Jagung Rebus Hangat
sore mengantar tetangga
ke teras rumah
dengan plastik bening
di cantolan sepeda
keceriaan berwarna jeruk
lekas berpindah tangan
bersama preambul paling rendah hati
kebetulan panci untuk merebus berukuran besar
muat untuk mendidihkan lebih banyak keceriaan
Bojonegoro, 2020
Memasak Batu
ibu memasak batu
di atas tungku ceklekan
dengan api sedang
di atas batu
tiga bungkus amin
menguarkan keringat petani garam yang khidmat
amis baju nelayan
berpacu dengan haus pemanjat pohon kelapa
menjelang bedug
laut dan perkebunan semarak di meja makan
kepada mereka,
amin mengumpat aman
Bojonegoro, 2020
Pulang
kita kembali pada hati masing-masing
dengan pengertian yang susah
tapi kesusahan apa yang layak jumawa
menjelma paling kuasa
tidak ada kesusahan yang benar-benar
kata berita di lini masa
kita hanya perlu menepis kabar
panggilan dan persemuan bimbang
semoga tidak ada lagi jalan yang rentan
sehingga kita tidak perlu berebut jembatan
di lintasan sungsang
Bojonegoro, 2020
Kesiangan
pagi terjadwal sejuk
di jalan-jalan kampung
kaki menginjak embun
dengan agak tergesa
di timur atap rumah
bayi matahari sudah merah
bidak-bidak toko mesti lekas dibuka
kaki yang terjadwal mengitari sepetak besar perjalanan
jadi makin tangguh
mengikuti paving jalanan yang bergelombang
Bojonegoro, 2020
Lebaran Wabah
: dari film Negara, Wabah, dan Krisis Pangan
kelas menengah perkotaan
menonton dokumenter terbaru Watchdoc dengan kegeraman tak sudah-sudah
negara yang berkasih hijau
senantiasa menjamin rumah
bagi hasil pertanian orang lain
tapi melibas kesuburan tanah anak kandungnya
di kulon progo
di kendeng
di batang
di papua
di kalimantan
di mana saja
dalam kebenaran
anak negara yang tak pernah manja
mengandung pangan yang berdaulat
tapi bapak yang telanjur khilaf
tak pernah mampu melihatnya
Bojonegoro, 2020
Ramadan Masih Meriah
mikrofon tidak berhenti
menguarkan biji-biji ayat suci
dari suar musala
suara-suara berkisah lugu
dari pagi sampai siang berwarna merah
lalu beranjak serak dan berat
saat cahaya tenggelam di kiblat
setiap hari
musala-musala yang letaknya selemparan sandal jepit itu
riuh oleh ragam lamaran
baik yang pamrih
atau tidak sama sekali
(Bojonegoro, 2020)
Arief Budiman
hari ini aku membaca tiga kematian di cerpen
ketika istirah rampung,
cerpen kematian ke empat mengetuk kelopak mata
tokohnya bernama wangi
tokoh telanjur mati
meninggalkan banyak tanda seru
di titian kebudayaan, politik, sosial, dan kebangsaan
(Bojonegoro, 2020)
Tua dan Gembira
: djokolelono
Usia memanggul kegembiraan demi kegembiraan
Ia ingin kesedihan dan tangis singgah sesekali saja
dan jangan sekali-kali berlebihan
Hidup ini humoris
Jangan cemberut apalagi cengeng
Nanti kamu digoda setan penunggu beringin tua di Wlingi
Juga jangan bermain-main di dekat beringin tanpa doa orang tua
Setan van Oyot bias menjelma apa saja
Kepalamu bias tiba-tiba benjol
Atau kau tersekap di kamar tak layak huni
(Solo, 2020)
Di Kereta Hijau
: impian
kita sibuk pada diri masing-masing
mematut wajah di jendela
mereka sesuatu yang jauh
di balik jendela, aku melihat obat-obat
yang harus kau minum tiap pagi dan petang hari
di dalam obat-obat, aku melihat dirimu bergulat
dengan bayangan diri yang muncul di siang hari
sebelum aku terjaga
kau sudah menyanyikan puji-pujian Mbah Moen
yang dialamatkan pada Fatimah dan Khadijah
kesempatan perempuan menjadi waliyullah
lebih terbuka dan terasa masuk akal
“Tapi mana mungkin Gusti Allah menjadikankamu wali-Nya
Tampangmu tak ada bakat sama sekali untuk jadi wali”
waktu itu tangisku sembunyi di balik daun mata
bukannya menangisi ledekanmu
tapi ingat, hari ini kekasihmu menikah
(Solo, 2020)
Di Samping Peti Mati di Dalam Pesawat AURI
kekhawatiran Gie
tiba-tiba mencemaskanmu
justru saat adikmu yang keras itu
tergolek pasrah dimandikan para perawat jenazah
“apakah hidupnya sia-sia belaka?”
kau mengulang-ulang pertanyaan di dalam hati
di tempat tukang yang membuat peti mati
yang menangis tak henti-henti
jawaban itu kau peroleh
dan siap kau bisikkan pada Gie di dalam pesawat nanti
dari Malang, pesawat sempat istirah di Kota Ngarso Dalem
pilot AURI menciptakan kembang
menggenapi pembuat peti mati
istirah kalian hanya sepersekian jenak
sejak itu, dadamu terasa lebih longgar
pesawat bersiap menuju Jakarta
tanganmu menelusuri peti
berupaya mencari di mana letak persisnya telinga adikmu
(Bojonegoro, 2020)

Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, ideide.id, langgar.co, dan beberapa lainnya.
