Oleh Doni Ahmadi
Sastra Indonesia dalam beberapa waktu ke belakang mulai ramai dengan karya-karya berbentuk novelete atau novela, sedikit contoh, Omong-kosong yang Menyenangkan karya Robby Julianda, Arapaima karya Ruhaeni Intan, Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa karya Faisal Oddang, hingga yang terbaru, Dekat & Nyaring karya Sabda Armandio (selanjutnya akan saya tulis Dio). Dan saya akan mengulas yang disebutkan terakhir.
Secara sadar atau tidak, penulis cenderung keasyikan bermain-main,
ngoceh ngalor ngidul, maupun pamer keterbacaan, pengetahuan serta pengalaman
yang tidak perlu-perlu amat diceritakan dalam bentuk novel. Hal
itu tentu tak bisa dilakukan dalam bentuk novela,
tentu saja. Novela—dengan
keterbatasan—hanya menyisakan sedikit ruang bagi penulis untuk melakukan itu. Namun
jika penulis telah memutuskan untuk novela dan tetap melakukan itu, konsekuensinya hanya dua:
menjadi novela yang mubazir atau cerita pendek yang
kebetulan dipanjang-panjangkan.
Dekat &
Nyaring tidak termasuk dua hal di atas, Dio tidak asyik-masyuk
membiarkan tokoh-tokohnya lompat terlalu jauh dan menceritakan hal lain selain
apa yang ia ingin kisahkan: Gang Patos, sejarah singkatnya (dalam bentuk
alegori maupun secara langsung), hingga kisah-kisah ajaib para penghuninya.
Dekat &
Nyaring cukup padat
menggambarkan kehidupan orang-orang yang bermukim di Gang Patos: Edi, Nisbi,
Anak Baik, Wak Eli, Aziz, Idris, Kina. Bekas penghuni gang Patos: Sam. Serta
satu orang lain dari tempat antah berantah yang turut bersinggungan dengan
penghuni Gang Patos: Dea Anugrah. Setiap tokoh, hidup dengan karakter yang utuh,
tidak lari atau mengalami transformasi seperti banyak tokoh-tokoh di novel—terlebih
pewaktuan dalam novela ini juga tidak terlalu jauh, hanya
sehari dan sesekali putar balik mengisahkan masa lalu dangan porsi yang tidak
terlalu banyak.
Dalam novela ini, misalnya
tokoh Edi. Tokoh ini konsisten dengan paham ‘selalu ada jalan lain’ di sepanjang
cerita: mencari jalan lain meski seringkali tidak sesuai.
“Kenyataan itu
tak membuat Edi putus asa, ia meyakini kalimat kesukannya setiap kali
menghadapi masalah ’selalu ada jalan lain.’ Seperti misalnya, mencincang sanca
dan menjualnya sebagai kobra.” (hlm. 8)
“Edi
menganggukkan kepala. ‘itu masalah mudah. Kita curi saja listrik dari lampu
jalan di depan. Kau tak perlu lagi memusingkan tagihan listrik […].” (hlm. 46)
Tak hanya tokoh Edi, tokoh Nisbi juga berperan konsisten.
Sebagai janda satu anak, ia ditampilkan begitu cerdik
menutupi dosa masa lalunya dengan terus memproduksi
dongeng bagi anaknya—tokoh Anak Baik. Tokoh Aziz, seorang anak yang dengan
kecerdasan mental yang tertinggal sepuluh tahun, juga digambarkan apa adanya
sepanjang cerita: begitu lugu dan polos, hingga didera kemalangan di akhir
kisah karena sifatnya. Lalu tokoh Anak Baik, yang tampil sebagaimana anak-anak
dengan pengetahuan terbatas yang membuatnya mengeluarkan banyak pertanyaan
konyol karena rasa ingin tahu yang tak terbendung. Tokoh
Kina, yang konsisten mencacat segala hal di gang Patos untuk keperluan karya
fiksi yang menurutnya otentik. Dan banyak lagi.
Selain tokoh-tokoh tersebut, yang menarik lagi adalah
bagaimana cara Dio menghidupkan sosok Pak Koksi tanpa pernah memunculkan batang
hidungnya sepanjang cerita. Tokoh ini hidup dan cukup menarik perhatian lewat
dongeng-dongeng hasil ciptaan Nisbi. Ketidakmunculannya tokoh Pak Koksi ini juga
usaha Dio memberi teror kepada seluruh penghuni gang Patos, sekaligus kepada
pembacanya. Seperti yang disebutkan dalam wawancaranya[1]—yang mengatakan bahwa
dalam novela terbarunya ini ia ingin menghadirkan sense of horror tanpa hantu—Dio pun membuka kisah horor melalui cerita
pak Koksi ini.
“[…] Orang Patos membangun desa yang amat bagus—tentu tanpa tulang naga,
dan di seberangnya Orang Koksi mulai membangun desa yang sama sekali
berbeda.[…] Pak Koksi mendatangi Samwau. Ia datang menawarkan ide lamanya,
yaitu menyatukan dua desa agar memiliki tanah yang lebih luas dan sumber daya
alam yang saling melengkapi. […] Suatu sore, seorang tak dikenal masuk wilayah
Orang Patos, orang itu bersin-bersin sampai pingsan. Orang Patos menolong, sebagai gantinya
beberapa hari kemudian Orang Patos ikut bersin-bersin. […] Pak Koksi juga
membuka peluang emas bagi Orang Patos. Ia
akan memberi satu rumah dan mantel bagi Orang Patos yang bersedia tinggal di
wilayah yang sudah disediakan Orang Koksi. […] beberapa orang Patos
yangbersin-bersin mengambil kesempatan itu.”
“[…]Orang-orang Patos hilang satu per satu,” jawab Wak Eli, “Saat mengetahui kabar itu, Samwau segera
berdiskusi dengan Pak Koksi. Pak koksi meminta dukun-dukunnya untuk mencari
tahu penyebab hilangnya orang-orang itu.” (hlm. 40-42)
Dalam kisah yang diketahui seluruh penghuni gang Patos
ini, Dio berusaha menceritakan sejarah singkat gang Patos dengan cara lain yang
lebih cerdik. Alih-alih mengisahkannya dengan gamblang, Dio membuat alegori untuk
Orang Koksi sebagai penghuni kompleks Permata Permai Residence yangdibangun berseberangan
dengan Orang Patos atau gang Patos. Sejarah singkat ini pun juga muncul dalam
porsi yang pas dan diceritakan bergantian oleh tokoh-tokohnya (Nisbi, Edi, Wak
Eli, Kina) kepada tokoh Anak Baik—yang bukan tanpa kebetulan[2]—untuk memahami sejarah
singkat penghuni gang Patos sebelum ditinggal oleh penghuninya.
Tidak cukup dengan alegori tersebut, produksi
ketakutan dalam Dekat &
Nyaring pun dimunculkan lagi lewat
interaksi antar tokohnya. Teror ini ditegaskan lewat sosok Sam—yang merupakan
bekas penghuni gang Patos dan kebetulan berprofesi sebagai Polisi. Berikut.
“Aku mengerti perasaanmu. Aku
tumbuh dan besar di sini, tapi sadarlah. Masa
kejayaan itu sudah lewat, Nis. Lagi
pula mereka tidak meminta kalian pergi secara cuma-cuma,” kata Sam, “Kau bisa pakai uangnya untuk buka warung
atau apalah buat anakmu.”
“Kuingatkan,” kata Sam, mendekatkan wajahnya ke Nisbi, “Dua puluh
tahun lalu dua ratus kepala keluarga tinggal di gang sempit ini. Dua ratus. Ramai
dan damai. Seperti kehidupan yang layak, kan? Aku pikir juga begitu, tapi dulu
aku masih terlalu muda dan naif. Mereka
yang punya otak lekas pindah saat ditawari kesempatanyang lebih baik. Dan sekarang cuma kalian yang bertahan.”
(hlm. 28)
Will Wright dalam Undestanding Genres: The Horror Films menyebut “adegan kekerasan fisik sering menjadi warna utama, misalnya pembunuhan, teror, mutilasi, dan darah.” sebagai salah satu ciri-ciri genre horor. Dalam kisah ini pun, Dio memperlihatkan peristiwa pembunuhan dan darah yang akan pembaca jumpai di babak-babak akhir. Dan dari 8 ciri lain[3] dalam penjabaran Wright, ciri ini sajalah yang dimanfaatkan Dio untuk memasukan sensasi horor dalam kisahnya. Selain itu, Dio juga mengamini pendapat Edgar Allan Poe, J.L Borgel, dan Peter Penzolt dalam ciri-ciri cerita horor dengan menghadirkan salah satu tokoh stereotip yang kerap hadir dalam kisah horor (dukun, tokoh agama, polisi), yang dalam kisah ini, muncul sosok Sam yang merupakan seorang Polisi.
Selain itu, Dio juga membuat
judul buku ini terkesan misterius bagi pembaca[4]. Sepanjang pembacaan,
pembaca akan beberapa kali melihat frasa dekat
dan nyaring—tujuh kali tepatnya—sebagai penanda kisah semakin dekat menuju
puncaknya.
Melihat ini, kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa Dekat & Nyaring adalah novela yang bercerita tentang kaum yang bertahan dan yang
terempas dengan balutan teror sebagai bumbu penyedap. Namun
itu adalah kesimpulan yang terlalu terburu-buru, novela
ini tidak hanya bercerita soal itu saja. Dio juga sedikit memberi pandangannya
terhadap sastra (khususnya untuk para penulis) lewat tokoh Kina—sosok seorang
penulis misterius yang merelakan dirinya menikahi Idris dan bermukim di gang Patos karena ingin menuliskan karya sastra
yang otentik—dan Dea Anugrah—satu-satunya karakter yang hanya berhubungan
dengan Kina dan bukan gang Patos.
Lewat tokoh Kina dan Dea Anugrah, Dio sedikit
menyinggung masalah susastra yang selalu menjadi mitos: menggugah masyarakat
dengan menyuarakan yang tidak tersuarakan. Dio sadar betul, bahwa dengan
menciptakan karya fiksi, ia tidak dapat mengubah apapun, dan itulah yang ingin ia katakan dari sekian banyak gagasan dalam novela tipis berjudul Dekat
& Nyaring ini. Hal itu bisa kita lihat dalam dialog antara Kina
dan Dea, berikut.
“Kenapa sih, kau merasa
perlu mewakili mereka? Itu sama saja dengan kau meremehkan kemampuan mereka.
Mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa perlu kau wakili.”
“Orang perlu melihat
masalah sebenarnya,” kata Kina.
“Kalau begitu tulis saja
jurnal antropologi, esai, atau liputan mendalam. Jangan menulis novel, nggak
akan mengubah apa pun. Kenapa kau nggak fokus memperbaiki tulisanmu sendiri,
atau melakukan hal lain yang lebih bermanfaat seperti beternak lele, misalnya,
ketimbang meromantisir kemiskinan orang lain?” (hlm. 93-94)
Dio memilliki keyakinan bahwa karya
sastra tidaklah bisa mengubah apapun, dan ketimbang penulis sibuk berdakwah dalam
karyanya—yang kemungkinan pesannya tidak sampai atau hanya menjadi kutipan
motivasi di media sosial—maka hal yang lebih baik dilakukan adalah memperbaiki
tulisannya. Dio sadar betul, seberat apapun gagasan yang ditawarkan dalam prosa
fiksi, akan sia-sia saja jika dikisahkan dengan cara yang amburadul.
Melalui novela Dekat &
Nyaring, Dio seolah memberi
pukulan yang lumayan telak bagi penulis yang keasikan berdakwah dalam
tulisannya dan tidak memerhatikan bentuk maupun gaya bercerita.Hal ini bukan
berarti cerita yang memuat gagasan berat selalu buruk, bukan itu. Masalahnya
adalah apakah tujuan penulis menulis cerita? Jika ia ingin menyuarakan yang
tidak tersuarakan, maka pilihan yang bijak adalah menulis esai, opini, ataupun kajian
yang bersifat non-fiksi.
Dalam hal ini, Dio sependapat dengan Edgar Allan
Poe—dalam esainya berjudul “The Poetic Principle”[5]—yang menolak gagasan bahwa
karya sastra sebaiknya memberikan penerangan moral dan karenanya Poe mengusung
ide bahwa karya seni harus ditulis demi karya sastra itu sendiri.
Melalui Dekat
& Nyaring, Dio seperti menjewer penulis yang keasyikan menceritakan hal
tidak perlu dan para pendakwah yang salah tempat dengan frasa dekat dan nyaring, Dio juga berhasil memberi alternatif
untuk para pencerita setelahnya memberi batas dan penanda agar cerita
tak lari terlalu jauh. Melalui tokoh-tokohnya, ia juga berhasil menghadirkan
ketakutan tanpa hantu dan bagaimana manusia dengan segudang imajinasinya bisa
bertahan di situasi yang tidak memungkinan.
Dan jika ada satu hal yang buruk dalam novela Dekat & Nyaring, maka yang patut disalahkan adalah kembali laginya
sosok Dea Anugrah di akhir kisah. Hal yang membuat para pembacanya bertanya,
“Di luar gang Patos, apa hanya ada Dea Anugrah saja?”—selain tentu saja
beberapa kesalahan penyebutan nama tokoh, yang cukup krusial, di tengah-tengah
cerita.
Jakarta, Mei 2019.
[1]
Dalam laman https://jurnalruang.com/read/1538062132-sabda-armandio-gak-perlu-bertele-tele#
[2]Untuk
mengisahkan dongeng Pak Koksi, Dio pun menciptakan tokoh Anak Baik yang polos
dengan segudang rasa ingin tahu dan sedikit keras kepala.Kisah tidak datang
tiba-tiba tanpa motif (sebagaimana banyak prosa buruk yang sekonyong-konyong
berkisah tanpa memerhatikan kausalitas).
[3]
(1) Tokoh utama biasanya adalah korban yang mengalami teror atau tokoh pembawa
bencana. (2) Tokoh Antagonis atau tokoh pembawa kejahatan biasanya terasing
atau tersingkir secara sosial atau bukan bagian dari dunia nyata. (3) Dekor
ruang relatif monoton. Misalnya sebuah rumah, kota terpencil, rumah sakit.
Dekor waktu didominasi malam hari atau suasana gelap. (4) Tokoh agama sering
dilibatkan untuk menyelesaikan masalah. (5) Hal-hal supranatural atau tahayul
dipakai untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa yang tidak dapat dijelaskan
secara rasional. (6) Tokoh anak biasanya memiliki kekuatan berkat kemurnian
jiwa mereka. (7)Adegan kekerasan fisiksering menjadi warna utamanya, misalnya
pembunuhan, teror, mutilasi, dan darah. (8) Teknologi sering menjadi salah satu
pemicu masalah. Kearifan lokal dan kedekatan manusia dengan alam justru yang
menjadi pemenangnya.
[4]Dalam
pembacaan lebih lanjut, motif dari penggunaan frasa berulang ini bisa menjadi
siasat yang sekaligus berperan sebagai benang merah, yang menjaga agar cerita
tak lari terlalu jauh, dan penanda babak-babak penting dan krusial dalam
cerita.
[5]
Dalam A History of Literary Criticism:
from Plato to Present. M.A.R Habib (Blackwell Publishing: Oxford, 2005)
hlm. 464.
Doni Ahmadi , lahir dan tinggal
di Jakarta. Menulis cerpen dan esai. Tulisannya
tersebar di media cetak dan daring. Bukunya, Pengarang Dodit (Basabasi. 2019)