Puisi

Puisi Eko Setyawan

Membincangkan dan Mendengar Kitaro: Theme from Silk Road

kau susuri gerbang kematian.

diiringi tangis, juga doa-doa,

lewat bau dupa.

seseorang menghidu bau kehilangan,

seorang yang lain menenangkan,

dan seseorang lagi memalingkan muka

sekaligus mengamini (karena benci?).

akan ada raung sirine

mengiringi kepergian yang tak tahu kapan kembali.

kembali, barangkali sepiring kwetiau atau  mapo doufu di mangkukmu

dan kau lupa melahapnya

sebelum benar-benar pergi.

tibalah waktu kremasi.

di krematorium, segala yang kau punya, segala yang kau miliki,

lenyap.

terbakarlah tubuhmu menjelma abu.

—“kapan waktu terbaik reinkarnasi?” tanyamu.

barangkali ketika karma tak lagi menimpamu.

hingga akhirnya, kau tahu orang-orang yang menangisi, mencintai,

dan membencimu di Thiong Ting hingga persemayaman terakhirmu.

—“mengapa?”

sebab, karma adalah bom waktu.

meledak ketika kau menyadari bahwa kematianmu

tak lain adalah hal yang paling kau tunggu.

setelahnya, hanya tinggal kesedihan semata.

kepergianmu menyisakan duka.

tapi kesendirianmu di ‘dunia lain’

ialah kedukaan sesungguhnya.

matimu, menyusuri jalan ini.

hanya ada sunyi. hanya ada sepi.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kemalasan yang Kian Akrab

pernah kujumpai kau dalam lelap.

ketika kau bermata puisi dan bersuara minor.

seperti Buddha tidur,

tak dapat kubaca apa pun

selain puisi-puisi yang kulihat

dan suara yang jauh.

sama halnya di bukit Khao Kala,

tak ada yang benar-benar mustahil.

sebab manusia tak selamanya bicara tentang manusia

tidur tak ubahnya upaya telepati

antara aku, kau, dan ‘ia yang lain’.

atau, sebatas alasan

agar tak terjaga tiba-tiba.

kemalasan kita,

tak terlihat dan tak bernada.

tapi, aku masih setia mengeja

dan tentu, mendengar apa-apa yang tak bersuara.

mimpiku, mimpi paling lengkap

ketika kudapati kau membaca puisi

dan berkhotbah ihwal cinta,

juga pernikahan yang biasa-biasa saja.

(Solo, 2019)


Membincangkan Perpisahan

kata-kata belum selesai disusun

ketika kereta membawamu pergi.

aku memanggilmu,

punggung menjauh yang menjawabku.

ia berkata ‘cinta’

tapi tak tahu cinta macam apa

yang dikatakannya.

semula, kau meminta pergi

tapi pergi, bagiku, ialah memecah waktu.

menjadi remah jumpa

juga jadi air mata setelahnya.

di peron, seekor burung berkicau

merapal namamu.

tanpa nada. tanpa suara.

kau telanjur pergi,

kata cinta yang harusnya kumaklumi

tiba-tiba jadi belati.

mencacah ingatan.

menjadi debu. menjadi batu.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Pernikahan

sejak orang-orang mulai menyusun rencana pernikahan.

semenjak mereka menginginkan.

aku memilih memejamkan mata.

            : untuk tidur lebih awal.

bahwa pernikahan nisbi sebuah agama.

kita bisa saja memeluknya.

namun tak bisa memaksa mengamini.

kelak suatu pagi,

aku dan kau

pergi ke tempat di mana kau biasa memanjatkan doa.

kau memegang kitab suci dan membacakannya untukku.

di hadapan Tuhanmu, kau merapalkan untukku:

Tuhan, ampunilah segala perbedaan.

lantas kusampaikan pada Tuhan,

kami kelaparan

: pelukan.

(Karanganyar, 2018)


Membincangkan Rencana

yang tak dapat kita tata dengan baik adalah rencana.

sebab setiap detiknya, seperti jantung yang bekerja.

berhenti sebentar, mati akan mengunjungi.

sebelum benar-benar kau pergi,

lipatlah kedua lenganmu.

di sana, telah kau rengkuh aku.

mengapa kita masih saja bercakap?

keputusan bukan keputusasaan.

kita berbicara dan masing-masing dari kita

bebas bersuara. dan tentu, bertukar isi kepala ialah jawabnya.

langkahmu langkah yang limbung.

seperti lelaki tua yang mabuk.

anggur merah, jamur, dan sedikit obat sakit kepala

tak bisa menyelamatkan perjalanan kita.

sebab hanya pikiran kita, dan mungkin, cerita-cerita

yang benar-benar mampu memperbaiki keadaan.

tak ada salahnya mengumandangkan omong kosong.

sebab dari sana, cerita-cerita bermula.

kelak, rencana yang kita susun

tak selesai di kata rencana.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Mimpi

langit, kadang jadi laut.

menampung gelisah sekaligus amarah.

seseorang datang dari masa depan berseru,

“gantungkan cita-citamu setinggi langit!”

seseorang itu lupa bahwa Tuhan ada di sana.

cita-cita, hanya dapat terwujud

jika kau kenal Tuhan.

Ia telah mengenalimu

sebelum kau ada.

apa kau demikian adanya?

mimpimu menggulung.

mendamparkan ke tepian.

takdir, barangkali air pasang.

ia menyisihkanmu.

agar kau tahu,

mimpimu ialah aku, kau,

atau sesuatu yang sebenarnya

tak pernah kau kenali sebelumnya.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Suara di Ponselmu

“lekas pulang.

ibu sudah memasak makanan kesukaanmu.”

suara itu masuk ke ponselmu.

di kepalamu, meja makan menanti kedatanganmu.

nasi hangat, sayur bayam,

juga sepotong ingatan yang memudar.

kau mengambil sepiring nasi.

kau mengingat bentang sawah

dan di sana masa kecilmu kau habiskan.

kau menuang kuah sayur bayam.

tapi kau tenggelam.

dalam. semakin dalam.

tenggelam pada hati ibumu.

kau membaca ingatan yang tersisa.

ibumu, telah lama tiada.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Teka-Teki

kau melipat puisi

menjadi subuh.

di langit,

cahaya tiba dibalut suara.

rumah kami porak-poranda.

seseorang, atau beberapa,

mengirim bencana di halaman kami.

kami memungut air mata yang tumpah.

kau memungut tanah.

mereka menjanjikan sumpah serapah.

di langit kami,

cahaya bisa saja jadi neraka.

malaikat tiba begitu terlambat.

rumah kami kadung musnah.

di halaman rumah kami,

Tuhan sedang menyusun teka-teki.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Barzanji

: suara anak-anak Palestina

pernah kudengar gema di langit

dan setelahnya, kembang api mekar.

seketika seluruhnya sirna.

rumah, mimpi, dan kebahagiaan perlahan susut.

runtuh dan gugur satu demi satu.

kuucap dan kurapal doa. tak henti-henti.

tiap detik, tiap menit, tiap detak, dan tiap embusan napas ini.

agar di sini, di tanah ini, kami bisa berbahagia.

kebahagiaan, adalah ketika kau diberi harapan

dan apa yang mereka beri bukan semata janji.

kadang, harapan hanya semata sesaat legawa,

tapi di hari berikutnya, mimpi itu pupus dan kembang api, lagi dan lagi menghujani.

sebab di sini, di tanah ini, ego jauh lebih penting daripada nyawa kami.

mereka menyerukan perdamaian

diiringi dengan mesiu yang terlontar dari senapan.

mereka menyerukan kekerabatan

diiringi kehancuran yang sengaja mereka kirimkan.

tapi di sini, kami tak menanam benci.

sebab hanya Allah yang berhak menghakimi.

hanya doa dan pinta yang tak ada jeda

tiap detik, tiap menit, dari bibir dan hati ini.

juga tak henti kami lafalkan barzanji.

sebab hanya Allah yang mampu melindungi dan menyelamatkan kami.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kunjungan Batara Kala

1/

seandainya bencana itu tidak datang, Kunti

barangkali langit akan tetap bergema dan kegelisahan-kegelisahan

yang menyelimutimu tak akan sampai membuatmu putus asa.

sebab dalam kebencian yang telanjur menyebar,

semua harapan yang telah kau bangun pupus.

Batara Kala telanjur tiba.

ia datang entah sebagai hukuman atau ujian.

keduanya tak ada beda.

seluruhnya membuat sengsara.

2/

perang, juga pagebluk,

adalah bentuk lain dari doa yang gagal terjawab.

Kuru telah jadi ladang perang.

kunjungan Batara Kala menjelma kutukan.

ia tiba sebagai wabah yang menjalar.

dalam hatimu, semula ialah taman bunga.

anak-anakmu hidup dan tumbuh di dalamnya.

tapi tak berselang lama, bunga-bunga di hatimu layu.

sebab tabiat anak-anak yang tak sesuai kehendakmu.

—pageblug mayangkara murup mulat-mulat.

3/

kegelisahan bukan hanya semata dalam dirimu, Kunti.

: hati Durna tak jauh beda.

kedamaian pada dirinya menjelma api.

disulut perangai murid-murid yang tak tahu diri.

kini,

kenyataan harus kau terima.

sebab, di seberang sana,

serapah dilafalkan agar kematian lekas datang.

sementara di sini, di tanah yang kau pijak, tak jauh beda,

doa dirangkai sebab benci telanjur tumbuh di hati.

agar kelak, Pandawa berjaya dan Kurawa sirna.

—apakah maksud kedatanganmu Batara Kala?

4/

pertanyaan, adalah jawaban dari tak sempurnanya doa.

dari sana, pertanyaan yang terlontar ialah jawaban itu sendiri.

jawaban tak ubahnya kepingan teka-teki.

bukan hanya kau yang mengajukan tanya, Kunti, Durna juga

: ia tak paham kenapa.

Pandawa dan Kurawa,

tak ubahnya seperti burung yang tak mengenali jalan pulang.

selepas kunjungan Batara Kala.

mereka lupa muasalnya.

lantas Kurusetra membara.

Batara Kala telanjur tiba,

perang dan pagebluk kini nyata di depan mata.

Kunti, kau harus ikhlas untuk seluruhnya.

(Karanganyar, 2021)


Eko setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), & Mengunjungi Janabijana (2020). Buku puisi Mengunjungi Janabijana memperoleh penghargaan Prasidatama 2021 dari Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Antologi Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

Puisi

Puisi Nafi Abdillah

Tasbih yang Mengepung Kiai As’ad

Usai dawuh Kiai Kholil yang menggetarkan tembok-tembok tempat segala yang tinggal,

butir-butir wirid yang sering berputar dari atau pada wajah-wajah yang serba kias,

mengepung lehermu juga.

“tolong sampeyan antarkan ke tanah Jombang!” begitu kira-kira.

***

Bukankah untuk mencapai haq, kau harus menjadi basmallah dahulu?

Namun, kau tak perlu memahami apa pun, meski itu bukan berarti tak harus.

Sebab napas yang kauembus bukan dari gerak udara dalam parumu.

Sebab kata yang kaulontar bukan dari endap akalmu.

Kau memerlukan wewangian yang tidak terendus oleh hidungmu

sekaligus tanpa memikirkan jenis-jenis pohon yang berbiak.

Barangkali, itu bukanlah berasal dari daftar kitab yang perlu kaubaca.

Tugasmu ialah menjaga tangan santun agar adab tetap seperti bulir air mata

ketika kau merasa berdosa atau kelewat bahagia.

Bahkan, di kedalamanmu telah kaukungkum seluruh keredak api dan perigi.

Semuanya mungkin kaumaksudkan agar tidak ada yang tiris ke dalam makrifatmu.

***

Berderaplah melebihi batas, menjauhi riam,

perasaan janggal, dan batu-batu besar Gunung Geger.

Sementara denting waktu sama halnya wirid jantungmu

yang kerap lupa menyumbat celah-celah cahaya,

mengakibatkan jari-jarimu tak berani menghirup misik

walau sekelebat, apalagi menyentuh.

Ujian, barangkali adalah makanan siap saji bagi perut-perut setan.

Namun sejak awal telah tak kaudengarkan lenguh-peluh

yang sengaja mereka serak-serakkan untuk mengoyak imanmu.

Hinggalah segala lengang terasa lekat begitu saja seperti digulung oleh waktu.

Di atas latar Teburing, tetes keringatmu adalah ritus bagi senyum merdu Kiai Hasyim.

Leher tundukmu berlaku sebagai isyarat serta hal terakhir sebelum pamitmu ialah,

“yaa jabbar, yaa jabbar, yaa jabbar, yaa qohhar, yaa qohhar, yaa qohhar.”


Bukan Mbah Moga yang Menundukkan Banjir

/1/

Di rusuk kali Paingan, saban hari kehambaan lelaki sepuh itu

dihabisi oleh tangan-tangan usia yang cukup fasih

menanggalkan pujian orang ke dinding-dinding bambunya

yang dianyam dari napas-napas Tuhan. Ia selalu yakin

bahwa segala yang liuk-ceruk-merasuk adalah rahmat.

Ia telah sampai pada maqam di mana tidak ditemukan tafsir penolakan.

Di darahnya, penuh doa yang pasrah seperti rigen petani tembakau

yang berharap dirinya tak rapuh di musim hujan.

Yang ia pahami adalah menjauhkan doa dari fungsi tetes pahala

atau imbalan yang tualang ke tegak gubuknya.

Jauh-jauh hari telah ia betulkan suara-suara serak hati

sebagai rayuan kepada Kekasihnya.

Semua ini tidak diartikan sebagai permintaan,

namun mirip seperti kerinduan Kanjeng Nabi

pada suara lembut Bilal yang tak lagi menyentuh telinganya lebih dari 40 hari.

Sepotong cahaya mulai bermekaran dari dalam ruh

laksana sayap Jibril yang menghalau arak-arakan awan mendung

sewaktu pamitnya Nabi. Segala tafsir mengenai jasadnya,

semata-mata adalah benteng agar benang-benang tipis menuju langit tidak terputus.

Namun, ia benar-benar tak berani memasang dirinya

di tengah-tengah gerombolan kepala yang menenteng sekerat tanda tanya.

Sebab baginya, pengakuan adalah noktah-noktah bencana.

/2/

Malam telah lamat-lamat membelalakkan sepenggal amarah yang berahi.

Tidak banyak yang berani lekat-lekat menatap,

meski telah dijanjikan segala perlindungan:

keris keramat; jubah kadim; songkok masyhur; dan jiwa yang maksum.

Semenjak itu, telah sengaja ia kaburkan matanya

terhadap segala poros yang menyamar.

Baginya, surga bukanlah titik tumpu.

Begitu pula, neraka jauh dari lumbung rasa takut dalam dirinya.

Jika sudah cinta, apakah masih tak mampu menikmati seluruh tangis

atau kobaran api yang bakal membungkam segala gelak?

/3/

Hujan begitu dini menggelar pasar malam. Kali Paingan tak lagi mampu memangku.

Namun, di rusuk Kali Paingan lelaki sepuh itu tetap meleburkan

segala yang telah dipasrahkan meski akan disentuh taring-taring air.

Banjir menjadi sekawanan anak kecil yang tak berani melawan orang tua.

Syahdan, seperti Musa membelah lautan, ia menembus lorong-lorong senyap

yang khusus dinubuatkan untuknya.


Sabdo Palon, Noyogenggong

Usai tubuh menjelma ringkik Sembrani yang tak kasat,

lekaslah kami mengabdi pada roh-roh moyang

tanpa harus berpindah dari ladang berenuk

selama mestika belum terbata mendengungkan sabda-sabda.

Dawuhmu, Prabu,

sudah tak dianggap sebatas perkataan di ujung mata tombak Majapahit.

Sebab setelah ini, tak ada yang lebih luhur lagi di antara asap dan cahaya lilin

serta dada-dada yang tertancap oleh tombak adalah segala tunduk yang taksa. 

Meski dari balik busung dadamu

selalu ada nyala api yang luber menyembulkan berahi atau baur arah angin

tetap saja tak sudi kauminum derai-derai darah dari mata airmu sendiri.

Tapi percayalah Prabu, tak ada yang benar-benar merasakan kematian.

Jika itu berarti kau harus menenggelamkan roh dan jasadmu,

kami patuh tanpa harus melebarkan nestapa.

Sebab di tanah-tanah yang lebih subur

dari tanah yang diciptakan Sang Hyang Wenang,

sejatinya nelangsa menolak dilahirkan.

Saat itu, berawal dari khianat yang terkapai-kapai ke poros tirta amertha bumi

hingga Adipati mengatupkan gendang telinga pada bau-bau darahmu,

tetapi kau memilih bersejingkat dari dalam corong senyap ke arah Cetha

meninggalkan segala derap yang kabur dan suara-suara asing di tengah desa.

Berberita kewaskitaan Kanjeng Sunan,

diajaknya kau memangku kembali tanah-tanah moyang.

Namun tetap tak ada yang bergetar kecuali jiwa-jiwa

yang berlayar menuju telaga penahbisan.


Gajah Mada dan Borok-borok yang Niscaya

(1)

Usai tetes darah yang sengaja dibiarkan tumpah

hingga menjelma riwayat sebagai bibit bagi anak turunmu

hanya dianggap sebatas mestika yang karat,

tetap tak sudi kau keluarkan keredak api lewat sumbumu.

“Lebih baik kuteguk darahku daripada kukotori dengan mata airku sendiri,” katamu.

Telah kaupatahkan segala murka yang pelan-pelan mulai bongak pada tirta amartamu.

Kau selalu bersikeras mendekap tulang-tulang Majapahit.

(2)

Semua berawal dari pada rapal yang diadu domba,

yang terus-menerus melekat di tiap-tiap laku,

menjadikan bau-bau mistik tak lagi lapang,

mengakibatkan pucuk-pucuk keris

kelu mendengungkan sabda sebagai usaha mengasah perlawanan.

Seluruh kerajaan merasa tertimpa tempayan nanah

meski kehendak tak pernah melengking dari kidung seluruh arah mata angin.

Namun kau tetap dibentur-benturkan oleh ucapan nanar

yang menyat dari atau ke kecipak waduk Gajahmungkur.

(3)

Setelah Bubat yang tak diinginkan oleh sesiapa

dan belalak mata yang meninggalkan noktah-noktah bencana,

jiwamu mengerucut, merajut benang-benang tipis menuju niskala,

memasrahkan jasad dan rohmu lebur:

lebih tipis dari asap, lebih sunyi dari bisikan.


Menemukan Jati Alas di Selatan

Kalam langit yang tertiup membawa kakinya memijak tanah-tanah Pamantingan.

Gegaslah ia bersila dikelilingi potongan-potongan titah.

Pagi belum usai mengepulkan asap dari kobaran-kobaran api

yang menguar dari dalam celah-celah jati alas.

Sedangkan malam serupa kematian yang sempit dan tak tanggal oleh kebiri waktu.

Kanjeng Sunan meleburkan jasad sebagai tirakat

melewati benang-benang tipis menuju Sang Hyang Agung.

Sebab, resah dan tulah hanyalah sebatas berenuk yang busuk.

Hingga diutuslah Cemara Tunggal menggetarkan suara-suara serak

dari tempat lengang pun juga tak lekat.

“Wahai Kanjeng Sunan Kalijaga, kembalilah menuju selatan.”

Derap-derap langkah dan napas-napas malam tumpah juga pada Gunung Pati.

Di tangan kewaskitaan Kanjeng Sunan, kera-kera mampu mengaburkan diri

dari belalak sepasang mata dan amarah yang berahi.

Sebelum  waktu mencacah jiwa, batang-batang jati telah patuh pada kecup doa.

Dengan detak-detak tangan yang terdengar parau

dan lenguh-peluh yang diasingkan dari tubuh-tubuh, 

jati alas berhasil menancap sebagai saka guru.


Dengan Mengenakan Namamu, Muhammadku

Namamu mendengung dalam pengasingan.

Muasal namamu adalah pakaian bagi jiwa-jiwa telanjang.

Kau kampung halaman yang dirindukan oleh perantau nanar

sebab pulang terbuat dari jarak dan gelisah.

Dari namamu, semesta mampu merentangkan lengan

dan Jibril sanggup mengepakkan sayap.

Setelahmu, tubuh-tubuh memerlukan bumi.

Menampung tetes darah dan deras hujan yang mengguyur mata.

Telah kau siapkan ladang-ladang subur sebagai tempat bercocok tanam.

Tapi besi-besi lebih suka aku kibarkan di atas tanah-tanah basah.

Memang semula berawal dari badai kegembiraan

yang datang  bergantian di musim-musim cerah.

Namun cuaca telah berpindah haluan.

Maka saat ini, yang aku perlukan sebagai arah kembali adalah dirimu.


Di Balik Yarmuk

:Khawlah binti Azwar

Dari Yarmuk, matamu mata pisau melewati batang-batang tamr

dan butir-butir pasir menuju ke sebuah muara di ujung jejak-jejak kaki.

Di belakang punggung mereka, kaurangkai napas-napas

menjadi doa yang berarak memenuhi mega-mega.

Selalu kautorehkan percik-percik air terjun

dari dalam matamu ke atas bebatuan keras

sebelum luka menemu cahaya fajar.

Sebab Dhirar, kau harus merelakan tubuhmu bergetar oleh sentuhan cahaya matahari.

Mungkin kau tak pernah dianggap sebagai gema di kedalaman gua Hasa.

Sebab, di depan zirah orang-orang Romawi telah kautandai arah mata angin

yang menjadi titik temu antara darah dan nanah.

Namamu, seperti tangga langit yang seluruhnya berupa nyanyian serak

hingga berjatuhan air mata malaikat menjadi danau-danau kecil di tengah gurun.

Maka, angin menggiring ringkik kuda menuju getar-gemetar benteng Byzantium.

Tak pernah kau mengerang meski kaudengar deru-deru lonceng besar

bisa mengatupkan gendang telinga.

“Wahai putri-putri Himyar, keturunan-keturunan Thubba’…”

Suaramu merubah pucuk-pucuk pedang hingga kastil menggigil sekali lagi.


Surat ke 18 yang Jatuh ke Bumi

/Haq/

Adakah yang lebih melegakan daripada patahku

dari ranting-ranting Arasy menuju Jumat yang mengerdilkan seluruh kabar haru?

Atas derma-Nya, aku lemparkan dusta jauh dari hadapmu,

kutiupkan wirid-wirid haq ke dalam semesta dirimu.

/Rida/

Akulah pelita yang membimbit potongan-potongan titah

di tengah daur yang payah, di antara masa yang pasrah.

Tuntunlah kepalamu agar terbenam dalam karib doamu,

sebab akulah pemanjang cahaya yang menyertaimu.

/Tobat/

Umpama kauziarahi Al-Aqsa dan Al-Haram,

dan telapakmu bagai tertancap batang-batang tamr dan duri-duri bidara,

biarkan lengan-lenganku yang meredam luka dan dendam

sebab di telaga penahbisan, telah kusertakan doa untuk pengampunan-Nya.

/Batil/

Bersama Al-Baqarah, kudirikan benteng Rumi mengelilingi istanamu

sebagai penghalau ketika hasut dan tamak berusaha mencengkeram tengkukmu.

Maka, kumandangkan lafalku pada tiap embus napas yang membentuk hidup.

Peliharalah zikirku dalam tiap detak jantung sebelum mata benar-benar terkatup.

/Cahaya/

Usai deras doamu yang khidmat dan luhur

kubentangkan jalan panjang melewati saf-saf langit yang tafakur.

Akulah persaksianmu, maka, tak usahlah khawatir

walau Malaikat Israfil meniup sangkakala terakhir.


Sebelum Tiba di Bulan-bulan Janggal

Daun malam berkata dengan busur panah yang membidik mata.

Di antara langit yang telanjang, bau-bau kematian adalah mata pisau.

Kehidupan adalah rempah-rempah yang telah menjadi hidangan langit.

Sedang aku hidup di dapur dengan kayu-kayu yang belum dibakar.

Suatu kali aku menyusuri hutan-hutan gelap

dengan langkah yang tidak bergerak.

Hanya jejak-jejak waktu yang terdengar parau.

Aku pesakitan sebab gendang telinga mengatup perlahan.

Hingga tibalah aku di hadapan unggun api,

bau-bau kematian luber, melelehi ruh-ruh yang memar.

Daun-daun malam mengendus dari permukaan

dan menggantungkan napas-napas.

Dituntunnya aku ke telaga penahbisan.


Ketika Para Perindu Duduk di Suatu Malam

Terang maupun gelap adalah jalan-jalan para perindu

yang tidak pernah abai dari fitrah alam semesta.

Rindu adalah kobaran api yang menjalar hingga terkoyak jiwa-jiwa sunyi.

Tapi mereka tidak mengultuskan pengakuan diri.

Oh, Perancang kampung halaman.

Biarlah nyiur seruling para perindu luruh pada pangkuan-Mu,

sebagai bongkahan es yang tidak bisa mencair kecuali sebab titah-Mu.


Sang Penunjuk

:USC

Dingin malam membekuk tubuhku.

Lalu kata-katamu muncul sebagai akar dari pohon,

tumbuh, bercabang, dan berbuah menjadi cahaya pagi.

Kata-katamu terbit dari langit.

Di persimpangan menuju bulan pernuma, ia tidak tenggelam.


Nafi Abdillah, menulis puisi dan cerpen.Seorang pembelajar di Padepokan Sakron dan bergiat pula di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya pernah tersiar di beberapa media cetak maupun online dan beberapa kali menjuarai ajang perlombaan menulis. Penulis bisa dihubungi melalui surel [email protected] atau akun media sosial Nafi Abdillah.

Puisi

Puisi Candrika Adhiyasa

KULTUS

biara-biara selalu terbuka

untuk doa-doa

layangkan pada langit, kata-kata

siapa beranjak dari pusara

tuhan, meski tak bertelinga

ia mendengar semua

bahkan sampai ke palung hati paling

bisu sekalipun

dan kita menerka-nerka, akankah

bahagia

datang sesubuh cahaya

di pagi buta, layaknya fajar pertama

tuhan, meski tak bermata

ia melihat semua

Tasikmalaya, 2019


ANTESEDEN

kusimak sayatan pelan gin dan heineken

kuhela sesak udara andantino dan misty

kukecap sembir seloki eternity dan poison

ada hutan beku di balik bola matamu;

sebuah semesta taiga terhampar

menjadi partitur sejarah yang dingin dan terkucil

Kuningan, 2019


MUSIM ANGIN

sejak kecil, aku terusir

diasingkan dari permainan

sering kutatap permukaan kolam

: akukah si wajah buruk rupa?

kupungut berbagai topeng

memakainya, silih ganti

sesuai musim—

menyembunyikan wajahku

semata-mata, agar aku diterima

dalam kepalsuan itu,

aku tertekan, seraya bertanya-tanya

bolehkah kita; menjadi bukan siapa-siapa saja

tanpa harus merasa kesepian?

Tasikmalaya, 2019


KACA DI BOLA MATAMU RETAK

meluruh di sepanjang kabin

tanpa penjaga. ombak dibuai

langit, awan dimanja cakrawala,

tiang piatu digembala badai

matahari menyinari air mata

berderai menjadi api

rembulan memberi mimpi

pada dendam abadi

laut dalam pigura

kaca di bola matamu retak

Tasikmalaya, 2019


INSTRUMENTAL: NYANYI SUNYI BEETHOVEN

Sonata No. 14 “Moonlight”

in C-Sharp Minor Op. 27 No. 2

ia menggoyangkan kaki-kaki kecilnya

            dan bayang-bayang muncul

            dari permukaan laut yang keruh

sebuah tempat indah terbentang

            nun jauh di kekosongan matanya

            kemudian menundukkan wajah

sekali lagi, ia berharap tak pernah dilahirkan

            ke dunia yang memilukan ini

Tasikmalaya, 2019


REFFRAIN: NYANYI SUNYI JOEP BEVING

                        Le souvenir des temps gracieux

                        in “Prehension”

angin meredupkan sisa bara

            bekas perbincangan semalam. botol berserak

            dan langit masih saja tak berperasaan.

suatu hari kamu akan membaca ulang

mimpi-mimpi yang membuatmu menangis

di antara jengkalan gemerlap laut malam.

Tasikmalaya, 2019


OUTRO: NYANYI SUNYI MILES

“jika aku mati,” ucapmu.

            kamu berkata bahwa kamu akan

            bermukim di sebuah pondok

            yang tersembunyi di dalam kabut.

“jika aku mati,” ucapmu lagi.

            kamu berkata bahwa kamu akan

menyimak kaset-kaset piano lama

            sambil meneguk minuman keras.

“jika aku mati,” ucapmu selalu.

            kamu berkata bahwa kamu akan

menatap langit yang menyala

sambil menghela udara pagi.

“jika aku mati,” ucapmu.

Tasikmalaya, 2019


JAZZ UNTUK GILIMANUK

lama kita berlayar pada kekosongan

mencari pijakan-pijakan—Keftiu?

serupa kapal layar

bersungut-sungut mencari kabar

sekarang, gelombang tiada kentara

redup diliput pekat teramat

telingaku dipenuhi napas Miles

terbaring kaku di geladak

mengikuti laju konstelasi

lama kita berlayar pada kekosongan

mencari kejelasan-kejelasan—lewat

Timaeus dan Critias?

serupa kapal karam

berkaku-kosong menyusur kelam

Bali, 2019


PERTEMUAN

di balik bukit itu bersembunyi ragam

warna jua bentuk

dalam terkaan yatim piatu

dan gersangnya peluk

lalu rinai bunyi-bunyi mekarkan

ilalang bayang-bayang

di langit mimpi yang jauh

dari anak tangga penerimaan

daku bertanya:

apakah sebenarnya yang ada di sana;

gelapkah terangkah

maniskah pahitkah

lama kita tak mengadu nasib rindu

Tasikmalaya, 2019


PERPUSTAKAAN TUA

tak kupetik kata-kata dari langit

yang tangkai-tangkainya begitu

rapuh dan semu seperti bayi-bayi

yang hendak dilahirkan ke bumi

kata-kata dalam puisiku kupetik

dari belantara perasaan rumit

serupa isi kepala para dewasa

di rimba raya dunia tipu daya

sebagai sebab, kamu tetap

semayam pada alam yang tak

terekam, pada ruang yang tak

tertangkap kesadaran seperti

halnya dongengan dalam buku-buku

kusam di pojok perpustakaan tua

Tasikmalaya, 2019


Candrika Adhiyasa, menulis puisi, cerita pendek, novel, dan esai. Belajar ilmu lingkungan di Universitas Gadjah Mada. Instagram @candrimen

Puisi

Puisi Miftachur Rozak

Surga di Matamu

:Alena

Apakah engkau pernah mendengar perihal surga, Alena?

sungai-sungai yang mengalirkan susu,

telaga madu yang manis tak pernah habis,

dan buah-buah matang di pohon, tak satupun membusuk.

Kedengarannya menakjubkan, bukan?

Kini, engkau sudah menikmati surga itu, di bumi,

di matamu sendiri. Setiap yang engkau bayangkan,

ketika matamu terpejam, surga itu menghampirimu:

engkau menaiki perahu, memetik buah, 

menyesap madu, dan meneguk susu.

Kaupun lekas tersenyum sendiri,

dan berbagi tahu, 

bahwa sebenarnya tuhan sudah menciptakan surga, 

di matamu, di mata kita, 

di mata mereka yang mendapati surganya.

Jombang, 2021


Di Sebuah Teras Cafe

hujan menahan kita di sebuah teras café

meja bulat dengan dua kursi saling berhadapan

serta miniatur biola kayu dan bunga kaktus di atasnya

dan engkau lekas memesan seporsi kopi

yang gula dan susunya dipisah: di wadah sendiri

kemudian engkau meraciknya: ala barista italia

sesekali matamu melirik ke arahku,

dan tipis senyum di bibirmu

aku menikmatimu: setiap gerak, lirik, dan senyummu

yang lebur pada aroma kopi, gula, dan susu

dalam hatiku berdoa

agar tuhan tidak menghentikan hujan di sore itu

agar tuhan menaburkan segala perasaan pada kopi itu

dan agar tuhan mengizinkan kita menyatu

seperti kopi, gula, dan susu.

Jombang,  2021


Kau Ingin Aku

Menulis Puisi yang Seperti Apalagi?

Setelah matahari beringsut, 

dan menenggelamkan separuh tubuhnya ke laut

lekas kau berkata,

“Tuliskan puisi untukku, aku sedang rindu.”

Dan kau genggam kedua tanganku

semakin erat. semakin hangat.

Memandangi langit lazuardi

membayangkan kuda bersayap

lengkap dengan tanduk spiral di kepalanya.

Tanpa angin, tanpa hujan.

Namun pelangi pun datang menjemput,

mengikhlaskan tubuhnya sebagai anak tangga, 

dan kita melangit bersama.

Sementara, tubuh kita masih dikoyak

kecemburuan, di bumi, tempat singgah dosa-dosa

yang kita kumpulkan sendiri.

“Kau ingin aku menulis puisi yang seperti apa lagi?”

tanyaku, sembari membalas erat genggamanmu.

Dan kau berbisik,

“Seperti air yang tak sempat menenggelamkan,

seperti api yang tak sempat menghanguskan, 

dan seperti angin yang tak sempat memorakporandakan.

Jombang, 2021


Membaca Pesan di Suatu Pagi

pagi-pagi sekali, sudah berdering tiga kali

padahal matahari masih bersembunyi

di balik bukit, menunggu kidzib berlari

baiklah, kali ini aku mendahulukanmu

bersandar di kamar, dan membaca tiga pesanmu

pesan pertama,

            “jika engkau ingin bertemu,

  temui aku dalam doamu”

pesan kedua,

            “ingat, kita wajib bertemu

  lima kali dalam sehari semalam”

pesan ketiga,

            “berbahagialah, jika besok atau lusa,

  masih ada pesan dariku”

lekas aku beranjak dari kamar tidur

meninggalkan mimpi yang belum rampung

            Subuh, 04.45


Di Sebuah Alam Mimpi

            :Din

mendadak aku dihisap lubang hitam

dan mendarat tepat di halaman mimpimu

skenario yang masih tertumpuk malam

satu per satu kubaca, dan kutemukan sosokku

tayang dalam mimpimu.

betapa bahagianya aku,

sebab, dalam mimpimu kau menginginkan kita beradu.

ah, kali ini aku akan tinggal bersamamu

:dalam alam mimpimu

sebelum matahari beringas, memangkas tidurmu.

                        Jombang, 2021


Dongeng

Konon, Ibu rajin mendongeng

di antara anak-anak, di altar rumah

Lampunya terang cahaya rembulan

musiknya tembang-tembang dolanan

Ketika dongeng sudah menyebut bidadari

dan rembulan rekah bak matahari pagi

Anak-anak berhenti bernyanyi

semua memandangi langit: menyaksikan bidadari

Angan-angannya mulai menari-nari

mengumpamakan bulan, kucing, dan bidadari

“Apakah tahun ini bidadari masih kerasan tinggal di bulan?

ataukah sudah tergantikan?”

Ah, mungkin bidadari sudah turun ke bumi

sibuk merias diri, menjelma smart phone dan televisi

Jombang, 2020


Keringat Dingin

telapak tanganmu selalu menderas keringat dingin,

ketika mataku menyumat pandangan rindu

dan engkau menjelma rumpun putri malu

meski engkau tak berbalas pandangan padaku.

Jombang, Juni 2021


Tanganmu Teramat Dingin

tanganmu teramat dingin untuk kugenggam

sementara aku semakin gigil untuk mengingat-ingat

kapan terakhir kali kau memelukku

dan berucap, “aku akan kembali padamu, 

lengkap dengan sepaket doa tanpa khianat.”

apakah engkau juga masih ingat?

sebab, aku membutuhkan hangat yang amat

mencairkan beku rindu yang nikmat.

Jombang, 2021


Usai Subuh

subuh sudah berlalu

pendar mentari menyusup jendela kayu

kami pulang ditegur waktu

perjumpaan dengan-Mu masih dirindu

sebab jalan-jalan belum kutemu

seperti belukar, menyamarkan mataku

kami pulang digiring mentari

ia berbisik: duha sedang menanti

Jombang, 2020


Terompa

kita sepasang terompa

dari kayu waru berdaun jantung

berserampat karet, tahan karat

bersanding, berpasangan

aku kiri dan engkau kanan

kita sepasang terompa kenangan

berjalan saling bergantian

mengikis jalan-jalan

membunyikan nyanyian-nyanyian

Jombang, 2021


Bunga Bersalawat

sebab, bunga-bunga yang kita tanam

adalah doa-doa yang bersalawatan

dari pucuknya air mata keteduhan

yang saban pagi ia teteskan

Jombang, 2020


Miftachur Rozak, penulis puisi yang aktif di KPB (Kelas Puisi Bekasi). Ia lahir di Jombang Jawa Timur, 03 Februari 1988. Tahun 2011 ia menyelesaikan study S1 PBSI STKIP PGRI di Jombang, dan  kini mengabdi di MTsN 2 Rejoso Jombang. Sedikit karyanya tersiar diberbagai media cetak dan daring. Salah satu puisinya masuk dalam Antologi tiga Negara, Jazirah 5 FSIGB 2020, dan tergabung dalam buku “Sang Acarya” Kumpulan Puisi Guru dan Dosen Komunitas Dari Negeri Poci 2020. Bisa dijumpai di Facebook Miftachur Rozak atau Instagram @arrozak_88.

Puisi

Puisi Joe Hasan

Liang yang Mengalir di Matamu

terlalu deras liang yang mengalir di matamu

kau tahan sepanjang perjalanan mengantar

memasuki hutan

dan pada setiap langkah, kau ingin selalu berhenti

supaya tidak menuju pulang

kita bertemu lagi kali ini

sebentar di panggung rumah,

sebentar di kolong rumah

perasaan-perasaan yang terus berekor

terus memanjang

memenuhi langit

kau berusaha sembunyikan rasa yang tertancap di dada

terlalu sesak

dan semakin dalam liang yang mengalir di matamu

sudahlah sampai kita pada akhir pengantaran

ikatan telah dibuka

kain itu bernyanyi sesaat

siapa yang kan menemani?

tak bisakah lebih lama lagi kita melihat matahari?

deras yang kau tahan

memang untuk sembunyikan perih

kita menyadari hari

waktu  yang tiada henti

kita menunggu giliran siapa lagi besok

atau besoknya lagi

baiklah, alirkan saja rasa itu

kesedihan di puncak rambut

peluk doa selekat jarak mata dan bulunya

ada jalan yang harus terus dijalari

di matamu, sekali lagi kusentuh sedih yang menderas

(Bau-Bau,  Juni 2021)


Anak Timur

kemarilah, duduk bersandar di bale-bale

terpaan angin siang tak sabar menelusuri masa lalu

tolong ajari saya bagaimana bercerita soal susah yang tak padam

soal mengapa harus berdoa

bukankah tuhan sudah mengerti maksud hati

tanpa harus didoakan

saya hanya rindu akan gelagat tawa usai gulungan topan dulu

menghambur batu segala arah

rasa yang tiba-tiba kehilangan tuan puan

untunglah ada satu dua uluran tangan-tangan kecil

kehilangan cara berucap ialah musibah kecil

menjadikannya sebuah kisah yang sulit

kami anak-anak timur yang sering dikira terbelakang oleh mereka

nyatanya punya ambisi di ujung langit

hari ini sinyal internet tidak terlalu susah

roh-roh terdahulu mudah saja menjadi kompas

mengisi hati supaya hari tidak hilang arti

air mata timur bukanlah milik satu

tapi semua

mari ingat kembali semboyan-semboyan nenek moyang

wahai, yang berdedikasi

marilah duduk bersandar di bale-bale

temani cerita yang tak kunjung berujung

kami mencari mata tuhan

ajari kami menyimpan air mata

menunggu cerita-cerita luar biasa membelah angin

ajari kami menulis surat untuk tuhan

bagaimana cara melihat surganya

yang menurut cerita-cerita orang tua tak bisa digambarkan indahnya

ah, saya lupa

kau bahkan tak mengenal siapa tuhanmu

(Bau-Bau,  Juni 2021)


Berkunjung ke Kolowa

pukul tiga sore

waktu untuk berangkat

kapal akan menyeberang ke kolowa

hati sedang berantakan

berusaha tenang bagai laut ini

orang-orang membaca ikan

di tubuh laut

daratan hanya khayalan

android di tangan tidak lepas

mata membujur ke gunung lepas

bahasa-bahasa sudah bermain

sejak menanti di awal keberangkatan

dan ada yang mengingat seseorang

kadang kita sengaja pandai

sembunyi di balik masker

agar tak ada apa-apa

seperti sebuah catatan perjalanan

namun hanya perjalanan, tanpa ada catatan apa–apa

kampung kolowa masih begitu tenang

seperti tahun-tahun dulu

masih terasa dingin yang asri

menusuk tulang yang penat bergerak sepanjang hari

gerhana bulan muncul malu-malu

kami sama-sama tahu ada banyak kerjaan menanti

ini bukan kunjungan untuk menyelami permandian

maka cepatlah…

cepat-cepatlah untuk kembali pulang

kita tunduk seketika

gerhana mulai redup

dan kita benar-benar telah pulang

menyalami tangan yang dulu sempat berkenalan

(Bau-Bau,  Mei 2021)


Gadis dalam Gelas

di antara bebatuan laut

seperti ada suara memanggil

gadis yang terperangkap dalam gelas

sepotong hatinya hilang

menuai hangat pembawa berita

bunyi-bunyi yang tidak kukenal

membunuh setiap hewan melintas

hingga tak mampu bersanding lagi

doa yang tengah tengadah

dari mulut gadis kecil

meminta tahun yang berbunga

di sini hanya sebilah gelas

yang dengan dabar menerima nasib

(Bau-Bau, Mei 2021)


Live Instagram

pada bibir-bibir yang basah

saya mencari sebuah makna

celoteh pemuda pengembara

di live instagram

yang sedikit-sedikit menyeruput surya

membentuk asap di ruang sendiri

malam bermukim di matamu

sekadar bertanya apa yang sedang dikerjakan

merangkai setiap komentar penonton

menjawab malu-malu

atau diantara menjelma padi berilmu

yang barangkali sembunyikan kebolehan

menorehkan kata pada angin

kita sempat tertawa

tanpa pernah melihat bagaimana rupaku

lalu kau menyudahinya

dengan sepatah karya

tugu pahlawan tegak temaram

kehilangan tenaga diantara persimpangan

masih kau cari-cari penyebutan kota

tempat kau bertandang

dan saya tertawa lagi sendiri

sembari menyodorkan tanya

puisimu yang tajam melukai garis tangan

“siapa suruh dibaca.”

ujarmu saat live hari berikutnya

apalah daya

daya tarik dalam puisimu lebih menggoda

dari hanya sekadar luka nganga sebab kau

(Bau-Bau,  April 2021)


Pertemuan Semalam

sebab pertemuan semalam

kita menjelma kata

sabda yang tak habis di nyanyikan

berkunjung ke rimah hujan

memetik satu demi satu

bait-bait terpencil

seperti dosa di bibirku

yang kerap menunjukkan arah

hilang tak pulang-pulang

ini berbaris merenungi makna

siapa saja yang akan datang

tubuh –tubuh pucat

suara sumbang

daun merana

kehilangan surga

katanya mata ibu adalah rumah

namun tak beratap

bapak berpayung matahari

siapa yang lagi yang tersesat

pikiran terlalu pandai menipu

sebab pertemuan semalam

keindahanku menjadi singkat

bila esok bertemu lagi

bolehkah kita mencuri diri masing-masing

(Bau-Bau,  Februari 2021)


Buku Tua

buku tua pada rumah tua

mengambang seketika pengunjung bertitik

menanti gerhana bulan di padang karang

malam itu

mungkin bulan mengalah pada langit

atau mungkin sebaliknya

mereka saling membiarkan

sebab kampung masih bernyawa sepi

telah berbeda memang

namun keasrian itu abadi

dingin yang terus menusuk tulang

tak sampai remuk

cukup membuat lekuk badan

di bawah selimut tua

buku tua pada kampung tua

menghiasi lemari tua

bersama foto-foto tua

dan kaset-kaset tua

waktu tak pernah tua

hanya kita yang terlalu laju berlari

menulis kisah pada buku tua

yang kemudian mengungkap sejarah

(Bau-Bau, Mei 2021)


Pendosa

pendosa mana yang mau disahabati Tuhan

Tuhan pun memilih hambanya

waktu kian melaju

tak pandang pelakon

telah tercatat di semua ayat

petunjuk-petunjuk tuk mendekatiNya

namun kita memang terlalu abai

kaca oppo, vivo, samsung, dan kawan-kawannya

adalah jembata tak jauh

ah, kesadaran ini sungguh terlambat

Tuhan membuka pintu

selalu,

dengan cahaya jutaan watt

tinggal kita yang mencari kunci

lewat kitab-kitab malam

pastikan kita bersih

suci dalam tidur

dan mengunjungi rumahNya

mimpi kan menuntun

saat itu Tuhan tak lagi memilih

hanya saja setan yang terlalu pandai

membangun jarak. mendekati mati tanpa amal

pendosa juga punya tempat di rumahNya.

mungkinkah?

(Bau-Bau,  Mei 2021) 


Kasturi

aku masih ingat liuk namamu

sewangi kasturi beberapa tahun silam

entah kau di mana saat ini

kita pernah bersepakat untuk membangun kebohongan

mencuri tipis-tipis

“bos juga suka mencuri” lirihmu pelan

untuk menutupi opname yang sebentar lagi terselenggara

ah, kau tahu kita terlahir dari cinta kasih

bukan dari kebohongan nafsu dan birahi semata

namun ajakanmu ada benarnya

kita perlu membalas orang-orang curang

yang sering tersenyum bahagia atas hasil mencuri

atas hasil pembohongan, pembodohan.

sayangnya aku telah melupakan cerita itu

menuju cerita baru membangun rumah sendiri

namun wangi kasturimu

bagai taman yang tumbuh dalam dirimu

melekat menguntitku

dan pagi ini ingatan lumpuh terpaksa keluar

jumpai sepotong sinar di atap rumah

tenang saja, aku tak lupa namamu

juga matamu

kasturimu abadi di mataku

kita perlu sedikit siraman rohani

mengobati cacat hati

yang bertahun-tahun masih tertawa

(Bau-Bau, Mei 2021)


Obrolan Malam

kita bahkan menikmatinya lebih dari tengah malam

obrolan malam seorang peri di danau susu

keluar dari kahyangan

mencari tumbal lelaki haus

sedikit kenakalan manusia dewasa

ah, jam berdenting terlalu cepat

suara kita tanpa sengaja mengetuk pintu keluar

‘jangan sampai ada yang terbangun’

bisikmu lirih

napasmu yang datang satu-satu

mengundang tawa para pengikutmu

hari ini lelahnya terbayar lunas

kita mengulanginya

obrolan malam di layar android

sambil menunggu pagi

sambil tengadah

berharap setiap waktu dapat lepas

mirip burung yang tengah terbang

(Bau-Bau,  Mei 2020)


Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya pernah dimuat di media cetak dan online.

Cerpen

Pemanah

Cerpen Rumadi

Apa yang ia takutkan telah menjadi kenyataan. Tangannya menggenggam kuat dengan tangis yang berusaha ditahan sejadi-jadinya. Ia abaikan amis darah yang menguar memenuhi udara. Ia usap berkali-kali kandungan di dalam perutnya yang semakin membesar. Ia selalu mengajaknya berbicara setiap hari tanpa henti, diiringi doa-doa, supaya kelak anak yang sedang dikandungnya akan memiliki nasib yang lebih baik dari sang ayah. Ia hanya duduk di samping suaminya yang sudah terbaring dengan anak panah yang masih menancap di tenggorokannya. Bukan anak panah milik seorang ksatria. Namun, panah itu milik seorang pengecut yang dielu-elukan di seberang sana. Berkali-kali petugas pengobatan ingin mengangkut jenazah suaminya, tetapi ia masih ingin membersamai suaminya meski sudah tak bernyawa lagi. Ia pandangi lekat-lekat mata suaminya yang telah memejam. Ia raba tubuhnya. Luka itu masih ada. Ia cemburu pada brahmana tua yang meminta baju zirahnya. Baru kali ini ia meraba dada suaminya sendiri yang semasa hidupnya senantiasa tertutupi baju zirah yang melekat dalam tubuh itu sejak dilahirkan. Ia masih mengingat, malam pertama di hari pernikahan, hingga hari-hari sebelum kematiannya, ia belum pernah merabai kulit dada suaminya secara langsung. Ada kelegaan saat ia menyentuhnya. Tetapi juga kecemburuan. Ia yang pertama menjadi istrinya, menemaninya hingga akhir hayatnya, tetapi ia tidak pernah bisa memenangkan perasaan hati suaminya yang dipenuhi misteri.

Semua ini seharusnya tak perlu terjadi kalau saja suaminya mendengar dan menuruti Krisna dan Dewi Kunti. Namun suaminya yang sudah memendam terlalu banyak kekecewaan terhadap Dewi Kunti dan kelima anaknya—terutama Arjuna—tidak akan pernah memihak mereka. Ia mengintip dari biliknya ketika Dewi Kunti datang hampir tengah malam. Karna yang tampak gelisah tak bergegas memejam, membuka pintu dengan sedikit enggan ketika pintu diketuk. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan yang hendak bertamu tengah malam begini.

Karna terperanjat melihat siapa yang datang. Wrusali yang hanya mengintip dari dalam bilik menyimak dengan sedikit merapatkan kuping ke arah pintu. Ia melihat sorot mata suaminya yang terluka.

“Mengapa baru sekarang mengatakannya wahai Ibu? Ke mana ibu selama ini? Ibu macam apa yang tega membuang anaknya? Ke mana ibu waktu saya diludahi Guru Durna? Ke mana Ibu ketika Arjuna mengatakan tidak akan pernah mau bertanding dengan anak seorang kusir kereta? Saya ditertawai seluruh penduduk Hastina kecuali Suyudana. Dia bahkan mengangkat saya menjadi seorang raja. Ke mana Ibu waktu Drupadi menghina anak kusir ini? Aku tidak akan menikah dengan anak seorang kusir kereta! Kata-katanya melukai setiap aliran darah saya Ibu.”

Wrusali melihat perempuan di depan suaminya teramat sedih. Bahkan meski ditahan sedemikian rupa, tangisnya memecah malam. Perempuan itu berdiri hendak merengkuh anak lelaki yang pernah dibuangnya. Di luar dugaan Karna menghindar.

“Tubuh seorang anak kusir ini akan mencemari tubuh Ibu, oh tidak, maaafkan kelancangan saya, maksud saya, Mahadewi Kunti.” Karna memandang ke arah lain. Melihat ke arah pintu yang sengaja ia buka lebar-lebar. Angin malam menghempas dingin.

Tangis Dewi Kunti terdengar lebih memilukan. Lebih menggema dan air matanya semakin deras.

“Hastina akan jadi milikmu, Nak. Jika kamu kembali ke pangkuan Ibu bersama adik-adikmu. Kamu putra sulungku.” Iba Dewi Kunti dengan suara yang agak serak.

“Drama macam apa lagi yang hendak Dewi Kunti mainkan? Saya anak kusir kereta Adhirata dan ibu saya Radha. Tak selayaknya kusir kereta bermimpi menjadi raja. Lagipula saya tidak mungkin meninggalkan Suyudana. Seseorang yang sudah memberikan saya kedudukan. Seseorang yang membuat saya tidak lagi dilecehkan ketika anak-anak Dewi mencemooh saya.”

Ingin rasanya ia keluar dari bilik dan membujuk suaminya agar mau memberikan maaf kepada Dewi Kunti.

“Jika itu ketetapanmu Nak, berjanjilah pada Ibu untuk tidak membunuh adik-adikmu.” Dewi Kunti sudah terlihat putus asa.

Karna menghela napas, memainkan jarinya di meja.

“Anakmu ada lima, Ibu. Dan akan tetap ada lima selesai perang nanti. Saya tidak akan membunuh anak-anakmu kecuali Arjuna. Entah saya atau dia yang mati.”

“Bagaimana dengan Drupadi? Bukankah kau mengharapkannya lebih dari apa pun? Kau pun berhak mendapatkannya sebagaimana adik-adikmu.”

Licik. Batin Wrusali. Dan tentu saja perkataan Dewi Kunti yang terakhir membuat hatinya sakit. Namun ia masih menunggu dengan harap cemas.

“Pelacur itu? Tidak. Tidak. Saya pernah mengharapkannya, tetapi tidak lagi. Perempuan itu pernah menghina saya habis-habisan. Saya tidak akan merubah pendirian saya wahai Ibu. Sudah malam. Saya hendak istirahat. Ibu hendaknya juga segera istirahat. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan.”

Pembicaraan itu tidak akan menemui titik temu. Suaminya memihak Kurawa, yang artinya ia akan berhadapan dengan adik-adiknya sendiri. Namun hari pertama di medan perang, ia tersenyum. Karna pulang dengan wajah tertunduk lesu. Karna langsung menghambur ke dalam pelukannya dan mengelus kandungan istrinya. Bisma, senopati agung Kurawa tidak menghendaki anak kusir kereta seperti dirinya berada di medan perang. Ada rasa bahagia di dalam dadanya. Suaminya masih menjadi miliknya. Meski tidak dengan hatinya.

Rasa cemburu itu takkan bisa dilupakan dan dihilangkan. Ia membersamai suaminya ketika mereka hendak mengikuti sayembara di kerajaan Pancala. Ia tidak berada satu kereta dengan suaminya. Ia tahu kedudukannya. Ia tidak pernah ingin mempermalukan suaminya di depan umum. Ia memilih berada di barisan paling belakang dengan kereta tanpa hiasan sama sekali, meski pun ia adalah istri seorang Raja Angga. Ia yang meminta kepada suaminya untuk tidak menghias keretanya. Semula Karna ingin memintanya untuk satu kereta dengannya, tetapi ia menolak. Bukan tempatnya. Namun ia mengiringi suaminya dari belakang untuk memenangkan sayembara kerajaan itu.

Meski dari jauh, ia mampu melihat putri Raja Pancala yang memang memiliki kecantikannya sendiri. Ia menatap suaminya dari kejauhan. Baru kali itu ia melihat suaminya tak berkedip melihat seorang perempuan. Bahkan ia sangat iri dengan tatapan itu. Ia tidak pernah ditatap suaminya semacam itu. Matanya berkaca-kaca dengan menyimpan kecemburuan yang mendalam.

Satu per satu para raja dan putra mahkota maju dan mengangkat busur pusaka kerajaan Pancala. Namun belum ada yang berhasil. Mereka yang berhasil mengangkat busur, yang melebihi berat badan mereka sendiri, tidak ada yang bisa memanah mata anak ikan yang berputar-putar di udara dengan tepat. Mereka diharuskan menghadap ke arah kolam, sementara panah harus diarahkan ke arah anak ikan yang berputar di udara. Ada salah seorang dari mereka yang ambruk setelah berhasil mengangkat busur pusaka yang mengundang gelak tawa para raja. Hingga tiba giliran suaminya. Entah mengapa, dadanya ikut bergemuruh ketika nama suaminya dipanggil. Karna memberi hormat kepada semua yang hadir.

Semua mata terdiam. Dengan mudahnya ia mengangkat busur pusaka itu. Semua orang tercengang, bahkan sebagian ternganga tak percaya melihatnya. Karna memejam sebentar seperti membaca doa. Ia mengambil satu anak panah yang berada di samping busur pusaka. Ia arahkan anak panahnya ke langit, di mana mata ikan yang menjadi sasarannya berputar-putar di udara. Ia melihat ke bawah sebagaimana yang menjadi syarat dalam perhelatan sayembara itu. Dengan satu bidikan pasti, dan dengan satu lesatan anak panah, dia berhasil tepat mengenai sasaran. Beberapa raja terkesiap tak percaya. Suyudana dan teman-temannya bersorak kegirangan.

Namun ia tertunduk. Setelah Supriya, kini dia harus membiarkan suaminya membagi perhatian kepada Drupadi. Kepada Supriya, ia tidak pernah merasa cemburu. Sikap Karna terhadap Supriya justru lebih dingin dibandingkan terhadapnya. Tetapi perempuan yang duduk di atas paseban itu, telah membuatnya cemburu sejak ia tiba di sini. Ia merasakan tatapan suaminya sebagaimana tatapannya terhadap Karna sejak dulu. Sorot mata jatuh cinta.

“Aku tidak akan pernah menikah dengan anak seorang kusir kereta!” suara Drupadi menghentikan sorak sorai Suyudana, sekaligus mengejutkan semua yang hadir.

Karna menunduk. Ia meletakkan begitu saja busur yang membuatnya dibicarakan banyak orang di perhelatan itu. Ia turun dari gelanggang seperti seorang yang kalah. Suyudana hampir saja mengangkat senjata, tetapi Karna menggenggam tangan sahabatnya.

“Kita pulang,” kata Karna lemah. Ia menarik tangan Suyudana dan meredam amarah sahabatnya itu tanpa kata-kata. Suyudana pasrah. Mereka meninggalkan gelanggang. Dan tak lama setelah mereka menaiki kereta, mereka mendengar sorak sorai. Karna berhenti sejenak di atas kereta. Ia melihat di kejauhan seorang brahmana berhasil mengenai sasaran sebagaimana dirinya.

“Saudara semuanya, ini adalah Arjuna. Seorang ksatria, putra yang mulia Maharaja Pandu. Ia telah selamat dari peristiwa kebakaran di Waranawata.”

Wrusali tak mendengar lagi apa yang diucapkan oleh Krisna di gelanggang itu. Kereta mulai melaju. Peristiwa ini tentu akan lebih melukai hati suaminya. Karna pernah dibuat patah semangat ketika hari kelulusan Pandawa dan Kurawa di Sokalima.

Saat Arjuna memasuki gelanggang, Guru Durna mengatakan kepada semua yang hadir, Arjuna adalah pemanah terbaik di antara ksatria lainnya. Saat hendak menunjukkan kebolehannya, tiba-tiba datang seorang pemuda berbadan gelap memasuki gelanggang. Debu mengepul. Arjuna tak terpengaruh dengan kedatangan pemuda itu. Ia tetap memanah sasaran yang telah dipasang Guru Durna. Namun setiap kali Arjuna hendak mengenai sasaran, ada anak panah lain yang menepis panah Arjuna, yang justru mengenai sasaran. Begitu seterusnya. Dan pemuda berbadan gelap itu mengelilingi gelanggang Arjuna. Memanah dengan tepat sarung tempat Arjuna menaruh anak panahnya hingga anak panahnya berceceran di tanah. Tak puas dengan itu, pemuda itu, memanah dengan tepat busur di tangan Arjuna hingga busur itu juga terlepas dari tangannya, karena Arjuna tidak terlalu kuat menggenggam busurnya. Ia masih terlalu kaget dengan kehadiran lelaki misterius tidak diundang.

Pemuda itu melompat dari atas pelana ke arah gelanggang. Berdiri di samping Arjuna. Kemudian duduk menghaturkan sembah kepada Raja Destarastra.

“Mohon maaf atas kelancangan hamba. Hamba hendak menantang Arjuna untuk membuktikan siapa pemanah terbaik di antara para ksatria.” Pemuda itu masih menunduk.

Semua orang masih terheran-heran, masih bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. Hingga akhirnya Guru Krepa angkat bicara.

“Siapakah kau, Nak?”

“Nama hamba Karna.”

Belum lama peristiwa itu terjadi, Adhirata mendekat ke arah gelanggang. Seketika Karna turun gelanggang dan mendekati ayahnya tanpa ragu.

“Anakku! Anakku!”

Seketika semuanya tertawa.

“Ksatria hanya boleh bertanding dengan ksatria. Tidak layak seorang ksatria bertanding melawan anak seorang kusir kereta!” Arjuna dengan lantang berteriak menolak adu tanding memanah. Semuanya tertawa hingga tiba-tiba Suyudana ikut berdiri di atas gelanggang.

“Hendaknya kemampuan seseorang tidak dilihat dari kastanya. Siapa pun bisa menjadi ksatria. Bukankah nenek moyang kita adalah anak seorang nelayan?”

Semua orang diam menunggu apa yang akan dikatakan anak dari pemangku Hastinapura.

Suyudana menyembah Destarastra.

“Jika ksatria hanya boleh bertanding dengan ksatria, maka aku akan memberikan kerajaan Angga kepada Karna, yang kini menjadi sahabatku. Masihkah kau tidak mau bertanding layaknya ksatria wahai pengecut? Atau kau takut kalah? Kau malu ada seorang pemanah yang mampu menjatuhkan anak panah dan busurmu? Atau perlukah Karna menelanjangimu dengan anak-anak panahnya?” Suyudana tersenyum. Kali ini dia menang. Setelah di pertandingan sebelumnya dia hampir saja menjatuhkan Bima.

Namun Karna telanjur pergi. Ia telah pulang bersama ayahnya, Adhirata. Karna mengharap pengakuan Guru Durna, dan hinaan dari anak didik terkasihnya yang didapat. Wrusali melihat itu dengan geram. Tak selayaknya seorang pangeran menghina seseorang yang memiliki kemampuan yang lebih baik darinya, hanya karena ia anak seorang kusir. Ia tak suka melihat lelaki yang dicintainya dilukai.

Wrusali juga tak suka ketika mengatakan Drupadi seorang pelacur. Ia tahu, suaminya mengatakan demikian bukan untuk menghina putri dari Raja Pancala tersebut. Setelah sayembara itu, begitu Karna tahu seorang perempuan beristrikan lima orang, ia mengatainya pelacur. Seorang perempuan hanya boleh bersuamikan empat orang, itu yang sering dikatakan para brahmana. Tetapi Drupadi menikahi lima orang sekaligus. Hanya pelacur yang bisa melakukan demikian. Karna yang menyarankan kepada Sengkuni dan Suyudana dengan bisik-bisik agar Yudhistira mempertaruhkan istrinya ketika Pandawa tertua itu tidak memiliki apa-apa lagi. Demi mendapatkan kembali Indraprasta, mendapatkan kembali Hastinapura, dan yang terpenting mendapatkan kembali kemerdekaannya dan saudara-saudaranya, Yudhistira menyanggupi dengan mempertaruhkan istrinya.

“Lelaki bodoh,” umpat Karna, “lelaki macam apa yang mau mempertaruhkan istrinya di meja judi?”

Wrusali mendengar itu dengan sangat jelas. Karna menginginkan Drupadi lebih dari apa pun. Namun dia tahu, Karna tidak akan menikahi perempuan yang sudah telanjur menghinanya meski ia sangat menginginkannya.

Sebagaimana malam ketika Bisma gugur. Drupadi mendatangi perkemahan mereka dengan tangis berderai.

“Seandainya aku tahu sejak awal. Seandainya aku tahu kau adalah putra Dewi Kunti. Perang ini tak perlu terjadi. Aku tak perlu menjadi suami dari lima orang. Maukah kau menerima cinta yang datang terlambat ini wahai Karna? Kau berhak atas cintaku. Kau berhak atas hidupku karena kau adalah Pandawa tertua.”

“Putri, kau mengharapkan pengandaian yang takkan pernah kembali. Kalau saja kau tak menghinaku karena putra seorang kusir kereta. Seandainya kau mau menetapkan aku sebagai pemenang. Seandainya kau melihat kemampuan seseorang bukan dari golongan kastanya. Namun semua sudah terjadi putri. Aku mengharapkanmu dan masih. Tetapi tidak berarti harus bersama. Semoga di kehidupan selanjutnya, kita dipertemukan sebagai sepasang kekasih.” Karna bahkan tak mau melihat wajah Drupadi.

Dan Wrusali mendengar semuanya dengan jelas. Ada rasa sakit yang lebih menusuk. Dan ia tetap memilih diam. Sebagaimana suaminya yang tak pernah kurang memberinya perhatian sebagai seorang suami. Bukan sebagai seorang kekasih. Ia menggenggam jemarinya sendiri, seolah itu adalah jemari suaminya.

Hari kelima belas Karna mengamuk begitu mendengar semua anaknya gugur dalam pertempuran. Tanpa rasa takut ia meminta Prabu Salya memasuki arena pertempuran Pandawa dengan beberapa pasukan. Sepuluh anak panah, dilesakkan bersamaan, dan ia berhasil membunuh setiap prajurit yang ditemuinya. Setiap kali ada pedang, tombak, atau anak panah yang hendak mengenainya, Prabu Salya dengan lihai membelokkan kereta. Sementara Karna dengan membabi buta menyerang semua pasukan yang ditemuinya. Ia berhasil mengenai bagian yang tak terlindung dari musuh-musuhnya. Yudhistira, Bima, Nakula, dan Sadewa telah berhasil ia lumpuhkan. Bima berhasil ia buat pingsan dengan melesatkan anak panah yang tidak tumpul di bagian tengkuknya. Karna memanahnya berkali-kali hingga Pandawa terkuat itu tak berdaya. Sebagaimana janji yang ia ucapkan kepada ibunya di malam sebelum ia berangkat berperang, ia tak akan membunuh adik-adiknya.

Prabu Salya mengamuk.

“Dasar bodoh! Kenapa kau tidak menghabisi mereka selagi bisa?”

“Bukankah Bisma sudah mengatakan tidak boleh menyerang musuh yang sudah tak berdaya, yang tak bersenjata, dan lawan yang sudah menyerah? Juga tak boleh menyerang perempuan. Aku menghormati tata cara perang sebagaimana Suyudana tidak mencederai perjanjian perang ini.”

“Bukankah Bisma dibunuh karena Arjuna menjadikan Srikandi sebagai tameng? Bukankah Guru Durna dibunuh dengan kebohongan? Bukankah Lesmanakumara dibunuh selagi tak bersenjata? Kau mau menjadi sok bijak sementara lawan sedemikian curang?” Prabu Salya tak bisa menahan kegeramannya lagi.

“Itu mereka. Bukan kita. Aku adalah ksatria yang menjunjung tinggi nilai-nilai ksatria dan perjanjian peperangan.”

Prabu Salya hanya menanggapi dengan meludah ke tanah.

Karna melihat Arjuna yang berusaha berlari dari kejaran pasukan Kurawa, maka Karna menuding ke arah kereta Arjuna dengan Krisna yang menjadi sais kereta. Karna menunggu saat ini. Ia tidak menyesali telah melesatkan panah Kunta yang sebenarnya telah ia siapkan untuk membunuh Arjuna. Kemarin Gatotkaca begitu mengerikan. Ia mengamuk dan hampir saja menghampiri pertahanan terakhir Kurawa sebelum akhirnya Karna melesatkan panah itu tepat di pusarnya. Gatotkaca meregang nyawa. Dan ia melihat Krisna tersenyum. Rekan macam apa yang tersenyum melihat salah seorang dari anggotanya terbunuh?

Ia juga tak menyesali mengiris baju zirahnya kepada seorang brahmana tua. Ia sudah berjanji untuk memberikan apa saja kepada siapa pun yang meminta derma kepadanya. Dari brahmana itu pula ia memperolah senjata Kunta yang hanya bisa dipakai sekali saja.

Ia akan bertarung tanpa pelindung dan tanpa senjata mematikan itu. Lima belas anak panah ia bidik ke arah kereta Krisna. Tidak, ia tidak membidik Arjuna mau pun Krisna. Ia membidik roda-rodanya. Dalam sekali lesatan anak panah itu mengganjal roda Krisna yang melaju kencang dan membuatnya terguling. Sebagaimana yang ia lakukan di peristiwa kelulusan Pandawa dan Kurawa di Sokalima, Karna memanah tali yang menggantung di pundak Arjuna sehingga anak panah dari Pandawa ketiga itu tercecer. Ia membidik lagi. Jemari Arjuna. Meski mereka lari, Karna mampu membidik dengan tepat, sehingga busur Arjuna terlepas dari tangan. Karna tersenyum. Dua kali dia mempermalukan seseorang yang menghinanya bertahun-tahun silam. Arjuna dan Sri Krisna tak lagi bersenjata. Prabu Salya menarik tali kekangnya sehingga kereta mereka berhenti. Krisna dan Arjuna pasrah.

“Habisi dia selagi ada kesempatan!” hardik Prabu Salya.

“Aku seorang ksatria dan akan bertarung layaknya seorang ksatria.”

Krisna yang mendengar pertengkaran dua orang itu mencoba berbicara.

“Jika Tuan berkenan kami menaiki kereta kembali, dan membiarkan Arjuna mengambil busur dan anak-anak panahnya, maka kita akan bertarung selayaknya ksatria.”

Karna mengangguk tanda setuju. Krisna dan Arjuna membalikkan kereta mereka yang terguling dibantu beberapa pasukannya. Setelah mereka dalam kereta, tidak boleh seorang pun mencampuri pertempuran antara dua ksatria ini.

Krisna memacu kudanya. Begitu pun Prabu Salya, Karna belum lagi membidik anak panah, Arjuna sudah siap membidik dengan lima anak panah yang siap dilesatkan. Bukan Karna yang jadi sasaran tembakan. Namun Prabu Salya. Tidak adil batin Karna. Kereta Prabu Salya melaju tanpa arah karena dihujani anak panah tanpa henti.

“Kau teruskan sendiri pertarunganmu anak bodoh! Sudah kubilang habisi mereka selagi ada kesempatan!”

Prabu Salya melompat turun dari kereta membuat Karna kewalahan menghindari anak panah Arjuna. Kali ini ia sendirian. Tapi ia tidak menyerah, ia mengikat tali panahnya, ke pinggir tiang penyangga kereta. Ia memanah sesempatnya. Tetapi hanya tiga anak panah yang mampu ia lesatkan. Dengan arah bidikan sempurna, ia yakin Arjuna akan roboh dengan bidikannya kali ini. Kalau saja Krisna tidak membelokkan keretanya, Arjuna pasti tumbang oleh anak panahnya. Saat Karna sedang sibuk membidik, tanpa sengaja kudanya tersandung kaki gajah yang roboh, membuat ia terguling dan terjerembap. Krisna menarik tali kekangnya, membuat kereta berhenti. Karna berdiri. Sebagaimana yang ia lakukan terhadap Arjuna ketika tak berdaya, ia pun meminta hal yang sama.

“Tunggu aku membalikkan keretaku Arjuna.”

Karna berjalan mendekati keretanya, hendak mendirikannya kembali. Dibantu beberapa orang dari pasukannya. Tanpa disangka Krisna menarik tali kekangnya. Arjuna membidik. Semua orang yang hendak membantunya dipanah Arjuna satu per satu hingga tinggal Karna seorang.

Arjuna masih membidik. Karna yakin, Arjuna akan bersikap ksatria sebagaimana dirinya. Tidak akan membidik seseorang yang tidak bersenjata. Karna masih berusaha, untuk membalikkan keretanya. Ia masih ingat pernah menabrak sapi seorang brahmana, dan dikutuk keretanya terperosok di saat paling penting di dalam hidupnya. Dan ini adalah saat yang benar-benar genting.

Ia mencoba mengingat mantra penyelamat saat terdesak seperti saat ini. Beberapa kali sebelumnya ia pernah mencobanya dan berhasil. Saat ia kabur dari Parasurama karena dikira membodohinya. Parasurama mengutuknya, ia akan lupa terhadap semua yang diajarkan ketika menghadapi pertarungan antara hidup dan mati. Celakanya, Karna tidak mengingat sama sekali mantra yang pernah diajarkan Parasurama.

Anak panah Arjuna telah dilepaskan. Senopati Kurawa lagi-lagi tumbang setelah Bisma dan Durna. Krisna lagi-lagi menyunggingkan senyumnya. Panah itu menembus tenggorokannya, bahkan saat Karna belum lagi mendirikan kereta, dan sedang tidak memegang senjata.

Wrusali masih memandang suaminya. Berharap ia ada sedikit saja menempati perasaan Karna. Tidak pernah selama menikah, Karna memanggilnya dengan sebutan kekasih. Karna selalu memanggilnya dengan namanya. Wrusali. Karna tak henti-hentinya membicarakan Drupadi setelah peristiwa sayembara. Dan kini ia gugur, di tangan salah seorang suaminya.

Saat ia terlarut dalam tangisnya yang tak terbendung, seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh. Mengangkat wajah. Seketika ia murka. Ia meraung hendak menyerang orang yang menepuk bahunya. Namun beberapa orang segera memegangnya, khawatir kandungannya terganggu.

“Maafkan salah seorang dari suamiku. Tak selayaknya dia berbuat semacam itu.”

Wrusali hanya tertunduk. Ia lemas tak berdaya. Air matanya semakin menderas. Satu-satunya orang yang berusaha ia senangkan seumur hidupnya, tetapi tidak pernah bisa ia ambil perhatiannya.

Drupadi mendekat. Menggenggam jemari Wrusali.

“Anak dalam kandunganmu, kelak akan lebih hebat dari ayahnya.” Wrusali rebah dalam pelukan orang yang pernah diharapkan suaminya itu. Ia memejamkan mata. Begitu teduh. Ia membayangkan seandainya saat ini tubuh yang dipeluknya adalah tubuh suaminya. Dan seandainya ia pernah memeluk suaminya tanpa baju zirahnya.

Ciputat, 30 April 2021


Rumadi, lahir di Pati, 1990. Menulis cerpen. Saat ini aktif di Forum Lingkar Pena cabang Ciputat dan komunitas cerpen Prosatujuh.

Puisi

Puisi Setia Naka Andrian

Pada Sebuah Peta

peta ini

yang kau susun

dari sumber air mata

dalam belantara surga

di hati apimu

peta ini

yang kau ciptakan

dari tarikan napas batu

di hari minggu

yang kerap miring

selepas orang-orang lari

ke dinding taman kota

dan atap lima waktu

peta ini

yang mengajarimu

bagaimana melihat matahari jatuh

serupa nenek-nenek mencari

arah lari cucunya

yang membentang

ke dalam dan luar angkasa

peta ini

yang kau hidupkan

setiap kali mata angin menjauh

dan meninggalkan rahasia baru

peta ini

yang menjadi tersangka

pengirim resep masakan

menguning di meja makan

lalu kau bersama segelas cuka

menatapku

yang diam-diam ditimbun

dalam nada dering di dadamu

peta ini

yang menumbuhkanmu

menjadi sebuah tatanan hidup baru

di akhir pekan

yang menghitam itu

menandai kapan semua

akan segera pulang

kapan semua akan dihitung

dari seberapa jauh

dan pendeknya garis tujuan

Kendal, Januari 2021


Di Atas Batu

Di atas batu

Ada namamu

Di bawah batu

Ada garis melupakanmu

Aku sedang belajar

Menghitung pertumbuhan

daki

di dadamu

Dari suaramu

di atas batu

Sesungguhnya

aku tahu

Bagaimana hari itu,

Menjadi seperti sangat kecil

sekali

Entah, aku menganggap

tiada lagi cara terbaik

untuk dapat memahamimu

Bagaimana suatu saat nanti

Hari-hari menjadi batu

Menjadi segala rupa

yang tak pernah kita hitung

sebagai waktu

Kendal, Januari 2021


Ruang Tunggu

Di ruang tunggu

Kusaksikan kau duduk

Bersama sebutir peluru

Orang-orang naik tangga

Anak-anak kecil membeli

sebuah kaleng berisi harga

sebuah nyawa

Di ruang tunggu

Kau masih duduk

Sedangkan dari kejauhan

Sepasang kekasih saling lempar

cium tak keruan

Aku tak tahu,

Bagaimana kau tinggal

dengan sebutir peluru itu

Yang baru saja dikenang

Dalam sebuah upacara terakhir

menjelang kepulangan

Yang entah harus berangkat

ke mana

Meski pada saat itu

Aku tahu,

Kau meratapi segala

yang tumbuh dari matamu

Betapa yang menetes

Adalah peluru itu

Yang sesungguhnya

Akan menjadi siapa

Tak ada yang tahu

Kendal, Januari 2021


Berat Badan

Aku tak tahu

Kapan berat badan

berumur panjang

sepertimu

Aku tak tahu

Kapan kau tumbuh

dari cangkul

dan ular-ular berbisa

namun tak bernafsu

Aku tak tahu

Bagaimana kau

menciptakan kebaikan

dari sepasang mata

di punggungmu

yang di situ, ada aku

sendirian

Mengunci

Dalam berat badanmu

Kendal, Januari 2021


Layar Komputer

Sebuah layar komputer

terbuka lebar

Puisi-puisi berserakan

Memandangi dinding

halaman koran minggu

Aku mendapatimu

diam-diam

di antara jaringan internet

putus

dan suara pukulan huruf

bersahutan

dengan detak jam dinding

di sebelah kamar

Aku bilang, duduklah

sebentar

Istirahatlah dengan tenang

Tapi kau bilang,

itu candaan picisan

Tak pernah diikuti

oleh siapa pun

yang kerap memburu

perjalanan

Apalagi, bagi mereka

yang mengungsi saat hujan

tumbuh dalam kerongkongan

yang lapar

Aku yakin, kau masih

punya banyak pikiran

Bagaimana hutan menjadi bunyi

keterlambatan

Yang melambaikan alarm

Setiap kali tuhan datang

Mengguyur jari-jari tanganmu

dengan senyum lebar

Sebuah layar komputer

terbuka lebar

Kau duduk bergandengan

dengan kata-kata

yang sebentar lewat

sebentar menunggu dijatuhkan

Dan aku, kian tak tahu

Harus ke mana lagi mengejarmu

Sedangkan kau

sepertinya sudah asyik

Menjadi layar kehidupan;

juga kematian

yang tak pernah

dihuni banyak orang

Kendal, Januari 2021


Sebuah Pabrik

Sebuah pabrik

dan permasalahan baru

Korek api

dan ke mana perginya ibumu

Kandang ayam

dan pasokan gizi

bagi balita yang tinggal

seorang diri

Sebuah pabrik

dan antrian panjang

Menempati urutan kesekian

di pengadilan

Palu diketuk pelan

selepas burung-burung masuk

di ruang sidang

Sebuah pabrik

Narasi buntu dan seribu payung

mengadili kehadiranmu

Cuaca buruk dan makan malam

yang timbul-tenggelam

selepas mertuamu mengganti warna

gincu

Sebuah pabrik

Ditanam dalam arloji plastik

di punggung seorang ibu

Dijuallah pertanyaan,

kapan jadwal terbaik

untuk minum susu

dan menggoda tetangga baru

Sebuah pabrik

Dalam kolam ikan

Kapan menjadi koloni baru

Yang dipaksa masuk

di abad paling lampau

yang katanya sudah kian

ditinggalkan itu

Sebuah pabrik

Mencari tahu

Kapan dirimu

dan aku

Menjadi serupa mesin

Yang lebih merdeka

dari sebuah pintu

Biar dibanting-banting

dan digedor itu

Namun tetap saja,

ia menutupi

segala kesalahan

dan kegagalan

Darimu

dan dari aku

Kendal, Januari 2021


Beternak

Beternaklah di kakimu

Yang jauh-jauh hari dikirim

dari semesta kirimu

Beternaklah menjauh dariku

Agar suatu saat

Ada kabar yang menyusup

Lewat telingaku yang buntu

Beternaklah mendekati

mautku

Jika memang hari depan

akan tumbuh

Bersama sekian ucap

yang dipilih seorang diri itu

Beternaklah mencapai puncakku

Di sebuah napas

Dalam nafsuku yang masih itu-itu

Kendal, Januari 2021


Dua Kali Sehari

Sehari, dua kali sehari

Mamamu pulang

Menjemputmu dari kejauhan

Sehari, dua kali sehari

Papamu bilang jangan sampai

telat makan

Sehari, dua kali sehari

Cuaca berhenti di tikungan

tubuhmu

Yang saat itu masih lugu

dan berwarna ungu

Sehari, dua kali sehari

Kau memandangi nenekmu

Ia makin kuat

menjadi lampu-lampu

Sehari, dua kali sehari

Aku memanggilmu

Sebab bagaimana lagi,

kamarmu hitam

Berisi alpukat busuk

dan gambar-gambar rindu

yang kuyu

Sehari, dua kali sehari

Pacarmu naik tangga

Menuju kamarmu

Sehari, dua kali sehari

Ia menginap di situ,

pada sebuah rumah

Yang sama sekali

Tak pernah mempertemukanku

Dengan dirimu

Sehari, dua kali sehari

Hanya pacarmu saja,

yang sampai masuk

Sangat dalam

;dalam sekali

Lalu di sana, ia menggantung diri

Katanya,

hanya karena demi aku.

Kendal, Januari 2021


Tarik Napas Panjang

Tarik napaslah panjang-panjang

Baru dua hari selepas itu

Pagar tertutup,

Setiap kali sore mengunci

pintumu

Rapat-rapat dalam tidurmu

Tarik napaslah panjang-panjang

Sebab ke mana lagi,

angin akan berterus-terang

membawamu

Jika memang sungguh,

pergi bukan lagi menjadi jauh

Yang meninggalkanmu

Tarik napaslah panjang-panjang

Di sana sedang didirikan

rumahmu

Sebuah perjumpaan

yang sering mampir

dalam setiap hujan

yang turun

di atas bantalmu itu

Tarik napaslah panjang-panjang

Dengan caramu yang paling sepi

Kemudian tataplah aku,

Jika memang ini waktu

yang tepat untuk pulang

Pergi sendiri,

tanpa meninggalkanmu

Kendal, Januari 2021


Seekor Kucing

Seekor kucing

Menatapmu dari depan

pintu sebuah kamar

Suaranya melengking

Menjadi sebuah nada panggilan

Berbunyilah sebentar

Meski tak sedikit

yang perlu ditawarkan

Kucing itu masih menatapmu

Ia sendirian berdiri

Di antara kaki orang-orang

Yang sedang berebut berlarian

Meninggalkan doa perjamuan

Kipas angin masih berputar

di sudut ruang paling kanan

Kau memanggilku

Dengan suaramu yang riang

tanpa nada getar

Dan di ponselmu

Aku menyanyikan sebuah lagu

Kemudian seekor kucing itu

Mencakar mulutku

Dan kau memanggilku berkali-kali

Aku pura-pura tak tahu

Yang ternyata kian dalam

Kau menghancurkan suaraku

;apalagi perasaanku

Kendal, Januari 2021


Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kendal. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisi terbarunya Mendaki Dingin (Pelataran Sastra Kaliwungu, 2020). Buku puisinya Kota yang Mukim di Kamar-Kamar (Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019) memperoleh Nomine Antologi Puisi Terbaik Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Bisa disapa di [email protected]