
Gulai Daun Singkong
Aku tak sepantar dengan genjer
sebab kampungku bukan hamparan sawah
tempat ikan-ikan geladir
laiknya lele dan belut
menempuh hidup di atas lumpur.
Aku bukan kangkung
saban hari memencilkan maut, terdampal kaki, tercabik pangkur petani
dan menempuh petikan sebuah jari
atas tubuhku yang bukan gitar.
Daun-daunku serupa jari mekar
rimpang di batang lurus
aku pernah dibelai angin dan dihinggapi kunang-kunang
juga membantu manusia menemukan peradaban
ya, cemilan keripik.
Dahulu, nasab pertamaku bernama getuk
pergi bercinta dengan daki-daki kelapa
berbulan madu di atas sepeda
berkelana
ke halaman-halaman sekolah.
Demi lidah
aku melepas tangkai di musim yang bukan panen
dan lesung lumpang bukanlah satu-satunya cara
membuatku menjadi lunak.
Sekali waktu
ibu mengenalkanku dengan wajah wajan
tempat bersuci dengan segala kental santan
maka aku bercita-cita
menjelma gulai
demi bertapa barang sehari
di bawah tudung saji.
Pematangsiantar, 6 April 2026
____________________
Ayam Pecak
Api tak mematangkan tubuhku
melainkan minyak goreng bersekutu dengan rentang waktu
juga lembar-lembar resep itu
yang tak tahu malu
lantaran memberitahu:
“1001 cara mengolah ayam”
Aku meminta ampun pada pasukan bawang
juga dulur cabai
yang menasehatiku bahwa kematian
akan bertandang dari gerusan batu bundar.
Dari muhibah sebuah lidah
juga sinis piring-piring
manusia berpura melawatku:
Membawa lumpur pedas, melempar garam dolpin,
menabur kembang bunga-bunga kemangi.
Sungguh celakalah aku
lampus diperkosa lidah
namun tak pernah
dilirik suatu hukum.
Pematangsiantar, 6 April 2026
____________________
Indomie Ayam Bawang
Telah kusobek indomie ayam bawang
di hadapan buku-buku George Orwell
berdampingan dengan air bening suci
yang kulunasi kala sore
dari depot lelaki tua.
Telah tertuang molto pada helai-helai kain
dan ketika tabung mesin cuci berkedut
aku berlari menyatroni angka-angka yang melimbang
panel rahim listrik.
Di hadapanku
sapu biru tampak cemburu
yang sedari pagi belum kusentuh
dan minggu ini
barangkali aku pendosa
yang diberi ampun buku catatan
—Raqib dan Atid
Lantaran menyiksa tubuh rumah
sedang mataku tampak bermaksiat
lantaran luput, membaca buku-buku.
Pematangsiantar, 6 April 2026
____________________
Mie Lontong
Kala nasib meminang
gegas kau lepas baju panjang yang mengering
lalu merebah di atas misbah berdebu
menunggu kekekalan terpenggal
bening mata pisau.
Dengan lekat kau terbaring di atas piring
bersuci dengan kuah-kuah santan
sedang helai-helai mie gomak hanyalah selimut
yang kau kenakan sebelum sekubit taoco
mengajakmu ke rahim gelap
di mana sebuah mimpi
tercipta dari rongga-rongga mulut.
Dari negeri gelap itu
kau menunggu pagi
di antara keheningan kamar mandi
dan merelakan tubuhmu
jatuh ke pusara
yang basah
dan hanya sejengkal.
Pematangsiantar, 6 April 2026
____________________
Tumis Taoge
Tanah mana yang kau ingat
bukankah dahulu, kau serupa helmet serdadu
bersembunyi di balik kulit tanah
menunggu hari-hari melunasi
namamu sebagai kecambah.
Ketika panjang menyertai
dan almanak memberimu umur yang cukup
kau merantau ke besi panci
mengharumkan namamu pada sebuah bumbu
demi diramu
telapak tangan centong.
Namun hari itu
kau percaya
bahwa lidah manusia adalah celaka
yang memeluk tajam dagingmu
luruh tak bernyawa.
Pematangsiantar, 6 April 2026
____________________

Ilham Nuryadi Akbar. Lahir di Banda Aceh dan saat ini menetap di Kota Pematangsiantar. Beberapa puisi dimuat media lokal dan nasional seperti: Koran Tempo, Koran Jawa Pos, Republika.id, Suara NTB, Koran Radar Banyuwangi, Omong-omong.co, Sastramedia, Lensasastra, Harian Rakyat Sultra, Sumenep.news, ideide.id, Literasikalbar, Riau Sastra, Litera.co, dll. Emerging Balige Writers Festival (BWF) 2025.
