Secangkir yang Luput
Kopi lelet di depan matamu luput kau sruput
Berita kematian saudara-saudara menyergap telinga
Virus-virus baru, makin ngeri kau dengar
Di rumah, kau tak lagi minum dari cangkir bekas anakmu
Kau cuci semua alat makan sisa mereka
Kau tak mau disentuh siapa-siapa
Secangkir lagi, luput dari bibirmu yang basah
Mulai membiru
Kau takutkan maut menjemputmu lebih dulu
Maka kau asing, dari anak istrimu
Mendekam seorang diri
Dalam teralis, ruang tiga kali empat meter persegi
Mulai membiru, sekujur kaku
Tinggal secangkir lagi
Tak mau luput dari bibirmu yang kering
Sudah pecah-pecah, berdarah.
Yang Koyak dalam Ruangmu
Pasca panen kacang ijo bapak remuk
Ruas-ruas jari kaki
Herpes menyerang seluruh tubuh
Merembet ke ketiak, leher, selangkangan
Tak apa, tak apa. Panen kita banyak, Le.
Tapi pasca panen padi bapak hilang, remuk
Diabetes menyerang ruas-ruas jari kaki
Tak bisa jalan beberapa bentar
Diamputasi sudah, kedua jari kakinya
Tak apa, tak apa. Yang penting panen kita banyak, Le.
Tapi bapak hilang, tak seimbang
Tak bisa jalan sepersekian bulan
Peduli apa pada tubuh yang koyak, tinggal remah-remah
Luka-luka nganga
Tak apa, tak apa. Kau bisa gantikan bapak, Le?
Lalu kau tangisi sendiri komplikasi di tubuhmu
Tak bisa lagi mendaratkan cangkul
Hasil panenmu berkurang
Sebab lanangmu tak cakap bertani
Kau koyak dalam ruang imajimu
Mengutuki cita-cita keturunan sudi mengundi nasib jadi petani
Tapi lanangmu pilih sewa orang
Bayar dua kali lipat
Sedang panen makin berkurang, tak seberapa
Kau koyak lagi dalam ruang harap semu, abu-abu
Mengutuk kepincangan
Mengutuki nasib.
Kretek si Mbok
Kubacakan Perempuan dan Kretek
Sedang si Mbok asik mengunyah suruh
Aku menyulut kretek
Dimatikan bapak
Sedang si Mbok menyalakan ulang
Buat apa melarang si genduk ngretek? Kau demikian sama
Sebab kau perempuan, kata bapak
Tapi si Mbok juga perempuan, sanggahku
Lalu si Mbok nyalakan ulang, menghisap dalam-dalam
Memberikannya padaku, sehisapan
Kubacakan lagi Perempuan dan Kretek
Bapak manggut-manggut
Lalu mengunyah suruh, menyalakan kretek buat si Mbok
Kretek si Mbok diberikan padaku, lalu ia mengunyah suruh bersama bapak.
Lintingan Terakhir
Sebelum perang harga, tembakau bapak
dibantai habis
Petani-petani merugi, kalang kabut
Investor bersulang anggur merah di samping istana
Bapak sedia badan
Demo saja, pak…
Berkelit
Petani-petani desa Wates meriang
Pilih menjual ke tengkulak, tapi harga
masih tak manusiawi
Tak dijual, tetap merugi
Dua kali masa panen tak dapati laba pasti
Panen lagi, meriang lagi, rugi
Bapak bisu, menyepi
Ia nglinting dari tembakau hasil panen
Terakhir sampai napas di ujung penghabisan
Lintingan terakhir jadi tempat bapak
Mengukut
Meninggalkan anak istri, dijemput Izrail.
Balkon Kesangsian
Di balkon lantai tiga
Yang luput dari percakapan kita
Disaksikan dua sulur Nephentes, mulai kering
Tapi tak lebih kering dari luka-luka yang kau sembunyikan
Di balkon lantai tiga
Kita sempat menghendaki cerita keutuhan dua manusia
Meski saling sangsi
Pada rasa masing-masing
Bukankah kita, dua organisme yang penuh ketidakpastian?
Lantas memintal harap
Memaksa penuh.
Menimang Ibu
Seperti balita, empat tahun minta ditimang
Ibu baru genap 80
Bungkuk seperti pungguk
Manja seperti gadisku
Tak mau kalah seperti jagoanku
Ibu minta ditimang-timang bapak dan aku
Nenek anak-anak berubah kekanak selepas menua
Sedang kami dipaksa dewasa
Harus mendewasa diri
Sebelum habis masa ibu jadi bayi, lagi.
Kau yang Hilang dari Pelupuk Mata
Koes,
Lelaki yang memaksa pergi dari buaian
Mendaku diri sejati
Pantang pulang sebelum dapat penghasilan
Koes,
Anak sulung tulang punggung
Memangku beban empat saudara kandung
Tiap-tiap waktu kirim uang bulanan
Hampir lupa jalan pulang
Koes,
Jatah sekolah direnggut nasib
Kurang beruntung
Kau hilang di tengah semester
Pilih merantau menyambung hidup
Buat mengisi perut ibu, perut bapak, saudara-saudara sepersusuan
Koes, hilang dari pelupuk mata orang-orang
Pantang pulang sebelum dapat penghasilan, banyak uang
Lelaki malang, rela pergi dari buaian.
Mendoakan Orang-orang yang Kehilangan
Kematian itu, niscaya
Kau kenal baik-baik detail cara membunuh jasad
Wajah-wajah pelayat
Yang pura-pura bersedih
Atau bersusah menghibur mereka yang kehilangan
Kematian itu, niscaya
Kau sekali datang memberi ceramah, khotbah
mendoakan mereka yang terbungkus kafan
mendoakan mereka yang kehilangan
meminta semesta lapang menerima
tubuh-tubuh yang telah dijemput mautnya.
Misi yang Sia-Sia
Dokter Rieux mengamini kesia-siaan
Pergolakan melawan kematian demi kematian
sampai nyawa tak ada sisa
Seperti kisah Maria Zaitun, karya Rendra
Tak ada bekas melawan nasib
Sudah beruntung ajal menjemput daripada hidup dirundung derita
Camus mengotak-atik tokoh utama
Sang dokter tak peduli pada misi yang sia-sia
Jalan terjal kemanusiaan
Memberi tubuh-tubuh yang sakit kesembuhan
Rendra tak memberi Maria berkah kesembuhan
Maria Zaitun mendapat Firdaus bersama lelaki berwajah remuk
Jalan terjal mencecap bahagia
Di akhir misi hidup yang sia-sia
Perempuan di Antara Dua Dewi
Dua sales masih menjajakan Dua Dewi
Meski surup sudah habis mengikis sinar matahari
Tak ada senja-senja atau mega merah muda
Dua sales masih berjalan menembus gang-gang gelap
Menjajakan Dua Dewi di tangan
Perempuan-perempuan dengan rok mini
Berhak sepuluh senti
Lipstik merah darah, bedak tebal
Menghias bibir dan pipi
Tapi rias tak bisa menghapus payah
Dua Dewi di tangan belum laku terjual
Dua perempuan tak bisa balik ke peraduan
Tapi rias tak bisa menutup duka dari dua bola mata
Dua Dewi terbungkus rapi belum tergadai
Dua perempuan tak bisa balik ke bilik asal
Terus jalan, terus menjual.

Rizka Umami, pengasong di Komunitas Sastra Sadha Tulungagung. Sedang menempuh S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa disapa di facebook Tacin atau Instagram dan twitter @morfo_biru

Muehehehe