Puisi

Puisi Ilham Nuryadi Akbar

Gulai Daun Singkong

Aku tak sepantar dengan genjer

sebab kampungku bukan hamparan sawah

tempat ikan-ikan geladir

laiknya lele dan belut

menempuh hidup di atas lumpur.

Aku bukan kangkung

saban hari memencilkan maut, terdampal kaki, tercabik pangkur petani

dan menempuh petikan sebuah jari

atas tubuhku yang bukan gitar.

Daun-daunku serupa jari mekar

rimpang di batang lurus

aku pernah dibelai angin dan dihinggapi kunang-kunang

juga membantu manusia menemukan peradaban

ya, cemilan keripik.

Dahulu, nasab pertamaku bernama getuk

pergi bercinta dengan daki-daki kelapa

berbulan madu di atas sepeda

berkelana

ke halaman-halaman sekolah.

Demi lidah

aku melepas tangkai di musim yang bukan panen

dan lesung lumpang bukanlah satu-satunya cara

membuatku menjadi lunak.

Sekali waktu

ibu mengenalkanku dengan wajah wajan

tempat bersuci dengan segala kental santan

maka aku bercita-cita

menjelma gulai

demi bertapa barang sehari

di bawah tudung saji.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Ayam Pecak

Api tak mematangkan tubuhku

melainkan minyak goreng bersekutu dengan rentang waktu

juga lembar-lembar resep itu

yang tak tahu malu

lantaran memberitahu:

“1001 cara mengolah ayam”

Aku meminta ampun pada pasukan bawang

juga dulur cabai

yang menasehatiku bahwa kematian

akan bertandang dari gerusan batu bundar.

Dari muhibah sebuah lidah

juga sinis piring-piring

manusia berpura melawatku:

Membawa lumpur pedas, melempar garam dolpin,

menabur kembang bunga-bunga kemangi.

Sungguh celakalah aku

lampus diperkosa lidah

namun tak pernah

dilirik suatu hukum.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Indomie Ayam Bawang

Telah kusobek indomie ayam bawang

di hadapan buku-buku George Orwell

berdampingan dengan air bening suci

yang kulunasi kala sore

dari depot lelaki tua.

Telah tertuang molto pada helai-helai kain

dan ketika tabung mesin cuci berkedut

aku berlari menyatroni angka-angka yang melimbang

panel rahim listrik.

Di hadapanku

sapu biru tampak cemburu

yang sedari pagi belum kusentuh

dan minggu ini

barangkali aku pendosa

yang diberi ampun buku catatan

—Raqib dan Atid

Lantaran menyiksa tubuh rumah

sedang mataku tampak bermaksiat

lantaran luput, membaca buku-buku.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Mie Lontong

Kala nasib meminang

gegas kau lepas baju panjang yang mengering

lalu merebah di atas misbah berdebu

menunggu kekekalan terpenggal

bening mata pisau.

Dengan lekat kau terbaring di atas piring

bersuci dengan kuah-kuah santan

sedang helai-helai mie gomak hanyalah selimut

yang kau kenakan sebelum sekubit taoco

mengajakmu ke rahim gelap

di mana sebuah mimpi

tercipta dari rongga-rongga mulut.

Dari negeri gelap itu

kau menunggu pagi

di antara keheningan kamar mandi

dan merelakan tubuhmu

jatuh ke pusara

yang basah

dan hanya sejengkal.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Tumis Taoge

Tanah mana yang kau ingat

bukankah dahulu, kau serupa helmet serdadu

bersembunyi di balik kulit tanah

menunggu hari-hari melunasi

namamu sebagai kecambah.

Ketika panjang menyertai

dan almanak memberimu umur yang cukup

kau merantau ke besi panci

mengharumkan namamu pada sebuah bumbu

demi diramu

telapak tangan centong.

Namun hari itu

kau percaya

bahwa lidah manusia adalah celaka

yang memeluk tajam dagingmu

luruh tak bernyawa.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Ilham Nuryadi Akbar. Lahir di Banda Aceh dan saat ini menetap di Kota Pematangsiantar. Beberapa puisi dimuat media lokal dan nasional seperti: Koran Tempo, Koran Jawa Pos, Republika.id, Suara NTB, Koran Radar Banyuwangi, Omong-omong.co, Sastramedia, Lensasastra, Harian Rakyat Sultra, Sumenep.news, ideide.id, Literasikalbar, Riau Sastra, Litera.co, dll. Emerging Balige Writers Festival (BWF) 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *