Ragam

1946: INDONESIA DAN BAHASA JAWA

Yang terbaca sampai sekarang adalah teks Proklamasi berbahasa Indonesia. Dini hari, 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta tak perlu berdebat pilihan bahasa saat ingin memuliakan Indonesia.

Mereka memang fasih berbahasa Belanda. Oh, bahasa Indonesia masih sejenis bahasa baru bagi mereka yang mengerti babak (bersejarah) 1926, 1928, dan 1938. Aku kira mereka belum terlalu menyadari bahasa Indonesia, akhirnya, terbukti memiliki kekuatan politis. Benarkah?

Maka, yang mengucap dan menulis saat teks itu digarap secara wajar memilih bahasa Indonesia, bukan bahasa Belanda meski sangat dikuasai, sejak mereka bertumbuh di tanah jajahan sebagai kaum terdidik. Aku yakin mereka wajib berbahasa Belanda untuk meraup ilmu-ilmu di sekolah! Mereka semestinya mengagumi bahasa Belanda. Jangan lupa wajib berterimakasih telah membentuknya sebagai penyuara nasionalisme!

Eh, mengapa saat dini hari itu (17 Agustus 1945) mereka tidak menuliskannya dalam bahasa Inggris saja agar terbaca dan terdengar keren di dunia? Aku bayangkan bahasa Inggris yang digunakan Soekarno dan Hatta dalam menyusun teks Proklamasi akan membuat para pemimpin dunia segera memberi pujian. Yakinlah bahwa bacaan-bacaan Soekarno dan Hatta banyak yang berbahasa Inggris, yang menghubungkan dengan gejolak-gejolak abad XX. Aku memang belum memiliki catatan judul buku-buku yang dibaca dalam bahasa Inggris. Padahal, sejarah Indonesia dan kemunculan elite intelektual itu dipengaruhi bahasa Inggris. Maksudku, haru ada pengakuan bahwa bahasa Inggris punya saham besar dalam situasi sebelum dan setelah penulisan sekaligus pembacaan teks Proklamasi.

Pada saat menegangkan untuk membuat kalimat-kalimat yang dahsyat, mereka tidak memikirkan iriang lagu. Maksudku, adakah nuansa kemerduan dalam waktu-waktu yang beserjarah? Kini, aku bisa membaca lagi sejarah 1945 dengan iringan lagu. Padahal, lagunya tidak tepat. Apa salahnya mengenang sejarah (dini hari) saat para tokoh menggunakan bahasa Indonesia di teks sambil mendengar lagu berjudul “Menunggu Pagi”.

Terdengar suara Ariel: Apa yang terjadi dengan hatiku/ Aku masih di sini menunggu pagi/ Seakan letih tak menggangguku/ Aku masih terjaga menunggu pagi. Ingatlah, saat itu Soekarno dan Hatta melek memikirkan Indonesia tidak sedang “menunggu pagi” demi asmara pisican!

Aku sudah bertele-tele merawat masa lalu. Ah, diri yang tidak pernah memiliki kesanggupan memberi perhatian kepada sejarah, yang masih bolong-bolong dan menyimpan misteri.

Yang sedang aku lakukan adalah membaca majalah Djojobojo. Nama majalah dicetak berukuran besar di bagian atas. Penulisan yang memerlukan tanda petik. Setahuku, “djojobojo” biasanya mengarah ke gubahan sastra oleh Ranggawarsita.

Pada suatu hari, aku membeli majalah Djojobojo edisi 1 Februari 1946 dari pedagang di Jogjakarta. Seingatku, majalah itu diberi harga 35 ribu. Masa lalu yang murah! Aku membelinya agar bisa menjadi pembaca yang mengandaikan merasakan bulan-bulan mendebarkan setelah 17 Agustus 1945.

Di halaman depan, dicantumkan kutipan dari tulisan Soekarno. Aku membacanya dalam bahasa Jawa, bukan bahasa Indonesia. Soekarno paham bahasa Jawa tapi ia menuliskan teks pidato dan artikel dalam bahasa Indonesia, yang inginnya terbaca oleh orang-orang di seantero Indonesia.

Pencantuman kutipan di majalah Djojobojo mengartikan bahasa Jawa ikut berperan membarakan Proklamasi. Aku tidak berniat mencari terjemahan “proklamasi” dalam bahasa Jawa. Yang jelas “proklamasi” itu berasal dari bahasa asing. Apakah terjadi salah pilih kata oleh Soekarno dan Hatta dalam “menjuduli” sejarah Indonesia?

Kutipan yang terpilih: “Ibarate kita kabeh iki lagi bisa liwat djembatan mas, doeroeng ing brang kanane, mangka wis pada apradondi tjakar-tjakaran agawe roweting bab-bab kang semestine koedoe diremboeg samangsa kita wis tekan brang kanane djembatan mas kita maoe. Saiki kita koedoe mlakoe disik, bebarengan manoenggal, goejoeb roekoen lan ngliwati djembatan mas ikoe, sarana wani mboewang kepentingan kita dewe lan kepentingan golongan-golongan, amrih kita kabeh bisa slamet ing brang kanane djembatan maoe.”

Petikan yang mengingatkan babak Indonesia sedang menuju atau melewati “jembatan mas”. Soekarno membahasakan perubahan dengan jembatan. Wah, yang dipilih emas, bukan perak atau perunggu. Pada hari yang berbeda, Gesang malah melantunkan “jembatan merah”. Aku tidak bisa mengganti warnanya dengan kuning, biru, atau hijau.

Pada abad XXI, Proklamasi yang menunjukkan jembatan sudah memastikan kita sampai atau belum menuju ke sana? Aku masih ingat pelajaran di sekolah, yang memuat masalah “pintu gerbang kemerdekaan.” Pokoknya, sejarah Indonesia itu aneh. Soalnya, ada jembatan dan pintu.

 Di halaman editorial Djojobojo, aku membaca pesan sangat penting: “Sanadjan kita kalah gegaman perang modern, kalah kapal-kapal, nanging menang akeh djiwane, menang papan ora ngloeroeg malah diloeroegi sakan papane kang adoh banget. Karo pangane moeng remeh-remehan bae woes marem. Sandjata pamoenahing satroe droehaka maoe ora ana maneh jaikoe manoenggaling tekad ngoekoeh kamardikan kang woes goemana.”

Indonesia sudah merdeka, tiak perlu takut dengan kapal dan senjata yang digunakan musuh. Indonesia punya jiwa yang kuat, yang akan memenangkan kemerdekaan. Ah, aku agak merinding membaca kalimat-kalimat berbahasa Jawa yang berpengaruh bagi pembacanya masa itu menghadapi perang.

Aku lanjutkan membaca artikel sehalaman yang diberi tajuk “obor politik” oleh S Dibyo. Pada masa perang, orang-orang yang menulis sebenarnya punya peran besar agar orang-orang tidak menyerah dan putus asa. Namun, yang bisa membaca tulisan hanya sedikit orang. Apa yang membaca bertugas menyampaikan pada saudara, teman, dan tetangga yang belum mengenal aksara? Dugaanku, satu majalah berkhasiat untuk banyak orang asal ada satu atau dua orang yang bisa membaca.

Aku bayangkan mereka mendengar pembacaan pendapat S Dibyo: “Ing sarehne bangsa Indonesia ikoe wiwit bijen moela pantjen bangsa kang karem tetoeloeng ing lijan, mesti wae dapoekaning pamrentahan kang adedasar pri kamanoengsan lan keadilan ikoe gampang ditampa dening bangsa kita kabeh, apa maneh jen kita ngelingi anane roekoen desa, bersih desa, sambatan, lan lija-lijane kang kabeh maoe pantjen dadi dasar kekoewasaan sosialisme.” Adakah terjemahan yang apik untuk istilah “sosialisme” dalam bahasa Jawa?”

Anehnya, Djojobojo yang majalah berbahasa Jawa, belum mampu memuat iklan-iklan yang berbahasa Jawa. Di halaman belakang, semua iklan berbahasa Indonesaa. Yakin saja, dua bahasa itu “berteman”, tidak akan bertengkar dalam majalah.

Yang aku perhatikan adalah iklan penjahit dan membuat sepatu. Pembuat iklan adalah Djamhoeri, yang tinggal di Jalan Doho 97, Kediri. Yang dicantumkan: “Membikin pakaian dan sepatoe menoeroet oekoeran pemesan”. Iklan diakhiri pekik “merdeka”. Artinya, yang berpakain dan bersepatu termasuk kaum yang merdeka.

Djojobojo, majalah yang tipis, cukup 14 halaman. Aku belum kenyang bacaan tapi sudah merasakan getaran sebagai pembaca yang ada pada masa lalu, sekian bulan setelah penulisan dan pembacaan teks Proklamasi. Majalah berbahasa Jawa yang membuktikan peran memuliakan Indonesia dengan berani menanggapi peran dan berusaha memberi kesadaran perlawanan untuk rakyat melawan pihak-pihak asing yang mengganggu kemerdekaan dan kedaulatan. [] Durjana

Samping

JEJAK JALAN PULANG

Ada orang yang tampak seperti benteng. Tegak, tenang, dan selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan hidup orang lain. Mereka bisa menafsirkan rumus rumit, membaca arah bintang, atau menulis teori yang membuat dunia bertepuk tangan. Tapi ketika malam datang dan cermin memantulkan wajah sendiri, tiba-tiba semua pengetahuan itu hilang daya. Segala hal yang dikuasainya ternyata tidak cukup untuk menenangkan badai kecil dalam dada.

Kita sering melihat mereka tersenyum di ruang kerja, tampil percaya diri di panggung, atau bercanda dengan lincah di tengah keramaian. Tapi senyum itu sering kali seperti cat tipis yang menutupi tembok retak. Mereka pandai menghibur orang lain, padahal setiap tawa adalah bentuk paling lembut dari perlawanan terhadap sepi yang terus menguntit. Ironinya, yang paling tampak kuat justru sering paling takut jatuh, sebab mereka tahu: kalau mereka roboh, tak ada siapa pun sanggup menampung reruntuhannya.

Ada yang menyembunyikan luka dengan bekerja tanpa henti, seperti ingin menenggelamkan diri dalam jadwal padat agar tak sempat memikirkan rasa sakit. Ada yang menertawakan segalanya, bukan karena bahagia, tapi karena tawa adalah senjata terakhir sebelum air mata. Ada pula yang tampak dingin dan logis, padahal itu hanya cara bertahan supaya tak perlu merasakan apa pun. Orang menyebut kekuatan mental. Padahal kadang itu cuma nama lain dari lelah yang dipoles rapi.

Kita hidup di zaman yang memuja ketangguhan. Semua orang ingin terlihat kuat, produktif, dan rasional. Kita memotret diri dengan caption bijak, menulis status seolah sudah menaklukkan hidup, padahal yang kita taklukkan baru topeng kita sendiri. Kita melatih otak untuk berpikir cepat, tapi lupa melatih hati untuk merasa pelan. Kita bisa memecahkan algoritma rumit, tapi tak bisa menjelaskan kenapa dada terasa sesak saat melihat orang yang pernah menyakiti kita tampak baik-baik saja.

Mungkin itulah bentuk ironi paling halus dari manusia modern: terlalu cerdas untuk dunia, tapi terlalu kikuk untuk diri sendiri. Kita bisa menjelaskan teori gravitasi, tapi tak tahu bagaimana caranya melepaskan seseorang. Kita hafal cara kerja semesta, tapi tak paham kenapa kehilangan bisa membuat napas terasa terhenti.

Beberapa luka memang tak perlu dramatis. Kadang hanya berupa kalimat tak pernah diucapkan, pelukan yang ditahan terlalu lama, atau kehadiran yang tiba-tiba hilang tanpa pamit. Dan orang-orang pandai itu tahu: tak ada rumus yang bisa menyembuhkan kehilangan, karena rasa sakit tidak tunduk pada logika. Ia hanya bisa ditanggung, dipeluk, atau jika sudah terlalu berat ditertawakan seadanya.

Ada yang mencoba menulis, berpikir dengan pena dan tinta, mengubah duka menjadi diksi. Mereka tak tahu apakah itu penyembuhan atau pelarian. Tapi setidaknya, dengan menulis, mereka masih bisa berdialog dengan diri sendiri tanpa harus terlihat lemah di mata dunia. Sebab di dunia nyata, terlihat rapuh sering dianggap cacat karakter, padahal justru di situlah letak kemanusiaan paling murni.

Lucunya, kita semua tahu kebenaran itu, tapi tetap berpura-pura tidak tahu. Kita saling memberi nasihat untuk ikhlas, move on, positive thinking, seolah hati adalah mesin yang bisa diatur dengan tombol. Padahal di balik semua motivasi itu, banyak di antara kita sedang menahan napas agar tidak pecah di tempat umum. Kita sibuk menolong orang lain yang menangis, sambil diam-diam menunggu ada seseorang yang mau menolong kita juga.

Kita bisa mengurai benang kusut, tapi benang kusut di dalam hati sendiri dibiarkan saja hingga nyesek. Kisah seperti ini ada di mana-mana. Kisah tentang trauma yang memilih untuk diam, bersembunyi di balik tawa renyah, di balik kecerdasan, atau bahkan di balik sikap arogan yang seolah tak tersentuh.

Tentu saja masalah ini juga banyak dikisahkah (di film), salah satunya Good Will Hunting (1997). Sebuah perjalanan ke dalam labirin pikiran seorang jenius yang tersesat, Will yang diperankan oleh Matt Damon. Bukan tersesat di hutan belantara, melainkan di dalam dirinya sendiri. Film ini dengan lugas menunjukkan bahwa seorang individu bisa memiliki IQ setinggi langit, mampu memecahkan persamaan paling rumit, namun pada saat itu, ia tak berdaya di hadapan luka batin yang mengakar dari masa lalu. Ia membangun tembok arogansi, kecurigaan, dan sikap defensif untuk melindungi dirinya dari kemungkinan luka baru. Dia menolak kebaikan, meremehkan orang lain, dan menyabotase hubungannya sendiri. Hal ini bukan karena ia jahat, melainkan karena ia takut.

Seorang tukang bersih-bersih di universitas paling bergengsi di dunia, bisa memecahkan soal matematika terumit, soal yang membuat para profesornya nyaris frustrasi, tapi tak punya keberanian untuk memecahkan persoalan paling sederhana: hidupnya sendiri. Hal seperti ini sesungguhnya bukan cuma kisah Will Hunting, tapi juga kisah kita semua. Trauma masa lalu membuatnya secara otomatis melihat setiap niat baik sebagai ancaman. Ini adalah mekanisme umum terkait pertahanan diri, di mana otak, sebagai upaya untuk melindungi kita dari rasa sakit, membuat kita menjauh dari apa pun.

​Di sinilah peran penting Dr. Sean Maguire muncul. Ia bukan hanya seorang terapis, melainkan representasi dari pendekatan holistik dalam penyembuhan. Sean tidak mencoba memecahkan Will seperti soal matematika. Ia tidak menggunakan teori buku teks untuk menyembuhkan Will. Sebaliknya, ia menggunakan empati, kejujuran, dan paling krusial, rasa kemanusiaan yang setara. Ia tahu betul bahwa hidup tidak bisa dipelajari dari buku-buku tebal, melainkan harus dirasakan. Momen krusial di film, saat Sean mengatakan, It’s not your fault, adalah manifestasi dari pemahaman bahwa penyembuhan tidak selalu datang dari analisis, tetapi dari pengakuan dan penerimaan. Kalimat sederhana itu memutus lingkaran rasa bersalah yang telah mengikat Will selama ini.

​Ada sebuah sindiran tajam dari Dr. Sean kepada Will, yang selama ini hanya membaca buku dan tak pernah benar-benar hidup. Will, yang tahu banyak tentang teori seni, politik, bahkan perang, disamakan dengan seorang turis yang hanya melihat pemandangan dari balik jendela mobil. Ia bisa menjelaskan lukisan karya Michelangelo, tapi ia tak tahu rasanya jatuh cinta, rasanya mencium aroma rambut kekasih, atau rasa sakit saat hati hancur berantakan. Ini adalah sebuah satir menohok tentang betapa kita sering kali hanya menjadi penonton dalam hidup kita sendiri. Kita terlampau sibuk mengumpulkan pengetahuan yang tercerai-berai, hingga lupa bahwa pengalaman, perasaan, dan keberanian untuk hidup apa adanya adalah ilmu paling berharga.

​Film ini juga dengan indah menggarisbawahi makna persahabatan yang tulus. Persahabatan antara Will dan Chuckie, yang diperankan apik oleh Ben Affleck, adalah potret persahabatan yang tulus tanpa pamrih. Ketika Chuckie mengucapkan harapannya agar Will pergi dan tidak lagi menunggunya setiap pagi, itu adalah sebuah pernyataan cinta yang paling tulus. Cinta yang tidak egois. Ia rela kehilangan sahabatnya demi melihat Will terbang tinggi, mewujudkan potensi yang selama ini ia sembunyikan. Itu adalah sebuah satir menohok, bahwa sering kali, orang-orang yang paling mencintai kita justru adalah mereka yang rela melepaskan kita pergi.

​Good Will Hunting mengajarkan satu hal paling penting: kebahagiaan sejati tidak datang dari penguasaan teori-teori rumit, tapi dari keberanian untuk menguasai diri sendiri. Kita tidak bisa terus-menerus hidup dalam bayangan masa lalu yang menyakitkan. Ada saatnya kita harus berani menghadapi trauma, membuka diri, dan menyadari bahwa di balik semua luka, kita tetap berharga dan layak untuk dicintai. Kita boleh saja jatuh, kita boleh saja merasa bersalah, tapi kita tidak boleh membiarkan diri kita terus-menerus terkurung oleh kesalahan yang bahkan mungkin bukan kesalahan kita. Film ini adalah pengingat yang begitu indah dan jenaka, bahwa hidup bukan sekadar kumpulan rumus yang harus dipecahkan, tapi sebuah perjalanan untuk menemukan diri, yang sering kali, dimulai dengan satu langkah sederhana: menerima kenyataan bahwa kita manusia, dan tak apa-apa jika terluka.

Barangkali hidup memang selalu menawarkan ruang-ruang ganjil seperti itu. Tempat di mana yang tampak tangguh sedang berjuang mati-matian agar tidak remuk. Tempat di mana orang paling cerdas justru terjebak dalam labirin pikirannya sendiri. Tempat di mana kita semua sedang berusaha pulang, meski lupa di mana alamatnya.

Pulang, bukan ke rumah, bukan ke seseorang, tapi ke dalam diri sendiri yang dulu pernah sederhana: yang bisa tertawa tanpa alasan, menangis tanpa malu, mencintai tanpa takut kehilangan. Pulang ke masa ketika kita belum perlu pura-pura kuat hanya supaya dunia tidak khawatir.

Mungkin itu sebabnya luka-luka yang disembunyikan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk: menjadi kerja keras, menjadi prestasi, menjadi tawa yang terlalu keras, menjadi kepandaian yang mengagumkan. Semua itu hanyalah cara kita mencari ketenangan.

Dan barangkali, sesekali kita perlu melihat dari samping, menyadari bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah rapuh, tapi berani mengakui bahwa kita memang sedang retak, dan tetap melangkah dengan retakan itu. Karena dari sana cahaya biasanya masuk, pelan-pelan, tak terduga. Sebuah cahaya kecil yang menuntun kita, diam-diam, menuju jejak jalan pulang.

____________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Ragam

SELEMBAR MERAH DAN SETUMPUK BUKU

Yang teringat adalah The Lord of the Rings itu film? Kaum yang getol membaca meyakinkan itu buku. Di Indonesia, penonton filmnya bisa melebihi satu juta. Namun, jumlah pembaca tetap di hitungan ribuan. Bagi yang berduit membeli novel yang diterjemahkan dalam bahasa Indinesia dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama itu kepuasan. Buku yang berukuran besar dan tebal. Gambar di sampulnya sering berganti menyesuaikan selera yang dipengaruhi film atau perayaan kesilaman dan kekinian. Buku yang laris.

Apakah novel itu awalan JRR Tolkien mendapat penggemar (fanatik) di Indonesia? Nama pengarang yang kharismatik, berpengaruh besar dalam gubahan-gubahan sastra di dunia, dari masa ke masa.

Rabu, 1 Oktober 2025, anggapan berubah oleh mata dan tangan. Mataku melihat buku berukuran kecil. Gambar di sampul sangat memikat. Gambar yang representatif untuk pembaca masa lalu di Indonesia. Yang menggambar adalah Setyo S. Gambar yang dibuat disesuaikan untuk pembaca di Indonesia. Buku itu berjudul Petani Penakluk Naga (1980) gubahan JRR Tolkien. Bukti bahwa pengarang dunia sudah digemari di Indonesia sejak masa 1980-an.

Mataku melihat seperempat percaya. Benarkah itu novel gubahan JRR Tolkien yang awal diterjemahkan dalam bahasa Indonesia? Tanganku memegang agak tergesa, membuka halaman-halamannya demi mengetahui nama penerjemah dan tahun terbit. Yang terbaca memang penerjemah (Anton Adiwiyoto), bukan penyadur. Buku-buku dari masa lalu agak menjebak gara-gara penerjemahan utuh atau saduran.

Pada mulanya, buku itu dibeli dan dimiliki oleh Himi Nureni, Jakarta, 4 Mei 1981. Pengesahannya adalah tanda tangan bertinta hitam. Aku memegang buku yang usianya hampir sama denganku, yang mau 45 tahun. Buku terbit beberapa bulan sebelum aku lahir, yang belum ditakdirkan sebagai pembaca. Yang lahir memberi tangis, bukan mengucap kata-kata. Pada saat aku belum bisa berkata, banyak orang membaca Petani Penakluk Naga. Para pembaca yang mendapat cerita bermutu. Bukunya tipis, tidak mengharuskan membacanya selama 12 hari.

Aku bertemu buku JRR Tolkein terbitan Gramedia di pasar buku bekas yang beralamat di Gladag (Solo). Aku tidak segera menanyakan harga kepada pedagang. Yang menegangkan adalah mengeluarkan semua buku dari karung, cepat memilih sebelum menjadi rebutan para pembeli.

Siang yang gerah tapi aku cekatan menumpuk beberapa buku. Tanganku memegang novel berjudul Berkeliling Dunia di Bawah Laut (1977) gubahan Jules Verne. Yang menerbitkan edisi terjemahan bahasa Indonesia adalah Gramedia. Mengapa penerbit itu berhasil menyuguhkan novel-novel bermutu kepada para pembaca yang berusia anak dan remaja? Dulu, aku mengetahui buku terbitan Enigma yang berjudul 20.000 Mil di Bawah Lautan gubahan Jules Verne. Yang menerjemahkan adalah Nh Dini. Judul apa yang mula-mula muncul di Indonesia dalam terjemahan yang utuh, bukan saduran? Jules Verne, pengarang tenar di dunia, yang buku-buku sudah diterjemahkan dalam puluhan bahasa.

Yang menerjemahkan Berkeliling Dunia di Bawah Laut adalah Agus Setiadi. Penerjemah ulung yang terjamin mutunya. Agus Setiadi itu bapaknya Hilmar Farid. Aku sebenarnya sudah cukup mendapat dua novel terbitan Gramedia. Kedatanganku ke Gladag membawa selembar merah. Niatnya membeli sedikit buku saja agar aku masih merasa berduit. Apakah membeli dua buku saja?

Di depanku, buku-buku yang dikeluarkan dari karung masih ada beberapa yang menggiurkan. Siang semestinya memberi pesan agar aku menahan nafsu buku. Di hitungan detik setelah semua buku berserakan, aku putuskan bakal menghabiskan selembar merah. Aku harus menukar merah dengan buku-buku bermutu. Jangan ada keraguan dan penyesalan!

Dua buku mencantumkan nama Enid Blyton di tanganku. Sekali lagi, buku-buku itu diterbitkan oleh Gramedia. Maka, sastra (anak) dunia berdatangan ke Indonesia gara-gara Gramedia. Aku memastikan dua buku yang berjudul Tiga Anak Nakal (1996) dan Rag, Tag, dan Bobtail (1996) masuk dalam koleksi, terbaca sebagai penghormatan atas cerita-cerita yang menghampiri jutaan pembaca di dunia.

 Aku merasa Rabu terberkati. Buktinya mataku melihat buku-buku yang bagus. Adanya buku-buku itu membuat mata yang mengantuk segera terbuka dalam sukacita. Yang didapat adalah buku-buku Astrid Lindgren, yang semuanya diterbitkan Gramedia. Bayanganku penerbit itu berkuasa dalam penerbitan buku-buku anak dan remaja selama beberapa dekade, terutama buku-buku terjemahan.

Para penggemar di Indonesia dipuaskan oleh keseriusan Gramedia menerbitkan beberapa judul dari Astrid Lindgren. Yang berhasil dibeli: Pippi Si Kaus Kaki Panjang, Musim Ceri di Bullerbyn, Detektif Ulung Blomkvist, Ronya Anak Penyamun, dan Kami Anak-Anak Bullerbyn. Sejak awal, niatku membeli untuk dijual kembali. Aku sudah mengoleksi judul-judul itu di rumah. Pilihannya: menjual dengan harga murah atau mahal.

Jika dihitung mungkin jumlah penggemar atau pembaca buku-buku Astrid Lindgren di Indonesia mencapai ribuan orang. Mereka yang terhibur sekaligus belajar kehidupan anak-anak di negeri jauh, yang sulit dicari persamaan-persamaannya dengan anak-anak di Indonesia. Jadi, katalog yang dibuat Gramedia memastikan Astrid Lindgren sebagai pengarang yang ikut menabur subur imajinasi di Indonesia. Pengarang pujaan yang mengalahkan pengarang-pengarang Indonesia, yang buku-bukunya juga diterbitkan oleh Gramedia.

Setiap melihat tampilan buku-buku Gramedia, mata menemukan keistimewaan dalam penentuan ukuran, penggunaan kertas, permainan warna, dan gambar di sampul. Gramedia berani menghadirkan buku-buku ciamik, yang (matang) diperhitungkan untuk betah berada di tangan anak, remaja, dan orangtua. Buku-buku yang menghuni kamar atau rumah dinyatakan sebagai koleksi.

Duitku yang selembar merah bertukar dengan buku-buku yang dulu disantap anak dan remaja di Indonesia masa lalu. Mereka ada yang mampu membeli dan berhak mencantumkan nama atau tanda tangan. Mereka bisa membaca di taman baca atau perpustakaan, yang memunculkan predikat sebagai penyewa atau peminjam. Rabu itu buku-buku dari masa lalu menjadi milikku dalam jangka waktu sebentar atau lama.

Apakah disengaja Gramedia memihak penerbitan buku-buku terjemahan? Aku bisa menjawab: pasti. Penerbit itu yang mengantarkan anak dan remaja terhubung bacaan selera dunia. Mereka membaca buku-buku yang dinikmati oleh anak dan remaja di Prancis, Inggris, Jerman, Denmark, Amerika Serikat, Swiss, dan lain-lain. Bedanya adalah penerbitan edisi terjemahan di Indonesia biasanya terlambat. Yang aku belum tahu adalah pengurusan hak cipta penerjemahan dalam bahasa Indonesia. Pada masa 1970-an dan 1980-an, masalah itu belum terlalu diributkan oleh pihak-pihak dalam bisnis buku atau pengamat bacaan taraf dunia di Indonesia.

Perbedaan sangat tampak saat aku mengambil dua buku terbitan Pustaka Jaya. Aku agak ragu untuk membeli dua buku yang tampangnya tidak menarik. Yang terpegang tanganku: Petualangan Si Nekad (1978) gubahan Paul Jaques Bonzon. Buku yang awalnya terbit dalam bahasa Prancis. Datang ke Indonesia melalui penerjemahan oleh Ida Sundari Hoesen.

Setahuku, penerjemah itu teruji melalui belasan buku yang sudah terbit. Pekerjaan utamanya adalah pengajar di Universitas Indonesia. Namun, ketekunannya menerjemahkan buku-buku berbahasa Prancis agar terbaca di Indonesia mengukuhkannya sebagai penerjemah ulung. Peran terbesarnya adalah mengakrabkan kita dengan kesusastraan Prancis. Jadi, para pembaca buku yang sering jengkel dan sering mengejek mutu buku terjemahan bahasa Indonesia abad XXI bisa membaca semua hasil terjemahan yang dilakukan oleh Ida Sundari Hoesen. Ia tidak harus melakukan penerjemahan melalui edisi bahasa Inggris. Pilihan yang terhormat adalah menerjemahkan dari bahasa asal (Prancis).

Yang terakhir, buku yang berada dalam pegangan tanganku berjudul Dongeng-Dongeng Rusia. Nama yang dicantumkan di sampul buku adalah Adisubroto. Aku menduga buku itu bukan terjemahan. Buktinya, nama yang di sampul khas digunakan orang Indonesia, bukan nama yang lumrah untuk orang Rusia. Maka, aku lekas membukanya. Keterangan di halaman awal dalam buku terbitan Pustaka Jaya: “Diceritakan kembali.” Pustaka anak itu disajikan agar pengetahuan mengenai sastra brtumbuh di Rusia diketahui para pembaca di Indonesia. Padahal, sastra Rusia pernah ikut dalam gegeran sastra-politik masa 1950-an dan 1960-an di Indonesia. Terbitnya dongeng-dongeng dari Rusia mengartikan hubungan dua negara (Indonesia dan Rusia) akrab setelah malapetaka 1965.

Akhirnya, selembar merah bertukar setumpuk buku yang semestinya dibaca oleh anak dan remaja. Pada siang itu peranku adalah penemu dan pembeli, yang berhak memasalahkan lanjutan peran untuk menjadi pedagang buku bekas, pembaca, atau kolektor. [] Durjana

Cerpen

Surogentho

Cerpen Era Ari Astanto

Angin malam menyusup lewat celah-celah jendela jati yang kecokelatan. Pelita kecil di sudut ruangan meliuk seperti gadis kampung yang mabuk asmara. Demang Surogentho terbaring di atas amben. Tangannya gemetar seperti mencuri sisa kekuatan dari batang tubuh yang beberapa purnama tidak bisa berdiri. Tubuh dan wajahnya bengkak-bengkak. Perutnya membuncit ganjil, seperti menyimpan rahasianya yang siapa pun tak boleh mengetahui kecuali keluarganya.

Di sebelahnya, istrinya duduk memegangi piring tembikar. Ada segenggam nasi dingin dan dua potong tempe goreng di dalamnya. Ia tidak segera menyodorkan makanan itu. Hanya menatapnya, lantas mendesah pelan. “Aku mimpi aneh tadi sore,” ia berkata nyaris seperti gumaman. “Ada ular menyusup ke ranjang ini. Kepalanya dua. Yang satu menangis. Yang satu tertawa.”

Surogentho tidak menjawab. Alisnya bertaut, seperti teringat sesuatu. Ia menoleh perlahan ke arah istrinya, lalu muntah darah ke mangkuk tembikar bekas bubur yang ia makan tadi.

“Kalau aku mati sekarang, Genthi bisa kululusi jadi dalang,” katanya dengan suara parau, seolah sedang menyampaikan amanat di mimbar yang sepi.

“Lho, kenapa dalang?” istrinya mengernyit.

“Karena hidupnya sudah kubentuk seperti wayang. Sekarang saatnya ia menjadi dalang. Aku tinggal rebah. Dan ia tinggal menggerakkan tangannya.”

Hening. Angin berembus. Pelita bergoyang liar.

Istrinya menoleh ke arah pintu. “Rasanya, suara ayam jantan barusan itu… mirip suara Kenthus yang mati seminggu lalu.”

Surogentho berdehem, tak hendak mengomentari tentang Kenthus, ayamnya yang telah mati, “Kalau ayam bisa reinkarnasi aku harap aku jadi tikus. Tikus got yang punya kerajaan sendiri di balik lubang comberan. Bisa mengerat apa pun yang ingin aku kerat. Tentu, seperti tikus, yang paling kusuka adalah pergi ke wilayah orang-orang miskin. Mereka sangat menguntungkan dan empuk.”

Istrinya terkekeh kecil, lalu berhenti. Ketawanya seperti tertahan di kerongkongan, seolah malu keluar karena sudah terlalu sering mendengar kebodohan manusia.

“Jangan bercanda, Kang,” ia diam sebentar, menimbang, “Tapi maaf, Kang, badanmu seperti ada bau bangkai.”

Surogentho justru tersenyum lebar. “Itu tanda-tanda alami. Sudah mirip kematian, kan?” Ia menatap langit-langit rumah yang di beberapa bagian terdapat sarang laba-laba. “Tapi kenapa belum mati juga, ya? Apa mati juga harus menunggu tanda tangan Wedana?”

***

Demang Surogentho melihat dirinya hanya memiliki dua pilihan: menang di pengadilan Kawedanan atau mati secara alami. Ia mengulang kalimat itu dalam hati. Menggumamkannya bagai mantra yang justru menggelisahkannya. Pilihan pertama lebih enak didengar, lebih mulia diucapkan, dan tentu lebih menjanjikan untuk keluarganya. Tapi, itu mengandung satu syarat kecil yang rasanya setara dengan menjaring angin: membuktikan bahwa ia telah menyetorkan pajak sesuai ketentuan.

Bukti. Sebuah kata yang terdengar gagah dalam sesorah para pamong praja. Sayangnya, tak satu pun bukti yang ia miliki berbentuk hitam di atas putih. Kawedanan, selama sepuluh tahun, hanya menerima sebagian dari setoran pajak. Ia tahu sebabnya, karena ia sendiri yang mengatur cara-caranya agar tampak wajar: warga kademangan sedang gagal panen, musim kering, longsor, tikus, serangan wereng, dan alasan musiman lainnya. Semua disusun rapi, bahkan dilampiri tanda tangan pamong desa yang siap pasang badan asal diberi sedikit beras atau amplop tipis.

Tapi suatu hari, langit berubah arah. Kawedanan datang tanpa aba-aba. Dipimpin langsung sang Wedana. Mereka memeriksa. Mereka bertanya langsung ke warga. Dan warga yang polos, atau mungkin telah muak dengan demang mereka, menjawab jujur: mereka selalu bayar pajak sesuai ketentuan. Tanpa potongan. Tanpa pengurangan. Bahkan, kadang mereka menambah dari kantong sendiri sebagai bentuk maaf dan terima kasih.

Dari situ, bola menggelinding. Kawedanan mengendus perkara lain: bantuan irigasi yang tak jadi aliran, perbaikan jalan yang cuma sepanjang 100 depa dan berhenti di depan rumah kepala jagabaya, bantuan benih yang dibagi hanya pada keluarga pamong. Warga diam. Dulu. Sekarang tidak.

Kuping dan mata Kawedanan memerah. Surat tuntutan resmi dikirim. Demang Surogentho harus membayar semua pajak yang tidak disetorkan selama sepuluh tahun. Ditambah denda sebesar sepuluh tahun pajak pula. Totalnya tak terbayangkan. Bila dibayar, rumahnya akan ludes, sawahnya pindah tangan, dan anak-anaknya akan diundang sebagai contoh dalam ceramah korupsi di balai desa.

Ia duduk diam di serambi malam itu, merenung sambil mengaduk teh tanpa gula. Jika hanya mati, urusan selesai. Tapi mati bunuh diri justru membuka pintu tuntutan bagi ahli warisnya. Kawedanan cukup pintar membuat peraturan: hanya kematian alami yang menghapus segala tuntutan.

“Tapi, mati secara alami, bagaimana caranya?” gumamnya. Tak ada jawaban.

Ia pernah membicarakan ini dengan istrinya. Perempuan itu hanya menatapnya seperti menatap benih yang gabug. Lalu berkata pelan, “Kalau harus memilih, Kang, aku ingin kau tetap hidup dan anak-anak tetap sejahtera.”

Ia mengangguk, meski tubuhnya menolak harapan itu. Kata-kata istrinya bukan keputusan, hanya pengingat tentang dunia yang memang ia inginkan selama ini.

Sang istri bercerita, suara pelan seolah menguji bisik angin, “Kau ingat Demang Blengsek, Kang? Ia sakit saat menghadapi tuntutan serupa. Tapi ia tetap hadir di sidang. Ia terjatuh, pingsan, lalu mati tiga hari kemudian. Kasus pun ditutup. Anak-anaknya hidup baik sampai sekarang.”

Demang Surogentho menatap istrinya. Ia tak bertanya, tak menyanggah. Hanya sunyi.

***

Warung wedangan Randa Sainem selalu ramai. Wedang jahe gepuknya memang bikin kangen, ditambah lagi karena rasa gosip di warung itu lebih gurih daripada sate keong.

Beberapa warga duduk di tikar pandan. Sambil menyesap jahe gepuk, mereka menyesap kabar burung dan kabar angin. Lalu mengulumnya seperti gulali.

“Aku dengar dari adikku tadi sore yang berkunjung ke rumahku, Demang Surogentho pergi ke Mbah Lugut Rawe di lereng Merapi. Adikku tidak tahu untuk apa demang ke sana.” kata salah seorang dari mereka dengan suara rendah yang justru menarik perhatian.

“Mbah Lugut Rawe, dukun santet itu?”

“Iya. Tapi tidak tahu untuk apa.”

“Mungkinkah untuk menyantet Wedana?”

“Atau menyantet kita semua karena tidak membelanya?”

“Menyantet siapa pun, tetap saja konyol. Tak bisa menghapus fakta.”

“Fakta bahwa kita membayar pajak penuh, tapi tak tahu uang itu ke mana?”

“Bagaimana kita bisa mengaku tidak membayar pajak penuh selama sepuluh tahun, itu sama saja membelanya. Percuma kita selama ini rajin membayar pajak penuh.”

“Benar. jika kita mengaku, maka pajak kita akan dinaikkan dua kali lipat selama sepuluh tahun ke depan. kau mau?”

“Tentu saja tidak. pajak yang ini saja tidak jelas untuk apa kok. Tapi, untuk apa dia ke Mbah Lugut?”

“Tentu tidak. Pajak yang sekarang saja seperti menyuap nasib. Tapi… kenapa dia ke Mbah Lugut?”

Tak ada jawaban. Tapi semua sepakat: Demang harus bertanggung jawab. Mati tak cukup. Lari lebih buruk.

***

Kabar perihal tubuh Demang Surogentho yang mulai berubah bentuk seperti gabus direndam air dengan cepat menyebar. Dan benar, semua yang datang menyaksikan tubuh demang mereka bengkak. Kulit di beberapa bagian tubuhnya mengelupas. Sesekali muntah darah.

Berbagai tangapan bermunculan. Ada warga menanggapi itu sebagai karma. Ada yang menduga itu hanya rekayasa agar bebas dari tuntutan kasusnya. Ada yang merasa kasihan tapi menyayangkan, “Demi anak tidak kehilangan harta yang telah ia tilep, ia rela membuat dirinya sakit dan perlahan mati agar tampak secara alami.”

Namun, ada juga yang berdoa. “Semoga ia sembuh.”

“Sembuh? Kau mulia atau gila? Jangan-jangan kau ikut mencicipi harta itu?”

“Pikirkan baik-baik. Jika dia mati saat sakit begitu, kekurangan pajak kita selama sepuluh tahun terakhir menjadi tanggungan kita. Bahkan, kita harus menanggung pajak dua kali lipat besarnya selama sepuluh tahun ke depan.”

Yang lain manggut-manggut. “Kau benar. Jika dia sehat dan membayar Kawedanan, kita aman.”

Senyum aneh menggantung di bibir mereka.

***

Setahun lewat. Sakitnya tak bertambah, tak juga sembuh. Seperti wayang rusak yang dibiarkan tergantung di sudut pendapa. Tak dibuang, tapi tak dipakai.

Kawedanan tak bisa bergerak. Hukum menganga, menunggu kematian atau kesembuhan.

Di dalam rumah, keheningan terasa seperti jaring laba-laba. Lengket dan mengurung.

Surogenthi, anak sulungnya, memasuki rumah dengan wajah lesu seperti tanah merah yang kerontang.

“Bagaimana, Genthi? Apa kata Mbah Lugut Rawe?” tanya ibunya.

Surogenthi menarik napas panjang, seperti menyimpan dua kabar sekaligus.

“Mbah Lugut sudah meninggal. Dua pekan lalu.”

Ibunya terdiam. Lama.

Dari atas amben, suara serak lirih meluncur.

“Artinya apa?

Genthi menatap lantai. Lalu menjawab pelan, “Kita harus mengobatkan Bapak.”

“Tidak,” sahut Demang, dengan napas yang seperti dicuri, tersengal, “Itu artinya keluar banyak biaya. Aku ingin segera mati… tapi yang seperti alami. Hanya dengan begitu harta kalian akan aman.”

Surogenthi dan ibunya saling pandang, terseret ke dalam hening yang mencekat.

____________________

Era Ari Astanto. Penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di MYF Randhu Jembagar Boyolali.

Belakang

DIBUJUK BAHAGIA

Dulu, seorang remaja ketagihan membaca buku-buku gubahan Kahlis Gibran. Ia membaca berulang kali buku yang edisi terjemahan bahasa Indonesia: Cinta, Keindahan, Kesunyian yang diterbitkan Bentang. Pada mulanya, ia bosan dengan hidup. Halaman-halaman di buku itu perlahan membuatnya betah hidup. Yang diyakininya: “Hidup itu kalimat-kalimat yang puitis.” Saat lemah dan puyeng, ia lekas membaca lagi kutipan-kutipan puitis dari Kahlil Gibran. Pada hari yang berbeda, ia lelah dengan yang puitis-puitis. Maka, berpisahlah dirinya dengan buku-buku Kahlil Gibran.

Hidupnya masih amburadul. Ia mengalami gagal, kalah, dan sesat. Di tangannya, ada buku yang dipersembahkan Albert Camus. Remaja itu lekas khatam novel berjudul Sampar. Akhirnya, ia percaya bahwa hidup itu brengsek. Manusia menderita tidak habis-habisnya. Yang diperlukannya adalah kalimat-kalimat filosofis, yang membuatnya masih sadar bahwa hidup tidak terlalu sia-sia. Ia meragu manusia bisa bahagia. Albert Camus telah mengajarinya melalui buku-buku mengenai hidup yang tidak mudah dipatenkan dengan bahagia. Masa remaja berlalu, ia malah bernafsu buku-buku, yang makin membuatnya sulit bahagia.

Pada hari yang tidak dipesan, ia yang menua bertemu buku berjudul Hidup Bahagia susunan M Natsir dan Nasroen AS. Buku yang tidak bersampul, terbitan Van Hoeve, Bandung. Terduga buku terbit masa 1950-an. Pada saat Indonesia sedang ribut demokrasi dan gencar berteriak revolusi, ada dua orang yang mengingatkan agar terpenuhi hasrat bahagia. Buku itu bukan selera Soekarno, Sutan Sjahrir, Njoto, dan lain-lain. Para tokoh penting itu pastinya membaca buku-buku berat untuk “tanding ideologi” di arus sejarah Indonesia.

Natsir dan Nasroen memang menyusun buku bukan untuk bacaan dewasa. Yang dinyatakan: “… edisi ketjil ini dimaksudkan djadi batjaan murid-murid kelas tinggi sekolah rakjat dan madrasa ibtidaijah. Tetapi dapat djuga pada kelas permulaan sekolah-sekolah landjutan pertama.” Buku yang sepantasnya dinikmati remaja. Yang membaca memiliki imbuhan imajinasi saat melihat belasan foto (lama) yang hitam-putih saja. Dua intelektual besar mampu menulis buku yang disantap kaum remaja. Buku itu diharuskan sederhana dan mengesankan, berbeda dari adanya buku-buku pelajaran atau buku-buku merayakan khotbah. Kaum remaja diajak berpikir hidup yang bahagia, bukan hidup yang bopeng, rusak, kotor, dan ruwet.

Di situ, ada cerita mengenai tokoh yang kehilangan bapak, ibu, dan adik pada masa pendudukan balatentara Jepang. “Aku kehilangan akal, kemana hendak pergi,” pengakuannya. Nasib tidak dapat ditebak dan masa depannya samar. Yang terjadi adalah kebaikan: “Untunglah Njonja Go, tetangga kami, kasihan akan daku. Aku dipungutnja dan dibawanja kemana pergi. Suaminja meninggal pula dan ia tidak mempunjai anak. Setelah perang selesai, Njonja Go pulang ke Tiongkok. Aku dibawanja. Di Hongkong, aku dimasukkannja ke sekolah Inggeris. Geli hatiku karena disana namaku ditukar djadi Charles Chang Ie Ming. Enam tahun aku di Hongkong. Setahun sebelum peladjaranku tamat, Njonja Go meninggal pula. Sedih hatiku berulang kembali. Sjukur djugalah karena dapat aku menjelesaikan peladjaran sampai aku memperoleh idjazah di sekolah Inggeris itu. Kemudian atas pertolongan Perwakilan Republik Indonesia di Hongkong, dapatlah aku pulang ke Tanah Air kembali.” Kisah yang mengharukan. Pembaca sudah menemukan arti bahagia? Tokoh kembali ke Indonesia sudah merdeka dan berdaulat. Ia telah melewatkan tahun-tahun penentuan sejarah.

Akhirnya, ia harus mengenali lagi Tanah Air dalam tatapan remaja. Ia tinggal di desa, belum ada keinginan membentuk masa depan di kota. Pengamatannya mengenai peristiwa-peristiwa di hari Minggu: “Orang-orang pergi ke bioskop atau ke taman bunga untuk istirahat. Hari Minggu, pergi keluar kota, menikmati udara dan alam pegunungan. Kami orang desa tak perlu sengadja menikmati alam pegunungan pada hari Minggu. Begitu pula tak ada hasrat orang desa pergi ke taman bunga. Memang di desa tak ada taman bunga, jang sengadja dibuat untuk tempat berkepas lelah. Bioskop pun tak ada pula. Tapi engkau djangan salah kira. Pada orang desa ada pula kelebihan-kelebihan jang tak dirasai orang kota. Kami puas melihat padi menguning emas, anugerah dari Tuhan jang Mahakuasa atas djerih pajah kami. Kami puas melajani anak-anak berebutan nasi dan lauk pauk sambil bersila diatas rumput permadani hidjau jang lembut itu. Air kali beriak-riak ketjil seakan-akan ikut tersenjum bahagia bersama kami.”

Bahagia berada di desa. Pada masa 1950-an, banyak orang yang berpikiran jika ingin berhasil dan bahagia maka memilih hidup di kota. Mereka bekerja mendapat uang banyak. Bahagia diraih dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan. Mereka yang bahagia di kota berhak menyandang sebagai manusia modern. Tokoh dalam buku susunan Natsir dan Nasroen mengingatkan bahwa desa itu sumber bahagia. Namun, Indonesia sedang bergolak, yang mengakibatkan pendefinisian desa adalah tertinggal, tradisional, miskin, dan sengsara.

Yang turut disajikan berkaitan perubahan-perubahan besar di Indoensia adalah buku. Kita mengikuti cerita dan penjelasan: “Pernah dikatakan orang bahwa buku adalah sekolah tinggi pada abad XX ini. memang banjak orang jang mendjadi madju dan terkenal dalam masjarakat karena menambah ilmunja dengan buku-buku.” Di Indonesia, jumlah buku terus bertambah. Para pembaca pun bertambah setelah pemajuan pendidikan dan pemberantasan buta huruf oleh rezim Soekarno. Buku menentukan perkembangan ilmu sekaligus mengajak orang-orang bisa bahagia.

Kita malah meragukan buku adalah sumber bahagia. Pada masa 1990-an sampai sekarang, toko buku dan pasar buku bekas disesaki oleh ratusan judul buku yang bertema bahagia. Buku-buku terjemahan dari Eropa dan Amerika Serikat memberi tuntunan atau petunjuk agar orang-orang bisa meraih bahagia. Buku-buku itu dipelajari orang-orang Indonesia yang mudah iri dengan kebahagiaan orang-orang di pelbagai negeri asing. Bermunculan juga buku-buku bertema bahagia yang berdasarkan ajaran-ajaran agama. Buku-buku itu laris. Yang membaca dan mempelajarinya beralasan demi iman dan perwujudan bahagia. Pada abad XXI, bahagia itu masih tema terbesar. Buktinya, ratusan judul buku di Indonesia terbit bercap Stoik. Buku-buku jenis itu laris dan dirayakan di media sosial oleh para pendamba bahagia.

Remaja yang dulunya membaca buku-buku Kahlil Gibran dan Albert Camus akhirnya membukan halaman-halaman buku yang berjudul Setiap Hari Stoik (2022) susunan Ryan Holiday dan Stephen Hanselman. Buku itu dibaca sambil merem dan melek. Buku yang penuh petuah bijak. Buku bergelimang renungan. Yang ingin membaca masalah bahagia dipastikan menemukan di banyak halaman.

Namun, ia akhirnya bernostalgia saja dengan membaca buku berjudul Hidup Bahagia susunan Natsir dan Nasroen. Ia ingin mengetahui gagasan bahasa pernah disampaikan melalui buku-buku yang dianjurkan menjadi bacaan anak dan remaja. Pada masa lalu, anak dan remaja dibujuk bahagia ketimbang remuk dan brengsek saat Indonesia ingin mulia selama-lamanya.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Katalog

Luka dari Orang Terdekat

Cerita-cerita yang menyadarkan kita bahwa luka terdalam sering kali datang dari orang yang kita sayang. Bagaimana sebuah kerapuhan kepercayaan dan iri bisa merusak segalanya. Meski hati bisa memaafkan, namun sebuah pengkhianatan akan meninggalkan bekas yang mungkin tak bisa hilang sepenuhnya. Selain itu cerita-cerita ini dapat sebagai pengingat tentang pentingnya integritas diri. (Yuditeha)

Penulis: Winarni Kenconowati

Cetakan: Pertama, Tahun 2025

Penerbit Nomina Ide Karya

119 halaman; 13 x 19 cm

ISBN:

Harga: Rp 50.000,-

Info Pemesanan: 085219927484

Puisi

Puisi Riska Widiana

KEPADA SELURUH SAJAK

Aku berterima kasih kepada seluruh sajak

Ia diciptakan seperti ibu 

Atau seseorang yang memiliki pelukan besar

Bersedia melapangkan dirinya

Menampung banyak cerita

Yang tak seharusnya di dengar

Oleh telinga-telinga kehidupan

Kepada seluruh sajak

Teruslah berumur panjang

Tempat orang-orang pulang

Saat tak ada wadah cerita berlabuh

Riau, 2025

___________________

SEMENANJUNG MALAM

Risik angin malam yang sendu

Menggerakkan laut di dadamu

Kau membuka jendela

Melepas resah jauh ke punggung ombak

Ombak yang beradu

Di bawah segala kerinduan

Keheningan membentang luas

Di bawah cahaya bintang

Kata-katamu berloncatan

Bagai anak-anak Ikan dilepas

Menyusuri setiap teluk

Berisikan ruang-ruang rindu

Cahaya bulan pecah

Malam itu, laut tersenyum padamu

Kau tersenyum kepada laut

Ia memeluk seratus kerinduan

Riau, 2025

___________________

MALAM YANG ENTAH JADI APA

Kepada apa lagi kau bersandar

Selain ruang-ruang sepi yang abstrak

Tiang-tiang tiada tapi ada

Kau melabuhkan seluruh perasaan

Sesekali, malam menjelma ibu

Kau jatuh dalam pelukan hangatnya

Menjadi tempat bercerita

Melabuhkan seluruh sedih

Sesekali malam menjelma hantu

Yang mengintaimu dari bilik kecemasan

Kau ingin mengakhiri malam panjang

Lewat mimpi yang tenang

Tapi, dunia di kepala

Tak bisa membuka pintu lain

Kau terus terjaga dengan segala kesedihan

Hingga satu malam kau tenggelam

Riau, 2025

___________________

BUNGA-BUNGA KAKTUS DI PADANG GURUN

Dunia terus berbisik di telinga

Hingga kau terlena

Dalam kisah-kisah panjangnya

Seperti dongeng

Menidurkan dan mimpi-mimpi kaktus

Tumbuh di dada yang tandus

Dunia terus berbisik

Dengan bermacam kenikmatan

Bunga-bunga berduri

Mekar dalam hati yang sukar

Jiwa menjadi ladang gulma

Dusta berbuah delima

Dunia memeras madu

Ke cawan-cawan semu

Kau mabuk

Terminum anggur dunia

Hingga hidup seperti dalam mimpi indah

Kau lupa bangun

Tersadar, pintu pulang terbuka lebar

Riau, 2025

___________________

SENDIRIAN

Hatimu bagaikan sepotong daging segar

Lalu disayat sedikit demi sedikit

Dalam keadaan bunga mekar

Di bibirmu yang pualam

Tak boleh ada sakit

Tersyairkan dengan jerit

Harus tabah dengan mata tersenyum

Meski dada bergemuruh hebat

Menolong, meraung, terisak

Tak ada tempat bersandar baik

Di dunia penuh intrik

Selain kepada Tuhan bajik

Dirimu pun akan lemah

Pada akhirnya

Kesendirian akan terus melahirkan

Banyak sunyi dan hening

Memeluk seratus kesedihan

Tak terpecahkan

Riau, 2025

___________________

SENDIRIAN 2

Sendirian dan sunyi adalah dua teman karib

Ia juga teman bisu yang mendengarkan

Seluruh kisah-kisah pilu mengharukan 

Kadang kau meleleh bagai es musim dingin

Menahan kesakitan sendiri

Duri-duri di hati terus menusuk

Kau menunggu sendirian

Barangkali ada seseorang atau keadaan

Datang membawa sebuah jalan besar

Di tangannya yang berbunga mawar

Tapi, lagi-lagi kau mencair kembali

Menjadi musim dingin tanpa ujung

Tak temukan sesuatu yang bisa

Membawamu pergi jauh

Batu-batu seakan tumbuh lalu jadi bukit

Memenuhi dada dan sesak

Kau ingin bernapas lapang

Tanpa ada yang ditahan

Seakan bernapas dalam air

Kau ingin membuka tirai yang selama ini samar

Menatap terang matahari

Sinar cemerlang bulan

Dunia tanpa mengutuk

Kau tak mencaci dirimu sendiri

Riau, 2025

___________________

Riska Widiana. Berdomisili di Riau kabupaten Indragiri hilir. Karyanya termuat ke dalam media cetak dan online seperti Klasika kompas, Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Republika, Babel post, Merapi, Lombok post, Pontianak Post, Bangka post, Nusa Bali, Waspada Medan, Sarawak Malaysia, Harian SIB, Haluan Padang, Radar Kediri, Radar Madiun, magrib id. Ayo Bandung.com. Litera SIP, Langgam pustaka, Maca Web, Cendana News. Dunia santri, Barisan co. Metafor id. Bali politika, Marewai. Com. Majalah elipsis, Hadila, semesta seni Dll. Juga di antologi seperti (FISGB 2022) (Hari Puisi Indonesia, Masyarakat jember 2022) (Suatu hari dari balik jendela rumah sakit, Bali 2022) (Dokterku Cintaku, Denpasar 2022) (100 Tahun Chairil Anwar, 2022) (Madukoro Baru 1, 2022) (Negeri poci 12. Raja kelana, 2022) (puisi sepanjang zaman, Satria Publisher 2022) (Sebagai juara satu dalam lomba tingkat Nasional, Jakarta dan Kolaburasi)  (Peraih Anugerah sebagai juara satu, Negeri kertas 2022) kategori puisi terbaik nasional oleh penerbit Alqalam batang dan Salam Pedia, 2021) Alamat Facebook; Ri-Ana, Instagram riskawidiana97 alamat email [email protected]

Belakang

MENGETIK DI TANAH JAJAHAN

Yang suka membaca buku biografi atau tulisan-tulisan mengenai tokoh kadang penasaran dengan benda-benda yang pernah tergunakan dan menentukan nasib. Benda itu sepeda, baju, piring, mesin tik, kursi, lemari, dan lain-lain. Sekian benda turut membentuk biografi meski benda tak selamanya bersama tokoh. Ada benda yang hilang, dijual, hancur, atau diberikan kepada orang lain.

Kita membayangkan kelak ada pendirian museum sastra. Yang diinginkan adalah hadirnya benda yang pernah bersama Pramoedya Ananta Toer, HB Jassin, AA Navis, Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, Remy Sylado, Jakob Sumardjo, Arswendo Atmowiloto, Sindhunata, dan lain-lain. Benda yang dimaksud adalah mesin tik. Para pengarang pernah tekun menggerakkan jari-jari di mesin tik.

Mereka menghasilkan beragam tulisan dengan mesin tik. Ada yang mula-mula menulis dulu di kertas dilanjutkan di mesin tik. Ada yang langsung mengetik, yang segera memunculkan puisi, cerita pendek, atau esai. Sapardi Djoko Damono mengenang pernah menggunakan mesin tik milik kelurahan dalam membuat puisi. AA Navis bercerita rajin mengetik cerita pendek tapi diawali dan dibarengi kenikmatan merokok. Pramoedya Ananta Toer pernah dijanjikan diberi mesin tik oleh Jean Paul Sartre. Arswendo Atmowiloto yang berhasil membeli mesin tik memilih menaruh benda itu di atas kasur: tanda kebahagiaan dan sumpah untuk keranjingan menulis. Jakob Sumardjo sampai usia tua setia bersama mesin tik, membuat ratusan artikel dan resensi.

Kita bakal memerlukan ratusan halaman untuk mencatat penggalan-penggalan kisah para pengarang dan mesin tik. Benda yang ikut menggerakkan sastra di Indonesia. Pada suatu masa, mesin itu nasib pengarang. Ada yang memiliki mesin tik. Ada yang suka meminjam. Ada yang suka mengoleksi mesin tik.

Yang teringat, Gus Dur tampak sedang serius mengetik di kantor Tempo. Konon, ia suka mampir untuk menanti mesin tik yang menganggur, ditinggal para wartawan atau redaktur. Maka, ia lekas duduk di depan mesin tik untuk menghasilkan kolom yang dimuat dalam majalah Tempo. Linus Suryadi, suatu hari dolan ke rumah Umar Kayam, segera duduk dan mengetik. Jadi, ada dugaan Pengakuan Pariyem itu mula-mula diketik di rumah Umar Kaya. Bukunya yang terbit mencantumkan keterangan bahwa Pengakuan Pariyem dipersembahkan kepada Umar Kayam.

Kini, kisah mesin tik measih bertumbuh di tangan Hamzah Muhammad, yang menggerakkan sastra dan perbukuan di Jakarta. Ia biasa menghasilkan puisi di tempat-tempat penyelenggaraan acara sastra atau obrolan buku. Pada abad XXI, mesin tik belum punah. Kita menanti saja Hamzah Muhammad menuliskan seribu cerita tentang mesin tik.

Kita pun memanggil masa lalu melalui buku kecil dan tipis. Buku yang tidak bersampul. Buku terbit pada 1931. Kita mengingat para pengarang, jurnalis, dan pegawai kantor menggunakan mesin tik. Kau pergerakan politik pun menggunakan mesin tik dalam membuat risalah atau seruan melawan kolonialisme. Buku lawas itu membantu kita mengingat masa lalu yang berisi oleh huruf-huruf yang dipukul jari-jari.

Beruntungnya kita masih bisa membaca buku berbahasa Jawa yang berjudul Panoentoen Ngetik Mesin Toelis Nganggo Dridji 10 susunan M Soewardjo. Buku mengenai teknologi menulis, benda yang mengubah lakon tanah jajahan saat terjadi serbuan tulisan berbarengan kapitalisme cetak, yang memiliki banyak suara menyebar ke segala arah. Buku diterbitkan oleh Boekhandel SM Diwarno, Jogjakarta.

Pengakuan Soewardjo: “Moela kita senadjan lagi sawatara wae bab kawroeh ngetik maoe, woes age-age dibeberake, amarga woes wadjibe kita doewe pengerti senadjan moeng lagi setitik koedoe diratakake marang lijan kang soedi meloe nganggo.” Yang menyusun buku hanya memiliki pengetahuan sedikit tapi berani membagikannya kepada orang lain. Artinya, ilmu yang dimiliki agar segera menular yang membuat orang lain berani belajar untuk mahir mengetik.

Penjelasan yang diberikan dilengkapi gambar-gambar. Yang disampaikan Soewardjo: “Gambar iki tak petikake saka gambar nganggo merek iki awit moeng kanggo nggampangake panganggit mitoeroet saka panjinaoekoe bijen. Nanging kang mengkono maoe bareng akoe ndeleng marang mesin toelis lija, djandji kang model anjar wae kaja ora ana bedane toemrap panggonane aksara oetawa pengatoere perkakas-perkakas lijane.” Ia mencontohkan mesin yang pernah digunakan, tidak bermaksud pamer merek yang terkenal pada awal abad XX.

Buku kecil memberi petunjuk agar orang bisa mengetik menggunakan 10 jari, bukan dua jari. Pengertian dan latihan menentukan keberhasilan untuk menjadikan sepuluh jari bergerak. Pesan yang disampaikan Soewardjo: “Dene panjinaoemoe ora kena kesoesoe-sosoe, koedoe kang titi. Perkara ketjepetan ora soesah disinaoe, mengko jen wis koelina mesti bisa tjepet dewe.” Kecermatan diperlukan ketimbang tergesa-gesa dalam menggerakkan jari-jari di huruf-huruf yang ditentukan. Masalah kecepatan tidak perlu dipelajari mati-matian. Yang terbiasa mengetik nanti bakal mengetahui kecepatannya. Pembiasaan penting ketimbang bernafsu untuk cepat tapi sering membuat kesalahan.

Pada masa lalu, benda menghasilkan tulisan di kertas itu berkesan mahal. Benda yang cuma berurusan dengan kaum terpelajar. Benda yang berada di kantor-kantor dengan beragam kemodernan. Benda datang dari negeri-negeri jauh, terutama Eropa. Di tanah jajahan, orang yang mengetik tampak sebagai tokoh yang berani mengubah nasib, mengubah dunia, dan mengubah sejarah.

Siapa yang membuat buku? Apakah ia terbukti turut dalam mengubah arus sejarah (teknologi-menulis) di Indonesia? Pembaca wajib melihat fotonya yang gagah dan terdidik. Di halaman awal ada fotonya, yang menampilkan M Soewardjo dalam posisi berdiri mengenakan jas. Ia mungkin berfoto di studio. Pilihan pakaian warna putih mengartikan sosok modern yang sadar hikmah-hikmah Barat. Foto ikut menjadi penjelasan bahwa yang mengetik adalah manusia modern atau manusia yang mencipta masa depan.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Ragam

BUKU RAHASIA

Oleh: Ramdhan S.

Konon, pahlawan itu bertubuh tegap, tak ada rasa takut, otot kawat tulang baja, dan mustahil masuk angin.  Kira-kira demikian gambaran sejarah yang diajarkan di sekolah dasar.  Penulis beruntung mengenal sejarah bukan hanya dari ruang kelas. Sejarah pertama yang ditemui datang diam-diam, lewat sebuah buku tebal berkertas minyak. Buku itu tersimpan di rumah, di kamar tengah di bawah poster F. Totti, Montella, Batisuta dan beberapa pemain bola top liga Italia lainnya.

Bapak tak pernah bercerita dari mana datangnya buku itu, dan ibu hanya memberi pesan sederhana, “Kalau mau baca, jangan bawa keluar rumah.”  Masih teringat jelas peringatan itu. Sebab, ibu menambahkan alasan yang tak bisa dianggap main-main: tetangga kita pernah ditangkap aparat gara-gara buku serupa. Meski tak mengerti, tidak juga banyak tanya. Reformasi telah digaungkan beberapa tahun silam, mungkin ibu masih terbayang Orde Baru. Razia buku sebagai alat bukti kejahatan dan tindak pidana.

Pada masa itu, diperkirakan penulis masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar.  Membaca dengan terbata-bata tapi ingatannya meresap. Membaca bukan hanya kegiatan mencari informasi tapi semodel uji nyali.

Di dalam buku rahasia, ada foto-foto peristiwa sejarah yang kelak diketahui sebagai catatan hitam negeri ini.  Dari naskah Ploklamasi, Supersemar, Ade Irma Suryani, Aidit sampai Lapangan Monas dan tukang becak istana.  Ada juga barisan demonstran dengan karangan bunga dan foto lelaki muda bertulisan Arif Rachman Hakim.  Gambar itu menempel di kepala lebih kuat daripada semua pelajaran Pendidikan Moral Pancasila.  Arif, seorang mahasiswa kedokteran tewas saat demonstrasi Tritura 1966. Ditembak atau tertembak aparat tergantung sumber sejarah yang mana.  Konon, tubuhnya tergeletak bersimpah darah di antara antara lautan manusia.

Mereka yang sering menghapal nama jalan pasti tidak asing.  Ia sudah terpampang menjadi nama jalan. Tentu saja, kemudian hari kita tahu Arif Rachman Hakim diabadikan menjadi pahlawan Ampera,  namanya menjadi masjid di Kampus UI Salemba, dan perpustakaan di Sumatera. Seakan dengan memberi nama, negara telah membayar utangnya.

Bertahun-tahun kemudian, kita kembali membaca berita yang mirip. Meski sama berwarna hitam putih, kali ini menggunakan filtel Instagram dan Tik-Tok.

Nama dan situasi berbeda, tapi akhir cerita serupa. Seorang pengemudi ojek daring, Affan Kurniawan tewas, bukan oleh peluru karet atau timah panas, melainkan roda mobil Brimob dalam  demonstrasi yeng berakhir kacau itu. Ditabrak atau tertabrak, terlindas atau dilindas tergantung siapa yang bicara.

 Usianya muda, penuh semangat, barangkali masih sering bercanda tentang perempuan cantik dan masa depan negeri. Kabar itu menohok, seakan membuka kembali halaman buku minyak yang dulu sudah hilang.

Bedanya, kali ini berita muncul lewat gawai, bukan buku rahasia. Bedanya pula, tidak ada yang memperingatkan saya untuk jangan membawanya keluar rumah. Namun, ironisnya, justru di zaman bebas informasi, nama Affan terasa cepat menguap.  Ia tinggal di batu nisan, di duka keluarga, di linimasa media sosial yang tak butuh waktu sehari untuk pindah topik.

Di era Reformasi jalanan adalah ruang kuliah terbesar. Di media sosial hari ini, kerumunan bergeser ke trending topic, tapi pola dasarnya sama: ramai-ramai membuat kita merasa kuat, sekaligus rawan kehilangan kendali.

Kita tidak sedang berbicara para demonstran saja, aparat yang pun demikian.

Tak heran bila demonstrasi kerap berubah arah. Maksudnya menuntut keadilan, ujung-ujungnya terbakar amarah. Niatnya bertugas dan menertibkan akhirnya rakyat dianggap musuh.  Tentu, selalu ada cerita tentang penyusup atau provokator. Tapi bahkan tanpa mereka, kerumunan itu sendiri punya daya yang bisa mengguncang logika. Ada yang bersorak sambil memecahkan kaca, ada yang menyalakan api, ada pula yang tiba-tiba menjadi korban hanya karena kebetulan berada di jalur salah. 

Durkheim, yang namanya selalu muncul di buku kuliah boleh saja bicara tentang kerumunan dan hilangnya individualitas, tapi kita lebih senang menyebutnya peristiwa kesetanan. 

Beberapa setelah peristiwa itu, selain Affan, ada pula sembilan nama lain yang hilang tanpa memorial. Mereka bukan orator, bukan pemimpin massa, hanya orang-orang biasa yang sial terjebak ketika kerusuhan membakar fasilitas umum. Ada yang terperangkap asap, ada yang pulang tak pernah sampai rumah. Namun berita tentang mereka lebih cepat padam daripada api yang menghanguskan gedung dan halte.

Mungkin inilah yang paling menyakitkan: mati tanpa nama.

Arif Rachman Hakim pantas, katanya, karena ia simbol perlawanan terhadap rezim. Namun, bagaimana dengan Affan Kurniawan? Tidak usah terburu-buru berprasangka buruk.  Kita tunggu saja. Sebab, pemerintah sedang sibuk dengan pergantian menteri dan perbaikan gizi anak.

Sejarah Indonesia pasca kemerdekaan, kalau mau jujur, adalah catatan kerumunan. Dari kampanye raksasa menjelang pemilu, parade militer, demonstrasi mahasiswa, kupon daging kurban sampai antrean gas elpiji miskin. Kita adalah bangsa yang percaya bahwa bersama-sama kita bisa mengguncang. Tapi bersama-sama pula kita sering lupa, bahwa di tengah lautan manusia itu ada individu yang bisa lenyap begitu saja.

Mungkin benar, bangsa ini pandai mencatat nama pahlawan, tapi lalai menulis nama korban. Kita punya jalan protokol, gedung megah, bandara internasional dengan nama besar. Tapi coba hitung berapa banyak Affan yang tak diingat, mati dalam kerusuhan dan tak pernah masuk buku pelajaran?

Kita tidak sedang menuntut semua nama dijadikan monumen. mustahil. Namun, setidaknya, kita bisa menolak lupa. Kita bisa menolak menganggap kematian sebagai angka statistik. Kita bisa mengingat, meski hanya lewat cerita bahwa pernah ada anak muda bernama Affan yang bermimpi hidup lebih panjang.

Sekarang, buku minyak itu sudah hilang entah ke mana. Barangkali dimakan rayap, barangkali dijual kiloan bersama kertas-kertas tua. Namun, anehnya, justru kehilangan itulah yang membuat hadirnya tulisan ini. Buku bisa lenyap, tapi ingatan tidak.

Kita membayangkan, suatu hari, kalau ada anak kecil membuka buku sejarah di rumahnya, ia tidak hanya menemukan nama Arif Rachman Hakim. Kita menginginkan ingin ia juga membaca nama-nama lain, yang selama ini terkubur tanpa memorial. Affan Kurniawan, dan semua korban anonim yang tak sempat ditulis di prasasti.

Sebab kalau tidak, kita hanya akan mengulang pola lama: melahirkan pahlawan dengan satu nama, lalu membiarkan ratusan nama lain larut seperti debu.

Arif Rachman Hakim memang sudah diabadikan. Ia hidup dalam monumen, dalam narasi resmi, dalam halaman buku pelajaran. Tapi saya berharap, Affan Kurniawan tidak berhenti di batu nisan. Semoga ada yang terus menyebut namanya, meski hanya dalam percakapan kecil, dalam tulisan sederhana, atau dalam doa yang lirih.

Melawan gas air mata, tembakan aparat, apalagi mobil baja kita tidak mampu, tapi menolak lupa bisa diupayakan.

___________________

Ramdhan S. Tukang roti di Jakarta