Ragam

JUMAT, PUISI, HUJAN

Di beberapa masjid, ada sebutan “Jumat berkah”. Yang dimaksud adalah jamaah yang shalat bakal mendapatkan makanan saat mau meninggalkan masjid. Jamaah yang berbahagia dengan menikmati makanan, yang diadakan gratis oleh pengurus masjid atau insan-insan yang bersyukur.

Jumat, 8 November 2024, aku mengartikan “Jumat berkah” dengan berbeda meski berada di dekat Masjid Agung (Solo). Aku tidak ikut shalat berjamaah di situ tapi menikmati berkah: wujudnya majalah, bukan makanan. Aku berada di kubu perdagangan buku, yang dekat Masjid Agung dan Alun-Alun Utara (Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat). Aku masih doyan nasi. Jadi, siang itu aku tidak menjadi lelaki putus asa yang harus makan majalah.

Pada suatu masa, aku biasa berdiri dan duduk di Alun-Alun Utara. Para pedagang menggelar buku dan majalah di atas alas yang menutupi tanah dan rumputan. Peristiwa yang agak “keramat” jika mengenang belasan tahun yang lalu. Para pedagang membiarkan hamparan buku dan majalah dipandang oleh orang-orang yang ikut membaca saja atau membelinya. Sejak remaja, aku menjadi jamaah di Alun-Alun Utara, bukan Masjid Agung.

Aku tidak memiliki foto saat para pedagang dan memberi berjamaah di atas tanah dan rumputan. Akhirnya, tempat untuk berjualan berpindah-pindah, yang membuat kenangan terus bersambung. Kini, perdagangan buku dan majalah itu di lokasi seberang jalan, tidak lagi menempati Alun-Alun Utara.

Siang itu kaget. Aku melihat wajah Alun-Alun Utara yang berubah. Terlihat menghijau dan indah. Beberapa bulan terjadi “perbaikan” atau “penyempurnaan”, yang beranggaran besar. Pohon beringin di tengah masih berdiri gagah. Yang membedakan adalah rumput dan kebersihan. Sisi pinggir bisa digunakan untuk jalan-jalan dalam keteduhan pohon-pohon. Aku sengaja berhenti sebentar di sisi barat, melihat dua remaja SMA sedang pacaran. Pemandangan siang yang lumayan romantis.

Aku segera berkumpul bersama pedagang yang mengantuk dan melamun. Kedatangan yang kadang membuat jumlah jamaah di situ bertambah meski satu orang. Sepi yang ingin dilawan bersama.

Jumat yang tetap berkah. Jumat yang mempertemukanku dengan majalah-majalah. Yang mula-mula membuatku tergoda adalah beberapa majalah Ananda. Majalah yang memiliki slogan: “lambang kasih sayang orang tua dan guru.” Mereka menyayangi anak dengan membelikan majalah. Kasih sayang diartikan membaca halaman-halaman majalah yang banyak pengetahuan, hiburan, dan iklan.

Satu edisi yang membuatku terjebak masa lalu menampilkan wajah Tino Sidin. Lelaki yang kehilangan gigi tapi selalu mengucap “bagus” kepada anak-anak di seantero Indonesia yang suka menggambar. Tokoh yang sangat disayangi anak-anak, yang dulu rajin duduk di depan televisi menonton siaran TVRI. Di majalah Ananda, 15 Agustus 1986, aku melihat pengumuman lomba yang diadakan oleh Chiki. Di situ, dipasang foto Tino Sidin, yang bertujuan agar banyak anak yang ingin menjadi peserta bersaing mendapat hadiah berupa mobil, televisi, sepeda, meja, dan lain-lain. Hadiah-hadiah yang menggiurkan tapi anak-anak wajib mengingat dan keranjingan Chiki dulu.

Aku membeli beberapa Ananda dengan kepentingan ingin membuat kliping puisi anak-anak. Sejak 1 November 2024, aku membuat tafsiran pendek atau tanggapan sembarangan terhadap puisi anak-anak yang dimuat dalam majalah Zaman. Inginku kelak kliping dan tafsiran menggunakan beragam majalah. Ananda itu majalah penting, yang wajib aku koleksi untuk mengetahui kehadiran puisi-puisi yang ditulis dan dikirim anak-anak dari pelbagai kota dan desa. Aku hanya ingin membenarkan kegirangan anak-anak membuat puisi pernah terjadi di Indonesia.

Tercengang saat membuka Ananda, 11 Oktober 1985. Di bagian belakang, aku membaca puisi yang ampuh, ditulis oleh Rudi Kurniawan yang tinggal di Riau. Puisi yang cocok dibaca saat siang menjadi pabrik keringat meski di Solo ada selingan hujan. Rudi Kurniawan melalui puisi berjudul “Matahari Adalah Ibu” mengingatkan: Ketika kita adalah rimbunan bunga jingga/ kita jadi kehilangan warna diri/ jika matahari redup sepanjang hari// Ketika kita adalah kawanan burung pipit/ kita akan jadi elang atau rajawali/ jika padi tak pernah menguning lagi// Tapi kini matahari itu terbit di barat/ yang berlayar tanpa isyarat/ seakan lupa pada kodrat/ sejak pertama ia bercahaya// Kini kita adalah kawanan burung pipit yang bisu/ kini kita adalah bunga jingga layu/ sebab matahari adalah ibu/ yang tak lagi memberi pancaran kasih sayang seperti dulu. Puisi yang menakutkan. Apa itu menandakan kiamat? Aku masih ketakutan membayangkan “matahari terbit di barat”.

Beberapa majalah Ananda ditumpuk, yang nantinya dibeli jika harga cocok. Tanganku terus membongkar tumpukan majalah, yang baunya tidak sedap dan berwajah kotor. Tangan cepat menghitam. Bersin pun biasa terdengar. Aku memilih beberapa edisi majalah Bobo. Majalah yang masih terbit sampai sekarang. Anak-anak di Indonesia abad XXI masih bisa rutin membaca Bobo jika berlangganan. Bobo berumur panjang ketimbang Intisari. Dua majalah itu berada di naungan Gramedia-Kompas. Aku kagum saja mengetahui penjualan majalah Bobo edisi-edisi terbaru tetap lumayan. Yang harus dipentingkan adalah anak-anak yang tangannya akrab dengan kertas, yang membuka dan memegang untuk membaca. Tangannya tidak selalu memegang benda yang ajaib.

Yang wajib menjadi koleksi: Bobo edisi 10 April 1997. Edisi ulang tahun. Umur majalah itu bertambah. Di lembaran puisi, aku menemukan dua puisi yang bertema Bobo. Aku memilih membaca puisi yang ditulis Evalinda Florida Rayon, yang beralamat di Denpasar, Bali. Pembaca yang terharu setelah mengelap keringan di wajah: Aku berasal dari daerah yang jauh/ di seberang lautan/ Pulau Timor/ tempat kelahiranku// Betapa susahnya aku mencari Bobo/ karena di sana-sini/ bahkan tetanggaku pun/ tak pernah tahu apa itu Bobo// Aku yang telah mengenal Bobo/ selalu berusaha untuk mendapatkan/ dengan cara meminta saudaraku/ mengirimkan dari Pulau Dewata, Bali// Sejak itulah/ aku selalu ingat Bobo/ aku selalu rindu Bobo/ Bobo yang lucu, penuh warna cerita// Sekarang/ aku telah berada di Pulau Dewata/ dalam perantauan mencari ilmu/ dan Bobo mudah didapat/ kini Bobo selalu setia/ di hari-hariku. Pengalaman yang sangat mengesankan, yang mengisahkan persekutuan anak dan majalah. Ia yang akhirnya rajin membaca majalah Bobo, yang mungkin berpengaruh dalam kehidupannya sampai dewasa atau tua.

Aku menemukan juga majalah lawas dan bersejarah di Indonesia: Si Kuncung. Majalah itu masih bisa ditemukan bagi yang beruntung atau melek sejarah. Artinya, majalah yang akan membuka masa lalu dan mengisahkan keaksaraan di Indonesia dalam masa kekuasaan Soekarno dilanjutkan masa kekuasaan Soeharto. Majalah yang legendaris. Aku berhasil mengoleksi ratusan edisi. Jumat yang penuh berkah itu aku membeli lagi Si Kuncung.

Yang cukup menggoda adalah Si Kuncung nomor 43, 1983. Di sampul, tampak gambar para petani. Ada yang mencangkul dan membajak bareng kerbau. Aku kangen kerbau meski aku mulai jarang melihatnya. Dulu, tetangga-tetanggaku ada yang memelihara kerbau. Pada saat traktor-traktor masuk desa dan berdatangan ke sawah, kerbau-kerbau itu lekas menjadi nostalgia.

Gambar para petani dan sawah itu sesuai impian-impian besar rezim Prabowo-Gibran yang menghendaki swasembada pangan. Gambar yang sederhana dan berwarna. Aku memberi pujian tapi sadar nasib para petani. Pada saat masih kecil, aku sering bermain di sawah sambil menggembala kambing. Selingan yang menggembirakan adalah naik kerbau yang dibawa teman. Peristiwa yang seru: turun ke sungai memandikan kerbau.

Aku menemukan puisi-puisi dalam halaman-halaman Si Kuncung. Namun, yang terpenting adalah pemuatan cerita-cerita yang mengandung nilai-nilai Pancasila. Sejak dulu, Si Kuncung menjadi majalah yang mengajak anak-anak di Indonesia makin gandrung Pancasila, sebelum ada BPIP atau kurikulum yang diadakan NM dengan pengistimewaan Pancasila.

Siang tetap menghasilkan keringat dan lelah. Aku memang bergairah membaca majalah-majalah lawas tapi lelah tidak bisa dilawan. Di kios, terdengar lagu-lagu Iwan Fals, yang membuatku bersemangat untuk memilih lagi majalah-majalah. Belasan majalah Putera Kita aku beli untuk melengkapi sumber penafsiran puisi anak-anak, dari masa ke masa.

Di tanganku, majalah Putera Kita yang menampilkan gambar anak-anak sedang bermain gembira. Mereka bermain di alam, bersama pohon-pohon. Konon, anak-anak sekarang sering berada di ruangan: sekolah dan rumah. Bermain di alam terbuka itu menyenangkan.

Di majalah Putera Kita, 25 Juli 1988, aku membaca puisi berjudul “Kebebasan dan Kebahagiaan” yang ditulis Ema. Puisi yang berisi gugatan dan rapatan. Aku membacanya sambil mengenang dunia-batin anak-anak. Yang ditulis: Keadaan membuatku bosan bersekolah/ Apalagi bila nilaiku buruk/ Kubayangkan zaman yang semakin kacau/ Masa depan yang cerah semakin menjauh dari kita/ Dapatkah aku dapatkan kegemilangan di masa depan? Puisi yang mungkin menjadi “kritik” atau “noda” dalam mimpi-mimpi pembangunan nasional yang dibesarkan oleh Soeharto. Seingatku, belajar di sekolah itu membosankan. Aku ikut mengalaminya: pernah mendapat nilai buruk dan pernah tidak naik kelas.

Majalah-majalah masuk kresek lorek. Aku membawanya pulang dengan sepeda motor yang tidak mau diajak ngebut. Perjalanan pulang: melintasi Alun-Alun Utara, Pasar Klewer, Singosaren, dan akhirnya menuju Colomadu. Di pinggiran Solo, hujan pun turun. Majalah-majalah itu mendapat air dari atas dan cipratan dari bawah. Selama di jalan, aku sudah sedih jika majalah-majalah basah. Sore, aku berhasil tiba di rumah. Majalah-majalah dikeluarkan dari kresek. Selamat dari air.

Jumat yang tetap berkah. Aku yang akan bergirang dengan puisi-puisi dalam belasan majalah lama, yang tiba di rumahku setelah mendapat sinar matahari dan guyuran hujan. I Kabut

Ragam

MINGGU DAN TIGA KAMUS

Kegembiraan itu lawas. Yang dimaksud adalah lawas yang memberi adonan rupa, warna, berat, dan bau. Aku gembira menemukan yang lawas-lawas. Aku membahasakan penemuan ketimbang pembelian. Lawas itu terlihat di media sosial. Mataku bersinar bila melihat tampilan bacaan lawas.

Pada 13 Oktober 2024, sore yang terduga tidak lembut dan puitis. Foto itu tampil saat aku melihat ponsel. Yang muncul serius: foto buku lawas meski mula-mula tampak jelek. Mata beralih membaca keterangan yang dibuat pedagang. Buku itu dianggap asli meski penampilan sampul untuk bundel adalah buatan pemilik terdahulu, buka garapan penerbit atau percetakan. Kondisi isi buku dikabarkan masih bagus.

“Dua kamus lawas,” tulis pedagang. Kamus-kamus dibuat menjadi bundel. Aku tidak perlu berpikir seribu menit. Foto dagangan buku dengan mencantumkan harga 70 ribu rupiah wajib dibeli tanpa menawar. Aku kirimkan kata-kata berkepentingan membeli buku. Janji pun diberikan: “Sehari atau dua hari lagi, transfer.”

Pembelian buku lawas saat Minggu itu menggembirakan. Percayalah tak ada hari libur bagi orang-orang yang berjualan buku dan orang-orang yang “bersumpah” terus membeli buku (lawas). Aku kadang merasakan “dosa-dosa” saat membeli buku. Namun, ada juga “doa-doa” agar diberi uang oleh Tuhan, dipertemukan buku-buku yang bikin merinding, dan mendapat keberuntungan diberi harga-harga murah oleh pedagang. Keraguanku: “sumpah” membeli buku itu banyak “doa” atau “dosa” saat tahun-tahun sulit membakar sambat dan melungkrahkan hari-hari yang terus berganti.

Pada 17 Oktober 2024, bundel buku berwajah lusuh masuk ke rumahku. Siang yang memanggang tubuh berkurang setelah aku membuka bungkusan paket buku. Mataku tak seterang dan segarang matahari tapi mengubah lembaran-lembaran buku itu “bersinar”. Aku yang beruntung bisa bertemu masa lalu. Pertemuan melalui buku.

Aku pun teringat tokoh-tokoh yang hanya mengetahui sepenggal-sepenggal biografinya. Keyakinan yang telah aku wartakan sejak lama jika berbincang dengan orang-orang atau hadir di seminar: “Indonesia tidak cuma negara ribuan pulau. Indonesia adalah negara ribuan kamus.” Keyakinan yang kadang dibantah tapi aku membalas dengan argumentasi-argumentasi sepanjang lokomotif dan gerbong-gerbong kereta api, yang biasa bergerak dari Stasiun Balapan sampai Stasiun Senen.

Koleksi kamus di rumah makin bertambah. Dugaanku jumlahnya belum mencapai seribu. Sejak belasan tahun lalu, aku biasa dan rajin khatam novel-novel. Namun, aku bukan orang yang sombong membaca ratusan kamus dengan kewajiban khatam. Yang harus diketahui orang-orang: cara membaca kamus berbeda dengan membaca novel.

Aku suka membaca kamus tanpa khatam. Yang membuatku untuk selalu suka kamus dipengaruhi tokoh-tokoh yang aku menghormatinya: Poerwadarminta, Sutan Mohammad Zain, Abdul Chaer, Zoetmulder, Goenawan Mohamad, Remy Sylado, Eko Endarmoko, dan lain-lain. Sosok yang tidak aku lupakan adalah Pak Sur. Dulu, ia adalah penjaga perpustakaan di SMA. Aku sering dolan dan mendekam di perpustakaan. Masa lalu yang menguak malu.

Sikapku salah dan sembrono: memilih “berteman” buku-buku ketimbang bergaul dengan teman-teman di sekolah. Di perpustakaan, aku kadang membawa buku tulis khusus yang aku gunakan untuk mencatat kata dan pengertian. Kamus-kamus di lemari yang berketerangan “referensi” menjadi sasaran tangan untuk dibuka mengikuti kepentingan dan penasaran. Murid yang jelek dan bodoh itu senang jika berhasil menambah album kata dalam hidupnya. Yang dibutuhkan tentu pengertian-pengertian agar ia dapat merayakan bahasa.

Keinginan membuka kamus dalam waktu lama diusahakan dengan bertanya kepada Pak Sur. Di perpustakaan, kamus itu masuk daftar buku tidak boleh dipinjam, hanya dibaca di tempat. Pak Sur bilang punya Kamus Umum Bahasa Indonesia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia di kamar kos Mendungan, Sukoharjo, Jawa Tengah. Aku diperbolehkan meminjamnya. Sore, aku naik pit onthel menuju alamat kos. Pengalaman awal meminjam kamus, yang membuatku berbahagia. Di rumah, malam-malam aku menikmatinya dengan membuka kamus dekat jendela. Lelaki yang masih murid SMA itu biasa membuka kamus dan membuat catatan sambil merokok. Ia menyadari dunia itu kata-kata. Jadi, yang memiliki kata-kata yang mengerti dan memiliki dunia. Pemahaman itu pernah dimiliki tapi dianggap “sesat” setelah ia sering mengalami gagal, salah, kalah, dan jahat dalam babak-babak kehidupannya. Namun, ia tetap setia kepada kamus-kamus sampai sekarang.   

Pada saat remaja, yang aku inginkan adalah kata dan pengertian. Peristiwa membuka kamus itu berlanjut dengan “dosa” dan “doa” mengumpulkan kamus-kamus lawas. Aku kadang membeli kamus baru yang harganya terjangkau. Yang membuatku malu adalah kunjungan ke toko buku. Di situ, ada kamus tebal banget. Sampulnya berwarna biru tua. Aku mengetahui itu Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi baru. Harga yang dicantumkan: lebih dari setengah juta rupiah. Aku iseng mengabarkan kepada teman yang bekerja sebagai editor di Jakarta. Jawaban melalui pesan pendek datang cepat. Ia mengirimi uang agar aku membeli kamus mahal, yang menjanjikan memajukan bahasa Indonesia. Duh, kamus mahal berakibat orang-orang malas membuka kamus dan takut membelinya. Aku berhasil memilikinya atas kebaikan teman.

Pada hari berbeda, aku membuat resensi terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia buatan pemerintah. Resensi yang dimuat di koran itu tanda terima kasih dan hormat kepada teman yang ikhlas memberikan uang tidak sedikit.

Pada hari-hari menjelang 28 Oktober 2024 yang masih diadakan peringatan Sumpah Pemuda, aku memiliki kamus-kamus lawas: ikut menentukan sejarah Indonesia. Kamus yang mendahului munculnya Kamus Umum Bahasa Indonesia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus-kamus lawas itu sekadar kegembiraan yang tidak aku kabarkan kepada Pak Sur (tinggal di Klaten) dan teman di Jakarta.

Adegan membuka bundel kamus. Halaman yang awal terbaca: Logat Ketjil Latin-Indonesia. Aku mengerti pesona dan pengaruh bahasa Latin, sejak beberapa abad yang lalu. Pengaruhnya sampai ke Indonesia dalam masalah agama, keilmuan, seni, dan lain-lain. Kamus itu diterbitkan oleh Seminari Kakaskassen-Tomohon (1954). Keterangan yang dicantumkan: “Tetapi kami berkejakinan bahwa logat (kamus) ini masih djauh dari sempurna. Pertama-tama karena kekurangan pengetahuan bahasa Indonesia pada si penjusun sendiri. Tambahan pula karena kesulitan dalam menterdjemahkan berbagai kata Latin, terutama mengenai kata-kata benda abstrak.” Seumur hidup, aku tidak ada kemauan belajar bahasa Latin. Padahal, bahasa Latin itu sering muncul dalam pelajaran-pelajaran di sekolah. Beragam ilmu (modern) dipastikan mendapat pengaruh dari bahasa Latin.

Selanjutnya, aku melihat sampul buku yang menakjubkan. Sampul itu tidak dipotret pedagang, yang dulu menawarkan di media sosial. Oh, pedagang yang tidak mengetahui bahwa bundel itu memuat tiga kamus, bukan dua kamus. Kaget dan girang! Judul yang terbaca: Woordenboek Nederlansch-Javaansch, (Kamoes) Belanda-Djawa I yang disusun P Darminta. Aku mengetahui nama lengkapnya jika ditulis: Poerwadarminta atau WJS Poerwadarminta. Di Indonesia, ia terkenal dengan Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952). Dulu, penulisan nama agak berbeda. Kamus itu memuat 12.000 “perkata’an”.

Kamus yang bersejarah, yang diterbitkan oleh Boekhandel SM Diwarno, Jogjakarta, 1932. Umurnya hampir seratus tahun. Foto di sampul itu bukan penyusun kamus (P Darminta) tapi pemilik “boekhandel”. Lelaki ganteng dan berduit yang ikut dalam arus industri buku masa kolonial.

Kamus itu membuatku geleng-geleng kepala dan tertawa pelan. Beberapa kata dalam bahasa Belanda diterima dalam bahasa Jawa. Jadi, orang-orang Jawa yang omong dan membuat tulisan sebenarnya menggunakan kata-kata yang diperoleh dari bahasa Belanda atau dipengaruhi bahasa Belanda. Takdir yang lumrah akibat lakon penjajahan. Pada masa kolonial, bahasa Belanda ikut membentuk peradaban Jawa melalui birokrasi, misionaris, sekolah, bacaan, dan lain-lain.

Kaget dan girangku bertambah saat menghadapi sampul buku berjudul Kitab Logat Melajoe (1921) susunan Ch A van Ophuijsen. Aku sudah memiliki buku itu tanpa sampul, terbitan 1929. Kini, aku memegang buku yang usianya lebih tua. Kondisi masih bagus dan lengkap. Buku yang bersampul sederhana tapi nasib bahasa di Indonesia sangat dipengaruhi oleh Ophuijsen. Logat itu kamus. Namun, aku membaca buku Ophuijsen sebagai “daftar kata”. Buku yang mungkin terbaca oleh kaum terpelajar dan memberi bekal dalam Kongres Pemuda I (1926) dan Kongres Pemuda II (1928).

Intelektual asal Belanda itu bakal selalu disebut jika orang mengurusi sejarah dan perkembangan ejaan di Indonesia. Pada 1947 dan 1972, pemerintah mengadakan kebijakan ejaan. Warisan yang diberikan Ophuijsen tetap wajib dipelajari dan diperhatikan untuk kemunculan ejaan-ejaan pada masa kekuasaan Soekarno dan Soeharto.

Tiga kamus bersamaku, melewati hari-hari saat bahasa-bahasa berantakan oleh politik, bisnis, hiburan, dan lain-lain. Aku memilih memeluk tiga kamus tanpa harus mengerti masa silam dan pikat bahasa-bahasa turut membentuk Indonesia. Yang membuatku bahagia: tiga kamus belum punah meski tidak dinantikan atau mendapat pelukan dari kaum intelektual, pengarang, atau pejabat di seantero Indonesia.I Kabut

Ragam

JANJI DAN SELERA

Sabtu, bukan hari yang istimewa bagi orang yang tidak bekerja. Aku tidak bakal menerima gaji. Aku tak mengalami “liburan” setelah setiap hari libur. Hari-hari yang bernama tapi sering biasa-biasa saja. Sabtu, 26 Oktober 2024, aku masih di rumah: membuka buku-buku lawas dan mengetik tulisan yang ditakdirkan tidak bermutu, yang hanya dijanjikan mendapat sebelas pembaca sepanjang masa. Namun, aku belum ingkar janji untuk menulis hal-hal yang tidak bermutu, yang tidak dikehendaki langit dan bumi.

Mengetik itu membutuhkan kekuatan tapi tidak seperti penanam padi, pemasang bata, atau penyapu jalanan. Aku pun berkeringat, yang dijawab dengan minum air putih beberapa gelas. Pernah terpikirkan: makanan dan minuman menentukan mutu tulisan yang sedang diketik. Pagi, aku sarapan berisi nasi, sayur sop, dan tempe. Makanan yang cukup memberi kekuatan. Aku tidak ingin menyia-nyiakannya. Maka, aku mengetik dan mengutip kalimat-kalimat dari buku lama, buku-buku yang makin kehilangan pembaca.

Pagi, jadilah satu tulisan yang berjudul “Irama (Sejarah) 1928”. Hari agak siang, aku tidak ingin menghabiskan kekuatan sarapan cuma dengan mengetik. Di atas Supra, aku menyerahkan diri kepada matahari. Di jalan, aku menyerap asap. Perjalanan, dari rumah menuju Gladag (Solo), memberi sedikit hiburan. Peruntungan tidak bisa ditebak bagi orang yang masih mau mendatangi buku-buku atau majalah-majalah lama. Perjalanan ke bacaan.

Pedagang-pedagang yang masih menata buku dan majalah. Ada yang sudah rampung, mengelap keringat. Ada yang duduk merasakan lelah, yang datangnya terlalu cepat saat hari belum siang sempurna. Aku berbincang dengan pedagang, yang baru saja terbangun dari tidur. Wajah yang lelah. Namun, ia mudah bergairah membagikan cerita-ceritanya pada masa lalu. Yang disampaikan padaku: peristiwanya mendapat sekarung dagangan yang menggemparkan. Ia mendapat buku-buku Pramoedya Ananta Toer dan majalah-majalah masa pendudukan Jepang. Dagangan yang dibeli dengan harga murah. Yang dijual dengan harga berjuta-juta. Ia terlalu beruntung. Aku mendengarnya sambil melihat matanya yang berduit. Pembayangan saja gara-gara masa sekarang sulit mendapatkan dagangan yang “sakti” atau “bergizi”. Menjual buku atau majalah pun susah. Gladag yang makin sepi. Tempat itu murung seperti diriku yang sering murung.

Semula, aku berjanji hanya ingin melihat pemandangan buku dan majalah. Ikhtiar agar tidak mengikuti nafsu: insaf kondisi duit di kantong celana. Tiga kios berhasil didatangi dan ditinggalkan, tidak membeli apa-apa. Mataku sudah senang memandang. Tanganku telah bergirang dengan sentuhan-sentuhan.

Di kios berikutnya, aku menyerah. Nafsu itu membara ketimbang sinar matahari yang menerobos kios-kios. Pedagang yang terlalu bersemangat menawarkan dagangan. Ia mengabarkan ada majalah-majalah Concept. Aku mengetahui itu majalah unik. Perayaan desain! Gagal membeli empat majalah Concept. Yang tiba-tiba terjadi adalah tumpukan tiga bundel majalah. Bundel masih menyisakan tanah-tanah mengering.

Aku membukanya sejenak. Mata lekas sadar. Wah, majalah berselera! Maksudku, yang ada di hadapanku adalah beberapa edisi majalah Selera masa 1980-an. Aku harus memilikinya. Aku ingin membawanya pulang. Beberapa hari sebelumnya, aku sudah menumpuk puluhan buku lawas bertema pangan (makanan). Niatku membuat ratusan tulisan bertema pangan mengikuti arus kekuasaan Prabowo-Gibran. Penguasa yang memerintahkan pemberian makanan bergizi gratis untuk jutaan orang di Indonesia, yang bakal membuat pengeluaran besar: triliunan.

Selera, majalah yang wajib dibaca dan digunakan dalam menghasilkan tulisan-tulisan. Dulu, majalah itu diterbitkan di naungan Gramedia. Aku sudah memiliki puluhan edisi, sejak beberapa tahun lalu. Majalah yang apik pada masanya, yang tidak dapat berumur panjang. Yang diulas dalam majalah adalah upaboga. Aku senang dengan pengisahan para tokoh dan makanan. Ada rubrik kebahasaan. Yang tidak boleh dilewatkan kehadiran cerita pendek bertema pangan, yang sering tampil adalah gubahan SNG. Sosok yang menjadi pemimpin redaksi Selera, yang rajin menulis cerita.

Aku pun memiliki buku-buku SNG, yang mendokumentasi resep-resep makanan warisan keluarga besar RA Kartini. Ada juga buku besar mengenai upaboga, yang bersifat ensiklopedia. Buku kumpulan cerita pendek juga sudah aku khatamkan. SNG, sosok yang membuatku penasaran: ingin mengetahui biografinya. Yang ingin aku tulis tentu predikatnya sebagai pengarang “kuliner” yang tekun dan istikomah di Indonesia. Nama yang belum sering diulas atau digosipkan dalam sastra Indonesia.

Aku membatin perkiraan harga tiga bundel majalah Selera. Suami-istri yang menunggu kios itu malah ribut. Mereka rapat dulu dalam penentuan harga. Wajahku menunduk merasa takut harga bakal mahal. Rapat itu berbahaya! Sekian detik berlalu. Harga sudah ditentukan dengan mufakat tak boleh ada bantahan atau interupsi. Rapat yang sederhana dibandingkan rapat di gedung parlemen atau istana kepresidenan. Yang diucapkan: 20 ribu tiap bundel. Tuhan, telingaku tak salah dengar. Aku bersumpah tidak menawar.

Selembar merah diberikan dengan tangan yang agak gemetaran. Pedagang yang wajahnya semringah. Menanti uang pengembalian. Pedagang itu menawarkan untuk membersihkan tanah-tanah yang menempel di bundel majalah. Aku bilang tidak usah. Namun, ia tetap membersihkan: tanda syukur mendapatkan rezeki. Aku malah kalah dalam bersyukur. Seharusnya, aku yang lebih bersykur. Ia berkata: tiga bundel itu diperoleh pagi. Hari agak siang sudah terbeli olehku. Pedagang yang merasa senang, tidak perlu menunggu waktu seribu hari untuk mendapatkan untung. Pasti harganya murah saat ia membeli di penampungan rongsok atau bakul bronjongan. Namun, aku yang sesumbar bahwa harga yang diberikan itu (terlalu) murah untuk aku bisa membaca dan memenuhi janji membuat ratusan tulisan.

Siang itu aku berkeringat dan kecut. Hariku berselera! Aku tak bakal malu dengan kemproh dan kecut. Di kresek besar, tiga bundel Selera menjanjikan hari-hariku berpikiran mengikuti lakon besar makanan bergizi gratis di Indonesia. Aku tidak lekas pulang, mampir dulu bertemu dan belajar bareng murid-murid SMP. Di situ, aku sedikit berkelakar tentang makanan, yang memberi hukuman-hukuman besar dalam kehidupan. Makanan yang dianggap menghidupkan justru mematikan. Kelakar yang keji tapi para remaja itu segera paham tentang dampak-dampak industri makanan mutakhir.

Di rumah, aku bergairah membaca pengalaman makan Sutan Takdir Alisjahbana, JS Badudu, dan Umar Kayam. Aku membaca lomba mengenai padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk kata-kata asing dalam pangan atau gastronomi. Di situ, ada juri yang dikenal sebagai pakar bahasa Indonesia: Anton M Moeliono.

Yang membuatku sedih: pengalaman makan terbatas. Aku jarang mengetahui warung atau restoran. Sejak lama, aku takut jajan atau ngiras. Padahal, halaman-halaman Selera mengajak pengembaraan upaboga di pelbagai pulau di Nusantara. Godaan mengetahui upaboga di dunia.

Majalah yang wajib dipelajari dan dikoleksi. Aku yakin banyak orang yang akan tercengang atau geleng-geleng kepala membaca pengetahuan upaboga-gastronomi-kuliner-pangan yang termuat dalam Selera. Bacaan yang benar-benar berselera, berbeda dengan jengkelku mengetahui acara-acara kuliner di televisi dan persaingan orang makan di media sosial. Berjumpa dan membaca Selera membuat murung mungkin berkurang tiga derajat.I Kabut

Ragam

SRIWEDARI: BUKU DAN MATAHARI

Ibu-ibu termangu bersama buku-buku. Teater perbukuan tersaji Senin, 21 Oktober 2024, saat siang makin garang. Aku di situ pukul 1 siang. Berjalan dengan tubuh berkeringat dan kecut. Tatapan mata yang lekas menimbulkan prihatin.

Aku tak ingin sendu tapi buku-buku itu membisu, tak berucap nasib atau memberi marah-marah mumpung Indonesia memiliki presiden baru. Para ibu di puluhan kios pun mustahil berharap pembentukan “menteri perbukuan” di Indonesia. Mereka yang sebentar lagi menyerang, yang akan meninggalkan kios dan bercerai dari buku-buku tak pernah terjanjikan menemukan pembaca.

Jika bisa berbahasa Inggris, siang itu aku ingin berjalan dan menyapa mereka diselingi lagu Sting yang berjudul The Book of My Life. Lagu yang mengandung masalah biografi, bukan perdagangan buku atau orang yang meratap setelah dikutuk buku selama belasan tahun. Telingaku kadang menikmati lagu Bernadya, yang mengungkapkan diri, asmara, dan buku.

Aku yang masih bernapas dengan ribuan buku sadar bakal sekarat dan sia-sia. Aku tidak pernah mampu berkisah seperti Sting atau mengandaikan nasib tokoh dalam lagu Bernadya. Nasibku mungkin buruk ketimbang para pedagang buku di kios-kios belakang Stadion Sriwedari, Solo. Siang yang memiliki 12 matahari tidak memberi kabar baik untuk para pedagang buku, yang berada di seberang semringah tokoh-tokoh diangkat menjadi menteri, yang mengumbar mimpi di Jakarta.

Hari itu aku sekadar ingin memberi sapaan, sebelum berita duka dan kecewa beralamat di Sriwedari. Beberapa tahun lagi, nostalgia dan doa terucap merujuk Sriwedari. Pada suatu hari, aku mungkin enggan menjadi pendoa. Biografi ada di situ. Aku pernah menjadi pendoa sepanjang jalan saat meninggalkan rumah menuju Sriwedari. Yang teringat: aku mendapat Jejak Langkah, Bacaan Mulia, Max Havelaar, dan lain-lain di Sriwedari. Dulu, aku datang sebagai remaja berusia 17 tahun. Kini, usiaku 43 tahun yang terengah-engah untuk bernapas dengan buku-buku dan biasa bermimpi buruk setelah khatam buku-buku.

Di kios memamerkan buku-buku sedikit dan berdebu, aku menemukan buku merah. Yang terbaca di sampul: Tentang Bermain Drama. Buku disusun Rendra, yang diterbitkan Pustaka Jaya. Seingatku, aku membaca buku itu saat masih murid SMA. Lelaki bercelana abu-abu mulai suka menonton pementasan teater di TBJT (Solo) dan beberapa kampus. Buku persembahan Rendra itu sempat membuatnya ingin sibuk dalam teater. Maka, ia memang telanjur dalam teater sebagai aktor, penulis naskah, dan sutradara. Pada saat ngambek dan capek, ia memilih membuat resensi atau tulisan mengenai teater. Buku merah, buku yang membentuk si remaja perlahan mengerti teater atau seni.

Di kios berbeda, aku menyapa bapak yang pendiam. Wajah kalem dan cara duduk yang membuatku kagum. Pastilah ia tabah sebagai penunggu buku-buku yang sulit laku. Keringat mengalir di wajahku. Tanganku memegang buku kuning. Tampak gambar lelaki memegang dua wayang. Yang ingin terbeli adalah buku garapan Harun Hadiwijono berjudul Konsepsi tentang Manusia dalam Kebatinan Jawa. Buku yang aku santap saat masih remaja. Pada awalnya, aku membaca buku-buku Niels Mulder yang membahas (kebatinan) Jawa dan Paul Stange. Dua buku Harun Hadiwijono aku baca agak serius meski aku tak menempuhi jalan kebatinan. Buku yang satu lagi mengaitkan Injil dan kebatinan (Jawa).

Pada saat mau membayar buku yang murah, mataku melihat punggung buku yang lusuh. Aku mudah membacanya dari jarak dua meter: Kumpulan Dongeng Binatang 1. Aku sudah memilikinya sejak lama, bersama buku-buku besar bergambar terbitan Gramedia masa lalu. Buku yang apik dan memikat. Aku meminta diambilkan gara-gara buku itu berada di tumpukan. Dua buku mendapat harga mufakat. Aku mengeluarkan selembar uang. Pada saat pedagang mencari uang kecil untuk kembalian, aku masih menggerakkan tangan membongkar tumpukan buku. Pembayaran selesai.

Berjalan mau pergi, aku iseng menanyakan buku merah berjudul Aporisma Kahlil Gibran. Buku kecil, yang bisa masuk saku dan enak di pegangan tangan. Sebenarnya, aku sudah mengoleksinya, sejak remaja. Masa silam yang membuatku menjadi pembaca buku-buku Kahlil Gibran edisi terjemahan bahasa Indonesia yang diterbitkan Bentang, Fajar Pustaka, Pustaka Pelajar, Pustaka Jaya, dan lain-lain. Indonesia masa 1990-an dan 2000-an dimanja Kahlil Gibran. Aku yang cukup lama terbuai Kahlil Gibran. Siang itu buku merah yang kecil boleh aku bawa setelah memberi uang lima ribu rupiah. Panasnya sinar matahari ingin aku redakan dengan iseng-iseng membuka halaman-halaman memuat kalimat-kalimat puitis buatan Kahlil Gibran. Aku agak malu membaca tapi masa lalu itu memanggil.

Di ujung barat, aku berhenti di kios yang sesak buku. Aku mengetahui buku-buku itu sulit laku, menunggu pembeli yang beriman atau pembeli yang sesat. Ratusan novel ditata, yang sudah aku lihat sejak beberapa bulan yang lalu. Dugaanku: Indonesia masih memiliki warga yang gemar membaca novel. Namun, dagangan novel di kios itu tabah. Yang aku ambil berjudul Norwegian Wood gubahan Haruki Murakami terbitan KPG. Aku sulit mengaku sebagai penggemar novel-novel Haruki Murakami. Aku membacanya, tidak memiliki kesan-kesan yang kuat atau berpengaruh besar dalam hidup. Pada hari-hari agak “istimewa”, aku kadang mengenakan kaos yang bertuliskan Haruki Murakami. Namun, percayalah bahwa aku bukan pemuja Haruki Murakami meski terkenal di dunia. Sekali lagi, buku itu murah. Pedagangnya tersenyum mengalahkan senyum matahari yang berada di atas kios dan pohon-pohon.

Duit di saku celana berkurang, buku-buku dalam kresek bertambah: jumlah dan berat. Aku ingin segera meninggalkan kios-kios di Sriwedari, berpindah tempat ke sekolah untuk menunggu anak-anak pulang. Menunggu bersama adegan membuka halaman-halaman buku. Berjalan lungkrah menuju parkiran sepeda motor, aku malah melihat buku digantung di depan kios. Buku yang aku sangat ingat sampulnya. Buku itu berjudul Pustaka Nada, buku memuat ratusan lagu yang digubah AT Mahmud. Selama bertahun-tahun, aku biasa bercerita dan menjelaskan kepada orang-orang mengenai lagu untuk anak yang digubah Ibu Sud, Pak Kasur, AT Mahmud, dan lain-lain. Di rumah, aku mengoleksi ratusan buku memuat lagu anak-anak di Indonesia, dari masa ke masa. Pustaka Nada, buku tebal terbitan Grasindo, yang dianggap memuat lengkap lagu-lagu AT Mahmud.

Apa aku bakal bersenandung di jalan? Usaha mengingat dan menghormati AT Mahmud. Pamit dari Sriwedari, tujuh buku berhasil dibeli dengan harga terjangkau. Para pedagang cukup senang mengetahui buku-buku laku. Uang di tangan atau masuk dompet. Mereka bisa jajan es teh atau membeli makanan untuk menumpas lapar saat siang masih memberi 12 matahari.

Aku berada di jalan menikmati panas, tak ada keinginan membeli es teh atau mampir di “es kapal”. Alamat paling jelas: sekolah. Aku ingin segera duduk di dekat tempat orang-orang biasa berwudhu. Tempat yang biasa aku gunakan untuk membaca buku-buku atau melamun sambil menunggu anak-anak pulang sekolah. Di situ, aku kadang ikut berwudhu, sebelum  masuk ke masjid mau berumur seratus tahun. Pengalaman membuatku iseng berkata di hadapan teman-teman: “Berwudhu sebelum membaca buku.” I Kabut

Ragam

SASTRA (BERAPI) DI GUNUNG DAN JAHANAM

Siang, Jumat, 18 Oktober 2024, bertakdir panas tanpa harus membandingkan dengan kopi yang tersaji di meja saat pagi masih malu-malu. Tak usah minum kopi saat siang, mengelak dari pesta es teh sepanjang jalan. Matahari tidak untuk dikutuk.

Bila ingat gambar matahari di sela dua gunung, Bandung Mawardi menunduk dengan lesu. Ia belum pernah melihat matahari terbit di (puncak) gunung. Lelaki yang ringkih untuk membawa kaki-kakinya menuju puncak gunung. Ia mudah menyerah dan kalah, memilih menjadi penghuni rumah sampai kiamat tiba. Lelaki yang memalukan!

Ia berhasil melewati siang di jalan tanpa makian. Diri yang merasa terlalu dimanjakan matahari, yang sinarnya melebihi api, yang memberi sumuk tidak keruan. Bandung Mawardi ingin insaf, berani menanggungkan hukuman-hukuman di bawah terik matahari. Ia memang harus terbakar sinar matahari agar mengerti siksa.

Panas itu masih terasakan saat sore. Ia mau minggat dari rumah menuju Gunung Lawu. Teman sudah berada di pekarangan, membawa sepeda motor yang bakal membawa tubuhnya berjarak jauh dari rumah. Sebelum bergerak mengukur jalan, dua gelas teh dinikmati dua lelaki keparat yang berlagak mengumbar omongan sastra dan intelektual.

Sore yang ditunggangi mendung. Dua lelaki sempat mandi air hujan di jalanan, setelah malu dan tak berdaya mengurusi sepeda motor yang macet. Cilaka! Ilmu menggenjot dan mengatur gas saja tidak mengerti. Dua lelaki yang mendapat kebaikan lelaki tua di bengkel. Ia yang menggenjot, mengembalikan nyawa sepeda motor agar mampu bergerak ke arah Gunung Lawu.

Di jalan penuh kemesraan pepohonan, mereka memberi mata kepada senja. Hidung yang mendapat udara berbeda, yang memicu mulut menebar kata-kata agak berteriak. Kata-kata yang berceceran di jalan naik-turun dan berbelok-belok. Omongan yang mudah sesat.

Sejam berlalu dan menit-menit yang harus dimiliki bersama roda berputar, tibalah dua lelaki di rumah yang dingin. Di situ, orang-orang berjanji mau merayakan sastra. Mereka memberi nama mentereng: “Sastra di Gunung”. Bandung Mawardi hanya mengikuti ajakan tanpa ingin menyodorkan tandingan ajakan: “Sastra di Langit”, “Sastra di Neraka”, atau “Sastra di Matahari”.

Yang tersiksa adalah bokong. Bertahun-tahun, Bandung Mawardi dikutuk ambeien. Maghrib, ia berhasil turun dari sepeda motor dengan kesengsaraan bokong. Terlalu lama, bokong itu menanggung beban raga yang aib.

Lega, dua lelaki merasakan suasana gunung, tak harus sampai ke puncak Gunung Lawu. Dingin yang tidak usah dipesan lewat lokapasar atau dihasilkan dengan listrik. Bandung Mawardi merinding dan kelelahan. Dingin yang mungkin menyelamatkan ketimbang panas saat siang masih berada di Solo dan rumah. Mustahil mengelak dari dingin. Ia berharap bertemu kopi. Kasihan. Rumah itu tidak dihuni kopi, hanya ada orang-orang yang omong-omong dan merokok. Sabar. Kopi belum punah dari dunia. Kopi belum perlu dipesan di neraka. Kopi, kopi, kopi. Tidak ada pesulap atau pemberi keajaiban. Kopi di pikiran saja. Malam pun bimbang sebelum jahanam.

Duduk bersama teman-teman, mengucap apa saja yang bisa dimengerti atau sekadar membuat tertawa. Konon, cara itu mengurangi dingin. Yang terlihat, tikar-tikar yang  dimaksudkan menjadi saksi perjumpaan dan perayaan kata.

Yuditeha tampak memelas. Sosok yang menua tapi keranjingan bersastra. Malam itu tubuhnya lemah dan sakit. Kasihan. Lelaki yang agak sulit diajak tertawa. Sakit itu perlu agar hidup tidak sembarangan. Bos besar Kamar Kata yang mengadakan “Sastra di Gunung” itu tetap tangguh, membawa sakit ke gunung, meninggalkan perlindungan rumah.

Puluhan orang makan malam. Di atas tikar, sajian itu menggoda: nasi, oseng-oseng, tahu, telur, dan bakwan. Bandung Mawardi lekas makan, tak mengambil sambal. Ia takut perut bermasalah. Di televisi tertempel di dinding, Egha bersenandung sedih: “Sumpah dan Cinta Matiku”. Dulunya, lagu itu milik Nidji. Malam yang lara. Bandung Mawardi dihajar sentimental sambil menyembunyikan tangisan: “Selama nafasku berhembus, hanya kamu di doaku.” Ia masih ingin memberi diri untuk yang tercinta saat dunia membencinya. Ia mau bersumpah untuk sisa-sisa napas yang mungkin dapat menembus segala kehancuran selama di dunia. Lagu asmara picisan. Bandung Mawardi sedang makan nasib setelah mengetahui piring sudah kosong. Kopi tetap absen. Derita yang bertambah panjang. Ia enggan bersumpah kopi. 

Tuhan, kopi sedang dolan atau minggat ke Planet Yupiter? Teman-teman sengaja membiarkan dingin tanpa lawan (kopi). Terkutuklah mereka yang menjanjikan kopi tapi malam itu tiada meski lagu-lagu Egha sudah rampung. Teman-teman bergantian membaca puisi dengan mikrofon. Namun, semua itu tidak bisa menggantikan kopi. Lumrah, Bandung Mawardi merana. Kopi masih kemustahilan.

Pengganti kopi yang panas adalah pidato Yuditeha. Seumur hidup, Bandung Mawardi telat menyadari “kemarahan” Yuditeha. Lembaran-lembaran kertas ramai kata itu dibacakan sambil berdiri. Tubuh yang sakit terlupakan oleh getaran omongannya dan wajah yang garang. Ia memberi kutukan-kutukan dalam sastra. Akibatnya, Bandung Mawardi sejenak lupa kopi dan membuka mata sulit berkedip. Malam itu malam jahanam.

Yuditeha memberi tuduhan-tuduhan dan sangkalan-sangkalan. Ia sengaja marah dan menuntut jawaban. Mulut yang memasalahkan desentralisasi sastra. Mikrofon di depan mulutnya bisa pecah jika ia membiarkan kata-kata terus membara. Di hadapanku, lelaki itu tidak sakit. Ia ingin mengusir dingin dari gunung. Tangguh! Bandung Mawardi lekas ikut berpusing tapi memaksa tabah mengetahui sastra di Indonesia. Sebenarnya, ia sudah takut dan malu di hadapan sastra Indonesia. Ia telah terpencil dan ingin meratap di sungai mengering saja.

Di hadapannya, Yuditeha justru membawa api-api sastra. Di Indonesia, sastra masih memudahkan sengketa dan omelan-omelan sejuta kata. Malam tanpa kopi tapi kata-kata diucapkan di muka mikrofon sedikit memberi pemanas Jumat malam.

Tibalah lelaki membawa termos dan gelas plastik. Pengganti yang harus dinikmati. Teh. Lelaki itu mempersembahkan teh panas. Bandung Mawardi lekas mengambil, memandangi, dan minum teh. Yang membuatnya masih mampu memberi kata-kata mengenai fiksi di Indonesia, dari masa ke masa. Ia memberi cuilan-cuilan, sejak awal abad XX sampai sekarang. Novel-novel yang dibacanya dijadikan bekal membicarakan pengarang, tema, masa, penerbit, birokrasi, dan lain-lain. Ia tidak cukup fasih, kalah pamor dari pidato Yuditeha. Bandung Mawardi terbukti lembek dan membodohkan diri dalam sastra.

Menit-menit berlalu, di hadapannya tetap tidak ada suguhan kopi. Teh mau habis.  Ia masih meladeni ocehan Panji S dan Andri S. Omongan malah kebablasan ke sastra (dan) anak. Berlanjut lagi ke politik-penerbitan dan (industri) sastra dibayangi keraguan. Malam yang malah kembali dingin tapi berbeda dengan senandung Egha: “Dinginya angin malam ini… “ Bandung Mawardi jadi insaf bahwa tak mungkin “mengubah buih menjadi sastra”. Yang terjadi adalah sastra yang kedinginan. Lelaki yang mustahil menggapai bintang-bintang di langit sastra atau menyapa di puncak gunung sastra.

Malam itu Bandung Mawardi merasa bakal ambruk. Ia tidak bisa memberikan tubuhnya kepada gunung yang dingin. Pulang. Ia ingin pulang setelah menyadari jebakan masuk angin.

Ia meninggalkan gunung. Ia pamit dari sastra. Sampai di rumah, hari telah berganti. Tidur di kasur, ia merasa masuk (dalam) angin, bukan masuk (dalam) sastra. Lelaki yang terkapar: menyerah dan kalah. Malam itu tanpa kopi. Malam yang jahanam. Malam yang memberinya mimpi buruk agar segera terjaga sebelum terdengar azan subuh. I Kabut

Ragam

DI BAWAH JAM DINDING

Perempuan berkerudung merah di serambi masjid. Baju pun merah. Sosok yang indah. Aku melihatnya tanpa terpaan purnama. Lampu di situ temaram. Ia tetap merah, yang menyalakan malam.

Aku menyapanya sebelum raga masuk ke masjid. Kedatangan untuk ibadah dan obrolan buku.

Yang mengejutkan: buku dan pertanyaan. Pada saat masuk pintu gerbang dan berurusan pemeriksaan barang, petugas tampak curiga dan bingung. Aku membawa kantong plastik warna putih berukuran besar. Petugas mengangkatnya berat. Tangan membuka dan mulut bertanya: “untuk apa?” Ia bingung menemukan penjelasan buku dan masjid. Aku menyatakan bakal menghadiri obrolan buku di ruang perpustakaan. Masjid itu memang menyediakan perpustakaan: di ketinggian dan kecil. Petugas masih bingung saat aku menerangkan buku yang berat akan dibawa ke perpustakaan.

Yang kubawa: Sam Kok. Buku berukuran besar dan tebal, 5 jilid. Tanganku saat membawanya merasakan kesakitan. Kedatanganku membawa Sam Kok, yang nantinya diserahkan kepada pengarang terkenal. Padahal, malam itu obrolan buku bukan mengenai Sam Kok tapi Indonesia. Sekian langkah meninggalkan petugas pemeriksaan barang, aku tersenyum agak jengkel. Dugaanku: buku mau ditahan. Pikiran buruk terbuang setelah melihat “perempuan merah.”

Tas dan lima jilid Sam Kok naik ke perpustakaan. Aku menaruhnya di karpet, meninggalkan tanpa keraguan. Urusanku menyambut azan. Dari rumah, aku sudah berniat ingin shalat isya berjamaah di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Di atas karpet tebal, aku berhasil menunaikan ibadah sambil mata jelalatan.

Kembali ke perpustakaan yang tinggi. Duduk sejenak, menghampiri sosok yang berasal dari jauh: Liston P Siregar. Aku dikenalkan oleh Sanie B Kuncoro. Nama sudah aku ketahui sejak lama, sebelum bertemu dan salaman. Bergeser ke karpet kubu pria, kami bercakap tentang pers, politik, indonesianis, surat, dan lain-lain. Percakapan yang hangat, melampaui kehangatan teh.

Percakapan yang diselingi salaman dan sapaan dengan teman-teman yang berdatangan. Aku merasa akrab saat percakapan. Liston yang supel dan bergairah saat omong. Ia sempat mendakwa nasibku: “Istrimu suka marah?” Aku menjawab: “Marah besar”. Pertanyaan dan jawaban muncul setelah aku bercerita mengoleksi ribuan majalah lama: mempelajari dan membuat kliping.

Ruangan segera penuh. Namun, mataku mungkin salah melihat orang-orang yang duduk di karpet. Aku melihat beberapa orang berseragam petugas keamanan. Beberapa lagi mengenakan seragam yang mengartikan bekerja di masjid. Mengapa mereka ikut duduk di karpet? Aku belum mau melanjutkan pertanyaan-pertanyaan.

Acara sudah dimulai saat aku harus melawan kantuk. Malam makin terlihat meski lampu-lampu menyala. Kejutan tampak di depanku. Lelaki di bawah jam dinding. Ia berada di situ untuk omong. Kata-kata yang terucap jelas dan keras. Ia membawakan diri yang luwes dan cakap dalam menjelaskan buku berjudul Indonesia Kami (2023).

Ucapan-ucapan tanpa mikrofon. Ia sengaja tak mau menggunakan mikrofon. Benda yang telantar di meja. Mikrofon bersama piring dan buah-buahan. Di kepalaku, muncul sederet kata buatan Afrizal Malna: “yang berdiam dalam mikrofon”. Judul puisi dari masa 1980-an. Liston Siregar malah seolah membuat kalimat: “yang berpisah dari mikrofon”. Telingaku menikmati suara Liston. Keberuntungan ketimbang suaranya masuk mikrofon.

Yang teringat, ia omong Indonesia Kami, mengajak orang-orang berpikir “milik” atau “punya”. Deretan argumentasi disampaikan, yang membuat sangkaan orang-orang bisa meleset. Yang mengunci: “kami”. Pada suatu masa, Nurcholis Madjid mengeluarkan risalah berjudul Indonesia Kita. Tulisan yang berkaitan demokrasi dan nasib Indonesia setelah kejatuhan rezim Orde Baru. Dua judul yang pantas dipikirkan bersamaan tapi menghasilkan makna berbeda. Indonesia Kami memuat 15 tulisan dari serial belajar bersama yang dikelola Liston. Indonesia Kita itu pemikiran dan pernyataan untuk demokratisasi di Indonesia.

Aku jadi salah tingkah memikirkan dua buku. Beberapa tahun yang lalu, aku khatam Indonesia Kita. Malam itu aku belum memegang Indonesia Kami. Buku yang tak sampai tanganku. Buku tak pernah dalam pangkuanku. Aku bukan pembaca tapi sekadar mengetahui judul dan rupa buku di media sosial. Malam yang membuatku minder saat mengetahui para penulis dalam Indonesia Kami hadir dan urun omongan.

Rabu, 6 Maret 2024, hari yang menghangatkan bagiku setelah bertemu teman-teman dan hadir dalam obrolan buku. Pemandu obrolan itu Indah Darmastuti, yang terlihat olehku sebagai “perempuan merah”. Yang memberi penjelasan dan petunjuk dalam penulisan reportase: Liston. Ia pun berperan sebagai editor untuk pernerbitan Indonsia Kami. Belajar bersama dan buku yang mewujud atas sokomgam besar “mysaniefoundation”. Penanggap dalam obrolan buku: Bagus Sigit Setiawan. Di masjid, ia menjadi sosok penting dalam pembuat kebijakan-kebijakan bagi jamaah. Malam itu ikut cuap-cuap reportase meski condong dalam penjelasan berlatar Islam.

Aku tidak betah bersila di karpet. Akhirnya, ragaku bergeser di kursi, yang semula digunakan panitia dalam meladeni pengunjung saat membutuhkan teh dan beragam rebusan: ketela, singkong, jagung, dan kacang. Duduk di situ, aku melihat tiga nampan sudah habis, tersisa satu. Pengunjung tampak menikmati minuman dan makanan sederhana. Malam itu aku ingin kopi tapi tiada. Dugaanku: panitia sengaja tak memberi kopi agar malam tidak pahit.

Detik-detik di jam dinding berputar. Di bawah, Liston menggerakkan kata-kata yang mengarahkan orang-orang serius memikirkan reportase. Sekian kata terpenting: jujur, faktual, dan benar. Dulu, Liston pernah bekerja di majalah Tempo. Pergi di negara asing, ia masih berurusan jurnalistik. Di ruang perpustakaan, ia berulang mengatakan bahwa reportase bukan cuma dalam jurnalistik. Reportase itu keseharian dan bermunculan di media sosial.

Duduk sambil melawan kantuk, aku mendengar dua pemuda bertanya. Yang satu memasalahkan bahasa dan peran editor dalam Indonesia Kami. Liston memberi jawaban yang mengena: tulisan itu karakter. Editor bekerja tapi tanpa kebablasan. Pemuda yang satu menyebut nama-nama besar dalam kesusastraan dan pers di dunia. Liston menanggapinya dengan menyebut nama-nama yang berbeda. Aku mengenali nama-nama dan beberapa buku yang disebutkan. Di obrolan buku, aku merasa tidak terpencil. Aku agak mengerti reportase.

Selain urusan buku, aku terkejut melihat kerudung. Perempuan berdiri di belakang sedang memotret. Aku melihatnya sejenak. Sosok yang aku mengenalinya, lama tidak bertemu. Kami berpandangan dan tersenyum. Pertemuan tanpa janjian. Aku mengulurkan tangan: bersalaman.

Mataku melihat penampilannya yang berbeda: berkerudung. Ia bercerita: kerudung itu baru, dibeli di depan masjid seharga 30 ribu rupiah. Petugas memintanya mengenakan kerudung jika masuk ke masjid. Aku mulai melihat lagi teman-teman yang kesehariannya tanpa kerudung. Malam itu mereka duduk bersama mengenakan kerudung yang kadang jatuh atau minta selalu dirapikan. Mereka tidak sedang membuat gerakan “kerudung kami”. Mereka hadir untuk Indonesia Kami.

Jam dinding di atas Liston sudah mengabarkan 10 malam. Aku ingin segera pulang. Tubuhku harus segera tidur, sebelum dini hari menonton Real Madrid. Di pinggir jalan depan masjid, sebelum aku membonceng Ahmad untuk pulang ke rumah, seorang lelaki datang menyalamiku. Salaman tak biasa. Aku mengenalinya, berdoa untuknya yang berbuat baik saat masjid perlahan sepi.

Di jalan, aku dan Ahmad melanjutkan obrolan bertema pers dan sastra, sambungan dari obrolan saat berangkat ke masjid. Obrolan di jalan, tidak jauh berbeda dengan obrolan di perpustakaan yang tinggi.[] Kabut

Ragam

Puisi, Tepuk Tangan, Mesin

Senja berlalu tanpa sempat melihat perubahan wajah langit. Malam itu datang saat jumlah lampu menyala makin bertambah. Ruangan-ruangan yang terang, yang menandakan gelaran berjudul malam.

Di atas sepeda motor, aku dan Ahmad meningalkan masjid megah di Solo. Jalanan cukup ramai. Di pinggir jalan, ratusan warung makan menantikan kedatangan kaum lapar. Kami tidak mampir, tak ada kewajiban makan. Malam dan makan yang membuat kota meriah dan penuh pemujaan selera. Kami bukan berpikiran makanan. Di jalan, obrolan kami bersinggung sejarah, tokoh, dan buku.

Di Mesen, Solo, kami berhenti di suatu tempat yang memiliki papan penuh logo. Di situ, logo pemerintah dan logo-logo mengartikan usaha-usaha besar di Indonesia. Aku berada di tempat yang diresmikan dengan logo-logo. Aku belum sempat memikirkannya, tidak ada keinginan memotret untuk suatu hari membuat tulisan mengenai pemerintah dan logo. Malam itu aku datang bukan untuk pembicaraan logo tapi puisi.

Kamis, 7 Desember 2023, hari untuk puisi. Kedatanganku dengan buku puisi berjudul saut kecil bicara pada tuhan (2003). Beberapa hari lalu, buku itu dikhatamkan. Di tempat dengan lampu-lampu remang, aku duduk bersama tas berisi buku puisi dan kaki tanpa sandal atau sepatu. Aku menikmati malam dengan cekeran. Kaki yang lama terbiasa bersandal jepit merasakan sedikit sakit saat berjalan di atas kerikil-kerikil. Kaki yang manja, tibas saatnya bertelanjang untuk kembali mengenali tanah, tidak selalu lantai. Telapak kaki itu bertemu tanah dan rumput.

Obrolan sebentar bersama teman-teman: dari tema seni (tradisi) sampai sekolah. Salaman dan percakapan menandakan kami tidak ingin malam membisu atau sepi. Di atas meja, asbak digunakan teman-teman suka merokok. Mataku memandingi asap yang puitis. Suguhan kopi cukup nikmat meski tidak dilengkapi gorengan. Aku minum kopi dan bercakap sambil melihat kesibukan orang-orang mau mengadakan diskusi atau obrolan sastra.

Yang dinantikan datang: Saut Situmorang (Jogjakarta). Kedatangan saat malam bertambah malam. Lelaki gendut berambut panjang itu datang bersema Idrian Koto, bos JBS yang menerbitkan (ulang) saut kecil bicara pada tuhan (2023). Setahuku, dulu buku itu diterbitkan oleh Bentang. Aku membaca ketika masih kuliah, membuatku berani mengundang Saut Situmorang ke kampus (UMS) untuk diskusi sastra. Buku yang pernah ikut memberi pengaruh dalam pengenalan puisi-puisi abad XXI.

Pada malam yang  berasap oleh rokok-rokok beragam merek, aku mulai kembali ke puisi-puisi pernah terbaca, sekian tahun lalu. Kursi-kursi sudah diduduki beberapa orang. Empat kursi di depan masih kosong. Aku melihat belum ada tanda-tanda acara bakal dimulai. Angka 8 sudah terlewati. Malam yang bagi orang-orang belum perlu tergesa. Namun, aku memberanikan diri duduk di kursi tanpa ada panggilan dari panitia. Aku mengajak Indra Agusta untuk turut duduk di sampingku agar orang-orang mengetahui dikusi dimulai.

Pembaca acara memegang mikrofon, mengeluarkan kata-kata berkaitan diskusi dalam seri Tilikan. Kerja komunitas seni yang mengajak orang-orang bertemu dan bicara. Aku belum pernah ikut seri Tilikan. Malam itu bagiku kehormatan bisa hadir bersama mereka yang masih terus menggerakkan seni di Solo.

Di samping, perempuan berdiri membaca puisi. Ia terbiasa membaca puisi di panggung dan lomba. Di hadapan orang-orang, ia membaca puisi gubahan Saut Situmorang dengan apik. Ia diganjar tepuk tangan dan pemotretan.

Beri Hanna berperan menjadi moderator. Di depan, Saut Situmorang pun sudah duduk. Kami tidak mengetahui situasi obrolan bakal seru atau sendu. Meja di depan kami agak penuh. Yang terlihat beberapa botol minuman bermineral. Ada tiga potong roti. Anggur di piring kecil. Yang menakjubkan ada botol-botol kecil berisi air bening. Aku yakin itu minuman istimewa. Di meja, ada juga beberapa buku Saut Situmorang yang menanti pembeli.

Indra Agusta mulai memberi kata-kata. Pembicaraan yang berat. Puisi-puisi Saut Siumorang berkaitan dengan hal-hal yang mengacu iman, adat, pengembaraan, dan lain-lain. Puisi-puisi yang berani dalam urusan bahasa. Hal terpenting adalah penulisan “Mu”. Penggunaan huruf kapital itu membuat pembaca sulit dalam kepastian dalam usaha mengerti manusia dan Tuhan. Saut Situmorang justru menulis “tuhan” menggunakan huruf kecil, bukan “T”.

Cara membaca puisi dan menafsirkan puisi belum tersuguhkan. Indra Agusta sekadar mengingatkan usaha pembaca yang jarang mudah dalam memasuki puisi. Ia menemukan kemampuan Saut Situmorang dalam penggunaan beragam (sumber) bahasa untuk turut masuk dalam puisi. Jadi, yang dinikmati pembaca adalah puisi-puisi berbahasa Indonesia tapi judul kadang berbahasa asing. Di puisi, kata atau istilah asing pun turut hadir selain berasal dari bahasa daerah.

Aku berharapan Indra Agusta membuat resensi untuk buku Saut Sittumorang untuk dikirimkan ke Jawa Pos. Dugaanku, ia mahir membaca buku, tak mau hanya rampung saja. Sosok itu memiliki kekuatan meresensi, yang tidak membiarkan buku tertutup dan berdiam di rak.

Di depan, aku ikut omong masalah buku Saut Situmorang. Aku cuma membicarakan masalah matahari dan bulan. Puluhan puisi melulu mencantumkan matahari dan bulan. Bintang kadang ikut tapi tidak dijanjikan selalu hadir. Aku belum kepikiran masalah “tuhan” atau “Tuhan”. Yang terbaca selama beberapa hari adalah kebiasaan Saut Situmorang menulis matahari dan bulan. Aku menduga ia (tidak) menyadari bahwa matahari dan bulan terlalu “menentukan” puisi-puisinya, digubah sejak masa 1980-an.

Selanjutnya, Saut Situmorang membicarakan diri, puisi, situasi sastra Indonesia. Ia berbagi biografi. Puisi-puisi itu berkaitan biografi. Beberapa omongannya mengejutkan meski beberapa hal aku sudah mendengarnya sejak lama. Dulu, aku membaca esai-esainya yang keras. Malam itu Saut Situmorang tampil agak kalem tapi tidak mengurangi kesombongannya. 

Malam yang diramaikan tepuk tangan. Pemicunya adalah Beri Hanna. Aku sering bingung dengan kebiasaan tepuk tangan dalam diskusi. Malam itu keseringan tepuk tangan. Berri Hanna yang menjadi moderator sengaja mementingkan tepuk tangan. Aku menunduk malu. Tepuk tangan mungkin mengusir sepi dan kemalasan. Aku tidak mau ikut tepuk tangan.

Aku telat mengetahui puisi-puisi gubahan Saut Situmorang itu akrab alam. Puisi-puisi yang religius ketimbang mengumbar lelucon atau “makian”. Di mataku, Saut Situmorang itu “pendakwah” yang menyamar. Ia fasih menyajikan kebijaksanaan-kebijaksaan melalui puisi. Hal berkebalikan dari kebiasannya membuat onar dan perdebatan. Malam itu aku menghormati Saut Situmorang yang sanggup menguak lakon bocah dan religiositas.

Yang membuatku sebal malam itu bukan tiga orang di sampingku yang menikmati air bening dalam botol-botol kecil. Aku terganggu dengan suara mesin air, yang terus bersuara saat kami bergantian omong. Mesin-mesin air berada di sebelah Beri Hanna. Kami bicara puisi bersaing dengan mesin air. Saut Situmorang tidak merasa terganggu mesin air tapi omong tentang mesin sebagai penyair atau penyair sebagai mesin. Aku tidak mengerti yang diomongkannya.

Obrolan perlahan bingung arah. Tepuk tangan tetap terdengar. Tubuhku mulai bermasalah. Aku sulit bertahan. Aku ingin pulang. Malam bertambah malam. Puisi selesai dulu. Aku ingin tidur.

Di akhir, aku ikut menjelaskan masalah sastra dan kelembangaan pendidikan di Indonesia, sejak masa kolonial sampai Orde Baru. Omongan sudah meninggalkan buku berjudul saut kecil bicara pada tuhan (2023). Aku tidak sanggup lagi bersama orang-orang merayakan malam dengan kata, kopi, buku, rokok, dan lain-lain.

Aku sengaja berpamitan dan minta maaf tidak bisa terus duduk di situ. Aku pulang setelah menganggap selesai omong tentang (buku) puisi. Malam itu aku mendapat kebaikan dan kejutan. Seorang teman memberikan bingkisan dalam kresek hitam. Ada teman memberikan buku puisi terbaru Afrizal Malna. Aku pulang tetap tanpa alas kaki tapi membawa hadiah-hadiah terindah.

Di rumah, aku membuka kresek. Isinya sarung yang berwarna kalem. Yang memberi hadiah mungkin menginginkan diriku rajin beribadah. Sarung bisa digunakan dalam beragam acara, tidak cuma untuk ibadah. Ia mungkin berpesan bahwa aku jarang berpenampilan menarik saat menghadiri acara-acara. Aku mengerti sarung itu tanda pertemanan dan “peringatan”.

Pada saat berbaring, aku mulai membuka halaman-halaman buku Afrizal Malna. Pemberian yang menjawab keinginanku beberapa hari lalu. Aku sempat mengajak teman-teman yang sering dolan ke rumah untuk memesan buku baru terbitan JBS. Buku baru itu malah datang duluan.

Aku sudah berpisah dari acara sastra di Solo. Di atas kasur, aku menjadi cengeng. Malam yang lelah tapi mengesankan. Aku tidak lagi ingat puisi-puisi Saut Situmorang. Kecengenganku untuk kebaikan dua teman yang memberi sarung dan buku. Sebelum mata terpejam, aku mengganti masalah matahari dan bulan dengan sarung dan buku. Malam itu airmata. [] Kabut

Ragam

Di Bumi Seribu Masalah

Siang belum tergusur, masih ada beberapa jam. Aku mencuci pakaian dengan jadwal berubah: memilih siang ketimbang sore. Siang yang mau berakhir inginku semua pekerjaan rampung. Mencuci pakaian dilanjutkan mencuci piring dan gelas. Akhirnya, semua selesai dengan acara penutup: menyapu. Yang membingungkan: mandi di akhir siang. Mandi yang rasanya sia-sia jika keringat mudah mengalir setelah handuk dijemur. Tubuh yang telah mandi tetap berada dalam siang yang berkeringat. Sejenak menaruh tubuhku di depan kipas angin.

Pada menit-menit menjelang sore, aku dan Ahmad ikut keramaian di jalan. Yang ingin kami datangi adalah masjid. Sore bukan untuk hiburan tapi kesadaran menuju tempat ibadah.

Kami berada di jalan menjelang azan terdengar. Beberapa menit yang kami rasakan dengan percakapan tentang sejarah Indonesia. Yang kami sebut adalah nama-nama asing: Kahin, Anderson, Holt, Feith, Liddle, dan lain-lain. Mereka menulis sejarah Indonesia. Kami yang membaca melalui buku-buku edisi terjemahan bahasa Indonesia. Perjalanan ke tempat ibadah di Solo tapi ketagihan omongan sejarah.

Kamis, 7 Desember 2023, bukan hari bersejarah dalam hidupku. Aku mengajak teman untuk berada di Masjid Sheikh Zayed (Solo). Di sana, ada diskusi yang aku ketahui dari pengumuman beredar di media sosial, dua hari sebelumnya. Kedatangan ke masjid mula-mula berhasil ikut shalat asar berjamaah, telat satu rekaat. Pengumuman diskusi terdengar dari mikrofon masjid. Diskusi yang mungkin penting setelah ibadah. Sore yang indah di masjid yang berlampu tidak terlalu terang, tidak seterang matahari yang berada di luar.

Kami menuju menara: naik tangga. Yang aku inginkan di pinggiran tangga adalah buku-buku. Di atas, perpustakaan. Seharusnya, sejak di bawah ada buku-buku atau gambar-gambar mengisahkan buku. Jadi, saat kaki naik tangga ada doa-doa perbukuan. Mata yang melihat buku-buku, mata yang akan melupakan lelah. Yang naik tangga akan berimajinasi naik ke menara buku.

Pintu itu terbuka. Perpustakaan terbuka untuk umum. Aku segera masuk ingin berada di depan rak-rak. Mataku tak sabar melihat buku-buku, yang dimulai dengan punggung-punggung buku. Beberapa detak saja kenikmatan di depan rak buku. Pejabat di masjid itu memanggilku. Ia memintaku masuk ke ruangan berkaca. Mengikuti perintah dan petunjuk meski gagal bersilahturahmi ke buku-buku.

Salaman dengan Yessita dan Afthonul Afif. Di Solo, aku masih sering bertemu dan bersama Yessita. Salaman yang berbeda dengan Afif. Lelaki ganteng dari kudus. Aku mengakuinya sebagai “manusia kudus” atau “manusia suci”. Artinya, salaman itu tidak biasa setelah sepuluhan tahun tak bertemu dan tiada percakapan. Dulu, kami pernah dekat dengan predikat penulis di Koran Tempo dan Kompas. Masa lalu yang memberi arah berbeda untuk ditempuhi. Pada suatu masa, ia menjadi intelektual penting di Indonesia. Aku hanya bergembira menjadi bapak rumah tangga.

Obrolan-obrolan cepat memberat. Sekali lagi, obrolan kami berkaitan sejarah di Jawa (Nusantara). Kami cuma bisa omong sepenggal-sepenggal tentang sejarah di Jawa, kolonialisme, Islam, sekolah, penerbitan, pesantren, kitab suci, pabrik gula, kebatinan, dan lain-lain. Di atas meja, aku memperoleh pisang dan anggur. Di menara, sejarah ingin dijatuhkan dari “ketinggian”. Obrolan yang tidak memungkinkan debat.

Diskusi bertema “Sehat Mental Ala Jawa” dimulai dengan kehadiran 20-an orang. Jumlah yang sedikit tapi membuat ruangan longgar. Ramai dan sesak mungkin tidak enak bagi mataku yang mulai mengantuk. Di depan, Yessita memberi awalan. Afif memberi keterangan panjang mengenai kesehatan mental.

Dua sosok yang menggunakan waktu untuk kata-kata. Yang terlihat: Afif mengenakan jam tangan di sebelah kiri dan Yessita mengenakan jam tangan di sebelah kanan. Di atas, aku tidak melihat jam dinding. Perpustakaan tidak memerlukan jam. Para pengunjung dianggap mudah mengerti tentang jam buka dan jam tutup. Mereka tidak menuntut adanya jam dinding.

Aku mendengarkan dengan berdebar. Banyak masalah-masalah ruwet masa sekarang, yang mengakibatkan depresi dan bunuh diri. Orang-orang yang meminta perhatian. Kegagalan mendapat pujian menimbulkan rasa bersalah. Akhirnya, pamrih-pamrih minta dikasihani malah diumumkan secara terbuka.

Aku menyimak omongan-omongan Afif sambil mengutuki diri. Diskusi yang bakal berisi masalah-masalah dan salah-salah. Contoh-contoh yang diajukan Afif menunjukkan manusia masa sekarang sulit “waras”. Mereka bernafsu bahagia tapi gagal. Mereka ketagihan dolan-dolan tanpa kepikiran jawaban atas masalah-masalah hidup. Yang merepotkan adalah pengalaman bahagia, bukan pengakuan yang manipulatif atau bermutu rendahan.

Mataku melihat dua rak buku yang menjadi batas panggung bagi moderator dan pembicara. Di situ, ada tempelan kertas dengan tulisan: “harap tenang”. Mengapa kertas itu tidak dilepas? Jika tidak dilepas mendingan kata-kata diganti menjadi “harap bahagia”. Aku malah tergoda “harap makan”. Di depanku, ada suguhan berupa panganan rebusan: jagung, ketela, kacang, singkong, dan lain-lain. Aku juga menikmati segelas teh hangat, tak lupa dua iris jadah.

Afif yang bicara lama mulai menyebut nama-nama dan masa. Aku lekas teringat buku-buku kesehatan mental garapan Zakiah Daradjat masa 1980-an. Dulu, masalah itu sudah melanda Indonesia tapi tidak segawat masa sekarang. Afif memilih menggunakan referensi-referensi asing dan mutakhir. Aku sedikit memahaminya. Namun, yang berbobot adalah pengutipan dari Ki Ageng Suryomentara,, yang lahir dan tumbuh di Jawa.

Afif telah menjelajah jauh dalam persoalan bahagia dan sehat mental. Ia menulis banyak buku. Yang terkeren adalah buku-buku mengenai Ki Ageng Suryomentaram. Di Indonesia, ia adalah pakar. Aku mengenalnya setelah membaca buku-buku kajian Ki Ageng Suryomentaram, terutama Psikologi Jawa yang ditulis Darmanto Jatman.

Sore itu kami masih berada di bumi seribu masalah. Kami tidak bisa memesan bumi yang berbeda. Kami pun menantikan langit menurunkan jawaban-jawaban tapi bumi sedang gersang untuk menerimanya. 

Sore itu seharusnya dihadirkan satu pembicara lagi yang bisa omong tentang sastra atau film. Tentu berkaitan erat dengan kesehatan mental. Konon, penerbitan buku-buku dan film-film terbaru ada urusannya dengan kesehatan mental. Buku-buku berisi kutipan-kutipan pendek dan bergaya bijak sedang laris. Buku-buku filsafat klasik dijadikan pegangan bagi yang memburu bahagia.

Yang membuatku menantikan kehadiran orang omong sastra adalah terbitnya novel-novel terjemahan yang menceritakan masalah-masalah mental abad XXI. Aku ingat novel berjudul Vegetarian gubahan Han Kang. Aku pun pernah khatam novel Perpustakaan Malam (Matt Haig). Ada beberapa novel lagi yang membuatku sebagai pembaca mudah murung. Dunia sedang amburadul. Para tokoh dikutuk seribu masalah. Aku yang membaca juga memiliki salah-salah untuk memasuki cerita bergelimang masalah.

Di perpustakaan, aku mau mencari novel-novel yang membahagiakan agar diskusi tidak memberat. Namun, keinginan itu gagal diwujudkan. Tubuhku lungkrah dan mengantuk. Beruntung ada peserta-peserta mengajukan beragam pertanyaan yang mampu membuatku tidak menuruti nafsu tidur. Ikut berpikir lagi. Afin menjadi juru jawab yang sanggup menjelaskan mirip kiai tapi ia menolak disebut kiai.

Acara itu selesai. Di atas kepalaku, berputar novel-novel yang ikut merayakan pedih, depresi, bunuh diri, lara abad XXI. Yang menanggungkan masalah bukan cuma orang-orang Indonesia tapi sedunia. Aku tidak mengira bakal datang kiamat. Inginku menata novel-novel yang turtu “bertanggung jawab” dalam perayaan masalah-masalah yang menyedihkan, traumatik, dan menghancurkan. Aku ingin menebus salah-salah dengan khatam novel-novel. Persembahan fiksi yang melampaui kenyataan-kenyataan yang ditanggungkan. Pembaca novel-novel mutakhir bisa mudah menjadi yang bersalah atau menanggungkan salah di atas salah untuk hidupnya dan pergaulannya dengan orang lain.

Di jelang akhir diskusi, Yessita berulang mengucap terima kasih dan minta maaf. Pengulangan itu justru membuat aku sadar tema diskusi. Jika masalah terima kasih dan minta maaf diajukan sejak awal pasti diskusi bakal seru. Jadi, Yessita berperan ganda sebagai moderator dan pembicara. Dugaanku, ia mampu menjelaskan dua masalah itu berkaitan kesehatan mental. Aku berusaha mengerti terima kasih dan minta maaf yang menentukan kewarasan, kebahagiaan, dan kebersemaan, selain mengurangi siksa kesalahan dan kutukan hidup.

Rampung diskusi, aku ingin segera turun menghindari bayang-bayang buruk mengacu kesehatan mental. Keinginan yang gagal setelah ada lelaki yang menyapa. Kami mula-mula dalam tanya-jawab pendek. Akhirnya, kebablasan serius bercakap tema pendidikan. Tema yang agak menyelamatkanku dari sisa-sia diskusi.

Percakapan itu tetap mengingatkan novel, tidak sekadar kebijakan-kebijakan pemerintah dan usaha-usaha komunitas belajar. Aku malah tergoda lagi omong sejarah, dari masa kolonial sampai Orde Baru. Aku menambahi dengan perkamusan pendidikan beragam bahasa. 

Azan magrib terdengar, kami memutuskan turun dari perpustakaan. Kami ingin beribadah meski mengetahui telat tiga rekaat. Mikrofon digunakan imam sudah terdengar zikir dan doa setelah shalat. [] Kabut

Ragam

Khatam Buku dan Makanan Tak Habis

Lama, aku tidak membeli Kompas edisi Minggu. Pagi tapi terasa “siang”, aku begerak menuju perempatan jalan menuju arah Solo. Minggu, 19 November 2023, perutku sudah berisi nasi liwet saat sarapan bersama di Mushola Al Mubarokah. Sejam berlalu, aku mengikuti jalan-jalan warga kampung. Berjalan sekian menit, aku ikut makan bakso.

Yang terjadi: perutku sudah terisi dua kali. Yang belum: bacaan. Aku ingin “sarapan” koran dengan mengeluarkan duit tak sedikit. Sekarang, koran-koran mahal. Orang boleh memilih: semangkuk mi ayam atau Kompas. Pilihan lain: semangkuk nasi-soto atau Jawa Pos.

Hari itu aku berjanji tidak pelit. Aku harus beli koran. Bapak dan ibu pedagang menata koran-koran mau dibawa pulang. Pukul 8 pagi. Aku memilih koran, membaca beberapa koran. Mereka pernah bilang agar aku sering datang ke situ. Baca koran dan obrolan, tidak harus membeli koran.

Pagi rasa “siang” aku membeli dua Kompas: Sabtu dan Minggu. Masalah desa ada dalam edisi Sabtu. Cerita pendek, film, dan musik dalam edisi Minggu. Dua koran dalam tas bersamaku menuju rumah Sanie B Kuncoro di Fajar Indah.

Sepi. Sepeda motor diparkir, pintu dibuka sendiri. Sanie keluar menyambut dengan senyum. Aku salah waktu. Acara yang diselenggarakan Pawon dimulai pukul 09.30 WIB. Sejam aku datang lebih awal. Tertawa, tanda aku malu. Di situ, terlihat ada Artie. Dugaanku, kedatanganku mengganggu mereka yang sedang menikmati Minggu segera menjadi siang. Benar. Dua perempuan itu belum mandi dan berdandan.

Duduk di kursi: memandangi beragam tanaman diselingi membaca Kompas. Hari itu kenikmatan bersama kertas. Pengalaman yang berbeda ketimbang bergawai.

Aku mengajukan diri untuk mengurusi rumah. Sanie tidak membolehkan. Sanie mendorong kursi-kursi, membersihkan lantai, dan tikar-tikar digelar. Pengarang kondang tidak sedang bermain teater. Ia bertanggung jawab agar rumah tampak bersih dan rapi, yang nantinya menghormati kedatangan teman-teman. Aku membaca koran dan kadang-kadang melihat Sanie yang mengurusi rumah. Lelaki yang tidak punya malu.

Situasi agak berubah. Rampung mandi dan berdandan, Artie ikut duduk di teras. Kami bercakap macam-macam: dari bacaan anak sampai surat. Dua orang terlena nostalgia. Percakapan memang sastra tapi bergerak ke segala arah. Mengenang masa lalu isinya rindu-dendam. Di ujung percakapan pendek, aku usul agar diadakan seri belajar menulis surat mumpung orang-orang keranjingan bergawai.

Teman-teman mulai berdatangan. Perjumpaan dan salaman-salaman diimbuhi basa-basi. Suasana jadi meriah. Rumah itu kebersamaan. Kami duduk di tikar menghadapi sekardus Vit. Di piring dan kardus, mata melihat donat, sosis, serabi, kacang, dan lain-lain. Kami sedang berpesta makanan, sebelum omongan-omongan para pembaca buku.

Jumlah makanan dan buku yang dibicarakan tidak seimbang. Mata lebih mengarah ke makanan ketimbang buku. Namun, perjanjian hari Minggu itu buku. Aku harus menjaga kesadaran agar memikirkan buku, tidak gampang tergoda makanan. Mulutku tetap saja kedatangan serabi, sosis, gembukan, dan kacang. Teman-teman yang berada di situ memang bermufakat buku tapi sengaja berpesta makanan.

Ruangan yang terasa penuh atau sesak. Yudhi Herwibowo mulai memberi pengantar. Pertemuan yang telah direncanakan sejak lama. Terjadilah saat Minggu di rumah Sanie. Temu dan buku.

Buku-buku di atas tikar, di tangan, dan di pangkuan. Yang mengawali ulasan buku: Sanie B Kuncoro. Pengarang itu mengenakan pakaian kotak-kotak dengan warna lembut. Sosok yang anggun sedang menunjukkan novel berjudul Namaku Alam gubahan Leila S Chudori. Ia menerima novel dari pengarangnya. Keistimewaan yang sulit kami alami.

Novel mengandung sejarah, terutama 1965. Sanie mengisahkan isi buku secara runtut. Selingan adalah tafsir dan perbandingan dengan pengalaman. Aku sudah membaca Pulang dan Laut Bercerita. Namaku Alam, belum pernah ada di tanganku. Aku belum membeli atau meminjam untuk membacanya. Jadi, aku menikmati yang disampaikan Sanie. Beruntung kata-kata yang diucapkan tidak terbawa angin. Sanie duduk bersandar kursi sambil tangan menggerakkan kipas. Ia berkata dan mengundang angin agar terhindar dari sumuk.

Giliran berikutnya: Puitri. Ia dalam dandanan santun: muslimah. Sosok yang rajin ikut pengajian-pengajian. Aku menduga ia bakal membicarakan novel religius. Salah. Ia omong cukup tenang dan jelas. Novel berjudul Gemulung di tangan tidak bisa tenang. Jari-jari itu menggerakkan novel mengikuti gejolak kata dan imajinasi. Bagiku, omongan Putiri hari itu lancar, tidak seperti masa lalu. Apa ia sudah menjadi penceramah setelah bertahun-tahun ikut pengajian? Aku beharap ia memang penceramah tapi tak melulu masalah agama.

Novel yang ia baca ditulis oleh pengarang yang terbiasa menggarap cerita untuk film-televisi. Lumrah saja isi novel mendebarkan dan “mengejutkan”. Puitri bisa memberi penilaian mengenai penokohan dan latar. Aku kagum menyaksikan Puitri sebagai pembaca, bukan sekadar sebagai penggubah puisi atau cerita pendek.

Di sampingku, perempuan berpenampilan istimewa. Ia menjadi pengulas ketiga: Yessita. Sejak lama, aku melihat penampilannya mengesankan sadar mode dan bercitarasa muda. Sosok ibu yang suka bersepeda dan menulis cerita itu tampak mengenakan celana panjang dan baju dengan warna selaras. Kalung di leher. Jam tangan itu tetap mengabarkan waktu. Di kepala, topi terlihat dipasang dalam posisi terbalik.

Ia seru menceritakan arwah, sejarah, keluarga, kota, dan lain-lain. Pemicunya adalah novel berjudul Kereta Semar Lembu. Novel yang meraih penghargaan DKJ. Yessita membaca saat masa wabah. Ia sulit menganggap itu novel horor-mengerikan. Yang mengesankan adalah sejarah dan pengalaman kota-kota.

Aku yang di sampingnya merasakan takut. Novel isinya arwah dan kematian. Semestinya, Yessita menceritakan untuk edisi malem Jumat. Ketakutanku agak berkurang bila melihat es teh di depan Yessita. Teman-teman minum Vit tapi Yessita bergengsi: memamerkan es teh. Pemandangan yang menyegarkan.

Urutan selanjutnya: Yudi Agusta. Lelaki berkacamata yang akhir-akhir ini sakit-sakitan. Inginku ia waras-waras saja agar rajin menulis novel dan cerita pendek. Di tangannya, novel bercap DKJ. Setahuku, pengarang novel itu pernah terlibat dalam perdebatan ramai di media sosial, perdebatan tentang tulisan. Yudi tidak menyinggungnya tapi menyampaikan hasil percakapan dengan pengarang mengenai “pinjam-buku” atau “beli-buku”. 

Cerita yang masih penuh kesedihan. Cerita bergerak dari Aceh, Medan, dan Jakarta. Aku merasa “sedih” menikmati sinopsis. Mataku memilih untuk melihat pengulas yang mengenakan kaus warna hitam. Aku membaca kata-kata di kaus sisi depan. Kalimat dikutip dari Rumi: “Wahai Tuhanku, jika kasih-Mu hanya layak bagi yang berhati suci, ke manakah para pendosa mencari perlindungan?” Aku menganggap kutipan sesuai sinopsis novel yang disampaikan Yudi.

Di samping Yudi, ada Ngadiyo. Gilirannya berbagi kesan setelah membaca buku berjudul Mimi Lemon. Buku yang dibeli gara-gara desain atau kemasan apik. Isinya pun apik. Ngadiyo mendapat kesan-kesan bahwa pengarangnya matang dalam menghasilkan cerita-cerita.

Aku belum pernah memegang atau membaca Mimi Lemon. Dulu, yang aku baca berulang kali adalah buku puisi CH. Setahuku, ia adalah penggubah puisi yang perhatiannya tentang anak atau keluarga. Ia ternyata menulis sekian cerita pendek. Pada suatu hari di Jogjakarta, aku pernah bertemu dan bercakap sebentar dengan CH. Yang kami obrolkan adalah sastra dan anak.

Yudhi sebagai pemandu acara akhirnya menjadi pihak yang membicarakan buku. Pilihannya novel berjudul Malam Seribu Jahanam gubahan IP. Yang pernah terbaca olehku Sihir Perempuan. Beberapa tahun lalu, aku membeli Gentayangan tapi belum berhasil khatam. Yudhi mengajak teman-teman masuk ke novel terbaru IP. Bagiku, pengulas terhebat hari itu Yudhi Herwibowo. Ia bermain sinopsis dan penilaian-penilaian.

Omongan bisa disalin menjadi tulisan. Aku tidak tahu, sadarkah Yudhi saat omong menggebu-gebu sebenarnya sedang “menulis” resensi untuk novel. Aku tertarik ingin membacanya. Berharap saja suatu hari menemukan edisi bekas di pasar buku Gladag atau media sosial. Yudhi berhasil membuatku memberi perhatian lebih untuk memuji novel Indonesia.

Jatah terakhir: Indah Darmastuti. Ia duduk di bawah televisi dan kipas angin yang agak berisik. Namun, tangan Indah tetap menggerakkan kipas, yang aku duga diperoleh dari kedatangannya ke hajatan pernikahan. Ia dalam penampilan anggun. Rambut yang rapi itu tampak elok saat terkena angin yang lembut.

Di tangannya, aku melihat novel Jatisaba. Aku membaca edisi awalnya, sebelum hadir di pasar oleh penerbit Grasindo. Dulu, aku sempat  menyinggung novel itu saat acara di Salatiga. Acara diadakan para mahasiswa Semarang. Yang menjadi pembicara: aku dan pengarang Jatisaba. Dulu, kami bercakap biasa. Pada suatu masa, aku tidak menduga si pengarang kuliah di negara jauh dan pemikiran-pemikirannya bergerak jauh. Aku pasti mengaguminya.

Indah tak mau kalah dari Yudhi. Ia serius membicarakan novel. Yang tidak terlupa: omongannya menghasilkan tawa. Teman-teman terhibur oleh masalah keamburadulan demokrasi di desa. Novel terbit beberapa tahun lalu tapi dianggap Indah cocok dibicarakan menjelang 2024. Novel yang patut masuk daftar 100 “terpenting” dalam sastra Indonesia abad XXI.

Tujuh buku dibahas tujuh pembaca itu berakhir. Aneh, semuanya berakhir tanpa diikuti habisnya makanan-makanan di piring dan kardus. Padahal, ada 19 orang di ruangan, termasuk lelaki asal Australia. Teman-teman terlena cerita-cerita. Akibatnya, mereka lupa makan atau berkurang gairahnya untuk makan. Teman-teman sungguh kaum beriman sastra ketimbang kaum beriman makanan. [] Kabut

Ragam

Jawa, Omongan, Keringat

Dini hari tanpa kopi. Hari telah Jumat, 10 November 2023. Mataku menatap lagi tumpukan buku yang bertema Jawa. Buku-buku yang semalam bersamaku, sebelum mata terpejam. Mereka dalam hening, sebelum tanganku menyentuh dan membukanya pelan-pelan. Yang membaca (lagi) tak minum kopi.

Kompor menganggur tanpa panci dan air. Aku gagal membuat kopi. Di lemari, tak menemukan bungkus kopi. Habis. Lupa membeli untuk kebahagiaan dini hari. Segelas air bening dianggap cukup untuk menuju “mata air” Jawa dalam buku-buku.

Pagi itu aku meninggalkan rumah, setelah berhasil membuat pameran jemuran pakaian. Mampir ke rumah tetangga: setor 12 ribu untuk bensin. Tujuanku adalah UNS. Di sana, ada Javanologi. Aku bersama sekardus buku, kresek berisi buku, dan tas besar berisi buku bergerak menuju UNS saat matahari memberi berlimpah sinar dan sumuk.

Di pendopo Javanologi, beberapa orang dalam penampilkan rapi. Meja bundar dan kursi-kursi. Aku bersalaman dengan orang-orang yang aku kenali. Mereka dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Pukul 8 pagi tapi masih sepi. Beberapa orang terus melanjutkan persiapan acara. Berdiri di dekat tiang, aku memandangi pendopo dengan suasana tak Jawa. Segala benda yang berada di pendopo sulit mengisahkan Jawa. Mataku mungkin salah. Pikiranku tentu sedang tak keruan. Pagi itu aku tetap belum minum kopi tapi malah terlibat percakapan-percakapan dengan beberapa orang.

Urusanku adalah menata buku-buku di atas meja. Kedatanganku mula-mula sebagai pedagang buku bekas. Puluhan buku ditaruh di meja. Aku mulai bercakap dengan dua orang mengenai buku, bahasa, sastra, tokoh, sejarah, dan lain-lain. Menit-menit berlalu, tetap belum berhasil minum kopi.

Aku diminta panitia berkumpul di ruangan bersama para pembicara dan moderator. Dugaanku diajak sarapan. Di ruangan kecil, kami disuguhi kardus-kardus. Isi: arem-arem dan botol. Mulutku seperti tak membolehkan arem-arem diam dalam waktu lama. Habislah arem-arem dalam hitungan detik. Minum air bening lagi. Ruangan tanpa kopi.

Dampak mulai terasakan. Omonganku sembarangan di hadapan profesor (Jogjakarta) dan pimpinan lembaga (Semarang). Kami lekas memasuki obrolan mengenai arem-arem, khotbah Jumat, humor, lingusitik, dan lain-lain. Ruangan itu tak cukup menampung ocehan dan tawa. Di hitungan menit, kami segera keluar untuk mulai acara dinamakan seminar.

Akhirnya, aku melihat termos di pendopo. Benarlah termos itu bertuliskan kopi. Gelas lekas terisi kopi. Duduk minum kopi. Acara seminar pun dimulai dengan urutan-urutan lazim. Para peserta sudah tampak duduk tenang dan memberi perhatian. Aku tetap memperhatikan kopi sambil memandangi buku pemberian panitia. Di sampul buku, aku membaca nama: Indah Darmastuti. Buku berjudul Tani Cilik, terbitan pemerintah. Akibatnya, buku tidak diperdagangkan. Buktinya di bagian atas: “Milik Negara”. Segelas kopi dan buku mengenai petani.

Duduk bersama peserta. Posisi kursiku tidak memungkinkan mataku melihat dua profesor dan moderator secara lurus. Meja bundar membuatku salah tingkah. Jadi, posisiku “menyamping”. Kepala harus menengok jika ingin berhadapan dua profesor (Solo dan Jogjakarta), yang bergantian menjelaskan naskah-naskah Jawa.

Hari menjelang siang, aku salah kursi dan bingung memperlakukan meja bundar. Panas mulai terasa. Aku mulai pindah ke belakang. Keputusanku adalah duduk dengan meja yang berisi daganganku. Aku sengaja membawa buku-buku mengenai Jawa. Beberapa buku adalah serat dan babad.

Di situ, aku bercakap dengan lelaki gemuk. Percakapan meninggalkan tema seminar. Yang kami obrolkan adalah sastra dalam jalinan Indonesia dan Amerika. Yang terpenting mengenai penerjemahan. Aku omong sembarangan berbekal bacaan-bacaanku. Hari itu bertambah sumuk gara-gara sering omong dan tertawa. Aku diambilkan segelas kopi. Minum lagi dan memandangi dua profesor memberi jawaban-jawaban tetap berpusat Jawa.

Jeda. Kami bergerak ke masjid di UNS untuk melaksanakan sholat Jumat. Duduk di lantai tanpa dilapisi tikar atau karpet, aku tidur. Mata terpejam saat khotbah. Seingatku, khotbah bukan mengenai Jawa. Masjid yang besar membuatku menjadi lelaki dalam kerumunan orang, lelaki yang sulit membuka mata dan mendengarkan khotbah secara serius. Kalah dengan tidur.

Kembali ke pendopo. Aku mengambil kardus. Konon, kardus itu mengesahkan makan siang. Aku membuka tergesa tapi meragu. Di meja bundar bersama teman-teman, aku memilih omong ketimbang serius dengan makan. Di kardus, ada nasi, sambal, telur, daging ayam, dan lain-lain. Aku sulit menikmatinya. Inginku malah nasi bungkus saja, bukan nasi dalam kardus. Hari itu aku menantikan pidato William Wongso di TIM, Jakarta. Ia bakal mengisahkan dan menjelaskan nasi bungkus. Pada saat makan kehilangan selera, aku mengajak teman-teman dalam obrolan mengenai Jawa. Obrolan singkat saja. Makananku tidak habis. Siang yang membuatku bertambah salah.

Duduk di depan, menghadapi para peserta. Di atas meja, aku menumpuk puluhan buku. Aku bersama moderator dan pembicara berambut gondrong bernama Rendra. Aku dan Rendra tidak bergelar profesor. Jadi, kami boleh omong tidak mutu.

Aku berdiri memegang mikrofon. Siang yang sumuk tapi aku memilih berdiri dan bergerak ketimbang duduk. Omonganku dilengkapi dengan tangan bergantian memegang buku agar tampak oleh para peserta. Petikan novel menjadi pembuka. Novel sudah aku baca tiga kali, terkutip dalam esai-esaiku. Novel itu mengenai Jawa dan Eropa. Aku pilih menjadi pembuka untuk mengetahui nasib naskah-naskah Jawa dalam pamrih kolonialisme dan “pembentukan” Jawa abad XIX dan XX.

Omonganku terus berantakan untuk membuka Jawa silam. Yang aku tampilkan adalah perempuan suka duduk lesehan. Perempuan berasal dari Amerika Serikat betah berada di Radya Pustaka, Kasunanan Surakarta, dan Mangkunegaran. Bertahun-tahun, ia mengurusi naskah-naskah. Risikonya, ia mudah bersin dan batuk. Paru-paru pun kotor. Namun, ia menghasilkan tulisan-tulisan ampuh.

Aku pun memamerkan katalog dan buku-buku berasal dari studi naskah. Buku-buku terbitan pemerintah yang diedarkan ke perpustakaan-perpustakaan. Selama puluhan tahun, buku-buku berasal dari kajian naskah-naskah itu diam dan sepi tanpa peminjam atau pembaca. Aku memperolehnya dari pasar buku bekas. Wajarlah bila naskah-naskah Jawa terbukti tak diminati orang-orang. Urusan yang rumit dan penuh teka teki. Aku menutup ocehan tak bermutu dengan mengutip dari novel gubahan pengarang Jepang. Novel mengenai toko buku bekas dan keimanan pembaca buku.

Di depan, aku merasa sumuk. Tisu-tisu aku gunakan untuk mengelap keringat. Seminar di pendopo tapi sumuk. Siang yang garang. Semula, aku senang mengetahui seminar diselenggarakan di pendopo terbuka, bukan di ruangan tertutup dengan pancaran lampu dan mesin pendingin udara. Sumuk justru diperoleh dan pemandangan yang tak akrab dengan kejawaan. Moderator di samping malam sempat berbisik: mengantuk. Dugaanku, ia mengantuk gara-gara ocehan dan bau keringatku.

Rendra berdiri sambil menunjuk layar. Omongan yang seru. Ia berbagi pengalaman naik gunung. Keputusan ratusan kali naik gunung bermisi bertemu naskah-naskah Jawa. Rendra mengetahui bahwa naskah-naskah Jawa tak selalu berada di museum atau keraton. Pencarian dan penemuan naskah-naskah di gunung-gunung itu ketakjuban.

Aku menikmati omongan yang menggairahkan. Raga, pikiran, dan imajinasi Rendra selalu bergerak tanpa lelah. Di ketinggian, ia berurusan naskah-naskah Jawa dari masa silam. Ia mengerti beragam hal. Aku menunduk malu. Seumur hidupku belum pernah naik gunung.

Siang itu ramai omongan. Para peserta bisa tertawa dan tepuk tangan. Mereka terhindar dari godaan tidur, melamun, dan bisik-bisik. Rendra tampil memberi “matahari” yang terang bagi orang-orang memasuki naskah-naskah Jawa.

Siang itu aku tidak minum kopi. Aku menghabiskan dua botol berisi air mineral. Siang perlahan menjadi sore. Di kejauhan, terdengar azan. Seminar segera diakhiri saat kaos basah dan wajah berkeringat.

Sore itu pulang. Hasrat terbesarku: mampir ke warung mi ayam. Aku ingin makan yang panas dan pedas. Di Colomadu, sepeda motor diparkir di pinggir jalan dan tubuhku diparkir di depan meja. Semangkuk mi ayam membuat keringat mengalir deras. Warung tanpa kipas angin. Segelas es jeruk lekas habis. Dua bungkus rambak mengurangi mulut yang kepedasan. Sore itu mi ayam, bukan masalah-masalah Jawa yang adiluhung atau picisan.[] Kabut