Buku, Resensi

Catatan, Kisah, dan Pengakuan

Oleh Oscar Maulana

Pada tahun 1994, terbit sebuah buku berjudul Tempat-tempat Imajiner: Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika (1994) garapan Michael Pearson. Michael melakukan perlawatan ke dataran Amerika. Menjelajahi bentangan alam Amerika dengan tujuan menelisik, hal-hal apa saja yang memengaruhi sastrawan Amerika terhadap segala yang ditulis dan dikarangnya.

 Beberapa tokoh sastrawan Amerika fenomenal dan mendunia yang diteliti Michael, semacam William Chuthbert Faulkner (1897) bersama Mississippinya, Georgianya Mary Flannery O’connor (1925), Floridanya Ernest Miller Hemingway (1899), Californianya John Ernst Steinbeck (1920), sampai Missourinya Mark Twain (1835).

Dari beberapa yang ditulis dan dikaji Michael itu, kita patut menduga, para sastrawan moncer tidak bisa lepas dari imaji tempat mukim di sekelilingnya.Baik itu menyoal kota, sejarah, rasialisme, uang, rumah, dan sosial-masyarakat yang lekas dilihatnya. Perkara itu menjadi semacam ramuan yang patut diceritakan dalam sebuah karya, seperti cerita pendek dan novel.

Hal itulah, termaktub dalam novelnya John Steinbeck bertema asal Tortilla Flat (1935), dan diterjemahkan Djokolelono menjadi Dataran Tortilla (2009). Menarasikan rumah dan persahabatan sebagai pergumulan imajinasinya, Steinbeck dalam novel ini berbicara rumah Danny sebagai satu kesatuan manusia-manusia dengan pelbagai macam watak dan tingkah lakunya, kesatuan yang memancarkan kemanisan dan keriaan hidup, kedermawanan. Dan pada akhirnya—kesedihan penuh mistik.

Semacam itulah yang ada pada diri Mahfud Ikhwan. Ketika menulis, Mahfud tidak bisa lepas dari hal-hal yang melekat pada sekelilingnya. Membicarakan sosial masyarakat, desa, perkotaan (urbanisme) dan lingkunganya. Jejak perjalanan kepenulisan, pengakuan dan cerita-cerita yang dialaminya bisa kita tengok lewat buku bertajuk Cerita, Bualan, Kebenaran: Mahfud Ikhwan dan Cerita-cerita yang Ditulisnya.

Dan memang riwayat panjang perjalanan seseorang bisa berujung baik dan nestapa. Berliku, terjal, dan bergelombang. Pelbagai persoalan yang menyergapi diri manusia yang ringkih. Dari perkara bising semacam itu, manusia perlu segera mencari titik ketetapan jati diri (jalan hidup) yang akan ditempuh. Pelbagai macam profesi dewasa ini begitu bejibun banyaknya baik itu berkecimpung di dunia kesenian, menjadi intelektual, politisi, bahkan sastrawan itu sendiri.

Diteror oleh bisingnya deru kota, Mahfud memulai perjalanan hidupnya sebagai seorang penulis. Kaya akan intrik dan penuh konflik, merajut benang-benang yang kusut dalam pikirannya. Dorongan menjadi seorang penulis, Mahfud mengakui karena rasa kegelisahan. Manakala ditanya kenapa Mahfud menjadi penulis, jawabanya selalu sama: karena saya gelisah. (halaman 7).

Faktor kegelisahan rupanya menjadi penanada awal perjalanan kepenulisannya. Gelisah menghadapi masa depan, gelisah tidak punya uang jajan kala kuliah di perantauan, dan kegelisahan lainya yang menyergap di benak. Dalam proses kegelisahan-kegelisahan yang tak berujung menentu itu, Mahfud berhasil menjadi seorang sastrawan yang cukup moncer dalam jajaran novelis dan cerpenis di Indonesia.

Karya novelnya berjudul kambing dan Hujan (2015) berhasil menyabet penghargaan prestisius sebagai Pemenang Sayembaya Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 lalu. Dan dalam buku terbarunya ini, Mahfud menceritakan proses kreatifnya ketika menulis novel tersebut.

Sama, seperti apa yang diteliti Michael Pearson dalam bukunya, bahwa seorang sastrawan tidak mungkin bisa lepas dari pengaruh lingkungan dalam proses kreatifnya. Pun apa yang dibawa pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur ini, selain terpengaruh keadaan sosial-kultural di kampung halamannya, juga tersihir oleh pengaruh sastrawan dan sejarawan Indonesia yaitu Kuntowijoyo.

Dalam proses pengerjaan novel Kambing dan Hujan, Mahfud mengakui karya Pak Kunto juga memberi kontribusi secara langsung, misalnya dalam cerpen Rumah yang Terbakar yang menarasikan persinggungan konflik horizontal dua komunitas santri dan kaum abangan, dan pula novel “Pasar” yang bercerita pertentangan halus namun subtil antara nilai-nilai Jawa lama lagi luhur yang diwakili sosok Pak Mantri dengan Kasan Ngali (halaman 68).

Tidak hanya sosok Kunto yang memengaruhi gaya cerita dari Mahfud ini, juga beberapa sastrawan lainya turut serta dalam pergumulan kreativitasnya. Seperti karya terjemahan sosok Koeslah Soebagyo Toer lebih dikagumi Mahfud daripada Pramoedya Ananta Toer (halaman 13), karya Bibhutibhushan Banerji berjudul Pater Pancali turut memengaruhi juga (halaman 14).

Tidak Hanya Kampung

Sitok Srengenge pernah menulis perihal kota. Tulisan itu bertajuk Kota Kata, perkara kata yang diserap menjadi kota. Bagi Sitok, kota-kota itu sebuah nama dipilih lantaran terkait dengan kenangan, tapi tak jarang juga sebagai harapan. Kota-kota semacam Yogyakarta berasal dari kata Ngajogjakarta yang berarti mematut kota atau membangun kota (Tempo, 21 Maret 2010).

Kenangan dan harapan menjadi kata yang pas bagi tercerminnya laku manusia kota. Tidak berbeda jauh dari kenangan-kenangan Mahfud Ikhwan. Dari kota, yang kemudian membesarkan namanya, dan bahkan menggebleng paradigma berfikir. Mahfud mengakui kepengarangannya berasal dari kota ketika membahas desa, bukan sebaliknya (halaman 30).

Kota acap kali mengejawantah lelaku manusianya menjadi urban. Hal itulah yang tercermin dari novelnya berjudul Ulid Tak Ingin ke Malaysia, (2009). Di Ulid Tak Ingin ke Malaysia, Mahfud menggambarkan dan menarasikan tokoh utama novel itu, walaupun berlatar desa lantas tidak bisa lepas dari pengaruh kota. Kita lihat fragmen tokohnya begitu menggemari terhadap film kartun dan telenova di televisi (halaman 35).

Lahir dari desa pesisir utara Jawa Timur, Mahfud menyelami pelbagai persoalan yang hinggap pada dirinya. Menceritakan kegelisahan yang timbul manakala hidup di kota, melakoni hidup di kota Yogyakarta selama 20 tahun lebih. Pengalaman di kota turut membekalinya menceritakan kampung halaman, yang sarat akan makna dan peristiwa. Mungkin Mahfud Ikhwan mengikhtirakan semacam para sastrawan dunia dulu lakukan, mengisahkan desa, lingkungan, rumah dan perkara lainnya.


Oscar Maulana, mahasiswa IAIN Surakarta. Bergiat di Komunitas Serambi Kata. Tinggal di Solo, Jawa Tengah.

Cerpen

Di Kedai Nori

Cerpen Jeli Manalu

Tampak awan sedang turun. Tak lama setelahnya, gerimis seukuran biji sawi yang berlapis-lapis, jatuh dan melayang membasahi ujung meja. Tuan Am, begitu Nori menyebutnya, menggeser duduk ke bagian dalam kedai. Ia paham gerimis seperti itu. Meski tidak selalu menjadi hujan deras, namun durasi yang panjang sering membuat jalan tanah bercampur batu menuju stasi di pedalaman desa licin.

Tujuh bulan lalu ketika baru dipindahtugaskan ke paroki yang sekarang, dalam situasi seperti itu, pernah suatu kali ia memaksakan berangkat. Masih setengah perjalanan, motor trail-nya tergelincir sewaktu mengelakkan cekungan tanah. Selanjutnya terhempas ke tepian, menyusul terguling ke rawa. Motor trail-nya menginap di antara lumpur dan eceng gondok, sedangkan dirinya berjalan kaki sejauh empat kilo. Ah, tidak. Tidak lagi. Saya tidak mau lagi itu terjadi, batin Tuan Am, yang saat peristiwa itu, ia ingat bagaimana kondisinya berhari-hari. Dengkul nyeri bercampur panas akibat tertusuk duri pandan hutan. Siku lecet. Dahi hingga pelipis memar. Ia kemudian demam, dan dengan perasaan sedih membatalkan misa hari Minggu sebanyak dua kali.

Gerimis seukuran biji sawi namun tebal serta bercampur angin menuntun Tuan Am memesan minuman. “Sudah ada kopi?” tanyanya lebih dahulu, sembari melepas jaket lalu meletakannya di sandaran kursi.

Nori, si pemilik kedai menjawab, “Belum.”

Tuan Am sudah pernah mendengar cerita tentang dua bulan ini Nori tidak lagi dikirimi biji kopi oleh petani langganan. Sekilas Tuan Am menangkap, si petani kopi langganan kehilangan semangat untuk apa saja, termasuk mengerjakan ladang. Ia ditinggal pergi perempuan yang dicintai. Rumor beredar mengatakan, si perempuan naik perahu menuju pulau seberang karena tidak tabah hidup serba terbatas di desa, dan katanya, bahkan pernah terlihat makan malam romantis dengan entah siapa.

Apa beberapa orang memang tercipta senang mencari kenyamanan dari satu hati ke hati lainnya? pikir Tuan Am. Gerimis yang menerobos jendela seolah menampar di pipinya. Kiri, juga kanan. Penuh semua wajahnya. Ia meninju dada dan buru-buru mengucap doa tobat: ia mengaku telah berdosa dalam pikiran. Saya sungguh berdosa, katanya. Setelah mengatakan amin paling pelan yang tak terdengar bahkan oleh gerimis, dengan ujung jari ia menarik rokok sebatang. Ia isap rokok itu sambil meluruskan pikiran. Ia menyadari, tak boleh berkesimpulan terhadap permasalahan orang: sebab yang berada di luar hanya tahu luarnya saja, tidak akan pernah mengerti kejadian utuhnya. Dan apabila ada konflik, baik ringan maupun besar, sejatinya, ia hanya perlu mengunci pintu, menyalakan lilin, lalu membicarakannya pada Tuhan.

“Ya sudah kalau begitu, cokelat panas lagi. Tambahkan gula sedikit ya, Nori.”

Kata, “ya” sayup-sayup di telinga Tuan Am.

No-ri. N-O-R-I. Tuan Am mengeja. Sempat ia ragu, apa tadi sungguhan menyebut nama si pemilik kedai? No-ri, ucapnya, sekali lagi. Sebentar senyumnya rekah. Ia juga menggigit ujung kunci motor trail, kemudian merasakan dirinya aneh.  

Dari arah dapur terdengar denting sendok. Lalu aroma cokelat menghampiri meja Tuan Am yang di sananya ia mulai khidmat mengetuk-ngetuk meja.

Ada mobil hijau berhenti di depan kedai. Dari dalamnya muncul suara yang Tuan Am tebak itu suara Ariel Noah duet dengan, apakah itu vokal BCL—Bunga Citra Lestari? Tanya hati Tuan Am. Ia merasa suara serak-serak merdu itu milik BCL, perempuan yang lima bulan lalu kehilangan suami tercintanya: …. Aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia. Aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia—Tuan Am menyanyikannya lagi, dan saat itu pula wajahnya berubah murung.

Pada bola matanya tampak semacam jala kemerahan. Bibirnya bergetar. Rokok yang diletakkan di atas asbak menyerupai sayap kupu-kupu padam dan dingin. Kesedihan tumpah di meja beraroma cokelat, beraroma kenangan.

Sepuluh tahun lalu saat bertugas di Paroki A dan usia Tuan Am waktu itu baru 34, hati serta pikirannya pernah diwarnai Lumi Ceri. Lumi Ceri seorang seniman: ia mendapat proyek membuat mural di sepanjang bangunan gereja bagian dalam—sebelumya, Lumi Ceri dikenalkan juru masak pastoran kepada Tuan Am. Tuan Am takjub bagaimana tangan serta jiwa Lumi Ceri lebur dalam dinding yang tadinya hanya putih kosong berubah jadi potongan-potongan kisah dalam kitab suci. Tuan Am merasa, belum pernah dirinya bertemu orang seistimewa Lumi Ceri. Ia juga ingat sudah berjanji menolak perempuan berkunjung ke hatinya. Ini bukan perasaan suka, cuma kagum, katanya pada diri sendiri menyangkal sesuatu yang bergejolak kuat.

Dalam piring, cangkir, asbak, dan pada sebatang rokok Lumi Ceri justru selalu muncul. Kadang kedatangannya dengan wajah sehangat cokelat. Kadang dengan sepasang mata sendu yang di dalamnya adalah hutan, dan dalam hutan itu Tuan Am melihat sebatang pohon berbuah lebat dan hampir saja ia memetiknya.

Suatu hari ia pergi retret. Ia merenungkan kembali pilihan hidup di mana dirinya tidak boleh menikah, meski jauh sebelum itu, orangtuanya memang pernah kurang merestui. Ia kemudian tekun berdoa novena[1]—ia katakan: bukankah hanya kau, hai Maria, ibu Yesus, dan ia, ibu yang telah melahirkan saya, perempuan yang boleh mengisi hati ini? Lalu mengapa sekarang ada yang hadir? Dalam doa tak sungkan Tuan Am mengaku berdebar tiap memikirkan Lumi Ceri. Rok kembang sepanjang betis yang bergoyang saat Lumi Ceri bergerak. Kemeja yang lengannya digulung sehingga Tuan Am bisa menyaksikan langsung kulit tangan Lumi Ceri. Atau syal hijau tua yang ketika akan melukis Lumi Ceri melepasnya dari leher dan meletakkannya di sandaran kursi—suatu hari, Tuan Am menyentuh syal itu, memegangnya dengan hati gelisah, namun saat itulah ia tahu aroma parfum Lumi Ceri perpaduan melati, jeruk, dan mungkin itu cokelat?

Sebotol cokelat selalu ada dalam tas Lumi Ceri. Pernah Lumi Ceri membagi Tuan Am. Ambil saja untuk Anda Pastor, katanya. Lumi Ceri bilang bibir Tuan Am tampak kering, dan napasnya saat bicara menandakan Tuan Am butuh minum. Tuan Am ingat dirinya menolak: ia bilang tidak sedang haus, menutupi hati yang mengatakan: nanti kekasihmu marah. Tapi Lumi Ceri malah bilang tidak ada yang akan marah.

Sejak itu Tuan Am semacam menantikan kapan Lumi Ceri menawarinya lagi sebotol cokelat. Apa ia membawanya dalam tas, atau adakah ia telah menyiapkan dari rumah untuk saya pribadi—Tuan Am tertawa, malu memikirkan dirinya yang mulai ke-geer-an. Untuk meredam perasaan itu, dirinya yang bijaksana berkata kepada dirinya yang kurang bijaksana: dasar Am tidak tahu diri, kau ini seorang pastor. Dilarang jatuh cinta, ingat itu! Sesudahnya ia mengucap doa tobat: Saya mengaku …. Saya berdosa dengan pikiran, dan perbuatan (?) Ah tidak kan, Tuhan. Saya tidak sedang berbuat dosa—ia meralat pada kata ‘perbuatan’. Namun di akhir doa, ia selalu bermohon agar jangan dimasukkan ke dalam pencobaan: agar hatinya jangan sampai menginginkan Lumi Ceri.

Tapi situasi memperindah bangunan gereja membuat kesempatan bertemu Lumi Ceri tak terhindarkan. Di lain sisi Lumi Ceri merasa terharu diperlakukan amat sopan oleh seorang imam, seorang pastor, yang kadang ia menemukan gelas bekas minumnya sudah menggantung bersih di rak—Tuan Am mencucinya selagi Lumi Ceri sibuk. Selain itu peralatan lukis Lumi Ceri juga sering dirapikan. Lumi Ceri merasa dicintai karenanya. Siapa saya, dalam hati ia berkata: hanya seorang hamba. Kebahagiaan pun melingkupinya.

Selesai membuat mural, yang salah satunya tentang Perkawinan di Kana, melalui juru masak pastoran Tuan Am mendengar kabar Lumi Ceri membatalkan pertunangan dengan sang kekasih. Malam harinya tunangan Lumi Ceri datang ke mimpi Tuan Am. Awan turun, gerimis jatuh. Tunangannya itu antara sedih dan murka. Dengan kuda hitam ia menuju Tuan Am, dan tampaklah sebilah pedang berkilat-kilat di tangannya.

Meski kedatangan itu hanya mimpi, Tuan Am tetap membicarakannya dengan Lumi Ceri. Lumi Ceri mengaku jatuh hati padanya. Tuan Am meyakinkan Lumi Ceri itu tidak benar. Itu tidak benar. Kamu hanya mencintai tunanganmu, katanya berkali-kali. Tapi Anda juga menyukai saya bukan, Lumi Ceri mendesak. Tuan Am gundah namun ia membohongi dirinya dan Lumi Ceri. Lumi Ceri bilang tidak mencintai tunangannya, itu hanya perjanjian antara orangtua kedua belah pihak saat mereka masih kecil. Tuan Am tetap meyakinkan Lumi Ceri bila perasaannya yang sekarang tidak benar. Setelahnya Tuan Am meninggalkan Lumi Ceri. Lumi Ceri berlari memeluk Tuan Am dari belakang. Seseorang dari kisi jendela ruang masak melihat peristiwa itu sebagai sebuah kebenaran. 

“Cokelatnya sudah sangat dingin, Tuan Am. Mari diminum dulu,” ujar Nori, membuyarkan Tuan Am dari ingatan.

“Ini tisu. Mata Tuan basah dan merah.”

Tuan Am kikuk, merasa malu ketahuan.

“Gerimis juga sudah reda,” tambah Nori.

Di luar sana Tuan Am melihat hari sudah mulai gelap. Tampak kunang-kunang terbang ke kebun sawi di samping kedai. Meski perjalanan hampir dua jam dan harus pelan-pelan menuju stasi di pedalaman desa, Tuan Am mengerti tidak mungkin menumpang tidur di kedai Nori.  

Tuan Am menyalakan motor trail-nya. Ia bunyikan “pip” saat roda mulai bergerak. Pada kaca spion yang masih diterangi lampu, ia melihat Nori berdiri sambil memegang sesuatu dalam botol dan itu mengingatkannya akan cokelat sepuluh tahun lalu. Dan seketika itu pula, dalam pikiran Tuan Am menyanyi Ariel Noah dan Bunga Citra Lestari: aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia. ***

Riau, Juli 2020


Jeli Manalu, saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018. Buku keduanya “Semangkuk Sup Bayam untuk Tuhan” sedang proses terbit.


[1] Doa sembilan hari berturut-turut untuk memohon suatu wujud kepada Tuhan.

Buku, Resensi

Kopi: Sengsara dan Nikmat

Oleh Bandung Mawardi

Pada 2020, kita ke toko buku bisa membeli novel berjudul Babad Kopi Parahyangan. Novel bergelimang tangisan. Tawa dan girang ada tapi ditaruh di halaman-halaman terbatas. Kita “minum” sejarah “pahit”. Kita memikirkan nasib orang-orang di masa lalu menanggungkan sengsara gara-gara kopi. Kita membeli dan membaca novel itu tak salah pilih. Urusan asmara terbaca meski pembaca diarahkan ke bentangan sejarah. Novel seperti meledek kita mulai tergoda melakukan pelesiran demi menikmati kopi: meraih sensasi dan mengumumkan ke media sosial tanpa berpikiran sejarah terlalu “pahit”.

Kita bisa membaca novel tanpa ada kopi di meja. Pembaca mendingan menaruh sekian buku bertema kopi atau sejarah: “menemani” pengembaraan imajinasi ke abad XIX. Kita mulai mengutip percakapan si Pelaut dan Karim. Pengalaman dan pengetahuan si Pelaut merangsang Karim merantau ke Parahyangan. Sesumbar si Pelaut: “Parahyangan itu sarangnya mutiara hitam.” Sebutan untuk kopi. Di novel, si Pelaut bertugas sebagai juru penerangan tentang kopi di pelbagai negeri. Ia “terpelajar” dan mahir bercerita. Karim mengingat dan mencatat ocehan-ocehan si Pelaut, bekal meninggalkan kampung halaman menuju Parahyangan. Pembaca maklum saja dengan siasat pengarang menaruh juru penerangan. Evi Sri Rezeki ingin pembaca mengerti khazanah sejarah Nusantara dan dunia, sebelum memberi perhatian melulu ke Parahyangan.

Pembaca sudah menumpuk buku-buku di samping novel bisa membuka buku berjudul The Road to Java Coffe (2013) susunan Prawoto Indarto. Buku mewah sajikan foto-foto “tempo doeloe” dan keterangan-keterangan dari pelbagai referensi. Episode pedih dimulai pada 1711 saat kiriman kopi dari Jawa memecahkan harga lelang tertinggi di Amsterdam. Sejarah mulai bernafsu laba. Pada 1726, kopi asal Jawa menguasai pasar kopi di Eropa. Segala capaian itu mengesahkan penciptaan sengsara di Parahyangan melalui perjanjian VOC dengan bupati dalam misi penanaman kopi. Di halaman sejarah, orang bisa mengingat itu Koffie-stetsel atau Preanger-stetsel. Ribuan ton kopi berhasil dikirimkan ke Eropa, merangsang selera para peminum di Eropa untuk memuja kopi asal Jawa. Sejarah memanjang dengan kehadiran Daendels dan Van den Bosch. Kopi “memahitkan” nasib bumiputra dan mengingatkan Cultuur-Stetsel (1830-1870).

Si Pelaut, tokoh pengantar sejarah dalam novel menjelaskan di balik Cultuur-stetsel pada Karim. Kita mengutip pendapat si Pelaut atas kebijakan Van den Bosch: “Barangkali ia terilhami sistem yang mengungkung Parahyangan sejak tanahnya mengecap wajib tanam kopi: Preanger-stetsel. Gagasan adopsi ini bernama Cultuur-stetsel. Sistem ini diberlakukan di seluruh Nusantara. Dan lebih berat lagi bagi Parahyangan sebab beberapa tanaman baru hendak di-kopi-kan. Tubuh Parahyangan tersayat-sayat nila dan kina.” Pembaca mendingan mengikuti petunjuk-petunjuk si Pelaut untuk mengerti sejarah kopi, sebelum serius memikirkan keberanian Karim dan Euis melakukan perlawanan di perkebunan kopi.

Pada abad XIX, kopi menjadi dalih bagi orang-orang serakah berakibat memberi sengsara untuk bumiputra selalu di bawah perintah Belanda dan pejabat lokal. Karim berhasil sampai Parahyangan, bekerja di perkebunan kopi. Di situ, ia marah dan menggugat. Impian dari kampung halaman menjadi marah tanpa ujung. Pertemuan dengan Euis dan para petani membuktikan lakon penindasan. Kopi memberi duka, setiap hari. Nasib bumiputra jatuh di kemiskinan dan menerima hukuman. Mereka seperti mendapat kutukan. Di tanah-tanah menghasilkan kopi, mereka kelaparan, berdarah, dan mati. Di negeri-negeri sana, kopi itu perdagangan dan minuman nikmat. 

Karim mengajak Euis dan Asep menggerakkan perlawanan bersama para petani memiliki keberanian mengubah nasib. Ikhtiar sampai ke perlawanan mendapat bekal berpengaruh. Karim itu bisa membaca-menulis. Pada suatu hari, ia melihat, memegang, dan membaca Max Havelaar gubahan Multatuli. Ia semakin tersadarkan bahwa kopi menjadikan orang-orang di Parahyangan mendapat “neraka”. Para pejabat dan pengusaha berlaku kejam justru mendapat “surga” alias duit berlimpahan dari kopi. Pembaca mungkin kaget mengamati  tokoh dalam novel mengalami perjumpaan dengan novel “menghancurkan” Cultuur-Steesel dan merangsang perubahan di tanah jajahan pada awal abad XX.

Renungan Karim setelah bekerja di perkebunan kopi dan mendapatkan kesengsaraan: “Sarang mutiara yang semula adalah impian berubah mimpi buruk. Ia dapat paham kebencian para petani pada emas hitam. Ia pun mafhum kecintaan para pengreh praja dan Kompeni pada buah kopi. Kopi adalah batu-batu penyusun istana, kain gemerlap yang membalut tubuh, makan lezat terhidang di meja…” Semua itu mengakibatkan petani lapar, miskin, dan mati. Karim semakin marah dan membesarkan keberanian melawan tumpukan sengsara ditanggung para petani kopi. Di akhir novel, perlawanan itu (secuil) berhasil.

Sengsara belum usai. Evi Sri Rezeki menjelaskan ke pembaca tentang nasib Karim dan para petani di Parahyangan setelah pemberlakuan undang-undang baru, 1870: “Undang-undang yang semula digadang-gadang sebagai pembawa takdir baik bagi hanyalah ilusi sebab kebebasan itu tak pernah sampai ke Parahyangan. Pejabat-pejabat kulit putih tak rela melepas sarang mutiara hitam.” Pembaca mungkin tergoda membuka halaman-halaman buku berjudul Sistem Tanam Paksa (2003) susunan Robert van Niel. “Akhirnya, masalah kopi yang menimbulkan persoalan khusus karena jenis tanaman ini sudah masuk ke dalam penanaman paksa sebelum tahun 1832,” tulis Robert van Niel mengenai Parahyangan berkaitan Cultuur-stetsel. Novel rampung terbaca, sejarah pun teringat. Kita boleh minum kopi dengan pilihan pahit atau manis asal tak melupa Parahyangan. Begitu.


Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi.

Cerpen

Insiden Martapura

Cerpen Han Gagas

Satu minggu setelah kota ini dikuasai Corona, gempa bumi menggulung rumah semua penduduk. Lori menyelamatkan diri dengan cara sembunyi di kolong meja. Nyawanya selamat, hanya kakinya nyaris lumpuh karena kena runtuhan balok rumah. Dengan usahanya sendiri sebisanya ia memulihkan luka itu walau hanya memakai obat-obatan terbatas yang kebetulan disimpan keluarganya.

Gagak berkerumun di setiap tonggak pohon yang tersisa. Langit nyaris kelabu setiap hari, mendung setiap waktu, malam tak ada bintang, udara menjadi dingin. Tak ada sinar matahari yang cukup bisa menerobos tebalnya mega-mega. Rumah-rumah yang telah kosong akibat kematian massal oleh corona membeku dalam kesunyian.

Lori menangis saat menyadari bahwa seluruh anggota keluarganya mati. Adiknya, Rara kena longsoran dan tertimbun rumah. Istrinya, Widuri juga mengalami nasib sama, termasuk kedua anaknya, Banu dan Margo. Ia nyaris bunuh diri, merasa sebatang kara, dan sejauh matanya memandang, tak ada lagi kehidupan yang terhampar di mukanya, selain dengung lalat dan kaok gagak yang memenuhi angkasa.

Tapi kehidupan berpihak padanya, sembari menyembuhkan diri sendiri, dan makan apa saja yang tersisa, ia mencoba bangkit. Lori mengayunkan satu kakinya, berjalan pincang menuju jalan. Ia tahu satu kakinya telah mati rasa, dan sadar bahwa tak ada orang di desanya yang selamat. Tak ada suara rintihan bahkan embusan napas dari binatang sekalipun.

Awalnya ia hendak meratap pada langit, namun saat langit pun terasa digulung mega hitam, ia menyadari bahwa alam tak sanggup melawan kekuatan gelap ini. Tampaknya hanya kekuatan gelap yang tega memporak-porandakan seluruh kehidupan.

Lori tak ingin percaya pada Tuhan, walau dulunya saat kehidupan masih normal sebelum corona mewabah, setiap pekan ia selalu sembahyang, namun melihat ini semua rasanya ia pilih tak punya iman. Iman tak bisa mencegah bencana menggulung kehidupan.

Martapura, Martapura, kampung yang semula indah menawan hingga mengundang banyak turis datang, kini seperti bak sampah yang dituangi isi comberan dan buangan limbah. Lori melangkah pincang dan saat badai debu beterbangan menutup pandangan, ia melihat sebuah lampu berkedip-kedip mendekat. Ia mencoba melambaikan tangan, walau lemah, pengemudi itu tahu ada setitik kehidupan di depannya. Lampu mobil menyala terang, dan sebelum badai debu menerjang masuk, ia membuka pintu, Lori meloncat masuk.

“Syukurlah kau selamat, Nak.”

Lori hanya mengangguk, memandang si pengemudi yang seperti ia kenal, namun lupa di mana mereka pernah bertemu.

“Kau lupa padaku?”

“Sesungguhnya kita kena apa?” Tak menjawab, Lori malah bertanya.

“Petaka, Nak. Petaka.”

“Tak adakah bantuan?”

“Virus, Nak. Tak baca beritakah kau, sebelum gempa bumi dan badai debu, virus menyebar lebih cepat.”

“Virus?”

“Ah kau, dasar lelaki tak kenal peradaban!”

“Sejak tiga bulan ini tak ada pasokan koran ke desa kami. Telepon telah lama dibuang karena tak ada sinyal, tak ada berita apa pun, yang kudengar dari seorang sejawat yang baru datang dari kota, negeri sedang genting, virus menyerang ganas. Kukira itu hanya khayalan, kau lihat sendiri, bukan perang yang menghancurkan kami, tapi si kutu kecil, kecil.”

“Iya, dan gempa.”

***

Kini Lori ingat, pengemudi itu teman ayahnya dahulu. Ia bernama Sukarta. Ayahnya sering bercerita tentang dia, lelaki bermoyang leluhur dari Jawa yang suka semadi, yang tak mengenal agama modern, yang selalu hidup dari satu kuburan ke kuburan lain, kuburan yang dikeramatkan penduduk lokal.

“Ia lelaki kuburan, tiap hari menggelandang berjalan dari satu makam ke makam lain, menolak tumpangan. Ia dituduh gila,” kata ayahnya suatu kali.          

Jamala, jamala sikile sèwu, jamala, jamala sikile sèwu,” Sembari menyetir Sukarta mengucapkan sesuatu.

“Bahasa apa kau ucap itu?”

“Jawa Kuno, dari negeri sebelum Majapahit berkuasa.”

“Bagaimana kau tahu virus bisa musnah karena mantra itu?”

“Dia tak bisa dimusnahkan, hanya saja aku masih ingin hidup, Nak. Bukankah kau juga begitu?”

“Artinya, mantra ini hanya semacam tolak bala?”

“Hmmm, semoga.”

Lori mencoba menirukan kata-kata itu. Lidahnya sempat selip karena sukar mengatakan sesuatu dari bahasa asing yang sama sekali belum ia kenal.

“Tenanglah, dan pelan-pelan,” ucap bibir si tua itu.

“Sing aama sing awulu, padha sira suminggaha, balia mring asalneki

Sukarta seperti bernyanyi, namun suaranya terdengar aneh, membuatnya seperti terisap ke alam lain, magis.

“Apa kau menyanyi?”

“Ini nembang, nak.”

“Bah, sulit sekali menirukannya!”

“Dalam keadaan yang kalut begini, hanya kesabaran dan ketenangan yang bisa menyelamatkan kita. Semua telah mati, kan?”

Kesadaran Lori seketika terisap. Hidup sehari-hari kecuali sepekan sekali yang ia harus bersembahyang, diisinya dengan mabuk. Lori heran kenapa orang seperti dia yang justru selamat, bukan istri atau adiknya, Rara yang saleh. Mereka rajin beribadah, melakukan pelayanan darma sosial, dan bermurah hati, sedang dia selain mabuk, juga suka main perempuan. Pelacur telah banyak ia tiduri. Namun anehnya wajah para pelacur itu tak satupun yang bisa ia ingat. Bahkan bayangan sosoknya sekali pun.

Kini yang terlihat justru puing-puing bangunan yang berserakan, tiang-tiang lampu kota yang ambruk, yang syukurnya kabel-kabelnya tak menghalangi jalan mobil mereka. Kawanan gagak terbang rendah dan melayang-layang di depan mereka. Jasad-jasad tubuh manusia dan hewan bergelimpangan. Bau busuk dan anyir telah menumpulkan penciumannya sejak lama.

Sukarta menaikkan semua kaca mobilnya hingga tertutup sempurna, namun anehnya bau busuk tetap menembus ke dalam mobil, tampaknya lewat berbagai lubang mesin dalam kap, dan menembus pori-pori karpet lantai di bodi mobil.

“Brakkkk!” Mereka tersentak kaget.

Tiba-tiba gagak-gagak mendekat dan sebagian menabrakkan dirinya ke kaca mobil, menciptakan secarik darah merah kental membercak di kaca. Untungnya tak menghalangi seluruh pandangan Sukarta buat menyetir. Setelah mengurangi gigi perseneling, ia menginjak pedal gas.

“Kita harus segera pergi meninggalkan tempat terkutuk ini.”

Perasaan Lori masih tercekat. Sukarta melihat wajahnya yang pucat macam mayat.

“Tenanglah, Nak. Perilaku mereka tambah aneh dan berbahaya, apalagi kalau malam, kelelawar lebih ganas, tetapi tenanglah.”

Jalan yang dipenuhi debu menghalangi pendangan, namun Sukarta seperti punya mata batin dan indera ke-6, selaksa kilat mobil melaju kencang.

Perbukitan sedikit terlihat di depan, dengan jalan berkelok-kelok dipenuhi hutan pinus yang kelabu. Daun-daunnya membercak putih terlengketi debu.

“Hendak ke mana kita?” tanya Lori.

“Ke makam di atas bukit.”

“Kuburan?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Hanya di sana tempat yang aman.”

“Kenapa?”

“Tempat itu diselubungi medan energi yang amat besar, ah kau tutup mulutlah.”

Martapura, Martapura, kini desa itu telah jauh di belakang mereka, meninggalkan kenangan yang menyumpal pahit di hati Lori. Rara, Widuri, Banu, dan Margo. Perasaan Lori gemetar hebat. Tanpa ia sadari matanya telah berkaca-kaca.

“Masih jauh perjalanan, tidurlah, kita akan sampai sana menjelang malam.”

***

Makam yang aneh. Sepanjang sepuluh meter. Di nisan tertulis Datuk Sanggul. Lori pernah mendengar nama ini. Seperti nama yang akrab dengannya tapi ia lupa menaruhnya di laci ingatan yang mana.

Kabut memenuhi seluruh hamparan makam yang diayomi Pohon Judas besar dengan jutaan daun-daun kecil yang berguguran kala ditiup angin. Berbeda sama sekali dari Martapura, area makam ini tampak kehijauan seperti terlindungi dari gempa. Benar apa yang dikatakan Sukarta, tak ada kerusakan sedikit pun, dan bahkan alam sekitar makam terlihat alami dan damai. Medan energi positif makam serasa menyebar ke sekitarnya. Seekor burung sendirian terbang berputar-putar di atas mereka, itu adalah elang yang putarannya seolah melakukan tawaf pada makam ini.

Sukarta duduk termangu, lalu ia tiba-tiba berdiri, membacakan sajak aneh yang terasa seperti nyanyian tembang dari bahasa antah berantah. Walau Lori tak mengerti artinya, bulu kuduknya berdiri, nyalinya tergelincir dari geming, suara itu menyatu dalam keheningan alam.

Teriak elang membahana, suaranya menghunus, memusar bersama desau angin. Dan angkasa tiba-tiba dipenuhi oleh titik-titik hitam. Jutaan titik-titik itu bergerak membesar, membentuk sesuatu yang mulai tampak mengerikan.

“Jangan gentar.”

Ternyata sajak itu telah selesai. Mulutnya menggetarkan kembali mantra yang aneh. Bibirnya komat-kamit, wiridan.

Jutaan titik-titik hitam itu ternyata ribuan kelelawar yang terbang dengan latar mega-mega yang menggumpal pekat dan hitam, tampak mengancam. Keserempakan itu seperti menatap nyalang ke arah mereka.

Tubuh Lori menggigil ketakutan.

Tanpa sepenuhnya Lori sadari, mulutnya mendaraskan segala doa yang masih bisa ia ingat. Hafalannya sejak kecil nyatanya tak bisa ia andalkan, banyak ayat-ayat yang terpotong, namun kali ini entah kenapa hatinya bergetar saat menyebut nama Tuhan.

Rara, Widuri, Banu, dan Margo. Mereka hadir seperti diturunkan begitu saja oleh Tuhan di hadapan Lori menjadi tameng yang aneh.

Sukarta meneriakkan kata-kata abstrak, seperti orang gila, ia berlari-lari memutari makam sembari menunjuk-nunjuk langit. Hawa terasa jadi begitu dingin, angin merajam tulang, dan rongga langit membesar, ada lubang hitam yang muncul dari dalamnya, menyedot apa saja.

Tiba-tiba Lori teringat wajah para pelacur itu, membayang jelas satu per satu di pelupuk matanya. Dosa membaur dalam pengakuan. Lelaki tua menyentuh bahunya, dan berkata, “Inilah saatnya.” Tangan keriputnya mendorong Lori hingga terjatuh.

Lori terduduk dan menitikkan air mata. Ia teringat sepuluh larangan dari Tuhan yang semuanya telah ia langgar.

Jutaan kelelawar menyebarkan jala hitam ke seluruh dunia. Lori tak berdaya.***


Han Gagas, penulis kumpulan cerpen Catatan Orang Gila (Gramedia Pustaka Utama, 2014), novel Orang-orang Gila (Buku Mojok, 2018), dan novel Jack dan Si Gila (Rua Aksara, 2020).

Buku, Resensi

Sapardi: Mantra dan Pengabdiannya

Oleh Agus Wedi

Sesungguhnya, posisi penting Sapardi Djoko Damono dalam susur galur kesusastraan Indonesia adalah karya dan “pengabdiannya.” Karya-karyanya berlaga di medan penyadaran untuk mendongkel kualitas sastra menjadi sesuatu yang dekat dengan publik. Di lembar pengabdian Sapardi, terlihat bagaimana dia berada di lingkaran inti “proyek” besar sastra (lirik) untuk dicurahkan sehabis-habisnya bagi publik Indonesia. Kerjanya lahir dari kesadaran “empati” yang mencerminkan sastrawan cum-akademisi tidaklah berjarak jauh pada realitasnya.

Begitulah Sapardi. Dalam hal ini, dia memahatkan pemaknaan bahwa sastra atau ilmu semestinya diajarkan dan disebarkan dengan rendah hati, tanpa mengurangi kualitasnya. Sebab, dengan kerendahhatian akan tampak signifikansinya pada aktivitas sastra yang gemilang. Dari sosok Sapardi, kita bisa mendapatkan karakter sastrawan Indonesia yang “bijak” dan teguh: tidak mau kalah pada “kritikan dan waktu. Bentangan waktu telah dibuatnya menjadi sesuatu yang fantastik: menulis puisi, tukang edit, tukang kliping, menerjemah, mengajar, berorator, dan berasmara.

Di lembar waktu, Sapardi telah membuahkan banyak karya. Buku Mantra Orang Jawa merupakan teks penting Sapardi. Di mana dia menjejak sebagai orang Jawa dan merefleksikan panorama dinamika Jawa beserta isinya, tak terkecuali hal-hal yang telah “(di)terlupa(kan)”: mantra.

Sejarah Jawa adalah sejarah mantra. Diakui atau tidak, bentangan sejarah manusia Jawa, mantra menjadi napas atau senjata mistik utama. Bahkan, mantra-mantra yang berkecambah di tanah Nusantara, kebanyakan berbahasa Jawa. Meski bahasa murninya mantra hampir tidak bisa dimengerti baik secara fonetis maupun sintaksis. Tetapi bagi manusia Jawa itu harus dirapalkan demi menyibak segala rahasia, atau demi mencapai sesuatu yang ilahiah. Dalam teks ini, barangkali Sapardi mengingat itu, dan jika boleh dikatakan demikian, membicarakan (karya) manusia Jawa atau mengkaji susastra Jawa, dengan tidak mengikutkan mantra di dalamnya merupakan keteledoran besar yang kadang tidak disadari.

Bisa kita lihat  di halaman awal buku ini. Sapardi menulis: “Konon, di zaman lampau mantra memiliki kekuatan yang bisa dimanfaatkan nenek-moyang kita untuk berbagai keperluan hidup sesuai dengan maksudnya. Kata mantra tidak bisa dipisahkan dari Japa, jadi Japa Mantra. Japa berarti dibisikkan atau didesahkan atau diucapkan. Jadi mantra harus dilisankan. Dalam buku ini saya telah menjadikannya puisi saja, tidak perlu dikait-kaitkan dengan maksud penciptaannya dulu meskipun tetap harus dilisankan.”

Sapardi masih mengingat mantra! Kerja mantra pun masih diingatnya, termasuk asal-usulnya. Sebagai orang Jawa yang sadar mantra, Sapardi seperti ingin mengenalkan ke khalayak, jika tidak bisa diselamatkan (oleh manusia Jawa) dari kepunahan. Kesadaran etis Sapardi mengantarkan mantra menjadi karya, sebut saja karya paling panoramik Sapardi, Mantra Orang Jawa.

Kekuatan karya adalah kekuatan mantra. Bisa jadi, kekuatan mantra adalah kekuatan karya. Sapardi memberi pesan, “Siapa tahu masih ada kekuatan [mantra] tersembunyi yang tersisa dalam puisi ini. Kalau memang demikian halnya, kita manfaatkan sajalah [mantar/puisi] yang ada dalam buku ini sebaik-baiknya”. Untuk memotret harapan manusia Jawa dan kontestasi bentangan perjalanan hidupnya yang dibangun dengan mantra.

Sejarah manusia (Jawa) adalah sejarah mantra. Sejak manusia dilahirkannya, mantra ikut dikomat-kamitkannya. Bahkan, dalam peristiwa-peristiwa kecil atau besar dan ketika maut memisahkannya, bacaan atau japa mantra turut serta mengantarnya. Dalam hal ini, puisi-puisi Sapardi mengantar pada konteks itu. Kalau begitu, kita buka puisi Mantra Hari Lahir: aku memohon kepada Hyang Maha/ kepada kulit/ kepada daging/ kepada urat/ kepada tulang/ kepada sumsum.// semoga tahu saja/ bahwa aku ada.

Renung Sapardi, keberadaan manusia sebentuk dengan keberadaan Tuhan dan ekosistem tubuh. Keduanya saling jumpalitan dan bahkan bisa jadi saling berkaitan. Tapi tidak harus dihadap-hadapkan. Penyuwun Sapardi kepada Tuhan di langit, Hyang Maha dan keberadaan tubuhnya untuk selalu mengasihi sepanjang rentetan hidupnya. Sapardi seperti mengemis, dalam bentangan hidup, keduanya tidak boleh tidak ada, dan harus selalu ada: tidak menyiksa dan tidak disiksa olehnya. Tuhan dan tubuhnya dipinta untuk selalu (ada) menjaga keberadaan dan kondisi normalnya. Saya kira, itu sah-sah saja dalam hakikat menghamba.

Disadari, dalam kehidupan normal, kadang manusia memang selalu lupa. Kita lupa mengingat bagaimana kita ada dan tercipta. Melupakan bisa mengantarkan pada keberjarakan. Keberjarakan terhadap yang mencipta atau yang menemani ke-ada-annya (dalam hal ini tubuhnya), bisa jadi ia juga mencipta malapetaka: penyakit selalu datang tak henti-henti, kejadian nahas, himpitan kemiskinan, dan petaka lainnya. Bahkan, kalau dirunut ke akarnya, petaka hadir karena manusia telah menyimpang dari jalan-Nya, sebab melupakan khalik-Nya. Dalam hal ini, Sapardi tegap, ia meminta pengasihan. Dari lahir hingga berada di puncak karir tak menjadikan ia lupa bahkan “buta” pada hakikat hidupnya. Sekali lagi, ia mengingat, ia meminta ke Tuhan Pencipta.

Tumbuh suburnya panorama kehidupan tiada lain atas restu Tuhan. Tetapi, sebagai hamba yang lemah (terbatas), tidak harus bersikap fatalistik (menganggap Tuhan segalanya) atau free will (manusia bebas menentukan segalanya). Diskursus kehidupan cukup dengan berusaha dilandasi kesadaran menyeimbangkan yang langit dan bumi: moderat. Membuat konsep persoalan hidup butuh keberpihakan “kesadaran menjadi hamba” dan perlu disabuk dengan japa mantra kasih (doa pinta). Pada itu, Sapardi menulis Mantra Agar Dikasihi: bapa masuk/ atas nama Hyang Maha./ masuklah ke rahim si Dadap/ turuti sepenuhnya/ apa yang kumaui/ turuti apa saja/ yang kuhendaki/ turuti apa saja/ apa yang kuucapkan.// datanglah kasih/ datanglah sayang/ kasih sayang/ bagi diriku.

Rumusan Sapardi, ketika orang-orang (terkasih) mengasihi, itu kuasa gerak Tuhan yang hadir dalam batin manusia: si Dadap. Pinta atau kemauan yang dikehendaki atau dituruti dan menjadi nyata adalah bentuk keniscayaan belas kasih Tuhan. Bahkan, di puisi lanjutnya, puisi Mantra Pengasihan, 1, dan Mantra Pengasihan, 2, Mantra Pengasihan, 3, hingga puisi Mantra Pengasihan, 9, Sapardi dengan mantap mengatakan, “segala adalah kehendak Hyang Maha.”

Sekadar memberi contoh, misalnya, Mantra Pengasihan, 9: sudahlah, mau apa lagi/ kau dalam genggamanku/ aku dalam genggamanmu/ sudahlah, mau apa lagi/ ini tak lain cinta sejati/ yang disiramkan/ ke tubuhku/ ke tubuhmu/ agar basah/ agar menyerah/ di hari dan wuku/ pada kehendak/ Hyang Tunggal.

Pada hakikatnya, segala yang ada hanyalah manifestasi Hyang Tunggal. Kekuasaan dan gelayutan hidup manusia, baik problem sosial dan asmara menjadi hal yang nyata untuk dibawa ke hadapan Hyang Tunggal. Pengakuan terhadapnya adalah menjanjikan derma dalam sebuah aktivitas suluk spiritual. Dalam prosesnya, seperti puisi Sapardi, “baik yang bisa digenggam atau tak bisa digenggam”, harus dikembalikan lagi atau mengembangkan cara pandang yang humanis terhadap Hyang Tunggal, juga manusia. Sebab, Hyang Tunggal bisa ditemui bukan hanya di perjalanan (suluk) sunyi, tetapi juga di jalan asmara yang ramai.

Mengacu ke laku Sapardi, mantra-mantra tidak selalu harus diperuntukkan ke Hyang Tunggal. Nyanyian langit tidak perlu dijaga ketat kerahasiannya, tetapi juga dipahatkan pada si jelita hati: manusia. Sebentuk permohonan atau berbelas kasih. Untuk hal ini, kita bisa cerap puisi Mantra Menjelang Tidur: aku berniat tidur/ berkasur raga/ berbantal nyawa/ berselimut sukma/ dijaga para bidadari/ nikmat mulia sejati.

Sapardi memberi citra sentilan, permintaan, penuturan yang imajinatif. Puisi mantra magis ini ingin melepaskan katalogsasi ragam peristiwa harian, sekaligus ingin menyusun kenang yang terbiarkan masuk dan tertinggal dalam tidur panjang: kematian. Atau mungkin, ini adalah japa mantra keheningan total Sapardi, suatu penyerahan total pada Hyang Tunggal, Tuhan.

Dalam ilmu supranatural, mantra dikenal bisa membuka tabir kehidupan, juga bisa merubah formulasi pandangan manusia dari sesuatu yang lazim menjadi biasa. Tapi puisi-puisi Sapardi sepertinya tak ingin mengarah ke sana: tidak untuk mengamati, mengintip atau membuka rahasia-rahasia langit yang ritmenya hanya bisa dipahami oleh pribadi-pribadi suci. Namun barangkali, kita yang telah tersihir ritme mantra puisi-puisi Sapardi. Wah!


Agus Wedi, pembaca buku dan aktif di Komunitas Serambi Kata Surakarta. Tulisannya tersiar di beberapa media cetak dan online. Bisa disapa di Instagram @petualangrindu.

Puisi

Puisi I Wayan Esa Bhaskara

Barangkali Sawah Telah Habis

pada petak sawah paling hulu

tanamlah doa, sepagi-paginya

sebelum cahaya hiasi ketinggian

sehasta demi sehasta

bak mata elang

nyalang menusuk bumi

aku percaya padamu maka kusajikan;

ritual tuk dewata

penyelamat dari ketiadaan

sebait doa tak pernah sia-sia

raup air suci tiga kali

percayalah jua padaku

sebait tanda, menyaru kurapal hadap timur laut

kubiarkan dialog masih tetap sama

sudah berapa pengampunan berkecambah pada tubuh ibumu?

mantra mengaliri sawah

lewat pematang, gurat daun eceng gondok

di jalan air beribadah di atas tanah

keluh air, angin, tetumbuhan menjauh

kerut-kerut lusuh jemput subuh

tak tersentuh mimpi peladang rapuh

(2012)


Uma

datanglah

menu sehat tiap pagi

seporsi mimpi buruk

perlahan, suap sesuap air mata penuhi ceruk

dengarlah

kidung suci

di antara kunyah

dengkur-dengkur di kepala

sungguh santapan hari sempurna

(2010)


Rambutmu Helai Berderai

apa kau tangkap pagi ini

sebuah lukisan jejak kakiku

pada ranum bibir pantai

kutangkap senyummu

kurajut rambutmu helai berderai,

pada cermin air laut

kau tarik lurus ke arah lembar waktu

bentuk sudut yang menemukan kita

dua rindu lusuh

cukup cubit lamunan

dan kembalikan aku

yang telah kau gambar ulang

(2018)


Ritual Baca Nasib

setelah kau tarik garis tangan sedemikian rupa

lenguhku tercipta dalam kepala

seperti kata-kata berusaha

berkata: senja milikMu adalah doa-doa rapuh,

pilihlah salah satu, katamu

sebab diam sama saja melipat ganda ragu,

satu kartu kutunjuk, dengan tatap sayu

apa yang buatmu yakin? tanyamu

ada gerak-gerak kehidupan

dalam angan

bisa jadi trauma jadi hari depan, katamu

pada kartu yang kau berikan, jawabku pelan

(2019)


Pada Secangkir Kopi

dalam rindu seorang perempuan

tiada muara

hingga senja jadi tanya, atau jawab jadi janji,

diri esok hari

sebab, telah dititipkannya pada secangkir kopi,

diseduh serta mekar purnama

kuhirup saja wanginya

wangi kata

kata rindu, begitu katanya

dalam rinduku

menyelinap di antara

robusta yang menguap

“mari kita rayakan rindu”

lalu kita rapatkan diri

di semesta angan

(2019)


Bibir Uluwatu

Riak buih menyambar

di antara asam, pahit rindu

pucuk-pucuknya tunduk merunduk

rambat bunga daun balut tipis langsat kulitnya

hingga jelas menusuk dada

Tatkala pujawali ini, sejenak sunyi mendesah

senyumnya ditelan riuh

aku membatu

muaranya di detak jantungku

Di hadapan bisu meru, aku menunggu kutuk para dewa

berserah pada karma

(2018)


Sindhu Sendu

Di bawah langit

sepotong sore makin berlumut

di kelopak pantaimu

sedang pikiran lena oleh mantra-mantra

pada sembahyang terbaik bagi diri

degup hampir lelap, upacara lekas dimulai

bait-bait mantra adalah pesan berantai

pada jarak cakar-cakar ombak,

yang jika sirna dari makna,
yang jika susut dari maksud,
tetap ada di mana-mana

(2019)


Karma Phala

kali terakhir menantikan sebuah amin

kau menjadi aku

aku menjadi kau

ketakutan bakar diri

di hadapan berbagai macam uji

gaung kekidungan

membikin jarak yang belum tuntas dikenang

puja kian lekang

sedang hari-hari kemarin, temaram habis

cahayanya bersukma gerimis

dan ribuan pertanyaan manipis

kemudian kembali menitis

(2018-2019)


Hujan Telah Habis, dan Galungan Segera Tiba

di selembar rumput di halaman pura

kurapal doa,

yang tentu saja bisa kujelaskan!

Mengapa aku menemuiMu?

            sebab:

aku punya rindu yang selalu kurayakan

dengan menyeduh syukur atau menyeruput wangi hatiMu

atau hari ini yang kumiliki telah kehilangan esok

aku punya kenangan,

perjumpaan abadi, yang tak leleh panas mentari

riang senja nanti

aku punya hari-hari ini

adalah hari-hariMu

aku punya mimpi

adalah berkatMu

(2019)


Upacara Jelang Hari Raya

tak ada cara lain

merayakan hari ini:

upacara jelang hari raya

aku yakinkan diriku

bahwa kutemukan dirimu

dalam diriku

seperti pesan-pesan WhatsApp

yang kau kirim berkali-kali

tak ada cara lain

merayakan bahagia

sebab Kau menjawabnya

pada upacara jelang hari raya

(2019)


I Wayan Esa Bhaskara, bergaul di Komunitas Mahima, Singaraja. Menulis puisi dan esai dimuat di beberapa media cetak dan daring. Puisinya terangkum pula dalam beberapa antologi bersama. Menanam Puisi di Emperan Matamu (2018) adalah kumpulan puisi perdananya.

Cerpen

Suara di Tengah Malam

Cerpen Risen Dhawuh Abdullah

Bapak pulang dengan wajah lesu. Langkahnya tampak tak bertenaga. Ia seperti ingin segera roboh di tempat tidur. Langkahnya berhenti di ruang tengah lalu duduk di sebuah kursi. Sementara ibu sedang mengambilkan air minum di dapur untuk bapak. Perutku terus bernyanyi sedari sepulang sekolah. Sehari ini, aku baru makan pagi.

Aku sangat berharap, berhentinya bapak di ruang tengah membawa kabar gembira bagi kami—aku dan ibu yang menunggunya pulang dari mencari nafkah. Kata ibu, hari ini ia sama sekali tidak memegang uang, sehingga ia tidak bisa membeli lauk untuk makan siang dan malam. Tadi pagi, kami bertiga memang makan, dengan sisa lauk kemarin. Sebenarnya jika doyan, aku sudah mengambil nasi di soblok, dan menaburinya dengan garam, begitu mengetahui ibu tidak memasak lauk untuk makan siang dan malam hari. Ibu memang gemar memasak lauk tiga kali sehari, menjelang waktu makan, meski lauk yang dibuatnya sering apa adanya.

“Terpaksa ibu harus utang lagi ke warung Mbah Kami. Sebenarnya bapak sempat mendapat uang dari dua penumpang. Tapi entah di mana uang itu sekarang tidak ada. Bapak sudah cari di semua saku, di becak, sampai bolak-balik di jalan yang bapak lewati karena mungkin jatuh, tapi tidak ketemu,” ucap bapak setelah meminum teh hangat di gelas yang ibu sodorkan. Lantas ibu termangu di hadapan bapak.

Aku loyo mendengar kabar itu—sial betul bapak hari ini.

“Ibu malu kalau harus berutang lagi. Utang yang sudah-sudah saja belum dibayar. Ibu tidak enak dengan Mbah Kami,” kata ibu. “Dan lagi, tumben uang bisa hilang, biasanya bapak teliti.”

Aku sudah menduga ibu pasti keberatan bila berutang lagi bahan mentah untuk membuat lauk. Nelangsa sekali kurasakan. Aku sering miris dengan keadaan ini. Sebuah keprihatinan yang sering kualami. Terkadang muncul keinginan untuk melakukan sesuatu, agar keadaan ini cepat berubah—yang kubayangkan lebih sering pekerjaan yang enak dengan bayaran tinggi, tanpa susah payah memeras keringat. Jika menunggu aku menjadi orang sukses dengan sekolah yang sungguh-sungguh, bapak dan ibu masih akan lama menunggu. Sedang aku sebenarnya sudah tidak tega dengan mereka. Namun, jika melakukan hal selain itu, aku tidak tahu sesuatu apa yang harus kutempuh untuk mengubah keadaan.

Sebenarnya keadaan ini bisa membaik andai bapak mau berpindah pekerjaan, yang mana pekerjaan itu masih ada kaitannya dengan apa yang dikerjakan saat ini. Zaman sudah begitu maju, bapak bisa beralih ke ojek. Bapak sendiri pernah bilang padaku, kalau becak kayuh semakin hari semakin sepi peminat. Pelanggan becak kayuh satu per satu pindah ke ojek. Selain itu, sekarang ini membeli sepeda motor tidaklah sesusah dulu. Orang sekarang bisa pergi ke dealer untuk kredit kendaraan, hanya membawa beberapa lembar uang seratus ribuan.

Aku tidak paham dengan jalan pikiran bapak, yang tidak juga berganti dengan ojek. Kami memang tidak punya sepeda motor, tapi aku rasa itu bukan masalah serius. Ibu memiliki tabungan berupa kalung emas pemberian kakek dulu. Kalau hanya untuk membeli sepeda motor bekas kurasa bisa.

Aku berlalu menuju kamar, menutup pintu dan mencoba untuk tegar. Aku harap bapak dan ibu segera mencari jalan keluarnya. Rasa lapar ini begitu menyiksaku. Aku tidak mungkin memaksa ibu untuk berutang, aku tidak ingin menumbuhkan rasa malu di benak ibu. Beberapa menit kemudian, kerut wajahku menahan lapar mengendur, dan berubah menjadi kegembiraan. Ibu mengantar sepiring mie instan beserta nasi ke kamarku. Aku tidak menanyakan dari mana ibu memperoleh mie instan itu. Aku terlampau gembira.

Lega! Akhirnya perutku terisi. Aku bisa mengarungi malam dengan tidur nyenyak. Terlitas pertanyaan perihal nasib bapak dan ibu; apakah mereka sudah makan. Karena memikirkan itu aku tidak bisa tidur, tapi jika menanyakan kepada mereka, apakah sudah makan, rasanya begitu lucu. Menurutku ibu juga tidak tega kepada bapak, bila hanya aku yang diberi makan, apalagi bapak seharian keluar. Ahh, kukira ibu sudah mengupayakan bapak bisa makan juga.

Untuk menghilangkan pertanyaan seputar nasib perut bapak dan ibu, aku terus memupuk keyakinan mereka juga menikmati makan. Selagi aku di kamar tidur, tak kudengar suara mereka, aku tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan. Tidak juga kudengar suara yang menandakan mereka mengerjakan sesuatu. Jelang pukul setengah sepuluh aku tidur.

***

Telingaku risih, seperti digelitiki. Dengan setengah sadar aku mengusapnya. Aku mendengar suara langkah kaki, benda-benda beradu—seperti suara panci yang membentur lantai, suara pintu dibuka, suara plastik. Aku kembali mengusap-usap telinga, dan keadaanku masih setengah sadar. Mataku masih ingin mengatup. Aku tidak berpikir macam-macam perihal suara itu. Suara-suara itu tidak henti mengangguku dan aku kembali mengusap-usap telingaku. Aku terus berusaha fokus untuk kembali tidur. Namun, tiba-tiba ada suara aneh hinggap di telingaku, dan aku kaget.

Aku terjaga dengan posisi masih rebahan. Kudengar suara itu seperti jeritan melengking yang menyayat. Benakku memikirkan sesuatu, suara itu mirip suara binatang sekarat. Dugaanku, suara itu berasal dari belakang rumah. Karena rasa kantukku masih menguasai, hingga tidak mengundang minatku untuk mendatangi asal suara itu. Aku kembali berusaha memejamkan mata, dan tidak memedulikannya lagi.

Paginya, aku bangun dengan pegal di sekujur tubuh. Aku keluar kamar tidur tanpa merapikan tempat tidur setelah penglihatanku sempurna bekerja. Aku berjalan menuju ruang tamu dan melihat jam dinding, pukul enam lebih tujuh menit. Waktu yang masih terlampau pagi. Bagiku masih ada waktu panjang untuk sampai ke pukul tujuh. Aku gegas ingin mandi. Ketika melintasi dapur, kuhentikan gerak kakiku, mataku tertuju pada tungku yang rongganya ada sisa pembakaran kayu, serta wajan di atasnya yang kotor. Di samping tungku ada beberapa bilah kayu bakar yang ujungnya berwarna hitam. Ada pula sisa asap yang mengepul dari sana—sudah pasti kayu bakar itu baru saja digunakan dan disiram dengan air.

Ibu memasak? Memasak apa? Bukankah ibu sedang tidak memegang uang? Pertanyaan itu mengingatkanku pada hari kemarin, saat aku menikmati mie instan. Aku tidak memberi ibu pertanyaan perihal asal-usul mie instan itu. Aku semakin yakin mie instan itu hasil ibu berutang—lagi-lagi ibu kembali memaksakan diri berutang dan harus menanggung malu. Ya, ibu memaksakan diri untuk berutang. Kenapa aku bisa begitu yakin kalau ibu berutang? Logikanya begini, ibu sudah memasak, ibu tidak memegang uang, warung Mbah Kami belum buka sepagi ini. Apalagi kalau bukan mengutang di hari kemarin? Aku yakin, kemarin ibu berutang mie instan, sekalian bahan baku lauk untuk hari ini.

Pukul setengah tujuh lebih lima menit aku sudah mengenakan seragam sekolah putih biru. Sembari menenteng tas, aku menuju meja makan. Di atas meja makan telah tersaji daging semur yang baunya sedap sekali, tiga tumpukan piring beserta sendoknya, dan sebakul nasi yang masih mengepul. Perutku langsung melilit, nafsu makanku langsung naik. Aku mengambil nasi, sembari izin kepada ibu untuk makan lebih dulu. Bapak tidak tampak batang hidungnya, entah ke mana.

Sesuap nasi beserta secuil daging kumasukkan ke mulut dengan sendok. Aku antusias sekali. Aku mendadak berhenti mengunyah, digerakan kedua. Daging semur terasa aneh di lidahku. Tekstur kurasa tidak seperti daging ayam. Aku melanjutkan kunyahanku sembari menebak-nebak daging apa yang ibu masak. Namun hingga aku menelan seluruhnya, aku tidak menemukan jawaban. Aku masukkan lagi secuil daging, kembali kurasakan dengan lebih teliti. Aku tetap tidak menemukan jawabannya.

“Ini daging apa, Bu?”

“Makan saja. Bersyukurlah hari ini bisa makan enak, tidak usah banyak tanya!” kata ibu.

Setelah menghabiskan daging semur beserta nasi, lidahku kelu. Ada perasaan tidak enak mendarat di hatiku. Aku mengambil kesimpulan berdasarkan pengalamanku selama ini—walau aku ragu—daging yang baru saja kumakan ialah daging kelinci—aku memang pernah makan daging kelinci di rumah seorang temanku, saat mengerjakan tugas kelompok. Kesimpulan itu menerbitkan sebuah pertanyaan penting; jika ibu berutang kepada Mbah Kami, apa mungkin Mbah Kami menjual daging kelinci? Sepengetahuanku, langka sekali orang menjual daging kelinci, bahkan mungkin di sini tidak ada. Aku tidak mau ambil pusing, pertanyaan itu kubuang jauh-jauh dari kepala. Aku pamit kepada ibu untuk berangkat sekolah.

Di halaman rumah, terdapat pohon mangga yang terkena hama. Pohon itu tidak pernah menghasilkan mangga yang manis. Di bawah pohon itu sampah daun kering biasanya dikumpulkan dan dibakar. Di dekat pembakaran daun kering itu ada tempat sampah terbuat dari bambu. Langkahku terhenti, aku tidak sengaja melihat bercak darah yang masih segar di pecahan batubata. Darah itu juga ada di sisi tempat sampah. Saat kulongok isi tempat sampah perutku seketika mual. Aku teringat dengan suara aneh semalam. Aku teringat dengan daging yang baru saja kumakan. Di tempat sampah itu, aku melihat kepala kucing yang berlumuran darah.**

Jejak Imaji, 2020


Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Bila ingin berkomunikasi bisa lewat @risen_ridho.

Cerpen

Tokoh Perempuan dalam Cerpen

Cerpen Nana Sastrawan

“Sempurna!”

Tokoh kita melonjak girang dari tempat duduk walaupun hatinya berdebar-debar, dia terkejut, sangat terkejut. Di hadapannya seorang perempuan mengenakan kaus dan celana jins, meskipun tak minim, kausnya teregang ketat karena dada yang montok. Rambutnya tergerai, panjang dan lurus. Wajahnya putih, mata yang jernih, bibir merah pepaya dan hidung mancung. Sungguh, semua yang terlihat adalah bukan imajinasi. Bukan juga sebuah delusi, atau ilusi. Ini adalah kenyataan. Kenyataan yang sempurna.

Sementara itu, malam semakin malam, udara menusuk tulang. Di dalam kamarnya, tokoh kita mencoba menguasai diri, dia menyalakan rokok, tangannya gemetar, pemantik tak bisa menyala meski berulang kali dijentikan. Lalu, pemantik itu jatuh. Dia segera mencari pemantik itu, tangannya meraba-raba lantai, sementara matanya tidak lepas dari sosok perempuan itu. Lampu di kamarnya mati, hanya cahaya bulan yang menembus jendela sebagai penerang gelap. Pemantik itu ditemukan oleh jemarinya.

Klik. Api menyala, seperti unggun. Rokok terbakar.

“Shhhsh….”  Asap mengepul dari mulutnya.

Tokoh kita menatap takjub, dia seolah sedang meneliti setiap lekuk dan bentuk dari perempuan itu. Mata tokoh kita kini berbinar-binar, dia baru saja menemukan sesuatu yang selama ini ada dalam benaknya.

“Sebentar, sebentar!” ucapnya.

Tokoh kita mendekati tumpukan kertas yang berada dekat printer, tangannya kemudian meraup kertas-kertas itu lalu meneliti satu demi satu, sesekali rokoknya dihisap, asap menyelimuti remang malam di kamar.

“Angel? Jasmine atau Ferrina?”

Dia terus meneliti satu demi satu kertas itu sambil sesekali membacanya. Dalam benaknya ada banyak nama-nama yang diingat yang segera dia ingin yakini bahwa nama-nama itu adalah sesuatu yang terjadi pada malam ini.

“Ah, kalau melihatmu sepertinya kau wanita …. modern! Ya modern! Kalau tidak salah …. Jane!” dia lalu mengacak-ngacak tumpukan kertas yang lain.

Cahaya bulan membantu tokoh kita mencari apa yang dia cari, malam ini memang sangat sepi, suara sepelan apapun pasti terdengar, meskipun itu suara napas sendiri. Malam yang sering orang bilang malam yang paling keparat. Bagaimana tidak, malam yang sunyi seperti ini, tokoh kita masih terjaga dalam kegelisahannya.

“Bukan!” serunya, lalu membanting kertas-kertas itu.

Dia memandang kembali perempuan itu dengan rasa putus asa. Dihisaplah rokok berulang kali untuk menghilangkan rasa gugup dan gelisah yang semakin menyerang pikirannya.

“Namaku Neneng,” ucap perempuan itu.

“Neneng?”

“Iya? Ne-ne-ng.”

“Hahaha… kau terlalu modern, nama itu terlalu udik!”

“Aku memang wanita modern diciptakan untuk mengobati kesepianmu.”

Tokoh kita terperanjat, dia sadar akan sesuatu. Kemudian dia melihat layar laptop, dibaca tulisan-tulisan yang baru saja dia ketik. Lalu, matanya terhenti di sebuah nama, kemudian dia alihkan pandangannya kepada sosok perempuan itu. Persis seperti apa yang dia tulis, tidak ada satu pun yang salah, semuanya sempurna!

***

“Kamu seorang perempuan yang hidup di kampung, segalanya terbatas. Bahkan sekolahmu saja tidak sampai atas. Tapi bicaramu seperti intelektual saja!” ucapku sambil memandang sinis kepada perempuan yang berada di depanku.

Dia sama sekali tidak terusik dengan kata-kataku, tangannya terampil mengukir garis-garis di kain, membuat pola-pola binatang dan pohon.

“Memangnya salah jika perempuan kampung sepertiku terdengar lebih cerdas?”

Aku terdiam.

“Sekarang semua orang harus cerdas kalau tidak pemilihan kepala kampung saja bisa adu jotos karena tidak memakai kecerdasan.”

“Jadi, sebagai perempuan, kamu juga bisa adu jotos?”

Dia menghentikan tangannya, mata yang jernih menatap diriku. Dadaku berdesir melihat sorot matanya, wajahnya tampak bersinar, wajah perempuan lokal yang cerdas dan berpendirian.

“Pernahkan kamu melihat seorang perempuan muda yang tampak begitu rapuh?” tanyanya.

“Pernah. Di kota, banyak perempuan menjadi rapuh karena persoalan uang dan cinta.”

“Aneh bukan? Padahal di kota perempuan-perempuan disekolahkan tinggi. Terkadang pendidikan itu tidak membantu sama sekali untuk seseorang menjadi bijaksana dan dewasa.”

“Memangnya di sini tidak ada perempuan yang rapuh?” serangku.

“Kamu lihat sendiri di kampung ini, perempuan-perempuan bekerja sepanjang hari, bahkan terkadang melakukan apa yang biasa laki-laki lakukan. Memanggul beras, mencangkul, memotong kayu dan menggali sumur. Sejak dulu, wanita sudah ditakdirkan untuk perkasa.”

“Apakah itu artinya kamu ingin mengatakan bahwa perempuan lebih hebat dari laki-laki?” tanyaku semakin sinis.

“Setidaknya, kaum lelaki sadar bahwa perempuan itu bukan kaum yang lemah. Mereka pekerja keras dan setia, mereka juga layak untuk menjadi seorang pemimpin. Sebab, terkadang urusan rumah tangga memang dipimpin oleh perempuan,” jawabnya sambil tersenyum.

Dia kemudian melanjutkan pekerjaannya. Aku mengamati perempuan ini seluruhnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sungguh perempuan kampung yang luar biasa. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan perempuan secerdas dan sekeras dia. Sepertinya dia memang bergaul, dia mengamati seluruh kejadian di negeri ini. Mungkin juga, dia rajin membaca hingga wawasannya luas. Saking asyiknya berbincang dengannya aku tidak sadar di mana awalnya kami membicarakan tentang gender. Yang jelas, aku terpesona.

Jemari lentik perempuan itu terus bekerja, menggores kain polos dengan garis-garis halus, penuh penjiwaan dia mengukirnya, tampak garis-garis itu membentuk sesuatu yang indah dan berkarakter. Khas sekali, mungkinkah dia sedang menuangkan keresahan dalam dirinya kepada sebuah kain tenun? Atau, dia memang sebenarnya perempuan yang kesepian? Tetapi tidak terlihat olehku wajah-wajah sepi dalam dirinya, tidak seperti perempuan yang aku kenal di kota. Perempuan kesepian yang duduk di sudut gelap sebuah kafe sambil sesekali menenggak wine.

Perempuan yang duduk di kafe itu berwajah cantik, tubuh yang proporsional dan berpendidikan tinggi, namun itu semua tertutup oleh kemuraman yang terpancar dari raut mukanya. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu naik ke atas panggung kafe, dia meliukan tubuhnya mengikuti suara musik. Kemabukannya membuat perempuan itu semakin menikmati alunan musik, semua mata lelaki memandang dengan hasrat ingin memiliki. Lelaki memang bajingan.

Musik semakin berdentum keras memekakan telingaku. Di sini, aku semakin merasa tak nyaman. Hidup di kota memang serba bising, tak ada kenikmatan yang bisa aku rasakan, seolah semuanya hanya semu dan kemunafikan. Perempuan itu semakin lincah di atas panggung, liukan tubuhnya membuat hasrat lelaki membara. Aku tertegun menyaksikan itu semua. Tanpa kusadari bergelas-gelas wine kutenggak untuk meredam hasrat. Tetapi, tubuhku semakin memanas, kepalaku lunglai, jatuh ke meja.

“Kamu mabuk?” tanya perempuan itu yang entah sejak kapan berada di sampingku.

Aku mengangkat kepala, terasa berat. Kusaksikan kafe sudah tampak lengang. Rupanya, aku memang mabuk.

“Kepalaku hanya sedikit pusing,” jawabku.

“Mari ikut aku!” ajaknya.

“Ke mana?”

“Minum bir.”

Tanganku diseret oleh perempuan itu, aku tak berdaya mengikuti gerak kakinya menuju parkiran lalu masuk ke dalam sebuah mobil.

“Kamu boleh memilikiku dengan harga cocok,” ucapnya setelah di mobil.

Ah, sialan! Mengapa aku harus bertemu dengan perempuan cantik dan cerdas di kota ini tanpa cinta. Mereka hanya butuh uang, mereka tidak butuh kedewasaan dan kebijaksaan dalam menghadapi hidup ini.

“Mau tidak?” katanya setengah memaksa.

“Aku tidak punya uang,” jawabku.

“Miskin!” Perempuan itu melemparkan tubuhku ke luar dari mobil, lalu mobil itu melaju meninggalkanku yang masih setengah mabuk.

Aku melihat kelebatan cahaya lampu mobilnya saat berbelok dan menuruni tempat parkir, masih teringat dalam benakku, liukan tubuhnya, wajahnya yang cantik dan senyumnya yang manis. Semua itu hilang dengan sekejap hanya gara-gara uang.

“Kamu melamun?” tanya perempuan kampung itu.

Kulihat matanya yang semakin jernih, dia tersenyum. Guratan ketulusan dari bibirnya membuat dadaku berdesir.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Neneng.”

***

Tokoh kita mengucek-ngucek mata, untuk kesekian kali dia ingin memastikan apakah sosok perempuan di depannya adalah tokoh yang ditulis di cerpennya. Dan untuk kesekian kali dia menyakini bahwa ini memang terjadi. Tokoh cerpennya hidup, berdiri di hadapannya dengan tersenyum manis.

“Aku di sini,” ucapnya.

“Ini mustahil!”

“Tidak. Bukankah segalanya mungkin terjadi di dunia ini.”

“Tapi …”

“Namaku terlalu kampungan bukan untuk ukuran tokoh yang cerdas, modern dan dewasa?”

“Bukan itu. Tetapi mengapa tidak semua perempuan seperti dirimu?”

“Ah, mengapa juga semua laki-laki tidak sepertimu?”

Tokoh kita terdiam, berpikir mencari jawaban.

“Semua itu pilihan, bukan?”

“Pilihan?”

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, berulang kali, semakin lama semakin keras membuat daun telinga bergetar. Tokoh kita mengangkat kepala diiringi dengan mata terbuka, sorot cahaya matahari menembus kaca jendela, menyilaukan mata. Tokoh kita melihat ke sekeliling kamar, kertas berantakan di mana-mana, buku-buku berserakan dan asbak yang penuh abu, puntung rokok.

Tokoh kita bangkit dari tempat duduknya, berjalan menghampiri pintu yang digedor, dia membuka pintu, seorang wanita gemuk berdiri dengan wajah yang bengis.

“Bayar kos, udah tiga bulan kamu tidak bayar!” bentaknya.

“Maaf Bu, honor menulis cerpenku belum turun, bisa minta tempo sebulan lagi?”

“Tidak bisa. Bayar atau minggat!”

Perempuan itu tolak pinggang, tokoh kita berpikir mungkin inilah perempuan yang sebenarnya, dan dia adalah laki-laki yang sesungguhnya.***


Nana Sastrawan lahir, 27 Juli. Dia pernah menjadi peserta Mastera Cerpen (Majelis Sastra Asia Tenggara 2013) dari Indonesia bersama. Meraih Penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Solilokui (2019). Buku Kumcernya adalah Ilusi-delusi (2015), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Dan buku cerita anak Telolet (2017), Aku Ingin Sekolah (2018), Kids Zaman Now (2018). Buku antologi puisinya, Tergantung di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2011). Penulis bisa disapa di akun Facebook, Youtube, Twitter dengan nama pena di atas, atau kunjungi www.nanasastrawan.com.

Buku, Resensi

Tawaran Eksplorasi Bentuk Bercerita dan Catatan Lain

Oleh Doni Ahmadi

Setelah diumumkan pada Desember tahun lalu, Aib dan Nasib, pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2019 karangan Minanto akhirnya terbit pada Juli lalu. Sebagaimana karya-karya para pemenang sayembara novel DKJ sebelumnya, buku ini tentu saja ditunggu banyak pembaca. Hal lain yang membuat novel ini begitu dinantikan kemunculannya, tak lain karena catatan pertanggungjawaban dewan juri yang menyebut bahwa novel ini bercerita dengan fragmen-fragmen episodik dan sarat dengan eksperimen bentuk—sesuatu yang jarang mendapat tempat pertama.

Tengok saja beberapa catatan penjurian terhadap naskah para pemenang sayembara novel DKJ sedekade sebelumnya: Orang-orang Oetimu (2018) karya Felix K. Nesi; Semua Ikan di Langit (2016) karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie; Kambing dan Hujan (2014) karya Mahfud Ikhwan; dan Semusim dan Semusim Lagi (2012) karya Andina Dwifatma—tahun 2010 hanya menghasilkan empat unggulan tanpa pemenang utama. Di antara empat pemenang ini, barangkali hanya naskah Ziggy yang memiliki kecenderungan tersebut, para juri mencatatnya sebagai “serangkaian eksperimentasi yang tetap menyesuaikan diri pada bentuk-bentuk yang sudah ada.”

Sisanya, tema cerita dan kecakapan para pengarang dalam mengolah narasi, tokoh dan peristiwa masih menjadi penentu utama yang membuat karya-karya tersebut berhasil meraih pemenang pertama. Sedangkan novel lain yang dianggap sebagai karya eksperimen biasanya berakhir sebagai pemenang unggulan. Misal, Curriculum Vitae (2016) karya Benny Arnas yang menawarkan bentuk cerita dengan bab-bab yang pendek atau 24 Jam Bersama Gaspar (2016) karya SabdaArmandio yang dianggap menawarkan kebaruan dalam kerangka cerita detektif.

Kehadiran Aib dan Nasib karya Minanto ini bisa dibilang cukup memberi angin segar bagi para penulis dengan kecenderungan avant-garde di Indonesia untuk terus mengeksplorasi bentuk bercerita—alih-alih menyebutnya sebagai bentuk baru, paling tidak—yang sebelumnya belum pernah digunakan para penulis prosa di Indonesia. Hal ini pun sejalan dengan apa yang ditulis Budi Darma pada kumpulan esainya, Solilokui (1983), “Jumlah dan horizon karya sastra Indonesia terbatas, karena itu, hanya dengan menyandarkan diri pada sastra Indonesia kurang menjamin tumbuhnya wawasan sastra. Bukan hanya makin banyak karya sastra yang kita baca makin baik, akan tetapi juga, dan inilah yang perlu, makin banyak karya sastra yang baik mutunya yang kita baca, makin baik juga wawasan sastra kita. Dan karya sastra dunia yang baik bukan main banyaknya.”

Novel Aib dan Nasib nyatanya memang memberikan kita pengalaman pembacaan naratif yang berbeda, novel ini berjalan dari paragraf-paragraf pendek dalam empat rangkaian cerita dengan masing-masing tokoh utama yang berbeda pula dan baru diketahui saling bertaut satu sama lain setelah melewati beberapa bab. Gaya bercerita yang mirip dengan yang dilakukan pengarang Peru, Mario Vargas Llosa, dalam novel The Time of The Hero. Atau dalam konteks sastra Indonesia pernah dilakukan oleh A. Mustafa dalam novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman maupun Nukila Amal dalam novel Cala Ibi.

Pilihan alur maju-mundur, tidak linear, bentuk sirkular, cerita yang tumpang-tindih dalam novel Aib dan Nasib memang membuat novel ini cukup menawarkan gaya pengisahan yang berbeda, dan sekaligus memiliki kesan begitu rumit. Dan memang demikian, pembaca, akan sangat mungkin membalik mundur ke halaman sebelumnya karena hal ini—bab yang kelewat pendek dan tokoh-tokoh utama tiap rangkaian cerita yang berbeda.

Menariknya, cerita yang diangkat dalam Aib dan Nasib ini bisa dibilang cukup karib dengan keseharian orang-orang di Indonesia—terlebih bagi kita yang dekat dengan kabar kriminal di TV—meski berlatar di dua desa kecil di Jawa Barat. Kita akan diajak Minanto menelusuri mulai dari masalah rumah tangga, video skandal seks, hamil di luar nikah, perisakan, kemiskinan, masuknya teknologi, orang yang mendadak gila karena gagal jadi wakil rakyat, hingga gosip di warung makan. Semua hal ini berhasil diramu Minanto dengan cukup baik. Setiap peristiwa terjadi dalam rangkaian kausalitas yang ajek dan masuk akal—jauh dari adegan sinetronik yang serba sekonyong-konyong.

Keberhasilan Minanto membawa sesuatu yang dekat ini pada akhirnya membuat cerita dalam bingkai pengisahan yang rumit menjadi tidak begitu terasa mengganggu. Contohnya adalah dialog dari tokoh Marlina dan Ayahnya berikut ini:

“Kau lupa perkataanku barusan.Sesama saudara itu harus saling membantu.”
“Ini gara-gara sampean tidak bisa bekerja lagi.”
“Lancang! Tidak pantas kamu bicara begitu.”
“Lah, memang aku harus bicara bagaimana lagi? Memang benar begitu…” (hlm. 25)

Dialog macam ini tentunya sudah sering muncul, industri hiburan sudah tak terhitung menghadirkan konflik semacam ini. Hal-hal yang mengacu pada ingatan kolektif dan sesuatu yang familiar memang diracik Minanto sedemikian rupa dan membuat novelnya sama sekali tidak berjarak. Bahkan menjelang akhir kisah, kita, mau tak mau akan sepakat dengan dialog lain dalam novel ini dan dibuat mafhum mengapa antara kita dan novel ini seolah memiliki kedekatan.

“Malah aku heran, kenapa TV-TV tidak datang ke Tegalurung buat siaran berita. […] Padahal kukira setiap hari pastilah ada berita kriminal, apalagi di Tegalurung. Tidak pagi tidak siang tidak sore tidak malam.” (hlm. 262).

Keberanian Minanto memilih gaya penceritaan penuh fragmen dan sirkuler, serta pemilihan tema yang diangkat dalam novelnya sama sekali tidak keliru dan benar-benar menghadirkan kesegaran. Namun, bukan berarti novel ini tidak punya masalah.

Beberapa pembaca barangkali akan sedikit terganggu dengan tokoh-tokoh misoginis dalam novel ini—Bagong Badrudin, Susanto, Kartono, hingga Pak Sobirin—meski bisa dimaklumi dan para tokohnya pada akhirnya harus berhadapan dengan ironi yang bikin maskulinitasnya dipertanyakan. Belum lagi nasib yang menimpa tokoh-tokoh perempuan tanpa kehendak—Gulabia dan Uripah. (Dalam konteks novel ini, hal ini sebetulnya bisa kita terima dan juga sebagai penguat logika cerita). Selain itu, ada juga salah ketik nama tokoh di beberapa bagian yang sangat bisa direvisi untuk cetakan selanjutnya.

Secara keseluruhan, rasanya Minanto memang berhasil membawa angin segar serta memantik gairah dan tawaran eksplorasi bagi para pengarang setelahnya untuk mencari bentuk narasi maupun penceritaan berbeda di luar konvensional novel-novel Indonesia. Hal yang sekaligus meneruskan harapan Budi Darma, memperkaya wawasan Sastra Indonesia.


Doni Ahmadi, menulis cerita pendek. Bukunya, kumpulan cerita Pengarang Dodit (2019).

Puisi

Puisi Gusfahri

Memetik Gitar di Dadamu

Mencintaimu membuatku mengerti banyak hal

Seperti pagi ini yang membawa embun mataku

Pada bunga di halaman dengan meremas dada kiri

Dan berjalan satu kaki.

Aku membaca puisi sebelum membuka pintu

Lalu keluar dan terus membacanya.

Sebab aku percaya langit adalah jendela rumahmu

Meski cuaca belum bisa aku raba.

Jangan selalu bertanya

Mengapa hujan membuatku betah di luar rumah

Serta kemarau menjadikanku tabah pada gerah

Bisa aku jawab sekarang kekasih?

Tidak!

Di matamu aku masih saja rumput

Yang disiram dengan pestisida air matamu

Berperang dan berhijrah dari trauma.

Kau mengatakan hal sama, seperti:

Tulang kita semakin berwarna susu.

Sia-sia kekasih!

Sama halnya bunyi

Saat aku belajar memetik gitar di dadamu.

Lagu itu membuatku mengerti

Bahwa cinta tidaklah sederhana

Ia adalah luka mengasyikan yang

Membuatku menundukkan kepala.

Sekarang apa yang kurasakan

Tangan meremas keras dadaku

Merupakan amin pemetik dadamu.

Mata Pena, 2020.


Menikmati Musim

Langit berkata, aku bisa menangis

Namun matamu lebih awal memulai hujan.

Angin barat dan timur beradu

Awan menunda segala perpindahan

Menghitam. Di langit mataku.

Sedang, sisa sia-sia penyair menjadi cinta.

Dan Tuhan sedang bercanda

Bercanda bersama kita dan kata di kepala.

Kita hari yang berbeda, katamu.

Namun, aku langit

Merindukan sungging pelangi di bibirmu.

Aku membuka almanak yang

Menyimpan angka-angka kusam.

Sama sekali tidak ada kedip matahari.

Puisi menatap jemari yang gigil.

Mataku makin tertuju pada kaki

Yang tercatat di akhir bulan.

Ah! Sekarang musim cinta

Angin sedang membawa angka berwarna.

Mata Pena 2020.


Sebelum Hujan Meninggalkan Bekas

Hari yang basah, dengarlah ritmisku

Menyentuh tanah dan kuyup.

Di jendela, segala renta tersimpan.

Kesah kasih menarik ingin aku kisahkan

Padamu. Seperti, aku yang tak bisa rintik

Namun basah tanpa sengaja.

Aku ingin berlarian di kota

Yang bisa kuartikan mengeja gila.

Gila menjadikanku kekar tangkar

Dari segala yang tengkar, sebelum

Aku membaca rambu-rambu cinta.

Tapi, aku tak berhati-hati pada kata itu.

Aku mencoba keluar dan meratap

Kendaraan yang teramat cemas

Lalu lalang di kepala. Getar kakiku memaksa maju

Meninggalkan kursi, meja, kopi

Dan diriku sendiri di rumah. Di luar sangat bebas,

Aku berteriak mengacungkan bunga puisi.

Berlarian menolak semua bengkak.

Aku semakin riang, meski

Hujan dari tadi menghentikanku.

Membuat segala luka tinggal, mungkin.

Mungkin selamat dari sehat. Atau

Korban kelaparan, sebab

Mengganti mata ibu di saku dada

Dengan mata yang aku tak tahu milik siapa.

Tapi lepas dari semua itu

Tubuh tiba-tiba jatuh di jalan

Yang tak sampai kutempuh separuh. Sial,

Puisi dan aku menjadi medan tabrak lari.

Darah bersimbah menyembah kepulangan.

Aku berminat pulang. Namun,

Hujan lebih dulu menghapus jejak palung.

Meninggalkan pelangi yang tersenyum

Karena indah seorang diri. Sedang

Aku terus menahan pandang,

Memeluk lutut sendiri.

Semenjak itu, kaca adalah sahabat setia.

Aku menatapnya dan tak berhenti hati mengingat.

Pakaian yang kukenakan di waktu itu

Dibiarkan amis darah

Tanpa sesekali mencucinya.

Menunggu hari selanjutnya untuk kupakai.

Di hari ini.

Mata Pena, 2020.


Jejak Anak Palestina

Seorang anak berkepala polos terus meratap langit

Meremas luka di dadanya.

Bangunan kusam tak lagi membentuk sebuah kota

Tertata di sela sakitnya.

Mereka umpama duli di kaki persembunyian,

Masa layang-layang adalah keringat aborsi.

Tubuh sesaat bisa menjadi bidikan

Senapan zionis yang tak kenal bosan.

Derita tanah darah menyimpan anak-anak

Membasuh memar dengan air matanya

Tanpa batas tahun dan waktu.

Seorang anak berkepala polos terus meratap langit

Yang berupa mata ayahnya.

Tatapan terakhir menyusun debar

Aku tidak bisa memberimu masa kecil

Kata ayahnya.

Tubuh yang memutih dan menanggung puluhan lubang

Tergeletak di pangkuan anak itu.

Derita tanah darah menyimpan anak-anak

Mengganti panji pusaka ayahnya.

Kobar jihad tak ada hentinya.

Mata Pena, 2020.


Perjalanan menuju rumahmu

“Kau sedang di mana?”

Suaramu ringkih yang entah asalnya.

Aku sedang berlarian bersama lampu mobil

Mengendus garis putih menuju rumahmu.

Di dalam baja berjendela kaca ini

Aku mengamati kota dengan serius mungkin:

Gedung adalah tubuhmu yang nampak

Pada langit mataku, meski hanya memandang jarak.

Setiap tikungan kulalui dengan klakson

Dan degup dada. Seseorang sering meneriakiku

Agar memasang spion sebelum orang lain

Menyalip dan membekaskan air mata,

Dan itu terus berulang-ulang.

Sesampainya di rumahmu,

Aku memarkirkan diri di halaman

beranjak pelan menuju pintu dan mengetuknya.

Tak ada satu pun yang muncul.

“kau sedang di mana?” aku bertanya balik

“Aku sedang berada di pikiranmu”.

Mata Pena 2020.


Gema Malam Anak Rantau

Malam ini, seseorang menahan diri

Meraba jendela dengan kubangan air mata.

Di kota yang tak menjamin ia lahir

Terus tabah menghidu rindu

Melagukan ninabobo tanpa seorang ibu.

Pikirannya membabi buta

Merekam opera yang terjadi di siangnya:

Memungut uang dari seluruh peluh,

Kepergok orang asing yang tak punya pandang.

Ia menceritakan semua dengan tangis

Sembari mengusap foto keluarga.

Di malam ini, tiada teman selain sajadah

Ringkih tubuh ia putar pada biji tasbih:

Satu putaran berupa doa,

Selanjutnya adalah air mata.

Mata Pena,2020.


Bapak Seorang Petani

Terdapat ladang di keriput kening bapak

Tempat  mencangkul dan membajak,

Menanam kewajiban dengan peluh

Tabah menyiram seluruh.

Ekspedisi hidup berkalang otot dan doa

Selapang hati ia memanennya

Tanpa mempersaksikan air mata.

Mata Pena,2020.


Panggil Aku Merdeka

Cerita dimulai saat aku membuka buku tua

Menyapa seseorang yang matanya masih mengalir darah

Menjelma mata air.

Panggil saja aku merdeka, ungkapnya.

Aku terkesan melihat orang itu

Setiap menulis sajak dengan bambu runcing

Dan membacanya penuh tekad

Tumbuh rimbun pohon di dadaku.

Sampai sekarang pun

Sajaknya menjadi lagu

Bagi tidur anak-anakku.

Mata Pena, 2020.


Di Laut Kutemukan Matamu Tenggelam

Laut mengingatkanku pada kegaduhan

Antara waktu dan tubuhku yang merebut ombak

Aku sering kalah, ringkih kakiku lemah di atas karang-karang

Karang hatimu. Namun aku suka laut.

Nun sebelum aku mengenal tepi

Tak satu pun kutemukan siapa nyala

Dalam pancarona langit

Yang menjadi dongeng paruh baya waktu

Seperti, aku ingin menjadi sampan di tengah ombakmu

Di tepi, karang mengajariku rela

Pada setiap yang pergi

Namun, matamu masih pasang

Seakan lautan kehilangan luas

Aku suka caramu menatap

Bahkan setelah mati

Aku ingin dimumi bersama karang-karang

Dan leluasa  jeremba swastamita matamu.

Mata Pena, 2020.


Sebut Aku

Sebut aku wadah merdeka:

Darah pahlawan adalah segumpal daging

Yang berbiak menjadi aku.

Sebut aku panji suci:

Kibar merah putih serupa zirah

Kukuh di dada.

Sebut aku bambu runcing:

Tekad yang tajam melebihi mata pedang

Tertancap sorak kemakmuran.

Mata Pena, 2020.


Gusfahri atau Gusti Fahriansyah, berasal dari Desa Torbang Batuan Sumenep menggeluti sastra mulai dari Majelis Sastra Mata Pena, SMA Annuqayah, Persatuan Santri Lenteng (Persal), komunitas Tumpah Pena, serta Sanggar Gemilang. Juara1 LCPN SIDERIS INDONESIA. Karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak juga online. Surel: [email protected]