Cerpen

Tamagochi, Hantu, Burung, Sumur, Orang Bunuh Diri

Cerpen Kiki Sulistyo

Beberapa detik sebelum tubuh Ismael meluncur, ingatan di benaknya lebih dulu meluncur pada seekor burung yang meluncur cepat ke dalam rumahnya. Ismael sedang berbaring menghadap televisi. Beberapa detik sebelum melihat burung, dalam televisi dia melihat peluru-peluru kendali diluncurkan. Pada detik yang sama ingatannya meluncur pada sesosok tubuh yang meluncur dari lantai tertinggi rumah susun, menimbulkan suara gedebuk yang pada saat nyaris bersamaan teriris suara teriakan.  

Burung itu menabrak tembok di atas televisi, membuat tubuhnya nyaris meluncur turun. Tetapi sebelum mencapai lantai, ia bisa kembali mengepakkan sayap dan terbang dengan susah payah. Sambil tetap berbaring, perhatian Ismael pindah dari televisi ke burung yang berputar-putar tak menemukan arah keluar. Ismael bangkit seraya terus memperhatikan burung. Orang-orang berdatangan. Satu per satu atau bergerombol. Sebagian di antaranya menutup muka atau berpaling, meski tak beranjak dari tempatnya berdiri. Beberapa detik sebelum tubuh itu berhenti berkejat-kejat, ingatan Ismael meluncur pada telapak tangan yang meluncur cepat menghantam pipinya. Telapak itu lebih besar dari pipinya. Itu telapak tangan pamannya. Meluncur oleh suatu amarah lantaran Ismael mengajak sepupunya bermain di belakang sebuah rumah di mana terdapat sumur tak terpakai yang kata beberapa orang dihuni oleh hantu yang gemar menangkap dan menyembunyikan anak-anak.

Perhatian Ismael teralihkan sebentar ketika penyiar berita mengabarkan kematian anak-anak akibat perang. Ketika Ismael menoleh, tak ada gambar anak-anak yang mati, hanya ada kerumunan orang di tengah puing-puing bangunan. Ismael kembali berpaling ke burung yang beberapa detik sebelum dia menoleh telah hinggap-susah payah berpegangan pada besi gorden. Ismael ingin menangkap burung itu. Sebelum polisi datang dan memasang pita kuning di sekitar kejadian perkara, Ismael melihat seorang perempuan tua berlari kencang dari lantai dasar rumah susun. Perempuan itu meraung-raung, sebagian polisi berusaha menenangkannya, sebagian yang lain menghalau orang-orang yang kian banyak berkumpul. Sayang sekali Ismael sedang sendirian, kalau saja dia sedang bersama sepupunya, dia bisa menyunggi anak itu dan memintanya menangkap burung.

Setelah tamparan pamannya, Ismael jadi jarang bertemu sepupunya. Padahal keduanya sangat dekat. Ibunya meraung-raung ketika mengetahui peristiwa penamparan itu. Ismael mengikuti ibunya saat perempuan itu mendatangi saudaranya lalu langsung mencaci maki. Mereka bertengkar seperti dua ekor kucing saling meninggikan suara, sampai para tetangga berdatangan. Bibinya juga datang. Juga sepupunya. Juga kawan-kawannya. Hanya bapaknya yang tidak datang; memang sudah  lama lelaki itu menghilang entah ke mana.

Di antara kawan-kawannya ada dua orang yang kemudian berlagak seolah-olah mereka reporter televisi. Satu orang pura-pura menyorot dengan kamera –menekuk tangannya dan menjadikan ujung siku sebagai kamera- satu orang lagi pura-pura berbicara sambil mendekatkan tangan kanannya yang menggenggam ke arah mulutnya.

“Sering saya dengar mereka bertengkar. Anaknya itu ndak punya kerjaan…” begitu kata seseorang pada reporter berita yang datang belakangan, ketika mayat orang bunuh diri sudah dibawa-beberapa detik sebelum Ismael meninggalkan kawasan tempat rumah susun itu berdiri. Ismael memikirkan bagaimana cara menangkap burung itu. Kalau berhasil menangkapnya, burung itu bisa dijual untuk melunasi utang pada Marlon, kawan sepermainannya. Ismael melihat meja dan kursi, mengira-ngira apakah kalau semua benda itu disusun, akan cukup menjangkau si burung. Lalu pelan-pelan digesernya meja, suara derit kaki meja di lantai mengiris suara penyiar televisi. Ismael menatap layar kaca dan melihat penyiar televisi seperti menatap padanya. Beberapa detik setelah itu ingatannya meluncur pada tangan pamannya, menabrak pipinya hingga terasa perih. Rasa perih yang sama yang dia bayangkan menimpa orang yang terjun dari rumah susun. Beberapa detik setelah itu, dia lihat burung itu terbang dan tanpa sengaja meluncur ke pintu, menemukan jalan keluar.

Ismael termangu. Sampai dengan hari yang sudah ditentukan dia belum bisa melunasi utang. Mainan Tamagochi milik Marlon tanpa sengaja jatuh ke dalam sumur tak terpakai ketika dia meminjamnya. Itu gara-gara sepupunya sibuk memintanya membantu mengikat rambut. Marlon menangis melihat mainannya lenyap di dalam sumur yang gelap itu. Marlon mengaku tidak berani pulang sampai kemudian Ismael berjanji untuk menggantinya. Ismael tak memberitahu ibunya soal peristiwa itu. Begitu juga Marlon. Itu rahasia mereka berdua, tapi sepertinya bukan rahasia bagi sepupu Ismael. Ismael juga tak pernah memberi tahu ibu dan bapaknya kalau dia melihat sendiri orang itu terjun dari lantai teratas rumah susun.

Ketika mendengar seorang tetangga bercerita pada ibunya perihal orang yang bunuh diri itu, Ismael ingin membantah keterangan si tetangga kalau orang itu kemungkinan didorong oleh ibunya sendiri hingga jatuh. Ismael melihat bagaimana orang itu melompat. Dia juga melihat bagaimana perempuan tua itu meraung-raung menangisi kematian anaknya. Karena itu dia juga meragukan keterangan si tetangga kalau orang yang bunuh diri itu baru saja pulang dari Afghanistan. Namun beberapa detik setelah mendengar keterangan si tetangga, ingatannya meluncur dan memancar kembali sebagai lintasan-lintasan berita perang di televisi yang tak pernah bosan mengabarkan jumlah orang yang mati.

Ismael tak jadi mengejar burung itu, sebagaimana dia tak jadi membantah tetangganya. Meski beberapa detik sebelumnya timbul suatu tekad dalam dirinya untuk tak membiarkan kesempatan membayar utang lenyap begitu saja. Ismael menjelaskan semuanya pada Marlon, namun kawannya itu seperti cuma punya satu tujuan ketika di hari yang sudah ditentukan mereka kembali bertemu di belakang rumah kosong itu; Marlon hanya ingin mendapatkan mainan tamagochinya kembali. Roman muka Marlon langsung murung setelah Ismael mengatakan kalau dia tak bisa mengganti mainan itu. Marlon bahkan mulai sesenggukan, mengusap-usap mukanya dengan kaus yang dipakainya. Beberapa detik kemudian ingatan Ismael meloncat lantas meluncur balik menampar pipinya hingga terasa perih. Dia bayangkan rasa perih yang sama di pipi kawannya itu saat satu telapak tangan yang lebih besar dari pipi itu sendiri mendarat.

Saat itu, sepupunya muncul dari tepi jalan, berlari-lari kecil. Anak itu terlongo melihat Ismael. Segera Ismael menyuruh sepupunya itu pulang. Ismael takut pamannya akan mengira dialah yang mengajak bocah itu ke belakang rumah tua tempat sebuah sumur tak terpakai dihuni hantu yang gemar menangkap dan menyembunyikan anak-anak.

Tetangganya lantas melanjutkan cerita. Dia bilang orang yang bunuh diri itu sudah berubah jadi hantu. Tetangganya itu mendengar cerita dari tetangga si perempuan tua yang ditinggal mati anaknya itu, bahwa beberapa malam setelah orang itu bunuh diri, seorang tetangga lain menjerit ketakutan. Setelah para tetangga menenangkannya, orang itu bercerita bahwa dia melihat hantu keluar dari televisi. Wujud hantu itu mirip orang yang bunuh diri, tubuhnya remuk dan berkelejatan, melangkah menghampirinya. Mulut hantu itu kian lama kian lebar, seperti sebuah lubang yang hendak menelannya. Di hari yang lain, kata tetangga itu lagi, yang mendengar cerita dari tetangga lain, orang bunuh diri itu berubah jadi burung. Berputar-putar di sekitar rumah susun dan kerap tiba-tiba masuk mengganggu salah satu penghuni.

Ismael tak percaya pada cerita itu, jadi ketika seekor burung masuk ke rumahnya dan di televisi dia melihat peluru-peluru kendali diluncurkan, ingatannya meluncur pada tubuh orang bunuh diri yang meluncur dari lantai teratas rumah susun, dan bukan pada cerita orang bunuh diri yang berubah jadi hantu. Di rumah kosong itu, Ismael juga tak pernah melihat hantu, apalagi saat itu, saat di hadapannya berdiri dua orang anak; Marlon dan sepupunya.

Apa yang dia lihat adalah dua roman muka yang berubah dari sedih menjadi marah. Tatapan yang menajam dan seperti meluncurkan peluru-peluru kendali ke arahnya. Sepupunya itu berteriak, berkata kalau dia jahat. Marlon juga berteriak, berkata kalau dia jahat. Seruan yang sama dengan seruan ibunya pada pamannya, dan seruan pamannya pada ibunya, ketika mereka bertengkar setelah peristiwa penamparan itu.

Sepupunya yang bertubuh kecil itu lantas meluncur bagai seekor burung ke arahnya. Ismael tak bisa menduga apa yang akan dilakukan bocah itu. Mungkin dia akan menangis sambil memeluk Ismael sebagaimana sering dilakukannya. Mungkin dia akan menunjuk-nunjuk muka Ismael sembari marah sebagaimana yang dilakukan ayahnya pada bibinya. Beberapa detik sebelum mencapai tubuh Ismael, kaki sepupunya tersandung. Tubuh bocah itu oleng, terjengkang ke depan, menabrak tubuh Ismael hingga dia kehilangan keseimbangan. Ismael berusaha berpegangan, tapi tak ada apa-apa di depannya. Sementara di belakang, lubang sumur tak terpakai itu menganga seperti mulut hantu. Tanpa bisa dicegah lagi Ismael terjatuh ke lubang itu.***

Mataram, 23 Mei 2021


Kiki Sulistyo,meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.

Cerpen

Memancing Bersama Bapak

Cerpen Kiki Sulistyo

 “Ada suatu hari yang akan menjadi hari terakhirmu. Setelah hari itu tidak ada apa-apa lagi.” Begitu kata Bapak ketika suatu malam kami pergi memancing.

Bapak menggunakan pancing lontar tanpa joran. Setelah memasang umpan dan berjalan ke laut, Bapak memutar-mutar tali pancing di atas kepalanya dan melontarkannya sejauh-jauhnya. Lantas dia menjauh dari laut, mengikat tali pancing di sebatang tonggak kecil yang sudah ditancapkan di pasir, lalu duduk menunggu. Jika tali pancing bergetar bisa jadi ada ikan yang sedang memakan umpan. Bapak akan menarik tali untuk memeriksa, jika tali pancing semakin kuat getarannya, bisa dipastikan memang umpan sudah dimakan, saatnya menarik tali pancing untuk melihat hasil.

Kadang-kadang Bapak mengajakku. Satu-satunya tugas yang diberikan padaku hanyalah menemaninya; mendengarkan dia bicara. Sering aku tidak benar-benar paham apa maksud kata-katanya.

 “Terus kita masuk ke alam baka?” tanyaku.

“Iya, alam baka. Artinya tidak ada apa-apa.”

 “Bukankah ada malaikat di sana. Ada surga dan neraka?”

Bapak tidak langsung menjawab. Matanya diarahkan ke tali pancing, tak ada getaran di sana. Bunyi ombak yang tiada henti membuatku kadang tidak menyadari hempasan air itu memang ada, terhampar di hadapan kami.

Semenjak satu-satunya bioskop di kota kami berhenti beroperasi, Bapak tak lagi punya pekerjaan tetap. Semula Bapak bekerja sebagai pengantar rol film, kemudian dipindah ke posisi penjaga loket. Bersama kawan-kawan sebaya, hampir setiap malam aku bermain-main di teras bioskop itu. Kami senang melihat-lihat poster film, meski orang-orang dewasa kadang memarahi kami sebab dianggap mengganggu para calon penonton. Sebagai bocah kami memang berisik, tetapi kami tak pernah berniat mengganggu. Kami hanya gembira, dan kegembiraan dalam diri seorang bocah menjadi kegembiraan yang murni. Mungkin kemurnian itulah yang mengganggu orang-orang dewasa.

Bioskop Ramayana. Itulah nama bioskop di kota kami. Mulanya aku kira itu sekadar nama, mungkin nama si pemilik bioskop. Tetapi ketika kulihat di perpustakaan sekolah ada buku berjudul Ramayana, aku jadi mengerti kalau Ramayana adalah sebuah cerita tentang seorang istri raja yang diculik raksasa.

Meski tidak pernah memberikan karcis gratis padaku, aku senang melihat Bapak duduk di kursi  belakang kaca loket. Aku senang melihat dia memberikan karcis pada orang-orang. Aku bayangkan dia serupa malaikat yang memberikan karcis menuju surga pada orang-orang yang baik hatinya. Di mataku semua penonton bioskop adalah orang-orang baik yang akan masuk surga, sebab wajah mereka selalu tampak bercahaya. Sementara kami, bocah-bocah, hanya bisa berdiri di teras bioskop, melihat mereka satu per satu masuk ke dalam gedung tempat surga itu berada. Memang, sebelum lampu bertanda ‘film utama’ menyala, tirai di mulut pintu tidak akan ditutup. Dari luar kami masih bisa melihat beberapa cuplikan film yang akan diputar di masa datang. Saat-saat itu aku seperti diberi kesempatan untuk membayangkan surga, dan kelak akan tiba masa di mana aku bisa turut masuk ke dalamnya.

Tetapi, kata Bapak, surga itu tidak ada.

 “Berarti neraka juga tidak ada, Pak?” tanyaku. Aku menduga Bapak cuma bercanda, meski air mukanya kelihatan serius.

 “Menurutmu kalau surga tidak ada, apakah neraka ada?”

 “Tapi di sekolahan ada yang menjual buku siksa neraka. Orang-orang dibakar, dipotong lidahnya, ditusuk, disetrika, di..”

 “Ssst, lihat. Umpan sudah dimakan.” Bapak memotong kata-kataku. Aku lihat tali pancing bergerak-gerak. Bapak meraih tali itu dan menariknya pelan-pelan. Getarannya makin kuat, pertanda memang ada ikan yang sedang memakan umpan. Dengan sigap Bapak menarik kuat-kuat tali pancing itu, terus-menerus, seperti orang hendak menurunkan layang-layang. Aku bayangkan seekor ikan besar telah kami dapatkan; mungkin ikan pari, meski aku berharap itu ikan kerapu, ikan dengan daging yang lembut dan gurih. Aku lihat kegembiraan di wajah Bapak, kegembiraan yang murni. Aku bayangkan kegembiraan yang sama akan memancar di wajah Ibu, kalau nanti kami membawa seekor ikan besar sebagai hasil usaha.

Semenjak bioskop ditutup, Bapak dan Ibu sering bersitegang. Memang tidak pernah sampai berteriak-teriak. Tapi pernah kulihat Bapak dengan muka merah melempar gelas berisi teh panas ke tembok. Aku sempat berteriak, tetapi teriakanku tidak bisa menahan gelas untuk menghantam tembok dan pecah berkeping-keping. Saat itu Ibu menangis. Aku tidak tahu apa yang mereka permasalahkan, yang kutahu masalah itu tidak panjang. Mereka segera kembali seperti biasa, tenang dan tak banyak bicara. Sering aku berpikir ketenangan itu bisa terjadi berkat doa-doa Ibu; tidak seperti Bapak, Ibu memang rajin sembahyang. Tetapi di lain kali aku berpikir ketenangan itu terjadi karena Bapak selalu bisa menyadari kesalahannya dan tak sungkan meminta maaf.

Bioskop Ramayana terpaksa harus tutup karena tidak ada lagi orang yang mau menonton. Perlahan-lahan orang memilih membeli pemutar video yang memang baru saja masuk ke kota kami, memenuhi rak toko-toko elektronik. Bersamaan dengan itu, penyewaan maupun para pedagang video bajakan menjamur. Harganya jauh lebih murah dari harga tiket bioskop. Bahkan satu keping bisa berisi beberapa film. Aku merasa tidak ada lagi orang yang mau masuk surga bersama-sama. Mereka membangun surga mereka sendiri, di dalam rumah masing-masing.

Namun, tidak demikian dengan kami, Bapak tidak punya cukup uang untuk membeli mesin pemutar video, tidak cukup punya uang untuk membawa surga ke rumah kami. Tanpa surga, rumah kami terasa tenang, nyaris tanpa suara-suara. Berbeda dengan rumah para tetangga.  

Sejak bioskop tutup, Bapak beralih mengerjakan apa saja yang dia bisa; jadi tukang catut yang menjualkan barang orang, jadi tukang perbaiki alat-alat elektronik, membantu tukang kayu atau tukang batu, bahkan kadang-kadang membeli nomor porkas. Kami, para bocah yang beranjak remaja, tidak lagi gemar bergerombol di teras bioskop yang pelan-pelan mulai ditempati para pedagang batu akik, tembakau, atau jam tangan. Aku tak lagi menunggu Bapak selesai bertugas sembari menikmati permen Sugus dan melihat orang dewasa lalu-lalang di jalan.

“Nanti di surga kita tidak perlu mancing lagi ya, Pak. Ikan apa saja yang kita mau akan langsung tersedia.” Ternyata, bukan ikan pari atau ikan kerapu yang berhasil kami dapatkan. Ikan yang menggelepar-lepar di pasir itu berwarna keperakan dengan garis-garis hitam. Itu ikan korangan. Tapi aku tidak kecewa, seekor korangan juga enak digoreng, apalagi ditambah sayur bayam dan sambal. Air liur kutelan membayangkan santapan nanti.

Entah kenapa di saat yang sama aku juga teringat pada komik neraka yang kubeli di penjual mainan depan sekolah. Tiba-tiba aku takut Bapak akan masuk neraka karena pernah melempar gelas berisi teh ke tembok. Aku juga teringat pada buku cerita Ramayana, dan takut pada kemungkinan, bahwa pada saat melempar gelas berisi teh itu Bapak sebenarnya hendak meminta Ibu menceburkan diri ke dalam api, seperti permaisuri raja. Aku tidak mau Bapak masuk neraka, aku juga tidak mau Ibu masuk ke dalam api.

 “Sudah Bapak bilang, surga itu tidak ada,” jawab Bapak. Aku perhatikan parasnya untuk mencari jejak kemarahan. Tidak ada. Paras Bapak malah tampak bercahaya seperti ketika dia duduk di belakang kaca loket.

“Kalau surga tidak ada, kenapa Ibu rajin berdoa?” tanyaku sembari memperhatikan Bapak yang sibuk memasukkan ikan ke dalam keranjang dan menyiapkan umpan berikutnya. Bapak bilang, “Karena Ibu tidak ingin kita menderita. Ibu ingin kita hidup bahagia. Tapi kau lihat, tidak ada seorang pun yang membantu kita. Bukan karena orang-orang tidak mau, tetapi karena mereka sendiri juga tidak bahagia. Sebab orang-orang tahu, ada suatu hari yang akan menjadi hari terakhir mereka.”

 “Saya tidak mengerti, Pak.”  Bapak tidak membalas ucapanku. Aku tidak tahu dari mana dia mendapat kalimat-kalimat itu. Mungkin dari film-film yang dia tonton, mungkin dari pengalaman hidupnya yang tak banyak aku tahu. Kembali dia memutar-mutar tali pancing di atas kepalanya dan melontarkannya jauh-jauh ke tengah laut. Baru aku perhatikan tubuh Bapak yang pendek dan kecil seakan menyimpan kekuatan besar. Aku merasa akulah umpan itu, dilemparkan ke tengah laut dan tak tahu adakah ikan yang mau menyambut.

Bunyi ombak tak pernah sedikit pun berhenti, terus berulang-ulang, seperti mendapat siksa sebagaimana orang-orang berdosa dalam komik yang pernah kubaca. Kudongakkan kepala, menatap langit yang tak menampakkan bulan. Aku bayangkan di atas sana, di ruang lapang terbuka itu, berdiri sebuah bioskop. Lalu dengan kegembiraan yang murni, aku, Bapak, Ibu, dan semua kawan-kawanku, masuk ke dalamnya. ****

Mataram, 13 Juni 2020


Kiki Sulistyo, meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.