Cerpen Rudi Agus Hartanto

Gedung kebudayaan perlahan mulai kosong. Kawan-kawan yang sedari sore menyiapkan acara pengesahan calon pendekar tinggal beberapa. Kami yang tersisa bertugas menjaga tempat ini. Besok malam hari bersejarah akan datang. Perhitungan pimpinan antar perguruan silat di kota kami memutuskan bahwa tradisi suran akan dilaksanakan serentak.
Di media sosial orang-orang ramai menyangsikan kesakralan gelaran esok—biasanya masing-masing perguruan membuat acara secara terpisah. Bertahun-tahun pelbagai upaya telah dilakukan: pernyataan perdamaian antar pimpinan, mediasi ketika terdapat pertikaian, maupun kerja bakti membersihkan kota. Namun upaya semacam itu tetap saja tidak mengubah keadaan. Tak terhitung lagi nyawa yang melayang akibat permusuhan yang dirawat bertahun-tahun itu.
Korban terakhir adalah kakakku dua suran lalu. Tubuhnya ditebas arit saat berkendara pulang seusai mengesahkan para siswanya menjadi pendekar—maaf, aku tak kuasa menceritakan hal ini sepenuhnya. Intinya, ia meninggal di tempat tak lama kemudian.
Desas-desus beredar perlahan, dan tiga hari kemudian sudah menjadi perbincangan khalayak. Meski polisi belum menemukan siapa pelakunya, dugaan para pendekar seperguruan kakakku mengarah kepada perguruan pencak silat terbesar kedua di kota kami. Malam itu juga, di tengah lantunan tahlil di rumah, kawan-kawan kakakku menggeruduk padepokan perguruan itu. Tentu saja, mereka ingin membalaskan dendam saudaranya.
Dari bisikkan kawannya, Bapak, yang juga pimpinan perguruan silat yang diikuti kakak, langsung berpamit tak lama setelah tahlilan selesai. Aku saat itu merangsek ke dalam mobil tanpa sepengetahuan Bapak. Diriku membara persis seperti perasaan kawan-kawan kakak. Di depan padepokan itu, mungkin ratusan sampai ribuan orang berjejalan meneriaki dan melempari kerikil pintu padepokan yang tertutup.
Mengetahui kehadiran Bapak, mereka perlahan dapat mengendalikan diri. Polisi yang sebelumnya terlihat kewalahan mengendurkan pertahanan. Bapak masuk ke dalam padepokan itu didampingi beberapa orang. Aku tetap berada di mobil. Kudengar obrolan kawan-kawan kakakku, mereka berharap semua harus diselesaikan.
Begitu Bapak keluar dari padepokan, beliau langsung naik kap mobil komando. Semua orang berdiri, menunggu arahan keluar dari pengeras suara. Bapak meminta kepada semua pihak untuk menahan diri, menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian. Aku kecewa mendengar pesan itu. Mungkin mereka yang sejak tadi menunggu juga sepertiku. “Nyawa dibayar nyawa. Sampai kapan? Saudaraku, apakah sampai saat ini menyelesaikan masalah?” tutup Bapak berapi-api. Tak sedikit pun ada orang yang membantah Bapak, mereka membubarkan diri meski menyisakkan perasaan mengganjal.
“Aku tahu dari tadi kau bersembunyi di situ,” ucap Bapak datar.
Aku tak menjawab apa-apa selain menunduk. Mobil yang kami tumpangi menjadi kendaraan terakhir yang meninggalkan padepokan itu. Dalam hati, aku ingin bertanya kepada beliau, kenapa pesan seperti itu bisa muncul. Padahal nyawa yang hilang adalah darah dagingnya sendiri. Namun, aku menghormati bapak lebih dari apa pun. Terlebih, situasi duka juga masih membayangi keluarga kami. Dan, hari ini, sebelum nanti malam aku sah menjadi pendekar, bapak harus menjawab pertanyaanku,
Terdengar panggilan sembahyang subuh dari Masjid Agung. Selesai sudah aku memasang bendera perguruan silat yang nanti malam merayakan suran. Kecuali bendera padepokanku yang sengaja masih kusimpan di dalam tas. Kubilang kepada mereka yang masih terjaga, bahwa bendera ini akan kuruwat terlebih dahulu. Aku meninggalkan mereka.
***
Tuntas sudah aku membersihkan pusara kakakku. Matahari tak menyisakan tempat bagi bayangan tubuhku. Kusiram nisan yang terlapisi bendera perguruan dengan air degan gading. Tiga genggam bunga mawar merah-putih menutupi pusara. “Kuselesaikan hari ini, Kang Mas,” bisikku perlahan sembari meninggalkan kompleks perkuburan itu.
Bapak menungguku di ruang tamu. Ayam jago persembahanku malam nanti juga berada di pelukannya. Bapak mematikan suara dalang yang terputar dari gawainya. Selesai kucium punggung tangannya, aku diminta duduk.
“Sebelum kau bergelar pendekar, katakan apa yang kau pendam, Le.”
“Kang Mas, Bapak.”
Dengan telunjuk, Bapak mengangkat daguku. Kudengar suara berat muncul darinya. Memang, sejak malam di mana kami menyusul para pendekar di padepokan itu, Bapak dan aku jarang bertukar obrolan. Bahkan aku sama sekali tak pernah diajar olehnya ketika latihan: dari sabuk hitam, sampai kudapatkan kain mori nanti malam.
“Aku melakukan itu, biar tidak ada rasa iba kepadamu, Le.”
“Termasuk, Kang Mas, Bapak?”
Bapak menatapku begitu dalam. Ayam jago yang berada di pangkuannya diserahkan kepadaku. Beliau memintaku untuk meminum air yang sedari tadi terdiam di meja. Kusesap sedikit air itu. Namun, Bapak menghabiskan segelas air dalam satu kali teguk. “Apa rasanya, Le?” tanyanya sembari meletakkan kembali gelas itu.
Aku tak tahu maksud pertanyaan Bapak. Apa pentingnya rasa air dalam menjawab pertanyaanku perihal kakak. Sekenanya kukatakan bahwa air itu tak ada rasanya. Memang begitu kenyataannya, apa boleh buat.
“Bebas, Le. Lebih tepatnya membebaskan,” jawabnya dengan suara yang belum pernah kudengar. “Sampai kapan dendam itu kau bawa? Itukah keinginan Kang Masmu?”
Mendengar hal itu, tubuhku menjadi kaku. Kedua lengan Bapak mengalung di antara pundakku. “Pelaku yang menyebabkan Kang Masmu mati mungkin tak ditemukan. Bada Isya nanti perubahan besar akan terjadi.”
Kotak yang kubuka berisi mori diberikan Bapak kepadaku. Itulah mori milik kakak. Bapak berpesan bahwa mori itu mesti aku ikatkan bertumpuk dengan milikku sesuai pengesahan nanti.
Mobil polisi berjejeran di sekitar gedung kebudayaan. Pengamanan benar-benar ketat. Aku yang baru sampai lekas mengibarkan bendera yang belum sepenuhnya kering. Kudengar dari obrolan mereka yang sudah hadir, beberapa orang telah tersulut api yang muncul di media sosial. Satu hal yang segera menghardikku, apakah mungkin kematikan kakak akan terulang. Sebab pendekar dari semua perguruan tumpah ruah menjadi satu malam ini.
Semua prosesi telah kuikuti. Kusaksikan ayam jago persembahanku berdiam ketika disembelih. Kupasangkan kain moriku bertumpuk dengan kepunyaan kakakku di pinggangku. Bapak entah datang dari mana mendekatiku, sembari mengatakan bahwa sebentar lagi semua akan selesai.
Di atas panggung yang berisi pimpinan perguruan silat itu, Bapak diberi kesempatan berbicara. Beliau mengutarakan sesuatu yang sama persis dengan dua suran lalu. Aku melihat hal lain kala Bapak mengajak hadirin melantunkan tahlil bagi para pendekar setiap perguruan yang telah berpulang. Bapak mengenakan setelan seragam sakral Kang Mas.
Seorang pendekar di sampingku menatapku lekat. Ia mengetahui bahwa pipiku sudah membasah. Aku tak tahu, apakah hal ini membatalkan statusku sebagai pendekar. Kupegangi mori di pinggangku erat-erat. Aku merasa terbebaskan.***
____________________
Rudi Agus Hartanto. Bagian dari Sanggar Bima Suci Mojogedang, Ngglituk Podcast, dan Leluasa Project.
