Ragam

BERKERETA KATA

Pada 1919, Marco Kartodikromo mengisahkan keramaian penumpang, pengantar, dan penjemput di Stasiun Balapan (Solo). Kita mengetahuinya dalam Student Hidjo, cerita berlatar 1913. Yang meramaikan Stasiun Balapan adalah orang-orang Sarekat Islam dan kaum pelesiran. Di Solo, ribuan orang Sarekat Islam mengikuti kongres. Stasiun Balapan menjadi tempat penting selain Sriwedari. Yang berdatangan ke Solo naik kereta api, berlanjut naik kereta berkuda menuju Sriwedari dan Kabangan.

Pada 24 September 2023, para pengarang meninggalkan Solo. Mereka pergi ke Pekalongan. Misi memenuhi undangan pemberian penghargaan Prasidatama oleh Balai Bahasa Jawa Tengah. Titik berangkatnya bukan Stasiun Balapan tapi Stasiun Jebres, stasiun yang tidak disenandungkan Didi Kempot.

Mereka bergerak saat sore yang panas. Sore dengan matahari yang masih garang. Di Stasiun Jebres, mereka menggerakkan kaki-kaki untuk naik ke gerbong dengan percampuran gairah dan sakit. Panji Sukma tampil mirip berandalan, Indah Darmastuti dengan keanggunan, Yuditeha tampak bertubuh kesakitan. Yang dua waras, yang satu sakit.

Mereka bukan tokoh-tokoh dalam novel Marco Kartodikromo. Mereka tidak perlu membawa novel lama untuk makin mengerti dan menikmati (imajinasi) berkereta api. Sore itu tak memungkinkan mereka memanggil masa lalu dan menghidupkan pengarang-pengarang lama. Yang diinginkan adalah duduk bersama orang-orang yang harus terkurung dalam gerbong.

Aku bersama mereka, turut menghuni gerbong bergerak di atas rel. Di gerbong, tak hanya manusia-manusia, Yang tampak adalah tas-tas besar. Banyak yang pergi dengan misi-misi besar. Kami sekadar pergi.

Panji Sukma, Indah Darmastuti, dan Yuditeha tidak perlu membawa tas besar. Mereka hanya membawa beberapa baju ganti dan kata-kata. Mereka itu juru cerita, yang pergi dengan sadar cerita-cerita. Aku menjadi penikmat cerita saja. Pergi bersama mereka itu kehormatan.

Gerbong bergerak, kami duduk. Yuditeha memilih tidur. Di sampingnya, Panji Sukma berusaha tabah dan dipaksa menjadi pendiam. Namun, aku melihatnya mulai menikmati perjalanan dengan pendengaran. Benda-benda kecil di kuping yang berarti mendengarkan lagu-lagu atau ocehan-ocehan bersumber gawai tanpa terdengar para penumpang lain.

Aku duduk di samping Indah Darmastuti. Dua manusia bakal sulit tutup mulut. Suara kereta dipastikan bersaing suara dari mulut. Kami seperti sedang naik “kereta kata”, perlahan meninggalkan sore menuju malam. [] Kabut

Ragam

BUKU DI SEPANJANG JALAN (HIDUP)

Pada mulanya ban bocor. Ban belakang bocor, tanda seru agar membawa ke bengkel. Sepeda motor itu bersamaku menuju rumah tetangga, yang kesehariannya menambal ban dan memperbaiki sepeda motor. Hari menjelang siang. Panas telah kuadrat.

Si tetangga tampak uring-uringan. Ia sedang memperbaiki benda. Gagal. Gagal. Gagal. Aku telanjur bilang ban bocor. Jalan di depan bengkel panas. Si pemilik bengkel pun “panas”. Keterpaksaan menambal ban. Aku duduk berlagak tenang sambil membaca buku berjudul Menulis Itu Indah, buku berisi pengakuan para pengarang tenar di dunia, belum tentu di akhirat.

Kalimat memikat yang minta diingat agar tak ketularan panas jalan dan uring-uringan tukang tambal ban: “Dan, sesuatu yang telah saya lakukan sepanjang hidup dan akan selalu saya lakukan adalah membaca puisi.” Aku pastikan ia membaca puisi. Di akhir kalimat bukan kitab suci tapi puisi. Penulis kalimat bernama Julio Cortazar. Pengarang yang tinggal di negara jauh, bukan hidup di desa tetangga. Pastilah ia terkenal dan berpengaruh, hanya untuk mengatakan sepanjang hidup membaca puisi. Aku juga membaca puisi tapi tidak berani mengaku “selebar hidup”. Pikiran sebalku: “sepanjang hidup” kali “selebar hidup” sama dengan “seluas hidup”.

Penambalan ban sudah selesai. Uang dua belas ribu diserahkan, tambah dua belas ribu lagi untuk bahan bakar. Siang makin panas. Aku pun panas. Pikiranku mengatakan: “Pergilah ke Gladag! Pergilah! Pergilah!” Siang itu, Rabu, 20 September 2023, niatku menjemput tiga anak di sekolah (Abad, Sabda, dan Bait). Masih ada satu jam bila menuruti perintah pikiran. Terbukti, pikiranku sedang bocor. Di saku celana cuma ada sedikit uang tapi berpikiran Gladag (Solo).

Sampai di Gladag. Aku memandangi buku-buku dan majalah-majalah kesepian. Para pedagangnya murung. Beruntunglah ada pohon besar. Pohon untuk berteduh tapi mereka bingung gara-gara nasib yang tak teduh. Aku ikut bingung melihat kesepian dan kemurungan.

Mataku melulu buku. Di depan buku-buku, mengantuk itu haram. Mataku jelalatan, gampang terpikat. Di hitungan menit, aku berhasil menumpuk buku-buku: Menghibur Diri Sampai Mati (Neil Postman), The Book Club: Kisah Lima Wanita (Mary Alice Monroe), Seminar Bahasa Indonesia 1972 (Djajanto Supra dan Anton J Lake), Tata Krama Nasional Indonesia (Oetomo DS), Kisah Seribu Satu Malam (Muhsin Mahadi), Mengungkap Rahasia Al Quran (Allamah MH Thabathaba’i), dan The Subtle Knife (Philip Pullman). Buku yang terakhir itu bagian dari tiga jilid. Sudah cukup lama, aku suka membaca buku-buku garapan Philip Pullman. Di Indonesia, buku-bukunya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. lima Majalah lama ikut ditumpuk: Budaya Jaya, Basis, dan Pembimbing Pembaca. Tumpukan itu dipandangi lama sambil memikirkan jumlah rupiah.    

Buku bisa dibawa pulang jika diperbolehkan utang. Aku menanti pedagang yang sedang menata dan merapikan buku-buku. Wajahnya berkeringat, mata penuh harapan. Beberapa bulan, Gladag sepi pembeli. Orang-orang enggan bertemu buku-buku. Mereka pelit duit. Dugaan lain: mereka tak perlu buku. Hari-hari mereka kemarau bacaan. Hidup tidak harus membaca buku. Mereka tidak wajib membaca puisi sepanjang hidup. Hidup tetap indah tanpa membaca selusin novel. Merekalah yang “selamat” dari kutukan imajinasi.

Penantian itu terjawab. Pedagang sedang baik, membiarkan aku berutang untuk setumpuk buku dan majalah. Beberapa buku sudah pernah aku khatamkan. Niatku, ada buku-buku yang dijual agar mendapat duit. Buku yang ingin lekas dibaca: The Book Club: Kisah Lima Wanita. Di mataku, novel terbitan Violetbooks itu termasuk jenis novel ringan atau menghibur. Membaca novel menghibur itu hak ketimbang merampung novel yang menambahi siksa hidup dan mengingatkan siksa neraka. Aku sadar diri sebagai pembaca bergelimang dosa, pembaca yang susah dapat ampunan Tuhan.

Bergerak ke kios berbeda. Di tumpukan buku anak-anak, aku menemukan tujuh buku apik. Buku dinamakan “Seri Tokoh Ternama” terbitan Elex Media Komputindo. Pastilah buku terjemahan. Seri seperti itu belum dibuat di Indonesia. Aku sudah punya beberapa judul. Yang di depanku: Alfred yang Agung, Beatrix Potter, Anne Frank, Alexander Graham Bell, Dick Whittington, dan Louis Braille. Buku-buku tipis, banyak gambar. Buku-buku yang memukau terbaca oleh anak-anak, termasuk diriku yang berjenggot, berambut gondrong, dan ompong.

Aku menduga kelak bisa menyusun buku penggalan-penggalan biografi para tokoh. Yang ingin aku susun adalah tokoh-tokoh sastra, musik, dan seni rupa. Buku-buku tipis tapi pesimis mendapat pembaca. Tokoh-tokoh penting dan besar di Indonesia masih susah terceritakan kepada anak-anak.

Masih ada beberapa menit di Gladag, sebelum perjalanan menjemput anak-anak yang pulang sekolah. Mataku melihat bundel majalah. Oh, majalah Hai. Majalah remaja masa 1980-an. Ingat majalah Hai, ingat Arswendo Atmowiloto. Sejak lama, aku berniat membuat kiping sastra remaja. Hai wajib menjadi sumber untuk memperoleh cerita dan puisi pantas mendapat komentar-komentar agar tercantum dalam sejarah sastra di Indonesia. Bundel majalah Hai bisa dibayar gara-gara murah.

Pada saat membuka-buka, aku melihat puisi-puisi gubahan Acep Zamzam Noor. Pada suatu masa, ia biasa mendapat sebutan melekat: sastra dan pesantren. Ia lahir dan tumbuh di pesantren, sebelum pergi ke kota-kota dan bergerak ke Eropa. Pulang, ia adalah penggubah puisi dan pelukis. Acep Zamzam Noor saat masih muda rajin menulis puisi dimuat di majalah Hai dan pelbagai majalah. Ia mulai sodorkan hal-hal bercap religius.

Setahun lalu, aku bertemu dan bercakap dengan Acep Zamzam Noor di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Bukan pertemuan pertama. Di sana, obrolan mudah akrab gara-gara masalah dokumentasi. Aku menyimpang dan mengulas puisi-puisi lawas gubahan Acep Zamzam Noor. Ia pun memberi kabar bila mulai mengumpulkan lagi majalah dan koran pernah memuat puisi-puisinya. Kerja itu dibantu teman-teman dan para penggemarnya. Hal terpenting dalam percakapan tak melulu puisi tapi pendokumentasian teks-teks demi mengerti “sastra pesantren”.  

Puisi lawas Acep Zamzam Noor bertahun 1982 dalam majalah Hai membuatku agak mengerti ketekunannya terus berada di jalan sastra. Puisi itu berjudul “Lagu Kebun”. Puisi cukup mudah dimengerti kaum remaja: daun-daun kehidupan: hijau-kuning/ o, bunga-bunga kesetiaan// langit membentangkan danau. Tumpah/ menggelarkan permadani di bumi/ rinai gerimis, geliat batu dan rumpun perdu:/ hidup mengocok keringat. Kerja keras. Pada saat menjadi murid  SMA atau mahasiswa, aku mustahil bisa menulis puisi religius. Dulu, aku cukupkan menjadi pembaca puisi-puisi gubahan Chairil Anwar, Subagio Sastrowardoyo, Rendra, Hartojo Andangdjaja, Ajip Rosidi, Toto Sudarto Bachtiar, dan lain-lain. Pada masa lalu, aku bukan pembaca majalah Hai.

Terdengar adzan dari Masjid Agung Solo. Resmilah siang dan panggilan mengingat Tuhan. Aku masih berada di Gladag. Tubuh berkeringat, kecut bertambah gara-gara belum mandi. Bau tubuh, bau buku, dan bau majalah: bersekutu di bawah matahari yang panas kuadrat. Aku masih mungkin berada di bawah pohon sejenak, mengerti faedah daun-daun.

Mataku melihat tumpukan majalah diikat tali plastik. Majalah itu bernama Matra. Tanganku segera membuka ikatan, mata bergerak cepat menandai majalah-majalah bisa dimiliki. Urusan pertama memilih, urusan harga dan utang belakangan. Empat belas majalah dipilih dengan senyum keberuntungan. Aku mendapatkan edisi-edisi memuat wawancara Umar Kayam, Goenawan Mohamad, Mahbub Djunaidi, YB Mangunwijaya, dan Teguh Karya. Nama-nama yang ikut menentukan biografiku dalam sastra dan teater. Mereka yang mempersembahkan tulisan-tulisan yang aku santap dengan girang dan air mata.

Bahagia lagi, aku menemukan cerpen-cerpen gubahan Leila S Chudori, Danarto, Satyagraha Hoerip, dan lain-lain. Matra itu majalah untuk pria. Majalah yang memanjakan sastra. Lumrah saja jika melihat orang-orang yang mengelolanya berkaitan majalah Tempo dan Humor. Aku pastikan majalah Matra ikut memiliki saham dalam perkembangan sastra di Indonesia. Aku bertambah utang lagi. Matra tak boleh dibiarkan termangu bersama pedagang sering murung. Mereka bingung dengan lakon perdagangan buku. Konon, kios-kios buku di situ bakal terkena dampak pembangunan Keraton Kasunanan Surakarta.

Detik-detik mau meninggalkan Gladag, seorang pedagang menyapa: “Mampir!” Aku bilang mau menjemput anak-anak. Tambahan: “Aku sudah banyak utang.” Akhirnya, mampir sejenak untuk melegakan pedagang. Terlihatlah buku tipis terbitan Pustaka Jaya. Buku berjudul Surat Tantangan gubahan Trim Suteja. Buku cerita anak. Aku ambil dengan memberi koin 500 rupiah berjumlah lima. Ia tersenyum mengerti leluconku. Buku murah tapi bagiku penting gara-gara mengetahui Trim Sutidja dan Soekanto SA termasuk pengarang-pengarang penting dalam babak awal Pustaka Jaya ingin memajukan bacaan anak di Indonesia, masa 1970-an.

Sepeda motor menuju SMP Negeri 1 Solo. Abad di situ ikut lomba menulis cerita pendek berbahasa Jawa. Berlanjut ke sekolah Sabda dan Bait. Siang itu berat sepanjang jalan. Di sepeda motor ringkih, ada empat manusia ditambah majalah, buku, dan meja besi yang digunakan untuk menulis saat lomba. Tas mereka pun berat.

Di sepanjang jalan, kami menikmati panas dan debu. Buku dan majalah berpindah alamat, dari Gladag menuju rumahku. Sepeda motor macet. Oh, sedih sejenak. Sepeda motor bisa hidup, lekas bergerak menuju rumah. Anak-anak turun. Buku dan majalah masih di sepeda motor. Aku melihat ban belakang. Duh, ban itu bocor lagi. Lega bisa sampai rumah. Ban itu bocor. Hidupku pun bocor.

Namun, aku dan buku masih di sepanjang (jalan) hidup. Aku yang dikutuk utang demi buku. Yang bergerak ke buku-buku belum selesai. Yang membaca buku-buku masih sering alpa. Yang menulis buku-buku menghindari pesimis. [] Kabut

Ragam

BUKU DI KETINGGIAN

Pagi itu dimulai dengan dolan ke Mushola Al Mubarokah (Tanon Lor, Gedongan, Colomadu). Ibadah subuh sejenak, ditambahi pengajian bertema utang. Tema yang berat bagi pemilik utang. Aku kadang menunduk malu ketimbang meratap. Pagi-pagi sudah berurusan utang. Sekian orang bertanya kepada penceramah. Jawaban-jawaban ringkas diberikan tapi aku sadar utang-utangku belum terjawab dengan kata atau kedipan mata.

Kesempurnaan pagi dengan sarapan bersama. Jamaah mendapat suguhan nasi liwet. Utang belum bisa diusir dari kepala saat mulut berulang dimasuki nasi liwet dan kerupuk. Utang tidak lenyap. Segelas teh diminum tapi utang terus menjadi masalah sebelum matahari terbit dan memberi sinar yang lekas panas.

Pulang ke rumah sejenak, berlanjut kumpul bareng warga untuk jalan-jalan keliling kampung. Matahari sudah pamer terang dan panas. Aku belum bisa pamer wajah semringah. Jalan-jalan dalam hitungan menit. Para warga berkumpul di depan rumah tetangga, duduk dan bercakap sambil menikmati timlo. Pagiku sarapan dua kali saat utang bertahan menjadi tema besar selama beberapa jam.

Aku ingin berganti tema mumpung Ahad, 17 September 2023. Keinginan mungkin mewujud jika dolan ke Masjid Sheikh Zayed (Solo). Aku sudah membuat janji dengan Ahmad untuk dolan bareng. Sejak awal, kita merasa punya alasan dolan ke masjid apik dan megah. Alasan terkuat adalah obrolan buku di perpustakaan yang terdapat dalam Masjid Sheikh Zayed. Ahad itu menghadirkan pemikir ampuh dari Jogjakarta yang bernama Irfan Afifi. Buku laris dan berpengaruh yang ditulisnya berjudul Saya, Jawa, dan Islam. Dulu, aku membaca dan meresensinya. Aku masih ingat isinya tapi tidak sempat mencarinya di rumah. Ribuan buku tampak berantakan dan berdebu. Aku menghindari berkeringat dan bersin untuk mencari buku.

Pada jelang 12 siang, aku dan Ahmad naik sepeda motor menuju Masjid Sheikh Zayed. Di jalan, panas dan panas dan panas dan panas. Suasana yang tidak harus dilawan selusin gelas berisi es teh. Hitungan menit saja, kami tiba di masjid: kagum dan bingung. Kagum melihat arsitekturnya. Bingung menyaksikan ribuan orang berada di sekitaran masjid. Konon, mereka mewujudkan hasrat piknik dan ibadah.

Masjid megah memiliki perpustakaan? Semula, aku meragu kebijakan mengadakan perpustakaan di masjid hasil kerja sama dua negara: Indonesia dan Uni Emirat Arab. Namun, ragu terjawab dengan adanya acara pembukaan perpustakaan. Obrolan dua buku diselenggarakan tapi aku cuma mengikuti yang hari kedua. Lega mengetahui masih ada masjid “mementingkan” perpustakaan. Di sana, kami tidak mengetahui keberadaan perpustakaan. Di mana-mana hanya melihat orang-orang. Akhirnya, petugas memberi informasi bahwa perpustakaan berada di atas. Aku tersenyum sejenak membayangkan perpustakaan di ketinggian. Benarlah bila buku-buku harus berada di tempat (ter)tinggi!

Berdua naik tangga. Sepi dan sepi. Tangga itu sepi dan terang. Tangga menuju buku-buku tak seramai di bawah: kerumunan orang berpotret. Kami belum berjanji berpotret. Di tangga, kami hanya bercakap sembarangan untuk menuju buku. Kaki-kaki ingin sampai ke buku-buku. Aku sudah membayangkan perpustakaan itu anggun, teduh, dan menakjubkan gara-gara melihat masjid yang megah.

  Pintu terbuka, terlihat orang-orang di ruangan. Mereka terlihat ketimbang buku-buku. Mereka itu panitia acara. Aku sudah senang memasuki perpustakaan, terhindar dari panas dan keramaian. Di ketinggian, aku bertemu orang dan buku. Mataku lekas jelalatan. Aku agak memejamkan mata menghilangkan imajinasi tadi. Yang terjadi: aku dan Ahmad berada di ruangan kecil yang dinamakan perpustakaan. Yang terlihat: sembilan rak buku belum terisi penuh. Kepastian bahwa itu perpustakaan adalah buku-buku.

Aku segera menuju rak-rak: memanjakan mata melihat buku-buku. Tangan lekas bergerak mengambil beberapa buku, membuka sejenak, dan membaca acak. Buku-buku masih baru. Di hadapanku, buku-buku terbitan Basa Basi, Ircisod, Diva, Cantrik, Lentera Hati, dan lain-lain. Senang mengetahui buku-buku yang aku belum memiliki dan membacanya. Ada janji kelak datang lagi untuk membaca di ketinggian tanpa terkena sinar matahari.

Yang membuatku merasa tenang dan teduh: ruangan itu memiliki 30-an lampu. Warna lampu kuning yang terang. Buku-buku dalam sorotan lampu, tidak lupa mendapatkan dingin dari mesin-mesin yang terdengar lembut. Buku dan lampu, dua benda yang selama ini membuatku mudah takjub meski ada keinginan persekutuan romantis: buku dan matahari. Aku tetap meyakini matahari turut hadir bukan panasnya tapi terangnya. Ruangan itu memiliki belasan jendela berukuran besar. Aku tentu tidak mau mengartikan buku dan jendela biasa diucapkan orang-orang berlagak sebagai pembaca dan penyeru. Aku justru ingin mengaitkan buku, lampu, dan matahari saja.

Orang-orang mulai berdatangan. Mereka duduk di karpet empuk dan pastinya tidak berdebu. Menit-menit menanti kedatangan Irfan Afifi. Aku terlibat percakapan bersama teman-teman. Tema obrolan singkat tidak keruan. Aku beruntung agak terhindar dari tema utang, berganti menjadi buku. Siang di ketinggian bersama buku itu hiburan membahagiakan ketimbang minum segelas es teh dan bergaya di depan kamera.

Acara pun dimulai. Perempuan berbaju biru dan berkerudung kuning sudah mengumbar kata-kata di mikrofon. Aku mendengarnya merdu. Sosok yang telah lama aku mengenalnya: Yessita. Siang itu aku menganggapnya “perempuan berkerudung buku”. Ia memang rajin membaca buku, selain senang pergi ke pelbagai tempat dengan mengendarai sepeda onthel. Mikrofon di tangannya memastikan orang-orang bakal terlibat dalam perbincangan mengacu buku berjudul Saya, Jawa, dan Islam.

Di sampingku, ada pula “perempuan berkerudung buku”. Perannya adalah pengunjung dan penggembira. Aku kagum melihatnya yang berkerudung. Ia rajin mengunjungi tempat ibadah setiap Minggu tapi bukan masjid. Kunjungan ke masjid dengan berkerudung itu dituntun oleh buku dan perjumpaan bersama teman-teman. Kami saling berbisik, tersenyum, dan tertawa kecil. Ia tidak hanya pembaca buku tapi pengarang kondang dan membuat gerakan-gerakan keaksaraan yang berpengaruh di Solo-Indonesia.

Di samping Yessita, lelaki berbaju putih lengan panjang. Ia tidak mengenakan peci. Lelaki bernama Irfan Afifi. Aku sering melihat fotonya di media sosial. Di Masjid Sheikh Zayed, aku melihat sosoknya. Omongan yang cukup memikat mengenai pengalaman religius dan penulisan. Aku menyimaknya sambil menyantap arem-arem. Di kardus untuk para pengikut acara, isinya jajanan dan sebotol minuman. Aku menghabiskannya tanpa membutuhkan lima menit. Arem-arem membuatku “marem” mengetahui sosok dan pemikiran Irfan Afifi.

“Saya malu,” kata Irfan Afifi mengenai dirinya yang membuat tulisan-tulisan. Malu mungkin berkaitan mutu dan kesungguhan. Ia biasa menulis dengan beragam acuan dan pengalaman. Tulisan-tulisannya bersebaran, sulit diniatkan sejak awal untuk menjadi keutuhan berupa buku. Akhirnya, tulisan-tulisan bisa dijadikan buku gara-gara ditemukan pihak yang mengikat. Namun, ia berulang menolak diterbitkan menjadi buku.

Yang ia ceritakan membuatku mengangguk. Pada suatu malam, pihak penerbit mendatangi (lagi) rumah Irfan Afifi, yang publik mengetahuinya bernama Langgar. Semula, Irfan Afifi tetap akan menolak keinginan penerbit. Jawaban berubah setelah mengetahui suasana dan rasa malam. Irfan Afifi menyadari pertemuan itu saat malam yang indah, malam yang mengingatkan kelahiran Nabi Muhammad. Akhirnya, ia bermufakat buku boleh diterbitkan dimaksudkan sebagai “hadiah untuk Nabi Muhammad”. Akibatya, buku itu laris! Konon, kini sudah cetak ulang kesembilan.

“Saya menulis terus-menerus,” omongan Irfan Afifi, Yang diinginkan adalah menulis, bukanya menjadi penulis. Aku sedikit memahami maksud kalimat-kalimat yang diucapkannya. Ia ingin terus menulis tentang Jawa dan Islam meski memiliki tahun-tahun suntuk berfilsafat.

Aku mendengar omongan-omongannya sambil melihat meja yang ada di depannya. Di atas meja, ada sepiring jeruk dan sepiring kue. Botol minuman dan gelas. Yessita dan Irfan Afifi mendapat suguhan yang lezat tapi mereka harus sering omong.

Di belakang mereka, tiga jendela besar. Aku masih bisa melihat langit lewat jendela. Yang sempat membuatku takjub: di jendela sisi selatan, bagian atasnya menampilkan pemandangan yang bercerita. Burung-burung gereja terbang dan hinggap di jendela. Namanya burung gereja berkunjung dan ingin berumah di masjid. Mereka sedang menjadi arsitek. Mereka berusaha membuat sarang. Pemandangan yang menjadi selingan saat aku memandangi Yessita, Irfan Afifi, jeruk, kue, dan buku.

“Aku ingin menjadi burung yang berumah bersama buku-buku,” penggalan lamunanku. Burung-burung itu mengetahui orang-orang dalam ruangan sedang membicarakan hal-hal yang berat. Mereka mengikuti acara sambil membuat sarang tapi tidak mendapat suguhan.

Di depanku, ada lelaki yang berjaket. Ia mungkin tidak tahan dinginnya ruangan. Lelaki yang “mengganggu” penglihatanku untuk secara utuh menikmati persekutuan manusia, buku, makanan, minuman, dan buku di depan. Namun, aku malah mendapat pesan besar. Di bagian belakang jaket, aku melihat peta Indonesia yang diwarnai merah dan putih. Di bawah peta, ada tulisan: “Menulis adalah keberanian”. Aku tersenyum saja, belum berani mengangguk atau geleng-geleng kepala.

Menit-menit berlalu, acara selesai. Aku segera mendatangi meja. Misi terbesarku adalah mengambil jeruk yang “telantar” tanpa ada yang menikmatinya selama acara. Anggapanku, jeruk-jeruk mendapat “ilmu” dari omongan-omongan Irfan Afifi. Aku ingin memakannya, berharap sekalian “memakan ilmu” yang segar dan lezat. Pada saat mendatangi meja, aku bersalaman dengan Irfan Afifi dan terlibat obrolan bersama Ramdhon dan Bagus Sigit Setiawan. Misiku makan jeruk menjadi meriah kata-kata.

Sore itu membahagiakan. Di ketinggian, buku-buku telah memberi panggilan untuk berpikir dan mencipta percakapan-percakapan yang menggairahkan. Aku tentu berharap kelak bakal datang lagi untuk melihat buku-buku dan menikmati arem-arem. [] Kabut

Ragam

DATANG DAN PERGI

Sastra dimulai dengan matahari yang meninggi. Panas yang tidak mungkin diusir dengan seribu gelas es teh. Sastra malah buku-buku di atas meja, yang terlindung di tenda tapi udara tak melegakan. Yang terjadi adalah keramaian dan suara-suara tak merdu dari panggung, yang terdapat di halaman Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Karanganyar.

Buku-buku yang ditata rapi, yang menanti tatapan pengunjung. Para pengarang yang berkumpul dalam tenda. Mereka bukan kaum yang selalu rapi. Raga-raga yang menyesaki tenda. Kebersamaan untuk terus menjadi pencerita dan mencipta kabar-kabar baik. Sejak pagi, mereka mungkin sudah mandi dan berharap tampilannya rapi. Namun, Kamis, 7 September 2023, tidak memberi janji mereka terhindar dari keringat dan bau kecut. Mereka tetap hadir dan membantah sebagai pengecut.

Aku menyapa dan bersalaman. Peristiwa di belakang kantor, di belakang birokrasi. Sastra bukan birokrasi. Konon, sastra itu setara bagi orang-orang yang ingin saling akrab, memiliki, dan mendoakan. Yang menggerakkan sastra tak memiliki seragam, jam dinas, dan gaji. Mereka di belakang kantor, membawa buku-buku dan menghadirkan kesanggupan bersastra dengan napas panjang meski gerah dan lelah.

Di situ, perjamuan disahkan dengan pisang rebus dan pisang goreng. Aku menikmatinya sambil memandangi para pengarang dan buku. Suasana yang memang harus berada di luar kantor. Mereka bisa bersama mungkin sengaja absen dari pekerjaan atau meninggalkan rumah seharian demi kepantasan sastra. Aku pun datang untuk penghormatan kepada mereka dan buku-buku.

Percakapan dan gosip yang berharap tak terdengar matahari. Suara-suara kami kalah dengan keramaian acara dinamakan Festival Literasi Kabupaten Karanganyar, yang mementingkan kotak-kotak bersuara keras dan lantang. Kami hanya bermulut untuk mengantarkan kata-kata didengar sebagai berita, keluhan, pengharapan, atau mengingatkan.

Menit-menit yang bergerak lambat ketimbang ratusan sepeda motor dan mobil lewat di jalan besar depan Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Karanganyar. Kami pun harus berpindah menuju depan, tak selamanya di belakang.

Kerumunan remaja mengenakan seragam. Mereka itu murid-murid berdatangan dari puluhan sekolah di Karanganyar. Guru-guru duduk dan memegang gawai, bertugas mendampingi murid-murid. Mereka hadir dalam merayakan keramaian, yang mungkin tak menyisakan kesan dan makna terbawa pulang. Kehadiran yang memastikan ramai, bukan keterlibatan untuk bersastra. Aku tidak terlalu kaget saat berada di halaman depan kantor. Birokrasi sedang membuktikan pengaruh dan “perintah”.

Aku bergerak dari rumah di Colomadu sengaja menghormati para pengarang dan sastra, belum ada keinginan macam-macam memikirkan kabupaten, kantor, sekolah, dan lain-lain. Aku tercatat memegang KTP Karanganyar, membuatku agak terhubung dengan acara: lazim bila harus melewati Solo agar bisa mencapai alamat acara di dekat perkantoran pemerintah, masjid, pertokoan, dan alun-alun.

Di depan kantor, yang aku saksikan kemegahan. Yang terpikirkan olehku seharusnya kesederhanaan tapi tampilan di depan kantor memberi kebingungan. Sastra di halaman. Sastra di pinggir jalan besar. Yang mengherankan, sastra di atas panggung besar.

Siang itu tiga orang berada di atas panggung: Beri Hanna, Andri Saptono, dan Rudi Agus Hartanto. Mereka memainkan peran-peran untuk pengesahan diskusi buku berjudul Pelajaran Membaca (2023). Saat di belakang, mereka hanya bermulut. Di atas panggung, setiap orang mendapatkan mikrofon.

Aku melihat dan menghitung: 6 kotak pengeras suara. Pada bagian atas, terlihat 9 lampu. Siang dengan matahari terang, mereka belum harus disorot lampu. Sastra masih bermatahari, bukan sastra dalam sorotan lampu.

Tiga lelaki duduk di kursi berwarna cerah. Mereka harus duduk agar tampak berwibawa, terhindar dari capek. Meja itu berhiaskan dua buku Pelajaran Membaca gubahan Beri. Pemandangan yang megah. Aku menontonnya dari jarak agak jauh, posisinya di bawah. Di kursi warna merah, aku memandang ketiganya dengan kekhawatiran. Mereka dalam kekuasaan mikrofon, kotak pengeras suara, dan panggung yang tinggi. Sastra bisa salah tingkah.

Kursi-kursi yang semuanya tidak terisi. Orang-orang berdatangan tidak untuk sastra. Mereka membawa pesan dari pihak-pihak yang menginginkan keramaian acara dan perpustakaan mendapat ratusan pengunjung. Siang itu sastra merasa kesepian. Karpet-karpet merah di bawah panggung telah sepi, setelah menjadi tempat duduk bagi puluhan murid saat menonton teman-temannya bernyanyi di panggung. Siang adalah hasil penjumlahan karpet dan kursi berwarna merah. Orang-orang yang berada di sana adalah kaum tabah tanpa keharusan mengisi presensi: bukti kehadiran.

Tiga orang bergantian omong. Mikrofon-mikrofon yang membuat suara mereka mendatangi kuping dengan kekuatan besar. Suara yang tidak dijamin sampai ke ratusan pasang telinga yang berseragam dan pegawai-pegawai yang berada di dalam kantor. Sastra yang bermikrofon justru mudah kesepian, terabaikan, dan sekadar menyaingi bising jalan. Aku duduk dan menikmati sambil membayangkan matahari ingin ikut duduk di kursi.

Buku memuat cerita-cerita mengenai babi, sejarah, nama, dan lain-lain. Pengarang yang didudukkan di panggung sedang mengisahkan diri dan memberi cuilan-cuilan cerita. Moderator tak lupa memberi bujukan agar orang-orang membeli buku. Pembahas berkepentingan menyatakan keunikan dan keampuhan buku. Mikrofon di tangan mereka berbeda dari peristiwa berjualan jamu di pasar atau alun-alun. Mikrofon diajak bekerja keras.

Dua buku ditata di meja. Buku di tangan pembahas. Buku di tenda terletak di belakang kantor. Berulang aku melihat Pelajaran Membaca. Aku sempat menyentuhnya saat di meja. Belum ada kemampuan membelinya. Aku datang mengajak teman dengan duit 30-an ribu di kantong celana. Janjiku nanti mau mengajaknya makan mie ayam sebagai perayaan sarapan dan makan siang.

Aku membuktikan keberadaan buku Pelajaran Membaca di belakang dan depan kantor. Apa buku itu berada di perpustakaan? Aku agak tolol membayangkan Pelajaran Membaca telah menjadi koleksi di Perpustakaan Karanganyar atau direncanakan menjadi pembelian untuk koleksi baru. Aku bakal sedih bila Pelajaran Membaca absen atau gagal masuk ke Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Karanganyar.

Pada siang makin panas, temanku datang, ikut berada di depan panggung. Ia berseragam polisi. Aku memang mengabarinya agar mengetahui ada acara perbukuan atau literasi. Kantornya tidak jauh dari tempat acara. Jadi, siang itu hari ratusan murid, guru-guru, para pengarang, dan polisi. Pemandangan yang aneh.

Panggung disepikan menandai istirahat. Aku bersama dua teman meninggalkan kantor, mencari tempat makan. Kami sampai di rumah rendah dengan tanaman yang mengepungnya. Rumah lawas yang dinyatakan sebagai angkringan. Aku menyantap dua bungkus nasi (sambal teri dan sambal bandeng), segelas teh, satu bakwan, dan dua bungkus balung kethek. Siang yang menjadi teduh di rumah rendah. Lagu-lagu keroncong dan langgam terdengar, pelan saja.

Aku malah membayangkan obrolan sastra sederhana bisa terjadi di situ. Sastra yang bakal mengakrabkan ketimbang panitia acara menaruh sastra di panggung megah. Aku mengerti para pengarang itu salah tingkah dengan  pembuatan acara dan petunjuk-petunjuk panitia. Mereka mungkin bermufakat denganku jika mengadakan obrolan sastra di angkringan. Pilihan lain: acara obrolan Pelajaran Membaca diadakan di ruangan. Sastra masuk kantor, bukan di depan kantor.

Makan rampung digenapi obrolan-obrolan mengandung sejarah dan politik. Kami kembali ke Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Karanganyar. Pemandangan tetap ramai tapi murid-murid berganti. Puluhan murid dengan seragam berbeda, menggantikan rombongan sebelumnya. Puluhan murid datang lagi, seragamnya berbeda. Mereka dari beberapa sekolah. Banyak yang masuk ke kantor, beberapa ikut duduk di kursi merah “ikut” acara sastra.

Di depan, aku melihat Yuditeha, pengarang terkenal. Ia berdiri dengan mikrofon, diselingi bergerak ke sembarang arah. Ia sedang memberi cerita dan memandu agar orang-orang berkemauan menulis cerita pendek. Yudi dihadirkan sebagai “pengajar” dan pembujuk agar murid-murid berani menulis cerita. Yudi sudah mengerti murid-murid itu datang dan pergi, tak bakal menetap selama acara.

Aku tidak ikut duduk di kursi merah. Aku memilih duduk di lantai, bersandar di tiang di samping tatanan kursi. Inginku menjadi penonton sambil menikmati omongan-omongan Yudi. Yang terbayangkan memang terjadi, murid-murid meninggalkan kursi. Jatah waktu kehadiran atau durasi di acara sudah berakhir. Mereka harus mengikuti petunjuk guru untuk mengisi daftar presensi. Acara belum selesai tapi ratusan murid tetap dalam agenda datang dan pergi sesuai undangan resmi dari panitia.

Kursi-kursi kosong. Yudi mengajak beberapa murid dan teman yang bertahan berpindah ke depan. Sekian kursi ditata melingkar, bermaksud obrolan menjadi akrab. Keramaian tetap terjadi di depan kantor. Orang-orang masuk kantor. Di jalan, keramaian belum berhenti. Yudi mencipta “keramaian” bersama sedikit orang, yang membuktikan sastra itu tabah dan bergairah.

Aku agak prihatin. Pada saat menikmati omongan Yudi dan memandangi para murid, terdengar suara bertema minuman. Menit-menit  yang berlalu, Yudi dengan mikrofon mengoceh tentang cerita. Ia kehausan saat matahari berada tepat di atas kantor. Yudi tidak memesan es teh. Yang diinginkan adalah air untuk melegakan dan membasahi tenggorokan. Permintaan yang lucu, yang menyindir. Datanglah panitia dengan tiga botol air. Yudi tentu tidak langsung meminum semuanya. Akibatnya bisa kembung dan omongannya berair.

Hari menjelang sore. Aku pun harus pergi meninggalkan Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Karanganyar. Tugas rutin menjemput anak-anak di sekolah. Pukul tiga sore, aku menuju sekolah anak-anak. Di sana, aku duduk dengan para penjemput. Duduk yang disahkan buku berjudul ABC Karang-Mengarang susunan Poerwardarminta di tangan. Buku lawas tapi cukup lezat.

Pada saat membaca halaman demi halaman, Yudi mungkin belum rampung mengantar orang-orang bergerak dalam cerita pendek. Di sana, yang datang dan pergi menjadi sastra makin salah tingkah. Aku pun salah tingkah untuk mengerti sastra, kantor, siang, mikrofon, pisang, dan lain-lain. Aku pulang bersama anak-anak, berharap selamat sampai rumah dan berlanjut mencuci pakaian kotor. [] Kabut

Ragam

Menyuarakan Papua Melalui Seni Rupa

Dua puluh dua tahun yang lalu, 6 Juli 1998, ketika media-media di Indonesia lebih banyak menuliskan berita tentang seputar kerusuhan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, saat itu di Papua, tepatnya di Biak, terjadi demonstrasi. Aksi itu dibubarkan paksa oleh aparat dan berakhir dengan kematian beberapa orang, penyiksaan terhadap beberapa lainnya, serta hilangnya banyak pengunjuk rasa. Beberapa hari kemudian di pantai-pantai di Pulau Biak ditemukan potongan-potongan tubuh manusia yang hanyut dan terdampar. Pusara Tanpa Nama, Nama Tanpa Pusara, begitulah orang Papua menyebut hari nahas itu. Satu dari banyak peristiwa kekerasan yang terjadi di Papua yang tidak pernah menemui penyelesaian hingga saat ini.

The Red Guardian karya Ignasius Dicky Takndare

Mengusung semangat yang sama dengan apa yang belum lama terjadi di Amerika, ketika seorang pemuda bernama George Floyd harus meregang nyawa di tangan seorang polisi. Kabar kematian itu pun menyebar, tidak butuh waktu lama demonstrasi besar-besaran yang mengusung isu anti diskriminasi ras datang bergelombang memenuhi jalan-jalan di berbagai negara bagian Negeri Paman Sam. Menanggapi isu tersebut, Kelompok Udeido menggelar sebuah pameran seni rupa bertajuk Tonawi Mana secara virtual selama satu bulan, mulai tanggal 15 Juli-17 Agustus 2020 melalui laman udeido.com.

Pameran ini dimaksudkan untuk mengumpulkan suara-suara berbagai fenomena sosial, politik, dan humaniora yang terjadi di Papua dan mengemasnya pada sebuah ruang tersendiri yang menempatkan penghargaan terhadap hidup manusia Papua sebagai sesuatu yang penting untuk diperjuangkan. Karena sampai saat ini, Papua selalu digambarkan sebagai tempat kaum primitif dan barbar. Sedangkan seniman-seniman yang terlibat adalah gabungan seniman-seniman Papua dan seniman-seniman dari luar Papua, antara lain Ignasius Takndare, Taring Padi, Andreas Wahjoe, Fitri DK, Ina Wossiry, dan sederet seniman lainnya.

“Begitu banyak jenis seni yang menggunakan semua jenis medium untuk berbicara tentang Papua. Itu mengingatkan saya bahwa solidaritas, seperti pameran ini, berasal dari beragam kelompok yang menggunakan media mereka sendiri untuk menyampaikan pesan. Menarik melihat bagaimana seniman-seniman non-Papua ini peduli dan bersolidaritas terhadap isu Papua dan ikut berdiri, bersuara bersama orang Papua. Ini merupakan pesan penting yang kami harapkan berkembang kepada ranah lainnya,” kata Ligia Giay, aktivis yang terlibat dalam pameran.

Selain itu, pameran ini juga menempatkan konsep spirit Tonawi Mana yang eksklusif ke dalam aktivitas seni yang lebih luas, di mana Tonawi Mana bertransformasi menjadi suara-suara yang dihasilkan lewat karya seni dengan pendekatan dan interpretasi yang lebih bervariasi. Hal ini sejalan dengan apa yang ingin sampaikan oleh Komunitas Udeido bahwa permasalahan Papua perlu dibawa ke berbagai panggung yang tidak terbatas secara eksklusif untuk golongan tertentu saja. Tetapi menjadi masalah bersama yang kelak menumbuhkan tunas solidaritas yang jauh lebih besar lagi, yang menembus sekat sosial, ras, golongan, agama, dengan bentuk dan manifestasi yang beragam.

“Salah satu poin penting yang diungkap dalam pameran online ini adalah rakyat Papua yang dihantam berpuluh tahun oleh virus diskriminasi, rasisme, penindasan. Keseluruhan ekspresi tersebut tertindas oleh hiruk pikuk jargon kebesaran negeri ini yang menindih kebebasan bersuara rakyat Papua,” kata I Ngurah Suryawan, antropolog yang juga terlibat dalam pameran Tonawi Mana. [] Wahyu Indro Sasongko

Ragam

Garis-Garis Hanafi di Masa Pandemi

Pameran Seni Rupa “60 Tahun dalam Studio”

Situasi saat ini telah mempengaruhi seniman dengan satu dan lain cara, termasuk Hanafi. Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, pada bulan ini, galerikertas kembali dibuka dengan menyelenggarakan pameran pelukis Hanafi dengan judul “60 Tahun dalam Studio”. Pameran ini bertepatan dengan dua momen penting, yaitu momen 60 tahun usia Hanafi dan momen pandemi. Hanafi mengatakan, dalam kondisi apapun seorang seniman memiliki kewajiban untuk tetap melaporkan karyanya.

“Membuat karya pada masa wabah saya akui tidak mudah. Betapa sulitnya membuat jarak wabah Corona ini sebagai objek dan kreator sebagai subjek. Karena jika jarak ini tidak ditemukan, maka karya-karya yang tercipta hanya berisi kesedihan, keputusasaan, dan apatisme. Tantangan saya adalah merebut kembali jarak pandang untuk menemukan benih-benih keprihatinan hidup,” kata Hanafi.

Pada pameran ini, pengunjung akan lebih banyak melihat intensitas garis. Meskipun Hanafi sudah sejak dulu menunjukkan capaian yang mengagumkan soal garis, namun situasi saat ini memberikan tekanan yang berbeda. Karya dalam pameran ini seperti mengajak menuju apa yang hendak dijangkau oleh Hanafi. Selain itu, kondisi saat ini akan menjadi ingatan kolektif umat manusia abad ini. Salah satunya bisa dilihat pada mural Vincent van Gogh. Karya Hanafi itu ingin mengajak pengunjung untuk tetap berbesar jiwa dalam kondisi apapun. Sebab, mungkin situasi ini akan tetap menjadi salah satu isu yang akan tetap dibahas dan direspons oleh seniman lainnya.

“Pameran ini menampilkan karya- karya Hanafi yang dibuat selama masa karantina massal dan secara umum merespons berbagai isu-isu di sekitar karantina. Ada intentitas yang berbeda dari karya Hanafi sebelumnya. Namun, karya Hanafi ini adalah karya yang dibuat ketika kita semua sama-sama sedang merasakan situasinya. Ini adalah cara lain dalam mengalami seni rupa,” kata kurator galerikertas, Heru Joni Putra.

Selain itu, seperti format galerikertas sejak awal mula, rangkaian pameran ini juga membuka kesempatan untuk pelukis muda yang ingin mempresentasikan karya mereka kepada Hanafi.  Setiap karya perupa muda akan dibedah oleh Hanafi dan dipilih perupa-perupa yang akan diberi workshop hingga kemudian karya tersebut akan dipamerkan di galerikertas pada bulan berikutnya.

Hanya saja karena situasi saat ini, untuk menikmati karya-karya Hanafi pada pameran kali ini, pengunjung tidak bisa datang seperti biasanya. Sebab galerikertas mengatur ulang tata-aturan memasuki galeri dan menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan standar yang diberikan pemerintah. Tujuannya menjaga agar setiap pengunjung tetap aman satu sama lain. Misalnya, setiap pengunjung mesti melewati sensor suhu tubuh dahulu dan dalam satu jam, maksimal hanya bisa dimasuki oleh 9 pengunjung. Setiap jarak satu jam, diberi waktu kosong untuk bersih-bersih selama setengah jam. Setiap pengunjung pun harus mengatur jarak satu sama lain, dengan berdiri pada lantai yang diberi tanda-lingkaran. Pameran “60 Tahun dalam Studio” ini memajang 65 karya dan digelar mulai tanggal 5 Juli sampai 5 Agustus 2020. Setiap hari galerikertas hanya dibuka pukul 12.00-16.00 WIB. Setiap satu jam hanya boleh dimasuki 9 pengunjung. Setiap satu jam, galerikertas dikosongkan dulu setengah jam dan setelah itu baru bisa dimasuki 9 pengunjung lainnya. Jadi, dalam sehari hanya bisa dikunjungi 27 orang. Oleh sebab itu, setiap peserta harus mendaftar terlebih dahulu untuk mengatur waktu kunjungannya melalui form pendaftaran yang tertera pada akun-akun media sosial milik galerikertas. [] Wahyu Indro Sasongko

Ragam

Berlomba Cari Muka di Depan Penguasa

Pementasan ke 33 Indonesia Kita “Toean Besar”

Di sebuah negeri, di dalam istana, sedang terjadi kasak-kusuk. Ada kabar yang menggegerkan, seseorang yang disebut-sebut sebagai “Toean Besar” akan datang. Kabar ini membuat panik banyak orang. Dari bawahan sampai Kepala Istana dipenuhi kesibukan bercampur rasa penasaran. Sebab Toean Besar adalah seseorang dengan sosok yang misterius. Ada yang mengatakan, “Toean Besar adalah orang yang super kaya dan mau menggelontorkan modalnya untuk kepentingan rakyat”. Ada pula yang menambahkan, “Toean Besar itu, selain kaya raya, juga ganteng dan bertubuh besar.”

Mendengar namanya disebut saja, sudah membuat banyak orang di lingkungan istana sigap dan ingin mengambil kesempatan untuk bertemu, meskipun hanya untuk berfoto bersama. Siapa sebenarnya Toean Besar, tak ada yang benar-benar mengetahui. Namun kasak-kusuk yang berlangsung pada akhirnya memicu timbulnya sikap saling memengaruhi dan perilaku juga ikut berubah. Bermacam intrik dan kekonyolan mulai terjadi.

Untuk bisa bertemu Toean Besar, ada yang mengubah penampilan agar status sosial meningkat, ada pula yang nekat menyamar menjadi sang Toean Besar dan mengaku-aku dirinya sebagai Toean Besar. Ketika orang mulai mengubah diri, tak hanya gaya dan penampilan, tetapi identitas diri dan sikap juga berubah. Ada yang semula bermusuhan berubah menjadi berteman, ada pula yang tadinya kompak, tiba-tiba menikung begitu melihat peluang. Mereka akhirnya saling berbohong dan saling menipu. Dan sejarah pun ikut dipermainkan, demi mencapai tujuan.

Pementasan lakon “Toean Besar” kali ini masih sesuai tema utama “Jalan Kebudayaan Jalan Kemanusiaan” yang dipilih oleh Tim Kreatif Indonesia Kita. Tema sekaligus menjadi benang merah dari pentas-pentas yang diselenggarakan di sepanjang tahun 2019 karena pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman dalam kehidupan sosial saat ini.  Butet Kartaradjasa mengatakan, ketika jalan kemanusiaan direfleksikan melalui pertunjukan Indonesia Kita, maka semakin terasa relevan untuk mengajak, menemukan dan menumbuhkan kembali kepekaan, kesadaran dan kemanusiaan kita. Sebab seni pertunjukan sering  diibaratkan seperti oase di tengah kegersangan. Indonesia Kita menghadirkan seni di antara masyarakat yang melampaui sekat dan batas-batas suku, agama dan orientasi politik.

Sedangkan Direktur Kreatif Indonesia Kita, Agus Noor mengatakan, seni merupakan refleksi kompleksitas manusia dengan beragam dimensi. Kesadaran ini menjadi dasar untuk mengolah gagasan-gagasan kreatif dalam menciptakan pertunjukan Indonesia Kita sepanjang tahun 2019 di mana kita semua berada di antara gegap gempita peristiwa politik, namun kebudayaan mengingatkan kita untuk memuliakan kemanusiaan. Ada yang berbeda dari pementasan ke 33 kali ini, selain menampilkan sederet aktor dan komedian, seperti Cak Lontong, Marwoto, Akbar, Mucle, Boris Bokir, ada juga Inaya Wahid. Selain itu pertunjukan Indonesia Kita akan melibatkan wartawan dari beberapa media untuk ikut tampil dalam pentas Toean Besar. Bagaimana cerita ini dipentaskan? Anda bisa menyaksikan pertunjukannya selama dua hari yang akan digelar pada tanggal 20-21 September 2019 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. [] Wahyu Indro Sasongko

Ragam

Kala Seniman Bicara Krisis Lingkungan

Pameran Seni Rupa “Fish Out of Water”

Plastik hadir di muka bumi ini diawali oleh Alexander Parkes yang pertama kali memperkenalkannya pada sebuah eksibisi internasional di London, Inggris pada tahun 1862. Plastik temuan Parkes disebut Parkesine ini dibuat dari bahan organik dari selulosa. Namun, setelah beberapa dekade yang singkat sejak manusia menggunakan plastik, ia menjadi salah satu momok dalam  persoalan lingkungan. Selain sebagai limbah yang merusak daratan dan mengotori lautan, sampah plastik juga termakan dan meracuni hewan-hewan laut.

Poster Pameran Seni Rupa: Fish Out of Water

Menurut Ocean Conservacy Report 2015, setiap tahunnya, ada delapan juta ton sampah plastik yang mengambang di laut. Kira-kira, per menit, ada satu truk sampah plastik yang dibuang ke sana. Dampaknya? Lihatlah bagaimana kondisi hutan bakau Vietnam yang dipenuhi dengan kantung plastik, seekor paus di Thailand mati akibat menelan sampah plastik, dan limbah menyelimuti pantai-pantai Indonesia. Perlahan tapi pasti, persoalan plastik menjadi potret suram mengenai krisis yang mencengkeram Asia.

Lebih dari setengah jumlah tersebut berasal dari negara-negara seperti Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia. Pada saat itu, berat sampah plastik yang disumbang mencapai 187,2 juta ton. Meski angka ini di bawah China dengan volume sampah mencapai 262,9 juta ton. Kemudian disusul oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka tentu persoalan plastik ini tidak bisa terus menerus dibiarkan menghantui peradaban.

Di tengah kekhawatiran itu, Art Xchange Gallery meresponnya dengan menggelar pameran seni rupa bertajuk “Fish Out of Water” yang digelar pada 16 Mei – 13 Juni 2019 di Townhouse Cordoba No.77, Pantai Indah Kapuk. Pameran yang menggabungkan berbagai media yang berbeda dari seni lukis, patung, desain produk hingga desain mode, yang kesemuanya dibuat dengan menggunakan bahan plastik atau memiliki tema terkait tentang masalah plastik.

Foto-Foto: Dok. Art Xchange Gallery

Ada 14 perupa yang ikut serta, di antaranya ada nama Camelia Mitasari Hasibuan, Ignasius Dicky Takndare, Ang Che Che, Budi Asih, Burhanudin Reihan Afnan, Dedi Imawan, Deny Nugraha, Hendro Hadinata, I Made Santika Putra, Denny Rasyid Priyatna, Ahmad Subandiyo, Walid Syarthowi Basmalah, Pardiyanto Semper, dan S. Soneo Santoso.

Tentu saja, sesuai tema perhelatan seni itu nanti, Anda akan dapat melihat bagaimana para perupa merespon sebuah masalah lingkungan melalui karya-karyanya. Sebut saja Ignasius Dicky Takndare, perupa yang memilih kulit kayu sebagai media dan ciri khas karya seni dari Papua itu memamerkan salah satu karyanya yang berjudul “The Long Walks Contemplations”. Menurut Dicky, karya tersebut lahir dari kegelisahannya mengenai persoalan-persoalan lingkungan dan kemanusiaan pada tanah kelahirannya.

“Karya itu berbicara tentang siklus kehidupan. Meskipun ciri khas Papua sangat kuat, tetapi itu berbicara tentang kehidupan semua manusia. Siklus kehidupan dan pertarungannya akan dapat kita lihat serupa gerak dari jarum jam. Dalam karya itu, akan kita temui fase keharmonisan manusia dan alam, fase manusia mulai serakah, fase ketika manusia dengan benda tidak bisa dibedakan lagi, hingga pada akhirnya akan kembali pada fase permulaan zaman,” ungkap Dicky.

Sedangkan bagi Camelia Mitasari Hasibuan, tema tentang alam, lingkungan, ekosistem, dan sampah bukan hal asing lagi bagi perupa perempuan ini. Pada pameran itu nanti, Camelia akan menampilkan dua karyanya. Pada  lukisan “Which One is My Food?” dan  “Harapan yang Tersisa”, ia menjelaskan begitu banyak sampah di lautan saat ini. Hingga lautan yang semula jernih, sekarang menjadi lautan tak ubahnya tempat pembuangan sampah.

Baginya, ini sangat memengaruhi kehidupan ekosistem di lautan. Salah satunya burung pelikan. Burung pelikan adalah salah satu jenis burung yang hidupnya sangat bergantung dengan laut. Burung pelikan biasa mencari ikan-ikan di laut sebagai makanannya. Namun, karena masalah sampah seringkali burung pelikan sulit untuk membedakan antara ikan dan sampah.

“Begitu banyak tempat di bumi ini dipenuhi dengan sampah-sampah hasil dari perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab, bahkan hingga ke hutan. Habitat bagi binatang-binatang dan beragam tumbuhan serta tempat mencari makan hingga tempat berkembang biak saat ini tidak hanya menghadapi ancaman pembalakan liar, tetapi juga mulai dipenuhi dengan sampah. Jadi akibat sampah ini, tidak dihadapi oleh manusia, tapi juga hewan dan tumbuhan. Hewan dan tumbuh-tumbuhan dalam hutan tidak memiliki pilihan lain kecuali beradaptasi dengan situasi ini,” ujar Camelia.

Direktur Art Xchange Gallery, Benny Oentoro mengatakan, pemilihan judul “Fish Out of Water” seperti sebuah ungkapan. Polusi yang disebabkan oleh plastik, merusak dan mencemari lingkungan kita dapat disamakan dengan ikan yang tidak dapat bernapas jika berada di luar habitatnya. “Seperti ikan, manusia juga akan mati lemas dan tercekik ketika udara yang kita hirup terus menerus terpapar oleh berbagai jenis polusi, termasuk lingkungan kita yang tercemar oleh limbah plastik,” kata Benny.

Melalui pameran ini, Benny berharap, seorang seniman dan karyanya  dapat berperan dan menjadi bagian dari inisiatif global dalam memerangi limbah dan polusi. Karena bagaimanapun, persoalan ini adalah bagian dari dunia tempat kita hidup, dan itu adalah tugas manusia, termasuk seniman untuk melindunginya.

“Kami berusaha menciptakan kesadaran tentang polusi limbah plastik yang telah menjadi ancaman global. Kita harus mulai memainkan peran kita sebelum terlambat. Sebisa mungkin membantu selamatkan planet kita. Dan sebagian dari hasil penjualan karya seni yang kita pamerkan, akan kami sumbangkan untuk komunitas di TPA Bantar Gerbang,” ujar Benny. [] Wahyu Indro Sasongko

Ragam

Menangkap Refleksi Energi dari Jakarta

Pameran Seni Rupa Rob Pearce

Apa yang kita pikirkan ketika membayangkan sebuah kota bernama Jakarta? Tentu saja, banyak di antara kita akan menggambarkan sebuah kota dengan kepadatan manusia yang berlebihan, kemacetan, polusi udara, dan segala keruwetan hidup di dalamnya. Mengawali bulan Mei ini, Galeri Kertas Studio Hanafi menghadirkan pameran tunggal karya Rob Pearce “It’s All About Story: Past, Present, Future”.

Pameran yang digelar sepanjang 1 – 30 Mei 2019 ini merupakan pameran pembuka untuk rentetan program selanjutnya di tahun 2019. Rob merupakan seniman asal Inggris yang telah berdomisili di Jakarta sejak 1990-an. Ia merasa memiliki keterikatan tersendiri sejak ia pertama kali datang ke Jakarta pada tahun 1970-an. Pada awal kedatangannya, Rob menggeluti bidang fotografi dokumenter sebelum pada akhirnya, ia memilih berkarya melalui jalur seni rupa murni. Ia mengatakan, pameran ini sebagai perayaan. Sebuah perayaan dari energi Jakarta yang ia dapatkan selama tinggal di salah satu kota besar di Indonesia ini.

“Hampir semua inspirasi dan praktik seni dari karya ini berhutang pada jalanan Jakarta. Elemen-elemen yang menginspirasi diperoleh selama beberapa tahun dengan menjelahi jalan-jalan, dan jembatan, suara gaduh, tempat- tempat bising yang dipenuhi oleh debu dan asap knalpot” kata Rob Pearce.

Pada pamerannya ini, Rob Pearce memajang 15 karyanya. Di antaranya ada, Dia Masih Berdansa Denganku, Fragmen Kebenaran, Tanah Melayu: Di Dunia Facebook dan Instagram, Lingkaran Padi, Kesayangan Paco, dan sederet karya lainnya.

Foto-Foto: Dok. Galeri Kertas Studio Hanafi

Pameran It’s All About Story: Past, Present, Future dibuka pada Rabu, 1 Mei 2019 oleh John McGlynn, pendiri Yayasan Lontar. Menurut John, karya Robert Pearce yang ditampilkan kali ini adalah karya-karya fotografis sederhana yang dia kerjakan selama beberapa dekade sebelum menjadi karya-karya artistik yang luar biasa kompleks dan sangat bergairah. “Setiap elemen sesungguhnya adalah “sebuah cerita”, seperti layaknya sebuah dongeng, ia dibuat untuk dipelajari, dipahami dan memperkaya mental pembacanya,” kata Jhon McGlynn.

Pada pameran ini, Rob Pearce menggunakan material yang berasal dari buku-buku yang sudah dibacanya. Selayaknya memasang kanvas pada spanram, lembar demi lembar halaman buku itu dicopot dan ditempelkan sampai pada ketebalan tertentu pada spanram. “Kertas-kertas buku tersebut ditempeli dengan variasi atau pengolahan sederhana atas kertas warna yang biasa dipakai dalam ritual sembahyang warga Tionghoa. Dengan demikian, pameran ini menjadi penanda penting bahwa usaha untuk menemukan modus penciptaan karya kertas lainnya masih terus akan terus dilakukan Galeri Kertas,” kata Curator in House Galeri Kertas Studio Hanafi, Heru Joni Putra.

Ia mengatakan, pameran Rob Pearce ini merupakan salah satu wujud dari program-program Galeri Kertas Studio Hanafi. “Dari pameran ini sampai ke pameran penutup di penghujung tahun nanti, kita akan terus mencari kait dan simpul antar berbagai karya kertas agar salah satu wilayah penciptaan yang tidak terlalu populer dalam seni rupa kita ini tidak berujung pada keterputusan. Sebab, pada tahun 2019 ini, Galeri Kertas Studio Hanafi mengusung tema “Let’s Fill This Town With Artist,” ujar Heru.

Acara pembukaan gelaran seni itu sendiri juga turut diramaikan oleh pertunjukan musik dari Oppie Andaresta bersama Windy Setiadi, Chiko, dan Arman Chaniago. Mereka menyanyikan puisi Joko Pinurbo yang berjudul “Baju Bulan”. Pada sesi itu, acara bertambah meriah dengan kehadiran Iwan Fals yang turut menyanyikan dua puisi yang disodorkan oleh Oppie. Selain pameran, Rob bersama Galeri Kertas Studio Hanafi juga melangsungkan empat agenda lainnya, di antaranya: Diskusi Presentasi Perupa Muda bersama Rob Pearce, Diskusi Publik Pameran Rob Pearce bersama dengan Douglas Ramage, Heru Joni Putra, Ika Kusumawardhani, dan perupa Hanafi. Kemudian masih dilanjutkan dengan agenda sharing kolaborasi para pemusik dari Depok yang memiliki genre musik yang berbeda yaitu Lawe Samagaha, Elegi dan Dipo. Mereka akan berkolaborasi untuk menciptakan karya baru.  Pada sesi terakhir pameran tersebut, akan diadakan Workshop Kertas Perupa Muda bersama Rob Pearce. [] Wahyu Indro Sasongko

Ragam

Melihat Peta Baru Perupa Indonesia

Pameran Seni Rupa “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme”

Galeri Nasional Indonesia kembali menggelar Pameran Seni Rupa Nusantara 2019. Acara tersebut sudah dimulai pada 23 April hingga 12 Mei 2019. Gelaran ini bersifat terbuka dan memberikan kesempatan bagi para perupa di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi, menunjukkan potensi dan kreativitas, serta eksistensinya dalam ajang seni rupa bertaraf nasional, baik bagi para perupa muda maupun para perupa handal yang telah lama berkecimpung di dunia seni rupa dalam lingkup nasional maupun internasional. Karena itu, pameran ini sekaligus menjadi media pemetaan perkembangan mutakhir seni rupa di tanah air.

Foto-foto: Dok. Galeri Nasional Indonesia

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto mengatakan, Pameran Seni Rupa Nusantara 2019 berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Kali ini, pameran ini tidak hanya menitikberatkan pada keterwakilan suatu wilayah, namun lebih menekankan pada keterampilan (skill) para perupa Indonesia yang diwakili dari hasil karyanya yang tentu sesuai dengan tema pameran yaitu “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme”.

“Pameran ini dimaksudkan sebagai sebuah pergulatan luar biasa sesuatu tanda dari berbagai proses kombinasi, dan dari pergulatan itu memungkinkan lahirnya tanda baru. Kelahiran tanda baru akan terus berulang-ulang mengikuti hukum alam sepanjang masa. Persoalan apakah yang baru akan sama dengan yang lama atau lain sama sekali adalah kehendak yang harus kita terima sebagai sebuah proses dialektika,” kata Pustanto.

Menurut Pustanto, modernisme dalam seni seharusnya menghasilkan spirit “shock of the new”, di mana menyuguhkan ‘kebaruan’ adalah ukuran utama dalam perkembangan seni. “ Pada pameran ini, kita ingin melihat kembali kaitan gagasan penciptaan karya masa kini dengan gagasan, ide, pemikiran tradisional yang sesungguhnya terus berkembang. Tradisionalisme di Indonesia berjalan dengan sama lajunya dengan perkembangan modernisme sebagai negara-bangsa poskolonial, walau keduanya berbeda konsep, namun pada praktik sosial kulturalnya bercampur baur membentuk rangkaian gagasan dan praktik yang tak terhingga,” ujar Pustanto.

Pada pameran yang dikuratori oleh Asikin Hasan, Sudjud Dartanto, Suwarno Wisetrotomo, Bayu Genia Krishbie, dan Teguh Margono ini, menampilkan 55 karya dari 55 seniman yang diperoleh melalui mekanisme seleksi yang sangat ketat. 36 di antaranya merupakan hasil seleksi 886 karya dari 677 seniman yang dijaring melalui aplikasi terbuka, sedangkan 19 seniman dan karyanya merupakan undangan secara khusus berdasarkan pertimbangan kuratorial. Keseluruhan karya-karya yang ditampilkan menunjukkan eksplorasi media yang kaya, di antaranya lukisan, patung, grafis, batik, dan instalasi.

Dari proses panjang itu, deretan karya-karya dari perupa seperti Nasirun, Ade Pasker, Sasha Yuliana, Prabu Perdana, Tri Wahono, Ayu Laksmi, Heri Dono, dan nama-nama perupa lainnya bisa dilihat di sana. Salah satunya, karya Hono Sun yang bertajuk “Merti Desa” yang menggambakran tentang upacara adat Jawa saat memberikan sesaji kepada danyang atau leluhur desa setempat. Sesaji berasal dari kewajiban setiap keluarga untuk menyumbangkan makanan. Merti Desa dilakukan oleh masyarakat desa untuk membersihkan desa dari roh-roh jahat yang mengganggu, maka sesaji diberikan kepada danyang, karena danyang dipercaya sebagai penjaga sebuah desa.

Ada juga  karya Ajeng Martia Saputri, dengan “Happiness for Sale #2” yang mengingatkan bahwa menjual kebahagiaan adalah sesuatu yang kita lakukan setiap hari, seringkali tanpa disadari. Kebanyakan manusia bertahan hidup dengan cara menukar waktunya dengan uang, yang kemudian uang itu akan ditukar dengan materi yang dianggap bias mendatangkan rasa bahagia dan kepuasan batin.

Konsep lokalitas lainnya juga bisa kita tangkap seperti pada karya I Made Djirna yang menampilkan warna lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui karya “Warna-Warna NTT”. Warna lokal tersebut terinspirasi dari kain tenun tradisional NTT. Wilayah NTT bagian barat dominan dengan warna cokelat, bagian tengah didominasi warna hitam, sedangkan bagian timur merupakan perpaduan cokelat dan hitam dan I Wayan Sujana dengan karyanya “Di Atas Tulang Belulang Agraris” juga menampilkan tradisi melalui kletekan: alat tradisional terbuat dari bambu yang berfungsi sebagai pengusir burung. Pada lukisan digambarkan ribuan kletekan berebutan menyangga sang calon presiden periode 2019-2024 sebagai analogi posisi masyarakat dan pemimpinnya. Lukisan ini diperkuat dengan instalasi kletekan.

Selain pameran, perhelatan ini juga dilengkapi dengan Program Publik berupa Diskusi Seni Rupa “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme” dan Kunjungan ke Museum MACAN, pada 24 April 2019 lalu. Diskusi Seni Rupa dirancang untuk menajamkan wacana yang diusung melalui presentasi karya-karya di ruang pamer, dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidang seni rupa. Sedangkan Kunjungan memberikan kesempatan kepada para perupa peserta pameran untuk mendapatkan pengalaman visual artistik sekaligus memperkaya informasi dan sudut pandang yang bertujuan untuk mendapatkan inspirasi berkarya.

Pustanto berharap, Pameran Seni Rupa Nusantara “KONTRAKSI: Pascatradisionalisme” ini mampu memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya informasi atau pengetahuan terkait seni rupa, mengingat pameran ini juga diselenggarakan bertepatan untuk menyambut Hari Pendidikan Nasional. Selain itu, pembukaan pameran pada 23 April bertepatan dengan tanggal wafatnya Raden Saleh yang saat ini sedang dalam usulan rancangan sebagai tanggal peringatan Hari Seni Rupa Nasional Kami berharap publik dapat mengenal lebih dekat tokoh-tokoh beserta karya para perupa Indonesia yang tak kalah dengan para perupa luar negeri, baik dari segi kedalaman konsep maupun artistik visualnya. Selain itu, pameran ini diharapkan menjadi sarana wisata edukasi kultural yang mampu menarik perhatian publik dalam negeri maupun mancanegara. Juga yang tak kalah penting, diharapkan pameran ini mampu mengisi titik-titik penting perkembangan seni rupa Indonesia sekaligus mendorong perkembangan tersebut demi kemajuan seni rupa Indonesia,” pungkas Pustanto. [] Wahyu Indro Sasongko