Buku, Resensi

Penderma Cerita, Pembawa Rasa

Oleh Setyaningsih

Derma cerita para murid SD Ta’mirul Islam Solo di kelas menulis terus berlanjut di bawah ampuan guru sekaligus prosais Karisma Fahmi. Biografi kanak tidak hanya terdokumentasi dalam nilai rapor, foto, piala, piagam, atau prestasi akademik lain. Kemenangan Terindah, Kumpulan Cerita Pilihan (2016) garapan para murid kelas 4-5 lebih duluan menyapa. Berselang setahun, buku dengan visualitas lebih manis bertema berbagi terbit dalam judul Pohon Coricta dan Ellasia (2018). Buku diterbitkan sebagai serial Islam santun bersama Program Pendampingan Masyarakat Dosen dan Fakultas Bisnis Islam (FEBI) IAIN Surakarta dan Bilik Literasi.

Buku ketiga pun tidak ingin ketinggalan manis dijuduli Beri Cerita (2019) memuat 16 cerita pendek. Di cerita pertama berjudul Kapan Bapak Pulang? Ibnaty membawa pengalaman hidup yang cukup sadistik. Kanak tidak selalu mendapat jatah kebahagiaan di dunia. Sering, hidup harus sangat susah dan keras berkaitan dengan masalah ekonomi. Kemiskinan adalah hal yang menakutkan. Seorang anak sering harus merasakan hal ini tidak hanya sebagai masalah teknis, tapi juga psikologis. Diceritakan seorang anak perempuan bernama Gendis. Bapak Gendis adalah nelayan dan ibunya mengurusi rumah tangga. Karena pendapatan bapak menurun, Gendis pun harus menanggung derita “tidak sekolah dulu”.

Bapak Gendis pun mendapat pekerjaan di kapal sebagai nahkoda. “Gendis melonjak kegirangan mendengar bapaknya mendapatkan pekerjaan. Pasti, nanti Gendhis bisa sekolah lagi! pikir Gendis. Gendis memeluk erat bapaknya. Terharu. Peristiwa yang tampak sebagai pemecahan masalah ekonomi ini justru menjadi awal petaka. Ibnaty tidak ingin ceritanya berjalan lempeng saja. Dia harus membuat alur dramatis mewarisi kekhasan cerita anak Indonesia yang para tokohnya harus mengalami penderitaan hebat atau peristiwa berair mata. “Bapakmu meninggal karena ada badai topan di pertengahan antara Laut Indonesia dan Laut Australia. Korban meninggal ada 13 orang. Salah satunya adalah bapakmu.” Ibnaty membuat judul ceritanya bernas justru di penutupan cerita saat Gendis sering bergumam sebagai bentuk ketidakterimaan, “Kapan bapak pulang?” Tidak ada pesan moral untuk menjadi sok tabah. Manusia juga boleh sedih.

Kejutan atau berujuk sebagai pembuat kejutan masih menjadi pokok cerita. Hal ini kita rasakan di beberapa cerita, seperti Kado Misterius garapan Fairuz Yumna Navira, Paket untuk Arya garapan Elnora Radea Putri, Hadiah Terakhir garapan Inayah Maunah, Sahabat Selamanya milik Rahma Khairunnisa, atau Special for Mom milik Zulfasya Redita Larasati.

Kado Misterius agak terpengaruh dari selera horor yang beberapa waktu ini cukup mendominasi tema perbukuan. Kita cukup bisa menebak bahwa kejutan sering ada dalam peristiwa ulang tahun. Kita cerap, “Kali ini kado tersebut diletakkan di dalam laciku. Kali ini kado tersebut dibungkus dengan kertas koran secara asal-asalan. Kado berisi foto dengan pigura berwarna coklat. Di dalamnya terdapat fotoku, tetapi anehnya aku tidak sendirian. Ada seorang anak kecil yang berdiri di belakangku dan melihat ke arah kamera. Anak itu terlihat seperti hantu dalam film horor. Padahal, foto itu aku simpan di laptopku.” Hiy!

Kita mungkin agak terkejut dengan cerita Misteri Pohon Beringin Tua yang digarap oleh Hanifa Nayla Ilma. Sejak judul, kita sudah bisa merasakan unsur gaib-seram. Ilma membawa pengalaman kolektif, terutama di Jawa, yang menganggap pohon beringin (selalu) memiliki penunggu. Setiap kali ada yang mendekati pohon beringin dan melongok ke rimbunan daun, orang pasti meninggal. Layla, si tokoh anak utama, menjadi pemecah mistis dengan menggunakan logika sains. Layla dan teman-teman berlagak menjadi detektif logis disokong oleh pengetahuan mutakhir, “Di bawah pohon itu banyak sekali oksigen. Paman Rion memiliki riwayat sakit asma yang akut. Ia kedinginan dan oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya terlalu banyak dan mendesak ke arah jantung.”

Zulfasya dalam cerita Special for My Mom membingkai kejutan dalam emosionalitas beribu. Diceritakan, “Rina memakai sandal jepitnya dan memandangi satu-satunya sepatu ibu yang diberikan oleh Bu Hajah Achmad sudah kumal dan usang. Jadi tak jarang ibu pergi kondangan dengan memakai kaos kaki dan sandal jepit.” Sepatu bekas dan sandal jepit adalah citra kesederhanaan yang lebih dekat pada kemiskinan. Rina pun memiliki impian kecil: membelikan sepatu buat ibu. Berprestasi, bekerja keras dengan cara membantu ibu jualan kue, dan menabung, tiga hal ini menjadi ikhtiar kecil Rina “mengejutkan” ibu.

Namun, Rina lebih dikejutkan oleh ketidakberuntungan. Sepatu cantik yang tempo hari dilihat di toko yang begitu ingin dibelikan untuk ibu, ternyata sudah dibeli orang. Sebagai penutupan, kita mendapat suatu hal yang khas. Ibu tidak menginginkan apa-apa selain harapan bagi Rina agar tumbuh dengan salehah dan berprestasi.  Kita mengingat satu hal bahwa suatu pemberian sederhana itu tampak monumental dan berkesan karena diberikan kepada orang terkasih lewat usaha penuh kesungguhan hati. Kesungguhan yang datang dari seorang anak, selalu bisa berdampak mesra bagi batin pembaca.  

Dari kesadaran anak-anak yang menulis, anak-anak memang tidak menampik bencana dalam cerita-cerita mereka. Kehilangan, kesedihan, ketidakberuntungan, kemiskinan, dan bahkan kematian adalah hal biasa. Kita memang sempat menemukan kecenderungan tiba-tiba tokoh meninggal, kecelakaan menimpa tokoh, atau sakit parah mendera. Hal-hal ini sepertinya masih dianggap sebagai peristiwa kehilangan yang hebat.

Nyaris tanpa beban konflik dan bersahaja, hadir di cerita Hari Makanan Indonesia garapan Abad Doa Abjad. Cerita ini tidak membawa unsur keseraman atau kesedihan, tapi kegembiraan yang cukup. Begini, “Pasar anak pun dimulai. Anak-anak berlari keluar kelas. Mereka telah dibagi kelompok di kelas. Mereka boleh membeli bermacam-macam makanan dari Indonesia. Lalu mencatatnya di kertas yang sudah disediakan. Aku dan kelompokku pergi berkeliling mencari makanan yang kelompokku inginkan.” Tidak ada dramatisasi atau keinginan meluapkan narasi. Cerita ini lebih berkesan diramu dari pengalaman dan pengamatan.

Kita berbahagia atas derma anak-anak atas buku ini. Aneka rasa dan peristiwa terdengar pas diracik dalam judul Beri Cerita. Anak-anak menulis bukan sebagai pengkhotbah moral yang serius. Pesan terselubung pasti ada, tapi kita cenderung tidak diajak repot mencari-cari atau bergegas meneladan.

Setyaningsih, Esais. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Cerpen

De Sese

Cerpen Pangerang P. Muda

Empat wajah di depannya berubah rona, menegang menanggang amarah, sesaat ia menyatakan penolakan, “Saya tidak bisa. Saya takut kalau ketahuan.” Padahal sebelumnya, sudut-sudut bibir keempat wajah itu terangkat, melekuk ramah.

Di atas kepala mereka, dengung AC sontak terdengar lebih kencang, akibat mulut-mulut yang mendadak terkatup kehilangan kata. Penolakannya mencengutkan keempat orang di depannya.

“Betapa bodohnya kamu.” Entah berapa menit kemudian, baru ada sahut, lepas dari mulut orang yang duduk di balik meja. “Jadi kamu tidak tahu ketakmampuanmu? Kami justru mengajakmu bermain sesuai kemampuanmu. Penampilanmu yang terakhir itu, hanya kebetulan. Kami juga sempat heran, apa yang membuatmu bermain seganas itu, serupa orang kesurupan. Dari analisa tim kami yang menyaksikan permainanmu di lapangan dan dari tilikanrekaman pertandingan, kami menyimpulkan yang bermain itu bukan kamu. Itu pasti roh salah seorang bintang sepak bola yang telah mati, yang meminjam dan merasuki ragamu. Dialah sebenarnya yang mencetak gol spektakuler itu, bukan kamu.”

Menekuk batang lehernya, menundukkan kepala, De Sese merasa sedih. Penjelasan orang itu mengaduk emosinya. Jadi, permainannya dianggap tidak meningkat? Bahkan ketika berhasil mencetak gol yang diawali liuk berlari serupa penari, ternyata hanya dianggap kemahiran bermain bola se’sosok’ roh yang sedang meminjam raganya!

Ia mengangkat kepala, mendengar cecar orang di depannya, “Kenapa pula takut kalau ketahuan? Kamu takut dipecat dari klubmu? Heh, pemecatanmu hanya menunggu  waktu. Cepat atau lambat, pelatih akan menendangmu keluar dari tim, bisa jadi serupa tendangan-tendanganmu yang juga selalu melenceng dari mulut gawang. Jadi itu tidak perlu kamu khawatirkan.”

“Selama ini, penonton sudah hapal permainanmu,” mulut orang di balik meja terus nyerocos. “Kamu digelari si Spesialis Tendangan Melenceng. Kalau tidak memelesat di atas mistar, pasti mengacir ke samping tiang gawang. Jadi mau kami, tetap saja mainkan kemampuan bermainmu yang seperti itu. Tentu tidak akan ada yang curiga, toh mainmu memang begitu. Penonton sudah tahu, kok. Dan bayaran yang kami tawarkan, lebih tinggi dari gaji yang kamu terima dari klubmu. Segampang itu.”

Pada sandaran kursi, ia rapatkan kepala. Ingatannya meluncur surut ke momen dua puluh empat jam lalu, di saat-saat ia berhasil melewati dua pemain belakang sebelum mulut gawang lawan menganga di depannya, dan kata-kata pelatihnya terngiang bagai ledakan petasan, “Sudah lima kali kamu saya pasang sebagai gelandang menyerang, dan tidak sekali pun kamu mencetak gol. Ini kesempatan terakhirmu!”

Gerak tipu yang ia peragakan menurutnya biasa saja, tapi ternyata mengecoh dan membuat seorang bek kiri tim lawannya terjatuh sendiri. Sedetik takjub, lalu merasa mendapat asupan semangat, ia terus meliuk-liuk dengan bek yang tersisa terus memepet, dan tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan penjaga gawang. Hampir ia tertawa. Kiper itu agak grogi, antara mau maju memotong laju geraknya atau tetap bersiap menyongsong kedatangan bolanya, dan di belakang kiper itu ia lihat gawang yang menganga mendadak berubah rupa menjadi nganga mulut pelatihnya setiap membentaknya, “Kalau kamu tidak juga berhasil mencetak gol, maka kamu saya keluarkan dari tim!”

Saat itulah, dengan mengayun kaki sekuatnya, ia merasa sedang menjejalkan buntalan ke dalam mulut pelatihnya yang sedang menganga. Bola memelesat deras, sedikit menyamping seakan mau keluar, tapi ternyata bergerak memuntir ke dalam gawang. Kiper hanya bisa melongo mengetahui jala di belakangnya bergetar diterpa deras laju bola.

Jeda hanya setarikan napas setelah bola masuk, sebelum ia melepas ledak teriakan. Langit malam di atas lapangan meraup gema lantang suaranya. Teriak itu ia ulang-ulang, sembari berlari ke arah pagar pembatas penonton. Gemuruh sorak ribuan pendukung timnya dari atas tribune menyambut gol itu.

Kecuali ia sendiri, tidak ada yang tahu kata apa yang ia teriakkan. Posisinya agak jauh, berlari meninggalkan kejaran teman-teman setim yang ingin berselebrasi. Yang ia teriakkan umpatan, makian pada pelatihnya, yang telah ia jejali nganga mulutnya dengan buntalan. “Nah, makan tuh bola!!”

Dan di dalam ruangan ini, empat orang sedang menatapnya seakan tak hendak berkedip. Salah seorang berujar, “Jadi,kami hanya meminta kamu kembali ke pola permainanmu sebelumnya. Jangan bersikap bodoh dengan menolak. Ingat, kami menawarimu uang, uang yang tidak sedikit!”

Dalam perasaan tertekan, ia teringat bisik-bisik temannya yang selalu mengingatkan adanya upaya mafia judi bola yang suka mengatur skor pertandingan, membuatnya memilih melunak. “Baiklah, saya terima tawarannya,” sahutnya, padahal ada ide lain sedang berkecamuk di dalam kepalanya.

***

Kernyit bingung mengerucutkan hidung polisi mendengar pelapor mengatakan seorang pemain bola hilang, dan menambahkan, “Dia hilang di lapangan.”

Sekitar sepuluh atau sebelas jam sebelum dilaporkan hilang, De Sese berhasil melewati dua pemain belakang dan terus meliuk-liuk sambil terus pula mengingat kata-kata orang yang menemuinya, “Betapa bodohnya kamu. Jadi kamu tidak tahu ketakmampuanmu? Kami justru mengajakmu bermain sesuai kemampuanmu. Penampilanmu yang terakhir itu, hanya kebetulan. Kami juga sempat heran, apa yang membuatmu bermain seganas itu, serupa orang kesurupan. Dari analisa tim kami yang menyaksikan permainanmu di lapangan dan dari tilikan rekaman pertandingan, kami menyimpulkan yang bermain itu bukan kamu. Itu pasti roh salah seorang bintang sepakbola yang telah mati, yang meminjam dan merasuki ragamu. Dialah sebenarnya yang mencetak gol spektakuler itu, bukan kamu.”

Gerak tipu yang ia peragakan menurutnya biasa saja, tapi ternyata mengecoh dan membuat seorang bek kiri tim lawannya terjatuh sendiri. Sedetik takjub, lalu merasa mendapat asupan semangat, ia terus meliuk-liuk dengan bek yang tersisa terus memepet, dan tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan penjaga gawang. Hampir ia tertawa. Kiper itu agak grogi, antara mau maju memotong laju geraknya atau tetap bersiap menyongsong kedatangan bolanya, dan di belakang kiper itu ia lihat gawang yang menganga mendadak berubah rupa menjadi nganga mulut orang yang menemuinya itu, yang nyerocos, “Kamu takut dipecat dari klubmu? Heh, pemecatanmu hanya menunggu  waktu. Cepat atau lambat, pelatih akan menendangmu keluar dari tim, bisa jadi serupa tendangan-tendanganmu yang selalu melenceng dari mulut gawang. Kamu digelari si Spesialis Tendangan Melenceng….”

Saat itulah, dengan mengayun kaki sekuatnya, ia merasa sedang menjejalkan buntalan ke dalam mulut orang yang menemuinya itu. Bola memelesat deras, sedikit menyamping seakan mau keluar, tapi ternyata bergerak memuntir ke dalam gawang. Kiper hanya bisa melongo mengetahui jala di belakangnya bergetar diterpa deras laju bola.

Jeda hanya setarikan napas setelah bola masuk, peluit panjang akhir pertandingan melengking nyaring. Ia melepas ledak teriakan. Langit malam di atas lapangan meraup gema lantang suaranya. Teriak itu ia ulang-ulang, sembari berlari ke arah pagar pembatas penonton. Gemuruh sorak ribuan pendukung timnya dari atas tribune menyambut gol itu. 

Kecuali ia sendiri, tidak ada yang tahu kata apa yang ia teriakkan. Posisinya agak jauh, berlari meninggalkan kejaran teman-teman setim yang ingin berselebrasi. Yang ia teriakkan umpatan, makian pada pada orang-orang yang menemuinya, yang ia anggap telah suapi mulutnya dengan buntalan. “Nah, makan tuh bola, penyuap!!”

Gelegak euforia nyaris meledakkan dadanya, melipat gandakan pula tenaganya. Pagar yang mengantarai tepi lapangan dengan tribune ia panjat, dan dari puncaknya ia melemparkan tubuhnya ke arah hiruk penonton. Malam itu ia bisa buktikan bahwa se’sosok’ roh bintang sepak bola tidak sedang meminjam dan merasuki raganya, gol penentu itu ia hasilkan sendiri.

Dengan mengutip sebagian kejadian di atas, si pelapor memperjelas laporannya, “Sejak itulah ia hilang. Ia hilang di tengah sorak-sorai euforia pendukung tim kami.”

Sesaat menatap keseriusan si pelapor, polisi bertanya dengan pertanyaan standar, “Siapa namanya?”

“Seto,” jawab pelapor, yang juga pelatih tim. “Sejak jadi pemain bola, ia ganti namanya menjadi De Sese. Nama ini lebih dikenal orang daripada nama aslinya.” Sesaat, pelatih itu termangu penuh sesal. Di saat mulai merasa menyukai permainan De Sese, anak asuhnya itu malah hilang.

“Jadi, kami mesti mencari seorang pemain bola bernama De Sese yang hilang; atau seakan menguap, saat dikerumuni pendukungnya,” simpul polisi, tersenyum tapi terheran-heran.

Pelapor itu tidak tahu, bahwa di antara riuh pendukung timnya malam itu, ada empat orang sedang sesak napas menanggang amarah menyaksikan gol De Sese. Keempatnya merasa sia-sia telah membayar anak itu, dan merasa dipermainkan. Keempatnya ikut membaur dalam keriuhan penonton, ikut pula melempar-menimang tubuh De Sese sebelum menarik dan membawanya pergi. ***

Pangerang P. Muda: Menulis cerpen di beberapa media. Kumpulan cerpen terbarunya yang terbit: Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi, 2019). Berdomisili di Parepare.

Buku, Resensi

Suara Pengungsi dalam Puisi

Oleh Al-Mahfud

Selain menjadi media ungkap yang ampuh menyentuh ceruk-ceruk terdalam palung hati seseorang, puisi juga sering menjadi media untuk menggambarkan keadaan orang-orang yang kesusahan. Melalui puisi, orang bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain yang sedang dilanda musibah, bencana, dan peperangan. Dari puisi, orang bisa terlempar ke suatu keadaan dan perasaaan, merenungi gejolak rasa di dalamnya, sehingga berempati dan bersimpati karenanya.

Hal tersebutlah yang dilakukan Khaled Hosseini dalam buku Sea Prayer. Di buku terbarunya ini, penulis kelahiran Kabul, Afghanistan tersebut menyuarakan nasib, kesedihan, juga harapan para pengungsi. Dihiasi ilustrasi yang begitu “hidup” dari Dan Williams, puisi-puisi Khaled mengajak kita menyaksikan, meresapi, dan merenungi nasib orang-orang yang hidup di tengah konflik, peperangan, kemudian pergi mencari suaka ke negeri orang.

Kita sering menyaksikan di media kabar tentang perang yang selalu berisi penderitaan, kerusakan, korban. Tak berhenti pada kerusakan fisik, kerugian material, dan hilangnya rasa aman. Lebih jauh, perang dan konflik dalam waktu yang lama kerap kali memaksa orang-orang pergi mengungsi, mencari tempat hidup yang lebih aman untuk sekadar ditinggali.

Namun, perjalanan mencari suaka tak pernah mudah. Kerap kali mereka dihadang banyak hal, baik orang-orang yang tak cukup ramah menerima kehadiran mereka, juga karena medan yang berbahaya. Berbagai kesusahan tersebut tergambar dalam puisi-puisi Khaled Hosseini. Ia mengaku, buku Sea Prayer mula-mula terinspirasi kisah seorang anak kecil yang menjadi bagian dari pengungsi Suriah. Anak tersebut meninggal karena tenggelam di Laut Mediterania.

Anak tersebut ialah Alan Kurdi, anak lelaki berusia tiga tahun yang menjadi bagian dari pengungsi yang mencari suaka di Eropa pada September 2015. Pada tahun tersebut, selain Alan Kurdi, ada sekitar 4.176 pengungsi lainnya yang juga tewas dan hilang di laut dalam perjalanan mencari suaka. Bertolak dari nasib yang dialami anak tersebut, Khalid seperti merasuk dalam perasaan orang-orang yang terpukul dan menanggung kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai.

Lebih spesifiknya, puisi-puisi Khaled seperti menyuarakan perasaan seorang ayah yang bercerita, mengenang, berdoa, dan berharap. Seorang ayah yang mengajak bicara anaknya yang bernama Marwan, yang begitu disayanginya, namun telah tiada. Mula-mula, kenangan masa kecil sang ayah di Suriah dimunculkan untuk menggambarkan keadaan desa yang semula damai, aman, dan tentram. Setiap pagi kami bangun dan mendengar/gemerisik pepohonan zaitun diterpa angin sepoi-sepoi/embik kambing-kambing nenekmu/ Udara yang sejuk dan matahari/tampak pucat layaknya buah kesemek/ di sebelah timur.

Akan tetapi, kedamaian tersebut mulai berubah sejak sering muncul demonstrasi, penyerangan, dan korban-korban yang berjatuhan. Awalnya, muncul demonstrasi/lalu pengepungan/langit memuntahkan bom-bom/ kelaparan/pemakaman. Di bagian ini, Dan Williams melalui goresan kanvasnya menghiasi puisi Khaled dengan ilustrasi-ilustrasi yang menggambarkan keadaan kota yang porak-poranda, bangunan-bangunan yang roboh, dengan kepulan asap hitam membumbung tinggi membuat lanskap muram di langit.

Khaled menulis keadaan di mana orang-orang harus bertahan hidup, bahkan terbiasa di tengah keadaan tersebut. Kau tahu kawah bom bisa dibuat menjadi kolam renang/kau belajar bahwa ibu, saudari perempuan, dan teman sekolah bisa ditemukan bersembunyi di celah-celah sempit antara beton.

Puisi-puisi di buku ini mencerminkan perasaan seorang ayah, yang bercerita kepada anaknya tentang masa kecil di daerah yang damai, juga Kota Homs yang jalan-jalannya ramai, terdapat di dalamnya masjid, gereja, serta pasar tempat orang-orang membeli makanan segar. Sebelum kemudian kota tersebut berubah menjadi daerah mencekam karena konflik dan perang. Keadaan kota yang aman dan damai di awal yang digambarkan membuat kita semakin bisa merasakan betapa sedihnya orang-orang di dalamnya, ketika kemudian semua itu sirna dan berubah menjadi tempat yang mencekam dan hampa.

Puisi-puisi beranjak menggambarkan saat-saat ketika orang-orang di kota tersebut harus pergi mengungsi. Menuju tepi laut, berkumpul, untuk kemudian memulai perjalanan jauh berlayar membelah lautan penuh bahaya. Menggambarkan kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan saat para pengungsi sampai di tepi lautan, Khaled masih mengungkapkan dan menyuarakan perasaan seorang ayah yang memikirkan bagaimana nasib anaknya, Marwan, saat bersama ibunya, saat mereka ada di antara pengungsi lainnya.

Ada keinginan untuk bisa menenangkan, namun tetap dalam kekhawatiran. Bahwa anaknya sedang berada di tengah lautan. Lautan yang dalam, bergelombang, bahkan berbahaya. Kukatakan kepadamu/Genggam erat tanganku/Tidak akan ada hal buruk yang terjadi/ Tapi itu semua hanyalah kata-kata/Tipu daya seorang ayah/Tapi tipu daya itu membunuhku/membunuh kepercayaanmu kepadaku/Karena yang dapat kupikirkan malam ini/hanyalah begitu dalamnya lautan/dan betapa luas/serta tanpa ampun/Betapa aku tidak berdaya melindungimu dari lautan itu.

Ilustrasi menyuguhkan potret kerumunan pengungsi yang berjalan berbondong-bondong. Dan Williams menggoreskan kanvas, garis demi garis memberi kita penampakan sebuah kapal dengan muatan penuh pengungsi. Sebuah kapal tak begitu besar yang terombang-ambing di lautan bergelombang. Ketika kapal sudah meninggalkan tepi pantai dan mengarungi lautan, yang bisa dilakukan hanyalah pasrah dalam harap dan doa. Karena kau, kau adalah muatan berharga, Marwan/muatan paling berharga dari semua muatan yang pernah ada/Aku berdoa agar lautan mengetahui ini/Insya Allah. 

Buku puisi Sea Prayer menjadi cara Khaled memberi penghormatan dan kepedulian terhadap nasib para pengungsi. Penulis yang karya-karyanya terjual puluhan juta eksemplar di seluruh dunia tersebut juga seorang Duta Persahabatan bagi UNHCR, serta pendiri Yayasan Khaled Hosseini. Sedangkan Dan Williams merupakan seorang seniman dari London yang ilustrasi-ilustrasinya telah banyak menghiasi berbagai media ternama di dunia. Buku ini menjadi dedikasi mereka berdua untuk para pengungsi. Sebagian royalti hasil penjualan buku ini disumbangkan ke UNHCR dan yayasan Khaled untuk membantu meringankan beban para pengungsi di seluruh dunia.

Paduan puisi Khaled dan ilustrasi Dan Williams memberi gambaran nasib pengungsi dalam benak siapa pun yang membacanya. Rasa sedih, cemas, khawatir, gelisah, dan penuh harap, menjadi bentuk-bentuk emosi yang dihantarkan lewat puisi dan dirasakan siapa pun dari belahan dunia mana pun. Buku puisi ini mengabarkan nasib pengungsi ke segala penjuru bumi. Menggugah emosi, menumbuhkan simpati.

*Al-Mahfud, penikmat buku, dari Pati. Menulis ulasan buku di berbagai media massa, lokal maupun nasional.

Cerpen

Satu Menit di Neraka

Cerpen Daruz Armedian

Bandu mati suri dan ketika hidup kembali, ia menceritakan pengalamannya satu menit berada di neraka. Orang-orang setempat tidak ada yang percaya, meskipun kemudian tetap menyimak ceritanya.

Orang-orang setempat yang tidak percaya mengenai pengalaman Bandu sewaktu mati tentu saja bukan tanpa alasan. Banyak orang mati suri dan ketika hidup kembali, mereka tidak mengerti apa-apa. Mereka dibuat lupa oleh pencipta semesta ini. Pengetahuan mereka dibuat kembali dari nol lagi.

Orang-orang setempat yang penasaran cerita Bandu tentang satu menitnya di neraka juga bukan tanpa alasan. Siapa yang tidak rindu kebohongan paling asyik di tengah-tengah banjirnya kebohongan yang buruk di dunia maya? Tentu saja penasaran dengan cerita Bandu menjadi pilihan terbaik. Bandu toh memang tukang cerita yang baik. Bandu toh juga bersungguh-sungguh ingin memberikan pengalamannya.  

“Satu menit di neraka ternyata menyedihkan. Kau akan tahu bagaimana malaikat yang digambarkan terbuat dari cahaya itu menjadi begitu bengis. Persis iblis. Mereka tidak peduli ada makhluk-makhluk Tuhan paling mulia tersiksa di neraka. Malaikat itu terus membodami mereka, sampai hancur, sampai tulang-tulangnya menjadi bubur.”

Orang-orang menyimak dengan saksama. Saleho, pemuda yang kebetulan masa kecilnya sering mengoleksi buku kecil Siksa Neraka, melongo sampai pada titik terlebar. Mulutnya seperti ingin memangsa lebih banyak udara.

“Satu menit di neraka, kau akan tahu bagaimana rasanya tulang punggung meleleh, otak mendidih, dan daging matang.”

“Gimana Abang bisa tahu itu sedangkan sekarang Abang baik-baik saja? Abang masih bisa bercerita. Abang masih bernapas seperti biasa.” Celetuk Ahmad Sultan Syafi’i, mahasiswa fakultas dakwah.

“Tunggu dulu, Anak Muda. Masalah ini tidak segampang yang ada di pikiranmu.”

“Terus gimana, Bang?”

“Karena cuma satu menit, maka aku belum disiksa. Aku baru di pinggir neraka dan melihat semua kejadian-kejadian mengerikan di dalamnya.”

“Bukannya satu menit di neraka itu sudah terhitung lama?”

“Aku tidak paham soal itu. Yang jelas, aku belum disiksa. Hanya, Tuhan berencana memasukkan aku ke dalamnya lewat malaikat-malaikat yang bengis itu.”

“Tunggu dulu. Kamu jangan ngawur!” tersinggung karena malaikat dibilang bengis, Ustaz Khaliq angkat bicara, “cukupkan saja ceritamu itu.”

“Mohon maaf, Ustaz. Kalau tidak mau mendengar cerita saya, silakan Ustaz undur diri. Saya akan tetap melanjutkan cerita saya soal di neraka yang siksaannya sangat pedih.”

Ustaz Khaliq geram, alih-alih masih tetap mendengarkan cerita Bandu. Dan tepat ketika cerita itu sampai pada peristiwa yang paling mengerikan (tentu saja tidak perlu ditulis di sini), Ustaz Khaliq tergidik, lalu pergi dan tidak mau mendengarkan cerita mengenai neraka lagi. Terlalu mengerikan, bahkan walau hanya untuk dibayangkan, pikirnya. Lalu satu orang menyusul pak ustaz, lalu satu orang lagi, lalu beberapa orang, lalu semuanya pergi meninggalkan Bandu.

Bandu terbahak-bahak melihat kejadian itu. Sehingga orang-orang yang belum jauh pergi, memandangi Bandu dengan heran. Kemudian terdengar teriakan dari Bandu, “Kalau kalian takut neraka, mestinya tak perlu mengharapkan surga! Kalian menyembah Tuhan atas nama ketakutan!”

Semuanya tersentak. Tetapi, itu tentu bukan hanya karena perkataan Bandu, tapi juga karena tepat pada saat mengucapkan itu, Bandu terbang. Semakin meninggi dan meninggi dan akhirnya tak kelihatan lagi.[]


Daruz Armedian Lahir di Tuban dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Mendapatkan penghargaan cerpen terbaik tingkat remaja di DIY dari Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2016 dan 2017.