Cerpen

Terlambat

Cerpen Angelin K. Tahir

Harum melati dan sedap malam mengambang tipis di rumah duka itu. Bau yang tidak asing bagi Noto, meski ia tak ingat sejak kapan. Orang-orang datang dan pergi, menunduk, berbisik, lalu menghilang.

Noto duduk di pojok ruangan, di kursi yang sejak tadi jarang dipilih orang. Dari sana ia melihat pintu, peti jenazah yang tertutup kain putih, dan wajah-wajah yang sekilas memerhatikannya lalu ragu. Beberapa menyalami, sebagian hanya mengangguk. Tidak ada yang benar-benar bertanya.

Seandainya waktu bisa diputar kembali. Pikirannya berhenti di sana. Tidak sampai ke masa kanak-kanak. Cukup ke satu sore yang selalu muncul kembali setiap kali ia mencium bau bunga melati.

“Mas Noto, kapan tiba?” sapa seorang lelaki setengah baya.

“Tadi jam sepuluh.”

“Lama tak pernah kemari.”

Noto mengangguk, sesungging senyum tipis di bibirnya.

Tiga belas tahun lalu, Noto singgah membawa kain seragam pernikahan Mbak Nana. Almarhumah memintanya berhenti sebentar, tak usah lama. Ia menurut, meski ingin segera pulang.

Almarhumah menyambutnya dengan senyum yang terlalu hangat untuk seorang tamu. “Kapan lagi bisa bertemu denganmu, Noto,” katanya. “Bagaimana kuliahmu? Kata ibumu, kamu dapat beasiswa.”

Noto terdiam sesaat. Ia belum menceritakan itu kepada siapa pun selain kepada Ibunya. Ia mengangguk, menyerahkan kain, lalu berdiri canggung.

“Kamu makin kurus,” lanjutnya sambil merapikan kerah kemeja Noto. Tangannya berhenti sedikit lebih lama. Sentuhan itu ringan, tapi meninggalkan bekas yang sulit dihapus.

Di dinding, foto-foto lama tergantung rapi. Ada satu yang selalu menarik perhatiannya: seorang perempuan muda dengan senyum yang terasa ganjil—bukan asing, tapi juga bukan kenangan. Noto memalingkan wajah.

“Kamu makin mirip…” Almarhumah menggantungkan kalimatnya.

“Mirip siapa?” tanya Noto.

“Tidak apa-apa.”

Mereka tertawa kecil. Namun ada sesuatu di dada Noto yang mengeras, seperti pertanyaan yang menolak disebutkan. Ia pamit lebih cepat dari rencana, menahan diri untuk tidak menoleh saat melangkah pergi.

Sore itu, almarhumah mengantarnya sampai pagar. Matahari rendah, bayangan mereka memanjang di tanah. “Noto,” panggilnya.

Ia berhenti. Ada jeda yang terlalu lama untuk basa-basi. Almarhumah menatapnya, seolah sedang menimbang sesuatu yang sudah lama ia simpan. “Kalau suatu hari kamu ingin bertanya,” katanya pelan, “jangan menundanya terlalu lama.”

Jantung Noto berdegup lebih cepat. Ia tahu pertanyaan itu sudah lama ada, berputar-putar di kepalanya tanpa pernah menemukan pintu keluar. Apakah engkau ibuku? Namun kalimat itu tertahan. tercekat di kerongkongannya. Yang keluar justru alasan yang paling aman.

“Saya harus segera pulang. Ibu menunggu.”

Almarhumah mengangguk. Senyumnya tipis, seperti seseorang yang telah menyiapkan diri untuk jawaban itu. “Hati-hati di jalan.”

Sejak sore itu, tak pernah ada waktu yang benar-benar terasa tepat. Doa-doa kembali mengalun di rumah duka. Noto memandang peti jenazah lama sekali. Ia tidak maju, tidak pula menunduk terlalu dalam. Bau melati terasa lebih pekat, seperti mengikat ingatan yang selama ini ia biarkan longgar. Ia teringat pagar, sentuhan singkat di kerah kemejanya, kalimat yang hampir terucap—dan pilihannya sendiri untuk menundanya.

Noto menarik napas. Ia menyadari sesuatu yang datang terlambat dan tak bisa diperbaiki: bahkan jika waktu benar-benar bisa diputar kembali, ia mungkin tetap memilih diam. Beberapa pertanyaan tidak mati karena tak terjawab, melainkan karena terlalu lama dibiarkan hidup.

Di luar, para pelayat mulai pulang. Rumah duka lengang. Bau bunga tetap tinggal. Noto berdiri, melangkah keluar tanpa menoleh. Yang tertinggal bukan penyesalan yang gaduh, melainkan kesadaran dingin bahwa yang paling terlambat bukanlah kedatangannya hari ini, melainkan keberaniannya, bertahun-tahun lalu.

Jakarta, 09.26

____________________

Angelin K. Tahir. Kelahiran Makassar. Menyukai traveling dan kuliner. Beberapa buku antologinya berupa puisi, fiksimini dan cerpen telah diterbitkan dan buku solonya, Kumpulan Cerita Gerbang Kedua diterbitkan pada 2025