Cerpen

Tokoh Perempuan dalam Cerpen

Cerpen Nana Sastrawan

“Sempurna!”

Tokoh kita melonjak girang dari tempat duduk walaupun hatinya berdebar-debar, dia terkejut, sangat terkejut. Di hadapannya seorang perempuan mengenakan kaus dan celana jins, meskipun tak minim, kausnya teregang ketat karena dada yang montok. Rambutnya tergerai, panjang dan lurus. Wajahnya putih, mata yang jernih, bibir merah pepaya dan hidung mancung. Sungguh, semua yang terlihat adalah bukan imajinasi. Bukan juga sebuah delusi, atau ilusi. Ini adalah kenyataan. Kenyataan yang sempurna.

Sementara itu, malam semakin malam, udara menusuk tulang. Di dalam kamarnya, tokoh kita mencoba menguasai diri, dia menyalakan rokok, tangannya gemetar, pemantik tak bisa menyala meski berulang kali dijentikan. Lalu, pemantik itu jatuh. Dia segera mencari pemantik itu, tangannya meraba-raba lantai, sementara matanya tidak lepas dari sosok perempuan itu. Lampu di kamarnya mati, hanya cahaya bulan yang menembus jendela sebagai penerang gelap. Pemantik itu ditemukan oleh jemarinya.

Klik. Api menyala, seperti unggun. Rokok terbakar.

“Shhhsh….”  Asap mengepul dari mulutnya.

Tokoh kita menatap takjub, dia seolah sedang meneliti setiap lekuk dan bentuk dari perempuan itu. Mata tokoh kita kini berbinar-binar, dia baru saja menemukan sesuatu yang selama ini ada dalam benaknya.

“Sebentar, sebentar!” ucapnya.

Tokoh kita mendekati tumpukan kertas yang berada dekat printer, tangannya kemudian meraup kertas-kertas itu lalu meneliti satu demi satu, sesekali rokoknya dihisap, asap menyelimuti remang malam di kamar.

“Angel? Jasmine atau Ferrina?”

Dia terus meneliti satu demi satu kertas itu sambil sesekali membacanya. Dalam benaknya ada banyak nama-nama yang diingat yang segera dia ingin yakini bahwa nama-nama itu adalah sesuatu yang terjadi pada malam ini.

“Ah, kalau melihatmu sepertinya kau wanita …. modern! Ya modern! Kalau tidak salah …. Jane!” dia lalu mengacak-ngacak tumpukan kertas yang lain.

Cahaya bulan membantu tokoh kita mencari apa yang dia cari, malam ini memang sangat sepi, suara sepelan apapun pasti terdengar, meskipun itu suara napas sendiri. Malam yang sering orang bilang malam yang paling keparat. Bagaimana tidak, malam yang sunyi seperti ini, tokoh kita masih terjaga dalam kegelisahannya.

“Bukan!” serunya, lalu membanting kertas-kertas itu.

Dia memandang kembali perempuan itu dengan rasa putus asa. Dihisaplah rokok berulang kali untuk menghilangkan rasa gugup dan gelisah yang semakin menyerang pikirannya.

“Namaku Neneng,” ucap perempuan itu.

“Neneng?”

“Iya? Ne-ne-ng.”

“Hahaha… kau terlalu modern, nama itu terlalu udik!”

“Aku memang wanita modern diciptakan untuk mengobati kesepianmu.”

Tokoh kita terperanjat, dia sadar akan sesuatu. Kemudian dia melihat layar laptop, dibaca tulisan-tulisan yang baru saja dia ketik. Lalu, matanya terhenti di sebuah nama, kemudian dia alihkan pandangannya kepada sosok perempuan itu. Persis seperti apa yang dia tulis, tidak ada satu pun yang salah, semuanya sempurna!

***

“Kamu seorang perempuan yang hidup di kampung, segalanya terbatas. Bahkan sekolahmu saja tidak sampai atas. Tapi bicaramu seperti intelektual saja!” ucapku sambil memandang sinis kepada perempuan yang berada di depanku.

Dia sama sekali tidak terusik dengan kata-kataku, tangannya terampil mengukir garis-garis di kain, membuat pola-pola binatang dan pohon.

“Memangnya salah jika perempuan kampung sepertiku terdengar lebih cerdas?”

Aku terdiam.

“Sekarang semua orang harus cerdas kalau tidak pemilihan kepala kampung saja bisa adu jotos karena tidak memakai kecerdasan.”

“Jadi, sebagai perempuan, kamu juga bisa adu jotos?”

Dia menghentikan tangannya, mata yang jernih menatap diriku. Dadaku berdesir melihat sorot matanya, wajahnya tampak bersinar, wajah perempuan lokal yang cerdas dan berpendirian.

“Pernahkan kamu melihat seorang perempuan muda yang tampak begitu rapuh?” tanyanya.

“Pernah. Di kota, banyak perempuan menjadi rapuh karena persoalan uang dan cinta.”

“Aneh bukan? Padahal di kota perempuan-perempuan disekolahkan tinggi. Terkadang pendidikan itu tidak membantu sama sekali untuk seseorang menjadi bijaksana dan dewasa.”

“Memangnya di sini tidak ada perempuan yang rapuh?” serangku.

“Kamu lihat sendiri di kampung ini, perempuan-perempuan bekerja sepanjang hari, bahkan terkadang melakukan apa yang biasa laki-laki lakukan. Memanggul beras, mencangkul, memotong kayu dan menggali sumur. Sejak dulu, wanita sudah ditakdirkan untuk perkasa.”

“Apakah itu artinya kamu ingin mengatakan bahwa perempuan lebih hebat dari laki-laki?” tanyaku semakin sinis.

“Setidaknya, kaum lelaki sadar bahwa perempuan itu bukan kaum yang lemah. Mereka pekerja keras dan setia, mereka juga layak untuk menjadi seorang pemimpin. Sebab, terkadang urusan rumah tangga memang dipimpin oleh perempuan,” jawabnya sambil tersenyum.

Dia kemudian melanjutkan pekerjaannya. Aku mengamati perempuan ini seluruhnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sungguh perempuan kampung yang luar biasa. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan perempuan secerdas dan sekeras dia. Sepertinya dia memang bergaul, dia mengamati seluruh kejadian di negeri ini. Mungkin juga, dia rajin membaca hingga wawasannya luas. Saking asyiknya berbincang dengannya aku tidak sadar di mana awalnya kami membicarakan tentang gender. Yang jelas, aku terpesona.

Jemari lentik perempuan itu terus bekerja, menggores kain polos dengan garis-garis halus, penuh penjiwaan dia mengukirnya, tampak garis-garis itu membentuk sesuatu yang indah dan berkarakter. Khas sekali, mungkinkah dia sedang menuangkan keresahan dalam dirinya kepada sebuah kain tenun? Atau, dia memang sebenarnya perempuan yang kesepian? Tetapi tidak terlihat olehku wajah-wajah sepi dalam dirinya, tidak seperti perempuan yang aku kenal di kota. Perempuan kesepian yang duduk di sudut gelap sebuah kafe sambil sesekali menenggak wine.

Perempuan yang duduk di kafe itu berwajah cantik, tubuh yang proporsional dan berpendidikan tinggi, namun itu semua tertutup oleh kemuraman yang terpancar dari raut mukanya. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu naik ke atas panggung kafe, dia meliukan tubuhnya mengikuti suara musik. Kemabukannya membuat perempuan itu semakin menikmati alunan musik, semua mata lelaki memandang dengan hasrat ingin memiliki. Lelaki memang bajingan.

Musik semakin berdentum keras memekakan telingaku. Di sini, aku semakin merasa tak nyaman. Hidup di kota memang serba bising, tak ada kenikmatan yang bisa aku rasakan, seolah semuanya hanya semu dan kemunafikan. Perempuan itu semakin lincah di atas panggung, liukan tubuhnya membuat hasrat lelaki membara. Aku tertegun menyaksikan itu semua. Tanpa kusadari bergelas-gelas wine kutenggak untuk meredam hasrat. Tetapi, tubuhku semakin memanas, kepalaku lunglai, jatuh ke meja.

“Kamu mabuk?” tanya perempuan itu yang entah sejak kapan berada di sampingku.

Aku mengangkat kepala, terasa berat. Kusaksikan kafe sudah tampak lengang. Rupanya, aku memang mabuk.

“Kepalaku hanya sedikit pusing,” jawabku.

“Mari ikut aku!” ajaknya.

“Ke mana?”

“Minum bir.”

Tanganku diseret oleh perempuan itu, aku tak berdaya mengikuti gerak kakinya menuju parkiran lalu masuk ke dalam sebuah mobil.

“Kamu boleh memilikiku dengan harga cocok,” ucapnya setelah di mobil.

Ah, sialan! Mengapa aku harus bertemu dengan perempuan cantik dan cerdas di kota ini tanpa cinta. Mereka hanya butuh uang, mereka tidak butuh kedewasaan dan kebijaksaan dalam menghadapi hidup ini.

“Mau tidak?” katanya setengah memaksa.

“Aku tidak punya uang,” jawabku.

“Miskin!” Perempuan itu melemparkan tubuhku ke luar dari mobil, lalu mobil itu melaju meninggalkanku yang masih setengah mabuk.

Aku melihat kelebatan cahaya lampu mobilnya saat berbelok dan menuruni tempat parkir, masih teringat dalam benakku, liukan tubuhnya, wajahnya yang cantik dan senyumnya yang manis. Semua itu hilang dengan sekejap hanya gara-gara uang.

“Kamu melamun?” tanya perempuan kampung itu.

Kulihat matanya yang semakin jernih, dia tersenyum. Guratan ketulusan dari bibirnya membuat dadaku berdesir.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Neneng.”

***

Tokoh kita mengucek-ngucek mata, untuk kesekian kali dia ingin memastikan apakah sosok perempuan di depannya adalah tokoh yang ditulis di cerpennya. Dan untuk kesekian kali dia menyakini bahwa ini memang terjadi. Tokoh cerpennya hidup, berdiri di hadapannya dengan tersenyum manis.

“Aku di sini,” ucapnya.

“Ini mustahil!”

“Tidak. Bukankah segalanya mungkin terjadi di dunia ini.”

“Tapi …”

“Namaku terlalu kampungan bukan untuk ukuran tokoh yang cerdas, modern dan dewasa?”

“Bukan itu. Tetapi mengapa tidak semua perempuan seperti dirimu?”

“Ah, mengapa juga semua laki-laki tidak sepertimu?”

Tokoh kita terdiam, berpikir mencari jawaban.

“Semua itu pilihan, bukan?”

“Pilihan?”

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, berulang kali, semakin lama semakin keras membuat daun telinga bergetar. Tokoh kita mengangkat kepala diiringi dengan mata terbuka, sorot cahaya matahari menembus kaca jendela, menyilaukan mata. Tokoh kita melihat ke sekeliling kamar, kertas berantakan di mana-mana, buku-buku berserakan dan asbak yang penuh abu, puntung rokok.

Tokoh kita bangkit dari tempat duduknya, berjalan menghampiri pintu yang digedor, dia membuka pintu, seorang wanita gemuk berdiri dengan wajah yang bengis.

“Bayar kos, udah tiga bulan kamu tidak bayar!” bentaknya.

“Maaf Bu, honor menulis cerpenku belum turun, bisa minta tempo sebulan lagi?”

“Tidak bisa. Bayar atau minggat!”

Perempuan itu tolak pinggang, tokoh kita berpikir mungkin inilah perempuan yang sebenarnya, dan dia adalah laki-laki yang sesungguhnya.***


Nana Sastrawan lahir, 27 Juli. Dia pernah menjadi peserta Mastera Cerpen (Majelis Sastra Asia Tenggara 2013) dari Indonesia bersama. Meraih Penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Solilokui (2019). Buku Kumcernya adalah Ilusi-delusi (2015), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Dan buku cerita anak Telolet (2017), Aku Ingin Sekolah (2018), Kids Zaman Now (2018). Buku antologi puisinya, Tergantung di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2011). Penulis bisa disapa di akun Facebook, Youtube, Twitter dengan nama pena di atas, atau kunjungi www.nanasastrawan.com.

Buku, Resensi

Tawaran Eksplorasi Bentuk Bercerita dan Catatan Lain

Oleh Doni Ahmadi

Setelah diumumkan pada Desember tahun lalu, Aib dan Nasib, pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2019 karangan Minanto akhirnya terbit pada Juli lalu. Sebagaimana karya-karya para pemenang sayembara novel DKJ sebelumnya, buku ini tentu saja ditunggu banyak pembaca. Hal lain yang membuat novel ini begitu dinantikan kemunculannya, tak lain karena catatan pertanggungjawaban dewan juri yang menyebut bahwa novel ini bercerita dengan fragmen-fragmen episodik dan sarat dengan eksperimen bentuk—sesuatu yang jarang mendapat tempat pertama.

Tengok saja beberapa catatan penjurian terhadap naskah para pemenang sayembara novel DKJ sedekade sebelumnya: Orang-orang Oetimu (2018) karya Felix K. Nesi; Semua Ikan di Langit (2016) karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie; Kambing dan Hujan (2014) karya Mahfud Ikhwan; dan Semusim dan Semusim Lagi (2012) karya Andina Dwifatma—tahun 2010 hanya menghasilkan empat unggulan tanpa pemenang utama. Di antara empat pemenang ini, barangkali hanya naskah Ziggy yang memiliki kecenderungan tersebut, para juri mencatatnya sebagai “serangkaian eksperimentasi yang tetap menyesuaikan diri pada bentuk-bentuk yang sudah ada.”

Sisanya, tema cerita dan kecakapan para pengarang dalam mengolah narasi, tokoh dan peristiwa masih menjadi penentu utama yang membuat karya-karya tersebut berhasil meraih pemenang pertama. Sedangkan novel lain yang dianggap sebagai karya eksperimen biasanya berakhir sebagai pemenang unggulan. Misal, Curriculum Vitae (2016) karya Benny Arnas yang menawarkan bentuk cerita dengan bab-bab yang pendek atau 24 Jam Bersama Gaspar (2016) karya SabdaArmandio yang dianggap menawarkan kebaruan dalam kerangka cerita detektif.

Kehadiran Aib dan Nasib karya Minanto ini bisa dibilang cukup memberi angin segar bagi para penulis dengan kecenderungan avant-garde di Indonesia untuk terus mengeksplorasi bentuk bercerita—alih-alih menyebutnya sebagai bentuk baru, paling tidak—yang sebelumnya belum pernah digunakan para penulis prosa di Indonesia. Hal ini pun sejalan dengan apa yang ditulis Budi Darma pada kumpulan esainya, Solilokui (1983), “Jumlah dan horizon karya sastra Indonesia terbatas, karena itu, hanya dengan menyandarkan diri pada sastra Indonesia kurang menjamin tumbuhnya wawasan sastra. Bukan hanya makin banyak karya sastra yang kita baca makin baik, akan tetapi juga, dan inilah yang perlu, makin banyak karya sastra yang baik mutunya yang kita baca, makin baik juga wawasan sastra kita. Dan karya sastra dunia yang baik bukan main banyaknya.”

Novel Aib dan Nasib nyatanya memang memberikan kita pengalaman pembacaan naratif yang berbeda, novel ini berjalan dari paragraf-paragraf pendek dalam empat rangkaian cerita dengan masing-masing tokoh utama yang berbeda pula dan baru diketahui saling bertaut satu sama lain setelah melewati beberapa bab. Gaya bercerita yang mirip dengan yang dilakukan pengarang Peru, Mario Vargas Llosa, dalam novel The Time of The Hero. Atau dalam konteks sastra Indonesia pernah dilakukan oleh A. Mustafa dalam novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman maupun Nukila Amal dalam novel Cala Ibi.

Pilihan alur maju-mundur, tidak linear, bentuk sirkular, cerita yang tumpang-tindih dalam novel Aib dan Nasib memang membuat novel ini cukup menawarkan gaya pengisahan yang berbeda, dan sekaligus memiliki kesan begitu rumit. Dan memang demikian, pembaca, akan sangat mungkin membalik mundur ke halaman sebelumnya karena hal ini—bab yang kelewat pendek dan tokoh-tokoh utama tiap rangkaian cerita yang berbeda.

Menariknya, cerita yang diangkat dalam Aib dan Nasib ini bisa dibilang cukup karib dengan keseharian orang-orang di Indonesia—terlebih bagi kita yang dekat dengan kabar kriminal di TV—meski berlatar di dua desa kecil di Jawa Barat. Kita akan diajak Minanto menelusuri mulai dari masalah rumah tangga, video skandal seks, hamil di luar nikah, perisakan, kemiskinan, masuknya teknologi, orang yang mendadak gila karena gagal jadi wakil rakyat, hingga gosip di warung makan. Semua hal ini berhasil diramu Minanto dengan cukup baik. Setiap peristiwa terjadi dalam rangkaian kausalitas yang ajek dan masuk akal—jauh dari adegan sinetronik yang serba sekonyong-konyong.

Keberhasilan Minanto membawa sesuatu yang dekat ini pada akhirnya membuat cerita dalam bingkai pengisahan yang rumit menjadi tidak begitu terasa mengganggu. Contohnya adalah dialog dari tokoh Marlina dan Ayahnya berikut ini:

“Kau lupa perkataanku barusan.Sesama saudara itu harus saling membantu.”
“Ini gara-gara sampean tidak bisa bekerja lagi.”
“Lancang! Tidak pantas kamu bicara begitu.”
“Lah, memang aku harus bicara bagaimana lagi? Memang benar begitu…” (hlm. 25)

Dialog macam ini tentunya sudah sering muncul, industri hiburan sudah tak terhitung menghadirkan konflik semacam ini. Hal-hal yang mengacu pada ingatan kolektif dan sesuatu yang familiar memang diracik Minanto sedemikian rupa dan membuat novelnya sama sekali tidak berjarak. Bahkan menjelang akhir kisah, kita, mau tak mau akan sepakat dengan dialog lain dalam novel ini dan dibuat mafhum mengapa antara kita dan novel ini seolah memiliki kedekatan.

“Malah aku heran, kenapa TV-TV tidak datang ke Tegalurung buat siaran berita. […] Padahal kukira setiap hari pastilah ada berita kriminal, apalagi di Tegalurung. Tidak pagi tidak siang tidak sore tidak malam.” (hlm. 262).

Keberanian Minanto memilih gaya penceritaan penuh fragmen dan sirkuler, serta pemilihan tema yang diangkat dalam novelnya sama sekali tidak keliru dan benar-benar menghadirkan kesegaran. Namun, bukan berarti novel ini tidak punya masalah.

Beberapa pembaca barangkali akan sedikit terganggu dengan tokoh-tokoh misoginis dalam novel ini—Bagong Badrudin, Susanto, Kartono, hingga Pak Sobirin—meski bisa dimaklumi dan para tokohnya pada akhirnya harus berhadapan dengan ironi yang bikin maskulinitasnya dipertanyakan. Belum lagi nasib yang menimpa tokoh-tokoh perempuan tanpa kehendak—Gulabia dan Uripah. (Dalam konteks novel ini, hal ini sebetulnya bisa kita terima dan juga sebagai penguat logika cerita). Selain itu, ada juga salah ketik nama tokoh di beberapa bagian yang sangat bisa direvisi untuk cetakan selanjutnya.

Secara keseluruhan, rasanya Minanto memang berhasil membawa angin segar serta memantik gairah dan tawaran eksplorasi bagi para pengarang setelahnya untuk mencari bentuk narasi maupun penceritaan berbeda di luar konvensional novel-novel Indonesia. Hal yang sekaligus meneruskan harapan Budi Darma, memperkaya wawasan Sastra Indonesia.


Doni Ahmadi, menulis cerita pendek. Bukunya, kumpulan cerita Pengarang Dodit (2019).

Puisi

Puisi Gusfahri

Memetik Gitar di Dadamu

Mencintaimu membuatku mengerti banyak hal

Seperti pagi ini yang membawa embun mataku

Pada bunga di halaman dengan meremas dada kiri

Dan berjalan satu kaki.

Aku membaca puisi sebelum membuka pintu

Lalu keluar dan terus membacanya.

Sebab aku percaya langit adalah jendela rumahmu

Meski cuaca belum bisa aku raba.

Jangan selalu bertanya

Mengapa hujan membuatku betah di luar rumah

Serta kemarau menjadikanku tabah pada gerah

Bisa aku jawab sekarang kekasih?

Tidak!

Di matamu aku masih saja rumput

Yang disiram dengan pestisida air matamu

Berperang dan berhijrah dari trauma.

Kau mengatakan hal sama, seperti:

Tulang kita semakin berwarna susu.

Sia-sia kekasih!

Sama halnya bunyi

Saat aku belajar memetik gitar di dadamu.

Lagu itu membuatku mengerti

Bahwa cinta tidaklah sederhana

Ia adalah luka mengasyikan yang

Membuatku menundukkan kepala.

Sekarang apa yang kurasakan

Tangan meremas keras dadaku

Merupakan amin pemetik dadamu.

Mata Pena, 2020.


Menikmati Musim

Langit berkata, aku bisa menangis

Namun matamu lebih awal memulai hujan.

Angin barat dan timur beradu

Awan menunda segala perpindahan

Menghitam. Di langit mataku.

Sedang, sisa sia-sia penyair menjadi cinta.

Dan Tuhan sedang bercanda

Bercanda bersama kita dan kata di kepala.

Kita hari yang berbeda, katamu.

Namun, aku langit

Merindukan sungging pelangi di bibirmu.

Aku membuka almanak yang

Menyimpan angka-angka kusam.

Sama sekali tidak ada kedip matahari.

Puisi menatap jemari yang gigil.

Mataku makin tertuju pada kaki

Yang tercatat di akhir bulan.

Ah! Sekarang musim cinta

Angin sedang membawa angka berwarna.

Mata Pena 2020.


Sebelum Hujan Meninggalkan Bekas

Hari yang basah, dengarlah ritmisku

Menyentuh tanah dan kuyup.

Di jendela, segala renta tersimpan.

Kesah kasih menarik ingin aku kisahkan

Padamu. Seperti, aku yang tak bisa rintik

Namun basah tanpa sengaja.

Aku ingin berlarian di kota

Yang bisa kuartikan mengeja gila.

Gila menjadikanku kekar tangkar

Dari segala yang tengkar, sebelum

Aku membaca rambu-rambu cinta.

Tapi, aku tak berhati-hati pada kata itu.

Aku mencoba keluar dan meratap

Kendaraan yang teramat cemas

Lalu lalang di kepala. Getar kakiku memaksa maju

Meninggalkan kursi, meja, kopi

Dan diriku sendiri di rumah. Di luar sangat bebas,

Aku berteriak mengacungkan bunga puisi.

Berlarian menolak semua bengkak.

Aku semakin riang, meski

Hujan dari tadi menghentikanku.

Membuat segala luka tinggal, mungkin.

Mungkin selamat dari sehat. Atau

Korban kelaparan, sebab

Mengganti mata ibu di saku dada

Dengan mata yang aku tak tahu milik siapa.

Tapi lepas dari semua itu

Tubuh tiba-tiba jatuh di jalan

Yang tak sampai kutempuh separuh. Sial,

Puisi dan aku menjadi medan tabrak lari.

Darah bersimbah menyembah kepulangan.

Aku berminat pulang. Namun,

Hujan lebih dulu menghapus jejak palung.

Meninggalkan pelangi yang tersenyum

Karena indah seorang diri. Sedang

Aku terus menahan pandang,

Memeluk lutut sendiri.

Semenjak itu, kaca adalah sahabat setia.

Aku menatapnya dan tak berhenti hati mengingat.

Pakaian yang kukenakan di waktu itu

Dibiarkan amis darah

Tanpa sesekali mencucinya.

Menunggu hari selanjutnya untuk kupakai.

Di hari ini.

Mata Pena, 2020.


Jejak Anak Palestina

Seorang anak berkepala polos terus meratap langit

Meremas luka di dadanya.

Bangunan kusam tak lagi membentuk sebuah kota

Tertata di sela sakitnya.

Mereka umpama duli di kaki persembunyian,

Masa layang-layang adalah keringat aborsi.

Tubuh sesaat bisa menjadi bidikan

Senapan zionis yang tak kenal bosan.

Derita tanah darah menyimpan anak-anak

Membasuh memar dengan air matanya

Tanpa batas tahun dan waktu.

Seorang anak berkepala polos terus meratap langit

Yang berupa mata ayahnya.

Tatapan terakhir menyusun debar

Aku tidak bisa memberimu masa kecil

Kata ayahnya.

Tubuh yang memutih dan menanggung puluhan lubang

Tergeletak di pangkuan anak itu.

Derita tanah darah menyimpan anak-anak

Mengganti panji pusaka ayahnya.

Kobar jihad tak ada hentinya.

Mata Pena, 2020.


Perjalanan menuju rumahmu

“Kau sedang di mana?”

Suaramu ringkih yang entah asalnya.

Aku sedang berlarian bersama lampu mobil

Mengendus garis putih menuju rumahmu.

Di dalam baja berjendela kaca ini

Aku mengamati kota dengan serius mungkin:

Gedung adalah tubuhmu yang nampak

Pada langit mataku, meski hanya memandang jarak.

Setiap tikungan kulalui dengan klakson

Dan degup dada. Seseorang sering meneriakiku

Agar memasang spion sebelum orang lain

Menyalip dan membekaskan air mata,

Dan itu terus berulang-ulang.

Sesampainya di rumahmu,

Aku memarkirkan diri di halaman

beranjak pelan menuju pintu dan mengetuknya.

Tak ada satu pun yang muncul.

“kau sedang di mana?” aku bertanya balik

“Aku sedang berada di pikiranmu”.

Mata Pena 2020.


Gema Malam Anak Rantau

Malam ini, seseorang menahan diri

Meraba jendela dengan kubangan air mata.

Di kota yang tak menjamin ia lahir

Terus tabah menghidu rindu

Melagukan ninabobo tanpa seorang ibu.

Pikirannya membabi buta

Merekam opera yang terjadi di siangnya:

Memungut uang dari seluruh peluh,

Kepergok orang asing yang tak punya pandang.

Ia menceritakan semua dengan tangis

Sembari mengusap foto keluarga.

Di malam ini, tiada teman selain sajadah

Ringkih tubuh ia putar pada biji tasbih:

Satu putaran berupa doa,

Selanjutnya adalah air mata.

Mata Pena,2020.


Bapak Seorang Petani

Terdapat ladang di keriput kening bapak

Tempat  mencangkul dan membajak,

Menanam kewajiban dengan peluh

Tabah menyiram seluruh.

Ekspedisi hidup berkalang otot dan doa

Selapang hati ia memanennya

Tanpa mempersaksikan air mata.

Mata Pena,2020.


Panggil Aku Merdeka

Cerita dimulai saat aku membuka buku tua

Menyapa seseorang yang matanya masih mengalir darah

Menjelma mata air.

Panggil saja aku merdeka, ungkapnya.

Aku terkesan melihat orang itu

Setiap menulis sajak dengan bambu runcing

Dan membacanya penuh tekad

Tumbuh rimbun pohon di dadaku.

Sampai sekarang pun

Sajaknya menjadi lagu

Bagi tidur anak-anakku.

Mata Pena, 2020.


Di Laut Kutemukan Matamu Tenggelam

Laut mengingatkanku pada kegaduhan

Antara waktu dan tubuhku yang merebut ombak

Aku sering kalah, ringkih kakiku lemah di atas karang-karang

Karang hatimu. Namun aku suka laut.

Nun sebelum aku mengenal tepi

Tak satu pun kutemukan siapa nyala

Dalam pancarona langit

Yang menjadi dongeng paruh baya waktu

Seperti, aku ingin menjadi sampan di tengah ombakmu

Di tepi, karang mengajariku rela

Pada setiap yang pergi

Namun, matamu masih pasang

Seakan lautan kehilangan luas

Aku suka caramu menatap

Bahkan setelah mati

Aku ingin dimumi bersama karang-karang

Dan leluasa  jeremba swastamita matamu.

Mata Pena, 2020.


Sebut Aku

Sebut aku wadah merdeka:

Darah pahlawan adalah segumpal daging

Yang berbiak menjadi aku.

Sebut aku panji suci:

Kibar merah putih serupa zirah

Kukuh di dada.

Sebut aku bambu runcing:

Tekad yang tajam melebihi mata pedang

Tertancap sorak kemakmuran.

Mata Pena, 2020.


Gusfahri atau Gusti Fahriansyah, berasal dari Desa Torbang Batuan Sumenep menggeluti sastra mulai dari Majelis Sastra Mata Pena, SMA Annuqayah, Persatuan Santri Lenteng (Persal), komunitas Tumpah Pena, serta Sanggar Gemilang. Juara1 LCPN SIDERIS INDONESIA. Karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak juga online. Surel: [email protected]

Puisi

Puisi Arida Erwianti

Gadis Sepatu Biru

Sepanjang hari gadis bersepatu jelly hak tinggi

ia merasa bisa menjangkau apa saja

lalu membuka kuku-kukunya dan menulis puisi

pintu kamarnya yang layu setengah terbuka

agar ibunya tahu ia tidak ke mana-mana

karena setiap malam datang

ia menyelinap melalui dinding-dinding  pada bantal

ia terbang ke dalam status dan foto-foto dalam media sosialnya


Sedu

Di dinding kamar kau melukis jendela

setelah membuang nama-nama di jalanan

kepala dan debaran di dadamu sibuk

mengingat yang pernah menjelma menjadi tempat pulang

berulang-ulang

tapi lupa memberi kompas


Kau dalam Diriku

Aku telah lari, darimu

tapi seperti bekerja keras di atas treadmill

ketika jarak direntang jauh dan penuh

aku selalu menjangkaumu di mataku

melupakanmu sedemikan rupa

tapi kau ternyata berada dalam laptop bahkan dalam lemari pendinginku

kubelai-belai wajahmu di layar gawai

berharap menulis ulang matahari

hingga suatu malam seorang tua datang berbisik

untuk menggengam namamu dalam doa, maka kudekap

engkau benar-benar lepas


Di Telingamu

Aku ingin berkirim surat ke telingamu

kutulis dengan tinta berisi lagu favoritmu

aku akan menyusun puzzle di telingamu

kupakai sarung tangan dari madu

aku ingin berbisik di telingamu

dari tempat yang jauh

saksama kutunggu isyarat

angin selalu meniupkan sesuatu yang jujur namun bergegas pergi

dari ruang gelap, aroma jeruk dan juga tentang layang-layang


Api

Di matanya lilin menyala

mataku meraup matanya, haus

besoknya ia bilang, maafkanlah yang penuh angkara

ia bukanlah seorang yang kuat,

ia lemah membiarkan hutan terbakar-bakar di dalam dirinya

lilin di matanya menguar hangat

aku terbaring di sana


Surga dan Medan Perang

Dadamu pernah menjadi medan perang

kau hunus kalimat berakar raksasa

tapi engkau juga

yang napasmu menjelma subuh yang hening

dengan

telapak kaki yang surga

hasratmu meraup dunia

dalam toko furniture berdinding biru, yang akan kau masukkan dalam kotak kaca

tetapi dalam udara kita berbagi

rumah tak bisa dijejali dengan sepuluh meja makan


Metropolitan dan Payung Hitam

Berganti-ganti gawai mereguk daya dari kabel-kabel

sampai tuntas

tapi ternyata orang-orang tetap dahaga

berteriak-teriak di tengah kota metropolitan

berpuluh-puluh tahun

tapi suara raib tertelan gedung beratap kelabu

baju hitam tak lagi berwarna

karena mata-mata buta sebelum membuka

panas meranggas pada getir

payung hitam telah diterbangkan


Cinta

Mencintaimu dengan penuh

karena umur tak utuh

mencintaiku dengan bara, katamu

karena masa tak selamanya benderang

pada tubuhmu padang telaga muda yang ranum

kurengkuh bagai masuk dalam mesin waktu

pada jiwaku jalan panjang berasam garam, katamu

kau tempuh dengan tafakur

cinta tak pernah melukai

karena darinya pisau kita petik

untuk mengupas buahnya, yang lebih dulu


di

di pantai aku melukis rindu berjilid-jilid

di langit aku berbisik, menabur daun-daun

di keheningan kupetik senja setelah hujan yang keemasan

pada getar, aku termenung merapal doa-doa

pada riang, aku telah menari-nari

di kedai kopi aku menulis surat untukmu

dengan alamat yang telah kuketahui bertahun-tahun

di rumahmu kutersesat

setelah memandang matamu, labirin yang biru

di mana aku berujung?

padahal tanya tak pernah dimulai

di mana kita berpisah?

padahal pertemuan tak pernah


Kita tanpa catatan kaki

Jika langit terbentang, hati kita melapang

Jika hutan-hutan menghijau, jiwa kita merimbun

kita adalah kaki-kaki kecil, berjalan melewati semesta

menunggu matahari terbit, dengan menulis buku-buku yang tebal

pada permata kita tak silau

karena mata kita adalah kilau

namun, entah sejak kapan kita menjadi ahli berpatah hati

tapi pencari ulung dalam ruang kesyukuran

pagi ke petang bagai kelopak bunga-bunga

yang kita jahit dengan benang, satu-satu

kita usai, tapi penuh


Arida Erwianti, lahir di Segeri, Sulawesi Selatan. Ibu rumah tangga, dan sedang menempuh pendidikan di Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia. Pengajar di STKIP Kusuma Negara. Menulis buku“Mozaik Pemikiran Pendiri Bangsa” (Kumpulan tulisan). Cerpennya pernah dimuat di media. Dapat dijumpai di instagram @ridawianti.

Buku, Resensi

Sesuatu yang Kita Sebut “Uang”: Sejarah, Persoalan, dan Masa Depannya

Oleh Zainul Arifin

Tak bisa dipungkiri uang menjadi bagian vital hidup kita. Kebutuhan sehari-hari yang semakin kompleks membuat transaksi barang dan jasa diandalkan pada konsep alat tukar yang dipercayai bersama. Efisiensi itu yang membuat sistem uang lebih diterima daripada sistem barter.

Sejak kehadirannya hingga sekarang, uang mengalami berbagai perkembangan. Perkembangan itu pula yang mempengaruhi bidang industri, jasa dan agrikultur dengan ujung dampaknya pada manusia dan alam. Apalagi belakangan ini konsep e-money (uang elektronik) diperkenalkan dalam transaksi finansial. Untuk itu, tentu tidak salah bila mengajukan pertanyaan: Bagaimana cara kerja uang di masa depan? Dan bagaimana itu berdampak pada masyarakat luas?

Apabila terlintas dalam benak keingintahuan semacam itu, buku Yuval Noah Harari yang terbaru mungkin sekali dapat melegakan kehausan kuriositas tersebut. Buku tersebut berjudul Money.

Buku ini sebenarnya hasil ekstrak dari dua buku Harari sebelumnya, yakni Sapiens dan Homo Deus. Sehingga tak mengherankan buku Money ini tipis hanya 166 halaman, tidak setebal buku-buku Harari yang lain. Justru dengan demikian, tampaknya maksud dari proposal gagasan Harari selama ini menemukan titik tawarnya secara jelas.

Jalan pikirannya adalah Harari menganggap uang, imperium, dan agama sebagai tiga hal yang dapat menyatukan sekaligus mengeksploitasi manusia. Hal ini lebih detail terdapat dalam buku Sapiens bagian ‘penyatuan manusia’. Mengingat imperium telah runtuh, agama sebagai kekuasaan abad pertengahan juga runtuh, maka satu-satunya yang tersisa sebagai the real power adalah uang. Di titik itulah pembahasan tentang uang menjadi penting demi masa depan sapiens.

Penyatu dan Pemisah

“Hidup bagaikan dua sisi mata uang”. Peribahasa itu persis sebagaimana Harari melihat dampak uang terhadap manusia. Bahwa uang sebagai penyatu umat manusia, tetapi sekaligus sebagai pemisah manusia.

Sebagai penyatu umat manusia, uang adalah sistem saling percaya yang paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan (Harari, 2020: 15). Sebab orang-orang bisa tidak memercayai Tuhan, agama maupun raja yang sama, tetapi mereka sama-sama memercayai uang. Misal Osama bin Laden begitu membenci Amerika Serikat, tetapi tetap menyukai dolar. Uang mampu menjembatani perbedaan ras, agama, budaya bahkan orang yang tak saling kenal sekalipun.

Uang bukanlah kenyataan material. Uang adalah produk psikologis. Kita menghasrati uang karena orang lain juga menghasratinya, bukan atas referensi materialnya. Lingkaran hasrat inilah yang bekerja.

Memang dalam sejarah, uang pertama kali berupa jelai, semacam biji-bijian. Yang menunjukkan inheren secara biologis jelai bisa dimakan. Namun dasarnya adalah konvertibilitas dan kepercayaan universal dari uang jelai tersebut. Lalu atas dasar efisiensi, uang koin dan kertas menggantikannya, bahkan hendak beranjak ke uang digital.

Dengan uang semua dapat dijualbelikan. Awalnya terdapat hal-hal yang tak berada dalam domain pasar, seperti cinta, moralitas, kehormatan maupun kemanusiaan. Sehingga tak dapat dijualbelikan dengan uang. Namun, uang selalu memiliki kemampuan menerobos hambatan nilai-nilai tersebut. Karena terdesak maupun kelaparan, maka pasar memberi penawaran.

Tak mengherankan ada orang tua tega menjual anaknya untuk jadi budak demi memberi makan anaknya yang lain. Atau pemeluk agama yang taat menjadi pembunuh lalu membeli pengampunan. Dari sini, kepercayaan pemersatu universal dari uang sesungguhnya tidak diinvestasikan pada manusia maupun nilai sakral, melainkan pada uang itu sendiri. Ketika semua bisa dikonversikan dalam pasar maka yang ada hanya hukum dingin permintaan dan penawaran. Sebuah pasar tanpa perasaan, sehingga tak mengherankan sejarah ekonomi manusia berisi sebuah tarian yang pelik (Harari, 2020: 27).

Sebagai pemisah, sisi gelap uang tak sampai di situ. Pada tahap lanjut, kapitalisme mendapat peran penting. Sejarah kapitalisme sendiri tidak bisa dilepaskan dari revolusi saintifik, yakni pengakuan atas ketidaktahuan dan ide kemajuan. Pengakuan ketidaktahuan tersebut membuat penguasa berinvestasi pada riset supaya produksi dan kekayaan terus meningkat. Sehingga ayat pertama dan paling sakral dalam kapitalisme adalah “keuntungan dari produksi harus diinvestasikan kembali dalam meningkatkan produksi” (Harari, 2020: 41). Di titik itu, dianggap pasar bebas akan mendefinisikan keadilannya sendiri. Padahal eksploitasi terus terjadi baik pada manusia maupun alam. Keserakahan pemilik modal untuk menaikkan laba dilakukan dengan cara membayar rendah upah buruh dan menambah jam kerja. Tentu seakan hal itu dapat diatasi dengan mogok kerja. Namun, bagaimana jika pabrik itu satu-satunya di suatu negara, atau semua pemilik pabrik bersepakat menurunkan upah buruh secara serempak. Buruh tak punya pilihan lain. Eksploitasi menjadi abadi. Pemisahan antar manusia terjadi.

Kaitannya dengan sains adalah bahwa keyakinan kapitalisme pada pertumbuhan ekonomi yang kekal bertentangan dengan kondisi alam (Harari, 2020: 46). Akibatnya limbah, polusi, hutan gundul, banjir dan sebagainya meluas. Untuk itu, riset saintifik dilakukan demi pencarian solusi. Artinya, penelitian dari ilmuwan didanai dalam upaya mencarikan solusi akibat ulah si pendana itu sendiri. Di sinilah tampak siapa yang berkuasa. Uang.

Dengan demikian terjadi kontradiksi abadi bahwa di satu sisi mengakui ketidaktahuan dan di sisi yang lain fanatik pada ide kemajuan. Seperti dua sisi mata uang, sebagai penyatu sekaligus pemisah.

Ketakbergunaan Manusia

Revolusi saintifik membawa umat manusia pada penemuan komputer, internet, robot dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Kecanggihan teknologi tersebut bahkan dapat mengalahkan kemampuan manusia. Misal, pekerjaan sopir dapat digantikan robot dengan algoritma canggih seperti drone dalam AI.

Self-driving car (mobil tanpa pengemudi) pernah diujicoba walaupun terjadi kecelakaan. Namun, kita dapat membayangkan apabila semua mobil di jalan raya dioperasikan oleh algoritma, maka risiko kecelakaan akan minim bahkan tidak terjadi sama sekali. Sedangkan kecelakaan oleh manusia dapat dikarenakan mengantuk maupun lelah. AI tidak pernah mengantuk dan lelah.

Sebelum revolusi industri, tenaga kuda dan kerbau sangat berguna sebagai kendaraan dan membajak sawah. Revolusi terjadi dan akhirnya digantikan dengan mobil dan traktor. Kuda dan kerbau menjadi tak berguna. Sangat mungkin, nasib pak sopir akan seperti kuda dan kerbau saat itu.

Pekerjaan guru, buruh, kasir bahkan pengacara dan dokter pun dapat digantikan oleh kecerdasan buatan (AI). Bayangkan data algoritma yang begitu besar diinput dalam waktu singkat ke dalam robot. Sedangkan untuk mendapatkan seorang guru atau pengacara maupun dokter harus menunggu bertahun-tahun untuk proses pembelajaran. Efisiensi sekaligus kecermatan terhadap pekerjaan akan memihak pada robot-robot bukan pada manusia. Di titik itu, muncullah manusia-manusia tak berguna dan tak produktif bagi sistem.

Memang seakan mengada-ada, tetapi fakta itu sedang berlangsung. Misal tentang pekerjaan dokter, terdapat AI bernama Watson dari IBM pada tahun 2011 dipersiapkan untuk mampu mendiagnosis penyakit. Kita tahu bahwa tugas utama dokter adalah mendiagnosis penyakit dengan benar, itupun sering salah diagnosis sehingga perawatan kurang optimal. Sedangkan AI seperti Watson mampu mendiagnosis penyakit seseorang dari bank data genom, riwayat medis baik dari orang tersebut maupun kerabat dengan akurasi yang lebih bagus (Harari, 2020: 99). Apalagi Watson tidak pernah lelah, lapar maupun minta tunjangan lebih. Sehingga pekerjaan dokter sangat mungkin diambil oleh AI seperti Watson suatu saat nanti. Ancaman itu tidak hanya pada pekerjaan dokter umum melainkan dokter spesialis dan tentu pekerjaan-pekerjaan manusia lainnya.

Hal semacam itulah yang dicemaskan Harari bahwa kita sedang berada di ambang revolusi yang sangat penting. Proyek abad ke-20 untuk mengatasi kelaparan, wabah dan perang berbelok pada eksploitasi atas kelas lain. Kini proyek abad ke-21 untuk menggapai keabadian dan kebahagiaan akan melahirkan segelitir elite dan membuang kelas nirguna.

Apabila riset-riset saintifik justru membagi manusia menjadi massa nirguna (useless humans) dan segelintir elite manusia-super (superhumans) yang ditingkatkan, maka liberalisme akan runtuh (Harari, 2020: 160). Pengakuan atas hak menjadi pudar. Uang berlaku sebagai apa jika segelitir elite memiliki robot-robot cerdas, yang bisa bekerja untuk mereka tanpa perlu dibayar? Lalu, konsep penyatu apa yang mengisi kekosongan tersebut?


Zainul Arifin,  pembelajar di Komunitas Bangku Hitam

Cerpen

Memancing Bersama Bapak

Cerpen Kiki Sulistyo

 “Ada suatu hari yang akan menjadi hari terakhirmu. Setelah hari itu tidak ada apa-apa lagi.” Begitu kata Bapak ketika suatu malam kami pergi memancing.

Bapak menggunakan pancing lontar tanpa joran. Setelah memasang umpan dan berjalan ke laut, Bapak memutar-mutar tali pancing di atas kepalanya dan melontarkannya sejauh-jauhnya. Lantas dia menjauh dari laut, mengikat tali pancing di sebatang tonggak kecil yang sudah ditancapkan di pasir, lalu duduk menunggu. Jika tali pancing bergetar bisa jadi ada ikan yang sedang memakan umpan. Bapak akan menarik tali untuk memeriksa, jika tali pancing semakin kuat getarannya, bisa dipastikan memang umpan sudah dimakan, saatnya menarik tali pancing untuk melihat hasil.

Kadang-kadang Bapak mengajakku. Satu-satunya tugas yang diberikan padaku hanyalah menemaninya; mendengarkan dia bicara. Sering aku tidak benar-benar paham apa maksud kata-katanya.

 “Terus kita masuk ke alam baka?” tanyaku.

“Iya, alam baka. Artinya tidak ada apa-apa.”

 “Bukankah ada malaikat di sana. Ada surga dan neraka?”

Bapak tidak langsung menjawab. Matanya diarahkan ke tali pancing, tak ada getaran di sana. Bunyi ombak yang tiada henti membuatku kadang tidak menyadari hempasan air itu memang ada, terhampar di hadapan kami.

Semenjak satu-satunya bioskop di kota kami berhenti beroperasi, Bapak tak lagi punya pekerjaan tetap. Semula Bapak bekerja sebagai pengantar rol film, kemudian dipindah ke posisi penjaga loket. Bersama kawan-kawan sebaya, hampir setiap malam aku bermain-main di teras bioskop itu. Kami senang melihat-lihat poster film, meski orang-orang dewasa kadang memarahi kami sebab dianggap mengganggu para calon penonton. Sebagai bocah kami memang berisik, tetapi kami tak pernah berniat mengganggu. Kami hanya gembira, dan kegembiraan dalam diri seorang bocah menjadi kegembiraan yang murni. Mungkin kemurnian itulah yang mengganggu orang-orang dewasa.

Bioskop Ramayana. Itulah nama bioskop di kota kami. Mulanya aku kira itu sekadar nama, mungkin nama si pemilik bioskop. Tetapi ketika kulihat di perpustakaan sekolah ada buku berjudul Ramayana, aku jadi mengerti kalau Ramayana adalah sebuah cerita tentang seorang istri raja yang diculik raksasa.

Meski tidak pernah memberikan karcis gratis padaku, aku senang melihat Bapak duduk di kursi  belakang kaca loket. Aku senang melihat dia memberikan karcis pada orang-orang. Aku bayangkan dia serupa malaikat yang memberikan karcis menuju surga pada orang-orang yang baik hatinya. Di mataku semua penonton bioskop adalah orang-orang baik yang akan masuk surga, sebab wajah mereka selalu tampak bercahaya. Sementara kami, bocah-bocah, hanya bisa berdiri di teras bioskop, melihat mereka satu per satu masuk ke dalam gedung tempat surga itu berada. Memang, sebelum lampu bertanda ‘film utama’ menyala, tirai di mulut pintu tidak akan ditutup. Dari luar kami masih bisa melihat beberapa cuplikan film yang akan diputar di masa datang. Saat-saat itu aku seperti diberi kesempatan untuk membayangkan surga, dan kelak akan tiba masa di mana aku bisa turut masuk ke dalamnya.

Tetapi, kata Bapak, surga itu tidak ada.

 “Berarti neraka juga tidak ada, Pak?” tanyaku. Aku menduga Bapak cuma bercanda, meski air mukanya kelihatan serius.

 “Menurutmu kalau surga tidak ada, apakah neraka ada?”

 “Tapi di sekolahan ada yang menjual buku siksa neraka. Orang-orang dibakar, dipotong lidahnya, ditusuk, disetrika, di..”

 “Ssst, lihat. Umpan sudah dimakan.” Bapak memotong kata-kataku. Aku lihat tali pancing bergerak-gerak. Bapak meraih tali itu dan menariknya pelan-pelan. Getarannya makin kuat, pertanda memang ada ikan yang sedang memakan umpan. Dengan sigap Bapak menarik kuat-kuat tali pancing itu, terus-menerus, seperti orang hendak menurunkan layang-layang. Aku bayangkan seekor ikan besar telah kami dapatkan; mungkin ikan pari, meski aku berharap itu ikan kerapu, ikan dengan daging yang lembut dan gurih. Aku lihat kegembiraan di wajah Bapak, kegembiraan yang murni. Aku bayangkan kegembiraan yang sama akan memancar di wajah Ibu, kalau nanti kami membawa seekor ikan besar sebagai hasil usaha.

Semenjak bioskop ditutup, Bapak dan Ibu sering bersitegang. Memang tidak pernah sampai berteriak-teriak. Tapi pernah kulihat Bapak dengan muka merah melempar gelas berisi teh panas ke tembok. Aku sempat berteriak, tetapi teriakanku tidak bisa menahan gelas untuk menghantam tembok dan pecah berkeping-keping. Saat itu Ibu menangis. Aku tidak tahu apa yang mereka permasalahkan, yang kutahu masalah itu tidak panjang. Mereka segera kembali seperti biasa, tenang dan tak banyak bicara. Sering aku berpikir ketenangan itu bisa terjadi berkat doa-doa Ibu; tidak seperti Bapak, Ibu memang rajin sembahyang. Tetapi di lain kali aku berpikir ketenangan itu terjadi karena Bapak selalu bisa menyadari kesalahannya dan tak sungkan meminta maaf.

Bioskop Ramayana terpaksa harus tutup karena tidak ada lagi orang yang mau menonton. Perlahan-lahan orang memilih membeli pemutar video yang memang baru saja masuk ke kota kami, memenuhi rak toko-toko elektronik. Bersamaan dengan itu, penyewaan maupun para pedagang video bajakan menjamur. Harganya jauh lebih murah dari harga tiket bioskop. Bahkan satu keping bisa berisi beberapa film. Aku merasa tidak ada lagi orang yang mau masuk surga bersama-sama. Mereka membangun surga mereka sendiri, di dalam rumah masing-masing.

Namun, tidak demikian dengan kami, Bapak tidak punya cukup uang untuk membeli mesin pemutar video, tidak cukup punya uang untuk membawa surga ke rumah kami. Tanpa surga, rumah kami terasa tenang, nyaris tanpa suara-suara. Berbeda dengan rumah para tetangga.  

Sejak bioskop tutup, Bapak beralih mengerjakan apa saja yang dia bisa; jadi tukang catut yang menjualkan barang orang, jadi tukang perbaiki alat-alat elektronik, membantu tukang kayu atau tukang batu, bahkan kadang-kadang membeli nomor porkas. Kami, para bocah yang beranjak remaja, tidak lagi gemar bergerombol di teras bioskop yang pelan-pelan mulai ditempati para pedagang batu akik, tembakau, atau jam tangan. Aku tak lagi menunggu Bapak selesai bertugas sembari menikmati permen Sugus dan melihat orang dewasa lalu-lalang di jalan.

“Nanti di surga kita tidak perlu mancing lagi ya, Pak. Ikan apa saja yang kita mau akan langsung tersedia.” Ternyata, bukan ikan pari atau ikan kerapu yang berhasil kami dapatkan. Ikan yang menggelepar-lepar di pasir itu berwarna keperakan dengan garis-garis hitam. Itu ikan korangan. Tapi aku tidak kecewa, seekor korangan juga enak digoreng, apalagi ditambah sayur bayam dan sambal. Air liur kutelan membayangkan santapan nanti.

Entah kenapa di saat yang sama aku juga teringat pada komik neraka yang kubeli di penjual mainan depan sekolah. Tiba-tiba aku takut Bapak akan masuk neraka karena pernah melempar gelas berisi teh ke tembok. Aku juga teringat pada buku cerita Ramayana, dan takut pada kemungkinan, bahwa pada saat melempar gelas berisi teh itu Bapak sebenarnya hendak meminta Ibu menceburkan diri ke dalam api, seperti permaisuri raja. Aku tidak mau Bapak masuk neraka, aku juga tidak mau Ibu masuk ke dalam api.

 “Sudah Bapak bilang, surga itu tidak ada,” jawab Bapak. Aku perhatikan parasnya untuk mencari jejak kemarahan. Tidak ada. Paras Bapak malah tampak bercahaya seperti ketika dia duduk di belakang kaca loket.

“Kalau surga tidak ada, kenapa Ibu rajin berdoa?” tanyaku sembari memperhatikan Bapak yang sibuk memasukkan ikan ke dalam keranjang dan menyiapkan umpan berikutnya. Bapak bilang, “Karena Ibu tidak ingin kita menderita. Ibu ingin kita hidup bahagia. Tapi kau lihat, tidak ada seorang pun yang membantu kita. Bukan karena orang-orang tidak mau, tetapi karena mereka sendiri juga tidak bahagia. Sebab orang-orang tahu, ada suatu hari yang akan menjadi hari terakhir mereka.”

 “Saya tidak mengerti, Pak.”  Bapak tidak membalas ucapanku. Aku tidak tahu dari mana dia mendapat kalimat-kalimat itu. Mungkin dari film-film yang dia tonton, mungkin dari pengalaman hidupnya yang tak banyak aku tahu. Kembali dia memutar-mutar tali pancing di atas kepalanya dan melontarkannya jauh-jauh ke tengah laut. Baru aku perhatikan tubuh Bapak yang pendek dan kecil seakan menyimpan kekuatan besar. Aku merasa akulah umpan itu, dilemparkan ke tengah laut dan tak tahu adakah ikan yang mau menyambut.

Bunyi ombak tak pernah sedikit pun berhenti, terus berulang-ulang, seperti mendapat siksa sebagaimana orang-orang berdosa dalam komik yang pernah kubaca. Kudongakkan kepala, menatap langit yang tak menampakkan bulan. Aku bayangkan di atas sana, di ruang lapang terbuka itu, berdiri sebuah bioskop. Lalu dengan kegembiraan yang murni, aku, Bapak, Ibu, dan semua kawan-kawanku, masuk ke dalamnya. ****

Mataram, 13 Juni 2020


Kiki Sulistyo, meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.

Cerpen

Selalu Ada Cara Diam-Diam untuk Satu Persoalan

Cerpen Ian Hasan

Ada satu cara manjur, nyaris sempurna kau yakini kebenarannya untuk menyelesaikan kebuntuan ketika berhadapan dengan suatu persoalan. Cara itu bukan didapat lewat pemikiran yang serba rumit atau semacam pertimbangan yang menguras energi dan kewaspadaan, tetapi lewat pemusatan perhatian dan ketenangan yang memadai untuk memutuskan tindakan. Keyakinanmu itu nyaris sempurna karena belum kau temukan cara lain, sedangkan kau sendiri cukup menyisakan dugaan bahwa mungkin masih ada sebagian orang berkeyakinan lain tentang hal itu.

Kau ingat suatu ketika pernah menghadapi situasi sulit semacam itu, setidaknya untuk ukuranmu sendiri di awal-awal punya anak. Kau sampai tak bisa berkata-kata apapun ketika seorang mantri menyebut biaya berobat anakmu yang nilainya dua kali lebih besar dari sisa uang harian yang kau punya. Hal berbeda kau lihat di raut wajah istrimu yang kemudian meminta kau keluar menggendong anakmu. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam ruang praktik, sehingga kalian tetap bisa membawa sejumlah obat di dalam kantong plastik putih, secerah langkah kalian pulang ke rumah setelahnya.

Sejak peristiwa itu kau mulai mengamati kecenderungan orang mengambil cara diam-diam demi mendapatkan jalan keluar terbaik di kehidupannya. Seperti halnya ketika beberapa waktu berikutnya kau setengah dipaksa menemani pimpinanmu yang diam-diam menikahi seorang gadis di lereng gunung. Dia putuskan itu karena tak ingin masa depan keluarganya hancur sedangkan istrinya sudah tak sanggup lagi meladeni kebutuhan pentingnya sebagai laki-laki. Hati kecilmu tentu saja berontak, tetapi mengingat hanya cara itu yang bisa menopang keberlangsungan aktivitas yang kalian jalani, kembali kau yakini kalau diam-diam adalah solusi.

“Jika kita pernah buruk pada suatu masa, bukan berarti kita akan mengotori sepanjang hidup kita dengan keburukan,” jelasnya, menjawab kegamanganmu terkait keputusannya, “dan setiap orang pasti memiliki cita-cita yang diperjuangkan, seburuk apapun cara meraihnya,” tambahnya sembari memutar kemudi mobil yang kalian kendarai.

Kau balas penjelasan itu dengan beberapa kali anggukan, sembari matamu menerawang jauh, membayangkan keburukan lain apabila tidak memilih cara diam-diam. Jujur, saat itu keyakinanmu mengenai cara halus itu belum sebulat sekarang. Kau masih terlalu percaya diri untuk berharap mengenai kehidupan yang serba lantang. Segala urusan diselesaikan dengan terbuka tanpa harus ditutupi. Perkara-perkara pelik bisa jadi lebih mudah diuraikan ketika berhadapan langsung dengan sumbernya, tak perlu dihindari dengan mencari jalan lain yang lebih sunyi. Tetapi apakah diam-diam itu juga berarti sembunyi-sembunyi? Sedangkan seorang pengecut pun bukan berarti mampu menguasai cara itu dengan baik, mengingat adanya sederet risiko yang harus disadari sejak awal, sebelum memutuskan bertindak dengan cara diam-diam. Kau pikir, melakukan cara itu juga harus dilandasi kepercayaan diri yang kuat, selain sikap tenang, dan perhatian penuh akan jalan keluar yang memang sudah di depan mata. Ibarat menangkap ikan tak perlu membuat airnya keruh.

Sebagai seorang aktivis, ingatanmu tiba-tiba menggapai satu kisah penting terkait berdirinya republik ini. Saat di mana secara diam-diam pula, para pemuda menculik dua pemimpin yang dianggap mewakili keutuhan bangsa. Dapatkah dikatakan tindakan para pemuda itu sebagai pengecut? Sedangkan pilihan cara lain justru bisa membuat nilai kemerdekaan bangsa ini jadi berbeda. Faktanya, keesokan hari setelah penculikan itu proklamasi kemerdekaan dibacakan, lebih lantang menyuarakan kebebasan dari skenario penjajah, juga terhindar dari kekonyolan cara-cara gegabah. Meskipun pada awalnya, perdebatan dan silang pendapat hampir saja menggagalkan semuanya.

Sebelum hari ini, kau sudah sering diperingatkan orang-orang terdekatmu terkait keyakinan yang ada dalam diri atas cara itu, termasuk oleh istrimu sendiri. Dia berkali-kali memintamu berhenti dari aktivitas bawah tanah yang menurutnya sangat berbahaya, terutama menyangkut keselamatan keluarga kalian.

“Memangnya kamu punya simpanan senjata?” tanya istrimu, ketika mengetahui siapa kekuatan yang sedang kau lawan.

Kau lalu menjelaskan perihal aktivitas kelompok yang belakangan ini bergerak sunyi. Siapa yang mau nyawanya hilang sia-sia ketika teriakan tuntutan dan selebaran protes, justru membangunkan kemarahan harimau dan ular yang bersarang di tampuk kekuasaan? Nyaris tak terhitung lagi berapa nyawa kawanmu yang melayang di keramaian demonstrasi atau cukup sial dengan hanya menjalani bui karena didakwa membahayakan.

“Takut?” Tak kau duga, istrimu bertanya begitu.

“Bukan begitu juga.”

“Lalu?” Istrinya mulai mencium ketidakberesan dan memandangmu penuh curiga.

“Sudahlah, aku tak mau malam ini berantakan sebab anak-anak terbangun oleh suaramu.”

Malam itu, ditemani irama rintik hujan yang menggairahkan, kau ajak istrimu melakukan cara diam-diam di tengah kesibukan yang menghujani malam-malammu sebelumnya.

Keesokan harinya, tatkala istrimu belum selesai menyiapkan kopi dan anak-anak masih tenggelam dalam nyenyak mereka, terdengar salam dan ketukan di pintu depan.

“Kenapa?” tanyamu begitu melihat Seno dan Jalal di depan pintu.

Hawa dingin pagi itu tak sanggup menyembunyikan kepanikan di wajah mereka berdua, membuatmu buru-buru mengajak mereka masuk.

“Kongres belum selesai, Serikat Petani Kang Din didatangi aparat,” setengah berbisik, Jalal menyampaikan kabar dari Salatiga.

“Mama Tata juga, ladang sorgum kelompoknya di Flores kena gasak, padahal tinggal seminggu lagi panen.” Seno menggebu menyampaikan itu seakan tak mau kalah dari Jalal.

“Maksud kalian ke sini?” tanyamu singkat.

“Jejaring gerakan mulai terbaca,” jawab mereka hampir bersamaan. Efektivitas gerakan bawah tanah mulai dipertanyakan beberapa kawan, karena tetap saja denyut sekecil apapun dibungkam dengan dalih penyelewengan kepercayaan. Kalian bersepakat menduga, ada oknum-oknum yang disusupkan. Kedua kawanmu langsung menyarankan agar kau menjauh dari keluarga untuk beberapa waktu sampai situasi aman. Hening beberapa saat membuatmu cukup punya waktu berpikir lantas memutuskan mengikuti mereka.

***

Ketika langit sore belum sepenuhnya berubah kelam, saat kebanyakan orang sibuk menyiapkan kedatangan malam, dua orang lelaki bergegas meninggalkan sepenggal kisah mereka di tepian telaga.

“Apa boleh buat, meskipun kita tahu tunduk dan tidak itu urusan hati.”

“Iya, Kang. Tindakan lahir juga belum tentu mewakili niatan, bisa saja itu siasat yang memang harus dilakukan untuk satu persoalan.”

Tanpa mereka ketahui, diam-diam kau ikuti ke mana pun mereka pergi, menghantui mimpi mereka tentang kebenaran yang diyakini.***


Ian Hasan, pegiat di Pasamuan Among Anak (Pamongan) di Karanganyar. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata di Karanganyar.

Puisi

Puisi Maulidan Rahman Siregar

Hujan di Telinga

seseorang, yang kalah dengan nikmat Tuhan

melewati kebosanan demi kebosanan

dengan cara mengudara

lewat kata-kata

yang hidup dan berkembang biak

di jantung telepon genggam

kemudian muncul hantu

yang menari di tengah hujan

sembunyi di balik ramainya bunyi atap

dan pekikan udara

aku menyaksikan semua itu sambil merokok

dan menulis sebuah puisi iseng

di dalam telinga, muncul bunga bunga

2019


Ke Tenggara Jiwa

menangkal kesepian demi kesepian

yang diam di sarkofagus tepi jiwa

aku berjoget di udara

bersamamu, melewati banyak lagu burung

di awan tinggi

kita menikahi hujan dan membasahi banyak rumah

yang selalu berdoa

terus berdoa

agar senantiasa kaya

di atas sana

malaikat bercahaya putih suci bersih

sebagai peracik ulung kebahagiaan

berencana membakar sebuah mall

agar seluruh orang yang cari duit di sana

pulang, dan meminta

menangis

dan memeluk

agar ibu

selalu mau melepas diri dari keterpojokan

dan selalu tinggal

di rumah

menyapu banyak masalah

2019


Obat Gila

dengan segala hormat, puisi

dengan segala takut, segala sisi formal,

segala aturan

agar arus bawah tetap di bawah

agar purna akal tetap di langit tinggi

kepadamu puisi

kugali huruf-huruf

tegang badan sendiri bak kaktus di tengah

hutan

tiada matahari tiada angin

tiada apa pun

yang ada hanya cahaya samar

menembus hingga ke tulang

dan ketika pulang

hai puisi, hai umur panjang

kupulangkan segala kenang

agar purna harapan

yang diam di tepi tangis

panjang

oh doa doa

oh apa saja

lekas pulangkan segera

obat bagi jiwa

2019


Beku

siluman berkepala nabi

mendaftarkan diri masuk pegawai negeri

agar candala demi candala

di lebat hujan sana

tiada meminta apa

bikini gadis itu tersangkut di tepian pulau

ketika salju menampar mukanya

di sisi terakota

lelakinya, namanya topik

sedang memasak es batu

dan menanak banyak embun

untuk perempuan salju tadi

dua gelas sirup rasa jambu muda

tersedia begitu saja

setelah badai salju ribuan daya

menenggelamkan tubuh-tubuh penuh

elektron

dan, mati juga akhirnya

kala topik bertanya,

“pranata itu apa, hai kekasihku yang sudah

tiada?”

2019


Bertahan

seekor sapi dari dalam kitab suci,

sejak 14 abad lalu, mencoba

muncul ke dalam pinggan nasimu

tapi gagal, selalu gagal

sebab, ayam-ayam di kampus

dan ayam kampus di pusat perbelanjaan

menawarkan nubuat gurih nikmat

ke dalam tubuhmu yang universal

dirimu, dan sekularisme yang sering main

di celana

menjadi juri bagi dirimu sendiri

kau bertahan, selalu bertahan

agar lepas segala beban

agar pergi ingatan

akan tetapi, kau selalu menolak

kedatangan sapi dari kitab suci, ke dalam

pinggan nasi

yang kau upayakan diri tanggungmu

mampu menahan isak ribuan tahun

ragamu, dan asa kemerdekaan

bertahan, bertahan, bertahan

demi ayam-ayam amerika di restoran

kenamaan

dan seragam sekolah anakmu

kau menarik kembali sapi di kitab suci

dan memasak sebuah sup

kau menangisi kuahnya

sebab

itu kuah air matamu

itu kuah pedih sembilu

2019


Ruang Tulis

hai

ke mana seluruh isi bumi?

aku ingin menitipkan lara ini

untuk teman segala kenang

untuk hidup!

apa? apa aku harus tiap hari di sini

sendiri di balik sepi

apa? kau tak mendengarku?

oh baiklah

akan kutelan sendiri hidupku

aku tak akan mati-mati

tak akan pernah kalah!

lihat saja!

2019


Ruang Tulis /2/

sungguh, aku ingin menemukan diriku

di kedalaman sendiri

di tepi apa pun

tidak ada suara

tidak apa pun

bahkan diriku pun tak

kunjung kutemukan

aku terus menulis

dan menulis

hingga letihku

penuh seluruh

2019


Ruang Tidur

di gelap hebat ini, kekasih

aku tertidur, dan terbangun

satu jam kemudian.

tidak ada apa-apa di sini

kecuali doa

doa-doa panjang

yang kutulis, kurangkai, kudiamkan,

menjadi seekor puisi yang

mudah-mudahan kau mau

mudah-mudahan kau

lelap bersamanya

dan membangunkanku lagi

satu jam kemudian

2019


Ruang Tidur /2/

kubikinkan ruang tidur untukmu

biar kau tak butuh lagi pelukan,

kening yang telah dikecup,

atau sentuhan ngilu ke jantung

besok senin, kekasih

dan kau masih terbang di udara?

tidak, sesekali jangan begitu

kewarasan orang kota akan menelanjangimu

2019


Tidur

di lagu terakhir ini

telah kuhempas badan

kuhempas apa saja!

aku ingin ke sana, Rabbi

ke sudut jauh

memulangkan segala ingin

menafikan semua mau

rebah aku dalam tiap sujud

tunduk, aku patuh

tolonglah, tolong aku

mengenal yang namanya istirah

2019


Ruangan Ini Beku dan Dingin

salju masih menembus rumah

dinginnya ke jantung

kecut badan remuk di tulang

kunyalakan ponsel pintar

kutarik orang-orang

untuk menerjemahkan hidup pelik ini

menerjemahkan peta

tapi, seorang pun tidak

mengetuk pintu

mengucap salam, atau apa pun

Padang, 10 Januari 2019


Maulidan Rahman Siregar, sekarang lebih suka bikin arsip. Belum giat membaca dan menulis. Tidak terlalu suka kucing.

Cerpen

Gasing Tengkorak

Cerpen Siska Amelia

Wajahnya tampak gelisah. Rambut ikal sebahu tergerai dilapih kelembai. Sesekali mulut dibuka lebar, tertawa sambil membelalakkan mata, mengedarkan tatapan liar pada dinding bercat abu-abu. Penat melepas tawa tak beralasan, ia meraung-raung. Ditarik-tariknya rambut, lalu berteriak tidak menentu.

Berkerumun warga saat ini menontonnya. Rupanya pekik wanita itu, beserta bunyi gaduh dari benda yang dilempar sana-sini mengundang rasa tanya tetangga untuk melihat apa yang tengah terjadi. Pintu terbuka sangat lebar. Satu di antara tetangga yang datang, begitu menyaksikan perilaku tak wajar perempuan berlesung pipi ini, segera menekan tuts gawai dan menghubungi beberapa kawan. Tidak berselang lama, rumah dipenuhi banyak mata memandang, namun tak ada yang kuasa menjadi penenang.

Si wanita semakin menggila tingkah lakunya. Sama sekali tidak memedulikan banyak pasangan mata yang tengah menatap heran. Dia mulai membuka kancing bajunya satu demi satu. Sambil menari-nari, dilempar serampangan baju itu. Perlahan semua yang menutupi tubuh dilepas. Dengan menyuguhi pandangan beringas, ia menempelkan tubuh bagian depan pada dinding, di samping kiri ranjang. Kuku-kuku panjangnya mencakar-cakar dinding, lalu berteriak, menggeliat, mengamuk, tertawa, dan kadang mengeluarkan suara tangisan. Wanita tak berayah-beribu itu, nampak jelas begitu kesakitan.

Rosmayenti. Begitu warga memanggil namanya. Perawan usia 25 tahun, terkenal seantero kampung Karamba karena kemolekan tubuh dan paras dahayu yang Tuhan anugerahi. Tak ayal, berderet lelaki bertandang hendak mempersunting wanita yang kesehariannya berprofesi sebagai penjual jamu gendong. Sayang, wajah cantik tak selaras dengan tuturnya saat lelaki datang meminang. Rangkaian kata menghunus ulu hati acapkali terlontar dari bibir bergincunya. Menolak mentah dengan kata-kata pedas adalah hal lumrah baginya.

Hide. Satu di antara puluhan lelaki yang kerap mendapat perlakuan semena-mena dari Rosmayenti. Pria yang telanjur jujur mengungkapkan segala isi hati, malah disiram cerca-maki karena profesinya hanya penjual kayu bakar. Diusahakan Hide meredam hati yang memanas. Bergeming. Lelaki piatu tersebut memutuskan pergi tanpa wacana walau sepatah kata. Setiba di rumah, sengaja dia menutup rapat kejadian merendahkan harga diri, pada bapak yang begitu dihormati. Enggan Hide berbagi pilu dengan bapak yang turut dihina Rosmayenti. Suasana duka seratus hari kehilangan istri masih membekas basirah. Tentu ia tak mau menambah rasa sakit, jika dia bicara perihal apa yang dialaminya. Namun, saat wajah Hide tampak murung, justru bapak menenangkannya. Hide sedikit heran karena hal itu, dia coba menelisiknya mengapa bapak tampak tenang, tetapi diurungkannya, karena dia pikir itu bukan sesuatu yang buruk, justru dia menganggap apa yang ditunjukkan bapak melegakan hatinya. Hanya pada Mandaro, kawan karibnya, Hide menumpah-ruahkan segala isi hati.

Malam ini, langit tidak mengumbar banyak bintang. Hide yang dihubungi temannya agar menyegerakan langkah ke rumah ini, ternganga begitu melihat Rosmayenti berjingkrak tanpa busana, berkelakuan serupa binatang. Kemudian pikirannya mengembara, menjajaki setiap jengkal kejadian tujuh hari lalu.

“Pernah kau dengar tentang gasing tengkorak, Hide?” Mandaro melempar pertanyaan setelah mendengar semua yang Hide ceritakan. Kening Hide mengerut diiringi gelengan kepala, memberi isyarat bahwa dia tak paham dengan apa yang Mandaro ucap.

“Gasing tengkorak adalah gasing yang dibuat dari tengkorak jidat manusia yang mati berdarah,” tutur Mandaro. Ditatap seriusnya Hide yang mendengar dengan saksama.

“Almarhum kakek pernah bercerita tentang lelaki tua yang memiliki gasing tengkorak di kampung kita,” kata Mandaro melanjutkan obrolan.

“Lalu? Apa gunanya gasing tengkorak untukku, hah? Aku ini jatuh cinta, bukan ingin bermain gasing layaknya anak kecil.” Hide mengeluh kesal. Dihempas paksa tubuhnya pada kursi kayu bercorak kuno.

“Dasar bodoh! Tak tahukah kau cerita tentang gasing tengkorak yang mampu membuat wanita idaman kau menuruti maumu, hah?”

“Edan. Mana mungkin aku lakukan hal macam itu untuk taklukkan Rosmayenti?” ucap Hide. Ditekannya pemantik hingga mengeluarkan api kemerahan. Dia menghisap tembakau kuat sampai bara api meremang.

“Jangan naif, Kawan. Aku bisa saja mengantarmu ke rumah lelaki tua pemilik gasing tengkorak. Kakek bilang bahwa ia telah menurunkan ilmu gasing tengkoraknya pada seseorang.” Mandaro menyeruput  dan merasakan sejenak kopi tanpa gula mengalir, membasahi tenggorokan, lantas kembali angkat bicara.

“Kakek tak pernah bilang kepada siapa lelaki tua itu mewarisi ilmu gasing tengkorak. Kau dan aku bisa bertanya langsung pada lelaki tua tersebut.”

“Lalu?”

“Kita temui pemilik gasing tengkorak yang baru dan meminta agar Rosmayenti tunduk padamu.”

“Memangnya di mana rumah lelaki tua itu?”

Rimbo Data.”

Mereka beradu pandang. Bergeming. Hide hafal jalan menuju rimbo data. Beberapa kali bapaknya mengajak dia ke hutan lebat itu, mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Tetapi, Hide tidak mengetahui ada sebuah rumah di hutan yang lengang. Bapak juga tidak pernah bercerita. Barangkali terlalu sibuk dan fokus memilih kayu untuk keberlangsungan hidup.

Pikiran Hide menerawang, mengingat cerca-maki yang Rosmayenti lontarkan, tidak hanya padanya, tapi juga pada bapaknya. Untuk sesaat, darah dendam mengaliri tubuh Hide, namun raib begitu ia mengenang mendiang ibu yang selalu tanamkan nilai-nilai agama.

Mandaro mengambil secarik kertas dan pena bertinta biru. Ia nodai kertas itu, lalu menaruhnya di meja cokelat bermotif dedaunan.

Netra Hide tertuju pada kertas coretan Mandaro yang tertulis ‘Denah Lokasi Rumah Lelaki Tua Pemilik Awal Gasing Tengkorak’. Hide diam. Satu sisi ia menginginkan Rosmayenti, tapi di lain sisi, ia teringat mendiang ibu. Air muka Hide menampakan kebingungan yang sangat.

Rosmayenti kian meradang. Ia menerkam dan menerjang siapa saja yang ingin mendekatinya. Wanita paruh baya yang berniat menutupi tubuhnya dengan sarung, langsung dicekik hingga tak mampu memekik. Beruntung warga bisa melerai. Nahas, beberapa pemuda yang melerai malah dilempari apa saja oleh Rosmayenti. Tatapannya mendelik ke sekeliling, ia mulai menghalau orang-orang yang awalnya diacuhkan. Mereka ketakutan dan berhamburan, tak mau menjadi korban keberingasan wanita angkuh ini.

Pintu kamar telah dikunci Rosmayenti. Derap langkah warga perlahan menjauh, kembali ke-rumah masing-masing. Meninggalkan Rosmayenti yang terus saja mengerang.

***

Hide mengayuh sepeda begitu terburu. Kertas denah pemberian Mandaro digenggam erat. Ia mulai menapaki hutan rimbo data, membelah jalanan yang ditumbuhi banyak pepohonan besar, juga tinggi. Hawa dingin pagi langsung memagut tubuhnya, serta-merta menghujam wajah penasaran lelaki penjual kayu bakar itu.

Hide memutuskan tidak ingin menuruti saran Mandaro untuk menjadikan gasing tengkorak sebagai media menganiaya Rosmayenti dan patuh padanya. Hide hanya berencana menemui lelaki tua pemilik awal gasing tengkorak, memastikan apakah ada orang lain yang telah mendatangi lelaki tua tersebut. Dia juga hendak menanyakan siapa gerangan pemilik gasing tengkorak yang baru. Menguliti semua hal secara tuntas.

Rasa keingintahuan yang membuncah, membuat Hide semakin menambah kecepatan menga-yuh. Ia mau penderitaan Rosmayenti segera berakhir, walaupun kelakuan gadis berambut pirang itu malah membuatnya menderita. Belum pernah Hide menyayangi wanita begitu tulus, kecuali sayangnya pada Rosmayenti saat ini. Dia juga tidak mau gadisnya merasa sakit lagi.

Hanyalah gubuk reot beratapkan ijuk yang dilihat Hide di lokasi denah. Di sekeliling rumah tumbuh banyak ilalang, hal itu yang membuat Hide tak hirau sebelum-sebelumnya.

Pintu gubuk dibuka lebar seperti menunggu kedatangan tamu. Hide berencana masuk, tapi terhenti ketika melihat Rosmayenti yang berjalan perlahan menuju gubuk. Hide segera menyembunyikan diri di sisi kiri gubuk, memerhatikan langkah Rosmayenti yang memasuki gubuk.

Pintu gubuk ditutup saat Rosmayenti masuk. Hide mengendap-ngendap. Hide mengintip dari lubang gubuk yang ada. Dia melihat lelaki mengenakan topeng tengah memainkan gasing tengkorak. Gasing yang bertali kain kafan terus berputar diiringi sayup nyanyi samar. Asap mengepul dari kemenyan yang dibakar di dalam batok tempurung. Lelaki itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi tumpul begitu melihat kedatangan Rosmayenti. Dengan wajah penuh kemenangan lelaki itu berkata, “Ini ganjaran untukmu karena telah berani meludahi wajahku tiga hari lalu.”

Lelaki itu memerintahkan Rosmayenti untuk berbaring pada kasur tipis yang telah disediakan. Rosmayenti bagaikan boneka hidup yang menuruti saja kemauan lelaki bertopeng. Dengan beringas, dia mulai menggerayangi tubuh Rosmayenti.

Tak tinggal diam, Hide berniat menghentikan perbuatan itu. Namun, belum sempat hal itu dilakukannya, lidah Hide terasa kelu, hatinya getir, badan serasa kaku ketika melihat lelaki itu melepas topengnya dan mencium bibir Rosmayenti.

B … ba … bapak,” ujarnya terbata. Masih sulit hati Hide memercayai lelaki itu ialah orang yang dikenal, disayang, dan sangat dihormatinya.

Seseorang menepuk pundak Hide dari belakang. Segera Hide membalikkan badan. Di depannya berdiri seorang kakek dengan tongkatnya. Dialah lelaki tua pemilik awal gasing tengkorak. Dia menatap Hide tajam sembari menyisir jenggot yang telah memutih, lalu berkata, “Apa yang kau lakukan di gubuk yang telah aku wariskan kepada muridku?”


Siska Amelia, beberapa tulisannya pernah memenangkan lomba, yang terbaru adalah cerpen berjudul ‘Palasik’, menjadi juara favorit lomba menulis cerpen nasional yang diadakan lomba online tahun 2020.

Cerpen

Kari

Cerpen Sasti Gotama

Saya benci kari. Namun, hari ini saya terpaksa memasaknya. Kari yang saya maksud bukan kari ala India, tapi kari ala Indonesia. Shanti, kekasih saya yang memperkenalkannya. Ia berasal dari sana. Namun, seperti kari Indonesia yang menyimpan potongan ayam di balik kentalnya kuah santan, Shanti menyimpan banyak kisah rahasia yang dapat membakar isi koran lokal Warburton di musim salju yang beku.

Musim dingin di Warburton sangat menyedihkan. Kota yang berjarak tujuh puluh dua kilometer dari Melbourne ini di musim panas saja sudah sepi, apalagi di musim dingin seperti sekarang. Beberapa jalanan ditutup dan digunakan oleh anak-anak untuk berseluncur atau bermain bola salju.

Di salah satu jalan utama Warburton itulah, pertama kali saya bertemu dengan Shanti. Suatu hari di musim gugur, ia menggelar lapak makanan Indonesia dalam bazar komunitas. Kala itu, ia terlihat cantik sekali. Rambut hitam panjangnya sesekali dipermainkan angin  sehingga melayang menutupi matanya. Kulitnya yang sewarna kulit gandum tampak begitu menggoda. Bibirnya yang setebal bibir Kim Kardashian tampak sensual. Serasi dengan gaun merah berpotongan rendah yang dikenakannya.

Ia yang menyapa saya lebih dulu kala itu.

“Hai, Tuan. Anda harus mencoba kari kami.”

Awalnya saya tak peduli. Saya takut ternyata ia tak memanggil saya, melainkan lelaki lain di sekitar saya. Saya terbiasa tak terlihat, serupa hantu gentayangan. Namun, ia sepertinya tak menyerah. Ia keluar dari stan dan menghadang saya.

“Kari kami istimewa, Tuan!” katanya dalam bahasa Inggris beraksen Asia. “Ini khas Indonesia,” lanjutnya.

“Apa istimewanya?”

“Kari kami tidak sepekat kari India atau Malaysia. Selain itu juga banyak khasiatnya. Kami menggunakan daun jeruk dan serai segar. Bagus untuk daya tahan tubuh terutama di musim gugur seperti ini.”

“Saya tak suka masakan Asia.”

“Anda belum mencoba.”

“Saya tak ingin mencoba.”

“Anda harus mencoba. Aku beri cuma-cuma.” Ia memandang saya penuh arti. Pupilnya langsung tertuju pada mata saya.

Ia menarik tangan saya menuju stannya dan memberikan satu wadah plastik berbentuk bundar yang saya yakini bukan khusus untuk mengemas makanan. Pastinya kari di dalamnya sudah berubah menjadi makanan beracun yang 
terkontaminasi BPA.

“Aku yakin Anda akan menyukainya. Trust me!” Ia meletakkan bungkusan itu di tangan saya, lalu tersenyum puas.

Sesampai di rumah, bungkusan itu langsung saya lempar ke keranjang sampah. Buat apa? Hanya sekumpulan racun yang akan menyebabkan sel-sel saya bertransformasi menjadi sekumpulan alien ganas.

Namun, esoknya kami bertemu lagi di rumah makan tempat saya biasa sarapan. Rupanya ia bekerja sebaik pramusaji di sana. Ia yang mengantarkan kopi dan panekuk saya.

“Bagaimana karinya?” tanyanya. Hari itu ia memakai pakaian kasual: kaus putih sederhana dan jeans, membuatnya tampak lebih menarik. Rambut panjangnya ia ikat ekor kuda.

“Lumayan,” gumam saya. Saya harap, ia tak punya antena untuk mendeteksi kebohongan. Sebetulnya, saya ingin ia segera menyingkir dari saya.

“Ah, syukurlah. Itu pertama kali aku memasak kari. Biasanya ibuku di Indonesia yang memasaknya. Ia pandai membuat kari. Aku terpaksa belajar kilat membuatnya gara-gara teman satu apartemen memaksaku untuk mengisi stannya.”

Dalam hati, saya mengucapkan syukur banyak-banyak, lolos dari jebakan menjadi kelinci percobaannya.

“Jika Anda suka,  akan kubuatkan lagi. Besok aku antar ke rumah Tuan.”

Oh, tidak! Saya harus membuat alasan. Tapi saya urungkan niat saya. Gadis ini cukup menggoda. Ia sedikit membungkuk di depan saya sehingga dadanya agak terbuka.

“Boleh. Rumah saya di pojok sana.” Saya tunjukkan rumah bercat kelabu  yang tak jauh dari rumah makan ini. Terlihat jelas dari jendela di hadapan saya. “Dan, panggil saya Mark, jangan Tuan.”

Gadis itu tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya. “Shanti,” katanya.

Sejak kejadian setahun lalu itu, kami semakin sering bertemu. Ia kadang mampir ke rumah membawa semangkuk kari, menaruhnya di pantri, dan membiarkannya mendingin sembari kami berbincang. Dan saya selalu membuangnya setelah Shanti pulang.

Ia gadis yang pintar. Bahasa Inggrisnya cukup lancar. Banyak hal yang ia ceritakan, termasuk awal mula ia datang ke Warburton.

“Aku ingin melihat salju.”

Sudah kukatakan, alasannya  aneh. Tapi mungkin sama anehnya dengan alasan kami, warga Warburton, ke Bali hanya karena ingin berjemur di bawah sinar matahari.

Namun, tak lama, alasan Shanti ini berubah. Tepatnya setelah saya memberikan kunci duplikat dan menyilakannya tinggal di rumah.

“Aku melarikan diri,” katanya sambil bergolek malas di tempat tidur, memunggungi saya.

“Dari apa?”

“Pembedaan. Pengucilan.”

“Di?”

“Di rumah, lingkungan, kota, negara, semuanya.”

“Kenapa?”

“Karena aku berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

Ia berbalik badan dan melihat saya dengan mata redup. “Saat lahir, namaku Santo. Padahal, sejak berumur lima tahun, aku merasa sebagai Shanti. Dokter membantuku mengubah cangkang.”

Ia mengatakannya dengan lugas, satu menit sebelum kami bercinta. Hasrat saya sudah memuncak sebelum ia mengatakan hal itu, jadi untuk apa saya menghalangi  apa yang tertunda? Saya tak pernah dekat dengan siapa pun. Bagi saya, ia tetap Shanti yang saya kenal.

Di lain kesempatan, ia juga mulai terbuka tentang perasaannya. Malam itu kami sedang duduk di sofa,  menonton film Pursuit of Happiness.

“Aku  juga ingin bahagia,” bisiknya. Tangannya terbenam dalam mangkuk besar berisi popcorn.

“Berbahagialah.”

“Iya. Kupikir sekarang aku bahagia. Tidak seperti dulu.”

“Kenapa?”

“Karena dulu tidak ada yang mau mengerti. Menurut mereka, aku harus seperti cangkangku. Padahal, aku bukanlah kelomang yang bisa mudah berpindah cangkang. Jika cangkangnya sudah tak sesuai, ia bisa mencari cangkang siput, tutup botol, atau kerangka bulu babi.”

“Hmm ….” Saya tidak terlalu peduli dengan ceritanya. Mata saya lebih fokus ke akting Will Smith yang membosankan.

Shanti menyandarkan kepalanya di lengan kiri saya.

“Di negara asalku, mereka hanya melihat ini sebagai dosa, tanpa peduli apa yang kurasa. Misalnya ini pun memang dosa, lebih baik Tuhan yang menghukumku, karena Dia yang menciptakan dan tahu betapa berat cobaan yang kuhadapi. Aku pun tak ingin seperti ini. Sudah berkali-kali kucoba berlaku seperti cangkangku. Tapi, aku tak mampu.”

Sepertinya ia menangis. Suaranya bergetar. Namun, akting Will Smith yang memuakkan lebih menyita perhatian saya. Memang kenapa kalau dulu ia menderita? Toh, semua telah dilewatinya. Sekarang ia bebas menjadi apa saja yang ia mau.

“Kadang aku iri dengan yang senasib denganku di belahan dunia lain. Di sana, paling tidak mereka masih dianggap manusia. Mereka bisa menjadi pegawai pabrik, pilot, bahkan pramugari. Tapi, aku cukup bahagia saat ini. Hanya saja, aku rindu kampung halaman. Rindu kari buatan ibu.”

Tiba-tiba ia bangkit. “Akan kubuatkan kari!” ucapnya dengan suara serak yang diriang-riangkan. Jemarinya yang lentik mengusap air mata hingga tanpa sisa. Ia segera beranjak ke dapur. Aduh, sepertinya saya harus pura-pura tertidur atau mati saja sekalian. Saya benci kari!

***

Setelah enam bulan bersama, lambat laun ia mulai berubah. Semakin lama ia semakin mengekang. Bahkan untuk hal-hal kecil yang tak penting.

Misalnya saat kami berbelanja di supermarket kota untuk mengisi kulkas kami yang kosong. Ia mempertanyakan mengapa saya tak mau menggandeng tangannya.

“Apakah kamu malu terlihat bersamaku?”

Saya menggeleng. Ayolah, ini bukan masalah malu atau tidak. Memang inilah saya, biasa tak terlihat. Rasanya tidak nyaman, menunjukkan kemesraan di tempat umum. Namun, hal ini membuat Shanti berpikir lain. Ia mengomel di sepanjang lorong-lorong supermarket. Ia mengambil barang-barang di rak dengan kasar dan mencampakkannya ke keranjang belanjaan. Beberapa orang di sekitar memandangi  kami. Saya merasa risih. Saya paling tidak suka menjadi pusat perhatian. Apalagi di kota kecil seperti ini. Sudah saya katakan, hal-hal kecil bisa  membakar halaman-halaman gosip koran lokal.

Sifat paranoidnya semakin menjadi. Ia banyak menuduh saya ini dan itu. Saya pikir, ini berasal dari pikirannya sendiri. Ia merasa tidak aman hanya karena ketakutan-ketakutannya sendiri, bukan karena sesuatu yang nyata.

Puncaknya saat ia menuduh saya berselingkuh dengan rekan kerja saya di perpustakaan kota. Ayolah, saya ini hanya bayangan, tak menarik perhatian. Hanya pria paruh baya yang hampir botak dan membosankan. Tak ada yang melihat saya. Sheila, rekan kerja saya yang berdada rata dan berkaca mata itu paling hanya menanyakan katalog-katalog buku tersimpan di mana. Wajahnya juga biasa saja. Keunggulannya hanyalah ia benar-benar wanita. Namun, hal sederhana ini cukup menyulut kemarahan Shanti.

Saat marah, ia seperti beruang. Ia akan melempar semua benda-benda yang ada di dekatnya. Matanya melotot dan wajahnya berubah merah padam. Ia  banyak memaki dan menggeram.

Seperti pagi ini, ia kalap saat menemukan pesan dari Sheila yang mengharapkan kedatangan saya di pesta ulang tahunnya. Shanti mengamuk dan melempar semua benda di sekitarnya. Termasuk sebuah asbak dari kayu, oleh-oleh teman saya saat ia pulang berlibur dari Bali. Asbak itu cukup berat, dan sukses menghantam sisi kanan kepala saya.

Saya marah! Sudah banyak yang saya korbankan untuknya. Uang yang cukup banyak untuk menutup semua utang-utangnya, juga perlindungan dari jerat deportasi. Saya juga mendengarkan semua keluh kesahnya yang tak penting. Seharusnya ia berterima kasih atau bahkan menyembah saya sebagai dewa penyelamat. Tapi, rupanya ia hanya memandang saya sebagai alat. Atau lebih tepatnya saya diperalat olehnya.

Makanya, hari ini saya harus memasak kari. Harum rempahnya akan menutupi proses pembusukan. Baru kaki dan tangannya yang saya masak. Kepala dan organ dalamnya masih di kotak pendingin. Atau mungkin saya harus coba memasak rendang?


Sasti Gotama, seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi. Beberapa cerpennya telah tersiar di media massa cetak maupun online.