Puisi

Puisi Eko Setyawan

Memulangkan Pelukan

1.

pagi masih hangat.

meskipun pelukan sudah beranjak pergi.

2.

tak kutemui dirimu—

di sela-sela udara

yang memukul-mukul kenangan di kepalaku.

apa tak ada yang lebih berbahagia selain

kesedihan yang mengurung diri?

3.

“begitulah nasib bekerja, ia lebih keras kepala

dibanding cinta yang ditanam.”

4.

segala hal, tak pernah di mulai

jika tak ada akhir.

hari ini adalah kemarin yang lahir

dari tangisan di rerumputan yang menjelma embun.

            : di sembab matamu.

lesaplah kesedihan itu.

merupa cahaya yang memancar.

dari balik gunung yang jauh.

5.

selalu tak dapat kusapu binar matamu.

bergegas pergi dan mengemas diri.

kubekali kau tenunan langit pagi.

agar sewaktu-waktu—

kau dapat menyelimuti diri

dan kau dapatkan lagi pelukan

yang sengaja kau tinggalkan.

(2019)


Merapikan Ingatan

tak ada yang bisa kukecup selain rona pipimu.

ia merah muda.

seperti kedua tangan selepas bertepuk tangan.

seperti menjadi sejumput awan,

sekecil apa pun, ia tak akan tahu—

ke mana angin akan mengajaknya pergi.

begitulah cinta bekerja.

ia seperti doa.

dirapal khusyuk bagi ia yang meminta.

keinginan adalah doa yang terus menerus ditebar.

kita hanya bertugas menerima.

“tapi adakah yang sudi merapalkan duka?”

“tapi— adalah kata yang tak menolong.”

pulanglah tanpa alasan.

tanpa benar-benar berpikir bahwa—

di dunia ini, di kepalamu,

bersarang ingatan tentang perpisahan yang menyakitkan.

(2019)


Cinta yang Berlebihan adalah Bencana

1.

kujadikan diriku pedestrian dan tak

kudapati apa-apa selain perjalanan yang jauh.

kuikuti langkah kaki.

pergi dan tak tahu arah kembali.

2.

kukira cinta yang menuntunku.

namun setelah kubaca ulang karcisku.

ternyata hanya kesedihan semata.

3.

aku keras kepala.

kugiring kesepian pada kegelapan.

tak ada apa-apa.

tak kutemukan tempat baru.

segalanya berbekas dan tetap sama.

4.

kurapikan ulang langkah kaki.

kuingat benar bahwa− kau atau mungkin yang lain−

pernah berbahagia dengan cara yang sederhana.

5.

“bukankah cinta yang berlebihan adalah bencana?” katamu.

6.

kutarik langkahku. kupulangkan pada jalan

entah menuju ke mana.

(2019)


Mengemas Kesedihan

kutekan tombol silang pada remot.

hidup berhenti barang sesaat sembari menunggu

kereta yang mengantar rindu kembali ke dada.

matahari bermukim di atas kepala.

mekar dan memberi cinta di bawahnya.

“apa yang telah kembali?”

cinta yang pergi menjauh.

kereta yang lupa mengerami peron.

cinta yang lahir dalam deru kereta.

mungkin pula matahari  masih ada di atas kepala.

tak ada yang boleh bersedih di antara kita.

(2019)


Kau ialah Puisi

             : perempuan penjaga ruang CR

kuhirup bau buku-buku—

terselip semerbak namamu.

ruapnya ialah taman bunga.

ia menyebar di tubuhku.

menjadi pelukan yang tak henti-hentinya diberikan.

matamu, seutas puisi yang belum usai.

bercahaya dan enggan padam.

menunggu hingga titi mangsa disematkan.

senyummu cahaya.

menembus sela-sela jendela.

menjelma siluet yang hangat.

niscaya.

seluruhmu.

aku.

(2019)


Memadamkan Kenangan

gugurlah ia melawan cemburu.

dalam dada yang biru sempurna.

seumpama mati.

hidup adalah bertahan.

di tengah segala putus asa.

cinta seperti awan yang ranggas.

tak ada yang disentuhnya.

selain langit yang padam.

turunlah hujan dan turunlah pula malaikat.

seraya berbisik—

“usaikanlah kenangan, ranggaslah kesedihan.”

(2019)


Ruang Maaf

tak ada yang bisa dijawab setelah persinggungan

antara baik dan buruk.

tangan kanan tak lain kabar yang semu.

serupa sebuah sentuhan dan pukulan kecil di bibir.

tebakan buruk dianjurkan untuk diubah menjadi kapal

di buritan, air menyepi dan menggantung pada lengan kiri

menjelma pundak bagi si murung.

terbuat dari apakah jawaban?

seperti kalung tanpa liontin, malam

tanpa suara jangkrik, jalanan

tanpa pengendara, aku tanpa kau.

untuk kembali mengikatnya

entah seuntai tali atau makian— perlu ditautkan

pada sebuah huruf yang saling bersisian

hingga kita dibuatnya jatuh cinta.

sebab tak ada pertanyaan yang berganti

pahala dan dosa tak ubahnya sepasang kesalahan

yang tak hentinya direngkuh oleh maaf.

dan ketika segalanya usai.

usia mengabur dan bimbang memandang.

masih adakah ruang maaf di kepalamu?

(2018)


Perihal Masa

Aku magrib, kau subuh.

Kita senasib, tapi tak utuh.

(2019)


Eko Setyawan, Lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Karya-karyanya tersiar di media lokal dan nasional.

Puisi

Puisi Saiful Bahri

malam

malam masih dibingungkan

dengan derita yang hujan bawa:

entah lebih jauh mana antara jarak

tanpa tempuh atau rindu tanpa temu?

pagi memilih mata hujan bertandang

merayakakan gerimis bayang-bayang

(2019)

cincin waktu

empat ribu hari daun bersemi

ia teringat bunga kembang

merayakan cincin melingkar

umpama hujan rintik berkabar

cincin hujan di tangan waktu

pertanda aku merindukanmu

suara telepon, suara hujan,

suara ayam di kebun frasa

semuanya tengah gembira

nun di alifnya hijrah pergi

ke tanah ritme mahligainya

(2019)

Malam Rabu

Suara-suara alif kiai

Serupa suruhan senja

Melampiaskan makna

Hujan tadi sore pergi

Kalimat tinggal dua

Nama aku dan kamu

Jumpa malam hanyut

Pergi ke sungai kali

Ikan-ikan diam bisu

Daun tetap tumbuh

Kaloni mimpi kata

Selatan arah kami

Ada rona perempuanku

Malam Rabu kesaksian

Menyaksikan perasaan

Bersaksi dan beraksi,

Bahwa kita ini puisi

(2019)

Zikir Waktu

Cinta dan percintaan tengah saling bermesraan.

Di luar hujan badai sedang di dalam api berandai.

Petir hitam malam menyambar serupa waktu-waktu bisu.

Berzikir adalah kebiasaan yang dirahasiakan riak doanya.

Zikir waktu. Zikir yang tak pernah dirahasiakan api malam

Di bibir waktu. Suara tengah melintas ke ubun mata alis api.

Halal kita tiga puluh hari kemudian. Gurun singgah di mata.

Berulang kali epilog dan keterbatasan alur cerita yang hanya

sampai di batas doa dan namaku menjadi waktu paling zikir

(Selasa, 30 April 2018)

Restu Kita

Kita dan waktu duduk meminum

campuran sepi dan puisi. Kongko.

Sesekali puisi dan kopi merasa

cemburu melihat rindu minum restu

Entah barangkali kita adalah mohon

yang dirahasiakan doa di ubun restu

Ya, Tuhan. Restu kita restu puisi

(2019)

pernikahan aku dan hujan

petang. pernikahan aku dan hujan disaksikan

kabut hitam yang menyambut tamu undangan

terundang petir awan duduk rapi di pangkuan

bahwa aku telah resmi disaksikan kesendirian

jejak rabun mata laun. angin hitam bertiup lunglai

hanya saja hujan kabung menerjemahkan sayap burung

ada banyak tamu undangan hadir di laman hati rumput

di antaranya adalah kenangan, kerinduan, bahkan kesepian

pernikahan aku dan hujan, basah, kuyup,

keindahan yang kuundang, yang datang bayang-bayang

(Pangabasen, 2018)

asmaraloka

“di sini, mereka lupa kata

angin dan aku bercerita;

   tutur daun aku gugur,

      cetus jauh aku jarak,

         ucap mendung aku hujan,

            kata rumput aku rasa,

ucap rasa aku kata; gampang

mencintai, tapi susah dicintai

(Bungduwak, 2018)

ilmu

belajarlah ilmu resah. paling tidak sesekali dalam ilusi.

memang iya. ilmu itu susah sekali. boleh saja kauucap

gampang, tapi kini, kau belum fasih menerangkan

bayang-bayang. tak ada ilmu gampang. merindu(pun)

butuh kamu. bahkan, mencintai butuh puisi. yang

gampang hanyalah ilmu percintaan, selain bab kerinduan

(Bungduwak, 2018)

taksa

sederas tangan hujan berdoa.

ia duduk, melamun, kadang

hijrah jatuh melilit makna abu

lunglai di mata batin kayu.

kayu-kayu daun terhindar

dari kemarau api gelisah.

searah mata hujan terpana

merias desir-desir makna.

(April 2018)

Saiful Bahri, lahir di Sumenep-Madura, pada tanggal O5 Februari 1995. Mengabdi di Madrasah Al-Huda. Mahasiswa aktif di STAIM Terate Sumenep. Selain suka menulis, juga aktif di kajian sastra dan teater “Kosong” Bungduwak, Perkumpulan dispensasi Gat’s (Gapura Timur Solidarity), Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-Huda), Perkumpulan (Pemuda Purnama), Pengasuh ceria di grup (Kampus Literasi) dan pendidik setia di komunitas (Literasi Kamis Sore). Tulisannya di berbagai media, dan beberapa Antologi Bersama. Buku puisinya: Senandung Asmara dalam Jiwa (2018).

Puisi

Puisi Anjrah Lelono Broto

Patah Hati

Jangan lagi ada janji padanya

Kumpulan berlimpah air menyegara

Laut tak butuh lagi ikrar

Lukanya telah menulis mengakar ke dasar

Bilamana masih ada janji

Di saku, di laci, di almari

Dia bersungguh patah hati.

Suara laut beranjak sayup. Mengertilah

kesabaran juga berbatas galah

seperti jatuh cinta pada ombak yang pecah

laut juga bisa patah hati. Bila lelah telah

menjadi muara sekian janji

(Surabaya, 2019)

Mengulang Pertemuan

entah telah berapa windu berlalu

engkau menulis tentang kealpaan

untuk menasbihkan dada juga bahu

selayaknya tiang pancang sandaran

sebentuk napas bernadi biru,

berawan merah jambu, bernapas lugu,

juga beraroma tembakau

jatuh kemudian

“sedemikian menjulang

kerinduan akan duka?”

pertanyaan di hulu hujan

itu kubawa lari langgang ke ladang

terbiar sampai perdu setinggi pinggang

putaran jarum jam lalu menjura

dada juga bahu lalu pun berseikat

menjadi sandaran melukaimu

dan perulangan pertemuan di masa dulu

terasa serupa simponi beralas cadas bebatu

(Mojokerto, 2019)

Senantiasa Sudi

Hingga sampai sebuah peristiwa, untuk kali ke sekian

keyakinan pada teduhnya pandang mata itu dihadapkan

ujian satu, ujian dua, ujian tiga, terus sampai ujian

tak lagi berangka. Jika kemudian ada sesal bertaburan,

kecewa berhamburan, Sayang, itu aku, bukan!

Kau mungkin pernah menziarahi prasasti

dengan timbunan baju zirah dan namaku terpatri?

Tak dapat kupungkiri, tapak-tapak kaki

ini terasa berat beribu kati

sarat luka yang kita garit sendiri,

dari pagi sampai pagi ke seratus ribu pagi lagi.

Tapi. Simpan jantungmu di almari

ketenangan. Bukan aku yang menduakan, apalagi

menjadi pelakon kisah-kisah pengkhianatan (diri).

Teduh matamu masih seindah lengkung pelangi

kemarin, sekarang, juga nanti.

(Mojokerto, 2019)

Wajah-Wajah Penantian

wajah segelas anggur adalah penantian

hangat namun membubung-lupakan

penantian lalu serupa wajah kepompong kupu-kupu

diam selalu serta pekat harapan tanpa ragu

terkadang penantian menjelma wajah pukat harimau

tertebar dan segala ikan diterkam mau

penantian pun mampu menjadi wajah cermin

buram, retak, bahkan pecah saat nir ingin

di muara usia, wajah penantian adalah penantian

tak ada gelombang; mematung di baris antrian

(Mojokerto, 2019)

Kereta Kenyataan

Nampaknya kereta akan segera tiba

kaki dan matanya disimpan jauh di lubuk

tak terjangkau gapai tangan-tangan kita,

“Kalau engkau enggan, aku bisa mohonkan

padanya, agar gerbong itu tak menelan

lalu cerita kita dilanjut-bacakan

sampai banyak yang berseru kehilangan,”

kataku padamu, sementara auman

kereta itu menyerbu telinga penuh perasaan.

“Di ngarai yang akan kutuju,

akan terajut cerita sebiru ini, tak perlu

risau kau tikamkan bersanding kelu,” jawabmu.

Kereta pun telah membujur lalu menamparku

dengan peringatan; “Siapkah aku

menerima? Kenyataan bukanlah harapan itu.”

(Malang, 2018)

Kitab Luka

Tapi,

bagaimana jika aku kencing berdiri

dan jakun kemudian tumbuh di tepi?

Pencarianku tentang akar

kemudian sampai pada halaman

kitab batang, dahan, daun,

bunga, buah, dan benih.

Di kitab terakhir,

kupukul perutku kencang-kencang.

Di sana,

tak ada rahim yang menggelinjang.

Serapah lalu menjadi kelaziman

yang mengalir, membuncah, dan

muncrat ke segala arah.

Kukutuk siapa saja,

kukutuk apa saja,

bahkan sesuatu yang bertahta

di lapisan luka kulit (entah) ke berapa.

(Surabaya, 2019)

Serupa Menimba Air Mata dari Tempayan

biar saja hujan menghapus kemarau

membasahkan tanah merah

membasahkan batang rebah

air mata tak melukiskan

sekian warna

air mata serupa

lonceng yang berdentang

sekali

lalu sunyi

pegang lengan ini

tak ada yang memilih menjadi berarti

dan atau tanpa nama sama sekali

tapi menjadi muara harapan

adalah pilihan

meski tak berbeda dengan

menimba air mata dari tempayan

di dapur rumah sendiri

(Mojokerto, 2019)

Diterkam Gamang

Lembaran demi lembaran daun ini bersulamkan benang berdebu,

bertuliskan catatan panjang tentang bulan juga kupu-kupu.

Lembarannya telah usang dan sudut-sudutnya hilang disudahi waktu.

Bersama perca-perca harap dilepas rindu

dan kekecewaan bersandar di dermaga kalbu,

selangkah maju memikat di gamang membukit-membatu.

Apakah semuanya akan seperti isi lembar demi lembaran daun itu?

Pertanyaan berkalung melati itu membuat semuanya menghela

nafas tanpa sesumbar dan bintang jatuh di atas para-para,

pecah, berai, sunyi. Aku segera saja menyalakan tungku tua,

kuseduh secangkir teh. Lalu, aku ingin menjemput impian yang tersisa,

tinggal selembar pula.

Diterkam gamang, aku mengukir prasasti pengakuan. Sebab di jalan,

aku berpapasan dengan perempuan muda yang

membawa kisah lain. Tentang kupu-kupu bersayap pedang

yang memakan lembaran-lembaran daun catatan. Dan aku segan menghadang,

karena aku terlalu lelah dan ingin segera tidur setelah sepanjang

usia ini diterkam gamang.

(Mojokerto, 2019)

Laki-Laki di Mata Perempuan Ketika Musim Bunga

telah usai sebuah musim bunga

batang pohon lipat dedaun bersahaja

setangkup kuncup pun tiada bersiul

tak ada sesal, tak ada sesal, air mata memanggul

     telah kucium beragam bunga

     dan sesajen mengutuk kaki yang kubenamkan di tanah *)

menambatkan perahu hati

adalah pilihan, sejak anak-anak pertama Adam-Hawa

namun ada yang menguliti tubuh ini

meski ruh masih di kandung badani

kerna perahu tertambat di tiang pancang sudraloka

alangkah kejam laki-laki di ufuk pandang perempuan

kami bebas melengkungkan janur

sementara mereka mengaduh

saat pecah perawan dan atau melahirkan

(Surabaya, 2018)

*) bait kedua puisi “Patiwangi” karya Oka Rusmini, Horison – XXXV/4/2002

Anjrah Lelono Broto tinggal di Trowulan-Mojokerto. Menulis esai, cerpen, puisi dan geguritan. Bebeberapa karya pribadi dan bersamanya adalah Syukuran (naskah monolog, 1998), Blossom In The Wind (saduran naskah teater, 1999), Lilih (antologi geguritan, 2004), Negeri Di Angan (antologi esay, 2008), Esem Ligan Randha Jombang (antologi geguritan, 2010), Orasi Jenderal Markus (naskah monolog, 2011), Pasewakan (antologi geguritan, 2012), Tasbih Hijau Bumi (antologi puisi, 2014), dan Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (antologi cerpen berbahasa Jawa, 2015). “Nampan Pencakan (Himpunan Puisi, 2017). Karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon DKJT 2018. Dapat disapa di e-mail:[email protected], FB: anjrahlelonobroto, IG: anjrahlelonobroto

Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

Memasak Ibu

perempuan kecil memasak
untuk menghadirkan aroma tubuh ibunya

(Sala, 2019)

Apakah Cinta Itu

di jauh, gadis kecil bertanya
pada ibu di rumah
apakah cinta itu, bu?
cinta itu, nak
saat kamu tidak berhasrat mengubah apapun
dari orang lain
pernah kamu jatuh cinta?
kupikir belum
bahkan kepada ibu?
ya, bahkan kepada ibu

(Sala, 2019)

Halaman Belakang

kesedihan adalah mengalami pertemuan
beku
kamu tak percaya diri menemuiku di keramaian
aku tak percaya diri mencintaimu

apakah kita perlu sering-sering bertamu
di halaman pungkasan majalah mingguan
sekadar untuk bertemu
di ruang depan pikiran

(Sala, 2019)

Setengah Hari

siang baru setengah dan miring ke kanan
sebab hujan tak bercabang
bertamu di himpitan pintu kamar
di dalamnya, mataku
hilang di tiap gigitan jambu

orang-orang kecut memandang
nyala neon
seperti ilustrasi komet jatuh
di pelajaran IPA sekolah dasar
mengumpati sabtu yang gagal tidur

(Sala, 2019)

Aku Tidak Suka Bekerja

aku tidak suka bekerja.
kecuali minggu,
hari-hari jadi sibuk dan menyebalkan
aku jadi tak punya cukup waktu
memandang buku-buku

sebetulnya kamu juga, tidak
suka bekerja
tapi bekerja sudah jadi
kehidupan itu sendiri

kenapa begitu?
karena bapak sudah jarang memberi uang saku
kamu anak laki-laki, dan harus
mandiri

(Sala, 2019)

Puisi di Jalan

di jalan
aku sering jadi puisi

sekian kilometer puisi tak tercampak
ingatan
duduknya tenang
menyusun diksi sesuai warna baju

lampu tiba-tiba memerah
wajah puisi jadi ramah
diantarnya senyum koma ke tiap-tiap arah

di puluhan jalan berlubang
puisi membenamkan diri
mengamati
batu-batu kecil bergaun malam

setelah tanjakan
puisi hilang di belokan
ia, tak pernah sampai rumah

(Sala, 2019)

Lelaki Bermata Jauh

waktu dan keriuk kerupuk hijau pernah kita simpan
baik-baik di toples bekas biskuit lebaran
tiap susunan kita tata dengan pertimbangan setiti

dua ratus tiga puluh bulan kemudian
di hari rekah, kita kalah
dan sepakat tak ada lagi tiket terselip di jendela kereta yang muram
kita pilih gembok tanpa kunci untuk stasiun kota yang tenggelam

(Sala, 2019)

Rizka Nur Laily Muallifa.Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya. Aktif di KomunitasDiskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, Bentara Muda Solo