Buku, Resensi

Pada Batas Kematian

oleh Rizki Amir

Perkembangan naskah lakon yang diterbitkan menjadi sebuah buku dalam satu tahun dapat dikatakan sangat lemah. Tak banyak penerbit, baik indie maupun mayor, yang mau bergerak di lingkaran yang sepi pembeli. Selain itu, seorang penulis lakon drama juga harus memutar otak bagaimana caranya agar naskah yang ada bisa enak dibaca. Sebab, di dalam teks lakon, tokoh-tokoh yang dihadirkan untuk sebuah pementasan harus mampu hidup dengan tanda yang dapat dihapus dan menggerakkan sebuah hubungan yang dalam antara premis dan lapis.

Tapi tidak. Tidak untuk premis dan lapis yang dibawa buku naskah lakon Di Seberang Sana karya Yusril Ihza. Ia justru hidup dari naskah yang sudah ada: Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang. Yang menjadikannya tampak berbeda adalah pergeseran peran sutradara: bukan lagi sebagai pemegang tunggal pementasan. Ia turut serta sebagai salah satu tokoh dan hadir sepenuhnya untuk menimbulkan kesan lain agar teks tak hanya bergerak ke satu arah.

Lakon di dalamnya berangkat dari celah latar panggung yang gelap: dalam salah satu adegan, tokoh Sang Sutradara berusaha menghentikan tokoh Sang Aktor untuk sekali lagi menggali keaktorannya dan kembali mempertanyakan bagaimana jika ternyata kematian seorang tokoh bukanlah puncak dari pertunjukan, di balik panggung beberapa belas menit menjelang pentas dimulai. Dan sialnya, hal itu justru berkembang menjadi argumen (atau racauan?) yang tidak mudah dipatahkan.

Sang Sutradara menganggap semua itu percuma adanya, sebab dalam naskah dikatakan, cinta harus memahami bahwa dirinya fana dan tunggal. Ada gerak lambat yang coba disampaikan. Ada rasionalitas yang ditunjukkan untuk melahirkan sesuatu. Tapi mungkin itu belum cukup kuat untuk mengaitkan iman dengan laku dan kehendak melalui proses “berpikir”. Salah satu kutipan:

…..

AKTOR

Bulan Bujur Sangkar mengancamku untuk mengimani sesuatu yang tidak aku yakini kebenarannya. Bulan Bujur Sangkar memaksaku untuk mengatakan “Aku membunuh, oleh sebab itu aku ada!”.

SUTRADARA

Apa perlunya kau benar-benar merasakan kematian atau ingin memotong pembuluh darahmu sendiri hanya untuk sebuah pertunjukan?

AKTOR

Orang Tua dan kematian, keduanya bergelayutan di tiang gantungan. Tentang nasib yang ditanggalkan atau sekadar permainan untuk menghibur kegalauan absurditas selama 60 tahun lamanya. Itulah aku, sebagai tokoh utama pada pertunjukan malam ini.

(hal. 8)

Tampaknya melalui dialog antara Aktor dan Sutradara itu mengatakan bahwa naskah Bulan Bujur Sangkar karya Iwan Simatupang, yang akan diperankan, lahir dalam keadaan absurd. Sebab perlawanan di balik tirai normalnya hanya bisa dilakukan aktor secara terbatas: dengan diam atau membangunkan rasa takut. Tapi di dalam teks, Yusril tidak tertarik untuk memilih keduanya. Ia malah meletakkan lakon baru di batas antara yang riil dan yang subtil dari lakon yang sudah ada.

Lakon Di Seberang Sana tidak hanya menawarkan kerangka berpikir tertentu dalam melihat bagaimana jalin-kelindan antara manusia sebagai pelaku yang berkehendak dengan kenyataan kesehariannya, tetapi juga hubungan timbal balik itu bisa seiring dalam upaya mendialogkan antara gagasan teks dengan kenyataan dalam kehidupan.

Sebagai orang yang menghidupi teater, Yusril tidak hanya melakukan strategi “manipulatif” yang artistik, tetapi juga bagaimana pemikiran tentang pencarian makna dari kematian yang memiliki banyak tanda berujung pada kepasrahan diurai sedemikian rupa. Tentu saja, praktik keyakinan semacam itu perlu juga dibaca sebagai teknik permainan berdasarkan metode dan sistem pementasan.

Coba kita cermati batas antara teks itu kembali. Dengan memandang laku dengan keraguan, Sang Aktor sadar akan kehidupan di luar teater yang tragis; ia menganggap Sang Sutradara bukanlah seseorang yang paling tahu tentang peran yang diciptakannya. Bisa kita lihat, Sang Aktor—sang aktor yang bukan lagi dari naskah Iwan Simatupang—telah melihat dari dekat, bahwa panggung adalah kontradiksi. Sementara itu Sang Sutradara kita, dalam keyakinannya yang lurus, ia tak pernah berubah. Tak akan pernah berubah.

Bagian paling ganjil dan menggelikan dalam buku lakon itu adalah dengan menyuguhkan perbincangan kaku, misalnya, dengan mengutip harakiri untuk berserah pada kematian dan disambut dialog lempeng adanya—dan di beberapa titik, pembaca pun jadi terjebak pada keberulangan. Ikatan dialog antar tokoh lebih diperkuat di beberapa tik-tok sebelum naskah usai. Sebagai contoh kata Sang Sutradara: “Pada akhirnya, kau masih belum bisa memaknai kehidupan di atas panggung. Kalau begitu, aku akan mengakhiri pertunjukan ini tanpa tepuk tangan. Selamat malam.” (hal. 20)

Kenapa dialog antar tokoh yang ditulis seakan-akan bersifat problematis? Bisa jadi, melalui buku lakon drama ini, Yusril ingin menjadikan eksistensi sebagai subjek wacana dan secara bersamaan memberikan kesadaran baru tentang bentuk-bentuk kematian. Bagaimana pun juga ada sesuatu yang tidak akan selesai, yang menyebabkan lakonnya tidak utuh: motif yang ditawarkan naskah Bulan Bujur Sangkar sebagai pondasi penciptaan memiliki standar ganda. Meskipun, saya pikir, itu hanya salah satu sebabnya.

Namun, terlepas dari hal itu, para pengkhusyuk sastra-teater, khususnya wilayah Jawa Timur, kini setidaknya telah mengantongi satu nama baru dari kota Surabaya: Yusril Ihza, seorang pemuda yang menulis naskah drama, yang akan menambah variasi bacaan kita di babak baru percaturan dunia sastra-teater.


Rizki Amir lahir di Sidoarjo, 1995. Terlibat dalam Komunitas Rabo Sore. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Rahasia Pasar (2017). Terpilih sebagai penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival 2017. Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.

Buku, Resensi

Dokumentasi Sejarah dan yang Direntankan

Oleh Rachman Habib

Kumpulan cerpen Faisal Oddang ini bisa dibaca sebagai dokumentasi sejarah—tapi kalau penyebutan ini berat dan bermasalah, lewati saja. Di dalamnya terentang sejarah Sulawesi Selatan. Terutama periode pasca revolusi kemerdekaan sampai 1965.

Di antara topik pentingnya adalah pemberontakan Negara Islam Indonesia, Permesta, dan pemberontakan komunis. Kehadiran karyanya mengisi ruang kosong khazanah sastra Indonesia yang kerap berpusat di Jawa jika menyangkut topik-topik tersebut.

Selain itu, topik tersebut jarang diangkat oleh penulis Sulawesi Selatan lainnya, di mana kebanyakan berfokus pada kearifan lokal. Bukannya Fai juga tidak menulis kearifan lokal. Dalam buku ini terdapat beberapa, misalnya Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon (cerpen terbaik Kompas 2014), Sebelum Berangkat Ke Surga, dan Yang Terbaring Di Rumah Arung, Pagi Itu.

Rentang sejarah dalam karya ini menunjuk pada Indonesia saat dalam keadaan darurat. Kata Agamben, negara dalam kondisi darurat bisa menunda hukum. Agamben menyebut status negara tersebut sebagai “kondisi pengecualian” (state of exception). Negara selalu dapat menetapkan hukum dan bediri di luarnya atas nama kedaruratan, seperti demi stabilitas nasional. Dalam kondisi ini negara memiliki kekuasaan “luar biasa” untuk mengeluarkan warganya menjadi berstatus bukan warga, sehingga mereka bersifat—meminjam istilah Arendt—stateless person. Dengan begitu warga tersebut bisa dengan mudah dikucilkan, dibunuh, dan hak-hak dasarnya sebagai warga dirampas (Robet dan Tobi 2014: 168).

Warga yang dieksklusi ini disebut sebagai Homo Sacer. Subjek yang tidak diakui, boleh dibunuh dan yang membunuhnya tidak mendapat hukuman. Negara modern, tidak pernah absen dalam memproduksi Homo Sacer. Indonesia pun begitu. Dalam buku ini, Anda dapat menjumpai para Homo Sacer.

Pada cerpen Jangan Tanya Tentang Mereka yang Memotong Lidahku Anda akan menjumpai kisah para Bissu yang dibersihkan pada 1965 dalam operasi militer. Pendeta transgender dalam tradisi pra-Islam di Bugis ini dituduh mengkhianati Tuhan serta dianggap bagian dari kaum merah (sebutan untuk komunis). Para Bissu diburu dan dibunuhi dengan cara-cara keji. Satu di antaranya ada yang diikat dan ditenggelamkan di danau, juga ada yang dipotong lidahnya dan dijadikan tahanan politik.

Konon, sekarang jumlah Bissu tinggal sedikit. Berkurangnya Bissu disebabkan pembersihan pada 1965, juga pada pemberontakanNegara Islam Indonesia (DI/TII) tahun 1953.

Kasus yang sama terjadi pada penganut kepercayaan Tolotang dalam cerpen Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu. Orang-orang Tolotang yang menyembah Dewata Sewwae ini oleh tentara dipaksa meninggalkan kepercayaan mereka untuk menganut agama resmi dan mencantumkannya di KTP. Seorang tentara mengancam pada pimpinan orang Tolotang : ”Uwak harus memilih, atau hak sebagai warga negara tidak kalian dapatkan, bisa saja diusir, bisa saja ada yang bertindak di luar kendali. Uwak sudah tahu sendiri, bukan, apa yang akan terjadi?” (Hal—25).

Mereka akhirnya memang menerima perubahan agama di KTP meski harus menerabas dilema menyakitkan. Andai mereka menolak, barangkali terjadilah apa yang diancamkan tentara itu kepada mereka: hak sebagai warga negara tidak didapatkan.

Perlakuan serupa, yang mengancam hak mendasar sebagai manusia sekaligus warga negara, juga menimpa mantan gerilyawan kemerdekaan atau komunitas muslim sipil lantaran dicurigai terlibat dalam pemberontakan DI/TII. Di bawah keadaan darurat operasi menundukkan pemberontakan, warga sipil kerap berada di posisi rawan. Karena sewaktu-waktu, dan memang begitu adanya, mereka juga menjadi sasaran hanya disebabkan kecurigaan tak berdasar.

Cerita tentang mereka yang rawan tersebut dapat Anda jumpai dalam cerpen Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon?, Peluru Siapa Yang Kami Temukan Ini?, Di Sana, Lima Puluh Tahun Yang Lalu, dan Siapa Suruh Sekolah Di Hari Minggu?.

Tidak hanya menjadi objek kekerasan negara, tetapi juga objek kekerasan sesama warga ketika kekerasan terpolarisasi secara horizontal. Jadi bisalah dikatakan bahwa dalam kondisi kedaruratan negara memproduksi subjek-subjek rentan. Di mana tidak ada kepastian keamanan dan perlindungan terhadap hak-haknya terhindar dari kekerasan.

Dan selanjutnya, belajar dari sejarah, kita lihat bahwa tak satu pun dari pelaku pembunuhan atau pelanggaran hak asasi manusia memeroleh hukuman. Alih-alih, pelakunya justru melenggang bebas. Persis di titik begini Agamben menjelaskan bahwa “kondisi kedaruratan” (state of exception) menyediakan kondisi alamiah atas adanya kekebalan hukum terhadap pelaku kekerasan. Termasuk ketika pelakunya adalah negara sendiri (Robet dan Tobi 2014: 175).

Gaya Bercerita

Lain daripada itu ada sedikit catatan. Sebagai dokumentasi sejarah, buku ini memang terbilang berhasil. Sementara perihal gaya bercerita lain soal. Gaya bercerita keseluruhan cerpen di buku ini nyaris seragam. Barangkali sebab dua pokok. Pertama, Fai kerap mempekerjakan kisah cinta untuk membangun tangga dramatik atau untuk memberi kejutan. Pola yang diulang di beberapa cerpen membuatnya kehilangan daya gigit. Kedua, hampir di semua cerpen tidak muncul karakter yang hidup kecuali digerakkan oleh suara pencerita. Bila pun ada, karakter tersebut kalah ketimbang narasi liris kalimat-kalimat pengarang.

Namun, apa pun catatannya, buku ini menunjukkan bahwa Fai telah berupaya melihat dan menghadirkan narasi sejarah—mengutip esainya, “dengan cara berpikir sebaliknya. Dengan lugu, dengan kembali dan meminjam cara pikir kanak-kanak.”[]


Rachman Habib, mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, dan aktif di Teater ESKA Yogyakarta.

Buku, Resensi

Kuasa Seksualitas Kita

oleh Vera Safitri

Bagaimanapun, peradaban manusia diciptakan oleh seksualitas kita yang rumit. Seksualitas menciptakan bahasa, hubungan kekerabatan, penguasaan alat dan teknologi, norma, hukum, politik, struktur, hingga sistem ekonomi masyarakat kita.

Bisa jadi, kita akan berdiri dengan tegak kepala saat menghadapi argumen bahwa manusia terlahir dengan seperangkat kebebasan dan kesetaraan. Bahwa peran gender serta posisi perempuan dan laki-laki sekadar hasil konstruksi sosial saja. Sebuah hal yang diimani banyak masyarakat industrial modern, serta menjadi penguat banyak gagasan yang melindungi sekaligus mengacaukan gaya bermanusia kita lewat cetusan Hak Asasi Manusia.

Tapi bagaimana kalau sebaliknya? Bagaimana kalau kebebasan dan kesetaraan yang agung itulah hasil konstruksi besar-besaran kita? Dan peran gender serta posisi perempuan memang terjadi oleh rentetan persoalan seksualitas-reproduksi yang biologis dan masuk akal? Kita pasti lemas dan terbelalak, bahkan sampai marah.

Jared Diamond, sekali lagi merepotkan dirinya sendiri dengan berusaha menjawab pelbagai keganjilan kemanusiaan kita soal seksualitas dan reproduksi itu. Lewat bukunya, Why Sex is Fun: Evolution of Human Reproduction yang dalam edisi Bahasa Indonesia terbitan KPG dijuduli,  Evolusi Reproduksi Manusia (2019). Kita patut curiga, perubahan judul yang dilakukan KPG ini adalah demi menghalau imaji pembaca yang mengira buku ini sebagai buku panduan seks. Jared sendiri pun telah mewanti-wanti hal ini lewat kata pengantar yang ditulisnya.

“Buku ini tidak akan mengajari anda posisi-posisi baru untuk menikmati hubungan seks atau membantu anda mengurangi rasa tidak nyaman akibat kram ketika menstruasi atau menopause. Membaca buku ini juga tidak akan mengobati sakit hati akibat mengetahui pasangan anda berselingkuh. Tapi buku ini mungkin dapat membantu anda untuk mengerti, mengapa tubuh anda bertingkah laku sebagaimana sekarang” (hlm. xi).

Dengan begitu, tinggallah sisa judul serius, yang megah dan membosankan. Itu sama seriusnya dengan keteguhan Jared menggunakan pendekatan biologis-antropologis pada buku-bukunya, termasuk pada bukunya kali ini.  Melalui Evolusi Reproduksi Manusia,  Jared menjelentrehkan betapa sistem masyarakat manusia di bumi ini sangat berurusan dengan kesenjangan biologis dan penalaran fisiologis yang bukan hanya merobek-robek skripsiku seputar gender dan perempuan, tapi juga mengusik kedamaian dan heroisme feminis yang tegar sentosa berdiri di tengah-tengah kita sejak lama.

Di telinga kita yang modern, kita tentu tidak ingin mendengar tuduhan Jared bahwa, secara evolusioner, laki-laki dan perempuan tidak banyak berkembang mengenai pembagian kerja: “Laki-laki selalu lebih menghabiskan waktu memburu hewan-hewan besar, sementara perempuan mengumpulkan makanan berupa tumbuhan dan hewan kecil, serta mengurus anak. Pembagian kerja serupa bertahan dalam masyarakat industrial modern” (hlm 131). Karena kedua pernyataan Jared itu justru lebih terdengar seperti, kalau alasan biologis yang selama ini tidak kita percayai, nyata berkuasa dalam banyak segi sosial kita dan bahwa kromosom x dan y yang kita miliki diam-diam membangun maskulinitas-feminitasnya yang menyebalkan.

Jared Diamond bukanlah satu-satunya tersangka atas gonjang-ganjing ini, kita ingat ada Yuval Noal Harari (Sapiens, 2011) dan Ivan Illich (Matinya Gender, 1998) yang juga mengurusi hal serupa. Yuval Noah Harari malah sempat menyebut manusia memiliki gen patriarkis. Baginya dalam banyak hal, kesenjangan biologis antara laki-laki dan perempuan dengan sengaja telah membentuk sistem yang timpang. Tapi tentu masyarakat modern seperti kita ogah diusik dengan kenyataan seperti itu. Bertahun-tahun kita menyalahkan konstruksi sosial-budaya atas kenyataan pahit yang ditimbulkan patriarki. Beribu penelitian sudah dilakukan demi mengusir keraguan kita soal itu. Kita sekuat tenaga menyangkal bagian-bagian biologis ikut berperan dalam ketimpangan ini. Sehingga segala penjelasan Jared mengenai seksualitas dan reproduksi kita itu menggenapi pertanyaan besar yang sempat dilemparkan Yuval lewat buku Sapiens: “Jika sistem patriarkis didasari oleh mitos-mitos yang tak berdasar biologis, maka apa yang menyebabkan sistem itu menjadi sedemikian universal dan stabil?” (hlm. 190).[]


Vera Safitri Esais dan ilustrator anak, baru saja merampungkan skripsinya sebagai mahasiswi Sosiologi, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Buku, Resensi

Antologi Kenangan dalam Bangun Pagi (semoga) Bahagia

oleh Indah Darmastuti

“Tugas seorang pemimpin adalah:

 membuat rakyatnya bangun pagi bahagia”

Kalimat pembuka itu diletakkan di halaman awal, di bawah foto tiga laki-laki dalam buku lakon bersampul paduan hitam dan krem. Sepertinya Eswe, si Penulis lakon ingin meyakinkan pada siapa pun bahwa kebahagiaan itu penting dan hak setiap umat sehingga ia mencantumkannya sebagai salah satu tugas seorang pemimpin (ideal).

Tetapi dalam 9 naskah plus 1 prolog dengan tokoh tiga pemuda: Bas, Bob, dan Frank itu lebih banyak mengobrolkan tentang kesedihan juga kenangan-kenangan pahit, bahkan luka yang diproduksi dalam keluarga yang semestinya menjadi salah satu sumber utama kebahagiaan sebelum para tokoh itu masuk pada kancah masyarakat dan bagian dari sebuah bangsa yang bergolak pada 1997-1998 semasa mereka remaja. Mereka seumuran dan berkawan dekat.

Buruknya Hubungan Keluarga

Tiga tokoh itu punya akar kepahitan yang ditanam oleh orangtua yang buruk menurut ukuran pada umumnya. Tokoh Bas bermasalah dengan ibunya. Entah ada persoalan apa sehingga  ibu mengutuk anaknya sedemikian rupa. “Pergi dari rumah ini! jadilah gelandangan […]” dan “Matilah seperti bangkai tikus, tak ada yang akan menangisimu […]” (hal. 35 dan 36).

Pun pada tokoh Frank yang bertengkar dengan ayahnya. “Frank, kamu bukan anakku, kamu anak kelelawar malam yang tersesat menghamili ibumu.” Pada puncak pertengkaran itu, tiba-tiba ayah Frank bertanya “Apa cita-citamu, Nak?” / “Seniman teater,” dan seperti ayah yang buruk, ia langsung menghakimi anaknya dengan mengatakan bahwa masa depan Frank buram seperti kertas dan ayahnya bilang: “Lebih baik kamu mati sekarang, Frank.” (hal 38-39).

Bob tak jauh beda. Ia mendapat pesan dari neneknya sesaat sebelum meninggal: “Jadilah jahat sebelum orang lain mengajarimu kejahatan, sebab kejahatan yang orisinil datang dari hati nuranimu. Kejahatanmu akan lebih berkwalitas dari seorang kriminal atau koruptor. Sekalipun persoalan keluarga semacam itu ada, aku membayangkan betapa berat untuk meraih kebahagiaan itu, apalagi kalau itu menjadi salah satu tugas seorang yang memimpin.

Saya mencurigai, ada apa dengan Eswe sehingga memilih menghadirkan orang tua (ibu, ayah, nenek) yang buruk menurut pandangan umum. Saya katakan begitu, karena siapa tahu itu baik menurut beberapa kalangan karena satu dan lain hal.

Penyebutan tokoh-tokoh terkenal

Memang tak selalu naskah lakon ada kandungan alur cerita, plot, konflik dan tematik khusus yang mengarah pada sebuah titik seperti novel. Seperti dalam buku lakon ini, kita bisa menyimak obrolan tiga bersahabat tentang apa saja sebelum akhirnya mereka dibawa ke persoalan yang akan diangkat oleh Eswe: Reformasi. Tetapi perihal peristiwa 1998 itu hanya satu bagian saja, selebihnya tetap mengangkat obrolan-obrolan anak muda pada zamannya. 

Salah satu tema obrolan tiga tokoh itu selain tentang cita-cita, mereka mengungkap tokoh-tokoh yang mereka kagumi. Bas yang disumpahi ibunya itu mempunyai tokoh idola: Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Christina Marta Tiahahu, R.A. Kartini, Laksamana Malahayati, Bunda Theresa, Panglima Polim dan Nabi Muhammad SAW. Kecuali Kanjeng Nabi Muhamaad dan Panglima Polim, tokoh yang dikagumi Bas semuanya Pe..rem..pu..an. Benarkah tak ada konflik psikologi tokoh Bas pada makhluk perempuan dan sosok ibu? Di sini tak ada penjelasan tentang mengapa ia yang mempunyai hubungan buruk dengan ibu, sangat mengagumi tokoh-tokoh perempuan. Atau barangkali Bas merindukan sosok ibu yang baik dan penuh kasih sehingga ia mengambil tokoh idola perempuan?

Frank—si anak kelelawar itu mengagumi Sukarno, Hatta, Syahrir dan Helen Keller. Sekali lagi, selain Helen Keller, tokoh yang dikagumi Frank adalah la..ki..la..ki.. tak ada trauma atau gejolak psikologi pada tokoh Frank. Entah mengapa tokoh Frank itu mengagumi Helen Keller yang difabel netra-rungu-wicara. Barangkali karena Helen Keller juga pengamat politik. Tetapi di sini tetap tak ada penjelasan, mengapa tokoh Frank yang mempunyai hubungan buruk dengan ayahnya itu justru mengagumi sosok laki-laki atau Frank merindukan sosok ayah yang mendukung dan mengayominya sehingga ia mengidolakan tokoh laki-laki.    

Lalu, Bob yang mendapat pesan dari nenek ajar menjadi penjahat berkualitas itu mengagumi Suharto dan Tan malaka dengan alasan: Tan pemikir komunis, sedang Suharto berhasil mengkomuniskan banyak orang. Satir yang pas. Di sini tampak sekali salah satu kekuatan Eswe untuk melontarkan kritik pada sebuah peristiwa dengan cara berada di antara dua kutub yang berlawanan.

Lagu Daerah

Dituliskan dalam teks, peristiwa berkumpulnya tokoh Bas, Bob dan Frank adalah 1997-1998 ketika Penataran P4 menjadi agenda wajib diikuti oleh setiap remaja garapan “pabrik” orde baru untuk setiap warga negara yang mengaku nasionalis dan berpancasila. Yang salah satu mata pelajarannya adalah mengenal lagu-lagu daerah: O Ina Ni Keke, Gambang Suling, Soleram, Apuse.

Mereka tak menyanyikan lagu pop atau dangdut yang mungkin bisa dipakai untuk menandai lagu-lagu apa saja yang hit pada masa itu. Tetapi ada tambahan daftar lagi mereka di luar lagu daerah, yaitu: Darah Juang karya John Tobing, lagu tema perjuangan menumbangkan tiran kala itu

Peristiwa serius yang terjadi di negeri ini disampaikan dengan jenaka, dan tak lupa Eswe menyatir apa yang terjadi setelah reformasi: setelah berjuang menggulingkan tiran kakak-kakak mahasiswa yang kala itu melakukan protes akan menangguk keuntungan dengan mendapat bagian kursi-kursi senayan.

Cerita lain yang disentil oleh Eswe adalah tokoh Bob (pengagum Suharto garis keras) Frank dan Bas yang mendukung reformasi tetapi tetap mementingkan persahabatan. Belum ada Facebook memang, tetapi sangat mungkin mereka tidak saling blokir karena di sini mereka bertiga tetap bersatu jualan ikat kepala bertuliskan reformasi. Eswe menangkap ada peristiwa nyempil di sini, bukan menampilkan tokoh sok hero yang berorasi bak politisi karbitan.

Buku naskah panggung ini, mencoba hadir memenuhi takdirnya bahwa pementasan, betapa pun  serius dan berat tema yang diangkat, upaya untuk menghibur dan kelayakan ditonton tetap harus dipikirkan matang. 

Naskah ini ditutup dengan obrolan mereka bertiga tentang evaluasi hidup mereka. Mengevaluasi cita-cita yang selama ini sempat mereka genggam sebagai remaja produk orde baru plus keluarga hancur.

Bob yang semula bercita-cita mati muda, berubah ingin menjadi penjagal sapi. Frank yang semula ingin menjadi seniman teater, beralih keinginan menjadi peternak ikan dan membuka usaha odong-odong. Yang paling pilu adalah Bas, karena kuncinya ada di sini, ketika Frank bertanya “Apa cita-citamu, Bas?”

“Aku hanya ingin bangun tidur bahagia, Frank.” [hal 98]

Pada akhirnya kebahagiaan itu harus dicari sendiri, dikaisnya dari sisa-sisa umur dan paparan persahabatan atau apa pun yang akan terjadi dalam hidupnya. Siapa pun berhak bahagia, termasuk ia yang pernah dikutuk ibunya.  []


Indah Darmastuti, tinggal di Solo. Anggota komunitas Sastra Pawon-Solo. Pendiri Difalitera situs sastra suara untuk difabel netra. yang bisa diakses dan diunduh secara gratis di http://www.difalitera.org atau bisa diakses di spotify.

Buku, Resensi

Dekat & Nyaring: Upaya Mengutuk Penulis yang Keasyikan Bercerita dan Dakwah yang Salah Tempat

Oleh Doni Ahmadi

Sastra Indonesia dalam beberapa waktu ke belakang mulai ramai dengan karya-karya berbentuk novelete atau novela, sedikit contoh, Omong-kosong yang Menyenangkan karya Robby Julianda, Arapaima karya Ruhaeni Intan, Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa karya Faisal Oddang, hingga yang terbaru, Dekat & Nyaring karya Sabda Armandio (selanjutnya akan saya tulis Dio). Dan saya akan mengulas yang disebutkan terakhir.

Secara sadar atau tidak, penulis cenderung keasyikan bermain-main, ngoceh ngalor ngidul, maupun pamer keterbacaan, pengetahuan serta pengalaman yang tidak perlu-perlu amat diceritakan dalam bentuk novel. Hal itu tentu tak bisa dilakukan dalam bentuk novela, tentu saja. Novela—dengan keterbatasan—hanya menyisakan sedikit ruang bagi penulis untuk melakukan itu. Namun jika penulis telah memutuskan untuk novela dan tetap melakukan itu, konsekuensinya hanya dua: menjadi novela yang mubazir atau cerita pendek yang kebetulan dipanjang-panjangkan.

Dekat & Nyaring tidak termasuk dua hal di atas, Dio tidak asyik-masyuk membiarkan tokoh-tokohnya lompat terlalu jauh dan menceritakan hal lain selain apa yang ia ingin kisahkan: Gang Patos, sejarah singkatnya (dalam bentuk alegori maupun secara langsung), hingga kisah-kisah ajaib para penghuninya.

Dekat & Nyaring cukup padat menggambarkan kehidupan orang-orang yang bermukim di Gang Patos: Edi, Nisbi, Anak Baik, Wak Eli, Aziz, Idris, Kina. Bekas penghuni gang Patos: Sam. Serta satu orang lain dari tempat antah berantah yang turut bersinggungan dengan penghuni Gang Patos: Dea Anugrah. Setiap tokoh, hidup dengan karakter yang utuh, tidak lari atau mengalami transformasi seperti banyak tokoh-tokoh di novel—terlebih pewaktuan dalam novela ini juga tidak terlalu jauh, hanya sehari dan sesekali putar balik mengisahkan masa lalu dangan porsi yang tidak terlalu banyak.

Dalam novela ini, misalnya tokoh Edi. Tokoh ini konsisten dengan paham ‘selalu ada jalan lain’ di sepanjang cerita: mencari jalan lain meski seringkali tidak sesuai.

“Kenyataan itu tak membuat Edi putus asa, ia meyakini kalimat kesukannya setiap kali menghadapi masalah ’selalu ada jalan lain.’ Seperti misalnya, mencincang sanca dan menjualnya sebagai kobra.” (hlm. 8)

“Edi menganggukkan kepala. ‘itu masalah mudah. Kita curi saja listrik dari lampu jalan di depan. Kau tak perlu lagi memusingkan tagihan listrik […].” (hlm. 46)

Tak hanya tokoh Edi, tokoh Nisbi juga berperan konsisten. Sebagai janda satu anak, ia ditampilkan begitu cerdik menutupi dosa masa lalunya dengan terus memproduksi dongeng bagi anaknya—tokoh Anak Baik. Tokoh Aziz, seorang anak yang dengan kecerdasan mental yang tertinggal sepuluh tahun, juga digambarkan apa adanya sepanjang cerita: begitu lugu dan polos, hingga didera kemalangan di akhir kisah karena sifatnya. Lalu tokoh Anak Baik, yang tampil sebagaimana anak-anak dengan pengetahuan terbatas yang membuatnya mengeluarkan banyak pertanyaan konyol karena rasa ingin tahu yang tak terbendung. Tokoh Kina, yang konsisten mencacat segala hal di gang Patos untuk keperluan karya fiksi yang menurutnya otentik. Dan banyak lagi.

Selain tokoh-tokoh tersebut, yang menarik lagi adalah bagaimana cara Dio menghidupkan sosok Pak Koksi tanpa pernah memunculkan batang hidungnya sepanjang cerita. Tokoh ini hidup dan cukup menarik perhatian lewat dongeng-dongeng hasil ciptaan Nisbi. Ketidakmunculannya tokoh Pak Koksi ini juga usaha Dio memberi teror kepada seluruh penghuni gang Patos, sekaligus kepada pembacanya. Seperti yang disebutkan dalam wawancaranya[1]—yang mengatakan bahwa dalam novela terbarunya ini ia ingin menghadirkan sense of horror tanpa hantu—Dio pun membuka kisah horor melalui cerita pak Koksi ini.

“[…] Orang Patos membangun desa yang amat bagus—tentu tanpa tulang naga, dan di seberangnya Orang Koksi mulai membangun desa yang sama sekali berbeda.[…] Pak Koksi mendatangi Samwau. Ia datang menawarkan ide lamanya, yaitu menyatukan dua desa agar memiliki tanah yang lebih luas dan sumber daya alam yang saling melengkapi. […] Suatu sore, seorang tak dikenal masuk wilayah Orang Patos, orang itu bersin-bersin sampai pingsan. Orang Patos menolong, sebagai gantinya beberapa hari kemudian Orang Patos ikut bersin-bersin. […] Pak Koksi juga membuka peluang emas bagi Orang Patos. Ia akan memberi satu rumah dan mantel bagi Orang Patos yang bersedia tinggal di wilayah yang sudah disediakan Orang Koksi. […] beberapa orang Patos yangbersin-bersin mengambil kesempatan itu.”

“[…]Orang-orang Patos hilang satu per satu,” jawab Wak Eli, “Saat mengetahui kabar itu, Samwau segera berdiskusi dengan Pak Koksi. Pak koksi meminta dukun-dukunnya untuk mencari tahu penyebab hilangnya orang-orang itu.” (hlm. 40-42)

Dalam kisah yang diketahui seluruh penghuni gang Patos ini, Dio berusaha menceritakan sejarah singkat gang Patos dengan cara lain yang lebih cerdik. Alih-alih mengisahkannya dengan gamblang, Dio membuat alegori untuk Orang Koksi sebagai penghuni kompleks Permata Permai Residence yangdibangun berseberangan dengan Orang Patos atau gang Patos. Sejarah singkat ini pun juga muncul dalam porsi yang pas dan diceritakan bergantian oleh tokoh-tokohnya (Nisbi, Edi, Wak Eli, Kina) kepada tokoh Anak Baik—yang bukan tanpa kebetulan[2]—untuk memahami sejarah singkat penghuni gang Patos sebelum ditinggal oleh penghuninya.

Tidak cukup dengan alegori tersebut, produksi ketakutan dalam Dekat & Nyaring pun dimunculkan lagi lewat interaksi antar tokohnya. Teror ini ditegaskan lewat sosok Sam—yang merupakan bekas penghuni gang Patos dan kebetulan berprofesi sebagai Polisi. Berikut.

“Aku mengerti perasaanmu. Aku tumbuh dan besar di sini, tapi sadarlah. Masa kejayaan itu sudah lewat, Nis. Lagi pula mereka tidak meminta kalian pergi secara cuma-cuma,” kata Sam, “Kau bisa pakai uangnya untuk buka warung atau apalah buat anakmu.”

“Kuingatkan,” kata Sam, mendekatkan wajahnya ke Nisbi, “Dua puluh tahun lalu dua ratus kepala keluarga tinggal di gang sempit ini. Dua ratus. Ramai dan damai. Seperti kehidupan yang layak, kan? Aku pikir juga begitu, tapi dulu aku masih terlalu muda dan naif. Mereka yang punya otak lekas pindah saat ditawari kesempatanyang lebih baik. Dan sekarang cuma kalian yang bertahan.” (hlm. 28)

Will Wright dalam Undestanding Genres: The Horror Films menyebut “adegan kekerasan fisik sering menjadi warna utama, misalnya pembunuhan, teror, mutilasi, dan darah.” sebagai salah satu ciri-ciri genre horor. Dalam kisah ini pun, Dio memperlihatkan peristiwa pembunuhan dan darah yang akan pembaca jumpai di babak-babak akhir. Dan dari 8 ciri lain[3] dalam penjabaran Wright, ciri ini sajalah yang dimanfaatkan Dio untuk memasukan sensasi horor dalam kisahnya. Selain itu, Dio juga mengamini pendapat Edgar Allan Poe, J.L Borgel, dan Peter Penzolt dalam ciri-ciri cerita horor dengan menghadirkan salah satu tokoh stereotip yang kerap hadir dalam kisah horor (dukun, tokoh agama, polisi), yang dalam kisah ini, muncul sosok Sam yang merupakan seorang Polisi.

Selain itu, Dio juga membuat judul buku ini terkesan misterius bagi pembaca[4]. Sepanjang pembacaan, pembaca akan beberapa kali melihat frasa dekat dan nyaring—tujuh kali tepatnya—sebagai penanda kisah semakin dekat menuju puncaknya.

Melihat ini, kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa Dekat & Nyaring adalah novela yang bercerita tentang kaum yang bertahan dan yang terempas dengan balutan teror sebagai bumbu penyedap. Namun itu adalah kesimpulan yang terlalu terburu-buru, novela ini tidak hanya bercerita soal itu saja. Dio juga sedikit memberi pandangannya terhadap sastra (khususnya untuk para penulis) lewat tokoh Kina—sosok seorang penulis misterius yang merelakan dirinya menikahi Idris dan bermukim di gang Patos karena ingin menuliskan karya sastra yang otentik—dan Dea Anugrah—satu-satunya karakter yang hanya berhubungan dengan Kina dan bukan gang Patos.

Lewat tokoh Kina dan Dea Anugrah, Dio sedikit menyinggung masalah susastra yang selalu menjadi mitos: menggugah masyarakat dengan menyuarakan yang tidak tersuarakan. Dio sadar betul, bahwa dengan menciptakan karya fiksi, ia tidak dapat mengubah apapun, dan itulah yang ingin ia katakan dari sekian banyak gagasan dalam novela tipis berjudul Dekat & Nyaring ini. Hal itu bisa kita lihat dalam dialog antara Kina dan Dea, berikut.

“Kenapa sih, kau merasa perlu mewakili mereka? Itu sama saja dengan kau meremehkan kemampuan mereka. Mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa perlu kau wakili.”

“Orang perlu melihat masalah sebenarnya,” kata Kina.

“Kalau begitu tulis saja jurnal antropologi, esai, atau liputan mendalam. Jangan menulis novel, nggak akan mengubah apa pun. Kenapa kau nggak fokus memperbaiki tulisanmu sendiri, atau melakukan hal lain yang lebih bermanfaat seperti beternak lele, misalnya, ketimbang meromantisir kemiskinan orang lain?” (hlm. 93-94)

Dio memilliki keyakinan bahwa karya sastra tidaklah bisa mengubah apapun, dan ketimbang penulis sibuk berdakwah dalam karyanya—yang kemungkinan pesannya tidak sampai atau hanya menjadi kutipan motivasi di media sosial—maka hal yang lebih baik dilakukan adalah memperbaiki tulisannya. Dio sadar betul, seberat apapun gagasan yang ditawarkan dalam prosa fiksi, akan sia-sia saja jika dikisahkan dengan cara yang amburadul.

Melalui novela Dekat & Nyaring, Dio seolah memberi pukulan yang lumayan telak bagi penulis yang keasikan berdakwah dalam tulisannya dan tidak memerhatikan bentuk maupun gaya bercerita.Hal ini bukan berarti cerita yang memuat gagasan berat selalu buruk, bukan itu. Masalahnya adalah apakah tujuan penulis menulis cerita? Jika ia ingin menyuarakan yang tidak tersuarakan, maka pilihan yang bijak adalah menulis esai, opini, ataupun kajian yang bersifat non-fiksi.

Dalam hal ini, Dio sependapat dengan Edgar Allan Poe—dalam esainya berjudul “The Poetic Principle”[5]—yang menolak gagasan bahwa karya sastra sebaiknya memberikan penerangan moral dan karenanya Poe mengusung ide bahwa karya seni harus ditulis demi karya sastra itu sendiri.

Melalui Dekat & Nyaring, Dio seperti menjewer penulis yang keasyikan menceritakan hal tidak perlu dan para pendakwah yang salah tempat dengan frasa dekat dan nyaring, Dio juga berhasil memberi alternatif untuk para pencerita setelahnya memberi batas dan penanda agar cerita tak lari terlalu jauh. Melalui tokoh-tokohnya, ia juga berhasil menghadirkan ketakutan tanpa hantu dan bagaimana manusia dengan segudang imajinasinya bisa bertahan di situasi yang tidak memungkinan.

Dan jika ada satu hal yang buruk dalam novela Dekat & Nyaring, maka yang patut disalahkan adalah kembali laginya sosok Dea Anugrah di akhir kisah. Hal yang membuat para pembacanya bertanya, “Di luar gang Patos, apa hanya ada Dea Anugrah saja?”—selain tentu saja beberapa kesalahan penyebutan nama tokoh, yang cukup krusial, di tengah-tengah cerita.

Jakarta, Mei 2019.


[1] Dalam laman https://jurnalruang.com/read/1538062132-sabda-armandio-gak-perlu-bertele-tele#

[2]Untuk mengisahkan dongeng Pak Koksi, Dio pun menciptakan tokoh Anak Baik yang polos dengan segudang rasa ingin tahu dan sedikit keras kepala.Kisah tidak datang tiba-tiba tanpa motif (sebagaimana banyak prosa buruk yang sekonyong-konyong berkisah tanpa memerhatikan kausalitas).

[3] (1) Tokoh utama biasanya adalah korban yang mengalami teror atau tokoh pembawa bencana. (2) Tokoh Antagonis atau tokoh pembawa kejahatan biasanya terasing atau tersingkir secara sosial atau bukan bagian dari dunia nyata. (3) Dekor ruang relatif monoton. Misalnya sebuah rumah, kota terpencil, rumah sakit. Dekor waktu didominasi malam hari atau suasana gelap. (4) Tokoh agama sering dilibatkan untuk menyelesaikan masalah. (5) Hal-hal supranatural atau tahayul dipakai untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa yang tidak dapat dijelaskan secara rasional. (6) Tokoh anak biasanya memiliki kekuatan berkat kemurnian jiwa mereka. (7)Adegan kekerasan fisiksering menjadi warna utamanya, misalnya pembunuhan, teror, mutilasi, dan darah. (8) Teknologi sering menjadi salah satu pemicu masalah. Kearifan lokal dan kedekatan manusia dengan alam justru yang menjadi pemenangnya.

[4]Dalam pembacaan lebih lanjut, motif dari penggunaan frasa berulang ini bisa menjadi siasat yang sekaligus berperan sebagai benang merah, yang menjaga agar cerita tak lari terlalu jauh, dan penanda babak-babak penting dan krusial dalam cerita.

[5] Dalam A History of Literary Criticism: from Plato to Present. M.A.R Habib (Blackwell Publishing: Oxford, 2005) hlm. 464.


Doni Ahmadi , lahir dan tinggal di Jakarta. Menulis cerpen dan esai. Tulisannya tersebar di media cetak dan daring. Bukunya, Pengarang Dodit (Basabasi. 2019)

Buku, Resensi

Raden Saleh: Membaca dan Memandang

Oleh Bandung Mawardi

Kurnia Effendi pergi di negeri mantan penjajah. Kepergian tak lama, tak seperti Raden Saleh di masa lalu. Di hitungan puluhan hari, Kurnia Effendi mencari dan mengimajinasikan Raden Saleh di pelbagai tempat. Ia tak cuma mencari di Belanda. Kepergian ke Jerman, Prancis, dan Belgia tetap meniatkan ingin mencari tinggalan dan cerita bertokoh Raden Saleh.

Kedatangan ke Belanda pada abad XXI mustahil masuk di buku berjudul Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 (2008) susunan Harry A Poeze. Kurnia Effendi tak lagi mengalami masa kolonial tapi menginginkan ada panggilan sejarah dan imajinasi kembali ke abad XIX. Di sela mencari Raden Saleh, ia merasakan kehadiran atau melihat imajinatif lakon masa lalu bertokoh: Mohammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir. Pembaca tak usah memaksa mencari dan menemukan nama-nama: Ki Hadjar Dewantara, Noto Soeroto, Abdul Rivai, Ahmad Soebarjo, Marco Kartodikromo, Roestam Effendi, dan Soerjo Soeparto. Di kota-kota teringat memiliki universitas, museum, dan perpustakaan mentereng, Kurnia Effendi melewati hari-hari dengan mata-membaca dan mata-memotret.

Kepulangan dari Belanda, terbitlah buku puisi berjudul Mencari Raden Saleh. Judul agak mengecoh. Di buku, puisi mengenai Raden Saleh cuma sedikit tapi mengesahkan kepergian bermisi keaksaraan. “Puisi, mungkin serupa sketsa bagi pelukis, saat ditulis awal,” pengakuan Kurnia Effendi. Puisi demi puisi digubah di hari-hari terus berganti. Ia berlimpahan puisi gampang terkena tuduhan “serampangan” atau pencatatan kesan saja. Sejak mula, Kurnia Effendi menginginkan: “Untuk tak jatuh pada puisi turisme, maka perlu dilengkapi dengan pengetahuan.” Puisi-puisi dikerjakan serius meski di ketergesaan, cepak, dan kesemrawutan.  

Sasaran terpenting selama di Leiden (Belanda) adalah mengunjungi perpustakaan. Sejak ratusan tahun lalu, kepustakaan asal dan bertema Nusantara ada di situ. Di puisi berjudul “Boekenzolder”, Kurnia Effendi mengisahkan: Mengenai buku, tak ada jalan buntu/ Ia selalu memiliki pintu, tempat/ kita masuk dan keluar penuh tatu// Selalu ingin kembali, menambah luka baru// Dan suatu hari kita ciptakan tragedi/ untuk angan-angan yang tak pernah mati. Ia takjub pada buku-buku. Suasana untuk pembaca terasa menegangkan di pemenuhan pamrih melintasi halaman-halaman buku sejarah dan biografi para tokoh masa lalu. Pembaca ingin “tatu”, memiliki bekas luka.  

Ia menemui buku-buku sebagai perindu dan pengagum. Buku demi buku adalah alamat kangen ke masa lalu. Ia keranjingan membaca buku-buku, tak ingin detik berlalu tanpa “tatu” gara-gara buku. Pada 7 Juli 2017, ia menuliskan kesan selama berada di perpustakaan. Ia sedang mencari Raden Saleh dengan peta-buku. Pembaca di kepasrahan dan puncak hasrat: Karam yang paling indah adalah ke dasar palung/ perpustakaan: sunyi dalam timbunan gizi/ Menyibak hutan aksara, mengais remah sejarah. Bait di puisi berjudul “Universiteitsbibliotheek Leiden” mengabarkan keterpanaan tak usai dan pencarian belum sampai. Pada buku-buku, ia terlalu berharap untuk digenapi kunjungan ke museum-museum, melintasi jalan-jalan, dan memandang sekian bangunan.

Kita agak termangu. Ikhtiar mengenali Raden Saleh dan mengerti Indonesia mesti berada di negeri jauh. Panggilan ke buku-buku tua memang bersumber dari sana. Keinginan jadi pembaca harus melintasi daratan dan lautan. Koko Hendri Lubis memberi kesaksian bahwa Kurnia Effendi memilih rakus melahap buku-buku mumpung berada di Leiden (Belanda). Kurnia Effendi emoh sia-sia. Ia terang mengaku dalam puisi berjudul “Mencari Indonesia”. Puisi mirip kalimat-kalimat dalam surat mengandung kangen: Aku menjadi pengembara dengan uang negara/ Aku menuntut ilmu dari tumpukan buku-buku/ Aku tetirah memungut remah-remah sejarah/ Aku tertawan di ruang-ruang perpustakaan// Aku ke Leiden mencari Indonesia!

Ia memang pergi ke Belanda dengan dana Kemendikbud RI dan fasilitas teknis dari Komite Buku Nasional. Pergi jangan merugi. Pulang pun membawa oleh-oleh puisi. Selama di perpustakaan, ia berhasil menemu: Di lubuk arsip lebih satu abad, kuraba kertas/ buatan Eropa, tempat Raden Saleh menggurat aksara. Lega. Ia perlahan menemukan jalan keaksaraan sampai ke Raden Saleh. Pencarian mendapat sorot terang ke masa lalu, membuka rahasia demi rahasia.

Kurnia Effendi belum lelah. Perjalanan berlanjut ke kota-kota sebelah. Ia menuju Coburg, berharap semakin menemukan Raden Saleh. Permainan ingatan dan peka memandang-merasakan itu bekal sampai ke penemuan-penemuan tak utuh. Ragu ingin menghilang. Di puisi berjudul “Menuju Coburg”, Kurnia Effendi mencatat: Jika benar Raden Saleh pernah/ hadir di sana, ingin kudengar/ langkah kakinya. Ia pergi ke Belanda pada 2017. Pencarian belum sempat membekali diri dengan buku berjudul Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya (2018) susunan Werner Kraus. Selama di Coburg, Raden Saleh mengalami hari-hari indah dan membahagiakan. Ia bergaul dengan kaum aristokrat Eropa. Di sana, Raden Saleh memiliki studio kecil untuk melukis potret Ernst II, Alexandrine, dan Putri Leiningen. Werner Kraus mencatat waktu mukim Raden Saleh di Coburg: 26 Maret-6 Desember 1844. Pada masa berbeda, Raden Saleh bergirang mengunjungi dan tinggal di Coburg. Pada 2017,  Kurnia Effendi di Coburg menuntaskan penasaran meski sejenak.

Misi mencari tak henti-henti. Di Istanbul, 31 Agustus 2017, Kurnia Effendi masih terlalu mengingat peristiwa menelusuri jalan mengingatkan pada Raden Saleh. Puisi berjudul “Hoogstraat” kentara memusat ke Raden Saleh. Ada pencantuman keterangan di judul” “Napak Tilas Raden Saleh”. Puisi ditulis di kota jauh dari Indonesia dan Belanda tapi mengesankan ingatan dan pengimajinasian menguat. Kurnia Effendi menulis: Tak dapat kulacak di mana rumahmu/ Namun terasa di tiap jengkal jalan yang kutempuh/ terlekat percikan cat lukismu. Dinding-dinding toko/ itu berebut rapi menghapus aroma tubuhmu/ Tapi kafe demi kafe gagal menyembunyikan panggilanmu/ kepada pelayan, meminta tambahan minuman.

Di hadapan buku puisi, kita tergoda membaca (lagi) buku-buku mengenai Raden Saleh. Pada 1951, terbit buku berjudul Dua Raden Saleh: Dua Nasionalis dalam Abad ke-19 susunan Soekanto. Buku awal bagi pembaca di masa revolusi ingin mengenali Raden Saleh, lelaki tenar tapi memicu polemik di kancah seni dan politik. Pada 2009, kita semakin mengenali dengan penerbitan buku berjudul Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie, dan Nasionalisme berisi esai-esai garapan Harsja W Bachtiar, Peter BR Carey, dan Onghokham. Kini, buku berjudul Mencari Raden Saleh terbaca dengan keentengan tanpa pamrih memberi penjelasan-penjelasan argumentatif mengarah ke biografi, estetika, identitas, dan politik. Buku itu berisi puisi-puisi tanpa janji mengumbar referensi. Begitu.    


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com

Buku, Resensi

Menemukan Kembali ‘Homo Ludens’

Oleh Joko Pinurbo

Kumpulan sajak ini mengingatkan kita akan pentingnya jati diri manusia sebagai homo ludens, makhluk yang suka bermain. Ia terbit di momen yang tepat, yaitu ketika kehidupan sosial kita kian didominasi oleh perangai homo faber, makhluk yang suka bekerja, dan homo politicus, makhluk yang suka berurusan dengan politik dan kekuasaan.

Kesuntukan manusia sebagai homo faber membuat manusia terperangkap dalam belenggu deadline demi mengejar kepentingan ekonomi dan materi. Dalam kecenderungannya yang ekstrem, homo faber berkembangmenjadi manusia yang gila kerja atau manusia yang mabuk kerja. Kesuntukan dan kegilaan bekerja yang berlebihan menjadikan manusia hidup dalam tekanan mental yang besar karena setiap saat ia ditanya dan ditagih oleh angka. Hidup adalah memburu, bukan menikmati. Hidup diliputi oleh ketergesaan.

Di sisi lain, nafsu dan perilaku manusia sebagai homo politicus telah menjerumuskan manusia ke dalam kancah pertarungan dan persaingan sengit yang kadang sangat barbar dengan hoaks, kebencian, dan politik identitas sebagai peralatannya. Dalam wataknya yang negatif, bagi homo politicus, hidup adalah berebut, bukan berbagi; memangsa, bukan memberi; memukul, bukan merangkul; memangsa, bukan mencinta. Hasilnya ialah lunturnya cinta kasih sosial, melemahnya semangat persahabatan dan persaudaraan.

Memudarnya jati diri manusia sebagai homo ludens di satu sisi dan kian dominannya nafsu manusa sebagai homo faber dan homo politicus di sisi lain, ditandai dengan menghilangnya mutiara-mutiara jiwa yang berharga: kesabaran, sikap rileks, selera humor, dan kegembiraan.Manusia-manusia yang dijajah oleh kekuasaan rezim homo faber dan homo politicus adalah manusia-manusia yang mengalami gangguan kesehatan mental: tegang, gampang sedih, dan murah marah. Menjadi homo ludens, dengan demikian, merupakan penyeimbang bagi dominasi homo faber dan homo politicus, dan itulah yang secara metaforis mau diwartakan oleh sajak-sajak Yuditeha.

Melalui kumpulan sajak ini kita dapat berjumpa kembali dengan aneka dolanan atau permainan tradisional yang pernah mengiringi pertumbuhan sekian banyak anak sebagai homo ludens. Yuditeha bukan hanya mendata dan mendeskripsikan kembali berbagai bentuk dolanan; ia juga menempatkan makna aneka dolanan tersebut sebagai bagian dari pendidikan karakter. Dengan demikian, sajak-sajaknya mau menunjukkan dan nilai-nilai falsafi—di samping niilai-nilai estetis—dalam dolanan.

Permainan atau dolanan memang bukan simulasi dan duplikasi dari kehidupan nyata. Ia merupakan dunia yang direka atau diciptakan dengan kekuatan dan keliaran imajinasi. Ia tidak dikendalikan oleh nilai-nilai pragmatis. Namun, justru karena sifatnya sebagai dunia rekaan, ia memiliki nilai penting sebagai sarana pembebasan. Pembebasan dari kehidupan rutin yang diwarnai oleh perhitungan untung-rugi. Dolanan merupakan bentuk rekreasi dan relaksasi yang mengingatkan kita bahwa keindahan, kebahagiaan, kelucuan dan kekonyolan bisa dinikmati dan dirayakan bersama. Dolanan merupakan sarana untuk menjaga keseimbangan mental.

Meskipun merupakan dunia rekaan, dolanan—secara langsung atau tidak langsung—mengandung nilai-nilai ideal, nilai-nilai falsafi, atau nilai-nilai edukatif yang relevan bagi pengembangan karakter manusia. Menyelami sajak-sajak Yuditeha, kita bisa menemukan setidak-tidaknya lima butir keutamaan dolanan: (1) kegembiraan, (2) kebersamaan; hubungan antarpribadi, (3) kesabaran, ketenangan (4) empati, (5) kearifan: jujur, adil, ksatria (bisa menerima kekalahan dan kemenangan secara wajar).

Sajak berikut ini kiranya merupakan contoh bagus tentang bagaimana sebuah dolanan bisa merefleksikan nilai-nilai ideal dalam kehidupan manusia.

BAN-BANAN

Menggelindinglah di atas papan kayu

yang dijaga dengan ketenangan,

dan hanya jiwa yang jauh dari dengki

yang mampu melakukan perhitungan.

Tak bisa kau hidup sendiri

di tengah belantara masalah.

Hanya kompromi yang bisa menyelamatkan

manusia dari dunia rapuh,

hingga kelak akan diakui sebagai prajurit

yang pantas untuk melakukan

tugas sebagai ketua pandu yang terampil

dan paling disegani.

Sesungguhnya puisi pun merupakan dolanandolanan bahasa—yang menyuburkan dan menyegarkan kembali imajinasi; yang membebaskan kata-kata dari penjara kerutinan yang memiskinkan dan mematikan; yang ingin menghidupkan kembali kewarasan. Puisi adalah sebentuk rekreasi dan relaksasi bahasa yang anehnya sering dilakukan dengan cara yang tidak “waras”. Puisi adalah makhluk kesayangan homo ludens.

Selamat menunaikan ibadah puisi.

Yogyakarta, 20 Mei 2019


Joko Pinurbo, penulis puisi

Buku, Resensi

Suara Lain untuk Mengingat 1998

Resensi oleh Setyaningsih

Bagi Intan Andaru, 1998 adalah pengingatan pada Tragedi Banyuwangi. Penulis yang pernah terlibat Residensi Penulis ASEAN-Jepang dan ASEAN Literary Festival 2017 ini seperti ingin menegasi pengingatan publik atas Tragedi Mei 1998 atau peristiwa akbar-nasional Reformasi. Tragedi lokal yang pernah mengguncang publik nasional, disuarakan untuk mengingatkan pada pengalaman dan trauma kolektif sebagai seorang Banyuwangi lewat novel Perempuan Bersampur Merah (2019). Tragedi Banyuwangi 1998 pernah membantai dukun-dukun pengobatan yang dituduh menyebar penyakit kiriman atau santet. Ketakutan tentang teror ninja yang bergerak cepat, membunuh, dan bisa menghilang beredar. Entah lebih dipicu intrik sosial, kecemburuan personal, huru-hara politik, sampai puritanisme agama yang menghendaki perdukunan ditiadakan, tragedi lagi-lagi meminta pengorbanan dari orang-orang tidak bersalah yang mungkin telah dilupakan untuk mendapat suatu keadilan.

Intan memilih cerita dinaratori aku yang bocah dan perempuan bernama Sari. Dibandingkan dinaratori seorang dewasa, narator bocah lebih memungkinkan penciptaan-penciptaan suasana dan ujaran yang naif, lugu, dan rasa pasrah tapi ingin melawan. Saat bapak Sari dibantai, dia hanyalah bocah tanpa daya yang jelas secara terselubung menampakkan ketidakmengertian atas tragedi. Lewat pernyataan-pernyataan kecil yang berkelebat dalam benak bocah, gugatan-gugatan atas ketimpangan status sosial masyarakat, penghukuman sosial, kemiskinan berusaha dibangun oleh penulis.

Kita cerap, “…aku sungguh masih dapat merasakan kejadian malam itu: Ingatanku tentang segerombolan orang yang mengepung rumah. Suara berisik yang mendebarkan. Kegaduhan yang membuat kami gemetaran. Juga mereka yang melukai Bapak: orang-orang yang tak kukenal dan sebagian tetangga yang mengikuti mereka dari belakang. Dalam gelap itu, aku mampu memandang dan merekam siapa saja orang yang menatap iba hingga membantu keluarga kami, juga siapa saja yang menatap penuh benci pada Bapak” (hal. 70). Seorang bocah mudah mengingat. Sejak sekolah dasar, Sari menggunakan pengingatan untuk mencari nama-nama orang yang konon mati karena disantet. Jika masyarakat tidak bisa dibuat memercayai, Sari yang akan terus percaya bahwa bapak bukan orang jahat seperti yang dituduhkan.

Ikon Pembangun

Selayaknya novel yang ingin terlibat mengabarkan tragedi dan intrik manusia, percintaan adalah suatu kewajiban meski klise. Semakin dewasa, peran Sari tidak lagi sebagai bocah yang mencari peradilan atas nama bapak. Peran itu sepenuhnya beralih dan dipercayakan Intan Andaru kepada Rama, lelaki terkasih Sari. Sejak kecil, Rama muncul dalam strata pendidikan lebih tinggi bertaut dengan imajinasi kemakmuran dan pekerjaan di masa depan. Rama ditokohkan untuk meninggalkan kampung yang miskin, tidak berpendidikan, dan masih berkisar di klenik.

Lulus SMA, Rama menjadi mahasiswa, elite terpelajar yang digadang menjadi ikon pembangun (nasional) terutama sejak masa 70-an dan menguat sejak Reformasi bergulir. Kita tentu bisa menduga, Rama bukan hanya kuliah untuk kuliah. Dia menjadi aktivis, tekun di organisasi, ikut demontrasi, dan berurusan dengan polisi. Bahkan kepada Sari yang jelas miskin dan tidak memiliki modal ekonomi atau sosial, Rama berkata, “Gimana ya. Kan cuma empat tahun. Ini demi masa depanmu. Jadi sarjana itu penting ndak hanya untuk cari kerja, tapi juga untuk mendidik anak nanti” (hal. 161). Rama menghendaki kesetaraan pendidikan bagi perempuan, tapi tetap dengan cara yang partriarkis. Sebagai penulis perempuan, Intan Andaru tidak bisa melepaskan diri dari isu-isu sosial berkait dengan perempuan.

Tentu dari segala urusan akademis dan aktivis dilakukan oleh Rama, Intan Andaru menggunakan jalinan asmara untuk mendekatkan tragedi Banyuwangi yang komunal sebagai urusan personal antara Sari dan Rama. Sari mendengar kenyataan bahwa, “Rama bergabung sama aktivis HAM dan sering demo di jalan-jalan. Dia menemui banyak orang untuk neliti kasus pembantaian dukun-termasuk kasus bapakmu yang ndak pernah bisa kita pecahkan itu. Dia juga yang sudah sibuk-sibuk mengusulkan agar kasus bapakmu itu dibuka lagi sampai ada pertemuan-pertemuan yang kamu datangi kemarin. Dia bahkan rela skripsinya terbengkalai” (hal. 194). Intan Andaru terlampau heroik memahasiswakan Rama sebagai bentuk perlawanan Rama pada superioritas dan status sosial bapaknya, tapi sekaligus pihak penghasut agar warga menghukum bapak Sari yang jelata dan tertuduh nyantet.

Intan Andaru memang tidak secara tersurat membawa kembali kasus lokal ke publik nasional. Terlepas dari bahasa yang kurang luwes dan enak, barangkali karena pengalihan data riset atas tragedi Banyuwangi 1998 ke narasi novel, Intan Andaru berkeras memberi suara pada lokalitas. Tragedi harus dibawa kembali ke ranah nasional agar selesai atau setidaknya mengurangi trauma kolektif pada masa lalu. 1998 tidak selalu memusat di Jakarta pada suatu Mei yang kelam, tapi juga di Banyuwangi yang mencekam.

Setyaningsih, Esais. Pembaca Buku. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Buku, Resensi

Pengarang Dodit: Alusi dan Obsesi, Biografis dan Spekulatif

Resensi oleh: Galeh Pramudianto

Ketika berbicara pelancong waktu dalam tatanan fiksi, ketika itu pula perulangan telah kali dilakukan. Begitu pula ketika kita berbicara kumpulan cerita pendek. Banyak pola dan konsep yang jatuh pada perulangan. Beberapa di antaranya mengambil karya-karya yang telah terbit duluan di media cetak, kemudian dianggit kembali dalam suatu buku. Tentu tidak ada yang salah dengan itu. Setidaknya bagi saya sendiri ketika membaca sebuah karya, ada hal yang kiranya bisa didapat, misal: (1) gagasan apa yang dituangkan atau tidak ada gagasan sama sekali untuk dituangkan (keduanya sama baiknya), (2) warna atau premis apa yang diangkat atau setiap cerita tidak memiliki warna yang sama (yang pertama memudahkan pembaca untuk mengklasifikasikan tema tertentu), (3) bagaimana teknik dan gaya dimainkan (narasi besar atau tema remeh temeh sekalipun akan menarik bila memperhitungkan ini).

Ketika seseorang secara sadar memutuskan untuk menulis, maka ia telah tahu masalah dan bobot kehadiran apa yang akan diangkat. Pengarang Dodit, kumpulan cerpen perdana milik Doni Ahmadi berjalan pada lintasan yang tepat. Ia tahu buku ini berjalan di lintasan mana, masalahnya apa dan bobot kehadiran yang bagaimana. Membaca Pengarang Dodit memaksa saya mengingat perjalanan setiap orang untuk menjadi kerani atau juru tulis atau penulis.

Perjalanan seorang yang biasa bercerita dengan lisannya akan jauh berbeda dengan perjalanan seorang yang biasa bercerita dengan ragam bahasa tulis. Seorang penulis kiranya bisa mengalami berbagai hal: kesepian, gangguan internal maupun eksternal, dan kompleksitas pikiran. Menulis selalu tidak mudah, bagi yang percaya menulis itu gampang maka daya jelajah dan tujuan menulisnya tidak seluas obsesinya. Berbicara obsesi maka berbicara hakikat hidup itu sendiri. Tentang perasaan-perasaan yang merasuki pikiran dan pertanyaan yang berkelindan. Hal itulah yang diamini Doni Ahmadi pada halaman awal buku ini. Ia menganggit pernyataan Budi Darma soal obsesi pengarang.

Berbicara obsesi, saya coba menerka obsesi Doni lewat teks-teks di Pengarang Dodit ini.

Cerita-cerita di dalam Pengarang Dodit tidak semuanya berlandaskan struktur dramatik Aristotelian: pembukaan, pengenalan, klimaks, antiklimaks, leraian, dan penutup yang menjadi template penulisan cerpen umumnya. Doni hendak menyuarakan bahwa cerita tidak semata tentang isi atau apa hal yang disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana cara menyampaikannya.

Saya kira di rimba kesusastraan Indonesia yang tidak terlalu luas ini, setiap penulis hendak menyuarakan keresahan-kepentingannya. Ada yang menulis tentang kampung halamannya dengan semangat pariwisata, ada yang menulis tentang adat istiadat yang lekat dengan kehidupannya, ada yang menulis tentang negeri-negeri yang jauh dengan semangat turisme warga dunia ketiga, ada yang menulis tentang dirinya sendiri dengan semangat megalomania, ada yang menulis tentang nabi-nabi baru di setiap komunitas kebudayaan, ada yang menulis cinta dengan lika-liku perbudakannya, ada yang menulis angkasa luar dengan semangat pseudosains, ada yang menulis tentang isu-isu politik yang seksi, dan ada yang menulis tentang penulis itu sendiri dengan segala riwayatnya.

Fiksi Biografis dan Spekulatif

Doni saya pikir berada di pilihan terakhir dengan ragam upayanya. Ia secara terbuka memainkan makna tekstual dengan makna referensial. Ada keterkaitan antara semesta fiksi di dalamnya dengan realitas kesusastraan Indonesia itu sendiri. Saya membacanya sebagai gelagat untuk mempertanyakan, atau mengolok-olok (parodi) para gerombolan penulis dan hubungannya dengan sejarah serta kritik sastra. Doni dengan terbuka menjahit pengaruh yang ada pada karya-karya penulis Indonesia maupun dunia. Coba simak cerita yang panjang Dari Obituari Pengarang Dodit sampai Malam Celaka. Cerita itu adalahsebentuk alusi dengan obsesi yang imajinatif. Bahwa orang yang dekat dan bermanfaat dengan penulis bukanlah yang hanya memiliki nama besar, namun lebih kepada biografi-kisah di sebuah antara. Cerita berawal dari seorang penulis (Mustofa Sentot) yang mendapatkan banyak ilmu dan inspirasi dari penulis lainnya (Dodit).

Mustofa merasa kehilangan dan amat terpukul ketika penulis yang menginspirasinya dalam menulis, meninggal dunia. Konflik terjadi ketika seorang penulis lain (T.B. Simatupang) meninggal di hari yang sama. Cerita bergulir dengan ragam teknik dan gaya: pewaktuan retrospeksi dan cerita berbingkai. Kalau kita tidak membaca secara cermat dan hati-hati maka kita akan mudah tergelincir. Karena selain teknik dan gaya yang dimainkan, Doni juga memainkan tokoh-tokoh cerita di dalamnya dengan alusi. Dengan peristiwa-peristiwa yang lekat dengan rimba kesusastraan kita.

Ia adalah sastrawan avant-garde yang masyhur dan selalu menjadi pusat pembicaraan khalayak sastra. Hal itu ia dapatkan berkat sumbangsih beberapa karya besar yang beliau kerjakan, di antaranya adalah Merahnya Biru (2000) yang menyabet penghargaan nasional Bujur Sangkar Award. Lalu Jia-Ilah (2005) yang meraih penghargaan karya sastra terbaik Asia Tenggara. King Kooong (2011) yang menyabet dua penghargaan sekaligus (karya terbaik versi majalah Tempe dan pemenang Teen Booker Prize). Lalu Kerang (2017) yang meraih penghargaan sastra dari Pusat Bahasa serta masuk dalam 5 besar Teen Booker Prize. Lalu ada lagi kumpulan cerita pendek Tegak Ngaceng Dengan Langit (2015) dan Kumpulan puisi Malam Jubaidah (2013) yang masing-masing meraih sukses dengan terjualnya kedua buku tersebut sampai lima puluh ribu eksemplar. (hlm. 77)

Bagaimana? Saya kira itu familier bila kita mempertimbangkan dan mengais ingatan kita saat membacanya: Iwan Simatupang. Atau merasa hal yang imajiner sepenuhnya lahir dari gelas osong? Saya kira tidak. Coba intip siapa itu Johan Kartawijaya dan permainan alusinya. Ia berkorelasi dengan lagu Surabaya Johnny karangan Bertolt Brecht dan bagian dari drama musikal berjudul Happy End. Merasa terganggu ketika diberi tahu? Saya kira cerita yang baik bila diberi beberan (spoiler), tetap akan sesuai jalurnya dan kenikmatan akan membaca tidak akan berkurang. Kemudian ia menempelkan hal-hal yang ia suka untuk dielaborasi menjadi parodi yang bisa mengganggu atau justru memikat (tergantung horizon pembacaan).

M. Sentot Wijayanto (1987) merupakan penulis novel dan cerita pendek. Karya-karyanya yang telah terbit, novel: Sembilan Kunangkunang di Perempatan (2009), Catatan Panjang Pembunuh Arturo Belaño (2010), Raden Janggut di Rumah Jaga Lima (2011) dan Petualangan Olenka dan Alit di Trafalmadore (2018). Cerpen: Upaya Jonru Menjadi Anjing yang Masuk Surga (2012), Tujuh Tahun dalam Kendali Partai Setan (2014) dan Cerita Buruk yang Membuatmu Ingin Bunuh Diri (2015). Serta satu kumpulan esai: Mendengar Novel dan Membaca Audiobook (2017). (hlm. 105)

Kisah semacam fiksi biografis-parodi ini bukanlah hal yang baru di kolong langit dan di atas tanah. Bila sekadar menyebut: kisah-kisah seribu satu malam telah banyak diambil bentuknya untuk kepentingan cerita lainnya.  Borges dengan A Universal History of Infamy, Bolano dengan penulis sayap kanan di Amerika Latin lewat Nazi Literature in the Americas, dan Bartleby & Co. milik Vila-Matas. Genealogi semacam ini menunjukan betapa pentingnya horizon pembacaan akan sejarah sastra maupun otokritik itu sendiri.

Bentuk fiksi biografis lainnya terdapat di Cerita Dodit dan Rahasia Penulis Joni, Sebastian Bejo yang Fenomenal dan Soal Nasib. Di Cerita Dodit, Doni memilih jalur yang saya katakan sebelumnya: menulis tentang kepengrajinan (craftmanship) penulis itu sendiri. Bahwa penulis pada dasarnya memiliki peluang untuk menuangkan gagasannya dalam kesempatan apa pun. Mitos writer’s block saya pikir tidak ada. Ia hanya bentuk kemalasan homo sapiens yang identik dengan bentuk lainnya: homo ludens dan fabulans. Pada dasarnya setiap manusia bisa bercerita dan memanfaatkan setiap peluang yang ada setelahnya:

Oh iya, hal gila yang saya maksud itu adalah mengambil karya-karya dari pemenang Nobel Sastra masa depan untuk saya plagiasi. Tapi akhirnya saya memutuskan hanya mengambil tiga novel saja dari seorang pengarang bernama Billy Pilgrim, tepatnya pemenang Nobel sastra di tahun 2089. Untungnya format buku digital ini dapat saya ubah ke format lama agar dapat dibuka lewat komputer saya, memang teknologi masa depan itu betulan canggih! (hlm. 20)

Membuat tokoh fiktif dalam semesta fiktif bukanlah hal baru dan membuatnya hidup serta berguna dalam kerangka cerita itulah tugas penulis. Doni dalam hal ini tidak melanggar Chekhov’s Gun: apa yang ada di cerita semuanya berfungsi. Seperti di cerita Sebastian Bejo yang Fenomenal. Membaca kisah ini seperti hendak menonton Memento karya Nolan bersaudara. Bahwa ingatan yang buruk adalah titik pijak sebuah cerita bisa banyak berkelok. Dalam hal itu kita bisa memahami bahwa sebaik apapun dalam menulis, kalau akhirnya bermasalah dengan ingatan, maka nasibnya tak baik-baik amat. Seperti cerita Soal Nasib itu sendiri: ia mengisahkan pesepakbola, kalau boleh saya menebak maka itu adalah alusi dari David Beckham.

Setelah bermain di ranah fiksi biografis, Doni pun kembali bermain dengan persoalan waktu dan hal-hal spekulatif lainnya. Pada kisah Tentang Ucup Karbol yang Kelak Diperdebatkan, misal.Cerpen dibuka dengan maklumat kematian tokoh utama, yang dituturkan oleh sobat karibnya. Setelahnya kisah bergerak lewat dimensi pewaktuan retrospeksi. Secara kronologis cerita berjalan lewat pengakuan tokoh aku bersama Ucup Karbol menjalani hari-hari yang biasa saja atau sama sekali tidak biasa-biasa saja. Atau elaborasi keduanya. 23 Mei 2020, menjadi mula dari konflik. Cerita bergerak setelah Ibunda Ucup Karbol mengalami peristiwa yang kurang mengenakan. Setelahnya bisa diterka sendiri. 

Hal terpenting dari kisah fiksi ilmiah sebenarnya adalah tentang perabotan atau piranti apa yang digunakan. Karena medium cerita adalah meyakinkan banyak pihak dan persepsinya harus sama dengan batok kepala lainnya. Di kisah ini, bagaimana menemukannya dan fungsinya untuk apa? Lewat medium surat, akhirnya itu terjawab. Jelas tidak dipaparkan secara detil. Karena ruang untuk itu barangkali bisa dieksplorasi di novel atau lakon dan bentuk lainnya yang lewah dan memungkinkan.

Sebentuk alusi lainnya termaktub pada penamaan tempat yang familier: Rumah sakit Kepala Gadung, Kecamatan Bodong Gede dan Bodong Kecil. Elemen itu terbangun dengan terjaga dan tidak mubazir.  Entah kenapa saya membayangkan suatu saat nanti Ucup Karbol bisa berkolaborasi dengan Marty McFly, untuk menciptakan mesin waktu yang lebih spesifik dan berbentuk, misalnya, DeLorean DMC-12 di trilogi Back to The Future.

Persoalan waktu, gempa waktu, dan dejavu selalu bermain di pewaktuan yang tidak linear. Alih-alih manut pada biografi tubuh yang menghamba pada waktu, Doni menentangnya dan bermain-main di wilayah itu. Anto Lakban dan Beberapa Peristiwa di Sekitar Teh Hangatadalah manifestasi dari Hukum Murphy: ketika Anda merasa sial, maka kesialan itu keniscayaan. Bagi saya setiap orang punya mesin waktu versi mereka sendiri: ada yang bermimpi, ada yang mendengarkan lagu lama, ada yang membaca ulang lembar tertentu dalam jurnal, dan ada yang merasakan ketika membaca spektakel dan adegan-adegan di dalam cerita ini. Konsep manusia soal waktu dan masa depan memang menarik untuk diikuti.

Doni dalam kumpulan ini seperti memiliki agenda tertentu, misal dalam kisah distopia Sebelum Adam dan Eva Memulai Peradaban. Teori penciptaan ia kemas dengan subtil lewat rangkaian peristiwa. Peristiwa-peristiwa di dalamnya tak hendak mengatakan “akulah yang paling benar dan jawaban atas segala keresahan di muka Bumi.” Apa yang kita anggap baik, belum tentu dengan lainnya. Kebenaran tunggal tidak berlaku di zaman tsunami data seperti ini. Meski begitu, cerita-cerita di kumpulan ini tidak hanya bermain di wilayah alusi dan spekulatif. Ia bisa berupa realisme magis di Tentang Ki Mantep, Dodit dan Telur Bebek, bernuansa detektif-thriller di Misteri Jim dan Pembunuhannya, dan bernada liris-sentimentil di Bagaimana Lelaki Pemalu menjadi Filsuf dan Mati dan Trilogi Luca.

Selain cerpen-cerpen di atas, ada juga bentuk cerita mini (flash fiction), seperti Tanda Pagar, Seorang dari Masa Lalu di Sebuah Bus Kota, Takdir Buruk, dan Wawancara. Untuk bagian ini seperti ada kesan “dimasukan agar menambah bobot kehadiran”, terlepas dari itu, Pengarang Dodit mampu mengejawantahkan cerita yang tak melulu pada pakem Aristotelian. Saya pikir sepertinya itu perlu.

Bintaro, April 2019

Galeh Pramudianto, lahir di Tangerang Selatan, Banten, 20 Juni 1993. Bekerja sebagai tenaga pendidik dan salah satu pendiri media Penakota.id. Buku puisi keduanya berjudul Asteroid dari Namamu (basabasi, 2019).

Buku, Resensi

Penderma Cerita, Pembawa Rasa

Oleh Setyaningsih

Derma cerita para murid SD Ta’mirul Islam Solo di kelas menulis terus berlanjut di bawah ampuan guru sekaligus prosais Karisma Fahmi. Biografi kanak tidak hanya terdokumentasi dalam nilai rapor, foto, piala, piagam, atau prestasi akademik lain. Kemenangan Terindah, Kumpulan Cerita Pilihan (2016) garapan para murid kelas 4-5 lebih duluan menyapa. Berselang setahun, buku dengan visualitas lebih manis bertema berbagi terbit dalam judul Pohon Coricta dan Ellasia (2018). Buku diterbitkan sebagai serial Islam santun bersama Program Pendampingan Masyarakat Dosen dan Fakultas Bisnis Islam (FEBI) IAIN Surakarta dan Bilik Literasi.

Buku ketiga pun tidak ingin ketinggalan manis dijuduli Beri Cerita (2019) memuat 16 cerita pendek. Di cerita pertama berjudul Kapan Bapak Pulang? Ibnaty membawa pengalaman hidup yang cukup sadistik. Kanak tidak selalu mendapat jatah kebahagiaan di dunia. Sering, hidup harus sangat susah dan keras berkaitan dengan masalah ekonomi. Kemiskinan adalah hal yang menakutkan. Seorang anak sering harus merasakan hal ini tidak hanya sebagai masalah teknis, tapi juga psikologis. Diceritakan seorang anak perempuan bernama Gendis. Bapak Gendis adalah nelayan dan ibunya mengurusi rumah tangga. Karena pendapatan bapak menurun, Gendis pun harus menanggung derita “tidak sekolah dulu”.

Bapak Gendis pun mendapat pekerjaan di kapal sebagai nahkoda. “Gendis melonjak kegirangan mendengar bapaknya mendapatkan pekerjaan. Pasti, nanti Gendhis bisa sekolah lagi! pikir Gendis. Gendis memeluk erat bapaknya. Terharu. Peristiwa yang tampak sebagai pemecahan masalah ekonomi ini justru menjadi awal petaka. Ibnaty tidak ingin ceritanya berjalan lempeng saja. Dia harus membuat alur dramatis mewarisi kekhasan cerita anak Indonesia yang para tokohnya harus mengalami penderitaan hebat atau peristiwa berair mata. “Bapakmu meninggal karena ada badai topan di pertengahan antara Laut Indonesia dan Laut Australia. Korban meninggal ada 13 orang. Salah satunya adalah bapakmu.” Ibnaty membuat judul ceritanya bernas justru di penutupan cerita saat Gendis sering bergumam sebagai bentuk ketidakterimaan, “Kapan bapak pulang?” Tidak ada pesan moral untuk menjadi sok tabah. Manusia juga boleh sedih.

Kejutan atau berujuk sebagai pembuat kejutan masih menjadi pokok cerita. Hal ini kita rasakan di beberapa cerita, seperti Kado Misterius garapan Fairuz Yumna Navira, Paket untuk Arya garapan Elnora Radea Putri, Hadiah Terakhir garapan Inayah Maunah, Sahabat Selamanya milik Rahma Khairunnisa, atau Special for Mom milik Zulfasya Redita Larasati.

Kado Misterius agak terpengaruh dari selera horor yang beberapa waktu ini cukup mendominasi tema perbukuan. Kita cukup bisa menebak bahwa kejutan sering ada dalam peristiwa ulang tahun. Kita cerap, “Kali ini kado tersebut diletakkan di dalam laciku. Kali ini kado tersebut dibungkus dengan kertas koran secara asal-asalan. Kado berisi foto dengan pigura berwarna coklat. Di dalamnya terdapat fotoku, tetapi anehnya aku tidak sendirian. Ada seorang anak kecil yang berdiri di belakangku dan melihat ke arah kamera. Anak itu terlihat seperti hantu dalam film horor. Padahal, foto itu aku simpan di laptopku.” Hiy!

Kita mungkin agak terkejut dengan cerita Misteri Pohon Beringin Tua yang digarap oleh Hanifa Nayla Ilma. Sejak judul, kita sudah bisa merasakan unsur gaib-seram. Ilma membawa pengalaman kolektif, terutama di Jawa, yang menganggap pohon beringin (selalu) memiliki penunggu. Setiap kali ada yang mendekati pohon beringin dan melongok ke rimbunan daun, orang pasti meninggal. Layla, si tokoh anak utama, menjadi pemecah mistis dengan menggunakan logika sains. Layla dan teman-teman berlagak menjadi detektif logis disokong oleh pengetahuan mutakhir, “Di bawah pohon itu banyak sekali oksigen. Paman Rion memiliki riwayat sakit asma yang akut. Ia kedinginan dan oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya terlalu banyak dan mendesak ke arah jantung.”

Zulfasya dalam cerita Special for My Mom membingkai kejutan dalam emosionalitas beribu. Diceritakan, “Rina memakai sandal jepitnya dan memandangi satu-satunya sepatu ibu yang diberikan oleh Bu Hajah Achmad sudah kumal dan usang. Jadi tak jarang ibu pergi kondangan dengan memakai kaos kaki dan sandal jepit.” Sepatu bekas dan sandal jepit adalah citra kesederhanaan yang lebih dekat pada kemiskinan. Rina pun memiliki impian kecil: membelikan sepatu buat ibu. Berprestasi, bekerja keras dengan cara membantu ibu jualan kue, dan menabung, tiga hal ini menjadi ikhtiar kecil Rina “mengejutkan” ibu.

Namun, Rina lebih dikejutkan oleh ketidakberuntungan. Sepatu cantik yang tempo hari dilihat di toko yang begitu ingin dibelikan untuk ibu, ternyata sudah dibeli orang. Sebagai penutupan, kita mendapat suatu hal yang khas. Ibu tidak menginginkan apa-apa selain harapan bagi Rina agar tumbuh dengan salehah dan berprestasi.  Kita mengingat satu hal bahwa suatu pemberian sederhana itu tampak monumental dan berkesan karena diberikan kepada orang terkasih lewat usaha penuh kesungguhan hati. Kesungguhan yang datang dari seorang anak, selalu bisa berdampak mesra bagi batin pembaca.  

Dari kesadaran anak-anak yang menulis, anak-anak memang tidak menampik bencana dalam cerita-cerita mereka. Kehilangan, kesedihan, ketidakberuntungan, kemiskinan, dan bahkan kematian adalah hal biasa. Kita memang sempat menemukan kecenderungan tiba-tiba tokoh meninggal, kecelakaan menimpa tokoh, atau sakit parah mendera. Hal-hal ini sepertinya masih dianggap sebagai peristiwa kehilangan yang hebat.

Nyaris tanpa beban konflik dan bersahaja, hadir di cerita Hari Makanan Indonesia garapan Abad Doa Abjad. Cerita ini tidak membawa unsur keseraman atau kesedihan, tapi kegembiraan yang cukup. Begini, “Pasar anak pun dimulai. Anak-anak berlari keluar kelas. Mereka telah dibagi kelompok di kelas. Mereka boleh membeli bermacam-macam makanan dari Indonesia. Lalu mencatatnya di kertas yang sudah disediakan. Aku dan kelompokku pergi berkeliling mencari makanan yang kelompokku inginkan.” Tidak ada dramatisasi atau keinginan meluapkan narasi. Cerita ini lebih berkesan diramu dari pengalaman dan pengamatan.

Kita berbahagia atas derma anak-anak atas buku ini. Aneka rasa dan peristiwa terdengar pas diracik dalam judul Beri Cerita. Anak-anak menulis bukan sebagai pengkhotbah moral yang serius. Pesan terselubung pasti ada, tapi kita cenderung tidak diajak repot mencari-cari atau bergegas meneladan.

Setyaningsih, Esais. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]