Dalam dunia pendidikan
nama Soewardi Soerjaningrat sepertinya begitu asing di telinga kita. Padahal,
nama Soewardi Soerjaningrat sendiri merupakan nama bangasawannya dari Ki Hadjar
Dewantara sebelum mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922.
Telinga kita lebih
akrab dengan nama Ki Hadjar Dewantara sebagai bapak pendidikan Nasional
Indonesia dan pencetus “Tut Wuri Handayani”. Terbukti, setiap tanggal 02 Mei,
diadakan perayaan hari pendidikan nasional yang melambangkan bahwa Ki Hadjar
Dewantara memiliki peran penting dalam dunia pendidikan Indonesia.
“Studi ilmiah terhadap
tokoh-tokoh sejarah nasional kita masih sedikit dilakukan orang,” adalah
kalimat pembuka dalam kata pengantar buku berjudul Soewardi Soerjaningrat
dalam Pengasingan (2019) karya Irna H.N Hadi Soewito. Ditulis
oleh seorang sarjana perempuan Indonesia dalam bidang sejarah, kalimat tersebut
jelas menunjukkan pada kita akan kelangkaan terhadap kajian tokoh-tokoh sejarah
nasional Indonesia.

Tersirat pula rendahnya
minat kita tentang pengetahuan nama asli tokoh-tokoh yang memiliki peran besar
dalam sejarah modern Indonesia. Nama asli tokoh sejarah seolah-olah tidak
memiliki ruang dan sudah tergantikan dengan nama panggilan, sehingga kita tak
memiliki pengetahuan yang utuh tentang nama tokoh tersebut.
Dalam buku Soewardi
Soerjaningrat dalam Pengasingan menginformasikan pada kita tentang
perjalanan kisah hidup, perjuangan, dan rekam jejak Ki Hadjar Dewantara ketika
masih muda, atau sebelum mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta di tahun 1922,
mulai dari aktivitasnya di comite boemipoetra hingga pengasingannya ke negeri Kincir
Angin, Belanda, yang dianggap sebagai momentum kebangkitan bersama pers dan
mahasiswa yang memiliki haluan kebangsaan, kerakyatan, dan kemerdekaan dengan
semboyan Indie los van Holland atau Hindia lepas dari Belanda.
Salah satu catatan yang
cukup menarik dalam buku ini, adalah sikap dan kemantapan hati Soewardi menempuh
jalan berbeda dalam berjuang yaitu di bidang jurnalisme. Bagi Soewardi,
jurnalisme adalah suara hati nurani bangsa tertindas yang dapat dikumandangkan.
Oleh karena itu, bagi Soewardi, perjuangan tidak hanya semata-mata dapat
dilakukan dengan mengangkat senjata, bisa juga dilakukan dengan tulisan.
Selain itu, bagi
Soewardi, jurnalisme atau pers bukan hanya semata-mata pekerjaan untuk menambah
isi kantong, akan tetapi lebih dari itu semua. Jurnalisme atau pers digunakan
oleh Soewardi untuk mencurahkan isi hatinya dan sebagai satu-satunya senjata yang
paling ampuh untuk membungkam ketidakadilan bangsa Belanda.
Dari sini kita bisa
membaca bahwa salah satu alasan Soewardi terjun ke dunia jurnalisme atau pers daripada
angkat senjata karena kala itu, masyarakat Indonesia sedikit sekali yang melek
huruf. Dan, keadaan masyarakat Indonesia, oleh Soewardi ini benar-benar disadari
bahwa masih banyak masyarakat yang terbelakang, masih banyak yang belum melek huruf,
hingga membutuhkan banyak pengajaran dan menerangkan apa itu perjuangan dan apa
itu bangsa pada masyarakat Indonesia.
Irna, bahkan
menyebutkan dalam tulisan-tulisan Soewardi banyak guratan kebebasan dan menggambarkan
kondisi kemerdekaan. Ia mengambil contoh tulisan Soewardi yang dimuat De
Expres, berjudul “Kemerdekaan Indonesia” yang isinya dianggap sebagai nyala
semangat politik menuju Indonesia merdeka. Kita simak lintasan Soewardi,
“…setiap pergerakan politik bebas, harus dimulai dengan memutuskan
perhubungan-perhubungan kolonial dan harus menuju ke penghidupan rakyat yang
bebas (hlm. 08)”.
Soewardi menjadikan majalah
De Express sebagai alat propaganda untuk menekan pihak-pihak Belanda.
Bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker, seorang Indo yang sangat memiliki
nasional Indonesia, Soewardi membangun gagasan serta pergerakan dalam politik,
di mana pada 6 Sepetember 1912 menjadi gerakan politik Indische Partij yang
menerima suku bangsa Hindia menjadi anggotanya.
Kita simak pengakuan
Soewardi, dalam buku ini “Baginya majalah ini merupakan alat propaganda, yang
mana kemudian, bersama De Expres, menjadi pelopor kelahiran partai
politik yang disebut Indische Partij. Partai yang bertujuan untuk memajukan dan
mengembangkan tanah air, serta mempersiapkan bangsa Hindia agar dapat berdiri
sendiri. Indie voor Indiers atau “Hindia untuk bangsa Hindia” (hlm. 08).
Tulisan Soewardi oleh
pihak kolonial dianggap memiliki narasi menghasut hingga akhirnya ia ditangkap, bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan
Douwes Dekker diasingkan ke Belanda. Di pengasingan ini, Soewardi bersama
istrinya berada dalam kehidupan serba kekurangan dan begitu menghimpit. Walaupun
demikian, ia menyadari bahwa jalan satu-satunya mencari tambahan nafkah melalui
menulis di surat kabar.
Salah satu tulisan
Soewardi yang membuat pihak Belanda kebakaran jenggot dan tak mungkin dilupakan
berjudul “Als ek eens Nederlander was” atau “seandainya aku orang
Belanda” tulisan satir ini dianggap sebagai suatu tamparan bagi pemerintahan Belanda.
Bagi pembacanya,
tulisan Soewardi ini dianggap memiliki gaya bahasa yang sangat menarik,
menyakinkan pembaca, berisikan kata-kata yang dipilih secara tepat, dan
kalimatnya tersusun rapi, menusuk, tidak kasar dan tidak pula memaki, tidak
berbelit-belit serta mudah dimengerti. Di setiap guratannya memberikan renungan
untuk pembaca sebagai bagian dari cerminan jiwa dan budinya yang jujur serta
sederhana (hlm. 56).
Di Belanda, selain
menulis, Soewardi aktif di pelbagai forum, seperti Indische Vereening dan
memberikan pengaruh yang sangat kuat di kalangan mahasiswa Hindia. Selain itu,
ia juga mendirikan sebuah kantor berita bernama Indonesisch Persbureau
(Biro Pers Indonesia) bertujuan untuk mempererat hubungan mahasiswa tanah air
(hlm.72).
Satu hal lagi yang
cukup menarik selama Seowardi berada di pengasingan, bahwa ia tak menjadikan hal
itu sebagai beban berat hingga membutakan pikirannya. Kontribusinya selama
berada di pengasingan terkait persoalan politik tidak di ragukan lagi. Warisan
gagasan dan gerakannya sebagai salah satu pelopor anti-kolonial Indonesia tak
kalah pengaruhnya bagi formulasi gagasan radikal dan visionir atas terbentuknya
Indonesia modern.
Maka tak salah jika
dalam Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of
Nationalism (2006) garapan Benedict Anderson menyebutnya sebagai patron
para aktivis “Nasionalis-Jawa-Indonesia awal”. Dalam artikel “Soewardi di
Pengasingan: Nasionalisme versus Sosialisme” (2014) di Lembaran Sejarah,
Joss Wibisono menyatakan bahwa selama di pengasingan Soewardi memiliki
kecondongan haluan dan pemikiran politik kepada “nasionalisme kanan”.
Setelah lima tahun berada di pengasingan, Soewardi Soerjaningrat kembali ke tanah air dan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia pada 15 September 1919, setelah 51 hari terapung di Samudra Atlantik. Kembalinya ke tanah air ini, dimaknai sebagai medan perjuangan yang sebenarnya bersama Taman Siswa pada tahun 1922.

Syahuri Arsyi, penulis lepas, saat ini aktif di Komunitas Diskusi buku dan diskusi Malam Sabtu (dulu: Limited group). Bisa disapa di Facebook: syah arsyie, Instagram: syah.arsyi1717, dan Twitter: sya.arsyie1717.
0 Komentar