Katalog

Cerpen

Lubang Besar di Kepala Poni

Cerpen Dia Gaara Andromeda

Sudah lama Lendra tak melihat istrinya—Lian—berjalan-jalan keluar rumah. Yang dikerjakan sehari-hari hanya merenung, makan biskuit, kemudian membaca buku di sudut ruangan. Lama juga Lendra tak melihat Lian sibuk mengurusi Poni, kucing persia kesayangan mereka. Lian seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga, namun tidak punya gairah untuk mencarinya.

“Menurutmu … hari apa Tuhan pasti tertidur lelap?” Lian bertanya pada Lendra, wajahnya serius. Dahi Lendra berkerut untuk kesekian kali, gamang. Lendra melirik wajah Lian beberapa detik, mencoba menebak apa yang dipikirkan Lian. Pertanyaan yang sama, sejak seminggu lalu, yang saban malam selalu terulang dari bibir Lian membuatnya semakin was-was. Satu alis lelaki itu bertaut, ia pijit-pijit kemudian. Tak tahu harus menjawab apa.

“Mungkin senin,” jawab Lendra asal. Ia kembali pada aktivitasnya, membaca komik, sementara istrinya menganguk-anguk, mengangkat buku, membaca. Sesekali wajah Lendra mencuri pandang wajah istrinya yang seperti tegang.

“Bukankah,” istrinya menyela ucapan Lendra, “Senin itu hari sibuk. Mana mungkin Tuhan tidur di hari sibuk,” Lian nampak merenung, ia berdiri, mondar-mandir, mendekati meja makan, tempat suaminya menyeruput kopi.

“Kau sepertinya terlalu lelah, kau perlu tidur, Sayang. Tidak usah baca buku lagi,” Lendra merangkul istrinya, mencium lehernya dengan lembut.

“Tapi,”

***

Lian memerhatikan bagian belakang kepala suaminya ketika tidur. Bayinya—Audrey—sudah ia susui, dan ikut tertidur pulas. Pandangannya semakin khidmat, ia usap rambut Lendra beberapa kali, mencari-cari sesuatu yang seperti kasat, sesaat ia melenguh, karena tidak menemukan apa-apa. Seharusnya Lian percaya, tidak akan ada apa-apa—selain dirinya—yang bersarang di otak suaminya. Ia tahu cinta Lendra hanya untuk Lian. Tidak ada yang lain.

***

Esoknya, Lian bangun pagi sekali. Sengaja memasak nasi goreng untuk sarapan suaminya yang akan berangkat kerja. Bayi Audrey masih terlelap. Perasaan Lian begitu gempita, si bayi yang saban malam tidak rewel, membuatnya bisa bangun lebih pagi. Ketika Lendra selesai mandi, Lian menengok ke arah suaminya sejenak, memerhatikannya dengan saksama, Lendra hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawah, otot-otot tangan Lendra mencuat di sana-sini, tampak kekar dan gagah, pun bagian perutnya yang berlekuk-lekuk serupa binaragawan membuat Lian sejenak teringat perkataan sahabat-sahabatnya dulu.

“Suamimu itu putih, ganteng, badannya berotot, siapa cewek yang tidak suka melihat cowok kayak gitu, Li!” Sandra, kawan SMA-nya nyeletuk. Sandra berbicara sambil mengeryit genit, mungkin membayangkan badan Lendra yang seksi.

“Iya Lian, rawan punya suami kayak suamimu tahu, bikin jantung perempuan kreces-kreces gimana gitu. Kamu harus benar-benar jaga deh pokoknya, jangankan cewek, cowok aja kalau lihat suamimu jantungnya bisa kebat-kebit, huuu!” Alona–sahabat Lian yang lain, yang kini menyahut, diiringi tawa tipis di ujung pipi kirinya yang lesung.

Lian hanya meringis, tidak menjawab apapun perkataan kedua sahabatnya, ia hanya memainkan makanan di depannya tanpa punya keinginan untuk menghabiskan, pertemuan dengan sahabat-sahabatnya hari itu, membuat selera makan Lian rontok. Pun hatinya dikecam perasaan gelisah, takut apa yang dikhawatirkan kedua sahabatnya menjadi kenyataan. Seharusnya Lian tidak memikirkan hal ini sampai berlarut-larut, tapi nyatanya omongan teman-temannya itu sudah merasuki pikirannya sedemikian pelik. Lian cemburu pada sesuatu yang belum tahu apa. Itu sungguh di luar nalar.

“Kok malah bengong?” Lendra kini sudah ada di belakang punggung Lian, memberikan kecup kecil di bibirnya yang ranum,  pipi Lian merona. Lendra memang suami yang romantis. Senyum tipisnya terpeta. “Nah gitu dong, kan cantik kalau senyum gitu!”.

“Kamu,” Lian tersipu. Lantas tangannya dengan sigap menyendokkan nasi goreng ke atas piring Lendra, menaruh mentimun, bawang goreng, serta kerupuk di atasnya. Lian kemudian memberikan piring itu ke Lendra.

Setelah Lendra berangkat kerja. Lian kembali memikirkan hari itu: hari di mana Tuhan pasti tertidur lelap. Tidak tahu mengapa, otaknya bisa mengelana sejauh itu. Namun ia penasaran tentang lubang bersuara itu. Pun setelah seruan-seruan ejek tentang “Bunuh aku kalau kau bisa!” yang menghantui kehidupannya setiap kali ia melihat lubang besar di kepala Poni, mendulang beragam stigma-stigma negatif dalam kesehariannya. Lontaran-lontaran Lendra yang tak acuh jika Lian menanyakan hal yang sama. Hatinya benar-benar dilanda gemuruh. Masygul, karena Lendra kerap tak sependapat. Jam delapan pagi, Lian melirik jendela. Ia menatap Poni yang sedang membersihkan diri dengan menjilati seluruh tubuh. Poni yang dulu berbulu lebat dan cantik, teman segala duka dan suka sejak ia menikah dengan suaminya beberapa bulan lalu, namun kini fisik Poni telah berubah. Penyakit scabies menyerang beberapa bagian tubuh kucing itu dengan ganas sejak satu minggu yang lalu. Melihat Lian tengah memerhatikannya, kucing itu balas melirik ke jendela, lekas Poni segera berhenti menjilati seluruh tubuhnya dan mendekat ke arah pintu. Mengeong keras–sembari menatap mata Lian penuh manja. Lian salah tingkah, melengos, menutup gorden cepat-cepat, berbalik arah, kemudian duduk di kursi tamu. Ingatan akan ucapan suaminya kembali mengudara.

“Kenapa sekarang kau membenci Poni, padahal dulu kau sangat menyayanginya. Apa kau jijik dengan scabies yang dideritanya, kau sudah putus asa lantas kau ingin membunuhnya!” Lendra bertutur dengan rentetan kalimat menyudutkan. Lian melotot ke arah Lendra, tatapannya sinis, bibirnya belum bersua apa pun, bergetar. Seperti ada taring yang mencabik-cabik tubuhnya, posisi Poni di matanya sama seperti Lendra, tapi kejadian beberapa hari silam membuat hati Lian begitu patah, ada sebak yang meluber seperti api menyembur-nyembur.

“Aku jijik sama Poni bukan karena scabiesnya, tapi karena hal lain!” Lian berteriak lantang, membela diri.

“Lalu apa? Apa yang membuatmu membenci Poni?” Lendra bertanya, menyudutkan. Lian masih terpaku di kasur, tidak menyahut, tak lama Lian masuk ke dalam kamar, mengambil guling dan memelintir-melintir ujung sarungnya. Sesekali Lian menahan nafas, mendengus-dengus, kemudian melepaskan, emosi telah merajam kepalanya bak air panas yang meletup-letup. Aku benci Poni, aku tidak suka dibohongi, gusarnya, sambil terisak.

***

Beberapa menit Lian berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Lubang yang menganga di kepala Poni membuatnya teringat tentang kejadian menjijikkan itu. Poni seperti halnya Lendra adalah miliknya–utuh, namun ketika Poni tidak lagi setia kepada Lian, dan memilih wanita lain sebagai mahkota hati. Itu membuat Lian jijik. Satu minggu yang lalu, Poni seringkali kelayapan, pergi dari rumah diam-diam,  dan pulang ke rumah saat mau makan atau mandi saja, esoknya Lian mengikuti Poni ke mana kucing itu berkeliaran. Poni menyambangi sebuah rumah tak jauh dari tempatnya tinggal. Seorang wanita muda mengenakan scarf hijau dan blus dengan warna senada keluar dari rumah bergaya klasik eropa itu dan memberikan Poni makanan kaleng, jari-jari lentiknya mengelus-elus bulu-bulu Poni dengan penuh kasih sayang. Sore hari, Lian melihat kepala Poni memiliki lubang sebesar lingkaran bola tenis, sosok wanita muda itu tergambar di kepala kucing itu. Hal inilah yang membuat Lian merasa tersisih dan jijik kepada Poni. Lian tidak suka diduakan.

“Hari ini hari senin, aku akan melakukannya!” Lian menyambar kunci sepeda motor, menggendong Audrey, dan memasukkan Poni ke dalam kandang. Lian menstarer motornya– terburu-buru.

***

Setengah jam kemudian. Lian sudah sampai ke gym DeQuote, tempat Lendra bekerja. Dari kejauhan Lian melihat sosok yang tak asing. Suaminya tengah berbincang akrab dengan seorang wanita muda berpakaian ketat dekat peralatan kettlebells. Wanita muda yang sangat ia kenal. Sambil menenteng Poni di tangan kiri dan menggendong bayi Audrey, mata Lian melotot, murka, angkaranya ruah, otaknya memutar memori tentang ucapan Lendra beberapa waktu silam, mata Lian mengerucut, kian liar menelusur gerak-gerik keduanya dari kejauhan, Lian berjalan pelan-pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Lendra masih membelakanginya.

Lian semakin maju, dan maju, matanya terus menerus memerhatikan kepala Lendra yang kini tampak berlubang besar, ada sosok wanita lain tergambar di sana. Lian jijik. Lubang itu sama seperti yang dipunyai Poni. Kecamuk prasangka mengaliri darah di kepalanya, perasaan marah mendentum-dentum tanpa henti.

Barrbell yang ada di sebelahnya ia angkat. Keduanya menoleh bersamaan, dalam hitungan detik Lian mengayunkan barrbell itu ke kepala Lendra disusul si wanita.

“Aku sudah mengakhirinya, aku sudah mengakhirnya. Aku yakin Tuhan tidak akan melihat perbuatanku!” oceh Lian berulang-ulang.

Lendra dan wanita itu terkapar. Tawa Lian pecah berderai-derai. Darah tumpah bak air bah, hal itu membuat Lian bertambah jijik.***


Dia Gaara Andromeda. Pencinta kuliner dan penyuka warna hijau. Hobinya membaca buku, menulis, dan memasak. Ibu dua anak. Kumcernya Percakapan Sepasang Takdir (Penerbit Mediakita, 2014). Bisa dihubungi di IG: @diagaara atau FB: Dia Gaara Andromeda atau email: [email protected].

Cerpen

Datanglah ke Talang Siring, Begitu Katanya Selalu

Cerpen Mahrus Prihany

Setiap bertemu dengan Sabri, ia selalu berkata padaku satu kalimat singkat yang sama. Mulanya aku tidak mengindahkannya. Namun pada setiap perjumpaan dia akan mengatakannya, hingga aku menjadi yakin jika dia memang sengaja dan pastilah memiliki maksud tertentu.

“Datanglah ke Talang Siring,” kata Sabri. Aku mendengar ucapan itu pertama kali tujuh tahun lalu. Aku tak memedulikan kala itu. Tak ada juga pikiran macam-macam ketika mendengarnya. Sabri, teman sekampungku itu mengatakannya dengan serius. Bahkan pernah tiga kali diucapkan pada kesempatan yang sama, saat kami bertemu di warung bakso yang terletak di pasar.

Pada lebaran berikutnya, saat aku pulang kampung, bertemu Sabri lagi di warung bakso tersebut. Warung Mbok Lamin itu memang tempat biasa kami mangkal saat aku mudik. Di warung itu, kami tak hanya makan bakso, tetapi juga minum kopi sambil berbincang dengan beberapa anak muda yang menjadikan warung itu sebagai base camp. Di warung itu, aku bisa bertemu dengan banyak teman yang rumahnya jauh-jauh, seperti Sabri. Meski begitu aku jarang mudik karena harus menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi di pulau seberang.

Sabri mengucapkan kalimat itu lagi yang kali ini terdengar lebih serius. Roman mukanya menunjukkan tidak sedang bergurau. Aku tak menjawab, hanya tersenyum kecil, setelah itu aku bercanda dengan teman-teman yang lain. Sabri tak beranjak dari tempatnya, tapi tidak lantas bergabung dengan kami yang asyik bercanda. Beberapa waktu kemudian, Sabri pamit, setelah mengucapkan kalimat itu lagi. Aku hanya mengangguk-angguk. 

Dua lebaran berikutnya, saat aku tinggal menunggu wisuda, aku bertemu Sabri lagi. Dia mengucap kalimat yang sama. Ini berarti tahun keempat Sabri sengaja mencari dan menemuiku di warung Mbok Lamin. Perempuan itu menceritakan padaku jika Sabri sering bertanya tentangku. Jika Sabri mendengar aku mudik, ia akan menungguku di warung itu.

“Aku sungguh-sungguh, Fer. Datanglah ke Talang Siring.” Sabri kali ini mengajakku bicara serius dengan meminta waktu khusus. Aku tinggalkan beberapa teman yang sedang asyik mengobrol denganku.

“Kenapa kau menyuruhku datang ke sana, Sab?”

“Ferdi, apa kau benar-benar telah lupa?” Sabri balik bertanya dengan nada terperanjat.

“Ya. Aku memang tak tahu apa maksudmu.” Sabri melenguh panjang mendengar jawabanku.

“Seseorang menunggumu di Talang Siring. Ia benar-benar menunggumu”

“Siapa, Sab?” Kulihat Sabri terdiam. Aku kemudian mengingat-ingat, memang ada satu nama yang samar membayang di pikiranku. Jika tak salah, ia berasal dari Talang Siring. Aku tak mau menebak-nebak, memastikan dahulu jawaban dari bibir Sabri.

“Sita. Nama lengkapnya Sita Masita. Apa kau lupa nama itu? Jika kau mau, aku bisa mengantarmu ke sana,” terang Sabri.

“Aku tak punya waktu lagi, Sab. Besok aku akan kembali ke seberang, setelah itu aku akan mulai bekerja di perusahaan di sana juga.”

“Kita bisa ke sana sekarang. Aku bisa mengantarmu. Sebentar saja.” Nada Sabri terlihat lebih seperti memohon, bukan paksaan.

“Aku tak bisa, Sab. Banyak yang harus kupersiapkan sekarang ini.”

“Kalau begitu, lebaran tahun depan. Aku akan sampaikan pada Sita Masita.”  Aku terdiam, tapi pikiranku melayang-layang.

“Aku tak janji, Sab.” Aku mulai disesapi rasa bersalah tapi coba kusembunyikan.

“Boleh aku minta nomor ponselmu? Biar Sita bisa menghubungimu.”

“Ah maaf, aku tak sedang membawa ponsel, sedang kuisi daya baterainya di rumah.” Aku katakan pula jika aku tak hafal nomor ponselku. Sabri tampak tak percaya, tapi ia seperti berpikir. Aku sendiri sengaja mencari cara untuk menghindar darinya. Aku bilang padanya, aku mau pergi untuk mencari oleh-oleh yang akan kubawa ke kota esok. Sungguh pikiranku memang mulai terusik dengan nama Sita dan Talang Siring.

“Tunggu bentar,” kata Sabri, lantas berlalu meminta lembaran kertas dan meminjam pulpen pada Mbok Lamin. Ia menulis sesuatu di kertas itu. “Ini nomor Sita. Segeralah hubungi dia,” Aku menerima lembaran itu lalu berpamitan padanya.

***

Samar, pikiranku mulai mengingat Talang Siring dan Sita Masita. Sita berusia dua tahun di bawahku. adik kelasku dua tingkat namun kami beda sekolah. Saat SMA, aku sekolah di kota kabupaten yang jaraknya dua jam perjalanan dari kampungku. Aku biasanya pulang kampung satu atau dua sekali, begitu juga Sita. Kampung kami terletak di pedalaman dan memang belum ada SMA.  

Aku duduk di kelas tiga pada semester kedua dan Sita duduk di kelas satu saat aku iseng memacari perempuan itu. Bagiku memacari Sita hanyalah sekadar selingan atau hiburan. Aku sudah punya pacar di kampungku. Tapi sifat play boy-ku kadang kumat. Sita anak yang ramah dan baik Ia tinggal indekos tak jauh dari tempatku indekos. Jadi cocoklah jika Sita menjadi teman dekat yang bisa kuajak ngobrol atau jalan. Masa SMA memang paling indah untuk dinikmati.

Aku tak tahu di mana kampung Sita, tapi dia dulu sempat cerita bahwa ia berasal dari Talang Siring. Aku sendiri belum pernah datang ke kampung itu. Ketika aku pulang kampung, sebenarnya melewati tugu kecil Talang Siring di pinggir jalan. Namun kampungnya masih masuk ke dalam lagi beberapa kilometer. Kampungku sendiri masih jauh dari tugu kampung itu.

Pada saat kelulusan sekolah, Sita sempat menemuiku di indekos, dan ingin main ke kampungku, tentu saja aku tak mengizinkannya. Aku tak ingin Linda, pacarku di kampungku tahu keberadaan Sita. Bisa berbahaya. Setelah itu aku melanjutkan di perguruan tinggi pulau seberang. Aku sengaja tak mengabari Sita Masita. Aku mengganti nomor ponselku untuk menghindarinya. Aku benar-benar melupakannya, sibuk dan asyik dengan petualanganku sendiri.

***

“Kenapa kau belum juga menghubungi Sita, Fer? Sudah tiga tahun sejak aku memberimu nomornya. Sita selalu bertanya tentangmu.”

“Kertas yang kau berikan padaku terselip entah di mana sebelum aku sempat memindahkan ke ponselku.” Aku jawab sebisa mungkin pertanyaan lelaki itu. Ini adalah lebaran tahun ketujuh Sabri menemuiku.

Aku telah bekerja di perusahaan ibu kota. Belum lama aku bekerja, pandemi menghantam bumi. Dua kali lebaran aku tak bisa mudik karena ada larangan dari pemerintah. Lantas aku bekerja dari rumah. Bersyukur aku masih bisa bekerja sementara banyak rekan lain terpaksa dirumahkan.

“Bagaimana jika sekarang kau datang ke Talang Siring? Aku siap menemanimu.” Entahlah kalimat sama yang sering Sabri katakan ini menjadi sesuatu yang sangat mengusikku. Aku sebenarnya sangat tak ingin mendengar kalimat itu. Bayangan wajah Sita  menghantuiku. Aku merasa bersalah, tapi aku benar-benar ingin melupakannya.

Aku tak mau bertanya pada Sabri tentang Sita dan Talang Siring. Nama kampung itu belakangan mulai terngiang-ngiang di telingaku. Meski aku bisa menduga-duga, namun kisahku dengan Sita sudah cukup lama. Itu juga serupa peristiwa yang sekadar lewat saja. Selain itu hubunganku dengan Linda akhirnya putus, dan aku semakin asyik dengan diriku sendiri.

“Datanglah ke Talang Siring. Setidaknya sekali untuk terakhir. Temui Sita. Aku siap menemanimu.” Sabri memberi penekanan pada kalimatnya. Kalimat Sabri cukup menusuk jantungku. Tapi aku merasa tak ada gunanya lagi ke sana.

“Maaf Sab. Aku tak bisa. Aku telah memiliki kekasih di kota. Aku akan menikah dengannya tahun depan,” jawabku tegas. Aku memang tak ingin bertanya mengapa Sabri segigih itu memintaku datang ke Talang Siring. Aku ingin benar-benar mengakhiri semuanya dengan mengatakan begitu pada Sabri karena bagiku kisah dengan Sita telah berakhir lama.

***

“Hampir setiap hari Minggu, dua pekan sekali aku datang ke Talang Siring,” Sabri akhirnya bercerita tanpa kuminta. Sebelumnya ia memohon agar aku tak pergi dan mau mendengarnya.

Sabri memiliki kekasih di Talang Siring, namanya Ratih, yang rumahnya persis di sebelah rumah Sita Masita. Karenanya Sabri akhirnya kenal dengan Sita. Mengetahui Sabri berasal dari kampung yang sama denganku, Sita akhirnya banyak bertanya tentangku. Sabri tentu saja tak tahu banyak karena memang aku jarang berada di kampung.

Hubungan Sabri dengan Ratih berjalan baik dan awet. Sabri memang bersungguh-sungguh menjalin hubungan dengan kekasihnya itu. Sita pun berani bercerita pada Sabri dan Ratih bahwa ia dulu pacarku.

“Sampaikan pada Kak Ferdi untuk datang ke Talang Siring. Begitu selalu kata Sita padaku,” tutur Sabri.

Sabri akhirnya menikah dengan Ratih. Sementara Sita masih tenggelam dengan perasaannya padaku, masih selalu mengucapkan hal sama seperti yang Sabri ucapkan padaku. Sabri pun merasa berempati dan memberi saran padanya agar tak menantiku datang ke Talang Siring. Itu karena Sabri merasa bahwa aku tak mengindahkan pesan Sita yang ia sampaikan padaku.

“Aku akan menyampaikan berita ini pada Sita bahwa kau akan menikah tahun depan. Semoga setelah ini ia tak lagi meminta dan menantimu lagi.” Sabri berkata dengan tarikan napas panjang. Seperti ia juga menahan beban batin yang dalam. Sorot matanya tampak kosong, seolah menyembunyikan kesedihan. Ia terdiam lama, bibirnya seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi yang terdengar kemudian hanya desahan panjang lagi.  

“Terima kasih, Sab. Ya, semoga Sita juga segera menemukan jodoh dan menikah dengan pria yang benar-benar mencintainya. Pria yang baik dan bertanggung jawab,” jawabku lirih.***  


Mahrus Prihany, lahir di Peninjauan, Lampung Utara, pada 17 April. Meluluskan studi di Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO) dan STAI Publisistik Thawalib, Jakarta. Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia Tangerang Selatan (KSI Tangsel), kepala sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), ketua komite sastra DKTS, dan Redpel portal sastra litera.co.id. Karyanya tersiar di sejumlah media massa. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Raliatri (2016), Seseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai (2019), Bidadari dalam Secangkir Kopi (2021), dan Di Way Kulur, Tak Ada Lagi yang Kucari (2022).

Cerpen

Rumah Besar Pak Simon

Cerpen Erwin Setia

Seorang lelaki muda turun dari sebuah kereta jarak jauh di Stasiun Bekasi. Ia menggendong sebuah tas dan menyeret koper abu-abu berukuran sedang. Ia melepas kacamata dan menyampirkan sweternya di bahu. Tubuh lelaki itu cenderung kurus, tapi caranya berjalan begitu bertenaga dan optimistik seolah-olah tidak akan ada sesuatu pun yang bisa mencelakakannya.

Di atas sebuah kursi tunggu, ia duduk sebentar. Dipandanginya sekeliling stasiun di mana orang-orang yang baru turun dari kereta berlalu lalang, orang-orang menunggu di kursi plastk yang dingin, dua orang petugas mempercakapkan sesuatu, dan batangan rel tampak berkilau disepuh cahaya siang. Ia beranjak dari kursi setelah beberapa menit mengambil jeda. Ia buru-buru keluar dari area stasiun. Ia memanggil tukang ojek, menyebut alamat, dan bergegaslah motor bebek yang bunyi knalpotnya berisik itu ke alamat yang dituju. Tak jauh, kurang dari lima belas menit, ia tiba di tempat tujuan.

Sebuah rumah besar dengan pohon beringin di seberang pagar yang daun-daunnya bertebaran di tanah tampak di hadapannya. Ia memandangi rumah itu saksama seakan hendak memastikan bahwa ia tidak salah alamat. Tempat itu memang agak jauh dari jalan besar. Sopir ojek mesti melalui beberapa gang kecil dan sepi sebelum tiba di rumah besar itu. Setiba di sana, suasana jalan makin sepi saja. Sejauh mata memandang, lelaki itu tak mendapati satu pun orang—entah tetangga ataupun orang yang sekadar lewat—tampak. Area itu begitu sepi seperti sebuah jalan yang sedang diisolasi. Hanya ada beberapa pohon besar dengan burung-burung yang sesekali bertengger di dahannya untuk kemudian terbang kembali ke langit. Pohon-pohon itu menghadirkan keteduhan yang membuat Bekasi menjadi tak begitu panas. Lelaki itu merasa nyaman dengan yang kini dirasakannya. Ia merogoh saku celana, mengambil kunci, dan membuka pagar rumah besar dengan kunci tersebut.

Rumah itu terdiri atas dua lantai. Lelaki itu menyisiri satu demi satu ruangan rumah. Dengan langkah-langkah pelan dan waspada, ia memeriksa keadaan rumah yang sudah ditinggalkan penghuninya selama tiga tahun itu. Si penghuni terakhir—Pak Simon dan keluarga—sebelumnya menitipkan rumah itu kepada tetangganya yang tinggal persis di sebelah rumah. Pak Simon membayar tetangga itu untuk rutin membersihkan rumah agar tidak kusam dan kotor seperti barang tak berguna.

Dua tahun lebih lamanya si tetangga menjalani rutinitas membersihkan rumah besar itu, sampai sebulan lalu Pak Simon mendapat kabar tetangga itu mati karena terpeleset saat membersihkan kamar mandi rumah besar. Itulah penyebab Pak Simon meminta tokoh kita—si lelaki muda—untuk menyambangi rumah besarnya. Pak Simon meminta pada lelaki itu untuk menjaga dan merawat rumah besar sekitar satu pekan sebelum penghuni baru datang ke sana. Ya, rumah besar Pak Simon itu sudah dipinang oleh sepasang pengantin baru asal Bali. Mereka sudah membayar uang muka dan mengatakan minggu depan akan mulai menghuni rumah besar.

Pada hari pertama kedatangannya, setelah bersih-bersih sekadarnya lelaki muda bersantai dan tiduran di atas sofa yang sangat empuk. Ia tidak pernah merasakan sofa seempuk dan selembut itu. Ia membayangkan betapa nikmatnya kalau bisa menghuni rumah itu selamanya. Ia mendesah dan membuang impian muluk itu. Dengan televisi menyala, lelaki itu ketiduran di atas sofa.

Hari sudah berangsur gelap ketika lelaki itu terbangun. Televisi, lampu, dan pendingin ruangan mati. Ia mengecek meteran listrik dan mendapatinya baik-baik saja. Listrik tidak turun atau korslet. Mati listrik datang begitu tiba-tiba. Ia keluar dari rumah. Jalanan di depan rumah sangat lengang dan sepi. Matahari sudah lama pergi, berganti cahaya bulan yang tipis dan hanya menghasilkan keremangan. Dedaunan bertiup terbawa angin. Petang itu udara sejuk sekali. Lelaki muda mengenakan sweter dan mulai berkeliling. Ia hendak mencari seseorang yang bisa diajaknya berbicara atau sekadar menjadi tempatnya bertanya mengapa listrik mati tiba-tiba.

Ia berjalan menyusuri jalan. Rumah-rumah di kanan-kirinya tampak gelap dan sepi. Semuanya tak berpenghuni. Rumah-rumah yang berukuran cukup besar itu meruakkan sensasi ganjil. Lelaki itu merinding dan mempercepat langkah. Ia menembus gang lain. Di gang itu beberapa lampu menyala dan tampak beberapa orang sedang berkumpul. Saat ia melambaikan tangan dan hendak menghampiri orang-orang itu, mereka terperanjat dan membubarkan diri. Ia merasa heran dan meneruskan perjalanan. Azan magrib berkumandang. Jalanan begitu sunyi dan dingin. Saat berhenti sejenak dan duduk di atas sebuah kursi beton, ia tiba-tiba teringat pintu utama rumah tidak dikunci. Ia hanya mengunci pintu pagar karena memang tadi ia agak terburu-buru. Mengingat itu, lelaki itu bergegas kembali ke rumah besar. Sementara ia berjalan cepat, sayup-sayup azan dan suara orang mengaji masih terdengar.

Setiba di area rumah besar, ia terkejut senang mendapati lampu-lampu sudah menyala. Ia membuka pagar dengan cekatan, lantas mendorong pintu utama. Benar saja, pintu itu tidak terkunci. Ia buru-buru memeriksa keberadaan televisi, guci, perhiasan porselen, dan sebuah lukisan mooi indie yang tergantung dinding. Syukurlah, semua barang-barang berharga itu tak bergeser seinci pun dari tempatnya. Tidak ada barang-barang yang hilang. Tidak ada barang-barang yang dicuri. Ia bisa tidur dengan tenang malam ini.

Lantaran lelah, lelaki itu memutuskan untuk merebahkan diri di sofa. Tak lama ia pun tertidur. Beberapa jam setelah tidur, kandung kemihnya terasa penuh. Ia kebelet buang air kecil. Cepat-cepat ia menuju kamar mandi lantai satu. Ia pun menunaikan hajatnya dan merasakan kelegaan selepasnya. Tanpa kecurigaan ia membuka pintu. Di depan pintu, seorang perempuan berpakaian serbahitam dengan muka hitam melompat ke hadapannya dan memandanginya dengan mata melotot. Lelaki itu terlonjak ke belakang. Kepalanya membentur pinggiran kloset. Darah mengucur dari kepala lelaki malang itu. Tiga hari setelahnya, seorang pemulung merasa heran burung-burung berbulu hitam berkerumun di halaman rumah besar. Si pemulung coba-coba memasuki pagar rumah yang lupa dikunci, membuka pintu utama yang juga tak dikunci, dan samar-samar mencium bau busuk. Ia menemukan mayat seorang lelaki muda dan segera melaporkannya ke warga terdekat.

***

Sepasang pengantin baru asal Bali yang hendak membeli rumah besar mengurungkan niat mereka usai mengetahui fakta-fakta seram soal rumah besar. Selain kematian tiba-tiba si tetangga dan si lelaki muda, rupanya ada satu kematian juga yang baru terungkap saat polisi menggeledah rumah besar selepas kematian lelaki muda. Di sebuah ruangan yang selalu dikunci di dekat kamar mandi, polisi menemukan seonggok mayat beku yang sudah diawetkan. Mayat itu berpakaian serbahitam dan wajahnya hitam seluruh seolah diolesi arang. Setelah polisi melakukan penyelidikan, didapatilah bahwa mayat serbahitam itu tak lain istri pertama Pak Simon. Istri pertama Pak Simon lama bekerja di Arab Saudi dan rutin mengirimi uang setiap bulan kepada Pak Simon dan anak mereka yang masih berusia lima tahun. Bertahun-tahun istri Pak Simon tak kunjung pulang. Sang istri bilang ia selalu ditahan-tahan oleh majikan sehingga tak bisa pulang. Kendati tak pulang-pulang, sang istri tak pernah lupa mengirimkan uang yang jumlahnya lumayan banyak. Bosan menunggu, suatu hari Pak Simon berjumpa seorang janda kaya raya yang tak lain adalah temannya sewaktu sekolah menengah. Pertemuan mereka berakhir dengan perkawinan. Pak Simon mengatakan kepada anak mereka dan petugas KUA bahwa istri pertamanya sudah meninggal di Arab Saudi. Ia tidak mengabarkan keluarga istrinya ketika menikahi janda kaya raya itu. Suatu malam, beberapa bulan setelah pernikahan itu, istrinya datang. Waktu itu istri kedua dan anaknya sedang pergi ke rumah mertuanya. Kedatangan istri pertama itu tak ia sambut dengan ramah. Alih-alih ia langsung menjambak sang istri, membawanya ke sebuah ruangan dekat kamar mandi, dan menyiksanya sampai mati. Ia mengawetkan mayatnya dan membiarkannya tergeletak dengan hanya ditutupi lapisan kain hitam. Semenjak itu, ia melarang siapa pun mendekati apalagi berusaha membuka pintu ruangan yang selalu terkunci itu.

***

Pada malam pertama di penjara, Pak Simon izin ke kamar mandi. Sipir yang berjaga merasa heran Pak Simon tak muncul juga dari kamar mandi selama berjam-jam. Ketika sang sipir mendobrak pintu, ia mendapati tubuh Pak Simon sudah tak bernyawa dengan sekujur tubuh berwarna hitam seolah baru saja dibakar massa.***

Tambun Selatan-Bekasi, 14 April 2020


Erwin Setia, lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis cerpen dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Cerpennya terkumpul antara lain dalam antologi bersama Dosa di Hutan Terlarang (2018) dan Berita Kehilangan (2021). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Cinta yang Sibuk

Cerpen Karisma Fahmi Y

“Apa yang terjadi padamu saat itu?”

“Tak ada. Barangkali hanya kesalahpamahaman.”

“Ia sudah menikah?”

“Belum.”

“Mengapa kau tak mencoba rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu.”

“Soalnya adalah pihak ketiga,” katanya datar. “Dari pihak dia,” imbuhnya lagi.

Lalu kami sama-sama terdiam. Matanya kembali larut di layar komputer, dan aku tenggelam dengan pikiranku sendiri. Gadis macam apa dia sebenarnya? Mengapa begitu sulit menebak yang ada di batok kepalanya? Aku menghela napas panjang. Ia menoleh padaku.

“Kau kenapa? Galau?” Aku menggeleng.

“Aku sedang jatuh cinta.”

“Oya?” katanya pendek, lalu tenggelam lagi pada layar di depannya. Sesungguhnya aku mengharap terjadi perubahan pada mimik mukanya. Setidaknya ia kaget, atau konsentrasinya hilang, lalu berhenti mengetik demi mendengar jawabanku. Tapi tidak. Ceritaku tidak mempengaruhi kehidupannya, konsentrasinya. Ia kembali mengetik dan mengetik.

“Aku baru merasakan mencintai yang sebenar-benar mencintai,” kataku lagi.

“Seperti apa itu?” tanyanya tanpa menoleh. Sial, jarinya tak juga berhenti mengetik.

“Mencintai tanpa syarat. Sebagai lelaki aku selalu mencintai perempuan dengan sejumlah catatan, karena ia baik, karena hidungnya mancung, karena kakinya panjang. Namun kali ini benar-benar cinta tanpa syarat. Aku mencintainya begitu saja. Semua terasa nikmat sekali,” kataku menerawang. Ia menoleh sekilas ke arahku lalu tertawa kecil.

“Berarti kau benar-benar sudah dewasa,” katanya tersenyum. Aku juga tertawa. Itulah yang membuatku menyukainya. Ia cantik, lucu, dan jujur. Aku harus mengakuinya, aku mencintainya tanpa syarat.

“Kalau kau sudah merasakan cinta semacam itu, kau harus mengejarnya. Kalau tidak, kau akan menyesal kehilangan dia,” suaranya tidak terdengar menggurui. Namun entah mengapa, tiba-tiba aku menyusut di hadapannya. “Apabila tertolak, kau akan merasakan sebenar-benar pahit dan sakitnya,” katanya berfilusuf.

Aku mencermati kata-katanya. Sebagai guru, ia memiliki kemampuan memahami tanpa harus menggurui. Ia kembali sibuk mengetik seolah mengatakan hal itu dengan sekilas saja. Apa Tuhan menciptakan cinta yang buruk padanya? Mengapa ia mengucapkan semua itu dengan datar? Apa ia telah mengalami dan melewati rasa sakit itu? Ia mengetik dan terus mengetik, tak menghiraukanku yang duduk di sampingnya dengan perasaan yang tak menentu.

Sisa hari itu sungguh tak menyenangkan. Aku melewati banyak jam kosong karena tidak ada jam mengajar. Sebagai guru olahraga, jamku memadat di pagi hari. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan dengan perasaan ini.

Bel istirahat berbunyi dan ia selesai mengetik. Dengan bernyanyi kecil ia berlalu dari depan komputer pusat. Tinggal aku yang termangu menyesapi kalimat demi kalimatnya yang mengendap di kepalaku. Tak tahukah dia bahwa aku mencintainya? Aku mengambil napas berat dan dalam. Aku tak tahu lagi cara yang harus kulakukan demi mengungkapkan perasaan. Inikah bentuk sakit dari cinta tanpa syarat?

***

Kupencet tombol off, dan semua ocehan mama berakhir. Kubiarkan mama uring-uringan di seberang karena aku tak mau bicara. Mama tak berhenti menjodohkanku dengan anak-anak teman papa. Berkali-kali aku menolak segala bentuk pernikahan kolega. Terakhir dengan Boni, anak atasannya. Sebagai kepala Dirjen, papa memiliki banyak kolega. Tiga kakak perempuanku menikah dengan anak-anak teman papa. Tanpa cinta, tentu saja. Semua berdasar harta dan jabatan. Terakhir, pernikahan kakak kedua kandas di tengah jalan karena suaminya selingkuh. Kakak kedua memang menderita, namun ia tetap kaya raya. Ia memiliki perkebunan dan vila mewah di pegunungan. Dan mama tak pernah belajar dari hal itu. Mama tetap memaksaku menikah dengan salah satu anak teman-teman papa. Kau ini bodoh atau apa? Tidak semua orang bisa bersuamikan anak Pak Direktur!

Aku menentang keras pernikahan dengan dasar kolega. Aku sudah muak dengan semua tawaran perjodohan keluargaku. Aku tak mau seperti mereka. Aku menyelesaikan kuliah dan hengkang dari kehidupan mereka, menentukan jalanku sendiri. Aku memutuskan menjadi guru dan menjalani kehidupanku sendiri. Kehidupan yang lebih sederhana daripada kehidupan pejabat yang terus menerus harus memasang bibir manis dan basa-basi karena wartawan berkeliaran di mana saja. Kunikmati gaji kecilku.

Kesederhanaan itu tercermin dari kisah cinta yang kurasakan. Aku mencintai Pak Yo, guru olahraga. Tidak tampan dan tidak kaya. Dipastikan apabila aku mengajukannya sebagai calon suami, mama akan berang.  Aku tak peduli. Hal pelik yang kuhadapi saat ini hanyalah: aku tak tahu perasaannya padaku.

Aku melihatnya duduk di sana. Ia tampak murung dan tidak bersemangat. Tatapan matanya mengarah pada Bu Sinta, guru Matematika yang sedang mengetik ulangan di komputer kantor. Bu Sinta adalah teman dekatku. Meja kerjanya tepat di sebelahku. Meski demikian, karakter kami benar-benar jauh berbeda. Bu Sinta adalah orang yang supel dan mudah bergaul dengan siapa saja, sedangkan aku lebih tertutup dan pendiam.

“Aku baru merasakan mencintai yang sebenar-benar mencintai”

“Seperti apa itu?” tanya Bu Sinta.

“Mencintai tanpa syarat. Sebagai lelaki aku selalu mencintai perempuan dengan sejumlah catatan, karena ia baik-baik, karena hidungnya mancung, karena kakinya panjang. Tapi kali ini benar-benar cinta tanpa syarat. Aku mencintainya begitu saja. Semua terasa nikmat sekali,” katanya bersungguh-sungguh.

“Berarti kau benar-benar sudah dewasa,” kata Sinta tersenyum nakal. Mereka tertawa. Aku mencermati pembicaraan mereka dengan saksama. Aku cemburu dengan kedekatan mereka. Seandainya saja aku bisa seperti Bu Sinta, barangkali aku bisa lebih beruntung dalam hal asmara.

“Kalau kau sudah merasakan cinta semacam itu, kau harus mengejarnya. Kalau tidak, kau akan kehilangan dia,” kata Bu Sinta. “Apabila tertolak, kau akan merasakan sebenar-benar pahit dan sakitnya”

Bel berbunyi. Bu Sinta keluar dari ruangan diikuti tatapan mata Pak Yo. Dalam hati aku mengeluh. Benar kata Bu Sinta, kini cinta tanpa syarat datang kepadaku sebagai ujian. Aku harus bersiap dengan segala kepahitan.

***

Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu.” Pertanyaan Pak Yo, guru olahraga itu kembali mengusikku. Pertanyaan yang sering kuajukan pada diriku sendiri. Memang benar, Pras masih menyayangiku. Ia masih sering menelepon, dan beberapa kali mengajak menonton bioskop. Kuterima semua tawaran itu sebagai kawan. Sebelum berpacaran, kami sudah berkawan baik. Rasanya tak pantas juga hanya karena pernah menjadi pacar harus memutuskan pertemanan.

Dulu kami sama-sama berada di organisasi mahasiswa pecinta alam. Saat itu ia adalah ketua tim penjelajah. Ia melindungi anak buahnya, termasuk aku, dengan penuh tanggung jawab. Setahun setelah itu kami resmi berpacaran. Tiga tahun kemudian semua menjadi kacau. Barangkali memang benar, cinta memiliki masa kadaluarsa. Ia selingkuh dengan teman sekantornya. Sejak saat itu aku merasa semua lelaki seperti babi. Mereka lupa pada janji dan komitmen yang dibangunnya sendiri. Dari awal aku sudah menegaskan, Aku bisa menempuhi apapun, kecuali satu hal, orang ketiga. Dan ironis memang bila pada akhirnya hubungan kami harus kandas karena pihak ketiga. Aku memutuskan untuk pergi. Aku tak mau dibodohi cinta ketiga. Saat itu juga aku memutuskan untuk menghapus Pras dari hidupku berikut nomor telepon dan segala hal tentangnya. Sebaliknya, ia selalu menghubungiku dan aku tak membalas semua pesan yang ia kirimkan. Dan ia benar-benar seperti babi, menyuruk ke sana kemari meminta dan memohon-mohon padaku untuk kembali padanya. Entah mengapa aku tidak tertarik pada tawaran itu. Tapi sebagai teman yang pernah berada di satu atap organisasi, tentu saja tidak sesederhana itu. Ia tetaplah teman. Dan rasanya aku tetap menjadi juniornya.

Aku begitu khusyuk dengan luka dan sakit hatiku pada lelaki hingga waktu tak lagi menjadi hal penting. Waktu terus berlalu dan kubiarkan lukaku sembuh dengan sendirinya. Sedikit demi sedikit semua menjadi biasa. Tak ada kebencian, tak ada rindu, tak ada cinta, tak ada apa-apa lagi di sana. Hatiku benar-benar kosong. Satu dua lelaki datang, tapi entah mengapa aku merasa tak ada yang benar-benar tepat.

Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu. Pertanyaan itu kembali mengiang. Pras tidak seburuk itu. Barangkali saat itu aku yang terlalu berlebihan. Aku menafsirkan segala sesuatu dengan emosi. Kemarahanku benar-benar meluap dan aku tak sudi lagi memaafkannya.

Lima tahun berlalu dan usia terus merambat ke angka-angka matang. Bapak ibuku berkali-kali mencoba menjodohkanku dengan anak-anak temannya. Aku menggelengkan kepala. Aku tidak sepahit itu. Bagiku perjodohan tak akan mengubah hidup menjadi lebih bahagia. Terlebih lagi perjodohan dengan orang yang tak kukenal. Aku tak juga mengiyakan tawaran itu.

Mengapa kau tak mencoba untuk rujuk? Membicarakan kembali mimpi-mimpi kalian. Aku yakin dia masih sayang padamu. Pertanyaan itu berulang-ulang menyentil rongga kepala. Aku tak tahu ke mana perginya rasa cinta, rindu, dan semua rasa kagum pada Pras yang dulu pernah singgah. Beberapa kali aku mendatangkan perasaan itu melalui kenangan. Menurut buku-buku picisan yang kubaca, kenangan akan membangkitkan kembali cinta yang hilang, kenangan indah akan menghidupkan kembali suasana sepasang kekasih. Bagiku kenangan tak begitu dibutuhkan. Semua kebahagiaan yang pernah kami lewati saat naik ke Bromo, Pangrango, dan sejumlah perjalanan sepanjang pantai selatan dengan motor bututnya tak mampu membangkitkan perasaan itu. Lalu bagaimana cara untuk kembali rujuk dengan Pras? Apakah aku benar-benar bisa berdamai dengan semua itu? Aku tidak yakin. Luka yang ditorehnya masih menganga di dasar dada.

Kutatap Pak Yo, guru olahraga yang duduk di belakangku. Ia juga tengah galau perihal cinta. Ia bercerita tentang cinta tak bersyarat. Semua itu membuatku berpikir ulang tentang perasaanku.

Bel berbunyi. Aku harus mengisi beberapa kelas lagi. Ada enggan yang menyergap, memintaku untuk tetap tinggal.

Bu Mita guru Bahasa Inggris tersenyum kepadaku. Tempat duduk Bu Mita tepat di sebelahku. Harum parfum floral menguar seiring tubuhnya yang berkelibat melintasiku. Inilah yang membuatku tak bisa rujuk kembali dengan Pras. Makhluk cantik yang mungil, rapi, dan anteng itu selalu menyedot perhatianku, membuat dadaku naik turun tak menentu. Aku mengagumi Bu Mita seperti dulu aku mengagumi Pras. Perasaan itu datang sebagai cinta tak bersyarat bagiku, meski bagi orang lain, termasuk bapak ibuku adalah hal yang tidak mungkin.

Aku tak tahu, apakah ini wujud dari sakit dan pahit cinta yang tak bersyarat itu? Bagiku cinta adalah omong kosong besar. Tak ada cinta yang benar-benar memenuhi syarat.***

Maret 2018-Oktober 2019


Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian (Basabasi, 2017), dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

Puisi

Puisi Bintu Assyatthie

Semangkuk Pattola Menjelang Senja

Sepulang kerja

ayah menyuguhkanku pattola

hasil jerih payah

menanam tulang di tanah basah

Aku heran, bukan aroma pandan

yang menyeruak dari kuah kental campur santan

tapi bau anyir darah yang menetes dari dahan

siwalan di pinggir jalan 

Menjelang senja, pattola itu kukubur

bersama resah yang mendebur

kuingat petuah leluhur:

hidup dan mati takkan pernah akur

Totale, Agustus 2022


Lentera Pucuk Siwalan

Pohon siwalan tegak berdiri

menatap riuh luka yang perih

menjadi saksi sebelum rubuh

bersimpuh pasrah di pangkuan ibu

Bukan rembulan yang tampak sinarnya

di celah rimbun janur siwalan

tetapi lentera di pucuknya

memancarkan kemilau melebihi cahaya rembulan

Pohon siwalan yang tinggal sendiri

di jalan yang sering kita lewati

menelan pahit di antara deru mesin

menahan sakit saat janurnya mulai kering

Lentera itu serupa petaka

ada gulita yang tak mampu diraba

Ia bukan cuma cahaya

karena sinarnya tidak untuk siapa saja.

Totale, Agustus 2022


Bukan Sekadar Mimpi

Suatu hari, aku terjebak

dalam dunia asing yang sesak

tak ada jalan pulang, tersesat dalam pikiran

yang menuhankan keinginan

Dalam kegamangan, kusebut nama Tuhan

sayup-sayup kudengar sebuah bisikan

“Selama ini, siapa yang kau sembah siang malam?”

Aku tersentak, tidurku tak renyap

terjaga dari bayang-bayang suara yang lekap

Aku senantiasa menyembah mata

mendamba harta dan tahta

menghamba pada kata-kata

bersujud di haribaan rat yang sia-sia

Aku tersuruk dalam sesal yang nyata

mendebur keluh aurat semesta

aku ingin kembali ke rahim ibunda

ruang paling hampa, purna tanpa dosa

Totale, Agustus 2022


Petuah Seorang Pelaut

Laut memanggil

di sepertiga malam yang ganjil

raup mukamu dengan air

rapal doamu dalam dzikir

lalu melangkahlah tanpa getir

Satukan darahmu dengan laut

napasmu angin yang bergelayut

degup jantungmu, gejolak ombak

yang berkecamuk

Olle ollang…

pada laut nenek moyang

Olle ollang…

air laut bergelombang

Olle ollang…

jangan lupa untuk pulang

Totale, Agustus 2022


Karaeng Galesong

Selat Madura adalah saksi sejarah

di mana tonggak nyalimu terus menyala

api bagakmu tak henti membara

tanah air dijajah, darat laut digeledah

asap di udara tak jua reda

Saat Kerajaan Gowa patah

di kaki Sulawesi yang megah

tumpah di bawah meriam Belanda

kau pindah ke tanah Jawa

mencari tempat singgah

melanjutkan yang belum sudah

Dalam sukmamu, darah pitarah mengalir

restu Sultan Hasanuddin mencair

ayahandamu, ayam jantan yang mahir

Belanda pun merasa getir

Di bawah langit Madura yang temaram

bahtera juangmu tak pernah karam

kapanpun penjajah menyerang

lautmu mengekang, bidukmu melintang

Dengan Pangeran Trunojoyo kau berserikat

taklukkan Mataram dari jerat yang mengikat

kolonialis geram, tekadmu mengakar kuat

biarpun kau minggat demi selamat

girahmu masih perjaka dalam hikmat

Duh, Karaeng Galesong

Madura tak pernah kosong

menjunjung asmamu yang agung

dan tilasmu yang ulung

Totale, Agustus 2022


Bintu Assyatthie adalah perempuan pesisir yang belajar menulis dari hal-hal kecil. Aktif di media sosial: Instagram, facebook dan opinia dengan nama akun: Bintu Assyatthie.

Cerpen

Tafsir Peziarah Sunyi

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Langitmendung dan angin berpusar ketika Dewi Uma meniti  jalan ke makam ayah. Ini hari kedua ayah dimakamkan. Gadis 17 tahun itu merasakan angin menggetarkan dahan-dahan kemboja. Tanah makam masih cokelat basah. Bunga di atas makam dihamburkan angin. Sore ini ia seperti ingin menyingkap rahasia dirinya. Ia kehilangan separuh jiwanya sejak pemakaman jasad ayah. Tapi kali ini ia terperanjat. Ia termangu beberapa langkah sebelum makam ayah. Ia melihat seorang perempuan setengah baya yang tak dikenalnya berjongkok, menahan tangis di sisi makam ayah. Yang membuatnya takjub dan bergetar, ia melihat seorang gadis yang serupa dengannya. Bahkan ia melihat dirinya sendiri pada gadis itu.

Gerimis tajam menerpa wajah ketika Dewi Uma masih termangu. Menahan diri, ia tak sanggup melangkah. Berganti-ganti ia memandangi perempuan setengah baya dan gadis yang serupa dengannya. Ia merasakan kedekatan hati yang terselubung tabir rahasia. Ia merasa perempuan setengah baya dan gadis yang serupa dengannya itu merupakan kerabat. Ia mendekat ke arah makam ayah.

Hujan deras dengan angin berpusar tercurah dari langit. Dewi Uma berlari mencari perlindungan di bawah pohon beringin tua. Mengeringkan wajah dan rambutnya dengan sapu tangan. Ia menatap ke arah makam ayah. Senyap. Tak seorang pun berada di makam itu. Perempuan setengah baya itu dan anak gadisnya tak terlihat lagi. Mereka berlari menghindari hujan yang tercurah dari langit bersama pusaran angin. Dewi Uma kehilangan lacak, tak dapat menemukan sosok mereka.

Mendekati makam ayah saat hujan reda, Dewi Uma masih merasakan getar tubuhnya. Bukan getar tubuh karena hujan yang mendadak tercurah dari langit. Getar tubuh bertemu dengan dua orang–yang dalam pikiran Dewi Uma, sangat berkaitan dengan rahasia hidupnya. Meninggalkan makam ayah pada saat senja, hati gadis itu diliputi tanda tanya.

 ***

Langit cerah ketika Dewi Uma kembali ziarah ke makam ayah. Ini hari ketiga ayah dimakamkan. Menjelang sore, tak seorang pun datang ke makam, kecuali Dewi Uma dan Fajar, teman sepermainannya. Mereka begitu akrab semenjak kanak-kanak. Fajar terbiasa mengajak Dewi Uma ke mana pun, termasuk saat mendaki gunung. Fajar yang memiliki tubuh kekar dan tangguh, selalu membuat Dewi Uma terlindungi.  

“Aku melihat seorang perempuan setengah baya dan anak gadisnya, yang sangat mirip denganku kemarin di makam ini,” kata Dewi Uma, saat mencapai makam ayah. “Hujan turun, dan mereka menghilang ketika aku berteduh di bawah pohon beringin.”

“Kesedihan telah membawamu untuk melihat gadis yang serupa denganmu. Kau sedang melihat wujud kesedihanmu. Gadis itu pasti kau sendiri.”

“Lalu, perempuan setengah baya itu?”

Sejenak Fajar berpikir, sebelum menjawab sekenanya, “Ia wujud dirimu di masa yang akan datang.”

“Aku tak akan menjadi seorang ibu yang memendam kesedihan serupa itu. Aku mau jadi seorang ibu yang bahagia dengan segala pilihanku.”

“Nah, itu gambaran dirimu di saat sedih, di antara kehidupan yang bahagia,” goda Fajar, tak mau menyerah. Dewi Uma merasa diledek Fajar. Ia  masih memikirkan seorang ibu yang wajahnya memendam duka dan anak gadisnya itu. Ia yakin bila benar-benar bertemu dengan seorang ibu yang berparas sedih dan anak gadisnya yang mirip dengannya: serupa saudara kembar. Ia sangat ingin bisa bertemu mereka.

***

Masih berkabung, di hari keempat ayah dikubur, Dewi Uma berziarah ke makam, menjelang sore. Ia ditemani Joko Bandung, kekasihnya, seorang militer. Lelaki muda kekar itu baru bisa datang dan mengajaknya ziarah ke makam. Mendaki jalan setapak ke bukit makam, di bawah dahan-dahan kemboja, Joko Bandung menggenggam tangan Dewi Uma, memberinya rasa tenteram.

Dewi Uma kembali teringat seorang ibu setengah baya yang berziarah pada hari kedua ayah dimakamkan. Terutama gadis yang mirip dengan dirinya, menggelisahkan perasaannya. Ia penasaran ingin bertemu gadis itu: barangkali dia memiliki hubungan darah dengan ayah. Kalau memang benar Dewi Uma terlahir kembar dengan gadis itu, kenapa ayah dan ibu tak pernah bercerita?

“Aku bertemu gadis yang serupa denganku di makam ini,” kata Dewi Uma. “Ia bersama ibunya, perempuan setengah baya, yang ziarah di makam ayah.”

Serius Joko Bandung memandangi Dewi Uma. “Kita mesti mencari mereka. Coba tanyakan pada ibu, siapa perempuan setengah baya itu. Begitu juga gadis yang serupa denganmu, siapa tahu kalian memang dilahirkan kembar. Kalian dipisahkan, sehingga kalian tidak saling kenal.”

“Kenapa hidupku jadi sebuah misteri begini?”

“Kau mesti bertanya pada ibu. Tentu ibu bisa menjawab misteri ini.”

Tak ada badai, tak ada pusaran angin, tetapi tubuh Dewi Uma tergetar. Di depan makam ayah, ia menjadi gadis yang semakin tak memahami hidupnya. Ia lebih banyak berdiam diri. Ia tak bisa menyangkal pendapat kekasihnya. Mesti  bertanya pada ibu: apakah ia memiliki saudara kembar.

Turun dari makam, saat menjelang senja, Dewi Uma ingin mendengar percakapan ibu dan anak gadisnya saat berziarah. Kalau saja ia mendengar percakapan itu, tentu bisa menduga-duga siapa sesungguhnya mereka.

***

Saathari kelima Dewi Uma ziarah ke makam ayah, ia sendirian. Begitu  mencapai pintu gerbang ke makam, ia bertemu Sadewa, seorang santri Kiai Maksum, yang hendak ziarah ke makam Syekh Ali. Dewi Uma mengenali lelaki itu sebagai santri kesayangan Kiai Maksum. Ketika Kiai Maksum salat jenazah ayah dan mengiringi pemakaman, santri itu selalu berada di sampingnya.

Sadewa sempat berhenti di sisi gundukan makam ayah Dewi Uma. “Kau seperti sedang mencari jawab atas peristiwa yang pernah menimpa dirimu.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Sepasang matamu mengisahkan semua kegelisahan,” kata Sadewa,  merasa pasti.

“Beberapa hari yang lalu aku bertemu seorang gadis yang mirip denganku di sini,” kata Dewi Uma. “Aku merasa sebagai gadis kembar dengannya. Tapi sebelum kami sempat bertegur sapa, hujan turun dan gadis itu meninggalkan makam ayah.”

Terdiam, memendam senyum, sebelum meninggalkan Dewi Uma, santri itu sempat berkata, “Kau mesti yakin dengan suara hatimu yang terdalam.”

Dewi Uma terdiam. Termenung. Ia tak pernah berani mengajukan pertanyaan pada ibunya: apakah ia memiliki saudara kembar? Dalam temaram senja di makam, ia seperti kehilangan kesadarannya, dan kini menjadi manusia yang tak memahami dirinya.

***

LangkahDewi Uma mengikuti Kiai Maksum mendaki bukit makam. Kiai Maksum berziarah ke makam Syekh Ali, leluhurnya. Ini hari keenam ayah Dewi Uma meninggal dunia. Dewi Uma masih terus merenungkan gadis yang berziarah pada hari kedua kematian ayah. Ia tak bisa mengatakan gadis itu orang lain. Ia juga tak bisa menyebutnya sebagai ilusi dirinya yang sedang berduka.  

Menjelang senja Dewi Uma menuruni makam. Berada di kaki bukit makam, ia berhenti melangkah, dan Kiai Maksum berhenti tepat di sisinya. Memperhatikannya. Dewi Uma seperti tak ingin bergerak dari tempatnya berdiri. Ia berpikir, tentu telah terjadi percakapan dalam hujan antara ibu setengah baya dengan anak gadisnya sebelum mereka naik taksi dan meninggalkan makam.

“Apa yang ingin kauketahui di tempat ini?” tanya Kiai Maksum.

Menunduk, malu, Dewi Uma menukas, “Kalau saja saya bisa mendengar  percakapan antara seorang ibu dan anak gadis yang ziarah ke makam ayah, tentu akan terbuka asal-usul saya.”

“Kau bisa mendengar percakapan mereka,” kata Kiai Maksum. “Pejamkan matamu, dan kosongkan pikiranmu. Ingat kembali peristiwa yang ingin kauketahui. Semoga kau  mendengar suara percakapan mereka.”

Dewi Uma memejamkan mata, mengosongkan pikiran. Ia memusatkan perhatiannya hanya pada percakapan antara ibu setengah baya dan anak gadisnya. Ia dengar percakapan mereka dalam suara bening.

“Kenapa ibu tak mau menemui Dewi Uma?” tanya gadis itu.

“Dia sudah dibawa ayahmu dengan istri pertamanya. Aku cuma istri kedua, dan terpaksa merelakan Dewi Uma dibawanya meninggalkan kita. Hari ini aku sudah cukup bahagia bisa melihat dia tumbuh dewasa dan cantik. Suatu saat semoga kita bisa berkumpul kembali.”

Membuka kelopak mata, Dewi Uma menahan diri dari guncangan perasaan. Ia tak pernah menduga, bila perempuan setengah baya itu adalah ibu kandungnya, dan gadis yang mirip dengannya itu saudara kembarnya.  

“Mari kita pulang,” ajak Kiai Maksum. “Semoga hatimu menjadi tenteram sekarang.”

Langit senja meredup ketika Dewi Uma meninggalkan makam. Ia  merasakan angin menggetarkan perasaannya serupa dahan-dahan kemboja. Tampak samar dan menghitam makam yang ditinggalkannya. Tapi wajah ibu kandung dan saudara kembarnya kian jelas dalam benaknya.****

Pandana Merdeka, Juli 2022


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, di antaranya penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah dan nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022).

Cerpen

Pemburu Celeng dan Celeng yang Memburunya

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Peluru kaliber 30,06 mm itu melesat dari moncong Mouser dan tepat mengenai bagian belakang telinga. Celeng itu pun menguik-nguik, menggelepar-gelepar bagai ayam yang disembelih lehernya, lalu tak bergerak-gerak lagi.

Gegas, Marbun menuju buruannya. Tamim, si tukang lampu blor, terseok-seok di belakangnya. Aki truk pada tas ransel itu menggelantung di punggungnya seperti buah nangka yang menjuntai pada batangnya. Tak sampai dua menit mereka tiba di semak-semak yang telah tersibak-sibak itu.

Seketika Marbun menampakkan wajah bingungnya. Celeng itu tidak ada. Hanya tersisa ceceran darahnya.

Seketika Tamim merapat ke Marbun. Wajahnya pucat pasi. Bulu kuduknya berdiri. Apalagi ketika tiba-tiba udara di bawah pohon beringin hutan itu dipenuhi bau bangkai.

“Siluman Dewi Celeng,” desisnya.

“Siapa?” tanya Marbun.

“Dewi Celeng,” kata Tamim, “pelindung para celeng.”

Marbun pernah mendengar nama itu, tapi cenderung tak percaya. Di hutan mana pun yang pernah diterabasnya, selalu ada tahayul-tahayul seperti itu. Namun, dia pilih tak berkata apa-apa. Tak ingin berdebat dengan warga asli Cikidang itu. Mereka lalu meneruskan perburuan, tapi sampai pagi menjelang tak ada celeng lagi yang mereka jumpai.

***

Marbun baru saja turun dari mobil dinasnya ketika Didit, anaknya yang baru kelas IV SD itu menghampirinya.

“Pa, tadi Didit ketemu celeng. Seperti foto di ruang tamu itu, lho.”

Ketemu di mana?” tanya Marbun sambil merangkul pundak buah hatinya itu dan berpikir: sudah saatnya Didit diberi adik agar tak terlalu banyak berfantasi.

“Di gerbang sekolah.”

“Boneka?” tanya Marbun lagi, mengelus rambut anaknya.

“Bukan.”

Cosplay?”

“Bukan! Celeng beneran!” serunya dan bocah sepuluh tahun itu tampak merengut.

Marbun menatap Didit dan mukanya tampak terkesiap.

“Celengnya sedang apa?”

“Tidak ngapa-ngapain. Hanya mengawasi Didit.”

“Terus?”

“Celengnya dua. Yang hitam banget ketemu waktu Didit baru datang di sekolah. Celeng satunya, yang tidak hitam banget, waktu Didit pulang.”

“Celengnya ngomong apa?” tanya Marbun lagi. Dalam hatinya mulai timbul tanda tanya.

“Tidak ngomong apa-apa.”

“Yang ngeliat kedua celeng itu siapa aja?”

“Didik tidak tahu. Tadi tidak nanya ke teman-teman.”

***

Marbun sudah hampir lupa cerita Didit tentang celeng di gerbang sekolahnya itu ketika dua hari kemudian istrinya mengatakan hal yang sama.

“Celeng beneran?” tanya Marbun. Keningnya berkerut.

“He eh. Masak Mama bohong,” jawab istrinya.

“Mama salah liat kali?”

Suer! Mama lihat dari jendela kaca ruang tamu. Celeng itu berdiri di trotoar, mengawasi rumah kita. Saat Mama keluar, celeng itu cepat-cepat kabur. Lewatnya di dekat bak sampah. Hilang di belokan menuju rumah Pak Tanu. Jangan-jangan babi ngepet, ya Pa?”

Marbun tak menjawab. Tiba-tiba ingatannya melayang pada cerita Tamim tentang Dewi Celeng. Juga celeng yang pernah ditembaknya, tapi bangkainya tak ada itu. Meskipun demikian, Marbun pilih menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri. Tak ingin membuat Maya, teman kuliah di fakultas hukum yang kini jadi istrinya itu menjadi resah.

Dia tak terlalu yakin celeng-celeng yang dilihat anak-istrinya itu ada hubungan dengan hobinya. Mungkin hanya halusinasi mereka. Apalagi ada hubungan dengan kasus korupsi pupuk yang sedang ditanganinya. Tidak mungkin para koruptor itu menyuruh celeng-celeng itu untuk meneror keluarganya.

***

Sabtu pun datang. Marbun kembali berburu ke Cikidang. Kali ini mengajak Marno, sopir kantor yang sering mengantarnya ke mana-mana. Marbun tak percaya hantu, siluman, atau yang sebangsanya. Celeng ya celeng! Perihal celeng yang seminggu lalu ditembaknya, tapi tak ditemukan bangkainya itu, kemungkinan besar karena hanya kena serempet kupingnya.  

Seperti sebelumnya, Marbun berniat menyewa jasa Tamim sebagai penunjuk jalan, penggendong aki, sekaligus tukang sorot lampu blor. Selain tahu seluk-beluk Hutan Cikidang, Tamim juga pembenci celeng. Mereka tiba di Cikidang menjelang Isya. Marbun berhenti di warung kopi di ujung desa. Tamim sering nongkrong di situ. Namun, malam itu Tamim tidak ada.

***

“Kapan?” tanya Marbun, kaget.

“Hari Minggu, Om,” jawab remaja berjaket merah itu.

“Minggu?” Marbun tersentak. Dahinya berkerut sedalam selokan. Berarti tak sampai sehari setelah berburu dengannya, pikirnya. “Kenapa? Sakit apa?” tanyanya lagi.

Nggak jelas penyakitnya, Om. Tahu-tahu badannya panas. Mengigau, menyebut-nyebut Dewi Celeng. Sorenya mati.”

***

Marbun tetap meneruskan berburu, dan tak terlalu menghiraukan proses mati yang aneh itu. Orang bisa mati kapan saja dan di mana saja dan dalam berbagai cara. Igauan orang yang sekarat bisa macam-macam. Kebetulan saja Tamim menyebut-nyebut nama Dewi Celeng. Bukan Dewi lainnya.

Rencana Marbun, mereka tidak usah jalan kaki menerobos semak dan menyusuri jalan setapak seperti biasanya. Cukup dari atap mobil saja. Marno yang menyopiri sementara Marbun yang mengoperasikan lampu sorot sekaligus bertindak sebagai sniper. Kalau harus menggendong aki seberat lima belas kilo sambil membawa lampu blor sejauh lima kilo meter, bisa-bisa Marno yang kurus kering itu ikut-ikutan menyusul Tamim, tamasya ke akhirat. Begitu pikir Marbun.

Mobil Jeep yang sudah dimodifikasi itu pun kembali melaju, menyusuri jalanan yang sedikit mendaki. Pepohonan pinus bertambah rapat. Sampai di sebuah pertigaan, Marbun menyuruh Marno membelokkan mobil ke arah kiri, keluar dari jalan beraspal. Mereka bertemu jalan tanah yang becek akibat hujan dua jam sebelumnya. Kabut cukup tebal menyelimuti udara, tapi lampu halogen itu masih bisa menembusnya.

Ketika tiba di kawasan hutan yang dipenuhi ilalang, Marbun menyuruh Marno menghentikan mobil. Nalurinya, di tempat itu banyak celengnya. Saat Marbun sedang bersiap pindah ke atap mobil, seekor celeng tiba-tiba keluar dari semak-semak, lalu menghadang di tengah jalan. Hanya berjarak lima meter dari mobil.  Besar sekali. Sebesar anak kerbau.

“Pak, Pak! Celeng! Celeng!” teriak Marno panik.

“Sudah tahu. Jangan berisik!”

Marbun mengambil senapannya. Merayap lewat jendela, naik ke atap mobil. Terlalu berisiko menembak celeng sedekat itu dari atas tanah. Kalau tembakannya meleset, bisa-bisa dia mampus diseruduknya.

Di bawah sorotan lampu kabut, celeng itu bergeming. Moncong hitamnya berlendir. Matanya yang merah itu menyorot tajam seakan-akan menantang Marbun. Tangan Marbun tampak gemetar saat memasukkan peluru. Selama menjadi pemburu, belum pernah dia menjumpai situasi seperti itu. Bertemu celeng yang tak takut pada pemburunya.

Marbun mengambil napas, menempelkan popor senjatanya ke pipi kanan. Setelah sejenak mengatur napas, ditariknya pelatuk senjatanya. Klik! Senapan itu macet. Pun, mesin mobilnya mati. Disusul lampunya. Seketika suasana menjadi gelap gulita. Marbun gemetar. Apalagi ketika bau bangkai yang entah dari mana datangnya itu tiba-tiba menyerbu udara lalu menyeruduk lubang hidungnya.

***

Ketika SUV yang dikendarai Marbun itu berbelok ke Perumahan Griya Tawang, belum juga melewati portal yang tanpa penjaga itu, tiba-tiba seekor celeng seukuran anak kerbau melintasi jalan dengan santainya. Marbun kaget dan segera mengerem mobilnya. Di saat itulah sebuah sepeda motor memepet mobilnya. Terdengar letusan dua kali. Lima detik kemudian motor tanpa plat nomor yang dikendarai dua orang  berhelm balap itu melesat, lalu menghilang. Pula, celeng segede anak kerbau itu.**

Kajen, 8 Januari 2022


Dewanto Amin Sadono, tinggal di Pekalongan. Cerpen-cerpennya memenangkan beberapa lomba dan diterbitkan dalam beberapa kumpulan cerpen juara. Novel terbarunya Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit.