Buku, Resensi

Bertemu (Mantan) Penyair

Oleh M. Fauzi Sukri

Bandung Mawardi berperistiwa penemuan puisi. Peristiwa pertemuan itu terjadi melalui majalah-majalah lawas dari tahun 1950-an sampai tahun 1980-an. Bukan melalui buku puisi atau puisi yang dimuat di koran. Dalam pertemuan itu, Bandung Mawardi melakukan kerja semiotik, analisis sosiologis (meski minimalis), pemaknaan historis, dan sesekali merasakan rasa estetik puisi (meski yang sangat sedikit).

Dari esai ke esai berikutnya, kita dihadapkan pada pertanyaan sederhana: esai-esai yang disuguhkan kepada pembaca ini pertemuan dengan puisi atau pertemuan dengan penyair. Secara umum, yang kita temukan dalam esai-esai Bandung Mawardi ini adalah pertemuan dengan penyair yang diperantarai puisi. Sedangkan puisi itu sendiri lebih banyak diposisikan sebagai dokumen sejarah, bukan sebagai dokumen estetika puisi.

Bandung Mawardi tampak hendak mengungkit-mengungkap kepada pembaca mutakhir: seperti apa puisi yang pernah ditulis seorang yang kemudian menemukan makna kata-kata bahasa Indonesia dengan sangat suntuk serius; seperti apa puisi-puisi yang ditulis penyair muda yang sekarang sudah jadi penyair terkenal dan karyanya diakui pembaca sastra Indonesia mutakhir.

Dari pertemuan Bandung Mawardi dengan puisi-puisi di majalah lawas, kita tahu bahwa cukup banyak penyair yang menulis di masa muda. Radhar Panca Dahana menulis puisi pada umur 15 tahun dengan nama Rpd Reza Morta Vileni. Puisinya dimuat di majalah Zaman 1980. Sampai sekarang Radhar Panca Dahana masih menjadi penyair selain sebagai budayawan. Dari penelusuran majalah lawas, kita juga mendapati sekian tokoh yang pernah menulis puisi tapi sekarang sudah menjadi mantan penyair.

Kita bertemu dengan puisi Soesilo Toer yang menulis puisi pada usia 16 tahun. Begitu juga, puisi-puisi Rendra sudah bertebaran di berbagai media saat berumur 20 tahun. Bandung Mawardi menampilkan puisi Rendra yang dimuat di majalah Kisah. Pada umur 21 tahun, puisi Sobron Aidit dimuat di majalah Kisah pada tahun 1955. Poeradisastra atau Boejoeng Saleh tercatat pernah menulis puisi.

Bandung Mawardi juga mendapati puisi yang ditulis oleh kritikus seni rupa paling produktif di Indonesia: Agus Dermawan T. Sang kritikus seni rupa ini pernah menulis lima puisi yang dimuat di Horison pada 1974. Bandung Mawardi juga bertemu dengan mantan penyair yang dahulu pernah menulis puisi bagus tapi tidak lagi terkenal sebagai penyair. Inilah nasib yang dilakoni dan dipilih Budi Darma.

Dalam majalah Gadis (1978), Bandung Mawardi menemukan puisi yang ditulis oleh tokoh kondang nan penting dalam bahasa Indonesia: Eko Endarmoko. Tokoh penulis buku ampuh Tesaurus Bahasa Indonesia (2006) dan Tesamoko (2016) ini adalah mantan penyair.

Dan, jika sekarang Anda mengenal Seno Gumira Ajidarma sebagai sastrawan penting di dunia prosa (cerpen dan novel), siapa sangka dia pernah berhasrat menjadi seorang penyair dengan nama pena Mira Sato. Seno menulis puisi saat berumur 20 tahun. Pada masa itu, publik pembaca Indonesia jelas belum begitu kepincut dengan cerpen-cerpennya yang memukau.

Tentu saja, karena berbasis dokumentasi majalah lawas, Bandung Mawardi tampak juga mengungkit puisi-puisi jelek yang pernah ditulis penyair Indonesia pada waktu muda. Sekarang penyair-penyair ini sudah menjadi penyair terkenal dan puisi-puisinya diakui oleh publik sastra Indonesia.

Sapardi Djoko Damono menulis puisi, yang menurut Bandung Mawardi, pantas dicap sebagai bait “bait jelek” berjudul Sketsa Diri. Puisi ini ditulis tahun 1962 dan dimuat di majalah Basis—tempat Sapardi dahulu pernah menjadi salah satu redaktur sastra. Puisi Sketsa Diri ini hampir pasti tidak akan ditemukan dalam buku antologi puisi Sapardi. Namun, Anda bisa membaca petikannya di buku Bandung Mawardi ini. Kita juga bertemu dengan sastrawan nan penyair seperti Triyanto Triwikromo yang pernah menulis puisi dan, sekali lagi menurut Bandung Mawardi, puisi itu ternyata jelek.

Tentu saja, dalam kliping kritik sastra ini, kita mendapati puja-puji terhadap beberapa penyair khususnya Afrizal Malna, Sapardi Damono, dan Goenawan Mohamad.

Selain itu, ada beberapa penyair yang sangat mungkin tidak dikenali oleh penyair, seperti Paramitha atau Slamet Wibisono—untuk menyebut dua saja. Paramitha adalah anak dari penyair kondang Goenawan Mohamad. Slamet Wibisono menulis puisi “Untuk Pramoedya Ananta Toer” yang dimuat di majalah Medan Bahasa edisi Maret 1957. Slamet Wibisono menulis puisi dengan berbagai perasaan perihal perebutan penerjemahan buku sastra kanon dunia (Timur dan Barat) yang dilakukan sastrawan Indonesia pada tahun 1950an.

Jika kita tilik pola kliping kritik puisi yang dilakukan Bandung Mawardi ini, kita bisa mengatakan bahwa, pertama-tama, yang dipilih dan dibahas dari ‘penemuan’ puisi majalah lawas adalah sosok penyair itu sendiri, bukan puisinya. Jika kita meminjam judul buku A. Teeuw, Pokok dan Tokoh, yang ditulis Bandung Mawardi bukan terutama pokok puisi tapi tokoh penyairnya. Yang dihadirkan atau diketemukan Bandung Mawardi adalah lebih banyak tokoh penyair daripada puisi-puisi yang bersifat ‘kebetulan’ ditemukan kembali. Seandainya puisi-puisi yang ditemukan itu tidak begitu tersangkut paut dengan penyair yang jadi tokoh, puisi-puisi yang bertebaran di majalah lawas tidak jadi pilihan untuk diulas.

Kita sedikit sekali mendapati puisi dari penyair yang jelas-jelas tidak terkenal saat itu hingga saat ini. Bandung Mawardi juga tidak mengulas puisi yang tak punya hubungan yang menarik dengan sastra Indonesia mutakhir. Jelas ada semacam seleksi ‘pilih kasih’ dari puisi-puisi yang diulas dalam buku ini. Maka, “Mereka” dalam judul buku ini adalah jelas mereka yang masih punya jejak kiprah sastra sampai sekarang, khususnya yang sudah jadi tokoh.

Buku kliping kritik sastra dari Bandung Mawardi ini adalah lebih banyak peristiwa pertemuan kembali dengan jejak masa lalu tokoh penyair besar atau sastrawan besar melalui jalur puisi. Dalam pertemuan itu, Bandung Mawardi melakukan dialog antara karya masa lalu dan sastra(wan) masa kini. Di sinilah kita melihat bagaimana pertemuan-pertemuan yang diperantarai puisi bisa berubah menjadi pujaan tapi juga bisa sindiran bahkan ejekan.


M. Fauzi Sukri, penulis Bahasa Ruang, Ruang Puitik (Basabasi, 2018)

Buku, Resensi

Ekonomi Feminin

Oleh Royyan Julian

Melihat dunia yang kian rigid barangkali menjadi titik balik yang membuat orang menyoal ulang keyakinan tentang yang ideal. Dunia manusia dibangun di atas kebudayaan yang bercorak maskulin. Budaya adalah laki-laki, alam ialah perempuan. Budaya, dengan individualitasnya yang egois, telah menyisihkan alam ke sudut tersembunyi. Alam/perempuan punya peran penting sebagai bahan bakar kebudayaan/laki-laki, tetapi tak kasat. Seperti bensin di tangki motor.

Tanggal 21 April lalu, novelis cum feminis Indonesia, Ayu Utami membuat catatan reflektif di halaman Instagram-nya: “… Pekerjaan domestik ini tidak menabung apa-apa selain kehidupan anak atau orang lain. Karir selalu mengandung akumulasi (entah reputasi, uang, dll), tapi pekerjaan rumah tangga ini tidak. Padahal betapa pentingnya…. Di Hari Kartini ini ada baiknya kita melihat emansipasi dengan cara terbalik. Bukan cuma perempuan perlu emansipasi agar bisa masuk ke dunia publik (yang kini identik dengan karir, status, dll), tapi agar kita semua menghargai dunia domestik, dunia yang menumbuhkan dan memelihara hidup, yang umum dianggap sebagai dunia perempuan dan tidak dihargai….”

Persis seperti itulah yang ditulis Katrine Marçal dalam buku Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith? Kritik atas ilmu ekonomi liberal dibongkar dengan menghadirkan sosok ibu Adam Smith yang berperan krusial sepanjang hidupnya, tetapi paradoks dengan teori yang dibangunnya bahwa “bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan diri mereka sendiri.” Dengan perspektif feminisme, Marçal meneropong cacat dan ironi Homo economicus sebagai agen dalam ilmu ekonomi Adam Smith.

Mereplikasi teori fisika mekanistik Newtonian, ilmu ekonomi Adam Smith menggantungkan kesejahteraan masyarakat kepada kepentingan individu. Jika individu berpegang teguh pada prinsip kepentingan diri, kemakmuran komunal dapat dicapai. Adam Smith menggunakan metafora ‘tangan tak terlihat’ (invisible hand) yang bekerja secara tersembunyi—dalam tata ekonomi—dan bermanfaat secara sosial berkat tindakan individu.

Individu egois tersebut bernama ‘manusia ekonomi’. Manusia ekonomi diandaikan sebagai pribadi rasional, dingin, egois, terisolasi, independen, aktif, objektif, kompetitif. Karakter tersebut secara natural dianggap melekat pada sosok laki-laki yang beroposisi dengan sifat perempuan (emosional, hangat, altruis, komunal, dependen, pasif, subjektif, kooperatif). Dengan logika tersebut secara otomatis apa yang disebut sebagai manusia ekonomi adalah figur yang memiliki tabiat maskulin. Laki-laki adalah norma universal dan kemanusiaan bersinonim dengan maskulinitas. Di luar itu adalah liyan—adalah jenis kelamin kedua.

Maka, ketika meruyup ke dunia ekonomi, perempuan akan dipaksa bernapas dalam atmosfer yang berputar dengan mekanisme logika laki-laki. Walhasil, dengan keruwetan urusan domestik—yang sebagian besar masih dibopong perempuan karir—ditambah kompleksitas biologisnya, perempuan menjadi inferior di dunia yang sepenuhnya dipahat laki-laki. Upah rendah perempuan, misalnya, Marçal jelaskan secara dialektis dengan mengajukan argumen Mazhab Chicago yang membingungkan. Oleh karena itu, klaim bahwa manusia ekonomi tidak berjenis kelamin atau netral patah ketika dihadapkan pada kondisi diskriminatif yang dialami perempuan di dunia profesional.

Individualitas dalam imajinasi kolektif ilmu ekonomi secara alamiah dianggap memang watak manusia dari sononya. Potret janin karya Lennart Nilsson dicomot sebagai analogi manusia ekonomi; individu swasembada. Fetus dikesankan sebagai individu yang mengapung sendirian. Rahim direduksi hanya sebuah ruang. Tubuh dan peran ibu dimutilasi. Realitas zoom in foto-foto Nilsson jauh panggang dari api. Kenyataannya, selama mengambang dalam peranakan, jabang bayi terus-menerus melakukan kontak dan bergantung kepada raga ibu.

Homo economicus sebagai citra ideal yang dianggap natural menyangkal sifat manusia yang selalu bergantung kepada liyan. Bahkan, identitas manusia ekonomi yang individualistik harus kontradiktif dengan dirinya sendiri yang membutuhkan orang lain sebagai kompetitor. Yang nyaris tidak bisa ditampik, sejarah keberhasilan laki-laki sebagai manusia ekonomi membutuhkan perempuan yang menyiapkan makan malam, membersihkan tempat tidur, merawat, mencucikan pakaian; untuk lari dari kerasnya dunia, melabuhkan luka, menyeimbangkan jiwa.  

Sumber daya yang berasal dari moralitas primordial perempuan merupakan konsekuensi dari perbedaan dikotomis antara laki-laki dan perempuan. Dalam dunia ekonomi yang bertumpu pada akumulasi kapital, kerja perasaan dan altruisme bukan bagian dari mata pencaharian.  Ekonomi dan perawatan adalah dua hal yang terpisah. Hasil kerja domestik perempuan tidak dapat dicandra, tidak memengaruhi kemakmuran, sukar dikuantifikasi, sebab ia adalah siklus: “Debu yang disapu menumpuk lagi. Mulut yang sudah diberi makan kembali lapar. Anak-anak yang tidur kembali bangun. Selesai makan siang, waktunya mencuci piring. Setelah mencuci piring datanglah makan malam. Dan piring kotor kembali perlu dicuci.” Sirkulasi kerja yang tak kekal tersebut berakar dari ontologi perempuan yang karnal dan irasional, mata air cinta. “Para ekonom kadang bercanda,” catat Marçal, “jika seorang laki-laki menikahi pembantu rumah tangganya, PDB (produk domestik bruto) negaranya turun. Jika, sebaliknya, ia mengirimkan ibunya ke panti jompo, PDB negaranya naik lagi.”

Feminisme gelombang kedua menggiring perempuan memasuki dunia kerja. Bagi Marçal itu tidak benar. Yang tepat, perempuan bermigrasi dari pekerjaan tak berbayar ke profesi bergaji; dari ranah domestik gratisan ke aras publik berupah. Itu pun perempuan harus bergelut melawan ketidakadilan yang lahir dari regulasi seksis kebijakan ketenagakerjaan. Ketika kerja keperawatan menjadi profesional—di rumah sakit atau semacamnya—ia diupah murah. Sebab cinta tidak boleh diperdagangkan. Akhirnya kerja perempuan tetap menjadi perekonomian kedua—meminjam istilah Second Sex Simone Beauvoir.

Kapitalisme yang eksploitatif sebagai anak kandung ekonomi liberal perlu dipulihkan dengan melibatkan perempuan secara adil. Ilmu ekonomi seharusnya tidak mencerabut manusia dari kodratnya sebagai makhluk yang memiliki ikatan dengan yang lain. Teori ekonomi yang menyertakan perempuan dengan spirit kesetaraan akan menjadi penyeimbang individu egois yang digerakkan oleh kepentingan diri, setan loba, dan rasa takut. Namun, visi ilmu ekonomi belum beranjak sejauh itu. Harus ada yang memasak steik agar Adam Smith  bisa berkata bahwa menyiapkan makan malam itu tidak penting.


Royyan Julian adalah penulis yang tinggal di Pamekasan. Buku mutakhirnya berjudul Ludah Nabi di Lidah Sykeh Raba (2019). Ia bergiat di Sivitas Kotheka dan Universitas Madura.

Buku, Resensi

Revolusi dari Ladang Bawang dan Gandum

Oleh Setyaningsih

Puisi-puisi Pablo Neruda (1904-1973), meski diberi judul 100 Soneta Cinta (2019) yang secara personal dipersembahkan kepada seorang perempuan sekaligus istri dari pernikahan ketiga, Matilde Urrutia, adalah cara lain untuk mencintai kejelataan, rakyat, alam, negeri. Neruda sengaja tidak memilih cara yang keras atau megah seperti tertulis di persembahan, “Tetapi, dengan penuh kerendahan hati, aku membuat soneta-soneta dari kayu belaka; aku memberi mereka bunyi dari benda yang kusam dan murni ini, dan begitulah mereka akan menyentuh telingamu.”

Sebagai penyair yang turut dalam percaturan politik Cile, puisi-puisi Neruda memang suara dari revolusi yang tenang. Di sini, unsur tetumbuhan begitu lekat muncul sebagai metafora sekaligus lanskap kehidupan rakyat yang dekat dengan tanah, matahari, keringat, batu bara, dan kehidupan. Tetumbuhan pernah hadir memperdengarkan manis dari cinta, di sisi lain tepat menggambarkan manis peluh perjuangan.

100 Soneta Cinta terbagi dalam empat babakan waktu; Pagi, Siang, Petang, Malam dengan penomoran romawi. Cerap puisi I, Matilde, nama tetanaman atau anggur atau batu,/ semua apa yang berasal dari bumi dan bertahan:/ kata kepada siapa tumbuh mekar pagi permulaan,/ kepada siapa kemarau memancarkan kilau limau./…/ O nama yang telentang telanjang di selusur bunga/ seperti sebuka pintu menuju lorong labirin rahasia/ yang mengabarkan dan mengobarkan wangi dunia!

Rubrik Iqra majalah Tempo, 6 Mei 2001, menampilkan ulasan tentang peraih Nobel Sastra 1971 berjudul “Pablo Neruda, Batavia, dan Kudeta”. Pada 1930, Neruda sempat dikirim ke Batavia sabagai staf konsulat Cile. Inilah masa-masa penuh kesepian akut dan tidak teredakan meski Neruda menikah dengan perempuan Jawa-Belanda. Selama dua tahun di Batavia, lahirlah puisi-puisi yang cenderung gelap dan surealis. Saat kembali ke Santiago pada 1952, Neruda beralih ke hal-hal biasa yang sangat keseharian. “Ia menulis ode untuk benda-benda remeh-temeh sehari-hari yang menjadi bagian hidup orang jelata seperti bawang, seledri, garam, gunting, tomat, sikat gigi, sepatu tua, dan anggur. Menurut Neruda, sebuah cakrawala benda yang tumbuh dalam bauran keringat, asap, diliputi bunga bakung dan air kencing. Benda-benda yang menurutnya dimiliki sosok rakyat dan dipenuhi noda tetesan sup.”

Peralihan corak puisi juga dipengaruhi oleh sikap politik Neruda yang menguat antara 1943-1947. Dengan melibatkan diri di Partai Komunis Cile dan terpilih menjadi senator, mendukung pemogokan besar pekerja tambang melawan kekuasaan Gonzalez Vida yang pro asing, melawan kediktatoran militer, justru menguatkan potret kejelataan dan perlawanan tenang dalam puisi-puisi. Politik memang ganas, puisi meredakan. Cerap, puisi XXXVI, Kekasih hatiku, ratu di sarang lebah dan pekarangan,/ macan kecil dari untaian benang dan bawang-bawang,/ aku senang memandang kerajaan kecilmu berkilauan:/ anggur, minyak, dan cahaya lilin yang serupa pedang,/ bawang putih, dan tanah yang terbuka bagi tanganmu,/ bahan-bahan biru yang berpendar di telapak tanganmu,/ perpindahan dari alam mimpi ke lembar-lembar selada,/ seekor ular yang melingkar di ladang, di parit-paritnya.

Terutama nuansa agraris hadir di puisi Neruda yang begitu romantik bersahaja memang suatu ironi saat Amerika Latin dirongrong kekuatan asing dan dibawa ke arus industrialisasi yang destruktif. Dari bawang, lembar selada, ulat, ladang, atau anggur, hadir pernyataan sikap moral Neruda untuk mencintai rakyat, negeri, dan Matilde secara khusus. Dari keterlibatan politik dan pengasingan yang keras, pembaca justru mendapati ketakjuban dari hal-hal yang tampak biasa saja.

Tentu, nuansa cinta yang sensual tetap masih dapat tersimak seperti pada puisi XII, Perempuan penuh, daging-tubuh apel, bulan panas berkobar,/ kental aroma rumput laut, lumpur dan sinar yang menyamar,/ rahasia terang macam apa yang terkuak dari tiang-tiangmu?/ Malam purba apa yang lelaki mampu sentuh dengan akalnya? Namun, Neruda bisa saja membolak-balikkan persepsi kita pada kemolekan perempuan yang sebenarnya menunjukkan kemolekan (tubuh) alam. Di sini, gejolak keseharian jauh dari yang politis sanggup diwakili, salah satunya oleh gandum yang menghidupi dan dihidupi setiap rakyat. Cerap puisi XIII, Rerumputan gandum padamu, pada hari yang baik,/ pada musim panen, serbuk tepung itu mengembang:/ bagaikan adonan yang tumbuh jadi buah dada cantik./ Cintaku, menunggu di bumi, adalah bara batu arang.

Kecintaan Neruda pada rakyat pun direkam oleh novelis kelahiran Cile, Antonio Skármeta, di novel Il Postino (2002) dalam hari-hari terakhir Neruda di desa nelayan Isla Negra. Neruda mengatakan kepada Mario si tukang pos bahwa dia lebih butuh penggali kubur daripada dokter, “Penggali kubur adalah profesi terhormat, Mario. Tidakkah kau ingat dalam Hamlet penggali kubur berkata: Tidak ada gentlemen kuno kecuali tukang kebun, penggali parit, dan para pembuat liang kubur; merekalah para penerus profesi Adam.” Gubahan Shakespeare tidak hanya referensi dalam kehidupan bersastra. Ada penghormatan sekaligus kekudusan besar dari profesi yang bersentuhan dengan hal-hal “bawah” secara harfiah maupun esensial.

Mereka yang dekat dengan tanah, tetumbuhan, dan keringat justru mewujudkan religiositas sehari-hari. Di puisi C, Neruda menulis, Alangkah indah dunia! Alangkah wangi peterseli!/ Di hamparan kemanisan, O kapal yang mengarungi! Dan kau, barangkali, permata—dan aku, barangkali./ Tidak akan ada lagi perpecahan pada genta-genta./ Tidak ada lagi apa pun selain segala adalah udara/ terbuka, buah-buah apel dimain-mainkan angin,/ lembar-lembar halaman buku lembab di beranda:/ Dan di sana bunga anyelir bernapas, kita akan/ mulai meluruhkan pakaian yang menghalangi/ keabadian sebuah ciuman kemenangan.

Puisi cinta Neruda memberi keberpihakan pada rakyat biasa, yang dalam kepentingan politik sering menjadi sasaran perbudakan, kapitalisme, kemarjinalan, dan kesengsaraan. Neruda mencintai kaum bawah dengan serius tapi manis seolah menemukan wangi peterseli, bau ladang anggur, atau apel-apel yang membawanya turut berada di pinggir untuk merasakan apa yang benar-benar dialami oleh rakyat dan negerinya. Memang, terkadang revolusi tidak dimulai dari wilayah serba melimpah dan mewah serta di bawah todongan bedil atau panji militer.


Setyaningsih, esais dan penulis Kitab Cerita (2020). Bisa dihubungi lewat surel: [email protected]

Buku, Resensi

Terkait dan Terikat

Oleh Kamalludin

Lebaran akan kembali menyapa kita, dalam kurun waktu yang relatif singkat. Selain baju baru, lebaran juga identik dengan aneka camilan dan kue. Salah satu sajian khas yang hadir di atas meja ruang tamu adalah biskuit Khong Guan. Biskuit dengan kaleng dominan warna merah ini merupakan biskuit legendaris keluarga Indonesia. Biskuit Khong Guan menjelma menjadi jamuan istimewa saat lebaran. Biskuit Khong Guan mungkin salah satu panganan yang tetap bertahan hingga saat ini. Biskuit ini menemani masa kecil kita. Sejak dulu sampai sekarang tidak banyak yang berubah dari biskuit tersebut, tetap bertahan dengan ciri khasnya.

Bagi seorang penyair, benda-benda yang ada di sekitar bukanlah benda mati tak berguna. Benda-benda tersebut seolah bisa diajak berdialog dengan dirinya. Puisi-puisi Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan seolah terlahir setelah ia melakukan dialog panjang dengan kaleng Ghong Guan.

Keakraban Khong Guan dengan masyarakat Indonesia membuat biskuit Khong Guan kerap dijadikan bingkisan atau oleh-oleh. Simak puisi berjudul Bingkisan Khong Guan berikut ini: Mari kita buka/ apa isi kaleng Khong Guan ini:// biskuit/ peyek/ keripik/ ampiang/ atau rengginang?// simsalabim.// Buka!// isinya ternyata/ ponsel/ kartu ATM/ tiket/ voucer/ obat/ jimat/ dan kepingan-kepingan rindu yang sudah membatu.//

Joko Pinurbo tidak sedang menyajikan biskuit dan teh hangat yang manis kepada kita. Tapi, ia tengah menyuguhkan realitas keadaan masyarakat di sekitarnya. Realitas itu, barangkali kita juga mengalaminya. Kadang-kadang kita beruntung, mendapati biskuit yang enak dan mengenyangkan. Tapi, sering juga dalam hidup ini kita tertipu oleh wadah atau tempat, yang setelah dibuka, ternyata kita hanya mendapati peyek atau rengginang. Kenyataan yang tak sesuai harapan. Lebih dalam lagi, kaleng Ghong Guan itu ternyata berisi ponsel, kartu ATM, tiket, voucer. Benda-benda tersebutlah yang sekarang akrab dengan kita. Joko Pinurbo mungkin hendak berkata bahwa keakraban biskuit Khong Guan telah digeser oleh ponsel dan benda-benda modern lainnya.

Seorang gitaris yang handal akan tampak seperti tidak peduli lagi pada kunci-kunci nada yang dimainkannya. Tapi, lewat pendengaran, ia akan tahu jika ada kunci yang meleset dalam permainan gitarnya. Perasaannya telah menyatu. Demikian pula dengan penyair yang piawai. Ia mampu menyampaikan gagasan yang besar dan rumit sekalipun dengan bahasa yang ringan.

Joko Pinurbo telah memilih puisi sebagai media untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Ia menangkap gelagat masyarakat yang curiga dan penasaran mengapa sosok ayah dalam keluarga Khong Guan tak pernah tampak di meja makan? Lewat puisi Keluarga Khong Guan Jokpin menulis seperti ini: Banyak orang penasaran/ mengapa sosok ayah/ dalam keluarga Khong Guan/ tak pernah tampak di meja makan?// Kata anak laki-lakinya,/ “Ayahku sedang menjadi bahasa Indonesia yang terlunta di antara bahasa asing dan bahasa jalanan.”// Anak perempuannya menyahut,/ “Ayahku sedang menjadi nasionasilme yang bingung dan bimbang.”// Si ibu angkat bicara,/ “Ayahmu sedang menjadi koran cetak yang kian ditinggalkan pembaca dan iklan.”// “Semoga Ayah tetap terbit dari timur, ya, bu,”/ ujar kedua anak yang pintar itu.// “Bodo amat ayahmu mau terbit dari mana,”/ balas si ibu./ “Yang penting bisa pulang dan makan bersama.”// 

Joko Pinurbo yang memiliki gelar kesarjanaan Bahasa dan Sastra Indonesia, tentu memiliki perhatian lebih pada bidang bahasa. Lewat biskuit Khong Guan Jokpin tidak sedang membincangkan biskuit tersebut. Tapi, ia sedang mengetengahkan isu bahasa Indonesia yang semakin terabaikan dan terlunta di antara bahasa asing dan bahasa jalanan. Respon pembaca puisi tersebut sangat didamba. Untuk kemudian sampai pada puncak harapan, khalayak Indonesia bersedia mencintai dan merawat bahasa Indonesia agar tidak lekas punah.

Di puisi lain, Jokpin mengajak pembaca mengingat perhelatan akbar yang digelar pada tahun 2019 silam, negara menyebutnya pesta demokrasi. Pemilu 2019 meninggalkan duka. Duka itu lantaran cukup banyaknya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara atau KPPS yang meninggal dunia. Sebagai penyair, Joko Pinurbo memotret peristiwa itu dalam bentuk puisi yang diberi judul pesta. Di balik demokrasi/ yang boros dan brutal/ ada pesta pembagian doa/ untuk mengenang/ para petugas yang lembur/ dan mati di tempat/ perniagaan suara/ dengan honor tak seberapa.//

Lewat puisinya Joko Pinurbo ingin mengabarkan kondisi demokrasi di Indonesia. Puisi yang ditulis tahun 2019 itu seakan berisi laporan berita dari hasil kerja jurnalistiknya. Jurnalistik yang puitis atau puisi yang jurnalis. Jokpin menganggap demokrasi di Indonesia kelewat boros. Brutal! Karena menelan banyak korban. Kelelahan lembur sampai larut malam. Dengan honor tak seberapa. Meski pemerintah memberikan santunan bagi mereka yang gugur di perniagaan suara, itu belumlah seberapa. Dan mungkin inilah ikhtiar Jokpin untuk mengabadikan nama-nama mereka dalam nisan puisinya. Puisi Pesta yang satire.

Dalam puisi lain berjudul Bonus, imajinasi kita diajak melesat ke ibu kota atau kota-kota besar lainnya yang langganan banjir. Langit/ membagikan/ bonus/ air mata/ kepada/ pelanggan/ banjir/ yang setia.// adalah benar jika sebagian kota-kota metropolitan di Indonesia berlangganan banjir. Tapi, karena terlalu seringnya berlangganan, banjir yang datang mungkin tidak lagi disambut air mata. Entah mata yang telah kehabisan air atau hati yang sudah terlatih imunitasnya, sehingga banjir harus diabadikan dalam sebuah puisi.

Puisi Jokpin tak melulu mengait tema berat. Tema ringan berupa aktivitas keseharian orang-orang pun ia tulis. Rutinitas yang berbalut puitis. Bisa kita simak di puisi berjudul Senin Pagi berikut: Tubuhmu/ yang masih ngantuk/ sudah siap jadi jalanan/ macet dan bising/ jadi ponsel yang bawel/ jadi meja kerja yang rewel/ jadi deadline yang kaku/ jadi makan siang yang kesusu// … //

Semua diksi pada puisi di atas serba terburu-buru dan tergesa-gesa. Demikianlah lukisan sebagian besar dari aktivitas manusia di Senin pagi. Serba tergesa-gesa. 

Buku terbaru garapan penyair Joko Pinurbo ini terbagi menjadi empat bagian. Bagian-bagian itu dinamai kaleng satu sampai kaleng empat, persis seperti menggambarkan isi kaleng Khong Guan yang berlapis-lapis. Secara sepintas, beragam tema dihadirkan dari kaleng satu sampai kaleng empat. Mulai dari hal sepele sampai pada persoalan demokrasi, banjir, nasionalisme, kebahasaan, dunia maya, dan religius.

Buku Perjamuan Khong Guan  memperpanjang karir kepenyairan Joko Pinurbo atas kelihaiannya dalam mencipta puisi lewat benda-benda. Bagi Joko Pinurbo, benda-benda bukanlah makhluk mati yang perlu diabaikan. Tapi, Joko Pinurbo telah memakai kacamata puisi, sehingga benda apapun yang ia lihat memiliki kemungkinan di angkat ke dalam tema puisi.

Secara umum, proses kreatif kepenyairan Joko Pinurbo dapat dikenali melalui tanggapannya terhadap dunia keseharian yang ia tuangkan melalui puisi-puisinya yang terkesan main-main namun sarat filsafat yang mendalam. Dengan kekuatan naratif dan kekhasan humor sajak-sajaknya yang satire, realitas keseharian yang ia tangkap lewat cerapan indrawinya tersebut kemudian hadir sebagai sebuah paparan sosiologis tentang kehidupan manusia-manusia modern di sekitarnya. []

Kamalludin, penikmat sastra. Beberapa puisi dan artikelnya pernah muncul di media. Aktivitasnya selain mengajar juga sebagai juru foto di Bunk@m Photography.

Buku, Resensi

Menanyakan Identitas: Orang Korea di Jepang

Oleh Setyaningsih

Dituturkan dalam empat generasi merentang selama 80 tahun, novel Pachinko (2019) garapan Min Jin Lee adalah rekonsiliasi panjang nan rumit orang-orang Korea di Jepang. Terutama diwakili oleh generasi kedua, tokoh perempuan bernama Sunja dinikahi dan diselamatkan misionaris Kristen asal Pyongyang, Baek Isak, dari Busan ke Osaka. Saat itu masa-masa kolonialisme Jepang di Korea. Sunja dihamili oleh seorang Korea yang mapan tapi telah beristri dan memiliki tiga anak di Jepang. Sunja menolak menjadi istri simpanan.

Bersama Isak yang siap mengakui anak di perut Sunja sebagai anak sendiri, Sunja memulai kehidupan yang sama sekali berbeda. Di Osaka, Jepang, orang-orang Korea ditempatkan di wilayah terkumuh, sulit memiliki properti strategis, dikondisikan bekerja lebih rendah dari orang Jepang, dicap malas dan kriminal. Diskriminasi di negeri penjajah tidak terelakkan, tapi tanah air yang ditinggalkan pun dalam kondisi krisis. Myung Oak Kim dan San Jaffe (The New Korea, 2013), membabarkan bahwa orang Korea di Jepang terbagi dalam dua kelompok yang sama-sama terdesak, rakyat miskin yang memilih pindah untuk mencari pekerjaan dan yang terpaksa pindah untuk bekerja di tambang dan pabrik demi membantu Jepang pada masa Perang Dunia II.

Situasi politik yang kacau, desakan ekonomi, ketiadaan makanan, membuat orang-orang Korea bermigrasi ke Jepang di masa kolonial dan bertahan sampai generasi keempat atau kelima. Namun, mereka tetap saja dianggap asing atau disebut dengan istilah ambigu-menyakitkan, Zainichi (penduduk asing yang tinggal di Jepang). Hidup yang telah sedemikian berkompromi menjalani naturalisasi yang tidak mudah, tetap menempatkan orang-orang Korea sebagai pihak “lain” dan “luar”.

Min Jin Lee benar-benar memilih tokohnya di Pachinko sebagai representasi kekuatan dari kalangan bawah yang terpinggirkan. Para perempuan meski tidak terpelajar begitu tangguh menderita dan tetap bekerja untuk membesarkan anak-anak. Mereka memberesi urusan domestik berbekal cara hidup tradisional yang kuat dan ulet. Secara psikologis, para perempuan Korea lebih memiliki tameng untuk bertahan menjalani hidup.

Memutus

Noa, anak lelaki pertama Sunja, menjadi generasi yang sadar bahwa modernitas, kebebasan individu, kesetaraan, dan kebebasan tanpa diskriminasi harus diraih dengan intelektualitas. Namun dalam perjalanan akademis yang membuatnya bertemu aneka manusia dengan beragam cara pikir, ia justru semakin mengalami kehampaan identitas. Puncaknya ketika Noa marah kepada kekasih Jepang tak rasisnya, Akiko. Noa marah justru karena sikap Akiko yang terlalu santai dan abai pada identitas “kekoreaan” Noa seolah hal itu sangat eksotis dan menantang. Diceritakan,“… sebab Akiko tidak akan pernah percaya dia tak ada bedanya dengan orangtuanya, bahwa melihat Noa hanya sebagai orang Korea—baik atau buruk—sama saja dengan hanya melihatnya sebagai orang Korea yang buruk. Akiko tidak bisa melihat sisi manusiawi Noa, dan Noa menyadari inilah yang paling diinginkannya: dilihat sebagai manusia” (hal.361-362).

Di babak inilah, semakin memuncak kerapuhan jiwa seorang Noa yang semasa kecil begitu berbakti, berjuang untuk diakui bermartabat, ingin setara dengan Jepang, dan berambisi masuk kuliah untuk membanggakan keluarga serta hidup terhormat. Ditambah terkuak bahwa ayah kandung Noa seorang gengster atau yakuza, kehampaan semakin menjadi-jadi. Noa memutuskan hubungan dengan keluarga, meninggalkan kuliah, bekerja di arena pachinko, dan menikah. Semua ini berhasil dijalani dengan pertaruhan dilematis, menyembunyikan serapat-rapatnya identitasnya sebagai orang Korea. Bunuh diri akhirnya dipilih Noa untuk memutus seputus-putusnya dunia yang selalu meragukan identitasnya.

Mozasu, adik Noa-anak Sunja dan Isak, sebaliknya sejak kecil begitu membenci sekolah dan belajar. Ia lebih berkompromi dengan situasi diskriminatif dengan cara berkelahi atau melawan. Mozasu memilih bekerja di pachinko dengan keteladanan yang gemilang meski lagi-lagi, pekerjaan ini jelas dicap buruk bahkan oleh Noa. Yang dilakukan tetap berupaya hidup dengan keras, “Negara ini tidak akan berubah. Orang Korea seperti aku tidak bisa pergi. Kami mau ke mana? Tapi orang Korea di kampung juga tak berubah. Di Seoul, orang seperti aku dijuluki bajingan Jepang, dan di Jepang, aku hanya orang Korea kotor berapa pun yang kudapat atau sebaik apa pun aku. Lalu kenapa? Semua orang yang kembali ke Utara mati kelaparan atau ketakutan setengah mati” (hal. 440). Mozasu sadar bahwa uang dan kesuksesan tidak bisa mengubah identitas sebagai orang Korea. Pun tidak mampu mengubah cara pandang orang Jepang atas orang Korea.

Noa ataupun Mozasu yang mewakili dilema orang Korea sejak awal abad ke-20, mewakili dilema identitas hari ini. Batas geografis negara memang ada, tapi tidak menampik setiap orang menjadi bagian dari dunia. Sedang kekerasan, stigma, atau prasangka atas nama identitas di mana pun masih begitu lekat terjadi. Hal ini mengingatkan pada penuturan biografis jurnalis cum sastrawan Amin Maalouf (2004) saat disodori pernyataan apakah merasa “lebih Prancis” atau “lebih Lebanon”? Pertanyaan ini tidak sekadar memosisikan di antara dua negara, tapi juga bahasa dan tradisi budaya pembentuk identitasnya. Dalam pertalian fundamental yang bersifat etnis, religius, nasional, rasial ini, akhirnya setiap orang dipaksa menonjolkan identitas tunggal. Ramuan lain misalnya selera makanan, minat berbahasa, cita rasa kesenian tidak dihitung sebagai “pengalaman yang subur dan memperkaya bila si anak muda tersebut merasa bebas untuk menghidupinya sepenuhnya, bisa ia didorong untuk menerima segenap keberagamannya.”

Dan Korea yang merengkuh abad gemilangnya hari ini lewat teknologi dan budaya pop, terutama atas Jepang, belum akan selesai menanyakan identitas lewat Pachinko. Permainan pachinko memang tidak terelakkan dari kesan kotor dan citra sosial yang rendah serta tidak terhormat. Min Jin Lee menggunakannya untuk menandai gejolak-gejolak memaknai identitas. Ada pilihan untuk terus berekonsiliasi atau bersekutu dengan kematian. Bagi Mozasu, hidup memang seperti permainan pachinko, “yang pemainnya bisa mengatur tombol tapi juga mengantisipasi ketidakpastian dari faktor yang tak bisa dikendalikannya […] sesuatu yang tampak sudah pasti tapi tetap menyisakan ruang untuk ketidakteraturan dan harapan.”


Setyaningsih, esais dan penulis Kitab Cerita (2020). Bisa dihubungi lewat surel: [email protected]

Buku, Resensi

Cinta Melulu

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Seperti moral dan agama, cinta juga dapat dikatakan sebagai realitas abstrak. Bukannya tidak mungkin ditelaah dengan metode ilmiah yang memadahi, tapi sebagaimana dua hal yang tersebut di atas, seberapa pun ilmiah metode yang digunakan untuk menyingkap segala perkara soal cinta, ia tetap membutuhkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak mudah diterima logika berpikir manusia modern, tapi sekaligus juga tidak bisa lepas dari diri manusia itu sendiri.

Pola pikir manusia yang mengandalkan akal-rasio selama berabad-abad lamanya, serta peradaban manusia yang diwarnai oleh perilaku praktis-pragmatis, membuat sebagian manusia hanya mau tunduk pada hal-hal yang memiliki nilai guna dan tampak oleh mata (hlm. 3). Manusia modern berlomba-lomba menjadi manusia logis dalam menyikapi segala hal di kehidupan. Pergulatannya dengan logika membuat manusia perlu mengalami perubahan-perubahan sikap memandang-mengkritisi-mendobrak keyakinannya.

Cinta termasuk juga moral dan agama yang sejatinya terbenam di relung keyakinan acap kali menjadi objek yang dikritisi dan didobrak manusia. Manusia modern sangat mudah mematahkan tatanan moral dengan argumen-argumen logisnya. Ia juga berhak dan bahkan cenderung bebas menentukan sendiri pandangannya soal agama. Misalnya seorang theis yang rajin beribadah bisa saja di kemudian hari meninggalkan ibadah-ibadah wajib karena pelbagai alasan. Barangkali karena hal semacam itu tak logis menurut akal-rasionya atau karena alasan lainnya. Termasuk juga cinta, perkara ini kiranya mudah dipandang terbelakang di dunia modern saat ini.

Kendati demikian, seberapa pun manusia mencoba kabur dari hakikat cinta, moral, dan agama, ia tak akan bisa benar-benar berhasil melakukannya. Apakah manusia bisa hidup tanpa memercayai sesuatu, tidak mengikuti nilai tertentu, bebas dari perasaan suka dan tidak suka. Padahal semua itu sejatinya lebih dekat dengan apa yang dianggap terbelakang menurut akal-rasio manusia modern.

Mendefinisikan Cinta

Hari-hari kita tak absen dari seruan kata-kata yang terdengar sangar: humanisme, perubahan iklim, keberagamaan, feminisme, keberagaman, perdamaian, perang dagang, puritanisme, radikalisme, liberalisme, dan masih banyak lagi. Kata-kata itu penanda kehidupan yang sedang berlangsung. Dunia global mengalami masalah-masalah bertaut kemanusiaan misalnya kemelut perang saudara di Suriah, kamp muslim Uighur di Tiongkok yang diduga sebagai kamp pencucian otak, sekian penggusuran yang terjadi di Indonesia, ketidakadilan hukum, sikap represif pemerintah, dan lain-lain sebagainya.

Masalah-masalah pelik itu memang membutuhkan solusi rasional. Ratusan WNI terduga simpatisan ISIS di Suriah menyatakan keinginannya pulang ke Indonesia karena situasi di medan perang makin mencekam, media-media internasional gencar menyoroti kamp muslim Uighur untuk membuka mata publik internasional akan tipu daya Tiongkok, aktivis-akademisi mendampingi masyarakat terdampak penggusuran untuk memperoleh hak-haknya. Hal-hal yang demikian tampak sangat rasional, namun apakah upaya baik manusia untuk membantu manusia lain yang sedang dalam masalah semata-mata digerakkan oleh akal-rasio? Mudah bagi kita dengan menjawabannya tidak.

Manusia yang berani melawan ketidakadilan, bersikap jujur antar sesama, hormat terhadap alam semesta, tidak bisa dikatakan sebatas sebagai manusia yang rasional, tetapi juga penuh cinta. Pendapat ini rasanya perlu meminjam konsep cinta Erich Fromm. Menurutnya, cinta terdiri dari unsur care, responsibility, respect, dan knowledge (hlm, 20). Manusia-manusia yang demikian selain memiliki rasionalitas yang sehat, juga memiliki ketajaman perasaan sehingga mampu menangkap realitas secara jernih dan tepat dalam merefleksikannya.

Gibran melalui bukunya The Prophet mendefinisikan cinta dengan indah sekaligus rasional. Akal pertimbangan dan perasaan hati laksana kemudi dan layar dalam mengarungi bahtera jiwa. Jika satu layar atau kemudi itu patah, kau hanya bisa mengambang, terombang-ambing gelombang. Atau lumpuh tanpa daya, di tengah samudera. Sebab akal yang sendiri mengemudi, laksana tenaga yang menjebak diri. Sedang perasaan yang tidak terkendali, bagai api yang menghanguskan diri (1926, hlm. 59). Rasionalitas dan cinta itu sama-sama penting bagi keberlangsungan hidup kita baik sebagai personal, makhluk sosial, makhluk ciptaan Tuhan, penghuni dan penjaga bumi, warga negara dan dunia, dan peran-peran lainnya.

Karakter Cinta

Dalam buku yang bermuasal dari kekagumannya akan sosok dan karya-karya Kahlil Gibran, Fahruddin Faiz menyebut empat karakter utama cinta: kebebasan, keindahan, ketulusan, dan penyucian. Cinta tidak mungkin dikendalikan. Faiz bahkan menelaah karya-karya Gibran sangat anti terhadap segala hal yang membatasi atau malah mengendalikan cinta, entah itu budaya, aturan atau bahkan ajaran agama. Kita cerap sajak Gibran berikut ini. Saling bercintalah, namun jangan membuat belenggu dari cinta. Biarkan cinta seperti air yang lincah menjelajah di antara pantai dua jiwa.

Pribadi-pribadi yang saling mencintai bebas untuk mengekspresikan diri sebagaimana adanya, tanpa harus dituntut untuk merombak individualitas maupun eksistensi kediriannya. Cinta tidak menganjurkan pribadi-pribadi saling melebur, tetapi lebih kepada saling memahami dan mendukung. Perbedaan dalam menjalani laku cinta merupa kesempatan untuk saling memperkaya diri, saling mengisi, dan saling menghormati. Dari situ akan bisa dibuktikan, apakah seseorang sedang mencintai, memengaruhi, mendominasi, atau menggantungkan diri (hlm. 69-70).

Adalah juga sifat dasar alamiah manusia yang menyukai keindahan. Saat berjalan-jalan di taman, mata kita mudah tersirap oleh bunga-bunga bermekaran, tapi misalnya juga terganggu dengan sampah yang berceceran di taman itu. Di deretan toilet umum, ada kerelaan yang muncul begitu saja untuk menyisir toilet mana yang paling bersih di antara yang lain. Manusia tampak wajar ketika mendambakan segala sesuatu yang baik. Kalau kata Jonn Kets,  a thing of beauty is a joy forever. Keindahan dalam cinta agak berlainan. Betapa juga pahit dan sakit yang dialami seseorang dalam mencinta, cinta tetap meninggalkan keindahan kenangan bagi dirinya.

Di antara empat karakter cinta menurut Faiz, kiranya ketulusan yang agak berat bersinggungan dengan akal-rasio kita. Ketulusan dalam mencinta didefinisikan sebagai wujud cinta yang sempurna, yang memberi tetapi tidak mengharap imbalan sama sekali. Ketulusan dalam cinta dibuktikan dengan keteguhan sikap untuk tidak mundur atau melarikan diri saat dalam cinta yang diterima atau diberikannya ditemui kesulitan, kepahitan, dan lain sejenisnya (hlm, 77).


Rizka Nur Laily Muallifa, Pembaca tak tahan godaan. Menghidupi Kematian (2018) ialah kumpulan puisi yang ditulis bersama tiga kawannya. Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Suara Merdeka, detik.com, alif.id, basabasi.co, dan beberapa lainnya.

Buku, Resensi

Soewardi Soerjaningrat: Nasionalis Jawa Awal

Oleh Syahuri Arsyi

Dalam dunia pendidikan nama Soewardi Soerjaningrat sepertinya begitu asing di telinga kita. Padahal, nama Soewardi Soerjaningrat sendiri merupakan nama bangasawannya dari Ki Hadjar Dewantara sebelum mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922.

Telinga kita lebih akrab dengan nama Ki Hadjar Dewantara sebagai bapak pendidikan Nasional Indonesia dan pencetus “Tut Wuri Handayani”. Terbukti, setiap tanggal 02 Mei, diadakan perayaan hari pendidikan nasional yang melambangkan bahwa Ki Hadjar Dewantara memiliki peran penting dalam dunia pendidikan Indonesia.

“Studi ilmiah terhadap tokoh-tokoh sejarah nasional kita masih sedikit dilakukan orang,” adalah kalimat pembuka dalam kata pengantar buku berjudul Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan (2019) karya Irna H.N Hadi Soewito. Ditulis oleh seorang sarjana perempuan Indonesia dalam bidang sejarah, kalimat tersebut jelas menunjukkan pada kita akan kelangkaan terhadap kajian tokoh-tokoh sejarah nasional Indonesia.

Tersirat pula rendahnya minat kita tentang pengetahuan nama asli tokoh-tokoh yang memiliki peran besar dalam sejarah modern Indonesia. Nama asli tokoh sejarah seolah-olah tidak memiliki ruang dan sudah tergantikan dengan nama panggilan, sehingga kita tak memiliki pengetahuan yang utuh tentang nama tokoh tersebut.

Dalam buku Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan menginformasikan pada kita tentang perjalanan kisah hidup, perjuangan, dan rekam jejak Ki Hadjar Dewantara ketika masih muda, atau sebelum mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta di tahun 1922, mulai dari aktivitasnya di comite boemipoetra hingga pengasingannya ke negeri Kincir Angin, Belanda, yang dianggap sebagai momentum kebangkitan bersama pers dan mahasiswa yang memiliki haluan kebangsaan, kerakyatan, dan kemerdekaan dengan semboyan Indie los van Holland atau Hindia lepas dari Belanda.

Salah satu catatan yang cukup menarik dalam buku ini, adalah sikap dan kemantapan hati Soewardi menempuh jalan berbeda dalam berjuang yaitu di bidang jurnalisme. Bagi Soewardi, jurnalisme adalah suara hati nurani bangsa tertindas yang dapat dikumandangkan. Oleh karena itu, bagi Soewardi, perjuangan tidak hanya semata-mata dapat dilakukan dengan mengangkat senjata, bisa juga dilakukan dengan tulisan.

Selain itu, bagi Soewardi, jurnalisme atau pers bukan hanya semata-mata pekerjaan untuk menambah isi kantong, akan tetapi lebih dari itu semua. Jurnalisme atau pers digunakan oleh Soewardi untuk mencurahkan isi hatinya dan sebagai satu-satunya senjata yang paling ampuh untuk membungkam ketidakadilan bangsa Belanda.

Dari sini kita bisa membaca bahwa salah satu alasan Soewardi terjun ke dunia jurnalisme atau pers daripada angkat senjata karena kala itu, masyarakat Indonesia sedikit sekali yang melek huruf. Dan, keadaan masyarakat Indonesia, oleh Soewardi ini benar-benar disadari bahwa masih banyak masyarakat yang terbelakang, masih banyak yang belum melek huruf, hingga membutuhkan banyak pengajaran dan menerangkan apa itu perjuangan dan apa itu bangsa pada masyarakat Indonesia.

Irna, bahkan menyebutkan dalam tulisan-tulisan Soewardi banyak guratan kebebasan dan menggambarkan kondisi kemerdekaan. Ia mengambil contoh tulisan Soewardi yang dimuat De Expres, berjudul “Kemerdekaan Indonesia” yang isinya dianggap sebagai nyala semangat politik menuju Indonesia merdeka. Kita simak lintasan Soewardi, “…setiap pergerakan politik bebas, harus dimulai dengan memutuskan perhubungan-perhubungan kolonial dan harus menuju ke penghidupan rakyat yang bebas (hlm. 08)”.

Soewardi menjadikan majalah De Express sebagai alat propaganda untuk menekan pihak-pihak Belanda. Bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker, seorang Indo yang sangat memiliki nasional Indonesia, Soewardi membangun gagasan serta pergerakan dalam politik, di mana pada 6 Sepetember 1912 menjadi gerakan politik Indische Partij yang menerima suku bangsa Hindia menjadi anggotanya.

Kita simak pengakuan Soewardi, dalam buku ini “Baginya majalah ini merupakan alat propaganda, yang mana kemudian, bersama De Expres, menjadi pelopor kelahiran partai politik yang disebut Indische Partij. Partai yang bertujuan untuk memajukan dan mengembangkan tanah air, serta mempersiapkan bangsa Hindia agar dapat berdiri sendiri. Indie voor Indiers atau “Hindia untuk bangsa Hindia” (hlm. 08).

Tulisan Soewardi oleh pihak kolonial dianggap memiliki narasi menghasut hingga akhirnya ia  ditangkap, bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker diasingkan ke Belanda. Di pengasingan ini, Soewardi bersama istrinya berada dalam kehidupan serba kekurangan dan begitu menghimpit. Walaupun demikian, ia menyadari bahwa jalan satu-satunya mencari tambahan nafkah melalui menulis di surat kabar.

Salah satu tulisan Soewardi yang membuat pihak Belanda kebakaran jenggot dan tak mungkin dilupakan berjudul “Als ek eens Nederlander was” atau “seandainya aku orang Belanda” tulisan satir ini dianggap sebagai suatu tamparan bagi pemerintahan Belanda.

Bagi pembacanya, tulisan Soewardi ini dianggap memiliki gaya bahasa yang sangat menarik, menyakinkan pembaca, berisikan kata-kata yang dipilih secara tepat, dan kalimatnya tersusun rapi, menusuk, tidak kasar dan tidak pula memaki, tidak berbelit-belit serta mudah dimengerti. Di setiap guratannya memberikan renungan untuk pembaca sebagai bagian dari cerminan jiwa dan budinya yang jujur serta sederhana (hlm. 56).

Di Belanda, selain menulis, Soewardi aktif di pelbagai forum, seperti Indische Vereening dan memberikan pengaruh yang sangat kuat di kalangan mahasiswa Hindia. Selain itu, ia juga mendirikan sebuah kantor berita bernama Indonesisch Persbureau (Biro Pers Indonesia) bertujuan untuk mempererat hubungan mahasiswa tanah air (hlm.72).

Satu hal lagi yang cukup menarik selama Seowardi berada di pengasingan, bahwa ia tak menjadikan hal itu sebagai beban berat hingga membutakan pikirannya. Kontribusinya selama berada di pengasingan terkait persoalan politik tidak di ragukan lagi. Warisan gagasan dan gerakannya sebagai salah satu pelopor anti-kolonial Indonesia tak kalah pengaruhnya bagi formulasi gagasan radikal dan visionir atas terbentuknya Indonesia modern.

Maka tak salah jika dalam Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (2006) garapan Benedict Anderson menyebutnya sebagai patron para aktivis “Nasionalis-Jawa-Indonesia awal”. Dalam artikel “Soewardi di Pengasingan: Nasionalisme versus Sosialisme” (2014) di Lembaran Sejarah, Joss Wibisono menyatakan bahwa selama di pengasingan Soewardi memiliki kecondongan haluan dan pemikiran politik kepada “nasionalisme kanan”.

Setelah lima tahun berada di pengasingan, Soewardi Soerjaningrat kembali ke tanah air dan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia pada 15 September 1919, setelah 51 hari terapung di Samudra Atlantik. Kembalinya ke tanah air ini, dimaknai sebagai medan perjuangan yang sebenarnya bersama Taman Siswa pada tahun 1922.


Syahuri Arsyi, penulis lepas, saat ini aktif di Komunitas Diskusi buku dan diskusi Malam Sabtu (dulu: Limited group). Bisa disapa di Facebook: syah arsyie, Instagram: syah.arsyi1717, dan Twitter: sya.arsyie1717.

Buku, Resensi

Celeng dan Cairnya Kedirian Manusia

Oleh Muthia Sayekti

Tokoh Sirius Black pernah menasihati keponakan baptisnya, Harry Potter, bahwa dalam setiap diri manusia sejatinya terdapat kebaikan dan keburukan. Keduanya saling bergandengan dan tidak terpisah. Ingin menjadi seperti apa manusia itu sendiri tergantung pada pilihan dari masing-masing manusianya. Nasihat itu muncul dalam sebuah adegan di serial film Harry Potter yang ke-5 berjudul Harry Potter and The Order of The Phoenix (2007). Black menyampaikan petuah tersebut ketika Harry merasa gelisah karena dirinya memiliki ikatan jiwa dengan Voldemort, penyihir jahat kelas kakap yang menjadi tokoh utama antagonis dalam serial film ini. Harry khawatir ia bisa menjadi sama jahatnya dengan Voldemort. Oleh sebab itu, sebagai orangtua, Sirius Black mencoba untuk menenangkan keponakannya bahwa ia sangat bisa menjadi penyihir yang baik meskipun jiwanya terikat dengan Voldemort.

Dari kutipan adegan tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa menjadi baik atau buruk sebagai manusia, merupakan otoritas diri masing-masing individu. Manusia digambarkan sebagai subjek yang otonom untuk bisa memutuskan karakter mana yang ingin ia tonjolkan sebagai manusia.

Berbeda dengan narasi tersebut, tokoh Joker ternyata tak bisa sama otonomnya seperti tokoh Harry Potter. Dalam film Joker (2019) nampak bahwa menjadi jahat tidak murni atas keputusannya sendiri. Pada adegan-adegan tertentu, Joker justru bisa dikatakan sebagai anak lelaki yang berbakti pada ibunya, pekerja keras, dan penyayang. Ia dikisahkan menjadi psikopat sebagai bentuk respon atas ketidakadilan hidup yang bertubi-tubi menimpanya.

Dengan demikian, kita bisa membandingkan bahwa karakter seseorang tidak serta merta muncul atas otoritas diri. Ada faktor di luar tubuh manusia yang turut mengintervensi bagaimana karakter seseorang itu terbentuk.

Gambar1: Cover Buku Menyusu Celeng. Sumber: ebooks.gramedia.com  

Dalam buku Menyusu Celeng (2019) karya Sindhunata, karakter manusia dikisahkan secara metafor serupa hewan celeng. Di sini, Sindhunata mencoba untuk menceritakan kisah pelukis Djokopekik yang dikenal dengan lukisannya berjudul Berburu Celeng. Secara stereotip, celeng sering merujuk pada hewan yang rakus, beringas, dan penuh hasrat akan kuasa. Pun sebagian besar masyarakat masih percaya bahwa celeng merupakan hewan yang sering digunakan dalam praktik pesugihan; babi ngepet. Di sini, Sindhunata ingin membalik persepsi bahwa pesugihan celeng ini justru menjadi penyelamat masyarakat miskin yang tak mampu memperbaiki kondisi hidupnya. Dengan demikian, celeng tidak hanya binatang yang buruk tetapi juga memiliki sifat penolong, sifat kemuliaan.

Dengan gaya seperti sedang bercermin dalam konsep psikoanalisis Jacques Lacan, Sindhunata menceritakan pelukis sedang melakukan proses (mis)rekognisi ketika berbincang dengan wayang celengnya (hlm. 85). Semakin si pelukis menghina dan mengumpat pada wayang celengnya, kata hinaan dan umpatan itu justru membuat si pelukis melakukan proses refleksi diri. Pelukis merasa bahwa dirinya juga tak lebih baik, bahkan sama buruknya dengan sifat-sifat yang dimiliki celeng. Hingga akhirnya ia sampai pada titik perenungan bahwa yang memiliki sifat seperti celeng tidak hanya ia (pelukis) seorang, tetapi sebagian besar manusia zaman ini. Zaman yang mana ia sebut sebagai Zaman Kalabendu.

Titik puncak perenungan si pelukis ditandai pada situasi adegan di mana si pelukis melepaskan segala dendamnya pada si celeng dengan mandi di Tuk Celeng, tempat yang dipercaya sebagai Mata Air Celeng yang bisa memurnikan jiwa, menghapus kesedihan, dan menyembuhkan segala penyakit (hlm. 114). Pelukis merasa lelah ketika lukisannya tentang celeng justru membuat banyak keonaran baru. Ia merasa bahwa lukisan itu dilahirkan dari rasa dendamnya pada penguasa yang dianggapnya seperti celeng, bukan untuk misi kebaikan membasmi sifat-sifat buruk dari celeng itu sendiri. Kekuatan dendam itulah yang dianggapnya melahirkan banyak ketidakbaikan. Toh pada dasarnya ia sendiri sadar bahwa ia juga tak lebih baik dari celeng yang ia dendami.

Siapa yang menyembunyikan celengnya dalam kebaikan-kebaikan dan kepahlawan-pahlawanannya akhirnya akan ketahuan juga, bahwa dirinya adalah celeng, seperti yang kini terjadi pada diri saya (hlm. 139).

Sindhunata di sini terlihat mengajak para pembacanya untuk ikut merenung bahwa diri setiap individu juga memiliki sifat keburukan. Tak satu juga manusia pantas untuk merasa (paling) suci, baik, heroik. Namun dalam buku ini, Sindhunata mencoba untuk meleburkan sekat bahwa karakter seseorang tidak murni dibentuk secara otonom oleh manusia itu sendiri, seperti nasihat Sirius Black. Tidak pula manusia hanya bisa menjadi pecundang terhadap ketidakadilan hidup. Setiap manusia tidak senantiasa kalah dengan keadaan yang tidak baik lalu tidak bisa melawan, seperti yang dialami Joker.

Kisah sang pelukis dalam buku Menyusu Celeng ini dinarasikan seimbang. Bahwa kebaikan dan keburukan dalam diri manusia bisa muncul secara otonom dari dalam diri mereka, sekaligus bentuk reaksi terhadap keadaan yang ada di luar diri mereka. Dalam membentuk kedirian itu sendiri, tidak ada yang bersifat absolut dan mutlak. Karakter manusia selalu cair dan dinamis. Si pelukis sendiri dulunya dikenal sebagai seniman yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosialis. Namun ketika lukisannya semakin laris, ia pun tidak menafiki dirinya untuk berlagak seperti para borjuis.

Hanya celeng yang bisa hidup secara “kanan”, sambil terus melirik “ke kiri”. Artinya, siapa yang tidak ingin hidup enak dan menikmati hidup seperti seorang borjuis? Namun supaya kelihatan sexy – istilah zaman sekarang – apalagi sebagai seniman, apa salahnya orang berpandangan kekiri-kirian seperti orang sosialis? (hlm. 152).

Manusia memang akan selalu hidup dalam proses untuk menjadi (process of becoming). Tidak ada yang terus-terusan bisa menjadi pahlawan, pun tidak ada yang bisa senantiasa menjadi pecundang.


Muthia Sayekti, penulis lepas, Alumni Kajian Budaya dan Media UGM. Bisa disapa di Muthia Sayekti (Facebook), @mutiasayekti (Instagram), @MuthiaSayekti (Twitter)

Buku, Resensi

Berkisah (ke) Sejarah

Oleh Bandung Mawardi

Pada 2014, Iksaka Banu dengan buku berjudul Semua untuk Hindia meraih Kusala Khatulistiwa Award. Ia memang memberi prosa apik dan merangsang ke pengisahan dan pewartaan sejarah. Tahun-tahun berlalu, ia tampil lagi dengan buku berjudul Teh dan Pengkhianatan. Buku masih berisi cerita-cerita merangsang ke renungan sejarah. Di kategori prosa, buku itu menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Cerita-cerita pantas terbaca dan teringat. Persembahan “unik” di kesusastraan Indonesia mutakhir.

Kita mulai simak cerita berjudul “Di Atas Kereta Angin”. Kita diperkenalkan dengan tokoh-tokoh berwatak kolot dan moderat menanggapi “kemadjoean” dan persaingan identitas di tanah jajahan. Dua tokoh berseberangan memahami identitas diri sebagai manusia Eropa. Si kolot ingin terus menjadi “toean” dihormati, ditakuti dengan rajin memerintah si bumiputra. Larangan-larangan diberikan di perkara busana dan sepeda. Si moderat mengerti situasi zaman, memperkenankan si bumiputra selaku bujang (pembantu di rumah) menaiki sepeda. “Toean” tetap berpikiran lebih beradab itu memberikan pula hak pada si bujang mengenakan pantalon Eropa saat di atas sepeda mengerjakan tugas-tugas.

Latar cerita di Jogjakarta. Si bumiputra mengendarai sepeda dengan busana rapi menjadi polemik. Dua tokoh Belanda itu tak pernah membuat bandingan bahwa sepeda tak melulu bukti kuasa “toean” berkulit putih ke orang-orang terjajah. Di Solo, awal abad XX bumiputra pun “bersepeda” tapi bermisi berbeda. Di novel berbahasa Jawa gubahan Jasawidagda berjudul Kirti Junjung Drajat (1924), diceritakan sepeda menentukan gairah nasionalisme melalui Boedi Oetomo. Tokoh penggerak di organisasi “modern” itu pemilik toko-bengkel sepeda. Penghasilan besar digunakan untuk hidup dan diberikan ke pembesaran Boedi Oetomo. Sepeda bertokoh kaum bumiputra, berbeda arah dari cerita menguak sejarah buatan Iksaka Banu.

Tokoh bumiputra di cerita Iksaka Banu tetap di posisi rendah. Penjelasan “toean” berlagak mengerti kemajuan dan bersikap etis pada si bujang: “Ia tetap masih mengenakan sarung yang digulung sepinggang… Ia pun memakai ikat kepala. Pendeknya, secara keseluruhan penampilannya masih Jawa seperti warga lainnya. Orang tidak akan keliru mengira ia Eropa.” Sejarah identitas memang mengandung perdebatan dan anggapan-anggapan bertaburan dilema.

Tokoh-tokoh ciptaan Iksaka Banu mengalami gejolak dan kisruh menjalani sekian hal di Nusantara. Pada masa lalu, Nusantara itu rempah-rempah. Cerita berjudul “Kalabaka” mengisahkan perdagangan, moral, tanaman, perang, dan keluarga. Iksaka Banu bukan pemberi sifat-sifat mutlak membedakan nasib kaum Eropa dan bumiputra. Tokoh di cerita itu berkebangsaan Belanda, mati berdalih memberi penghormatan atas hak-hak penghuni Banda. Kematian bersurat untuk membagi derita dan mengingatkan petaka VOC.

Pesan di surat terbaca si putra: “Bila kelak engkau menjadi pengusaha, jangan pernah tergiur bujukan VOC untuk pergi ke Hindia dengan iming-iming menjadi jutawan melalui perdagangan pala atau fuli. Sebab, pada setiap keping sen yang kau simpan, ada darah dan air mata penduduk Banda yang kehilangan asal-usul dan jati diri karena gugur membela tanah air, atau dibawa ke Batavia sebagai budak belian.” Berpihak! Tokoh-tokoh di cerita dan sejarah berhak berpihak meski sadar risiko. Si penulis surat dihukum oleh bangsa sendiri, Eropa mengaku beradab dan membawa pesan Tuhan. Kaum Eropa di Nusantara justru khianat dan pencipta petaka berkepanjangan. Di buku-buku sejarah bertema rempah-rempah, kita semakin mengerti perdagangan dunia membinasakan bumiputra dan membangkrutkan Nusantara sebagai negeri subur.

Cara bercerita di dua cerpen itu terasa “mengejutkan” asal kita mau membandingkan dengan kemahiran dan kepekaan para pengarang Belanda mengisahkan Hindia Belanda masa lalu. Buku berisi cerita-cerita Iksaka Banu itu bakal senewen jika bersanding dengan buku berjudul Bianglala Sastra: Bunga Rampai Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia (1979) ditulis kembali oleh Dick Hartoko berdasarkan buku Oost Indische Spiegel susunan Rob Nieuwenhuys. Dulu, kita sering mengacu ke teks-teks sastra gubahan pengarang Belanda atau Indonesia saat ingin mengetahui sejarah Nusantara dan watak manusia-manusia berbeda peran selaku: penjajah dan terjajah. Pada abad XXI, Iksaka Banu menempuh jalan jauh ke waktu silam untuk menggarap cerita-cerita, belum perlu menumpuk warta atau pamer di daftar pustaka puluhan halaman. Cerita memang tak bermaksud menjadi teks sejarah seperti diajarkan di ruang-ruang kuliah. Iksakan Banu menjelaskan: “Bila terlalu banyak memasukkan fakta sejarah, unsur fiksinya bisa hilang, dan cerita akan bergulir dari awal hingga akhir dengan sangat membosankan, seperti buku diktat.”

Dua buku buatan Iksaka Banu berjudul Semua untuk Hindia juga Teh dan Pengkhianat tak sempat terbaca oleh Subagio Sastrowardoyo. Kita menduga buku-buku itu menjadi “bandingan” dan “ledekan” atas segala warisan sastra dari masa lalu bercerita Hindia Belanda. Di buku berjudul Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983), Subagio Sastrowardoyo sudah menderet pikat kesusastraan di situasi sejarah terselenggara di Nusantara. Ketekunan Iksaka Banu menulis “fiksi sejarah kolonial” mungkin terpaut jauh dari album sastra sudah mendapat pembahasan dari Rob Nieuwenhuys dan Subagio Sastrowardoyo. Kini, suguhan cerita-cerita itu diganjar penghargaan tanpa ada jaminan memberi rangsang kesejarahan bagi pembaca tak memperoleh daftar pustaka atau daftar warta dari Iksaka Banu.

Di cerita berjudul “Tegak Dunia”, kita masih mungkin membaca sambil membuka buku-buku garapan Denys Lombard (Nusa Jawa Silang Budaya) dan Nirwan Ahmad Arsuka (Percakapan dengan Semesta). Cerita mengenai globe dan Karaeng Pattingalloang. Bumiputra itu fasih sekian bahasa dan keranjingan sains. Ia memesan globe dari Eropa. Manusia-manusia Eropa kaget dan kagum mendapatkan kabar bahwa Karaeng Pattingalloang rajin membaca buku-buku dan memiliki selera sains mungkin saja mengalahkan kaum Eropa di Nusantara. Si Eropa cukup memberi keterangan atas benda pesanan bumiputra berpikiran maju: “Ini sebuah globe! Tiruan bumi. Lengkap dengan relief benua, pulau, samudra, serta keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis, dan Latin. Sesuai permintaan pemesannya.” Kemenangan serasa terbaca di biografi pemesan untuk mengingatkan kepongahan intelektual kaum Eropa.

Kita khatam cerita-cerita dalam Teh dan Pengkhianat mungkin terangsang berjalan ke sejarah. Buku perlu bersanding dengan setumpuk buku sejarah berbahasa Inggris, Belanda, dan Indonesia agar membaca cerita seperti di tebakan atau keterkejutan. Buku menggemaskan di seruan sejarah kolonial. Begitu.


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019)

Buku, Resensi

Mengurai Ketidaksadaran

Oleh Dwi Alfian Bahri

Jagat Digital, itulah kata yang dipilih Agus Sudibyo untuk judul buku terbarunya. Mungkin judul itu tidak terlalu menggugah selera pembaca, tetapi, ada hal yang menarik di sub judulnya, yakni Pembebasan dan Penguasaan.

Melalui dua kata tersebut Agus Sudibyo coba menjelaskan sekaligus menguraikan hal yang tersembunyi dari jagat digital. Mengeksploitasi permasalahan yang selama ini tidak disadari. Pembebasan dan Penguasaan dijadikan materi dasar atas buku yang berjumlah 466 halaman tersebut.

Ada kutipan yang menarik dalam buku tersebut, “muncul kesadaran di kalangan generasi muda dan terdidik di Barat untuk mulai berjarak dengan semua bentuk media baru. Ketika kesadaran ini makin menguat di Eropa dan Amerika, bangsa Indonesia masih pada fase mengagumi dan menggandrungi media baru dan kurang memperhatikan benar konsekuensi yang ditimbulkannya.” Bisa disimpulkan, secara garis besar penulis ingin menyampaikan hal yang sebenarnya gagal diketahui dan dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Jagat digital, sebuah dunia baru yang melenakan sekaligus mematikan. Bangsa Indonesia belum sadar terhadap frasa tersebut. Melalui bukunya ini, penulis menguraikan hal terselubung yang terdapat dalam Google, Amazon, Facebook, dan platform lainnya. Hal terselubung itu ironisnya kita nikmati detik ini dengan nyaman.

Perlu diketahui, tidak ada yang benar-benar gratis: free service dengan free data. Perusahaan layanan media sosial memberikan banyak hal kepada penggunanya, tetapi juga mengambil banyak hal: privasi, kebebasan, dan kedaulatan diri. Itu yang dinyatakan Agus Sudibyo dalam bukunya.

Google, Amazon, Facebook, dan platform lainnya sebenarnya telah menghegemoni kesadaran kita. Privasi kita diambil secara mudah dan kita terus tertawa sambil berswafoto sekaligus berselancar di dalamnya.  Ada hal yang menghegemoni pikiran pengguna internet, sehingga secara tidak sadar sedang menjadi objek eksploitasi, alih-alih menganggapnya sebagai kewajaran.

Berpijak pada konsep panopticon (Foucault), Agus Sudibyo memberi gambaran yang jelas betapa sebenarnya kita sedang benar-benar diawasi setiap waktu tanpa jeda sedikitpun. Konsep ini menggambarkan suatu penjara yang di setiap sudutnya dipasangi perangkat CCTV (digital panopticon).

Sudah tidak ada lagi kebebasan, karena yang ada adalah pengawasan dan pengendalian. Karena, hampir semua gerak-gerik penghuni penjara dapat dipantau dan diarahkan. Tujuannya ialah menjadikan pengguna sebagai sumber atau bahan baku gratis untuk proses manufaktur dalam bentuk yang baru dan skala tertentu.

Kembali pada sub judul buku, Pembebasan dan Penguasaan. Kita memang diberi kebebasan yang benar-benar bebas. Dalam buku The New Digital Age: Transforming nations, Businesses, dan Our Lives dinyatakan, “Dunia digital adalah ruang tanpa hukum terbesar di dunia.” Maksudnya, pada ruang inilah kita bebas melakukan apa saja, semua hal tersaji. Sebab, perlahan dan pasti semua hal mulai terhubung satu sama lain melalui jaringan internet. Sayangnya, pembebasan semacam itu berjalan lurus dan beriringan dengan penguasaan yang terjadi.

Free service dengan Free data. Begitulah konsep yang coba diuraikan Agus Sudibyo dalam bukunya ini. Tidak berlebihan rasanya jika Sony Subrata berharap buku ini mampu merangsang studi, riset, dan penulisan karya ilmiah yang lain, karena bangsa Indonesia seyogyanya tidak menyadari betapa luar biasanya pertunjukan di balik layar jagat digital tersebut. Pertunjukan yang belum pernah mereka ketahui. Buku ini bisa dijadikan salah satu pijakan untuk memulai, memahami, dan menguaraikan isi jagat digital.

Selain hal di atas, pada bagian akhir buku ini, dipaparkan hal yang lebih menarik. Sifat jagat digital yang sejatinya semu, ternyata mendapat sebuah legalitas yang baik. Tentu saja sangat memprihatinkan bahwa negativitas media sosial justru diamplifikasi oleh media massa, khususnya media daring dan televisi.

Kekusutan info di media sosial dalam berbagai kasus justru dilanjutkan ke dalam ruang pemberitaan, diskusi publik, dan bincang-bincang televisi (talkshow). Ini semacam fenomena yang mengerikan. Ketika hal yang sejatinya rancu, banal, hiper, rapuh, berkelindan, tiba-tiba menjelma paradigma baru publik. Media massa menjadi follower media sosial, itulah yang ditulis Agus Sudibyo.

Jadi, media massa yang sebelumnya menjadi titik tolak pemberitaan karena kredibilitasnya yang terjamin, kini beralih fungsi menjadi pengikut kebanalan informasi.

Media sosial (jagat digital) sesungguhnya berhasil menciptakan perubahan revolusioner dalam hal mode komunikasi, interaksi sosial, dan partisipasi politik. Di samping itu, ada hal di balik layar yang juga harus dipahami dengan baik dan bijak. Sebagai panduan bersikap di dunia baru tersebut, Agus Sudibyo menawarkan hal yang argumentatif serta perspektif yang kritis dalam bukunya ini.

Eksploitasi masalah-masalah di atas menjadi bahan baku buku ini. Bagaimanapun, pengguna internet di Indonesia tembus 171 juta jiwa. Dengan jumlah sebanyak itu, Indonesia menempati peringkat kelima dunia. Kalau kita tidak mampu menyikapi fenomena digitalisasi pada era revolusi industri 4.0 ini, cepat atau lambat kita akan menjadi ladang penjajahan media owner.


Dwi Alfian Bahri, guru Bahasa Indonesia di SMP Kawung 1 Surabaya. Lahir di Kota Pahlawan 29 April 1993. Tinggal di kawasan Surabaya Utara. Pada waktu luang, menjalani pameran dan workshop modern kaligrafi (lettering), serta aktif dalam kegiatan literasi dan seni-sastra di Surabaya. Telah menerbitkan antologi cerpen Bau Badan yang Dilarang (2018). Bila  berminat menjalin komunikasi, bisa di instagram: @suaraalfian47.