Cerpen Denipram

Senja tak lagi ditakuti. Warna cahaya langit kuning kemerah-merahan tak lagi menyeramkan. Bias sinarnya yang mengenai segala benda di permukaan bumi seakan membuat segalanya menjadi rindu. Tak lagi berarti kepudaran rasa. Ketika mata ayam mulai rabun, anak-anak malah asyik berburu senja. Aku tak punya alasan untuk melarang anakku berburu senja. Kata anakku, senja melambangkan kemesraan. Ah, anak-anak sekarang ingin sekali beranjak dewasa dengan instan. Berduaan dengan lawan jenis di suasana lampu remang-remang dan saling bercakap manis manja. Senja tak selalu semerdu itu, sergah benakku.
Pengertian senja masa sekarang ini bertolak belakang dengan senja saat kecilku dulu. Senja yang penuh kewaspadaan, senja menandakan kemurungan dan senja wujud dari kegundahan langit atau biasa simbahku menyebutnya Candik Ala. Tak ada gambaran yang cerah ketika itu. Segala aktivitas harus diberhentikan. Ayam-ayam sesegera mungkin mengurung diri di kandangnya. Anak-anak tak diperkenankan ada di luar rumah.
βOra ilok!β kata simbah dan semua pintu rumah harus sudah terkatup.
Simbah-simbah yang terdahulu sering mewanti-wanti cucunya, “Surup-surup aja pada dolan, mengko mendhak dicaplok buta.“
Sebuah ucapan yang pasti telah tertanam di khayalan anak-anak zamanku dulu. Seakan menjadi nyata ketika dalang kesukaanku, Ki Narto Sabdo menciptakan tembang dolanan Buta-Buta Galak dan dulu sering mendengarkan kisah pewayangannya lewat radio. Tembang itu melegenda di tiap petang anak-anak yang tak kunjung pulang, karena jika ada yang telat pulang maka anak itu akan mendapat wejangan yang selaras syair-syair dari tembang itu. Simbah kakungku pun sering menembangkan tembang itu di malam hari dengan suara lirih yang menenangkan tapi meneror.
Galo kae galo kae
Mripate plerak-plerok rok rok rok rok
Kulite ambengkerok rok rok rok rok
Mung kulite, ambengkerok
Setelah menembangkan lagu itu, simbah kakung mengisahkan bahwa dulu ada seorang dalang yang melihat buta mondar-mandir mengamati anak kecil. Buta itu bertingkah seperti harimau yang sedang kelaparan. Kemudian dalang memikirkan apa yang sedang dilakukan si raksasa bermuka jelek itu. Ternyata mata si raksasa tertuju pada anak kecil yang bermain di halaman rumah dan ketika itu langit berwarna kuning kemerahan dengan matahari mulai sembunyi di ufuk barat. Tak diduga, raksasa langsung menculik anak kecil itu.
Dalang itu mendadak linglung, karena anak kecil yang dilihatnya raib dibawa raksasa. Dia tak tahu harus bertindak seperti apa, kemudian ia tersadar dan berteriak-teriak, “Buta-buta! Ana buta nyulik bocah!” Sekejap di desa itu gempar dan para warga saling memperingatkan dengan suara yang membuat warga lainnya menjadi waspada. Ada yang membawa kentongan terutama untuk para bapak. Ibu-ibu pun tak mau kalah dengan membawa wajan yang dipukuli dengan sutil. Suara ayam, kambing, sapi dan ternak lainnya bercampur saling bersahutan seakan ikut merasakan kerisauan warga. Meski suara gaduh itu semakin menjadi-jadi, si anak kecil yang diculik raksasa belum juga ditemukan.
Segala tempat telah disatroni warga dengan dibagi menjadi beberapa kelompok pencari. Mencari ke tempat di mana biasanya anak itu main, sendang yang dianggap keramat oleh warga, pohon beringin besar yang ada di tengah desa pun juga menjadi tujuan pencarian dan warga sangat berharap dapat menemukannya di situ. Ada yang mengatakan jika sarang raksasa itu berada di rimbunan pohon bambu tapi hasilnya nihil juga. Menyisiri sepanjang aliran sungai itu pun juga telah dilakukan warga.
Malam seakan tak membuat warga terpejam. Mereka masih sibuk mencari ke sana ke mari sambil membawa obor yang jika dilihat dari kejauhan seperti kunang-kunang yang berbaris rapi di setiap sudut desa. Dalang masih terbayang wajah dari raksasa itu yang matanya besar melotot, hidungnya seperti hidung babi yang bengkak, mulutnya lebar dan lidahnya menjulur panjang seperti dasi merah. Hanya dalang itu yang baru melihat tampang si raksasa dan ia tak bisa tidur karena hal itu.
Hingga fajar mulai merekah kembali, raksasa dan anak kecil yang diculiknya tak kunjung menampakkan diri. Dalang merasa gusar dan anak-anak kecil di desa itu tak berani keluar rumah sendirian. Orang tua dari anak kecil yang diculik itu pun sampai berujar jika anaknya ditemukan maka mereka akan menggelar pertunjukan wayang kulit tiga hari tiga malam. Mendengar ujaran seperti itu, dalang merasa sangat tersentuh hatinya dan ia rela tak diberi upah asalkan masih diberi jatah makan, bicara dalam hatinya. Tapi dalang belum sepenuhnya tenang hatinya, karena di desa itu bukan hanya dia saja yang menekuni seni pedalangan wayang dan dia bisa dibilang dalang yang masih seumur jagung. Dia tetap ingin dan harus menjadi dalang dalam pentas wayang nantinya.
Dalang menemui orang tua dari anak yang diculik raksasa itu dan dia mengatakan sebuah keinginan jika ia berhasil menemukan anaknya maka dialah yang akan menjadi pedalang di pertunjukan wayang itu. Bahkan ia berjanji apabila itu terjadi, pagelaran wayang tersebut bukanlah sekadar pementasan seni wayang tapi peristiwa itu akan terkenang selamanya. Kemudian ia duduk menyepi di sebuah pematang sawah menunggu warna langit menjadi kuning kemerah-merahan yang membuat rupa wajahnya menjadi pucat bagai makhluk tak bernyawa. Di waktu seperti itulah raksasa telah menculik anak kecil. Sorot matanya tak henti mengintai dan hatinya tetap teguh dengan keyakinan bisa menemukan anak itu.
Suasana desa menjadi sunyi. Tak ada ayam berkokok, tak ada kambing mengembik dan seakan para binatang merasakan kehadiran sosok tak bisa tersentuh. Tak beberapa lama muncul kabut putih di segala sudut desa. Kemudian dalang itu mengucapkan mantra.
Buta-buta galak solahe lunjak-lunjak
Mlaku cikrak-cikrak nyandhak kunca nuli tanjak
Tanpa ada tanda suatu apa pun, langit tepat di atas dalang itu terjadi angin beliung. Tapi angin tersebut tak membuyarkan pekatnya kabut terpapar sinar kuning kemerah-merahan. Dalang masih teguh dalang duduk silanya. Disusul suara kenthongan warga yang semakin menggebu-gebu suara pukulannya. Para warga mendekati tempat semadi dalang dan sedikit demi sedikit kabut itu menghilang. Sampai pada akhirnya, dipangkuan dalang ada seorang anak kecil yang sedari kemarin menjadi golekan di desa itu.
Pagelaran wayang yang diinginkan dalang pun telah terlaksana dan mantra yang dilakukannya menjadi tembang dalam pementasan itu. Tembang yang masyarakat menyebutnya sebagai amalan untuk mendidik anak-anak.
Semasa kecilku, tembang itu tak sebatas nyanyian untuk anak kecil tapi juga untuk mengingatkan para orang tua supaya tidak lupa dengan tanggung jawab terhadap anak-anaknya.
Aku sedikit ragu jika dalang yang dikisahkan oleh simbah kakungku itu ialah Dalang Ki Narto Sabdo. Aku memang belum pernah bertatap muka langsung dengan Ki Narto, tapi aku sudah mendengar suara pedalangannya yang tak terduakan. Sekarang dengan adanya internet, aku sangat bersyukur sekali karena hanya tinggal menulis Ki Narto Sabdo di google search maka akan muncul banyak sekali tulisan tentangnya. Dalam suatu artikel yang kubaca, dalang Ki Manteb Sudarsono mengakui gurunya itu sebagai terbaik yang pernah ada di Nusantara. Suara Ki Narto seakan dapat menghidupkan tiap tokoh wayang dan aku tercengang dengan idealisme di setiap ceritanya selalu berbeda-beda.
Pernah aku bertanya pada anakku, “Le, siapa pencipta tembang dolanan Buta-Buta Galak?β Dan dia malah menjawab, βTembang dolanan itu apa to, Pak?”
Ah, sialan, gerutu dalam hatiku. Ketika di sekolah apa tidak diajari apa itu tembang dolanan. Ataukah sudah tak ada lagi pelajaran Seni Suara? tanya pada diriku sendiri. Tembang dolanan saja tak ada yang hafal, memang tak mudah ketika dulu aku belajar gendhing. Apalagi wayang kulit yang sepi penikmat seperti sekarang ini.
Zaman sudah berubah, dan Ki Narto Sabdo sudah berpulang. Senja telah menjadi potongan hidup anak-anak sekarang dan Bojo Galak lebih dihafal anakku ketimbang Buta-Buta Galak.***
____________________
Denipram. Desainer digital grafis yang lahir di Jatisrono, Wonogiri. Ia juga menggeluti dunia sablon kaos yang nyambi kuliah kelas karyawan pada Prodi Bisnis Digital kampus UMUKA Solo.
