Puisi

Puisi Arida Erwianti

Gadis Sepatu Biru

Sepanjang hari gadis bersepatu jelly hak tinggi

ia merasa bisa menjangkau apa saja

lalu membuka kuku-kukunya dan menulis puisi

pintu kamarnya yang layu setengah terbuka

agar ibunya tahu ia tidak ke mana-mana

karena setiap malam datang

ia menyelinap melalui dinding-dinding  pada bantal

ia terbang ke dalam status dan foto-foto dalam media sosialnya


Sedu

Di dinding kamar kau melukis jendela

setelah membuang nama-nama di jalanan

kepala dan debaran di dadamu sibuk

mengingat yang pernah menjelma menjadi tempat pulang

berulang-ulang

tapi lupa memberi kompas


Kau dalam Diriku

Aku telah lari, darimu

tapi seperti bekerja keras di atas treadmill

ketika jarak direntang jauh dan penuh

aku selalu menjangkaumu di mataku

melupakanmu sedemikan rupa

tapi kau ternyata berada dalam laptop bahkan dalam lemari pendinginku

kubelai-belai wajahmu di layar gawai

berharap menulis ulang matahari

hingga suatu malam seorang tua datang berbisik

untuk menggengam namamu dalam doa, maka kudekap

engkau benar-benar lepas


Di Telingamu

Aku ingin berkirim surat ke telingamu

kutulis dengan tinta berisi lagu favoritmu

aku akan menyusun puzzle di telingamu

kupakai sarung tangan dari madu

aku ingin berbisik di telingamu

dari tempat yang jauh

saksama kutunggu isyarat

angin selalu meniupkan sesuatu yang jujur namun bergegas pergi

dari ruang gelap, aroma jeruk dan juga tentang layang-layang


Api

Di matanya lilin menyala

mataku meraup matanya, haus

besoknya ia bilang, maafkanlah yang penuh angkara

ia bukanlah seorang yang kuat,

ia lemah membiarkan hutan terbakar-bakar di dalam dirinya

lilin di matanya menguar hangat

aku terbaring di sana


Surga dan Medan Perang

Dadamu pernah menjadi medan perang

kau hunus kalimat berakar raksasa

tapi engkau juga

yang napasmu menjelma subuh yang hening

dengan

telapak kaki yang surga

hasratmu meraup dunia

dalam toko furniture berdinding biru, yang akan kau masukkan dalam kotak kaca

tetapi dalam udara kita berbagi

rumah tak bisa dijejali dengan sepuluh meja makan


Metropolitan dan Payung Hitam

Berganti-ganti gawai mereguk daya dari kabel-kabel

sampai tuntas

tapi ternyata orang-orang tetap dahaga

berteriak-teriak di tengah kota metropolitan

berpuluh-puluh tahun

tapi suara raib tertelan gedung beratap kelabu

baju hitam tak lagi berwarna

karena mata-mata buta sebelum membuka

panas meranggas pada getir

payung hitam telah diterbangkan


Cinta

Mencintaimu dengan penuh

karena umur tak utuh

mencintaiku dengan bara, katamu

karena masa tak selamanya benderang

pada tubuhmu padang telaga muda yang ranum

kurengkuh bagai masuk dalam mesin waktu

pada jiwaku jalan panjang berasam garam, katamu

kau tempuh dengan tafakur

cinta tak pernah melukai

karena darinya pisau kita petik

untuk mengupas buahnya, yang lebih dulu


di

di pantai aku melukis rindu berjilid-jilid

di langit aku berbisik, menabur daun-daun

di keheningan kupetik senja setelah hujan yang keemasan

pada getar, aku termenung merapal doa-doa

pada riang, aku telah menari-nari

di kedai kopi aku menulis surat untukmu

dengan alamat yang telah kuketahui bertahun-tahun

di rumahmu kutersesat

setelah memandang matamu, labirin yang biru

di mana aku berujung?

padahal tanya tak pernah dimulai

di mana kita berpisah?

padahal pertemuan tak pernah


Kita tanpa catatan kaki

Jika langit terbentang, hati kita melapang

Jika hutan-hutan menghijau, jiwa kita merimbun

kita adalah kaki-kaki kecil, berjalan melewati semesta

menunggu matahari terbit, dengan menulis buku-buku yang tebal

pada permata kita tak silau

karena mata kita adalah kilau

namun, entah sejak kapan kita menjadi ahli berpatah hati

tapi pencari ulung dalam ruang kesyukuran

pagi ke petang bagai kelopak bunga-bunga

yang kita jahit dengan benang, satu-satu

kita usai, tapi penuh


Arida Erwianti, lahir di Segeri, Sulawesi Selatan. Ibu rumah tangga, dan sedang menempuh pendidikan di Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia. Pengajar di STKIP Kusuma Negara. Menulis buku“Mozaik Pemikiran Pendiri Bangsa” (Kumpulan tulisan). Cerpennya pernah dimuat di media. Dapat dijumpai di instagram @ridawianti.

Buku, Resensi

Sesuatu yang Kita Sebut “Uang”: Sejarah, Persoalan, dan Masa Depannya

Oleh Zainul Arifin

Tak bisa dipungkiri uang menjadi bagian vital hidup kita. Kebutuhan sehari-hari yang semakin kompleks membuat transaksi barang dan jasa diandalkan pada konsep alat tukar yang dipercayai bersama. Efisiensi itu yang membuat sistem uang lebih diterima daripada sistem barter.

Sejak kehadirannya hingga sekarang, uang mengalami berbagai perkembangan. Perkembangan itu pula yang mempengaruhi bidang industri, jasa dan agrikultur dengan ujung dampaknya pada manusia dan alam. Apalagi belakangan ini konsep e-money (uang elektronik) diperkenalkan dalam transaksi finansial. Untuk itu, tentu tidak salah bila mengajukan pertanyaan: Bagaimana cara kerja uang di masa depan? Dan bagaimana itu berdampak pada masyarakat luas?

Apabila terlintas dalam benak keingintahuan semacam itu, buku Yuval Noah Harari yang terbaru mungkin sekali dapat melegakan kehausan kuriositas tersebut. Buku tersebut berjudul Money.

Buku ini sebenarnya hasil ekstrak dari dua buku Harari sebelumnya, yakni Sapiens dan Homo Deus. Sehingga tak mengherankan buku Money ini tipis hanya 166 halaman, tidak setebal buku-buku Harari yang lain. Justru dengan demikian, tampaknya maksud dari proposal gagasan Harari selama ini menemukan titik tawarnya secara jelas.

Jalan pikirannya adalah Harari menganggap uang, imperium, dan agama sebagai tiga hal yang dapat menyatukan sekaligus mengeksploitasi manusia. Hal ini lebih detail terdapat dalam buku Sapiens bagian ‘penyatuan manusia’. Mengingat imperium telah runtuh, agama sebagai kekuasaan abad pertengahan juga runtuh, maka satu-satunya yang tersisa sebagai the real power adalah uang. Di titik itulah pembahasan tentang uang menjadi penting demi masa depan sapiens.

Penyatu dan Pemisah

“Hidup bagaikan dua sisi mata uang”. Peribahasa itu persis sebagaimana Harari melihat dampak uang terhadap manusia. Bahwa uang sebagai penyatu umat manusia, tetapi sekaligus sebagai pemisah manusia.

Sebagai penyatu umat manusia, uang adalah sistem saling percaya yang paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan (Harari, 2020: 15). Sebab orang-orang bisa tidak memercayai Tuhan, agama maupun raja yang sama, tetapi mereka sama-sama memercayai uang. Misal Osama bin Laden begitu membenci Amerika Serikat, tetapi tetap menyukai dolar. Uang mampu menjembatani perbedaan ras, agama, budaya bahkan orang yang tak saling kenal sekalipun.

Uang bukanlah kenyataan material. Uang adalah produk psikologis. Kita menghasrati uang karena orang lain juga menghasratinya, bukan atas referensi materialnya. Lingkaran hasrat inilah yang bekerja.

Memang dalam sejarah, uang pertama kali berupa jelai, semacam biji-bijian. Yang menunjukkan inheren secara biologis jelai bisa dimakan. Namun dasarnya adalah konvertibilitas dan kepercayaan universal dari uang jelai tersebut. Lalu atas dasar efisiensi, uang koin dan kertas menggantikannya, bahkan hendak beranjak ke uang digital.

Dengan uang semua dapat dijualbelikan. Awalnya terdapat hal-hal yang tak berada dalam domain pasar, seperti cinta, moralitas, kehormatan maupun kemanusiaan. Sehingga tak dapat dijualbelikan dengan uang. Namun, uang selalu memiliki kemampuan menerobos hambatan nilai-nilai tersebut. Karena terdesak maupun kelaparan, maka pasar memberi penawaran.

Tak mengherankan ada orang tua tega menjual anaknya untuk jadi budak demi memberi makan anaknya yang lain. Atau pemeluk agama yang taat menjadi pembunuh lalu membeli pengampunan. Dari sini, kepercayaan pemersatu universal dari uang sesungguhnya tidak diinvestasikan pada manusia maupun nilai sakral, melainkan pada uang itu sendiri. Ketika semua bisa dikonversikan dalam pasar maka yang ada hanya hukum dingin permintaan dan penawaran. Sebuah pasar tanpa perasaan, sehingga tak mengherankan sejarah ekonomi manusia berisi sebuah tarian yang pelik (Harari, 2020: 27).

Sebagai pemisah, sisi gelap uang tak sampai di situ. Pada tahap lanjut, kapitalisme mendapat peran penting. Sejarah kapitalisme sendiri tidak bisa dilepaskan dari revolusi saintifik, yakni pengakuan atas ketidaktahuan dan ide kemajuan. Pengakuan ketidaktahuan tersebut membuat penguasa berinvestasi pada riset supaya produksi dan kekayaan terus meningkat. Sehingga ayat pertama dan paling sakral dalam kapitalisme adalah “keuntungan dari produksi harus diinvestasikan kembali dalam meningkatkan produksi” (Harari, 2020: 41). Di titik itu, dianggap pasar bebas akan mendefinisikan keadilannya sendiri. Padahal eksploitasi terus terjadi baik pada manusia maupun alam. Keserakahan pemilik modal untuk menaikkan laba dilakukan dengan cara membayar rendah upah buruh dan menambah jam kerja. Tentu seakan hal itu dapat diatasi dengan mogok kerja. Namun, bagaimana jika pabrik itu satu-satunya di suatu negara, atau semua pemilik pabrik bersepakat menurunkan upah buruh secara serempak. Buruh tak punya pilihan lain. Eksploitasi menjadi abadi. Pemisahan antar manusia terjadi.

Kaitannya dengan sains adalah bahwa keyakinan kapitalisme pada pertumbuhan ekonomi yang kekal bertentangan dengan kondisi alam (Harari, 2020: 46). Akibatnya limbah, polusi, hutan gundul, banjir dan sebagainya meluas. Untuk itu, riset saintifik dilakukan demi pencarian solusi. Artinya, penelitian dari ilmuwan didanai dalam upaya mencarikan solusi akibat ulah si pendana itu sendiri. Di sinilah tampak siapa yang berkuasa. Uang.

Dengan demikian terjadi kontradiksi abadi bahwa di satu sisi mengakui ketidaktahuan dan di sisi yang lain fanatik pada ide kemajuan. Seperti dua sisi mata uang, sebagai penyatu sekaligus pemisah.

Ketakbergunaan Manusia

Revolusi saintifik membawa umat manusia pada penemuan komputer, internet, robot dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Kecanggihan teknologi tersebut bahkan dapat mengalahkan kemampuan manusia. Misal, pekerjaan sopir dapat digantikan robot dengan algoritma canggih seperti drone dalam AI.

Self-driving car (mobil tanpa pengemudi) pernah diujicoba walaupun terjadi kecelakaan. Namun, kita dapat membayangkan apabila semua mobil di jalan raya dioperasikan oleh algoritma, maka risiko kecelakaan akan minim bahkan tidak terjadi sama sekali. Sedangkan kecelakaan oleh manusia dapat dikarenakan mengantuk maupun lelah. AI tidak pernah mengantuk dan lelah.

Sebelum revolusi industri, tenaga kuda dan kerbau sangat berguna sebagai kendaraan dan membajak sawah. Revolusi terjadi dan akhirnya digantikan dengan mobil dan traktor. Kuda dan kerbau menjadi tak berguna. Sangat mungkin, nasib pak sopir akan seperti kuda dan kerbau saat itu.

Pekerjaan guru, buruh, kasir bahkan pengacara dan dokter pun dapat digantikan oleh kecerdasan buatan (AI). Bayangkan data algoritma yang begitu besar diinput dalam waktu singkat ke dalam robot. Sedangkan untuk mendapatkan seorang guru atau pengacara maupun dokter harus menunggu bertahun-tahun untuk proses pembelajaran. Efisiensi sekaligus kecermatan terhadap pekerjaan akan memihak pada robot-robot bukan pada manusia. Di titik itu, muncullah manusia-manusia tak berguna dan tak produktif bagi sistem.

Memang seakan mengada-ada, tetapi fakta itu sedang berlangsung. Misal tentang pekerjaan dokter, terdapat AI bernama Watson dari IBM pada tahun 2011 dipersiapkan untuk mampu mendiagnosis penyakit. Kita tahu bahwa tugas utama dokter adalah mendiagnosis penyakit dengan benar, itupun sering salah diagnosis sehingga perawatan kurang optimal. Sedangkan AI seperti Watson mampu mendiagnosis penyakit seseorang dari bank data genom, riwayat medis baik dari orang tersebut maupun kerabat dengan akurasi yang lebih bagus (Harari, 2020: 99). Apalagi Watson tidak pernah lelah, lapar maupun minta tunjangan lebih. Sehingga pekerjaan dokter sangat mungkin diambil oleh AI seperti Watson suatu saat nanti. Ancaman itu tidak hanya pada pekerjaan dokter umum melainkan dokter spesialis dan tentu pekerjaan-pekerjaan manusia lainnya.

Hal semacam itulah yang dicemaskan Harari bahwa kita sedang berada di ambang revolusi yang sangat penting. Proyek abad ke-20 untuk mengatasi kelaparan, wabah dan perang berbelok pada eksploitasi atas kelas lain. Kini proyek abad ke-21 untuk menggapai keabadian dan kebahagiaan akan melahirkan segelitir elite dan membuang kelas nirguna.

Apabila riset-riset saintifik justru membagi manusia menjadi massa nirguna (useless humans) dan segelintir elite manusia-super (superhumans) yang ditingkatkan, maka liberalisme akan runtuh (Harari, 2020: 160). Pengakuan atas hak menjadi pudar. Uang berlaku sebagai apa jika segelitir elite memiliki robot-robot cerdas, yang bisa bekerja untuk mereka tanpa perlu dibayar? Lalu, konsep penyatu apa yang mengisi kekosongan tersebut?


Zainul Arifin,  pembelajar di Komunitas Bangku Hitam

Cerpen

Memancing Bersama Bapak

Cerpen Kiki Sulistyo

 “Ada suatu hari yang akan menjadi hari terakhirmu. Setelah hari itu tidak ada apa-apa lagi.” Begitu kata Bapak ketika suatu malam kami pergi memancing.

Bapak menggunakan pancing lontar tanpa joran. Setelah memasang umpan dan berjalan ke laut, Bapak memutar-mutar tali pancing di atas kepalanya dan melontarkannya sejauh-jauhnya. Lantas dia menjauh dari laut, mengikat tali pancing di sebatang tonggak kecil yang sudah ditancapkan di pasir, lalu duduk menunggu. Jika tali pancing bergetar bisa jadi ada ikan yang sedang memakan umpan. Bapak akan menarik tali untuk memeriksa, jika tali pancing semakin kuat getarannya, bisa dipastikan memang umpan sudah dimakan, saatnya menarik tali pancing untuk melihat hasil.

Kadang-kadang Bapak mengajakku. Satu-satunya tugas yang diberikan padaku hanyalah menemaninya; mendengarkan dia bicara. Sering aku tidak benar-benar paham apa maksud kata-katanya.

 “Terus kita masuk ke alam baka?” tanyaku.

“Iya, alam baka. Artinya tidak ada apa-apa.”

 “Bukankah ada malaikat di sana. Ada surga dan neraka?”

Bapak tidak langsung menjawab. Matanya diarahkan ke tali pancing, tak ada getaran di sana. Bunyi ombak yang tiada henti membuatku kadang tidak menyadari hempasan air itu memang ada, terhampar di hadapan kami.

Semenjak satu-satunya bioskop di kota kami berhenti beroperasi, Bapak tak lagi punya pekerjaan tetap. Semula Bapak bekerja sebagai pengantar rol film, kemudian dipindah ke posisi penjaga loket. Bersama kawan-kawan sebaya, hampir setiap malam aku bermain-main di teras bioskop itu. Kami senang melihat-lihat poster film, meski orang-orang dewasa kadang memarahi kami sebab dianggap mengganggu para calon penonton. Sebagai bocah kami memang berisik, tetapi kami tak pernah berniat mengganggu. Kami hanya gembira, dan kegembiraan dalam diri seorang bocah menjadi kegembiraan yang murni. Mungkin kemurnian itulah yang mengganggu orang-orang dewasa.

Bioskop Ramayana. Itulah nama bioskop di kota kami. Mulanya aku kira itu sekadar nama, mungkin nama si pemilik bioskop. Tetapi ketika kulihat di perpustakaan sekolah ada buku berjudul Ramayana, aku jadi mengerti kalau Ramayana adalah sebuah cerita tentang seorang istri raja yang diculik raksasa.

Meski tidak pernah memberikan karcis gratis padaku, aku senang melihat Bapak duduk di kursi  belakang kaca loket. Aku senang melihat dia memberikan karcis pada orang-orang. Aku bayangkan dia serupa malaikat yang memberikan karcis menuju surga pada orang-orang yang baik hatinya. Di mataku semua penonton bioskop adalah orang-orang baik yang akan masuk surga, sebab wajah mereka selalu tampak bercahaya. Sementara kami, bocah-bocah, hanya bisa berdiri di teras bioskop, melihat mereka satu per satu masuk ke dalam gedung tempat surga itu berada. Memang, sebelum lampu bertanda ‘film utama’ menyala, tirai di mulut pintu tidak akan ditutup. Dari luar kami masih bisa melihat beberapa cuplikan film yang akan diputar di masa datang. Saat-saat itu aku seperti diberi kesempatan untuk membayangkan surga, dan kelak akan tiba masa di mana aku bisa turut masuk ke dalamnya.

Tetapi, kata Bapak, surga itu tidak ada.

 “Berarti neraka juga tidak ada, Pak?” tanyaku. Aku menduga Bapak cuma bercanda, meski air mukanya kelihatan serius.

 “Menurutmu kalau surga tidak ada, apakah neraka ada?”

 “Tapi di sekolahan ada yang menjual buku siksa neraka. Orang-orang dibakar, dipotong lidahnya, ditusuk, disetrika, di..”

 “Ssst, lihat. Umpan sudah dimakan.” Bapak memotong kata-kataku. Aku lihat tali pancing bergerak-gerak. Bapak meraih tali itu dan menariknya pelan-pelan. Getarannya makin kuat, pertanda memang ada ikan yang sedang memakan umpan. Dengan sigap Bapak menarik kuat-kuat tali pancing itu, terus-menerus, seperti orang hendak menurunkan layang-layang. Aku bayangkan seekor ikan besar telah kami dapatkan; mungkin ikan pari, meski aku berharap itu ikan kerapu, ikan dengan daging yang lembut dan gurih. Aku lihat kegembiraan di wajah Bapak, kegembiraan yang murni. Aku bayangkan kegembiraan yang sama akan memancar di wajah Ibu, kalau nanti kami membawa seekor ikan besar sebagai hasil usaha.

Semenjak bioskop ditutup, Bapak dan Ibu sering bersitegang. Memang tidak pernah sampai berteriak-teriak. Tapi pernah kulihat Bapak dengan muka merah melempar gelas berisi teh panas ke tembok. Aku sempat berteriak, tetapi teriakanku tidak bisa menahan gelas untuk menghantam tembok dan pecah berkeping-keping. Saat itu Ibu menangis. Aku tidak tahu apa yang mereka permasalahkan, yang kutahu masalah itu tidak panjang. Mereka segera kembali seperti biasa, tenang dan tak banyak bicara. Sering aku berpikir ketenangan itu bisa terjadi berkat doa-doa Ibu; tidak seperti Bapak, Ibu memang rajin sembahyang. Tetapi di lain kali aku berpikir ketenangan itu terjadi karena Bapak selalu bisa menyadari kesalahannya dan tak sungkan meminta maaf.

Bioskop Ramayana terpaksa harus tutup karena tidak ada lagi orang yang mau menonton. Perlahan-lahan orang memilih membeli pemutar video yang memang baru saja masuk ke kota kami, memenuhi rak toko-toko elektronik. Bersamaan dengan itu, penyewaan maupun para pedagang video bajakan menjamur. Harganya jauh lebih murah dari harga tiket bioskop. Bahkan satu keping bisa berisi beberapa film. Aku merasa tidak ada lagi orang yang mau masuk surga bersama-sama. Mereka membangun surga mereka sendiri, di dalam rumah masing-masing.

Namun, tidak demikian dengan kami, Bapak tidak punya cukup uang untuk membeli mesin pemutar video, tidak cukup punya uang untuk membawa surga ke rumah kami. Tanpa surga, rumah kami terasa tenang, nyaris tanpa suara-suara. Berbeda dengan rumah para tetangga.  

Sejak bioskop tutup, Bapak beralih mengerjakan apa saja yang dia bisa; jadi tukang catut yang menjualkan barang orang, jadi tukang perbaiki alat-alat elektronik, membantu tukang kayu atau tukang batu, bahkan kadang-kadang membeli nomor porkas. Kami, para bocah yang beranjak remaja, tidak lagi gemar bergerombol di teras bioskop yang pelan-pelan mulai ditempati para pedagang batu akik, tembakau, atau jam tangan. Aku tak lagi menunggu Bapak selesai bertugas sembari menikmati permen Sugus dan melihat orang dewasa lalu-lalang di jalan.

“Nanti di surga kita tidak perlu mancing lagi ya, Pak. Ikan apa saja yang kita mau akan langsung tersedia.” Ternyata, bukan ikan pari atau ikan kerapu yang berhasil kami dapatkan. Ikan yang menggelepar-lepar di pasir itu berwarna keperakan dengan garis-garis hitam. Itu ikan korangan. Tapi aku tidak kecewa, seekor korangan juga enak digoreng, apalagi ditambah sayur bayam dan sambal. Air liur kutelan membayangkan santapan nanti.

Entah kenapa di saat yang sama aku juga teringat pada komik neraka yang kubeli di penjual mainan depan sekolah. Tiba-tiba aku takut Bapak akan masuk neraka karena pernah melempar gelas berisi teh ke tembok. Aku juga teringat pada buku cerita Ramayana, dan takut pada kemungkinan, bahwa pada saat melempar gelas berisi teh itu Bapak sebenarnya hendak meminta Ibu menceburkan diri ke dalam api, seperti permaisuri raja. Aku tidak mau Bapak masuk neraka, aku juga tidak mau Ibu masuk ke dalam api.

 “Sudah Bapak bilang, surga itu tidak ada,” jawab Bapak. Aku perhatikan parasnya untuk mencari jejak kemarahan. Tidak ada. Paras Bapak malah tampak bercahaya seperti ketika dia duduk di belakang kaca loket.

“Kalau surga tidak ada, kenapa Ibu rajin berdoa?” tanyaku sembari memperhatikan Bapak yang sibuk memasukkan ikan ke dalam keranjang dan menyiapkan umpan berikutnya. Bapak bilang, “Karena Ibu tidak ingin kita menderita. Ibu ingin kita hidup bahagia. Tapi kau lihat, tidak ada seorang pun yang membantu kita. Bukan karena orang-orang tidak mau, tetapi karena mereka sendiri juga tidak bahagia. Sebab orang-orang tahu, ada suatu hari yang akan menjadi hari terakhir mereka.”

 “Saya tidak mengerti, Pak.”  Bapak tidak membalas ucapanku. Aku tidak tahu dari mana dia mendapat kalimat-kalimat itu. Mungkin dari film-film yang dia tonton, mungkin dari pengalaman hidupnya yang tak banyak aku tahu. Kembali dia memutar-mutar tali pancing di atas kepalanya dan melontarkannya jauh-jauh ke tengah laut. Baru aku perhatikan tubuh Bapak yang pendek dan kecil seakan menyimpan kekuatan besar. Aku merasa akulah umpan itu, dilemparkan ke tengah laut dan tak tahu adakah ikan yang mau menyambut.

Bunyi ombak tak pernah sedikit pun berhenti, terus berulang-ulang, seperti mendapat siksa sebagaimana orang-orang berdosa dalam komik yang pernah kubaca. Kudongakkan kepala, menatap langit yang tak menampakkan bulan. Aku bayangkan di atas sana, di ruang lapang terbuka itu, berdiri sebuah bioskop. Lalu dengan kegembiraan yang murni, aku, Bapak, Ibu, dan semua kawan-kawanku, masuk ke dalamnya. ****

Mataram, 13 Juni 2020


Kiki Sulistyo, meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.

Cerpen

Selalu Ada Cara Diam-Diam untuk Satu Persoalan

Cerpen Ian Hasan

Ada satu cara manjur, nyaris sempurna kau yakini kebenarannya untuk menyelesaikan kebuntuan ketika berhadapan dengan suatu persoalan. Cara itu bukan didapat lewat pemikiran yang serba rumit atau semacam pertimbangan yang menguras energi dan kewaspadaan, tetapi lewat pemusatan perhatian dan ketenangan yang memadai untuk memutuskan tindakan. Keyakinanmu itu nyaris sempurna karena belum kau temukan cara lain, sedangkan kau sendiri cukup menyisakan dugaan bahwa mungkin masih ada sebagian orang berkeyakinan lain tentang hal itu.

Kau ingat suatu ketika pernah menghadapi situasi sulit semacam itu, setidaknya untuk ukuranmu sendiri di awal-awal punya anak. Kau sampai tak bisa berkata-kata apapun ketika seorang mantri menyebut biaya berobat anakmu yang nilainya dua kali lebih besar dari sisa uang harian yang kau punya. Hal berbeda kau lihat di raut wajah istrimu yang kemudian meminta kau keluar menggendong anakmu. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam ruang praktik, sehingga kalian tetap bisa membawa sejumlah obat di dalam kantong plastik putih, secerah langkah kalian pulang ke rumah setelahnya.

Sejak peristiwa itu kau mulai mengamati kecenderungan orang mengambil cara diam-diam demi mendapatkan jalan keluar terbaik di kehidupannya. Seperti halnya ketika beberapa waktu berikutnya kau setengah dipaksa menemani pimpinanmu yang diam-diam menikahi seorang gadis di lereng gunung. Dia putuskan itu karena tak ingin masa depan keluarganya hancur sedangkan istrinya sudah tak sanggup lagi meladeni kebutuhan pentingnya sebagai laki-laki. Hati kecilmu tentu saja berontak, tetapi mengingat hanya cara itu yang bisa menopang keberlangsungan aktivitas yang kalian jalani, kembali kau yakini kalau diam-diam adalah solusi.

“Jika kita pernah buruk pada suatu masa, bukan berarti kita akan mengotori sepanjang hidup kita dengan keburukan,” jelasnya, menjawab kegamanganmu terkait keputusannya, “dan setiap orang pasti memiliki cita-cita yang diperjuangkan, seburuk apapun cara meraihnya,” tambahnya sembari memutar kemudi mobil yang kalian kendarai.

Kau balas penjelasan itu dengan beberapa kali anggukan, sembari matamu menerawang jauh, membayangkan keburukan lain apabila tidak memilih cara diam-diam. Jujur, saat itu keyakinanmu mengenai cara halus itu belum sebulat sekarang. Kau masih terlalu percaya diri untuk berharap mengenai kehidupan yang serba lantang. Segala urusan diselesaikan dengan terbuka tanpa harus ditutupi. Perkara-perkara pelik bisa jadi lebih mudah diuraikan ketika berhadapan langsung dengan sumbernya, tak perlu dihindari dengan mencari jalan lain yang lebih sunyi. Tetapi apakah diam-diam itu juga berarti sembunyi-sembunyi? Sedangkan seorang pengecut pun bukan berarti mampu menguasai cara itu dengan baik, mengingat adanya sederet risiko yang harus disadari sejak awal, sebelum memutuskan bertindak dengan cara diam-diam. Kau pikir, melakukan cara itu juga harus dilandasi kepercayaan diri yang kuat, selain sikap tenang, dan perhatian penuh akan jalan keluar yang memang sudah di depan mata. Ibarat menangkap ikan tak perlu membuat airnya keruh.

Sebagai seorang aktivis, ingatanmu tiba-tiba menggapai satu kisah penting terkait berdirinya republik ini. Saat di mana secara diam-diam pula, para pemuda menculik dua pemimpin yang dianggap mewakili keutuhan bangsa. Dapatkah dikatakan tindakan para pemuda itu sebagai pengecut? Sedangkan pilihan cara lain justru bisa membuat nilai kemerdekaan bangsa ini jadi berbeda. Faktanya, keesokan hari setelah penculikan itu proklamasi kemerdekaan dibacakan, lebih lantang menyuarakan kebebasan dari skenario penjajah, juga terhindar dari kekonyolan cara-cara gegabah. Meskipun pada awalnya, perdebatan dan silang pendapat hampir saja menggagalkan semuanya.

Sebelum hari ini, kau sudah sering diperingatkan orang-orang terdekatmu terkait keyakinan yang ada dalam diri atas cara itu, termasuk oleh istrimu sendiri. Dia berkali-kali memintamu berhenti dari aktivitas bawah tanah yang menurutnya sangat berbahaya, terutama menyangkut keselamatan keluarga kalian.

“Memangnya kamu punya simpanan senjata?” tanya istrimu, ketika mengetahui siapa kekuatan yang sedang kau lawan.

Kau lalu menjelaskan perihal aktivitas kelompok yang belakangan ini bergerak sunyi. Siapa yang mau nyawanya hilang sia-sia ketika teriakan tuntutan dan selebaran protes, justru membangunkan kemarahan harimau dan ular yang bersarang di tampuk kekuasaan? Nyaris tak terhitung lagi berapa nyawa kawanmu yang melayang di keramaian demonstrasi atau cukup sial dengan hanya menjalani bui karena didakwa membahayakan.

“Takut?” Tak kau duga, istrimu bertanya begitu.

“Bukan begitu juga.”

“Lalu?” Istrinya mulai mencium ketidakberesan dan memandangmu penuh curiga.

“Sudahlah, aku tak mau malam ini berantakan sebab anak-anak terbangun oleh suaramu.”

Malam itu, ditemani irama rintik hujan yang menggairahkan, kau ajak istrimu melakukan cara diam-diam di tengah kesibukan yang menghujani malam-malammu sebelumnya.

Keesokan harinya, tatkala istrimu belum selesai menyiapkan kopi dan anak-anak masih tenggelam dalam nyenyak mereka, terdengar salam dan ketukan di pintu depan.

“Kenapa?” tanyamu begitu melihat Seno dan Jalal di depan pintu.

Hawa dingin pagi itu tak sanggup menyembunyikan kepanikan di wajah mereka berdua, membuatmu buru-buru mengajak mereka masuk.

“Kongres belum selesai, Serikat Petani Kang Din didatangi aparat,” setengah berbisik, Jalal menyampaikan kabar dari Salatiga.

“Mama Tata juga, ladang sorgum kelompoknya di Flores kena gasak, padahal tinggal seminggu lagi panen.” Seno menggebu menyampaikan itu seakan tak mau kalah dari Jalal.

“Maksud kalian ke sini?” tanyamu singkat.

“Jejaring gerakan mulai terbaca,” jawab mereka hampir bersamaan. Efektivitas gerakan bawah tanah mulai dipertanyakan beberapa kawan, karena tetap saja denyut sekecil apapun dibungkam dengan dalih penyelewengan kepercayaan. Kalian bersepakat menduga, ada oknum-oknum yang disusupkan. Kedua kawanmu langsung menyarankan agar kau menjauh dari keluarga untuk beberapa waktu sampai situasi aman. Hening beberapa saat membuatmu cukup punya waktu berpikir lantas memutuskan mengikuti mereka.

***

Ketika langit sore belum sepenuhnya berubah kelam, saat kebanyakan orang sibuk menyiapkan kedatangan malam, dua orang lelaki bergegas meninggalkan sepenggal kisah mereka di tepian telaga.

“Apa boleh buat, meskipun kita tahu tunduk dan tidak itu urusan hati.”

“Iya, Kang. Tindakan lahir juga belum tentu mewakili niatan, bisa saja itu siasat yang memang harus dilakukan untuk satu persoalan.”

Tanpa mereka ketahui, diam-diam kau ikuti ke mana pun mereka pergi, menghantui mimpi mereka tentang kebenaran yang diyakini.***


Ian Hasan, pegiat di Pasamuan Among Anak (Pamongan) di Karanganyar. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata di Karanganyar.

Puisi

Puisi Maulidan Rahman Siregar

Hujan di Telinga

seseorang, yang kalah dengan nikmat Tuhan

melewati kebosanan demi kebosanan

dengan cara mengudara

lewat kata-kata

yang hidup dan berkembang biak

di jantung telepon genggam

kemudian muncul hantu

yang menari di tengah hujan

sembunyi di balik ramainya bunyi atap

dan pekikan udara

aku menyaksikan semua itu sambil merokok

dan menulis sebuah puisi iseng

di dalam telinga, muncul bunga bunga

2019


Ke Tenggara Jiwa

menangkal kesepian demi kesepian

yang diam di sarkofagus tepi jiwa

aku berjoget di udara

bersamamu, melewati banyak lagu burung

di awan tinggi

kita menikahi hujan dan membasahi banyak rumah

yang selalu berdoa

terus berdoa

agar senantiasa kaya

di atas sana

malaikat bercahaya putih suci bersih

sebagai peracik ulung kebahagiaan

berencana membakar sebuah mall

agar seluruh orang yang cari duit di sana

pulang, dan meminta

menangis

dan memeluk

agar ibu

selalu mau melepas diri dari keterpojokan

dan selalu tinggal

di rumah

menyapu banyak masalah

2019


Obat Gila

dengan segala hormat, puisi

dengan segala takut, segala sisi formal,

segala aturan

agar arus bawah tetap di bawah

agar purna akal tetap di langit tinggi

kepadamu puisi

kugali huruf-huruf

tegang badan sendiri bak kaktus di tengah

hutan

tiada matahari tiada angin

tiada apa pun

yang ada hanya cahaya samar

menembus hingga ke tulang

dan ketika pulang

hai puisi, hai umur panjang

kupulangkan segala kenang

agar purna harapan

yang diam di tepi tangis

panjang

oh doa doa

oh apa saja

lekas pulangkan segera

obat bagi jiwa

2019


Beku

siluman berkepala nabi

mendaftarkan diri masuk pegawai negeri

agar candala demi candala

di lebat hujan sana

tiada meminta apa

bikini gadis itu tersangkut di tepian pulau

ketika salju menampar mukanya

di sisi terakota

lelakinya, namanya topik

sedang memasak es batu

dan menanak banyak embun

untuk perempuan salju tadi

dua gelas sirup rasa jambu muda

tersedia begitu saja

setelah badai salju ribuan daya

menenggelamkan tubuh-tubuh penuh

elektron

dan, mati juga akhirnya

kala topik bertanya,

“pranata itu apa, hai kekasihku yang sudah

tiada?”

2019


Bertahan

seekor sapi dari dalam kitab suci,

sejak 14 abad lalu, mencoba

muncul ke dalam pinggan nasimu

tapi gagal, selalu gagal

sebab, ayam-ayam di kampus

dan ayam kampus di pusat perbelanjaan

menawarkan nubuat gurih nikmat

ke dalam tubuhmu yang universal

dirimu, dan sekularisme yang sering main

di celana

menjadi juri bagi dirimu sendiri

kau bertahan, selalu bertahan

agar lepas segala beban

agar pergi ingatan

akan tetapi, kau selalu menolak

kedatangan sapi dari kitab suci, ke dalam

pinggan nasi

yang kau upayakan diri tanggungmu

mampu menahan isak ribuan tahun

ragamu, dan asa kemerdekaan

bertahan, bertahan, bertahan

demi ayam-ayam amerika di restoran

kenamaan

dan seragam sekolah anakmu

kau menarik kembali sapi di kitab suci

dan memasak sebuah sup

kau menangisi kuahnya

sebab

itu kuah air matamu

itu kuah pedih sembilu

2019


Ruang Tulis

hai

ke mana seluruh isi bumi?

aku ingin menitipkan lara ini

untuk teman segala kenang

untuk hidup!

apa? apa aku harus tiap hari di sini

sendiri di balik sepi

apa? kau tak mendengarku?

oh baiklah

akan kutelan sendiri hidupku

aku tak akan mati-mati

tak akan pernah kalah!

lihat saja!

2019


Ruang Tulis /2/

sungguh, aku ingin menemukan diriku

di kedalaman sendiri

di tepi apa pun

tidak ada suara

tidak apa pun

bahkan diriku pun tak

kunjung kutemukan

aku terus menulis

dan menulis

hingga letihku

penuh seluruh

2019


Ruang Tidur

di gelap hebat ini, kekasih

aku tertidur, dan terbangun

satu jam kemudian.

tidak ada apa-apa di sini

kecuali doa

doa-doa panjang

yang kutulis, kurangkai, kudiamkan,

menjadi seekor puisi yang

mudah-mudahan kau mau

mudah-mudahan kau

lelap bersamanya

dan membangunkanku lagi

satu jam kemudian

2019


Ruang Tidur /2/

kubikinkan ruang tidur untukmu

biar kau tak butuh lagi pelukan,

kening yang telah dikecup,

atau sentuhan ngilu ke jantung

besok senin, kekasih

dan kau masih terbang di udara?

tidak, sesekali jangan begitu

kewarasan orang kota akan menelanjangimu

2019


Tidur

di lagu terakhir ini

telah kuhempas badan

kuhempas apa saja!

aku ingin ke sana, Rabbi

ke sudut jauh

memulangkan segala ingin

menafikan semua mau

rebah aku dalam tiap sujud

tunduk, aku patuh

tolonglah, tolong aku

mengenal yang namanya istirah

2019


Ruangan Ini Beku dan Dingin

salju masih menembus rumah

dinginnya ke jantung

kecut badan remuk di tulang

kunyalakan ponsel pintar

kutarik orang-orang

untuk menerjemahkan hidup pelik ini

menerjemahkan peta

tapi, seorang pun tidak

mengetuk pintu

mengucap salam, atau apa pun

Padang, 10 Januari 2019


Maulidan Rahman Siregar, sekarang lebih suka bikin arsip. Belum giat membaca dan menulis. Tidak terlalu suka kucing.

Cerpen

Gasing Tengkorak

Cerpen Siska Amelia

Wajahnya tampak gelisah. Rambut ikal sebahu tergerai dilapih kelembai. Sesekali mulut dibuka lebar, tertawa sambil membelalakkan mata, mengedarkan tatapan liar pada dinding bercat abu-abu. Penat melepas tawa tak beralasan, ia meraung-raung. Ditarik-tariknya rambut, lalu berteriak tidak menentu.

Berkerumun warga saat ini menontonnya. Rupanya pekik wanita itu, beserta bunyi gaduh dari benda yang dilempar sana-sini mengundang rasa tanya tetangga untuk melihat apa yang tengah terjadi. Pintu terbuka sangat lebar. Satu di antara tetangga yang datang, begitu menyaksikan perilaku tak wajar perempuan berlesung pipi ini, segera menekan tuts gawai dan menghubungi beberapa kawan. Tidak berselang lama, rumah dipenuhi banyak mata memandang, namun tak ada yang kuasa menjadi penenang.

Si wanita semakin menggila tingkah lakunya. Sama sekali tidak memedulikan banyak pasangan mata yang tengah menatap heran. Dia mulai membuka kancing bajunya satu demi satu. Sambil menari-nari, dilempar serampangan baju itu. Perlahan semua yang menutupi tubuh dilepas. Dengan menyuguhi pandangan beringas, ia menempelkan tubuh bagian depan pada dinding, di samping kiri ranjang. Kuku-kuku panjangnya mencakar-cakar dinding, lalu berteriak, menggeliat, mengamuk, tertawa, dan kadang mengeluarkan suara tangisan. Wanita tak berayah-beribu itu, nampak jelas begitu kesakitan.

Rosmayenti. Begitu warga memanggil namanya. Perawan usia 25 tahun, terkenal seantero kampung Karamba karena kemolekan tubuh dan paras dahayu yang Tuhan anugerahi. Tak ayal, berderet lelaki bertandang hendak mempersunting wanita yang kesehariannya berprofesi sebagai penjual jamu gendong. Sayang, wajah cantik tak selaras dengan tuturnya saat lelaki datang meminang. Rangkaian kata menghunus ulu hati acapkali terlontar dari bibir bergincunya. Menolak mentah dengan kata-kata pedas adalah hal lumrah baginya.

Hide. Satu di antara puluhan lelaki yang kerap mendapat perlakuan semena-mena dari Rosmayenti. Pria yang telanjur jujur mengungkapkan segala isi hati, malah disiram cerca-maki karena profesinya hanya penjual kayu bakar. Diusahakan Hide meredam hati yang memanas. Bergeming. Lelaki piatu tersebut memutuskan pergi tanpa wacana walau sepatah kata. Setiba di rumah, sengaja dia menutup rapat kejadian merendahkan harga diri, pada bapak yang begitu dihormati. Enggan Hide berbagi pilu dengan bapak yang turut dihina Rosmayenti. Suasana duka seratus hari kehilangan istri masih membekas basirah. Tentu ia tak mau menambah rasa sakit, jika dia bicara perihal apa yang dialaminya. Namun, saat wajah Hide tampak murung, justru bapak menenangkannya. Hide sedikit heran karena hal itu, dia coba menelisiknya mengapa bapak tampak tenang, tetapi diurungkannya, karena dia pikir itu bukan sesuatu yang buruk, justru dia menganggap apa yang ditunjukkan bapak melegakan hatinya. Hanya pada Mandaro, kawan karibnya, Hide menumpah-ruahkan segala isi hati.

Malam ini, langit tidak mengumbar banyak bintang. Hide yang dihubungi temannya agar menyegerakan langkah ke rumah ini, ternganga begitu melihat Rosmayenti berjingkrak tanpa busana, berkelakuan serupa binatang. Kemudian pikirannya mengembara, menjajaki setiap jengkal kejadian tujuh hari lalu.

“Pernah kau dengar tentang gasing tengkorak, Hide?” Mandaro melempar pertanyaan setelah mendengar semua yang Hide ceritakan. Kening Hide mengerut diiringi gelengan kepala, memberi isyarat bahwa dia tak paham dengan apa yang Mandaro ucap.

“Gasing tengkorak adalah gasing yang dibuat dari tengkorak jidat manusia yang mati berdarah,” tutur Mandaro. Ditatap seriusnya Hide yang mendengar dengan saksama.

“Almarhum kakek pernah bercerita tentang lelaki tua yang memiliki gasing tengkorak di kampung kita,” kata Mandaro melanjutkan obrolan.

“Lalu? Apa gunanya gasing tengkorak untukku, hah? Aku ini jatuh cinta, bukan ingin bermain gasing layaknya anak kecil.” Hide mengeluh kesal. Dihempas paksa tubuhnya pada kursi kayu bercorak kuno.

“Dasar bodoh! Tak tahukah kau cerita tentang gasing tengkorak yang mampu membuat wanita idaman kau menuruti maumu, hah?”

“Edan. Mana mungkin aku lakukan hal macam itu untuk taklukkan Rosmayenti?” ucap Hide. Ditekannya pemantik hingga mengeluarkan api kemerahan. Dia menghisap tembakau kuat sampai bara api meremang.

“Jangan naif, Kawan. Aku bisa saja mengantarmu ke rumah lelaki tua pemilik gasing tengkorak. Kakek bilang bahwa ia telah menurunkan ilmu gasing tengkoraknya pada seseorang.” Mandaro menyeruput  dan merasakan sejenak kopi tanpa gula mengalir, membasahi tenggorokan, lantas kembali angkat bicara.

“Kakek tak pernah bilang kepada siapa lelaki tua itu mewarisi ilmu gasing tengkorak. Kau dan aku bisa bertanya langsung pada lelaki tua tersebut.”

“Lalu?”

“Kita temui pemilik gasing tengkorak yang baru dan meminta agar Rosmayenti tunduk padamu.”

“Memangnya di mana rumah lelaki tua itu?”

Rimbo Data.”

Mereka beradu pandang. Bergeming. Hide hafal jalan menuju rimbo data. Beberapa kali bapaknya mengajak dia ke hutan lebat itu, mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Tetapi, Hide tidak mengetahui ada sebuah rumah di hutan yang lengang. Bapak juga tidak pernah bercerita. Barangkali terlalu sibuk dan fokus memilih kayu untuk keberlangsungan hidup.

Pikiran Hide menerawang, mengingat cerca-maki yang Rosmayenti lontarkan, tidak hanya padanya, tapi juga pada bapaknya. Untuk sesaat, darah dendam mengaliri tubuh Hide, namun raib begitu ia mengenang mendiang ibu yang selalu tanamkan nilai-nilai agama.

Mandaro mengambil secarik kertas dan pena bertinta biru. Ia nodai kertas itu, lalu menaruhnya di meja cokelat bermotif dedaunan.

Netra Hide tertuju pada kertas coretan Mandaro yang tertulis ‘Denah Lokasi Rumah Lelaki Tua Pemilik Awal Gasing Tengkorak’. Hide diam. Satu sisi ia menginginkan Rosmayenti, tapi di lain sisi, ia teringat mendiang ibu. Air muka Hide menampakan kebingungan yang sangat.

Rosmayenti kian meradang. Ia menerkam dan menerjang siapa saja yang ingin mendekatinya. Wanita paruh baya yang berniat menutupi tubuhnya dengan sarung, langsung dicekik hingga tak mampu memekik. Beruntung warga bisa melerai. Nahas, beberapa pemuda yang melerai malah dilempari apa saja oleh Rosmayenti. Tatapannya mendelik ke sekeliling, ia mulai menghalau orang-orang yang awalnya diacuhkan. Mereka ketakutan dan berhamburan, tak mau menjadi korban keberingasan wanita angkuh ini.

Pintu kamar telah dikunci Rosmayenti. Derap langkah warga perlahan menjauh, kembali ke-rumah masing-masing. Meninggalkan Rosmayenti yang terus saja mengerang.

***

Hide mengayuh sepeda begitu terburu. Kertas denah pemberian Mandaro digenggam erat. Ia mulai menapaki hutan rimbo data, membelah jalanan yang ditumbuhi banyak pepohonan besar, juga tinggi. Hawa dingin pagi langsung memagut tubuhnya, serta-merta menghujam wajah penasaran lelaki penjual kayu bakar itu.

Hide memutuskan tidak ingin menuruti saran Mandaro untuk menjadikan gasing tengkorak sebagai media menganiaya Rosmayenti dan patuh padanya. Hide hanya berencana menemui lelaki tua pemilik awal gasing tengkorak, memastikan apakah ada orang lain yang telah mendatangi lelaki tua tersebut. Dia juga hendak menanyakan siapa gerangan pemilik gasing tengkorak yang baru. Menguliti semua hal secara tuntas.

Rasa keingintahuan yang membuncah, membuat Hide semakin menambah kecepatan menga-yuh. Ia mau penderitaan Rosmayenti segera berakhir, walaupun kelakuan gadis berambut pirang itu malah membuatnya menderita. Belum pernah Hide menyayangi wanita begitu tulus, kecuali sayangnya pada Rosmayenti saat ini. Dia juga tidak mau gadisnya merasa sakit lagi.

Hanyalah gubuk reot beratapkan ijuk yang dilihat Hide di lokasi denah. Di sekeliling rumah tumbuh banyak ilalang, hal itu yang membuat Hide tak hirau sebelum-sebelumnya.

Pintu gubuk dibuka lebar seperti menunggu kedatangan tamu. Hide berencana masuk, tapi terhenti ketika melihat Rosmayenti yang berjalan perlahan menuju gubuk. Hide segera menyembunyikan diri di sisi kiri gubuk, memerhatikan langkah Rosmayenti yang memasuki gubuk.

Pintu gubuk ditutup saat Rosmayenti masuk. Hide mengendap-ngendap. Hide mengintip dari lubang gubuk yang ada. Dia melihat lelaki mengenakan topeng tengah memainkan gasing tengkorak. Gasing yang bertali kain kafan terus berputar diiringi sayup nyanyi samar. Asap mengepul dari kemenyan yang dibakar di dalam batok tempurung. Lelaki itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi tumpul begitu melihat kedatangan Rosmayenti. Dengan wajah penuh kemenangan lelaki itu berkata, “Ini ganjaran untukmu karena telah berani meludahi wajahku tiga hari lalu.”

Lelaki itu memerintahkan Rosmayenti untuk berbaring pada kasur tipis yang telah disediakan. Rosmayenti bagaikan boneka hidup yang menuruti saja kemauan lelaki bertopeng. Dengan beringas, dia mulai menggerayangi tubuh Rosmayenti.

Tak tinggal diam, Hide berniat menghentikan perbuatan itu. Namun, belum sempat hal itu dilakukannya, lidah Hide terasa kelu, hatinya getir, badan serasa kaku ketika melihat lelaki itu melepas topengnya dan mencium bibir Rosmayenti.

B … ba … bapak,” ujarnya terbata. Masih sulit hati Hide memercayai lelaki itu ialah orang yang dikenal, disayang, dan sangat dihormatinya.

Seseorang menepuk pundak Hide dari belakang. Segera Hide membalikkan badan. Di depannya berdiri seorang kakek dengan tongkatnya. Dialah lelaki tua pemilik awal gasing tengkorak. Dia menatap Hide tajam sembari menyisir jenggot yang telah memutih, lalu berkata, “Apa yang kau lakukan di gubuk yang telah aku wariskan kepada muridku?”


Siska Amelia, beberapa tulisannya pernah memenangkan lomba, yang terbaru adalah cerpen berjudul ‘Palasik’, menjadi juara favorit lomba menulis cerpen nasional yang diadakan lomba online tahun 2020.

Cerpen

Kari

Cerpen Sasti Gotama

Saya benci kari. Namun, hari ini saya terpaksa memasaknya. Kari yang saya maksud bukan kari ala India, tapi kari ala Indonesia. Shanti, kekasih saya yang memperkenalkannya. Ia berasal dari sana. Namun, seperti kari Indonesia yang menyimpan potongan ayam di balik kentalnya kuah santan, Shanti menyimpan banyak kisah rahasia yang dapat membakar isi koran lokal Warburton di musim salju yang beku.

Musim dingin di Warburton sangat menyedihkan. Kota yang berjarak tujuh puluh dua kilometer dari Melbourne ini di musim panas saja sudah sepi, apalagi di musim dingin seperti sekarang. Beberapa jalanan ditutup dan digunakan oleh anak-anak untuk berseluncur atau bermain bola salju.

Di salah satu jalan utama Warburton itulah, pertama kali saya bertemu dengan Shanti. Suatu hari di musim gugur, ia menggelar lapak makanan Indonesia dalam bazar komunitas. Kala itu, ia terlihat cantik sekali. Rambut hitam panjangnya sesekali dipermainkan angin  sehingga melayang menutupi matanya. Kulitnya yang sewarna kulit gandum tampak begitu menggoda. Bibirnya yang setebal bibir Kim Kardashian tampak sensual. Serasi dengan gaun merah berpotongan rendah yang dikenakannya.

Ia yang menyapa saya lebih dulu kala itu.

“Hai, Tuan. Anda harus mencoba kari kami.”

Awalnya saya tak peduli. Saya takut ternyata ia tak memanggil saya, melainkan lelaki lain di sekitar saya. Saya terbiasa tak terlihat, serupa hantu gentayangan. Namun, ia sepertinya tak menyerah. Ia keluar dari stan dan menghadang saya.

“Kari kami istimewa, Tuan!” katanya dalam bahasa Inggris beraksen Asia. “Ini khas Indonesia,” lanjutnya.

“Apa istimewanya?”

“Kari kami tidak sepekat kari India atau Malaysia. Selain itu juga banyak khasiatnya. Kami menggunakan daun jeruk dan serai segar. Bagus untuk daya tahan tubuh terutama di musim gugur seperti ini.”

“Saya tak suka masakan Asia.”

“Anda belum mencoba.”

“Saya tak ingin mencoba.”

“Anda harus mencoba. Aku beri cuma-cuma.” Ia memandang saya penuh arti. Pupilnya langsung tertuju pada mata saya.

Ia menarik tangan saya menuju stannya dan memberikan satu wadah plastik berbentuk bundar yang saya yakini bukan khusus untuk mengemas makanan. Pastinya kari di dalamnya sudah berubah menjadi makanan beracun yang 
terkontaminasi BPA.

“Aku yakin Anda akan menyukainya. Trust me!” Ia meletakkan bungkusan itu di tangan saya, lalu tersenyum puas.

Sesampai di rumah, bungkusan itu langsung saya lempar ke keranjang sampah. Buat apa? Hanya sekumpulan racun yang akan menyebabkan sel-sel saya bertransformasi menjadi sekumpulan alien ganas.

Namun, esoknya kami bertemu lagi di rumah makan tempat saya biasa sarapan. Rupanya ia bekerja sebaik pramusaji di sana. Ia yang mengantarkan kopi dan panekuk saya.

“Bagaimana karinya?” tanyanya. Hari itu ia memakai pakaian kasual: kaus putih sederhana dan jeans, membuatnya tampak lebih menarik. Rambut panjangnya ia ikat ekor kuda.

“Lumayan,” gumam saya. Saya harap, ia tak punya antena untuk mendeteksi kebohongan. Sebetulnya, saya ingin ia segera menyingkir dari saya.

“Ah, syukurlah. Itu pertama kali aku memasak kari. Biasanya ibuku di Indonesia yang memasaknya. Ia pandai membuat kari. Aku terpaksa belajar kilat membuatnya gara-gara teman satu apartemen memaksaku untuk mengisi stannya.”

Dalam hati, saya mengucapkan syukur banyak-banyak, lolos dari jebakan menjadi kelinci percobaannya.

“Jika Anda suka,  akan kubuatkan lagi. Besok aku antar ke rumah Tuan.”

Oh, tidak! Saya harus membuat alasan. Tapi saya urungkan niat saya. Gadis ini cukup menggoda. Ia sedikit membungkuk di depan saya sehingga dadanya agak terbuka.

“Boleh. Rumah saya di pojok sana.” Saya tunjukkan rumah bercat kelabu  yang tak jauh dari rumah makan ini. Terlihat jelas dari jendela di hadapan saya. “Dan, panggil saya Mark, jangan Tuan.”

Gadis itu tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya. “Shanti,” katanya.

Sejak kejadian setahun lalu itu, kami semakin sering bertemu. Ia kadang mampir ke rumah membawa semangkuk kari, menaruhnya di pantri, dan membiarkannya mendingin sembari kami berbincang. Dan saya selalu membuangnya setelah Shanti pulang.

Ia gadis yang pintar. Bahasa Inggrisnya cukup lancar. Banyak hal yang ia ceritakan, termasuk awal mula ia datang ke Warburton.

“Aku ingin melihat salju.”

Sudah kukatakan, alasannya  aneh. Tapi mungkin sama anehnya dengan alasan kami, warga Warburton, ke Bali hanya karena ingin berjemur di bawah sinar matahari.

Namun, tak lama, alasan Shanti ini berubah. Tepatnya setelah saya memberikan kunci duplikat dan menyilakannya tinggal di rumah.

“Aku melarikan diri,” katanya sambil bergolek malas di tempat tidur, memunggungi saya.

“Dari apa?”

“Pembedaan. Pengucilan.”

“Di?”

“Di rumah, lingkungan, kota, negara, semuanya.”

“Kenapa?”

“Karena aku berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

Ia berbalik badan dan melihat saya dengan mata redup. “Saat lahir, namaku Santo. Padahal, sejak berumur lima tahun, aku merasa sebagai Shanti. Dokter membantuku mengubah cangkang.”

Ia mengatakannya dengan lugas, satu menit sebelum kami bercinta. Hasrat saya sudah memuncak sebelum ia mengatakan hal itu, jadi untuk apa saya menghalangi  apa yang tertunda? Saya tak pernah dekat dengan siapa pun. Bagi saya, ia tetap Shanti yang saya kenal.

Di lain kesempatan, ia juga mulai terbuka tentang perasaannya. Malam itu kami sedang duduk di sofa,  menonton film Pursuit of Happiness.

“Aku  juga ingin bahagia,” bisiknya. Tangannya terbenam dalam mangkuk besar berisi popcorn.

“Berbahagialah.”

“Iya. Kupikir sekarang aku bahagia. Tidak seperti dulu.”

“Kenapa?”

“Karena dulu tidak ada yang mau mengerti. Menurut mereka, aku harus seperti cangkangku. Padahal, aku bukanlah kelomang yang bisa mudah berpindah cangkang. Jika cangkangnya sudah tak sesuai, ia bisa mencari cangkang siput, tutup botol, atau kerangka bulu babi.”

“Hmm ….” Saya tidak terlalu peduli dengan ceritanya. Mata saya lebih fokus ke akting Will Smith yang membosankan.

Shanti menyandarkan kepalanya di lengan kiri saya.

“Di negara asalku, mereka hanya melihat ini sebagai dosa, tanpa peduli apa yang kurasa. Misalnya ini pun memang dosa, lebih baik Tuhan yang menghukumku, karena Dia yang menciptakan dan tahu betapa berat cobaan yang kuhadapi. Aku pun tak ingin seperti ini. Sudah berkali-kali kucoba berlaku seperti cangkangku. Tapi, aku tak mampu.”

Sepertinya ia menangis. Suaranya bergetar. Namun, akting Will Smith yang memuakkan lebih menyita perhatian saya. Memang kenapa kalau dulu ia menderita? Toh, semua telah dilewatinya. Sekarang ia bebas menjadi apa saja yang ia mau.

“Kadang aku iri dengan yang senasib denganku di belahan dunia lain. Di sana, paling tidak mereka masih dianggap manusia. Mereka bisa menjadi pegawai pabrik, pilot, bahkan pramugari. Tapi, aku cukup bahagia saat ini. Hanya saja, aku rindu kampung halaman. Rindu kari buatan ibu.”

Tiba-tiba ia bangkit. “Akan kubuatkan kari!” ucapnya dengan suara serak yang diriang-riangkan. Jemarinya yang lentik mengusap air mata hingga tanpa sisa. Ia segera beranjak ke dapur. Aduh, sepertinya saya harus pura-pura tertidur atau mati saja sekalian. Saya benci kari!

***

Setelah enam bulan bersama, lambat laun ia mulai berubah. Semakin lama ia semakin mengekang. Bahkan untuk hal-hal kecil yang tak penting.

Misalnya saat kami berbelanja di supermarket kota untuk mengisi kulkas kami yang kosong. Ia mempertanyakan mengapa saya tak mau menggandeng tangannya.

“Apakah kamu malu terlihat bersamaku?”

Saya menggeleng. Ayolah, ini bukan masalah malu atau tidak. Memang inilah saya, biasa tak terlihat. Rasanya tidak nyaman, menunjukkan kemesraan di tempat umum. Namun, hal ini membuat Shanti berpikir lain. Ia mengomel di sepanjang lorong-lorong supermarket. Ia mengambil barang-barang di rak dengan kasar dan mencampakkannya ke keranjang belanjaan. Beberapa orang di sekitar memandangi  kami. Saya merasa risih. Saya paling tidak suka menjadi pusat perhatian. Apalagi di kota kecil seperti ini. Sudah saya katakan, hal-hal kecil bisa  membakar halaman-halaman gosip koran lokal.

Sifat paranoidnya semakin menjadi. Ia banyak menuduh saya ini dan itu. Saya pikir, ini berasal dari pikirannya sendiri. Ia merasa tidak aman hanya karena ketakutan-ketakutannya sendiri, bukan karena sesuatu yang nyata.

Puncaknya saat ia menuduh saya berselingkuh dengan rekan kerja saya di perpustakaan kota. Ayolah, saya ini hanya bayangan, tak menarik perhatian. Hanya pria paruh baya yang hampir botak dan membosankan. Tak ada yang melihat saya. Sheila, rekan kerja saya yang berdada rata dan berkaca mata itu paling hanya menanyakan katalog-katalog buku tersimpan di mana. Wajahnya juga biasa saja. Keunggulannya hanyalah ia benar-benar wanita. Namun, hal sederhana ini cukup menyulut kemarahan Shanti.

Saat marah, ia seperti beruang. Ia akan melempar semua benda-benda yang ada di dekatnya. Matanya melotot dan wajahnya berubah merah padam. Ia  banyak memaki dan menggeram.

Seperti pagi ini, ia kalap saat menemukan pesan dari Sheila yang mengharapkan kedatangan saya di pesta ulang tahunnya. Shanti mengamuk dan melempar semua benda di sekitarnya. Termasuk sebuah asbak dari kayu, oleh-oleh teman saya saat ia pulang berlibur dari Bali. Asbak itu cukup berat, dan sukses menghantam sisi kanan kepala saya.

Saya marah! Sudah banyak yang saya korbankan untuknya. Uang yang cukup banyak untuk menutup semua utang-utangnya, juga perlindungan dari jerat deportasi. Saya juga mendengarkan semua keluh kesahnya yang tak penting. Seharusnya ia berterima kasih atau bahkan menyembah saya sebagai dewa penyelamat. Tapi, rupanya ia hanya memandang saya sebagai alat. Atau lebih tepatnya saya diperalat olehnya.

Makanya, hari ini saya harus memasak kari. Harum rempahnya akan menutupi proses pembusukan. Baru kaki dan tangannya yang saya masak. Kepala dan organ dalamnya masih di kotak pendingin. Atau mungkin saya harus coba memasak rendang?


Sasti Gotama, seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi. Beberapa cerpennya telah tersiar di media massa cetak maupun online.

Cerpen

Lelaki yang Memilih Jalan Memutar

Cerpen Iin Farliani

Lelaki itu datang lagi. Ia berjalan seperti biasanya. Ia memakai kacamata. Wajahnya selalu tampak pucat dan tak bertenaga. Aku memandangnya dari konter kedai milikku. Ia sudah memutari jalan sebanyak tiga kali. Artinya, ia juga sudah tiga kali memutari kedaiku. Trotoar ini cukup lebar, berada di depan gedung kesenian. Ada halaman bercoran semen juga yang bersambungan dengan trotoar. Di pinggirnya, pedagang kaki lima menggelar dagangannya. Aku pernah beberapa kali masuk ke dalam gedung kesenian, mengantar pesanan mi ayam dan bakso untuk seniman-seniman yang mengadakan pertemuan di sana. Mereka sangat senang berkumpul, berbicara yang tidak-tidak dan merencanakan hal besar yang tak pernah diwujudkan. Sedikit banyak aku mengetahui apa yang terjadi di gedung kesenian itu. Tapi, laki-laki ini, baru pertama aku melihatnya ketika tak sengaja aku memperhatikan penampilannya yang mencolok.

Beberapa hari terakhir ini, ia suka mengitari gedung kesenian. Ia berjalan sendirian di sepanjang trotoar. Ia akan menempuh jalan memutar untuk kembali lagi ke titik yang sama. Wajahnya selalu tampak serius seakan begitu banyak beban ditimpakan begitu saja di pundaknya dan ia tak punya kuasa untuk menolak. Lelaki itu berjalan, menatap lurus ke depan. Tubuhnya yang jangkung dengan kedua pundak yang berayun-ayun secara perlahan menghilang kemudian di belokan yang menghubungkan jalan lain menuju arah trotoar di belakang gedung.

Kali lain karena terlalu sering memperhatikannya lewat, aku menghitung sudah berapa putaran yang diselesaikannya. Aku yakin sembilan putaran. Kadang aku mendapati ia menggenapinya menjadi sepuluh. Tapi, pada hari itu ketika putarannya baru mencapai angka lima, ia berhenti di depan kedaiku. Ia duduk, terengah-engah membetulkan posisi kakinya yang diluruskan. Ia melepas kacamatanya. Kacamata yang menampakkan lelaki itu sebagai seorang kutu buku. Terlihat bintik-bintik keringat berkumpul di bawah hidungnya.

“Mi ayam atau bakso?” tanyaku. Pertanyaanku rupanya cukup mengejutkannya. Ia baru sadar ada seorang laki-laki yang berdiri di belakang konter.

“Pesan minum saja. Jus kalau ada,” katanya sambil melirik ke arah gedung kesenian.

Aku mengangguk. “Alpukat, jeruk, atau leci?”

“Alpukat? Ada alpukat, ya? Berikan alpukat kalau begitu,” pintanya masih dalam tekanan suara yang sedang mengatur irama napas agar dapat bercakap dengan tenang.

Ketika aku datang ke mejanya dan meletakkan gelas jus alpukatnya, lelaki itu tiba-tiba berkata, “Istri saya hilang.” Suaranya begitu datar hingga terdengar tidak nyata. Seolah ia sedang memberitahu peristiwa biasa di hari yang sangat biasa. Ia mengaduk jus alpukatnya, memiringkan gelasnya sedikit, memicingkan mata sebentar lalu menyereputnya perlahan, memiringkan gelas lagi seakan tengah memastikan apakah jus yang telah diseruputnya benar-benar jus alpukat.

“Hilang. Menghilang begitu saja. Malam terakhir ketika ia tampil di gedung kesenian ini,” lelaki itu berhenti sebentar lalu menunjuk gedung kesenian dengan sedotan limunnya. “Ia menyanyi tiga lagu. Menyanyi sambil bermain musik. Lalu dia menghilang. Sampai sekarang belum kembali. Teman-teman satu grup musiknya tidak tahu apa-apa tentang kepergiannya. ‘Kami tidak tahu. Bagaimana mungkin?’ begitu kata mereka. Dia terlihat baik-baik saja malam itu. Tidak terlihat ada sesuatu yang mencurigakan. Menyanyikan tiga lagu, berjingkrak di atas panggung, berpeluh bersama anggota grup yang lain. Lalu mengapa ia menghilang? Sampai kini tidak ada yang tahu. Tidak ada yang berhasil menghubunginya.”

Aku terdiam. Ia masih muda. Meskipun ketika mengenakan kacamata tebal, umur di wajahnya terlihat bertambah sedikit. Tetapi, tetap saja roman muka yang memancar darinya akan membuat orang-orang tidak menyangka ia sudah menikah. Aku menunggu kata-kata berikutnya. Aku ingin bertanya apakah ia sudah melapor  polisi. Tapi, rasanya pertanyaan itu kurang pantas. Benar-benar tak pantas diucapkan. Bila mengingat lagi hari-harinya yang dihabiskan untuk berjalan memutari gedung kesenian ini setiap sore, mengingat upayanya yang tampak betul-betul gigih, meminta bantuan polisi bukanlah suatu hal yang mesti dilakukan. Bahkan mungkin terdengar tidak penting.

“Lalu Bung memutari jalan ini setiap hari agar suatu saat bisa bertemu dengan istri Bung?”

Lelaki itu mengenakan kacamatanya kembali. Ia terdiam sebentar sambil mencecap sisa-sisa jus yang tertinggal di sudut bibirnya. “Tidak juga,” katanya.

“Saya setiap hari berjalan memutari gedung kesenian ini karena jalan memutari gedung ini memberikan kepada saya semacam ketenangan. Perasaan tenang yang sukar dijelaskan. Pokoknya, setelah mengelilingi gedung ini berkali-kali, pikiran yang semula kusut mendadak dapat diurai lagi. Setelah itu, saya dapat tertidur dengan nyenyak di malam hari. Saya kira hanya dengan pikiran yang tenang saya dapat mengumpulkan sedikit demi sedikit petunjuk tentang alasan kepergian istri saya.” Ia menyerahkan gelas jusnya yang sudah kosong lalu meletakkan uang pembayaran di atas konter. Ia sangat senang dengan jus buatanku. Benar-benar enak, katanya.

Sejak hari itu, lelaki berkacamata setiap kali lelah berjalan atau sesudah menyelesaikan putarannya akan datang ke kedaiku memesan jus alpukat. Kadang-kadang ia mengaku ia tak sempat makan dulu di rumah. Maka, ia memesan juga mi ayam. Menyantap mi dengan mulut penuh. Menyudahinya dengan meneguk jus alpukat. Orang-orang memandang heran. Melihatnya tiap sore berjalan memutari gedung tanpa terlihat bosan. Ada saja yang menasihatinya, kalau mau berolahraga pergilah ke taman kota. Di sana disediakan banyak jalur untuk mereka yang suka lari-lari kecil. Jangan di trotoar ini. Trotoar ini milik pedagang kaki lima. Di sini orang duduk-duduk, kongko-kongko sambil makan dan minum. Tiap kali diberitahu seperti itu, lelaki itu menggeleng. “Istri saya hilang,” jawabnya ringan. Lalu meninggalkan wajah-wajah yang terbengong- bengong kebingungan.

Kalau mengingat lagi cerita lelaki itu, aku mengingat seorang perempuan bernama Win. Aku juga baru sadar, akhir-akhir ini ia tidak pernah terlihat lagi di gedung kesenian. Dari balik jeruji gerbang pendek, aku tidak melihatnya lagi berlari-lari memutari lapangan rumput hijau di sana bersama aktor-aktor yang berlatih olah tubuh. Di gazebo yang dinamakan “kuil rembulan” tempat anak-anak belajar mengarang cerita, Win juga tidak ada. Dulu aku sering melihatnya bergurau bersama anak-anak kelas sastra di sana. Aku cukup mengenalnya sekilas. Ia pernah beberapa kali memesan mi ayam kala jam latihan telah rampung. Aku pernah menyaksikan pertunjukannya, dua atau tiga kali barangkali. Ia aktris teater yang cukup bagus menurutku. Ia perempuan muda yang menarik.

Suatu hari aku memberanikan diri bertanya pada lelaki berkacamata itu siapakah nama istrinya. Ia terdiam menatapku seakan aku telah mengajukan pertanyaan yang terlarang.

“Win. Namanya Win,” katanya pelan.

Aku benar-benar terkejut. Jadi, perempuan muda yang kukagumi selama ini ternyata adalah istri dari lelaki berkacamata? Dan kini ia telah hilang?

“Win? Win aktris teater itu?” tanyaku gugup.

Lelaki itu memandangku bingung. Ia menaikkan sedikit alisnya. “Bukankah sudah pernah saya ceritakan pada Bung kalau istri saya menghilang sesudah ia menyanyi dan bermain musik bersama kawan-kawannya di gedung kesenian ini?”

“Saya ingat, Bung! Saya ingat betul. Tapi, nama Win itu, saya kenal juga seorang bernama Win. Tidak kenal dekat. Hanya tahu ia cukup menonjol di lingkaran seniman. Pernah juga saya menonton pertunjukan teaternya. Jadi, selama ini selain menjadi aktris teater, Win juga punya grup musik?”

Lelaki itu bertambah bingung. Ia terdiam lalu lagi-lagi melihatku dengan pandang tajam. “Win siapakah yang Bung maksud? Win istri saya adalah penyanyi grup musik. Grup musiknya sedang naik daun dan sering diundang mengisi acara di gedung kesenian ini.”

“Nah! Apakah memang ada dua perempuan bernama sama? Dua perempuan bernama Win yang juga sering berkegiatan di gedung kesenian ini? Karena itulah saya bertanya, Bung. Win aktris teater itu juga akhir-akhir ini tidak pernah terlihat lagi di gedung kesenian. Saya kira, istri Bung adalah Win aktris teater itu. Tapi, sejauh pengamatan saya, saya tidak pernah melihatnya menyanyi dan bermain musik.”

Lelaki itu terdiam lagi. Ia menundukkan wajahnya dan menatap hampa pada buku menu yang ada di meja. Cukup lama ia terdiam. Lipatan di keningnya semakin berkerut. Ujung jari-jarinya mengetuk meja. Lalu ia mengangkat wajahnya, masih dalam roman muka seorang yang tengah berpikir keras.

“Sejujurnya…” Ia berhenti sebentar seolah sedang mencari kata-kata yang tepat.

“Sejujurnya, Bung. Saya tidak tahu apa-apa tentang istri saya. Tidak tahu perihal dunianya. Apakah ia memang hanya bernyanyi bersama grup musiknya? Apakah ia bermain teater? Saya tidak tahu. Benar-benar tidak tahu.”

Bagaimana mungkin? pikirku. Kau suaminya. Mustahil kau tidak tahu kehidupan istrimu di luar rumah? Tapi, aku tidak berkata apa pun. Aku diam seturut dengan diamnya yang sedang bersiap mengeluarkan kata-kata.

“Bagaimana bisa aku suaminya tidak tahu apa-apa? Barangkali Bung berpikir begitu. Tidak. Tidak. Pastinya berpikir seperti itu. Aku beritahu, hidupku memang terpisah dengan dunianya. Ia berkembang di kota ini. Terus berkembang. Sementara aku bekerja di daerah terpencil, pantai teluk yang jauh perjalanannya lima jam dari kota. Sebut saja aku ilmuwan. Aku mengurus segala macam tentang kerang di balai kelautan milik pemerintah di sana. Aku bekerja setiap hari di laboratorium dan sangat jarang punya kesempatan untuk pulang ke rumah. Tidak juga punya kesempatan untuk berbicara tentang kesenian. Tentu saja kami tetap berkomunikasi. Tetapi, tahun-tahun yang panjang itu ternyata lebih banyak diisi oleh cangkang kosong.”

“Bung tahu mengapa saya sebut cangkang kosong? Di laboratorium balai juga ada bertoples-toples cangkang kosong. Cangkang dari kerang-kerang yang sudah pernah dipanen. Tiap kali melihat cangkang kosong itu, aku teringat hubunganku dengan Win. Aku tahu ia berkesenian. Tapi, bagaimana hasratnya terhadap seni yang digelutinya itu, kendala apa yang ia hadapi, apa yang tidak ia suka atau apa yang betul-betul ia sukai, pandangannya terhadap sesuatu yang disebut seni, sungguh semuanya hanya dapat diraba. Ibaratnya, aku ini hanya penonton yang mencoba mengamati dari seberang tembok. Apa yang ada di sebalik tembok itu hanya kudapatkan sedikit, sangat sedikit. Tak sampai seujung jari.”

Karena itulah, ketika aku berkesempatan menonton pertunjukan musiknya, aku benar-benar dibuat terkagum-kagum. Ia menyanyi dan bermain musik dengan amat memukau. Bagaimana bisa aku baru menyadarinya? Win benar-benar hebat. Dan aku baru bisa melihat kenyataan itu di malam pertama aku menyaksikan pertunjukan musiknya. Melihatnya di panggung sudah membuatku tergila-gila. Usai pertunjukan, aku menemuinya di belakang panggung. Aku berkata dengan sungguh-sungguh aku akan meninggalkan duniaku dan ikut terjun ke dunianya. Tentu maksudku adalah aku akan pindah kerja dari pantai teluk yang sunyi itu agar kami terus saling berdekatan. Mari anggap saja kita memulainya dari awal lagi. Win tampak bahagia dan tak percaya. Aku menunggunya di luar gedung. Tapi malam itu ia tidak juga keluar. Ia menghilang. Menghilang begitu saja. Aku tahu pada akhirnya ia memang memutuskan untuk pergi.”

Lelaki itu menghela napasnya seakan beban berat telah ditimpakan lagi padanya. Ia seperti menyesal telah menceritakannya padaku. Ia lalu menatap tajam padaku dan berkata, “Jadi, bila Bung berpikir suami istri pasti saling mengetahui satu sama lain, pasti saling mengenal, Bung keliru! Kalau Bung berpikir seperti itu, Bung betul-betul keliru!”

Hari-hari berikutnya aku masih sering melihat lelaki berkacamata itu menempuh jalan memutar seperti biasanya. Namun, ia tidak lagi singgah di kedaiku. Ia bahkan tidak memberi sapaan hangat seperti dulu ketika secara tak sengaja pandangan kami bertubrukan. Hari-hari berlalu, aku tidak lagi terlalu memedulikan perubahan sikapnya itu.

Suatu hari tibalah hari yang tidak biasa ketika secara mendadak seniman teater menggelar pertunjukan di depan gedung kesenian, di halaman bercoran semen dekat lapak para pedagang kaki lima. Laki-laki dan perempuannya mengenakan pakaian serba hitam. Mereka menghias wajah dengan celak yang amat tebal, menyisakan bentuk lingkaran di bawah mata yang tak sepenuhnya selesai. Mereka berjalan beriringan mengikuti seorang pemuda berambut gimbal yang memegang lonceng. Mereka menggumamkan sesuatu bersama-sama, terdengar seperti sebuah mantra dalam ritual pemanggil setan. Orang-orang yang kebetulan lewat, mendadak berhenti lalu menepikan kendaraan mereka. Orang-orang mengeluarkan tustel dari saku dan memotret para aktor itu.

Hening sesaat. Para aktor membentuk lingkaran. Si pemegang lonceng menghampiri satu-satu aktor yang berdiri. Ia mengelilingi sambil membunyikan lonceng di dekat telinga mereka. Lalu tiba-tiba dari arah yang berlawanan, seorang perempuan muda mengenakan pakaian serba hitam dan penutup mata berlari ke arah lingkaran, memasukinya dengan paksa. Gerakannya melompat indah. Ia melakukan gerakan meroda dan mendaratkan tubuhnya yang ramping. Orang-orang memotret, bertepuk tangan. Mereka bertepuk tangan meski tak tahu maksud dari pertunjukan itu. Barangkali itulah yang disebut teater kontemporer. Serba baru, serba mengundang banyak tafsir.

Pertunjukan selesai. Orang-orang bertepuk tangan lagi. Perempuan yang masih mengenakan penutup mata itu menghadap ke penonton. Aku terkejut. Itu Win! Tidak salah lagi, itu Win! Aku bisa menandai bentuk wajahnya meski ia mengenakan penutup mata. Aku segera ingin menghampirinya. Tiba-tiba aku teringat dengan lelaki berkacamata. Langkahku terhenti. Aku berdiri di tempatku. Siapa yang peduli apakah ia memang Win? Apakah ia adalah Win yang kukenal atau Win, istri lelaki berkacamata itu? Ataukah Win kedua-duanya?       Aku mengedarkan pandang. Barangkali di antara penonton ada lelaki berkacamata itu. Tapi, tidak. Trotoar dipenuhi orang-orang yang masih mengira pertunjukan akan berlanjut. Aku tidak dapat meneliti dengan cermat. Barangkali di hari berikutnya aku akan tahu istrinya itu telah kembali atau tidak dengan melihat sendiri, apakah di hari esok lelaki itu masih tetap memilih jalan memutar?

Pejarakan, Juli 2020


Iin Farliani, lahir di Mataram, Lombok. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mataram. Menulis cerpen, puisi, dan esai. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Lombok. Kumpulan cerita pendeknya yang telah terbit berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (2019).

Buku, Resensi

Pengelana Berbunga dan Tamat

Oleh Bandung Mawardi

Herman Hesse, pengarang Jerman mengingatkan cerita perjalanan: penemuan dan kehilangan. Tokoh-tokoh buatan Herman Hesse terbaca sebagai pencari, pengelana, atau peziarah. Novel paling mengesankan berjudul Siddhartha. Novel sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia diterbitkan oleh Grafiti, Bentang, dan Gramedia Pustaka Utama. Tokoh bernama Siddhartha menempuh perjalanan jauh, meladeni godaan duniawi dan menuruti takjub religiositas. Penulisan novel itu membuat pembaca di Eropa perlahan mengerti Timur itu kiblat pengetahuan dan pengalaman religius. Herman Hesse mengisahkan dengan lembut dan memikat.

Di perjalanan-perjalanan, ragu dan pengharapan bergantian mendera. Pada suatu hari, Siddhartha berjalan dan merenung: “Tetapi, apakah gerangan ini, yang ingin kaupelajari dari ajaran-ajaran dan para guru, dan yang sudah begitu banyak mereka ajarkan padamu? Ia memberi jawab sendiri: “Itu adalah diri, tujuan dan intisari dari apa yang ingin kupelajari. Itu adalah diri, dari mana aku ingin bebas, yang kucoba kuasai. Tetapi, aku tak mampu menguasainya hanya bisa menipunya, hanya bisa melarikan diri darinya, hanya bersembunyi darinya. Sesungguhntya, tak ada hal di dunia ini yang sedemikian menyibukkan pikiranku, karena ini adalah diriku sendiri, misteri kehidupanku, bahwa aku adalah satu dan terpisah dari semua yang lain, bahwa aku adalah Siddhartha!” Di Barat, novel itu menguak kemolekan India, bertaburan renungan mengilhami bagi kesusastraan dunia.

Kita telanjur mengenali Herman Hesse dengan Siddharta. Pada 1915, ia sudah menggubah novela berjudul Knulp, mendahului kemunculan Sidhhartha (1922). Novela menampilkan pengelana, membuktikan pengarang memilih menggerakkan makna dengan tokoh-tokoh berjalan kaki ke segala arah. Berjalan kaki menjadi penentu bagi peristiwa, percakapan, dan perhitungan hakikat kemanusiaan. Knulp, pengelana selalu bergerak dan singgah sejenak ke rumah-rumah para sahabat. Ia tak mau menetap, memilih menggerakkan kaki untuk mengunjungi pelbagai tempat: mengunjungi kebaruan dan nostalgia. Di pelbagai tempat, Knulp mengenali pohon, rumah, jalan, aroma, dan lain-lain. Ia bisa membedakan dan mengalami keragaman di perjalanan selama puluhan tahun. Knulp menjadi manusia-berpeta.

Kehadiran Knulp di rumah teman-teman untuk singgah sehari atau sekian hari sering memberi kegairahan hidup, sodorkan hal-hal menghidupkan setelah orang-orang di kelesuan, sibuk, dan rutin. “Jika ia butuh tumpangan maka si pemilik rumah akan senang dan merasa terhormat,” pengakuan sahabat merasa girang mendapat kunjungan Knulp. Sesaat tapi memberi percik dan kobaran bahwa hidup masih bergelimang makna. Knulp teranggap mendatangkan kesantaian dan keriangan. Menumpang itu memicu kerepotan dan pemberian dari tuan rumah. Knulp memang berhak menerima kebaikan-kebaikan berdalih bukan orang bekerja dan mengantongi gaji. Tata cara itu timbal balik terikat persahabatan.

Pengelanaan memang menawan bagi orang ingin merengkuh dunia. Ia mustahil memiliki dunia tapi berjalan kaki setiap hari seperti mencicil di pengalaman terbesar ketimbang menghuni rumah. Pengelana adalah si penglihat segala, diceritakan dengan kata-kata selalu membikin para pendengar tersihir. Pengelanaan pun berisiko menghancurkan raga akibat hujan, angin, panas, dan bau. Knulp berjalan dan berjalan, berhenti sejenak: meresapkan dan mengisahkan.

Di Indonesia, kesusastraan lama juga sering bercerita perjalanan atau pengelanaan. Kesusastraan Jawa kuno malah memberi penguatan di kisah perjalanan untuk mencari kebenaran, kedamaian, keadilan, dan keluhuran. Orang-orang berjalan kaki dengan doa dan pembacaan atas diri selama bersua dengan sesama, alam, binatang, air, batu, dan lain-lain. Pengelanaan itu mencari, tak pernah mudah dan cepat. Orang berjalan jauh, lama, tersesat, dan terjebak. Herman Hesse bukan pembaca sastra Jawa kuno. Ia memiliki bacaan-bacaan mungkin bersumber dari mitologi Yunani, folklor, dan sastra klasik bertumbuh di Eropa. Ia tekun di pengisahan pengelanaan saat Eropa abad XX bergerak cepat beride modernitas: mengubah manusia dan dunia secara fantastis.

Pada suatu masa, Knulp berjalan dan mampir di pekuburan. Peristiwa terlalu mengesankan bagi pengelana mengingat hidup-mati. Herman Hesse mengisahkan melalui sahabat Knulp: “Pekuburan itu, sebagian besar ditandai dengan salib kayu warna putih, berjajar lurus dan melingkar, dan di atas masing-masing tumbuh bebungaan dan aneka tanaman.” Tempat itu teduh, asri, dan hening. Pilihan bagi pengelana merenung dan mengistirahatkan raga bersama orang-orang pernah hidup. Knulp mengandaikan menghuni kuburan. Ia berujar: “Andai aku sudah mati, akan kutunggu hari minggu dimana gadis-gadis datang ke sini untuk melihat-lihat dan memetik bunga dari kuburan, lalu aku akan mulai bernyanyi, tapi sangat pelan.” Si romantis, keberakhiran pengelanaan pun masih ingin tebar pesona.

Sekian tahun berkelana, menggerakkan kaki dan pandangan mata, Knulp menerima ganjaran: sakit paru-paru. Sakit akibat ia adalah manusia luar rumah, manusia diterpa angin malam dan menanggungkan cuaca buruk. Ia sadar pengelanaan masih membahagiakan tapi raga perlahan hancur. Pada kaki, ia mengerti misi belum selesai. Frederic Gros dalam buku berjudul A Philosophy of Walking (2020) memunculkan pengalaman berjalan kaki para pengarang dunia. Sejarah penggubahan sastra, sejarah berjalan kaki. Pengarang di pertimbangan pengalaman dan menghidupi tokoh-tokoh berkelana, berziarah, dan mencari. Frederic Gros menjelaskan: “Saat berjalan kaki, seseorang sering mengalami sesuatu yang disebut kebahagiaan. Itu sering diuraikan oleh penulis dan penyair ketimbang pemikir besar.” Kebahagiaan teralihkan di gubahan puisi dan novel.

Knulp sudah berjalan jauh. Ia mau berakhir. Keinginan terbesar adalah pulang, berjalan kembali ke tanah asal. Berjalan pulang dalam sakit dan keberlimpahan nostalgia, Knulp menulis puisi pendek, dimaksudkan bakal dibaca para sahabat bila ia sudah menghuni kuburan: Bunga-bunga pasti layu/ Saat kabut datang/ Dan manusia pasti binasa/ Dan masuk kubur/ Manusia adalah bunga-bunga/ Mereka pun akan kembali/ Di musim semi/ Dan mereka takkan pernah sakit lagi/ Dan akan ia maafkan semuanya. Pengelanaan sampai akhir. Ia telah berjumpa dan merengkuh semua, telah menceritakan ke para sahabat. Kebahagiaan itu tamat. Begitu.


Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi

Puisi

Puisi Dadang Ari Murtono

pembuat topeng

maut seperti cahaya fajar yang tak terelakkan, atau

angin dusun yang menyusup melalui bilah gedek

tapi lelaki itu gesit berkelit

dengan lambung bocor dan hati bengkak yang mesti ia

gembol ke mana-mana

“beri aku waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi,” gumamnya

ketika api neraka serasa dituang di kawasan perutnya

dan ia raut pelan-pelan pangkal bambu

menyerupai wajahnya yang kurus dan nyaris tak berdaging

lantas ia letakkan di tempat di mana ia tahu, maut

akan datang untuk menjemputnya, maut yang kemudian kecewa,

maut yang akan kembali memburunya dengan kemarahan

yang lebih besar, maut yang terus merutuk, “hanya karena

namamu slamet, bukan berarti kau selalu selamat!”

dan ia akan terus kabur, terus bergumam, “beri aku

waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi”

dengan lambung bocor dan hati bengkak

ada yang belum tunai ia kerjakan dalam hidup

: merasa bahagia meski hanya tiga detik


angin besar

angin besar

turun dari gunung

angin besar

menderakkan dahan-dahan

angin besar

mengelus ubun-ubun lelaki demam

angin besar

menebang dahan-dahan

angin besar

mengusap nisan di kaki gunung


anjing geladak

lima menit sebelum pukul empat petang

hari sudah gelap, udara berat, mereka

tak ingin menyibak selimut

“di kehidupan selanjutnya,” perempuan

itu berkata dengan suara serak

“aku akan lebih dulu menemukanmu”

dan si lelaki menguap

ia tahu, mereka mesti pergi

sebelum ibu anak-anaknya menelepon

“pada waktu itu,” kata si lelaki

“kita akan tinggal di pacet, di mana

waktu merangkak, dan ruang meluas,

agar dingin mengingatkan kita supaya terus

berpelukan, agar angin pegunungan memanjangkan

usia kita, agar hamparan sawah bawang menyegarkan

mata kita, agar…”

“agar kita bahagia,” potong si perempuan

tapi mereka berkemas juga

ketika geluduk pertama terdengar

mereka bukan orang lokal, mereka

tak tahu, di pacet, doa-doa tak lazim

gampang diijabahi

tiga kilometer kemudian, di sela pekat kabut

si lelaki melihat seekor anjing melompat,

ia mendengar decit ban, ia merasa jari perempuan

itu mencengkeram pinggangnya, ia mencium amis darah

ia tak tahu berapa lama terlelap,

namun ketika membuka mata, perempuan

itu begitu dekat dengan dirinya, begitu lekat

“apa yang terjadi?” ia tak mengerti

“kukira,” perempuan itu menjawab

“seekor anjing geladak memakan bangkai kita

dan dalam dirinya, kita kini meneruskan hidup,

bersama, bersama, seperti yang kita inginkan”


di gua jepang cangar

di ranjang tanah yang keras itu maut datang dan mengelus

tubuh mereka, yang muda dan telanjang

udara pengap jadi panas

“apakah ini hawa neraka?” tanya si perempuan

“ini nuansa cinta,” si lelaki melekapkan bibir di leher yang

bersemu hijau

lenguh menggema

dalam gelap yang kekal

lantas rintih

kesakitan

dari tubuh yang ringkih

“aku tak bisa melepasnya”

“tapi kau harus melepasnya”

di samping mereka, maut menari

dengan satu kaki menginjak punggung si lelaki

mereka ingin menjerit

tapi tak sanggup

mereka tak kuasa membayangkan

orang-orang tiba

dan menemukan mereka

masih terpaut

tapi tujuh hari kemudian

orang-orang tetap datang

dan mendapati mereka

saling memeluk dan membusuk

terbungkus udara lembab

di lantai gua yang kotor

“mereka sepasang pezina terkutuk!” kata kiai setempat

“mereka sepasang pecinta yang terberkati,” gumam seorang remaja

yang tengah kasmaran


pulang ke pacet

“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh

mau lewat,” seseorang berteriak, sedikit serak,

sedikit kasar

dingin mengeras dan menegang

jalan membuka dan memanjang

kafe dan pujasera menjulurkan tangan,

pemandian dan arena wisata foto mengenalkan

nama, vila dan hotel tersenyum menyapa ramah

tapi turis yang baru tiba itu hanya ingin

berbicara pada sawah dan padi

dalam kepalanya, kambing dan sapi

dalam kenangannya

ia bukan turis, sesungguhnya

malam membeku

tapi bulan kuning leleh seperti mentega

ia orang lokal, lama terjerat kota

lantas kembali

untuk menjadi orang asing

dan seorang pemandu dengan suara serak,

berteriak sedikit kasar

demi ia

“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh

mau lewat!”


suratman berjalan telanjang tengah malam

enam belas laron sufi

mengerubung nyala sebatang lilin

di puncak musim hujan yang pucat

dari nako jendela, suratman tahu bulan layu

langit kuyup kelam, dan ribuan laron

meredupkan lampu di sepanjang jalan

setelah selarik mantra

orang-orang tiba pada lelap purba,

suratman akan berjalan

perlahan seperti ratapan tobat nasuha

telanjang seperti bayi yang fitrah

berkeliling kampung seperti seorang jagabaya

“berangkatlah,” kata istrinya

dibukanya pintu belakang

dingin mengerutkan buah zakar

angin membawa ujian

mengembus nyala lilin

yang ditudung istrinya dengan dua telapak tangan

dan suratman berjalan

seraya mengenang dua putra tercinta

yang berseteru di jalanan

dengan arit dan maki

sebelum empat orang di warung yu rai

datang dan melerai,

memperseterukan seorang perempuan

yang tak setia; suratman berjalan

seraya mengucap pujian untuk leluhur

sholawat bagi nabi

doa kepada tuhan

juga permintaan pada danyang kampung

di rumah, bersama enam belas laron sufi

istrinya berharap tak ada orang yang

luput dari sirep mandi

dan membuat lilin padam

atau semua akan sia-sia,

bibirnya gemetar memanjatkan harap

perempuan itu tahu

anak-anak akan selamanya kanak-kanak

: berebut mainan sewaktu bocah

berebut perempuan atau warisan

ketika dewasa, dan orangtua selalu orangtua

sabar mendamaikan

dengan cara apa pun

atau bagaimana pun


kematian mak lah

dengan wajah pucat dan mata terpejam dan tubuh dingin,

mak lah ditelentangkan di atas amben di halaman, orang-

orang datang dengan muka masam dan

matahari semakin meninggi

“kenapa ia tidak segera dikuburkan?” tanya orang-orang sambil

berteduh di teras

“apakah kau berani bersaksi bahwa ia sudah benar-

benar mati?”

tak ada yang benar-benar berani bersaksi, mereka

hanya mengingat bagaimana mak lah bangkit ketika

disalatkan di masjid pada kematiannya yang pertama,

dan merayah-rayah dengan tersengal sewaktu tubuhnya

baru diletakkan di liang pada kematiannya yang kedua

orang-orang mulai jengah dan lelah

seseorang mengeluhkan padi yang perlu disiangi

seseorang mengeluhkan sapi yang perlu diransumi

“kenapa ia selalu merepotkan?”

mereka tahu, bagi perempuan itu, kematian hanyalah perjalanan

sepele yang bisa ia ulang aliki sesuka hati

menjelang sore, orang-orang pergi

jagabaya mengatakan agar mak lah tetap dibiarkan di situ

“biar dia segera bangun kalau kedinginan nanti malam”

tapi pada kematiannya yang ketiga itu, mak lah tidak pernah

bangun lagi

dan orang-orang baru meyakininya pada hari keempat, sewaktu

bau tidak sedap mulai menguar dari tubuhnya yang bengkak

dan berair


pagi hijau

untuk ulang tahunnya yang ke-44

ning menginginkan sebuah pagi hijau

ketika biji ditabur sabar di lahan gembur,

kecambah tumbuh tidak tergesa,

dan nyanyian burung menarik matahari pelan-pelan

“agar kau lebih lama bersamaku,” katanya

di cuping telinga lelaki itu

hangat mendesir dan bergema

di liang-liang tubuhnya

tapi yang tak pernah terlambat adalah waktu

dan lelaki itu tahu, ia mesti pergi

maka dikecupnya kening ning

seraya mengingat ulang tahun perempuan itu

yang ke-40

ketika ia mengendus sebilah pisau di kolong meja

dan didengarnya ning yang bingung berujar malas

“kenapa seorang perempuan tidak pernah memiliki

waktu untuk dirinya sendiri, bahkan ketika ia berulang tahun?”

lelaki itu tahu, sebab ia karib dengan dongeng-dongeng,

bahwa ning akan berkata

“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan

akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan suami”

tapi ning sudah bersuami

dan ia mendengar ning berkata

“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan

akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan selingkuhan”

ia mengigit pisau itu, seperti anjing-anjing dalam dongeng

dan membawanya ke depan ning yang kebingungan dengan

seikat sayur dan seonggok daging kambing

lantas seperti mukjizat, segera ia menjadi lelaki rupawan

“iblis yang murah hati,” katanya, “memberkahi

nadarmu dengan mengirimku mulai hari ini dan sebelum

matahari meninggi setiap hari ulang tahunmu”

pada hari ulang tahunnya yang ke-44

ning masih saja berduka

ketika lelaki itu mulai kembali menjulurkan lidah


kodok kecil

kodok kecil di pinggir kali

mati terinjak kaki petani

tak jauh darinya,

semak tetap berbunga

rumput masih hijau

kutilang berdendang dari dahan kaliandra

angin mempertemukan serbuk sari dan kepala putik

ikan berenang

matahari bersinar

bumi berputar

seratus empat puluh dua ekor semut

merubung bangkainya,

bersyukur atas kematiannya

dan tak ada air mata atau puisi sedih,

tak ada hujan atau sedikit melankoli


ia menunggumu, yai

ia menunggumu, yai, di sawah tomat

sepanjang hari hidup dan malam padam

ia menunggumu, yai, bahkan ketika

hujan lari atau panas berdesir

ia menunggumu, yai, memberi rasa lain

pada air tomat, memulaskan warna lain

pada kulit tomat, memanjatkan doa-doa

atas mereka yang terbenam sebagai rabuk

bagi lunak tanah sawah itu, mengucapkan

sepatah maaf yang bakal membuatnya

rela memetik tomat-tomat matang

tapi hanya dilihatnya kau yang memandang

dendam tiap kali melewati sawah tomat itu

seraya bergumam, “tomat-tomat itu haram,

sebab hanya rabuk dari bangkai komunis yang

disesapnya”

ia belum pernah mampu memetik tomat-tomat itu,

sebab setiap kali ia hendak memetiknya, ia merasa

hendak memetik secuil demi secuil daging bapaknya

yang belum rela


Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.