Cerpen

Lelaki yang Memilih Jalan Memutar

Cerpen Iin Farliani

Lelaki itu datang lagi. Ia berjalan seperti biasanya. Ia memakai kacamata. Wajahnya selalu tampak pucat dan tak bertenaga. Aku memandangnya dari konter kedai milikku. Ia sudah memutari jalan sebanyak tiga kali. Artinya, ia juga sudah tiga kali memutari kedaiku. Trotoar ini cukup lebar, berada di depan gedung kesenian. Ada halaman bercoran semen juga yang bersambungan dengan trotoar. Di pinggirnya, pedagang kaki lima menggelar dagangannya. Aku pernah beberapa kali masuk ke dalam gedung kesenian, mengantar pesanan mi ayam dan bakso untuk seniman-seniman yang mengadakan pertemuan di sana. Mereka sangat senang berkumpul, berbicara yang tidak-tidak dan merencanakan hal besar yang tak pernah diwujudkan. Sedikit banyak aku mengetahui apa yang terjadi di gedung kesenian itu. Tapi, laki-laki ini, baru pertama aku melihatnya ketika tak sengaja aku memperhatikan penampilannya yang mencolok.

Beberapa hari terakhir ini, ia suka mengitari gedung kesenian. Ia berjalan sendirian di sepanjang trotoar. Ia akan menempuh jalan memutar untuk kembali lagi ke titik yang sama. Wajahnya selalu tampak serius seakan begitu banyak beban ditimpakan begitu saja di pundaknya dan ia tak punya kuasa untuk menolak. Lelaki itu berjalan, menatap lurus ke depan. Tubuhnya yang jangkung dengan kedua pundak yang berayun-ayun secara perlahan menghilang kemudian di belokan yang menghubungkan jalan lain menuju arah trotoar di belakang gedung.

Kali lain karena terlalu sering memperhatikannya lewat, aku menghitung sudah berapa putaran yang diselesaikannya. Aku yakin sembilan putaran. Kadang aku mendapati ia menggenapinya menjadi sepuluh. Tapi, pada hari itu ketika putarannya baru mencapai angka lima, ia berhenti di depan kedaiku. Ia duduk, terengah-engah membetulkan posisi kakinya yang diluruskan. Ia melepas kacamatanya. Kacamata yang menampakkan lelaki itu sebagai seorang kutu buku. Terlihat bintik-bintik keringat berkumpul di bawah hidungnya.

“Mi ayam atau bakso?” tanyaku. Pertanyaanku rupanya cukup mengejutkannya. Ia baru sadar ada seorang laki-laki yang berdiri di belakang konter.

“Pesan minum saja. Jus kalau ada,” katanya sambil melirik ke arah gedung kesenian.

Aku mengangguk. “Alpukat, jeruk, atau leci?”

“Alpukat? Ada alpukat, ya? Berikan alpukat kalau begitu,” pintanya masih dalam tekanan suara yang sedang mengatur irama napas agar dapat bercakap dengan tenang.

Ketika aku datang ke mejanya dan meletakkan gelas jus alpukatnya, lelaki itu tiba-tiba berkata, “Istri saya hilang.” Suaranya begitu datar hingga terdengar tidak nyata. Seolah ia sedang memberitahu peristiwa biasa di hari yang sangat biasa. Ia mengaduk jus alpukatnya, memiringkan gelasnya sedikit, memicingkan mata sebentar lalu menyereputnya perlahan, memiringkan gelas lagi seakan tengah memastikan apakah jus yang telah diseruputnya benar-benar jus alpukat.

“Hilang. Menghilang begitu saja. Malam terakhir ketika ia tampil di gedung kesenian ini,” lelaki itu berhenti sebentar lalu menunjuk gedung kesenian dengan sedotan limunnya. “Ia menyanyi tiga lagu. Menyanyi sambil bermain musik. Lalu dia menghilang. Sampai sekarang belum kembali. Teman-teman satu grup musiknya tidak tahu apa-apa tentang kepergiannya. ‘Kami tidak tahu. Bagaimana mungkin?’ begitu kata mereka. Dia terlihat baik-baik saja malam itu. Tidak terlihat ada sesuatu yang mencurigakan. Menyanyikan tiga lagu, berjingkrak di atas panggung, berpeluh bersama anggota grup yang lain. Lalu mengapa ia menghilang? Sampai kini tidak ada yang tahu. Tidak ada yang berhasil menghubunginya.”

Aku terdiam. Ia masih muda. Meskipun ketika mengenakan kacamata tebal, umur di wajahnya terlihat bertambah sedikit. Tetapi, tetap saja roman muka yang memancar darinya akan membuat orang-orang tidak menyangka ia sudah menikah. Aku menunggu kata-kata berikutnya. Aku ingin bertanya apakah ia sudah melapor  polisi. Tapi, rasanya pertanyaan itu kurang pantas. Benar-benar tak pantas diucapkan. Bila mengingat lagi hari-harinya yang dihabiskan untuk berjalan memutari gedung kesenian ini setiap sore, mengingat upayanya yang tampak betul-betul gigih, meminta bantuan polisi bukanlah suatu hal yang mesti dilakukan. Bahkan mungkin terdengar tidak penting.

“Lalu Bung memutari jalan ini setiap hari agar suatu saat bisa bertemu dengan istri Bung?”

Lelaki itu mengenakan kacamatanya kembali. Ia terdiam sebentar sambil mencecap sisa-sisa jus yang tertinggal di sudut bibirnya. “Tidak juga,” katanya.

“Saya setiap hari berjalan memutari gedung kesenian ini karena jalan memutari gedung ini memberikan kepada saya semacam ketenangan. Perasaan tenang yang sukar dijelaskan. Pokoknya, setelah mengelilingi gedung ini berkali-kali, pikiran yang semula kusut mendadak dapat diurai lagi. Setelah itu, saya dapat tertidur dengan nyenyak di malam hari. Saya kira hanya dengan pikiran yang tenang saya dapat mengumpulkan sedikit demi sedikit petunjuk tentang alasan kepergian istri saya.” Ia menyerahkan gelas jusnya yang sudah kosong lalu meletakkan uang pembayaran di atas konter. Ia sangat senang dengan jus buatanku. Benar-benar enak, katanya.

Sejak hari itu, lelaki berkacamata setiap kali lelah berjalan atau sesudah menyelesaikan putarannya akan datang ke kedaiku memesan jus alpukat. Kadang-kadang ia mengaku ia tak sempat makan dulu di rumah. Maka, ia memesan juga mi ayam. Menyantap mi dengan mulut penuh. Menyudahinya dengan meneguk jus alpukat. Orang-orang memandang heran. Melihatnya tiap sore berjalan memutari gedung tanpa terlihat bosan. Ada saja yang menasihatinya, kalau mau berolahraga pergilah ke taman kota. Di sana disediakan banyak jalur untuk mereka yang suka lari-lari kecil. Jangan di trotoar ini. Trotoar ini milik pedagang kaki lima. Di sini orang duduk-duduk, kongko-kongko sambil makan dan minum. Tiap kali diberitahu seperti itu, lelaki itu menggeleng. “Istri saya hilang,” jawabnya ringan. Lalu meninggalkan wajah-wajah yang terbengong- bengong kebingungan.

Kalau mengingat lagi cerita lelaki itu, aku mengingat seorang perempuan bernama Win. Aku juga baru sadar, akhir-akhir ini ia tidak pernah terlihat lagi di gedung kesenian. Dari balik jeruji gerbang pendek, aku tidak melihatnya lagi berlari-lari memutari lapangan rumput hijau di sana bersama aktor-aktor yang berlatih olah tubuh. Di gazebo yang dinamakan “kuil rembulan” tempat anak-anak belajar mengarang cerita, Win juga tidak ada. Dulu aku sering melihatnya bergurau bersama anak-anak kelas sastra di sana. Aku cukup mengenalnya sekilas. Ia pernah beberapa kali memesan mi ayam kala jam latihan telah rampung. Aku pernah menyaksikan pertunjukannya, dua atau tiga kali barangkali. Ia aktris teater yang cukup bagus menurutku. Ia perempuan muda yang menarik.

Suatu hari aku memberanikan diri bertanya pada lelaki berkacamata itu siapakah nama istrinya. Ia terdiam menatapku seakan aku telah mengajukan pertanyaan yang terlarang.

“Win. Namanya Win,” katanya pelan.

Aku benar-benar terkejut. Jadi, perempuan muda yang kukagumi selama ini ternyata adalah istri dari lelaki berkacamata? Dan kini ia telah hilang?

“Win? Win aktris teater itu?” tanyaku gugup.

Lelaki itu memandangku bingung. Ia menaikkan sedikit alisnya. “Bukankah sudah pernah saya ceritakan pada Bung kalau istri saya menghilang sesudah ia menyanyi dan bermain musik bersama kawan-kawannya di gedung kesenian ini?”

“Saya ingat, Bung! Saya ingat betul. Tapi, nama Win itu, saya kenal juga seorang bernama Win. Tidak kenal dekat. Hanya tahu ia cukup menonjol di lingkaran seniman. Pernah juga saya menonton pertunjukan teaternya. Jadi, selama ini selain menjadi aktris teater, Win juga punya grup musik?”

Lelaki itu bertambah bingung. Ia terdiam lalu lagi-lagi melihatku dengan pandang tajam. “Win siapakah yang Bung maksud? Win istri saya adalah penyanyi grup musik. Grup musiknya sedang naik daun dan sering diundang mengisi acara di gedung kesenian ini.”

“Nah! Apakah memang ada dua perempuan bernama sama? Dua perempuan bernama Win yang juga sering berkegiatan di gedung kesenian ini? Karena itulah saya bertanya, Bung. Win aktris teater itu juga akhir-akhir ini tidak pernah terlihat lagi di gedung kesenian. Saya kira, istri Bung adalah Win aktris teater itu. Tapi, sejauh pengamatan saya, saya tidak pernah melihatnya menyanyi dan bermain musik.”

Lelaki itu terdiam lagi. Ia menundukkan wajahnya dan menatap hampa pada buku menu yang ada di meja. Cukup lama ia terdiam. Lipatan di keningnya semakin berkerut. Ujung jari-jarinya mengetuk meja. Lalu ia mengangkat wajahnya, masih dalam roman muka seorang yang tengah berpikir keras.

“Sejujurnya…” Ia berhenti sebentar seolah sedang mencari kata-kata yang tepat.

“Sejujurnya, Bung. Saya tidak tahu apa-apa tentang istri saya. Tidak tahu perihal dunianya. Apakah ia memang hanya bernyanyi bersama grup musiknya? Apakah ia bermain teater? Saya tidak tahu. Benar-benar tidak tahu.”

Bagaimana mungkin? pikirku. Kau suaminya. Mustahil kau tidak tahu kehidupan istrimu di luar rumah? Tapi, aku tidak berkata apa pun. Aku diam seturut dengan diamnya yang sedang bersiap mengeluarkan kata-kata.

“Bagaimana bisa aku suaminya tidak tahu apa-apa? Barangkali Bung berpikir begitu. Tidak. Tidak. Pastinya berpikir seperti itu. Aku beritahu, hidupku memang terpisah dengan dunianya. Ia berkembang di kota ini. Terus berkembang. Sementara aku bekerja di daerah terpencil, pantai teluk yang jauh perjalanannya lima jam dari kota. Sebut saja aku ilmuwan. Aku mengurus segala macam tentang kerang di balai kelautan milik pemerintah di sana. Aku bekerja setiap hari di laboratorium dan sangat jarang punya kesempatan untuk pulang ke rumah. Tidak juga punya kesempatan untuk berbicara tentang kesenian. Tentu saja kami tetap berkomunikasi. Tetapi, tahun-tahun yang panjang itu ternyata lebih banyak diisi oleh cangkang kosong.”

“Bung tahu mengapa saya sebut cangkang kosong? Di laboratorium balai juga ada bertoples-toples cangkang kosong. Cangkang dari kerang-kerang yang sudah pernah dipanen. Tiap kali melihat cangkang kosong itu, aku teringat hubunganku dengan Win. Aku tahu ia berkesenian. Tapi, bagaimana hasratnya terhadap seni yang digelutinya itu, kendala apa yang ia hadapi, apa yang tidak ia suka atau apa yang betul-betul ia sukai, pandangannya terhadap sesuatu yang disebut seni, sungguh semuanya hanya dapat diraba. Ibaratnya, aku ini hanya penonton yang mencoba mengamati dari seberang tembok. Apa yang ada di sebalik tembok itu hanya kudapatkan sedikit, sangat sedikit. Tak sampai seujung jari.”

Karena itulah, ketika aku berkesempatan menonton pertunjukan musiknya, aku benar-benar dibuat terkagum-kagum. Ia menyanyi dan bermain musik dengan amat memukau. Bagaimana bisa aku baru menyadarinya? Win benar-benar hebat. Dan aku baru bisa melihat kenyataan itu di malam pertama aku menyaksikan pertunjukan musiknya. Melihatnya di panggung sudah membuatku tergila-gila. Usai pertunjukan, aku menemuinya di belakang panggung. Aku berkata dengan sungguh-sungguh aku akan meninggalkan duniaku dan ikut terjun ke dunianya. Tentu maksudku adalah aku akan pindah kerja dari pantai teluk yang sunyi itu agar kami terus saling berdekatan. Mari anggap saja kita memulainya dari awal lagi. Win tampak bahagia dan tak percaya. Aku menunggunya di luar gedung. Tapi malam itu ia tidak juga keluar. Ia menghilang. Menghilang begitu saja. Aku tahu pada akhirnya ia memang memutuskan untuk pergi.”

Lelaki itu menghela napasnya seakan beban berat telah ditimpakan lagi padanya. Ia seperti menyesal telah menceritakannya padaku. Ia lalu menatap tajam padaku dan berkata, “Jadi, bila Bung berpikir suami istri pasti saling mengetahui satu sama lain, pasti saling mengenal, Bung keliru! Kalau Bung berpikir seperti itu, Bung betul-betul keliru!”

Hari-hari berikutnya aku masih sering melihat lelaki berkacamata itu menempuh jalan memutar seperti biasanya. Namun, ia tidak lagi singgah di kedaiku. Ia bahkan tidak memberi sapaan hangat seperti dulu ketika secara tak sengaja pandangan kami bertubrukan. Hari-hari berlalu, aku tidak lagi terlalu memedulikan perubahan sikapnya itu.

Suatu hari tibalah hari yang tidak biasa ketika secara mendadak seniman teater menggelar pertunjukan di depan gedung kesenian, di halaman bercoran semen dekat lapak para pedagang kaki lima. Laki-laki dan perempuannya mengenakan pakaian serba hitam. Mereka menghias wajah dengan celak yang amat tebal, menyisakan bentuk lingkaran di bawah mata yang tak sepenuhnya selesai. Mereka berjalan beriringan mengikuti seorang pemuda berambut gimbal yang memegang lonceng. Mereka menggumamkan sesuatu bersama-sama, terdengar seperti sebuah mantra dalam ritual pemanggil setan. Orang-orang yang kebetulan lewat, mendadak berhenti lalu menepikan kendaraan mereka. Orang-orang mengeluarkan tustel dari saku dan memotret para aktor itu.

Hening sesaat. Para aktor membentuk lingkaran. Si pemegang lonceng menghampiri satu-satu aktor yang berdiri. Ia mengelilingi sambil membunyikan lonceng di dekat telinga mereka. Lalu tiba-tiba dari arah yang berlawanan, seorang perempuan muda mengenakan pakaian serba hitam dan penutup mata berlari ke arah lingkaran, memasukinya dengan paksa. Gerakannya melompat indah. Ia melakukan gerakan meroda dan mendaratkan tubuhnya yang ramping. Orang-orang memotret, bertepuk tangan. Mereka bertepuk tangan meski tak tahu maksud dari pertunjukan itu. Barangkali itulah yang disebut teater kontemporer. Serba baru, serba mengundang banyak tafsir.

Pertunjukan selesai. Orang-orang bertepuk tangan lagi. Perempuan yang masih mengenakan penutup mata itu menghadap ke penonton. Aku terkejut. Itu Win! Tidak salah lagi, itu Win! Aku bisa menandai bentuk wajahnya meski ia mengenakan penutup mata. Aku segera ingin menghampirinya. Tiba-tiba aku teringat dengan lelaki berkacamata. Langkahku terhenti. Aku berdiri di tempatku. Siapa yang peduli apakah ia memang Win? Apakah ia adalah Win yang kukenal atau Win, istri lelaki berkacamata itu? Ataukah Win kedua-duanya?       Aku mengedarkan pandang. Barangkali di antara penonton ada lelaki berkacamata itu. Tapi, tidak. Trotoar dipenuhi orang-orang yang masih mengira pertunjukan akan berlanjut. Aku tidak dapat meneliti dengan cermat. Barangkali di hari berikutnya aku akan tahu istrinya itu telah kembali atau tidak dengan melihat sendiri, apakah di hari esok lelaki itu masih tetap memilih jalan memutar?

Pejarakan, Juli 2020


Iin Farliani, lahir di Mataram, Lombok. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mataram. Menulis cerpen, puisi, dan esai. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Lombok. Kumpulan cerita pendeknya yang telah terbit berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (2019).

Buku, Resensi

Pengelana Berbunga dan Tamat

Oleh Bandung Mawardi

Herman Hesse, pengarang Jerman mengingatkan cerita perjalanan: penemuan dan kehilangan. Tokoh-tokoh buatan Herman Hesse terbaca sebagai pencari, pengelana, atau peziarah. Novel paling mengesankan berjudul Siddhartha. Novel sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia diterbitkan oleh Grafiti, Bentang, dan Gramedia Pustaka Utama. Tokoh bernama Siddhartha menempuh perjalanan jauh, meladeni godaan duniawi dan menuruti takjub religiositas. Penulisan novel itu membuat pembaca di Eropa perlahan mengerti Timur itu kiblat pengetahuan dan pengalaman religius. Herman Hesse mengisahkan dengan lembut dan memikat.

Di perjalanan-perjalanan, ragu dan pengharapan bergantian mendera. Pada suatu hari, Siddhartha berjalan dan merenung: “Tetapi, apakah gerangan ini, yang ingin kaupelajari dari ajaran-ajaran dan para guru, dan yang sudah begitu banyak mereka ajarkan padamu? Ia memberi jawab sendiri: “Itu adalah diri, tujuan dan intisari dari apa yang ingin kupelajari. Itu adalah diri, dari mana aku ingin bebas, yang kucoba kuasai. Tetapi, aku tak mampu menguasainya hanya bisa menipunya, hanya bisa melarikan diri darinya, hanya bersembunyi darinya. Sesungguhntya, tak ada hal di dunia ini yang sedemikian menyibukkan pikiranku, karena ini adalah diriku sendiri, misteri kehidupanku, bahwa aku adalah satu dan terpisah dari semua yang lain, bahwa aku adalah Siddhartha!” Di Barat, novel itu menguak kemolekan India, bertaburan renungan mengilhami bagi kesusastraan dunia.

Kita telanjur mengenali Herman Hesse dengan Siddharta. Pada 1915, ia sudah menggubah novela berjudul Knulp, mendahului kemunculan Sidhhartha (1922). Novela menampilkan pengelana, membuktikan pengarang memilih menggerakkan makna dengan tokoh-tokoh berjalan kaki ke segala arah. Berjalan kaki menjadi penentu bagi peristiwa, percakapan, dan perhitungan hakikat kemanusiaan. Knulp, pengelana selalu bergerak dan singgah sejenak ke rumah-rumah para sahabat. Ia tak mau menetap, memilih menggerakkan kaki untuk mengunjungi pelbagai tempat: mengunjungi kebaruan dan nostalgia. Di pelbagai tempat, Knulp mengenali pohon, rumah, jalan, aroma, dan lain-lain. Ia bisa membedakan dan mengalami keragaman di perjalanan selama puluhan tahun. Knulp menjadi manusia-berpeta.

Kehadiran Knulp di rumah teman-teman untuk singgah sehari atau sekian hari sering memberi kegairahan hidup, sodorkan hal-hal menghidupkan setelah orang-orang di kelesuan, sibuk, dan rutin. “Jika ia butuh tumpangan maka si pemilik rumah akan senang dan merasa terhormat,” pengakuan sahabat merasa girang mendapat kunjungan Knulp. Sesaat tapi memberi percik dan kobaran bahwa hidup masih bergelimang makna. Knulp teranggap mendatangkan kesantaian dan keriangan. Menumpang itu memicu kerepotan dan pemberian dari tuan rumah. Knulp memang berhak menerima kebaikan-kebaikan berdalih bukan orang bekerja dan mengantongi gaji. Tata cara itu timbal balik terikat persahabatan.

Pengelanaan memang menawan bagi orang ingin merengkuh dunia. Ia mustahil memiliki dunia tapi berjalan kaki setiap hari seperti mencicil di pengalaman terbesar ketimbang menghuni rumah. Pengelana adalah si penglihat segala, diceritakan dengan kata-kata selalu membikin para pendengar tersihir. Pengelanaan pun berisiko menghancurkan raga akibat hujan, angin, panas, dan bau. Knulp berjalan dan berjalan, berhenti sejenak: meresapkan dan mengisahkan.

Di Indonesia, kesusastraan lama juga sering bercerita perjalanan atau pengelanaan. Kesusastraan Jawa kuno malah memberi penguatan di kisah perjalanan untuk mencari kebenaran, kedamaian, keadilan, dan keluhuran. Orang-orang berjalan kaki dengan doa dan pembacaan atas diri selama bersua dengan sesama, alam, binatang, air, batu, dan lain-lain. Pengelanaan itu mencari, tak pernah mudah dan cepat. Orang berjalan jauh, lama, tersesat, dan terjebak. Herman Hesse bukan pembaca sastra Jawa kuno. Ia memiliki bacaan-bacaan mungkin bersumber dari mitologi Yunani, folklor, dan sastra klasik bertumbuh di Eropa. Ia tekun di pengisahan pengelanaan saat Eropa abad XX bergerak cepat beride modernitas: mengubah manusia dan dunia secara fantastis.

Pada suatu masa, Knulp berjalan dan mampir di pekuburan. Peristiwa terlalu mengesankan bagi pengelana mengingat hidup-mati. Herman Hesse mengisahkan melalui sahabat Knulp: “Pekuburan itu, sebagian besar ditandai dengan salib kayu warna putih, berjajar lurus dan melingkar, dan di atas masing-masing tumbuh bebungaan dan aneka tanaman.” Tempat itu teduh, asri, dan hening. Pilihan bagi pengelana merenung dan mengistirahatkan raga bersama orang-orang pernah hidup. Knulp mengandaikan menghuni kuburan. Ia berujar: “Andai aku sudah mati, akan kutunggu hari minggu dimana gadis-gadis datang ke sini untuk melihat-lihat dan memetik bunga dari kuburan, lalu aku akan mulai bernyanyi, tapi sangat pelan.” Si romantis, keberakhiran pengelanaan pun masih ingin tebar pesona.

Sekian tahun berkelana, menggerakkan kaki dan pandangan mata, Knulp menerima ganjaran: sakit paru-paru. Sakit akibat ia adalah manusia luar rumah, manusia diterpa angin malam dan menanggungkan cuaca buruk. Ia sadar pengelanaan masih membahagiakan tapi raga perlahan hancur. Pada kaki, ia mengerti misi belum selesai. Frederic Gros dalam buku berjudul A Philosophy of Walking (2020) memunculkan pengalaman berjalan kaki para pengarang dunia. Sejarah penggubahan sastra, sejarah berjalan kaki. Pengarang di pertimbangan pengalaman dan menghidupi tokoh-tokoh berkelana, berziarah, dan mencari. Frederic Gros menjelaskan: “Saat berjalan kaki, seseorang sering mengalami sesuatu yang disebut kebahagiaan. Itu sering diuraikan oleh penulis dan penyair ketimbang pemikir besar.” Kebahagiaan teralihkan di gubahan puisi dan novel.

Knulp sudah berjalan jauh. Ia mau berakhir. Keinginan terbesar adalah pulang, berjalan kembali ke tanah asal. Berjalan pulang dalam sakit dan keberlimpahan nostalgia, Knulp menulis puisi pendek, dimaksudkan bakal dibaca para sahabat bila ia sudah menghuni kuburan: Bunga-bunga pasti layu/ Saat kabut datang/ Dan manusia pasti binasa/ Dan masuk kubur/ Manusia adalah bunga-bunga/ Mereka pun akan kembali/ Di musim semi/ Dan mereka takkan pernah sakit lagi/ Dan akan ia maafkan semuanya. Pengelanaan sampai akhir. Ia telah berjumpa dan merengkuh semua, telah menceritakan ke para sahabat. Kebahagiaan itu tamat. Begitu.


Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi

Puisi

Puisi Dadang Ari Murtono

pembuat topeng

maut seperti cahaya fajar yang tak terelakkan, atau

angin dusun yang menyusup melalui bilah gedek

tapi lelaki itu gesit berkelit

dengan lambung bocor dan hati bengkak yang mesti ia

gembol ke mana-mana

“beri aku waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi,” gumamnya

ketika api neraka serasa dituang di kawasan perutnya

dan ia raut pelan-pelan pangkal bambu

menyerupai wajahnya yang kurus dan nyaris tak berdaging

lantas ia letakkan di tempat di mana ia tahu, maut

akan datang untuk menjemputnya, maut yang kemudian kecewa,

maut yang akan kembali memburunya dengan kemarahan

yang lebih besar, maut yang terus merutuk, “hanya karena

namamu slamet, bukan berarti kau selalu selamat!”

dan ia akan terus kabur, terus bergumam, “beri aku

waktu sedikit lagi, beri aku waktu sedikit lagi”

dengan lambung bocor dan hati bengkak

ada yang belum tunai ia kerjakan dalam hidup

: merasa bahagia meski hanya tiga detik


angin besar

angin besar

turun dari gunung

angin besar

menderakkan dahan-dahan

angin besar

mengelus ubun-ubun lelaki demam

angin besar

menebang dahan-dahan

angin besar

mengusap nisan di kaki gunung


anjing geladak

lima menit sebelum pukul empat petang

hari sudah gelap, udara berat, mereka

tak ingin menyibak selimut

“di kehidupan selanjutnya,” perempuan

itu berkata dengan suara serak

“aku akan lebih dulu menemukanmu”

dan si lelaki menguap

ia tahu, mereka mesti pergi

sebelum ibu anak-anaknya menelepon

“pada waktu itu,” kata si lelaki

“kita akan tinggal di pacet, di mana

waktu merangkak, dan ruang meluas,

agar dingin mengingatkan kita supaya terus

berpelukan, agar angin pegunungan memanjangkan

usia kita, agar hamparan sawah bawang menyegarkan

mata kita, agar…”

“agar kita bahagia,” potong si perempuan

tapi mereka berkemas juga

ketika geluduk pertama terdengar

mereka bukan orang lokal, mereka

tak tahu, di pacet, doa-doa tak lazim

gampang diijabahi

tiga kilometer kemudian, di sela pekat kabut

si lelaki melihat seekor anjing melompat,

ia mendengar decit ban, ia merasa jari perempuan

itu mencengkeram pinggangnya, ia mencium amis darah

ia tak tahu berapa lama terlelap,

namun ketika membuka mata, perempuan

itu begitu dekat dengan dirinya, begitu lekat

“apa yang terjadi?” ia tak mengerti

“kukira,” perempuan itu menjawab

“seekor anjing geladak memakan bangkai kita

dan dalam dirinya, kita kini meneruskan hidup,

bersama, bersama, seperti yang kita inginkan”


di gua jepang cangar

di ranjang tanah yang keras itu maut datang dan mengelus

tubuh mereka, yang muda dan telanjang

udara pengap jadi panas

“apakah ini hawa neraka?” tanya si perempuan

“ini nuansa cinta,” si lelaki melekapkan bibir di leher yang

bersemu hijau

lenguh menggema

dalam gelap yang kekal

lantas rintih

kesakitan

dari tubuh yang ringkih

“aku tak bisa melepasnya”

“tapi kau harus melepasnya”

di samping mereka, maut menari

dengan satu kaki menginjak punggung si lelaki

mereka ingin menjerit

tapi tak sanggup

mereka tak kuasa membayangkan

orang-orang tiba

dan menemukan mereka

masih terpaut

tapi tujuh hari kemudian

orang-orang tetap datang

dan mendapati mereka

saling memeluk dan membusuk

terbungkus udara lembab

di lantai gua yang kotor

“mereka sepasang pezina terkutuk!” kata kiai setempat

“mereka sepasang pecinta yang terberkati,” gumam seorang remaja

yang tengah kasmaran


pulang ke pacet

“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh

mau lewat,” seseorang berteriak, sedikit serak,

sedikit kasar

dingin mengeras dan menegang

jalan membuka dan memanjang

kafe dan pujasera menjulurkan tangan,

pemandian dan arena wisata foto mengenalkan

nama, vila dan hotel tersenyum menyapa ramah

tapi turis yang baru tiba itu hanya ingin

berbicara pada sawah dan padi

dalam kepalanya, kambing dan sapi

dalam kenangannya

ia bukan turis, sesungguhnya

malam membeku

tapi bulan kuning leleh seperti mentega

ia orang lokal, lama terjerat kota

lantas kembali

untuk menjadi orang asing

dan seorang pemandu dengan suara serak,

berteriak sedikit kasar

demi ia

“minggir, minggir, seorang turis dari kota jauh

mau lewat!”


suratman berjalan telanjang tengah malam

enam belas laron sufi

mengerubung nyala sebatang lilin

di puncak musim hujan yang pucat

dari nako jendela, suratman tahu bulan layu

langit kuyup kelam, dan ribuan laron

meredupkan lampu di sepanjang jalan

setelah selarik mantra

orang-orang tiba pada lelap purba,

suratman akan berjalan

perlahan seperti ratapan tobat nasuha

telanjang seperti bayi yang fitrah

berkeliling kampung seperti seorang jagabaya

“berangkatlah,” kata istrinya

dibukanya pintu belakang

dingin mengerutkan buah zakar

angin membawa ujian

mengembus nyala lilin

yang ditudung istrinya dengan dua telapak tangan

dan suratman berjalan

seraya mengenang dua putra tercinta

yang berseteru di jalanan

dengan arit dan maki

sebelum empat orang di warung yu rai

datang dan melerai,

memperseterukan seorang perempuan

yang tak setia; suratman berjalan

seraya mengucap pujian untuk leluhur

sholawat bagi nabi

doa kepada tuhan

juga permintaan pada danyang kampung

di rumah, bersama enam belas laron sufi

istrinya berharap tak ada orang yang

luput dari sirep mandi

dan membuat lilin padam

atau semua akan sia-sia,

bibirnya gemetar memanjatkan harap

perempuan itu tahu

anak-anak akan selamanya kanak-kanak

: berebut mainan sewaktu bocah

berebut perempuan atau warisan

ketika dewasa, dan orangtua selalu orangtua

sabar mendamaikan

dengan cara apa pun

atau bagaimana pun


kematian mak lah

dengan wajah pucat dan mata terpejam dan tubuh dingin,

mak lah ditelentangkan di atas amben di halaman, orang-

orang datang dengan muka masam dan

matahari semakin meninggi

“kenapa ia tidak segera dikuburkan?” tanya orang-orang sambil

berteduh di teras

“apakah kau berani bersaksi bahwa ia sudah benar-

benar mati?”

tak ada yang benar-benar berani bersaksi, mereka

hanya mengingat bagaimana mak lah bangkit ketika

disalatkan di masjid pada kematiannya yang pertama,

dan merayah-rayah dengan tersengal sewaktu tubuhnya

baru diletakkan di liang pada kematiannya yang kedua

orang-orang mulai jengah dan lelah

seseorang mengeluhkan padi yang perlu disiangi

seseorang mengeluhkan sapi yang perlu diransumi

“kenapa ia selalu merepotkan?”

mereka tahu, bagi perempuan itu, kematian hanyalah perjalanan

sepele yang bisa ia ulang aliki sesuka hati

menjelang sore, orang-orang pergi

jagabaya mengatakan agar mak lah tetap dibiarkan di situ

“biar dia segera bangun kalau kedinginan nanti malam”

tapi pada kematiannya yang ketiga itu, mak lah tidak pernah

bangun lagi

dan orang-orang baru meyakininya pada hari keempat, sewaktu

bau tidak sedap mulai menguar dari tubuhnya yang bengkak

dan berair


pagi hijau

untuk ulang tahunnya yang ke-44

ning menginginkan sebuah pagi hijau

ketika biji ditabur sabar di lahan gembur,

kecambah tumbuh tidak tergesa,

dan nyanyian burung menarik matahari pelan-pelan

“agar kau lebih lama bersamaku,” katanya

di cuping telinga lelaki itu

hangat mendesir dan bergema

di liang-liang tubuhnya

tapi yang tak pernah terlambat adalah waktu

dan lelaki itu tahu, ia mesti pergi

maka dikecupnya kening ning

seraya mengingat ulang tahun perempuan itu

yang ke-40

ketika ia mengendus sebilah pisau di kolong meja

dan didengarnya ning yang bingung berujar malas

“kenapa seorang perempuan tidak pernah memiliki

waktu untuk dirinya sendiri, bahkan ketika ia berulang tahun?”

lelaki itu tahu, sebab ia karib dengan dongeng-dongeng,

bahwa ning akan berkata

“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan

akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan suami”

tapi ning sudah bersuami

dan ia mendengar ning berkata

“andai saja ada yang menemukan pisau itu, bila perempuan

akan kujadikan saudara, bila lelaki akan kujadikan selingkuhan”

ia mengigit pisau itu, seperti anjing-anjing dalam dongeng

dan membawanya ke depan ning yang kebingungan dengan

seikat sayur dan seonggok daging kambing

lantas seperti mukjizat, segera ia menjadi lelaki rupawan

“iblis yang murah hati,” katanya, “memberkahi

nadarmu dengan mengirimku mulai hari ini dan sebelum

matahari meninggi setiap hari ulang tahunmu”

pada hari ulang tahunnya yang ke-44

ning masih saja berduka

ketika lelaki itu mulai kembali menjulurkan lidah


kodok kecil

kodok kecil di pinggir kali

mati terinjak kaki petani

tak jauh darinya,

semak tetap berbunga

rumput masih hijau

kutilang berdendang dari dahan kaliandra

angin mempertemukan serbuk sari dan kepala putik

ikan berenang

matahari bersinar

bumi berputar

seratus empat puluh dua ekor semut

merubung bangkainya,

bersyukur atas kematiannya

dan tak ada air mata atau puisi sedih,

tak ada hujan atau sedikit melankoli


ia menunggumu, yai

ia menunggumu, yai, di sawah tomat

sepanjang hari hidup dan malam padam

ia menunggumu, yai, bahkan ketika

hujan lari atau panas berdesir

ia menunggumu, yai, memberi rasa lain

pada air tomat, memulaskan warna lain

pada kulit tomat, memanjatkan doa-doa

atas mereka yang terbenam sebagai rabuk

bagi lunak tanah sawah itu, mengucapkan

sepatah maaf yang bakal membuatnya

rela memetik tomat-tomat matang

tapi hanya dilihatnya kau yang memandang

dendam tiap kali melewati sawah tomat itu

seraya bergumam, “tomat-tomat itu haram,

sebab hanya rabuk dari bangkai komunis yang

disesapnya”

ia belum pernah mampu memetik tomat-tomat itu,

sebab setiap kali ia hendak memetiknya, ia merasa

hendak memetik secuil demi secuil daging bapaknya

yang belum rela


Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.

Cerpen

Suatu Hari, Aku Ingin Piknik

Cerpen Galuh Ayara

Dua pasang roti tawar, selai stroberi, susu kemasan, darah-darah menetes, pisau, padang rumput, keranjang piknik, dan aku ingat senyum ayah. Namira tak ada. Namira tak boleh ada.

***

Suatu hari, aku sangat ingin piknik bersama ayah. Tidak perlu jauh-jauh, cukup ke bukit kecil di dekat stasiun tua itu, atau padang rumput belakang pabrik teh. Aku akan membawa roti dan selai stroberi, juga buku-buku dongeng klasik tentang seorang putri dan ayahnya sang maharaja yang baik hati. Jangan, jangan ajak Namira. Aku hanya ingin berdua saja dengan ayah.

Aku ingin sekali merasakan bagaimana lembutnya belaian tangan kekar itu di kepalaku yang kadang terasa amat berat. Aku ingin merasakan bagaimana ia mencubit hidungku seperti ia melakukannya pada Namira lalu mereka berdua tertawa-tawa. Aku ingin ayah berhenti memarahiku setiap kali aku melakukan kesalahan dan meneriakiku bodoh dan ceroboh.

Suatu hari ibu dan ayah bertengkar hebat di ruang tamu. Aku coba melerai mereka tapi ayah mendorongku dan mengulang lagi ucapan menyedihkan itu, aku hanyalah anak hasil hubungan gelap ibu dengan lelaki yang entah siapa, lalu ayah menikahi ibu karena kasihan.

Ibu, tak pernah sekali pun ia membelaku setiap kali ayah memaki dan menghinaku. Perempuan itu hanya memandangku dengan tatapan paling biasa lalu pergi ke dapur atau ke kamar tidur.

Ibu bilang, aku hanya mengingatkannya pada seorang lelaki kurang ajar yang meninggalkan ibu setelah tahu hubungan gelapnya membenihkan janin. Ibu memang tak pernah memarahiku tapi juga tidak mencintaiku seperti ia mencintai Namira. Ibu selalu diam di depanku tapi banyak bicara jika di depan Namira.

“Ibu, kenapa dulu aku tidak mati saja dalam rahimmu, supaya Ibu tak pernah melihatku dan mengingat laki-laki itu? Dia bangsat kan, Ibu? Tapi aku tidak tahu menahu.”

Ibu bahkan tak melirikku, tangannya sibuk dengan parutan keju dan kue bolu.

Di sisi lain, adikku Namira begitu menyayangiku. Tak segan ia membagi apa pun yang ia miliki, bahkan ia pernah mengalah; menukar gaunnya yang amat berkilau dengan gaunku yang biasa saja di hari ulang tahun kami. Aku dan Namira lahir di bulan yang sama hanya tanggalnya berbeda sepuluh angka. Usiaku hanya selisih dua tahun dengan Namira.

Aku heran, mengapa Namira terlahir sempurna dengan wajah cantik dan disayangi semua orang. Sementara aku?

Malam itu ayah mengumpulkan kami di ruang makan. Ia berkata sembari mata berkaca-kaca.

“Aku kena PHK,” katanya.

Saat itu kami semua hanya diam. Tak ada satupun yang bicara.

Di hari-hari berikutnya keadaan kami mulai sulit. Rumah semakin sering diwarnai pertengkaran. Lalu, di hari yang mendung itu, ibu pamit pergi sembari membuka payungnya yang berwarna kelabu. Ibu akan ke luar negeri, mengadu nasib sebagai TKI. Namira menangis di pelukan ayah, dan aku hanya diam seperti orang bisu.

Tiga bulan sudah ibu pergi. Kadang aku melihat ayah keluar rumah, lalu pulang dalam keadaan mabuk. Ia selalu bilang hendak mencari kerja, tapi entahlah.

Seperti malam itu, ayah berteriak sambil menggedor pintu, sebenarnya aku malas sekali bangun, tapi Namira seperti orang mati kalau tidur.

Aku setengah berlari karena takut tetangga terganggu dengan suara ketukan pintu yang terus menerus. Begitu kubukakan pintu itu, ayah ambruk ke pelukanku. Aku tak tahan dengan mulutnya yang bau, tapi dia ayahku.

Susah payah aku menyeret tubuh kekar ayah ke kamarnya. Tak sempat kunyalakan lampu, buru-buru saja aku membaringkan tubuh itu di tempat tidur. Aku bukakan sepatunya, dan tiba-tiba aku merasa tangan kekar itu membelai rambutku. Kulihat ayah tersenyum, betapa senyum itu sangat kurindukan. Ayah duduk di sebelahku, lalu mengangkat daguku mendekat ke mulutnya yang bau. Aku terpejam, merasakan mulut yang beraroma alkohol itu melumat mulutku berkali-kali. Aku tidak tahu. Aku bingung. Dia melakukannya dengan sangat hangat. Aku berdebar, tapi entahlah.

Pada akhirnya malam itu ayah melakukan sesuatu padaku yang seharusnya dilakukan bersama ibu. Aku merasakan sakit yang luar biasa, tapi aku bahagia. Aku seperti menemukan kesejukan salju, di antara panas dan merah darah perawanku.

“Ayah, apakah nanti kita akan piknik? Berdua saja, jangan ajak Namira,” tanyaku sambil masih meringis merasakan nyeri.

“Iya,” katanya sambil memejamkan mata.

Aku lantas beranjak. Sebelum kembali ke kamar, kupakaikan lagi pakaian ayah yang sudah mendengkur, kuulurkan pula selimut bulu untuknya, lalu sejenak memeluk tubuh itu sebelum pergi dengan perasaan campur aduk.

Siangnya, aku membuatkan segelas susu untuk ayah. Aku bawa ke kamarnya sambil senyum paling cerah. Kulihat ayah masih mengenakan handuk. Rambutnya masih basah kuyup. Aku taruh susu itu di meja, lalu pergi dengan jantung berdebar-debar. Akan tetapi, belum juga menutup pintu, ayah tiba-tiba saja menarik lenganku.

“Kinanti, maafkan ayah,” katanya.

Aku tersenyum lagi, lalu memeluk tubuh itu tanpa ragu.

Malam-malam berikutnya kami mengulanginya lagi. Lagi, lagi, dan lagi. Lama-lama aku mulai terbiasa dengan sentuhannya. Benar, aku bergairah setiap kali berhadapan dengan tubuh kekar itu. Aku merasakan bahagia yang luar biasa dan membuatku semakin tidak ingin kehilangannya. Aku ingin terus bersama ayah sampai mati. Ayah hanya milikku. Tidak ada Namira, bahkan ibu. Esok lusa kami akan piknik berdua, di bukit dekat stasiun tua atau di padang rumput belakang pabrik teh.

Karena tidur terlalu larut malam, pagi itu aku bangun kesiangan. Keadaan rumah sudah kosong. Tak ada ayah, tak ada Namira. Di meja makan sudah tersedia roti selai stroberi, juga segelas susu yang sudah dingin. Aku menarik kursi. Saat hendak duduk tiba-tiba ponsel bergetar di saku piyamaku. Sebuah pesan daring masuk.

Kak, aku dan ayah pergi piknik. Tadi aku mau bangunkan kakak tapi nggak tega. Aku tahu kakak tidur larut malam. Kalau kakak mau nyusul, susul saja ke dekat pabrik teh.

Sial, hatiku kadung sakit. Teganya ayah membohongiku. Aku yang ingin piknik berdua dengannya, malah dia lupakan. Malah dia pergi dengan Namira. Ayah jahat. Ayah tidak pernah menyayangiku. Atau, aku yang bodoh? Ya, aku bodoh.

Aku pergi ke dapur, menyalakan keran di wastafel, kubiarkan airnya mengalir begitu saja. Aku lantas meraih pisau dari dekat kompor. Ya Tuhan, aku benci kehidupan.

***

Di padang rumput, di atas tikar piknik berwarna daun mapel, samar-samar kulihat ayah tersenyum. Kuperhatikan sekali lagi, ternyata bukan senyum. Ayah menjulur lidahnya keluar. Matanya masih ketakutan. O jangan takut, Ayah. Kupeluk tubuhnya yang membeku. Kuremas tangannya yang sedingin es. Dadanya bahkan sudah diam. Tebasan pisau di tanganku sepertinya berhasil membungkam detak jantungnya. Berapa kali tadi kuhujam dadanya? Sepuluh atau sebelas?

Namira tak ada, Ayah. Namira lari terbirit-birit. Biarkan saja. Sejak kecil dia takut darah.

Lihat, Ayah. Di sini hanya kita berdua ditemani kicau burung, capung-capung, dan matahari yang benam di balik ilalang. Kita sedang piknik. Berdua saja. Tanpa Namira. Tanpa siapa-siapa.

2020


Galuh Ayara, penulis yang masih belajar. Sudah menerbitkan buku pertamanya “Nyanyian Origami”.

Ragam

Menyuarakan Papua Melalui Seni Rupa

Dua puluh dua tahun yang lalu, 6 Juli 1998, ketika media-media di Indonesia lebih banyak menuliskan berita tentang seputar kerusuhan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, saat itu di Papua, tepatnya di Biak, terjadi demonstrasi. Aksi itu dibubarkan paksa oleh aparat dan berakhir dengan kematian beberapa orang, penyiksaan terhadap beberapa lainnya, serta hilangnya banyak pengunjuk rasa. Beberapa hari kemudian di pantai-pantai di Pulau Biak ditemukan potongan-potongan tubuh manusia yang hanyut dan terdampar. Pusara Tanpa Nama, Nama Tanpa Pusara, begitulah orang Papua menyebut hari nahas itu. Satu dari banyak peristiwa kekerasan yang terjadi di Papua yang tidak pernah menemui penyelesaian hingga saat ini.

The Red Guardian karya Ignasius Dicky Takndare

Mengusung semangat yang sama dengan apa yang belum lama terjadi di Amerika, ketika seorang pemuda bernama George Floyd harus meregang nyawa di tangan seorang polisi. Kabar kematian itu pun menyebar, tidak butuh waktu lama demonstrasi besar-besaran yang mengusung isu anti diskriminasi ras datang bergelombang memenuhi jalan-jalan di berbagai negara bagian Negeri Paman Sam. Menanggapi isu tersebut, Kelompok Udeido menggelar sebuah pameran seni rupa bertajuk Tonawi Mana secara virtual selama satu bulan, mulai tanggal 15 Juli-17 Agustus 2020 melalui laman udeido.com.

Pameran ini dimaksudkan untuk mengumpulkan suara-suara berbagai fenomena sosial, politik, dan humaniora yang terjadi di Papua dan mengemasnya pada sebuah ruang tersendiri yang menempatkan penghargaan terhadap hidup manusia Papua sebagai sesuatu yang penting untuk diperjuangkan. Karena sampai saat ini, Papua selalu digambarkan sebagai tempat kaum primitif dan barbar. Sedangkan seniman-seniman yang terlibat adalah gabungan seniman-seniman Papua dan seniman-seniman dari luar Papua, antara lain Ignasius Takndare, Taring Padi, Andreas Wahjoe, Fitri DK, Ina Wossiry, dan sederet seniman lainnya.

“Begitu banyak jenis seni yang menggunakan semua jenis medium untuk berbicara tentang Papua. Itu mengingatkan saya bahwa solidaritas, seperti pameran ini, berasal dari beragam kelompok yang menggunakan media mereka sendiri untuk menyampaikan pesan. Menarik melihat bagaimana seniman-seniman non-Papua ini peduli dan bersolidaritas terhadap isu Papua dan ikut berdiri, bersuara bersama orang Papua. Ini merupakan pesan penting yang kami harapkan berkembang kepada ranah lainnya,” kata Ligia Giay, aktivis yang terlibat dalam pameran.

Selain itu, pameran ini juga menempatkan konsep spirit Tonawi Mana yang eksklusif ke dalam aktivitas seni yang lebih luas, di mana Tonawi Mana bertransformasi menjadi suara-suara yang dihasilkan lewat karya seni dengan pendekatan dan interpretasi yang lebih bervariasi. Hal ini sejalan dengan apa yang ingin sampaikan oleh Komunitas Udeido bahwa permasalahan Papua perlu dibawa ke berbagai panggung yang tidak terbatas secara eksklusif untuk golongan tertentu saja. Tetapi menjadi masalah bersama yang kelak menumbuhkan tunas solidaritas yang jauh lebih besar lagi, yang menembus sekat sosial, ras, golongan, agama, dengan bentuk dan manifestasi yang beragam.

“Salah satu poin penting yang diungkap dalam pameran online ini adalah rakyat Papua yang dihantam berpuluh tahun oleh virus diskriminasi, rasisme, penindasan. Keseluruhan ekspresi tersebut tertindas oleh hiruk pikuk jargon kebesaran negeri ini yang menindih kebebasan bersuara rakyat Papua,” kata I Ngurah Suryawan, antropolog yang juga terlibat dalam pameran Tonawi Mana. [] Wahyu Indro Sasongko

Ragam

Garis-Garis Hanafi di Masa Pandemi

Pameran Seni Rupa “60 Tahun dalam Studio”

Situasi saat ini telah mempengaruhi seniman dengan satu dan lain cara, termasuk Hanafi. Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, pada bulan ini, galerikertas kembali dibuka dengan menyelenggarakan pameran pelukis Hanafi dengan judul “60 Tahun dalam Studio”. Pameran ini bertepatan dengan dua momen penting, yaitu momen 60 tahun usia Hanafi dan momen pandemi. Hanafi mengatakan, dalam kondisi apapun seorang seniman memiliki kewajiban untuk tetap melaporkan karyanya.

“Membuat karya pada masa wabah saya akui tidak mudah. Betapa sulitnya membuat jarak wabah Corona ini sebagai objek dan kreator sebagai subjek. Karena jika jarak ini tidak ditemukan, maka karya-karya yang tercipta hanya berisi kesedihan, keputusasaan, dan apatisme. Tantangan saya adalah merebut kembali jarak pandang untuk menemukan benih-benih keprihatinan hidup,” kata Hanafi.

Pada pameran ini, pengunjung akan lebih banyak melihat intensitas garis. Meskipun Hanafi sudah sejak dulu menunjukkan capaian yang mengagumkan soal garis, namun situasi saat ini memberikan tekanan yang berbeda. Karya dalam pameran ini seperti mengajak menuju apa yang hendak dijangkau oleh Hanafi. Selain itu, kondisi saat ini akan menjadi ingatan kolektif umat manusia abad ini. Salah satunya bisa dilihat pada mural Vincent van Gogh. Karya Hanafi itu ingin mengajak pengunjung untuk tetap berbesar jiwa dalam kondisi apapun. Sebab, mungkin situasi ini akan tetap menjadi salah satu isu yang akan tetap dibahas dan direspons oleh seniman lainnya.

“Pameran ini menampilkan karya- karya Hanafi yang dibuat selama masa karantina massal dan secara umum merespons berbagai isu-isu di sekitar karantina. Ada intentitas yang berbeda dari karya Hanafi sebelumnya. Namun, karya Hanafi ini adalah karya yang dibuat ketika kita semua sama-sama sedang merasakan situasinya. Ini adalah cara lain dalam mengalami seni rupa,” kata kurator galerikertas, Heru Joni Putra.

Selain itu, seperti format galerikertas sejak awal mula, rangkaian pameran ini juga membuka kesempatan untuk pelukis muda yang ingin mempresentasikan karya mereka kepada Hanafi.  Setiap karya perupa muda akan dibedah oleh Hanafi dan dipilih perupa-perupa yang akan diberi workshop hingga kemudian karya tersebut akan dipamerkan di galerikertas pada bulan berikutnya.

Hanya saja karena situasi saat ini, untuk menikmati karya-karya Hanafi pada pameran kali ini, pengunjung tidak bisa datang seperti biasanya. Sebab galerikertas mengatur ulang tata-aturan memasuki galeri dan menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan standar yang diberikan pemerintah. Tujuannya menjaga agar setiap pengunjung tetap aman satu sama lain. Misalnya, setiap pengunjung mesti melewati sensor suhu tubuh dahulu dan dalam satu jam, maksimal hanya bisa dimasuki oleh 9 pengunjung. Setiap jarak satu jam, diberi waktu kosong untuk bersih-bersih selama setengah jam. Setiap pengunjung pun harus mengatur jarak satu sama lain, dengan berdiri pada lantai yang diberi tanda-lingkaran. Pameran “60 Tahun dalam Studio” ini memajang 65 karya dan digelar mulai tanggal 5 Juli sampai 5 Agustus 2020. Setiap hari galerikertas hanya dibuka pukul 12.00-16.00 WIB. Setiap satu jam hanya boleh dimasuki 9 pengunjung. Setiap satu jam, galerikertas dikosongkan dulu setengah jam dan setelah itu baru bisa dimasuki 9 pengunjung lainnya. Jadi, dalam sehari hanya bisa dikunjungi 27 orang. Oleh sebab itu, setiap peserta harus mendaftar terlebih dahulu untuk mengatur waktu kunjungannya melalui form pendaftaran yang tertera pada akun-akun media sosial milik galerikertas. [] Wahyu Indro Sasongko

Buku, Resensi

Bertemu (Mantan) Penyair

Oleh M. Fauzi Sukri

Bandung Mawardi berperistiwa penemuan puisi. Peristiwa pertemuan itu terjadi melalui majalah-majalah lawas dari tahun 1950-an sampai tahun 1980-an. Bukan melalui buku puisi atau puisi yang dimuat di koran. Dalam pertemuan itu, Bandung Mawardi melakukan kerja semiotik, analisis sosiologis (meski minimalis), pemaknaan historis, dan sesekali merasakan rasa estetik puisi (meski yang sangat sedikit).

Dari esai ke esai berikutnya, kita dihadapkan pada pertanyaan sederhana: esai-esai yang disuguhkan kepada pembaca ini pertemuan dengan puisi atau pertemuan dengan penyair. Secara umum, yang kita temukan dalam esai-esai Bandung Mawardi ini adalah pertemuan dengan penyair yang diperantarai puisi. Sedangkan puisi itu sendiri lebih banyak diposisikan sebagai dokumen sejarah, bukan sebagai dokumen estetika puisi.

Bandung Mawardi tampak hendak mengungkit-mengungkap kepada pembaca mutakhir: seperti apa puisi yang pernah ditulis seorang yang kemudian menemukan makna kata-kata bahasa Indonesia dengan sangat suntuk serius; seperti apa puisi-puisi yang ditulis penyair muda yang sekarang sudah jadi penyair terkenal dan karyanya diakui pembaca sastra Indonesia mutakhir.

Dari pertemuan Bandung Mawardi dengan puisi-puisi di majalah lawas, kita tahu bahwa cukup banyak penyair yang menulis di masa muda. Radhar Panca Dahana menulis puisi pada umur 15 tahun dengan nama Rpd Reza Morta Vileni. Puisinya dimuat di majalah Zaman 1980. Sampai sekarang Radhar Panca Dahana masih menjadi penyair selain sebagai budayawan. Dari penelusuran majalah lawas, kita juga mendapati sekian tokoh yang pernah menulis puisi tapi sekarang sudah menjadi mantan penyair.

Kita bertemu dengan puisi Soesilo Toer yang menulis puisi pada usia 16 tahun. Begitu juga, puisi-puisi Rendra sudah bertebaran di berbagai media saat berumur 20 tahun. Bandung Mawardi menampilkan puisi Rendra yang dimuat di majalah Kisah. Pada umur 21 tahun, puisi Sobron Aidit dimuat di majalah Kisah pada tahun 1955. Poeradisastra atau Boejoeng Saleh tercatat pernah menulis puisi.

Bandung Mawardi juga mendapati puisi yang ditulis oleh kritikus seni rupa paling produktif di Indonesia: Agus Dermawan T. Sang kritikus seni rupa ini pernah menulis lima puisi yang dimuat di Horison pada 1974. Bandung Mawardi juga bertemu dengan mantan penyair yang dahulu pernah menulis puisi bagus tapi tidak lagi terkenal sebagai penyair. Inilah nasib yang dilakoni dan dipilih Budi Darma.

Dalam majalah Gadis (1978), Bandung Mawardi menemukan puisi yang ditulis oleh tokoh kondang nan penting dalam bahasa Indonesia: Eko Endarmoko. Tokoh penulis buku ampuh Tesaurus Bahasa Indonesia (2006) dan Tesamoko (2016) ini adalah mantan penyair.

Dan, jika sekarang Anda mengenal Seno Gumira Ajidarma sebagai sastrawan penting di dunia prosa (cerpen dan novel), siapa sangka dia pernah berhasrat menjadi seorang penyair dengan nama pena Mira Sato. Seno menulis puisi saat berumur 20 tahun. Pada masa itu, publik pembaca Indonesia jelas belum begitu kepincut dengan cerpen-cerpennya yang memukau.

Tentu saja, karena berbasis dokumentasi majalah lawas, Bandung Mawardi tampak juga mengungkit puisi-puisi jelek yang pernah ditulis penyair Indonesia pada waktu muda. Sekarang penyair-penyair ini sudah menjadi penyair terkenal dan puisi-puisinya diakui oleh publik sastra Indonesia.

Sapardi Djoko Damono menulis puisi, yang menurut Bandung Mawardi, pantas dicap sebagai bait “bait jelek” berjudul Sketsa Diri. Puisi ini ditulis tahun 1962 dan dimuat di majalah Basis—tempat Sapardi dahulu pernah menjadi salah satu redaktur sastra. Puisi Sketsa Diri ini hampir pasti tidak akan ditemukan dalam buku antologi puisi Sapardi. Namun, Anda bisa membaca petikannya di buku Bandung Mawardi ini. Kita juga bertemu dengan sastrawan nan penyair seperti Triyanto Triwikromo yang pernah menulis puisi dan, sekali lagi menurut Bandung Mawardi, puisi itu ternyata jelek.

Tentu saja, dalam kliping kritik sastra ini, kita mendapati puja-puji terhadap beberapa penyair khususnya Afrizal Malna, Sapardi Damono, dan Goenawan Mohamad.

Selain itu, ada beberapa penyair yang sangat mungkin tidak dikenali oleh penyair, seperti Paramitha atau Slamet Wibisono—untuk menyebut dua saja. Paramitha adalah anak dari penyair kondang Goenawan Mohamad. Slamet Wibisono menulis puisi “Untuk Pramoedya Ananta Toer” yang dimuat di majalah Medan Bahasa edisi Maret 1957. Slamet Wibisono menulis puisi dengan berbagai perasaan perihal perebutan penerjemahan buku sastra kanon dunia (Timur dan Barat) yang dilakukan sastrawan Indonesia pada tahun 1950an.

Jika kita tilik pola kliping kritik puisi yang dilakukan Bandung Mawardi ini, kita bisa mengatakan bahwa, pertama-tama, yang dipilih dan dibahas dari ‘penemuan’ puisi majalah lawas adalah sosok penyair itu sendiri, bukan puisinya. Jika kita meminjam judul buku A. Teeuw, Pokok dan Tokoh, yang ditulis Bandung Mawardi bukan terutama pokok puisi tapi tokoh penyairnya. Yang dihadirkan atau diketemukan Bandung Mawardi adalah lebih banyak tokoh penyair daripada puisi-puisi yang bersifat ‘kebetulan’ ditemukan kembali. Seandainya puisi-puisi yang ditemukan itu tidak begitu tersangkut paut dengan penyair yang jadi tokoh, puisi-puisi yang bertebaran di majalah lawas tidak jadi pilihan untuk diulas.

Kita sedikit sekali mendapati puisi dari penyair yang jelas-jelas tidak terkenal saat itu hingga saat ini. Bandung Mawardi juga tidak mengulas puisi yang tak punya hubungan yang menarik dengan sastra Indonesia mutakhir. Jelas ada semacam seleksi ‘pilih kasih’ dari puisi-puisi yang diulas dalam buku ini. Maka, “Mereka” dalam judul buku ini adalah jelas mereka yang masih punya jejak kiprah sastra sampai sekarang, khususnya yang sudah jadi tokoh.

Buku kliping kritik sastra dari Bandung Mawardi ini adalah lebih banyak peristiwa pertemuan kembali dengan jejak masa lalu tokoh penyair besar atau sastrawan besar melalui jalur puisi. Dalam pertemuan itu, Bandung Mawardi melakukan dialog antara karya masa lalu dan sastra(wan) masa kini. Di sinilah kita melihat bagaimana pertemuan-pertemuan yang diperantarai puisi bisa berubah menjadi pujaan tapi juga bisa sindiran bahkan ejekan.


M. Fauzi Sukri, penulis Bahasa Ruang, Ruang Puitik (Basabasi, 2018)

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Aforisme Sepi

orang-orang memilih mati

di tengah virus gigil waktu

menjangkit kompilasi tubuh malam

mata-mata telah memborgol kelopaknya

waktu-waktunya berselimut mimpi

dan ia rindukan sedap kopi pagi hari.

sisakan ampas sepi pada gelas sunyi

yang kuseduh sedih ini di beranda

bersama rintik hujan dini hari

2020


Ada Masanya Penyair Mencintaimu dalam Hati

ada masanya seseorang jatuh cinta

hanya mampu diungkapkan dalam puisi

itulah kemahiran penyair atau aku sendiri

tapi penyair bukan penakut apalagi lebih

dari seorang pengecut.

ada masanya di jauh hari penyair memilih:

mengasihimu sebagai satu-satunya puisi

atau membayangkanmu sekadar sebagai latar

belakang rasa cerita fiksi.

ada masanya aku tak ingin memilih kedua-duanya

sebab penyair hanya mampu mencintaimu di

hati dalam puisi.  dan itu lebih romantis dari seseorang

yang hanya mencintaimu dengan separuh hari dan hati.

2020                                                                                                                      


Tulus dan Murni Cintaku Keluar dari

Dubur Seorang Pecundang

cintaku tak seluas pikiran kaum penguasa

mereka cerdas bersilat kata-kata dan semangat

menjungkirbalikkan bangku-bangku keadilan

demi undang-undang dusta berjalan dengan

aman di tengah-tengah hidup kita yang tolol.

cintaku tak sejahat gajah-gajah mencintai negara –

negara yang terbuat dari serpihan sejarah dusta.

kau tahu gajah-gajah itu siapa, ika? merekalah penguasa itu,

sang pemilik tangan-tangan keadilan yang buntung sebelah.

cintaku tak semewah dan semegah istana negara:

rumah tuhan dan dewan perwakilan dusta merumuskan

hukum dan undang-undang untuk melindungi pecundang,

penindas dan penguasa yang ber-uang. siapa mereka ika?

mereka adalah politikus, penjilat dan tikus-tikus

dalam penjara yang hidupnya lebih mewah dari

seorang pencuri ayam. padahal mereka adalah pencuri

kebebasan hidup kaum rumputan seperti kita.

cintaku sekali lagi perlu kau cermati, ika. aku ulangi: cintaku tak

sekejam politik yang berhati intrik. karena tulus dan murni

seonggok cintaku keluar dari dubur seorang pecundang.

Jurang ara.2020


Sampai Kapan Waktu Menimang Air Mata

dan Kita Meminang Masalah?

kau semai abad-abad yang gelisah, tahun-

tahun terluka dan serajut hari yang fakir bahagia

di ladang kepalaku. lalu kini tumbuh dan

berbiak menjadi sejuta masa lalu yang lumpuh

dalam gendongan waktu-waktu kita melangkah ke

masa depan cinta.

kau tiba banting gelas-gelas perasaan hatiku

ke berbagai kota yang kini bersibuk hati merapikan

kesunyian dan kematian ke dalam lemari kenangan.

lalu di kota itu rasaku dan rasamu menjadi sepasang

mata yang berduka-cita menatap lahan-lahan luas

di balik gedung dan perumahan tumbuh kuburan

-kuburan baru dan mayat-mayat segar yang segera

digiring ke liang akhirat.

kau lalu baru tersedu di kedalaman sumur hatiku

di saat ingatan menimang-nimang sejarah berpenyakit

tentang wabah yang masih tak menemukan jalan pulang,

perihal bulan-bulan yang terus menangis sendirian

atau tentang sakit hati kita yang tak menemukan

pintu kesembuhan.

kau baru menyesal kalau hidup di tengah kubangan

air mata harus tetap bisa tersenyum walau sia-sia

dan agar bahagia segera bangkit dari dasar kesedihan

kuajak kau ke keluasan dan kemegahan bahasa

di sana senyum hatimu tidak akan berbunga sia-sia

sebab puisi dan prosa akan menampung segala

benda-benda hati kita: abadi.

Jurang ara.05-20


Mencintaimu dalam Gelap

dan di saat kesabaran terus

memayungiku dari hujan perih masa lalu

sampai masa cinta berujung kelabu

akhirnya kutemukan cara paling pahit untuk mencintaimu.

dan satu-satunya cara adalah mencintaimu

dalam gelap. Bila dalam terang matamu – segerobak

keberanianku hancur di ujung jalan lidahmu yang asin

namun kini dari balik tembok ketidaktahuanmu

kudayakan waktu untuk melatih lidahku

belajar mengucap cinta padamu.

dan apalah guna itu semua

bila saat di ujung matamu aku masih

sepenuhnya menjadi bunga gugur

sebelum waktunya.

2020


Puisi adalah Gema Lain dari Hati

setiap yang diungkapkan

penyair adalah matahari

sebab kilau cahayanya adalah

terik hatiku yang puisi.

seperti puisi –puisi yang kutulis ini

sama sekali tak mengandung nilai-nilai

jahat untuk mempolitisasi hatimu.

karena bahasa hati adalah mesin

kejujuran yang memproduksi

makna-makna kasih-sayangku padamu.

Sumenep, 2020


Mitos Ketakutan

kini kepalaku menjadi

taman kuburan. seperti

ibu ingatan memeluk

pohon kematian.

saat ini pembunuh seribu

bayangan itu adalah corona

tubuhnya tak berwujud

namun membuat nyali

bersujud pada kecemasan.

akhirnya orang-orang tak lagi

berjalan, pekerjaan tonggak

sebulan, sekolah tutup usia

dan jakarta adalah gelanggang

manusia dan penyakit bertarung

mati-matian mencari sesuap napas kehidupan.

2020


Kompilasi Penyakit

hari ke hari berlari pilu

menyeret ketakutan ke

gudang-gudang pikiran

yang kelabu

betapa hidup ini terdiri dari

bagian bayang-bayang kecemasan

seperti DBD yang menjelma maut

sampai kini corona yang menjerat

kita tahu, bahagia hanya abadi

bersama hidup dan kenangan

tapi sampai kini dan nanti

apakah kita terus mengunci

tawa, mengubur kegembiraan

dan menyingkat segala urusan

pekerjaan dari ruang sunyi

2020


Simposium Kecemasan

tiba-tiba seribu buih jakarta

menggelembungkan pikiranku

dan meledak menjadi serbuk-

serbuk ingatan tentang

kehidupan orang-orang kota

yang tengah menghitung

biji ketakutan dalam rumah

di saat tiap detik balon kematian

meledak di planet mataku

betapa langka kotaku saat ini

jantung jalan adalah pusat

kesepian membayang,

kecemasan mewabah

dengan meletakkan kartu

kematian pada  aktivitas kehidupan

sementara kabar buruk dari

langit corona terus meletus

di organ-organ media massa

hanya meluluh-lantakkan

batu hati jakarta

akhirnya rumah sakit dan kuburan

menjadi liang kepulang terakhir bagi

para korban.

sementara sekolah, kantor, kedai

kopi dan semangkuk hati yang asin

mereka cecap tiap hari dalam kandang.

2020


Buah Dosa di Dada Desember

serasa dosa ini lebih tua dari usiaku sendiri

sungguh berlipat sungguh, hati ini berat

melangkah dari hidup ke hidup

mungkin, mungkin dan hanya kata

mungkin terucap dari bibir si duka

bila seribu gunung maafku

tak cukup mengubur jasad duka desember

di liang dadamu.

dan,

sejuta rintik hujanku tak akan

mampu memadamkan nyala api

di mata murkamu.

sebab aku kini lebih berat dari batu sebukit,

lebih ringan dari kapas diterbangkan angin

dan lebih cemas dari orang-orang melawan

virus corona.

di saat hati berat memikul nasib dosa,

membuat punggung hari lecet dan bernanah

menggendong segunung sesal dan selaut maaf

yang kau telan begitu saja tanpa bahasa.

2020


Norrahman Alif  lahir di Jurang Ara –Sumenep –Madura. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Yogyakarta. Beberapa karyanya bisa dinikmati di Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Tempo, Padang Ekspres, dan lainnya. Buku puisi terbarunya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan (sublimpustaka-2019).

Cerpen

Secangkir Kopi Ibu

Cerpen Rizka Hidayatul Umami

Ada ritual yang tidak pernah ditinggalkan ibu selepas 40 hari kematian bapak. Setelah ingatan soal petir yang menyambar tubuh bapak di tengah sawah, di siang yang gelap itu samar-samar mulai dilupakan orang. Ritual menyeduh dua cangkir berisi penuh kopi hitam jenis robusta, dipesan dari lereng Merapi. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat ibu menangis. Air matanya seperti ikut kabur bersama layu kembang dan aroma wewangian yang sengaja ditinggal di atas pekuburan bapak. Mungkin angin sengaja menerbangkannya dan membuat mata ibu jadi kering buat selama-lamanya.

Aku mengira, telah lenyap rindu  dan cinta ibu pada bapak. Secepat itu? Tapi lagi-lagi aku tak pernah berani, bahkan sekadar mengulik cerita-cerita soal bapak dan hari yang nahas itu. Hari ketika padi mulai menguning dan beberapa orang telah mendapat jatah buat memanen padi di sawah milik perangkat desa.

Tiga hari sebelum bapak mangkat, para buruh tani memang sedang bahagia-bahagianya mendapat jatah mburuh. Bapak dan ibu–yang tidak punya sawah–turut ambil bagian. Seperti musim panen sebelumnya, kebiasaan ibu dan bapak sebelum berangkat ke sawah cukup sederhana, menyeruput kopi dari cangkir masing-masing di teras belakang rumah. Sambil ngobrol ngalor-ngidul dan menghitung-hitung kasar, berapa nanti uang yang bisa mereka kumpulkan. Bagi keluarga kecil, mendapat jatah mburuh di musim panen adalah hal yang menggembirakan. Sebab tandanya orang-orang kampung telah banyak berubah, lebih memilih berbaik sangka dan menanam rasa percaya ketimbang terus menerus mengungkit luka lama, bapak yang banal dan ibu yang dianggap lacur.

Tapi pagi, tidak seperti biasanya, bapak terlihat buru-buru pergi ke sawah. Ia tak sempat menikmati secangkir kopi buatan ibu karena tak cukup waktu, katanya. Sarapan ditinggal begitu saja, sebab gerimis mulai berduyun-duyun datang dan langit menghitam dengan cepat. Bapak harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum gerimis berubah menjadi hujan deras. Kepergian bapak yang begitu tergesa dan kopi dingin menjadi pertanda yang membuat ibu murung beberapa jam. Sampai suara yang memekakkan telinga itu membuat semua orang di sawah terduduk lesu, kaki-kaki mereka gemetar dan beberapa hilang kesadaran. Bapak yang ada di tengah sawah tak sempat menepi. Seorang yang masih sadar melihat petir terakhir, dengan lengking yang lebih mengerikan, menyambar tubuh bapak yang masih memegang cangkul. Bapak, dengan dada gosong dan tubuh pucat membiru dibopong ke depan rumah diiringi rimbun gerimis dan tangis ibu.

“Ini akan jadi lebaran pertama tanpa bapak, Bu. Widuri rindu sekali dengan bapak. Andai bapak tidak ke sawah.”

“Habiskan saja makananmu.”

“Ibu ini, apa sudah benar-benar melupakan bapak?”

Bapak adalah pesta pora yang meriah di awal bulan, sebelum memasuki tanggal lima sebelum dikurangi cicilan dan biaya listrik. Ibu tidak lebih dari doa paling hening di malam-malam peringatan kematian buyut-buyut, yang hanya diperingati setahun sekali menjelang ramadan, dan sesekali dibacakan ayat-ayat suci yang lebih panjang. Sedangkan, aku tidak lain catatan yang gagal dari keduanya. Serupa ayam jago yang kokoknya di tengah malam menjadi bahan gunjingan tetangga, kadang benar-benar seperti tempat melempar segala kira-kira dan tuduhan-tuduhan.

“Siapa lagi yang bunting di luar nikah?”

“Pasti anaknya bandar itu? Si Suwandi kan anaknya juga tidak beres.”

“Bukannya anak itu jadi guru ngaji?”

 “Memang guru ngaji tidak bisa bunting duluan?”

Dalam hati, aku muak. Tapi aku belum berhasil menemukan cara jitu mencuci otak mereka, membersihkan kepala orang-orang yang tidak pernah bosan menjadikan aku dan masa lalu bapak ibu, menjadi bumbu penyedap obrolan mereka. Bapak –cerita orang yang otaknya tak pernah berhasil kucuci– dulu adalah anak laki-laki yang perangainya menjadi idaman orang-orang tua di kampung. Ia menjadi Yusuf yang dicita-citakan seperti satu dari sekian manusia pilihan Tuhan. Sehingga Suwandi kecil lebih sering dipanggil Yusuf daripada nama yang sejak awal bercokol di akta kelahirannya. Tapi siapa bisa menyangka takdir-takdir yang ditetapkan Tuhan pada anak manusia? Paman-paman bapak jauh lebih bengal, berhasil berkontribusi lebih banyak pada tumbuh kembang bapak daripada bapaknya sendiri.

Sedang ibu, seperti yang dibisikkan orang-orang di balik kamar masing-masing adalah mata yang berbahaya dipandang. Ia adalah laut bebas dan dalam. Sumur tua yang menyimpan banyak sejarah lebih pekat, petarung, pengembara, dan manusia yang punya banyak nyawa. Ia adalah malaikat dan kegelapan, sebelum sedia memberi bantuan pada bapak dengan janji seumur hidupnya. Ibu yang mengantar bapak pada pertaubatan pertama. Di hadapan dua bola mata yang nanar itu bapak bersimpuh, setengah sadar. Lima timba dini hari, berhasil membuat tubuh bapak menggigil, beku. Dan di saat yang sama ibu memulai pertaubatannya.

“Aku menyeretnya keluar rumah waktu bapakmu hendak mengulangi kegilaannya.”

“Ibu membenci bapak?”

“Sudah berapa kali Ibu bilang, demi apapun yang terjadi, percayalah Ibu masih mencintai bapakmu.”

“Tapi kenapa barang sekali saja, ibu tidak pernah berusaha mengingat bapak?”

“Nduk, Bapakmu selalu memegang cangkirnya. Lagipula, kita mesti terus melanjutkan hidup, dengan atau tanpa laki-laki yang kita cintai.”

Ibu menjelma perempuan yang begitu polos. Diukur karena tidak pernah menikmati kopi dengan cara seduh yang rumit. Kecintaannya hanya robusta yang disiram air panas dan sedikit tambahan gula. Ibu tak mengenal nama-nama kopi, apalagi menakar agar sajiannya ideal. Perjalanan cintanya cukup memperkenalkan ibu dengan robusta dari Merapi. Selang  35 tahun, hanya itu yang ia dapat selama hidup bersama bapak.

Ia hanya tahu pahit tidak akan terlalu pahit ketika dicecap, ia hanya akan menambahkan gula sesuai takaran, sesuai dengan apa yang ia rasakan. Sebab ibu tahu, meski robusta dengan banyak gula tidak akan nyaman diminum bersama bapak. Dan sampai saat ini, ibu tak bisa sedetik pun terpisah dengannya. Setidaknya harus ada setengah sendok teh penuh menemani cangkir-cangkirnya. Bahkan setelah bapak menyudahi jamuan minum kopinya, dua cangkir itu masih dihidangkan ibu. Hanya saja, tak pernah ada percakapan dan rona yang terus terang.

“Kita harus membersihkan kutukan orang-orang atasmu dan atas diri ibu.”

“Bagaimana caranya, Bu? Mencuci otak mereka? Mustahil.”

“Dengan melanjutkan hidup kita hari ini dan setiap hari. Jangan menoleh ke belakang dan jangan lagi meratapinya. Ayo, kita nikmati saja kopi ini.”

Secangkir kopi milik ibu adalah ingatan yang sepenuhnya tentang bapak. Secangkir yang lain adalah masa di mana ibu harus menghidupiku dan menghilangkan kutukan orang-orang yang menganggapku perempuan bengal. Betapa mengerikan menjadi janda seorang mantan bandar, tak bisa memilih nasib baik untuk diri sendiri dan anak semata wayangnya.***


Rizka Hidayatul Umami, Mahasiswa S-2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menyukai sastra dan isu-isu perempuan. Email: [email protected]

Buku, Resensi

Ekonomi Feminin

Oleh Royyan Julian

Melihat dunia yang kian rigid barangkali menjadi titik balik yang membuat orang menyoal ulang keyakinan tentang yang ideal. Dunia manusia dibangun di atas kebudayaan yang bercorak maskulin. Budaya adalah laki-laki, alam ialah perempuan. Budaya, dengan individualitasnya yang egois, telah menyisihkan alam ke sudut tersembunyi. Alam/perempuan punya peran penting sebagai bahan bakar kebudayaan/laki-laki, tetapi tak kasat. Seperti bensin di tangki motor.

Tanggal 21 April lalu, novelis cum feminis Indonesia, Ayu Utami membuat catatan reflektif di halaman Instagram-nya: “… Pekerjaan domestik ini tidak menabung apa-apa selain kehidupan anak atau orang lain. Karir selalu mengandung akumulasi (entah reputasi, uang, dll), tapi pekerjaan rumah tangga ini tidak. Padahal betapa pentingnya…. Di Hari Kartini ini ada baiknya kita melihat emansipasi dengan cara terbalik. Bukan cuma perempuan perlu emansipasi agar bisa masuk ke dunia publik (yang kini identik dengan karir, status, dll), tapi agar kita semua menghargai dunia domestik, dunia yang menumbuhkan dan memelihara hidup, yang umum dianggap sebagai dunia perempuan dan tidak dihargai….”

Persis seperti itulah yang ditulis Katrine Marçal dalam buku Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith? Kritik atas ilmu ekonomi liberal dibongkar dengan menghadirkan sosok ibu Adam Smith yang berperan krusial sepanjang hidupnya, tetapi paradoks dengan teori yang dibangunnya bahwa “bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan diri mereka sendiri.” Dengan perspektif feminisme, Marçal meneropong cacat dan ironi Homo economicus sebagai agen dalam ilmu ekonomi Adam Smith.

Mereplikasi teori fisika mekanistik Newtonian, ilmu ekonomi Adam Smith menggantungkan kesejahteraan masyarakat kepada kepentingan individu. Jika individu berpegang teguh pada prinsip kepentingan diri, kemakmuran komunal dapat dicapai. Adam Smith menggunakan metafora ‘tangan tak terlihat’ (invisible hand) yang bekerja secara tersembunyi—dalam tata ekonomi—dan bermanfaat secara sosial berkat tindakan individu.

Individu egois tersebut bernama ‘manusia ekonomi’. Manusia ekonomi diandaikan sebagai pribadi rasional, dingin, egois, terisolasi, independen, aktif, objektif, kompetitif. Karakter tersebut secara natural dianggap melekat pada sosok laki-laki yang beroposisi dengan sifat perempuan (emosional, hangat, altruis, komunal, dependen, pasif, subjektif, kooperatif). Dengan logika tersebut secara otomatis apa yang disebut sebagai manusia ekonomi adalah figur yang memiliki tabiat maskulin. Laki-laki adalah norma universal dan kemanusiaan bersinonim dengan maskulinitas. Di luar itu adalah liyan—adalah jenis kelamin kedua.

Maka, ketika meruyup ke dunia ekonomi, perempuan akan dipaksa bernapas dalam atmosfer yang berputar dengan mekanisme logika laki-laki. Walhasil, dengan keruwetan urusan domestik—yang sebagian besar masih dibopong perempuan karir—ditambah kompleksitas biologisnya, perempuan menjadi inferior di dunia yang sepenuhnya dipahat laki-laki. Upah rendah perempuan, misalnya, Marçal jelaskan secara dialektis dengan mengajukan argumen Mazhab Chicago yang membingungkan. Oleh karena itu, klaim bahwa manusia ekonomi tidak berjenis kelamin atau netral patah ketika dihadapkan pada kondisi diskriminatif yang dialami perempuan di dunia profesional.

Individualitas dalam imajinasi kolektif ilmu ekonomi secara alamiah dianggap memang watak manusia dari sononya. Potret janin karya Lennart Nilsson dicomot sebagai analogi manusia ekonomi; individu swasembada. Fetus dikesankan sebagai individu yang mengapung sendirian. Rahim direduksi hanya sebuah ruang. Tubuh dan peran ibu dimutilasi. Realitas zoom in foto-foto Nilsson jauh panggang dari api. Kenyataannya, selama mengambang dalam peranakan, jabang bayi terus-menerus melakukan kontak dan bergantung kepada raga ibu.

Homo economicus sebagai citra ideal yang dianggap natural menyangkal sifat manusia yang selalu bergantung kepada liyan. Bahkan, identitas manusia ekonomi yang individualistik harus kontradiktif dengan dirinya sendiri yang membutuhkan orang lain sebagai kompetitor. Yang nyaris tidak bisa ditampik, sejarah keberhasilan laki-laki sebagai manusia ekonomi membutuhkan perempuan yang menyiapkan makan malam, membersihkan tempat tidur, merawat, mencucikan pakaian; untuk lari dari kerasnya dunia, melabuhkan luka, menyeimbangkan jiwa.  

Sumber daya yang berasal dari moralitas primordial perempuan merupakan konsekuensi dari perbedaan dikotomis antara laki-laki dan perempuan. Dalam dunia ekonomi yang bertumpu pada akumulasi kapital, kerja perasaan dan altruisme bukan bagian dari mata pencaharian.  Ekonomi dan perawatan adalah dua hal yang terpisah. Hasil kerja domestik perempuan tidak dapat dicandra, tidak memengaruhi kemakmuran, sukar dikuantifikasi, sebab ia adalah siklus: “Debu yang disapu menumpuk lagi. Mulut yang sudah diberi makan kembali lapar. Anak-anak yang tidur kembali bangun. Selesai makan siang, waktunya mencuci piring. Setelah mencuci piring datanglah makan malam. Dan piring kotor kembali perlu dicuci.” Sirkulasi kerja yang tak kekal tersebut berakar dari ontologi perempuan yang karnal dan irasional, mata air cinta. “Para ekonom kadang bercanda,” catat Marçal, “jika seorang laki-laki menikahi pembantu rumah tangganya, PDB (produk domestik bruto) negaranya turun. Jika, sebaliknya, ia mengirimkan ibunya ke panti jompo, PDB negaranya naik lagi.”

Feminisme gelombang kedua menggiring perempuan memasuki dunia kerja. Bagi Marçal itu tidak benar. Yang tepat, perempuan bermigrasi dari pekerjaan tak berbayar ke profesi bergaji; dari ranah domestik gratisan ke aras publik berupah. Itu pun perempuan harus bergelut melawan ketidakadilan yang lahir dari regulasi seksis kebijakan ketenagakerjaan. Ketika kerja keperawatan menjadi profesional—di rumah sakit atau semacamnya—ia diupah murah. Sebab cinta tidak boleh diperdagangkan. Akhirnya kerja perempuan tetap menjadi perekonomian kedua—meminjam istilah Second Sex Simone Beauvoir.

Kapitalisme yang eksploitatif sebagai anak kandung ekonomi liberal perlu dipulihkan dengan melibatkan perempuan secara adil. Ilmu ekonomi seharusnya tidak mencerabut manusia dari kodratnya sebagai makhluk yang memiliki ikatan dengan yang lain. Teori ekonomi yang menyertakan perempuan dengan spirit kesetaraan akan menjadi penyeimbang individu egois yang digerakkan oleh kepentingan diri, setan loba, dan rasa takut. Namun, visi ilmu ekonomi belum beranjak sejauh itu. Harus ada yang memasak steik agar Adam Smith  bisa berkata bahwa menyiapkan makan malam itu tidak penting.


Royyan Julian adalah penulis yang tinggal di Pamekasan. Buku mutakhirnya berjudul Ludah Nabi di Lidah Sykeh Raba (2019). Ia bergiat di Sivitas Kotheka dan Universitas Madura.