Puisi

Puisi Daruz Armedian

mengartikan pelukan

ingat malam itu: aku memelukmu. sebuah cara mengucap cinta tanpa kata-kata. tubuhku beku dan suaraku sepi seperti ditelan bumi. tapi saksikan, dadaku berteriak. seolah ada sesuatu yang retak. di dalamnya ada diriku yang lain berdoa. semoga aku bagian dari kamu.


aku sengaja mencintaimu untuk kau sia-siakan

aku sengaja mencintaimu untuk kau sia-siakan

seumpama jendela yang setia mengamatimu

melangkah pergi dan kembali

meski yang kau tuju adalah pintu

cukup aku menjadi jerawat

yang menolak tumbuh di wajahmu

agar kau tak malu dan berpaling

saat berhadapan dengan cermin dan orang lain

aku sengaja mencintaimu di dalam masa lalu yang jauh

masa di mana tak mungkin jemarimu menyentuh


membicarakan hari ini

sejak kamu ambil hatiku, aku merasakan segalanya. tak ada lagi kata ‘pinjam’ mulai saat ini. buku-buku itu juga milikmu. lengan yang merengkuhmu seperti merengkuh diri sendiri. mata yang menatapmu adalah kebutaanku terhadap orang lain.

hari ini aku meniadakan diri. kamu meniadakan dirimu. untuk satu, kita perlu hilang di tubir waktu. lalu hadir sebagai diri lain. bukan angin, bukan aku juga bukan kamu.


mempertanyakan keabadian

apa yang dipersoal? segalanya kita kenal dan tak ada yang bakal kekal. sapamu kemarin hanya angin. bumi yang bijak suatu hari akan retak. kita memang pernah membaca madah. puisi sapardi tentang waktu yang fana dan kita abadi. tapi usia manusia tak bisa setua puisi atau waktu itu sendiri.

apa yang akan kamu abadikan? segalanya meluncur deras bagai hujan. atau bagai sungai yang tawar cepat lepas ke asin lautan.

bukan aku mengutukmu jadi bongkahan batu.  makhluk dungu yang tak pandai mengenang sesuatu. hanya, kita lahir untuk titik nadir. kita tenggelam dalam ada tapi tak sungguh-sungguh ada.


belajar yang lain

dalam bahasan lain, otak kita terbagi jadi tiga. pertama untuk mengenang, kedua untuk menjalani hari ini, ketiga untuk merencanakan masa depan. aku bermimpi kehilangan otak pertama dan kamu membicarakan tak punya otak ketiga. kita menjalani hari ini di ruang dan waktu yang sama.


selamat malam, istri orang

selamat malam, istri orang

ada gelombang di matamu

seperti ingin tumpah ke daratan

apakah hari-hari kau jajaki tak sederhana

seperti hari yang kumiliki

pagi dengan kopi di meja

menghadap jendela

dan buku-buku yang

menceritakan banyak hal

selamat malam, istri orang

begitu tua wajahmu

lebih tua ketimbang usianya

apakah kenangan begitu berat kautanggung:

ketika itu pernah aku jadi pacarmu

ketika itu pernah aku datang sebagai tamu

di hari pernikahanmu

selamat malam

apalah arti pernikahan dengan lain orang

jika aku mungkin masih kau kenang?


nama lain kesedihan

/1/

nama lain dari kesedihan

adalah air mata perempuan

yang lahir dan mengalir

dari dada remuk redam

jika ia sungai

luka-luka akan diseretnya

dengan arus rumit

menuju ke arah yang

menanam rasa sakit

/2/

nama lain dari kesedihan

adalah penantian panjang

di hadapannya: waktu melambat

bosan dan gelisah meledak

serpih-perihnya terserak

menyesaki ruang tunggu

sementara kabar darimu

telah bosan mengetuk pintu telingaku

/3/

nama lain dari kesedihan

            adalah kesendirian


maafkan

maafkan kenakalanku:

mencuri namamu

dan kuserahkan

kepada tuhan

maafkan kemalasanku:

menyia-nyiakan waktu

dengan tidak mengerjakan apa-apa

kecuali duduk di sampingmu

dan membicarakan segalanya

maafkan kebodohanku:

menganggap semua ilmu pengetahuan

tidak perlu kutahu

kecuali dirimu


dingin benar udara di sini

dingin benar udara di sini

di luar, pohon-pohon berlarian

seperti ke arah masa silam

masa di mana ketakutan-ketakutan kualamatkan

di kaca jendela kereta

embun menyublim

dan aku di dalamnya

membeku

sambil menatapmu

sedang memandang

kelebat pohon-pohon itu

kau berkata pelan

ketika kereta baru setengah jam berjalan:

rebahlah di pundakku

pakailah jaketmu

udara dari ac

jauh lebih berbahaya

ketimbang jatuh cinta

aku tak butuh memakai jaket

atau merebahkan kepala

aku ingin menciummu

dan menantang bahaya dari keduanya:

jatuh cinta

dingin udara


mencemburui waktu

aku lelaki pencemburu, perempuanku

terlebih kepada waktu

ia mengubah bentuk wajahmu jadi tua

tulang-tulangmu jadi renta

kakimu jadi lelah melangkah

sedang ia masih berlari dan terus berlari

seperti anak kecil

yang tak mengerti

bagaimana perihnya menjadi dewasa

orang-orang berusaha menghitung waktu

menciptakan jam dan tanggalan

dan perhitungan-perhitungan lain

jam di lenganmu mati

dan kau tak menemukan apa-apa

selain semua itu sia-sia

tanggalan di rumahmu

selalu tidak mampu menghitung

kurun waktu dua tahun

atau lebih

aku bisa mencegah siapa pun

yang ingin merebutmu

tapi bagaimana jika itu waktu?

ia bisa saja mendatangimu

sebagai ketiadaan

menyeretmu perlahan-lahan

ia bisa saja mendatangi kita

sebagai kelupaan

kau melupakanku dan aku melupakanmu

atas dasar terlalu berat mengingat


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan puisi bagi remaja DIY. Tulisannya pernah di koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Republika, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Lampung Pos, dll.

Puisi

Puisi Lailatul Kiptiyah

Syawal

                 ; Ibuku Siti Ngaisah


sepetak ladang berpuluh tahun
menyulam dirinya untuk terus hijau

di tengah-tengahnya jantung ibu

berdegup mekar menjaga kangenku

sedang pohon-pohonnya tubuh yang tabah
melepas anak-anak embun
lesap ke urat-urat

perjalanan
melimpahiku ribuan maaf


dari kejauhan

Mataram, Syawal 1440 H


Menulis Sajak Tiga Baris

yang putih adalah kabut
yang sedih adalah putih
yang terenggut

burung-burung kembali
berpulang pada magrib
menujuMu duka berjalan tertib

kuseterika baju-bajumu
setelah kau cuci bersih
masa lalu

rembulan penuh
jatuh ke mata sungai
oh, cinta yang berderai

di bawah lampu menyala
begitu subur air mata
begitu rimbun luka-luka

kemarau yang menggenangi
seluruh kota
mengenangkanku pada lagu Africa

dari puisimu, Goenawan Mohamad
kusimpan dengan sedih
sepatu kecil Aylan Kurdi

di dalam tanah
sebutir benih pecah
ia pahami hakekat ibadah

yang dalam adalah laut
yang hitam adalah luput
yang cemas adalah doa-doa yang kusebut

Ramadhan- Syawal, 1440 H


Memandang ke Seberang Halaman

apa yang kau temukan
saat kau pandang
ke seberang halaman

jalan berpaving kotak-kotak
pembatasnya dulu jajaran batang-batang
luntas, sebatang nangka bubur dan
sedepa ke kiri segerumbul talas

seorang modin, beberapa orang dandan
pernah melewati jalan itu
membawa seorang demi seorang
-calon menantu

bagi tiga anak perawan
penghuni rumah limas
sebelah kiri jalan

apa yang kau simpan
di lubuk kenang
pada seberang halaman

kau yang datang dari arah jauh
arah yang berlawanan
bersetelan jas hitam, bersongkok hitam

di kiri kanan pundakmu
disangga tangan-tangan keluarga
sepasang kembar mayang mekar
menjemput mempelai perempuanmu

ke dalam rumah limas itu


dengan tubuh saling gemetar
kau dan mempelai perempuanmu
menyesap kucuran air kendi

air yang terperam dalam tujuh
rupa kembang

yang aromanya tak bisa hilang
hingga jauh memasuki tubuh malam
membenam dalam

menetes-netes, bermalam-malam
menjadi candu tak terbilang

Ampenan, 20 Maret 2019


Jarak

sebatang jarak tumbuh masih rendah
di tepi parit dekat masjid
yang tak begitu megah

pernah kupetik beberapa lembar
daunnya
tanpa izin ke barang siapa

“petiklah beberapa lembar daun jarak
dekat masjid itu
untuk kubalurkan ke perut bocah lelakimu”

seorang ibu dari Sumbawa
mengucap padaku

di tengah malam sebelumnya
diare serta panas menyerang
bocah lelakiku

beberapa hari selepas genap dua tahun

kini sebatang jarak kutemukan lagi, rimbun
di halaman sebuah rumah
dekat pondokan kami yang baru

kupandang setiap lewat
pohon yang menyimpan kelebat
suara seorang ibu dari Sumbawa
suara mantra yang sepurba

mitologi itu

Ampenan, 19-20 Maret 2019


Burung Hantu

di pohon hitam
di jam terkelam
kutangkap melodimu

Pagesangan, Januari 2017


Tarekat

aku menulismu
berulang-ulang

aku memanggilmu
tak pernah bimbang

dan aku menempuhmu
lewat ribuan lambang

2017


Di Kolam Renang Valerie

di atasmu duduk

bergantung enam butir jeruk

pada carang-carang sekaku telunjuk

gemar dan mahir menusuk

sesuatu yang sedih kau sembunyikan

di kediaman tengkuk

Jember, September 2018


Di Balai Kota


di balai kota menegak pagar
dari ribuan papan kembang
matahari mata yang menyabarkan
saat laki-laki itu
memasuki jantung gedung
namun ia merasa tenang
dan barangkali menang

memandang dendam kian mekar
di ruang sidang

Mei 2017-September 2018


Kesedihan Musim

sebuah paceklik datang tak memandang

waktu. Tangannya terulur demikian karib

menjangkau pintu

seekor induk unggas memburu butiran jagung

yang terbawa paruh burung
di hampar kebun yang memutih itu

seperti sehabis hujan abu

namun dari pucuk daun nangka
sebutir embun menitik
tak kentara

serupa doa yang diam-diam
terjaga
di sudut gema

bilakah hujan membuyar

lagi dari utara?

lewat tangan laut yang menyudahi nestapa


2017-2019


Doa

duhai angin yang melipur
ladang-ladang kering, musim-musim tugur
bawa sajak-sajakku serupa burung
menabur kidung dan terbang
merambahi puncak kesedihan

2018


Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar. Pernah lama bekerja di Jakarta. Sejak 2014 hingga sekarang menetap di Mataram dan turut menjadi bagian keluarga dari komunitas Akarpohon Mataram, NTB.

Puisi

Puisi Jihan Suweleh

Fibromyalgia

Seperti mati

aku tertidur

dalam ngilu

sekujur tubuh

lelah mencekik

tulang begitu sakit

bertahun-tahun

aku budak tangis

apa yang kuingat

pudar perlahan

kecemasan, ketakutan

kepalaku menahan

luka dalam obat

kesembuhan

bukan antidepresan

kepercayaan

bukan penenang

sementara

persis tidurku

yang berhari-hari

tak berdaya

meski terlihat sehat

katakan bahwa aku akan sembuh

aku akan sembuh

tanpa pertanyaan:

benarkah kausakit?

leherku, pundakku

punggung, dada

kaki, tangan

melingkar kesakitan

aku tak sanggup bangun

dari tempat tidur

terlelap dalam hidup

yang mematikanku

setiap saat aku bertanya

mengapa aku terlalu payah

mengapa aku selalu lelah

meski tak berbuat apa-apa

aku ingin membeli energi

untuk tulangku

yang melulu ngilu

menyembilu


Trauma

Kenangan masa kecil

gelap dipejam

terbingkai pada mata

hadiah Papa Mama

membentuk benda tajam

di dalam kamar.


Waktu

Di magrib yang dingin

Kita sepotong bibir ranting

Di subuh yang sejuk

Kita sepasang kaki berteluk

Jarak menggigit bayangmu

Gemeletuk nyaring di kupingku

Tiada yang mampu menjarah waktu

Kau telah meniggalkanku, dan berlalu

Kenangan kutelan

Sendirian

Rindu mengudus

Dalam kardus

Sampai jumpa di lain hari

Ketika kau belum menjadi orang lain


Panggung Tangis di Mata Ibu

Aku melihat matamu, Ibu

menggerakkan kesedihan

menjadi seni pertunjukan

Setiap menyentuh panggung

aku melihat tangismu

pada tirai, pada lampu yang berderet

dan akan menyinariku

mendapat tepukan dari tangan

yang bukan dirimu

Tata rias yang teroles di wajahku

menyatu dengan kulit

sebagai duka yang kaulempar

tanpa lebih dulu kautatap

dan kostum-kostum yang kukenakan

adalah pertanyaan atas kesedihanmu

yang tak pernah sanggup kaujawab:

betulkah mimpiku adalah lukamu?

Aku rindu bersandar di dadamu

mendengar sunyi yang berdarah

hening yang memeluk kehampaan

tanpa air susu yang keluar

sebagai tali antara kita

Adakah yang tidak kuketahui

dari masa lalumu, Ibu

selain payudaramu

tak sanggup mengeluarkan

apapun kecuali kesedihan

Adakah yang tidak kuketahui

dari masa laluku

sehingga yang kuingat hanya

Ibu mengurungku dalam diam

dan memukulku ketika aku lari

ke luar rumah

Di panggung berkilap-kilap

aku patung dalam matamu

wajah-wajah gembira di depan sana

adalah tangismu yang menolak

kepergianku

tetapi, Ibu, tidak ada jalan yang buruk

di atas panggung

meski panggung yang kita lewati

berbeda.


Pada Sebuah Televisi

Aku ingin meninggal di dalam FTV

menjadi air mata penonton setia

yang bersembunyi

pada nasib buruk sendiri.

Mereka melihatku sebagai perempuan

simpanan suami orang

merebut hak anak-anak tak berdosa

korban kegagalan rumah tangga.

Satu kali saja aku menjadi pemenang

meski menyakiti istri orang

anak orang, dan harga diri orang

yang rela melakukan apapun untukku

dan meninggalkan siapapun demi aku.

Kelak ketika aku kecelakaan

karena sibuk teriak-teriak

demi memperlambat durasi

kesedihan pada ujung takdir,

aku pasti bertobat dan meraung-raung

minta maaf pada Tuhan

sekalian tak menyangka, ya ampun

perempuan yang menyakitiku

adalah penolong hidupku.

Dan aku meninggal setelah memohon

agar mereka kembali bersatu

biar penonton tidak terlalu membenciku

lalu mendapat petuah hidup

dari kisah orang-orang baik.

Aku ingin meninggal di dalam FTV

menjadi teman bagi kesepian ibu-ibu

dan hiburan untuk orang

yang gemar tertawa

lewat judul-judul panjang

tak masuk akal.


Meminta Pertolongan

                    Mengenangmu.
                    Tolong aku.

Sajak-sajak yang kita tulis
Berhamburan dalam tangis
Rindu terjatuh pada patuh
Menjalar sebagai luka lebar
Di matamu yang jauh dari mataku
Senduku yang sendu pada sendumu
Sepanjang tahun lalu

Tengah malam kita menjadi terang di layar ponsel
Dan gelap di dada sendiri
Menutupi semua yang kita pahami
Dengan pertanyaan seputar duka sandiwara

Pagi hari kita menjadi kotoran kambing
Yang menolak mengerak
Membantah disebut sampah

Siang hari kita menjelma harta
Yang tidak membuat kaya
Siapa-siapa

Sore yang merah
Bergantian di bibir kita
Dan kau basahi dengan hujan dari mulutmu
Sobek seluruh aku

Tolong.

Mengenangmu adalah darah
Yang tak henti keluar di kepala

Mengenangmu adalah sedih
Yang selalu ada dalam puisi
Tanpa bisa kupahami


Kepada Tubuh yang Runtuh

Kautahu, tidak ada yang ingin menjadi gila
seperti kita yang tidak meminta lahir dari rahim siapa-siapa.

Napas membusuk
lebih busuk dari bangkai tikus
yang kaupandang sepanjang hari
menunggu pulang tiba

Di selatan Jakarta, orang-orang bekerja
menatapmu sebagai manusia
tanpa otak, tanpa dada, tanpa wajah
berdatangan meminta telinga untuk cerita sedih mereka

Pertanyaan datang pergi
semacam kontes di televisi
yang kausimak tiap hari
sebagai hiburan selain sinetron perselingkuhan

Rasa iba kaututup
demi membungkam kesedihanmu sendiri
luka duka kaubiar turun
dalam dirimu menuju doa yang entah didengar kapan

Terik melingkar di tubuh kita
setiap malam di atas ranjang
basah menahan nyeri
yang takut diketahui

Siapa punya luka lebih besar
di antara kita
siapa punya darah lebih kotor
di antara kita
bagimu menjadi gila adalah kesalahan
dan ketololan dan keegoisan dan kesia-siaan dalam hidup

Tetapi, tidak ada yang ingin menjadi gila
tidak ada yang ingin tersesat dalam dirinya sendiri
dan kaulupa, kita sudah mengalaminya
bahkan berdoa, “Tuhan, pulangkan kami,

tanpa rantai besi di tubuh ini.”


Bilur

Kau terbungkus plastik
tubuh biru, lebam, kaku
di tanah basah
kunci menyembul
menjadi barang bukti
terkubur

Pernah kita bersatu
suka dalam luka
tanpa minta sudah

Akhirnya jasadmu
lepas juga
disambut angin
yang menggiring bau anyir

Masih terekam nyerimu
bunyi jerit di ruang itu
menjadi nyanyian di bibir kita
takut menuju takluk
pada malam deras keringat

Di mana kemanusiaan, kaubilang
Di mana letak otakmu, perempuan murahan, kata mereka

Cambuk menari
di punggung dan pahamu

Kini giliranku
menyusul kebebasanmu.


Tidur

musik-musik sendu

menyentuh

kasur yang lembut

dan kosong

bersih

dari tangis

menguar luka tanpa darah

jatuh sebagai batu

jatuh sebagai lagu

dengan lirik kehilangan

Ibu


Wajah yang Terbakar di Stasiun Manggarai

Aku lupa bertanya padamu

bagaimana cara terbaik

menyelamatkan cinta

dari sakit hati

Di peron dua aku menunggu

bertahun-tahun, berganti baju

wajah yang tetap suram

rambut yang tetap kelam

mengibas masa lalu dari tanganmu

dari napasmu

dari tangismu

dalam sunyiku

Entah apa yang membuat diriku

menyebutmu masa lalu

sementara kita tak pernah berpisah

sekaligus tak pernah bersama

darahmu

dalam

darahku

Aku melihat restoran berjejer

seperti kelaparanmu

yang belum mampu kausampaikan

kecuali dalam rengek dan ba-bi-bu

hujan pernah menyapu kita

tetapi menghangatkan dalam peluk

yang kita eratkan

kemarau pernah mendinginkan kita

bersama bising kereta dan bau keringat

para penumpang ketika kauhilang

dan aku menjerit mencarimu

meski aku tahu kau adalah aku

Anakku, suatu saat entah di mana

kita akan kembali bersama

naik kereta menuju rumah

aku menenteng banyak kardus

tetapi takkan pernah kubiarkan

tubuhmu terjatuh, tersenggol tubuh

orang lain ketika kereta rel listrik berhenti

dan penumpang seperti binatang buas

yang membakar wajahku dengan api

kebencian tanpa sanggup kutahan


Jihan Suweleh, lahir di Gorontalo, 14 Desember 1994.

Puisi

Puisi Seruni Unie

Move On

1.

Dengan atau tanpamu

duniaku

masih lembut kenyal

2.

Tak apa aku sendiri

sebab dadaku

ranum diksi

3.

Pergilah jauh

hasrat tak lagi luluh

di hadapanmu

Solo, 2016/2018


Kamar Penyair

Sepi  tak wangi

hanya bayangan diri

sibuk onani

Solo, 2019


Sebuah Puisi (Tak) Horny 

1/

Kau buat aku horny

pada sapamu

yang rendah hati

2/

Gairahku sontak menggelinjang

saat tuturmu

sopan

3/

Kapan bertemu

ingin kuhibahkan

seluruh  kecupku

Solo, 2018


Jumpa

Kueja tekun

adamu

sebelum matahari pikun

Solo, 2018/2019


Epilog Rumah Lama

1.

Di Kamar

cat dinding mengelupas

mirip cinta yang kandas

2.

Di Ruang Tamu

senyum bapak membiru

pamit padaku

3.

Di Dapur

cinta ibu melebur

dalam sambal dan sayur

4. 

Di Halaman

setangkai mawar

mengucap selamat tinggal

Solo, 2016/2018


08569***

Kau tinggalkan

Nada tulalit

Sebagai isyarat pamit

Solo, 2019


Fragmen Secangkir Kopi

1/

Akulah ampas

dalam kopimu

yang ditinggal tak ikhlas

2/

Seperti selir

menunggu kecup bibir

tak henti zikir

3/

Maka reguklah

sesukamu

sebelum dingin waktuku

Solo, 2019


Bro

Di waktu cingkrang

Aku pernah kasmaran

Padamu, adam

Solo, 2019   


Seruni Unie, penikmat puisi asal Solo.

Puisi

Puisi Olen Saddha

Puisi Anak-Anak

Di mata anak kita

Suguhkan lukisan hijau alam yang jauh dari kering gersang

Memupuk beranda rumah

Agar subur dan jauh dari hama perkara

Di bibir anak kita

Tanamkan kalimat-kalimat tegas yang jujur tanpa tipu daya

Tuturnya adalah rindang

Peneduh diri dari terik matahari siang dan lalu lalang orang

Di bahu anak kita

Sandarkan benih terkuat yang mampu mengangkat tumpukan duka

Rangkulannya hangat kokoh

Merengkuh daun-daun yang mulai layu karena angin terlalu kencang

Di kaki anak kita

Pakaikan sepasang pengejut agar langkahnya tak pernah bimbang

Tujuan di depannya

Membisik untuk tetap bergerak sesuai dengan pikiran dan perasaan

(Desember 2017)


Menemukanmu

Aku menemukanmu dalam kotak hitam berisi rindu,

yang berserakan memapah lantunan bait merdu,

yang setiap waktu kudengar dari balik sepoi penafsir sesak paru,

yang langkahnya samar dalam memburu,

yang bisiknya membuang bising hari layu.

(2016)


Sesuatu di Dalammu

Bahumulah yang membuatku damai, seperti dahan yang menjamu burung-burung dengan teduh naungan. Aku tak mampu menemukan alasan untuk berhenti mendengar rimbunnya kalimat penenang.

Telingamulah yang membuatku lahir sebagai manusia, seperti perekam suara yang memuat rekaman ucapan tanpa lebih dan kurang. Menyimpan ucapan-ucapan itu di dalam ruang berupa ingatan. Sesekali kauputar ulang untuk menyeretku saat terlalu jauh keluar dari lintasan kewajaran.

Ketidakhadiran kabarmulah yang membuatku lumpuh, seperti dingin angin malam yang tak lekas berhenti meremukkan tulang-belulang. Aku tak menemukan sebab untuk berhenti berharap menemukanmu di antara detik-detik terang hingga siang memanggang.

(Juni 2017)


Di Ujung Kantuk

Di ujung kantukmu,

aku menyisipkan bungkusan berisi perasaan yang kurajut dari kenangan.

Kau akan memeluknya hingga ke dunia jauh yang selalu menggodamu untuk berlama-lama.

Saat pagi tiba, bungkusan itulah yang akan membisiki telingamu untuk lekas pergi dari situ.

Sebab aku sudah menunggu di balik pintu untuk membawamu menuju hal-hal tak terduga.

(2019)


Benang_Benang Terbang

Sepanjang napas malam,

aku melihat benang-benang pikiran terbang ke atas.

Semakin tinggi, semakin rumit jalinan yang mereka buat.

Hingga dini hari mereka masih pusing memikirkan cara

untuk melerai pergolakan dengan diri sendiri

(2019)


Masa Lalu

Masa lalu adalah genangan lumpur yang selalu menenggelamkan ketika kakiku berpijak di atasnya. Aku tak bisa selamat dari cekikan lengan-lengan kenangan yang menjalari sekujur tubuh.

Masa lalu adalah gempa yang merubuhkan perasaan dan keyakinan ketika pikiran terpaut pada hari berikutnya. Tak ada yang mampu menebak kapan lolongan panjangnya berakhir. Sebab ia akan terus mengejar bagai roh-roh gentayangan, yang lupa jalan kembali menuju tempat peristirahatan.

(2019)


Yang Tak Terlihat

Aku melihat jejak-jejak langkah yang menahan napas, seperti merpati yang tersedak karena tanpa sengaja menghirup kata-kata yang berterbangan di udara

Aku mendengar kerikil-kerikil berbisik dengan mata terpejam, mereka merapal kalimat panjang yang tak kumengerti artinya, tapi tetes hujan tahu ia sedang menahan diri agar tidak marah

Aku merasa di balik kulitku ada sesuatu yang mengalir selain darah, ia bersikukuh tidak mau keluar dari jalan panjang yang membentang di seluruh tubuhku. Ia terus berjalan sambil membawa segenggam benih dan menyebarnya di sepanjang jalan yang ia lalui. Dan saat benih-benih itu tumbuh, aku tidak bisa lepas dari rimbun. (Februari 2019)


Perih yang Lapang

Matanya biru laut yang menggelarkan kursi panjang untuk duduk sebentar

Tak ada kedip yang tiba-tiba

Semua wajar hingga membuatmu lupa berapa lama waktu yang kauhabiskan

Senyumnya hangat selimut tempat kausembunyi dari gigil akibat udara dingin lepas subuh

Tak ada padam yang mengejutkan

Semua bertempo datar dan kau amat tenang dibuatnya

Memang,

Sudah ia siapkan semua matang-matang,

dan sesuatu yang perih itu hanya ia simpan sendirian

(2019)


Melipat Kemungkinan

Sementara kau berjalan-jalan,

aku melipat kemungkinan dan kusimpan di saku kanan.

Nanti sesampainya di rumah akan kukumpulkan bersama lipatan-lipatan lain,

untuk melengkapi kerangka penghubung kita berdua,

yang kususun sendirian.          

 (2019)


Mata dalam Dadamu

Di sela-sela terik matahari pukul dua belas,

aku melihat wajahmu yang merengut sebab aku gagal merapal kata mesra.

Kauputar pandangan untuk membelakangiku,

tapi aku tahu mata dalam dadamu tak akan pernah sanggup melakukan itu.

(2019)


Olen Saddha, tinggal dan berkegiatan di Surakarta. Saat ini tengah bernaung di Komunitas Kamar Kata Karanganyar untuk memperkuat kemampuan menulis, guyon, dan rasan-rasan. Selain menulis ia adalah founder Inisiasi 66, kolektif lintas disiplin. Ia juga vokalis di grup musik Suarasa. Karya-karyanya pernah terbit di Jurnal Perempuan, Buletin Sastra Pawon, beberapa antologi-antologi bersama, dan surat kabar. Buku puisinya berjudul Memandikan Harapan diterbitkan oleh Kekata Publisher tahun 2017. Ia dapat dihubungi melalui akun instagram : @olensaddha, fb : Olen Saddha, Email : [email protected]

Puisi

Puisi Anggi Putri

Sepotong Waktu

metafor dan segala hanya kebisuan tak bermakna

barangkali masih tersisa puisi di saku para pengemis

yang hanya menelan segenggam roti sisa pagi

atau menikmati senja yang hambar di antara langkah kaki

hari sama, waktu sama, puisi juga sama

berbondong-bondong memungut diksi di gorong-gorong,

kolong jembatan, dan carut-marut rasa

kepedihan yang purba

barangkali Tuhan masih menunggu di sisi kanan trotoar

dengan sekantung doa yang akan dikabulkan

lalu puisi diterbangkan;

pengemis hilang

Surabaya, 18 Januari 2019


Selimut Rindu

bulan gigil memeram sepi

sejumput rasa yang masak

pada pangkal hari

jatuh terserak, menyesak

di bawah selimut rindu

penuh pecahan embun yang tambun

masih kulihat kenang rimbun

mematuk waktu nan anggun

rekah siluetmu mendedah

kisah dan airmata kala itu

berkeriut di bilik hati yang alpa

tuliskan namamu pada ragu

subuh bangun, aku lupa kau

jauh di antara pandang

dan resah

debar dada merekam potretmu

yang tersapu gerimis lalu

Surabaya, 30 Desember 2018


Percakapan

sepotong episode yang tak lepas dari tempurung otak

seuntai candu kau tuang pada waktu

seolah belenggu tiada surut dalam kalbu

kau hanya sebatas bunga potong yang dipajang

beberapa hari kering dan terbuang

membajak kehidupan dengan air mata malam

berdenyar; sekejap lalu dan tenggelam

bintang tak lagi kisahkan elegi haru; kian merayu

menggoda setiap indera dalam sekujur tubuh

dan saat itu aku lebur dengan seluruh rasa

puing-puing cinta di pematang masa

Surabaya, 15 Januari 2019


Sunyi

kenangan kita ranggas dari pohon yang bersemi

ketika kita seka puisi dari halaman buku-buku

meleleh seolah kutukan jarum waktu

detak perjumpaan adalah kitab yang harus usai

lagu masa terlalu rancak memadati hidup

dan kehidupan. sepanjang rentang sungai

mengalir menjajaki kisah yang hampir sirna

manik-manik napas kesendirian pun rebah

sebilah rindu menindih sepimu

sandaran tak lagi tancap pukau

bisikan angin malam bertukar tangkap

melenakan jiwa belantara

menusukmu bertubi-tubi; perih

Surabaya, 16 Januari 2019


Mencari Jawaban

/1/

dari pinta paling suci

tapak risalah hati

/2/

dalam bilik tengadahkan puja

selendang nyanyian cinta

/3/

berkecamuk dalam dada

rindu purnama kian mengangkasa

/4/

repih-repih selimut gelora cinta

purnama: purna nama

/5/

setetes semangat merangkum aksara

pasti bisa, semoga

/6/

menyibak selimut dingin

asa di pagi hari

/7/

menyesap getir semerdu nyanyian sendu

belenggu: aku

Surabaya, 26 Desember 2019


Satu

terus berjalan mencari beningnya telaga

meski tenggorokan terus menahan dahaga

saat hujan tertahan diantara mega-mega

aroma candu akan terus berlaga

maka saat gelap makin merayap

dan sunyi kian mendekap

purnama tak akan lenyap

ia mengusir segala ratap

bila rindu mengenyam tiap kerjapan mata

jauh dari tatapan antara kita

sesungguhnya itulah yang disebut smita

cinta buana di alam semesta

Surabaya, 27 Desember 2018


Kisah Klasik

tahun telah gugur satu per satu di dalam tidur

sedang banyak anak-anak malam berkeliaran

merunut kisah tentangmu. hingga aku lupa namamu

yang ditiup angin dan melekat di kelambu

wewangi itu kadang mencekat hidung lalu hinggap

di ruang tamu, dapur, teras, dan dadaku

tercekat. sakit yang meradang hingga ke tulang belulang

tak mengapa jika musim menggulung lalu rebah

di pangkuan rembulan. hingga kau duduk menikmati perjamuan

di sisi utara meja makan dengan secangkir wedhang sechang

dan ragu memikirkan masa depan

aku tercengang;

kau hanya bayang-bayang

1000 hari yang tergenang

Surabaya, 14 Januari 2019


Dua Mata

jangan menatap penuh

agar perihal tak jadi keruh

jangan bertolak pinggang

agar selalu rekat kasih sayang

jangan mengobral isu

agar tak banyak bunga di pemakaman

yang makin layu

dan kelu makin membiru

biar puisi-puisi yang bercerita

memunguti sumpah serapah

yang membatasi diri kita

hingga segala tak hanya dusta

Surabaya, 29 Januari 2019


Anggi Putri, pencinta sajak yang lahir di Jombang, Jawa Timur. Selain menulis fiksi, ia juga seorang blogger, content writer, anggota komite sastra Dewan Kesenian Jombang, dan pencinta jalan-jalan. Karyanya pernah dimuat beberapa media cetak dan online di antaranya Suara Merdeka, Lampung Post, Radar Surabaya, Radar Mojokerto, Tribun Jateng, Malang Pos, Harian Surya, Majalah GADIS, Ruas Online, Kawaca, Radar Banyuwangi, dan lain sebagainya. Pernah menjuarai beberapa lomba puisi, Juara 2 Lomba Puisi IKIP PGRI Bojonegoro, Runner Up UNSA AMBASSADOR 2019, dan lainnya. Buku Puisinya Angin Kembara (2015) dan Laku(na) (2016). Lebih akrab bisa kunjungi www.anggiputri.com. Email: [email protected].

Cerpen

Kisah Tentang Seorang Pemuda Bodoh

Cerpen Adi Zamzam

Coba dengarlah sejenak kisahku ini. Sebuah kisah yang mungkin bisa kalian ambil pelajaran darinya. Kisah yang menceritakan tentang seorang pemuda yang merasa dirinya manusia sempurna. Tampan, cerdas, lahir sebagai keturunan saudagar kaya raya pula. Pemuda yang memelihara pikiran, jika seorang sempurna haruslah berjodoh dengan yang sempurna pula.

Maka, ketika kedua orangtuanya memilihkan jodoh untuk pendamping hidupnya, ia selalu saja menolak.

“Aku ingin jodoh yang sepadan, Ayah,” ujarnya.

“Sepadan bagaimana maksudmu?”

“Si Maya, yang Ayah tawarkan kepadaku itu, kedua matanya terlalu besar untuk ukuran wajahnya yang lonjong. Si Nadia, apa Ayah tak melihat bahwa gigi-giginya mengerikan sekali? Juga si Mega yang Ayah bilang keibu-ibuan itu. Apa Ayah ingin aku menikahi gajah?”

“Lantas yang kau inginkan itu yang seperti apa, Nak? Mana ada orang yang sepadan? Dalam hal jodoh, yang kita butuhkan adalah menyesuaikan diri dengan pasangan,” ganti sang ibu yang mengujar tanya.

“Apa Ibu tak melihatku? Aku ini anakmu, bertahun-tahun aku tinggal bersama kalian. Apakah ada yang terlihat cacat di matamu, Ibu? Yang tiada cela janganlah kau sandingkan dengan yang ada cela, Ibu. Itu jelas tak seimbang.”

Berubah sedihlah wajah sang ibu. Tanpa diduga, perempuan itu pun mengulurkan tangan kanannya demi memperlihatkan jari-jemarinya. Pemuda itu terkejut. Ia baru ingat bahwa jari telunjuk itu telah kehilangan satu ruasnya.

“Musibah itu terjadi sewaktu Ibu membantu kakekmu memanen padi. Jari Ibu terjepit saat berniat membetulkan poros perontok padi. Ibu masih sangat muda saat itu. Sepuluh tahun kemudian barulah Ibu menikah dengan ayahmu. Kami bahagia,” tutur sang ibu dengan lembut.

“Pokoknya aku ingin yang sebanding. Titik!” Pemuda itu meninggalkan kedua orangtuanya dengan marah. Sepertinya percuma saja memberikan pengertian kepada mereka.

***

Dan pemuda itu pun masih terus mencari dan mencari. Setiap ia main ke rumah teman-temannya, hampir selalu ia menanyakan hal yang serupa.

“Apa kau punya saudara atau kenalan seorang gadis yang tiada cela? Kalau punya, kenalkanlah kepadaku. Tentu aku akan sangat senang untuk memintanya sebagai pendamping hidupku.”

Namun jawaban yang ia dapat selalu saja mengecewakan hati. Justru mereka malah memamerkan kekurangan masing-masing.

“Suamiku hidungnya pesek, kepalanya juga sedikit benjol, tapi kami bahagia.”

“Ah, kau lihat sendirilah itu. Istriku cerewet sekali, kayak tukang jual obat kuat di pasar. Jika kami adu mulut, bisa kupastikan telingamu akan tuli. Tapi aku cinta dia. Hingga detik ini kami baik-baik saja. Dan kami bahagia.”

“Dari dulu suamiku suka kentut kalau di ranjang. Tapi aku kagum dengan keperkasaannya. Kami bahagia.”

Demikianlah jawaban dari beberapa temannya yang sudah berumah tangga. Namun pemuda itu tetap kukuh dengan pendiriannya.

“Aku yakin akan bisa menemukan yang sempurna, yang sebanding denganku. Aku tidak mau kecewa gara-gara mendapati cela di kemudian hari,” kilahnya, jika ditanya perihal dirinya yang amat pemilih.

Dan, bulan demi bulan pemuda itu terus mencari. Gadis demi gadis ia kenali, ia dekati, dan ia memang sadar, gadis sempurna seperti yang diinginkannya memang sukar dicari. Pikirnya, bukankah memang begitu? Bukankah barang bagus itu memang jumlahnya sedikit? Kekhawatiran orangtuanya selalu ia redam saja, meski dalam hatinya terselempit pula sedikit was-was.

Sampai suatu ketika ia mendapat sebuah kabar dari salah seorang pamannya yang baru saja pulang dari mencari barang dagangan.

“Ada tiga gadis kembar yang sangat sempurna. Aku yakin pasti kamu akan terpikat dengan salah satunya. Jika kamu mau, akan kuhubungkan dirimu dengan bapaknya. Kebetulan dia adalah penyuplai beras daganganku.”

“Lebih sempurna dari gadis-gadis kampung kita, Paman?”

Sang paman mengacungkan jempol sebagai jawaban. Ia bahkan berani menjamin di hadapan kedua orangtua si pemuda bahwa kecemasan mereka akan segera berakhir.

Dan benar saja. Ketika pemuda itu turut serta pamannya saat kunjungan berikutnya, ia langsung yakin bahwa di antara ketiga gadis cantik itu akan ada yang jadi istrinya.

Kedua orangtuanya gembira alang kepalang. Mereka bahkan langsung mendatangi ayah gadis-gadis itu guna meminta izin langsung agar anak lelakinya diperbolehkan mengenal satu per satu.

“Aku akan menikahi yang paling sempurna di antara mereka,” ujar pemuda itu di hadapan ayah ibu, serta pamannya.

“Kamu harus cepat, sebab aku dengar kabar katanya sudah banyak pemuda yang mendekati mereka,” tutur sang paman.

***

Hari pertama perkenalan, pemuda tampan itu memulainya dengan gadis yang paling tua.

“Hanya selisih tigapuluh menit?”

“Iya. Kalau dengan adikku yang nomor dua umurku hanya selisih lima belas menitan. Itulah kenapa kemudaan kami hampir tak terlihat perbedaannya,” tutur si gadis tertua.

“Saat ulang tahun kalian pasti selalu patungan untuk merayakannya.”

Gadis itu tertawa mendengar gurauan itu. Tawa manis yang terdengar merdu sekali. Membuat hati si pemuda tampan ingin lebih dekat dan semakin dekat.

Namun suasana cepat berubah ketika mata si pemuda tampan menemukan pemandangan itu. Ya Tuhan, jari tengah kaki kanan gadis itu ternyata cacat! Bentuknya lebih kecil dibanding jari kelingking kakinya sendiri. Dan itu sudah cukup membuat si pemuda tampan merasa mual.

Ketika si pemuda tampan kemudian meminta izin untuk mengenal gadis nomor dua, tahulah orang-orang bahwa gadis yang tertua pastilah punya cacat.

“Coba perhatikanlah jari tengah kaki kanannya yang luput dari pandanganmu, Paman. Jika aku menikah dengannya, pasti salah satu anakku akan ada yang jarinya begitu. Aku tidak mau,” jawabnya ketika ia ditanya sang paman.

Dengan gadis kedua pun sama. Sembari mengajaknya jalan ke beberapa tempat yang menyenangkan, si pemuda tampan diam-diam meneliti dengan saksama dari ujung rambut sampai ujung kaki. Juga dengan gadis yang ketiga.

Hingga akhirnya si pemuda tampan itu pun menjatuhkan pilihannya.

“Aku ingin menikah dengan gadis ketiga,” ujarnya, yang langsung bersambut pekik gembira kedua orangtuanya.

“Yang nomor dua kalau tidur mengorok keras sekali, Paman,” ujarnya ketika pamannya bertanya. “Waktu itu aku mengajaknya nonton konser di pantai. Dia kelelahan. Aku menyewa penginapan kecil. Paginya dia telat bangun. Dari luar kamarnya aku mendengar dengkuran yang keras sekali. Bayangkanlah, gadis secantik dia, tapi dengkurannya seperti raksasa. Mengerikan.”

“Yang nomor tigalah gadis sempurna yang aku cari, Paman. Tak kulihat sedikit pun cacat padanya.”

Pesta pernikahan digelar dengan sangat meriahnya. Ayah si gadis pun tak mau kalah dengan kemewahan pesta yang diadakan calon besannya. Dan sebenarnya, justru lelaki itulah yang paling berbahagia.

Singkat cerita, kebahagiaan itu semakin memuncak tatkala istri si lelaki tampan hendak melahirkan bayi pertama. Ia membayangkan, betapa lengkap sudah kebahagiaan yang dimiliki. Ketampanannya, kecantikan sang istri, harta yang lebih dari cukup, serta sebentar lagi akan ditambah dengan buah hati yang pastinya akan menuruni kesempurnaan ayah ibunya. Cinta yang ada akan semakin tumbuh dan semakin tumbuh.

Tapi ternyata tak demikian. Ketika melihat bayi perempuan yang baru dilahirkan sang istri, lelaki itu justru meradang. Cintanya seketika layu gugur ke tanah.

“Bagaimana bisa anak kami berkulit hitam, Ayah?” tanya lelaki tampan itu kepadaku. Ya, akulah ayah dari ketiga gadis kembar nan rupawan.

“Kulit hitam bukanlah cacat, Nak,” jawabku menenangkan.

“Tapi bagaimana bisa? Aku dan istriku tidak berkulit hitam!” cecarnya.

Hingga akhirnya terpaksalah kuceritakan semuanya. Ibu ketiga gadisku telah meninggal saat melahirkan mereka. Susah payah sendirian aku membesarkannya. Dari ketiganya, si bungsulah yang dulu paling sukar diatur. Dan dia memang pernah berhubungan dengan seorang pemuda berkulit hitam. Mereka kupaksa putus hubungan karena aku tak suka kelakuan pemuda pemabuk.***

Kalinyamatan – Jepara, 2013-2018.


Adi Zamzam, lahir di Jepara. Tulisannya dimuat di berbagai media. Tahun 2002, beberapa cerpen dan puisi dipublikasikan di Bahana Sastra-nya RRI Pro II Semarang. Tahun 2004, juara harapan Lomba Menulis Cerpen Islami Majalah UMMI. Tahun 2005, juara harapan Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI ke- VII) majalah ANNIDA. Tahun 2008, juara tiga Lomba Menulis Cerita Pendek Islami ( LMCPI ke-VIII) majalah ANNIDA. Tahun 2009 dan 2010, dua buah cerpen menjadi  karya favorit dalam LMCR memperebutkan LIP ICE Selsun Golden Award. Tahun 2010, nominasi lomba cerpen Krakatau Award 2010. Tahun 2012, juara tiga Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI ke XI) Majalah ANNIDA. Unggulan Lomba Cerber Majalah Femina 2014/2015. Juara 1 Lomba Cerpen Kategori C (Umum, Guru, Dosen, Pengarang) Green Pen Award 3 Perum Perhutani 2016. Masuk nominasi lomba cerpen Krakatau Award 2018.

Puisi

Puisi Faris Al Faisal

Daun Gitar

Sehelai daun gitar

Bergetar disapu jemari

Serak-serak lagu berceceran

Di pekaranganmu

Mengenalkan nada

Dawai-dawai cinta

Indramayu, 2018 


Apel Merah

Saat duduk di bawah pohon

Sebutir apel merah jatuh

Aku menjadi Isaac Newton

Menemukan keajaiban

Indramayu, 2018


Gugur

Gugurlah bayang-bayang

Sebuah jaring matahari robek

Mendengus hangus

Tak ada kehangatan

Bahkan hanya untuk bertegur sapa

Indramayu, 2018


Semusim Melingkar

Di matamu semusim melingkar

Ular-ular betina bermata liar

Menyimpan racun cinta mematikan

Indramayu, 2018


Derik Jangkrik

Sunyi di dadamu

Berderik jangkrik

Dalam selimut rumput

Indramayu, 2018


Si Jelita Panggung

Seteguk malam di atas panggung

Boneka teramat cantik

Milik pinggul si jelita

Seperti urat nadi

Bergetar menghidupkan

Tangan-tangan bergoyang

Indramayu, 2018


Senandika

Pada puisi, cerita pendek,

Rimbun akar senandika

Membelukar

Melilit dada

Batang pohon pikir

Matang berbuah

Indramayu, 2018


Biji Janji

Menanam biji janji di bibir

Tumbuh pohon tembakau

Dibakar pada batang rokok

Asap tempias tak berbekas

Indramayu, 2018


Todak

Mawar gerigi

Ikan-ikan todak

Berlompatan. Berlari

Memotong ombak

Membuat sajak

Indramayu, 2018


Rengkah Mawar

Pecah mahkota

Auman luka

Batas cinta yang kutanam

Pagar memakan

Rengkah mawar

Indramayu, 2018


Faris Al Faisal lahir dan tinggal Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu (FORMASI). Menulis fiksi dan non fiksi. Karya fiksinya adalah novella Bunga Narsis Mazaya Publishing House (2017), Antologi Puisi Bunga Kata Karyapedia Publisher (2017), Kumpulan Cerpen Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017), Novelet Bingkai Perjalanan LovRinz Publishing (2018), dan Antologi Puisi Dari Lubuk Cimanuk Ke Muara Kerinduan Ke Laut Impian Rumah Pustaka (2018). Sedangkan karya non fiksinya yaitu Mengenal Rancang Bangun Rumah Adat di Indonesia Penerbit Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017).

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Aku Tak Ingin Kelak Istriku Diberi Makan Puisi

Tampaknya aku harus bangkit dari kemurungan kata

sebab hidup tak bisa hanya berdiri di atas pundak puisi

aku harus berjalan–mencari hidup yang lebih hakiki

dari hakikat bahasa.

Karena aku adalah lelaki yang kelak tak akan sendiri

dan kodrat hidup memang tidak untuk bersepi-sepi

esok pasti akan berpasang-pasang hati.

Maka kuselingkuhi puisi sebagai istri simpanan hati

sementara kini aku tiba saatnya mencari

puisi yang lebih nyata dari buah imajinasi.

Biarkan penyair mencaci –aku bukan pemuisi sejati:

hidup-mati mengeloni puisi–ke barat ke timur hanya

berduka-luka memakani hidup dengan sepiring kata hati.

Tidak, aku tidak ingin kelak istriku diberi makan puisi

di saat hidup tiap hari menghadirkan kekurang-kekurang

yang tak dapat dicukupkan hanya dengan selembar puisi.

Karena puisi bukan uang yang merenggut segala

kamewahan dunia. Karena puisi bukan ladang

perkerjaan yang menghasilkan emas dan permata

karena puisi bukan kebun uang yang menghasilkan

kekayaan.

Namun puisi hanyalah gedung-gedung kenangan:

museum bagi tubuh-tubuh kesedihan bercerita

kelak tentang penyair yang belajar mengekalkan

hidupnya dalam kata.

2019


Berkali-kali Aku Dipermalukan

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Aku ingin tahu kini

seperti apakah wujud perasaan?

Apakah ia seperti durian: kulitnya

bertaburan jarum kejahatan–namun

hatinya banyak mulut merindukan.

Namun kukira perasaan bukan buah

untuk dimakan, mungkin ia semacam

makhluk halus: gentayangan datang

dan pergi meletakkan rasa cemas dan

takut dalam hati.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Jujurlah Tuhan

apakah engkau perasaan itu?

Sehingga berjuta-juta manusia

memberhalakan perasaan dalam

kuil-kuil hatinya. Sementara aku

menjadi korban kejahatannya.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Saat ini  aku ingin

tahu seperti apakah sifat perasaan?

Ataukah seperti ludah lidah para

politisi: bermanis-manis perasaan

di depan kerumunan orang, demi

melancarkan mandat mimpi-mimpinya

menguasai dunia.

Tidak, perasaan tak sejahat itu, mungkin

ia sebaik rindang pohon kasih-sayang ibu

menaungiku dari hujan godaan kehidupan.

Berkali-kali aku dipermalukan

oleh perasaan. Berapakah harga

perasaan penyair di tangan seorang

perempuan?

2019


Aku Ingin Tidur dari Bayang-Bayang Kenyataan

Aku ingin tidur dari bayang-bayang kenyataan

bila selalu kesepian merawat usia–kesedihan

memakan hari-hari tak tersisa.

Namun apakah hidup ini?

apakah dengan mengumpulkan harta

hidup mewah berbaju emas dan permata

sudahkah dikatakan hidup.

Bukankah kitab penciptaan sudah bersabda:

hidup datang dari kekosongan dan pulang pula

pada celah kekosongan.

Kecuali, hanya hati akan

berisi keranjang buah pahala, jikapun aku punya

pohon kebaikan di sini.

Sungguh aku ingin tahu rahasia kenyataan?

atau mungkin aku sekadar bayang-bayang

yang ingin hidup menjadi makna kenyataan.

Namun apakah kenyataan itu sendiri?

jika makna kenyataan adalah kehidupan

barangkali kenyataan itu: makan enak,

hidup mewah dan mati istimewa.

Lalu untuk apa kenyataan diciptakan?

jika tidak digunakan sebaik-baiknya

untuk memperbaiki tingkah-laku duka

kehidupan.

2019


Lima Adegan Mawar layuku

/1/

Mawar yang kutanam dalam hatiku

ternyata telah kehilangan harumnya

dan keagungan tubuhnya telah memudar

tercuri oleh kenakalan masa lalunya sendiri

sungguh kini aku seperti menanam biji busuk

di ladang asmara.

Ke mana lagi harus kucari bunga mawar yang lain

dengan keharumnya yang masih perawan. Namun

bunga yang kumiliki ini telah bersumpah mati

siap menjadi pewangi rumah-rumah hariku–

kamar-kamar  hatiku.

Namun setelah kubaca-baca lagi buku kesadaranku

sangatlah bimbang menjadi lelaki sepertiku

hanya menjadi pemakan roti dari sisa-sisa kunyahan orang lain

namun jika perasaan sudah berkata dan cinta

makin sakit jiwa, tahimu pun akan menjadi

mawar di tanganku atau tubuhmu kekal perawan

dalam puisi-puisiku.

Bahkan ludahmu akan menjadi gula di pangkal lidahku,

sebelum  kutelan dan menjadi racun resah yang menyebarkan

virus-virus penyesalan sejauh usia berjalan ke batas paling nyeri.

/2/

Siang ini di tengah ladang-ladang waktu yang gerah

kau taburkan manis biji-biji janji: berharap tumbuh pohon kenyataan

esok hari. Aku pun hanya mengangguk dan kurang mengerti

sebab setelah kuperiksa jantung masa lalu dan kata-katamu

terlalu banyak ular yang melingkar dan mematuk janji-janjimu sendiri

menjadi sekadar ilusi.

Namun aku tak perlu tahu seberapa tinggi tiang hatimu

menjunjung pengharapanku menembus kabut kenyataan

dan mengibarkan bendera kasihmu padaku di mana-mana.

Karena kamu hanyalah bunga mawar yang kehilangan

kesegarannya di tiap-tiap pagi seorang lelaki.

/3/

Malam ini kau berlagak gila dan membuatku sakit jiwa

kita bercakap-cakap tentang rahasia keagungan yang

dimilik tubuh manusia. Sambil kau bertanya-tanya  mengenai

kebutuhan mendasar dari seonggok daging yang mulai

menegang dalam sarung kesepianku–sampai-sampai kita

melupakan kecantikan malam dan mengabaikan buah-buah

detik yang jatuh dari dahan menit di pohon waktu yang

hampir tumbang ke sisi jalan Subuh ini.

Pada akhirnya bunga mawar yang kehilangan keindahannya

sebelum menciptakan malam pertama di masa depan cinta bersama

berkata: “sayang, aku sudah tak tahan ingin meninabobokkan

anak-anak libidoku yang mulai sekarat menerjang meradang ini

sebelum aku gila dan jatuh pada kenikmatan yang salah kaprah.”

/4/

Pagi ini kau buka mata pagiku dengan api pertengkaran

yang tak kungjum padam ini. Kau nyalakan lagi api-api

masa lalu dalam kata, janji-janji yang berdebu dan kenangan-kenangan

yang kan menjauh. Seiring kita saling membunuh diri sendiri

demi sebuah kebenaran dan kerendahhatian perasaan.

/5/

Mungkin inilah puisi penghabisanku untuk mengekalkakan

separuh hikayat masa lalu dan masa depanmu.

2019


Malam-Malam Jahanam

Kutepikan diriku pada kata

Menyemai kembali luka sunyi

Di ladang-ladang cerita

Sebagai pesta pora hatiku

Yang dikucar-kacirkan

Perasaan nestapa.

Selalu di tepian malam gelisah

Kuseberangi waktu-waktu lara

Sampai kutemukan diksi sepi

Menari-nari dalam puisi.

Sudah lebih puluhan kali kukayuh

Jiwaku dengan wajah murung

Di tengah-tengah kampung

Yang sering di kutuk rasa sepi ini.

“Ke manakah orang-orang?”

Kesepianku berucap sesering

Mungkin ketika malam melampaui

Batas keramaian. Sungguh sunyi

Adalah bayi yang terluka, perih

Merintih dipangkuan ibu waktu.

Apakah karena orang-orang pagi

Menamakanku sebagai mata malam

Sehingga aku asing dan tenggelam

Di kebutaan mata orang-orang siang.

Maka dengan tekat sebulat biji mata

Kucari-cari kesenanganku dalam kata

Karena hanya dengan kata utangku

pada resah, sepi dan kegelapan terlunaskan.

2019


Kurayakan Kepergianmu dalam Puisi

Dan kau cukup tahu; bahwa usiaku terpotong-potong kehampaan

Menjadi bagian-bagian kenangan busuk dalam sakit mengenangmu

Sementara jiwaku makin runyam menerjemah tangis hatiku

Karena tak jelas mengapa padamu air mataku terus melaju.

Di kampung aku sudah kehilangan keteduhan angin dan pohon-pohon

Padahal kampung adalah sawah untuk menanam pikiran yang ruwet

Atau hatiku yang sulit menahan sakit kepergianmu

Walau sudah tak jelas bening wajahmu dalam cermin ingatanku.

Namun kau tak perlu tahu kondisi perih tahun-tahunku yang malang

Dan menjalang selama ini. Karena kau bukan lagi bagian dari tulang rusukku

Kau cuma sekadar objek dari air mataku yang terus melaju

Dari hati ke puisi dari puisi ke abadi.

2019


Berseberangan Keinginan

Jangan tanyakan padaku, lebih luas mana rinduku

Padamu atau harapmu padaku kembali ke kota kata

Sesungguhnya kerinduan kita sama-sama luas, kawan

Namun masih ada batas-batas keinginan yang mesti

Kita seberangi dalam jarak berjauhan ini.

Mungkin kau mencintai kebisingan kota

Yang dicipta oleh bibir-bibir manis para penyair

Namun aku lebih mencintai kesunyian kampung

Untuk meruang-raungkan kesedihan dalam puisi.

Perbedaan itulah yang membuat kita saling berseberangan ruang

Namun jangan cemas dan ragu, kerinduan kita harus takzim

Pada serajut keinginan lain yang tumbuh dari rasa nyaman.

Karena perpisahan itu fana –yang abadi hanya perjamuan jiwa.

2019


Ceracaun Ketidakwarasan 1

Saat ini aku duduk tapi melayang

ingin berdiri tubuh bergelombang.

Aku mungkin kemalingan kesadaran

aku kehilangan rasa hatiku

aku kehilangan anak akalku.

Siapa aku kekasih

aku anak siapa.

Bila masih aku hidup

tapi mengapa aku merasa mati

wajah semesta mengabur dalam tatapanku

mata-mataku kelabu menatap mata-matamu

mungkin aku kini adalah bayangan kegelisahan

yang tengah berjalan mencarimu

dalam hutan-hutan kerinduan

dalam semak-semak kehilangan

dalam goa-goa kegilaan.

Aku mungkin terlalu banyak menegak air mata

sehingga aku mabuk melangkah: dari sepi

ke nyeri lalu berhenti pada batas paling puisi.

Bahkan dalam resah jagaku saat ini:

aku berjalan namun jiwaku berdiam

aku bergerak namun ruhku mematung

aku tertawa sendiri namun ada yang

menangis dalam mataku.

Siapakah yang menangis dalam hatiku

siapakah yang merasa hina dalam jiwaku

tidak lain adalah engkau kekasih,

engkau kasihku. 

2019


Ceracauan Ketidakwarasan 2

Kekasih, kini aku akan berjalan sendiri

berjalan mencari kesenyapan inti sari hidup ini

setalah itu aku ingin berbicara pada maut

perihal hidup dan mati kapan menjemput.

Jika rindu padaku kekasih, carilah aku

di sepanjang jalan Malioboro. Lalu carilah

wajahku di antara wajah seniman, penyair

gembel, pengemis dan orang gila. Di

tengah-tengah penderitaan merekalah

aku bahagia mengawani kesedihanku.

Maka temuilah aku orang-orang yang mungkin

masih merindukan tawaku, kemurunganku dan kematianku.

mungkin ingin kirim salam rindu pada tuhan,

atau pada kerabat kalian yang lebih dulu menjadi nama

kenangan di batu nisannya. 

2019


Ceracau Ketidakwarasan 3

Sungguh aku lupa waktu

lupa diriku

siapa aku

sekarang dimanakah aku.

Masihkah aku hidup

atau perlukah masih

hidup butuh padaku.

Sepuluh jam hatiku

kesetanan rasa sedih kekasih.

Namun kau hanya sesegukan

dalam mimpi-mimpi tiap malam

di saat lari dari hujan ceracaun

ketidakwarasanku.

Sungguh kau tahu, kekasih

berjam-jam aku menjadi telepon genggam

demi suara serakku dapat menghubungi

hidupmu –namun kau malah tolak mentah-mentah

sebelum suaraku sampai dan menumpahkan seribu

air kemaafan di telingamu.

Sungguh betapa cemasku

sia-sia –cintaku

mati rasa –rinduku

sakit jiwa.

Barangki kini aku telah kehampaan mengingat

asal-usul hidupku:

dari bahan apakah hidup tercipta?

Bila dari api

mengapa aku tak mampu membakar

daun-daun kecemburuanku padamu.

Bila dari air

mengapa aku tak mampu menyucikan

kain hatimu dari debu-debu curiga padaku.

Bila dari udara

mengapa aku tak mampu melumat asap-asap

pikiranku tentang dustamu yang manis lalu.

Bila dari tanah

mengapa hatiku tak subur menumbuhkan

pohon-pohon kesabaran–rumput-rumput

keikhlasan mencintaimu tanpa musim pertekaian.

Bila rumah-rumah pikiranku

terus-terusan kedatangan tamu-tamu rindu

dari seribu kota kenangan tentang cintamu yang sekeras batu.

2019


Norrahman Alif, lahir di Jurang Ara, Sumenep. Menulis puisi dan cerpen di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ). Beberapa karya saya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Tempo, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, Minggu Pagi, Radar Surabaya, Merapi, Magelang Ekspres, Bangka Pos, Radar Cirbon, Koran Madura, Majalah Simalaba, Analisa, Rakyat Sultra, Banjarmasin Post, Padang Ekspres, Lampung Post, Fajar Makkasar dll.

Puisi

Puisi Irma Agryanti

Aku Ingin Meninggalkan Diriku

aku ingin meninggalkan diriku. masa lampau membuatku mengingat yang hendak kulupakan. tapi di balik jendela tak ada orang lain selain diriku dan buku puisi yang berulang kali dibaca. pikiranku tak pernah lengkap, selalu ada yang tak bisa kupahami seperti cara untuk mencintaimu atau upaya menolaknya.
setiap hari cuaca begitu susah untuk ditebak, membuat perasaan tinggal lebih lama seolah tak pernah ada saat yang tepat untuk pergi.
barangkali aku terlampau lama menjadi seseorang yang merasa bersalah atau menanggung kesalahanmu, sebab seperti pertengakaran kerap tak memberi kemenangan, agar masing-masing selalu terkenang.
tapi aku dikalahkan bayanganmu. menerimamu sebagai apa saja yang terasa dekat denganku, meski sesungguhnya tak ada yang benar-benar bisa menanggung, kesepian yang sering menetap. 

2018


Seseorang Dalam Diriku

ada saat-saat dimana aku meragukan seseorang di dalam diriku. seseorang yang menyalakan lilin tapi memadamkannya berkali-kali, seseorang yang ingin dilengkapi tapi seringkali menjauh. keriuhan seperti kesedihan yang minta dihibur. juga perasaan, selalu datang bergantian, rentan dan mudah lepas, sedang pikiranku seperti kota besar, penuh oleh prasangka, perihal-perihal dunia yang nonsen. aku tidak menulis sajak meski aku menulis sajak. kekosongan adalah satu-satunya yang bisa dituliskan, semisal tunawisma yang menatap langit dan bicara untuk diabaikan. barangkali aku tak menyadari, setiap kali pintu dibuka adalah sebuah kemungkinan lain, semacam upaya menolak untuk menemukan agar tak merasa kehilangan. orang-orang sudah lama menjadi hari-hari sedang aku tak tahu siapa yang sesungguhnya tak nyata, seseorang di dalam diriku atau di luar diriku.

2018


Aku Ingin Berhenti Bunuh Diri

aku ingin berhenti bunuh diri

pikiran-pikiran tak tidur

adalah mayat di luar peti mati

dalam pejam kedinginan

angin melintas-lintas

tak saling bertemu dalam udara

adakah pemakaman di tiap simpang waktu

bagi lubang dada yang tak selesai digali?

aku ingin berhenti bunuh diri

sebab seperti mata lampu jalan

aku sudah kau padamkan, berkali-kali

2019


Setelah Kehilangan

mungkin ada suatu hari baik

setelah kehilangan

aku lupakan

lagu yang mematahkan

musik-musik sedih

seorang perempuan selalu mengaku

baik-baik saja untuk tak mengalah

tapi hati seperti sekumpulan abu

beterbangan bila disentuh

angin dingin yang menyakitkan

mengingatkan pada sudut kecil

tempat negasi dihidangkan

dan sesudahnya

hanya samar

hanya latar

kau tak lagi di sini

tak perlu ada 

2017


Merayakan Kesendirian

pagi hari; dingin memutih

tak ada angka di kalender

tak ada ingatan dalam kepala

aku bayangkan kesedihan-kesedihan

apa yang seharusnya adalah apa yang tak pernah ada

seperti kalimat selamat jalan yang mesti dilepaskan

agar seluruh ketakutan pergi

dan puisi kembali dituliskan

2019


Perak

adalah laut bergulung-gulung

adalah gugus bintang

adalah warna rambut bulan

adalah padang-padang adulam

adalah daun-daun palma yang ditebar

adalah perempuan di balik cadar

ia tamar yang mati dibakar

setelah yehuda menyingkapnya

2019


Upaya Memahami Dirinya Sendiri

ketika hari selesai, ia akan berbaring, melihat bintang jatuh dari jendela kamar dengan tangan yang tak menggapai, juga cahaya lain, memantulkan warna yang tak jelas batasnya dan dadanya terasa berangin.

ia gamang pada sesuatu yang tak tertebak, semisal, bahkan dalam hati langit yang lapang, ada sesuatu yang sukar ditemukan.

ia ingin bebas dari mengingkari bahwa kesedihan tak pernah selesai dikenang, meski, prasangka hanya sebagian komposisi melepas kenyataan, mengapa dirinya lebih suka tersedu.

2019


Aufklarung

seseorang datang

setelah lama bermukim

dari kematian musim

seseorang datang

membebaskan diri

dari seluruh kutukan 

perempuan yang menderita

menjalani hukuman

oleh cinta

bagian kelam dari kenangan

betapa panjang usia derita

waktu serupa nyalak anjing

suara lonceng di puncak menara

samar terdengar

2016


Delusi

seseorang menjadi tak waras

setelah meneguk anggur

ia menyeka, matanya seperti basah

tapi film biru lebih menyedihkan

dari surat-surat yang dikirim

mereka mudah terbakar

sedang cerita, samar dengan kebohongan

sseorang menjadi tak waras

selepas menelan pil tidur

ia menyeka, matanya penuh delusi

2019


Membayangkan Dina Oktaviani

aku ingin menjadi dina

sekalipun bukan

ia yang jatuh di tiap kelokan

bicara pada angin

dan setia mengasihi dirinya

sebab padanya

lampu-lampu langit menyala

juga sebuah jalan yang

menjauhi rasa sakit

tapi ia adalah duka

musik-musik pujian

yang luput dari doa 

senantiasa mendapati dirinya

sendiri menjaga cinta

dari sekadar kata

aku ingin menjadi dina 

sekalipun hanya

puisi

2019


Irma Agryanti, lahir di Mataram, Lombok. Puisinya tersiar di berbagai media lokal dan nasional.  Buku puisi terbarunya Anjing Gunung (Basabasi, 2018). Bergiat di Komunitas Akarpohon.