Katalog

Puisi

Puisi Ian Hasan

Mata Biru Gadis Penjaja Tisu

berburu waktu subuh

dikerumuni anak-anak waktu

bocah-bocah penjaja tisu

“belilah tisuku, Tuan!”

mereka berebut merajuk

saling berburu tangan

kuambil lembaran real

kubagi rata tanpa imbalan

sadari akulah sang tuan

seorang gadis berambut kepang dua

membuntuti sisa-sisa jemawa

“hei, tuan!”

“ya?”

“belilah tisuku, kataku!”

“tapi aku tak butuh.”

angin gurun terpiuh embun

luruh di tatapan mata biru

manakala kakiku tertahan

kata haram yang ia lontarkan

Karanganyar, Oktober 2022


Merpati Aisyah

di bibir pelataran masjidil haram

sejumlah bait tanya

kutuliskan berulang-ulang

mengapa saban hari

puluhan orang berdiri

dalam antrean panjang

demi giliran mendapat makanan

lalu mengapa sekali waktu

bocah kecil harus menjerit

setelah makanan yang ia dapat

koyak tumpah jadi rebutan

lantas mengapa pula

seorang perempuan berparas legam

yang bukan ibu kandung bocah itu

membagikan jatahnya

masih terbayang

jutaan puisi berhamburan

tersapu kepak sayap

merpati-merpati megan

Karanganyar, Oktober 2022


Tiga Biji Kurma

\ untuk ibuku,

berharap tersimpan rasa manis

di langit-langit kerinduanku

\ untuk istriku,

berharap tersampaikan rasa rindu

di setiap tengadah jemariku

\ untuk anak perempuanku,

berharap terpelihara rasa takwa

dari segala tindakan dosaku

Karanganyar, Oktober 2022


Trotoar Madinah

di bawah naungan pohon sukarno

kuhisap kretek sembari menghitung

betapa dekat jarak kepura-puraan

ke makam al-amin, sang terpercaya

di tengah alir gelombang manusia

dengan langkah-langkah tergesa

kulihat betapa luhur hasrat berlomba

menyiapkan hari-hari fana

pada wajah-wajah petugas kebersihan

yang selalu menghadang arah datang

kubaca alif ba ta nada meminta

tak sesulit melihat mereka bekerja

di sepanjang trotoar madinah

kurasa masih ada resah

terbawa dari rumah

Karanganyar, Oktober 2022


Surat Pendek

kutulis surat ini

pada tengah hari jumat suci

di jantung masjid nabawi

selesai al-insyirah di rekaat pertama

dan al-ma’un di rekaat kedua

kubetulkan kain ihram

sembari menulis kalimat pertama,

“Tuhan, betapa hanya kemudahan

dari yang kau maksudkan.”

namun terbukti

kesulitanku menuliskan

kalimat berikutnya

Karanganyar, Oktober 2022


Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022.

Cerpen

Jejak Sang Politikus

Cerpen A. Warits Rovi

Mat Juking melesakkan sebelah tangannya ke dalam saku baju bagian bawah. Lembut terasa remasan kertas itu, bersebelahan dengan sepotong setanggi yang pendeknya menyerupai telunjuk. Di saku itu juga ada korek api yang kemarin lusa ia comot dari meja sebuah depot saat dirinya membeli nasi. Ia tertarik karena korek itu bergambar wajah perempuan rupawan.

Lokasi pemakaman sangat sunyi dan mencekam. Ia berharap bulan tipis bersinar temaram yang mematung di ujung pucuk kemboja itu segera lenyap. Karena pekat, cekam dan segala bentuk kesunyian kuburan telah menjadi teman karib yang membuat dirinya yakin hajatnya akan terkabul.

Ia berharap musang, kucing, burung hantu, bahkan—jika ada—ia ingin kuntilanak di sekitar pemakaman itu segera berbunyi dengan nada yang paling seram. Karena suara seram adalah bumbu bagi ritualnya supaya keinginannya tercapai.

Setanggi telah ia nyalakan dengan sebatang korek bergambar wajah perempuan rupawan. Setelah mengembalikan korek itu ke dalam saku, giliran kertas penuh remasan yang ia ambil. Diratakan di datar pusara dengan bantuan telapak tangan yang digosokkan perlahan dan berkali-kali, hingga kertas itu samar-samar menampakkan foto seorang calon kepala desa bernama Risun.

Mat Juking tersenyum. Sebentar menatap langit seraya menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

“Semoga kau sukses jadi kepala desa,” gumam Mat Juking. Sepasang matanya menatap potret Risun yang berkumis dan berjas biru di remasan kertas itu.

Mat Juking sadar, calon itulah yang empat tahun lalu membunuh ayahnya, dan mestinya hari ini dirinya menjauhi orang itu. Tapi uang telah mengubah segalanya.

***

Politik selalu membuat Mat Juking jadi bunglon. Adaptasi warna bagi Mat Juking adalah cara mempertahankan hidup, agar pancuran uang mengarah pada hidupnya yang haus harta dan penghormatan, agar perutnya terus buncit dalam kemakmuran, dan agar Sulima, istrinya setia kepada dirinya serta tak berontak jika suatu saat dimadu dengan beberapa wanita lain di kampung Baliyan.

Baginya, ukuran kesetiaan memperjuangkan seseorang yang mencalonkan diri jadi kepala desa adalah tergantung pada seberapa banyak uang yang diberikan kepadanya. Tak hirau calon itu punya watak kancil atau buaya, yang penting memberi uang banyak, maka urusan akan lancar. Dan Mat Juking selalu beranggapan, dirinya pro-demokrasi, merasa jauh lebih bermakna ketimbang para tetangganya yang merantau untuk cari uang di luar pulau Madura dan mereka tidak pulang saat pemilihan.

Siang itu ia bergegas ke belakang gedung bekas sekolah dasar yang sudah dilabur kerak lumut kering yang menghitam. Tangan kanannya merogoh kertas remasan yang berhari-hari disimpan di saku bajunya dan setiap dini hari selalu ia bacakan mantra di kuburan. Sebentar mengamati potret Risun itu dengan teliti. Ia tersenyum seolah tengah mengungkapkan sesuatu pada potret itu. Kemudian tangan kirinya meraih kertas remasan itu dari tangan kanannya. Tangan kanannya merogoh saku baju dan mengeluarkan korek api. Setelah sejenak mengamati sekitar dan ketika dirinya yakin tak ada siapa-siapa, ia lalu membakar kertas remasan itu hingga berubah jadi arang. Angin menghempasnya hingga hancur luluh menjadi abu yang menyatu dengan pasir.

Semua itu ia lakukan setelah ada seorang calon lain berjas kuning memakai peci yang memberi uang lebih banyak kepadanya, dan ia berjanji akan menikahkan Mat Juking dengan perempuan rupawan seperti gambar di korek api itu.

Mat Juking tersenyum memandangi gambar korek yang sedang ia angkat dan dibiarkan menggantung oleh jimpitan jarinya.

***

Tak ada remasan kertas, tak ada setanggi, dan tak ada korek api di saku bajunya. Malam itu ia hanya membawa sebilah bambu yang panjangnya sejengkal bertulis nama calon kepala desa yang di sepanjang jalan kampung balihonya sudah berjajar ramai terpacak di pohon, tiang listrik, dan cagak bambu; memakai jas kuning dan berpeci hitam: SURAKNA namanya.

Semuanya berawal dari obrolan kecil di warung Mastoni. Mulanya Surakna membayar nasi yang Mat Juking makan beserta seluruh lauk dan camilannya. Mat Juking bilang “Tidak usah”, tapi Surakna memaksa bahkan ia menyelipkan amplop ke saku baju Mat Juking sambil berbisik “Itu masih tahap awal, jika kamu membantuku dalam Pilkades maka akan ada banyak tambahan uang, kamu akan diangkat jadi perangkat, dan kamu akan kunikahkan dengan seorang wanita cantik yang wajahnya sebanding dengan itu.” Surakna menunjuk gambar korek api di tangan Mat Juking. Mat Juking sekadar tersenyum dan tidak mengangguk, tetapi setiba di rumahnya, setelah tahu isi amplop itu tujuh juta, ia pun langsung menuju bekas gedung sekolah dasar itu dan membakar potret Risun.

“Beginilah politik. Uang Surakna lebih banyak. Dia masih menjanjikan jabatan dan wanita cantik. Dia juga tidak pernah terlibat konflik dengan keluargaku. Rasanya lebih waras jika aku lebih baik membela Surakna daripada membela Risun si pembunuh ayah itu,” timbang Mat Juking saat itu sambil bergegas pulang setelah selesai membakar potret Risun di belakang gedung bekas sekolah dasar.

Ia mengingat bagaimana empat tahun lalu ayahnya meninggal dalam keadaan babak belur dan mayatnya dibuang ke jurang kampung tanpa sehelai kain. Seminggu kemudian terungkaplah bahwa pembunuhnya adalah Risun. Alasan ia membunuh hanya masalah sepele; karena ayah Mat Juking mengambil selembar daun pisang untuk diberikan pada kambingnya. Tapi anehnya, ia terbebas dari hukum, hidupnya tetap tenang, seperti tak ada apa-apa, membunuh ayah Mat Juking seolah hanya membunuh seekor semut yang tak perlu terbebani oleh bayangan dosa, dan malah ia mendekati Mat Juking dua bulan menjelang Pilkades. Mat Juking pun merasa dirinya tak perlu memperhitungkan dia sebagai pembunuh ayahnya setelah sepuluh uang kertas seratus ribuan ia julurkan.

Tapi kini, setelah Surakna memberi uang yang lebih banyak, Mat Juking berubah haluan. Sekeras mungkin ia berusaha untuk memenangkan Surakna di Pilkades. Salah satunya, seperti yang biasa ia lakukan pada calon kades yang minta bantuan; datang ke sebuah kuburan, membawa benda-benda yang berhubungan dengan si calon, lalu ia membaca mantra, ya mantra, bukan doa.

Malam itu, nama Surakna di sebilah bambu ia taruh di atas kuburan, lalu tangannya kembali merogoh saku bajunya. Bukan korek api atau setanggi yang ia ambil, namun sehelai tali kutang warna biru. Tali itu ia ikat kuat pada bilah bambu yang bertuliskan nama Surakna. Itu bukan tali kutang sembarangan, Mat Juking mengambilnya dari kutang milik istri Risun di suatu malam yang senyap dengan langkah awas dan hati-hati.

“Kejayaan akan jadi milikmu, Bos Surakna,” suara Mat Juking dihalau angin. Di langit tak ada bulan. Beberapa ekor kelelawar bercericit di rimbun kemboja. Mat Juking kemudian menatap langit kelam sembari tersenyum.

“Logika dalam berpolitik bagiku tak lebih dari sekadar menyimpulkan ikan berenang dalam akurium sebagai sosok bidadari, dan itu akan kulakukan tergantung uang yang diberikan oleh si calon,” ucapnya pelan. Sebelum akhirnya duduk bersila, terpejam, dan membaca mantra. Tangannya memutar bilah bambu itu hingga tali kutang menggesek debu di permukaan kuburan.

Hari setelah itu, istri Risun ribut saat mendapati tali kutangnya hilang. Surakna terbahak-bahak mendapat bilah bambu bertulis nama dirinya terikat tali kutang. Mat Juking semakin yakin dirinya akan mendapat uang yang banyak, jabatan mentereng, juga istri yang cantik.

***

Tanpa terasa, hari pemilihan kepala desa sudah tiba. Surakna melompat girang sambil bernyanyi-nyanyi, lalu bersujud syukur setelah penghitungan suara selesai dan dirinya dinyatakan jadi pemenang. Sedang Risun termangu mengelus dadanya yang renyuh seperti dipatuk puluhan kapak. Tak terasa air matanya menetes. Orang-orang yang kemarin jadi tim pemenangan satu per satu menjauh lalu menghilang. Ia kini hanya berdua bersama istrinya mengenyam luka setiap waktu. Istrinya kadang menghubung-hubungkan tali kutangnya yang hilang dengan kekalahan Risun.

Bulan berikutnya Mat Juking tak pernah menduga Surakna akan jadi kacang yang lupa kulitnya. Saat ia menagih janji kepada Surakna, ia malah dibentak dan dipukul. Surakna membantah jika hasil kemenangannya karena hasil mantra Mat Juking. Sudah tidak menepati janji. Beberapa bulan kemudian, ia malah mengambil Sulima dari Mat Juking, dan menikahinya.

Cerita politik memang kelabu dan cepat berlalu, Mat Juking kembali berpihak kepada Risun. Suatu pagi, ia mendatangi rumah Risun dengan tergopoh dan dada penuh dendam. Lantas ia bercerita, bahwa Surakna telah mencuri tali kutang istri Risun untuk dijadikan bahan guna-guna demi memenangkan Pilkades. Risun naik darah. Megepal tangan dan meninjukannya ke meja.

***

Malam itu lokasi kuburan sangat senyap. Mat Juking mengeluarkan remasan kertas bergambar wajah Surakna. Risun duduk di sebelahnya, fokus mengamati apa yang dilakukan Mat Juking dengan tatap redup dengan bantuan cahaya bulan yang hampir tenggelam. Kembali tangan Mat Juking terbenam ke dalam saku bajunya, mengambil korek api, yang ketika gambarnya dilihat, ia jadi teringat perempuan rupawan yang dijanjikan Surakna. Diam-diam hatinya teriris, karena janji Surakna ternyata bualan belaka, sudah begitu, ia malah menikahi Sulima.

“Ini kuburan ayahku yang kaubunuh empat tahun lalu. Kau memang pembunuh yang lembut. Aku dan almarhum ayah akan memaafkanmu asal kamu mau membunuh Surakna malam ini juga dengan korek api ini. Kamu pasti punya cara yang lembut. Buatlah Surakna seperti ini,” Mat Juking membakar potret Surakna penuh dendam.

Lalu sebatang korek api ia selipkan di saku baju Risun. Keduanya tersenyum. Tak menunggu waktu lama, Risun langsung bergegas untuk melaksanakan perintah Mat Juking. Mat Juking yakin, Risun akan membakar rumah Surakna hingga Surakna mati atau minimal mengalami kerugian. Ia juga yakin, Risun pasti akan ditangkap dan juga dibunuh oleh warga, tapi Mat Juking lupa bahwa Risun pasti akan menyebut Mat Juking sebagai pesuruhnya.***


A. Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di pelbagai media. Juara II Lomba Cipta Cerpen ICLaw Pen Award 2019.  Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Surat menyurat surel: [email protected]

Katalog

Swara Sukma

Buku Puisi Swara Sukma adalah suara hati yang mengalirkan keresahan, menali abjad menjadi seratan aksara penuh arti dalam baris puisi. Swara Sukma mengurai menjadi tiga episode perenungan mencari nurani yang bersembunyi. Semesta Berbisik menelisik betapa keagungan ciptaan khalik alam, menelusup kalbu dibiarkan berlalu. Semesta berbisik di relung nurani, menggelitik melalui gemericik air, hangatnya mentari, tetes-tetes air hujan, lukisan alam, bintang dan rembulan.

Sedangkan Senandung Kinasih adalah nyanyian jiwa penuh dengan kerinduan, memendar kasih sayang seperti hujan membasahi setiap insan. Kadang kala ada pahit getir, suka duka, rindu dan dendam menyatu mewarna dalam kehidupan. Pada akhirnya Suluh Merindu mencari anak hilang, yang selalu di tunggu di taman. Rindu menderu terabaikan dan terlupakan. Yang di nanti sudah bersemayam di hati, memeluk mendekap dengan penuh kehangatan. Swara Sukma tidak akan berhenti dan tak akan mati.

Penulis: Wiwoho

Cetakan: Pertama, Tahun 2022

Penerbit Nomina Ide Karya

115 halaman; 12 x 19 cm

ISBN: 978-623-99817-7-8

Harga: Pp 50.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Katalog

TERJEBAK ROMANSA TERLARANG

Novel Terjebak Romansa Terlarang ini merupakan novel kedua karya Surya Santosa, setelah sebelumnya menerbitkan novel perdananya yang berjudul Aku Kamu dan Cinta (2021).

Novel kedua ini masih mengusung kehidupan cinta kaum muda dan permasalahannya. Kisah dalam novel ini sangat dekat dengan kehidupan kita, artinya apa yang terjadi dalam novel ini bisa saja terjadi dalam kenyataan.

Penulis: Surya Santosa

Cetakan: 1, 2022

Penerbit Nomina Ide Karya

101 hlm, 12 X 18 cm

ISBN: 978-623-99817-8-5

Harga: Rp 65.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Katalog

KAMUS KECIL UNTUK PENDOSA

Buku Kamus Kecil untuk Pendosa adalah kumpulan puisi yang dihasilkan atas pengertian yang muncul ketika penulis sedang berlatih kesadaran atas keadaan dirinya sebagai makhluk lemah. Puisi-puisi ini dapat dipakai sebagai pengingat laku manusia, atau sekadar bahan instrospeksi. Sementara, sebagai puisi, semoga puisi-puisi ini dapat memberi tambahan referensi atas macam tema dan bentuk puisi dalam ranah perpuisian sastra Indonesia.

Penulis: Yuditeha

Cetakan: 1

Tahun: 2022

Penerbit Nomina Ide Karya

117 hlm, 12 x 19 cm

ISBN: 978-623-99817-4-7

Harga: Rp 55.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Katalog

Buku KITA YANG TERBENGKALAI

Kita yang Terbengkalai. Bagi penulisnya, puisi adalah doa pun sebagai jalan lain dari perjuangan ketika raga mulai letih dihempas badai zaman yang semakin menggila. Puisi menjadi ratapan keterbatasan dan ketidakmampuan sekaligus menjadi obat bagi luka-luka.

Penulis: Nino Eni

Cetakan: Pertama, Tahun 2022

Diterbitkan Oleh

Penerbit Nomina Ide Karya

133 halaman; 14 x 20 cm

ISBN: 978-623-99817-5-4

Info Pemesanan: 085647226136