakan tidur yang nyenyak tapi sengaja merusak suasana gara-gara memilih satu lagi sebelum memejamkan mata. Ia mendengarkan “Simfoni Hitam” yang dibawakan Egha De Latoya, bukan edisi yang mula-mula dibawakan Sherina M. Penyapu yang kadang memerlukan kata-kata dari lagu cengeng, tidak selalu harus bereferensi puisi, cerita pendek, atau novel. Ia ingat deretan kata yang mengharukan atau cengengisme: Telah aku nyanyikan alunan-alunan senduku. Telah aku bisikkan cerita-cerita gelapku. Telah aku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku. Tapi, mengapa aku takkan bisa sentuh hatimu.” Lagu yang pasti tidak cocok untuk mengiringi saat membaca Babad Kemuning. Akhirnya, malam itu penyapu bermimpi buruk! [] Kabut

Dunia Menulis

Besar Boleh, Kecil pun Boleh, Asal Dasarnya Tulus

Di balik podium sayembara sastra, di antara tumpukan pengumuman anugerah bergengsi yang memuja karya-karya monumental tentang konflik ras, luka sejarah, dan teriakan sosial yang seolah tak ada jeda, diam-diam ada banyak penulis yang memandangi layar kosong dengan gemetar. Bukan karena tak bisa menulis, tapi karena merasa kisahnya terlalu sepele. Terlalu kecil. Terlalu personal. Terlalu tidak meledak. Mereka yang menulis tentang sunyi kamar kontrakan, tentang kecemasan makan siang terakhir menjelang PHK, tentang ibu yang diam-diam menjahit baju bekas agar bisa dibungkus ulang jadi kado ulang tahun anaknya. Lalu muncul pertanyaan getir: “Siapa yang mau peduli?”

Fenomena ini bukan fiksi. Ia nyata, sedekat napas kita saat membaca pengumuman lomba yang menang lagi-lagi tentang tokoh aktivis, konflik SARA, isu lingkungan global, atau sejarah panjang penjajahan yang dituturkan ulang dengan narasi megah. Seolah cerita yang layak diberi medali adalah yang bisa mengguncang bumi. Seolah penderitaan harus berskala nasional agar bisa dianggap memiliki makna. Dan kita yang hanya ingin menulis tentang perempuan tua yang memandangi foto suaminya saban pagi—karena takut lupa wajahnya—mulai merasa kalah sebelum bertanding.

Padahal, bukankah kesunyian itu juga bagian dari dunia? Bukankah manusia lebih sering meringkuk dalam bilik kecil kesedihan pribadi daripada berorasi di tengah massa? Tapi sayangnya, dalam lanskap sastra yang makin dipengaruhi kebutuhan akan gagasan besar, narasi yang subtil, yang lirih, yang nyaris tak terdengar, malah dianggap terlalu jinak. Padahal, bisa jadi justru di situ letak gemuruh paling purba, di bisikan kecil yang tak sempat didengar.

Ironi pun menyembul di sana-sini. Kita membaca cerpen pemenang lomba yang mengisahkan revolusi agraria dengan istilah berlapis seperti makalah seminar, namun entah mengapa tak terasa denyut manusianya. Sementara naskah tentang anak kecil yang diam-diam menyembunyikan sepatu baru agar bisa diberikan ke adiknya justru tak pernah lolos seleksi awal. Mungkin karena tak cukup penting? Atau tak cukup menjual dalam sinopsis?

Bisa jadi, sebagian dewan juri punya selera yang terlalu politis. Atau terlalu ingin mencetak pernyataan daripada membiarkan sastra mengalir sebagai cermin kemanusiaan. Tentu tak semua begitu, dan kita tahu, ada juga karya besar yang benar-benar berhasil menyelami dua-duanya: yang politis sekaligus manusiawi. Tapi kita bicara tentang atmosfer umum yang membuat banyak penulis muda (dan yang tidak muda) mulai menyangsikan validitas ceritanya sendiri. Yang membuat mereka menahan diri menulis tentang cintanya yang gagal, tentang aroma dapur neneknya, atau tentang perasaan aneh saat pulang kampung dan tak dikenali tetangga. Karena merasa: “ah, ini cuma remeh.”

Dan inilah titik bahaya. Ketika penulis mulai menulis dengan niat memenuhi selera, bukan menyuarakan isi hati. Ketika naskah dibuat bukan dari desakan batin, tapi dari perhitungan tema tertentu agar bisa menembus kurasi. Maka sastra bukan lagi jalan pulang menuju diri, tapi sekadar jalan tol ke panggung. Dan di situlah mungkin kita sedang kehilangan satu hal penting: kejujuran.

Lucunya, dalam semua kerinduan terhadap karya yang membela kemanusiaan, kita kadang lupa bahwa kemanusiaan paling mendasar justru terjadi dalam hal-hal kecil. Dalam roti yang dibagi dua, dalam senyum yang dipaksakan saat perpisahan, dalam cara seseorang memeluk dirinya sendiri karena tak ada lagi yang bisa ia peluk. Tapi siapa yang mau membaca itu? Siapa yang akan memberi hadiah untuk cerita tentang ayah yang diam-diam menyetrika seragam sekolah anaknya tengah malam?

Lalu bagaimana menyikapinya?

Barangkali kita hanya perlu menertawakan sedikit kebisingan itu. Tertawa dengan penuh cinta, bukan dengan sinis. Bahwa kadang lomba dan penghargaan memang lebih suka teriakan. Tapi bukan berarti bisikan tak punya tempat. Kita tidak sedang bertanding siapa paling megah, kita sedang mencoba menjadi manusia paling jujur. Dan kalau tulisan kita hanya mampu menyentuh satu pembaca yang akhirnya merasa tak sendirian di dunia ini, itu sudah lebih dari cukup.

Kita pun tak perlu merasa rendah diri. Tidak semua orang ditakdirkan jadi guntur. Ada yang diciptakan sebagai embun pagi yang pelan-pelan membasahi rumput. Dan embun juga penting. Sebab tanpa embun, daun bisa layu sebelum siang datang.

Jangan khawatir jika karya kita belum sebombastis yang mereka cari. Tulis saja terus. Tentang jendela kamar, tentang suara sepatu di gang sempit, tentang cinta yang diam-diam tumbuh di antara jemuran. Sebab dunia butuh semua jenis cerita. Tidak hanya yang bersuara keras, tapi juga yang berbisik dengan lembut, bahkan yang hanya berdiam dengan tatapan.

Dan kadang, di antara tumpukan naskah penuh ledakan isu, justru naskah tentang perempuan tua yang menanam melati di halaman rumah kecilnya itulah yang paling menyentuh nurani juri yang diam-diam lelah dengan dunia.

Tentu, tidak semua kisah personal harus ditulis seperti curhatan. Kita tetap bisa memperlakukan hal kecil dengan kepekaan estetika dan ketajaman emosi. Bahkan ironi pun bisa menyelinap di sana. Misalnya cerita tentang seorang ibu yang rajin mengikuti demo lingkungan, tapi membuang sampah rumah tangga ke selokan belakang. Atau aktivis HAM yang di rumahnya tak pernah menyapa anaknya sendiri. Nah, di sanalah jenaka dan getir bisa bergandengan tangan.

Pada akhirnya, sastra bukan tentang siapa paling keras bicara, tapi siapa yang paling dalam mendengar. Dan jika karya kita ditulis dari ruang yang jujur, dari luka yang tak dibuat-buat, dari rasa yang tak dikemas agar viral, maka ia akan menemukan jalannya sendiri. Entah lewat lomba, entah lewat orang yang tanpa sengaja membacanya sambil menunggu hujan reda.

Jadi, bagi kamu yang sedang ragu karena ceritamu terasa remeh, percayalah, remehmu bisa jadi rembesan cahaya bagi orang lain. Tulis saja. Tetap tulis. Dunia ini tak hanya butuh kisah tentang revolusi dan sejarah, tapi juga tentang seorang anak yang mencium tangan ibunya diam-diam saat ibunya tidur. Kadang, cerita yang besar bukan karena temanya, tapi karena tulusnya. Karenanya, mau pilih besar boleh, pilih kecil pun boleh, asal dasarnya tulus. [] Redaksi

Dunia Buku, Dunia Menulis

Kembali ke Buku, Kembali ke Diri

Ada masa-masa ketika kita tidak sedang berada di tempat ibadah, melainkan ke rak buku yang berdebu. Di sanalah, di antara halaman-halaman yang telah menguning dan penuh lipatan, kita menemukan sesuatu yang lebih sunyi dari doa dan lebih jujur dari nasihat orang bijak. Bukan karena kita tidak percaya Tuhan, tapi karena kadang, sebelum berlutut berdoa, seseorang hanya butuh duduk, membaca kembali sesuatu yang dulu pernah menyentuh hati dan berkata, “Aku ingin jadi orang yang lebih baik.”

Kita sering mengira tobat itu urusan besar. Harus ada air mata, malam panjang, atau suara petir. Padahal kadang cuma butuh satu sore, satu buku, dan satu kalimat yang entah kenapa kali itu terasa lebih menusuk dibanding dulu. Mungkin karena kita sedang rapuh. Atau justru lebih jujur.

Dulu saat membaca Orang-Orang Bloomington, kita mengira kesepian hanya milik para tokoh yang tinggal di kota asing. Tapi kini, setelah berkali-kali merasa terasing bahkan di tengah keramaian, kita tahu bahwa kesendirian itu bukan soal tempat, melainkan perasaan yang pelan-pelan tumbuh dari ketidakberartian hidup. Dan saat membacanya ulang, kita tak cuma melihat tokoh-tokoh ganjil itu, kita melihat diri sendiri yang selama ini tak pernah sempat disapa.

Dulu saat membaca Ronggeng Dukuh Paruk, kita mungkin hanya terpaku pada kisah cinta Srintil. Kini, ketika membacanya ulang, kita sadar bahwa menjadi manusia baik di tengah tekanan, stigma struktural adalah bentuk perjuangan paling sunyi. Tobat bisa muncul bukan dari dosa besar, tapi dari kesadaran bahwa kita pernah diam saat seseorang dilenyapkan karena sistem yang tak memberi ruang bagi kemanusiaan.

Kita, terutama yang paling suka menyembunyikan keresahan  sering merasa rendah diri saat menyadari betapa jauh diri kita dari apa yang dulu kita yakini. Ada semacam pengkhianatan halus yang dirasakan. Dulu yakin tentang kebaikan, kini lebih sering mengutuk hidup. Dulu percaya pada perubahan, sekarang lebih sering menyeletuk, “Ngapain jadi orang baik, toh yang licik yang menang.”

Tapi di balik itu semua, sebenarnya kita hanya ingin kembali. Kembali ke titik jernih yang dulu pernah membuat kita, memilih menulis, membaca, dan berharap. Hanya saja, seperti pulang ke rumah yang sudah lama tak ditinggali, kadang kita takut mendapati diri sendiri sudah terlalu asing.

Ironinya, dunia buku yang katanya menenangkan, kadang justru jadi sumber tekanan. Penulis merasa harus jadi suci, pembaca merasa harus tampak cerdas, padahal niat awalnya hanya ingin merasa lebih utuh. Tidak semua yang membaca  Ronggeng Dukuh Paruk  ingin jadi pribadi yang kuat. Kadang orang hanya ingin tahu bahwa hidupnya yang kacau itu tidak sendirian. Tidak semua yang membaca Saman ingin memberontak. Bisa jadi, mereka hanya ingin tahu bahwa diam juga bisa jadi bentuk perlawanan.

Satirenya, dunia buku kini seperti panggung opera. Semua tampil ingin tampak megah. Orang membaca supaya bisa pamer. Menulis supaya bisa disorot. Padahal sesekali, kita butuh seseorang yang menulis hanya untuk menyelamatkan diri sendiri. Membaca hanya untuk menangisi dosa yang tak bisa diungkapkan dalam status. Kita butuh buku yang tidak jadi barang dagangan, tapi jadi ruang pengakuan.

Ada satu kenangan yang mungkin banyak orang alami. Saat beres-beres kamar, kita menemukan buku lama yang pernah membuat kita yakin sesuatu. Kita buka pelan. Ada coretan di pinggir halaman, tulisan tangan kita sendiri: Ingat ini. Jangan jadi brengsek. Dan di saat itu juga, rasanya ingin menampar wajah sendiri. Karena kita tahu, entah sejak kapan, kita mulai membiarkan kebrengsekan merayap pelan dan jadi kebiasaan harian.

Membaca ulang buku lama bukan saja perihal nostalgia. Ia kadang bentuk paling jujur dari tobat. Karena tak semua orang punya nyali untuk bilang, “Aku salah.” Tapi membuka kembali buku yang pernah mengajari kita jadi manusia yang lebih baik, itu sama artinya dengan menyalakan lilin kecil di lorong gelap hati kita.

Dan lucunya, lilin itu sering kali hanya menyala untuk kita. Tak tampak dari luar. Tidak viral. Tidak disorak. Tidak dikomentari dengan emoji peluk. Tapi itulah cahaya yang paling tulus, yang hanya dinikmati oleh si pemilik gelap.

Kita hidup di zaman ketika orang berlomba tampak saleh, tapi lupa cara menjadi baik. Zaman ketika kata tobat jadi trending saat ada artis tertangkap, tapi tak lagi menggugah ketika seorang biasa duduk diam membaca ulang Catatan Seorang Demonstran dengan mata basah. Kita lupa bahwa kebaikan kadang tidak butuh pengakuan. Ia hanya perlu tekad yang tak henti.

Menjadi benar, di tengah dunia yang riuh, adalah keputusan sunyi. Sama sunyinya dengan membaca ulang buku yang dulu kita anggap remeh. Sama sunyinya dengan menuliskan kalimat: Aku ingin mulai lagi, dari halaman pertama.

Tulisan ini bukan ingin membuat sedih. Justru sebaliknya. Aku ingin kita tersenyum kecil. Ingat betapa dulu kita begitu yakin bisa jadi orang baik. Dan sekarang kita masih bisa. Tidak perlu pengumuman. Cukup satu keputusan: kembali ke buku, kembali ke diri.

Jadi jika malam ini kita merasa letih, bukan hanya tubuh, tapi juga jiwa, cobalah buka buku yang dulu pernah kita peluk setelah putus cinta atau masa-masa terpuruk. Jangan buru-buru cari bab akhir. Mulailah dari halaman yang paling sering kita lipat. Di situ mungkin ada satu kalimat yang tidak kita sadari sedang menunggu kita kembali.

Dan jika besok pagi kita merasa ingin jadi orang baik, jangan buru-buru pasang kutipan motivasi. Duduklah. Diamlah. Bacalah. Karena kadang, suara hati tidak terdengar di tengah kebisingan niat-niat baik. Tapi bisa terdengar jelas di antara bisikan lembar-lembar yang kita balik dengan penuh kesadaran. Tidak perlu mengutuk dengan apa yang telah terjadi, cukup permohonan yang baik.

Di dunia ini, barangkali hanya ada dua jenis orang yang tidak malu mengaku salah: anak kecil yang ketahuan curang, dan orang dewasa yang menemukan kembali dirinya. Dan semua orang tahu, kita tidak bisa kembali menjadi anak kecil. Tapi kita bisa jadi orang dewasa yang tidak malu untuk kembali. [] Redaksi

Dunia Menulis

Menulis dalam Diam, Mencintai dalam Sunyi

Konon, cinta yang paling murni adalah yang tidak diumbar. Ia tumbuh diam-diam, seperti bunga liar di lereng bukit, tak perlu tepuk tangan, tak perlu baliho. Hanya mekar, apa adanya, dan wangi. Begitu pula seharusnya cinta kepada dunia menulis.

Namun, belakangan ini, dunia menulis—termasuk menulis cerpen—mulai gaduh. Bukan gaduh karena banyak cerpen bermutu yang lahir, tapi karena para penulisnya kadang sudah ribut duluan sebelum satu paragraf sempat ditulis. Status demi status melayang di medsos: Tunggu karya terbaru saya yaa, ini bakal pecah banget. atau Sedang riset naskah yang akan mengguncang dunia literasi. Bahkan ada yang sudah membuat pengumuman rilis sebelum huruf pertama muncul di layar laptop.

Lucunya, kita belum tentu disuguhi karya, tapi sudah kenyang dengan kabar tentangnya. Karya itu akhirnya seperti kado yang dibungkus tujuh lapis kertas warna-warni dan pita emas, tapi saat dibuka, kosong. Bahkan suara krik jangkrik pun malu keluar.

Bukan berarti kita tidak boleh bicara tentang proses menulis. Bukan. Bukan pula kita anti sorot atau anti eksis. Tapi yang sedang dibicarakan di sini adalah kesadaran bahwa mencintai dunia menulis itu seharusnya tak butuh terompet. Ia lebih cocok berjalan dalam senyap. Seperti doa, seperti napas. Tak terdengar, tapi sungguh terasa.

Ada ironi menyayat yang jarang dibahas. Dunia menulis kita dipenuhi pengumuman ambisi, tapi sepi karya yang benar mengendap dalam jiwa pembaca. Banyak yang sibuk membangun persona, tapi lupa bahwa penulis itu ya seharusnya menulis. Ada yang sudah menyiapkan akun khusus untuk menampung puja-puji, padahal cerpen pertamanya masih bergelut dalam kegalauan judulnya apa ya?

Yang lebih lucu, kadang sudah ada yang merilis teaser kutipan cerpen yang belum selesai ditulis. Seperti warung yang lebih dulu pasang spanduk: Segera Buka, selama bertahun-tahun, tapi isinya masih puing dan kardus bekas. Ada juga yang tak pernah menulis apa-apa, tapi mengaku penulis konseptual. Konon katanya, tulisannya terlalu dalam hingga tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ah, sudahlah.

Padahal, menulis itu pekerjaan hening. Ia bukan panggung konser, melainkan semacam pertapaan. Kau duduk sendiri, kadang seperti orang linglung di depan layar, ditemani kopi yang dingin, dan kalimat yang tak kunjung benar. Tapi justru di sanalah cinta diuji. Kalau kau hanya bisa mencintai dunia menulis saat disorak, bisa jadi kau sedang mencintai perhatian, bukan menulis itu sendiri.

Cinta sejati kepada menulis tak terlalu perlu mengabarkan diri. Ia tahu bahwa pekerjaan menulis akan berbicara pada waktunya. Karyalah yang akan menyapa orang-orang, dengan lembut, kadang menyakitkan, kadang menghibur, tapi selalu jujur.

Bayangkan seorang pemahat yang bekerja di balik tembok sunyi, mengetuk batu dari pagi hingga senja, hanya demi membuat lekukan yang tak diperhatikan siapa-siapa. Tapi dia terus melakukannya, karena dia percaya, suatu saat akan ada satu pasang mata melihatnya, dan mengangguk dalam diam. Itulah cinta. Tak tergesa, tak sekadar untuk dikagumi.

Kesunyian bukan lawan dari eksistensi. Justru, dalam diam kita bisa betul-betul menyentuh akar dari kenapa kita menulis. Apakah untuk terkenal? Untuk dianggap keren? Atau karena memang ingin bercerita, ingin menyampaikan kegelisahan dengan jujur? Kalau jawabannya adalah cinta pada menulis, maka diam bukan bentuk kekalahan. Ia justru bentuk kematangan.

Ada banyak penulis hebat yang bekerja dalam sunyi. Mereka menulis dalam selipan waktu, tanpa satu pun gembar-gembor. Tapi begitu karya keluar, kita bisa rasakan seluruh tubuh seperti diraba. Kita menangis tanpa tahu kenapa, atau tertawa getir karena merasa sedang dikuliti oleh kata-kata. Itulah keindahan dari mereka yang mencintai dalam diam. Mereka tidak datang dengan bunyi, tapi meninggalkan gema.

Tentu, dunia sekarang memaksa kita untuk selalu eksis. Semua serba cepat, serba tampil dan kita berusaha mengikuti zaman itu tidak masalah, tapi menulis bukan lomba viral. Ia adalah proses perlahan, sepi, dan sabar. Bila kau terlalu sering bicara tentang tulisanmu sebelum menuliskannya, bisa-bisa energimu habis untuk kata-kata yang tak pernah masuk ke naskah. Kau kenyang sebelum panggung dibuka.

Sungguh, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menulis dengan khusyuk, dalam ruang pribadi yang tak terusik. Menyusun cerita bukan demi likes, tapi karena memang ada yang ingin kita bagi. Kalau kemudian karyamu dibaca banyak orang, itu bonus. Tapi jangan menulis karena ingin dibaca banyak orang. Itu jebakan. Nanti kau hanya akan menyesuaikan cerita demi selera, bukan demi suara hati.

Kadang kita memang perlu diingatkan, bahwa mencintai tidak perlu selalu diumumkan. Cukup tunjukkan lewat ketulusan dan konsistensi. Bekerjalah dalam diam. Karyamu akan datang sendiri membawa terompetnya.

Dan bila suatu hari cerpenmu dimuat, atau dibaca orang dan mereka terdiam setelahnya, maka itu adalah bentuk cinta yang sudah mekar dengan indah. Tidak berisik, tapi menyentuh.

Barangkali itulah esensi mencintai dunia menulis yang baik, tetap menulis meski tak ada yang tahu. Tetap mencatat, meski tak ada yang baca. Karena yang pertama kali perlu membaca tulisanmu adalah dirimu sendiri. Bila kau tergetar, orang lain pun bisa ikut tergetar. Bila kau jujur, orang lain akan percaya.

Jadi, bila hari ini kau belum punya karya untuk diumumkan, tak apa. Matikan notifikasi. Duduklah. Ambil napas. Dengarkan suara paling sunyi di kepalamu. Lalu menulislah. Tak perlu mengabarkan pada dunia. Dunia akan tahu pada waktunya. [] Redaksi