Cerpen Diana Rustam

Shigeru memasukkan sebuah waribashi kayu ke dalam kantong jaketnya. Kantong jaket itu terlalu dangkal sehingga ujung waribashi mencuat keluar. Tetapi Shigeru tidak khawatir, ia justru senang jika waribashi itu tidak sepenuhnya tersembunyi. Ketika berjalan, Shigeru menggerakkan bagian pinggangnya lebih kasar, dengan demikian kantong jaketnya juga ikut bergerak, sehingga waribashi seperti hendak melompat dari kantong jaket itu.
Mata Shigeru berkeliling, kepalanya mendongak ke sudut-sudut ruangan. Ia melihat lensa kamera pengawas tepat menghadap kepadanya. Shigeru berdiri lebih lama di tempat itu dan memutar badannya sedemikian rupa.
Seorang perempuan paruh baya melintas, kemudian berdiri di samping Shigeru yang masih sibuk menggerak-gerakkan tubuh tuanya. Tanpa sengaja lengan Shigeru menyenggol perempuan itu, yang sedang bersungguh-sungguh memilih detergen di rak konbini.
Detergen yang sedang dipegang perempuan itu terlepas. Menyadari kesalahannya, Shigeru langsung meminta maaf, memungut detergen itu kemudian menyerahkan kembali kepada perempuan paruh baya. Shigeru membungkuk berkali-kali. Setiap kali kepalanya tegak, ia membungkuk lagi, seperti ayam yang mematuk makanan.
“Sungguh tak apa-apa.” Perempuan paruh baya meyakinkan Shigeru.
Namun Shigeru merasa tidak cukup. Setelah berjalan beberapa langkah, ia membalikkan badan secara tiba-tiba kemudian membungkuk dalam-dalam. Ia baru berhenti ketika perempuan itu memunggunginya.
Sembari berjalan di antara rak-rak konbini, Shigeru memastikan waribashi bersuara. Gesekan waribashi dan kain pelapis kantong jaket semakin terdengar apabila ia menggoyang-goyangkan badannya. Jika diperhatikan, sekilas Shigeru terlihat seperti orang yang sedang berolahraga.
Shigeru melewati meja kasir begitu saja tanpa membayar. Ia berjalan lambat-lambat. Seolah-olah kedua kakinya sedang kesemutan. Shigeru memang sudah tua, tetapi ia tidak pernah bermasalah dengan sepasang kakinya.
Setelah keluar dari konbini, Shigeru tidak langsung menjauh dari tempat itu. Ia berdiri di depan konbini seperti sebuah lampu jalan atau mesin gacha. Matanya memperhatikan pejalan kaki yang lalu lalang di jalur penyeberangan.
Seorang pemuda, pejalan kaki yang lewat, tidak sengaja menjatuhkan telepon genggamnya tepat di depan Shigeru. Shigeru buru-buru menunduk untuk mengambil telepon genggam itu. Saat menunduk, waribashi yang ada di dalam sakunya ikut meluncur jatuh.
Shigeru mengembalikan telepon genggam pemuda itu dan menunjukkan waribashi yang ada dalam genggamannya. Waribashi diangkat tinggi-tinggi melewati kepalanya sendiri, seolah-olah ia sedang mengibarkan bendera, sembari memberi tahu kepada pemuda itu dengan suara yang bergairah, “Yang ini milik saya, ya.”
Senyum pemuda itu melengkung kaku menanggapi semangat Shigeru. Ia membungkuk dangkal, kemudian melanjutkan perjalanan.
Setelah merasa sudah cukup lama berdiri di depan konbini, Shigeru akhirnya pergi dari tempat itu.
Jarak konbini dan rumah Shigeru tidak terlalu jauh. Melewati sebuah taman yang dipagari bunga ajisai, lalu masuk di sebuah gang sunyi, rumah tua Shigeru terjepit di antara rumah-rumah lain yang sudah terlihat modern.
Menggeser pintu, lalu melepas sepasang sandal di genkan, Shigeru menyapa, “Aku pulang.” Tetapi tidak ada sahutan dari dalam. Deru jalanan dan suara serangga musim panas seperti terpotong pedang. Shigeru bisa mendengar detak jam dinding dari arah dapur.
Sebelum melepaskan jaket, Shigeru mengeluarkan waribashi yang diambilnya dari konbini, dan menyimpan benda itu di sebuah kotak kayu. Sekarang sudah ada lima pasang waribashi yang masih terbungkus kertas di dalam kotak.
Shigeru menatap waribashi itu, lantas menggaruk-garuk kepalanya yang beruban dan hampir botak. Kedua alisnya yang panjang terangkat ke atas sehingga matanya tampak luas.
Di balik jendela matahari yang akan tenggelam mengintip Shigeru tua yang duduk sendirian. Dari kacamatanya yang tebal, Shigeru membaca berita koran. Koran itu sudah terbit sejak tiga bulan lalu, tetapi Shigeru masih terus membacanya pada halaman yang sama setiap kali ia merasa perlu. Sebenarnya Shigeru tidak sepenuhnya mengerti, apa perlunya ia membaca berita itu terus menerus. Satu-satunya alasan yang masuk akal untuk Shigeru adalah karena ia mengenal orang yang ada dalam berita.
Hideo, sahabat lamanya, meninggal dunia sebelas bulan yang lalu, tetapi kematian Hideo baru diketahui setelah delapan bulan kematiannya. Shigeru tidak sanggup membayangkan apa yang dirasakan Hideo ketika kematian mendekat dan tidak seorang pun berada di sampingnya. Ia bertanya-tanya apakah Hideo merasa takut dan kesakitan? Bayangan tubuh Hideo yang membusuk sendirian muncul setiap kali ia membaca berita itu.
***
Sepasang waribashi dari rak konbini yang masih terbungkus kertas sudah berada di dalam kantong jaket Shigeru. Ia juga mengambil satu kotak bento siap santap untuk makan siang. Shigeru memang jarang sekali memasak makan siangnya sejak Mifuyu istrinya wafat tiga tahun lalu. Shigeru tidak bisa menemukan arti makanan, jika ia makan sendirian setelah sibuk memasak.
Di meja kasir, Shigeru mengantre untuk membayar belanjaannya. Ia mengangkat lengan kanan tinggi-tinggi tanpa keperluan apa pun. Karena itu, dasar kantong naik dan ujung waribashi muncul seperti antena serangga. Mata kasir sempat menangkap ujung waribashi itu, lalu kembali pada kesibukannya.
Shigeru meletakkan kotak bento di meja kasir, membayar sesuai harga. Shigeru berbicara banyak, tersenyum sembari memainkan gagang kacamatanya.
“Hari yang cerah, ya,” kata Shigeru.
Kasir itu seorang gadis yang berwajah serius. Ia selalu terlihat seperti sedang mengurusi hal darurat.
“Musim panas yang indah.” Shigeru melanjutkan.
Hanya mengangguk kaku, kasir itu sama sekali tidak mengalihkan mata dari mengemas bento. Ia mengucapkan terima kasih dan menyodorkan struk belanja dengan nada yang naik pada bagian ujung suaranya. Situasi itu berjalan selayaknya, seperti kereta yang berjalan di atas rel.
Shigeru keluar dari konbini. Memasukkan tangan ke dalam kantong jaket untuk menggenggam waribashi yang diambilnya, ia berjalan pulang mengikuti garis kuning di trotoar. Shigeru menjaga langkahnya agar tidak keluar dari garis kuning itu. Berjalan mengikuti garis kuning membuatnya tidak memikirkan apa-apa, termasuk kematian Hideo atau ketidakberadaan Mifuyu.
Suara bel sepeda memecah keasyikan Shigeru. Seorang petugas polisi muda memintanya menepi. Petugas itu menatap Shigeru dengan menyipitkan mata. Tetapi, wajahnya yang bulat, pipinya yang kemerahan, dan alisnya yang melengkung seperti bulan sabit, tidak memberi kesan mengancam sekalipun ia memandang penuh selidik.
Petugas itu memeriksa kartu identitas Shigeru dengan cepat. Ia membetulkan letak topinya, menarik napas, mengusap hidung, lalu melihat sekeliling sebelum kembali menatap Shigeru.
“Ando-san, apa yang membuat Anda mencuri waribashi?” ia menekan suaranya.
Shigeru melirik kantong jaketnya. Ia tertawa renyah. “Eh? maafkan saya. Saya tidak tahu dia menyelinap di sini.”
“Anda sedang tidak sehat?”
Memegangi jidatnya dengan punggung tangan kanan secara dramatis, Shigeru balik bertanya, “Apakah saya terlihat sakit?”
Petugas melirik arloji di pergelangan tangannya kemudian berkata, “Lain kali jangan lakukan lagi. Benar-benar jangan diulangi.”
“Omawari-san akan membawa saya ke kantor polisi?” Shigeru mendekatkan wajahnya saat bertanya. Ia tersenyum, sehingga giginya yang renggang terlihat.
Sebelum menjawab, petugas melonggarkan kancing paling atas seragamnya, dan menyandarkan sepeda secara sembarangan, “Sekarang tidak perlu.”
“Tapi saya sudah ketahuan mencuri.”
“Itu hanya waribashi. Tapi, tetap saja jangan ulangi lagi.”
Wajah Shigeru mengerut. “Biar bagaimanapun saya sudah mencuri.”
“Lain kali curilah yang lebih mahal, Ando-san.” Petugas membalas sembari menepuk kantong jaket Shigeru, kemudian tertawa kecil, tetapi tawanya lenyap dengan cepat.
“Kalau begitu, konbini akan rugi besar. Saya tidak tega.”
“Karena itulah Anda akan dibawa ke kantor polisi.”
Shigeru terkekeh.
“Saya harus mengantar Anda pulang.” Petugas muda itu meraih setang sepeda, menuntunnya, dan menjajari langkah Shigeru.
“Karena saya sudah mencuri waribashi?”
Petugas itu menelengkan kepalanya. “Kira-kira begitu, Ando-san.”
Angin musim panas berembus pelan, suara serangga muncul dari balik pepohonan lebat di taman yang mereka lewati. Petugas muda mendengarkan cerita-cerita tua Shigeru sepanjang jalan. Sesekali ia menimpali dengan gaya bicara mirip Shigeru, tetapi belum terbiasa, “Ah, begitu, ya.”
Shigeru tidak langsung membiarkan petugas itu meninggalkannya ketika mereka sampai. Ia segera membuat undangan mendadak siang itu. “Apakah kau suka namazake, Omawari-san?”
Petugas muda itu terkejut, ajakan Shigeru berlebihan. Tetapi Shigeru sedang berdiri di depannya dengan senyum seorang kakek.
Menyajikan sake musim panas, Shigeru menjamu petugas muda itu. Dalam suasana yang masih canggung, di salah satu sudut ruangan, petugas itu menyadari sebuah butsudan. Di punggung altar itu ada guci abu yang terbungkus kain sutera putih, dupa, semangkuk teh hijau, dan foto wanita tua dalam bingkai hitam yang tersenyum di balik kaca. Ia juga mengingat, ketika melewati genkan, hanya ada sepasang sandal dan sepatu milik lelaki dengan selera yang tua.
Petugas muda itu meneguk namazake. Ia melakukannya dengan perlahan agar terasa lebih panjang. Tidak menunggu Shigeru menawari, ia meminta tambahan beberapa cangkir lagi sambil mendengarkan lelucon kuno Shigeru. Dalam sekejap ia menjadi tua untuk bisa menertawakan lelucon-lelucon itu.
Tiba-tiba ia sadar, tidak boleh terlalu lama karena sedang bertugas. Sebelum meninggalkan Shigeru, petugas itu membungkuk dan kembali mengingatkan, “Ando-san tidak boleh mengambil waribashi di konbini.”
“Kalau saya melakukannya?”
“Saya akan memeriksa Ando-san lagi.”
Shigeru tertawa girang. “Kalau begitu, saya juga akan menyiapkan makanan kecil untuk kita besok.”
Petugas muda itu berlalu, mengayuh sepedanya dengan wajar. Seragam birunya menghilang di balik sebuah bangunan tinggi.
Shigeru duduk sendirian, matahari musim panas menatapnya dari balik jendela. Lelaki tua itu meletakkan waribashi keenam dalam kotak kayu. Ia menarik napas dalam dan mengembuskannya kencang-kencang, seperti pohon yang merontokkan daun-daun kering di musim gugur. Dalam hati, Shigeru bertanya tentang besok dan waribashi ketujuh.***
Makassar, 2026.
Glosarium:
Waribashi: sumpit kayu sekali pakai
Konbini: minimarket
Butsudan: altar rumah tangga Jepang untuk menghormati leluhur, biasanya berisi foto, guci abu, dan dupa.
Namazake: jenis sake musim panas
Genkan: area masuk rumah, tempat melepas sepatu.
____________________
Diana Rustam. Tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Beberapa cerpen dan puisinya telah dimuat media daring. Ig: dianarustam_
