Membaca Burung Hantu

setajam matamu, kasih

kurawat gelap ini

sampai wajahku kusut
dan

nyanyian burukku
terdengar

di tengah orang-orang
putih menggelar

sebab lewat gelap

kau dapat kusentuh
lebih dekat

lebih lesat dari zikir,
takbir dan mekar

bunga-bunga mawar, atau
kuntum yang hambar melafal

dengan jari-jari layu
dan bulu lembut

kujaga dirimu, kasih

dari segenggam siasat
pencuri

yang kerap dingin
melukai

kutemani kau mencari
cahaya

dalam gelap menebus
segala

hitam dan jantung muram

ke waham jurang dan batang-batang
terpejam

hingga segala jadi baru

biar semua kefanaan ini
tahu

kita begitu setia

karena juga rindu
bermalam di surga

2020


Segelas Teh Pagi

tak ada doa, tak ada
sebaris kata cinta

kecuali murung
dicecapnya

pohon-pohon dingin di luar
jendela

burung-burung berkicau
mengekalkan

warna hijau kelamnya

matahari timbul
sederhana

di tengah uap tak ada
mekar menangkap kabar

kecuali, cuaca
mencelupkan luka

yang samar-samar
terperam di pucuk sarinya

2020


Pelukan

akulah dahan dalam imanmu

cinta yang bersulur
melilitmu

lantas kita seperti mata
burung

dalam sarang menangkap
gelap rindu penyatuan

di antara kehangatan
dan ketakutan

adalah perpisahan

lantaran sepasang
lengan tak mampu mengabadikan

getar sebatang sungai

maka
sebuah jembatan membentang

di atasnya kita
terpejam

seratus tahun kesunyian
tiba menyeberang

selepas pelukan

hanya selepas pelukan

buah abadi terkenang

2020


Yang Tersisa

yang tersisa adalah
cuaca

dirangkum renung bayanganmu
tumbuh

dari jendela kamar

matamu sebatang sungai
mengalir

ke pembaringanku

dan matahari mekar di
situ

burung-burung pun
terbang menempuh khayalku

tidak, kau tidak
tumbuh, melainkan hanya

menyentuh halus yang
pernah tersuluh

di waktu kudus

di atas bantal sisa
keringatmu

bau rumput muda yang
luput dari doa

namun, selalu menyala
setiapkali menjelma

2020


Menyapa Kenangan

inilah jalan kita

masa lalu telah menanam
hujan

di antara pohon-pohon
rindang

seharusnya kita masih
di sini

membayangkan di antara
bukit-bukit terjal

memelukku ketakutan

melihat kabut yang melepas,
dan ilalang yang tumbuh bertunas

namun, doa telah kita
padam, sayang

sebelum liuk lubang
pertama

lalu yang tersisa
sekadar rimbun bayang,

bising suara orang
asing

yang keluar dari dalam
gelap

menjelama kau,
menyentuhku sebagai angin lalu

di antara barisan
gedung dan warung

yang menyimpan hangat
dan bau tubuhmu

masa depan kulalui dan
kupejamkan sendiri

tak ada keabadian,
ucapmu.

dan jalur-jalur pun
memintas, aku pun mempercepat

kelam, sebagai mata
daun-daun kering

yang memilih tidur di
bawah selimut pagi

2020


Mata Ijah

berpasang malam

burung hantu yang
suntuk berdiam

di antara lantun
tarkhim kelam

dalam nyalamu

lalu sebiji dua biji
benih bangkit

dari gelapku menyusuri

kedalaman matamu

ke putih sisi, sinar
korona bulan

melintasi rintik alismu

yang sunyi
membentangkan jalan

adalah ke barat jalan
imanku

ke haribaanmu

yang mencairkan segala
beku waktu

di hatiku

2020


Biji

wujudku sepi

di tengah rimbun

yang mendalam tiada
tepi

pada tanah sunyi

kutengahkan salat ini

supaya menciummu lebih
dekat lagi

hingga aku dapat
berakar dan berdiri

ajari kami menyerap
yang murni

juga mata mereka yang
bimbang menatap

kedalaman sujud ini

kami yang kerap hidup

dari dekapan angkamu

dan asuhan susu
heningmu

kelak, mungkin tiba
buah dudukku

bersama sekerat roti

dan janji yang meragi

sampai tiba matahari
yang bahagia

anak-anak burung
berkicau di atas rimbun

batang luhur kami

2020


Pengantin Barzanji

aku bersaksi tiada
ketenangan kecuali padamu

aku bersaksi tiada
kekecewaanku

melainkan jauh darimu

langit dan bumi berdiri
dari sinarmu

dan segala jadi debu
dari diriku

kecuali bersamamu

tanah timur dan barat
yang berseri

menghadapmu, meraih
wujud sejati

dari emas dan intanmu
yang murni

kuncup bunga kini telah
mewangi

semerbak baunya menguar
ke langit tinggi

kutanam cahayamu di
lubuk sunyi

hingga tersentuhlah
jiwaku dan

menyalalah aku atas
cintamu

2020


Pacar dari Tuhan

akulah ladang bagi
biji-biji air matamu.

tumpahkan seluruh biarkan
angin gemuruh

yang kita tuju hanyalah
satu

sebab kita tak menanam
apa-apa

juga tidak menumbuhkan
apa-apa

segalanya cahaya yang
bekerja menciptakan sari tegaknya

kau mekar mawar

yang kurawat dari
mataharinya

dari duri dan
keseimbangan langitnya

tesebab embun
tergelincir

di bumi kita ciptakan
harumNya

akulah ladang bagi akar
pertemuan sang pecinta

rebahkan keringmu

kunyalakan mekarmu

2020


Hantu Imsomnia

kau datang lewat lubang
malam

berkelebat memekarkan

kuping dan mataku

meski langit memejam

dan tak sepenuhnya
kutahu

apa yang kau genggam pernah
jadi milikku? tidak

tawamu buruk serupa
burung pungguk

tak ada yang
merindukanmu

termasuk diriku

selepas tarkhim kau
masih di situ

diam membeku dengan
tangan layu

di atas meja segelas
kopi dingin

kucecap ragu-ragu

barangkali kau telah
menyesap jantungku

dan melafalkan kata
murung

yang asing kudengar

setelah terjerembab ke
masa lalu

yang pernah menjadi
bagianku

2020


Ebi Langkung, lahir di Pasongsongan Sumenep Madura. Alumni Komunitas Tikar Merah Surabaya. Buku puisinya berjudul Siul Sapi Betina 2015.