Buku, Resensi

Mengheningi Kebermanfaatan Kertas

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Penemuan mesin cetak yang diberdayafungsikan untuk menggandakan tulisan di kertas menjadi tonggak bergairahnya ilmu pengetahuan dan peradaban. Kertas menemui keberfungsian yang paripurna. Ia menggeser dan lekas mengambil alih teknologi belum canggih seperti sabak atau batu tulis, daun papyrus, daun lontar, kulit binatang, dan media-media tulis alamis yang terbatas fungsinya. Penggandaan tulisan di kertas berarti pula dakwah pengetahuan berskala masif.

Perjalanan peradaban bermula dari penerbitan tulisan menjadi bendel-bendel buku. Dulu, peradaban identik dengan buku-buku. Sementara hari ini, sabda tersebut bisa saja tertuduh terlampau retorik, alih-alih kaku dan konservatif. Tanpa maksud melakukan generalisasi, kiranya pengguna media baru (media daring, media sosial) telanjur percaya bahwa ilmu pengetahuan bisa lebih berkembang berkat media baru. Sebagian yang ekstrem bisa saja mendaku tak perlu lagi dilakukan syiar pengetahuan melalui buku-buku. Yang demikian merasa mendapat pembelaan sebab produksi kertas tak ramah lingkungan. Penggunaan kertas berarti dukungan terhadap penebangan pohon-pohon. Kertas jadi demikian dilematik.

Mengolah yang Dilematik

Di tengah segala kebisingan itu, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (FSRD ISI) Solo bekerjasama dengan Harian Umum Solopos, Rumah Banjarsari, dan Bentara Budaya Solo mendalami “kertas” sebagai sebuah diskursus yang kompleks. Kertas menjadi subjek utama dalam serangkaian acara, workshop mengolah kertas bekas; membuat karya seni dari kertas daur ulang; pameran seni rupa; dan menerbitkan buku antologi bertajuk “Meretas Kertas”. Delapan tulisan di buku tersebut ditulis orang-orang dari pelbagai latar belakang. Mereka adalah dosen, sejarawan, pengamat sosial-kebudayaan, penulis, sampai wartawan.

Pembaca menyimak ragam dedongengan memerkarakan kertas dari zaman penemuannya yang mula-mula sampai dengung nirfungsinya di zaman sangat teknologis seperti sekarang. Masa silam mencatat keberfungsian kertas bagi praktik pemerintahan di masa sebelum masehi, untuk pelbagai kebutuhan praksis sehari-hari misalnya pembungkus kaca keramik (hlm. 3), penyebaran pengetahuan dan informasi, penggandaan teks-teks suci, dan lain sebagainya.

Konon, presiden pertama Indonesia berambisi mengentaskan bangsa dari derita buta huruf. Lelaki karismatik itu yakin betul kalau kertaslah yang mampu membuat bangsanya merdeka dan beradab. Soekarno mengajar dan menaruh harapan bangsa Indonesia membaca buku, koran, dan majalah demi mengerti laju revolusi. Harapan itu tentu saja membutuhkan kertas untuk menerbitkan buku-buku sebagai bacaan (hlm. 52).

Pesohor yang menaruh minat dan kesadaran akan kebermanfaatan tulisan di kertas tentu saja tak cuma Soekarno. Kita mengenal Hatta, Tan Malaka, sampai kepada Habibie, Gus Dur, juga Jusuf Kalla. Dalam acara Mata Najwa bertajuk Terima Kasih Pak JK (Rabu, 16 Oktober 2019), pemirsa mendapati keteguhan sikap JK memerkarakan buku sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan hidup yang utama. Para cucu mengenang JK sebagai kakek yang membebaskan cucu-cucunya membeli buku dengan nominal berapapun. Hal itu tak berlaku untuk belanja urusan lain. Buku menjadi kata kunci dalam kehidupan berkeluarga JK.

JK merupa contoh konstekstual bahwasanya kertas menjadi media bagi para pendahulu mewariskan ilmu pengetahuan sehingga sampailah kepada generasi berikutnya. Kendati kini, gegar kehidupan sudah bergeser kepada internet melalui media baru yang dilahirkannya, kita rasanya tidak—atau belum—mampu beranjak dari persinggungan dengan kertas. Buku-buku dengan rupa ragam genre terus bermunculan, pemerintah perlu mencetak kebijakan-kebijakan menuju keabsahan pemberlakuannya, institusi-institusi pengetahuan dan keagamaan tak henti melakukan syiar pengetahuan melalui teks-teks tercetak, keperluan mencetak poster untuk aksi massa, pengabaran kematian, pernikahan, dan acara-acara lain.

Tulisan-tulisan dalam Meretas Kertas (2019) memberi kawruh pada kita betapa kertas masih menjadi suatu yang demikian penting terutama bagi institusi pengetahuan, lembaga kekuasaan, lembaga agama, serta lembaga sosial-kemasyarakatan sebagai media syiar pelbagai macam ide yang kesemuanya bermuara pada perumusan kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup (hlm. 7). Tsah!


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya.

Buku, Resensi

Negara Acap Kali Merecoki Hidup Kita

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Orang-orang Oetimu (Marjin Kiri, 2019), pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bertarikh 2018 terbit menjelang situasi negara yang karut-marut. Menggunakan latar tahun di mana Orde Baru berkuasa, Felix teruji ketelatenannya menjahit keping-keping cerita masyarakat Indonesia bagian timur. Novel yang dilabeli 19+ itu menghamparkan kepada kita kehidupan paling lekat dan sehari-hari. Kehidupan sebagai masyarakat sipil yang kerap dibikin runyam negara dan kemudian juga institusi agama. Tingkah onar negara, aparat, institusi agama baik dalam novel karangan Felix maupun dalam kehidupan kita yang sebenar-benarnya berhasil membuat kita terlalu sering sengsara.

Puluhan tahun Indonesia membungkam Papua. Mengabaikan suara personal mereka, membatasi akses bagi media dalam dan luar negeri yang hendak meliput ke tempat itu, tak menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM. Belakangan menyepelekan protes-protes yang berakibat rusuh dan terus memakan korban jiwa, juga melakukan kejahatan teknologis dengan membatasi akses internet bagi warganya. Atas dalih menjaga keutuhan NKRI, negara acap kali abai pada nilai yang paling dasar dan berarti dalam kehidupan kita—kemanusiaan. Menyalin teriakan histeris Maria saat Sang Perwira menyampaikan pidato di hadapan mendiang suami dan anaknya, dan menghubungkan kematian mereka dengan usaha mempertahankan kesatuan negara. “Kesatuan negara yang mana? Yang harga mati itu? Yang harga mati itu kemanusiaan! Yang harga mati itu keluarga saya…” (hlm. 158).

Dalam Orang-Orang Oetimu, Maria sudah lama tak percaya pada negara, aparat, dan institusi agama. Sebelum mendapati segala yang ia perjuangkan melawan negara sia-sia belaka, Maria ialah mahasiswa yang gemar berkoloni untuk membicarakan dan berdebat memperkarakan banyak hal. Perang di Timor Timur, pemerintahan Soeharto yang anti-kritik, agama, dan  segala anak turunannya. Maria ialah representasi gadis yang tak sungkan mengumpati segala hal yang dinilainya tak tepat takaran. Ia juga hampir selalu menyanggah dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan retoris pada lawan bicaranya.

Dalam perkara agama mari kita kutip sebagian kecil sikap Maria menghadapi khotbah agamawan. Saat Frater Yosef memberi keterangan menuding kadar iman dan syukur kita sebagai umat amat minim, sementara itu Tuhan akan menjaga dan memberikan hal-hal terbaik pada kita apabila kita rajin bersyukur. Maria melempar sambutan telak. “Wahai Frater, bagaimana kalau Tuhan Maha murah, tetapi setiap pemberiannya selalu diambil oleh orang-orang yang serakah?” (hlm. 128).

Kekuasaan yang Serakah

Keberadaan negara sejak masa kolonialisme menyengsarakan hampir setiap sendi kehidupan masyarakat kendati kadarnya berlainan-lainan. Perang antara militer Indonesia dan gerilyawan Fretilin merelakan banyak sekali nyawa dan harga diri para perempuan muda. Laura belum genap berusia dua puluh saat ayah dan ibunya ditembak aparat di pinggiran dermaga. Ia seharusnya jadi gadis periang, tetapi perang merebut segala yang ada padanya. Termasuk sel-sel telurnya(hlm. 48).

Sekarang, mari kita mampir ke Buenos Aires, menyimak pengisahan Jorge Luis Borges mengenai perang saudara yang melenyapkan nyawa kakeknya. Di awal tahun 1874, Francisco Borges— kakek Jorge Luis Borges, menjadi Komandan Tertinggi di perbatasan Utara dan Barat Buenos Aires. Ia bersama sepuluh atau belasan anak buahnya berderap menuju barisan musuh. Di sana ia dilumpuhkan oleh dua butir peluru Remington (Jorge Luis Borges, 2019: hlm. 6). Dalam kalimat lain, perang senantiasa membawa duka bagi tiap-tiap pihak yang terlibat.

Kekuasaan Oligarkis

Apa tujuan perang? Ialah ambisi berkuasa. Soesilo Toer melalui Pram dalam Bubu (Pataba Press, 2015) memberi penggambaran mudah terpahami soal itu. Ia mendefinisikan kekuasaan sebagai perwujudan dari ideologi yang dianut oleh kelompok sosial tertentu. Dengan demikian, tidak heran apabila kekerasan digunakan sebagai tameng untuk menumpas ideologi yang rawan dan akan mengganggu kelangsungan hidup kekuasaan yang sedang bercokol. Dalam konteks ke-Indonesiaan, ambisi berkuasa itu menjangkiti hampir setiap orang yang masuk dalam sistem kenegaraan, entah ia bagian dari eksekutif maupun legislatif, pun termasuk yang paling purba mengamini arti kekuasaan ialah para aparat yang apapun duduk perkaranya senantiasa latah main hajar.

Tokoh rekaan Felix hadir dengan cukup utuh untuk memberi gambaran aparat yang latah main hajar. Konon, Sersan Ipi ialah polisi yang mendapat mandat istimewa bertugas di Kampung Oetimu. Mandat itu ia peroleh lantaran Am Siki, kakek asuhnya dianggap sebagai pahlawan yang telah berjuang menumpas penjajah demi mempertahankan harkat dan martabat negara. Tiap kali Sersan Ipi muncul, selalu ada yang kena hajar, baik tukang ojek, sopir truk, bahkan anak-anak sekolah sekalipun. Tak ada yang berani melawannya, sebab ia aparat negara yang berseragam dan bertindak atas nama negara. Ia bertindak demi kebaikan seluruh warga negara. Dan barang siapa melawan aparat, ia berarti melawan negara. Melawan negara sama artinya dengan komunis. Komunis harus dibunuh dan ditanam di hutan jati (hlm. 59).

Praktik “kekuasaan” itu juga terjadi di gereja. Para romo mendayafungsikan statusnya sebagai pelayan Tuhan dan sebagai orang terhormat guna melakukan pelbagai pelecehan seksual kepada remaja-remaja perempuan binaannya. Para remaja perempuan itu jelas lebih banyak bungkam sebab pelaku pelecehan itu ialah orang yang selama ini sangat dihormati masyarakat. Masyarakat kiranya mudah saja menuduh para gadis hendak merendahkan harkat martabat para romo dengan membuat kabar miring sedemikian rupa.

Praktik “kekuasaan” yang lain lagi ialah sekolah berbasis keagamaan yang sebelumnya dikhususkan sebagai sekolah untuk warga kurang mampu, yang secara berangsur dipoles jadi sekolah elitis yang memberlakukan biaya sangat mahal dan susah dijangkau masyarakat kelas menengah ke bawah. Perlahan namun pasti, di sekolah itu anak-anak dari keluarga kurang mampu tak bersisa sama sekali. Demikianlah aturan main tuan-tuan yang mahakuasa. Mereka menghendaki masyarakat sipilnya jadi mahasengsara. Tsah!


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya.

Buku, Resensi

Sempati; Kandar Kilas yang Menolak Fungsi

Oleh Mutia Senja

Semanggi; kepalanya sudah lepas dari tadi. Air mata dan sengguk pun sudah lenyap dari tadi. Namun tangisan dan sedihnya belum. Sedih tentang mengapa ibunya begitu berjarak sebelum mati. Sedih tentang mengapa ayahnya begitu diam sebelum menghilang (hal. 11).

Setelah pemuda itu bertemu dengan M4; perempuan yang melayani program Bebaskan Kepalamu—yang (mirip) ibunya—Sempati Patangga Bratadikara berperan sebagai pemeran utama yang selalu mendapat sorotan dalam setiap adegan dalam novel ini. Sengaja dibuat meloncat-loncat layaknya figuran ketika ayahnya—jam tangan—mendeskripsikan kronologis kejadian di Bagian Tiga: Kenang—sebelum Sempati berencana memisahkan tubuh dan kepala—sepakat saling cerai sejak bertahan melawan resap bosan oleh jejal kehidupan.

Triskaidekaman membuat permulaan “alfa”—semacam petunjuk menjelajah kehidupan dua keluarga yang rumit; memulai menceritakannya dalam lima bagian: hilang, buang, kenang, datang, dan pulang. Penulis berupaya membuat pikiran pembaca teracak, lalu seperti puzzle—disusun kembali secara ritmis, bertemu ester egg, saling adu, saling tindih, lalu seperti hendak ditertawakan kenyataan. Kenyataan yang membuat Sempati terjerat dalam kegelapan yang samad, ketika suara tawa menggagalkan pertemuannya dengan ‘bahagia’.

Seperti digambarkan dalam blurb buku ini; Sempati merasa kepalanya tak memberi solusi atas ragam persoalan. Tentu, sebuah keniscayaan yang realistis sebab segala persoalan manusia bermuara ke dalam alam pikir. Namun, yang kemudian membuat tak masuk akal adalah ketika Sempati ingin hidup bahagia tanpa kepala, karena dirasa kepalanya justru merepotkan. Persis sebagaimana yang nampak dalam judul buku ini.

Bagian pertama berhasil menghabiskan hampir separuh isi buku dengan cukup menggambarkan alasan Sempati ingin melepas kepalanya. Tanpa bertolak ketika ia membaca selebaran bertuliskan “Program penggal. Mengusir beban pikiran bebal dan sedih yang terus tinggal”. Dia tertarik dalam hitungan detik. Terkesan khayali, memang. Namun inilah kenyataan yang terjadi dalam fiksi. Penulis pun bebas menuliskan apa saja.

Alhasil, mencari celah antara membebaskan kepala dari tubuh atau memanfaatkan fungsi otak dalam memecahkan masalah menjadi dua pilihan yang memuakkan. Hidup bagi Sempati (mungkin juga yang dialami sebagian orang) adalah penolakan, pergulatan, kesendirian, dan jauh dari rasa senang. Seolah membuka kembali memori atas pernyataan Dee Lestari ketika menulis, “aku kini percaya manusia dirancang untuk terluka.”

Lalu, katanya lagi, “tidak ada yang lebih menyakitkan dari kepedihan yang tidak bisa ditangiskan.” Benar saja, Sempati tidak pernah menangis sekalipun (pernah) ia sangat bersedih. Orangtua Sempati: Semanggi dan Merpati bermasalah. Sejak kecil, pemeran utama sangat karib dengan dendam, air mata, kesepian, konflik rumah tangga yang rumit, hingga persoalan diri sendiri yang membuatnya seolah bom waktu—dapat meledak kapan saja.

Dijuluki novel anti mainstream setelah lahirnya Buku Panduan Matematika Terapan, membuat kita meyakini akan hadiah berupa kejutan-kejutan saat membaca buku ini. Sungguh, di bagian 1.4 Triska menyuguhkan seberkas kekhawatiran ketika M4—inisial petugas instalasi (pemegang kunci nasibnya)—menghilang, saat di mana penulis menuliskan masa lalu, hingga Sempati kehilangan kepalanya di sebuah rusun yang dia tinggali. Pembaca dirancang layaknya detektif yang dengan sigap dan teliti mengerti alur yang sedang dimainkan masing-masing tokoh. Dalam hal ini, penulis cermat membuat pembaca seolah tak boleh lepas untuk tetap menikmati paragraf demi paragraf.

Hal tak wajar seringkali muncul, misalnya: Setelah prosesi pemotongan kepala, peserta masih dapat hidup dengan kandar kilas yang diletakkan di tengkuk atau bagian tubuh lainnya. Kandar kilas itu berfungsi mencadangkan isi otak sehingga tubuh masih dapat berpikir, melihat, mendengar, bicara, saat tubuh berpisah dengan kepala nanti. Namun jauh dari harapan agar terbebas dari kehidupan yang bebal, Sempati justru ditimpa tragedi yang gagal menemukan solusi. Terkejutnya, saat ia mendapati kandar kilasnya bengkok.

Lalu di bagian lain digambarkan dengan alur mundur, seperti: Merpati; setelah sekian lama menghilang, dia—di waktu dan tubuh yang lain—menjelaskan kronologis kematian yang diakuinya tak sengaja dilakukan Darnal. Mancakrida kantor dibalut malam yang indah. Dirinya dan Darnal (atasan dan sekretaris) menyepi ke tempat senyap. Rel itu katanya sudah jarang terpakai lagi. Mereka berbaring, menyanggakan kepala pada rel, sambil menatap langit—mengulang kembali tarian kebanggan setelah sekian tahun. Bulu tubuh Darnal masuk dan mereguk cawan Merpati yang lama tak tersentuh. Dia lemas. Lalu pingsan. Golak roda kereta berdesing. Darnal terlambat menyelamatkannya. Merpati mati di tempat.

Hal semacam ini yang terkadang membuat pembaca dipaksa percaya. Walaupun realitanya, tidak dapat diterima oleh akal sehat manusia. Sebab dalam bagian terakhir, “pulang”, ia kembali membuat konflik baru dengan memainkan tokoh hasil dari kebangkitan setelah mati. Bahkan dalam hal ini, apa pun dikisahkan Triska dengan bebas dan ia seolah menikmatinya.

Dibuktikan ketika ia mengisahkan kepala yang dapat bicara meski terpisah dari tubuh, kemudian dimasukkan dalam rak (mirip) penitipan barang yang bisa diambil kembali dengan syarat meninggalkan identitas. Tubuh yang terpenggal namun masih dapat menyatu kembali, dan hal menggetarkan lainnya. Hebatnya, Triska dapat mengatasi kejenuhan pembaca dan bertanggungjawab atas imajinasinya yang liar tanpa membuat pembaca melepas kepalanya. Sungguh!

Pembaca makin dibuat jatuh hati ketika Sempati berbisik ke pancang nisan ibunya: Ibu melacur yang baik, ya. Nanti ibu belikan rumah di sana. Aku pasti akan bertandang (hal. 259). Celetuk lisannya persis ketika ibunya berjanji; Kamu sekolah yang baik saja. Nanti Ibu tetap biayai kamu. Ibu belikan kamu jam tangan baru (hal. 257). Korelasi semacam ini yang langka dijumpai dalam cerita dan lekat dalam ingatan. Seperti dibisiki dengan hal-hal menakjubkan dan seketika membuat kita terperanjat saat itu juga. Tetapi yang jadi soal, apakah Triska sengaja membuat kebetulan ini nampak cantik di mata pembaca? Atau mungkin kebetulan bisa dibuat secara sengaja?

Bagaimanapun, uang takkan pernah cukup. Waktu selalu saja lebih sempit daripada celana. Tubuh kita pun fana (hal. 5) hingga Merpati mengakui di hadapan anak dan suaminya; “Kami tak pernah berpikir soal kualitas. Yang penting berkeluarga. Yang penting kami dicap normal. Bahkan semua masalah uang, popok, susu, nafkah, sekolah, dan jam tangan ini—inilah normal yang masyarakat mau” (hal. 264). Meski belum utuh, mungkin inilah pertanggungjawaban atas fantasi liar si penulis. Triska mengembalikan persoalan kepada sesuatu yang faktual tanpa tergesa-gesa.

Membaca konflik yang terjadi dalam cerita, seperti mengingatkan pada sabda Epictetus mengenai hal ini; “Pada akhirnya nanti, setiap orang harus menebus hukuman atas perbuatan-perbuatannya yang salah. Jika orang selalu ingat hukum ini, ia pasti tidak akan marah kepada siapa pun, tidak akan dendam, tidak akan mencerca, tidak akan menyalahkan, tidak akan melukai hati, tidak akan benci, kepada siapa pun.” Tapi takdir berjalan sebagaimana Semanggi—yang mengambil lengan kiri Jatayu saat masih di dalam kandungan Tania—akibat menuruti amarah dan dendam setelah menyaksikan perselingkuhan istrinya.

Sempati terus terkejat, mencabik-cabik tubuhnya sendiri; sebelum dia jatuh ke tanah dan terlunglai mati karena lapis-lapis rasa bersalah (hal. 279). Triska tak henti membuat imajinasi liarnya berkecamuk di dada pembaca, menggeliat memenuhi kepala, menjerat seluruh indera untuk memasuki alur ceritanya yang langgas—seperti Sempati saat akan dipenggal kepalanya. Tak boleh beranjak. Sedikit saja menoleh, maka akan tamat riwayat. Setiap bagian, setiap adegan, membutuhkan fokus seperti menjaga kandar kilas supaya tetap hidup tanpa kepala.

Sembari terus membaca bab demi bab, pembaca selalu dihantui rasa penasaran tentang apa yang akan terjadi kepada para tokoh dalam novel ini. Mereka bersekongkol mengelabuhi pembaca. Penuh misteri. Triska membuat pembaca membolak-balikkan pikiran tanpa permisi dan mencari sendiri akarnya. Seperti melihat pohon tumbuh di atas tanah, sedangkan banyak kisah tumbuh menembus celah tanah—bagian tersembunyi sebelum bertumbuh batang, daun, cabang, dan buah—yang nampak—terkesan ‘rumit’ dan ‘menyebalkan’.

Kita seakan diajak meraba, menemukan kursi untuk sejenak duduk ketika berada di ruang gelap Triska: Kematian bukan penanda akhir sedangkan nasi telah menjadi bubur. Kepalanya sudah lepas dari tadi. Airmata dan sengguk pun sudah lenyap dari tadi. Namun tangisan dan sedihnya belum (hal. 11).

Lalu kita seakan kembali berjalan hingga menemukan celah cahaya.


Mutia Senja, lahir di Sragen, Jawa Tengah. Bergiat  di Sekolah Menulis  Sragen. Hobinya menulis sesuka hati. E-mail: [email protected]

Buku, Resensi

Beban Berat Kaligrafi Semar

Oleh Rizki Amir

Madura sebagai sebuah daerah yang memiliki beban berat kebudayaan, nyatanya hingga saat ini—meskipun arah angin seolah sedang menuju ke wilayah timur, tetap mampu bertahan dan kerap melahirkan berbagai penulis cemerlang yang juga layak diperhitungkan dalam kancah bajak laut sastra Indonesia. Lihat saja satu di antaranya, Muna Masyari, penulis perempuan asal Pamekasan yang berhasil menyabet Cerpen Terbaik Kompas tahun 2017 lalu.

Hal semacam itu tentu saja tidak terlepas dari peran ruang-ruang diskusi dan komunitas yang meskipun sporadis, tapi begitu militan. Salah satu komunitas yang turut hadir dalam keriuhan itu adalah Bawah Arus. Meski tergolong kecil, komunitas itu diam-diam telah membimbing Andy Moe untuk maju dan berhasil menjadi peserta terpilih Majelis Sastra Asia Tenggara tahun 2018 kategori cerpen. Dan di tahun ini, laki-laki itu telah menerbitkan buku kumpulan cerpennya yang berjudul Kaligrafi Semar (Rumah Akar, 2019).

Sebagaimana pendahulunya, Andy juga mengusung suara-suara dari beban berat kebudayaan Madura yang memberi pemahaman tentang suatu permasalahan dengan menengok hubungan kausalitas berdasarkan kenyataan bagi kepentingan personal. Konsep itu seolah harus dibawa dan dikembangkan agar menjadi ekor yang baik lagi benar.

Dalam cerpen yang berjudul “Ampun”, dituturkan bagaimana Matnaji, seorang bandit besar yang memutuskan memulai hidup baru di pesantren, karena telah kehilangan relasinya dan ia tidak lagi mampu melakukan aksi sendirian. Cerpen ini tampaknya memang sengaja memilih ruang-ruang religiositas guna mengungkapkan kecemasan akan rasa aman dan trauma dari peristiwa masa lampau yang jalin-kelindan. Di pondok pesantren, Matnaji juga harus sabar menghadapi penyakitnya. Penyakit yang sering kambuh, yang didapatnya selepas kejadian itu –.(hal. 7).

Tak hanya itu, sifat mengutamakan kepraktisan dan kegunaan dalam tindakan yang dilakukan tokoh utama dalam cerpen “Boi” juga menunjukkan bagaimana orang Madura yang bergerak cepat. Alih-alih menunggu kehendak Tuhan untuk memberi pelajaran pada bapaknya, tokoh Aku justru memilih melampiaskan kekecewaannya sendiri sebagai seorang anak yang kurang kasih sayang. “Dukk!” Bola handuk berpaku itu mengenai bagian belakang kepala bapak. Lalu kulihat darah mengalir dari sela-sela rambutnya. Sebentar lagi darah itu akan menjadi banjir. Bapak akan marah padaku. Ia akan mengingatku karena telah menjadi pelempar, seperti aku mengingatnya. (hal. 16).

Di cerpen lainnya, “Nonggul”, meskipun berangkat dari premis apik yaitu mengangkat tradisi lomba setet—jenis layangan yang ada di Madura, di tengah jalan dengan perlahan tapi pasti, cerita bergeser ke arah kepercayaan akan hasrat dan prasangka tanpa peduli tindakannya itu akan merugikan orang lain atau tidak. Sungguh kental aroma mistik yang peserta percayai, bahkan para pemilik setet dapat dengan mudah marah hanya karena gulungan senar mereka dilangkahi seseorang. (hal. 60). Dan konsekuensinya adalah perlombaan itu bukan lagi jadi ajang untuk memperebutkan hadiah, tapi sebuah perang yang harus dimenangkan.

Tapi pertanyaan selanjutnya apakah beban berat kebudayaan daerah itu hanya bisa dituturkan dalam ranah asal? Seberapa besar kemungkinan dari keterpisahan yang terbentuk dan mampu‘hidup’?

Dalam cerpen “Menghadap Langit”, mungkin Andy sudah coba menjawabnya meski tanpa tendensi untuk mempertebal keterpisahan dari asalnya. Sayangnya, dalam posisi bingung dan masygul untuk tetap mempertahankan ironi yang sudah dibangun sekaligus menghadirkan suspensi, yang empunya cerita akhirnya memutuskan untuk melompati bagian penyebab di balik terjadinya peristiwa.

Serupa dengan itu, di cerpen yang berjudul “Rumah Dulla”, kita akan berjumpa dengan Dulla yang berkemauan keras dan melihat kehadiran ibunya hanya untuk memenuhi sebuah syarat. Sayangnya ketegangan menghadapi peristiwa malah menghasilkan efek yang terlampau kasar dari perpindahan satu bagian ke bagian lainnya. Jika kau melihat kerusakannya kau tak akan percaya jika Dulla bisa selamat dari kecelakaan itu. Dulla hanya tergores beberapa senti di bagian lehernya saja namun tiga penumpangnya menemui ajal. (hal. 79).

Semua itu hanya eksplorasi, tentu. Tapi pilihan semacam itu justru menujukkan bahwa Andy tidak sedang bermain di ranah yang membuka ruang untuk pertentangan. Ia tampaknya hanya ingin dunia ceritanya dapat diterima sebagaimana mestinya.

Hal yang kuat dan menarik dari buku yang berisi lima belas cerpen itu, bagi kita, sebenarnya adalah bagaimana penulis menawarkan penggabungan antara sesuatu yang abstrak dan yang konkret. Ia berusaha menangkap laku dalam berproses. Dalam cerpen “Kaligrafi Semar” yang menjadi judul buku misalnya, ada gambaran mental yang dalam dari apa pun yang ada di luar subjek, yang digunakan untuk memahami peristiwa dan citra diri, sehingga apa-apa saja yang dilakukan tokoh Semar bukan hanya berguna sebagai tanda, tapi juga cenderung hiperbol.

Hal demikian, sekiranya perlu diketahui para pembaca lantaran mampu membuat buku kumpulan cerpen Kaligrafi Semar memiliki sisi tersendiri di laut lepas yang sudah lebih dulu diarungi para penulis prosa dari daerah Madura lainnya.


Rizki Amir lahir di Sidoarjo, 1995. Terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Rahasia Pasar (2017). Terpilih sebagai penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2017. Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.

Buku, Resensi

Selamat Mengalami Mimpi Buruk

Oleh Shofyan Kurniawan

Bayangkan ketika kita memiliki keinginan yang besar untuk melakukan kejahatan, sesuatu yang oleh alam sadar coba ditekan dan direpresi sedemikian rupa karena itu bertentangan dengan nilai-nilai yang telanjur dianut dalam realitas kita. Misalnya, kita ingin sekali menghajar kepala seseorang dengan sol sepatu sampai bocor tanpa tahu alasannya. Bisa juga, kita ingin sekali melakukan pembunuhan berantai berbekal sepucuk pistol, menembaki satu per satu korban. Namun keinginan-keinginan semacam itu harus ditekan habis kalau kita tidak ingin berurusan dengan hukum dan perangkat-perangkat penegaknya. Meski begitu, keinginan-keinginan itu mencoba mencari jalan keluar. Jika tidak bisa di kondisi sadar, hal semacam itu akan datang melalui mimpi. Ya, mimpi. Kondisi ketika kesadaran merenggangkan kekangnya.

Bisa dibilang itulah yang coba diceritakan Aris Rahman P. Putra dalam kumcernya berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive. Ia mencoba menceritakan tentang kejadian-kejadian yang berlangsung dalam kepala ketika sedang mengalami mimpi.

Mulholland Drive sendiri—yang dipakai Aris Rahman P. Putra sebagai pelengkap judul bukunya, mengacu kepada salah satu karya terbaik David Lynch, sutradara yang gemar membuat film-film surealis. Kita juga bisa melihat gambar sampul buku yang dipilih: Manusia kelinci berjas yang sedang membawa pistol, seolah mencoba mengingatkan kita kepada salah satu film David Lynch lainnya berjudul Inland Empire. Melalui judul dan sampul buku, kita seakan bisa langsung tahu apa yang hendak diceritakan Aris Rahman P. Putra di sini.

Membaca Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive, kita seolah diajak untuk mengalami mimpi. Ada beberapa bagian yang tidak masuk akal seakan mencederai logika cerita, tetapi ketika kita mengerti bahwa apa yang hendak disampaikan adalah dunia yang berlangsung dalam mimpi, kita akan langsung memberi pemakluman.

Misalnya saja, ketika kita membaca cerpen berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive yang juga menjadi judul buku ini. Di sana terdapat serangkaian pembunuhan yang terjadi hanya karena sepucuk pistol—pistol yang sama. Pembunuhan pertama dimulai di sebuah kafe dengan korban seorang pemuda yang semula hendak merampok, kemudian berlanjut ke seekor anjing, lalu pada sebuah keluarga, lantas berlanjut pada pasangan kekasih yang terlibat cekcok karena salah satunya kepergok selingkuh. Menariknya, setelah pembunuhan terakhir pistol itu malah jatuh ke tangan seseorang yang langsung saja memberi kita sebuah kesan dan tonjokan yang membuat kita bergumam: “Hmmm, sepertinya barusan aku melewati satu mimpi buruk deh.”

Cerpen lainnya yang berjudul Mimpi-mimpi yang Perlu Kaualami Sebelum Menjadi Nabi merupakan gambaran paling nyata dari kekacauan yang terjadi dalam sebuah kepala. Kita mungkin akan merasa kasihan dengan apa yang dialami kepala tersebut karena harus melompat dari satu mimpi yang ganjil ke mimpi ganjil lainnya.

Ada juga pemuda pengidap skizofrenia di Catatan-catatan Mengenai Pasien No. 35. Setiap si pemuda bangun tidur, ia mengalami semacam halusinasi yang selalu berbeda tetapi memiliki satu benang merah yang menghubungkan semuanya: si pemuda punya trauma berkaitan dengan seks.

Meski begitu, Aris Rahman P. Putra tak melulu bernarasi soal alam bawah sadar belaka. Di bagian lain, ia juga menghadirkan cerpen-cerpen bergaya realis, misalnya: Antipode dan Harga yang Pantas untuk Sebuah Kebodohan dan Rekaman-rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan. Walau bergaya realis, di sini Aris Rahman P. Putra tidak hanya mengambil peran sebagai pencatat atau sekadar perekam, melainkan juga menggiring kita menemukan sebuah pemahaman baru atas peristiwa-peristiwa yang coba ia angkat ke permukaan. Di lain sisi, dia juga ingin menghadirkan sebuah kesan, bahwa hidup hanyalah kemurungan-kemurungan yang coba kita bungkus dengan harapan dan optimisme. Sehingga tidak bisa dihindari kalau Aris Rahman P. Putra terkesan menolak narasi-narasi romantis, mirip seperti Holden Caulfield di novel Catcher In The Rye karya J.D. Salinger. Seperti yang bisa kita jumpai di cerpennya berjudul Kuesioner 1: Bagaimana Menemukan Pasangan yang Tidak Gampang Bunuh Diri yang digambarkan melalui potongan sajak yang berbunyi:

Bagaimana cara

menghentikan hujan di kepala?

Barangkali kita terlalu melankolis

dan menjadi dungu

Karena cinta

Sehingga lupa

Bahwa di dunia

ini, ada sesuatu bernama

payung dan jas hujan

yang membuat kita

tetap kering

Meski digempur

hujan tak reda-reda

Salah satu cerpen berjudul Rekaman-rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan  berkaitan dengan kerusuhan yang terjadi di tahun 1998, menjelang lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan. Di sini Aris Rahman P. Putra menggambarkan bagaimana bermacam-macam orang dengan latar belakang berbeda pada masa itu merespon peristiwa tersebut. Jika kita pernah membaca karya J.D. Salinger berjudul Orang Asing dan sampai di bagian ketika sang tokoh utama bernarasi kalau ia tidak percaya pada saat ia terlibat perang dan bergelut dengan hidup dan mati, di tempat yang lain ada orang yang dengan santainya mengajak anjingnya berjalan-jalan keliling kota; di cerpen Aris tersebut, kita bisa mendapatkan sensasi yang kurang-lebih mirip.

Cerpen-cerpen Aris memang cenderung bernuansa murung dan pesimis, seolah ia ingin mengatakan hidup hanya segunung tahi yang dibungkus kertas kado. Bahkan jika ada sesuatu yang lucu di sana, itu bukanlah murni kelucuan yang telanjur dipahami secara massal tapi sesuatu yang memang layak untuk ditertawakan, entah tawa ngakak ataupun sambil meringis. Jika kita terlalu memandang hidup ini dengan optimis, menganggap semuanya bakal indah pada waktunya, mungkin kita perlu mencoba membaca cerpen-cerpen di dalam buku ini supaya khayalan kita tidak kelewat utopis. Bagaimanapun, hidup yang baik adalah hidup yang dijalani, setaik apa pun itu.


Shofyan Kurniawan. Lahir dan besar di Surabaya.

Buku, Resensi

Si Tua Bercerita dan Bernostalgia

Oleh Bandung Mawardi

Ibu Sud tak dicantumkan dalam cerita pendek. Nama terlupa tapi lagu-lagu sering disenandungkan bocah-bocah dalam pelbagai acara. Pada peringatan Hari Kemerdekaan, lagu gubahan Ibu Sud berjudul Berkibarlah Benderaku tentu dilantunkan dengan lantang dan bersemangat. Lagu terkenang sepanjang masa, belum tentu nama. Pada peringatan Hari Kemerdekaan, kita cenderung mengingat dua nama penting: Soekarno dan Mohammad Hatta. Nama para penggubah lagu patriotik sering dilantunkan dalam upacara bendera, panggung Agustusan, dan lomba gampang dilupakan atau lekas disebut “anonim”.

Cerita pendek itu berjudul “Berkibarlah Benderaku” gubahan Sapardi Djoko Damono. Cerita masuk dalam buku cerita berjudul Menghardik Gerimis (2019). Cerita itu gamblang mengenai cara kita memberi arti dan kemerduan Hari Kemerdekaan. Judul lagu gubahan Ibu Sud dan cerita itu sama. Pembaca mungkin menebak bakal menemukan nama Ibu Sud. Salah! Sapardi Djoko Damono cuma memerlukan lagu, tak wajib menulis nama penggubah lagu. Pengarang bertubuh kurus itu menulis: “Bendera tidak bisa bergoyang kalau tidak ada angin. Apa lagi berkibar. Padahal, di sekolah anak-anak diajari nyanyi, Berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira”. Sejak bocah, lagu itu sudah dikenali pengarang. Pada cerita, nostalgia dituliskan saat lagu Berkibarlah Benderaku tetap pilihan dalam membarakan nasionalisme dan memerdukan kemerdekaan.

Di cerita pendek, kita dituntun ke imajinasi keluguan mengenai bendera, angin, dan rumput. Liris. Kita diingatkan dengan 17 Agustus tapi bergerak ke sendu-haru. Cerita tak heroik. Sapardi Djoko Damono justru memberi rangsang imajinasi agak menjauh dari ingatan mengandung bedil, pekik, dan jeritan. Ia menulis nasib “bendera imut” atau “si mungil”. Semula, bendera itu dipasang di pagar. Sekian hari setelah 17 Agustus, bendera imut jatuh. Kita turut merasakan: “Tentu saja si mungil itu pernah berkibar, atau setidaknya bergoyang-goyang kena angin ketika masih dalam untaian. Masalahnya, setelah bendera itu tanggal dan jatuh di pinggir selokan di sudut rumputan yang tidak terurus, ia tidak pernah disentuh angin. Rumput yang tumbuh di sekitarnya, yang sekarang menjadi teman ngobrolnya, juga tidak berkibar.” Cerita mengharukan tak selalu ke masa lalu, masa para tokoh bangsa dan kaum muda memuliakan Indonesia dengan pengibaran bendera dengan konsekuensi mati.

Pada masa berbeda, Sapardi Djoko Damono suguhkan imajinasi lugu. Pembaca mungkin menuduh si pengarang sudah “keterlaluan”. Pembaca dijerat di permainan imajinasi dan makna. Pada 1983, Sapardi Djoko Damono menulis esai-biografis berjudul Permainan Makna, memberi nostalgia masa bocah ke pembaca: “Namun tahun-tahun sesudah kemerdekaan memang terasa ganjil dalam kenangan: sehari makan dua piring bubur, pagi dan sore; ibu menjual buku-buku tebal untuk membeli minyak tanah; ayah di luar kota entah di mana untuk menghindarkan diri dari penangkapan Belanda; siang hari sering saya saksikan pesawat terbang Belanda menjatuhkan bom di beberapa kampung, malam hari terjadi pembakaran gedung-gedung dan rumah-rumah besar.” Kenangan itu terjadi di Solo. Sapardi Djoko Damono tak mengingat bendera tapi memberi susulan dengan cerita minta pembaca di pinggiran imajinasi bendera, tak memusat ke proklamasi atau pengibaran bendera di halaman rumah Soekarno (Jakarta). Bendera itu bernasib memelas: jatuh di pinggiran selokan. Kita pun iba. Di situ, pengarang ingin kita mengerti nasib bendera berkibar dipengaruhi angin dan sadar tiada “apa” dan “siapa” mau lagi memberi perhatian: kata dan sikap.

Masa bocah di Solo terus teringat dan dituliskan saat tua menjadi cerita berjudul “Layang-Layang”. Dulu, Sapardi Djoko Damono suka bermain layang-layang, gobak sodor, gundu, adu cengkrik, benthik, dan lain-lain. Semula, pengalaman-pengalaman masa kecil ditulis dalam puisi. Kini, ia menaruh dalam cerita pendek. Di alun-alun sebelah selatan Keraton Kasunanan, bocah-bocah bergirang bermain layang-layang. Seorang bocah kaget melihat layang-layang putus, terbang tak tentu arah. Ia tak mau kehilangan. Layang-layang itu dikejar. Sapardi Djoko Damono menceritakan dengan seru. Bocah mengejar layang-layang melewati pasar (tempat sang ibu berjualan bunga), berlari terus melewati tanggul Bengawan (tempat mangkal pelacur), dan berlanjut melintasi jalan panjang (tempat ia dan bapak mencari cengkerik dan gangsir). Layang-layang terus terbang tinggi, tak mau jatuh ke tanah. Surup berakhir, bocah belum berhasil menangkap layang-layang. Si bocah malah roboh di depan rumah seseorang. Ia kecapekan dan kehabisan napas meski sempat mendengar azan magrib. Kita diajak terharu gara-gara si bocah tak mau kehilangan layang-layang digambari mahkota oleh bapak. Ia takut kehilangan dan terlalu kagum pada layang-layang. Sapardi Djoko Damono memang “keterlaluan” dalam bercerita.

Pada masa remaja, keluarga Sapardi Djoko Damono pindah ke pinggiran Solo sebelah utara, menjauh dari keramaian kota. Sapardi Djoko Damono belajar di SMA Negeri 2 Solo. Ia sudah memiliki minat sastra meski kalem. Hidup dalam kesederhanaan dan berdekatan alam: “Kami lama-lama terbiasa dengan suasana yang sama sekali berbeda. Gerisik rumpun bambu, suara air sungai di sebelah rumah kalau malam tiba, dan lampu teplok.” Suasana teringat bersama kebiasaan “menguping” obrolan bapak dan teman di malam hari. Si tokoh memang menunda tidur demi mendengar tamu itu menembang dan bercakap. Tembang terdengar dan percakapan. Si tokoh pernah belajar di sekolah khusus priyayi lekas mengenali larik-larik dalam tembang. Malam itu ia menikmati Kalatidha gubahan Ranggawarsita. Orang-orang mengenali sebagai “pujangga keraton terakhir” di Solo.

Pada saat menua, Sapardi Djoko Damono membagi biografi di gubahan cerita-cerita, “bertokoh diri” sebagai bocah dan remaja. Kita membaca cerita-cerita setelah kagum menikmati puisi-puisi lirik gubahan Sapardi Djoko Damono. Ia memang penggubah puisi tenar. Predikat sebagai penulis cerita pendek dan novel dimiliki belakangan. Semula, ia cuma peresensi, juri, dan kritikus sastra dalam mengulas puluhan cerita pendek atau novel. “Cerpen memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari, juga mungkin sekaligus membenarkan pendapat bahwa kita semua pada dasarnya membutuhkan fakta dan fiksi,” penjelasan Sapardi Djoko Damono dalam esai berjudul Dapatkah Kita Menghindarkan Diri dari Cerpen? (1975). Ketekunan menggubah puisi disempurnakan dengan menulis puluhan cerita pendek. Sapardi Djoko Damono telat membuktikan bahwa sulit menghindarkan diri dari gairah menulis cerita pendek!

Ia mungkin mendendam mengetahui nasib cerpen di masa 1970-an sering “meragukan” alias “tak jelas”. Orang-orang atau kaum pembaca cenderung memberi perhatian ke puisi atau novel, belum cerpen. Seminar dan festival sastra jarang memberi tempat bagi cerpen. Dulu, Sapardi Djoko Damono setor sindiran: “Kita harap saja bahwa jarangnya cerpen dibicarakan itu merupakan suatu pertanda bahwa ia memang sudah punya tempat yang layak dalam masyarakat dan sungguh-sungguh berguna bagi pembacanya.” Pada 2019, kita menjadi pembaca cerita-cerita gubahan Sapardi Djoko Damono, membuat pengakuan kecil bahwa cerita sudah memiliki tempat dan berguna mumpung si pengarang asal Solo itu sudah tenar dan berpengaruh dalam kesusastraan di Indonesia. Begitu.


Bandung MawardiPenulis buku Pengisah dan Pengasih (2019)

Buku, Resensi

Sisi Buruk Kebaikan

Oleh Kiki Sulistyo

Kekuasaan dapat membelokkan hal yang baik menjadi buruk, sanggup mengubah harapan menjadi penderitaan. Dalam lintasan sejarah manusia, dengan berbagai skala, kekuasaan selalu menjadi masalah. Ada saat ketika kekuasaan begitu memabukkan, sehingga mereka yang menggenggamnya jadi lupa segalanya. Kekuasaan itu sendiri adalah keniscayaan, seperti yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca “tak ada manusia yang bisa terbebas dari kekuasaan sesamanya”. Oleh karena itu, reaksi, sikap kritis, maupun perlawanan terhadapnya juga akan terus berlangsung dalam suasana apapun. Seringkali sikap dan tindakan tersebut sebenarnya hanya modus karena kalah dalam perebutan kekuasaan atau sebagai strategi untuk mendapatkan atau merebut kekuasaan, yang kelak menjungkirkan posisi seseorang menjadi serupa dengan apa yang dulu dilawannya.

Dalam hubungannya dengan sastra, kekuasaan adalah bahan bakar utama lahirnya pelbagai karya dalam khazanah sastra di pelbagai penjuru dunia. Sastra sering menempatkan diri sebagai oposisi atas kekuasaan, terutama kekuasaan yang menindas. Karya sastra (baik puisi, cerpen, novel, atau naskah drama) menyentil, mencubit, mengusik, sampai mengutuk kekuasaan seraya menebarkan stimulan bagi kesadaran.

Buku kumpulan cerpen Yudhi Herwibowo, Empat Aku (Marjin Kiri, 2019), juga tidak lepas dari semangat seperti itu. Kekuasaan menjadi subject matter hampir semua kisah dalam buku ini. Baik itu kekuasaan kapital maupun politik, yang pada kenyataannya kerap berkelindan, mengakibatkan ketidakberdayaan di lingkungan paling bawah dari piramida sosial. Ketidakberdayaan tersebut sering memaksa seseorang berada dalam posisi yang sulit dan mengambil tindakan yang tidak sepantasnya.

Dalam cerpen “Langda, Suatu Ketika” dikisahkan bagaimana Eba Deyal menipu sahabatnya, Marten, dengan memberikan kapak batu buatan orang lain, karena kapak batu yang dibuatnya dari batu pilihan dan sudah dijanjikan buat Marten, terpaksa harus dijual untuk menyambung hidup anak-anaknya. Cerpen ini menggunakan setting faktual—di Yakuhimo, Papua—sehingga kita langsung mengingat bagaimana relasi negara dengan salah satu provinsi terluar itu. Baik Eba Deyal maupun Marten adalah bagian dari mata-rantai korban dari kelalaian negara dalam mengurus kesejahteraan warganya.

Ketidakberdayaan semacam itu pada satu titik melahirkan harapan-harapan yang bersifat ilusif; fatamorgana dari kebuntuan jalan keluar. Itu misalnya tampak dalam cerpen “Jejak Air”. Ketika perusahaan air minum kemasan memonopoli ketersediaan air di desa tempat tinggal Jarot, kekeringan mulai melanda. Protes dan perlawanan warga disumpal dengan uang. Jarot yang menolak untuk disuap, akhirnya hanya bersandar pada harapan yang bersumber dari cerita kakeknya di masa lampau, bahwa nanti akan datang laki-laki yang di setiap bekas jejak kakinya mengalir air yang begitu bening untuk kita semua di sini.” (hal.71).

Hal menarik dari cerita-cerita dalam Empat Aku adalah bagaimana situasi paradoks muncul dari modus kekuasaan dalam upaya menancapkan kukunya. Modus itu berupa perubahan dan kebaikan, yang pada saatnya menampakkan wajah ganda sebagai sumber keburukan. Konsekuensinya kemudian adalah jejaring problem yang menjerat sampai ke wilayah internal masyarakat, bahkan ke wilayah inter-personal. Dalam cerpen “Kampung Rampok” misalnya. Kemunculan seorang laki-laki yang digambarkan baik (dia bertanya dengan sopan, membelikan rokok, padahal dia sendiri tidak merokok) tampak seolah hendak membuat perubahan di kampung rampok, membuat kampung itu menjadi lebih beradab; suatu tipikal hero dalam banyak cerita. Tetapi laki-laki itu ternyata hanya ingin merebut kekuasaan dari kepala kampung. Masyarakat (melalui tokoh aku) sebenarnya tidak peduli. Ya benar, siapa pun pemimpinnya, yang penting kami tak peduli! (hal.10). Sikap apatis itu berubah jadi ketakutan ketika ternyata si kepala kampung yang baru, jauh lebih kejam dari yang sebelumnya. Tak ada warga yang bisa keluar dari sana, sementara warga sendiri takut tinggal sebab seperti hanya menunggu giliran untuk dimangsa.

Modus perubahan dan kebaikan yang dilancarkan kekuasaan juga mencolok dalam cerpen “Jejak Air” di mana berdirinya perusahaan air minum kemasan pada mulanya membuka lapangan kerja pada warga setempat. Atau dalam cerpen “Jendela” di mana seorang promotor seni memperoleh keuntungan dengan membuat pameran lukisan karya pelukis yang mati bunuh diri, dengan alasan menghormati si pelukis, sementara selama hidupnya hampir tak ada lukisannya yang terjual, hingga ia jatuh melarat.

Cerpen “Empat Aku” yang menjadi judul buku ini paling jelas memperlihatkan bagaimana kekuasaan membuat jaring-jaring problem inter-personal. Dengan gaya eksperimental cerpen ini menggambarkan konflik empat-karakter dalam diri aku. Seluruh karakter itu menyimpan keinginan untuk menguasai aku sepenuhnya. Masing-masing karakter memiliki watak-gandanya sendiri; aku-pertama yang dermawan tapi licik, aku-kedua yang rajin berdoa tapi lemah, aku-ketiga yang optimis tapi antipati, serta aku-keempat yang penuh empati tapi pesimistis. Kompleksitas itu menggambarkan suatu situasi paradoks, sebagaimana yang diucapkan aku-pertama: selalu ada sisi buruk dari segala kebaikan (hal.30).

Sisi buruk kebaikan—yang muncul lantaran kebaikan hanya modus semata—adalah nilai signifikan dari tema kekuasaan dalam cerpen-cerpen di buku Empat Aku ini. Yudhi Herwibowo membawa pembaca melompat dari setting faktual ke setting fiksional, dari narasi referensial ke narasi imajiner. Tetapi seluruhnya diikat oleh perhatiannya pada konsekuensi-konsekuensi kekuasaan yang seakan menebalkan tulisan Pramoedya yang dikutip di atas, bahwa manusia tak mungkin bebas dari kekuasaan sesamanya. Jika manusia tak bisa bebas dari kekuasaan, maka hanya pilihan menyerah atau melawan yang tersedia. Dan tokoh-tokoh di dalam kumpulan cerpen ini masing-masing telah memilih.***


Kiki Sulistyo, pengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Buku, Resensi

Pengenalan dan Penambahan

Oleh Bandung Mawardi

Pekerjaan serius dan besar dibuktikan Anton Kurnia berupa Ensiklopedia Sastra Dunia. Buku berukuran besar dan tebal pantas mendapat pujian. Ikhtiar semakin mengenalkan sastra dunia ke pembaca di Indonesia. Buku itu biru, memberi ajakan berkelana dengan penasaran dan ketakjuban mengenali para pengarang tenar dari pelbagai negara, dari masa ke masa. Ensiklopedia cenderung ke tokoh meski agak memberi uraian mengenai buku dan pemerolehan penghargaan. Keinginan mengenali pengarang tak lekas bermula di sampul buku. Di situ, pembaca tak usah berharap melihat foto para pengarang. Gambar di sampul anggaplah penghiburan, sebelum pembaca terjerat di renungan atau terpana tak berkesudahan.

Buku dipersembahkan ke pembaca di Indonesia yang bernafsu membaca ratusan buku sastra dari pelbagai negara dan memiliki daftar pengarang pujaan. Di Ensiklopedia Sastra Dunia, kita masih mendapat lega bahwa ada nama-nama pengarang asal Indonesia “diakui” termasuk pengarang bertaraf internasional: Pramoedya Ananta Toer dan Eka Kurniawan. Jumlah memang sedikit ketimbang para pengarang asal Jepang, Tiongkok, Amerika Latin, Rusia, Prancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Arab, India, Afrika, dan Amerika Serikat. Buku susunan Anton Kurnia itu memang pantas meresmikan dua pengarang Indonesia di tatapan sastra dunia, tak cuma lingkup nasional.

Sekian nama pengarang besar sudah dikenalkan melalui terjemahan-terjemahan, sejak awal abad XX. Dulu, para pengarang di masa 1920-an sudah getol menerjemahkan sastra dunia ke bahasa Indonesia. Pada masa 1950-an, kerja penerjemahan itu semakin menguat untuk menjadikan sastra dunia terbaca atau tebar pengaruh di Indonesia. Pesta sastra terjemahan terasa di masa 1970-an. Buku-buku persembahan para pengarang meraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize berlimpahan dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia. Sekian babak menentukan pengenalan pengarang dan buku sastra bertaraf internasional itu tercatat rapi dan dokumentatif dalam buku berjudul Dari Khasanah Sastra Dunia (1985) susunan Jakob Sumardjo. Buku sudah langka, tak ada di daftar pustaka dalam Ensiklopedia Sastra Dunia. Anton Kurnia mungkin pernah membaca tapi sengaja tak memilih jadi referensi.

Pada 1991, pembaca atau peminat sastra Prancis dimanjakan dengan penerbitan Kamus Karya Sastra Perancis susunan M Bouty. Kamus bermutu memuat ulasan buku-buku sastra Prancis dan cuilan-cuilan biografi. Kamus dibaca dengan pengenalan ke buku-buku tercatat penting di sejarah kesusastraan Prancis atau dunia. Buku itu pernah digunakan dalam pengajaran sastra di sekolah dan penuntun bagi penerjemah. Buku juga berwarna biru tapi tak dipilih Anton Kurnia sebagai referensi.  

Kita menemukan para pengarang Prancis mendapat perhatian besar di Ensiklopedia Sastra Dunia. Pembaca berkenalan dengan Albert Camus, Alexander Dumas, Anatole France, Andre Breton, Andre Gide, Andre Malraux, Antoine de Sain-Exupery, Arthur Rimbaud, Emile Zola, Francois Mauriac, Guillaume Apollinaire, Guy de Maupassant, Honore dan Balzac, dan lain-lain. Anton Kurnia memiliki cara kerja dan selera berbeda untuk mengenalkan para pengarang dunia ke pembaca di Indonesia. Ia menjelaskan: “Sebagai sebuah ensiklopedia sederhana dan pengantar menjelajah khazanah sastra dunia, buku ini memuat ikhtisar sejarah sastra dunia sejak ribuan tahun lampau, profil 335 sastrawan terkemuka dari pelbagai penjuru dunia dan zaman.” Bahan-bahan diperoleh dari buku, majalah, koran, situs internet, ensiklopedia digital, dan catatan pribadi.

Pembeli dan pembaca Ensiklopedia Sastra Dunia dijanjikan mendapat pengantar bermutu. Di halaman 38, kita melihat foto dan membaca profil Andre Gide (1869-1951), pengarang asal Prancis. Ia meraih Nobel Sastra 1947. Pembaca di Indonesia sudah bisa membaca gubahan Andre Gide melalui terjemahan Chairil Anwar berjudul Pulanglah Si Anak Hilang (1948). Dulu, sastra dunia lekas terbaca dan memikat para pengarang di Indonesia tak perlu menunggu lama di edisi terjemahan bahasa Indonesia. Novel pertama Andre Gide berjudul La Orte etroite (1909). Novel apik dan sudah difilmkan berjudul La symphonie pastorale (1919). Kita beruntung meski terlambat mendapat edisi terjemahan bahasa Indonesia oleh Apsanto Djokosujatno, dijuduli Simfoni Pastoral (1987) terbitan Djambatan.

Kita pun disuguhi profil peraih Nobel Sastra 2017 bernama Kazuo Ishiguro. Nama sudah dikenali para pembaca di Indonesia meski tak setenar Haruki Murakami. Novel-novel gubahan Kazuo Ishiguro sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia tapi tak selaris terjemahan novel-novel Haruki Murakami. Dua pengarang itu bersaing meraih Nobel Sastra, berbeda resepsi umat pembaca di Indonesia. Anton Kurnia menginformasikan ke pembaca: Kazuo Ishiguro dilahirkan di Nagasaki, 1954. Ia hijrah ke Inggris, tekun menulis cerpen dan novel. Sekian novel telah terbit dan mendapat penghargaan: A Pale View of Hills (1982), An Artist of the Floating World (1986), The Remains of the Day (1989), Unconcoled (1995), dan When We Were Orphans (2000).

Pengarang sudah meraih Booker Prize, Nobel Sastra, dan Pulitzer Pirze memang belum menjamin mendapat pembaca fanatik di Indonesia. Pada masa lalu, ada nama-nama besar meraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize tapi jarang diperbincangkan di kalangan sastra Indonesia. Buku mereka sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Nasib mereka belum untung. “Sial” berlanjut gara-gara tak dikenalkan Anton Kurnia meski cuma uraian singkat.   

Pada 1972, terbit buku berjudul Barabas gubahan Par Lagerkvist, peraih Nobel Sastra 1951. Novel mula-mula terbit di Swedia (1950) itu “dituturkan kembali dalam bahasa Indonesia” oleh B Simorangkir. Pembaca buku berpenampilan sederhana terbitan BPK Gunung Mulia beruntung mendapat secuil biografi pengarang. Par Lagerkvist lahir di Swedia, 1819. Selama hidup, ia pernah tinggal di Denmark, Prancis, dan Italia. Pada 1930, ia menetap di Stockholm, Swedia. Barabas telah diterbitkan di Indonesia tapi tak menjadi sumber perbincangan dan memicu kekaguman. Buku itu berlalu.

Para pembaca sastra dunia pernah pula disuguhi buku berjudul Desa Kita. Buku drama tiga babak gubahan Thorton Wilder itu diterjemahkan oleh Bakdi Soemanto, diterbitkan Sinar Harapan, 1992. Penerjemah memberi keterangan mengenai penulis dan buku. Desa Kita itu terjemahan dari Our Town (1938). Buku menjadi pemenang Hadiah Pulitzer. Pengarang asal Amerika Serikat itu semula menulis novel berjudul The Bridge of San Luis Rey (1928), mendapat pula Hadiah Pulitzer. Buku berjudul Desa Kita sulit laris dan belum menjadikan umat sastra dan teater di Indonesia untuk (semakin) mengenali Thorton Wilder.

Dua pengarang tak mendapat halaman pengenalan atau dimunculkan dengan foto di Ensiklopedia Sastra Dunia. Dua nama itu cuma ada di daftar peraih Nobel Sastra dan Pulitzer Prize. Kita tak usah menggugat Anton Kurnia atas pengabaian dua pengarang besar asal Swedia dan Amerika Serikat. Kita mendingan menuliskan profil mereka di kertas lalu menaruh di sela-sela halaman buku.

Sejak mula, Anton Kurnia sudah menginsafi: “Buku semacam ini tentu juga akan memicu kontroversi—mengapa penulis ini tidak dimasukkan…” Pengerjaan Ensiklpoedia Sastra Dunia memiliki patokan-patokan belum tentu dimufakati para pembaca. Anton Kurnia pun mengingatkan bahwa pemilihan pengarang ditentukan pencapaian dan pengaruh buku-buku dalam peta sastra dunia. Pekerjaan serius dan besar sudah dipersembahkan ke pembaca. Kita mengaku “untung” saja ketimbang sewot tapi malas mencari informasi-informasi tambahan. Begitu.  


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com

Buku, Resensi

Narasi Futuristik Kepala

Oleh Setyaningsih

Ada suatu anekdot ihwal kepala yang beredar di masa sekolah. Guru selalu mengatakan untuk melepaskan kepala di rumah atau tidak usah membawa kepala ke sekolah setiap kali murid terlihat lungkrah melenakan kepala di meja. Melepaskan kepala di sini benar-benar lebih dekat ke arti harfiah, bukan secara metaforis mewakili tindakan untuk tidak menggunakan isi kepala (otak) atau berpikir. Namun, begitu membaca novel eksperimental Cara Berbahagia Tanpa Kepala (2019) garapan Triskaidekaman, melepas kepala yang sungguh-sungguh memisahkan kepala dari badan memang menjadi peristiwa yang sangat realis.

Kepala adalah penanda eksistensial. Secara birokratis, kepala mengingatkan pada jabatan-jabatan penting, seperti kepala pusat, kepala negara, kepala sekolah, kepala desa, kepala keluarga, dan kepala-kepala lain yang berada di tempat tertinggi untuk membawahi setiap (anggota) badan. Kerja (berpikir) yang dilakukan kepala pun sering lebih dihargai daripada kerja (bertenaga) dari badan. Bisa dikatakan segala ritual komersial sampai spiritual, paling bisa dialami kepala. Triskaidekaman menulis, “Kepala adalah sumber segala mudarat dan ide keparat. Rumah segala kisah Ayah pengecut bertempat, segala uang di mata dan pukas Ibu, dan kitaran orang yang cuma berpura-pura sayang. Sedangkan badan cuma bisa menurut. Kepala paling rajin terpelihara—sebut saja sampo, calir muka, maskara, hingga celak, dan gincu merona. Badan belum tentu. Kepada beda di setiap orang—terima kasih Muka—hingga setiap baru berkenalan, selalu kepala yang dilihat duluan” (hal. 5).

Triskaidekaman tidak secara gamblang menyebutkan penahunan peristiwa meski cerita jelas terjadi di Jakarta sebagai kota percaturan sengit hidup para kepala. Dalam narasi futuristik ini, teknologi tidak lagi hadir untuk membantu, manusia sendiri sudah menjadi tubuh mekanis yang bekerja selayaknya komputer. Anggaplah pembayangan futuristik bukan hal mengagetkan, semacam layanan ketubuhan; pijat, perawatan wajah, sulam alis, atau perbaikan ukuran kelamin, tentu dengan upaya lebih canggih. Tokoh utama lelaki, Sempati, mengikuti program “Bebaskan Kepalamu” yang menjanjikan keringanan beban hidup khas urban. Sempati tidak perlu khawatir mati atau kehilangan kemampuan mengindra dan keraiban segala kenangan. Segala hal sudah dicadangkan sebuah kandar kilas alias flashdisk. Selain itu ada pencadangan fungsi otak di dengkul dan selangkangan, sepertinya inilah cara Triskaidekaman mendestruksi kehormatan kepala.

Tragisme Urban

Sejak awal, Sempati memang sudah merasakan ketidakkesinkronan kepala dan badan. Harapan hidup sejahtera juga pupus; kendaraan, karir, kemapanan finansial, kekasih, dan keutuhan keluarga yang paling mustahil dicapai. Sejak kepala dipisahkan, kepala lebih berotoritas menenggak kebebasan, “Kini, kepala itu bebas memuaskan segala keinginan yang tak pernah direstui badan sewaktu mereka bersama dulu. Kedai tenda. Makan seporsi sate dua belas tusuk. Minum teh manis yang cokelat pekat. Berkeliling taman kota. Menonton tingkah polah manusia. Mencerap pergerakan peradaban menjelang padamnya lampu jalan. Mampir dan mengintip ke dalam rumah binal, mencari sepotong adegan yang banal sampai yang seksual. Semakin menjadilah kebencian kepala Sempati kepada badannya. […] Setelah sekian lama, kini saatnya: kepala Sempati membentuk otonomi sendiri, merdeka dari badan yang memenjarakan” (hal. 55).

Tentu, Triskaidekaman membawa Sempati pada konflik paling gawat: kecurian kepala. Kepala Sempati benar-benar hilang dicuri, padahal kepala harus tetap dimiliki agar tidak mati. Sekali lagi, kepala tetaplah penanda eksistensial manusia, “Kaki dan tangan tak berwajah, takkan pernah menandingi kepala. Beberapa kaki dan beberapa tangan berajah-bertahilalat-bertanda lahir, tetapi begitu bercerai dari tuannya, yang diingat tetaplah wajah dan hanya wajah. Tuan adalah wajah dan wajah adalah tuan.” Dalam perjalanan badan dan kepala saling mencari, terungkap masa lalu traumatis Sempati sebagai anak. Dia harus menghadapi kenyataan dilahirkan dalam keluarga yang berantakan, dihantam masa lalu asmara ibunya yang rumit, pertengkaran orangtua, pengkhianatan, kecacatan dan balas dendam, keterabaian. Kepala yang terlepas justru mengungkap segala yang tidak membahagiakan khas urban.

Di sini hadir Semanggi, bapak tapi bukan bapak biologis yang karena tidak memiliki kedigdayaan ekonomi membesarkan anak, memilih menjadi jam tangan. “Saya akan menjadi sebuah jam tangan. Penunjuk waktu yang mengingatkannya untuk hidup teratur. Pengingat bahwa waktunya terbatas. Pengingat bahwa dia akan tumbuh besar, akan menyakitkan banyak hal” (hal. 194). Waktu adalah hal yang bernas sekaligus menakutkan bagi manusia. Terutama dalam persepsi modern, waktu menentukan capaian hidup sebagai manusia sukses, menantang tapi tidak tertaklukkan.

Narasi futuristik kepala Triskaidekaman tentu harus mengadopsi diksi-diksi teknologi perkomputeran. Sekalipun diksi perkomputeran lumrah hadir dalam bahasa Inggris, Triskaidekaman tetap mengupayakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik untuk mengganti sebagian diksi-diksi teknologi ataupun narasi tutur novel. Pembaca akan sering menemukan diksi-diksi yang barangkali masing sangat asing, tapi sebenarnya telah terdaftar di kamus resmi bahasa Indonesia.

Pemilihan tema yang eksperimental-futuristik dengan pengemasan tragisme lewat strategi bahasa dan pilihan diksi memang menonjol sebagai cara bertutur Triskaidekaman. Cara ini sekaligus mengakali kisah tragisme manusia urban yang bisa kita rasa sangat lumrah berkisar di prosa mutakhir Indonesia. Strategi bertutur Cara Berbahagia Tanpa Kepala berkemungkinan mengemas yang lumrah, demi berhasil menegangkan dan menolak membosankan.


Setyaningsih, Esais. Pembaca Buku. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Buku, Resensi

Pada Batas Kematian

oleh Rizki Amir

Perkembangan naskah lakon yang diterbitkan menjadi sebuah buku dalam satu tahun dapat dikatakan sangat lemah. Tak banyak penerbit, baik indie maupun mayor, yang mau bergerak di lingkaran yang sepi pembeli. Selain itu, seorang penulis lakon drama juga harus memutar otak bagaimana caranya agar naskah yang ada bisa enak dibaca. Sebab, di dalam teks lakon, tokoh-tokoh yang dihadirkan untuk sebuah pementasan harus mampu hidup dengan tanda yang dapat dihapus dan menggerakkan sebuah hubungan yang dalam antara premis dan lapis.

Tapi tidak. Tidak untuk premis dan lapis yang dibawa buku naskah lakon Di Seberang Sana karya Yusril Ihza. Ia justru hidup dari naskah yang sudah ada: Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang. Yang menjadikannya tampak berbeda adalah pergeseran peran sutradara: bukan lagi sebagai pemegang tunggal pementasan. Ia turut serta sebagai salah satu tokoh dan hadir sepenuhnya untuk menimbulkan kesan lain agar teks tak hanya bergerak ke satu arah.

Lakon di dalamnya berangkat dari celah latar panggung yang gelap: dalam salah satu adegan, tokoh Sang Sutradara berusaha menghentikan tokoh Sang Aktor untuk sekali lagi menggali keaktorannya dan kembali mempertanyakan bagaimana jika ternyata kematian seorang tokoh bukanlah puncak dari pertunjukan, di balik panggung beberapa belas menit menjelang pentas dimulai. Dan sialnya, hal itu justru berkembang menjadi argumen (atau racauan?) yang tidak mudah dipatahkan.

Sang Sutradara menganggap semua itu percuma adanya, sebab dalam naskah dikatakan, cinta harus memahami bahwa dirinya fana dan tunggal. Ada gerak lambat yang coba disampaikan. Ada rasionalitas yang ditunjukkan untuk melahirkan sesuatu. Tapi mungkin itu belum cukup kuat untuk mengaitkan iman dengan laku dan kehendak melalui proses “berpikir”. Salah satu kutipan:

…..

AKTOR

Bulan Bujur Sangkar mengancamku untuk mengimani sesuatu yang tidak aku yakini kebenarannya. Bulan Bujur Sangkar memaksaku untuk mengatakan “Aku membunuh, oleh sebab itu aku ada!”.

SUTRADARA

Apa perlunya kau benar-benar merasakan kematian atau ingin memotong pembuluh darahmu sendiri hanya untuk sebuah pertunjukan?

AKTOR

Orang Tua dan kematian, keduanya bergelayutan di tiang gantungan. Tentang nasib yang ditanggalkan atau sekadar permainan untuk menghibur kegalauan absurditas selama 60 tahun lamanya. Itulah aku, sebagai tokoh utama pada pertunjukan malam ini.

(hal. 8)

Tampaknya melalui dialog antara Aktor dan Sutradara itu mengatakan bahwa naskah Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang, yang akan diperankan, lahir dalam keadaan absurd. Sebab perlawanan di balik tirai normalnya hanya bisa dilakukan aktor secara terbatas: dengan diam atau membangunkan rasa takut. Tapi di dalam teks, Yusril tidak tertarik untuk memilih keduanya. Ia malah meletakkan lakon baru di batas antara yang riil dan yang subtil dari lakon yang sudah ada.

Lakon Di Seberang Sana tidak hanya menawarkan kerangka berpikir tertentu dalam melihat bagaimana jalin-kelindan antara manusia sebagai pelaku yang berkehendak dengan kenyataan kesehariannya, tetapi juga hubungan timbal balik itu bisa seiring dalam upaya mendialogkan antara gagasan teks dengan kenyataan dalam kehidupan.

Sebagai orang yang menghidupi teater, Yusril tidak hanya melakukan strategi “manipulatif” yang artistik, tetapi juga bagaimana pemikiran tentang pencarian makna dari kematian yang memiliki banyak tanda berujung pada kepasrahan diurai sedemikian rupa. Tentu saja, praktik keyakinan semacam itu perlu juga dibaca sebagai teknik permainan berdasarkan metode dan sistem pementasan.

Coba kita cermati batas antara teks itu kembali. Dengan memandang laku dengan keraguan, Sang Aktor sadar akan kehidupan di luar teater yang tragis; ia menganggap Sang Sutradara bukanlah seseorang yang paling tahu tentang peran yang diciptakannya. Bisa kita lihat, Sang Aktor—sang aktor yang bukan lagi dari naskah Iwan Simatupang—telah melihat dari dekat, bahwa panggung adalah kontradiksi. Sementara itu Sang Sutradara kita, dalam keyakinannya yang lurus, ia tak pernah berubah. Tak akan pernah berubah.

Bagian paling ganjil dan menggelikan dalam buku lakon itu adalah dengan menyuguhkan perbincangan kaku, misalnya, dengan mengutip harakiri untuk berserah pada kematian dan disambut dialog lempeng adanya—dan di beberapa titik, pembaca pun jadi terjebak pada keberulangan. Ikatan dialog antar tokoh lebih diperkuat di beberapa tik-tok sebelum naskah usai. Sebagai contoh kata Sang Sutradara: “Pada akhirnya, kau masih belum bisa memaknai kehidupan di atas panggung. Kalau begitu, aku akan mengakhiri pertunjukan ini tanpa tepuk tangan. Selamat malam.” (hal. 20)

Kenapa dialog antar tokoh yang ditulis seakan-akan bersifat problematis? Bisa jadi, melalui buku lakon drama ini, Yusril ingin menjadikan eksistensi sebagai subjek wacana dan secara bersamaan memberikan kesadaran baru tentang bentuk-bentuk kematian. Bagaimana pun juga ada sesuatu yang tidak akan selesai, yang menyebabkan lakonnya tidak utuh: motif yang ditawarkan naskah Bulan Bujur Sangkar sebagai pondasi penciptaan memiliki standar ganda. Meskipun, saya pikir, itu hanya salah satu sebabnya.

Namun, terlepas dari hal itu, para pengkhusyuk sastra-teater, khususnya wilayah Jawa Timur, kini setidaknya telah mengantongi satu nama baru dari kota Surabaya: Yusril Ihza, seorang pemuda yang menulis naskah drama, yang akan menambah variasi bacaan kita di babak baru percaturan dunia sastra-teater.


Rizki Amir lahir di Sidoarjo, 1995. Terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Rahasia Pasar (2017). Terpilih sebagai penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2017. Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.