Buku, Resensi

Cinta Melulu

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Seperti moral dan agama, cinta juga dapat dikatakan sebagai realitas abstrak. Bukannya tidak mungkin ditelaah dengan metode ilmiah yang memadahi, tapi sebagaimana dua hal yang tersebut di atas, seberapa pun ilmiah metode yang digunakan untuk menyingkap segala perkara soal cinta, ia tetap membutuhkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak mudah diterima logika berpikir manusia modern, tapi sekaligus juga tidak bisa lepas dari diri manusia itu sendiri.

Pola pikir manusia yang mengandalkan akal-rasio selama berabad-abad lamanya, serta peradaban manusia yang diwarnai oleh perilaku praktis-pragmatis, membuat sebagian manusia hanya mau tunduk pada hal-hal yang memiliki nilai guna dan tampak oleh mata (hlm. 3). Manusia modern berlomba-lomba menjadi manusia logis dalam menyikapi segala hal di kehidupan. Pergulatannya dengan logika membuat manusia perlu mengalami perubahan-perubahan sikap memandang-mengkritisi-mendobrak keyakinannya.

Cinta termasuk juga moral dan agama yang sejatinya terbenam di relung keyakinan acap kali menjadi objek yang dikritisi dan didobrak manusia. Manusia modern sangat mudah mematahkan tatanan moral dengan argumen-argumen logisnya. Ia juga berhak dan bahkan cenderung bebas menentukan sendiri pandangannya soal agama. Misalnya seorang theis yang rajin beribadah bisa saja di kemudian hari meninggalkan ibadah-ibadah wajib karena pelbagai alasan. Barangkali karena hal semacam itu tak logis menurut akal-rasionya atau karena alasan lainnya. Termasuk juga cinta, perkara ini kiranya mudah dipandang terbelakang di dunia modern saat ini.

Kendati demikian, seberapa pun manusia mencoba kabur dari hakikat cinta, moral, dan agama, ia tak akan bisa benar-benar berhasil melakukannya. Apakah manusia bisa hidup tanpa memercayai sesuatu, tidak mengikuti nilai tertentu, bebas dari perasaan suka dan tidak suka. Padahal semua itu sejatinya lebih dekat dengan apa yang dianggap terbelakang menurut akal-rasio manusia modern.

Mendefinisikan Cinta

Hari-hari kita tak absen dari seruan kata-kata yang terdengar sangar: humanisme, perubahan iklim, keberagamaan, feminisme, keberagaman, perdamaian, perang dagang, puritanisme, radikalisme, liberalisme, dan masih banyak lagi. Kata-kata itu penanda kehidupan yang sedang berlangsung. Dunia global mengalami masalah-masalah bertaut kemanusiaan misalnya kemelut perang saudara di Suriah, kamp muslim Uighur di Tiongkok yang diduga sebagai kamp pencucian otak, sekian penggusuran yang terjadi di Indonesia, ketidakadilan hukum, sikap represif pemerintah, dan lain-lain sebagainya.

Masalah-masalah pelik itu memang membutuhkan solusi rasional. Ratusan WNI terduga simpatisan ISIS di Suriah menyatakan keinginannya pulang ke Indonesia karena situasi di medan perang makin mencekam, media-media internasional gencar menyoroti kamp muslim Uighur untuk membuka mata publik internasional akan tipu daya Tiongkok, aktivis-akademisi mendampingi masyarakat terdampak penggusuran untuk memperoleh hak-haknya. Hal-hal yang demikian tampak sangat rasional, namun apakah upaya baik manusia untuk membantu manusia lain yang sedang dalam masalah semata-mata digerakkan oleh akal-rasio? Mudah bagi kita dengan menjawabannya tidak.

Manusia yang berani melawan ketidakadilan, bersikap jujur antar sesama, hormat terhadap alam semesta, tidak bisa dikatakan sebatas sebagai manusia yang rasional, tetapi juga penuh cinta. Pendapat ini rasanya perlu meminjam konsep cinta Erich Fromm. Menurutnya, cinta terdiri dari unsur care, responsibility, respect, dan knowledge (hlm, 20). Manusia-manusia yang demikian selain memiliki rasionalitas yang sehat, juga memiliki ketajaman perasaan sehingga mampu menangkap realitas secara jernih dan tepat dalam merefleksikannya.

Gibran melalui bukunya The Prophet mendefinisikan cinta dengan indah sekaligus rasional. Akal pertimbangan dan perasaan hati laksana kemudi dan layar dalam mengarungi bahtera jiwa. Jika satu layar atau kemudi itu patah, kau hanya bisa mengambang, terombang-ambing gelombang. Atau lumpuh tanpa daya, di tengah samudera. Sebab akal yang sendiri mengemudi, laksana tenaga yang menjebak diri. Sedang perasaan yang tidak terkendali, bagai api yang menghanguskan diri (1926, hlm. 59). Rasionalitas dan cinta itu sama-sama penting bagi keberlangsungan hidup kita baik sebagai personal, makhluk sosial, makhluk ciptaan Tuhan, penghuni dan penjaga bumi, warga negara dan dunia, dan peran-peran lainnya.

Karakter Cinta

Dalam buku yang bermuasal dari kekagumannya akan sosok dan karya-karya Kahlil Gibran, Fahruddin Faiz menyebut empat karakter utama cinta: kebebasan, keindahan, ketulusan, dan penyucian. Cinta tidak mungkin dikendalikan. Faiz bahkan menelaah karya-karya Gibran sangat anti terhadap segala hal yang membatasi atau malah mengendalikan cinta, entah itu budaya, aturan atau bahkan ajaran agama. Kita cerap sajak Gibran berikut ini. Saling bercintalah, namun jangan membuat belenggu dari cinta. Biarkan cinta seperti air yang lincah menjelajah di antara pantai dua jiwa.

Pribadi-pribadi yang saling mencintai bebas untuk mengekspresikan diri sebagaimana adanya, tanpa harus dituntut untuk merombak individualitas maupun eksistensi kediriannya. Cinta tidak menganjurkan pribadi-pribadi saling melebur, tetapi lebih kepada saling memahami dan mendukung. Perbedaan dalam menjalani laku cinta merupa kesempatan untuk saling memperkaya diri, saling mengisi, dan saling menghormati. Dari situ akan bisa dibuktikan, apakah seseorang sedang mencintai, memengaruhi, mendominasi, atau menggantungkan diri (hlm. 69-70).

Adalah juga sifat dasar alamiah manusia yang menyukai keindahan. Saat berjalan-jalan di taman, mata kita mudah tersirap oleh bunga-bunga bermekaran, tapi misalnya juga terganggu dengan sampah yang berceceran di taman itu. Di deretan toilet umum, ada kerelaan yang muncul begitu saja untuk menyisir toilet mana yang paling bersih di antara yang lain. Manusia tampak wajar ketika mendambakan segala sesuatu yang baik. Kalau kata Jonn Kets,  a thing of beauty is a joy forever. Keindahan dalam cinta agak berlainan. Betapa juga pahit dan sakit yang dialami seseorang dalam mencinta, cinta tetap meninggalkan keindahan kenangan bagi dirinya.

Di antara empat karakter cinta menurut Faiz, kiranya ketulusan yang agak berat bersinggungan dengan akal-rasio kita. Ketulusan dalam mencinta didefinisikan sebagai wujud cinta yang sempurna, yang memberi tetapi tidak mengharap imbalan sama sekali. Ketulusan dalam cinta dibuktikan dengan keteguhan sikap untuk tidak mundur atau melarikan diri saat dalam cinta yang diterima atau diberikannya ditemui kesulitan, kepahitan, dan lain sejenisnya (hlm, 77).


Rizka Nur Laily Muallifa, Pembaca tak tahan godaan. Menghidupi Kematian (2018) ialah kumpulan puisi yang ditulis bersama tiga kawannya. Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Suara Merdeka, detik.com, alif.id, basabasi.co, dan beberapa lainnya.

Buku, Resensi

Soewardi Soerjaningrat: Nasionalis Jawa Awal

Oleh Syahuri Arsyi

Dalam dunia pendidikan nama Soewardi Soerjaningrat sepertinya begitu asing di telinga kita. Padahal, nama Soewardi Soerjaningrat sendiri merupakan nama bangasawannya dari Ki Hadjar Dewantara sebelum mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922.

Telinga kita lebih akrab dengan nama Ki Hadjar Dewantara sebagai bapak pendidikan Nasional Indonesia dan pencetus “Tut Wuri Handayani”. Terbukti, setiap tanggal 02 Mei, diadakan perayaan hari pendidikan nasional yang melambangkan bahwa Ki Hadjar Dewantara memiliki peran penting dalam dunia pendidikan Indonesia.

“Studi ilmiah terhadap tokoh-tokoh sejarah nasional kita masih sedikit dilakukan orang,” adalah kalimat pembuka dalam kata pengantar buku berjudul Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan (2019) karya Irna H.N Hadi Soewito. Ditulis oleh seorang sarjana perempuan Indonesia dalam bidang sejarah, kalimat tersebut jelas menunjukkan pada kita akan kelangkaan terhadap kajian tokoh-tokoh sejarah nasional Indonesia.

Tersirat pula rendahnya minat kita tentang pengetahuan nama asli tokoh-tokoh yang memiliki peran besar dalam sejarah modern Indonesia. Nama asli tokoh sejarah seolah-olah tidak memiliki ruang dan sudah tergantikan dengan nama panggilan, sehingga kita tak memiliki pengetahuan yang utuh tentang nama tokoh tersebut.

Dalam buku Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan menginformasikan pada kita tentang perjalanan kisah hidup, perjuangan, dan rekam jejak Ki Hadjar Dewantara ketika masih muda, atau sebelum mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta di tahun 1922, mulai dari aktivitasnya di comite boemipoetra hingga pengasingannya ke negeri Kincir Angin, Belanda, yang dianggap sebagai momentum kebangkitan bersama pers dan mahasiswa yang memiliki haluan kebangsaan, kerakyatan, dan kemerdekaan dengan semboyan Indie los van Holland atau Hindia lepas dari Belanda.

Salah satu catatan yang cukup menarik dalam buku ini, adalah sikap dan kemantapan hati Soewardi menempuh jalan berbeda dalam berjuang yaitu di bidang jurnalisme. Bagi Soewardi, jurnalisme adalah suara hati nurani bangsa tertindas yang dapat dikumandangkan. Oleh karena itu, bagi Soewardi, perjuangan tidak hanya semata-mata dapat dilakukan dengan mengangkat senjata, bisa juga dilakukan dengan tulisan.

Selain itu, bagi Soewardi, jurnalisme atau pers bukan hanya semata-mata pekerjaan untuk menambah isi kantong, akan tetapi lebih dari itu semua. Jurnalisme atau pers digunakan oleh Soewardi untuk mencurahkan isi hatinya dan sebagai satu-satunya senjata yang paling ampuh untuk membungkam ketidakadilan bangsa Belanda.

Dari sini kita bisa membaca bahwa salah satu alasan Soewardi terjun ke dunia jurnalisme atau pers daripada angkat senjata karena kala itu, masyarakat Indonesia sedikit sekali yang melek huruf. Dan, keadaan masyarakat Indonesia, oleh Soewardi ini benar-benar disadari bahwa masih banyak masyarakat yang terbelakang, masih banyak yang belum melek huruf, hingga membutuhkan banyak pengajaran dan menerangkan apa itu perjuangan dan apa itu bangsa pada masyarakat Indonesia.

Irna, bahkan menyebutkan dalam tulisan-tulisan Soewardi banyak guratan kebebasan dan menggambarkan kondisi kemerdekaan. Ia mengambil contoh tulisan Soewardi yang dimuat De Expres, berjudul “Kemerdekaan Indonesia” yang isinya dianggap sebagai nyala semangat politik menuju Indonesia merdeka. Kita simak lintasan Soewardi, “…setiap pergerakan politik bebas, harus dimulai dengan memutuskan perhubungan-perhubungan kolonial dan harus menuju ke penghidupan rakyat yang bebas (hlm. 08)”.

Soewardi menjadikan majalah De Express sebagai alat propaganda untuk menekan pihak-pihak Belanda. Bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker, seorang Indo yang sangat memiliki nasional Indonesia, Soewardi membangun gagasan serta pergerakan dalam politik, di mana pada 6 Sepetember 1912 menjadi gerakan politik Indische Partij yang menerima suku bangsa Hindia menjadi anggotanya.

Kita simak pengakuan Soewardi, dalam buku ini “Baginya majalah ini merupakan alat propaganda, yang mana kemudian, bersama De Expres, menjadi pelopor kelahiran partai politik yang disebut Indische Partij. Partai yang bertujuan untuk memajukan dan mengembangkan tanah air, serta mempersiapkan bangsa Hindia agar dapat berdiri sendiri. Indie voor Indiers atau “Hindia untuk bangsa Hindia” (hlm. 08).

Tulisan Soewardi oleh pihak kolonial dianggap memiliki narasi menghasut hingga akhirnya ia  ditangkap, bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker diasingkan ke Belanda. Di pengasingan ini, Soewardi bersama istrinya berada dalam kehidupan serba kekurangan dan begitu menghimpit. Walaupun demikian, ia menyadari bahwa jalan satu-satunya mencari tambahan nafkah melalui menulis di surat kabar.

Salah satu tulisan Soewardi yang membuat pihak Belanda kebakaran jenggot dan tak mungkin dilupakan berjudul “Als ek eens Nederlander was” atau “seandainya aku orang Belanda” tulisan satir ini dianggap sebagai suatu tamparan bagi pemerintahan Belanda.

Bagi pembacanya, tulisan Soewardi ini dianggap memiliki gaya bahasa yang sangat menarik, menyakinkan pembaca, berisikan kata-kata yang dipilih secara tepat, dan kalimatnya tersusun rapi, menusuk, tidak kasar dan tidak pula memaki, tidak berbelit-belit serta mudah dimengerti. Di setiap guratannya memberikan renungan untuk pembaca sebagai bagian dari cerminan jiwa dan budinya yang jujur serta sederhana (hlm. 56).

Di Belanda, selain menulis, Soewardi aktif di pelbagai forum, seperti Indische Vereening dan memberikan pengaruh yang sangat kuat di kalangan mahasiswa Hindia. Selain itu, ia juga mendirikan sebuah kantor berita bernama Indonesisch Persbureau (Biro Pers Indonesia) bertujuan untuk mempererat hubungan mahasiswa tanah air (hlm.72).

Satu hal lagi yang cukup menarik selama Seowardi berada di pengasingan, bahwa ia tak menjadikan hal itu sebagai beban berat hingga membutakan pikirannya. Kontribusinya selama berada di pengasingan terkait persoalan politik tidak di ragukan lagi. Warisan gagasan dan gerakannya sebagai salah satu pelopor anti-kolonial Indonesia tak kalah pengaruhnya bagi formulasi gagasan radikal dan visionir atas terbentuknya Indonesia modern.

Maka tak salah jika dalam Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (2006) garapan Benedict Anderson menyebutnya sebagai patron para aktivis “Nasionalis-Jawa-Indonesia awal”. Dalam artikel “Soewardi di Pengasingan: Nasionalisme versus Sosialisme” (2014) di Lembaran Sejarah, Joss Wibisono menyatakan bahwa selama di pengasingan Soewardi memiliki kecondongan haluan dan pemikiran politik kepada “nasionalisme kanan”.

Setelah lima tahun berada di pengasingan, Soewardi Soerjaningrat kembali ke tanah air dan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia pada 15 September 1919, setelah 51 hari terapung di Samudra Atlantik. Kembalinya ke tanah air ini, dimaknai sebagai medan perjuangan yang sebenarnya bersama Taman Siswa pada tahun 1922.


Syahuri Arsyi, penulis lepas, saat ini aktif di Komunitas Diskusi buku dan diskusi Malam Sabtu (dulu: Limited group). Bisa disapa di Facebook: syah arsyie, Instagram: syah.arsyi1717, dan Twitter: sya.arsyie1717.

Buku, Resensi

Celeng dan Cairnya Kedirian Manusia

Oleh Muthia Sayekti

Tokoh Sirius Black pernah menasihati keponakan baptisnya, Harry Potter, bahwa dalam setiap diri manusia sejatinya terdapat kebaikan dan keburukan. Keduanya saling bergandengan dan tidak terpisah. Ingin menjadi seperti apa manusia itu sendiri tergantung pada pilihan dari masing-masing manusianya. Nasihat itu muncul dalam sebuah adegan di serial film Harry Potter yang ke-5 berjudul Harry Potter and The Order of The Phoenix (2007). Black menyampaikan petuah tersebut ketika Harry merasa gelisah karena dirinya memiliki ikatan jiwa dengan Voldemort, penyihir jahat kelas kakap yang menjadi tokoh utama antagonis dalam serial film ini. Harry khawatir ia bisa menjadi sama jahatnya dengan Voldemort. Oleh sebab itu, sebagai orangtua, Sirius Black mencoba untuk menenangkan keponakannya bahwa ia sangat bisa menjadi penyihir yang baik meskipun jiwanya terikat dengan Voldemort.

Dari kutipan adegan tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa menjadi baik atau buruk sebagai manusia, merupakan otoritas diri masing-masing individu. Manusia digambarkan sebagai subjek yang otonom untuk bisa memutuskan karakter mana yang ingin ia tonjolkan sebagai manusia.

Berbeda dengan narasi tersebut, tokoh Joker ternyata tak bisa sama otonomnya seperti tokoh Harry Potter. Dalam film Joker (2019) nampak bahwa menjadi jahat tidak murni atas keputusannya sendiri. Pada adegan-adegan tertentu, Joker justru bisa dikatakan sebagai anak lelaki yang berbakti pada ibunya, pekerja keras, dan penyayang. Ia dikisahkan menjadi psikopat sebagai bentuk respon atas ketidakadilan hidup yang bertubi-tubi menimpanya.

Dengan demikian, kita bisa membandingkan bahwa karakter seseorang tidak serta merta muncul atas otoritas diri. Ada faktor di luar tubuh manusia yang turut mengintervensi bagaimana karakter seseorang itu terbentuk.

Gambar1: Cover Buku Menyusu Celeng. Sumber: ebooks.gramedia.com  

Dalam buku Menyusu Celeng (2019) karya Sindhunata, karakter manusia dikisahkan secara metafor serupa hewan celeng. Di sini, Sindhunata mencoba untuk menceritakan kisah pelukis Djokopekik yang dikenal dengan lukisannya berjudul Berburu Celeng. Secara stereotip, celeng sering merujuk pada hewan yang rakus, beringas, dan penuh hasrat akan kuasa. Pun sebagian besar masyarakat masih percaya bahwa celeng merupakan hewan yang sering digunakan dalam praktik pesugihan; babi ngepet. Di sini, Sindhunata ingin membalik persepsi bahwa pesugihan celeng ini justru menjadi penyelamat masyarakat miskin yang tak mampu memperbaiki kondisi hidupnya. Dengan demikian, celeng tidak hanya binatang yang buruk tetapi juga memiliki sifat penolong, sifat kemuliaan.

Dengan gaya seperti sedang bercermin dalam konsep psikoanalisis Jacques Lacan, Sindhunata menceritakan pelukis sedang melakukan proses (mis)rekognisi ketika berbincang dengan wayang celengnya (hlm. 85). Semakin si pelukis menghina dan mengumpat pada wayang celengnya, kata hinaan dan umpatan itu justru membuat si pelukis melakukan proses refleksi diri. Pelukis merasa bahwa dirinya juga tak lebih baik, bahkan sama buruknya dengan sifat-sifat yang dimiliki celeng. Hingga akhirnya ia sampai pada titik perenungan bahwa yang memiliki sifat seperti celeng tidak hanya ia (pelukis) seorang, tetapi sebagian besar manusia zaman ini. Zaman yang mana ia sebut sebagai Zaman Kalabendu.

Titik puncak perenungan si pelukis ditandai pada situasi adegan di mana si pelukis melepaskan segala dendamnya pada si celeng dengan mandi di Tuk Celeng, tempat yang dipercaya sebagai Mata Air Celeng yang bisa memurnikan jiwa, menghapus kesedihan, dan menyembuhkan segala penyakit (hlm. 114). Pelukis merasa lelah ketika lukisannya tentang celeng justru membuat banyak keonaran baru. Ia merasa bahwa lukisan itu dilahirkan dari rasa dendamnya pada penguasa yang dianggapnya seperti celeng, bukan untuk misi kebaikan membasmi sifat-sifat buruk dari celeng itu sendiri. Kekuatan dendam itulah yang dianggapnya melahirkan banyak ketidakbaikan. Toh pada dasarnya ia sendiri sadar bahwa ia juga tak lebih baik dari celeng yang ia dendami.

Siapa yang menyembunyikan celengnya dalam kebaikan-kebaikan dan kepahlawan-pahlawanannya akhirnya akan ketahuan juga, bahwa dirinya adalah celeng, seperti yang kini terjadi pada diri saya (hlm. 139).

Sindhunata di sini terlihat mengajak para pembacanya untuk ikut merenung bahwa diri setiap individu juga memiliki sifat keburukan. Tak satu juga manusia pantas untuk merasa (paling) suci, baik, heroik. Namun dalam buku ini, Sindhunata mencoba untuk meleburkan sekat bahwa karakter seseorang tidak murni dibentuk secara otonom oleh manusia itu sendiri, seperti nasihat Sirius Black. Tidak pula manusia hanya bisa menjadi pecundang terhadap ketidakadilan hidup. Setiap manusia tidak senantiasa kalah dengan keadaan yang tidak baik lalu tidak bisa melawan, seperti yang dialami Joker.

Kisah sang pelukis dalam buku Menyusu Celeng ini dinarasikan seimbang. Bahwa kebaikan dan keburukan dalam diri manusia bisa muncul secara otonom dari dalam diri mereka, sekaligus bentuk reaksi terhadap keadaan yang ada di luar diri mereka. Dalam membentuk kedirian itu sendiri, tidak ada yang bersifat absolut dan mutlak. Karakter manusia selalu cair dan dinamis. Si pelukis sendiri dulunya dikenal sebagai seniman yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosialis. Namun ketika lukisannya semakin laris, ia pun tidak menafiki dirinya untuk berlagak seperti para borjuis.

Hanya celeng yang bisa hidup secara “kanan”, sambil terus melirik “ke kiri”. Artinya, siapa yang tidak ingin hidup enak dan menikmati hidup seperti seorang borjuis? Namun supaya kelihatan sexy – istilah zaman sekarang – apalagi sebagai seniman, apa salahnya orang berpandangan kekiri-kirian seperti orang sosialis? (hlm. 152).

Manusia memang akan selalu hidup dalam proses untuk menjadi (process of becoming). Tidak ada yang terus-terusan bisa menjadi pahlawan, pun tidak ada yang bisa senantiasa menjadi pecundang.


Muthia Sayekti, penulis lepas, Alumni Kajian Budaya dan Media UGM. Bisa disapa di Muthia Sayekti (Facebook), @mutiasayekti (Instagram), @MuthiaSayekti (Twitter)

Buku, Resensi

Berkisah (ke) Sejarah

Oleh Bandung Mawardi

Pada 2014, Iksaka Banu dengan buku berjudul Semua untuk Hindia meraih Kusala Khatulistiwa Award. Ia memang memberi prosa apik dan merangsang ke pengisahan dan pewartaan sejarah. Tahun-tahun berlalu, ia tampil lagi dengan buku berjudul Teh dan Pengkhianatan. Buku masih berisi cerita-cerita merangsang ke renungan sejarah. Di kategori prosa, buku itu menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Cerita-cerita pantas terbaca dan teringat. Persembahan “unik” di kesusastraan Indonesia mutakhir.

Kita mulai simak cerita berjudul “Di Atas Kereta Angin”. Kita diperkenalkan dengan tokoh-tokoh berwatak kolot dan moderat menanggapi “kemadjoean” dan persaingan identitas di tanah jajahan. Dua tokoh berseberangan memahami identitas diri sebagai manusia Eropa. Si kolot ingin terus menjadi “toean” dihormati, ditakuti dengan rajin memerintah si bumiputra. Larangan-larangan diberikan di perkara busana dan sepeda. Si moderat mengerti situasi zaman, memperkenankan si bumiputra selaku bujang (pembantu di rumah) menaiki sepeda. “Toean” tetap berpikiran lebih beradab itu memberikan pula hak pada si bujang mengenakan pantalon Eropa saat di atas sepeda mengerjakan tugas-tugas.

Latar cerita di Jogjakarta. Si bumiputra mengendarai sepeda dengan busana rapi menjadi polemik. Dua tokoh Belanda itu tak pernah membuat bandingan bahwa sepeda tak melulu bukti kuasa “toean” berkulit putih ke orang-orang terjajah. Di Solo, awal abad XX bumiputra pun “bersepeda” tapi bermisi berbeda. Di novel berbahasa Jawa gubahan Jasawidagda berjudul Kirti Junjung Drajat (1924), diceritakan sepeda menentukan gairah nasionalisme melalui Boedi Oetomo. Tokoh penggerak di organisasi “modern” itu pemilik toko-bengkel sepeda. Penghasilan besar digunakan untuk hidup dan diberikan ke pembesaran Boedi Oetomo. Sepeda bertokoh kaum bumiputra, berbeda arah dari cerita menguak sejarah buatan Iksaka Banu.

Tokoh bumiputra di cerita Iksaka Banu tetap di posisi rendah. Penjelasan “toean” berlagak mengerti kemajuan dan bersikap etis pada si bujang: “Ia tetap masih mengenakan sarung yang digulung sepinggang… Ia pun memakai ikat kepala. Pendeknya, secara keseluruhan penampilannya masih Jawa seperti warga lainnya. Orang tidak akan keliru mengira ia Eropa.” Sejarah identitas memang mengandung perdebatan dan anggapan-anggapan bertaburan dilema.

Tokoh-tokoh ciptaan Iksaka Banu mengalami gejolak dan kisruh menjalani sekian hal di Nusantara. Pada masa lalu, Nusantara itu rempah-rempah. Cerita berjudul “Kalabaka” mengisahkan perdagangan, moral, tanaman, perang, dan keluarga. Iksaka Banu bukan pemberi sifat-sifat mutlak membedakan nasib kaum Eropa dan bumiputra. Tokoh di cerita itu berkebangsaan Belanda, mati berdalih memberi penghormatan atas hak-hak penghuni Banda. Kematian bersurat untuk membagi derita dan mengingatkan petaka VOC.

Pesan di surat terbaca si putra: “Bila kelak engkau menjadi pengusaha, jangan pernah tergiur bujukan VOC untuk pergi ke Hindia dengan iming-iming menjadi jutawan melalui perdagangan pala atau fuli. Sebab, pada setiap keping sen yang kau simpan, ada darah dan air mata penduduk Banda yang kehilangan asal-usul dan jati diri karena gugur membela tanah air, atau dibawa ke Batavia sebagai budak belian.” Berpihak! Tokoh-tokoh di cerita dan sejarah berhak berpihak meski sadar risiko. Si penulis surat dihukum oleh bangsa sendiri, Eropa mengaku beradab dan membawa pesan Tuhan. Kaum Eropa di Nusantara justru khianat dan pencipta petaka berkepanjangan. Di buku-buku sejarah bertema rempah-rempah, kita semakin mengerti perdagangan dunia membinasakan bumiputra dan membangkrutkan Nusantara sebagai negeri subur.

Cara bercerita di dua cerpen itu terasa “mengejutkan” asal kita mau membandingkan dengan kemahiran dan kepekaan para pengarang Belanda mengisahkan Hindia Belanda masa lalu. Buku berisi cerita-cerita Iksaka Banu itu bakal senewen jika bersanding dengan buku berjudul Bianglala Sastra: Bunga Rampai Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia (1979) ditulis kembali oleh Dick Hartoko berdasarkan buku Oost Indische Spiegel susunan Rob Nieuwenhuys. Dulu, kita sering mengacu ke teks-teks sastra gubahan pengarang Belanda atau Indonesia saat ingin mengetahui sejarah Nusantara dan watak manusia-manusia berbeda peran selaku: penjajah dan terjajah. Pada abad XXI, Iksaka Banu menempuh jalan jauh ke waktu silam untuk menggarap cerita-cerita, belum perlu menumpuk warta atau pamer di daftar pustaka puluhan halaman. Cerita memang tak bermaksud menjadi teks sejarah seperti diajarkan di ruang-ruang kuliah. Iksakan Banu menjelaskan: “Bila terlalu banyak memasukkan fakta sejarah, unsur fiksinya bisa hilang, dan cerita akan bergulir dari awal hingga akhir dengan sangat membosankan, seperti buku diktat.”

Dua buku buatan Iksaka Banu berjudul Semua untuk Hindia juga Teh dan Pengkhianat tak sempat terbaca oleh Subagio Sastrowardoyo. Kita menduga buku-buku itu menjadi “bandingan” dan “ledekan” atas segala warisan sastra dari masa lalu bercerita Hindia Belanda. Di buku berjudul Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983), Subagio Sastrowardoyo sudah menderet pikat kesusastraan di situasi sejarah terselenggara di Nusantara. Ketekunan Iksaka Banu menulis “fiksi sejarah kolonial” mungkin terpaut jauh dari album sastra sudah mendapat pembahasan dari Rob Nieuwenhuys dan Subagio Sastrowardoyo. Kini, suguhan cerita-cerita itu diganjar penghargaan tanpa ada jaminan memberi rangsang kesejarahan bagi pembaca tak memperoleh daftar pustaka atau daftar warta dari Iksaka Banu.

Di cerita berjudul “Tegak Dunia”, kita masih mungkin membaca sambil membuka buku-buku garapan Denys Lombard (Nusa Jawa Silang Budaya) dan Nirwan Ahmad Arsuka (Percakapan dengan Semesta). Cerita mengenai globe dan Karaeng Pattingalloang. Bumiputra itu fasih sekian bahasa dan keranjingan sains. Ia memesan globe dari Eropa. Manusia-manusia Eropa kaget dan kagum mendapatkan kabar bahwa Karaeng Pattingalloang rajin membaca buku-buku dan memiliki selera sains mungkin saja mengalahkan kaum Eropa di Nusantara. Si Eropa cukup memberi keterangan atas benda pesanan bumiputra berpikiran maju: “Ini sebuah globe! Tiruan bumi. Lengkap dengan relief benua, pulau, samudra, serta keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis, dan Latin. Sesuai permintaan pemesannya.” Kemenangan serasa terbaca di biografi pemesan untuk mengingatkan kepongahan intelektual kaum Eropa.

Kita khatam cerita-cerita dalam Teh dan Pengkhianat mungkin terangsang berjalan ke sejarah. Buku perlu bersanding dengan setumpuk buku sejarah berbahasa Inggris, Belanda, dan Indonesia agar membaca cerita seperti di tebakan atau keterkejutan. Buku menggemaskan di seruan sejarah kolonial. Begitu.


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019)

Buku, Resensi

Mengurai Ketidaksadaran

Oleh Dwi Alfian Bahri

Jagat Digital, itulah kata yang dipilih Agus Sudibyo untuk judul buku terbarunya. Mungkin judul itu tidak terlalu menggugah selera pembaca, tetapi, ada hal yang menarik di sub judulnya, yakni Pembebasan dan Penguasaan.

Melalui dua kata tersebut Agus Sudibyo coba menjelaskan sekaligus menguraikan hal yang tersembunyi dari jagat digital. Mengeksploitasi permasalahan yang selama ini tidak disadari. Pembebasan dan Penguasaan dijadikan materi dasar atas buku yang berjumlah 466 halaman tersebut.

Ada kutipan yang menarik dalam buku tersebut, “muncul kesadaran di kalangan generasi muda dan terdidik di Barat untuk mulai berjarak dengan semua bentuk media baru. Ketika kesadaran ini makin menguat di Eropa dan Amerika, bangsa Indonesia masih pada fase mengagumi dan menggandrungi media baru dan kurang memperhatikan benar konsekuensi yang ditimbulkannya.” Bisa disimpulkan, secara garis besar penulis ingin menyampaikan hal yang sebenarnya gagal diketahui dan dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Jagat digital, sebuah dunia baru yang melenakan sekaligus mematikan. Bangsa Indonesia belum sadar terhadap frasa tersebut. Melalui bukunya ini, penulis menguraikan hal terselubung yang terdapat dalam Google, Amazon, Facebook, dan platform lainnya. Hal terselubung itu ironisnya kita nikmati detik ini dengan nyaman.

Perlu diketahui, tidak ada yang benar-benar gratis: free service dengan free data. Perusahaan layanan media sosial memberikan banyak hal kepada penggunanya, tetapi juga mengambil banyak hal: privasi, kebebasan, dan kedaulatan diri. Itu yang dinyatakan Agus Sudibyo dalam bukunya.

Google, Amazon, Facebook, dan platform lainnya sebenarnya telah menghegemoni kesadaran kita. Privasi kita diambil secara mudah dan kita terus tertawa sambil berswafoto sekaligus berselancar di dalamnya.  Ada hal yang menghegemoni pikiran pengguna internet, sehingga secara tidak sadar sedang menjadi objek eksploitasi, alih-alih menganggapnya sebagai kewajaran.

Berpijak pada konsep panopticon (Foucault), Agus Sudibyo memberi gambaran yang jelas betapa sebenarnya kita sedang benar-benar diawasi setiap waktu tanpa jeda sedikitpun. Konsep ini menggambarkan suatu penjara yang di setiap sudutnya dipasangi perangkat CCTV (digital panopticon).

Sudah tidak ada lagi kebebasan, karena yang ada adalah pengawasan dan pengendalian. Karena, hampir semua gerak-gerik penghuni penjara dapat dipantau dan diarahkan. Tujuannya ialah menjadikan pengguna sebagai sumber atau bahan baku gratis untuk proses manufaktur dalam bentuk yang baru dan skala tertentu.

Kembali pada sub judul buku, Pembebasan dan Penguasaan. Kita memang diberi kebebasan yang benar-benar bebas. Dalam buku The New Digital Age: Transforming nations, Businesses, dan Our Lives dinyatakan, “Dunia digital adalah ruang tanpa hukum terbesar di dunia.” Maksudnya, pada ruang inilah kita bebas melakukan apa saja, semua hal tersaji. Sebab, perlahan dan pasti semua hal mulai terhubung satu sama lain melalui jaringan internet. Sayangnya, pembebasan semacam itu berjalan lurus dan beriringan dengan penguasaan yang terjadi.

Free service dengan Free data. Begitulah konsep yang coba diuraikan Agus Sudibyo dalam bukunya ini. Tidak berlebihan rasanya jika Sony Subrata berharap buku ini mampu merangsang studi, riset, dan penulisan karya ilmiah yang lain, karena bangsa Indonesia seyogyanya tidak menyadari betapa luar biasanya pertunjukan di balik layar jagat digital tersebut. Pertunjukan yang belum pernah mereka ketahui. Buku ini bisa dijadikan salah satu pijakan untuk memulai, memahami, dan menguaraikan isi jagat digital.

Selain hal di atas, pada bagian akhir buku ini, dipaparkan hal yang lebih menarik. Sifat jagat digital yang sejatinya semu, ternyata mendapat sebuah legalitas yang baik. Tentu saja sangat memprihatinkan bahwa negativitas media sosial justru diamplifikasi oleh media massa, khususnya media daring dan televisi.

Kekusutan info di media sosial dalam berbagai kasus justru dilanjutkan ke dalam ruang pemberitaan, diskusi publik, dan bincang-bincang televisi (talkshow). Ini semacam fenomena yang mengerikan. Ketika hal yang sejatinya rancu, banal, hiper, rapuh, berkelindan, tiba-tiba menjelma paradigma baru publik. Media massa menjadi follower media sosial, itulah yang ditulis Agus Sudibyo.

Jadi, media massa yang sebelumnya menjadi titik tolak pemberitaan karena kredibilitasnya yang terjamin, kini beralih fungsi menjadi pengikut kebanalan informasi.

Media sosial (jagat digital) sesungguhnya berhasil menciptakan perubahan revolusioner dalam hal mode komunikasi, interaksi sosial, dan partisipasi politik. Di samping itu, ada hal di balik layar yang juga harus dipahami dengan baik dan bijak. Sebagai panduan bersikap di dunia baru tersebut, Agus Sudibyo menawarkan hal yang argumentatif serta perspektif yang kritis dalam bukunya ini.

Eksploitasi masalah-masalah di atas menjadi bahan baku buku ini. Bagaimanapun, pengguna internet di Indonesia tembus 171 juta jiwa. Dengan jumlah sebanyak itu, Indonesia menempati peringkat kelima dunia. Kalau kita tidak mampu menyikapi fenomena digitalisasi pada era revolusi industri 4.0 ini, cepat atau lambat kita akan menjadi ladang penjajahan media owner.


Dwi Alfian Bahri, guru Bahasa Indonesia di SMP Kawung 1 Surabaya. Lahir di Kota Pahlawan 29 April 1993. Tinggal di kawasan Surabaya Utara. Pada waktu luang, menjalani pameran dan workshop modern kaligrafi (lettering), serta aktif dalam kegiatan literasi dan seni-sastra di Surabaya. Telah menerbitkan antologi cerpen Bau Badan yang Dilarang (2018). Bila  berminat menjalin komunikasi, bisa di instagram: @suaraalfian47.

Buku, Resensi

Mengheningi Kebermanfaatan Kertas

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Penemuan mesin cetak yang diberdayafungsikan untuk menggandakan tulisan di kertas menjadi tonggak bergairahnya ilmu pengetahuan dan peradaban. Kertas menemui keberfungsian yang paripurna. Ia menggeser dan lekas mengambil alih teknologi belum canggih seperti sabak atau batu tulis, daun papyrus, daun lontar, kulit binatang, dan media-media tulis alamis yang terbatas fungsinya. Penggandaan tulisan di kertas berarti pula dakwah pengetahuan berskala masif.

Perjalanan peradaban bermula dari penerbitan tulisan menjadi bendel-bendel buku. Dulu, peradaban identik dengan buku-buku. Sementara hari ini, sabda tersebut bisa saja tertuduh terlampau retorik, alih-alih kaku dan konservatif. Tanpa maksud melakukan generalisasi, kiranya pengguna media baru (media daring, media sosial) telanjur percaya bahwa ilmu pengetahuan bisa lebih berkembang berkat media baru. Sebagian yang ekstrem bisa saja mendaku tak perlu lagi dilakukan syiar pengetahuan melalui buku-buku. Yang demikian merasa mendapat pembelaan sebab produksi kertas tak ramah lingkungan. Penggunaan kertas berarti dukungan terhadap penebangan pohon-pohon. Kertas jadi demikian dilematik.

Mengolah yang Dilematik

Di tengah segala kebisingan itu, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (FSRD ISI) Solo bekerjasama dengan Harian Umum Solopos, Rumah Banjarsari, dan Bentara Budaya Solo mendalami “kertas” sebagai sebuah diskursus yang kompleks. Kertas menjadi subjek utama dalam serangkaian acara, workshop mengolah kertas bekas; membuat karya seni dari kertas daur ulang; pameran seni rupa; dan menerbitkan buku antologi bertajuk “Meretas Kertas”. Delapan tulisan di buku tersebut ditulis orang-orang dari pelbagai latar belakang. Mereka adalah dosen, sejarawan, pengamat sosial-kebudayaan, penulis, sampai wartawan.

Pembaca menyimak ragam dedongengan memerkarakan kertas dari zaman penemuannya yang mula-mula sampai dengung nirfungsinya di zaman sangat teknologis seperti sekarang. Masa silam mencatat keberfungsian kertas bagi praktik pemerintahan di masa sebelum masehi, untuk pelbagai kebutuhan praksis sehari-hari misalnya pembungkus kaca keramik (hlm. 3), penyebaran pengetahuan dan informasi, penggandaan teks-teks suci, dan lain sebagainya.

Konon, presiden pertama Indonesia berambisi mengentaskan bangsa dari derita buta huruf. Lelaki karismatik itu yakin betul kalau kertaslah yang mampu membuat bangsanya merdeka dan beradab. Soekarno mengajar dan menaruh harapan bangsa Indonesia membaca buku, koran, dan majalah demi mengerti laju revolusi. Harapan itu tentu saja membutuhkan kertas untuk menerbitkan buku-buku sebagai bacaan (hlm. 52).

Pesohor yang menaruh minat dan kesadaran akan kebermanfaatan tulisan di kertas tentu saja tak cuma Soekarno. Kita mengenal Hatta, Tan Malaka, sampai kepada Habibie, Gus Dur, juga Jusuf Kalla. Dalam acara Mata Najwa bertajuk Terima Kasih Pak JK (Rabu, 16 Oktober 2019), pemirsa mendapati keteguhan sikap JK memerkarakan buku sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan hidup yang utama. Para cucu mengenang JK sebagai kakek yang membebaskan cucu-cucunya membeli buku dengan nominal berapapun. Hal itu tak berlaku untuk belanja urusan lain. Buku menjadi kata kunci dalam kehidupan berkeluarga JK.

JK merupa contoh konstekstual bahwasanya kertas menjadi media bagi para pendahulu mewariskan ilmu pengetahuan sehingga sampailah kepada generasi berikutnya. Kendati kini, gegar kehidupan sudah bergeser kepada internet melalui media baru yang dilahirkannya, kita rasanya tidak—atau belum—mampu beranjak dari persinggungan dengan kertas. Buku-buku dengan rupa ragam genre terus bermunculan, pemerintah perlu mencetak kebijakan-kebijakan menuju keabsahan pemberlakuannya, institusi-institusi pengetahuan dan keagamaan tak henti melakukan syiar pengetahuan melalui teks-teks tercetak, keperluan mencetak poster untuk aksi massa, pengabaran kematian, pernikahan, dan acara-acara lain.

Tulisan-tulisan dalam Meretas Kertas (2019) memberi kawruh pada kita betapa kertas masih menjadi suatu yang demikian penting terutama bagi institusi pengetahuan, lembaga kekuasaan, lembaga agama, serta lembaga sosial-kemasyarakatan sebagai media syiar pelbagai macam ide yang kesemuanya bermuara pada perumusan kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup (hlm. 7). Tsah!


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya.

Buku, Resensi

Negara Acap Kali Merecoki Hidup Kita

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Orang-orang Oetimu (Marjin Kiri, 2019), pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bertarikh 2018 terbit menjelang situasi negara yang karut-marut. Menggunakan latar tahun di mana Orde Baru berkuasa, Felix teruji ketelatenannya menjahit keping-keping cerita masyarakat Indonesia bagian timur. Novel yang dilabeli 19+ itu menghamparkan kepada kita kehidupan paling lekat dan sehari-hari. Kehidupan sebagai masyarakat sipil yang kerap dibikin runyam negara dan kemudian juga institusi agama. Tingkah onar negara, aparat, institusi agama baik dalam novel karangan Felix maupun dalam kehidupan kita yang sebenar-benarnya berhasil membuat kita terlalu sering sengsara.

Puluhan tahun Indonesia membungkam Papua. Mengabaikan suara personal mereka, membatasi akses bagi media dalam dan luar negeri yang hendak meliput ke tempat itu, tak menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM. Belakangan menyepelekan protes-protes yang berakibat rusuh dan terus memakan korban jiwa, juga melakukan kejahatan teknologis dengan membatasi akses internet bagi warganya. Atas dalih menjaga keutuhan NKRI, negara acap kali abai pada nilai yang paling dasar dan berarti dalam kehidupan kita—kemanusiaan. Menyalin teriakan histeris Maria saat Sang Perwira menyampaikan pidato di hadapan mendiang suami dan anaknya, dan menghubungkan kematian mereka dengan usaha mempertahankan kesatuan negara. “Kesatuan negara yang mana? Yang harga mati itu? Yang harga mati itu kemanusiaan! Yang harga mati itu keluarga saya…” (hlm. 158).

Dalam Orang-Orang Oetimu, Maria sudah lama tak percaya pada negara, aparat, dan institusi agama. Sebelum mendapati segala yang ia perjuangkan melawan negara sia-sia belaka, Maria ialah mahasiswa yang gemar berkoloni untuk membicarakan dan berdebat memperkarakan banyak hal. Perang di Timor Timur, pemerintahan Soeharto yang anti-kritik, agama, dan  segala anak turunannya. Maria ialah representasi gadis yang tak sungkan mengumpati segala hal yang dinilainya tak tepat takaran. Ia juga hampir selalu menyanggah dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan retoris pada lawan bicaranya.

Dalam perkara agama mari kita kutip sebagian kecil sikap Maria menghadapi khotbah agamawan. Saat Frater Yosef memberi keterangan menuding kadar iman dan syukur kita sebagai umat amat minim, sementara itu Tuhan akan menjaga dan memberikan hal-hal terbaik pada kita apabila kita rajin bersyukur. Maria melempar sambutan telak. “Wahai Frater, bagaimana kalau Tuhan Maha murah, tetapi setiap pemberiannya selalu diambil oleh orang-orang yang serakah?” (hlm. 128).

Kekuasaan yang Serakah

Keberadaan negara sejak masa kolonialisme menyengsarakan hampir setiap sendi kehidupan masyarakat kendati kadarnya berlainan-lainan. Perang antara militer Indonesia dan gerilyawan Fretilin merelakan banyak sekali nyawa dan harga diri para perempuan muda. Laura belum genap berusia dua puluh saat ayah dan ibunya ditembak aparat di pinggiran dermaga. Ia seharusnya jadi gadis periang, tetapi perang merebut segala yang ada padanya. Termasuk sel-sel telurnya(hlm. 48).

Sekarang, mari kita mampir ke Buenos Aires, menyimak pengisahan Jorge Luis Borges mengenai perang saudara yang melenyapkan nyawa kakeknya. Di awal tahun 1874, Francisco Borges— kakek Jorge Luis Borges, menjadi Komandan Tertinggi di perbatasan Utara dan Barat Buenos Aires. Ia bersama sepuluh atau belasan anak buahnya berderap menuju barisan musuh. Di sana ia dilumpuhkan oleh dua butir peluru Remington (Jorge Luis Borges, 2019: hlm. 6). Dalam kalimat lain, perang senantiasa membawa duka bagi tiap-tiap pihak yang terlibat.

Kekuasaan Oligarkis

Apa tujuan perang? Ialah ambisi berkuasa. Soesilo Toer melalui Pram dalam Bubu (Pataba Press, 2015) memberi penggambaran mudah terpahami soal itu. Ia mendefinisikan kekuasaan sebagai perwujudan dari ideologi yang dianut oleh kelompok sosial tertentu. Dengan demikian, tidak heran apabila kekerasan digunakan sebagai tameng untuk menumpas ideologi yang rawan dan akan mengganggu kelangsungan hidup kekuasaan yang sedang bercokol. Dalam konteks ke-Indonesiaan, ambisi berkuasa itu menjangkiti hampir setiap orang yang masuk dalam sistem kenegaraan, entah ia bagian dari eksekutif maupun legislatif, pun termasuk yang paling purba mengamini arti kekuasaan ialah para aparat yang apapun duduk perkaranya senantiasa latah main hajar.

Tokoh rekaan Felix hadir dengan cukup utuh untuk memberi gambaran aparat yang latah main hajar. Konon, Sersan Ipi ialah polisi yang mendapat mandat istimewa bertugas di Kampung Oetimu. Mandat itu ia peroleh lantaran Am Siki, kakek asuhnya dianggap sebagai pahlawan yang telah berjuang menumpas penjajah demi mempertahankan harkat dan martabat negara. Tiap kali Sersan Ipi muncul, selalu ada yang kena hajar, baik tukang ojek, sopir truk, bahkan anak-anak sekolah sekalipun. Tak ada yang berani melawannya, sebab ia aparat negara yang berseragam dan bertindak atas nama negara. Ia bertindak demi kebaikan seluruh warga negara. Dan barang siapa melawan aparat, ia berarti melawan negara. Melawan negara sama artinya dengan komunis. Komunis harus dibunuh dan ditanam di hutan jati (hlm. 59).

Praktik “kekuasaan” itu juga terjadi di gereja. Para romo mendayafungsikan statusnya sebagai pelayan Tuhan dan sebagai orang terhormat guna melakukan pelbagai pelecehan seksual kepada remaja-remaja perempuan binaannya. Para remaja perempuan itu jelas lebih banyak bungkam sebab pelaku pelecehan itu ialah orang yang selama ini sangat dihormati masyarakat. Masyarakat kiranya mudah saja menuduh para gadis hendak merendahkan harkat martabat para romo dengan membuat kabar miring sedemikian rupa.

Praktik “kekuasaan” yang lain lagi ialah sekolah berbasis keagamaan yang sebelumnya dikhususkan sebagai sekolah untuk warga kurang mampu, yang secara berangsur dipoles jadi sekolah elitis yang memberlakukan biaya sangat mahal dan susah dijangkau masyarakat kelas menengah ke bawah. Perlahan namun pasti, di sekolah itu anak-anak dari keluarga kurang mampu tak bersisa sama sekali. Demikianlah aturan main tuan-tuan yang mahakuasa. Mereka menghendaki masyarakat sipilnya jadi mahasengsara. Tsah!


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya.

Buku, Resensi

Sempati; Kandar Kilas yang Menolak Fungsi

Oleh Mutia Senja

Semanggi; kepalanya sudah lepas dari tadi. Air mata dan sengguk pun sudah lenyap dari tadi. Namun tangisan dan sedihnya belum. Sedih tentang mengapa ibunya begitu berjarak sebelum mati. Sedih tentang mengapa ayahnya begitu diam sebelum menghilang (hal. 11).

Setelah pemuda itu bertemu dengan M4; perempuan yang melayani program Bebaskan Kepalamu—yang (mirip) ibunya—Sempati Patangga Bratadikara berperan sebagai pemeran utama yang selalu mendapat sorotan dalam setiap adegan dalam novel ini. Sengaja dibuat meloncat-loncat layaknya figuran ketika ayahnya—jam tangan—mendeskripsikan kronologis kejadian di Bagian Tiga: Kenang—sebelum Sempati berencana memisahkan tubuh dan kepala—sepakat saling cerai sejak bertahan melawan resap bosan oleh jejal kehidupan.

Triskaidekaman membuat permulaan “alfa”—semacam petunjuk menjelajah kehidupan dua keluarga yang rumit; memulai menceritakannya dalam lima bagian: hilang, buang, kenang, datang, dan pulang. Penulis berupaya membuat pikiran pembaca teracak, lalu seperti puzzle—disusun kembali secara ritmis, bertemu ester egg, saling adu, saling tindih, lalu seperti hendak ditertawakan kenyataan. Kenyataan yang membuat Sempati terjerat dalam kegelapan yang samad, ketika suara tawa menggagalkan pertemuannya dengan ‘bahagia’.

Seperti digambarkan dalam blurb buku ini; Sempati merasa kepalanya tak memberi solusi atas ragam persoalan. Tentu, sebuah keniscayaan yang realistis sebab segala persoalan manusia bermuara ke dalam alam pikir. Namun, yang kemudian membuat tak masuk akal adalah ketika Sempati ingin hidup bahagia tanpa kepala, karena dirasa kepalanya justru merepotkan. Persis sebagaimana yang nampak dalam judul buku ini.

Bagian pertama berhasil menghabiskan hampir separuh isi buku dengan cukup menggambarkan alasan Sempati ingin melepas kepalanya. Tanpa bertolak ketika ia membaca selebaran bertuliskan “Program penggal. Mengusir beban pikiran bebal dan sedih yang terus tinggal”. Dia tertarik dalam hitungan detik. Terkesan khayali, memang. Namun inilah kenyataan yang terjadi dalam fiksi. Penulis pun bebas menuliskan apa saja.

Alhasil, mencari celah antara membebaskan kepala dari tubuh atau memanfaatkan fungsi otak dalam memecahkan masalah menjadi dua pilihan yang memuakkan. Hidup bagi Sempati (mungkin juga yang dialami sebagian orang) adalah penolakan, pergulatan, kesendirian, dan jauh dari rasa senang. Seolah membuka kembali memori atas pernyataan Dee Lestari ketika menulis, “aku kini percaya manusia dirancang untuk terluka.”

Lalu, katanya lagi, “tidak ada yang lebih menyakitkan dari kepedihan yang tidak bisa ditangiskan.” Benar saja, Sempati tidak pernah menangis sekalipun (pernah) ia sangat bersedih. Orangtua Sempati: Semanggi dan Merpati bermasalah. Sejak kecil, pemeran utama sangat karib dengan dendam, air mata, kesepian, konflik rumah tangga yang rumit, hingga persoalan diri sendiri yang membuatnya seolah bom waktu—dapat meledak kapan saja.

Dijuluki novel anti mainstream setelah lahirnya Buku Panduan Matematika Terapan, membuat kita meyakini akan hadiah berupa kejutan-kejutan saat membaca buku ini. Sungguh, di bagian 1.4 Triska menyuguhkan seberkas kekhawatiran ketika M4—inisial petugas instalasi (pemegang kunci nasibnya)—menghilang, saat di mana penulis menuliskan masa lalu, hingga Sempati kehilangan kepalanya di sebuah rusun yang dia tinggali. Pembaca dirancang layaknya detektif yang dengan sigap dan teliti mengerti alur yang sedang dimainkan masing-masing tokoh. Dalam hal ini, penulis cermat membuat pembaca seolah tak boleh lepas untuk tetap menikmati paragraf demi paragraf.

Hal tak wajar seringkali muncul, misalnya: Setelah prosesi pemotongan kepala, peserta masih dapat hidup dengan kandar kilas yang diletakkan di tengkuk atau bagian tubuh lainnya. Kandar kilas itu berfungsi mencadangkan isi otak sehingga tubuh masih dapat berpikir, melihat, mendengar, bicara, saat tubuh berpisah dengan kepala nanti. Namun jauh dari harapan agar terbebas dari kehidupan yang bebal, Sempati justru ditimpa tragedi yang gagal menemukan solusi. Terkejutnya, saat ia mendapati kandar kilasnya bengkok.

Lalu di bagian lain digambarkan dengan alur mundur, seperti: Merpati; setelah sekian lama menghilang, dia—di waktu dan tubuh yang lain—menjelaskan kronologis kematian yang diakuinya tak sengaja dilakukan Darnal. Mancakrida kantor dibalut malam yang indah. Dirinya dan Darnal (atasan dan sekretaris) menyepi ke tempat senyap. Rel itu katanya sudah jarang terpakai lagi. Mereka berbaring, menyanggakan kepala pada rel, sambil menatap langit—mengulang kembali tarian kebanggan setelah sekian tahun. Bulu tubuh Darnal masuk dan mereguk cawan Merpati yang lama tak tersentuh. Dia lemas. Lalu pingsan. Golak roda kereta berdesing. Darnal terlambat menyelamatkannya. Merpati mati di tempat.

Hal semacam ini yang terkadang membuat pembaca dipaksa percaya. Walaupun realitanya, tidak dapat diterima oleh akal sehat manusia. Sebab dalam bagian terakhir, “pulang”, ia kembali membuat konflik baru dengan memainkan tokoh hasil dari kebangkitan setelah mati. Bahkan dalam hal ini, apa pun dikisahkan Triska dengan bebas dan ia seolah menikmatinya.

Dibuktikan ketika ia mengisahkan kepala yang dapat bicara meski terpisah dari tubuh, kemudian dimasukkan dalam rak (mirip) penitipan barang yang bisa diambil kembali dengan syarat meninggalkan identitas. Tubuh yang terpenggal namun masih dapat menyatu kembali, dan hal menggetarkan lainnya. Hebatnya, Triska dapat mengatasi kejenuhan pembaca dan bertanggungjawab atas imajinasinya yang liar tanpa membuat pembaca melepas kepalanya. Sungguh!

Pembaca makin dibuat jatuh hati ketika Sempati berbisik ke pancang nisan ibunya: Ibu melacur yang baik, ya. Nanti ibu belikan rumah di sana. Aku pasti akan bertandang (hal. 259). Celetuk lisannya persis ketika ibunya berjanji; Kamu sekolah yang baik saja. Nanti Ibu tetap biayai kamu. Ibu belikan kamu jam tangan baru (hal. 257). Korelasi semacam ini yang langka dijumpai dalam cerita dan lekat dalam ingatan. Seperti dibisiki dengan hal-hal menakjubkan dan seketika membuat kita terperanjat saat itu juga. Tetapi yang jadi soal, apakah Triska sengaja membuat kebetulan ini nampak cantik di mata pembaca? Atau mungkin kebetulan bisa dibuat secara sengaja?

Bagaimanapun, uang takkan pernah cukup. Waktu selalu saja lebih sempit daripada celana. Tubuh kita pun fana (hal. 5) hingga Merpati mengakui di hadapan anak dan suaminya; “Kami tak pernah berpikir soal kualitas. Yang penting berkeluarga. Yang penting kami dicap normal. Bahkan semua masalah uang, popok, susu, nafkah, sekolah, dan jam tangan ini—inilah normal yang masyarakat mau” (hal. 264). Meski belum utuh, mungkin inilah pertanggungjawaban atas fantasi liar si penulis. Triska mengembalikan persoalan kepada sesuatu yang faktual tanpa tergesa-gesa.

Membaca konflik yang terjadi dalam cerita, seperti mengingatkan pada sabda Epictetus mengenai hal ini; “Pada akhirnya nanti, setiap orang harus menebus hukuman atas perbuatan-perbuatannya yang salah. Jika orang selalu ingat hukum ini, ia pasti tidak akan marah kepada siapa pun, tidak akan dendam, tidak akan mencerca, tidak akan menyalahkan, tidak akan melukai hati, tidak akan benci, kepada siapa pun.” Tapi takdir berjalan sebagaimana Semanggi—yang mengambil lengan kiri Jatayu saat masih di dalam kandungan Tania—akibat menuruti amarah dan dendam setelah menyaksikan perselingkuhan istrinya.

Sempati terus terkejat, mencabik-cabik tubuhnya sendiri; sebelum dia jatuh ke tanah dan terlunglai mati karena lapis-lapis rasa bersalah (hal. 279). Triska tak henti membuat imajinasi liarnya berkecamuk di dada pembaca, menggeliat memenuhi kepala, menjerat seluruh indera untuk memasuki alur ceritanya yang langgas—seperti Sempati saat akan dipenggal kepalanya. Tak boleh beranjak. Sedikit saja menoleh, maka akan tamat riwayat. Setiap bagian, setiap adegan, membutuhkan fokus seperti menjaga kandar kilas supaya tetap hidup tanpa kepala.

Sembari terus membaca bab demi bab, pembaca selalu dihantui rasa penasaran tentang apa yang akan terjadi kepada para tokoh dalam novel ini. Mereka bersekongkol mengelabuhi pembaca. Penuh misteri. Triska membuat pembaca membolak-balikkan pikiran tanpa permisi dan mencari sendiri akarnya. Seperti melihat pohon tumbuh di atas tanah, sedangkan banyak kisah tumbuh menembus celah tanah—bagian tersembunyi sebelum bertumbuh batang, daun, cabang, dan buah—yang nampak—terkesan ‘rumit’ dan ‘menyebalkan’.

Kita seakan diajak meraba, menemukan kursi untuk sejenak duduk ketika berada di ruang gelap Triska: Kematian bukan penanda akhir sedangkan nasi telah menjadi bubur. Kepalanya sudah lepas dari tadi. Airmata dan sengguk pun sudah lenyap dari tadi. Namun tangisan dan sedihnya belum (hal. 11).

Lalu kita seakan kembali berjalan hingga menemukan celah cahaya.


Mutia Senja, lahir di Sragen, Jawa Tengah. Bergiat  di Sekolah Menulis  Sragen. Hobinya menulis sesuka hati. E-mail: [email protected]

Buku, Resensi

Beban Berat Kaligrafi Semar

Oleh Rizki Amir

Madura sebagai sebuah daerah yang memiliki beban berat kebudayaan, nyatanya hingga saat ini—meskipun arah angin seolah sedang menuju ke wilayah timur, tetap mampu bertahan dan kerap melahirkan berbagai penulis cemerlang yang juga layak diperhitungkan dalam kancah bajak laut sastra Indonesia. Lihat saja satu di antaranya, Muna Masyari, penulis perempuan asal Pamekasan yang berhasil menyabet Cerpen Terbaik Kompas tahun 2017 lalu.

Hal semacam itu tentu saja tidak terlepas dari peran ruang-ruang diskusi dan komunitas yang meskipun sporadis, tapi begitu militan. Salah satu komunitas yang turut hadir dalam keriuhan itu adalah Bawah Arus. Meski tergolong kecil, komunitas itu diam-diam telah membimbing Andy Moe untuk maju dan berhasil menjadi peserta terpilih Majelis Sastra Asia Tenggara tahun 2018 kategori cerpen. Dan di tahun ini, laki-laki itu telah menerbitkan buku kumpulan cerpennya yang berjudul Kaligrafi Semar (Rumah Akar, 2019).

Sebagaimana pendahulunya, Andy juga mengusung suara-suara dari beban berat kebudayaan Madura yang memberi pemahaman tentang suatu permasalahan dengan menengok hubungan kausalitas berdasarkan kenyataan bagi kepentingan personal. Konsep itu seolah harus dibawa dan dikembangkan agar menjadi ekor yang baik lagi benar.

Dalam cerpen yang berjudul “Ampun”, dituturkan bagaimana Matnaji, seorang bandit besar yang memutuskan memulai hidup baru di pesantren, karena telah kehilangan relasinya dan ia tidak lagi mampu melakukan aksi sendirian. Cerpen ini tampaknya memang sengaja memilih ruang-ruang religiositas guna mengungkapkan kecemasan akan rasa aman dan trauma dari peristiwa masa lampau yang jalin-kelindan. Di pondok pesantren, Matnaji juga harus sabar menghadapi penyakitnya. Penyakit yang sering kambuh, yang didapatnya selepas kejadian itu –.(hal. 7).

Tak hanya itu, sifat mengutamakan kepraktisan dan kegunaan dalam tindakan yang dilakukan tokoh utama dalam cerpen “Boi” juga menunjukkan bagaimana orang Madura yang bergerak cepat. Alih-alih menunggu kehendak Tuhan untuk memberi pelajaran pada bapaknya, tokoh Aku justru memilih melampiaskan kekecewaannya sendiri sebagai seorang anak yang kurang kasih sayang. “Dukk!” Bola handuk berpaku itu mengenai bagian belakang kepala bapak. Lalu kulihat darah mengalir dari sela-sela rambutnya. Sebentar lagi darah itu akan menjadi banjir. Bapak akan marah padaku. Ia akan mengingatku karena telah menjadi pelempar, seperti aku mengingatnya. (hal. 16).

Di cerpen lainnya, “Nonggul”, meskipun berangkat dari premis apik yaitu mengangkat tradisi lomba setet—jenis layangan yang ada di Madura, di tengah jalan dengan perlahan tapi pasti, cerita bergeser ke arah kepercayaan akan hasrat dan prasangka tanpa peduli tindakannya itu akan merugikan orang lain atau tidak. Sungguh kental aroma mistik yang peserta percayai, bahkan para pemilik setet dapat dengan mudah marah hanya karena gulungan senar mereka dilangkahi seseorang. (hal. 60). Dan konsekuensinya adalah perlombaan itu bukan lagi jadi ajang untuk memperebutkan hadiah, tapi sebuah perang yang harus dimenangkan.

Tapi pertanyaan selanjutnya apakah beban berat kebudayaan daerah itu hanya bisa dituturkan dalam ranah asal? Seberapa besar kemungkinan dari keterpisahan yang terbentuk dan mampu‘hidup’?

Dalam cerpen “Menghadap Langit”, mungkin Andy sudah coba menjawabnya meski tanpa tendensi untuk mempertebal keterpisahan dari asalnya. Sayangnya, dalam posisi bingung dan masygul untuk tetap mempertahankan ironi yang sudah dibangun sekaligus menghadirkan suspensi, yang empunya cerita akhirnya memutuskan untuk melompati bagian penyebab di balik terjadinya peristiwa.

Serupa dengan itu, di cerpen yang berjudul “Rumah Dulla”, kita akan berjumpa dengan Dulla yang berkemauan keras dan melihat kehadiran ibunya hanya untuk memenuhi sebuah syarat. Sayangnya ketegangan menghadapi peristiwa malah menghasilkan efek yang terlampau kasar dari perpindahan satu bagian ke bagian lainnya. Jika kau melihat kerusakannya kau tak akan percaya jika Dulla bisa selamat dari kecelakaan itu. Dulla hanya tergores beberapa senti di bagian lehernya saja namun tiga penumpangnya menemui ajal. (hal. 79).

Semua itu hanya eksplorasi, tentu. Tapi pilihan semacam itu justru menujukkan bahwa Andy tidak sedang bermain di ranah yang membuka ruang untuk pertentangan. Ia tampaknya hanya ingin dunia ceritanya dapat diterima sebagaimana mestinya.

Hal yang kuat dan menarik dari buku yang berisi lima belas cerpen itu, bagi kita, sebenarnya adalah bagaimana penulis menawarkan penggabungan antara sesuatu yang abstrak dan yang konkret. Ia berusaha menangkap laku dalam berproses. Dalam cerpen “Kaligrafi Semar” yang menjadi judul buku misalnya, ada gambaran mental yang dalam dari apa pun yang ada di luar subjek, yang digunakan untuk memahami peristiwa dan citra diri, sehingga apa-apa saja yang dilakukan tokoh Semar bukan hanya berguna sebagai tanda, tapi juga cenderung hiperbol.

Hal demikian, sekiranya perlu diketahui para pembaca lantaran mampu membuat buku kumpulan cerpen Kaligrafi Semar memiliki sisi tersendiri di laut lepas yang sudah lebih dulu diarungi para penulis prosa dari daerah Madura lainnya.


Rizki Amir lahir di Sidoarjo, 1995. Terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Rahasia Pasar (2017). Terpilih sebagai penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2017. Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.

Buku, Resensi

Selamat Mengalami Mimpi Buruk

Oleh Shofyan Kurniawan

Bayangkan ketika kita memiliki keinginan yang besar untuk melakukan kejahatan, sesuatu yang oleh alam sadar coba ditekan dan direpresi sedemikian rupa karena itu bertentangan dengan nilai-nilai yang telanjur dianut dalam realitas kita. Misalnya, kita ingin sekali menghajar kepala seseorang dengan sol sepatu sampai bocor tanpa tahu alasannya. Bisa juga, kita ingin sekali melakukan pembunuhan berantai berbekal sepucuk pistol, menembaki satu per satu korban. Namun keinginan-keinginan semacam itu harus ditekan habis kalau kita tidak ingin berurusan dengan hukum dan perangkat-perangkat penegaknya. Meski begitu, keinginan-keinginan itu mencoba mencari jalan keluar. Jika tidak bisa di kondisi sadar, hal semacam itu akan datang melalui mimpi. Ya, mimpi. Kondisi ketika kesadaran merenggangkan kekangnya.

Bisa dibilang itulah yang coba diceritakan Aris Rahman P. Putra dalam kumcernya berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive. Ia mencoba menceritakan tentang kejadian-kejadian yang berlangsung dalam kepala ketika sedang mengalami mimpi.

Mulholland Drive sendiri—yang dipakai Aris Rahman P. Putra sebagai pelengkap judul bukunya, mengacu kepada salah satu karya terbaik David Lynch, sutradara yang gemar membuat film-film surealis. Kita juga bisa melihat gambar sampul buku yang dipilih: Manusia kelinci berjas yang sedang membawa pistol, seolah mencoba mengingatkan kita kepada salah satu film David Lynch lainnya berjudul Inland Empire. Melalui judul dan sampul buku, kita seakan bisa langsung tahu apa yang hendak diceritakan Aris Rahman P. Putra di sini.

Membaca Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive, kita seolah diajak untuk mengalami mimpi. Ada beberapa bagian yang tidak masuk akal seakan mencederai logika cerita, tetapi ketika kita mengerti bahwa apa yang hendak disampaikan adalah dunia yang berlangsung dalam mimpi, kita akan langsung memberi pemakluman.

Misalnya saja, ketika kita membaca cerpen berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive yang juga menjadi judul buku ini. Di sana terdapat serangkaian pembunuhan yang terjadi hanya karena sepucuk pistol—pistol yang sama. Pembunuhan pertama dimulai di sebuah kafe dengan korban seorang pemuda yang semula hendak merampok, kemudian berlanjut ke seekor anjing, lalu pada sebuah keluarga, lantas berlanjut pada pasangan kekasih yang terlibat cekcok karena salah satunya kepergok selingkuh. Menariknya, setelah pembunuhan terakhir pistol itu malah jatuh ke tangan seseorang yang langsung saja memberi kita sebuah kesan dan tonjokan yang membuat kita bergumam: “Hmmm, sepertinya barusan aku melewati satu mimpi buruk deh.”

Cerpen lainnya yang berjudul Mimpi-mimpi yang Perlu Kaualami Sebelum Menjadi Nabi merupakan gambaran paling nyata dari kekacauan yang terjadi dalam sebuah kepala. Kita mungkin akan merasa kasihan dengan apa yang dialami kepala tersebut karena harus melompat dari satu mimpi yang ganjil ke mimpi ganjil lainnya.

Ada juga pemuda pengidap skizofrenia di Catatan-catatan Mengenai Pasien No. 35. Setiap si pemuda bangun tidur, ia mengalami semacam halusinasi yang selalu berbeda tetapi memiliki satu benang merah yang menghubungkan semuanya: si pemuda punya trauma berkaitan dengan seks.

Meski begitu, Aris Rahman P. Putra tak melulu bernarasi soal alam bawah sadar belaka. Di bagian lain, ia juga menghadirkan cerpen-cerpen bergaya realis, misalnya: Antipode dan Harga yang Pantas untuk Sebuah Kebodohan dan Rekaman-rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan. Walau bergaya realis, di sini Aris Rahman P. Putra tidak hanya mengambil peran sebagai pencatat atau sekadar perekam, melainkan juga menggiring kita menemukan sebuah pemahaman baru atas peristiwa-peristiwa yang coba ia angkat ke permukaan. Di lain sisi, dia juga ingin menghadirkan sebuah kesan, bahwa hidup hanyalah kemurungan-kemurungan yang coba kita bungkus dengan harapan dan optimisme. Sehingga tidak bisa dihindari kalau Aris Rahman P. Putra terkesan menolak narasi-narasi romantis, mirip seperti Holden Caulfield di novel Catcher In The Rye karya J.D. Salinger. Seperti yang bisa kita jumpai di cerpennya berjudul Kuesioner 1: Bagaimana Menemukan Pasangan yang Tidak Gampang Bunuh Diri yang digambarkan melalui potongan sajak yang berbunyi:

Bagaimana cara

menghentikan hujan di kepala?

Barangkali kita terlalu melankolis

dan menjadi dungu

Karena cinta

Sehingga lupa

Bahwa di dunia

ini, ada sesuatu bernama

payung dan jas hujan

yang membuat kita

tetap kering

Meski digempur

hujan tak reda-reda

Salah satu cerpen berjudul Rekaman-rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan  berkaitan dengan kerusuhan yang terjadi di tahun 1998, menjelang lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan. Di sini Aris Rahman P. Putra menggambarkan bagaimana bermacam-macam orang dengan latar belakang berbeda pada masa itu merespon peristiwa tersebut. Jika kita pernah membaca karya J.D. Salinger berjudul Orang Asing dan sampai di bagian ketika sang tokoh utama bernarasi kalau ia tidak percaya pada saat ia terlibat perang dan bergelut dengan hidup dan mati, di tempat yang lain ada orang yang dengan santainya mengajak anjingnya berjalan-jalan keliling kota; di cerpen Aris tersebut, kita bisa mendapatkan sensasi yang kurang-lebih mirip.

Cerpen-cerpen Aris memang cenderung bernuansa murung dan pesimis, seolah ia ingin mengatakan hidup hanya segunung tahi yang dibungkus kertas kado. Bahkan jika ada sesuatu yang lucu di sana, itu bukanlah murni kelucuan yang telanjur dipahami secara massal tapi sesuatu yang memang layak untuk ditertawakan, entah tawa ngakak ataupun sambil meringis. Jika kita terlalu memandang hidup ini dengan optimis, menganggap semuanya bakal indah pada waktunya, mungkin kita perlu mencoba membaca cerpen-cerpen di dalam buku ini supaya khayalan kita tidak kelewat utopis. Bagaimanapun, hidup yang baik adalah hidup yang dijalani, setaik apa pun itu.


Shofyan Kurniawan. Lahir dan besar di Surabaya.