Kumpulan sajak ini mengingatkan kita akan pentingnya jati diri manusia sebagai homo ludens, makhluk yang suka bermain. Ia terbit di momen yang tepat, yaitu ketika kehidupan sosial kita kian didominasi oleh perangai homo faber, makhluk yang suka bekerja, dan homo politicus, makhluk yang suka berurusan dengan politik dan kekuasaan.
Kesuntukan manusia
sebagai homo faber membuat manusia terperangkap
dalam belenggu deadline demi mengejar
kepentingan ekonomi dan materi. Dalam kecenderungannya yang ekstrem, homo faberberkembangmenjadi
manusia yang gila kerja atau manusia yang mabuk kerja. Kesuntukan dan kegilaan
bekerja yang berlebihan menjadikan manusia hidup dalam tekanan mental yang
besar karena setiap saat ia ditanya dan ditagih oleh angka. Hidup adalah
memburu, bukan menikmati. Hidup diliputi oleh ketergesaan.
Di sisi lain,
nafsu dan perilaku manusia sebagai homo
politicus telah menjerumuskan manusia ke dalam kancah pertarungan dan
persaingan sengit yang kadang sangat barbar dengan hoaks, kebencian, dan politik
identitas sebagai peralatannya. Dalam wataknya yang negatif, bagi homo politicus, hidup adalah berebut,
bukan berbagi; memangsa, bukan memberi; memukul, bukan merangkul; memangsa,
bukan mencinta. Hasilnya ialah lunturnya cinta kasih sosial, melemahnya
semangat persahabatan dan persaudaraan.
Memudarnya jati
diri manusia sebagai homo ludens di
satu sisi dan kian dominannya nafsu manusa sebagai homo faber dan homo politicus
di sisi lain, ditandai dengan menghilangnya mutiara-mutiara jiwa yang berharga:
kesabaran, sikap rileks, selera humor, dan kegembiraan.Manusia-manusia yang
dijajah oleh kekuasaan rezim homo faber
dan homo politicus adalah
manusia-manusia yang mengalami gangguan kesehatan mental: tegang, gampang
sedih, dan murah marah. Menjadi homo
ludens, dengan demikian, merupakan penyeimbang bagi dominasi homo faber dan homo politicus, dan itulah yang secara metaforis mau diwartakan
oleh sajak-sajak Yuditeha.
Melalui kumpulan
sajak ini kita dapat berjumpa kembali dengan aneka dolanan atau permainan tradisional yang pernah mengiringi
pertumbuhan sekian banyak anak sebagai homo
ludens. Yuditeha bukan hanya mendata dan mendeskripsikan kembali berbagai
bentuk dolanan; ia juga menempatkan makna aneka dolanan tersebut sebagai bagian dari pendidikan karakter. Dengan
demikian, sajak-sajaknya mau menunjukkan dan nilai-nilai falsafi—di samping
niilai-nilai estetis—dalam dolanan.
Permainan atau
dolanan memang bukan simulasi dan duplikasi dari kehidupan nyata. Ia merupakan
dunia yang direka atau diciptakan dengan kekuatan dan keliaran imajinasi. Ia
tidak dikendalikan oleh nilai-nilai pragmatis. Namun, justru karena sifatnya
sebagai dunia rekaan, ia memiliki nilai penting sebagai sarana pembebasan.
Pembebasan dari kehidupan rutin yang diwarnai oleh perhitungan untung-rugi. Dolananmerupakan
bentuk rekreasi dan relaksasi yang mengingatkan kita bahwa keindahan,
kebahagiaan, kelucuan dan kekonyolan bisa dinikmati dan dirayakan bersama.
Dolanan merupakan sarana untuk menjaga keseimbangan mental.
Meskipun merupakan
dunia rekaan, dolanan—secara langsung
atau tidak langsung—mengandung nilai-nilai ideal, nilai-nilai falsafi, atau
nilai-nilai edukatif yang relevan bagi pengembangan karakter manusia. Menyelami
sajak-sajak Yuditeha, kita bisa menemukan setidak-tidaknya lima butir keutamaan
dolanan: (1) kegembiraan, (2)
kebersamaan; hubungan antarpribadi, (3) kesabaran, ketenangan (4) empati, (5)
kearifan: jujur, adil, ksatria (bisa menerima kekalahan dan kemenangan secara
wajar).
Sajak berikut ini
kiranya merupakan contoh bagus tentang bagaimana sebuah dolanan bisa
merefleksikan nilai-nilai ideal dalam kehidupan manusia.
BAN-BANAN
Menggelindinglah di atas papan kayu
yang dijaga dengan ketenangan,
dan hanya jiwa yang jauh dari dengki
yang mampu melakukan perhitungan.
Tak bisa kau hidup sendiri
di tengah belantara masalah.
Hanya kompromi yang bisa menyelamatkan
manusia dari dunia rapuh,
hingga kelak akan diakui sebagai prajurit
yang pantas untuk melakukan
tugas sebagai ketua pandu yang terampil
dan paling disegani.
Sesungguhnya puisi
pun merupakan dolanan—dolanan bahasa—yang menyuburkan dan
menyegarkan kembali imajinasi; yang membebaskan kata-kata dari penjara
kerutinan yang memiskinkan dan mematikan; yang ingin menghidupkan kembali
kewarasan. Puisi adalah sebentuk rekreasi dan relaksasi bahasa yang anehnya
sering dilakukan dengan cara yang tidak “waras”. Puisi adalah makhluk
kesayangan homo ludens.
Bagi Intan Andaru, 1998 adalah pengingatan pada Tragedi Banyuwangi. Penulis yang pernah terlibat Residensi Penulis ASEAN-Jepang dan ASEAN Literary Festival 2017 ini seperti ingin menegasi pengingatan publik atas Tragedi Mei 1998 atau peristiwa akbar-nasional Reformasi. Tragedi lokal yang pernah mengguncang publik nasional, disuarakan untuk mengingatkan pada pengalaman dan trauma kolektif sebagai seorang Banyuwangi lewat novel Perempuan Bersampur Merah (2019). Tragedi Banyuwangi 1998 pernah membantai dukun-dukun pengobatan yang dituduh menyebar penyakit kiriman atau santet. Ketakutan tentang teror ninja yang bergerak cepat, membunuh, dan bisa menghilang beredar. Entah lebih dipicu intrik sosial, kecemburuan personal, huru-hara politik, sampai puritanisme agama yang menghendaki perdukunan ditiadakan, tragedi lagi-lagi meminta pengorbanan dari orang-orang tidak bersalah yang mungkin telah dilupakan untuk mendapat suatu keadilan.
Intan memilih cerita dinaratori aku yang
bocah dan perempuan bernama Sari. Dibandingkan dinaratori seorang dewasa,
narator bocah lebih memungkinkan penciptaan-penciptaan suasana dan ujaran yang
naif, lugu, dan rasa pasrah tapi ingin melawan. Saat bapak Sari dibantai, dia
hanyalah bocah tanpa daya yang jelas secara terselubung menampakkan
ketidakmengertian atas tragedi. Lewat pernyataan-pernyataan kecil yang berkelebat
dalam benak bocah, gugatan-gugatan atas ketimpangan status sosial masyarakat,
penghukuman sosial, kemiskinan berusaha dibangun oleh penulis.
Kita cerap, “…aku sungguh masih dapat
merasakan kejadian malam itu: Ingatanku tentang segerombolan orang yang
mengepung rumah. Suara berisik yang mendebarkan. Kegaduhan yang membuat kami
gemetaran. Juga mereka yang melukai Bapak: orang-orang yang tak kukenal dan
sebagian tetangga yang mengikuti mereka dari belakang. Dalam gelap itu, aku
mampu memandang dan merekam siapa saja orang yang menatap iba hingga membantu
keluarga kami, juga siapa saja yang menatap penuh benci pada Bapak” (hal. 70).
Seorang bocah mudah mengingat. Sejak sekolah dasar, Sari menggunakan
pengingatan untuk mencari nama-nama orang yang konon mati karena disantet. Jika
masyarakat tidak bisa dibuat memercayai, Sari yang akan terus percaya bahwa
bapak bukan orang jahat seperti yang dituduhkan.
Ikon Pembangun
Selayaknya novel yang ingin terlibat
mengabarkan tragedi dan intrik manusia, percintaan adalah suatu kewajiban meski
klise. Semakin dewasa, peran Sari tidak lagi sebagai bocah yang mencari
peradilan atas nama bapak. Peran itu sepenuhnya beralih dan dipercayakan Intan
Andaru kepada Rama, lelaki terkasih Sari. Sejak kecil, Rama muncul dalam strata
pendidikan lebih tinggi bertaut dengan imajinasi kemakmuran dan pekerjaan di
masa depan. Rama ditokohkan untuk meninggalkan kampung yang miskin, tidak
berpendidikan, dan masih berkisar di klenik.
Lulus SMA, Rama menjadi mahasiswa, elite
terpelajar yang digadang menjadi ikon pembangun (nasional) terutama sejak masa
70-an dan menguat sejak Reformasi bergulir. Kita tentu bisa menduga, Rama bukan
hanya kuliah untuk kuliah. Dia menjadi aktivis, tekun di organisasi, ikut
demontrasi, dan berurusan dengan polisi. Bahkan kepada Sari yang jelas miskin
dan tidak memiliki modal ekonomi atau sosial, Rama berkata, “Gimana ya. Kan
cuma empat tahun. Ini demi masa depanmu. Jadi sarjana itu penting ndak hanya
untuk cari kerja, tapi juga untuk mendidik anak nanti” (hal. 161). Rama
menghendaki kesetaraan pendidikan bagi perempuan, tapi tetap dengan cara yang
partriarkis. Sebagai penulis perempuan, Intan Andaru tidak bisa melepaskan diri
dari isu-isu sosial berkait dengan perempuan.
Tentu dari segala urusan akademis dan
aktivis dilakukan oleh Rama, Intan Andaru menggunakan jalinan asmara untuk
mendekatkan tragedi Banyuwangi yang komunal sebagai urusan personal antara Sari
dan Rama. Sari mendengar kenyataan bahwa, “Rama bergabung sama aktivis HAM dan
sering demo di jalan-jalan. Dia menemui banyak orang untuk neliti kasus
pembantaian dukun-termasuk kasus bapakmu yang ndak pernah bisa kita pecahkan
itu. Dia juga yang sudah sibuk-sibuk mengusulkan agar kasus bapakmu itu dibuka
lagi sampai ada pertemuan-pertemuan yang kamu datangi kemarin. Dia bahkan rela
skripsinya terbengkalai” (hal. 194). Intan Andaru terlampau heroik memahasiswakan Rama
sebagai bentuk perlawanan Rama pada superioritas dan status sosial bapaknya, tapi
sekaligus pihak penghasut agar warga menghukum bapak Sari yang jelata dan
tertuduh nyantet.
Intan Andaru memang tidak secara tersurat membawa kembali kasus lokal ke publik nasional. Terlepas dari bahasa yang kurang luwes dan enak, barangkali karena pengalihan data riset atas tragedi Banyuwangi 1998 ke narasi novel, Intan Andaru berkeras memberi suara pada lokalitas. Tragedi harus dibawa kembali ke ranah nasional agar selesai atau setidaknya mengurangi trauma kolektif pada masa lalu. 1998 tidak selalu memusat di Jakarta pada suatu Mei yang kelam, tapi juga di Banyuwangi yang mencekam.
Setyaningsih, Esais.
Pembaca Buku. Penulis cerita “Peri
Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde,
2018) Email : [email protected]
Ketika berbicara pelancong waktu
dalam tatanan fiksi, ketika itu pula perulangan telah kali dilakukan. Begitu
pula ketika kita berbicara kumpulan cerita pendek. Banyak pola dan konsep yang
jatuh pada perulangan. Beberapa di antaranya mengambil karya-karya yang telah
terbit duluan di media cetak, kemudian dianggit kembali dalam suatu buku. Tentu
tidak ada yang salah dengan itu. Setidaknya bagi saya sendiri ketika membaca sebuah
karya, ada hal yang kiranya bisa didapat, misal: (1) gagasan apa yang
dituangkan atau tidak ada gagasan sama sekali untuk dituangkan (keduanya sama
baiknya), (2) warna atau premis apa yang diangkat atau setiap cerita tidak memiliki
warna yang sama (yang pertama memudahkan pembaca untuk mengklasifikasikan tema
tertentu), (3) bagaimana teknik dan gaya dimainkan (narasi besar atau tema
remeh temeh sekalipun akan menarik bila memperhitungkan ini).
Ketika seseorang secara sadar memutuskan untuk
menulis, maka ia telah tahu masalah dan bobot kehadiran apa yang akan diangkat. Pengarang Dodit, kumpulan cerpen
perdana milik Doni Ahmadi berjalan pada lintasan yang tepat. Ia tahu buku ini
berjalan di lintasan mana, masalahnya apa dan bobot kehadiran yang bagaimana.
Membaca Pengarang Dodit memaksa saya
mengingat perjalanan setiap orang untuk menjadi kerani atau juru tulis atau
penulis.
Perjalanan seorang yang biasa bercerita dengan
lisannya akan jauh berbeda dengan perjalanan seorang yang biasa bercerita
dengan ragam bahasa tulis. Seorang penulis kiranya bisa mengalami berbagai hal:
kesepian, gangguan internal maupun eksternal, dan kompleksitas pikiran. Menulis
selalu tidak mudah, bagi yang percaya menulis itu gampang maka daya jelajah dan
tujuan menulisnya tidak seluas obsesinya. Berbicara obsesi maka berbicara hakikat
hidup itu sendiri. Tentang perasaan-perasaan yang merasuki pikiran dan
pertanyaan yang berkelindan. Hal itulah yang diamini Doni Ahmadi pada halaman
awal buku ini. Ia menganggit pernyataan Budi Darma soal obsesi pengarang.
Berbicara obsesi, saya coba menerka obsesi Doni lewat
teks-teks di Pengarang Dodit ini.
Cerita-cerita
di dalam Pengarang Dodit tidak
semuanya berlandaskan struktur dramatik Aristotelian: pembukaan, pengenalan,
klimaks, antiklimaks, leraian, dan penutup yang menjadi template penulisan cerpen umumnya. Doni
hendak menyuarakan bahwa cerita tidak semata tentang isi atau apa hal yang
disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana cara menyampaikannya.
Saya kira di rimba kesusastraan Indonesia yang tidak terlalu luas ini, setiap penulis hendak menyuarakan keresahan-kepentingannya. Ada yang menulis tentang kampung halamannya dengan semangat pariwisata, ada yang menulis tentang adat istiadat yang lekat dengan kehidupannya, ada yang menulis tentang negeri-negeri yang jauh dengan semangat turisme warga dunia ketiga, ada yang menulis tentang dirinya sendiri dengan semangat megalomania, ada yang menulis tentang nabi-nabi baru di setiap komunitas kebudayaan, ada yang menulis cinta dengan lika-liku perbudakannya, ada yang menulis angkasa luar dengan semangat pseudosains, ada yang menulis tentang isu-isu politik yang seksi, dan ada yang menulis tentang penulis itu sendiri dengan segala riwayatnya.
Fiksi Biografis dan Spekulatif
Doni saya pikir berada di pilihan terakhir dengan ragam upayanya. Ia secara terbuka memainkan makna tekstual dengan makna referensial. Ada keterkaitan antara semesta fiksi di dalamnya dengan realitas kesusastraan Indonesia itu sendiri. Saya membacanya sebagai gelagat untuk mempertanyakan, atau mengolok-olok (parodi) para gerombolan penulis dan hubungannya dengan sejarah serta kritik sastra. Doni dengan terbuka menjahit pengaruh yang ada pada karya-karya penulis Indonesia maupun dunia. Coba simak cerita yang panjang Dari Obituari Pengarang Dodit sampai Malam Celaka. Cerita itu adalahsebentuk alusi dengan obsesi yang imajinatif. Bahwa orang yang dekat dan bermanfaat dengan penulis bukanlah yang hanya memiliki nama besar, namun lebih kepada biografi-kisah di sebuah antara. Cerita berawal dari seorang penulis (Mustofa Sentot) yang mendapatkan banyak ilmu dan inspirasi dari penulis lainnya (Dodit).
Mustofa merasa kehilangan
dan amat terpukul ketika penulis yang menginspirasinya dalam menulis, meninggal
dunia. Konflik terjadi ketika seorang penulis lain (T.B. Simatupang) meninggal
di hari yang sama. Cerita bergulir dengan ragam teknik dan gaya: pewaktuan
retrospeksi dan cerita berbingkai. Kalau kita tidak membaca secara cermat dan
hati-hati maka kita akan mudah tergelincir. Karena selain teknik dan gaya yang
dimainkan, Doni juga memainkan tokoh-tokoh cerita di dalamnya dengan alusi.
Dengan peristiwa-peristiwa yang lekat dengan rimba kesusastraan kita.
Ia adalah sastrawan avant-garde yang masyhur dan selalu menjadi pusat pembicaraan khalayak sastra. Hal itu ia dapatkan berkat sumbangsih beberapa karya besar yang beliau kerjakan, di antaranya adalah Merahnya Biru (2000) yang menyabet penghargaan nasional Bujur Sangkar Award. Lalu Jia-Ilah (2005) yang meraih penghargaan karya sastra terbaik Asia Tenggara. King Kooong (2011) yang menyabet dua penghargaan sekaligus (karya terbaik versi majalah Tempe dan pemenang Teen Booker Prize). Lalu Kerang (2017) yang meraih penghargaan sastra dari Pusat Bahasa serta masuk dalam 5 besar Teen Booker Prize. Lalu ada lagi kumpulan cerita pendek Tegak Ngaceng Dengan Langit (2015) dan Kumpulan puisi Malam Jubaidah (2013) yang masing-masing meraih sukses dengan terjualnya kedua buku tersebut sampai lima puluh ribu eksemplar. (hlm. 77)
Bagaimana?
Saya kira itu familier bila kita mempertimbangkan dan mengais ingatan kita saat
membacanya: Iwan Simatupang. Atau merasa hal yang imajiner sepenuhnya lahir
dari gelas osong? Saya kira tidak. Coba intip siapa itu Johan Kartawijaya dan
permainan alusinya. Ia berkorelasi dengan lagu Surabaya Johnny karangan Bertolt Brecht
dan bagian dari drama musikal berjudul Happy
End. Merasa terganggu ketika diberi tahu? Saya kira cerita yang baik bila
diberi beberan (spoiler), tetap akan sesuai jalurnya dan kenikmatan akan
membaca tidak akan berkurang. Kemudian ia menempelkan hal-hal yang ia suka
untuk dielaborasi menjadi parodi yang bisa mengganggu atau justru memikat
(tergantung horizon pembacaan).
M. Sentot Wijayanto (1987) merupakan penulis novel dan cerita
pendek. Karya-karyanya yang telah terbit, novel: Sembilan Kunangkunang di
Perempatan (2009), Catatan Panjang Pembunuh Arturo Belaño (2010), Raden Janggut
di Rumah Jaga Lima (2011) dan Petualangan Olenka dan Alit di Trafalmadore
(2018). Cerpen: Upaya Jonru Menjadi Anjing yang Masuk Surga (2012), Tujuh Tahun
dalam Kendali Partai Setan (2014) dan Cerita Buruk yang Membuatmu Ingin Bunuh
Diri (2015). Serta satu kumpulan esai: Mendengar Novel dan Membaca Audiobook
(2017). (hlm. 105)
Kisah
semacam fiksi biografis-parodi ini bukanlah hal yang baru di kolong langit dan
di atas tanah. Bila sekadar menyebut: kisah-kisah seribu satu malam telah
banyak diambil bentuknya untuk kepentingan cerita lainnya. Borges dengan A Universal History of Infamy, Bolano dengan penulis sayap kanan di
Amerika Latin lewat Nazi Literature in
the Americas, dan Bartleby & Co.
milik Vila-Matas. Genealogi semacam ini menunjukan betapa pentingnya horizon
pembacaan akan sejarah sastra maupun otokritik itu sendiri.
Bentuk fiksi biografis lainnya terdapat di Cerita Dodit dan Rahasia Penulis Joni,
Sebastian Bejo yang Fenomenal dan Soal
Nasib. Di Cerita Dodit, Doni
memilih jalur yang saya katakan sebelumnya: menulis tentang kepengrajinan (craftmanship) penulis itu sendiri.
Bahwa penulis pada dasarnya memiliki peluang untuk menuangkan gagasannya dalam
kesempatan apa pun. Mitos writer’s block
saya pikir tidak ada. Ia hanya bentuk kemalasan homo sapiens yang identik
dengan bentuk lainnya: homo ludens dan fabulans. Pada dasarnya setiap manusia
bisa bercerita dan memanfaatkan setiap peluang yang ada setelahnya:
Oh iya, hal gila yang saya maksud itu
adalah mengambil karya-karya dari pemenang Nobel Sastra masa depan untuk saya
plagiasi. Tapi akhirnya saya memutuskan hanya mengambil tiga novel saja dari
seorang pengarang bernama Billy Pilgrim, tepatnya pemenang Nobel sastra di
tahun 2089. Untungnya format buku digital ini dapat saya ubah ke format lama
agar dapat dibuka lewat komputer saya, memang teknologi masa depan itu betulan
canggih! (hlm. 20)
Membuat tokoh fiktif
dalam semesta fiktif bukanlah hal baru dan membuatnya hidup serta berguna dalam
kerangka cerita itulah tugas penulis. Doni dalam hal ini tidak
melanggar Chekhov’s Gun: apa yang ada
di cerita semuanya berfungsi. Seperti
di cerita Sebastian Bejo yang Fenomenal.
Membaca kisah ini seperti hendak menonton Memento
karya Nolan bersaudara. Bahwa ingatan yang buruk adalah titik pijak sebuah
cerita bisa banyak berkelok. Dalam hal itu kita bisa memahami bahwa sebaik
apapun dalam menulis, kalau akhirnya bermasalah dengan ingatan, maka nasibnya
tak baik-baik amat. Seperti cerita Soal
Nasib itu sendiri: ia mengisahkan pesepakbola, kalau boleh saya menebak
maka itu adalah alusi dari David Beckham.
Setelah bermain di ranah fiksi biografis, Doni pun
kembali bermain dengan persoalan waktu dan hal-hal spekulatif lainnya. Pada
kisah Tentang Ucup Karbol yang Kelak
Diperdebatkan, misal.Cerpen dibuka dengan maklumat kematian
tokoh utama, yang dituturkan oleh sobat karibnya. Setelahnya kisah bergerak
lewat dimensi pewaktuan retrospeksi. Secara kronologis cerita berjalan lewat
pengakuan tokoh aku bersama Ucup Karbol menjalani hari-hari yang biasa saja
atau sama sekali tidak biasa-biasa saja. Atau elaborasi keduanya. 23 Mei 2020,
menjadi mula dari konflik. Cerita bergerak setelah Ibunda Ucup Karbol mengalami
peristiwa yang kurang mengenakan. Setelahnya bisa diterka sendiri.
Hal terpenting dari kisah
fiksi ilmiah sebenarnya adalah tentang perabotan atau piranti apa yang
digunakan. Karena medium cerita adalah meyakinkan banyak pihak dan persepsinya
harus sama dengan batok kepala lainnya. Di kisah ini, bagaimana menemukannya
dan fungsinya untuk apa? Lewat medium surat, akhirnya itu terjawab. Jelas tidak
dipaparkan secara detil. Karena ruang untuk itu barangkali bisa dieksplorasi di
novel atau lakon dan bentuk lainnya yang lewah dan memungkinkan.
Sebentuk alusi lainnya
termaktub pada penamaan tempat yang familier: Rumah sakit Kepala Gadung,
Kecamatan Bodong Gede dan Bodong Kecil. Elemen itu terbangun dengan terjaga dan
tidak mubazir. Entah
kenapa saya membayangkan suatu saat nanti Ucup Karbol bisa berkolaborasi dengan
Marty McFly, untuk menciptakan mesin waktu yang lebih spesifik dan berbentuk, misalnya,
DeLorean DMC-12 di trilogi Back to The
Future.
Persoalan waktu, gempa waktu, dan dejavu selalu
bermain di pewaktuan yang tidak linear. Alih-alih manut pada biografi tubuh
yang menghamba pada waktu, Doni menentangnya dan bermain-main di wilayah itu. Anto Lakban dan Beberapa Peristiwa di
Sekitar Teh Hangatadalah
manifestasi dari Hukum Murphy: ketika Anda merasa sial, maka kesialan itu keniscayaan.
Bagi saya setiap orang punya mesin waktu versi mereka sendiri: ada yang
bermimpi, ada yang mendengarkan lagu lama, ada yang membaca ulang lembar
tertentu dalam jurnal, dan ada yang merasakan ketika membaca spektakel dan adegan-adegan
di dalam cerita ini. Konsep manusia soal waktu dan masa depan memang menarik
untuk diikuti.
Doni dalam kumpulan ini seperti memiliki agenda
tertentu, misal dalam kisah distopia Sebelum
Adam dan Eva Memulai Peradaban. Teori penciptaan ia kemas dengan subtil
lewat rangkaian peristiwa. Peristiwa-peristiwa di dalamnya tak hendak
mengatakan “akulah yang paling benar dan jawaban atas segala keresahan di muka
Bumi.” Apa yang kita anggap baik, belum tentu dengan lainnya. Kebenaran tunggal
tidak berlaku di zaman tsunami data seperti ini. Meski begitu, cerita-cerita di
kumpulan ini tidak hanya bermain di wilayah alusi dan spekulatif. Ia bisa
berupa realisme magis di Tentang Ki
Mantep, Dodit dan Telur Bebek, bernuansa detektif-thriller di Misteri Jim dan Pembunuhannya,
dan bernada liris-sentimentil di
Bagaimana Lelaki Pemalu menjadi Filsuf dan Mati dan Trilogi Luca.
Selain cerpen-cerpen di atas, ada juga bentuk cerita
mini (flash fiction), seperti Tanda Pagar, Seorang dari Masa Lalu di
Sebuah Bus Kota, Takdir Buruk, dan Wawancara.
Untuk bagian ini seperti ada kesan “dimasukan agar menambah bobot kehadiran”,
terlepas dari itu, Pengarang Dodit
mampu mengejawantahkan cerita yang tak melulu pada pakem Aristotelian. Saya
pikir sepertinya itu perlu.
Bintaro, April 2019
Galeh
Pramudianto, lahir
di Tangerang Selatan, Banten, 20 Juni 1993. Bekerja sebagai tenaga pendidik dan
salah satu pendiri media Penakota.id. Buku puisi keduanya berjudul Asteroid dari Namamu (basabasi,
2019).
Derma
cerita para murid SD Ta’mirul Islam Solo di kelas menulis terus berlanjut di
bawah ampuan guru sekaligus prosais Karisma Fahmi. Biografi kanak tidak hanya
terdokumentasi dalam nilai rapor, foto, piala, piagam, atau prestasi akademik
lain. Kemenangan Terindah, Kumpulan
Cerita Pilihan (2016) garapan para murid kelas 4-5 lebih duluan menyapa.
Berselang setahun, buku dengan visualitas lebih manis bertema berbagi terbit
dalam judul Pohon Coricta dan Ellasia
(2018). Buku diterbitkan sebagai serial Islam santun bersama Program
Pendampingan Masyarakat Dosen dan Fakultas Bisnis Islam (FEBI) IAIN Surakarta
dan Bilik Literasi.
Buku
ketiga pun tidak ingin ketinggalan manis dijuduli Beri Cerita (2019) memuat 16 cerita pendek. Di cerita pertama
berjudul Kapan Bapak Pulang? Ibnaty
membawa pengalaman hidup yang cukup sadistik. Kanak tidak selalu mendapat jatah
kebahagiaan di dunia. Sering, hidup harus sangat susah dan keras berkaitan
dengan masalah ekonomi. Kemiskinan adalah hal yang menakutkan. Seorang anak
sering harus merasakan hal ini tidak hanya sebagai masalah teknis, tapi juga
psikologis. Diceritakan seorang anak perempuan bernama Gendis. Bapak Gendis
adalah nelayan dan ibunya mengurusi rumah tangga. Karena pendapatan bapak
menurun, Gendis pun harus menanggung derita “tidak sekolah dulu”.
Bapak
Gendis pun mendapat pekerjaan di kapal sebagai nahkoda. “Gendis melonjak
kegirangan mendengar bapaknya mendapatkan pekerjaan. Pasti, nanti Gendhis bisa sekolah lagi! pikir Gendis. Gendis memeluk
erat bapaknya. Terharu. Peristiwa yang tampak sebagai pemecahan masalah ekonomi
ini justru menjadi awal petaka. Ibnaty tidak ingin ceritanya berjalan lempeng
saja. Dia harus membuat alur dramatis mewarisi kekhasan cerita anak Indonesia
yang para tokohnya harus mengalami penderitaan hebat atau peristiwa berair
mata. “Bapakmu meninggal karena ada badai topan di pertengahan antara Laut
Indonesia dan Laut Australia. Korban meninggal ada 13 orang. Salah satunya
adalah bapakmu.” Ibnaty membuat judul ceritanya bernas justru di penutupan
cerita saat Gendis sering bergumam sebagai bentuk ketidakterimaan, “Kapan bapak
pulang?” Tidak ada pesan moral untuk menjadi sok tabah. Manusia juga boleh
sedih.
Kejutan atau berujuk sebagai pembuat kejutan masih menjadi pokok cerita. Hal ini kita rasakan di beberapa cerita, seperti Kado Misterius garapan Fairuz Yumna Navira, Paket untuk Arya garapan Elnora Radea Putri, Hadiah Terakhir garapan Inayah Maunah, Sahabat Selamanya milik Rahma Khairunnisa, atau Special for Mom milik Zulfasya Redita Larasati.
Kado Misterius
agak terpengaruh dari selera horor yang beberapa waktu ini cukup mendominasi
tema perbukuan. Kita cukup bisa menebak bahwa kejutan sering ada dalam peristiwa
ulang tahun. Kita cerap, “Kali ini kado tersebut diletakkan di dalam laciku.
Kali ini kado tersebut dibungkus dengan kertas koran secara asal-asalan. Kado
berisi foto dengan pigura berwarna coklat. Di dalamnya terdapat fotoku, tetapi
anehnya aku tidak sendirian. Ada seorang anak kecil yang berdiri di belakangku
dan melihat ke arah kamera. Anak itu terlihat seperti hantu dalam film horor.
Padahal, foto itu aku simpan di laptopku.” Hiy!
Kita
mungkin agak terkejut dengan cerita Misteri
Pohon Beringin Tua yang digarap oleh Hanifa Nayla Ilma. Sejak judul, kita
sudah bisa merasakan unsur gaib-seram. Ilma membawa pengalaman kolektif,
terutama di Jawa, yang menganggap pohon beringin (selalu) memiliki penunggu.
Setiap kali ada yang mendekati pohon beringin dan melongok ke rimbunan daun,
orang pasti meninggal. Layla, si tokoh anak utama, menjadi pemecah mistis
dengan menggunakan logika sains. Layla dan teman-teman berlagak menjadi
detektif logis disokong oleh pengetahuan mutakhir, “Di bawah pohon itu banyak
sekali oksigen. Paman Rion memiliki riwayat sakit asma yang akut. Ia kedinginan
dan oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya terlalu banyak dan mendesak ke arah
jantung.”
Zulfasya
dalam cerita Special for My Mom
membingkai kejutan dalam emosionalitas beribu. Diceritakan, “Rina memakai
sandal jepitnya dan memandangi satu-satunya sepatu ibu yang diberikan oleh Bu
Hajah Achmad sudah kumal dan usang. Jadi tak jarang ibu pergi kondangan dengan
memakai kaos kaki dan sandal jepit.” Sepatu bekas dan sandal jepit adalah citra
kesederhanaan yang lebih dekat pada kemiskinan. Rina pun memiliki impian kecil:
membelikan sepatu buat ibu. Berprestasi, bekerja keras dengan cara membantu ibu
jualan kue, dan menabung, tiga hal ini menjadi ikhtiar kecil Rina “mengejutkan”
ibu.
Namun,
Rina lebih dikejutkan oleh ketidakberuntungan. Sepatu cantik yang tempo hari
dilihat di toko yang begitu ingin dibelikan untuk ibu, ternyata sudah dibeli
orang. Sebagai penutupan, kita mendapat suatu hal yang khas. Ibu tidak
menginginkan apa-apa selain harapan bagi Rina agar tumbuh dengan salehah dan berprestasi.
Kita mengingat satu hal bahwa suatu
pemberian sederhana itu tampak monumental dan berkesan karena diberikan kepada
orang terkasih lewat usaha penuh kesungguhan hati. Kesungguhan yang datang dari
seorang anak, selalu bisa berdampak mesra bagi batin pembaca.
Dari
kesadaran anak-anak yang menulis, anak-anak memang tidak menampik bencana dalam
cerita-cerita mereka. Kehilangan, kesedihan, ketidakberuntungan, kemiskinan,
dan bahkan kematian adalah hal biasa. Kita memang sempat menemukan kecenderungan
tiba-tiba tokoh meninggal, kecelakaan menimpa tokoh, atau sakit parah mendera.
Hal-hal ini sepertinya masih dianggap sebagai peristiwa kehilangan yang hebat.
Nyaris
tanpa beban konflik dan bersahaja, hadir di cerita Hari Makanan Indonesia garapan Abad Doa Abjad. Cerita ini tidak
membawa unsur keseraman atau kesedihan, tapi kegembiraan yang cukup. Begini,
“Pasar anak pun dimulai. Anak-anak berlari keluar kelas. Mereka telah dibagi
kelompok di kelas. Mereka boleh membeli bermacam-macam makanan dari Indonesia.
Lalu mencatatnya di kertas yang sudah disediakan. Aku dan kelompokku pergi
berkeliling mencari makanan yang kelompokku inginkan.” Tidak ada dramatisasi
atau keinginan meluapkan narasi. Cerita ini lebih berkesan diramu dari
pengalaman dan pengamatan.
Kita berbahagia atas derma anak-anak atas buku ini. Aneka rasa dan peristiwa terdengar pas diracik dalam judul Beri Cerita. Anak-anak menulis bukan sebagai pengkhotbah moral yang serius. Pesan terselubung pasti ada, tapi kita cenderung tidak diajak repot mencari-cari atau bergegas meneladan.
Setyaningsih, Esais.
Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata
Onde, 2018) Email : [email protected]
Selain menjadi media ungkap yang ampuh menyentuh ceruk-ceruk terdalam palung hati seseorang, puisi juga sering menjadi media untuk menggambarkan keadaan orang-orang yang kesusahan. Melalui puisi, orang bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain yang sedang dilanda musibah, bencana, dan peperangan. Dari puisi, orang bisa terlempar ke suatu keadaan dan perasaaan, merenungi gejolak rasa di dalamnya, sehingga berempati dan bersimpati karenanya.
Hal tersebutlah yang dilakukan Khaled Hosseini dalam buku Sea Prayer. Di buku terbarunya ini, penulis kelahiran Kabul, Afghanistan tersebut menyuarakan nasib, kesedihan, juga harapan para pengungsi. Dihiasi ilustrasi yang begitu “hidup” dari Dan Williams, puisi-puisi Khaled mengajak kita menyaksikan, meresapi, dan merenungi nasib orang-orang yang hidup di tengah konflik, peperangan, kemudian pergi mencari suaka ke negeri orang.
Kita sering menyaksikan di media kabar tentang perang yang selalu berisi penderitaan, kerusakan, korban. Tak berhenti pada kerusakan fisik, kerugian material, dan hilangnya rasa aman. Lebih jauh, perang dan konflik dalam waktu yang lama kerap kali memaksa orang-orang pergi mengungsi, mencari tempat hidup yang lebih aman untuk sekadar ditinggali.
Namun, perjalanan mencari suaka tak pernah mudah. Kerap kali mereka dihadang banyak hal, baik orang-orang yang tak cukup ramah menerima kehadiran mereka, juga karena medan yang berbahaya. Berbagai kesusahan tersebut tergambar dalam puisi-puisi Khaled Hosseini. Ia mengaku, buku Sea Prayer mula-mula terinspirasi kisah seorang anak kecil yang menjadi bagian dari pengungsi Suriah. Anak tersebut meninggal karena tenggelam di Laut Mediterania.
Anak tersebut ialah Alan Kurdi, anak lelaki berusia tiga tahun yang menjadi bagian dari pengungsi yang mencari suaka di Eropa pada September 2015. Pada tahun tersebut, selain Alan Kurdi, ada sekitar 4.176 pengungsi lainnya yang juga tewas dan hilang di laut dalam perjalanan mencari suaka. Bertolak dari nasib yang dialami anak tersebut, Khalid seperti merasuk dalam perasaan orang-orang yang terpukul dan menanggung kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai.
Lebih spesifiknya, puisi-puisi Khaled seperti menyuarakan perasaan seorang ayah yang bercerita, mengenang, berdoa, dan berharap. Seorang ayah yang mengajak bicara anaknya yang bernama Marwan, yang begitu disayanginya, namun telah tiada. Mula-mula, kenangan masa kecil sang ayah di Suriah dimunculkan untuk menggambarkan keadaan desa yang semula damai, aman, dan tentram. Setiap pagi kami bangun dan mendengar/gemerisik pepohonan zaitun diterpa angin sepoi-sepoi/embik kambing-kambing nenekmu/ Udara yang sejuk dan matahari/tampak pucat layaknya buah kesemek/ di sebelah timur.
Akan tetapi, kedamaian tersebut mulai berubah sejak sering muncul demonstrasi, penyerangan, dan korban-korban yang berjatuhan. Awalnya, muncul demonstrasi/lalu pengepungan/langit memuntahkan bom-bom/ kelaparan/pemakaman. Di bagian ini, Dan Williams melalui goresan kanvasnya menghiasi puisi Khaled dengan ilustrasi-ilustrasi yang menggambarkan keadaan kota yang porak-poranda, bangunan-bangunan yang roboh, dengan kepulan asap hitam membumbung tinggi membuat lanskap muram di langit.
Khaled menulis keadaan di mana orang-orang harus bertahan hidup, bahkan terbiasa di tengah keadaan tersebut. Kau tahu kawah bom bisa dibuat menjadi kolam renang/kau belajar bahwa ibu, saudari perempuan, dan teman sekolah bisa ditemukan bersembunyi di celah-celah sempit antara beton.
Puisi-puisi di buku ini mencerminkan perasaan seorang ayah, yang bercerita kepada anaknya tentang masa kecil di daerah yang damai, juga Kota Homs yang jalan-jalannya ramai, terdapat di dalamnya masjid, gereja, serta pasar tempat orang-orang membeli makanan segar. Sebelum kemudian kota tersebut berubah menjadi daerah mencekam karena konflik dan perang. Keadaan kota yang aman dan damai di awal yang digambarkan membuat kita semakin bisa merasakan betapa sedihnya orang-orang di dalamnya, ketika kemudian semua itu sirna dan berubah menjadi tempat yang mencekam dan hampa.
Puisi-puisi beranjak menggambarkan saat-saat ketika orang-orang di kota tersebut harus pergi mengungsi. Menuju tepi laut, berkumpul, untuk kemudian memulai perjalanan jauh berlayar membelah lautan penuh bahaya. Menggambarkan kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan saat para pengungsi sampai di tepi lautan, Khaled masih mengungkapkan dan menyuarakan perasaan seorang ayah yang memikirkan bagaimana nasib anaknya, Marwan, saat bersama ibunya, saat mereka ada di antara pengungsi lainnya.
Ada keinginan untuk bisa menenangkan, namun tetap dalam kekhawatiran. Bahwa anaknya sedang berada di tengah lautan. Lautan yang dalam, bergelombang, bahkan berbahaya. Kukatakan kepadamu/Genggam erat tanganku/Tidak akan ada hal buruk yang terjadi/Tapi itu semua hanyalah kata-kata/Tipu daya seorang ayah/Tapi tipu daya itu membunuhku/membunuh kepercayaanmu kepadaku/Karena yang dapat kupikirkan malam ini/hanyalah begitu dalamnya lautan/dan betapa luas/serta tanpa ampun/Betapa aku tidak berdaya melindungimu dari lautan itu.
Ilustrasi menyuguhkan potret kerumunan pengungsi yang berjalan berbondong-bondong. Dan Williams menggoreskan kanvas, garis demi garis memberi kita penampakan sebuah kapal dengan muatan penuh pengungsi. Sebuah kapal tak begitu besar yang terombang-ambing di lautan bergelombang. Ketika kapal sudah meninggalkan tepi pantai dan mengarungi lautan, yang bisa dilakukan hanyalah pasrah dalam harap dan doa. Karena kau, kau adalah muatan berharga, Marwan/muatan paling berharga dari semua muatan yang pernah ada/Aku berdoa agar lautan mengetahui ini/Insya Allah.
Buku puisi Sea Prayer menjadi cara Khaled memberi penghormatan dan kepedulian terhadap nasib para pengungsi. Penulis yang karya-karyanya terjual puluhan juta eksemplar di seluruh dunia tersebut juga seorang Duta Persahabatan bagi UNHCR, serta pendiri Yayasan Khaled Hosseini. Sedangkan Dan Williams merupakan seorang seniman dari London yang ilustrasi-ilustrasinya telah banyak menghiasi berbagai media ternama di dunia. Buku ini menjadi dedikasi mereka berdua untuk para pengungsi. Sebagian royalti hasil penjualan buku ini disumbangkan ke UNHCR dan yayasan Khaled untuk membantu meringankan beban para pengungsi di seluruh dunia.
Paduan puisi Khaled dan ilustrasi Dan Williams memberi gambaran nasib pengungsi dalam benak siapa pun yang membacanya. Rasa sedih, cemas, khawatir, gelisah, dan penuh harap, menjadi bentuk-bentuk emosi yang dihantarkan lewat puisi dan dirasakan siapa pun dari belahan dunia mana pun. Buku puisi ini mengabarkan nasib pengungsi ke segala penjuru bumi. Menggugah emosi, menumbuhkan simpati.
*Al-Mahfud, penikmat buku, dari Pati. Menulis ulasan buku di berbagai media massa, lokal maupun nasional.
Puisi acapkali bersinggungan dengan kondisi keseharian
penyairnya. Setidaknya ia menghimpun sejarah panjang yang melingkupi dari
peristiwa itu. Maka apa yang dituliskan Kiki Sulistyo dalam kumpulan puisinya,
dengan kembali ke dalam khazanah lokal (keseharian) dari lingkungan kehidupan
menjadi sebuah cara unik untuk tetap menggali akar tradisi yang ada.
Jarang penyair yang mengangkat kultur kehidupan lokal yang
ada. Dalam pembukanya Kiki mengisahkan perjalanan puisi-puisi yang terhimpun
dalam buku ini, ia bercerita tentang sebuah dusun, kehidupan berpindahnya yang
turut merekam segala peristiwa. Komunikasi yang kerap “mengganggunya”, namun
menjadi bahan dasar dalam puisi-puisinya. Adalah bahasa Sasak sebagai komunikasi
verbal yang juga turut imbas dalam gubahan puisinya. Maka insulin itu pulalah
yang menjadi pemacu, saat ia merasa ada gangguan, namun lewat percakapan itu,
Kiki justru menemukan sebuah instrumen yang baru. Istrumen yang kembali ia
endapkan ulang, sebagai suatu nada yang bersahutan. Temali dengan imajinasinya.
Keunikan tradisi yang turut pula memengaruhi puisi-puisinya.
Terasa memang bagaimana Kiki menghimpun diksi-diksi, dengan merangkum pelbagai
alat, benda, tanda, nama panggilan,
tempat, ataupun aura bunyi yang terasa mistis. Ini yang menjadikan puisi-puisi
dalam buku ini begitu unik.
Dan Kiki menulis: kusebut tenggara saat kau sebut
pertengkaran, -antara mereka,/kelasi dan pencuri di kapal yang berlayar menuju
Ampenan//…duyung itu bibi, datang pada suatu hari dengan
rambut/berkepang//matanya lengkung limau muda, kulitnya lempung pulau
sokotra//…hanya kelasi yang mengerti mengapa kini kota ini sekisut
kuping/bayi//sebab ia tua oleh suara ombak menolak usia, ia celaka oleh upaya
menjadi baka//(“Rawi Tanah Bakarti”, Hal. 12-13)
Ihwal Pasar Malam turut dicatat Kiki dalam puisi. Sebuah
pasar malam, menjadi sebuah penanda permainan yang ada di dalamnya: kuda
sirkus, bayi, orang kerdil, dan pembaca kartu. Ia menulis:
Perempuan itu datang membawa kartu/ di belakangnya seekor
anjing buta/ menyeret sembilan tempurung, suaranya berdengung/setiap ia
melulung, di angkasa ruh-ruh berwarna biru/ bergerak baghai wabah/perempuan itu
menyalakan pelita, api berkedip/seperti mata siluman dalam botol limun/yang berkilau-kilau/kartu-kartu
di tangan perempuan itu terbuka satu per satu/gambar-gambar di dalamnya jatuh
ke tanah/hidup dan tumbuh:/cacing air yang terus-menerus mengisap cahaya/wayag
yang meniup bayangannya sendiri/seorang menak tanpa kepala, tangan kiri yang
merayap seperti kepiting./perempuan itu menunjuk ke ladang,
bintang-bintang/padam di rambut setiap orang// (“Pembaca
Kartu”, hal. 26). Terasa bagaimana Kiki menjaga keutuhan diksi puisinya.
Rimanya terjaga dan tertib. Ia seperti tidak menyisakan celah lain, kata-kata
menjadi lebih hidup dan menggambar maknanya sendiri.
Buku ini terbagi jadi empat bagian: Rawi Tanah Bakarti,
Kitab Batu, Rumah Juru Tenun, Bakar Padi di Bakarti. Di setiap bagian,
puisi-puisi saling bersinggungan, sehingga menciptakan peristiwa-peristiwa yang
baru. Terasa bagaimana Kiki konsisten menjaga setiap bagian-bagian puisinya
agar senantiasa berhubungan antara satu dengan lainnya.
Beberapa puisi menghadirkan pengulangan kata. Kata yang
diulang tersebut menciptakan landai panjang saat membacanya, namun tetap
menciptakan kelindan lain. Saat kata bertemu dengan kata yang lainnya.
Pengulangan kata-kata itu menciptakan harmonisasi, yang lebih mirip nada pada
sebuah lagu.
Bakarti
Sebagian besar buku ini, mengambil tema tentang Bakarti. Kiki
merincikan dalam pelbagai pilahan, yang sekaligus meminta hasrat untuk tetap
terjaga membacanya. Membentuk untaian, meramunya dengan pelbagai mitos dan
dongeng yang kerap terjadi. Ia, meskipun tidak melakukan penelitian secara
khusus, namun terasa bagaimana keseriusan yang dikerjakannya. Kiki seakan
terjaga untuk tetap mengamati, setiap hal—ihwal yang terjadi di Bakarti. Dengan
rinci, Kiki menjabarkan setiap peristiwa, lalu memberikan sentuhan metafora
yang kadang tak terduga.
Tidak hanya Bakarti, Kiki juga memotret dengan lugas tentang
penantian seorang Ibu akan kepulangan anaknya. Namun ternyata ada luka
kehilangan yang kemudian ditemui:
Ibu tidur di beranda. Siaran radio meresap kulitnya./Sebelum
tidur ia dengar suara pesawat melintas lambat./ Ia bayangkan putranya di dalam
sana, hendak pulang./ Ia bayangkan hutan-hutan sawit melengkungkan
punggung/remaja/yang potret masa kecilnya buram di dinding kamar.//Tunas tomat
merekah tanah, sedikit di sebelah kanan rumah./Tapi tak ada pekerjaan, cara
menghabiskan usia/di bawah langit yang sama semenjak sepasang pendosa/dibuang
dari surga. Juga untuk menerima/bahwa para pembuat pepatan telah berdusta. Tak
ada surga./Tak ada tongkat. Dan batu-batu tak diangkat derajatnya.// Ibu tidur
di beranda. Dalam tidurnya, ia saksikan perahu kayu/mengangkut penumpang gelap.
Hanyut ke rawa-rawa berasap./Sirine, sorot lampu, teriakan-teriakan dalam
bahasa Melayu./Ia bayangkan putranya diturunkan dari pesawat. Terbaring pucat/
dalam peti yang engsel-engselnya mulai berkarat,// (“Ibu
Tidur di Beranda”, hal. 95)
Kiki telah menciptakan langkah yang baru bagi perkembangan
puisi. Pelbagai kosakata baru mengerubungi puisi-puisinya. Yang ternyata menciptakan
makna baru pula, ia seperti mengorek ke akar kata. Membiarkan puisi-puisinya
dihuni dengan kata-kata yang jauh dari kelaziman.
Melalui buku ini, Kiki telah memberikan corak yang baru dalam dunia perpuisian kita. Ia telah menghadirkan bentuk puisi yang baru, kembali ke tradisi lokal, hal yang mulai terlupakan selama ini. Ia kembali jauh di kedalaman akar kata, bagi puisi-puisinya.
Alex R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Saat ini bekerja di Jakarta. Tulisannya berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di pelbagai media cetak mauapun online. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016). Bisa dihubungi : [email protected]
Rabindranath Tagore (1861-1941), pujangga
besar asal India, dikagumi bangsawan dan intelektual Jawa. Kagum atas
puisi-puisi dan tata cara mengadakan pendidikan-pengajaran. Bentuk kagum
diwujudkan dalam penerjemahan puisi dan ulasan pelbagai gagasan pendidikan
dalam bahasa Belanda dan Jawa. Dua orang penting di pemuliaan Tagore adalah
Noto Soeroto dan Soerjo Soeparto (Mangkunegara VII). Dua intelektual itu
menekuni tulisan-tulisan Tagore saat menempuh studi di Belanda.
Soerjo Soeparto dianggap penerjemah awal
puisi-puisi Tagore ke bahasa Jawa. Ia mungkin merasa ada ikatan batin imajinasi
Tagore dengan batin kejawaan. Sejak ribuan tahun, Jawa turut dibentuk dengan
kucuran imajinasi asal India. Pada abad XX, kemunculan Tagore sebagai peraih
Nobel Sastra 1913 mengundang minat intelektual Jawa untuk memasuki jagat sastra
memiliki tautan India-Jawa. Noto Soeroto tampil sebagai penerjemah Tagore ke
bahasa Belanda. Bangsawan pernah berkancah di politik tapi “tersingkirkan” oleh
kaum nasionalis itu malah rajin pula menggubah puisi dan artikel terpengaruh
Tagore. Buku-buku bereferensi Tagore diterbitkan di Belanda, sempat beredar di
Hindia-Belanda (Harry A Poeze, Di Negeri
Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, 2008).
Pikat ke sastra
Tagore terjadi pula di Hindia-Belanda. Muhammad Yamin dan Amir Hamzah ada di
muka dalam penerjemahan dan pengenalan Tagore ke umat sastra di Indonesia masa
1920-an dan 1930-an. Sekian terjemahan terbaca dan menebar pengaruh dalam
sastra, pendidikan, dan religiositas. Tagore tak terasa asing. Pada masa
1920-an pula, Tagore berkunjung ke Jawa: Mangkunegaran dan Perguruan Nasional
Taman Siswa. Pesona sastra Tagore semakin membesar dengan edisi-edisi
terjemahan oleh Amal Hamzah, Anas Ma’ruf, dan Hartojo Andangdjaja. Tagore
seperti bertanah-air di Indonesia, ada di arus perkembangan sastra modern
bercap estetika Timur.
Dua buku terjemahan sering diulas di
Indonesia adalah Gintanjali dan Tukang Kebun. Pada masa lalu, Gitanjali diterjemahkan oleh Amal
Hamzah. Edisi itu menjadi klasik tapi agak sulit terbaca bagi orang-orang sudah
berbahasa Indonesia dengan EYD (1972). Pada 1976, Hartojo Andangdjaja melalui
edisi bahasa Inggris memberi terjemahan Tukang
Kebun. Pada akhir 2018, buku itu terbit lagi. Kita membaca (lagi) saat
Indonesia terlalu ramai oleh politik dan agama. Di lembaran-lembaran sastra
gubahan Tagore kita diajak menepi: menjalani renungan dan menempuhi bahasa
estetis menampik politis.
“Apakah arti Tagore pada kita?” Kalimat
itu ditulis Hartojo Andangdjaja berlatar abad XX. Kini, kita bias mengimbuhi
dengan situasi abad XXI: “Apa suara Tagore terdengar jauh?” Pikat sastra Timur
perlahan pudar, setelah umat pembaca di Indonesia cenderung terkesima ke
pelbagai terjemahan sastra asal Amerika Serikat, Amerika Latin, Prancis, dan
Jerman. Panggilan ke Timur masih terasa dengan sekian terjemahan sastra asal
Jepang dan Tiongkok. Buku-buku asal India masih diterjemahkan tapi seperti
meninggalkan Tagore di masa lalu. Di mata Hartojo Andangdjaja, persembahan
sastra Tagore itu terlalu berarti, memerlukan puluhan paragraf.
Jawaban berbeda diberikan Goenawan
Mohamad: “Memang di atas segalanya, Tagore adalah seniman. Kebebasan,
kreativitas, kehidupan rohani: semua itu hal yang tak bias ditawar dari
dirinya. Dari sinilah hidup dihayati sebagai keindahan dan kegembiraan yang tak
kunjung putus, yang dikaruniakan Pencipta pada kita.” Pujian dituliskan pada
1968, masih di gelagat kesusastraan religius di abad XX. Pada masa berbeda,
kesan atas Tagore itu menggenapi pengakuan mutu terjemahan Hartojo Andangdjaja.
Kita beruntung mendapat Tukang Kebun,
melintasi tahun-tahun untuk renungan di zaman terlalu ramai kata dan pemiskinan
imajinasi religius.
Tagore bercerita: “Jika seorang
pengembara, meninggalkan rumahnya, datang ke sini untuk
berjaga semalam-malaman dan dengan kepala tunduk mendengar-dengarkan hingar
kegelapan itu, siapakah akan membisikkan rahasia hidup ke telinganya, jika aku,
menutup pintu, mencoba hendak membebaskan diriku dari ikatan
fana?” Pengembara, tokoh di pencarian-penemuan hakikat. Ia bergerak tanpa lelah
meski jeda dan istirahat pun diperlukan, bukan peristiwa nihil tapi tetap
bergelimang makna di keinsafan. Hasrat ke menguak rahasia belum tamat, menanti
di kepasrahan.
Kita membaca paragraf itu di keriuhan
nasihat-nasihat beredar di media sosia. Beredar tanpa mengajak “pengembaraan”
bersuasana “purba”.
Tagore masih kita perlukan meski mata-membaca dan mata-renungan telah berganti
ke mata-potret di putaran detik terlalu cepat. Rahasia terus disingkap secara
serampangan dan kolosal. Kegelapan dimusuhi terang sepanjang hari. Gelap itu
musuh di abad XXI, terlarang bagi nafsu kegirangan tak pernah usai. Kini,
Tagore mungkin suara dari jauh. Kita mendengar lirih, susah mencari sumber atau
mendekati dengan gemetar dan serius.
Pada cerita lain, Tagore mengisahkan: “Dia
duduk di debu di bawah pohon. Bentangkan di sana alas duduk dengan bunga-bunga
dan daunan, kawan. Matanya duka dan menimbulkan kedukaan dalam hatiku. Dia
tidak mengatakan apa yang tersimpan dalam hatinya; dia hanya datang dan pergi.”
Bahasa itu memang berasal dari masa lalu, sulit digunakan lagi bagi
manusia-manusia biasa mengumbar rahasia ke ribuan orang setiap detik.
Rahasia-rahasia puncak tak lagi diinginkan atau dianggap masih penting bagi
manusia dan dunia. Diksi debu, pohon, bunga, dan daun milik penekun rahasia
cenderung memilih diam ketimbang cerewet sembrono. Pada paragraf itu kita
semakin tak mengerti peristiwa dan makna datang-pergi, setelah kecepatan
menjadi dalil terpokok abad XXI. Datang-pergi itu rutin tanpa pendasaran ingin
dan capaian berpijak religius.
Pada hari-hari peremehan rahasia, adegan
membaca Tukang Kebun berisiko
keterpencilan pembaca. Tagore milik orang terpencil? “Dan itulah Tagore. Ia
telah membukakan kaki langit itu bagi kita,” tulis Hartojo Andangdjaja. Kaki
langit dimaksudkan kita bergerak ke arah sumber rahasia. Bergerak dengan
lirik-lirik mistis buatan Tagore. Manusia hari ini mungkin tak memerlukan
mistis, memihak ke segala hal berselera politis dan bisnis agar merasa sah
berada di kaum keramaian sepanjang hari. Mistis cuma milik orang memuja masa
silam, masih berjalan di bahasa tak tergesa, dan belum dilanda keberlimpahan
rupa-warna.
Tagore mengingatkan kita di akhir
persembahan Tukang Kebun, percakapan
dekat-jauh: “Siapakah engkau, pembaca, membaca sajakku seabad lama? Tak dapat
aku mengirimkan padamu setangkai bunga pun dari kemewahan musim semi ini,
segaris kencana dari awan-awan di jauh sana. Bukalah pintumu dan pandanglah ke
luar!”
Larik awal tak pernah diralat. Kini, kita membaca melebihi seabad laku, berbeda
penghitungan waktu dari saat penggubahan sastra oleh Tagore. Semula, kita
diperkenalkan dengan Rabindranath Tagore, dekat dan jauh. Di akhir, kita harus
menjawab pada Tagore saat masih menempatkan diri sebagai pembaca di zaman ramai
mulai kehilangan puisi di bumi-langit. Begitu.
Bandung Mawardi. Kuncen Bilik Literasi Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com
Dea Anugrah barangkali satu dari sedikit penulis Indonesia yang mampu menulis puisi, cerita pendek, dan esai sama baiknya. Sebelum buku kumpulan esai ini terbit, saya membaca puisi-puisinya dalam Misa Arwah (2015) dan terpikat, saya juga membaca cerpen-cerpennya dalam Bakat Menggonggong (2016) dan terpikat. Kemudian saya membaca esai-esainya dalam Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya (2019) dan terpikat. Seolah-olah penulis muda alumnus Filsafat Universitas Gadjah Mada ini menyisipkan semacam sihir di setiap tulisannya.
Namun kini bukan lagi zaman Firaun dan tulisan-tulisan Dea bukanlah sihir juga bukan tongkat Musa. Sedikit mirip—mengagumkan dan membuat takjub—tapi bukan.
Sekelumit esai dan reportase yang tercantum dalam buku tipis bersampul foto penampakan seperti gudang yang berantakan dengan latar hitam ini, terlihat betul dibuat secara sungguh-sungguh. Himpunan data yang meyakinkan, gaya penulisan subtil dan cakap, pemilihan kata yang selektif, dan bagaimana penulis menyisipkan gagasan-gagasannya soal hidup tanpa tampak menggurui.
Dalam esai “Bersantai di Komering, Kabar Burung dari Pasundan” dan “Billiton Maatschappij dalam Pusaran Sejarah” misalnya. Pada esai pertama yang berisi tentang asal mula pelbagai kata, istilah, dan isu seputar Bahasa Indonesia, penulis tampak serius dan ulet dalam mencari dan mengumpulkan data. Bukan hanya dari buku; kamus, majalah lama, jurnal, puisi, sampai status Facebook pun dijadikan acuan untuk mendukung dan memperkuat tulisan. Sedangkan pada esai kedua yang menyerupai catatan sejarah sangat-ringkas mengenai Belitung, penulis menyuguhkan banyak sekali hasil penelitian, tanggal-tanggal penting, penjelasan-penjelasan bahasa Pinyin, dan sebagainya.
Sementara dalam beberapa esai lain semisal “Terbenam dalam Waktu yang Hilang”, “Para Pembunuh Anak-Anak”, dan “Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya” Dea seperti seorang sufi yang sedang menyamar sebagai peranakan Tionghoa dan menjadikan kata-kata sebagai medium mengajak umat manusia untuk merenung.
Pada tulisan pertama yang berbentuk serupa cerita pendek, penulis mengisahkan perjalanannya ke Pulau Biawak dengan manis. Alih-alih mengeksplor suatu tempat seperti sales menawarkan barang jualannya, penulis menjadikan laut, perahu, dan mercusuar yang terdapat di tempatnya berkunjung sebagai sarana merenungi dan mengenang banyak hal. “Para Pembunuh Anak-Anak” juga menggemakan gagasan yang nyaris serupa namun dalam bentuk berbeda. Pada esai ini penulis memaparkan betul betapa buruk akibat peperangan, terutama bagi kanak-kanak. “Bukan Tuhan yang membunuh anak-anak. Bukan pula nasib atau takdir yang mencincang dan menjadikan mereka makanan anjing. Kitalah yang melakukannya. Hanya kita.” (hlm. 144).
Sedang dalam “Hidup Begitu Indah…” yang sekaligus menjadi judul buku, kegelisahan tampak menjadi ide pokok. Setidaknya itu terlihat dari cara penulis menceritakan tentang kawan lamanya yang berubah menjadi seorang penganut ajaran ekstrem dan menuduhnya “kafir, vulgar, liberal” : “Saya sedih karena merasa dia terlampau mudah membuang apa-apa yang berharga di antara kami. Saya menyesal karena sayalah yang mendorongnya buat melakukan itu.” (hlm. 174) Selain itu, dalam esai yang sama, kegelisahan dan ‘penyesalan’ tampak tergambar sewaktu penulis menarasikan tentang ibu yang tega mengajak anaknya mengebom diri bersama-sama. “Kalau tak putus asa, dia bisa mengingat-ingat perasaan-perasaannya ketika mendengar kata pertama yang diucapkan putrinya; ketika tahu bahwa dirinya mengandung; ketika jatuh cinta buat pertama kali; dan ketika dia, dengan muka berlumuran bedak, bermain lompat tali dengan kawan-kawannya di teras rumah, sementara ibunya berseru-seru dari dalam: ‘Hati-hati, Nak, hati-hati, jangan sampai jatuh!’ dan bersandar pada semua itu, menyadari bahwa hidup begitu indah dan hanya itu yang dia punya.” (hlm.179)
Selain esai-esai bertabur data dan “renungan” yang ditampilkan secara pas dan tidak menjenuhkan, ada pula sejumlah esai yang mengangkat hal-hal sederhana dan tak banyak orang bahas sebagai ide utama. Misalkan saja “Kebebasan dan Keberanian” yang menceritakan tentang satu barbershop di bilangan Jakarta yang mencukur rambut pelanggan sesuai bentuk muka dan kepala, “Ada Apa dengan Pisang” perihal bagaimana perusahaan pisang berkelas dunia bisa mengganggu dan mengacaukan keseimbangan alam, dan “Mengutuk dan Merayakan Masturbasi” yang secara asik menjabarkan soal aktivitas merancap dan serba-serbinya.
Buku ini sebagaimana buku-buku serupa yang ditulis oleh tangan terampil, masih lebih banyak menyimpan sesuatu yang tak sempat saya tulis dan mungkin sadari. Di dalamnya ada lelucon-lelucon, narasi-narasi sedih, dan hal-hal lain yang membuat saya tergelitik untuk menutup tulisan ini dengan kata-kata yang menjadi tajuk buku: Hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya. (*)
Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News. Bisa di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].
“Bu, maafkan Nur. Kumohon, maafkan Nur. Hari
ini Nur umur dua puluh delapan, tapi Nur nggak bisa menikah sekarang,” ujar
Nursri dengan bibir bergetar sambil memeluk ibunya (hal. 90). Nursri; tokoh
utama dalam cerpen Amanatia yang dijadikan judul buku ini; Waktu untuk Tidak
Menikah—menjadi menarik di mata para pembaca. Khususnya di kalangan kaum
muda yang dilema dengan pertanyaan: kapan nikah?
Berharap
mendapatkan semacam solusi dari kebimbangan “untuk tidak menikah” mendadak terbesit
ketika: mendapati pengalaman orang-orang yang justru kesulitan menghadapi rumah
tangga, penghasilan yang belum dikatakan cukup untuk membangun sebuah keluarga,
status jomlo yang memunculkan kebingungan akan menikah dengan siapa, atau
persoalan hati karena gagal move on dengan mantan—sedangkan mantan lebih
dulu berumah tangga dengan orang lain dan tidak mungkin membujuk untuk diajak balikan.
Semoga Tuhan memberkati kalian!
Seluk
beluk percintaan yang “rumit” dikumpulkan Amanatia dalam empat belas judul
cerpennya yang dirangkum dalam blurb buku ini: di belahan bumi lain, ada
yang tersungkur patah hati ditinggal kekasih. Ada yang kehilangan banyak hal
dalam waktu yang berdekatan. Ada yang memilih hidup sendirian bersama dua
kucing liar. Ada yang tiba-tiba ingin menghubungi mantan kekasihnya. Ada yang
mencintai diam-diam dan berakhir ditolak mentah-mentah. Ada yang tak siap
berpisah, sekali pun sudah menabung kesiapan itu jauh-jauh hari. Ada yang
selalu mencintai tapi tak pernah bisa menerima, hingga persoalan ada yang
menikah, lalu ingin berpisah.
Pada
Jarak yang Memisahkan Kami—pun, saling mencintai benar-benar
tidak sederhana, kau percaya? (hal. 100). Justru permasalahan hubungan jarak
jauh (long distance relationship), rentang usia terlampaui jauh, juga
gelar dan status sosial tidak mungkin sesederhana saling mencintai lalu ingin
menghidupi. Itu sebabnya, penulis kelahiran Malang ini menuliskan:
kadang-kadang, memang selalu ada waktu untuk tidak berkasih. Untuk tidak bercinta,
untuk tidak menikah. Lagi pula, kisah cinta yang melulu indah itu kata siapa?
Pernyataan
tersebut membuat Amanatia menciptakan tokoh seorang mahasiswi dengan pembicara
seminar super sibuk di bagian 8: tak ada dari kami berdua yang menyangka bahwa pada
akhirnya kami saling jatuh cinta dan memiliki hubungan yang sulit
didefinisikan. Di usiaku yang berjarak sembilan tahun lebih muda darinya, aku
benar-benar tak habis pikir mengapa ia bisa jatuh cinta padaku (hal. 96). Pada
akhirnya, tokoh si perempuan dalam cerita ini mengungkapkan kegelisahannya:
belum 24 jam ditinggalkan, sudah menangis lagi. Aku hanya menatap layar dan tak
menyentuhnya. Berharap ia membalas dan mengabarkan bahwa ia baik-baik saja di
sana, tapi ia tak membalas. Mungkin sibuk. Mungkin pula enggan (hal.102).
Lebih
menyesakkan lagi, ketika disuguhkan ceritanya bertajuk Baru Menjadi Ibu—sebagai
pemilik rahim, perempuanlah yang pada akhirnya menanggung kepuasaan birahi (entah
dari salah satu atau kedua belah pihak). Maka tak heran jika W. Sanavero
menuliskan kegelisahannya dalam Perempuan yang Memesan Takdir. Prosa
yang menyingkap sisi lain perempuan perihal mamaknai cinta, kenangan, keluarga,
budaya, pernikahan, bahkan hubungan manusia dengan Tuhan—meskipun cara pandang
perempuan tetaplah berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Berbeda
kisah dengan pemikiran laki-laki. Saya teringat Kisah Sedih Kontemporer (IX)
dalam Kumcer Bakat Menggonggong, Dea Anugrah menyiratkan kesedihan
perihal cinta yang “lucu” sehingga patut ditertawakan dengan “gonggongan” atau umpatan
kecil saat Shalani Nafasha setelah dua tahun mengirimkan pesan tersirat bahwa
ia telah memiliki momongan kepada Fredrik—pria yang mengaguminya. Berbeda
konteks dengan Kurniawan Gunadi perihal cinta diam-diam kepada seseorang yang ia
cintai hingga dituliskannya dalam sekumpulan cerita Lautan Langit.
Baginya, menikahi dan mengarungi lautan kehidupan bersama adalah solusi tepat
untuk mengimplementasikan rasa cinta.
Lalu
apa yang terlintas ketika membaca judul buku ini? Apakah dengan meghindari
kerumitan tersebut kita hanya mampu memilih untuk tidak menikah? Lalu dengan
memilih untuk tidak menikah kita akan terlepas dari belenggu masalah? Lalu bagaimana
menjalani kehidupan sebagaimana Nursri, menjelang hari pernikahannya yang
tinggal beberapa jam harus dihadapkan dengan persoalan yang membuat pikirannya
kacau. Perempuan itu, akhirnya memilih hidup dengan anak semata wayangnya di
Timalayah tanpa harus menikah. Kini baginya, tidak ada yang lebih penting dari
mengurus anak satu-satunya—tanpa perlu lagi menghadirkan sosok lelaki dalam
kehidupannya.
Membaca
buku Amanatia Junda, saya mengimani bahwa yang terjadi di masyarakat perihal
cinta, rumah tangga, atau hubungan sosial tidak semudah menikmati cerita di
negeri dongeng. Di Lantai Tiga Beringharjo, misalnya. Kita akan
mendapati penulis dengan cerdik menceritakan beragam karakter yang barangkali
kita temui di kehidupan para pedagang. Menceritakan seorang janda yang memilih
tinggal sendiri setelah ditinggal pergi suaminya ke luar negeri. Kisah
perempuan yang sarat dengan kesedihan—seumpama baginya, hidup dengan hewan
peliharaan lebih menyenangkan dibandingkan menjalani hidup yang baru bersama
pasangan baru, pun dengan persoalan yang baru pula.
Tidak
hanya itu, penulis mengikhtiarkan pemahamannya bahwa laki-laki harus paham
seluk-beluk perempuan. Maka dengan tegas pun lugas, pengarang menciptakan
sebuah cerita Perkara di Kedai Serba-Serbi. Tidak tanggung-tanggung,
Amanatia menuliskan secara gamblang lewat sosok Dina; perempuan yang terpaksa
menceritakan kesialan di hadapan kekasihnya. Bagi saya, ini merupakan bagian rumit
bagi perempuan untuk menunjukkan apa yang seharusnya disembunyikan. Tapi
seketika saya sepakat bahwa tidak ada yang salah dengan ilmu pengetahuan. Maka,
sah-sah saja.
Terlepas
dari latar belakang pengarang, saya yakin bahwa Amanatia merupakan sosok yang
kuat. Terbukti dari hampir keseluruhan cerpennya, selalu dimunculkan konflik
yang membuat perempuan selalu menanggung “getah” dari kesialan lelaki. Namun
dimunculkan solusi tentang bagaimana tokoh tersebut mengambil peran untuk tetap
selow menghadapi kehidupan. Baginya, ia hanya perlu membaca ulang
peristiwa-peristiwa lama yang membuat dirinya berspekulasi: aku masih lebih
beruntung daripada dirinya. Atau semacam rasa syukur dan kebijaksanaan untuk
tidak memperlihatkan kelemahan. Sehingga ia memilih berjalan terus sesuai
kehendak hatinya sendiri.
Merasa
dicurangi dengan judul buku ini sebab berbeda situasi dengan Nursri, saya tetap
mendapatkan bekal untuk sekadar merenungkan kembali mengapa menikah menjadi
bagian penting bagi hidup manusia. Terlepas dari cinta, terlepas dari tuntutan
keluarga, dan terlepas dari persoalan apapun, waktu untuk tidak menikah bagi
saya hanyalah persoalan “waktu”. Itu sebabnya mengapa banyak sekali perkara
terjadi, baik yang melibatkan masa lalu, masa sekarang, bahkan masa depan. Maka
sampailah kita kepada pertanyaan perihal: kapan waktu untuk tidak menikah—dan
setiap orang berhak atas jawabannya masing-masing.
Ini
seperti prinsip cinta yang diceritakan Cak Nun pada sebuah kesempatan perihal
Umbu Landu Paranggi—beliau mengimani bahwa cinta sejati adalah cinta yang tak
boleh dibatalkan dengan sebuah pertemuan, apalagi sampai melakukan kontak fisik
dengan pernikahan. Salah satu prinsip Umbu sehingga ia tetap mencintai seorang
wanita tanpa pernah memilikinya sama sekali, namun ia tetap mencintainya. Bagaimana
bisa? Bukankah cinta dan pernikahan saling beriringan? Bertanyalah sambil
menyelami setiap lembar buku ini dan temukan jawabannya.
Bagi
siapa saja, buku ini sengaja lahir untuk ditimang khalayak luas. Bukan hanya
dikhususkan kaum jomlo yang terlanjur malas untuk menikah atau kaum patah hati
yang mengutuk dirinya sendiri dengan beragam alasan. Sebab cerita demi cerita
yang dihidangkan Amanatia sangatlah realistis dengan kehidupan nyata. Maka bagi
siapa saja yang masih memiliki cinta, nikahilah buku ini sebelum waktu memaksa
kita menikahi sepi.
Mutia
Senja, lahir di Sragen, Jawa Tengah. Bergiat di Sekolah Menulis Sragen
dan Komunitas Sangkar
Literasi. Hobinya menulis sesuka hati. Buku puisi tunggal Manahan Selepas Hujan, terbit
Mei 2018. Blogger di aksaramutiasenja.blogspot.com, Instagram: @mutia_senja,
e-mail: [email protected], nomor
HP 085713027400,
Pernahkah kita berpikir jika
kebiasaan kita dalam meletakkan, merapikan, atau membereskan barang-barang di
rumah turut berdampak atau memengaruhi kehidupan kita secara umum? Pekerjaan
meletakkan, menyimpan, dan membuang barang ternyata bukan perkara remeh yang
bisa diabaikan. Aktivitas sehari-hari yang jarang mendapat perhatian serius
tersebut ternyata membawa dampak luar biasa jika kita bisa memahami fungsi dan
seninya dengan baik.
Melalui buku ini, Marie Kondo, seorang konsultan kerapian yang mengelola bisnis kerapihan terkemuka di Tokyo akan mengajak kita memahami lebih dalam terkait aktivitas berbenah atau beres-beres barang. Pencetus metode berbenah ala KonMari ini mengungkapkan betapa banyak orang terjebak dalam kebiasaan keliru dalam beres-beres. Sehingga di samping membuat ruangan menjadi tak nyaman dipandang, juga berpengaruh terhadap suasana, emosi, bahkan pandangan dan pemikiran penghuninya.
Ruangan, entah di rumah atau kantor yang rapi dan bersih tentu lebih menciptakan suasana nyaman ketimbang ruangan yang berantakan. Inilah pentingnya berbenah. Namun, kegiatan beres-beres tak sesederhana kelihatannya. Banyak orang mungkin berhasil membuat ruangannya nampak bersih dan rapi, namun kerap kali hal tersebut tidak bertahan lama. Beberapa hari kemudian, orang menjumpai ruangannya kembali berantakan dan semrawut. Di sini pentingnya membiasakan prinsip-prinsip penting dalam berbenah. “Orang cenderung berantakan karena memegang prinsip-prinsip yang keliru seputar kegiatan berbenah,” tulis Marie.
Bertolak dari realitas tersebut, Marie menjabarkan berbagai prinsip penting seputar seni beres-beres. Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama bertahun-tahun mendalami dan menggeluti bidang ini membuat penjelasannya begitu mengalir, kaya, dan menarik. Pengalaman berinteraksi dan melihat berbagai permasahalan dari para klien dalam menata dan mengatur barang di rumah membuat pemaparan Marie menjadi berisi dan penuh dengan kasus-kasus konkret, lengkap dengan berbagai solusi dan tips untuk mengatasinya.
Penyebab utama sebuah ruangan menjadi berantakan adalah perilaku menyimpan yang berlebihan atau tidak efisien. Marie melihat kecenderungan manusia modern, terutama di Jepang, dan Amerika, yang gampang membeli dan menimbun barang yang sering jauh melampaui kebutuhannya. Ia mengelompokkan orang-orang yang susah menjaga kerapihan menjadi tiga jenis. Yakni tipe “tidak tega membuang”, tipe “lalai mengembalikan”, dan tipe “kombinasi”. Berdasarkan pengalaman mengamati para klien, Marie menyimpulkan 90% nya masuk dalam kategori ketiga, yaitu tipe kombinasi alias lalai menyimpan sekaligus tidak tega membuang. 10% sisanya adalah tipe “lalai menyimpan”.
Marie menjelaskan, berbenah yang efektif hanya terdiri dari dua aktivitas esensial, yakni membuang dan menentukan di mana harus menyimpan barang. Dan di antara keduanya, membuang harus didahulukan. Akan tetapi, jika barang-barang tersebut masih layak dan bisa digunakan, kita bisa menyumbangkannya pada orang yang lebih membutuhkan.
Pada kenyataannya, banyak orang
lebih memilih menyimpan barang ketimbang membuang. Marie mengingatkan agar kita
berhati-hati dengan istilah “menyimpan” barang karena dalih “masih bisa dipakai
nanti”, atau “mungkin suatu saat ada gunanya”, atau “mungkin buku ini nanti
saya baca jika ada waktu luang” dan sebagainya. Sebab, kerap kali hal-hal yang
menjadi alasan tersebut tidak pernah terjadi dan barang-barang tersebut
akhirnya memang tidak pernah lagi digunakan.
Marie memberi pilihan menyimpan atau membuang barang. Dalam menyimpan, di buku ini ia memberi tips memilah dan menyimpan barang yang sebaiknya berdasarkan kategori bukan lokasi, bagaimana menyortir barang, tips menyimpan dan melipat pakaian, merapikan buku-buku, pernak-pernik, hingga uang receh dan barang lain yang kerap memenuhi ruangan.
Keajaiban
Hal yang menarik dari kegiatan berbenah adalah dampak yang diakibatkannya. Marie menjelaskan, banyak keajaiban dirasakan para klien setelah menerapkan prinsip berbenah yang ia ajarkan. Selain ruangan lebih rapi dan bersih, berbenah ternyata juga menyimpan manfaat bagi pemikiran dan cara pandang seseorang. “Salah satu keajaiban berbenah adalah membuat kita percaya diri akan kemampuan kita dalam mengambil keputusan,” tulisnya (hlm 171).
Aktivitas beres-beres pada gilirannya memang mengasah pemikiran dan pandangan seseorang, baik secara etis, estetis, hingga efisiensi dan efektivitas dalam menjalani kehidupan. Ketika kita menyortir, memilih dan memilah barang mana saja yang perlu disingkirkan dari suatu tempat serta yang mana yang harus disimpan, di situ ada proses berpikir dan mengasah kecakapan mengambil keputusan.
Sedangkan, ketika kita berupaya menata dan menyimpan barang secara efisien dan lebih rapi, di sana kreativitas dan rasa estetis kita diasah. Ketika barang-barang tertata rapi di tempatnya dan ruangan menjadi bersih dan terasa nyaman, mood kita menjadi lebih baik. Perasaan positif ini merupakan modal berharga untuk menunjang aktivitas sehari-hari agar lebih bergairah dan produktif.
Prinsip dan tips yang dituangkan Marie memberi banyak pengetahuan menarik, terutama seputar seni berbenah. Memang, sekilas ada tips-tips yang kelewat “ketat” dan kurang relevan jika melihat keadaan ruangan di rumah-rumah di Indonesia yang relatif lebih longgar dibandingkan kondisi di Jepang. Namun, buku ini tetap menyimpan banyak pengetahuan berharga tentang bagaimana hidup yang lebih rapi, disiplin, dan efektif. Lewat buku ini, kita juga menyadari bertapa besar manfaat dari aktivitas berbenah. Saatnya berbenah dan mengucapkan selamat tinggal pada berantakan!
Al-Mahfud, penikmat buku, dari Pati. Menulis artikel, esai, dan ulasan buku di berbagai media massa.