Oleh Ferdi

Ada sebuah kisah:
Pada suatu malam, ketika langit jernih tak bernoda, para malaikat turun ke bumi. Mereka mendarat di sebuah asrama di tengah kota, tempat bermukim para penghafal kitab suci. Dengan catatan amal perbuatan di tangan kiri, mereka membacakan dakwaan:
“Kalian telah melakukan dosa-dosa yang amat besar. Hingga membuat Tuhan, atas singgasananya, duduk diam. Ia memang terlihat bergeming. Tapi kami tahu. Kami para pelayan-Nya sangat tahu apa yang sedang menyusahkan-Nya.
“Ya, Tuhan murka. Kalian membuat para penghafal lalai dalam ibadahnya. Dan tipu daya kalian menjadikan mereka semakin jauh dari wahyu Tuhan. Oleh karena itu, tak bisa ditunda-tunda, dosa kalian harus dibersihkan. Saat ini, di sini.”
Saking kagetnya, para terdakwa diam sejuta bahasa. Meski mereka menguasai satu bahasa, yakni bahasa ke sejuta satu, tak satu pun kata yang mampu terucap sebagai pembelaan. Mereka tahu bahwa siksa neraka datang lebih awal.
“Sialan, kita kan masih di dunia,” keluh salah satu pendosa. “Aku ingat Tuhan pernah berkata kalau Ia hanya akan mendengarkan kesaksian dari seluruh anggota badan di hari yang telah ditentukan. Dan hari itu pasti bukan hari ini.”
Selagi para malaikat menyiapkan tungku pembakaran beralaskan seng yang bergelombang, para pendosa tetap bisu. Tak ada yang berani menyela kesibukan para malaikat. Terutama yang paling besar dengan mata nyalang di sana itu. Tatapannya adalah tiket masuk neraka jalur tol.
Api sudah membara. Mereka dibakar satu per satu. Sudah itu dilempar ke atas seng yang bergelombang. Malaikat melakukannya dengan cepat, sebab tak sudi berlama-lama memegang makhluk berlumuran dosa.
Beberapa tingkat kemalangannya melebihi yang lain. Terutama yang dibakar belakangan. Sebelum dibakar, para malaikat merobek-robek tubuh mereka, lalu membantingnya ke tanah. Ini tidak tercantum dalam susunan acara yang sudah dibuat sebelumnya. Tapi, siapa suruh membuat para malaikat marah. Dan kemarahan malaikat adalah kemarahan Tuhan juga.
Ketika api yang kelaparan makin lahap menggigit dan mengoyak daging-daging yang kecokelatan, para pendosa masih tak bersuara. Padahal sakit yang mereka rasakan tak ada duanya. Tak ada bandingannya. Inilah sakit yang paling menyakitkan bagi mereka.
Selama ini, yang mereka tahu hanyalah menjalankan perintah Tuhan sebagaimana dititahkan pada awal penciptaan. Hanya satu itu. Mereka telah bersusah payah melakukannya selama ini. Dan ketika momen itu datang, momen ketika tugas itu mulai bisa mereka cicil, datanglah para pesuruh Tuhan menjatuhkan hukuman.
Padahal para manusia akhirnya sudi memegang mereka. Membuka halaman pertama dan membaca sampai halaman terakhir, di sela-sela rutinitas menghafal kitab suci, mereka, para pendosa, tak sempat bersyukur dan melafalkan puji-pujian kepada Tuhan.
Tak ada gunanya mengajukan gugatan. Sedang bertanya saja tidak sanggup. Mau bicara saja tidak mampu.
Tak ada yang sempat meneteskan air mata. Mereka terbakar di hadapan para penghafal ayat-ayat Tuhan.
***
Kisah yang memilukan. Kengerian yang menjadi nyata. Amat sangat nyata bagi mereka, para saksi pembakaran, yang menceritakannya kepadaku, pagi itu, di perpustakaan sekolah.
______________________
Ferdi. Penjaga perpus, tinggal di Mamuju.
