Buku, Resensi

Suara Pengungsi dalam Puisi

Oleh Al-Mahfud

Selain menjadi media ungkap yang ampuh menyentuh ceruk-ceruk terdalam palung hati seseorang, puisi juga sering menjadi media untuk menggambarkan keadaan orang-orang yang kesusahan. Melalui puisi, orang bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain yang sedang dilanda musibah, bencana, dan peperangan. Dari puisi, orang bisa terlempar ke suatu keadaan dan perasaaan, merenungi gejolak rasa di dalamnya, sehingga berempati dan bersimpati karenanya.

Hal tersebutlah yang dilakukan Khaled Hosseini dalam buku Sea Prayer. Di buku terbarunya ini, penulis kelahiran Kabul, Afghanistan tersebut menyuarakan nasib, kesedihan, juga harapan para pengungsi. Dihiasi ilustrasi yang begitu “hidup” dari Dan Williams, puisi-puisi Khaled mengajak kita menyaksikan, meresapi, dan merenungi nasib orang-orang yang hidup di tengah konflik, peperangan, kemudian pergi mencari suaka ke negeri orang.

Kita sering menyaksikan di media kabar tentang perang yang selalu berisi penderitaan, kerusakan, korban. Tak berhenti pada kerusakan fisik, kerugian material, dan hilangnya rasa aman. Lebih jauh, perang dan konflik dalam waktu yang lama kerap kali memaksa orang-orang pergi mengungsi, mencari tempat hidup yang lebih aman untuk sekadar ditinggali.

Namun, perjalanan mencari suaka tak pernah mudah. Kerap kali mereka dihadang banyak hal, baik orang-orang yang tak cukup ramah menerima kehadiran mereka, juga karena medan yang berbahaya. Berbagai kesusahan tersebut tergambar dalam puisi-puisi Khaled Hosseini. Ia mengaku, buku Sea Prayer mula-mula terinspirasi kisah seorang anak kecil yang menjadi bagian dari pengungsi Suriah. Anak tersebut meninggal karena tenggelam di Laut Mediterania.

Anak tersebut ialah Alan Kurdi, anak lelaki berusia tiga tahun yang menjadi bagian dari pengungsi yang mencari suaka di Eropa pada September 2015. Pada tahun tersebut, selain Alan Kurdi, ada sekitar 4.176 pengungsi lainnya yang juga tewas dan hilang di laut dalam perjalanan mencari suaka. Bertolak dari nasib yang dialami anak tersebut, Khalid seperti merasuk dalam perasaan orang-orang yang terpukul dan menanggung kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai.

Lebih spesifiknya, puisi-puisi Khaled seperti menyuarakan perasaan seorang ayah yang bercerita, mengenang, berdoa, dan berharap. Seorang ayah yang mengajak bicara anaknya yang bernama Marwan, yang begitu disayanginya, namun telah tiada. Mula-mula, kenangan masa kecil sang ayah di Suriah dimunculkan untuk menggambarkan keadaan desa yang semula damai, aman, dan tentram. Setiap pagi kami bangun dan mendengar/gemerisik pepohonan zaitun diterpa angin sepoi-sepoi/embik kambing-kambing nenekmu/ Udara yang sejuk dan matahari/tampak pucat layaknya buah kesemek/ di sebelah timur.

Akan tetapi, kedamaian tersebut mulai berubah sejak sering muncul demonstrasi, penyerangan, dan korban-korban yang berjatuhan. Awalnya, muncul demonstrasi/lalu pengepungan/langit memuntahkan bom-bom/ kelaparan/pemakaman. Di bagian ini, Dan Williams melalui goresan kanvasnya menghiasi puisi Khaled dengan ilustrasi-ilustrasi yang menggambarkan keadaan kota yang porak-poranda, bangunan-bangunan yang roboh, dengan kepulan asap hitam membumbung tinggi membuat lanskap muram di langit.

Khaled menulis keadaan di mana orang-orang harus bertahan hidup, bahkan terbiasa di tengah keadaan tersebut. Kau tahu kawah bom bisa dibuat menjadi kolam renang/kau belajar bahwa ibu, saudari perempuan, dan teman sekolah bisa ditemukan bersembunyi di celah-celah sempit antara beton.

Puisi-puisi di buku ini mencerminkan perasaan seorang ayah, yang bercerita kepada anaknya tentang masa kecil di daerah yang damai, juga Kota Homs yang jalan-jalannya ramai, terdapat di dalamnya masjid, gereja, serta pasar tempat orang-orang membeli makanan segar. Sebelum kemudian kota tersebut berubah menjadi daerah mencekam karena konflik dan perang. Keadaan kota yang aman dan damai di awal yang digambarkan membuat kita semakin bisa merasakan betapa sedihnya orang-orang di dalamnya, ketika kemudian semua itu sirna dan berubah menjadi tempat yang mencekam dan hampa.

Puisi-puisi beranjak menggambarkan saat-saat ketika orang-orang di kota tersebut harus pergi mengungsi. Menuju tepi laut, berkumpul, untuk kemudian memulai perjalanan jauh berlayar membelah lautan penuh bahaya. Menggambarkan kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan saat para pengungsi sampai di tepi lautan, Khaled masih mengungkapkan dan menyuarakan perasaan seorang ayah yang memikirkan bagaimana nasib anaknya, Marwan, saat bersama ibunya, saat mereka ada di antara pengungsi lainnya.

Ada keinginan untuk bisa menenangkan, namun tetap dalam kekhawatiran. Bahwa anaknya sedang berada di tengah lautan. Lautan yang dalam, bergelombang, bahkan berbahaya. Kukatakan kepadamu/Genggam erat tanganku/Tidak akan ada hal buruk yang terjadi/ Tapi itu semua hanyalah kata-kata/Tipu daya seorang ayah/Tapi tipu daya itu membunuhku/membunuh kepercayaanmu kepadaku/Karena yang dapat kupikirkan malam ini/hanyalah begitu dalamnya lautan/dan betapa luas/serta tanpa ampun/Betapa aku tidak berdaya melindungimu dari lautan itu.

Ilustrasi menyuguhkan potret kerumunan pengungsi yang berjalan berbondong-bondong. Dan Williams menggoreskan kanvas, garis demi garis memberi kita penampakan sebuah kapal dengan muatan penuh pengungsi. Sebuah kapal tak begitu besar yang terombang-ambing di lautan bergelombang. Ketika kapal sudah meninggalkan tepi pantai dan mengarungi lautan, yang bisa dilakukan hanyalah pasrah dalam harap dan doa. Karena kau, kau adalah muatan berharga, Marwan/muatan paling berharga dari semua muatan yang pernah ada/Aku berdoa agar lautan mengetahui ini/Insya Allah. 

Buku puisi Sea Prayer menjadi cara Khaled memberi penghormatan dan kepedulian terhadap nasib para pengungsi. Penulis yang karya-karyanya terjual puluhan juta eksemplar di seluruh dunia tersebut juga seorang Duta Persahabatan bagi UNHCR, serta pendiri Yayasan Khaled Hosseini. Sedangkan Dan Williams merupakan seorang seniman dari London yang ilustrasi-ilustrasinya telah banyak menghiasi berbagai media ternama di dunia. Buku ini menjadi dedikasi mereka berdua untuk para pengungsi. Sebagian royalti hasil penjualan buku ini disumbangkan ke UNHCR dan yayasan Khaled untuk membantu meringankan beban para pengungsi di seluruh dunia.

Paduan puisi Khaled dan ilustrasi Dan Williams memberi gambaran nasib pengungsi dalam benak siapa pun yang membacanya. Rasa sedih, cemas, khawatir, gelisah, dan penuh harap, menjadi bentuk-bentuk emosi yang dihantarkan lewat puisi dan dirasakan siapa pun dari belahan dunia mana pun. Buku puisi ini mengabarkan nasib pengungsi ke segala penjuru bumi. Menggugah emosi, menumbuhkan simpati.

*Al-Mahfud, penikmat buku, dari Pati. Menulis ulasan buku di berbagai media massa, lokal maupun nasional.

Buku, Resensi

Kembali ke Akar Kata

Oleh: Alexander Robert Nainggolan

Puisi acapkali bersinggungan dengan kondisi keseharian penyairnya. Setidaknya ia menghimpun sejarah panjang yang melingkupi dari peristiwa itu. Maka apa yang dituliskan Kiki Sulistyo dalam kumpulan puisinya, dengan kembali ke dalam khazanah lokal (keseharian) dari lingkungan kehidupan menjadi sebuah cara unik untuk tetap menggali akar tradisi yang ada.

Jarang penyair yang mengangkat kultur kehidupan lokal yang ada. Dalam pembukanya Kiki mengisahkan perjalanan puisi-puisi yang terhimpun dalam buku ini, ia bercerita tentang sebuah dusun, kehidupan berpindahnya yang turut merekam segala peristiwa. Komunikasi yang kerap “mengganggunya”, namun menjadi bahan dasar dalam puisi-puisinya. Adalah bahasa Sasak sebagai komunikasi verbal yang juga turut imbas dalam gubahan puisinya. Maka insulin itu pulalah yang menjadi pemacu, saat ia merasa ada gangguan, namun lewat percakapan itu, Kiki justru menemukan sebuah instrumen yang baru. Istrumen yang kembali ia endapkan ulang, sebagai suatu nada yang bersahutan. Temali dengan imajinasinya.

Keunikan tradisi yang turut pula memengaruhi puisi-puisinya. Terasa memang bagaimana Kiki menghimpun diksi-diksi, dengan merangkum pelbagai alat, benda, tanda,  nama panggilan, tempat, ataupun aura bunyi yang terasa mistis. Ini yang menjadikan puisi-puisi dalam buku ini begitu unik.

Dan Kiki menulis: kusebut tenggara saat kau sebut pertengkaran, -antara mereka,/kelasi dan pencuri di kapal yang berlayar menuju Ampenan//…duyung itu bibi, datang pada suatu hari dengan rambut/berkepang//matanya lengkung limau muda, kulitnya lempung pulau sokotra//…hanya kelasi yang mengerti mengapa kini kota ini sekisut kuping/bayi//sebab ia tua oleh suara ombak menolak usia, ia celaka oleh upaya menjadi baka//(“Rawi Tanah Bakarti”, Hal. 12-13)

Ihwal Pasar Malam turut dicatat Kiki dalam puisi. Sebuah pasar malam, menjadi sebuah penanda permainan yang ada di dalamnya: kuda sirkus, bayi, orang kerdil, dan pembaca kartu. Ia menulis:

Perempuan itu datang membawa kartu/ di belakangnya seekor anjing buta/ menyeret sembilan tempurung, suaranya berdengung/setiap ia melulung, di angkasa ruh-ruh berwarna biru/ bergerak baghai wabah/perempuan itu menyalakan pelita, api berkedip/seperti mata siluman dalam botol limun/yang berkilau-kilau/kartu-kartu di tangan perempuan itu terbuka satu per satu/gambar-gambar di dalamnya jatuh ke tanah/hidup dan tumbuh:/cacing air yang terus-menerus mengisap cahaya/wayag yang meniup bayangannya sendiri/seorang menak tanpa kepala, tangan kiri yang merayap seperti kepiting./perempuan itu menunjuk ke ladang, bintang-bintang/padam di rambut setiap orang// (“Pembaca Kartu”, hal. 26). Terasa bagaimana Kiki menjaga keutuhan diksi puisinya. Rimanya terjaga dan tertib. Ia seperti tidak menyisakan celah lain, kata-kata menjadi lebih hidup dan menggambar maknanya sendiri.

Buku ini terbagi jadi empat bagian: Rawi Tanah Bakarti, Kitab Batu, Rumah Juru Tenun, Bakar Padi di Bakarti. Di setiap bagian, puisi-puisi saling bersinggungan, sehingga menciptakan peristiwa-peristiwa yang baru. Terasa bagaimana Kiki konsisten menjaga setiap bagian-bagian puisinya agar senantiasa berhubungan antara satu dengan lainnya.

Beberapa puisi menghadirkan pengulangan kata. Kata yang diulang tersebut menciptakan landai panjang saat membacanya, namun tetap menciptakan kelindan lain. Saat kata bertemu dengan kata yang lainnya. Pengulangan kata-kata itu menciptakan harmonisasi, yang lebih mirip nada pada sebuah lagu.

Bakarti

Sebagian besar buku ini, mengambil tema tentang Bakarti. Kiki merincikan dalam pelbagai pilahan, yang sekaligus meminta hasrat untuk tetap terjaga membacanya. Membentuk untaian, meramunya dengan pelbagai mitos dan dongeng yang kerap terjadi. Ia, meskipun tidak melakukan penelitian secara khusus, namun terasa bagaimana keseriusan yang dikerjakannya. Kiki seakan terjaga untuk tetap mengamati, setiap hal—ihwal yang terjadi di Bakarti. Dengan rinci, Kiki menjabarkan setiap peristiwa, lalu memberikan sentuhan metafora yang kadang tak terduga.

Tidak hanya Bakarti, Kiki juga memotret dengan lugas tentang penantian seorang Ibu akan kepulangan anaknya. Namun ternyata ada luka kehilangan yang kemudian ditemui:

Ibu tidur di beranda. Siaran radio meresap kulitnya./Sebelum tidur ia dengar suara pesawat melintas lambat./ Ia bayangkan putranya di dalam sana, hendak pulang./ Ia bayangkan hutan-hutan sawit melengkungkan punggung/remaja/yang potret masa kecilnya buram di dinding kamar.//Tunas tomat merekah tanah, sedikit di sebelah kanan rumah./Tapi tak ada pekerjaan, cara menghabiskan usia/di bawah langit yang sama semenjak sepasang pendosa/dibuang dari surga. Juga untuk menerima/bahwa para pembuat pepatan telah berdusta. Tak ada surga./Tak ada tongkat. Dan batu-batu tak diangkat derajatnya.// Ibu tidur di beranda. Dalam tidurnya, ia saksikan perahu kayu/mengangkut penumpang gelap. Hanyut ke rawa-rawa berasap./Sirine, sorot lampu, teriakan-teriakan dalam bahasa Melayu./Ia bayangkan putranya diturunkan dari pesawat. Terbaring pucat/ dalam peti yang engsel-engselnya mulai berkarat,// (“Ibu Tidur di Beranda”, hal. 95)

Kiki telah menciptakan langkah yang baru bagi perkembangan puisi. Pelbagai kosakata baru mengerubungi puisi-puisinya. Yang ternyata menciptakan makna baru pula, ia seperti mengorek ke akar kata. Membiarkan puisi-puisinya dihuni dengan kata-kata yang jauh dari kelaziman.

Melalui buku ini, Kiki telah memberikan corak yang baru dalam dunia perpuisian kita. Ia telah menghadirkan bentuk puisi yang baru, kembali ke tradisi lokal, hal yang mulai terlupakan selama ini. Ia kembali jauh di kedalaman akar kata, bagi puisi-puisinya.

Alex R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Saat ini bekerja di Jakarta. Tulisannya berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di pelbagai media cetak mauapun online. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016). Bisa dihubungi : [email protected]

Buku, Resensi

Tagore di Zaman Ramai

Oleh Bandung Mawardi

Rabindranath Tagore (1861-1941), pujangga besar asal India, dikagumi bangsawan dan intelektual Jawa. Kagum atas puisi-puisi dan tata cara mengadakan pendidikan-pengajaran. Bentuk kagum diwujudkan dalam penerjemahan puisi dan ulasan pelbagai gagasan pendidikan dalam bahasa Belanda dan Jawa. Dua orang penting di pemuliaan Tagore adalah Noto Soeroto dan Soerjo Soeparto (Mangkunegara VII). Dua intelektual itu menekuni tulisan-tulisan Tagore saat menempuh studi di Belanda.

Soerjo Soeparto dianggap penerjemah awal puisi-puisi Tagore ke bahasa Jawa. Ia mungkin merasa ada ikatan batin imajinasi Tagore dengan batin kejawaan. Sejak ribuan tahun, Jawa turut dibentuk dengan kucuran imajinasi asal India. Pada abad XX, kemunculan Tagore sebagai peraih Nobel Sastra 1913 mengundang minat intelektual Jawa untuk memasuki jagat sastra memiliki tautan India-Jawa. Noto Soeroto tampil sebagai penerjemah Tagore ke bahasa Belanda. Bangsawan pernah berkancah di politik tapi “tersingkirkan” oleh kaum nasionalis itu malah rajin pula menggubah puisi dan artikel terpengaruh Tagore. Buku-buku bereferensi Tagore diterbitkan di Belanda, sempat beredar di Hindia-Belanda (Harry A Poeze, Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, 2008).

Pikat ke sastra Tagore terjadi pula di Hindia-Belanda. Muhammad Yamin dan Amir Hamzah ada di muka dalam penerjemahan dan pengenalan Tagore ke umat sastra di Indonesia masa 1920-an dan 1930-an. Sekian terjemahan terbaca dan menebar pengaruh dalam sastra, pendidikan, dan religiositas. Tagore tak terasa asing. Pada masa 1920-an pula, Tagore berkunjung ke Jawa: Mangkunegaran dan Perguruan Nasional Taman Siswa. Pesona sastra Tagore semakin membesar dengan edisi-edisi terjemahan oleh Amal Hamzah, Anas Ma’ruf, dan Hartojo Andangdjaja. Tagore seperti bertanah-air di Indonesia, ada di arus perkembangan sastra modern bercap estetika Timur.

Dua buku terjemahan sering diulas di Indonesia adalah Gintanjali dan Tukang Kebun. Pada masa lalu, Gitanjali diterjemahkan oleh Amal Hamzah. Edisi itu menjadi klasik tapi agak sulit terbaca bagi orang-orang sudah berbahasa Indonesia dengan EYD (1972). Pada 1976, Hartojo Andangdjaja melalui edisi bahasa Inggris memberi terjemahan Tukang Kebun. Pada akhir 2018, buku itu terbit lagi. Kita membaca (lagi) saat Indonesia terlalu ramai oleh politik dan agama. Di lembaran-lembaran sastra gubahan Tagore kita diajak menepi: menjalani renungan dan menempuhi bahasa estetis menampik politis.

“Apakah arti Tagore pada kita?” Kalimat itu ditulis Hartojo Andangdjaja berlatar abad XX. Kini, kita bias mengimbuhi dengan situasi abad XXI: “Apa suara Tagore terdengar jauh?” Pikat sastra Timur perlahan pudar, setelah umat pembaca di Indonesia cenderung terkesima ke pelbagai terjemahan sastra asal Amerika Serikat, Amerika Latin, Prancis, dan Jerman. Panggilan ke Timur masih terasa dengan sekian terjemahan sastra asal Jepang dan Tiongkok. Buku-buku asal India masih diterjemahkan tapi seperti meninggalkan Tagore di masa lalu. Di mata Hartojo Andangdjaja, persembahan sastra Tagore itu terlalu berarti, memerlukan puluhan paragraf.

Jawaban berbeda diberikan Goenawan Mohamad: “Memang di atas segalanya, Tagore adalah seniman. Kebebasan, kreativitas, kehidupan rohani: semua itu hal yang tak bias ditawar dari dirinya. Dari sinilah hidup dihayati sebagai keindahan dan kegembiraan yang tak kunjung putus, yang dikaruniakan Pencipta pada kita.” Pujian dituliskan pada 1968, masih di gelagat kesusastraan religius di abad XX. Pada masa berbeda, kesan atas Tagore itu menggenapi pengakuan mutu terjemahan Hartojo Andangdjaja. Kita beruntung mendapat Tukang Kebun, melintasi tahun-tahun untuk renungan di zaman terlalu ramai kata dan pemiskinan imajinasi religius.

Tagore bercerita: “Jika seorang pengembara, meninggalkan rumahnya, datang ke sini untuk berjaga semalam-malaman dan dengan kepala tunduk mendengar-dengarkan hingar kegelapan itu, siapakah akan membisikkan rahasia hidup ke telinganya, jika aku, menutup pintu, mencoba hendak membebaskan diriku dari ikatan fana?” Pengembara, tokoh di pencarian-penemuan hakikat. Ia bergerak tanpa lelah meski jeda dan istirahat pun diperlukan, bukan peristiwa nihil tapi tetap bergelimang makna di keinsafan. Hasrat ke menguak rahasia belum tamat, menanti di kepasrahan.

Kita membaca paragraf itu di keriuhan nasihat-nasihat beredar di media sosia. Beredar tanpa mengajak “pengembaraan” bersuasana “purba”. Tagore masih kita perlukan meski mata-membaca dan mata-renungan telah berganti ke mata-potret di putaran detik terlalu cepat. Rahasia terus disingkap secara serampangan dan kolosal. Kegelapan dimusuhi terang sepanjang hari. Gelap itu musuh di abad XXI, terlarang bagi nafsu kegirangan tak pernah usai. Kini, Tagore mungkin suara dari jauh. Kita mendengar lirih, susah mencari sumber atau mendekati dengan gemetar dan serius.

Pada cerita lain, Tagore mengisahkan: “Dia duduk di debu di bawah pohon. Bentangkan di sana alas duduk dengan bunga-bunga dan daunan, kawan. Matanya duka dan menimbulkan kedukaan dalam hatiku. Dia tidak mengatakan apa yang tersimpan dalam hatinya; dia hanya datang dan pergi.” Bahasa itu memang berasal dari masa lalu, sulit digunakan lagi bagi manusia-manusia biasa mengumbar rahasia ke ribuan orang setiap detik. Rahasia-rahasia puncak tak lagi diinginkan atau dianggap masih penting bagi manusia dan dunia. Diksi debu, pohon, bunga, dan daun milik penekun rahasia cenderung memilih diam ketimbang cerewet sembrono. Pada paragraf itu kita semakin tak mengerti peristiwa dan makna datang-pergi, setelah kecepatan menjadi dalil terpokok abad XXI. Datang-pergi itu rutin tanpa pendasaran ingin dan capaian berpijak religius.

Pada hari-hari peremehan rahasia, adegan membaca Tukang Kebun berisiko keterpencilan pembaca. Tagore milik orang terpencil? “Dan itulah Tagore. Ia telah membukakan kaki langit itu bagi kita,” tulis Hartojo Andangdjaja. Kaki langit dimaksudkan kita bergerak ke arah sumber rahasia. Bergerak dengan lirik-lirik mistis buatan Tagore. Manusia hari ini mungkin tak memerlukan mistis, memihak ke segala hal berselera politis dan bisnis agar merasa sah berada di kaum keramaian sepanjang hari. Mistis cuma milik orang memuja masa silam, masih berjalan di bahasa tak tergesa, dan belum dilanda keberlimpahan rupa-warna.

Tagore mengingatkan kita di akhir persembahan Tukang Kebun, percakapan dekat-jauh: “Siapakah engkau, pembaca, membaca sajakku seabad lama? Tak dapat aku mengirimkan padamu setangkai bunga pun dari kemewahan musim semi ini, segaris kencana dari awan-awan di jauh sana. Bukalah pintumu dan pandanglah ke luar!” Larik awal tak pernah diralat. Kini, kita membaca melebihi seabad laku, berbeda penghitungan waktu dari saat penggubahan sastra oleh Tagore. Semula, kita diperkenalkan dengan Rabindranath Tagore, dekat dan jauh. Di akhir, kita harus menjawab pada Tagore saat masih menempatkan diri sebagai pembaca di zaman ramai mulai kehilangan puisi di bumi-langit. Begitu.   

Bandung Mawardi.
Kuncen Bilik Literasi
Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com

Buku, Resensi

Menikmati “Sihir” Dea Anugrah

Oleh: Erwin Setia

Dea Anugrah barangkali satu dari sedikit penulis Indonesia yang mampu menulis puisi, cerita pendek, dan esai sama baiknya. Sebelum buku kumpulan esai ini terbit, saya membaca puisi-puisinya dalam Misa Arwah (2015) dan terpikat, saya juga membaca cerpen-cerpennya dalam Bakat Menggonggong (2016) dan terpikat. Kemudian saya membaca esai-esainya dalam Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya (2019) dan terpikat. Seolah-olah penulis muda alumnus Filsafat Universitas Gadjah Mada ini menyisipkan semacam sihir di setiap tulisannya.

Namun kini bukan lagi zaman Firaun dan tulisan-tulisan Dea bukanlah sihir juga bukan tongkat Musa. Sedikit mirip—mengagumkan dan membuat takjub—tapi bukan.

Sekelumit esai dan reportase yang tercantum dalam buku tipis bersampul foto penampakan seperti gudang yang berantakan dengan latar hitam ini, terlihat betul dibuat secara sungguh-sungguh. Himpunan data yang meyakinkan, gaya penulisan subtil dan cakap, pemilihan kata yang selektif, dan bagaimana penulis menyisipkan gagasan-gagasannya soal hidup tanpa tampak menggurui.

Dalam esai “Bersantai di Komering, Kabar Burung dari Pasundan” dan “Billiton Maatschappij dalam Pusaran Sejarah” misalnya. Pada esai pertama yang berisi tentang asal mula pelbagai kata, istilah, dan isu seputar Bahasa Indonesia, penulis tampak serius dan ulet dalam mencari dan mengumpulkan data. Bukan hanya dari buku; kamus, majalah lama, jurnal, puisi, sampai status Facebook pun dijadikan acuan untuk mendukung dan memperkuat tulisan. Sedangkan pada esai kedua yang menyerupai catatan sejarah sangat-ringkas mengenai Belitung, penulis menyuguhkan banyak sekali hasil penelitian, tanggal-tanggal penting, penjelasan-penjelasan bahasa Pinyin, dan sebagainya.

Sementara dalam beberapa esai lain semisal “Terbenam dalam Waktu yang Hilang”, “Para Pembunuh Anak-Anak”, dan “Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya” Dea seperti seorang sufi yang sedang menyamar sebagai peranakan Tionghoa dan menjadikan kata-kata sebagai medium mengajak umat manusia untuk merenung.

Pada tulisan pertama yang berbentuk serupa cerita pendek, penulis mengisahkan perjalanannya ke Pulau Biawak dengan manis. Alih-alih mengeksplor suatu tempat seperti sales menawarkan barang jualannya, penulis menjadikan laut, perahu, dan mercusuar yang terdapat di tempatnya berkunjung sebagai sarana merenungi dan mengenang banyak hal. “Para Pembunuh Anak-Anak” juga menggemakan gagasan yang nyaris serupa namun dalam bentuk berbeda. Pada esai ini penulis memaparkan betul betapa buruk akibat peperangan, terutama bagi kanak-kanak. “Bukan Tuhan yang membunuh anak-anak. Bukan pula nasib atau takdir yang mencincang dan menjadikan mereka makanan anjing. Kitalah yang melakukannya. Hanya kita.” (hlm. 144).

Sedang dalam “Hidup Begitu Indah…” yang sekaligus menjadi judul buku, kegelisahan tampak menjadi ide pokok. Setidaknya itu terlihat dari cara penulis menceritakan tentang kawan lamanya yang berubah menjadi seorang penganut ajaran ekstrem dan menuduhnya “kafir, vulgar, liberal” : “Saya sedih karena merasa dia terlampau mudah membuang apa-apa yang berharga di antara kami. Saya menyesal karena sayalah yang mendorongnya buat melakukan itu.” (hlm. 174) Selain itu, dalam esai yang sama, kegelisahan dan ‘penyesalan’ tampak tergambar sewaktu penulis menarasikan tentang ibu yang tega mengajak anaknya mengebom diri bersama-sama. “Kalau tak putus asa, dia bisa mengingat-ingat perasaan-perasaannya ketika mendengar kata pertama yang diucapkan putrinya; ketika tahu bahwa dirinya mengandung; ketika jatuh cinta buat pertama kali; dan ketika dia, dengan muka berlumuran bedak, bermain lompat tali dengan kawan-kawannya di teras rumah, sementara ibunya berseru-seru dari dalam: ‘Hati-hati, Nak, hati-hati, jangan sampai jatuh!’ dan bersandar pada semua itu, menyadari bahwa hidup begitu indah dan hanya itu yang dia punya.” (hlm.179)

Selain esai-esai bertabur data dan “renungan” yang ditampilkan secara pas dan tidak menjenuhkan, ada pula sejumlah esai yang mengangkat hal-hal sederhana dan tak banyak orang bahas sebagai ide utama. Misalkan saja “Kebebasan dan Keberanian” yang menceritakan tentang satu barbershop di bilangan Jakarta yang mencukur rambut pelanggan sesuai bentuk muka dan kepala, “Ada Apa dengan Pisang” perihal bagaimana perusahaan pisang berkelas dunia bisa mengganggu dan mengacaukan keseimbangan alam, dan “Mengutuk dan Merayakan Masturbasi” yang secara asik menjabarkan soal aktivitas merancap dan serba-serbinya.

Buku ini sebagaimana buku-buku serupa yang ditulis oleh tangan terampil, masih lebih banyak menyimpan sesuatu yang tak sempat saya tulis dan mungkin sadari. Di dalamnya ada lelucon-lelucon, narasi-narasi sedih, dan hal-hal lain yang membuat saya tergelitik untuk menutup tulisan ini dengan kata-kata yang menjadi tajuk buku: Hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya. (*)

Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News. Bisa  di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Buku, Resensi

Kisah Cinta yang Melulu Indah Itu Kata Siapa?

Oleh: Mutia Senja

 “Bu, maafkan Nur. Kumohon, maafkan Nur. Hari ini Nur umur dua puluh delapan, tapi Nur nggak bisa menikah sekarang,” ujar Nursri dengan bibir bergetar sambil memeluk ibunya (hal. 90). Nursri; tokoh utama dalam cerpen Amanatia yang dijadikan judul buku ini; Waktu untuk Tidak Menikah—menjadi menarik di mata para pembaca. Khususnya di kalangan kaum muda yang dilema dengan pertanyaan: kapan nikah?

Berharap mendapatkan semacam solusi dari kebimbangan “untuk tidak menikah” mendadak terbesit ketika: mendapati pengalaman orang-orang yang justru kesulitan menghadapi rumah tangga, penghasilan yang belum dikatakan cukup untuk membangun sebuah keluarga, status jomlo yang memunculkan kebingungan akan menikah dengan siapa, atau persoalan hati karena gagal move on dengan mantan—sedangkan mantan lebih dulu berumah tangga dengan orang lain dan tidak mungkin membujuk untuk diajak balikan. Semoga Tuhan memberkati kalian!

Seluk beluk percintaan yang “rumit” dikumpulkan Amanatia dalam empat belas judul cerpennya yang dirangkum dalam blurb buku ini: di belahan bumi lain, ada yang tersungkur patah hati ditinggal kekasih. Ada yang kehilangan banyak hal dalam waktu yang berdekatan. Ada yang memilih hidup sendirian bersama dua kucing liar. Ada yang tiba-tiba ingin menghubungi mantan kekasihnya. Ada yang mencintai diam-diam dan berakhir ditolak mentah-mentah. Ada yang tak siap berpisah, sekali pun sudah menabung kesiapan itu jauh-jauh hari. Ada yang selalu mencintai tapi tak pernah bisa menerima, hingga persoalan ada yang menikah, lalu ingin berpisah.

Pada Jarak yang Memisahkan Kami—pun, saling mencintai benar-benar tidak sederhana, kau percaya? (hal. 100). Justru permasalahan hubungan jarak jauh (long distance relationship), rentang usia terlampaui jauh, juga gelar dan status sosial tidak mungkin sesederhana saling mencintai lalu ingin menghidupi. Itu sebabnya, penulis kelahiran Malang ini menuliskan: kadang-kadang, memang selalu ada waktu untuk tidak berkasih. Untuk tidak bercinta, untuk tidak menikah. Lagi pula, kisah cinta yang melulu indah itu kata siapa?

Pernyataan tersebut membuat Amanatia menciptakan tokoh seorang mahasiswi dengan pembicara seminar super sibuk di bagian 8: tak ada dari kami berdua yang menyangka bahwa pada akhirnya kami saling jatuh cinta dan memiliki hubungan yang sulit didefinisikan. Di usiaku yang berjarak sembilan tahun lebih muda darinya, aku benar-benar tak habis pikir mengapa ia bisa jatuh cinta padaku (hal. 96). Pada akhirnya, tokoh si perempuan dalam cerita ini mengungkapkan kegelisahannya: belum 24 jam ditinggalkan, sudah menangis lagi. Aku hanya menatap layar dan tak menyentuhnya. Berharap ia membalas dan mengabarkan bahwa ia baik-baik saja di sana, tapi ia tak membalas. Mungkin sibuk. Mungkin pula enggan (hal.102).

Lebih menyesakkan lagi, ketika disuguhkan ceritanya bertajuk Baru Menjadi Ibu—sebagai pemilik rahim, perempuanlah yang pada akhirnya menanggung kepuasaan birahi (entah dari salah satu atau kedua belah pihak). Maka tak heran jika W. Sanavero menuliskan kegelisahannya dalam Perempuan yang Memesan Takdir. Prosa yang menyingkap sisi lain perempuan perihal mamaknai cinta, kenangan, keluarga, budaya, pernikahan, bahkan hubungan manusia dengan Tuhan—meskipun cara pandang perempuan tetaplah berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Berbeda kisah dengan pemikiran laki-laki. Saya teringat Kisah Sedih Kontemporer (IX) dalam Kumcer Bakat Menggonggong, Dea Anugrah menyiratkan kesedihan perihal cinta yang “lucu” sehingga patut ditertawakan dengan “gonggongan” atau umpatan kecil saat Shalani Nafasha setelah dua tahun mengirimkan pesan tersirat bahwa ia telah memiliki momongan kepada Fredrik—pria yang mengaguminya. Berbeda konteks dengan Kurniawan Gunadi perihal cinta diam-diam kepada seseorang yang ia cintai hingga dituliskannya dalam sekumpulan cerita Lautan Langit. Baginya, menikahi dan mengarungi lautan kehidupan bersama adalah solusi tepat untuk mengimplementasikan rasa cinta.

Lalu apa yang terlintas ketika membaca judul buku ini? Apakah dengan meghindari kerumitan tersebut kita hanya mampu memilih untuk tidak menikah? Lalu dengan memilih untuk tidak menikah kita akan terlepas dari belenggu masalah? Lalu bagaimana menjalani kehidupan sebagaimana Nursri, menjelang hari pernikahannya yang tinggal beberapa jam harus dihadapkan dengan persoalan yang membuat pikirannya kacau. Perempuan itu, akhirnya memilih hidup dengan anak semata wayangnya di Timalayah tanpa harus menikah. Kini baginya, tidak ada yang lebih penting dari mengurus anak satu-satunya—tanpa perlu lagi menghadirkan sosok lelaki dalam kehidupannya.

Membaca buku Amanatia Junda, saya mengimani bahwa yang terjadi di masyarakat perihal cinta, rumah tangga, atau hubungan sosial tidak semudah menikmati cerita di negeri dongeng. Di Lantai Tiga Beringharjo, misalnya. Kita akan mendapati penulis dengan cerdik menceritakan beragam karakter yang barangkali kita temui di kehidupan para pedagang. Menceritakan seorang janda yang memilih tinggal sendiri setelah ditinggal pergi suaminya ke luar negeri. Kisah perempuan yang sarat dengan kesedihan—seumpama baginya, hidup dengan hewan peliharaan lebih menyenangkan dibandingkan menjalani hidup yang baru bersama pasangan baru, pun dengan persoalan yang baru pula.

Tidak hanya itu, penulis mengikhtiarkan pemahamannya bahwa laki-laki harus paham seluk-beluk perempuan. Maka dengan tegas pun lugas, pengarang menciptakan sebuah cerita Perkara di Kedai Serba-Serbi. Tidak tanggung-tanggung, Amanatia menuliskan secara gamblang lewat sosok Dina; perempuan yang terpaksa menceritakan kesialan di hadapan kekasihnya. Bagi saya, ini merupakan bagian rumit bagi perempuan untuk menunjukkan apa yang seharusnya disembunyikan. Tapi seketika saya sepakat bahwa tidak ada yang salah dengan ilmu pengetahuan. Maka, sah-sah saja.

Terlepas dari latar belakang pengarang, saya yakin bahwa Amanatia merupakan sosok yang kuat. Terbukti dari hampir keseluruhan cerpennya, selalu dimunculkan konflik yang membuat perempuan selalu menanggung “getah” dari kesialan lelaki. Namun dimunculkan solusi tentang bagaimana tokoh tersebut mengambil peran untuk tetap selow menghadapi kehidupan. Baginya, ia hanya perlu membaca ulang peristiwa-peristiwa lama yang membuat dirinya berspekulasi: aku masih lebih beruntung daripada dirinya. Atau semacam rasa syukur dan kebijaksanaan untuk tidak memperlihatkan kelemahan. Sehingga ia memilih berjalan terus sesuai kehendak hatinya sendiri.

Merasa dicurangi dengan judul buku ini sebab berbeda situasi dengan Nursri, saya tetap mendapatkan bekal untuk sekadar merenungkan kembali mengapa menikah menjadi bagian penting bagi hidup manusia. Terlepas dari cinta, terlepas dari tuntutan keluarga, dan terlepas dari persoalan apapun, waktu untuk tidak menikah bagi saya hanyalah persoalan “waktu”. Itu sebabnya mengapa banyak sekali perkara terjadi, baik yang melibatkan masa lalu, masa sekarang, bahkan masa depan. Maka sampailah kita kepada pertanyaan perihal: kapan waktu untuk tidak menikah—dan setiap orang berhak atas jawabannya masing-masing.

Ini seperti prinsip cinta yang diceritakan Cak Nun pada sebuah kesempatan perihal Umbu Landu Paranggi—beliau mengimani bahwa cinta sejati adalah cinta yang tak boleh dibatalkan dengan sebuah pertemuan, apalagi sampai melakukan kontak fisik dengan pernikahan. Salah satu prinsip Umbu sehingga ia tetap mencintai seorang wanita tanpa pernah memilikinya sama sekali, namun ia tetap mencintainya. Bagaimana bisa? Bukankah cinta dan pernikahan saling beriringan? Bertanyalah sambil menyelami setiap lembar buku ini dan temukan jawabannya.

Bagi siapa saja, buku ini sengaja lahir untuk ditimang khalayak luas. Bukan hanya dikhususkan kaum jomlo yang terlanjur malas untuk menikah atau kaum patah hati yang mengutuk dirinya sendiri dengan beragam alasan. Sebab cerita demi cerita yang dihidangkan Amanatia sangatlah realistis dengan kehidupan nyata. Maka bagi siapa saja yang masih memiliki cinta, nikahilah buku ini sebelum waktu memaksa kita menikahi sepi.

Mutia Senja, lahir di Sragen, Jawa Tengah. Bergiat  di Sekolah Menulis  Sragen  dan  Komunitas  Sangkar  Literasi. Hobinya menulis sesuka hati. Buku  puisi tunggal Manahan Selepas Hujan, terbit Mei 2018. Blogger di aksaramutiasenja.blogspot.com, Instagram: @mutia_senja, e-mail: [email protected], nomor HP 085713027400,

Buku, Resensi

Selamat Tinggal Berantakan!

Oleh: Al-Mahfud

Pernahkah kita berpikir jika kebiasaan kita dalam meletakkan, merapikan, atau membereskan barang-barang di rumah turut berdampak atau memengaruhi kehidupan kita secara umum? Pekerjaan meletakkan, menyimpan, dan membuang barang ternyata bukan perkara remeh yang bisa diabaikan. Aktivitas sehari-hari yang jarang mendapat perhatian serius tersebut ternyata membawa dampak luar biasa jika kita bisa memahami fungsi dan seninya dengan baik.

Melalui buku ini, Marie Kondo, seorang konsultan kerapian yang mengelola bisnis kerapihan terkemuka di Tokyo akan mengajak kita memahami lebih dalam terkait aktivitas berbenah atau beres-beres barang. Pencetus metode berbenah ala KonMari ini mengungkapkan betapa banyak orang terjebak dalam kebiasaan keliru dalam beres-beres. Sehingga di samping membuat ruangan menjadi tak nyaman dipandang, juga berpengaruh terhadap suasana, emosi, bahkan pandangan dan pemikiran penghuninya.

Ruangan, entah di rumah atau kantor yang rapi dan bersih tentu lebih menciptakan suasana nyaman ketimbang ruangan yang berantakan. Inilah pentingnya berbenah. Namun, kegiatan beres-beres tak sesederhana kelihatannya. Banyak orang mungkin berhasil membuat ruangannya nampak bersih dan rapi, namun kerap kali hal tersebut tidak bertahan lama. Beberapa hari kemudian, orang menjumpai ruangannya kembali berantakan dan semrawut. Di sini pentingnya membiasakan prinsip-prinsip penting dalam berbenah. “Orang cenderung berantakan karena memegang prinsip-prinsip yang keliru seputar kegiatan berbenah,” tulis Marie.

Bertolak dari realitas tersebut, Marie menjabarkan berbagai prinsip penting seputar seni beres-beres. Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama bertahun-tahun mendalami dan menggeluti bidang ini membuat penjelasannya begitu mengalir, kaya, dan menarik. Pengalaman berinteraksi dan melihat berbagai permasahalan dari para klien dalam menata dan mengatur barang di rumah membuat pemaparan Marie menjadi berisi dan penuh dengan kasus-kasus konkret, lengkap dengan berbagai solusi dan tips untuk mengatasinya.

Penyebab utama sebuah ruangan menjadi berantakan adalah perilaku menyimpan yang berlebihan atau tidak efisien. Marie melihat kecenderungan manusia modern, terutama di Jepang, dan Amerika, yang gampang membeli dan menimbun barang yang sering jauh melampaui kebutuhannya. Ia mengelompokkan orang-orang yang susah menjaga kerapihan menjadi tiga jenis. Yakni tipe “tidak tega membuang”, tipe “lalai mengembalikan”, dan tipe “kombinasi”. Berdasarkan pengalaman mengamati para klien, Marie menyimpulkan 90% nya masuk dalam kategori ketiga, yaitu tipe kombinasi alias lalai menyimpan sekaligus tidak tega membuang. 10% sisanya adalah tipe “lalai menyimpan”.

Marie menjelaskan, berbenah yang efektif hanya terdiri dari dua aktivitas esensial, yakni membuang dan menentukan di mana harus menyimpan barang. Dan di antara keduanya, membuang harus didahulukan. Akan tetapi, jika barang-barang tersebut masih layak dan bisa digunakan, kita bisa menyumbangkannya pada orang yang lebih membutuhkan.

            Pada kenyataannya, banyak orang lebih memilih menyimpan barang ketimbang membuang. Marie mengingatkan agar kita berhati-hati dengan istilah “menyimpan” barang karena dalih “masih bisa dipakai nanti”, atau “mungkin suatu saat ada gunanya”, atau “mungkin buku ini nanti saya baca jika ada waktu luang” dan sebagainya. Sebab, kerap kali hal-hal yang menjadi alasan tersebut tidak pernah terjadi dan barang-barang tersebut akhirnya memang tidak pernah lagi digunakan.

Marie memberi pilihan menyimpan atau membuang barang. Dalam menyimpan, di buku ini ia memberi tips memilah dan menyimpan barang yang sebaiknya berdasarkan kategori bukan lokasi, bagaimana menyortir barang, tips menyimpan dan melipat pakaian, merapikan buku-buku, pernak-pernik, hingga uang receh dan barang lain yang kerap memenuhi ruangan.

Keajaiban

Hal yang menarik dari kegiatan berbenah adalah dampak yang diakibatkannya. Marie menjelaskan, banyak keajaiban dirasakan para klien setelah menerapkan prinsip berbenah yang ia ajarkan. Selain ruangan lebih rapi dan bersih, berbenah ternyata juga menyimpan manfaat bagi pemikiran dan cara pandang seseorang. “Salah satu keajaiban berbenah adalah membuat kita percaya diri akan kemampuan kita dalam mengambil keputusan,” tulisnya (hlm 171).

Aktivitas beres-beres pada gilirannya memang mengasah pemikiran dan pandangan seseorang, baik secara etis, estetis, hingga efisiensi dan efektivitas dalam menjalani kehidupan. Ketika kita menyortir, memilih dan memilah barang mana saja yang perlu disingkirkan dari suatu tempat serta yang mana yang harus disimpan, di situ ada proses berpikir dan mengasah kecakapan mengambil keputusan.

Sedangkan, ketika kita berupaya menata dan menyimpan barang secara efisien dan lebih rapi, di sana kreativitas dan rasa estetis kita diasah. Ketika barang-barang tertata rapi di tempatnya dan ruangan menjadi bersih dan terasa nyaman, mood kita menjadi lebih baik. Perasaan positif ini merupakan modal berharga untuk menunjang aktivitas sehari-hari agar lebih bergairah dan produktif.

Prinsip dan tips yang dituangkan Marie memberi banyak pengetahuan menarik, terutama seputar seni berbenah. Memang, sekilas ada tips-tips yang kelewat “ketat” dan kurang relevan jika melihat keadaan ruangan di rumah-rumah di Indonesia yang relatif lebih longgar dibandingkan kondisi di Jepang. Namun, buku ini tetap menyimpan banyak pengetahuan berharga tentang bagaimana hidup yang lebih rapi, disiplin, dan efektif. Lewat buku ini, kita juga menyadari bertapa besar manfaat dari aktivitas berbenah. Saatnya berbenah dan mengucapkan selamat tinggal pada berantakan!

Al-Mahfud, penikmat buku, dari Pati.  
Menulis artikel, esai, dan ulasan buku di berbagai media massa.  

Buku, Resensi

Memorabilia Visioner Si Perempuan Kuli Bangsa

Oleh: Anton Suparyanta

Kemunculan buku ini di pengujung tampuk jabatan kementerian NKRI, cukuplah menjadi goresan memorabilia. Tahun politik ini segera akan mengubahnya kembali. Isi buku tak begitu istimewa, tetapi lentingan dan pijar pikir si perempuan Susi justru menjadi bara bagi para perempuan di Indonesia. Kodrat perempuan tidak semata-mata ditakdir menjadi babon yang kolot. Atau melulu menjadi pecundang di tengah kemiskinan perempuan cerdas tanah air. Kinilah saat zaman perempuan melenting menjadi jago.

Miskinnya figur trengginas (visioner) di tanah air menggugah Presiden Jokowi jengah mengolah bahari. Cap negara maritim adalah jemawa para pakar. Panen ikan melimpah milik cukong dan tengkulak yang menjadi pecundang negara. Nelayan tetap nelangsa. Kemelut ini menyulut insting Jokowi mengincar perempuan “beride gila” Susi Pudjiastuti. Semula Susi kontroversi menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.

“Pak Jokowi, saya surprised, Bapak angkat saya jadi menteri. Bapak kok percaya pada saya?” kata Susi.

“Ya, saya memang butuh orang “gila” untuk melakukan terobosan. Saya senang cara kerja Bu Susi dalam jam-jam pertama, membuka kesadaran publik tentang potensi laut Indonesia yang dicuri asing. Saya yakin Bu Susi berkarakter melayani, seperti sigap menggendong ibu yang sudah sepuh ini,” kata Jokowi seraya mengunggah foto Susi ke medsos.

“Saya terima pekerjaan ini, dengan pengalaman 33 tahun di perikanan dan 10 tahun di penerbangan, mudah-mudahan membantu Indonesia menjadi lebih baik. Membangun ekonomi mandiri dan menumbuhkan kebanggaan diri,” pungkas Susi (hlm 138).

“Kegilaan” Susi bagi Jokowi adalah visinya yang out of the box. Karakter ini gayut dengan gaung slogan: kerja, kerja, kerja! “Ide gila”-nya menjadi fighting spirit, kawah candradimuka inspiring woman, super woman, atau wadona pinunjul yang menyabet puluhan gelar penghargaan lokal, nasional, pun internasional. Susi menjadi orang ketiga peraih gelar Doktor Honoris Causa dari ITS Surabaya setelah Hermawan Kertajaya dan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.

Buku ini menjadi bernas bagi generasi milenial yang sadar berpikir kritis dan tidak dibuai gawai teknofil. Biarlah Rhenald Kasali atau Hermawan Kertajaya berkoar tentang ancaman era disrupsi 4.0 yang serba digital dan melelahkan bibir. Anutlah visioner Menteri Susi dari kecil, remaja, dewasa, muda, tua, hingga ribuan tahun ke depan. Susi berani melakukan pilihan “gila” dan memimpikan hal besar yang dinilai “gila” menurut segelintir pakar.

Filosofi keheranan sebagai warisan buah kecerdasan dari filsafat Yunani seakan-akan menaungi langkah Susi. Susi kecil hobi berdiri berlama-lama di tepi pantai Pangandaran. Heran, kagum, takjub ia menatap laut lepas tanpa batas. Angan melambung tinggi, ia membayangkan diri sebagai ratu penjaga laut dengan sekian kapal selam yang bisa mengawasi rahasia alam di palung samudra. Ketika dewasa, ia sungguh menguasai luasnya lautan dan dipercaya menjaganya (hlm 2).

Dari SD, SMP, hingga kelas II SMA, Susi berprestasi. Ia jago berbahasa Inggris, bahkan suka belajar bahasa Belanda. Kosakata dan dialog bahasa asing diperoleh dari hobi membaca novel classic romance seperti karya-karya William Shakespeare dan Agatha Christie. Ia haus literasi seperti komik, majalah, seri filsafat, Mahabarata. Gilanya lagi sewaktu kelas VI SD, ia sudah menyukai filsafat eksistensialisme Jean Paul Sartre. Jusuf Muda Dahlal, Frederich Engels, Das Kapital Karl Max, Adam Smith, Il Principe-nya Machiavelli pun dibacanya (hlm 44). Junilnya Susi ini diinisiasi teman sebangku kelas I SMA, Dwikorita Karnawati, yang menjadi Guru Besar Teknik dan Longsoran serta mantan rektor UGM.

Susi remaja kukuh meninggalkan bangku kelas II SMA, padahal orangtuanya juragan tajir. Susi membundel banyak impian. Berawal dari jatuh-bangun bakul ikan, ia menjadi pengusaha sukses yang bisa mengekspor sendiri hasil tangkapannya. Impian terbesarnya memiliki pesawat terbang sendiri untuk mengoperasikan usahanya. Fakta mencatat, Susi sukses memiliki puluhan pesawat terbang perintis, Cessna Caravan, dengan jenama Susi Air beserta sekolah penerbangan, Susi Flying School berdiri tahun 2008. Ia sukses mengekspor hasil tangakapan lautnya dengan merek Susi Brand.

Susi disindir tidak nasionalis. Nalarnya, dari 179 pilot, 175 pilotnya asing. Ia beralibi cerdas, banyak pilot Indonesia lulusan terbaik tidak berminat gabung Susi Air. Mereka bermental feudal dan gengsi. Mereka prestisius jika langsung memiloti Boeing Airbus. Mereka enggan terbang ke daerah-daerah pelosok Indonesia. Pilot asing bervisi beda: Indonesia eksotis, Susi Air menjamin kesejahteraan lebih. Manajemennya banyak orang asing. Butakah anak bangsa tercinta?

Hikmah kesuksesan ini, Susi menjamin dengan resolusi kritis. Memimpikan hal besar (yang menurut sebagian orang) dianggap “gila” dan tak mungkin terwujud bukanlah sesuatu yang salah. Kesalahan terbesar justru jika kita hanya berhenti pada mimpi tanpa mau berusaha mewujudkan impian. Pendidikan memang penting, tetapi mengarungi hidup yang terpenting adalah integritas atau kejujuran dan dibarengi sikap disiplin dalam segala hal (hlm 51).

Buku ini mengantar pembaca ke tapak-tapak Susi masa kecil, keberanian, jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, dan empati pada Indonesia. Misi-visi Susi: kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas; “jalasveva
jayamahe”
, di laut kita jaya!***

Anton Suparyanta, alumnus FIB UGM, editor buku PT Intan Pariwara Klaten-Jateng