Oleh Ferdi

Perpustakaan sekolah masih ramai. Nasib baik. Para murid sekolahan atau santri pondok pesantren masih betah bersama buku di waktu senggang.
Buku-buku dibaca dan dipinjam. Buku-buku dibaca dan dibincang. Buku-buku yang terbaca jadi bahan tulisan-tulisan. Buku-buku digenggam sebelum berganti gawai makin pintar.
Yang mengejutkan, pada suatu pagi, tak lama setelah perpustakaan buka, dua orang datang meminjam buku. Mereka adalah pemilik 300 dan 301 di buku daftar peminjaman buku milik perpustakaan.
300 menjadi 301, dan terus bertambah. Mungkin tak lama lagi jadi 1000. Lalu 1001 sebelum jadi 3760. Angka yang semakin besar, menandakan minat terhadap buku yang terus bertumbuh, dari hari ke hari.
Aku semakin sadar betapa besar impianku agar perpustakaan bukan sekadar pelengkap bagi sesuatu yang disebut sekolah. Juga bukan imbuhan untuk pendidikan. Perpustakaan bisa jadi tokoh utama dalam hidup manusia-manusia disebut murid di sekolah. Kemungkinan yang bukan kemustahilan.
Siasat demi siasat dilakukan demi murid mengakrabi buku-buku di perpustakaan sekolah. Buku-buku yang tersedia diupayakan menggugah selera pembaca. Ajakan-ajakan disampaikan di dalam dan di luar kelas. Buku sengaja menggantung di tangan di hadapan murid-murid.
Bukankah itu namanya pamer? Memang! Semoga Tuhan mengampuni dosa para penggenggam buku.
Satu lagi dosa yang kuharap diampuni, yakni dosa membanding-bandingkan nasib perpustakaan sekolah-sekolah.
Yang mengalami perpustakaan sekolah masih sering ramai tergoda memikirkan nasib perpustakaan sekolah lain. Perpustakaan di banyak sekolah masih sering bernasib buruk. Bukan cuma sepi, melainkan tidak ada sama sekali.
Kawanku yang senang berkelana, bercerita mengenai sulitnya menemukan perpustakaan di sekolah-sekolah jauh dari kota. Kalaupun ada, ruangan itu bukan diisi rak dan buku, tetapi meja dan alat-alat olahraga.
Bagaimana bisa ada pembaca pertama bila perpustakaan saja tak ada?
______________________
Ferdi. Penjaga perpus, tinggal di Mamuju.
