Ragam

SABTU: SASTRA DAN NOSTALGIA

Sabtu tak dijanjikan seru. Aku memulai Sabtu, 28 Oktober 2023, bukan dengan upacara tapi menjemur cucian. Di atas, matahari seperti memanjakan tubuh dengan sinar terlalu terang. Sabtu yang terang, belum tentu Sabtu yang seru.

Beberapa tahun lalu, aku terbiasa menulis esai-esai bertema Sumpah Pemuda. Kini, aku dikutuk jemu. Sulit menulis dengan ikhlas tentang Sumpah Pemuda meski aku khatam buku Keith Foulcher, Suwarsih Djojopuspito, Abdoel Moeis, dan lain-lain. Aku sedang kebingungan mengartikan Sumpah Pemuda saat di Jakarta diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia dan Kongres Kebudayaan Indonesia. Kongres-kongres masih menentukan derajat peradaban Indonesia. Di buku-buku sejarah, Sumpah Pemuda selalu teringat dengan Kongres Pemuda II (1928). Kita masih muungkin mengingat “kerapatan” tapi rasanya lawasan.

Sabtu pagi, aku meninggalkan rumah untuk sampai ke Universitas Muhammadiyah Surakarta. Lama aku tidak berkeliaran di tempat ikut membentuk biografi. Sampailah di tempat parkir, bergerak lagi untuk “memarkir” tubuh di ruangan seminar. Hari itu aku menghadiri seminar sastra diadakan oleh para mahasiswa PBSI, FKIP, UMS. Aku bukan undangan atau pendaftar sebagai peserta. Datang sebagai pengunjung ilegal. Urusanku adalah menonton Panji Sukma berperan sebagai pembicara.

Adegan yang harus dilakukan adalah naik tangga menuju lantai 4. Aku sedang melewati tangga-tangga nostalgia. Dulu, aku berulang lewat tangga untuk kuliah. Masa lalu sebagai mahasiswa di situ.

Ruangan yang tampak suram dan murung. Aku sulit mengatakan bersih dan rapi. Papan untuk pemasangan bentangan kain acara sudah rapuh. Di atas, lamat-lamat kelihatan. Tembok-tembok itu menua. Duduk di kursi, merasa sedang mengikuti perkuliahan. Di depan, dua kursi rotan untuk pembicara dan moderator. Mataku melihat benda-benda dalam ruangan kurang selaras. Tampak mimbar di panggung. Di sebelah panggung, ada angklung tanpa dimainkan menghasilkan kemerduan.

Yang hadir puluhan mahasiswa. Mereka mengenakan batik dan jas almamater. Aku sedang dalam “teater” hajatan pernikahan dicampur perkuliahan. Duduk di depan dengan ketenangan tanpa mampir mengisi buku tamu dan tanda tangan. Panji Sukma berbagi kardus berisi jajanan. Ia memastikan tampangku kelaparan. Kardus dan minuman dalam botol membuatku sah mengikuti acara.

Sabtu, 28 Oktober 2023, Panji Sukma dan para mahasiswa menyanyikan Indonesia Raya. Pemberi sambutan malah kebablasan memberi penjelasan bahwa 28 Oktober 1928 adalah peresemian bahasa Indonesia. Aku menikmati semuanya sebagai “upacara”.

Panji Sukma mulai omong. Mikrofon di tangan. Tubuhnya tidak mau duduk di kursi. Ia sedang manahan sakit. Beberapa hari sebelumnya, tubuh gagah dan bertato itu merasakan sakit. Obat-obat memasuki tubuhnya tanpa janji segera sembuh. Di hadapan para mahasiswa, lelaki kesakitan membicarakan sastra di Indonesia. Usaha agar tak bergerak terlalu jauh, ia menceritakan diri sebagai pengarang. Omongan-omongan aku anggap tak mengikuti jalan besar ditetapkan panitia menggunakan tema mengandung “multikultural”. Bagiku istilah itu susah.

Penampilan Panji Sukma moncer dengan novel Sang Keris dan Kuda tampak rapi. Ia sadar diri sedang berada di ruangan bersama kaum muda bakal menjadi pendidik. Omongan tentu ikut “rapi”, tak perlu ada ledakan atau makian. Panji Sukma memberi suguhan novel-novel gubahan para pengarang Indonesia. Ia pun mengabarkan novel-novel berpengaruh saat mengerjakan penulisan cerita.

Mulut itu berucap: Lelaki Harimau gubahan Eka Kurniawan. Di kursi, aku perlahan mengenang. Beberapa tahun lalu, ruangan itu berselera sastra saat aku masih menjadi mahasiswa. Di situ, Saut Situmorang pernah omong sastra. Aku mengundang dalam acara diskusi, setelah aku terkesima dengan puisi-puisinya. Ia datang menggunakan sepeda motor merek Honda, bergerak dari Jogjakarta. Aku ingat penampilan dan omongan Saut Sitomurang bikin berdebar para mahasiswa. Ada dosen-dosen tampak kurang senang. Aku sedang dalam masa nakal, berhak menghadirkan Saut Situmorang ke UMS. Urusan paling menyulitkan adalah “botol” untuk penyair yang berambut gimbal.

Di panggung, masa yang berbeda, yang aku lihat adalah Panji Sukma yang berambut panjang. Ia dengan kesantunan. Kehadirannya cukup menghibur dan membuat para mahasiswa rajin bertepuk tangan. Yang pasti, aku sedang menikmati omongan orang sakit. Bagiku kurang seru. 

Aku kembali mengingat Eka Kurniawan. Dulu, aku mengundang Ratih Kumala ke UMS. Aku rampung membaca novel dan beberapa kali berkunjung ke rumah Ratih Kumala di Solo. Pertemuan-pertemuan kadang dengan kehadiran Eka Kurniawan. Di ruang semianr itu, Eka Kurniawan turut saat Ratih Kumala omong di depan seratusan mahasiswa, beberapa tahun lalu.

Panji Sukma belum mengetahui di ruangan yang sama, dulu hadir Eka Kurniawan yang kondang dengan Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Yang hadir di ruangan itu masih ada beberapa pengarang, yang membuatku merasa pasti menempuhi jalan sastra. Nostalgia sebagai mahasiswa yang keranjingan sastra. Di UMS itu pula aku mengenang babak-babak awal menggerakkan buletin Pawon dengan berjualan dan mencari para pelanggan. Keisengan tak terlupa adalah membentuk Jamaah Fundamentalis Sastra, selain turut dalam teater.

Panji Sukma selesai omong, para mahasiswa memberi pertanyaan-pertanyaan. Aku kadang ingin menutup telinga. Namun, kehadiranku tidak boleh hanya menuruti nostalgia. Aku mendengar pertanyaan-pertanyaan “biasa”. Panji Sukma menghormati dengan jawaban-jawaban santun. Lelaki itu kadang memicu tawa tapi tetap saja seminar sastra tak seru.

Acara selesai, aku, Panji Sukma, dan Aji W mampir sebentar ke kelas digunakan untuk pameran puisi. Mataku prihatin melihat kertas-kertas putih memuat puisi dipajang dengan tali-tali. Beberapa buku ditaruh di atas meja. Mereka terlalu berani mengadakan pameran yang justru tampak “meremehkan” sastra.

Kami bertiga lekas turun. Percakapan pendek bertema sastra saat siang mengganas. Kami wajib makan. Berjalan keluar kampus sambil aku melihat sisi-sisi auditorium, yang dulu aku gunakan berjualan buku-buku bekas. Riwayat sebagai pedagang buku dan kaset bekas dimulai di situ meski mengalami pengusiran oleh pejabat kampus.

Kami masuk warung bakso. Di atas meja, tiga mangkok bakso tetelan. Panji Sukma menjadi juragan agar lapar dan haus terjawab. Dua lelaki merokok di sampingku. Aku menyainginya dengan makan dua bungkus rambak. Keringat mengalir membuktikan bakso dan es telah bereaksi dalam tubuh.

Kami pun berpisah, berbeda arah. [] Kabut

Ragam

KAMIS, PENGUNJUNG, BUKU

Kamis, nama hari yang kadang bermakna religius. Aku jarang membuat pengertian bermula nama-nama hari. Pengetahuanku belum mendalam untuk mengartikan manusia dan waktu.

Pada, 26 Oktober 2023, aku digoda mengartikan Kamis adalah buku. Di rumah, aku masih bersama ribuan buku berdebu. Keseharian yang berulang, tidak memunculkan makna-makan mengejutkan. Aku yang memegang dan membuka buku-buku, menggunakannya untuk menulis esai atau iseng memanen kutipan. Beberapa buku dipotret untuk dipamerkan di media sosial: dagangan.

Beberapa hari lalu, hujan deras dan angin. Atap rumah berantakan. Air hujan mudah masuk “memandikan” buku-buku. Aku dengan kengawuran naik ke atas seperti mendekati matahari. Yang terjadi adalah tubuh terkena panas dan berkeringat. Di ketinggian, tubuh cepat basah dan gemetaran. Ilmu (tukang) rumah tidak termiliki, berakibat gagal membereskan atap yang berantakan. Aku cuma sedikit merapikan agar tidak terbuka lebar untuk air hujan. Yang terpikirkan: nasib buku-buku bila mendapat berkah hujan.

Siang itu mendapat kabar dari teman. Ia tinggal di Jogjakarta, berpredikat pedagang buku. Kabar datang bahwa ia mungkin mau sedikit merepotkan. Rencana ia mau dolan dan menginap di rumahku saat malam. Aku mendapat penjelasan jika siang ia berdagang buku di Solo. Kaget. Orang dari Jogjakarta “berani” berjualan buku di Solo.

Poster dikirim ke gawaiku. Aku membaca tanpa gairah: “Hari Besar Perpustakaan 2023”. Acara diadakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta. Telat mengetahui pengumuman acara yang seharusnya mengenai buku. Acara diselenggarakan Kamis-Jumat, 26-27 Oktober 2023. Yang ditawarkan: (1) pasar dan pameran buku, (2) panggung kreasi seni. Di poster, aku membaca diksi buku.

Gambar di poster adalah buku-buku tebal beragam warna. Yang terlihat bukan foto buku. Gambar buku dan bola dunia mungkin diperoleh di internet. Aku yang kelelahan dan gemetaran setelah turun dari ata rumah merasa berkepentingan bertemu teman-teman. Siang yang terang itu memberi alasan terpanas menuju Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta.

Kaget. Parkiran ramai berada di jalan kecil di sebelah kantor. Sepeda motorku parkir di situ, memberi 2 ribu kepada seseorang tidak sah sebagai tukang parkir. Ia tidak mengenakan seragam, tidak memberikan karcis. Aku berikan saja 2 ribu demi membuktikan acara disangka melulu buku.

Salah. Tempat itu ramai oleh ratusan murid SD, para ibu, dan guru. Mereka mondar-mandir. Ibu-ibu duduk atau berkerumun berbagi cerita. Di tangan mereka, gelas es teh dan makanan. Mereka yang memilih terlindung dari sinar matahari tapi tetap saja sumuk.

Aku melihat di halaman depan yang panas. Tenda-tenda untuk penjualan buku. Yang tampak adalah dagangan dari dua toko buku di Solo. Mereka pindah tempat sejenak, berharap mendapat pembeli. Ada pula meja-meja di atasnya banyak buku yang ditunggu oleh Patjarmerah. Ada dagangan buku-buku bekas. Pastilah itu dagangan teman dari Jogjakarta. Aku duduk di situ: panas dan sepi. Orang-orang tidak mampir: menonton buku atau membeli buku. Yang berdagang buku jauh dari kerumunan murid dan ibu.

Dagangan yang ditata rapi itu kesepian. Dagangan tanpa tatapan mata dan sentuhan tangan para “pengunjung” dalam acara Hari Besar Perpustakaan 2023. Dugaanku, ratusan murid datang dalam kepentingan penugasan dari sekolah. Pihak sekolah-sekolah mungkin dapat undangan untuk berkunjung ke perpustakaan. Siasat mencipta keramaian dan “kesuksesan” bagi dinas pemerintah dan sekolah.

Kesadaran yang terlambat. Hal terpenting adalah “kunjungan”. Di poster, aku membaca keterangan bagian bawah: “Kunjungan perpustakaan daerah Kota Surakarta”. Ratusan murid dan ibu adalah “pengunjung”. Mereka sewajarnya mengisi buku tamu atau buku kunjungan. Hitunganku: dua hari bakal ada ratusan pengunjung. Perpustakaan terbukti dikunjungi banyak orang.

Pada saat berkeliling sebentar, aku melihat panggung dan gelaran karpet. Panitia menamakan “panggung kreasi seni”, tidak harus ada hubungannya dengan buku. Ingat, perpustakaan tidak hanya buku. Di lantai atas, murid-murid malah bisa menonton film. Pengertianku kolot bahwa perpustakaan itu buku gara-gara ada “pustaka”. Aku wajib meralatnya. 

Di bawah tenda dan suasana yang gerah, aku dan dua teman dari Jogjakarta membuat obrolan enteng. Obrolan bertema buku. Kami memesan es teh dan es jeruk. Menit-menit berlalu, kami tidak betah berada di tenda. Aku bergerak masuk ke perpustakaan. Teman-teman memilih berada di teras.

Murid-murid itu mondar-mandir. Mereka tampak ceria. Beberapa murid membawa buku tulis dan bolpoin. Telingaku mendengar mereka sedang direpotkan membuat tugas dari sekolah berupa laporan kunjungan. Mereka datang dengan tugas, bukan keinginan yang tulus atau berusaha menikmati perpustakaan. Aku pun berkunjung dengan pamrih.

Masuk ke perpustakaan, berharap tidak kepanasan lagi. Dingin perlahan terasa. Di ruang koleksi buku, murid-murid berlarian. Ada yang main petak umpet. Ruangan yang mirip pasar. Ruangan itu menampilkan buku-buku yang tenang dan kesepian. Namun, murid-murid lebih berkuasa di ruangan. Para pegawai tampak kebingungan. Yang pasti mereka “berprestasi” gara-gara jumlah pengunjung terhitung banyak. Aku tidak mengisi buku kunjungan, lekas bergerak ke rak-rak.

Dulu, aku mengunjungi perpustakaan milik pemerintah itu saat masih berada di Jebres dan Kepatihan. Aku membaca koran dan buku-buku lama. Sepuluhan tahun berlalu, aku masuk ke perpustakaan di gedung yang kokoh dan alamatnya dekat Stasiun Balapan (Solo). Mataku masih melihat koleksi buku-buku dari yang pernah terlihat saat di Jebres dan Kepatihan. Koleksi baru tidak banyak. Di ruangan yang ramai, aku ingat masa lalu dan sedih. Aku merasa tidak bergairah untuk masuk lagi ke perpustakaan milik pemerintah. Tatanan rak dan koleksi buku hanya lirih memanggilku. Yang terpenting, di ruangan itu tidak kepanasan atau keringatan.

Aku kembali ke halaman. Pamit ke teman-teman. Sore, jatahku menjemput anak-anak pulang sekolah. Teman-teman tampak sedih. Kamis tidak berarti orang-orang keranjingan buku dengan membeli buku-buku: lama dan baru. Acara itu justru terlihat persekutuan perpustakaan dan sekolah. Teman-teman berjanji mau dolan ke rumah. Mereka mungkin tidak betah di (halaman) perpustakaan yang mengabarkan “hari besar” tapi tidak menghasilkan nafkah.

Malam, dua teman dari Jogjakarta sampai di rumahku. Tiga teman lain yang tinggal di Solo juga berada di rumahku. Kami dalam obrolan seru bertema perbukuan. Obrolan mengandung tawa, ejekan, dan bualan. Di depan kami, seporong teh hangat ditemani martabak dan rokok. Mereka menikmati obrolan bersama ribuan buku berdebu yang berserakan. [] Kabut

Ragam

PEMBACA DAN KOTA

Malam penderitaan telah berlalu. Malam penuh siksa gara-gara sakit gigi. Kamis, 19 Oktober 2023, datang dengan terang yang sulit ditandingi lampu yang bermerek terkenal menjanjikan “terus terang” dan “terang terus”. Pagi yang siang. Selanjutnya, siang makin tambah siang.

Aku meninggalkan rumah, berpesta panas di jalan. Alamat tujuan adalah toko buku terkenal di Solo. Iseng mau sembunyi dari matahari. Masuk dengan pamrih ikut membaca koran dan majalah. Sejak lama, aku biasa berbekal 2 ribu atau 3 ribu untuk mendekam di toko buku selama 1 jam atau lebih. Di situ, aku adalah pembaca yang tergesa dan pemotret halaman-halaman kertas yang memamerkan huruf-huruf.

Di bawah sinar lampu, aku membaca Kompas. Di luar, orang-orang menikmati sinar matahari tanpa menjadi pembaca koran. Aku membaca Kompas terbitan Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Berdiri membuka halaman-halaman koran yang harganya 9 ribu. Jadilah pembaca cepat!

Aku memberi perhatian yang lama untuk Kompas, Senin, 16 Oktober 2023. Judul berita di halaman depan: “Terjajah Pangan di Kepulauan”. Berita itu bersanding dengan foto Ducati Lenovo di Mandalika, NTB. Aku belum tergoda memikirkan balapan di jalan beraspal. Pikiranku justru ingin balapan membaca berita, segera melupakan atau membuat catatan kecil.

Di toko buku, aku jarang membeli koran, majalah, atau buku baru. Peranku cuma menjadi pembaca. Siang itu aku mewajibkan diri membeli Kompas berisi tulisan-tulisan bertema pangan. Duit untuk beli bensin digunakan untuk Kompas. Pada hari Kamis, aku membeli koran edisi Senin, edisi yang sudah basi. Bensin (12 ribu) membuatku bisa bergerak di jalan beraspal dan pesta panas. Koran (9 ribu) membuatku malu berjalan di muka Bumi makin rusak dan mengalami krisis pangan.

Sore, teman-teman datang ke rumah. Obrolan sejenak mengenai pendidikan, guru, dan bacaan. Sore yang tergesa. Aku masih mengurusi pekerjaan-pekerjaan di belakang tapi harus menghormati teman-teman menginginkan obrolan. Aku tidak bisa menyuguhkan teh hangat. Padahal, teman membawakan pisang goreng. Yang terpenting obrolan singkat.

Aku sempat mengutip hal-hal dalam novel berjudul Kirti Njunjung Drajat (1924) gubahan Jasawidagda. Novel yang mengisahkan lelaki muda emoh menjadi priyayi seperti dikehendaki orangtua. Ia memilih bekerja di pabrik. Episode mendapat pengetahuan dan keberanian menentukan nasib dipengaruhi bacaan. Darba, tokoh dalam novel, memiliki gairah membaca beragam surat kabar terbit dan beredar di Solo dalam masa pergantian: akhir abad XIX dan awal abad XX. Ia membaca surat kabar berbahasa Melayu dan Jawa, sebelum menambahi kemampuan dalam bahasa Belanda.

Di hadapan teman-teman, aku sebenarnya ingin menguatkan masalah pendidikan dan keaksaraan bergerak di Solo masa lalu. Mangkunegaran menjadi tempat penting. Jaswidagda bekerja sebagai pengajar di Mangkunegaran. Ia malah pernah menulis buku berjudul Bocah Mangkunegaran. Aku juga mengabarkan ke teman-teman tentang kesusastraan dan Mangkunegaran. Nama wajib diobrolkan bila mengadakan acara di Mangkunegaran: Partini atau Arti Purbani. Ia adalah pengarang cerita-cerita. Beberapa orang mengenalinya sebagai istri Hossein Djajadiningrat.

Senja, mereka pamit. Aku kembali ke urusan rumah dan mushola di desa. Malam tiba, teman-teman yang lain datang ke rumah. Aku masih sempat mengutip hal-hal dalam novel gubahan Jasawidagda. Novel yang aku baca berulang, masih sering aku jadikan referensi dalam menulis esai-esai.

Hari yang dijanjikan tiba, Jumat, 20 Oktober 2023. Aku dan dua teman naik bis, bergerak dari Terminal Tirtonadi (Solo) menuju Balai Bahasa Jawa Tengah beralamat di Ungaran. Bus yang malas. Pagi itu aku menduga bakal terlambat sampai Ungaran. Di Salatiga, bus tidak bisa melanjutkan perjalanan. Kami diminta ganti bus. Telat. Telat. Telat.

Di ruang diskusi (Balai Bahasa Jateng), 30-an orang sudah hadir untuk ikut dalam diskusi novel Kirti Njunjung Drajat, menjelang peringatan 100 tahun. Aku masih berada di jalan. Bus sudah kehilangan takdir kecepatan. Kami naik bus sekalian ingin mengenang kepergian Darba, tokoh buatan Jasawidagda, menentukan nasib dengan bekerja. Di Solo, ia sudah magang di Kepatihan sebagai juru tulis, berkemungkinan menjadi priyayi. Ia malah meninggalkan Solo, bekerja di Semarang. Bekerja di pabrik dan menambahi pengetahuan-pengetahuan modern. Perjalanan ingatan dalam novel tidak seperti kenyataan saat harus naik dua bisa tetap terlambat dalam diskusi.

Perut lapar, menahan kencing, dan berkeringat. Aku lekas duduk untuk mengikuti diskusi. Segelas air bening sudah masuk perut. Di kertas lambaran, aku menaruh suguhan yang diberikan panitia: jagung rebus, pisang rebus, dan kacang rebus. Inginku segera menyantapnya. Gagal. Segelas jahe sudah aku taruh di atas meja. Dipandangi dulu setelah mengikuti petunjuk pembawa acara: berdiri untuk bersenandung Indonesia Raya.

Di atas meja, pangan khas desa. Aku jadi teringat dengan tulisan-tulisan di Kompas. Para wartawan menulis tentang pangan terutama di Indonesia timur. Pangan tradisional dihajar nasi dan mi instan. Pagi itu aku sarapan pisang, jagung, dan kacang. Nasi belum masuk perut.

Di novel Kirti Njunjung Drajat, Jasawidagda mengisahkan surat kabar dan pangan: abad XIX dan XX. Aku memilih membahas masalah surat kabar. Semula, Darba berperan sebagai pembaca surat kabar. Ia selanjutnya berani menjadi pembuat tulisan dimuat di surat kabar.

Yang ditulis dalam novel: “Anggenipun Darba maos serat kabar punika dados senengan ageng. Ing saben dinten prasasat boten kendhat pamaosanipun ing serat kabar…” Aku dulu pernah seperti Darba. Kini, aku sulit menjadi pembaca koran setiap hari. Harga-harga koran membuatku tidak sanggup memutuskan menjadi pembaca. Harga koran kadang mengejek bila mengingat (harga) beras dan sayur. Istri dan tiga anak mungkin membuat pemberontakan jika aku rakus “makan” koran. Pada masa lalu, Darba membaca Jawi Kandha, Slompret Melajoe, Bramartani, Medan Prijaji, dan lain-lain.

Jaswidagda mengunggulkan pemuda yang rajin membaca koran untuk mengerti zaman “kemadjoean” dan sanggup bersikap dalam “zaman bergerak” di Solo. Di depanku, 30-an mahasiswa dari pelbagai kampus bukanlah pembaca koran. Mereka malah tidak memiliki pengalaman membeli dan memegang koran. Hidup mereka baik-baik saja. Studi mereka tidak bermasalah. Aku salah omong mengenai pembaca surat kabar di depan kaum muda bergawai, tidak hidup dalam kegandrungan bacaan bekertas. Maka, aku menunduk dan malu. Tertawa menebus kecewa.

Surat kabar dan buku mengubah jalan hidup. Darba dijadikan sosok yang merasakan dampak ketakjuban keaksaraan awal abad XX. Jasawidagda bercerita: “Samangke ingkang tansah dados pamanahan, bab badhe pangupadosipun padamelan. Sampun mesthi kemawon pancen wiwit alit dumugi sekolah saha magang, ingkang kajangka namung anggenipun badhe dados priyantun. Nanging makaten punika Darba namun katut ombaking kathah, liripun anak priyanyun limrahipun dados priyantun, mangka nalika pamagangipun Darba angsal tigang taun, sampun kadhedheran raos boten sakeca, saya malih sareng Darba mindhak-mindhak seserepanipun, dening remenipun maos buku-buku saha serat kabar, tetela bilih kapriyantunan punika inggih satunggaling sarana kemawon kangge pangupajiwa…”

Darba meninggalkan jalan (tradisional) kepriyayian. Ia mengenal seorang Belanda yang memberi ragam pengetahuan dan ajakan untuk bekerja di Semarang. Ia menuruti jalan modern. Di Semarang, ia bekerja dan belajar. Pada akhirnya, kembali ke Solo dengan modal besar digunakan untuk mendirikan toko dan bengkel sepeda saat Boedi Oetomo bertumbuh dan Sarekat Islam memiliki pikat besar di Solo. Rekaman “sejarah” oleh Jaswidagda itu bisa dibandingkan dengan Student Hidjo (1920) oleh Marco Kartodikromo dan Moeslimah (1923) oleh Mochtar Boechari.

Beberapa hari yang lalu, aku khatam lagi Kirti Njunjung Derajat ditemani buku Takashi Shiraishi berjudul Zaman Bergerak (1997) dan buku Susanto yang berjudul Kanonisasi Budaya (2023). Sejarah yang terbaca dalam tulisan Takashi Shiraishi berlatar awal abad XX memudahkan mengetahui sosok, pers, politik, modal, dan lain-lain. Di buku Susanto, aku menemukan dua buku garapan Jasawidagda digunakan dalam mengungkapkan Surakarta masa lalu: Kirti Njunjung Drajat dan Bocah Mangkunegaran.

Di ruang diskusi, aku ikut mengajukan Serat Jayengbaya gubahan Ranggawarsita. Aku anggap itu kitab dagelan terpenting di Jawa. Ranggawarsita tampil dengan humor, bukan pengumbah nasihat-nasihat bijak mengenai pekerjaan. Di hadapan 30-an orang mahasiswa, aku sekadar mengingatkan tentang pendidikan dan pekerjaan mengacu novel gubahan Jaswidagda dan buku-buku berkaitan. Di sampingku, dosen dari Semarang ikut mengingatkan masa lalu dalam ketegangan ideologi, bahasa, dan identitas seperti diceritakan Jasawidagda. Ia sanggup memberi uraian akademik. Aku malah omong sembarangan mengenai novel dan segala hal.

Diskusi rampung. Aku berhasil makan nasi bakar dibungkus daun pisang, tempe goreng, dan kepala ayam. Suguhan yang nikmat sebelum berjumpa Tuhan edisi jumatan. Pada saat makan, bicara dengan beberapa orang, tidak lupa berjualan buku. Kedatanganku tetap sebagai pedagang buku bekas, selain sebagai tukang omong sembarangan.

Siang makin siang. Aku dan teman-teman sempat masuk ke perpustakaan dikelola Balai Bahasa Jateng. Di situ, melihat buku-buku dan obrolan enteng bersama para pegawai. Di bagian belakang, aku melotot dan girang saat menemukan buku mengenai iluminasi dan (sejarah) keaksaraan di Indonesia. Buku besar dan tebal terbitan Lontar. Buku yang mustahil dibaca gara-gara berbahasa Inggris. Terkutuklah!

Kami pulang naik bus. Kami memang tampak naik bus. Aku justru merasa sedang dipanggang matahari. Mesin pendingin udara dalam bus sedang bermasalah. Tubuhku berkeringat. Kaos dan baju basah memberi bau kecut. Di tanganku, ada buku kecil bertema Zen. Aku tidak mau kecewa dan memaki dalam bus. Buku kecil itu terbaca diselingi tidur sejenak yang melelahkan.

Sore, tiba di Terminal Tirtonadi. Sepeda motor yang seharian di parkiran ditunggangi kembali menuju rumah. Di jalan, tunggangan itu kehabisan bensin. Soreku rasanya tetap siang kuadrat. Aku berusaha tidak maki-maki. Hari terlalu banyak keringat tapi tidak sia-sia. [] Kabut

Ragam

PANGGUNG DAN BUKU

Acara itu megah. Yang menyebabkan megah: musik. Di panggung untuk orkes, aku melihat orang-orang yang memegang biola dan pelbagai alat musik. Di belakang, pasukan bernyanyi. Ruangan itu memiliki dua panggung. Di tengah, pangung untuk beragam peristiwa: pidato, menari, menyanyi, dan lain-lain. Panggung di sebelah khusus untuk musik.

Aku datang ke Pekalongan memenuhi undangan sastra tapi mendapat menu musik yang takarannya lebih banyak. Ditambah tarian dan pidato. Aku ikhlas saja. Dulu, aku sempat berpikiran: acara Prasidatama seharusnya banyak yang mengenai bahasa dan sastra. Di panggung atau ruangan, panitia bisa mengadakan bincang-bincang. Di layar, orang-orang bisa menikmati film dokumenter bertema bahasa dan sastra. Di dinding atau meja, beragam buku atau terbitan bisa dipamerkan. Foto-foto tokoh bisa dipajang di dinding atau berjajar di panggung.

Pikiranku itu kengawuran yang sulit diampuni. Aku mengikuti acara berurusan bahasa dan sastra tapi sulit menemukan pemandangan buku-buku. Balai Bahasa Jawa Tengah rutin memberi penghargaan untuk buku-buku yang ditulis para pengarang di Jawa Tengah. Aku pastikan yang terpenting adalah buku.

Di Hotel Nirwana, aku kebingungan mencari pemandangan buku. Yang aku maksud adalah buku-buku sesuai dengan misi yang diusung Balai Bahasa Jawa Tengah dan pelbagai pihak yang ingin memajukan bahasa dan sastra. Pengarang-pengarang memahang hadir tapi tak ada janji buku-buku ikut hadir.

Di tas, aku membawa beberapa buku, yang akan aku bagikan kepada orang-orang yang berhak. Sengaja, aku menjadikan pertemuan-pertemuan dalam acara untuk mengedarkan buku. Misi yang sembrono. Aku ingin pergi bersama buku-buku. Di alamat-alamat yang didatangi, buku-buku bertemu dan berhak dimiliki orang-orang pilihan.

Seingatku, Indah Darmastuti membawa buku. Di gerbong, ia sempat mengatakan ingin memberikan buku kepada seseorang. Aku tidak mengetahui orang-orang yang sebenarnya membawa buku-buku atau berbagi buku mumpung kumpul bersama di Pekalongan.

Tiba saatnya panggung menjadi milik bahasa dan sastra. Bergantian, orang-orang membacakan pengumuman peraih Prasidatama untuk novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dan lain-lain. Yang sering terdengar di telinga: “adalah”. Mereka yang mengumumkan wajib mengucap “adalah”. Pikiran isengku muncul: Prasidatama itu “album adalah”.

Panggung ramai orang. Yang hadir bertepuk tangan. Di depan panggung, orang-orang sibuk memotret. Di kejauhan, aku memandang dengan girang, lupa bertepuk tangan. [] Kabut

Ragam

MEJA DAN HIBURAN

Yang bergerak mulai iseng. Aku menghampiri dosen dan para mahasiswa. Saling beri senyum dan mendoakan. Beberapa bulan yang lalu, aku memberi kuliah umum di Universitas Pekalongan: berakibat agak akrab dengan dosen dan mahasiswa. Pertemuan dalam acara Prasidatama membuat kami seperti mau membuat janji menggerakkan sastra sampai berkeringat dan kelelahan.

Buktinya: aku, dosen, dan mahasiswa berfoto bersama. Yang difoto adalah sepatu kami. Sengaja wajah tidak perlu difoto. Sepatu-sepatu itu lebih penting, yang mengartikan bergerak. Pertemuan sepatu, pertemuan saat para pengarang di Jawa Tengah sudah menunaikan janji bersastra.

Hari mau siang. Aku mulai merasakan bosan. Yang aku lakukan adalah menguji kemampuan berhitung. Berdasarkan pandangan mata, aku menghitung jumlah meja bundar: sembilan. Meja bundar dikelilingi kursi-kursi. Ada yang berbeda. Di meja bundar untuk tamu dan juri, ada piring yang memamerkan pisang, anggur, dan jeruk. Di meja-meja lain, aku tidak menemukannya. Aku berhasil mendapatkan pisang. Jeruk dan anggur cepat dihabiskan teman-teman yang tidak tega menyia-nyiakannya.

Siang itu ada jajanan, minuman, dan buah. Yang tidak boleh dilupakan: beragam tanaman berada di depan panggung. Gedung yang dingin dan sorot lampu yang menghibur. Di luar, panas dan panas dan panas. Maka, berada di dalam ruangan itu keselamatan dari gerah.

Para pengarang tampak saling bicara, bergantian berfoto. Mereka mungkin sudah bosan, merasa waktu bergerak lambat untuk pengumuman para peraih penghargaan Prasidatama. Aku santai saja.

Di panggung, hiburan-hiburan terus disajikan. Tata suara dan tata cahaya cukup memukau. Aku sedikit menikmatinya. Yang aku perlukan adalah membuat percakapan-percakapan sejenak dengan beberapa orang. Aku tidak betah menonton semua hiburan.

Yang mengejutkan saat tiga penyanyi di panggung bergantian membawakan lagu-lagu Nusantara. Musik yang terdengar mengajak orang-orang ikut bernyanyi atau berjoget. Di dekat pintu masuk, aku melihat empat perempuan berjoget. Mereka tertawa dan terhibur. Setahuku mereka adalah para pegawai Balai Bahasa Jawa Tengah. Berjoget membuat mereka senang setelah lelah dan berdebar mengurus acara. Mereka yang bertanggung jawab. Jadi, berjoget sebentar dan tertawa adalah selingan yang menguatkan. Aku tidak ikut berjoget. Malu. Sejak dulu, aku memang pemalu.  

Di Hotel Nirwana, aku mulai berpikiran: acara Prasidatama adalah hiburan-hiburan. Apa aku terlalu menginginkan hiburan? Di ruangan, aku memilih melihat para pengarang Jawa Tengah yang menjadi kaum tabah untuk sampai memegang piala dan piagam. [] Kabut

Ragam

NARUTO DAN PIDATO

Orang-orang sarapan dan omong-omong. Aku ikut menikmati nasi, minuman, buah, dan tempe. Pagi tidak ingin tergesa. Aku masih kepikiran nasib Yuditeha. Apakah ia sembuh? Apakah ia makin tak berdaya?

Di luar, orang-orang duduk di pinggir kolam. Mereka dalam percakapan yang seru. Aku ikut duduk sebentar. Di seberang, ada kesibukan dan suara-suara keras. Di situlah, tempat untuk acara Prasidatama. Beberapa orang berpenampilan rapi berada di lokasi acara. Senang melihat mereka sudah mandi dan memilih pakaian yang terbaik. Aku belum mandi tapi tidak mungkin terjun ke kolam dan sabunan. Sejenak bersama tiga orang, aku sempat bercakap masalah bahasa dan sastra. Obrolan tanpa kopi dan rokok.

Kembali ke kamar. Menit-menit sebelum mandi, aku masih mendapat beberapa halaman buku berjudul Cakap Kecap (2004). Buku mengenai sejarah dan perkembangan periklanan di Indonesia. Di situ, aku tidak menemukan ingatan atau pembahasan iklan-iklan buku sastra. Buku tidak menjanjikan lengkap. Namun, aku mendapat panggilan ulang untuk merampungkan kliping iklan-iklan buku sastra yang sudah aku kumpulkan, sejak beberapa tahun yang lalu.

Datang ke tempat acara. Para tamu duduk tidak tenang. Mereka omong-omong, berfoto, dan makan. Di panggung, aku kaget melihat Naruto berjoget. Ia tampil bersama tokoh-tokoh Nusantara. Panggung sudah meriah dengan Naruto, yang nantinya disusul kehadiran para pengarang sakti di Jawa Tengah. Mereka tidak usah berjoget. Naruto dan teman-temannya itu menghibur agar yang hadir bergairah, tidak diserang bosan dan mengantuk.

Di panggung, aku melihat gong. Benda yang masih seperti dulu: digunakan dalam pembukaan acara secara resmi. Aku sudah jemu. Membayangkan saja ada cara dan benda berbeda dalam membuka acara resmi. Aku penasaran dengan pemukulnya. Tibalah di meja yang berisi tumpukan piagam dan jejeran piala Prasidatama. Pemukul gong itu berhiaskan kembang melati. Wangi. Wangi. Wangi. Inginku, Senin, 25 September 2023, wangi oleh kebahagiaan para pengarang.

Panggung menjadi pusat. Aku kadang mengalihkan pandangan, tidak mau selalu melihat panggung. Aku bergerak semaunya meski dilihat dan diperingatkan panitia. Jika hanya duduk, tubuhku tidak beres dan waktuku sia-sia. Bergerak saja, bertemu orang-orang dan bicara sembarangan. Yang jelas, panggung tetap ramai.

Selain hiburan, ada tokoh-tokoh yang berpidato. Mereka pasti terhormat, memiliki predikat rektor dan kepala. Kehadiran keduanya di panggung mengesahkan acara yang diadakan beberapa lembaga, yang terpenting: Balai Bahasa Jawa Tengah dan Universitas Pekalongan. Aku tidak menyimak semua isi pidato. Yang satu berpidato tentang bahasa. Yang satu menyampaikan kerja-kerja kebahasaan dan kesusastraan. Seorang tokoh menaruh bolpoin biru di saku baju. Seorang tokoh merasa mimbarnya ketinggian. Aku memandang dari kejauhan.

Akhirnya, gong dipukul. Pembukaan terjadi diringi tepuk tangan. Para pejabat dan beberapa orang berdiri di panggung. Dua belas pemotret di depan panggung. Pemandangan cukup indah. [] Kabut

Ragam

PENGARANG DAN PENERBIT

Hari pun berganti. Senin, 25 September 2023, telah datang tanpa jadwal pekerjaan. Aku yang membuka mata, aku yang menantikan peristiwa. Gelap masih milik Pekalongan. Lampu-lampu menyala, tidak semua terang. Aku belum menerangkan Senin.

Bekal dari rumah dinikmati: kofemik. Roti masih tersedia. Menit-menit menjelang matahari terbit, kehangatan sudah terasa. Aku melengkapinya dengan membaca Das Kapital: Kisah Sebuah Buku yang Mengubah Dunia (2012) garapan  Francis Wheen. Buku kecil dan tipis yang akan turut campur dalam biografi Senin. Buku yang tak ada urusannya dengan kepergianku ke Pekalongan tapi mengharuskan aku membacanya. Dulu, aku membaca Buku-Buku jang Merobah Dunia, hasil terjemahan Asrul Sani, masa 1950-an. Das Kapital terakui mengubah dunia, berpengaruh dalam arus sastra dunia.

Bagiku, Karl Marx tak melulu ekonomi, filsafat, seni, dan sejarah. Ia pun menggerakkan sastra dengan segala janji, kemiskinan, bualan, kemarahan, dan keterasingan. Nama teringat bagi pengarang-pengarang tenar di dunia. Yang membaca buku-buku susunan Karl Marx turut menentukan selera mereka menggubah puisi, cerita pendek, dan novel.

Yang perlu dikutip: “Ambisi Marx yang paling awal adalah sastra. Sebagai mahasiswa hukum di Universitas Berlin, ia menulis sebuah buku puisi, darma bersyair, bahkan novel berjudul Scorpion dan Felix, yang ditulis bergegas dalam kondisi mabuk imajinasi di bawah pesona Tristram Shandy gubahan Laurence Sterne.” Jika dulu ia terus menggubah sastra, nama-nama tenar abad XX bakal sulit bermunculan. Di Hotel Nirwana, Seninku bersama Karl Marx, kofemik, dan roti seharga dua ribu rupiah.

Ingat lelaki berjenggot lebat, ingat sastra di Indonesia. Aku kadang penasaran dengan babak sastra di Indonesia, 1950-an dan 1960-an. Penasaran itu terjawab saat membaca buku dan majalah lama. Kini, keinginan mengetahui silam itu agak redup. Sastra di Indonesia abad XXI tenang-tenang saja. Orang-orang tetap menulis cerita pendek, puisi, dan novel. Gramedia Pustaka Utama, Kepustakaan Populer Gramedia, Marjin Kiri, Bentang, Banana, Basabasi, dan JBS terus menerbitkan buku-buku sastra. Buku-buku baru berada di toko buku dan para pedagang di media sosial. Aku melihatnya saja. Aku dikutuk harga. Aku sedang berutang hidup, belum ingin menumpuk utang untuk buku-buku baru.

Senin, 25 September 2023, aku bakal menyaksikan perayaan dan penghormatan sastra dilakukan Balai Bahasa Jawa Tengah. Institusi itu membuat penghargaan memuat ketentuan tentang penerbit. Jadi, buku-buku dinilai juri diharuskan terbit di Jawa Tengah. Pengecualian adalah novel berbahasa Jawa. Aku berkenalan dengan nama-nama penerbit berada di pelbagai kota di Jawa Tengah: Wonosobo, Solo, Demak, Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Semarang, Blora, dan lain-lain. Daftar nama penerbit itu wajib dicatat dalam perkembangan sastra di Jawa Tengah meski sulit bersaing di pasar buku nasional.

Prasidatama itu pengarang, buku, dan penerbit. Hal paling rumit itu penerbit. Di Jawa Tengah, banyak pengarang kondang. Buku-buku mereka sering diterbitkan di penerbit-penerbit beralamat di Jakarta, Jogjakarta, Bandung, dan lain-lain. Buku-buku mudah diperoleh di toko buku dan situs-situs perniagaan buku. Berbeda nasib dengan penerbit-penerbit mempersembahkan buku berkiatan ikhtiar sastra dan penghargaan Prasidatama. Buku-buku itu tidak mudah diperoleh. Penerbit-penerbit pun sulit berjanji menerbitkan dalam jumlah ratusan atau ribuan, yang membuktikan gairah sastra tak pernah padam. Aku beruntung membaca puluhan buku dalam pamrih Prasidatama. 

Senin mau bermatahari. Aku menaruh Das Kapital: Kisah Sebuah Buku yang Mengubah Dunia di bawah televisi. Aku tidak mau Senin hanya milik Karl Marx. [] Kabut

Ragam

KAMAR TIDUR

Sejak dulu, aku mengenal Yuditeha bukan lelaki penggemar tidur atau penidur sejati. Mata itu biasa digunakan bersastra, selain melihat rambut saat mencukur. Mata lelaki sulit gemuk itu menjadikan obrolan sastra dan belajar sastra memicu gairah-gairah tak biasa. Yuditeha, pengarang tenar di Indonesia. Ia mudah dilekati Kamar Kata.

Sejak masuk gerbong, ia adalah pesakitan. Aku, Panji Sukma, dan Indah Darmastuti merasa kasihan tapi tidak bisa menyembuhkannya. Ia yang menanggung derita. Dugaanku: sastra mengakibatkan sakit. Yuditeha yang biasanya suka tersenyum tampak murung dan lelah. Ia sedang tidak berpikiran waras: gerbong dilihatnya sebagai kamar tidur.

Aku sedih dan sedih. Beberapa hari yang lalu, aku seharian bersama Yuditeha. Pagi, kami naik bis Solo-Semarang. Hari penentuan bagi kami selaku juri cerita. Yuditeha lebih terhormat sebagai juru cerita dan juri cerita. Di perjalanan, kami adalah lelaki berkicau. Alamat tujuan adalah Ungaran. Di kantor berurusan bahasa dan sastra, kami hadir untuk penilaian dan penentuan para peraih Prasidatama. Pulang, kami dalam kondisi cukup lelah tapi tetap berkicau. Di menit-menit menuju Terminal Tirtonadi, ia akhirnya tidur. Aku ikhlaskan saja. Ia sudah tua. Raga lelah jawabannya tidur.

Peristiwa yang berbeda. Empat orang berangkat bersama menuju Pekalongan. Yuditeha gagal sebagai pencerita. Yang dialami adalah perjalanan menyakitkan. Kereta api menjadi “kamar tidur” yang bergerak jauh. Duduk dekat jendela, ia memilih tidur. Ia mungkin ingin menengok jendela mimpi agar sakit tidak makin parah.

Tiba di Pekalongan, Indah Darmastuti berkelana duluan. Tiga lelaki menanti pesanan mobil. Kami salah tempat. Berdiri di pinggir jalan yang bising dan semrawut. Kami berdiri dekat tong sampah. Malam yang tidak indah untuk mengakrabi Pekalongan.

Aku menduga saja: Yuditeha yang sulit berdiri tegak ingin lekas berbaring. Ia mustahil berani tidur di jalan beraspal. Inginnya segera sampai hotel. Kami dijanjikan menginap di Hotel Nirwana. Bagi Yuditeha, ia tidak terlalu memikirkan “nirwana” atau sastra.

Kasur! Ia ingin tidur di kasur. Gagal sebagai pencerita, Yuditeha mendambakan menjadi penidur sejati. Pekalongan itu ‘kamar tidur” bagi lelaki yang mengelola Kamar Kata. [] Kabut

Ragam

SASTRA DI BELAKANG

Pada menit-menit menjelang sampai Stasiun Pekalongan, aku berganti pasangan obrolan. Di sebelah kanan, ada tas besar dan Panji Sukma. Ia mungkin lelah dengan telinga yang kedatangan suara-suara dari gawai. Panji kangen suara asli dari lelaki bermulut seribu.

Tiba saatnya, aku dan Panji dalam obrolan dengan suara (makin) keras. Gerbong itu bising! Kami tak mau kalah dalam persaingan suara. Obrolan tak selancar bersama Indah tapi kata-kata lekas berhamburan berharap tidak sia-sia.

Bermula masalah kebudayaan. Obrolan yang menyulitkan meraih hiburan. Kebudayaan itu berat dan pelik. Aku asal mengatakan tentang beragam gagasan kebudayaan di Indonesia berinduk epos atau mitos. Seingatku, para pemikir kebudayaan atau budayawan tak jemu-jemu mengutip epos-epos Mahabharata dan Ramayana. Ada pula yang memerlukan mengajukan mitos-mitos lokal. Semua itu memastikan gagasan dan tafsir kebudayaan dianggap bermutu.

Di sampingku, Panji Sukma belajar kebudayaan secara akademik. Aku ingin ia bisa berceloteh dengan bobot pemikiran 1 ton. Bobot wajib lebih berat dari anting-anting di telinganya.

Berlanjutlah kami bercakap tentang humor dan musik. Pilihan agar dua masalah itu memberi gairah ketimbang raga lelah. Perjalanan bisa menghilangkan gairah jika salah pilih tema percakapan. Seru untuk bertukar kata dengan ingatan humor dan musik. Cara tergampang agar masih ingat Solo, Indonesia, tokoh, buku, dan lain-lain.

Aku berdoa satu detik agar Panji tidak bersumpah mau menjadi pelawak. Cukuplah ia girang di musik digenapi sastra.

Sastra, tema di  belakang meski kami berada di gerdong depan. Panji Sukma, sosok yang tangguh dalam sastra di Indonesia. Pastilah ia sungkan menampilkan kewibawaannya di hadapanku. Yang terpenting mungkin kelakar melindungi diri dengan pernyataan bahwa nasib bersastra ditentukan klenik. Ia sering lempar humor berkaitan Jawa tapi tetap aku “haramkan” menjadi pelawak.

Yang sempat terucap tentang sastra adalah keengganan dan rasa malu Panji bila diundang dalam diskusi-diskusi sastra. Ia mengaku tak banyak berilmu. Namun, ia telanjur kondang dengan novel dan cerita pendek. Inginku, lelaki berambut gondrong dan bertato itu mulai ikhlas dan berkenan memberi kelegaan saat berbaur umat sastra di Indonesia.[] Kabut

Ragam

PENGUMBAR KATA DAN PEMANGKU HELM

Aku dan Indah Darmastuti bukan jenis pendiam. Kami seperti memiliki seribu mulut, yang bisa mengumbar kata-kata tanpa lelah. Di sepanjang perjalanan Solo-Pekalongan, posisi kami memang duduk tapi kata-kata berlarian ke segala arah.

Kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu perjalanan. Tidur itu pilihan terakhir. Yang menjadikan perjalanan dengan kereta kelas ekonomi terhindar dari bosan adalah obrolan. Terjadilah obrolan tanpa terpaan sinar matahari. Di gerbong, kami terlindung dari matahari dan tak ada janji untuk obrolan yang tenggelam meski menjelang senja.

Obrolan yang sembarangan. Kami mula-mula bicara sastra, bergerak jauh ke belasan masalah yang bisa bikin lelah. Jaminan obrolan adalah roti dan serabi. Mulut kami tidak selamanya bertugas untuk omong. Mulut kami pun memerlukan kedatangan makanan-makanan yang lezat.

Sastra (terlalu) penting bagi kami. Padahal, kami kadang pecundang dalam sastra tapi berlagak mengerti. Sastralah yang mempertemukan kami dan mengesahkan kebersamaan.

Mulut kamu cukup melawan suara guncangan gerbong di atas rel. Kota-kota terlewati kami terus sibuk dengan kata-kata. Di depan kami, seorang perempuan mengenakan masker. Duduk kadang gelisah. Di pangkuan, ada helm berukuran besar. Aku memastikan ia tidak bakal menaruhnya di kepala saat masih berstatus penumpang kereta api. Helm ikut bergerak oleh tangan atau guncangan gerbong.

Aku dan Indah mengerti nasib sial dialami perempuan memangku helm. Telinganya pasti kesakitan mendengar mulut kami yang seperti mesin penggilingan padi. Sastra itu seru diobrolkan diimbuhi tema-tema lain tapi tetap mengikutkan limpahan kata dan imajinasi. Obrolan kami adalah neraka bagi penumpang yang bermasker tapi tak menggunakan helm di kepalanya.

Pikirku, ia bisa berlindung dari kutukan obrolan kami dengan mengenakan helm: mata dan telinganya cukup menghindari siksa kata-kata dan tampang kami yang menyebalkan. Namun, ia pasti malu bila nekat mengenakan helm. Dugaanku, ia bisa menyatakan sebal atau marah dengan memukulkan helm ke kepalaku atau perutku. Tindakan yang mudah terjadi.

Aku dan Indah terlihat duduk. Yang terjadi, kami berlari bersama kata-kata. Alamat yang kami datangi memang Pekalongan tapi kamis justru menempuhi jalan (cerita dan biografi) tak ada ujung.

Akhirnya, kami tiba di Stasiun Pekalongan. Legalah si perempuan yang memangku helm. Indah menjadi manusia sopan dengan memberi kata-kata mengandung permintaan maaf dan doa agar penumpang itu berbahagia setelah kami menghilang dari hadapannya. Aku tak menduga melihat Indah yang sopan dan bijak. Gerbong itu telah terbebas dari segala bualan kami yang berceceran di sepanjang rel atau terbawa angin.[] Kabut