Cerpen

Alisa

Cerpen Depri Ajopan

Kampung terpencil dengan dua jembatan gantung yang tampak menyeramkan. Awal Alisa tinggal di situ, selalu ketakutan saat melewati dua jembatan yang bergoyang-goyang itu. Untung ada Sakib yang menemani jika suaminya berhalangan.

Selama ini Sakib tidak tergolong laki-laki kurangajar di kampung itu. Tidak pernah sekali pun ia membuat keributan, apalagi gara-gara perempuan. Ia tidak genit, seperti kebanyakan pemuda di situ. Ia tidak pernah buat onar. Itulah yang membuatnya terpilih jadi ketua pemuda. Mengenai ia yang jarang bicara kecuali yang penting-penting, justru rmenaikkan derajatnya di mata masyarakat, menjadikan ia dipandang sebagai pemuda berwibawa. Ia jarang masuk warung duduk bersama orang-orang pencerita yang suka membual.

Tapi setelah kedatangan Alisa, perempuan dari Bekasi, Sakib tersihir pada kecantikan perempuan itu. Ia jadi bahan omongan di kampungnya karena ketahuan telah bermain api dengan Alisa.

Selama ini ia tak pernah terseok-seok perihal cinta. Bahkan mungkin ia tak begitu pahan apa itu cinta. Ia berubah seketika setelah kenal Alisa, perempuan bermata lentik, kulit bersih dan putih. Badannya tidak terlalu tinggi. Alis matanya seksi, bibirnya tipis bergaris, rambutnya lurus dan panjang. Sakib yang terpesona tidak bisa membendung perasaannya. Hal itu adalah pertama kalinya ia mencintai perempuan. hanya saja perempuan itu sudah bersuami. Anehnya ia terus mengikuti jalan salah itu, jatuh cinta pada istri orang. Apakah ia harus siap-siap kehilangan cintanya sebelum mendapatkan cinta itu?

Ia sudah pernah berterus terang tentang hasrat hatinya. Hal itu terjadi ketika ia dan Alisa bersama putranya yang masih berumur tiga tahun jalan-jalan ke pasar malam. Suami Alisa tidak pernah menaruh  curiga sedikit pun. Ia sering ke luar kota karena ada keperluan.

Namun, saat itu Alisa tak pernah menggubris. Dan kali ini Sakib kembali berusaha mengutarakannya, dan ia ingin mendengarkan jawaban jujur dari perempuan itu. “Aku serius mencintaimu Alisa,” ucapnya sambil memegang tangan Alisa dalam keramaian. Cepat-cepat Alisa melepasnya.

“Cinta?” sahut Alisa lantas tertawa sembari menutup mulut dengan tangan kanannya. Sementara tangan yang satu lagi, tetap memegang anaknya.

“Kenapa kau tertawa?”

Sakib merasa dipermainkan. Ia tak menerima perlakuan perempuan itu, karena selama ini mereka sering jalan berdua, dan pulang larut malam saat suaminya tidak di rumah. Sakib juga pernah memeluk perempuan itu jika ada kesempatan. Bahkan ia pernah mencium bibirnya. Alisa sendiri pun sering membalasnya dengan melumat bibir Sakib.

Sakib memang tidak pernah melakukan lebih dari itu, walaupun ia yakin jika ia minta Alisa pasti akan menurutinya. Ia merasa cocok mengobrol apa saja dengan perempuan itu, dan obrolan mereka selalu nyambung. Ia merasa semakin hari hidupnya semakin berwarna. Karenanya ia menyimpulkan bahwa mereka saling cinta. Mengenai perempuan bermata lentik yang sudah bersuami, ia tak peduli. Sakib yakin cintanya yang kuat tidak akan bisa terjadi pada perempuan lain, sampai akhir hayatnya. Dan sudah tergambar dalam imajinasinya, bagaimana ia nanti akan terus mencintai perempuan itu.

Namun, tawa perempuan itu, sungguh-sungguh melukai hatinya. “Kau ini aneh Alisa. Apa kau menganggapku bercanda?”

 “Yang aneh itu kamu, Mas. Bukan aku,” jawab Alisa masih dalam keadaan tertawa. Tapi kali ini ia tidak lagi menutup mulutnya seperti tadi. Tawanya lepas begitu saja.

“Kenapa kau bilang begitu?”

“Yalah Mas. Aku kan sudah bersuami, sudah punya anak juga. Jadi tak pantas jika Mas bilang begitu padaku.”

Sakib menggaruk-garuk kepalannya. Ia membayangkan apa yang telah mereka lakukan selama ini. Ia ingin mempertanyakan itu pada Alisa.

“Terus,” kata Alisa.

“Terus apa?” Sakib ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tahan karena tak berani.

“Mungkin Mas mau bilang, terus kenapa kamu mau aku peluk, cium kening, bahkan lebih dari itu?” lanjut Alisa sembari menggoyang-goyang tubuhnya.

“Iya,” jawab Sakib.

“Jawabannya tidak sekarang, yang penting kita jalani saja.”

“Sampai kapan?”

“Sampai bosan.”        

Sakib mendesah, tapi tetap ia belum mau membawa pulang perempuan dengan anaknya itu. Ia belum percaya keputusan Alisa, ia anggap Alisa tidak serius.                                               

* * *

Suami Alisa baru saja pulang dari luar kota. Ia mendapat kabar dari orang-orang tentang istrinya telah bermain serong dengan laki-laki bernama Sakib di kampung itu. Ia bilang tak kenal dengan Sakib, dan ia tidak ada niat untuk menuntutnya. Cerita miring itu tidak mengganggu pikirannya. Dan ketika ia berduaan di meja makan dengan Alisa, ia cerita tentang apa yang disampaikan orang-orang. Alisa terkejut dan ketakutan. Ia berpikir tidak ada harapan lagi bisa bertemu Sakib pemuda yang sebenarnya ia cintai selain suaminya. Bahkan ia berpikir, suaminya akan menceraikannya saat itu juga. Ia semakin deg-degan, menunggu keputusan apa yang akan diambil suaminya setelah mendengar cerita itu. Ia pura-pura tak merasakan apa-apa, seolah ia tak bersalah. Padahal hatinya bergetar.

“Aku percaya denganmu Alisa. Aku tidak mau direpotkan, apalagi bikin pusing gara-gara cerita-cerita sampah yang tidak ada pembuktiannya. Aku juga tidak ada niat untuk menelusurinya, benar atau tidaknya cerita itu. Aku percaya padamu sepenuh hatiku, kau pasti menjaga cinta kita seperti janjimu dulu.”

Alisa yang semula merasa napasnya seperti terhenti, akhirnya bisa bernapas dengan lega sembari menuju dapur. Tak lama kemudian ia membawa secangkir kopi, meletaknya di meja. Suaminya yang duduk santai di kursi mengaduk secangkir kopi yang asapnya masih mengepul terbang diseret angin. Ia tak berkata apa-apa lagi. Ia juga tak membahas tentang yang lain, tentang perkembangan bisnisnya yang sebenarnya hampir hancur. Setelah menghidupkan TV, suami Alisa menghidupkan rokoknya, mengisapnya dalam, dan sesekali mencicipi cemilan yang dihidangkan Alisa.

“Kenapa semudah itu percaya padaku, Mas?” tanya istrinya berhati-hati..

“Sudah kubilang, aku tidak mau pusing gara-gara mendengar cerita menjijikkan seperti itu.” Alisa mengangguk-angguk.

“Bagaimana kalau cerita itu benar?”

Pertanyaan itu membuat suaminya terperanjat. Ia terbayang pada seorang perempuan bernama Finka, perempuan selingkuhannya, mantan kekasihnya dulu. Setiap kali ia pergi ke luar kota, Finka selalu hadir di sana. Mereka menginap berdua di homestay.

Dan kini ketika ia mendengar berita tentang istrinya, ia diam saja. Bahkan jika berita itu benar, ia memang sudah rencana tak akan marah pada istrinya. Karena ia merasa dirinya juga telah mengkhianatinya. Bahkan ia lebih dulu melakukan perselingkuhan sebelum istrinya melakukannya. Ia menyadari akan risiko yang harus ia hadapi. Ia berpikir, Alisa mungkin sudah mengerti kenapa ia tidak cemburu ketika ia mendengar kabar tentang apa yang dilakukan Alisa.

______________________

Depri Ajopan. Lulusan Pesantren Musthafawiyah Purba-Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Menyelesaikan S-1 Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang. Menulis fiksi dan diterbitkan di sejumlah media. Novel terbarunya Pengakuan Seorang Novelis. Ia bergiat di Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau, sebagai guru Bahasa Indonesia.

Cerpen

Helena

Cerpen Yulputra Noprizal

Sudah mulai gelap di seantero kota. Sinar lampu-lampu merkuri menyiram jalan dan trotoar. Lampu di teras-teras toko dan di dalamnya pun mulai menyala seluruhnya. Suara orang yang berjalan kaki di trotoar terdengar sedang bercanda. Angin malam semilir meniup lembut pori-pori. Selepas makan di sebuah rumah makan di pinggiran Kota JT tadi, mereka memutuskan kembali ke kedai itu.

“Aku tak mau menyesal seumur hidup karena mengabaikan Helen dulu,” kata Syaf sembari berjalan ke kulkas dan mengeluarkan dua botol soft drink dari dalamnya. Ia membuka kedua tutup botol soft drink di depan kulkas. Lantas, ia letakkannya di meja dan mengeluarkan sebungkus rokok serta korek gas.

“Kan memang tradisi kampus kita. Sehabis ospek, dijodoh-jodohkan. Ini berjodoh dengan ini, itu berjodoh dengan itu. Ini gebet ini, itu gebet itu,” kata Ramli. Ia mengambil bungkus rokok, mengeluarkannya sebatang dengan tangan yang mengunting, lantas memantik korek gas, menyalakannya.

“Helen sudah mengajakmu kenalan. Sudah tahu banyak latar-belakangmu. Sudah tebar pesona di depanmu. Mengajakmu jalan bareng. Kau malah tak acuh,” lanjut Ramli.

“Aku merasa rendah diri di hadapan Helen. Aku orang dusun, orang jauh. Dari Sumatera. Merantau ke Jawa, kuliah di universitas besar pula. Belum paham tradisi kampus kita. Bisa kuliah saja sudah kemewahan bagiku. Helena kan anak Bandung. Mustahil dia tidak punya mantan. Aku pikir waktu itu, aku akan dijadikannya pelarian saja dari cintanya yang mungkin kandas sewaktu SMA,” kata Syaf. Ia mencabut sebatang rokok dari bungkusnya, menyalakan korek gas, dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Tapi kau kan suka pada Helen,” kata Ramli.

“Waktu itu belum. Belum cinta pada pandangan pertama. Tapi seiring waktu aku menyukainya, setelah ia jadian dengan Yogi.

“Kau menghindar dari Helena. Membiarkan Helena jadian dengan Yogi adalah kesalahanmu. Lantas, kau jauh dari kami, teman-teman kelasmu. Menjalani hari-hari dengan berandal kampus yang tak jelas juntrungannya. Menurutku mereka berasal dari keluarga yang bermasalah,” kata Ramli.

Kendaraan berlalu-lalang dan klakson sesekali berbunyi. Seorang mahasiswa dengan tas di punggung nampak berjalan di trotoar. Mungkin sehabis mengerjakan tugas dari rumah kawannya. Angin bertiup tambah semilir, dan udara mulai terasa agak dingin.

“Aku berkawan dengan Sadi. Aku tidak tahu ia baru ditolak cintanya oleh Rini. Katanya hampir seharian mereka di atas mobil Sadi. Entah tujuan ke mana. Ketika Rini menanyakan mau ke mana, Sadi mengecup bibir Rini. Rini mengelak. Membentak, minta mobil berhenti. Berpisahlah mereka dengan cara yang tak baik. Ah, Sadi. Belum juga jadian, sudah main cium saja. Terlalu pede orangnya, menurutku,” kata Syaf.

“Dengan Sadi itulah lantas kau dekat. Juga dengan Supri dan Riko. Mereka berandal semua. Orang-orang ‘gila’,” kata Ramli, lantas menyesap soft drink-nya.

“Aku tidak tahu Sadi orangnya begitu,” kata Syaf. “Sehabis cintanya ditolak Rini, ia jadi beringas. Setiap malam aku, Supri, dan Riko diajak keliling Kota B. Mencari perempuan-perempuan kesepian. Kadang bersama pelacur-pelacur menghabiskan malam dengan vodka. Aku tahu belakangan, sehabis dari kota B, sementara aku pulang ke kosan. Mereka juga mengisap ganja di kosan Supri. Tapi sumpah, aku tak pernah bersetubuh dengan perempuan kesepian, apalagi pelacur,” kata Syaf sambil mengangkat dua jari tangan kanannya. “Pernah suatu malam Sadi mengajak kami ke Kota G untuk mengunjungi sebuah tempat wisata. Bertemu dengan beberapa perempuan malam di sana. Menyewa kamar. Aku tidak ikut masuk dan menginap malam itu. Aku kembali ke Kota JT, naik bus. Melihat mereka–Sadi, Supri, dan Riko–dengan tiga orang perempuan malam aku jadi tahu mereka sudah terbiasa dengan hal itu. Ketika suatu ketika aku datang ke kosan Sadi, di kamarnya, banyak koleksi fotonya sedang berciuman dan berpelukan tanpa baju dan celana dengan perempuan yang berbeda-beda. Semua ia pajang di dinding.”

“Itu kan,” kata Ramli. Ia layangkan pandang ke sebuah lampu merkuri di pinggir jalan. Di bukit-bukit nampak lampu-lampu berwarna orange. Kendaraan yang lewat tambah ramai, silih berganti. “Kau cuti kuliah. Kami dengar kau hanya di kosan, membaca novel-novel sastra demi mengisi waktu. Saat kau kembali ke kampus, kau jadi penyair dan terkenal,” lanjut Ramli. “Pada Semester VI biasanya kau ngobrol dengan kami di bawah kanopi sehabis kelas, dan bareng mengerjakan tugas. Tapi tidak lagi karena terlalu asyik dan pacaran dengan Sonia.”

“Ah,” Syaf menghembuskan napas. Ia mengeluarkan sebatang rokok lagi dan menyedot soft drink-nya. “Aku salah pilih. Tak seharusnya kuterima cintanya. Dia begitu gigih, setiap pagi menungguku di kampus. Menatapku terus, mengajak mata bertemu mata. Sering ia melenggak-lenggok di depanku ketika aku sedang duduk sendiri. Setiap puisi yang kutulis dan dimuat di majalah kampus dan blog, ia peragakan lewat pakaian dan gerak tubuhnya seperti pemain teater. Kata pepatah, dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Akhirnya kami jadian. Dalam pacaran sebenarnya aku banyak pasif, dia terus yang mengajakku makan bareng dan jalan. Sampai akhirnya aku membentaknya dan besoknya tersiar kabar di kampus kalau ia patah hati. Tersiar juga aku telah memerkosa hatinya, padahal sebenarnya hanya ingin menguras uangnya. Semua orang tahu, aku mahasiswa kere. Datanglah tatapan-tatapan kebencian dari kawan-kawan Sonia kepadaku.”

“Bersamaan dengan itu Helena kan juga putus dengan Yogi.” kata Ramli. “Mengapa kau tak langsung jadian dengannya?

“Helena membuka hatinya padaku. Kami lama saling pandang. Tapi ketika kulihat ia sudah berantakan. Orang-orang mengatakan, Helen sudah kayak pecun,” kata Syaf.

“Ya, aku dengar juga bisik-bisik begitu. Apakah Syaf meniduri Sonia? Di mana Syaf membuang spermanya? Pakai pengamankah? Atau Syaf lari ke tempat pelacuran? Nyatanya Sonia tidak hamil. Lantas, Sonia sendiri yang akhirnya memutarbalikkan fakta, mengatakan ke orang-orang kau yang tergila-gila dengannya. Sudah sejak semula, sebelum jadian, kaulah yang terus mengejarnya. Nama baikmu dia buat hancur sehancur-hancurnya,” kata Ramli.

“Aku menenggelamkan diriku ke sastra. Sibuk membaca buku sastra dan menulis puisi hingga akhirnya lupa akan kuliahku.”

“Kau kemudian hilang selera. Ketika Dedi menawarkanmu beberapa cewek di kampus kita, kau tak juga memilih. Mengapa pula kau tak juga jadian dengan Helen waktu itu?” tanya Ramli.

Betapa iba Syaf dulu melihat keadaan Helen setelah putus dari Yogi. Terenyuh. Helen seperti orang yang jatuh miskin. Ketika orang-orang mengatakan, Helena sudah kayak pecun, hati Syaf begitu pilu mendengarkannya–tulang-belulangnya jadi gigil.

                                   *

“Tapi semua sudah berlalu kan Syaf. Sudah lima tahun lalu. Kau meninggalkan kuliahmu. Dan Helena, kau harus tahu, ia berhasil bangkit. Karirnya bagus di perusahaan sekarang.”

“Aku tidak ingin tahu sebenarnya. Tapi aku takut jadi laki-laki yang menyesal seumur hidup karena sudah dua kali Helen membuka hatinya untukku. Aku tidak juga merimanya. Dulu aku berbohong kepada hatiku sendiri,” kata Syaf.

Sesaat mereka sama-sama terdiam.

“Sudahkah dia menikah?” tanya Syaf tiba-tiba, sembari menatatap wajah Ramli. Hatinya berharap dan sungguh penasaran. Bibir Syaf sedikit bergetar mengucapkan pertanyaan itu. Ada rasa terdalam yang tak terungkapkan.

“Sudah. Helen tinggal di Jakarta. Suaminya pns.”

                                    *

Mereka bertemu di medsos. Sehabis menghilang dari kampus, tidak ada lagi kontak kawan-kawan seangkatan dengan Syaf. Syaf tak bisa lagi dihubungi. Baru bertahun-tahun kemudian, Ramli bertemu akun medsos Syaf. Mereka pun berteman dan bertukar no. WA. Ramli sudah jadi wartawan–sesuai jurusannya sewaktu kuliah–bekerja di sebuah media online di Kota Bandung. Ramli mengira selama ini Syaf pulang kampung. Tak kan kembali lagi ke Jawa selamanya. Ternyata Syaf di Jakarta, bekerja di usaha konveksi Mamak-nya (Paman).

Lewat sebuah pesan WA mereka janjian bertemu di Kota JT, di kedai tempat dulu mereka sering duduk sore sehabis kuliah, bercerita, dan kadang curhat juga.

Syaf memandang sebuah mesin ATM dekat minimarket. Di hatinya, ada rasa tersendiri dengan kota ini. Rasa yang memanggil-manggil untuk berlama-lama tinggal. Juga kampus, yang tak jauh dari kedai, terbayang atap-atapnya oleh Syaf dari tempatnya duduk.

“Lantas, apa rencanamu Syaf,” kata Ramli.

“Aku sudah mengumpulkan puisi-puisiku yang pernah termuat di media. Ada penerbit yang tertarik. Kalau jadi terbit, itulah buku pertamaku.”

_______________________

Yulputra Noprizal. Lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

Dunia Menulis

Semua Peserta adalah Pemula

Oleh Yuditeha

Setiap kali saya mengirim karya ke sebuah lomba, hampir selalu ada komentar datang beriringan. Nadanya mirip, kata-katanya di situ-situ saja: “Wah, harus bersaing sama senior.” “Senior turun gunung, bahaya.” “Alamat kalah nih.” Kalimat-kalimat itu terdengar ringan, bahkan bercanda. Namun, seperti hujan gerimis jatuh terus-menerus di satu titik, ia pelan-pelan melubangi.

Saya paham, komentar-komentar semacam itu sangat mungkin hanya pengganti sapaan, bentuk keakraban, atau cara ringan untuk membuka percakapan. Saya juga tidak pernah membacanya sebagai serangan, apalagi merendahkan. Tulisan ini pun tidak lahir dari rasa kesal, tersinggung, atau keinginan membalas apa pun. Sama sekali tidak.

Ia lebih merupakan kegelisahan kecil yang barangkali sering lewat di kepala banyak orang, tapi tak sempat diucapkan. Siapa tahu, suatu waktu, ketika situasi serupa kembali muncul, tulisan ini bisa bekerja sebagai ruang hening untuk menimbang, bukan untuk menghakimi. Lebih sebagai ajakan berbagi sudut pandang, bukan penegasan posisi.

Karena itu, saya tidak sedang menunjuk siapa pun. Tidak sedang menyasar kelompok tertentu. Tidak sedang membangun kubu. Saya hanya ingin meletakkan pengalaman kecil ini di meja, lalu mengamati bersama: barangkali di sana ada yang bisa kita pelajari, tanpa perlu menjadi polemik melelahkan.

Saya tidak tersinggung, apalagi marah. Barangkali hanya sempat merasa tidak nyaman. Sebab, di balik kelakar itu, ada asumsi diam-diam bekerja: bahwa lomba seharusnya hanya diisi oleh mereka yang dianggap sedang belajar. Sementara yang sudah keburu dicap senior, atau entah apa namanya, seolah harus minggir sukarela, demi menjaga kenyamanan batin kolektif.

Padahal, di dalam lomba, terutama lomba menulis, semua peserta berdiri di titik sama: nol. Dalam naskah lomba, nama penulis sering kali disamarkan. Yang tersisa hanya teks dan penilaian. Tidak ada suhu, tidak ada murid, tidak ada senior, tidak ada junior. Semua pemula yang mengetuk pintu juri dengan satu bekal: tulisan.

Namun, di luar sistem itu, dunia sosial sering kali berjalan dengan hukum yang berbeda. Kita gemar memberi label. Kita senang membuat hierarki. Kita hobi mengurutkan siapa di atas, siapa di bawah. Dan begitu label senior menempel, ia berubah menjadi semacam kutukan sosial. Menang dianggap wajar. Kalah dianggap memalukan. Ikut lomba dianggap menakuti. Tidak ikut dianggap bijaksana.

Seorang penulis yang masih terus mengirim karya ke lomba justru dianggap turun kelas. Padahal, bukankah berkarya itu soal proses, bukan soal status? Bukankah kreativitas tumbuh dari kegelisahan, bukan dari gelar-gelar tak resmi itu?

Di titik ini, saya sering bertanya: sebenarnya apa yang kita jaga? Keadilan atau kenyamanan psikologis? Sebab, jika kita telusuri lebih jauh, komentar semacam “wah, bersaing dengan senior” sering kali lahir bukan dari ketimpangan sistem, melainkan dari ketakutan. Kita ingin merasa punya peluang. Kita ingin merasa punya ruang. Kita ingin merasa diakui. Dan ketika ruang itu menyempit karena hadirnya seseorang yang dianggap lebih berpengalaman, yang muncul bukan semangat berlatih lebih keras, melainkan keinginan agar yang bersangkutan menyingkir dengan sopan.

Di sinilah ironi bekerja. Di satu sisi, kita memuja kompetisi. Kita mengagungkan lomba sebagai ajang pembuktian. Kita memuja kualitas. Tapi di sisi lain, kita ingin kompetisi yang ramah perasaan: di mana peluang menang dibagi rata berdasarkan usia kreatif, bukan kualitas. Jika logika ini diteruskan, akan muncul pertanyaann janggal: sampai kapan seseorang boleh disebut pemula? Dan sejak kapan seseorang wajib berhenti menjadi peserta?

Apakah setelah menang tiga kali, lima kali, sepuluh kali? Atau setelah namanya mulai dikenal di lingkaran tertentu? Atau setelah ia cukup sering muncul di linimasa? Lebih jauh lagi: setelah status senior resmi disematkan? Lalu apa yang harus ia lakukan? Menjadi juri seumur hidup? Menjadi pembicara tetap seminar? Menulis esai-esai reflektif tentang masa lalu sambil menatap senja?

Lantas, di mana lagi ruang kegelisahan kreatifnya? Kita sering lupa bahwa menulis bukan profesi yang menjamin hidup. Tidak seperti pegawai dengan slip gaji bulanan. Tidak seperti pedagang dengan perputaran modal harian. Bagi banyak penulis, lomba adalah salah satu cara untuk bertahan: bertahan secara ekonomi, secara mental, dan secara eksistensial.

Maka, ketika seseorang yang kita sebut senior masih ikut lomba, barangkali bukan karena ia rakus piala, melainkan karena ia masih ingin hidup. Masih ingin membeli beras tanpa meminjam. Masih ingin membayar listrik. Masih ingin kerja kreatifnya punya nilai tukar, betapa pun kecil.

Kita sering memuja karya, tapi lupa memikirkan perut pembuatnya. Di ruang-ruang diskusi sastra, kita gemar membicarakan idealisme, integritas, dan keberpihakan. Namun, begitu masuk ke soal keseharian, kita berharap para penulis senior hidup dari udara dan pujian. Seolah setelah mencapai satu titik simbolik itu, seseorang otomatis bebas dari kebutuhan material.

Inilah titik satire. Bayangkan, seorang penulis yang telah puluhan tahun bergulat dengan kata, jatuh bangun dengan penolakan, lalu akhirnya sedikit dikenal. Begitu ia mencoba tetap ikut lomba demi menjaga segala yang dulu diusahakan, ia justru dihadang dengan kata: “Wah, senior turun gunung.” Seolah gunung itu tempat suci yang tak boleh ditinggalkan, dan turun ke lembah adalah tindakan tidak pantas. Padahal, hidup memang terjadi di lembah: di pasar, di dapur, di kamar sempit, di meja tulis yang sering goyah.

Dalam dunia yang sehat, kehadiran penulis berpengalaman di arena lomba seharusnya sebagai berkah: sebagai pemicu standar, sebagai tantangan menyenangkan, sebagai kesempatan belajar. Bukan ancaman. Sebab, dari situlah kita bisa mengukur: seberapa jauh kita melangkah, seberapa dalam kita menggali, seberapa jujur kita menulis. Kompetisi yang sehat bukan tentang memastikan semua orang punya peluang menang, melainkan memastikan semua orang dinilai dengan ukuran sama. Dan ukuran itu, dalam lomba menulis, hanya satu: kualitas teks.

Maka, ketika saya mengatakan bahwa “dalam ranah kompetisi, kedudukan semua penulis adalah pemula,” itu bukan basa-basi. Itu keyakinan. Sebab, setiap karya baru adalah kelahiran baru. Setiap teks adalah pertaruhan. Tidak ada jaminan, pengalaman akan selalu berbuah kemenangan. Tidak ada kepastian, reputasi akan membawa piala. Bahkan, sering kali justru sebaliknya: yang merasa terlalu mapan justru terjebak pada formula, sementara yang gelisah melahirkan kejutan.

Sastra, seperti hidup, justru tumbuh dari gesekan. Dari pertemuan yang tak seimbang. Dari persaingan yang tak selalu ramah. Dari kegagalan berulang. Dari kemenangan yang tak pasti. Dan barangkali, yang paling kita butuhkan hari ini bukan kompetisi lunak, melainkan keberanian untuk kalah tanpa menyalahkan siapa pun.

Sebenarnya, tema ini sudah lama ingin saya tuliskan. Ia kerap muncul singkat di kepala, lalu menghilang, seolah tidak cukup penting untuk diberi ruang. Saya berkali-kali menunda, meyakinkan diri bahwa barangkali ini hanya kegelisahan remeh yang tak layak dijadikan bahan renungan. Namun, seperti suara kecil yang tak benar-benar pergi, ia selalu kembali, dengan wajah sama, dengan pertanyaan serupa.

Sekali lagi, saya tidak tersinggung, apalagi marah. Saya justru berterima kasih karena dengan kejadian ini saya akhirnya menulis ini. Peristiwa ini membuat saya berhenti menunda. Bukan karena menyakitkan, melainkan justru karena ia terasa terlalu biasa. Terlalu berulang. Dan mungkin, justru di situlah letak kepentingannya: bahwa sesuatu yang terus berulang, sekecil apa pun, patut diperhatikan sebagai gejala, bukan sekadar kebetulan. Maka tulisan ini lahir bukan sebagai luapan, melainkan upaya berdamai dengan gelisah yang sejak lama saya simpan.

Sebab, di ujung semua lomba, yang paling penting bukan siapa yang menang, melainkan siapa yang terus menulis. Siapa yang masih setia pada gelisahnya. Siapa yang tak berhenti percaya bahwa kata-kata, betapa pun rapuh, masih layak diperjuangkan. Di sana, semua orang kembali setara. Pemula.***

____________________

Yuditeha. Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Dunia Menulis

Mengasah Pikir, Menyapa Dunia

Oleh Yuditeha

Pelatihan menulis, seringkali hanya dipandang sebatas jalan pintas untuk menjadi penulis profesional. Namun, jika kita menggali lebih dalam, belajar menulis bukan sekadar memburu profesi. Keterampilan menulis memiliki nilai yang jauh melampaui cita-cita untuk menjadi penulis. Ia alat berpikir, medium komunikasi, dan jembatan untuk mengubah gagasan menjadi aksi.

Banyak orang berpikir pelatihan menulis ditujukan untuk mencetak pernyair, cerpenis, novelis, jurnalis, atau esais. Padahal, menulis adalah keterampilan dasar yang dibutuhkan hampir di semua bidang kehidupan. Ambil contoh seorang insinyur yang brilian tetapi kesulitan menulis laporan teknis yang jelas, atau seorang akademisi yang gagal menuangkan gagasan ilmiahnya dalam bentuk artikel jurnal. Ketidakmampuan menulis dapat menjadi penghambat yang signifikan, terlepas dari seberapa dalam keahlian seseorang di bidang tertentu.

Dalam pelatihan menulis, peserta diajarkan tidak hanya untuk menghasilkan karya tulisan, tetapi juga untuk mengasah kemampuan berpikir sistematis. Menulis memaksa kita untuk menyusun gagasan secara logis, membedakan mana yang relevan dan mana yang tidak, serta menyampaikan pesan dengan cara yang efektif. Bahkan jika peserta tidak pernah menerbitkan satu buku pun, kemampuan ini tetap akan bermanfaat.

Penulis dan filsuf Prancis, Michel de Montaigne, pernah berkata, “Saya menulis untuk mengetahui apa yang saya pikirkan.” Menulis tidak hanya mencerminkan pemikiran kita, tetapi juga membantu kita memproses dan memperjelasnya. Dalam proses menulis, sering kali kita menemukan wawasan baru yang sebelumnya tersembunyi dalam pikiran kita.

Pelatihan menulis dapat menjadi ruang bagi peserta untuk menjelajahi ide yang kompleks, baik itu tentang diri sendiri maupun dunia di sekitarnya. Latihan menulis cerita, misalnya, dapat membantu seseorang memahami emosi, sementara menulis esai dapat memperdalam pemahaman tentang topik tertentu. Proses ini tidak hanya mendukung pengembangan intelektual, tetapi juga kesehatan mental.

Keterampilan menulis dapat membuka peluang di berbagai bidang. Seorang dokter yang mampu menulis artikel populer tentang kesehatan akan lebih mudah menjangkau masyarakat luas. Seorang pengusaha yang piawai menulis proposal akan lebih mungkin mendapatkan dukungan investor. Bahkan di era media sosial, kemampuan menulis konten yang menarik dan informatif menjadi salah satu kunci kesuksesan.

Di sinilah pentingnya pelatihan menulis yang tidak hanya berfokus pada teknik, tetapi juga pada tujuan dan audiens. Peserta diajarkan untuk menyesuaikan gaya menulis mereka dengan kebutuhan spesifik, seperti menulis untuk publikasi ilmiah, konten pemasaran, atau narasi kreatif.

Menulis adalah bentuk komunikasi yang paling inklusif. Tidak peduli latar belakang sosial, usia, atau pendidikan seseorang, menulis memberikan ruang untuk menyuarakan pendapat. Dalam pelatihan menulis, peserta dari berbagai latar belakang dapat saling berbagi perspektif, menciptakan lingkungan yang kaya akan keberagaman gagasan.

Selain itu, pelatihan menulis juga bisa menjadi alat pemberdayaan. Banyak komunitas yang menggunakan menulis sebagai cara untuk memperjuangkan hak mereka, mulai dari kampanye lingkungan hingga advokasi sosial. Dengan keterampilan menulis, mereka dapat menyampaikan pesan dengan lebih meyakinkan dan berdampak.

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa pelatihan menulis akan langsung menghasilkan karya besar. Padahal, menulis adalah proses panjang yang membutuhkan latihan berulang dan umpan balik konstruktif. Pelatihan menulis bukanlah janji instan, tetapi investasi jangka panjang dalam keterampilan yang terus berkembang.

Di sisi lain, beberapa orang merasa bahwa menulis adalah bakat bawaan, sehingga pelatihan tidak akan banyak membantu. Pandangan ini keliru. Seperti keterampilan lainnya, menulis dapat dipelajari dan ditingkatkan. Bahkan penulis besar seperti Ernest Hemingway dan Virginia Woolf mengakui bahwa mereka terus belajar sepanjang hidup mereka.

Salah satu cara terbaik untuk memanfaatkan pelatihan menulis adalah dengan mengintegrasikan menulis ke dalam rutinitas sehari-hari. Tidak perlu menunggu inspirasi besar; cukup mulai dengan menulis catatan singkat, jurnal harian, atau refleksi sederhana. Semakin sering seseorang menulis, semakin mudah baginya untuk menyusun gagasan dan menemukan suaranya sendiri.

Pelatihan menulis juga dapat membantu seseorang mengenali keunikan gaya mereka. Dalam dunia yang dipenuhi standar dan format, menemukan suara otentik adalah salah satu pencapaian terbesar seorang penulis, baik ia seorang novelis, ilmuwan, atau aktivis.

Di era digital, kemampuan menulis menjadi semakin penting. Komunikasi melalui teks, baik itu dalam email, laporan, atau media sosial, mendominasi kehidupan kita. Dalam konteks ini, pelatihan menulis tidak hanya relevan tetapi juga mendesak. Ia membantu kita berkomunikasi dengan lebih jelas, meyakinkan, dan manusiawi.

Menulis juga dapat menjadi warisan yang kita tinggalkan. Entah itu dalam bentuk buku, artikel, atau sekadar catatan pribadi, tulisan adalah jejak pemikiran kita yang bisa diakses oleh generasi mendatang. Dengan menulis, kita tidak hanya berbicara kepada orang-orang di sekitar kita, tetapi juga kepada masa depan.

Pelatihan menulis bukanlah tentang mencetak penulis profesional semata. Ia adalah upaya untuk mengasah kemampuan berpikir, menyampaikan ide, dan berkomunikasi dengan dunia. Menulis adalah keterampilan yang relevan untuk siapa saja, di bidang apa saja. Jadi, jika Anda ragu untuk mengikuti pelatihan menulis karena merasa tidak ingin menjadi penulis, pikirkan lagi. Menulis adalah tentang menjadi versi terbaik dari diri Anda, dalam pikiran, kata-kata, dan tindakan.***

Film, Resensi

Sunyi yang Tak Dianggap Penting

Oleh Yuditeha

“Hidup hanya menunda kekalahan”

—Chairil Anwar, Derai-Derai Cemara

Kalau film Indonesia diundang ke pesta, Siti (2014) barangkali hanya berdiri di belakang tanpa alas kaki. Tak gemerlap, tak mengenal siapa pun, dan tak diajak menari. Padahal ia membawa sesuatu yang lebih langka dari gaun malam, yaitu kejujuran.

Film Eddie Cahyono ini seperti hujan kecil di atas seng tua: pelan, sunyi, tapi bila didengar baik-baik, menyisakan gema. Seperti suara Siti sendiri, tak pernah berteriak, namun justru membekas.

Siti adalah ibu muda di pantai selatan Jawa, bukan pantai eksotis yang dipamerkan brosur wisata, melainkan pantai keras dengan angin tajam. Suaminya lumpuh, jualan keripik seret, dan hidup harus terus diraut agar bisa ditanak. Siti tak menuntut simpati. Ia bekerja, merawat, dan diam-diam bernegosiasi dengan malam.

Difilmkan hitam-putih, Siti tidak menjual gaya, tapi menegaskan sesuatu yang kini terasa asing: kejujuran. Karena itulah ia terasa seperti kesalahan di tengah dunia yang sibuk memoles segalanya jadi cantik dan gaduh.

Film ini tidak mengajak kita masuk lewat pintu drama besar. Ia mengantar kita ke ruang yang lebih akrab: rumah kecil itu, dan perempuan di dalamnya. Siti bukan pahlawan, dan memang tak perlu. Hidup tak selalu butuh pahlawan. Kadang hanya butuh seseorang yang tetap bangun pagi, mengurus anak, mengisi termos, lalu menyusuri hari dengan doa yang sudah kering. Ia perempuan biasa, dan justru di sanalah kekuatannya.

Tidak ada drama meledak-ledak atau air mata yang disorot. Yang ada justru keheningan. Dan dari sanalah suara paling keras keluar. Ketegangan dalam Siti tidak terletak pada ledakan, melainkan pada retakan. Ketika Siti berbicara pada suaminya yang diam seperti batu. Ketika ia tenang di depan anak, sementara kita tahu hatinya sedang mengiris sendiri. Ketegangan semacam ini akrab dengan kehidupan kita. Kita hidup dalam budaya resah yang enggan menyatakan. Kita memendam, berharap masalah lelah sendiri. Siti adalah potret dari kebiasaan itu.

Ia menghadapi ekonomi yang menekan, suami yang tak komunikatif, anak kecil yang tak paham, serta pekerjaan malam yang rawan digunjingkan. Tapi tak sekali pun ia meledak. Bahkan ketika seorang polisi mendekatinya, ia tidak langsung menyerah, juga tidak menolak mentah-mentah. Ia bimbang, dan itu manusiawi. Betapa jarangnya sinema kita merayakan kebimbangan sebagai bentuk keberanian, padahal hidup kita penuh ragu.

Soal ekonomi dan kehormatan menjadi ironi paling tajam. Siti bekerja malam demi membayar utang. Ia mungkin dicap murahan. Tapi siapa yang bertanya biaya sekolah anaknya? Kita suka menilai perempuan dari caranya mencari uang, bukan dari alasan mengapa ia terpaksa melakukannya. Pertanyaan sederhana pun muncul: siapa sebenarnya yang murahan?

Siti tidak menjawabnya dengan dialog. Jawabannya hadir lewat adegan sunyi yang dibiarkan panjang. Kamera statis seperti menuntut kita menatap kenyataan tanpa permen visual. Ini kehidupan yang jika ditonton tergesa, akan dianggap membosankan. Tapi jika diberi waktu, ia menyilet pelan.

Salah satu adegan paling mengiris adalah saat Siti duduk di pinggir ranjang suaminya. Ia mencoba bicara. Suaminya diam. Tak ada dialog, hanya desis angin. Di sana berkumpul kelelahan, penyesalan, cinta yang mulai basi tapi belum bisa dibuang. Adegan ini bukan sekadar personal, melainkan metafora relasi sosial kita: saling tahu ada yang retak, tapi memilih diam.

Kita hidup dalam masyarakat yang tahu banyak hal tidak beres, tapi tetap berpura-pura baik-baik saja. Kita tahu negara sering abai, tapi memilih menunduk. Kita sibuk mengurus gosip sambil membiarkan kebijakan pincang. Kita seperti Siti, tahu sedang terseret ombak, tapi duduk di pantai berharap air surut sendiri.

Namun film ini bukan semata duka. Ada harapan kecil yang muncul dari anaknya, dari dagangan yang habis, dari senyum tipis setelah menarik napas panjang. Ini bukan pasrah, melainkan adaptasi. Bertahan tanpa perayaan.

Ada juga getir ketika perempuan saling menghakimi perempuan lain. Di tengah tekanan ekonomi, solidaritas mudah goyah. Kita lebih cepat menyalahkan individu ketimbang melihat sistem yang menjebak mereka.

Kritik sosial Siti tidak hadir lewat orasi. Tidak ada tokoh berteriak tentang keadilan. Justru karena itu ia terasa nyata. Film ini seperti tetangga yang hidup susah tapi tetap menanak nasi, tanpa pernah meminta belas kasihan.

Di zaman ketika banyak orang berlomba menjadi korban paling menyedihkan di media sosial, Siti hadir sebagai potret orang kecil yang tetap berjalan tanpa meminta tepuk tangan. Ada jenaka pahit: Siti dengan segala keterbatasannya tampak lebih tegar dibanding banyak pejabat yang goyah oleh sedikit tekanan.

Film ini mengingatkan bahwa kemanusiaan bukan soal heroisme, melainkan keberanian bertahan dalam diam. Bukan membela kebenaran di panggung, tapi menemani anak sambil menyeka lelah.

Menonton Siti seperti menatap potret diam diri sendiri. Kita merasa pernah menjadi Siti, atau mengenal seseorang seperti dia: ibu, kakak, tetangga. Luka yang disentuh terlalu akrab untuk ditolak.

Film ini mungkin tak laku box office. Ia tak dijual lewat poster besar. Tapi ia menetap di hati yang masih memberi ruang pada perenungan. Di ruang kecil itu, kita belajar bahwa sunyi pun bisa bicara, asal mau mendengar.

Peran diam menjadi pusat film ini. Di banyak film, diam diisi musik dan ditutup dialog heroik. Di sini, diam dibiarkan canggung. Kamera tak buru-buru memotong. Kita dipaksa merasakan bagaimana menjadi perempuan yang harus kuat tanpa panggung bicara.

Kita hidup di negeri yang bising. Setiap hari penuh opini. Tapi kisah penting justru tenggelam. Tidak ada trending topic untuk ibu rumah tangga yang kehilangan penghasilan. Tidak ada headline untuk perempuan yang memilih antara utang dan harga diri. Ia tak masuk algoritma.

Ironinya, kita gemar mengulas moral tapi jarang mau mendengar. Padahal Siti bicara jujur sepanjang film, lewat mata, napas, cara duduk yang pegal. Kita lupa rasanya menonton film yang mempercayai penonton untuk merasa sendiri.

Relasi Siti dengan anaknya ditampilkan tanpa petuah. Hanya rutinitas melelahkan yang tak bisa ditolak. Di sanalah cinta hadir, bukan sebagai slogan, tapi sebagai kerja sunyi yang menguras tenaga.

Di luar, orang ramai mengeluh soal moral dan keluarga. Tapi jarang yang mau menyelami bagaimana keluarga bertahan di bawah tekanan sosial. Dalam Siti, kehancuran bukan datang dari niat buruk, melainkan dari ketiadaan pilihan.

Siti tak punya akses bantuan sosial. Di kampungnya, jika miskin, lebih baik diam. Ribut dianggap tak tahu diri. Film ini tak mengatakannya gamblang, tapi siapa pun yang lama hidup di republik ini akan paham.

Namun harapan tetap ada, justru karena sunyi. Harapan yang tidak diucapkan, tapi dijalani. Tetap bekerja, mengurus anak, menyuci baju. Harapan yang jarang masuk film komersial, tapi di sini diletakkan di tengah.

Film ini juga menyindir definisi sukses. Siti tak punya pencapaian versi media. Tapi film ini justru menunjukkan betapa kosongnya ukuran sukses kita. Hidupnya adalah perang harian yang tak pernah diumumkan.

Yang menarik, Siti tidak diposisikan sebagai korban yang meminta dikasihani. Ia tidak ingin dinobatkan inspiratif. Ia hanya ingin hidup. Dan betapa mulianya keinginan sederhana itu.

Relasinya dengan polisi tidak dijadikan jalan keluar ajaib. Ia menjadi ruang bimbang yang penuh rasa bersalah. Film ini jujur mengatakan: tidak semua pilihan menyelamatkan tanpa melukai.

Siti adalah tes kepekaan. Jika setelah menontonnya kita masih menyebutnya sekadar “film perempuan nelangsa”, mungkin yang perlu dikoreksi bukan filmnya, tapi empati kita. Film ini seperti kaca retak. Jika ditatap lama, kita melihat bayangan diri sendiri: sebagai suami yang tak mendengar, tetangga yang cepat menilai, negara yang membiarkan. Dan sebagai penonton yang baru peduli ketika kisah perempuan viral.

Mengapa film seperti ini jarang dibuat? Karena terlalu sepi? Atau karena kita takut menonton hidup apa adanya? Hiburan sejati bukan yang membuat lupa, tapi yang membuat ingat kembali siapa kita.

Siti mengingatkan bahwa menjadi manusia tak selalu tentang menang besar. Kadang hanya tentang tidak menyerah pada hari yang panjang. Tentang hidup seadanya, dan tetap berjalan. Perjuangan tidak selalu berupa teriakan. Kadang berbentuk duduk diam di lampu redup, menggenggam termos kosong. Film ini memotret perjuangan yang tak pernah masuk berita utama.

Sunyi, di tangan Eddie Cahyono, bukan kekosongan. Ia perlawanan pasif. Siti tidak sibuk menjelaskan penderitaannya. Ia sibuk bertahan. Dari sanalah kemanusiaan muncul tanpa perlu pengakuan.

Di era ketika semua harus terdengar, perempuan seperti Siti tenggelam. Ia tak punya waktu tampil. Ia hanya punya waktu hidup. Ironinya, sistem justru mengabaikannya. Film ini juga tidak menghukum tokohnya. Siti tidak divonis. Ia dibiarkan hidup. Dalam konteks sosial kita, itu sudah radikal.

Masyarakat kita cepat memvonis perempuan, lambat membantu. Dan Siti hadir sebagai surat terbuka yang tak pernah dikirim, tapi kita butuhkan. Film ini bukan hanya tentang Siti. Ia tentang banyak perempuan tanpa nama. Mereka bukan tokoh utama sinema, tapi tokoh utama kenyataan. Dan film ini menampilkan mereka tanpa eksotisme, tanpa glorifikasi. Hanya manusia yang lelah, bisa salah, tapi tetap berjalan.

Tentu film ini punya kekurangan. Ia sangat kontemplatif dan tak ramah bagi penonton yang ingin narasi cepat. Karakter lain terasa lebih sebagai latar. Visualnya indah, kadang terlalu sadar diri. Konteks sosialnya universal tapi mengambang. Namun di luar itu, Siti memperlihatkan martabat sehari-hari: tidak mencuri, tidak menipu, hanya berusaha. Dalam dunia yang kacau, usaha jujur adalah kehormatan paling murni.

Jika ada yang bilang film Indonesia terlalu dangkal, ajak mereka menonton Siti. Lalu ajak mereka diam. Jika setelah itu mereka masih tak merasa apa-apa, mungkin bukan filmnya yang kurang manusiawi, tapi hati kita yang sudah kebas. Barangkali kita tak butuh ulasan lagi. Kita hanya butuh keberanian untuk berkata: aku lihat kamu. Aku dengar kamu. Dan kisahmu penting. Sama seperti kisah Siti.***

____________________

Yuditeha. Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Puisi

Puisi M. Z. Billal

STRUKTUR TUBUH KENANGAN

helai rambutnya                                  

adalah ratus ribuan peristiwa

rasa hari yang kemarin

wajahnya                                            

adalah peradaban dari tahun-tahun

yang sunyi; yang juga berbunyi

tulang dadanya                                  

adalah gerbang agung memasuki sebuah

portal rahasia bernama jiwa

sepasang lengannya                            

adalah serikat rindu yang menyibak

sejumlah keajaiban memeluk

kedua telinganya                                

adalah instrumen yang mengalunkan

lagu-lagu tenang yang menyembuhkan

otot perutnya                                      

adalah tempat persembunyian

luka-luka pedih yang gemar tertawa

selangkangannya                                

adalah kebun yang menumbuhkan buah dan bunga

yang tidak pernah tumbuh di dunia

tungkai-tungkainya                            

adalah jarak panjang yang harus ditempuh

dari dunia ke surga; ke hutan dan laut

jari-jemarinya

adalah nama dari berbagai jenis sentuhan

yang menguarkan aroma waktu

seperangkat netranya                         

adalah mesin penjelajah yang liar berburu

langit dan ciuman-ciuman

hidungnya                                          

adalah hamparan kota sibuk yang berjuang

mengendus bau para pembawa mimpi

dua katup bibirnya                             

adalah siaran radio yang mengudara memenuhi

musim hujan dan panjang kemarau

air matanya

adalah muara kepulangan tempat sejumlah perahu kecil

memanggil nama ibu mereka

2025

__________________________

INDIGO

aku tak pernah berhenti menulis.

menulis puisi-puisi ini. kutulis terus.

kutulis saja. kulepaskan semuanya.

kekacauan biar saja kacau; luluhlantak

seperti bencana masa lalu. dan keheningan

biar saja hening. suara-suara membuatku

terapung. terapung hingga menembus

langit lembayung. dan aku terurai.                                         

terurai

            b     e     r    d     e    r     a   i.

     l           e          r          a          i

            renyai seperti hujan

pekan pertama april.

dan semuanya akan sangat membekas

seperti rindu yang tak pernah lepas.

karena aku selalu berharap kau bukanlah

orang yang pergi itu. kau akan menetap

di sini, di pelukanku. takdir cuma bercanda

saat kulihat kau melepaskan lambaian terakhir.

sebab kau pasti tahu bahwa kesembuhanku

membutuhkan waktu yang tidak singkat.

bahkan kalender akan mati berguguran

melawan peperangan dalam puisi ini;

di mana setiap kota yang kukunjungi

hanya memberiku sentuhan kecil

yang mengingatkanku padamu.

            dan sialnya lagi, rindu terus berjalan.

            dalam kekacauan, dalam keheningan

            yang sulit kuhentikan.

2025

__________________________

BANGUN PAGI TAPI SUDAH TIDAK RINDU

aku pulih. hari-hari kelamku telah berlalu.

bekas luka tak pernah menghilang, ia adalah

pelajaran dari masa lalu. meski nanti nyerinya

bisa datang kapan saja. setidaknya aku tersenyum

saat mengelusnya. kuhela napas menyambut

pagi demi pagi yang hangat datang dari masa depan.

berjalan ke luar rumah, ke jalan-jalan yang sibuk

dengan perasaan yang baru; rindu telah lebur

dan terbang ke angkasa, ditiup angin menjauh.     

ia telah jadi burung-burung bangau. seribu bangau.

seperti doaku yang berhamburan ke langit:

semoga kebahagiaan menyertaimu, dan bangun pagiku

tak perlu lagi resah. karena rindu ini telah ikhlas melepasmu.

2025

__________________________      

MEMBASUH LUKA

aku menulis puisi

dan kulepaskan ia berlari

ke dalam hujan yang turun

pada pertengahan februari.

            ia tertawa keras sekali

            lalu melambaikan

salam perpisahan kepadaku;

aku akan merindukanmu

dengan cara lain jika nanti

masih ada waktu.

kemudian dia menghilang

selamanya. menyisakan sebuah tanda

yang tak pernah kutahu

apa namanya. tapi aku tahu itu apa.

2025

__________________________

HAL-HAL TIDAK RUTIN TAPI AKU SUKA KARENA ITU PENTING

#1

kupeluk tubuhku dan kucium berkali-kali

bocah lelaki yang bersemayam di pondok kayu

di bawah rimbun flamboyan kuning;

diriku yang lucu dan menggemaskan

pada masa silam. ia yang selalu

ingin pulang dan tidur lebih lama

di atas kasur kenangan yang mahir

menyerap luka.

dan pada beberapa pagi dalam sepekan

kutanyai ia akan mengerjakan apa

hari ini. lalu ia akan menjawab

dengan kata-kata yang sama:

menyembuhkanmu.

ya, menyembuhkanmu!

#2

aku membicarakan lagi tentang

sejumlah cinta yang hebat di dada ibu

pada petang-petang tertentu untuk episode

yang entah ke berapa aku tak pernah

menghitungnya. dan meminta ibu untuk

melepaskan kerisauannya.

sebab kesedihan ibu adalah yang paling

berbahaya di muka bumi. bila setitik saja air mata

jatuh ke pipinya, maka sebuah badai

akan datang dan menggulung semua

peradaban.

dan tiap ketika pembicaraan itu berakhir

ibu merangkai sejumlah kata sebagai penutup.

yang membuatku tersungkur

di kakinya berkali-kali saat aku

mendengarnya:

rindukanlah selalu cinta ibu nanti

rindukanlah. sebab rindu adalah

pelukan kasih sayang

berumur panjang.

#3

satu hal yang paling kusuka ketika

menutup percakapan di ruang obrolan malam

denganmu; manusia kesukaanku,

adalah saat kau mengirimiku emoji

sepasang beruang imut saling merengkuh

pelukan hangat ke dada masing-masing

lalu percikan berbentuk hati menyertainya.

kau tampaknya mahir

menghangatkan dingin malam

yang memasuki tubuhku.

dan saat kubilang aku menyukai

hal-hal lucu yang kaukatakan,

membuatku ingin terperangkap dalam

mimpi yang selalu ada kau

di dalamnya. kau justru mengirimiku

sepucuk puisi pendek

yang menggetarkan:

aku ingin memiliki sebuah pelukan

yang bernama dirimu. ya, namamu.

2024

__________________________

M.Z. Billal. Lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id,  Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.

Film, Resensi

Ketika Cinta Diberi Kesempatan Terakhir untuk Berbicara

Resensi Film T. H. Hari Sucahyo

Judul                           : Eternity
Tahun Rilis                  : 2025
Durasi                          : ± 100–110 menit
Sutradara                     : David Freyne
Penulis Skenario          : Pat Cunnane & David Freyne
Produser                      : Robbie Ryan, Jessamine Burgum
Pemeran Utama           : Elizabeth Olsen, Miles Teller, Callum Turner, Da’Vine Joy Randolph

Eternity (2025) datang dengan premis yang tampak sederhana sekaligus menggoda: bagaimana jika kehidupan setelah kematian bukanlah penghakiman yang dingin atau penantian sunyi, melainkan ruang refleksi tempat cinta, dalam seluruh kerumitannya, diberi kesempatan terakhir untuk berbicara. Film ini memilih jalur komedi romantis yang lembut, nyaris bersahaja, untuk membicarakan sesuatu yang sering terasa berat: pilihan-pilihan emosional yang membentuk hidup, dan gema pilihan itu ketika hidup telah usai. Dengan latar alam baka yang dirancang tidak menakutkan, bahkan hangat, Eternity mengundang penonton merenungkan cinta bukan sebagai kepemilikan, melainkan sebagai proses yang terus berubah.

Tokoh sentralnya adalah seorang perempuan yang, setelah kematian, dihadapkan pada dilema yang tidak pernah selesai semasa hidup: memilih antara pria yang telah menemaninya bertahun-tahun, baik dalam rutinitas, kompromi, dan kelelahan yang tenang, atau cinta pertamanya yang meninggal di usia muda, sosok yang membeku dalam ingatan sebagai janji yang tak sempat retak. Pertemuan kembali ini bukan sekadar fantasi romantik, melainkan eksperimen emosional tentang bagaimana ingatan bekerja. Film ini peka menunjukkan bahwa memori sering kali memoles masa lalu, menghapus sudut-sudut tajamnya, sementara hubungan yang bertahan lama justru menyimpan bekas luka yang nyata karena dijalani sepenuhnya.

Keputusan sutradara untuk membungkus dilema tersebut dalam komedi romantis terasa tepat. Humor dalam Eternity tidak hadir sebagai lelucon keras, melainkan observasi kecil tentang absurditas emosi manusia. Dialog-dialognya ringan, namun menyimpan kepedihan yang disampaikan tanpa melodrama. Tawa muncul bukan karena situasi dipaksakan lucu, melainkan karena penonton mengenali diri mereka sendiri dalam kebingungan tokoh-tokohnya: kecanggungan bertemu mantan, rasa bersalah mencintai lebih dari satu orang, dan ketidakmampuan memberi definisi tunggal pada kebahagiaan.

Alam baka dalam Eternity digambarkan sebagai ruang transisi yang ramah, bukan surga berkilau atau neraka yang mengancam, melainkan semacam kota kecil dengan aturan sederhana dan ritme yang melambat. Desain produksinya menekankan warna-warna lembut, cahaya yang tidak menyilaukan, serta ruang-ruang yang terasa akrab. Pilihan visual ini menyampaikan gagasan bahwa kematian bukan pemutusan, melainkan jeda untuk memahami. Di sini, waktu tidak mengejar, sehingga percakapan bisa berlarut tanpa kecemasan, dan perasaan yang dulu tertahan dapat mengalir dengan jujur.

Kekuatan utama film ini terletak pada karakterisasi. Perempuan yang menjadi pusat cerita ditulis dengan empati: ia tidak disederhanakan menjadi sosok ragu-ragu, melainkan manusia utuh dengan kontradiksi. Ada rasa syukur pada stabilitas, ada pula kerinduan pada kemungkinan. Pria yang menemaninya seumur hidup digambarkan sebagai figur yang penuh kebaikan dan kelelahan, seseorang yang mencintai dengan cara bertahan. Sementara cinta pertamanya hadir sebagai energi muda, spontan, dan tak selesai; sebuah “bagaimana jika” yang selalu menghantui. Film ini adil pada keduanya; tidak ada yang diposisikan sebagai pilihan salah. Yang ada hanyalah konsekuensi emosional dari masing-masing pilihan.

Penulisan naskahnya cerdas dalam menimbang nostalgia. Alih-alih memanjakan romantisasi masa muda secara berlebihan, Eternity secara perlahan mengupas ilusi yang sering kita bangun tentang cinta pertama. Melalui percakapan-percakapan yang jujur, film ini menunjukkan bahwa cinta yang tidak sempat diuji waktu sering tampak sempurna karena belum pernah berhadapan dengan kebosanan, tanggung jawab, atau perubahan. Namun, pada saat yang sama, film ini tidak merendahkan kekuatan kenangan. Ia mengakui bahwa kenangan memiliki nilai emosional yang sah, bahkan ketika ia tidak sepenuhnya akurat.

Aspek komedi romantisnya bekerja paling efektif ketika film menertawakan gagasan “pilihan final”. Di alam baka, pilihan itu tidak disajikan sebagai vonis, melainkan sebagai kesempatan memahami diri. Ada ironi halus ketika karakter-karakternya menyadari bahwa bahkan setelah mati, manusia masih membawa kebiasaan ragu dan takut melukai. Humor lahir dari pengakuan bahwa kematangan emosional bukan hadiah otomatis dari kematian; ia tetap membutuhkan keberanian untuk jujur.

Secara tematik, Eternity berbicara tentang waktu sebagai aktor tak terlihat dalam cinta. Hubungan jangka panjang digambarkan sebagai hasil dari keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari, sementara cinta pertama dipresentasikan sebagai momen intens yang singkat. Film ini tidak menyatakan mana yang lebih “benar”, tetapi mengajak penonton bertanya: apakah kita mencintai seseorang karena siapa mereka sekarang, atau karena siapa mereka bagi versi diri kita di masa lalu? Pertanyaan ini beresonansi kuat, terutama bagi penonton dewasa yang telah melalui berbagai fase hidup.

Akting para pemerannya mendukung nuansa lembut film ini. Ekspresi ditahan, gestur kecil, dan jeda dialog digunakan untuk menyampaikan emosi yang lebih dalam daripada kata-kata. Chemistry antarpemeran terasa alami, tidak berlebihan, sehingga konflik emosional berkembang dengan halus. Bahkan dalam adegan-adegan paling romantis, film ini menahan diri dari sentimentalitas murahan, memilih kejujuran yang tenang.

Musik latarnya berperan sebagai pengikat suasana, hadir sebagai lapisan emosional yang tidak mendominasi. Melodi-melodi sederhana mengiringi momen reflektif, sementara keheningan dibiarkan berbicara pada saat-saat krusial. Keputusan ini memperkuat kesan bahwa Eternity percaya pada kekuatan cerita dan performa, bukan pada manipulasi emosional.

Meski demikian, film ini tidak sepenuhnya tanpa kelemahan. Bagi sebagian penonton, ritmenya yang tenang mungkin terasa terlalu santai, bahkan mendekati lamban. Konflik utamanya bersifat internal, sehingga mereka yang mengharapkan dinamika plot yang tajam bisa merasa kurang terpuaskan. Namun, kelembutan ini justru menjadi identitas film: Eternity tidak ingin terburu-buru mencapai resolusi, karena esensinya adalah proses memahami.

Eternity (2025) adalah film tentang keberanian menerima kompleksitas cinta. Ia menolak jawaban sederhana dan menghindari moral hitam-putih. Dalam dunia yang sering menuntut kepastian, film ini merayakan ambiguitas sebagai bagian dari kemanusiaan. Dengan memindahkan dilema cinta ke alam baka, Eternity menciptakan jarak yang memungkinkan kita melihat hidup dengan lebih jernih; bahwa cinta tidak selalu tentang memilih yang paling sempurna, melainkan tentang mengakui apa yang benar-benar berarti bagi diri kita.

Film ini meninggalkan penonton dengan perasaan hangat sekaligus reflektif. Bukan karena ia menawarkan fantasi cinta abadi yang mulus, melainkan karena ia jujur tentang ketidaksempurnaan. Eternity mengingatkan bahwa bahkan ketika waktu berakhir, pertanyaan tentang cinta tetap hidup dan mungkin, justru di situlah keindahannya.

__________________________

T. H. Hari Sucahyo. Penikmat film Layar Kaca dan Layar Lebar. Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

   

Puisi

Puisi Septi Rusdiyana

merawat luka

bapa, hari ini aku terberkati. surat yang kutulis merah, berubah biru. kau tahu jika sejak menemukanmu, bahagia itu sepele. tawaku bisa sekeras salak anjing. di saat yang sama, aku tersedu, persis saat air susuku tak juga keluar usai bersalin.

bapa, ganjil adalah apa yang terlanjur kuingini. sedang kau, terus saja berhasil menggenapkannya. mungkin kau kira aku akan lelah dan terkapar seperti hamster. rakus menyembunyikan remahan hingga pipi hampir meledak. tidak. tapi tidak, bapa. aku hanya butuh satu petunjuk, lalu akan tidur seperti babi.

bapa, malam ini hujan. entah kenapa hujan lebih sering jatuh saat malam. mereka bilang, agar tidur lebih lelap. bagiku, tempias membawa aroma ketiak yang lama hilang.  jika petir melantakkan sepi, aku justru beku. bukankah itu siksa?

bapa, kau hafal artimu bagiku. aku sudah belajar menjaga air suci: milikmu. kau ajarkan agar tetap hidup di kematian. mimpi adalah kehidupan. aku gagal menjadi jahat. masih tak cukup pantaskah meminta welasmu, bapa?

Desember 2025

__________________________

Kangen

Kabur dari rumah karena wifi lemot,

duduk memesan secangkir kopi di kafe

Desember 2025

__________________________

Reinkarnasi

“Jika aku hidup usai mati, maka kubunuh kau, lagi,” katamu

Angin berembus

Aku benar-benar akan mati

Desember 2025

__________________________

Septi Rusdiyana. Tinggal di Yogyakarta

Esai

Arok Villain yang Menang

Esai M. Ghaniey Al Rasyid

Pramoedya Ananta Toer telah menjadi mite. Namanya dikenang sebagai tokoh penting dalam epos republik ini. Mengenai Mite, Kata James Danandjaja mite ialah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empu penceritanya, nyaris tanpa penyangkalan.

Agaknya pernyataan ini beraroma hiperbola, bila dikaitakan kepada Pram. Namun, narasi itu sering menyembul, saat mereka (pembaca Pramoedya) mengenang Pram, begitu pula dengan karya-karyanya, sebagai seorang pengkliping, penulis dan penyigi sejarah republik.

Pramoedya memberi sudut pandang lain menilik Arok dan Dedes. Syahdan, tafsir menyoal dua tokoh itu, mewarnai geliat pembacaan sejarah Nusantara yang lekat dengan keajaiban magis. Keris, tumpah darah, birahi dan kesucian. Novel Pramoedya menggebrak pembaca. Ia bukan hanya menilik Arok dan Dedes sebagai entitas yang mentereng sebagai anak turun Brahma, akan tetapi Pram membeberkannya dengan suguhan pertautan perebutan kuasa, haus darah.

Sehari sebelum Natal pada 1976, naskah Arok Dedes berhasil diselesaikan, setelah beberapa kertas-kertas yang di tulis di Pulau Buru berhasil Pram selundupkan. Tepat dua tahun kemudian di tahun 1979, Pram menghirup nikmatnya angin bebas setelah dituduh sebagai kriminal, menyaksikan kertas-kertas kumal yang bakal menjadi Novel Arok Dedes itu menggetarkan pembaca.

Membaca ‘Arok Dedes’ tidaklah mudah, maksudnya tak enteng mendapatkannya. Kini ‘Arok Dedes’, telah menjadi harta karun. Mafhum, para pembaca telah mendengar, kesaksian Pram. Pram menyebut novel-novelnya sebagai ‘anak’ buah pikirnya. Mereka lahir dan bertumbuh, ada pula yang harus mampus sebelum bertumbuh.

Begitu pula dengan ‘Arok Dedes’. Pram menuliskannya saat mendekam di Pulau Buru. Ia mengingat lamat-lamat Singasari dan Arok. Agaknya Pram punya pandangan berbeda dengan para penilik lainnya. Bernarnd H. M Vlekke ataupun Dhaniel Dhakidae. Mereka punya tafsir sendir menyoal Arok.

Di Majalah D&R 20-26 Desember 1999, disitu tersirat wawancara Pram. Genap dua puluh tiga tahun setelah Novel lahir, Pram berujar –Ken Arok itu Bajingan yang Jadi Juru Selamat.

Perkara tafsir semakin membikin Arok lekat dalam perdebatan. Pram berpendapat, Arok adalah Bandit. Ia sempat menjadi pemerkosa, pembunuh, penjudi dan menjadi pemenang saat mengkudeta kuasa Tunggul Ametung. Tak hanya itu, ia pun menggondol Dedes. Menang Telak!

Dari korok penuh kebusukan, nanar mata Arok menghipnotis siapapun. ‘Jagad Pramudita!’ begitulah yang tersirat dalam novel Arok Dedes, saat siapapun memandangi air muka Arok. Para peniliknya seakan terbuai oleh imaji magis, bahwa arok adalah titisan mahadewa. Mereka terpana, sampai-sampai Dedes pun terpaksa luluh meski terpaksa di mana, sebelumnya Dedes menyaksikan suaminya Tunggul Ametung yang tewas dari keris Mpu Gandring.

“Dia dianggap sebagai anak Brahma, Wisnu, Syiwa sekaligus. Arok itu menurut saya, bajingan yang menjadi juru selamat pada masanya,” ujar Pram.

Daniel Dhakidae turut menilik Arok dan Pram. Dalam buku Menerjang Badai Kekuasaan (Penerbit Kompas, 2015), Daniel meyitir Pram yang menafsir Arok Dedes. Usaha menafsir membutuhkan pertanggungjawaban, begitu pula dalam membaca Serat Pararaton Atawa Katuturing Ken Angrok.

Kata Daniel, untuk membaca serat yang menggunakan bahasa Jawa Kuno/Kawi perlu memiliki kepiawaian dengan dibuktikan pada nilai nan unggul.

Serat Pararathon dan Negarakertagama membeberkan sepak terjang Arok/Angrok saat berkecipak dalam perebutan kekuasaan di Tumapel. Di situ, Daniel mengapresiasi langkah Pram, saat mengisahkan Arok Dedes ke dalam bentuk roman. Meski demikian, ada yang sedikit terkikis saat Arok Dedes, menjadi roman. Adalah ambisi historis berdasarkan fakta-fakta yang pernah sesungguhnya terjadi yang rentan tak tersirat lengkap.

“Sejarah perlu ditempatkan dalam tanda petik (“Sejarah”), karena seluruh buku itu adalah roman dengan pikiran paling utama bahwa semuanya fiksi. Dalam arti karya fiksi, maka mistifikasi yang terjadi dalam pararaton tidak banyak berbeda dengan imajinasi yang dikatakan dalam suatu roman.”

Pram berhasil menempatkan kisah Arok Dedes di bumi manusia. Pram membumikan dan membahasakannya, agar dapat ditilik oleh pembaca Indonesia. Kisah itu tak hanya dapat ditilik kalangan tertentu saja, akan tetapi siapapun berharap Arok Dedes hinggap ke seluruh kalangan.

Arok Dedes sebagai pengingat tentang kekuasaan dan ketamakan. Kisahnya yang culas, bengis dan licik itu nampaknya dirasakan Pram saat mendekap di Pulau Buru. Ia tahu dan bergeming, bahwa kebiadaban tak selalu berakhir tragis. Ia bisa seperti Arok yang bisa saja dipuja atau dielu-elukan.

Arok Dedes yang Lahir

Jika Monte Kristo oleh Alexandor Dumas membicarakan seorang tahanan yang berusaha melarikan diri, Pram berusaha untuk meloloskan kertas-kertas yang nantinya dikenal sebagai Novel sejarah Arok Dedes.

Di Majalah D&R (20-26 Desember 1999) Pram berujar, “Saya selundupkan. Waktu itu ada teman yang menjadi motoris atau pengemudi kapal motor. Dialah yang membawa makanan, dari tempat saya di pedalaman ke Pelabuhan Namlea.”

Pram menulis dan terus menulis. Ia mengirimkan kertas-kertas itu sebanyak lima atau enam kali –nyicil. Kertas-kertas diselundupkan. Pram menampik kertas berakhir berserakan atau terbakar di tengah-tengah bayang-bayang kebengisan. Pram membisiki pengemudi kapal motor itu, untuk menitipkan ke seorang Pastur, bernama Pastor Roovink, yang tinggal di sebuah gereja Katolik dekat pelabuhan Namlea.

Pastur itu sempat membisiki Pram, saat menjenguknya, agar ide-ide Pram yang tertulis di atar kertas kumal itu menjadi sebuah buku, agar karyanya dapat mengetuk pembaca dari belahan dunia manpun, dan waktu kapanpun.

Kertas-kertas itu ada pula yang tak beruntung. Kertas yang nantinya dihimpun menjadi sebuah Novel, itu berjudul Mata Pusaran yang mengisahkan perang Paregreg. Kertas itu hangus, hilang entah kemana. Ia mati sebelum bertumbuh, lenyap menjadi abu.

Arok Dedes dan Arus Balik selamat. Ia lahir dan tumbuh. Para pembaca menilik dan membacanya, bahkan beberapa pembaca gusar lantaran buku itu harganya terus naik.

Dalam wawancara itu, Pram berterima kasih kepada Pastor Roovink. Saat ia resmi keluar dari Pulau Buru, Arok Dedes sudah menemui pembaca di Eropa, Amerika Serikat.

Culas, bengis, haus darah dan gila kuasa, kurang lebih demikian Pram berhasil menuliskan Arok Dedes yang didapatkan dari nukilan-nukilan Serat Pararaton dan Negarakertagama itu. Kenyataan itu bukanlah aib, akan tetapi sebuah perenungan tentang kuasa dan tahta. Itu akan tetap menyelip selama manusia hidup, hampir miri dalam Homo Homini Lupusnya Thomas Hobbess.

Alkisah, Arok Dedes mengajak kita untuk merenung sejenak tentang yang silam sekitar abad ke-13. Mereka nyatanya telah terbiasa dengan intrik, taktik dan persekongkolan licin untuk merebut yang namanya kuasa dan pamor. Jauh hari sebelum Machiaveli membikin Il Principe dari perenungan di pengasingan, Arok telah mempraktikannya, dengan segala tabiat hasrat berkuasanya. Sekian.

Sumber:

Majalah D&R No.19/XXXI/20-26 Desember 1999. Pramoedya; Ken Arok itu Bajingan yang Jadi Juru Selamat. Hlm 38-39.

Dhakidae, Daniel. Badai Kekuasaan. Jakarta: Penerbit Kompas. 2015

_________________________

M. Ghaniey Al Rasyid. Penulis Lepas. Pengkliping dan penikmat sastra yang tinggal di Kota Surakarta.

Belakang

“SEKEDAR” DAN MINGGU

Yang resah dengan sejarah malah melihat Fadli Zon sumringah. Pada 14 Desember 2024, Fadli Zon tidak libur dari tugasnya sebagai menteri. Minggu yang masih bersuasana duka bersumber bencana di Sumatra tak mengurangi gairah Fadli Zon dalam merayakan sejarah. Ia sedang menunaikan misi besar selaku menteri bertanggung jawab dalam urusan sejarah. Sosok dengan koleksi ribuan buku dan keris itu mengesahkan penerbitan serial buku sejarah resmi nasional.

Tanggal yang dipilih dalam pengesahan disesuaikan ingatan masa lalu. Yang resah dengan sejarah mengetahui 14 Desember 1957 adalah hari awal seminar sejarah yang diadakan di Jogjakarta. Seminar diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan. Seminar tidak sehari saja tapi beberapa hari: 14-18 Desember 1957. Pihak-pihak berkepentingan dalam acara seminar sejarah adalah Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia.

Fadli Zon sumringah itu lumrah. Ia sedang merayakan hari bersejarah sekaligus mengumumkan kepada rakyat Indonesia bahwa telah terbit buku resmi bagi yang ingin belajar sejarah Indonesia. Konon, penggarapan dan penerbitan buku itu diiringi protes dan perdebatan panas. Yang terjadi para sejarawan dalam instruksi pemerintah terus melanjutkan dan merampungkan.

Kita yang ikut resah gara-gara buku sejarah produksi pemerintah ingin mengelak sebelum berhasil membacanya. Bagaimana kita bisa mendapatkan bukunya? Apakah kita sanggup khatam, sebelum memberi kecaman atau pujian? Orang yang beruntung saja berhasil mendapatkan buku terbitan pemerintah. Yang kebelet bisa saja mencari jalan agar mendapat “file” atau edisi bajakan. Kita tentu bersalah bila menantikan peredaran edisi buku bajakan. Yang membajak dan mengedarkan bisa menyatakan bahwa buku produksi pemerintah dicetak terbatas. Peredarannya pun terbatas atau selektif.

Buku baru belum datang. Tangan kita belum membuka halaman-halamannya. Maka, peristiwa yang dapat dilakukan agar berkaitan dengan peristiwa sejarah dan pemaknaan 14 Desember 2025 adalah membaca buku (laporan) terbitan Universitas Gadjah Mada. Yang ada di hadapan kita adalah Laporan Seminar Sedjarah. Buku yang sederhana dan tipis.

Panitia acara menjelaskan: “Seminar jang baru diadakan pertama kali dalam sedjarah Indonesia ini memang dimaksudkan sekedar untuk mengumpulkan pelbagai pendapat dan saran-saran sebagai bahan-bahan jang berharga untuk menjusun dikemudian hari sedjarah nasional Indonesia jang setjara ilmiah dapat dipertanggungdjawabkan.” Kita tidak kaget bila penyelenggaraan acara tidak memiliki tujuan-tujuan akbar. Perhatikan yang tertulis di pengantar: “sekedar”. Indonesia masih berumur muda. Namun, sejarah sangat dibutuhkan demi kehormatan dan kedaulatan Indonesia.

Bagaimana suasana seminar yang “sekedar” di Jogjakarta? Kita mengutip isi laporan: “Pada waktu seminar berlangsung ternjata perhatian masjarakat besar sekali, ini terbukti dengan banjaknja pengundjung jang langsung datang dari seluruh pelosok Indonesia, misalnja dari Atjeh, Medan, Bukittinggi, Djambi, Palembang, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Makassar dan Nusa Tenggara. Dari Djawa, hampir tiap-tiap kota besar mengirimkan wakilnja.” Ingat, yang berdatangan punya kepentingan mulia.

Kita menyimak sambutan yang diberikan Menteri PP & K Prijono: “Marilah kita bersama-sama berdoa agar halaman hitam itu tidak akan kita djumpai lagi dalam kitab sedjarah modern kita.” Apa yang terjadi? Kita diajak mengingat peristiwa di Cikini, 30 November 1957. Soekarno mendapat serangan. Malapetaka yang mengagetkan. Beruntungnya, Soekarno selamat. Maka, menteri berharap peristiwa itu tidak terjadi lagi. Padahal, peristiwa itu tetap saja masuk dalam lembaran sejarah.

Selanjutnya, kita membaca peringatan yang disampaikan Sultan Hamengku Buwana IX: “Kita tahu bahwa sedjarah Indonesia jang disusun sampai sekarang pada umumnja masih mempergunakan buku-buku dan tulisan-tulisan jang berasal dari penulis-penulis pendjadjah Belanda. Padahal disamping kita harus mengakui bahwa diantara mereka ada jang berusaha menulisnja setjara objectief, tetapi pada umumnja pendjadjah Belanda itu mentjiptakan sedjarah Indonesia jang tidak lepas dari maksud politiknja, sehingga sedjarah Indonesia dibikin sedemikian rupa agar dapat menguntungkan tudjuan politik mereka.” Pembuatan buku sejarah nasional oleh para sejarawan Indonesia sangat diperlukan agar pengajaran di sekolah memberi keyakinan dapat terhindar dari dampak-dampak buruk dari kepustakaan sejarah yang disusun para sarjana Belanda.

Di Jogjakarta, acara yang diadakan tidak cuma seminar, yang mengundang para ahli. Debat-debat sempat terjadi demi munculnya saran-saran dalam penulisan buku sejarah nasional. Pameran sejarah pun diadakan. Yang melengkapi acara adalah tamasya. Para pembicara, tamu, dan panitian sejenak piknik agar tidak terlalu pusing memikirkan sejarah. Namun, piknik yang diadakan itu dicap sebagai “kunjungan ilmiah.” Mereka berdarmawisata ke Candi Prambanan.

Yang menyempurnakan adalah “malam kesenian”. Seminar yang melelahkan dihibur dengan lagu-lagu di panggung. Kita membayangkan malam itu memberi kesan “indah” setelah hari-hari memikirkan “kebenaran” dalam sejarah.

Peristiwa masa lalu itu mengajak kita menghormati para tokoh yang dihadirkan dalam usaha penulisan buku sejarah nasional meski kita sempat mengetahuinya sebagai “sekedar”. Nama-nama yang teringat dalam seminar sejarah di Jogjakarta: M Yamin, Soedjatmoko, Boejoeng Saleh, Soeri Soeroto, Poerbatjaroko, M Ali, Soegarda Perbatjaraka, Koentjaraningrat, Bahder Djohan, Soekanto, Sartono Kartodirdjo, Soedjatmoko, dan lain-lain.

Minggu telah berlalu. Minggu bukan hanya hari libur. Kita justru diminta mengingat Minggu itu peresmian buku sejarah resmi yang dibuat pemerintah, 10 jilid: 14 Desember 2025. Kita pun sudah membaca buku laporan lawas, yang memberi ingatan-ingatan atas peristiwa di Jogjakarta. Kita membaca yang telah terjadi sambil menunggu buku laporan dari tim penulisan buku sejarah nasional yang diurus Fadli Zon. Kita ingin tahu segala hal mengenai proses penulisan buku sejarah, yang kita anggap penting agar proyek itu bukan “sekedar”.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.