Cerpen Erna Surya

Reneng tahu tubuh perempuan bisa menjadi penjara. Ia mengetahuinya sejak pertama kali masuk puri. Puri itu besar. Tiangnya tinggi. Pintunya berat. Dindingnya dipenuhi ukiran naga dan bunga. Di malam hari, lampu minyak menyala di sepanjang pendapa. Dari luar, tempat itu terlihat seperti rumah para dewa. Tetapi Reneng tahu, rumah para dewa tidak selalu menjadi tempat yang baik bagi manusia. Terutama bagi perempuan.
Ia sering melihat mereka berjalan di lorong-lorong puri. Para selir. Mereka memakai kain bagus. Gelang mereka berbunyi setiap kali tangan bergerak. Rambut mereka disanggul dan diberi bunga. Semuanya tampak indah. Hanya mata mereka yang tidak. Mata para perempuan itu seperti pintu yang sudah lama dikunci.
Reneng sering memperhatikan mereka dari balik tirai. Ia tahu jam mereka mandi. Ia tahu kapan mereka dipanggil. Ia tahu kapan mereka menangis. Ia bahkan tahu kapan mereka berhenti menangis. Sebab ada tangisan yang akhirnya tidak mengeluarkan suara.
Reneng belum menjadi selir. Tetapi semua orang sudah tahu ia akan menjadi salah satunya. Suatu pagi, permaisuri memanggilnya. Reneng duduk di lantai dengan kepala tertunduk. Permaisuri mengunyah sirih. Bibirnya merah. Tangannya penuh gelang.
“Kau akan menjadi selir ke tiga puluh empat.”
Reneng diam.
“Angka yang bagus.”
Reneng mengangkat wajah.
“Mengapa saya?”
Permaisuri tertawa kecil.
“Karena kau cantik.”
Hanya itu.
Reneng kemudian mengerti bahwa kecantikan bisa menjadi hukuman. Sejak hari itu, ia semakin sering melihat tubuhnya sendiri di cermin. Wajah. Rambut. Tangan. Pinggang. Pinggul. Orang-orang membicarakan tubuhnya seperti membicarakan seekor kuda yang akan dibeli. Pinggangnya dianggap bagus. Rambutnya dianggap bagus. Kulitnya dianggap bagus. Tidak ada yang bertanya apakah Reneng bahagia. Tidak ada yang bertanya apa yang ia inginkan.
Malam sebelum ia dijadikan selir, Reneng menari di kamarnya. Tanpa gamelan. Tanpa penonton. Ia hanya menggerakkan tubuhnya sendiri. Tangannya bergerak ke kiri. Kakinya bergeser. Pinggulnya berputar. Ia berhenti. Kemudian bergerak lagi. Saat itu Reneng merasa ada sesuatu yang tumbuh di dalam tubuhnya. Bukan keberanian. Belum. Mungkin hanya rasa muak. Tetapi dari rasa muak itulah keberanian sering dimulai.
***
Pekak Cenong adalah penjaga burung di puri. Ia tinggal di sebuah gubuk kecil di belakang kandang. Orang-orang tidak banyak menyukainya. Ia terlalu tua, terlalu diam, dan kadang-kadang berbicara kepada burung seperti berbicara kepada manusia. Reneng sering datang ke sana.
Suatu sore ia melihat Pekak sedang memberi makan seekor jalak.
“Pekak.”
Lelaki tua itu tidak menoleh.
“Hm?”
“Ada jalan keluar dari puri?”
Tangannya tetap menaburkan jagung.
“Ada.”
“Di mana?”
“Banyak.”
Reneng mendekat.
“Kalau begitu kenapa tidak ada yang keluar?”
Pekak akhirnya menoleh.
“Karena kebanyakan orang tidak tahu bahwa mereka boleh pergi.”
Reneng terdiam. Pekak mengambil seekor burung dari sangkar. Burung itu berusaha mengepakkan sayap.
“Lihat!”
“Mengapa?”
“Sayapnya tidak pernah bertanya apakah ia boleh terbang.”
Reneng memandang burung itu.
“Manusia berbeda.”
“Tidak.”
Pekak membuka jendela sangkar. Burung itu terbang. Reneng mengikuti arah terbangnya dengan mata.
“Manusia terlalu banyak berpikir,” kata Pekak.
***
Malam itu Reneng tidak tidur. Ia memasukkan sepotong kain ke dalam tas kecil. Tidak banyak. Hanya pakaian. Sedikit uang dan gelang pemberian ibunya. Ia menunggu sampai puri sepi, kemudian keluar.
Lorong pertama berhasil dilewati.
Lorong kedua juga.
Di dekat dapur, ia mendengar suara penjaga. Ia menunggu di balik dinding sampai suara itu menghilang. Ia terus berjalan. Puri yang selama ini terasa begitu besar ternyata memiliki banyak jalan kecil. Ada pintu yang tidak pernah digunakan. Ada tangga sempit. Ada halaman belakang yang ditumbuhi rumput. Ada tembok yang retak. Selama ini semua orang sibuk menjaga pintu utama. Tidak ada yang menjaga celah.
Pekak menunggunya di dekat kandang burung.
“Cepat,” katanya. Mereka berjalan tanpa bicara. Sampai akhirnya tiba di sebuah pintu batu yang ditutupi lumut. Pekak berhenti.
“Setelah ini kau sendiri.”
Reneng menatapnya.
“Pekak ikut!”
Pekak menggeleng. “Aku sudah terlalu lama di sini.”
“Takut?”
Pekak tersenyum. “Tidak semua orang bisa pergi.”
Reneng memegang tangan lelaki tua itu. “Terima kasih.”
Pekak menepuk tangannya. “Jangan kembali.”
Reneng membuka pintu. Di luar, malam terasa luas. Tidak ada dinding. Tidak ada penjaga. Tidak ada permaisuri. Tidak ada raja. Hanya jalan tanah yang gelap.
Reneng melangkah. Satu langkah. Kemudian satu lagi. Ia terus berjalan. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus ke mana. Anehnya, ia tidak takut.
***
Ibunya membuka pintu ketika malam hampir habis. Perempuan tua itu sempat mengira yang berdiri di depan rumahnya adalah hantu.
“Reneng?”
“Ibu.”
Ibunya langsung memeluknya. Tubuh mereka bertabrakan. Ibunya menangis.
“Mengapa kau pulang?”
Reneng tidak menjawab.
“Orang puri akan mencarimu.”
“Aku tahu.”
“Kita bisa dihukum.”
“Aku tahu.”
“Kau tidak bisa lari selamanya.”
Reneng melepaskan pelukan.
“Aku tidak ingin lari selamanya.”
“Lalu?”
“Aku ingin hidup.”
Ibunya diam. Untuk beberapa saat hanya terdengar suara jangkrik dari halaman. Kemudian ibunya mengambil gelang dari tangan Reneng. Gelang itu dulu diberikan kepadanya ketika masih kecil.
“Mengapa kau membawanya?”
“Karena ini milikku.”
Ibunya mengangguk.
“Sekarang kau juga milikmu sendiri.”
Reneng menangis. Itulah pertama kalinya ibunya mengatakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia dengar dari siapa pun.
***
Tahun-tahun berlalu. Puri berubah menjadi cerita. Raja mati. Permaisuri mati. Para selir berpencar. Sebagian pulang kepada keluarganya. Sebagian menikah lagi. Sebagian tidak pernah diketahui kabarnya. Puri itu akhirnya runtuh.
Anak-anak bermain di halaman yang dulu hanya boleh dilewati para bangsawan. Tetapi Reneng tidak melupakan apa yang pernah terjadi di sana. Ia membuka sanggar kecil di desanya. Atapnya dari ijuk. Dindingnya dari bambu. Tidak ada kursi besar. Tidak ada patung dewa. Tidak ada orang yang duduk di atas perempuan lain.
Reneng mengajari anak-anak menari. Sebagian besar muridnya perempuan. Mereka datang setelah membantu ibunya di rumah. Ada yang datang setelah bekerja di sawah. Ada yang datang karena tidak suka berada di rumah.
Reneng tidak banyak bertanya. Ia hanya mengajari mereka berdiri. Mengajari mereka menggerakkan tangan. Mengajari mereka menggerakkan pinggul.
Suatu hari seorang murid bertanya, “Untuk apa kita menari?”
Reneng menjawab, “Supaya kau tahu tubuhmu milik siapa.”
Anak itu berpikir sebentar. “Punyaku?”
“Ya.”
“Bukan suamiku nanti?”
Reneng tersenyum.
“Bukan.”
“Bukan bapakku?”
“Bukan.”
“Bukan raja?”
Reneng tertawa. “Raja juga bukan.”
Sejak itu ia menamai tarian mereka Tari Pulang. Pulang kepada tubuh sendiri.
***
Pada usia tujuh puluh lima tahun, Reneng masih menari. Rambutnya putih. Kulitnya keriput. Kakinya tidak sekuat dulu. Tetapi ia masih bisa berdiri tegak. Ia diundang menari di sebuah panggung besar di kota. Sebelum tampil, seorang panitia memujinya.
“Ibu masih cantik.”
Reneng tersenyum. Dulu ia mungkin akan senang mendengar kalimat itu. Sekarang tidak. Ia hanya berkata, “Saya datang untuk menari.”
Musik dimulai. Reneng bergerak. Tangannya naik. Kakinya melangkah. Pinggulnya berputar. Penonton diam. Kemudian tepuk tangan terdengar. Mereka melihat seorang perempuan tua yang masih mampu menari. Mereka melihat keindahan. Mereka tidak melihat ketakutan yang pernah dibawanya keluar dari puri. Mereka tidak tahu bahwa setiap gerakan itu pernah menjadi jalan pulang.
Setelah pertunjukan selesai, seorang perempuan muda menghampirinya.
“Nenek saya pernah tinggal di puri. Bukan nenek kandung. Tepatnya, kakak bapak saya.”
Reneng menatapnya.
“Namanya?”
Perempuan itu menyebut sebuah nama. Reneng terdiam. Ia mengenalnya. Perempuan itu adalah salah satu selir yang dulu terjun ke sumur.
“Orang-orang bilang nenek saya mati karena gila,” kata perempuan muda itu.
Reneng memegang tangannya.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Dia terlalu lama hidup di tempat yang membuatnya ingin mati.”
Perempuan muda itu menangis. Reneng memeluknya. Untuk pertama kalinya, ia merasa cerita perempuan-perempuan di puri itu tidak benar-benar hilang. Mereka masih ada. Dalam ingatan. Dalam tubuh. Dalam anak-anak perempuan yang berani mengatakan tidak.
Malam itu Reneng pulang ke sanggarnya. Ia berdiri di tengah ruangan. Tidak ada musik. Tidak ada penonton. Ia mulai menari. Pelan. Sangat pelan. Pinggulnya bergerak. Kakinya melangkah. Tangannya terangkat. Ia sudah tua. Tetapi tubuh itu masih miliknya.
Dulu ia mengira tulang pinggulnya adalah bagian tubuh yang membuatnya dipilih. Bertahun-tahun kemudian ia tahu, justru tulang itulah yang membawanya keluar. Dan mungkin itulah sebabnya Reneng tidak pernah benar-benar membenci tubuhnya. Tubuh itu pernah dipandang sebagai barang. Tetapi tubuh itu juga yang membawanya pulang. Reneng terus menari sampai lampu padam.
Di luar, malam berjalan seperti biasa. Tidak ada raja. Tidak ada permaisuri. Tidak ada pintu yang dikunci. Hanya seorang perempuan tua yang menari di dalam rumahnya sendiri. Dan kali ini, tidak seorang pun berhak menghentikannya.***
Note:
Cerpen ini terinspirasi dari kisah Ni Ketut Reneng, perempuan Bali yang hidup pada awal abad ke-20 dan pernah tinggal di lingkungan puri. Di sana ia belajar menari, menenun, serta mengenal dan mempelajari lontar. Dalam sejumlah catatan tentang kehidupannya, Reneng disebut melarikan diri dari puri setelah mengetahui bahwa dirinya akan dijadikan selir ke-34. Ia dibantu oleh pamannya, Pekak Cenong, yang bekerja sebagai penjaga burung di puri. Setelah kembali kepada ibunya, Reneng kemudian menekuni dunia tari dan dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan seni tari Bali. Cerpen ini mengembangkan kembali kisah tersebut dengan unsur fiksi untuk membangun narasi dan suasana sejarah.
____________________
Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.









