Cerpen

Mengarang Cita-Cita

Cerpen Ian Hasan

Tak ada seorang pun yang pernah mengajariku perihal bagaimana sebaiknya seseorang bercita-cita. Atau setidaknya, seingatku belum ada pula orang yang pernah memberiku sedikit penjelasan mengapa cita-cita menjadi begitu penting seperti halnya nama.

Bertahun-tahun aku mengarang cita-cita sejak pertama kali ditanya tentang hal itu, sekadar memungutnya dari siaran drama radio, selebaran film bioskop, atau bungkus pao-pao[1] bergambar superhero. Dan nyaris tak ada satupun dari cita-cita yang pernah kusebut—karena sejujurnya tak ada cita-cita yang menurutku abadi—telah aku pertimbangkan betul dalam memilihnya kecuali satu, cita-cita menjadi dukun.

Sekali waktu pernah aku nyatakan cita-citaku menjadi dukun itu saat pelajaran berlangsung di sekolah, karena guru menanyakannya. Sudah bisa kutebak, kebanyakan teman-temanku menyebutkan cita-cita menjadi dokter, tentara, polisi, atau insinyur. Tapi aneh, jawabanku malah jadi bahan tertawaan teman-teman sekelas dan juga guru. Sampai di rumah aku masih menyimpan tanda tanya besar, apa sebetulnya maksud orang menanyakan cita-cita kalau hanya dijadikan bahan olok-olok seperti itu. Aku makin tak habis pikir ketika dua hari berikutnya ibu marah besar setelah mendengar pengakuan dari guru, saat ia—tidak seperti biasa—menjemputku ke sekolah.

“Katakan, siapa yang ngajarin Jalu bilang kayak gitu!” bentaknya, setiba kami di rumah.

“Jalu tahu, dukun itu apa?” tambahnya dengan wajah memerah.

Maksud ibu mungkin bertanya, tapi aku tahu saat itu bukan waktu yang tepat untuk menanggapinya. Kurelakan daun telingaku, dua-duanya jadi korban, bergantian dijewer tangan yang biasanya lembut dan penuh kasih sayang. Ada rasa sakit yang susah hilang, tapi bukan di situ tempatnya. Aku hanya terdiam dan hampir menangis—atau sudah, aku tak ingat betul. Seketika aku merasa amat bersalah karena telah berkata jujur sehingga membuat malu keluarga, terutama ibu yang kutahu sangat kecewa.

Aku lihat perubahan wajah dan sikap ibu sejak saat itu, seakan menular ke semua anggota keluarga. Berhari-hari aku tak diajak bicara, seakan mereka begitu menyesalkan cita-cita yang telanjur kukatakan sebenarnya.

***

Ingatanku tentang kemarau yang sedang menggila, sama saja dengan ingatanku tentang kegigihan kakek meladang. Aku tahu, kakek saban hari bekerja di ladang, tanpa pernah sekali saja menunjukkan kerisauan perihal kesulitan yang dihadapinya. Selain tentang pekerjaannya sebagai petani, sering pula aku perhatikan kebiasaan kakek menolong orang lain tanpa pamrih, sekalipun ia sendiri terkadang tidak sedang baik-baik saja. Mungkin karena itu, setiap warga desa dan kebanyakan orang Jatikuwung mengenal kakek. Tidak sedikit dari mereka yang pernah mendapatkan pertolongan kakek, mulai dari mengobati orang sakit, meredakan rewel bayi atau anak kecil, menentukan titik galian sumur, menanyakan hari baik—untuk mulai tanam, bangun rumah, hingga menikahkan anak, serta mengusir dan melindungi rumah dari gangguan makhluk halus. Bahkan sudah dua pekan ini ada orang yang tiap hari mengambil jatah makan siang untuk warga yang gugur gunung membuat jembatan.

Terkait kesibukannya itu, kakek tak pernah mengeluh dan selalu siap kapan pun dibutuhkan, asalkan bisa atau memang sedang berada di rumah. Orang datang juga tak kenal waktu sekalipun kakek sedang beristirahat, bisa tengah malam atau dini hari sebelum subuh.

“Kakek hanya tak ingin, kehampaan yang mereka bawa pulang,” begitu jawabnya ketika kutanya.

Bila kakek sedang pergi ke ladang atau mengajar ngaji di langgar depan rumah, biasanya orang-orang itu rela menunggu. Karena sudah pasti kakek hanya mau melayani permintaan mereka setelah menyelesaikan pekerjaannya itu. Sebetulnya aku juga tidak terlalu yakin dengan menyebut semua itu pekerjaan. Yang aku tahu, kakek hampir-hampir tak pernah mengecewakan orang-orang yang datang. Buktinya, mereka akan selalu kembali di waktu yang lain saat membutuhkan pertolongan lagi.

“Kakeknya Mas Jalu itu dukun sakti,” terang salah satu dari mereka, ketika saking penasarannya aku bertanya-tanya perihal pekerjaan kakek.

Semenjak itulah aku mendengar sebutan dukun, meski tak pernah kuketahui sejak kapan kakekku memulai pekerjaan menolong orang itu. Yang jelas sekarang, orang yang kali pertama datang untuk menemui kakekku tak mungkin tersesat bila mereka mau bertanya ke orang-orang yang ditemuinya di jalan. Aku pun tak jarang berjumpa dengan orang yang sedang mencari rumah kakek dan tentu saja—bila tidak sedang tak ada hal mendesak—aku akan langsung mengantar mereka sampai di depan rumah. Seperti halnya sore itu, ketika seorang laki-laki muda bersepeda motor menghentikan langkahku bersama teman-teman menuju lapangan desa. Ia bertanya setelah mematikan mesinnya.

“Kalian tahu rumah orang pintar di dekat sini?”

“Orang pintar?” tanyaku heran.

“Du… du… dukun, maksud saya,” timpalnya dengan terbata-bata.

Owalah, kalau itu tahu. Mari saya antar,” sambil kuberi isyarat kepada teman-teman untuk duluan.

“Maaf, bukan sekarang, karena saya masih ada keperluan lain.”

Sementara itu teman-temanku bergegas lari ke lapangan.

“Oh, ya sudah.”

Hampir saja aku beranjak lari menyusul teman-teman, “Boleh adik tunjukkan dulu tempatnya?” tanya lelaki itu sembari menatapku tajam.

“Itu sebelum perempatan, yang ada langgarnya.” Kutunjukkan arah menuju rumah kakek.

Lelaki itu mengangguk beberapa kali dan sejenak terlihat sedang berpikir. Lalu setelah mengucapkan terima kasih, ia malah pergi. Segera saja debu beterbangan dan asap dari knalpot menutupi pandangan. Kau pasti bisa mengerti, mengapa aku tak perlu menanyakan kapan waktunya kelak ia akan datang, seperti halnya tak perlu kita menduga-duga kepastian datangnya hujan saat kemarau panjang. Dan andai saja kakekku tahu perihal perjumpaanku dengan lelaki itu, tentu ia juga berharap kesulitan orang itu sudah bisa teratasi sebelum akhirnya benar-benar datang kembali untuk meminta tolong.

Keesokan harinya guruku memberikan pelajaran tentang macam-macam profesi. Aku baru tahu bahwa kelak jika dewasa seseorang akan bekerja sesuai profesinya. Guruku juga menambahkan, setiap pekerjaan yang bermanfaat buat banyak orang, sama baiknya untuk dijadikan profesi. Sayangnya, guru tidak menyebut profesi seperti yang dikerjakan kakek, kecuali petani tentu saja. Meski begitu aku tetap merasa bangga dengan pekerjaan kakek yang terbukti melegakan kepayahan banyak orang.

***

Mendung sejak sore tadi seolah menandakan kemarau panjang akan segera berakhir. Tidak ada tanda-tanda bahwa malam itu akan terjadi sesuatu yang kelak akan terus kuingat sampai aku dewasa. Malam sudah larut dan aku masih sempat melihat kakek sedang melayani seseorang di ruang depan, yang biasanya akan berlangsung lama. Melihat itu aku merasa tak perlu lagi memedulikan olok-olok guru dan teman-teman tempo hari sebelumnya. Siaran wayang kulit di radio membuai rasa kantukku hingga tertidur, tenggelam bersama kisah pertarungan ksatria Pandawa melawan kejahatan dan kelicikan.

Aku terbangun saat mendengar suara gaduh di depan, mengalahkan suara kemresek radio yang telah berhenti siaran. Karena merasakan sesuatu sedang tidak baik, aku segera meloncat dari amben. Mengetahui kemunculanku di ruangan depan, nenek segera menangkap serta membenamkan tubuh kecilku ke dalam dekapannya. Sempat tubuhku meronta dan entah mengapa aku pun meraung-raung, tanganku menggapai-gapai, saat melihat kepanikan di sana-sini.

Malam begitu pekat sehingga tak dapat kupastikan apa yang terjadi sebenarnya. Tak kulihat ibu, mungkin sedang bersama adik. Tubuh bapak tergeletak di depan pintu, babak bundas seperti baru saja dikeroyok dan dipukuli orang. Agak jauh dekat jalan, terlihat bayangan orang-orang berpakaian dan bertopeng hitam, sedang menghajar seonggok tubuh yang kuduga kakek. Suara petir menggelegar dan sebentar kemudian hujan benar-benar turun membungkam sunyi yang bercampur isak tangis, setelah orang-orang itu pergi membawa kakek.

Semenjak kejadian itu, aku tak pernah berjumpa kakek dan tak mau bertindak konyol hingga membuat ibu marah lagi. Tak ada orang lain—kecuali teman-temanku—yang tahu perihal pertemuanku dengan orang asing di dekat lapangan, termasuk ibu. Aku sekarang takut bercita-cita dan berharap tak ada lagi yang bertanya, karena aku tak ingin terpaksa mengarangnya. Kelak baru kutahu, ada masa di mana pekerjaan menolong orang dianggap berbahaya. ***


Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022.


[1] Istilah lokal yang berarti makanan kecil untuk anak-anak

Cerpen

Perempuan yang Berencana Mati Hari Ini

Cerpen Tiqom Tarra

Aku sedang bersiap dengan alat pancingku ketika melihat perempuan itu duduk sendirian di antara bebatuan karang agak menjauh dari dermaga. Aku tak berniat mengganggunya atau pun mengusik kegiatannya. Tempat ini adalah tempat di mana aku biasa menghabiskan waktu dengan memancing dan perempuan itu bebas berada di sana karena ini adalah tempat umum bagi siapa saja. Namun, ketika perempuan itu mulai terisak—bercampur dengan deru ombak sehingga aku tidak begitu menyadari sebelumnya—aku mulai menoleh padanya. Ada apa? Kenapa perempuan itu tiba-tiba menangis? Aku menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada siapa pun selain kami berdua di tempat ini. Orang-orang lebih memilih dermaga untuk memancing. Dan aku tak yakin apakah aku harus menanyakan keadaan perempuan itu dalam situasi seperti ini.

Tentu itu sebetulnya bukan urusanku. Setiap orang punya urusannya sendiri-sendiri di tempat ini, seperti aku yang hanya ingin memancing sebagai hobiku untuk mengisi waktu luang di sore hari. Ketika aku mulai melempar umpanku yang pertama kali, isakan dari perempuan itu semakin terdengar seolah dia ingin aku bertanya ada apa; seolah ingin aku memperhatikannya.

Ah, itu bukan urusanku, begitu kuyakinkan diri. Namun, ketika melihat wajahnya yang sembab dan air mata yang menderas, aku teringat pada mendiang anak perempuanku; hatiku luluh. Anggaplah perempuan itu memang sedang butuh kawan sekarang. Kutarik pancingku sebelum melangkah pada perempuan itu.

“Kau juga suka melihat ombak di sore hari?” tanyaku membuatnya tersentak seolah sedari tadi dia tidak menyadari keberadaanku, padahal dia yang menarik perhatianku dengan isakannya.

Perempuan itu tak menjawab. Dia hanya menyeka ingus dan air matanya dengan ujung lengan sweter sebelum kembali terisak dengan gigil di tubuhnya. Anak perempuanku pasti seumuran dengannya jika masih hidup. Dulu aku terbiasa menghadapi anak perempuanku jika tengah merajuk atau pun bersedih.

“Kau bisa bercerita apa saja pada ombak. Dia pintar menjaga rahasia.”

“Itu bukan urusanmu, Pak Tua!”

Aku terkekeh mendengarnya. Pak tua. Ya, itu memang panggilan yang pantas untukku karena uban yang begitu lebat di kepala. Aku duduk beberapa langkah darinya sembari memakai topi kesayanganku untuk menutupi uban yang sudah keburu ketahuan oleh perempuan itu.

“Enam puluh lima tahun memang sudah cukup tua untuk hidup di dunia ini. Mungkin sebentar lagi aku akan selesai.”

Perempuan itu tidak lagi bersuara. Kebisuan hadir di antara kami. Mungkin harusnya aku membiarkannya sendiri, tapi lagi-lagi aku teringat mendiang Mei, anak perempuanku. Angin pantai yang begitu kuat nyaris menerbangkan topiku. Beberapa tahun yang lalu, aku dan Mei sering menghabiskan waktu di sini. Aku memancing, sedangkan dia hanya duduk memperhatikanku sambil bercerita tentang sekolahnya, tentang teman-temannya dan ketika aku berhasil menangkap seekor ikan maka Mei akan berjingkrak dengan riang seolah itu adalah ikan yang akan menjadi makan malam yang paling dia nantikan.

Aku tersenyum mengingatnya. Andai Mei masih hidup. Mendadak hatiku diserang lara.

“Aku berencana untuk mati hari ini.” Perempuan itu tiba-tiba bersuara, mengaburkan ingatanku tentang Mei.

Kembali angin menderu dengan kencang, kali ini menerbangkan helaian rambut panjang perempuan itu. Dia tidak menghiraukan rambut panjangnya yang terbawa angin, sedangkan aku masih terpaku di tempatku; kehilangan kata-kata. Berencana untuk mati? Maksudnya bunuh diri? Itu kata-kata yang asing, tetapi juga sangat familier bagiku.

“Pasti akan lebih baik bagi keluargaku jika aku mati, bukan?” Kali ini perempuan itu menoleh padaku. Bibirnya membentuk senyum yang dipaksa, sedangkan matanya merah karena terus dipaksa mengeluarkan air mata.

“Tidak ada yang baik dalam sebuah kematian, apalagi yang direncana.” Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutku. Andai saja bisa aku ingin mengatakan kata-kata itu pula pada Mei.

“Aku tidak tahu bagaimana menghadapi dunia dengan keadaanku sekarang.”

“Apa kau punya teman?”

“Bahkan teman yang paling karib pun pergi meninggalkanku.”

“Tapi keluarga tidak akan pergi meninggalkanmu.”

Perempuan itu kembali terisak. Kali ini dia memeluk kedua lutut untuk menenggelamkan kepalanya, membuatku tidak lagi bisa melihat wajahnya yang ayu.

“Aku tidak kuat lagi menghadapi semua ini.” isaknya begitu pilu.

Angin kembali menyeret-nyeret ingatanku tentang Mei. Belasan tahun lalu menjadi hari paling memilukan dalam hidupku. Aku mendapat sebuah telepon, deringnya terasa begitu aneh bagiku, padahal setiap hari aku mendengar dering yang sama setiap kali mendapat panggilan telepon. Namun, hari itu ada yang aneh dengan deringnya. Dan ketika aku mengangkat telepon itu, suara di ujung sana mengatakan anak perempuanku ada di rumah sakit, kecelakaan katanya. Tidak, kau bohong, begitu kataku. Ketika aku sampai di rumah sakit, aku bahkan tidak bisa mengenali putri semata wayangku.

Sehari kemudian Mei dimakamkan dengan semua air mata yang keluarga kami punya. Putriku satu-satunya, orang yang paling aku sayang di dunia ini pergi meninggalkan kami. Istriku pingsan beberapa kali dan aku tidak tahu harus bagaimana menggambarkan kesedihanku. Rasanya kebahagiaan telah dicabut dari keluargaku. Mentari keluargaku telah pergi untuk selamanya. Setelahnya hanya ada kemuraman di rumah kami, meski kemudian aku dan istri bisa kembali menata kehidupan. Kami bangkit dari kesedihan, walaupun aku tidak pernah bercerita pada istriku tentang pesan terakhir yang Mei kirim padaku. Sebuah permohonan maaf dan ucapan selamat tinggal yang tidak bisa aku pahami maksudnya.

“Aku telah mengucapkan selamat tinggal pada ayah ibuku hari ini.” Perempuan itu telah menegakkan kembali tubuhnya. Matanya menatap jauh pada lautan yang luas di depan sana. Rambutnya yang panjang kini dia ikat menjadi satu; menampakkan lehernya yang jenjang.

Kapal-kapal kecil penangkap ikan mulai melaut dan menjauh dari pandangan; semakin jauh dan semakin kecil. Aku ingat impianku bersama Mei, kami ingin naik kapal pesiar suatu hari nanti. Sebuah kapal yang amat besar dengan fasilitas seperti hotel bintang lima, begitu katanya. Namun, yang terjadi Mei menaiki kapalnya sendiri dan meninggalkan kami dengan sebuah permohonan maaf dan selamat tinggal yang ganjil.

Apa yang terjadi pada Mei? Apa yang membuatnya menyerah pada hidupnya yang masih panjang. Aku ingat sehari sebelumnya dia bercerita tentang impian untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Mei ingin membuat Ayah bangga, begitu katanya. Aku masih tidak mengerti, bagaimanapun aku memikirkannya.

“Tapi itu bukan selamat tinggal seperti yang dibayangkan orangtuamu.” Kali ini aku mendebat. Bagaimana pun perempuan ini telah mengatakan rencananya untuk mati hari ini dan aku tidak bisa membiarkannya. Setidaknya jika aku tidak bisa menyelamatkan Mei, aku bisa menyelamatkan perempuan ini.

“Mereka bahkan tidak akan memusingkan tentang kematianku.” Kali ini perempuan itu membiarkanku melihat wajah yang sembap. Kepiluan yang menyanyat-nyayat hati. Rasa putus asa yang sudah tidak lagi berujung. Dan di sana hanya ada kegelapan.

Di awal-awal tahun kepergian Mei, aku memikirkan dengan keras apa alasannya meninggalkan kami. Apa yang tengah dialami seorang Mei dan tidak pernah dia ceritakan padaku atau pun ibunya, sedangkan sejak kecil tidak pernah ada satu cerita pun yang luput dia cerita pada kami. Apa yang Mei rahasiakan? Apa yang membuatnya nekat melompat ke rel tepat ketika kereta itu datang. Aku sama sekali tidak punya petunjuk.

“Apa yang terjadi?” desisku memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada putriku. Pertanyaan yang selama ini hanya sampai pada angan-anganku karena aku tidak mau membuat istriku sedih dengan memikirkan kematian putri kami.

“Suara-suara dalam kepalaku begitu gaduh dan tidak ada lagi tempat yang bisa aku tuju, Pak Tua. Aku takut sendirian, tapi nyatanya aku memang sendirian.”

Mungkin perempuan ini memang tidak lagi punya alasan untuk hidupnya; entah sekadar sebuah alasan kecil untuk melanjutkan hidup seperti keluarga. Akan tetapi, Mei adalah seorang anak yang aku besarkan dalam kehangatan keluarga. Semua kasih sayang tercurah hanya untuknya. Mei dan perempuan di sampingku ini jelas berbeda.

“Kau bisa bercerita apa pun padaku,” terdengar seperti sebuah gombalan laki-laki hidung belang.

Perempuan itu hanya tersenyum sayu. Anak-anak rambutnya beterbangan menyapu wajahnya.

“Bisakah kau bertahan sebentar lagi, setidaknya untuk hal-hal kecil seperti aku menunggu ikan memakan kailku?”

Hening. Baik aku maupun perempuan itu hanya larut pada pikiran masing-masing. Kami diam memandang senja yang semakin turun hingga hari mulai menjadi gelap tanpa kami rasa.

“Bukankah putrimu juga meninggalkanmu, Pak Tua?”

Aku tidak tahu bagaimana perempuan itu tahu tentang putriku. Aku masih tergagap hendak bertanya ketika perempuan itu berdiri, bersiap untuk pergi.

“Aku tidak ingin mati di hadapan orang yang mendengar kisahku. Aku akan tetap mati hari ini seperti yang telah aku rencanakan.” Perempuan itu mulai melangkah. Ujung sweternya berkibar tertiup angin yang kencang menampilkan perutnya yang membuncit. Itu sekitar lima atau enam bulan, bukan? Aku tahu karena dulu aku selalu memperhatikan kehamilan istriku.

“Tunggu, siapa namamu?”

“Mei. Namaku Mei.”***


Tiqom Tarra, lahir dan besar di Pekalongan. Kini tinggal di Jembrana, Bali. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di pelbagai media. Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (2018).

Cerpen

Monolog Guru Rahwana

Cerpen Era Ari Astanto

Jika di luar sana kau mendengar kabar tentang Shinta yang tidak terbakar api suci, itu atas peranku meski tidak ada yang tahu tentang ini. Aku tidak berminat orang mengetahuinya, itu semata-mata untuk menyelamatkan Rahwana dari syak wasangka yang terlalu buruk dari orang-orang yang tidak tahu kejadian sebenarnya. Dan tentu saja karena tidak bisa menyelamatkan hidupnya dan kerajaannya dari amukan Rama dan bala tentaranya.

Rahwana itu satu-satunya muridku. Dan aku tahu, aku bukanlah gurunya satu-satunya. Jadi, wajar jika dia memiliki kemampuan kanuragan dan kadigdayaan yang luar biasa. Pengetahuannya tentang tata negara pun luar biasa. Meskipun dia bengal dan kejam, perjuangannya untuk menyejahterakan rakyat Praja Alengka tak terbantahkan. Rakyat Alengka mengelu-elukannya sebagai raja yang agung dan sangat peduli dengan rakyat. Bukankah dulu kau pernah menjelajah seluruh wilayah Alengka, apakah kau melihat ada jalan-jalan kecil di desa-desa pelosok yang berlubang atau bergelombang yang jika dilalui kereta akan membuat gujlak-gujlak? Apakah kau melihat ada rakyat yang memulung sampah untuk bertahan hidup? Apakah kau mendengar ada rakyat yang mengeluh soal harga sembako atau kesulitan soal biaya sehari-hari? Bukankah setiap kali kau mampir di warung yang kau dengar dari pengunjung adalah kebanggaan mereka terhadap Rahwana? Kau tidak perlu menjawab, aku sudah tahu apa yang akan kau katakan.

Sekali lagi, Rahwana itu memang kejam dan bengal, tapi bukan kepada rakyatnya. Dia hanya akan kejam terhadap orang yang melanggar perintah dan peraturan kerajaan. Atau terhadap kerajaan lain yang menjadi rekan bisnisnya: jika terendus melanggar perjanjian atau berusaha mengusik ekonomi rakyatnya maka dia tidak akan segan mencaplok kerajaan itu menjadi wilayahnya atau menjadi ladang permainannya.

Tetapi, Rahwana itu manusia biasa dan lelaki yang memiliki hasrat yang tinggi terhadap perempuan. Meski begitu, dia selalu menikahi perempuan-perempuan itu dan memenuhi semua kebutuhan mereka. Dari sekian banyak wanita yang dijadikannya sebagai istri, tidak ada satupun dari mereka yang telantar. Karena itulah aku membiarkannya mencari wanita sebanyak apa pun yang dia mau. Namun aku tahu, hanya ada satu wanita di hatinya: Dewi Mandodari.

Sayangnya Dewi Mandodari telah mati, sejak itulah dia berburu perempuan untuk menggantikan Dewi Mandodari di hatinya. Perempuan mana pun yang memiliki kemiripan dengan istri tercintanya itu akan dia dekati dan nikahi dengan cara apa pun. Jika perempuan itu adalah rakyatnya sendiri dan sudah bersuami, dia akan memintanya dari suaminya. Sejauh ini tidak ada suami yang menolak permintaan Rahwana, pun perempuan tersebut. Karena memang Rahwana memberinya ganti yang layak: kepada suami tersebut akan dibiarkan memilih salah satu istri Rahwana dan masih diberi harta, kepada keluarga wanita akan diberi harta. Namun, jika perempuan itu dari kerajaan lain, dia tidak segan merampasnya–inilah sifat Rahwana yang aku sedihkan karena menjadi malapetaka baginya dan Alengka.

Ya, seperti yang telah kalian dengar, Rahwana memang menculik Dewi Shinta ketika Rama dan Laksmana pergi mengejar kijang jelmaan Marica, anak buah Rahwana. Bukan takut menghadapi Rama dan Laksamana, tapi inilah kecerdikan Rahwana. Bahkan dia tidak mau atau tidak bisa menjebol pagar gaib yang dibuat Laksamana ketika hendak menyusul Rama atas permintaan Shinta. Ini pun bentuk kecerdikannya lagi. Dan dengan kecerdikannya memanfaatkan sifat dasar perempuan, dia berhasil membawa Shinta ke Alengka setelah sempat bertarung dan mengalahkan Jatayu.

Biar bagaimana pun, perampasan tetaplah perampasan dan aku tidak menyukai yang telah dilakukan Rahwana terhadap Shinta. Namun, aku masih menaruh bangga terhadapnya. Meskipun dia bisa melakukan apa pun kepada Shinta, tapi dia tidak berbuat terlalu jauh terhadapanya. Kurasa wajar jika Rahwana sampai menyentuh sebagian tubuh Shinta yang memang mirip dengan Dewi Mandodari. Wajar pula jika dia tergila-gila sehingga mengaku dan meyakini bahwa Shinta merupakan titisan mendiang istrinya itu. Namun, aku tidak mau merestuinya menikahi Shinta karena aku melihat badai akan menghancurkan Alengka jika sampai dia menikahi Shinta atau membiarkannya tinggal di Alengka.

Aku mengenal Rama dan Laksamana, meskipun dia hanyalah pangeran yang terusir, tapi cepat atau lambat dia pasti bisa menggalang kekuatan yang mampu menghancurkan Alengka. Sederhana, terusirnya Rama dari Ayodya adalah hinaan baginya dan dia tidak ingin terhina lebih jauh lagi dengan membiarkan istrinya diculik. Pun dia akan sangat malu kepada mertuanya, Prabu Janaka, karena tidak bisa menjaga seorang wanita yang bahkan sudah diseretnya ke dalam penderitaan di hutan belantara. Rama itu memiliki kemampuan sebagai koordinator dan orator yang teramat baik. Jadi bukan tidak mungkin dia mampu meyakinkan banyak pihak untuk mendukungnya merebut kembali Shinta.

“Itu tidak akan terjadi, Bapa Guru. Alengka tak terkalahkan. Sepuluh Ayodya pun tak akan mampu menandingi Alengka.”

“Ya. Aku percaya itu. Tapi, Ngger, Rahwana, meski kau keturunan resi sakti keturunan dewa kau masih manusia yang dilekati rasa sakit, lupa, dan nasib apes. Kecerdasanmu ada kalanya lenyap begitu saja karena sifat lupa yang datang tiba-tiba. Kesaktianmu akan ada kalanya tak berguna karena nasib apes yang sudah waktunya menghampirimu.”

“Tapi, tak ada yang tahu kelemahanku, Guru. Aku tak akan tersentuh kematian. Hanya manusia berwujud binatang yang bisa mengalahkanku. Kurasa tidak ada makhluk seperti itu di jagad wayang ini.”

Aku hanya mengangguk-angguk. Bukan sependapat dengan Rahwana, tapi berpantang mengatakan hal yang lebih jauh, yang bukan wilayah manusia. Aku berpikir keras menemukan cara agar dia tidak lupa daratan.

“Kau mungkin tidak akan mati, Ngger. Tapi berapa banyak pasukanmu yang akan kau korbankan? Berapa banyak rakyatmu yang akan ikut menanggung kejamnya perang? Biar bagaimanapun perang mempertahankan seorang wanita itu bukan perang suci.”

“Itu akan menjadi perang suci jika Guru berkenan merestuiku menikahi Shinta. Seperti yang Guru katakan bahwa istri adalah kesucian suami, adalah harga diri suami. Jika dia seorang istri raja maka dia adalah harga diri dan kesucian kerajaan.”

“Ya. Aku masih ingat perkataanku itu. Tapi, Ngger, Shinta itu tidak sepantasnya kamu nikahi. Dia adalah darah dagingmu sendiri dengan selirmu yang telah kau tukar dengan istri seorang pemuda desa. Saat itu dia telah mengandung anakmu. Tidakkah kau mengetahuinya?”

Rahwana menatapku tajam. Aku tahu itu bukan tatapan benci. Dia hanya meminta ketegasan. Karena itu aku mengangguk mantap.

“Tapi, dia adalah anak Prabu Janaka?”

“Lelaki yang tidak bisa berpikir itu tidak ingin memelihara anak orang lain, meski anak itu adalah anak raja, kemudian membuangnya di ladang. Prabu Janaka yang sedang berkeliling menemukan bayi itu. Karena tidak punya anak, dia mengambil anak itu sebagai anaknya. Begitu cerita singkatnya, Ngger.”

“Akan aku bunuh lelaki kurang ajar itu.” Rahwana berkata sambil memukulkan tangannya yang terkepal.

“Tidak perlu, Ngger. Kau semestinya senang karena anakmu tumbuh dan besar di tangan seorang raja, meski raja kecil.”

Rahwana mengangguk, “Tapi, aku sangat sulit menerima kenyataan ini, Guru. Aku sangat mencintainya dan ingin menikahinya.”

Aku menangkap gurat sedih di wajah angker Rahwana yang kemudian menunduk. Tapi, apa boleh buat, aku terpaksa melakukannya demi menyelamatkan dia dan Alengka. Aku bisa saja menyarankan kepadanya untuk membunuh Rama dan Laksamana saat itu juga. Namun, itu akan mencoreng keperkasaan dan harga diri muridku satu-satunya ini. “Sebaiknya, kau kembalikan Shinta ke hutan itu lagi, Ngger. Atau kepada Prabu Janaka. Itu akan lebih baik bagimu dan Alengka.”

“Maafkan aku, Guru. Dia anakku, dan akan kupelihara dia di Alengka. Tak akan kubiarkan dia hidup di hutan rimba itu. Aku bersumpah tak akan menjamahnya lagi, Guru.”

“Aku percaya kepadaku, Ngger. Tapi, bagaimana dengan Rama dan Laksamana?”

“Aku akan mengundangnya. Dan akan kuresmikan dia sebagai menantuku.”

Aku senang dengan keputusan Rahwana. Dia mengutus prajuritnya untuk memberikan surat undangan itu kepada Rama. Namun, bertahun-tahun Rama tak pernah datang. Malahan dia mengutus monyet untuk menjemput Shinta secara diam-diam, seperti maling. Hingga timbul keributan dan sebagian kecil istana terbakar oleh ulah monyet itu.

Tentu saja Rahwana menganggap itu sebagai tantangan perang. Apa yang menjadi kehendak langit tak bisa dihindari. Perang tak terelakkan. Seluruh saudara Rahwana gugur. Alengka porak-poranda. Nyaris habis seluruh prajurit Alengka. Seluruh rakyat kotaraja pun menjadi korban.

Aku hanya bisa mematung dengan dada sesak, berlinang menatap kobaran api dan kemegahan kotaraja Alengka berubah menjadi reruntuhan yang rata dengan tanah.

Aku masih bisa berpikir, aku tidak bisa terima jika kelak Rahwana akan dianggap sebagai maling istri orang. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan namanya dari kehinaan total. Satu-satunya cara hanyalah dengan menyelamatkan Shinta dari kematian di api suci. Biar bagaimanapun Rahwana mengaku kepadaku sudah terlanjur menjamah sebagian tubuh Shinta meskipun tidak sampai menyentuh pagar kehormatan Shinta.

Ya. Dengan kesaktianku diam-diam aku bisa menyelamatkan Shinta.***


Era Ari Astanto, penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Cerpen

Malam

Cerpen Rudi Agus Hartanto

Aku masih memikirkan pernyataan orang-orang tentang malam. Perihal saat yang tepat memikirkan runyamnya hidup atau waktu terbaik memohon sesuatu kepada Tuhan. Alih-alih mendapatkan ketenangan, justru pikiranku hampir tak pernah bermuara ke persoalan itu. Terus terang saja, setiap kali mencoba, aku seolah-olah gagal mengejawantahkan pernyataan mereka.

Termasuk malam ini. Aku menikmati kopi dan menyulut rokok, sendiri, di teras rumah sembari memikirkan dunia. Sangar bukan? Memikirkan dunia! Kataku.  Tapi itu yang sering dibilang teman-temanku di tongkrongan. Sementara, di duniaku, yang selalu terbayang hanyalah Sheila Dara Aisha, pemeran Aurora dalam film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Aku tidak membual, Sheila memang menguasai pikiranku dan aku ingin sekali menemaninya melukis. Andai saja terjadi, aku ingin menemaninya menangkap momen daun jatuh seperti yang terlihat di halaman: dari melayang hingga tersungkur menabrak pagar.

Pikiranmu penuh dunia fiksi, bodoh! teriak pikiranku di sisi lain.

Tentu saja kehadiran teriakan itu tidak datang begitu saja. Itu terjadi setelah aku berulang kali cerita kepada teman-teman perihal kecintaanku menonton film. Kata mereka seharusnya aku menyadari bahwa hidup adalah kenyataan, dan apa untungnya membayangkan hidup seperti dunia fiksi? Dasar aneh! masih di sisi yang sama, pikiranku semakin terbakar mendukung mereka.

Tapi, apa yang mereka tahu soal kenyataan selama masih menghabiskan duit buat judi slot? Hanya karena alasan itu, lantas berani-beraninya menganggapku tidak menyadari hidup, memang ada-ada saja perangainya. Sebenarnya aku ingin membalas dengan sok-sokan filosofis, sayang aku terlanjur mati kutu ketika mereka lebih dulu mengatakan: Kenyataan hidup adalah berjudi, maka kita perlu praktik kecilnya.

Mungkin, mereka hanya sekadar melihat bukan menyelami isi setiap film. Ndakik sekali kau! lagi-lagi pikiranku mendesak untuk berperang dengan diriku sendiri. Kubuang rokok yang masih separuh, aku tak mau pusing. Aku ingin menikmati malam, sendiri, sembari menggeser foto Sheila di Instagram. Inilah dunia seharusnya. Begitu, bukan?

Aku memang salah, kuakui itu. Namun apa artinya malam dengan menggantungkan diri pada yang tak terlihat. Dan, bukan berarti aku tidak sepakat dengan pernyataan mereka. Aku hanya ingin malam seperti yang aku bayangkan saja. Aku bosan dengan pengharapan yang membohongi jiwa. Kebablasan kau, Nak, meski terdengar berbisik, pikiranku di sisi lain ini benar-benar menyebalkan.

Aku butuh bantuan untuk mengenal malam lebih jauh. Tidak sendiri maupun dalam kondisi seperti ini. Rasanya sangat tak mengenakan. Kecuali setelah bertemu Ayu besok, malamku bisa saja seperti bayanganku. Sebab temanku yang enggan aku samakan dengan Sheila itu kadang juga sepemikiran denganku. Malam hanyalah waktu yang biasa-biasa saja. Lebih dari itu? nanti dulu. Aku mau tidur.

***

“Kenapa? Padahal kau cerdas, lukisanmu laku mahal, bahkan mengantarmu mendapatkan beasiswa magister di Royal College of Art,” tanyaku kepada Ayu saat kupersamakan dengan aktris kesayanganku itu.

“Hanya itu di pikiranmu? Aku bosan mendengarnya.” Ayu membuka tudung hoodie-nya. “Kau tak ubahnya sama dengan mereka,” desak Ayu sembari mengarahkan telunjuknya kepadaku.

“Malam?”

“Pikiranmu selama ini soal malam, bukan? Mungkin benar yang kaummu katakan, tapi sesampainya mereka di atas kasur, pikirannya tak lebih dari membayangkan tubuh perempuan.”

Obrolan kami terjeda saat pelayan kafe mengantarkan pesanan. Pada saat itu, aku mengedarkan pandang ke sekeliling. Di sini keadaan tak terlalu riuh, tidak banyak tempat duduk yang diisi lebih dari dua orang. Mereka bercakap pelan sembari sesekali memerhatikan keadaan di luar jendela. Mungkin saja, mereka juga terganggu seperti kami ketika kendaraan berknalpot brong melintas. Sama seperti pernyataan Ayu yang menghardikku, terasa mengejutkan.

Aku menuntut Ayu lebih jauh menjelaskan maksudnya. Kurasa ia orang yang tepat dalam menjawab pertanyaanku. Kubiarkan ia panjang lebar berbicara soal malam. Tentang kesehariannya membuat paper di tengah kesibukan melukis. Ia juga menyinggung betapa beratnya proses mendapat beasiswa untuk belajar ke Inggris. Seiring itu, aku hanya terangguk mengiyakan apa yang keluar dari bibirnya. Aku tak ingin menyela penjelasannya.

Belakangan Ayu lebih banyak menyiapkan keperluannya sebelum terbang seminggu lagi. Ia sangat antusias menceritakan hal yang akan dihadapinya. Terlebih, dalam proses tersebut ia berhasil melewati ribuan pesaingnya. Aku menatap Ayu semakin dalam—mungkin terperangah, ketika ia menceritakan bahwa beberapa kali dipanggil negara menjadi pengisi seminar bagi para pencari beasiswa.

“Aku tak pernah membayangkan, sekarang duniaku sejauh itu,” lanjut Ayu sembari kembali mengangkat tudung hoodie-nya.

Entah mengapa, apa yang baru saja dikatakan Ayu membuatku tersentil. Namun hal itu segera hilang ketika sepasang orang yang duduk di belakang Ayu menjatuhkan gelas. Beberapa saat kami saling bertatapan satu sama lain. Ayu lekas menoleh, ia memandangi mereka dan saat kembali ke posisi sebelumnya mukanya berubah masam.

Kubiarkan Ayu tetap seperti itu. Aku tak mengajaknya berbicara. Tak lama kemudian ia mengambil gawai yang tersembunyi di balik kantong hoodie-nya. Aku tak tahu apa yang ada di balik gawai itu, yang pasti Ayu memunculkan senyum kecil. Mungkin saja ia dihubungi orang terkasih. Sebab ia seperti ragu-ragu ketika akan membalas pesan, hal itu terlihat dari gerak-gerik jarinya yang menggambarkan kirim-tidak-kirim-tidak di atas simbol kirim.

“Kau bisa menikmati malam-malammu, Ayu,” gangguku di tengah keasyikannya dengan gawai.

“Aku tahu isi pikiranmu. Kau menduga aku punya pacar, bukan?”

Entah jin apa yang merasuki perempuan di depanku ini. Ia mampu membaca pikiranku dan aku harus mengelak. Jika tidak kurasa pertemananku akan bermasalah, sebab ia mesti berpikiran bahwa aku sedang cemburu. “Aku ingin membalasmu, sebelum ada gelas pecah tadi,” ucapku sekenanya.

“Mengelak saja terus. Lalu segala curhatmu soal malam kepadaku apa tujuannya?”

Aku tak mengerti harus menjawab apa. Ayu berhasil menyudutkanku, bahkan sejak awal obrolan kami dimulai. Ia sangat sensi dengan apa yang muncul dariku malam ini. Tapi di sisi lain aku sangat membutuhkan dirinya. Akhirnya aku terangguk karena aku tak tahu letak salahku.

“Kurasa yang kau butuhkan di setiap malam bukan lagi bersembunyi, tapi menentukan pilihan: kerja atau cari beasiswa.”

Sontak pikiranku segera melayang. Dua tahun sudah sejak lulus, aku hanya menggantungkan hidup dari orangtua. Ijazahku selama ini hanya tersimpan di lemari. Dan persoalan malam? Rasanya perlu aku tanggalkan. Kini aku merasakan dalam perihal waktu yang sering dikatakan orang-orang mengapa terasa dingin.

Kami tak bercakap lagi. Suasana telah berubah. Agar bisa mengendalikan diri kuseruput vietnam drip pesananku yang terlanjur mendingin. Sebatang rokok juga kusulut kemudian. Asap tembakau terbang ke luar jendela. Ini bukan seperti bayanganku semalam. Ayu baru saja membuatku seperti seorang pesakitan.

“Ayo, pulang,” Ayu menarik tanganku.

Sial kau, batinku di tengah anggukanku menjawab ajakannya. Apakah ia tak melihat bahwa pesananku baru sekali membasahi tenggorokanku. Pula dengan matcha pesanannya, belum tersentuh lagi usai diserahkan pelayan kafe.

Inilah hidup, tiba-tiba pikiranku di sisi lain kembali keluar. “Diam kau!” balasku ketus.

Ayu melepaskan genggamannya dan menoleh kepadaku. Ia berjalan semakin cepat, aku tertinggal beberapa depa di belakangnya. Beberapa pelanggan kafe seperti memerhatikan kami berdua. Kutambah kecepatan langkahku mengejar Ayu.

Kau ini kenapa? Aku tak peduli lagi dengan pikiranku ini. Aku menyuruh diam. Telapak tanganku mendarat di ujung dahiku.***


Rudi Agus Hartanto, putra daerah Mojogedang. Merupakan mahasiswa Program Magister Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret.  Bergiat di komunitas Kamar Kata Karanganyar dan Sanggar Bima Suci.

Cerpen

Panmunjom

Cerpen Aprilia Nurmala Dewi

Lee Won Shik melipat suratnya yang ke-1059. Surat-surat penuh cinta yang tak pernah sampai ke tujuannya. Surat itu mustahil menemukan jalannya, lembaran-lembaran kertas itu hanya pelipur lara sang penulis. Lee menggoreskan harapan dan kerinduannya dengan hati-hati. Setiap hari selama ditahan di Utara. Tak apa jika surat untuk istrinya tak sampai, setidaknya surat-surat itu membantunya menghitung hari.

Hari itu seorang serdadu Utara menemukan Lee menulis surat beralaskan lantai semen dalam selnya.

“Hei, Bodoh. Berhentilah menulis catatan harian. Kau seperti perempuan cengeng.” Serdadu Utara itu mengintip di balik jeruji besi. Wajah brengseknya dinodai dua gigi yang tanggal di bagian atas. Mungkin seorang kawan merontokkannya karena mulutnya terlalu besar dan menyebalkan.

Lee memunggunginya. Dia menoleh sedikit tapi tak ingin meladeni. Tujuh teman lain dalam sel itu tertidur walau tak begitu nyenyak. Seseorang tampak menggaruk-garuk kakinya yang digigit kutu. Seorang lagi membuka baju karena panas. Seorang lagi mulai mengigau, mengumpat yang hanya berani dilakukan saat bermimpi. Sementara tiga lainnya mulai gelisah, berusaha memutar posisi tidur, tetapi selalu saling bertabrakan. Mereka kelelahan bekerja pagi hingga malam di pabrik kayu. Sel yang mereka tempati hanya 3×3 meter, memang harus ada pembagian giliran, siapa yang tidur dengan posisi normal, dan siapa yang akan tidur duduk.

“Tidak usah tidur terlalu larut, kalian harus bugar. Besok kalian akan mengucapkan selamat tinggal dan perjalanan akan sangat panjang,” ujar tentara itu sambil berlalu.

Mendengar hal itu, Lee menggosok-gosok surat yang belum selesai dia tulis. Tak bisa dihapus, dia putuskan menulis di bagian belakang kertas. Dia akan menuliskan kembali ucapan serdadu tadi. Selamat tinggal, katanya. Lee yakin bahwa di Panmunjom, Selatan dan Utara pasti telah duduk bersama menyetujui gencatan senjata. Dia kemudian melipat surat itu dan memasukkannya ke sebuah kantung kain yang dibuatnya dari sobekan celana. Surat ke-1059 itu kini bersama-sama surat lainnya. Mungkin surat yang terakhir. Akan diberikannya sekantung surat itu pada Kim Hye Jin, istrinya, saat tiba di Selatan. Kelak, Lee tak perlu mengulang cerita perih seribu hari itu kepada Hye Jin, cukuplah istrinya itu membaca surat-suratnya bagai sekumpulan cerita.

Malam itu Lee Won Shik pikir dia akan bebas. Tak ada lagi pekerjaan di pabrik, tidur dikerumuni lalat, dan makanan yang penuh kutu. Bersama para tawanan perang lainnya, dengan mata tertutup dan kedua tangan diikat, dia diseret naik ke sebuah truk. Mereka berjongkok dengan tubuh saling berimpitan, lutut-lutut kurus kering saling bertabrakan, berdesak-desakan tanpa saling melihat. Para tentara utara itu bahkan tak memberi Lee dan kawan-kawannya air untuk diminum selama perjalanan.

Tiga tahun yang lalu, Lee dan beberapa warga sipil Selatan direkrut untuk ikut berperang. Dengan kemampuan dan senjata seadanya, mereka akhirnya ditangkap pasukan Utara. Sore itu sebelum dimasukkan ke mobil truk, mereka diminta berkumpul di barak utama, sebuah tenda yang paling besar di antara seluruh tenda yang dibangun sementara. Lee, saat itu berpikir bahwa mereka akan dipulangkan. Dia ingat seseorang pernah mengatakan akan memulangkan sebagian dari para tawanan usai gencatan senjata. Tapi mereka tidak punya televisi, radio, atau surat kabar. Mereka tidak tahu kapan kedua wilayah akan melakukan gencatan senjata. Mereka hanya bertahan hidup dengan harapan janji itu akan datang tak lama lagi.

Perjalanan malam itu cukup panjang. Lee mulai kesulitan bernapas, kepalanya berat. Namun, semangat itu membuncah di dadanya. Dia mulai membayangkan truk itu berhenti di perbatasan. Terbayang samar-samar wajah istrinya yang telah lama menunggu. Istrinya bukan lagi gadis belasan tahun. Apakah dia sehat? Apakah dia makan dengan layak? Apakah dia masih setia? Pertanyaan-pertanyaan itu bermain di benak Lee Won Shik, melompat-lompat seperti bola-bola kecemasan dan kebahagiaan yang berkejar-kejaran.

Kenangan akan Selatan, istrinya, dan lagu-lagu Song Min Do, penyanyi wanita yang lagunya sering dia senandungkan, mendadak lenyap ditelan pemandangan yang menghancurkan perasaan. Dia didorong dan ditendang hingga terpental keluar dari truk yang cukup tinggi itu. Kain penutup mata para tawanan dibuka satu per satu. Sebagian tertegun, sebagian terisak. Lee Won Shik, menjadi bagian dari kelompok kedua.

Sebuah terowongan tak berujung tampak di hadapan mereka. Terowongan itu adalah proyek penambangan Utara yang dalam, gelap, dan panas. Para tawanan diminta berbaris memasuki terowongan itu.

“Kau, yang kurus!” teriak seorang tentara Utara berseragam sambil mengacungkan senjata ke arah Lee.

“Kau, iya kau Lee Won Shik, kemari ikut aku.” Seorang tentara lain kemudian menarik lengan Lee dengan paksa, menyeretnya hingga sampai ke salah satu lubang kecil di dinding terowongan. ”Kau masuk pertama”.

Lubang itu kecil sekali, bagaimana mungkin manusia bisa masuk ke sana? Lee mulai merasa khawatir.

“Hei, tak usah banyak berpikir, masuklah!” bentak tentara yang menariknya.

“Dorong saja dia jangan lama-lama,” teriak tentara yang tadi mengacungkan senjata.

Tentara kedua langsung memukul kepala Lee dengan senapannya. “Masukkan kepalamu dulu, merangkak masuk,” perintahnya untuk ke sekian kali.

Aroma gas menyerang masuk ke lubang hidung Lee. Dia merangkak semakin jauh, hampir tidak ada tenaga tersisa. Dia lalu mengintip sedikit ke balik bahunya yang ringkih, tersisa sedikit sinar dari luar. Sinar itu datang dari senter si tentara kedua yang perlahan-lahan redup. Dari kejauhan dia mendengar beberapa kawannya yang memberontak. Mereka melawan tidak ingin masuk ke lubang-lubang bergas itu. Kekacauan terjadi di luar. Rupanya mereka hanya berpindah lokasi pekerjaan. Pabrik kayu ditutup, tetapi mereka harus menjadi budak penambangan Utara.

Lee cemas. Bagaimana mungkin dia bisa tiba di Selatan? Dia bahkan tak lagi bisa melihat lubang kecil yang tadi dilewatinya. Semakin jauh, semakin dia merasa gas itu meracuni paru-parunya. Lubang kecil itu tak tampak lagi, sekelilingnya gelap dan lembap. Tak ada lagi suara, hanya teriakan tentara Utara yang menyuruhnya untuk terus merangkak bergantian dengan suara batuknya yang menyesakkan. Tubuhnya lemas, dia tak lagi bisa merasakan kakinya bergerak. Dia menahan diri untuk tidak makan sejak pagi. Daripada menyantap nasi lembek berkutu, Lee memilih menunggu tiba di rumah menikmati masakan istrinya. Kini dia benar-benar tak berdaya. Keracunan, lapar, dan mati rasa. Lee Won Shik menyerah pada lubang gelap itu, pada nasibnya. Aku, tulang-tulangku, mimpiku, harapanku, biarlah terkubur di sini. Mata Lee Won Shik kemudian perlahan terpejam.

*

Surat Ke-1059.

“Untuk istriku Hye Jin. Aku pernah mendengar seorang serdadu mengatakan hari gencatan senjata di Panmunjom akan segera tiba. Itu artinya kita akan kembali bersua. Aku pikir inilah harinya. Serdadu itu mengatakan esok kami akan mengucapkan selamat tinggal. Dia juga bilang perjalanan kami akan panjang. Tunggu aku di rumah. Bila sampai di perbatasan, aku akan berlari sekuat tenaga menemuimu. Jangan hidangkan tahu atau susu kedelai. Aku bukan penjahat yang dipenjarakan. Aku adalah pejuang. Namun, rasanya semua sudah cukup. Aku rindu padamu, perjuangan ini tak sepadan dengan dirimu. Aku akan kembali. Siapkan saja sup dan soju. Nyanyikan lagu ‘Malam Terang Bulan Silla’ untukku nanti. Aku akan pulang. Aku pikir inilah harinya.”***

Catatan:

  • Panmunjom adalah tempat terjadinya perjanjian gencatan senjata antara Korea Utara dan Korea Selatan yang terletak di tengah Zona Demiliterisasi (DMZ).
  • Di Korea Selatan, orang yang keluar dari penjara akan disuguhi tahu putih sebagai simbol pembersihan jiwa dan awal yang baru.


Aprilia Nurmala Dewi, penulis berdomisili di Sinjai Utara.

Cerpen

Musim yang Rumit

Cerpen Ranang Aji SP

Memasuki musim hujan tahun ini, bagi Armando, adalah waktu di mana ia harus mempersiapkan dirinya lebih kuat untuk menghadapi kenangan yang tak ubahnya badai yang mengancam. Musim yang memberinya ingatan buruk atas hilangnya rasa ceria pada kehidupan yang seharusnya ia miliki. Bertahun-tahun lampau dan bertahun-tahun kemudian, kenangan itu datang bagaikan teror bersama turunnya air hujan sepanjang hari dan juga banjir yang menggenang kecokelatan di kotanya.

Setelah mengunci pintu rumahnya, Armando berjalan menuju toko, tempat di mana semua barang seperti mantel dan payung dijual. Ia menyapa pemilik toko, seorang pria bernama Lee. Bercakap-cakap sebentar, sebelum kemudian memilih-milih payung yang berwarna-warni dan  berjajar di atas tatakan besar. Ia ingin payung yang besar dan berwarna kuning dan ia mendapatkannya. Setelah membayarnya, ia berkata pada Lee bahwa waktu berlari seperti buroq. Waktu yang seolah tak memberinya kesempatan untuk beristirahat dari kenangan yang menikam.

“Ah, lupakanlah,” kata Lee pendek. Matanya yang kecil bersinar perihatin.

Armando menatap sejenak wajah Lee dan tersenyum lemah. Ia mengatakan akan ke tempat Clara.

***

Sepuluh tahun lalu, ia mengenal Lee di toko ini. Mereka selalu bercakap-cakap di antara waktu senggang Lee. Pemilik toko itu kemudian memperkenalkannya pada seorang perempuan bernama Clara, sepupu Lee. Armando juga kemudian berkenalan dengan seorang pria bernama Bruno dan Johan. Keduanya adalah teman Clara. Dalam beberapa waktu, mereka menjadi teman bicara di toko Lee. Ketika tak ada pelanggan Lee ikut bersama untuk mengobrol di teras toko bersama rokok dan bir. Mereka bicara apa saja tentang semua kejadian di kota mereka. Juga tentang cinta yang misterius.

Ketika Armando disangka jatuh cinta pada seorang gadis bernama Sofia, teman-temannya mulai membicarakannya. Mereka mempertanyakan siapa Sofia. Clara bahkan memintanya untuk memperkenalkan gadis itu pada mereka. Kata Clara, lebih baik mengajaknya berkumpul agar menjadi bagian dari mereka. Dengan demikian, Armando bisa tetap berkumpul bersama mereka di teras toko Lee. Semua setuju dengan pendapat itu. Armando pun setuju, dan begitulah akhirnya, Sofia berkenalan dan menjadi bagian kelompok itu.

Pada setiap minggu Sofia datang untuk ikut berkumpul, bahkan tak perlu lagi Armando menjemput. Sofia gadis yang supel dan mudah sekali akrab dengan teman-teman barunya. Terutama dengan Bruno. Setiap kali Bruno tak muncul, Sofia tampak terlihat resah dan murung. Sementara Armando melihat semua itu dan berpikir bahwa Sofia menyukai Bruno. Tapi ia hanya mengamati dan menunggu. Clara sendiri mengamati sikap Armando yang tenang seperti permukaan air yang dalam. Dan bagi Lee, semua itu tak terlihat sebagai apapun. Lee lebih menikmati perbincangan yang membuatnya melupakan waktu yang membosankan.

Suatu waktu, Clara bertanya pada Armando ketika berada di rumahnya –tentang desas-desusnya.

“Benarkah kau menyukai Sofia?”

Armando tak kaget dengan pertanyaan itu. Ia sudah tahu semua orang menyangkanya menyukai Sofia. Dengan suara pasti, Armando mengatakan tidak. Jawaban itu justru membuat Clara terkejut. Lebih kaget lagi ketika Armando mengatakan bahwa dirinya menyukai Clara. Clara tampak suka dengan jawaban itu, tapi ia hanya diam. Ruangan itu menjadi sunyi. Malam itu, tiba-tiba, Armando dengan keberanian seekor singa jantan mendekati Clara yang duduk terdiam di sofa. Merengkuh perempuan itu, dan tiba-tiba mereka bercinta begitu saja, sebagaimana waktu yang datang tanpa disadari. Armando mengira Clara dalam kekuasaan cintanya. Tetapi ia salah. Clara menggeleng setelah semua usai. Clara mengatakan melakukan itu hanya karena ia menginginkan, bukan karena perasaan.

“Jangan salah sangka,” kata Clara lirih.

Armando kecewa dengan jawaban itu. Tapi ia berusaha tak peduli. Matanya yang hitam menatap wajah Clara yang halus. Mencoba mencari apa yang tersembunyi di antara jasad dan hatinya. Tapi ia tak mampu menemukan apapun kecuali kecantikannya. Setelah peristiwa itu, Armando merasakan dirinya seperti tertahan dalam sebuah perasaan yang tak dimengerti oleh dirinya sendiri. Setiap waktu seolah-olah dirinya terpenjara dalam kurungan sempit yang menahannya. Hingga akhirnya Armando sadar, bahwa Clara telah begitu berkuasa atas dirinya.

Ketika Clara datang, seluruh hidupya luruh sepenuhnya pada keinginan perempuan itu. Ia merasakan betapa damai bersamanya. Jiwa Armando menjadi seperti belalang sembah jantan yang rela mati untuk pasangannya dengan membiarkan otaknya dimakan sang betina ketika bercinta. Seluruh hidupnya seolah akan dipersembahkan hanya untuk Clara. Namun, sepupu Lee itu tak mudah percaya. Dia mengatakan bahwa jika benar Armando mencintainya, maka semua harus dibuktikan dengan ketundukan tanpa menuntut apapun kepadanya. Armando menerimanya.

Sekian waktu, Armando mengikuti apa yang diinginkan Clara, meski hubungan mereka tak pernah seperti yang ia inginkan, yaitu menjadi pasangan yang berkomitmen dan diketahui semua orang. Hingga pada akhirnya, ia merasa tak kuat dan mencoba memohon pada Clara sekali lagi, agar hubungan mereka diresmikan hingga taraf pengakuan. Tapi Clara menolak dengan alasan tak siap dengan sebuah hubungan yang mengikat. Kecewa dengan penolakan itu, Armando mengerahkan dirinya untuk mencoba menerima kenyataan dan memilih merayu perempuan lain. Maka ia mencoba mendekati Sofia, tapi, hanya demi membuat Clara cemburu.

Ketika Armando mendekati Sofia, persoalan menjadi semakin rumit. Sofia tiba-tiba membencinya dan selalu bersikap kasar, seolah Armando adalah mimpi buruk baginya. Sikap itu membuat Armando bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa salahnya hingga Sofia begitu membencinya. Karena tak menemukan jawaban, Armando akhirnya bertanya pada Clara dengan harapan mendapatkan jawaban. Namun, ketika ia mencoba menanyakan itu, perempuan itu justru marah dan memakinya sebagai laki-laki tak punya rasa setia. Armando bingung. Otaknya tak mampu mencerna apa keinginan Clara sesungguhnya.

Suatu malam, ketika hujan mengguyur kota, Armando menuju toko Lee. Ia datang ketika Johan dan Bruno tengah berbincang, sementara Lee melayani pelanggannya. Ia tak melihat Clara dan Sofia di sana. Ia hanya menemukan mata Bruno yang berbinar saat Armando bergabung. Tangan Bruno menarik lengan Armando agar duduk di sebelahnya. Sebelum kemudian berbincang tentang hujan dan sebagian kota yang terancam banjir. Beberapa saat kemudian, Sofia datang bersama Clara. Namun, begitu melihat Armando duduk bersebelahan dengan Bruno, Sofia tiba-tiba berteriak histeris dan melempar sepatu ke wajah Armando.

“Kalian bajingan haram jadah!: Suara Sofia terdengar seperti geledek hingga membuat orang-orang di sekitar toko memperhatikan.

Armando yang tak mengira menjadi sasaran kemarahan kaget setengah mati. Ada apa ini? Tanyanya dengan suara gagap. Semetara Lee yang tengah melayani pelanggan, segera mendatangi dan mencegah Sofia yang telah menjadi gila menyerang Armando yang berdiri panik dan kebingungan. Melihat kejadian yang tak disangka itu, Clara dengan wajah setengah panik meminta Armando menjauh dan mengikutinya.

Akhinya, dengan diiringi suara caci maki Sofia, mereka berdua pergi. Setelah mengambil payung berwarna kuning, Clara mengajak Armando menuju parkiran dan meminta Armando menyetir mobil. Sementara itu dengan perasaan bingung atas yang menimpanya, Armando menuruti kemauan Clara. Sepanjang jalan yang basah oleh hujan itu, tak ada satu pun yang bicara. Armando masih merasa bingung dan tegang. Sementara Clara hanya termenung. Ketika mereka sampai di jalanan sunyi di antara pohon-pohon yang basah, tiba-tiba dengan suara getar, Clara mengatakan kata maafnya yang tak dipahami Armando untuk apa. Hingga kemudian perempuan mengakui bahwa semua itu terjadi karena salahnya. Sofia, lanjutnya, cemburu karena mendapatkan informasi darinya bahwa Bruno adalah pacar Armando.

“Maafkan aku,” katanya, “aku tak ingin kau dekat dengan Sofia.“

Pengakuan itu membuat Armando marah. Ia tak tahu apa maksud Clara berbuat seperti itu. Apa yang ia tahu, selama ini Clara menolaknya. Ia tak menyangka jika Clara melakukan itu. Emosinya menekan dadanya. Rasa sesak dan panas di dadanya membuat kakinya menginjak pedal gas tanpa kendali. Mobil melaju kencang. Clara panik. Ia meminta Armando berhenti. Permintaan itu ditanggapi Armando dengan menginjak pedal rem secara kuat. Mobil berhenti mendadak dengan suara berderit, hingga membuat tubuh mereka teranyun keras ke depan. Kepala Armando tiba-tiba terserang rasa sakit akibat benturan, dan matanya berkunang-kunang. Namun, ketika ia ingin menumpahkan rasa kesalnya pada Clara, Armando melihat perempuan yang selama ini ia puja tak bergerak dengan dahi berdarah.

“Lupakanlah,” ulang Lee. “Itu bukan salahmu.” Armando menatap mata cokelat Lee. Mata itu mengingatkannya pada Clara.****


Ranang Aji SP menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Dalang Publishing LLC USA menerjemahkan dua cerpennya ke dalam bahasa Inggris. Menjadi nominator dalam Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Buku Kumcernya “Mitoni Terakhir” diterbitkan penerbit Nyala (2021).

Cerpen

Mereka yang Dijemput, lalu Bertemu Malaikat Maut

Cerpen Annisa Nur Utami

Bapak mati tanpa diadili. Kepalanya bolong diterjang peluru. Sepotong tali plastik melilit lehernya. Mayatnya dibuang di pinggir jalan tanpa busana, tanpa kain apa pun yang menutupinya. Tangannya diikat ke belakang. Jejak tebasan kelewang di bagian tubuhnya yang dirajah dengan tato naga dan kobra menganga, mengundang lalat untuk beranak. Bisikan orang-orang yang menonton mayatnya bisa kudengar dengan jelas, “Gali pantas mati.”

Usiaku 20 tahun saat Bapak mati. Aku paham dengan peristiwa jahanam yang menimpanya. Pemerintah durjana ingin negara aman dengan menghabisi bromocorah. Mereka memburu dan mencabut nyawa anggota gali, preman bertato yang mencari uang dengan memeras, menjambret, merampok atau mengutip uang keamanan dari toko, salah satunya Bapak.

Sebelum tubuh kakunya ditemukan, Bapak dijemput sekelompok orang bertubuh tegap dan berpakaian preman. Orang-orang itu memakai penutup kepala sehingga Ibu tidak mengenali mereka. Bapak diseret dan dipaksa naik ke jip Toyota Hardtop berwarna hitam. Ibu mendengar suara mengaduh ketika kepala Bapak dihantam gagang pistol. Tapi, Ibu hanya bergeming karena terlalu takut untuk melawan. Terlebih, Ibu diancam dengan todongan pistol saat hendak berteriak. Ibu menceritakan peristiwa itu kepadaku esoknya, tepat setelah aku bebas dari lapas gara-gara kasus perampasan. Pada hari yang sama, mayat Bapak ditemukan tergolek di kawasan terminal dan pertokoan tempat dia biasa meminta jatah keamanan.

“Asu!” Makian Panjul menyadarkanku dari lamunan. Dia melempar koran yang memuat foto dan berita kematian Bapak ke depanku. Lantas, dia menghempaskan punggungnya yang dirajah dengan tato bergambar kunci ke dinding dangau yang hanya setinggi bahu. Kemurkaan tergambar jelas di wajahnya.

Sahir hanya melirik sesaat. Tangannya sibuk melingkarkan perban di kaki. Untuk mengelabui petrus sekaligus agar tidak dianggap gali, dia nekat menghilangkan tato di kakinya dengan soda api. Akibat kebodohannya itu, lukanya infeksi dan bernanah. Bau busuk akan tercium sangat menyengat dan mengundang lalat jika lukanya tidak dibebat. Sementara aku memilih mengenakan celana dan kemeja panjang demi menutupi tato.

Aku tak berselera untuk menanggapi ucapan Panjul. Pikiranku dipenuhi cara agar bisa tetap hidup dan tidak berakhir seperti Bapak.

Pada petang di hari yang sama dengan penemuan mayat Bapak, Sahir memberi daftar gali di wilayah Kulonprogo. Namanya, namaku, dan Panjul ada dalam daftar gali di wilayah itu. Jika sudah masuk dalam daftar buronan Garnisun Kodim, hanya tinggal menghitung hari untuk bertatap muka dengan kematian.

“Bagaimana kalau kita menyerahkan diri saja?” Pertanyaan konyol dan bernada putus asa itu meluncur dengan mulus dari mulut Sahir. Dia sudah selesai membalut lukanya. “Tosari, kamu setuju dengan ideku?”

Aku hendak menjawab pertanyaan Sahir, tapi Panjul lebih dulu memotong.

“Goblok! Kita sembunyi agar tidak mati! Di mana otakmu?” Panjul meninju alas dangau. Ada kilatan amarah pada tatapannya. Mata pria berusia setengah abad itu seakan-akan hendak menerkam dan mengoyak daging Sahir. “Jika kamu mau mati, mati saja sendiri. Tidak usah mengajakku, Bocah Asu.”

Sahir mengabaikan kemarahan Panjul. Dia mengambil koran yang tadi dilempar Panjul, lalu melebarkan lipatannya dan menunjukkan berita tentang Brindil, laki-laki yang menyangkal tuduhan bahwa dirinya anggota gali. “Kita bisa mencoba cara ini agar bisa selamat dan dihapus dari daftar target Garnisun.”

“Bagaimana jika gagal? Laki-laki itu memang terbukti bukan gali. Lah, kita? Pergi ke kodim sama saja dengan menyerahkan nyawa.” Aku mengeluarkan kalimat pesimis, “Lagi pula, Garnisun pasti punya banyak mata-mata. Kita bisa mati, bahkan sebelum mencapai tempat itu. Kalaupun sampai dengan selamat, kita tidak akan diampuni begitu saja. Banyak sopir bis dan pemilik toko yang sudah menjadi korban kita. Bukan tidak mungkin, mereka akan melaporkan kita.”

Sahir mengangguk. “Kamu benar. Itu sama saja dengan bunuh diri.” Dia terdiam sesaat, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Aku punya teman di daerah Banyumas. Bagaimana jika kita tinggal di sana untuk sementara waktu sampai keadaan di sini aman?” Sahir menawarkan ide sambil menatap aku dan Panjul bergantian. Tanpa menunggu reaksi kami, dia bersuara lagi, “Ambil bekal secukupnya. Kita berkumpul lagi di sini sebelum fajar.”

***

Jam 3 pagi, aku dan Panjul menunggu kedatangan Sahir di dangau. Tempat itu dikelilingi sawah dengan rumpun batang padi yang mengering. Sepi sekali. Bahkan, tak kudengar denging nyamuk. Kemarau panjang tak memberi tempat basah bagi nyamuk-nyamuk untuk bertelur.

“Jika sudah sampai Banyumas, kita kerja apa?” Panjul mengembuskan asap rokok ke udara. Matanya menerawang jauh. “Masa, mau jadi garong lagi?”

Aku ingin tertawa, tapi kematian Bapak masih membayangiku. Pertanyaan itu sungguh menggelitik. Pendidikanku hanya sampai sekolah dasar. Itu pun tidak sampai lulus. Keahlian khusus pun tidak ada yang kukuasai, selain menjabret dan memeras pedagang. Jadi, jawaban untuk pertanyaan itu hampir membuatku terpingkal. “Ndak tahu, Mas. Mungkin jadi tukang parkir aja.”

Kelengangan terusik. Aku menoleh dan bangkit ketika mendengar sesuatu patah akibat terinjak. Naluriku langsung berkata ada bahaya saat melihat ke sekeliling dangau. Di bawah sorot remang cahaya bulan, aku melihat beberapa orang bergerak dengan mengendap-endap ke arahku. Cara bergerak yang mencurigakan itu membuatku yakin bahwa salah satu dari mereka bukan Sahir.

Setelah memastikan orang-orang itu berjalan ke arah aku dan Panjul, kami segera mengambil langkah seribu. Sahir menyuruh kami untuk tidak membawa senjata apa pun agar tidak dicurigai. Sialnya, kami menurut. Jadi, aku dan Panjul memilih lari karena kami tak punya alat apa pun yang bisa digunakan untuk melawan mereka. Tas lusuh kami yang hanya berisi pakaian kami tinggalkan di dangau.

Sedetik kemudian, aku mendengar suara pistol meletus berkali-kali. Tak lama setelah itu, aku merasa hawa panas menerjang belikat dan lututku. Seketika aku tersungkur di tanah berpasir. Aku berusaha meraup udara dengan rakus, tapi sulit. Seperti ada beban berat yang menekan tubuhku kuat-kuat. Mataku berkunang-kunang dengan kepala yang terasa pening.

Dalam kesadaran yang masih tersisa, aku melihat seorang pria menghampiri Panjul yang juga tersungkur di tanah. Pria itu menendang Panjul, seperti memastikan Panjul sudah mati. Pria lain menghampiri Panjul. Dia menarik rambut Panjul dan  membidik kepala Panjul tepat di tengah dahi. Bunyi pistol kembali menyalak.

Penembak Panjul menatapku. Kengerian pada sorot matanya membuatku yakin bahwa ajalku telah tiba. Aku berusaha memohon ampun, tapi yang keluar dari mulutku hanya suara lemah serupa rintihan. Darah segar mengucur dari hidungku. Rasa asin memenuhi indera perasaku. Lama-lama semuanya terasa ringan dan melayang. Kemudian, aku merasa larut dan lenyap.

***

Guyuran air di muka memaksa kesadaranku untuk kembali. Sosok pertama yang kulihat adalah bayangan samar orang-orang yang tidak kukenal. Rasa sakit pada belikat dan tangan yang terikat ke belakang membuatku tak leluasa untuk bergerak. Terlebih, lututku sulit untuk diluruskan. Aku hanya bisa meringkuk di lantai.

“Di mana Karto Kancil?” Pria dengan postur tubuh tegap menarik paksa rambutku. Dia menyebut nama salah satu pengurus gali di daerah Kulonprogo.

“Tidak tahu,” jawabku jujur. Sebelum ditahan di lapas, aku memang anak buah Karto Kancil. Tapi, setelah bebas, aku tak pernah mendengar kabarnya lagi.

Tanpa melepas jambakan dari rambutku, pria itu menghantamkan bogem mentah ke wajahku, menghantarkan denyut rasa sakit yang menyengat. “Jawab!” Dia berteriak tepat di depan telingaku.

“Aku benar-benar tidak tahu!”

“Bapak dan anak sama saja!” Pria itu akhirnya melepaskan cengkeramnya setelah meludahi wajahku. Namun, sebelum menjauh, dia menendangku tepat di ulu hati. Aku kembali merintih. Pada detik itu, aku berharap untuk mati saja.

Dalam keremangan suara-suara yang tidak kukenal, aku menangkap bunyi yang tidak asing.

“Seandainya kamu mau kuajak untuk menyerahkan diri, nasibmu tidak akan seperti ini dan mungkin kita akan menjadi partner.”

Aku membuka mata. Seorang pria dengan langkah tertatih-tatih berjalan mendekat sembari menenteng sepucuk karabin. Wajah pria itu, yang semula samar, semakin jelas. Bau busuk menguar dari tubuhnya, seolah-olah mengaduk perutku untuk menyemburkan muntahan. “Sahir?”

Dia menyeringai serupa iblis.

Takdirku sudah digariskan. Aku mati tanpa diadili. Kepalaku bolong diterjang peluru. Sepotong tali plastik melilit leherku. Mayatku dibuang di pinggir jalan tanpa busana, tanpa kain apa pun yang menutupi tubuhku. Tanganku diikat ke belakang. Jejak tebasan kelewang di bagian tubuhku yang dirajah dengan tato naga dan kobra menganga, mengundang lalat untuk beranak. Bisikan orang-orang yang menonton mayatku bisa kudengar dengan jelas, “Gali pantas mati.”***

Samarinda, 10 Mei 2023


Kelengangan terusik. Aku menoleh dan bangkit ketika mendengar sesuatu patah akibat terinjak. Naluriku langsung berkata ada bahaya saat melihat ke sekeliling dangau. Di bawah sorot remang cahaya bulan, aku melihat beberapa orang bergerak dengan mengendap-endap ke arahku. Cara bergerak yang mencurigakan itu membuatku yakin bahwa salah satu dari mereka bukan Sahir.

Annisa Nur Utami, pengarang kelahiran Bandung ini sudah melahirkan novel berjudul Ibu untuk Airin. Beberapa tulisannya dimuat di media massa online dan media massa cetak.

Cerpen

Seujung Kuku, Sehitam Aspal

Cerpen Ruly R

Hamparan warna-warni kue menggoda mata, tersusun rapi aneka jajanan berbungkus daun pisang, harum menyeruak. Radio mengalunkan pengajian, sesekali ditingkahi iklan obat herbal. Subuh belum matang di kawasan Senen, Anwar Saleh bersiap menunggu pembeli, sambil memegang gagang kayu pipih berujung rumbai plastik guna mengusir lalat. Pemandangan pasar subuh seperti biasa, hanya satu yang tampak berbeda, bukan pada jenis dan susunan kue, meja alas, toples uang, atau plastik bungkus kue, melainkan penampilan Roheti.

Eti, biasa penjual lain memanggil perempuan yang kali ini mengenakan kaos putih bertuliskan no comment dengan celana kulot abu-abu batako. Lipen warna merah bata memoles bibir, jedai warna biru muda langit puncak menghimpun rambut hitamnya, dan wangi Harum Sari sachetan menguar bersaing dengan wangi kue talam pandan. Lapak kue Eti bukan hanya mengundang lalat-lalat hijau tentara, namun juga pandangan mata para lelaki, tak terkecuali Anwar Saleh.

“Bang,” sapa Eti pada Anwar Saleh sambil mengangguk pelan di lapak seberang.

Anwar Saleh mengangguk kecil. Lanjut menebah lalat yang mampir di antara rainbow cake dan black forest penuh krem putih.

“Buset. Ntu mah bidadari turun ke bumi, War. Resep dah kalo gua kawin ama Eti kali, ya?” celetuk Haji Zaenal. Anwar Saleh hanya meringis kuda, separuh menaruh hormat pada juragannya dan selebihnya tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan itu.

Haji Zaenal gloyor menuju lapak kue Eti sambil tangannya membenahi peci hitam lusuh. Anwar Saleh rasakan ada yang berkecamuk di dadanya melihat kelakuan genit Haji Zaenal pada Eti, tapi dia tidak tahu persis akan apa yang dirasanya. Lamunan Anwar Saleh buyar ketika seorang langganan mengatakan ingin membeli kue basah.

Anwar Saleh mencuri pandang pada lapak kue Eti di tengah cekat tangannya melayani pelanggan.

“Demen ama yang sono, ya?” tanya pelanggan sembari mengarahkan ujung matanya ke lapak kue seberang.

Anwar Saleh tidak hirau. Hanya diam dan tangannya memasukan pesanan kue basah ke plastik besar warna seragam Juventus.

“Kagak ada bonus nih, War.”

“Iya dah ditambah atu nih.”

“Yaelah langganan cuma ditambah atu doang. Gua laporin juragan lu baru nyaho.”

Senyum tersimpul dari bibir Anwar Saleh.

Satu pelanggan berlalu, datang beberapa pelanggan lain. Silih berganti pembeli, sebagian wajah-wajah yang sudah dikenal Anwar Saleh, selebihnya wajah baru.

Haji Zaenal datang ketika semua pembeli sudah pergi. Air mukanya tampak girang-girang bangga. Lelaki yang sudah kawin sama persis jumlahnya dengan keberangkatannya ke Makkah—dua kali, berpanjang lebar menceritakan tentang Eti.

“Eti titip salam juga buat lu, War. Dia bakal mampir ke sini habis jualan nanti. Kagak sabar gua. Gimana? Gua ajib, kan? Panteslah ama Eti, ya?” tanya Haji Zaenal sambil merapikan baju kokonya yang tidak kusut atau tertempel kotoran sama sekali.

Anwar Saleh mengacungkan jempol saja menanggapi semua.

“Oya, lu sering ketemu Eti juga katanya. Bener?”

Anwar Saleh mengiyakan. Ingatannya terlempar pada hari-hari yang telah gugur di makan angka-angka. Itu adalah pertemuannya dengan Eti yang kerap terjadi kala siang hari, waktu di mana Anwar Saleh menjaga bengkel ban berdinding triplek miliknya lengkap dengan radio penghibur, sementara Eti numpang istirahat karena lelah ngobyek duteng—dangdut tenteng. Anwar Saleh tak tahu menahu alasan Eti memilih istirahat di bengkelnya dan juga tak mau hirau akan alasan itu. Dia tidak memasalahkan pilihan Eti. Kerap Anwar Saleh mengambilkan teh botol untuk Eti ketika penyanyi keliling itu istirahat dan yang diberi hanya membalas dengan ucapan terima kasih dan senyum.

Beriring hari dengan kerapnya Eti mampir di bengkel ban, keakraban semakin terjalin. Anwar Saleh dan Eti mulai kerap banyak mengobrol. Mulanya tentang pekerjaan masing-masing, lantas merambat pada hal-hal pribadi, semisal cita-cita Eti menjadi penyanyi dangdut beken yang tampil di panggung nasional. Anwar Saleh mendukung penuh dan mendoakan baik akan niat Eti, wajahnya saksama menyimak cerita Eti, sementara yang disimak hanya tersenyum tipis malu-malu dan mengatakan senang dengan dukungan Anwar Saleh, karena hanya lelaki itu yang mendukung dan mendoakan naik perkara cita-cita Eti.

Di bengkel ban, Eti juga sering bercerita tentang asmara. Ketika sudah menginjak pada masalah itu, Anwar Saleh lebih banyak menanggapi dengan candaan saja, sementara Eti tampak serius. Sekali waktu Eti bertanya perkara kriteria perempuan pada Anwar Saleh dan yang ditanya tidak tahu harus menjawab persisnya bagaimana.

“Masa kagak ada, Bang?”

Anwar Saleh diam sejenak, lantas menjawab dalam gurauan kalau dia suka perempuan yang seperti Eti. Di antara bising mikrolet dan asap hitam knalpot Kopaja, radio mengalunkan lagu Kuingin milik Rita Sugiarto.

Kalau kau memang sayang kepadaku

Kuingin hanya kau yang kau sayang

Kalau kau memang cinta kepadaku

Kuingin hanya aku yang kau cinta

Eti mendendang. Dia khatam di luar kepala lagu itu dan air mukanya tampak lebih ceria dari sebelum-sebelumnya. Keesokannya, Eti lebih lama untuk istirahat di bengkel ban. Dia tersenyum memandangi Anwar Saleh yang bekerja. Kerap sampai sore Eti di sana hingga akhirnya dia tak nge-duteng lagi pasca istirahat.

Pertanyaan-pertanyaan dari Eti lebih sering terlontar dibanding milik Anwar Saleh ketika mereka berdua saja. Suatu waktu Eti pernah bertanya tentang arti cinta bagi Anwar Saleh, namun lelaki itu hanya diam.

“Kok abang kagak jawab?”

“Bingung, Ti. Apa, ya?”

Suara-suara hanya milik mereka yang di jalan, bukan di bengkel ban.

“Gini kali ya, cinta ibarat kuku,” ucap Anwar Saleh. Eti diam, memandang Anwar Saleh dengan raut bingung.

Anwar Saleh melanjutkan ucapannya, kuku meski sudah dipotong, akan selalu tumbuh, dan begitulah cinta.

“Gitulah, Ti. Kan kalo kuku panjang juga kagak enak, kalo ada tahi kukunya ya kudu dibersihin.”

Sejak itu sikap Eti berubah, lebih sering memoles dan mematutkan diri dibanding sebelum-sebelumnya, entah saat di lapak kue pasar subuh atau di bengkel ban. Dia juga tampak lebih perhatian pada Anwar Saleh, yang tidak sepenuhnya menggubris semua itu. Bagi Anwar Saleh, Eti tetaplah Eti yang dia kenal seperti sebelum-sebelumnya.

Radio di lapak kue mengumandangkan azan, buyar lamunan Anwar Saleh. Haji Zaenal duduk di kursi plastik warna cokelat bermotif anyaman masih mengusir lalat-lalat jail yang mampir di kue dagangannya.

“Kagak kayak biasanya, nih,” seloroh Anwar Saleh.

“Bukan masalah, War. Asal gua bisa lihat romannya Eti ya udah senang.”

Anwar Saleh geleng-geleng. Sekali-dua pembeli datang lantas lapak sepi lagi. Radio mengudara dengan lagu-lagu dangdut pagi yang mengalun sesekali ditingkahi iklan obat dan laporan lalu lintas Jakarta kota kala pagi.

Pertama ku berjumpa denganmu

Seakan berdebarlah hatiku

Pandangan pertama yang kuterima

Terasa sejuk dalam dada

Pancaran dari rasa cinta

Setelah pertemuan pertama..[1]

Jalanan mulai dipadati mikrolet dan kopaja. Orang-orang ramai berlalu lalang di antara kerja dan olahraga pagi. Dari seberang jalan, Eti datang menghampiri lapak kue Anwar Saleh. Haji Zaenal menyambut uluran tangan Eti meski itu ditujukan untuk Anwar Saleh.

“Gua kira tadi cuma basa-basi, Ti,” celetuk Haji Zaenal yang menganggap ucapan Eti mampir ke lapak kuenya hanya gurauan, namun penuh harap dia menunggunya.

“Kagak pak haji.”

“Panggil bang haji aja, jangan pak, kesannya udah bangkot bener gua.”

Eti hanya mengangguk.

Anwar Saleh hanya berdiri mematung, melihat Haji Zaenal dan Eti di dekatnya. Sesekali ada pembeli datang, Anwar Saleh meladeni dengan cepat.

“Gimana, Ti? Kapan hari ntar main ke tempat gua, ya?” ucap Haji Zaenal.

“Iya. Asal sama bang Anwar juga.”

“Kendiri aja kagak apa-apa. Anwar kan sibuk. Ya kan, War?”

“Bener, Ji,” ucap Anwar Saleh.

“Eti kagak berani kalo sendiri.” Eti menunduk usai mengatakan itu.

“Kagak apa-apa, Ti. Eti yang udah abang anggap kayak adik sendiri kagak boleh takut,” ucap Anwar Saleh.

“Abang nganggap Eti cuma kayak adek abang?”

Anwar Saleh mengangguk penuh yakin. Seketika juga Eti pamit, hanya tampak belakang dalam pandangan Anwar Saleh dan Haji Zaenal. Dua lelaki itu tidak tahu ada air mata yang menetes di hitamnya aspal jalanan Senen pagi itu.


Ruly R, bagian dari Kamar Kata dan Rusamenjana. Suka lele bakar atau goreng dan Dji Sam Soe.


[1] Nukilan lirik lagu Setelah Jumpa Pertama dinyanyikan Mus Muliadi dan Ida Laila.

Cerpen

Kegelapan adalah Sebaik-baik Pemandangan

Cerpen Erwin Setia

Seusai mimpi buruk pada malam itu, Bono ingin sekali agar matanya buta seperti nenek dan yang dilihatnya hanya kegelapan. Ia lebih menyukai kegelapan. Ini aneh. Bono adalah penyuka hal-hal cerah dan terang. Semua orang terdekatnya tahu betul mengenai itu. Ia akan memilih baju warna matahari ketimbang dongker dan buku bersampul ramai ketimbang temaram. Ia menyukai yang terang-benderang dan ketika kemudian ia malah mengharapkan dan menyukai kegelapan, tentu ganjil sekali.

Untuk memahami Bono pada hari ini, perlu kiranya menyusuri jalan hidup Bono pada hari-hari lalunya. Manusia, bagaimanapun, dibesarkan oleh hari-hari silam.

Bono ketika kecil adalah anak lelaki kurus yang senang melukis dengan media apa pun. Sebelum ayah-ibu Bono sadar akan kebiasaan anaknya, Bono biasa melukis dengan cat air yang bertumpuk di gudang, ia melukisi tembok, pakaian ayahnya, lantai, dan apa pun selain kanvas. Kemudian, setelah kekagetan dan kegeraman sesaat, melihat kelakuan anaknya itu, ibu Bono membelikannya seperangkat alat lukis.

Meskipun sudah memiliki seperangkat alat lukis, terkadang Bono tetap mencoret-moreti objek-objek yang seharusnya tak boleh dilukisi. Bono, bagaimanapun, hanyalah seorang kanak-kanak. Tetapi, ayah Bono, sebagai pegawai perusahaan multinasional sibuk, yang sangat tidak menghendaki hal-hal mengecewakan sesampainya di rumah selepas pulang dari kantor, tak mau peduli, biarpun anak kecil Bono mesti tetap diberi pelajaran.

Maka itulah salah satu hari yang terus Bono ingat, ketika ayahnya menampar wajahnya sampai ia terempas dan menangis keras, akibat Bono melukis wajah seorang lelaki yang mirip ayahnya di jas ayahnya yang tersampir di kamar. Ibunya datang. Mengangkat Bono. Menatap tajam ayahnya. Ayahnya membalas tatapan itu lebih tajam. Ayahnya masuk ke kamar dan membanting pintu. Ibu Bono mengelus dan memeluk Bono.

Beranjak besar, Bono dititipi untuk tinggal bersama neneknya yang sudah tak mampu melihat di kota seberang. Ayahnya dipindahtugaskan ke kota yang jauh. Bono ingin ikut. Tapi ibu, yang menemani ayah, melarang. “Kota itu sangat jauh, Bono.” Bono merajuk dan jawaban ibunya tetap sama. “Nanti ibu dan ayah akan rajin mengunjungi rumah nenek, kok. Membelikanmu apa saja yang kamu mau. Oke, sayang?”

Bono tidak mengangguk dan tidak pula menggeleng. Ia hanya menghambur ke dekapan ibunya, dekapan panjang, yang mungkin akan berlangsung lebih panjang jika saja ayah Bono tak memotong, “Ayo, Bu, pesawat kita akan segera berangkat.”

Setelah hari itu, Bono tidak lagi berjumpa ibu dan ayahnya, kecuali satu tahun sekali. Biasanya ibu dan ayah mengunjungi rumah nenek dan menemuinya pada pengujung tahun, ketika ayahnya libur panjang. Kadang mereka juga mengunjungi rumah nenek pada libur lebaran, tapi yang demikian itu jarang sekali.

Satu hal yang Bono perhatikan, tiap ibu dan ayahnya datang ke rumah nenek dari tahun ke tahun, adalah paras ibunya. Paras ibunya selalu tampak lebih gelap dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya. Bono tak tahu mengapa dan ia juga tak berani menanyakan perihal itu kepada ibunya apalagi kepada ayahnya. Kendati gelap, sesungguhnyalah ibu Bono selalu menguarkan senyuman. Namun, senyuman itu, lebih terlihat menyedihkan daripada memancarkan aura kegembiraan.

Ibu dan ayahnya datang dan pulang, dan perubahan paras ibunya tetap serupa kotak kaca hitam yang belum terpecahkan di kepala Bono.

Semenjak paras gelap ibunya menggelayuti pikiran Bono, ia menjadi pemburu hal-hal terang dan cerah. Mulai dari pakaian, sampul buku, tema film, sepatu, benda pecah belah, koleksi lukisan, dan lain sebagainya. Bono berharap usahanya itu bisa berdampak pada ibunya. Barangkali, pada perjumpaan berikutnya, wajah ibunya akan kembali cerah atau setidaknya tak bertambah gelap.

Usaha Bono sia-sia belaka.

Ia memang semakin banyak membeli hal-hal bertema cerah dan terang-benderang hingga teman-temannya mengidentikkan sesuatu yang semacam itu kepada Bono. Misalkan mereka menjumpai sampul buku yang heboh bukan main dengan gradasi warna-warna cerah di toko buku atau menemui poster film dengan corak terang di area bioskop, mereka akan berseru, “Wah, ini Bono banget!” Namun ketika hari kedatangan ibu dan ayahnya tiba, kadar gelap di paras ibunya semakin tinggi. Seolah-olah waktu berputar hanya untuk mempergelap paras ibu.

Satu hal lagi yang baru Bono sadari adalah paras ayahnya. Sementara wajah ibunya kian menyerupai awan-awan musim hujan, wajah ayahnya justru sebaliknya, tampak berbinar seakan-akan seluruh cahaya wajah ibu direnggut wajah ayah.

Menyadari itu, rasa iba Bono kepada ibunya semakin menjadi-jadi. Pada saat yang sama, rasa bencinya kepada ayah kembali tumbuh dan menyubur. Rasa benci yang sebetulnya sudah coba ia kubur. Rasa benci yang bermula dari hari ketika ayahnya menamparnya semena-mena. Bono akan terus membenci ayahnya sejak hari itu andai saja ibu tak menasihatinya. “Bono, tolong kamu maafkan ayahmu, ya. Jangan sampai kamu membenci ayahmu sendiri. Biar bagaimanapun ayah tetaplah ayah yang harus dicintai dan dihormati, bukan dibenci. Oke, sayang?”

Satu tahun sebelum malam yang membuat Bono beralih mencintai kegelapan, ibu dan ayahnya datang dengan wajah bertolak belakang. Wajah ibu makin layu. Wajah ayah makin mekar. Namun, ada hal lain yang benar-benar membuat Bono tak lagi bisa memendam rasa penasarannya perihal perubahan ibu. Hari itu wajah ibu bukan hanya sendu, melainkan juga luka memar tampak di sekitar pelipis dan bagian bawah rahangnya.

“Ibu tidak apa-apa, Bono,” jawab ibu saat Bono bertanya soal luka memar di area wajahnya. Mendapati jawaban begitu, Bono memandangi ayahnya yang tampak biasa-biasa saja, seolah tak ambil peduli dengan kondisi istrinya.

“Ada apa kau lihat-lihat ayah seperti itu, Bono?” Ayahnya bertanya dengan nada membentak dan Bono menimpalinya dengan pandangan menyilet.

Bono baru saja akan mengatakan sesuatu pada ayah, ketika ibunya berujar lirih, “Sudah, Bono. Ibu memang tidak kenapa-kenapa. Tak usah mengkhawatirkan ibu.”

Pada kunjungan kali itu, yang sekaligus kunjungan terakhir ibu dan ayahnya, mereka tidak menginap di rumah nenek berminggu-minggu seperti biasanya. Mereka menginap hanya beberapa hari. Ketika nenek menanyakan kenapa ayah dan ibu buru-buru sekali, ibu bilang kerjaan ayah sedang melimpah sehingga mereka tidak bisa berlama-lama. Ayah membenarkan ucapan ibu dan mereka pun pulang.

Sebelum pulang, ibu mengelus kepala Bono dan mengecup kening anak tunggalnya itu. Bono sudah beranjak dewasa. Ia tampak rikuh diperlakukan begitu, tapi pada kemudian hari ia berharap kala itu ibu mengelus kepala dan mengecup keningnya lebih lama.

Hal terakhir yang Bono lihat dari ibu menjelang kepulangannya adalah punggung ibu saat hendak menaiki taksi. Dan Bono kembali baru menyadari satu hal: punggung ibu terlihat bungkuk, padahal usia ibu belum begitu tua.

Sore sebelum malam kelam itu, seharusnya jadwal ibu dan ayah mengunjungi rumah nenek. Tetapi, mereka tak datang. Yang datang hanyalah sebuah telepon dari kota yang sangat jauh, kota tempat ibu dan ayah tinggal. Suara di telepon itu pun bukan suara ibu dan ayah, melainkan suara semi bariton seorang lelaki asing. Nenek dengan tergopoh-gopoh mengangkat telepon itu. Tak lama kemudian nenek pingsan. Telepon rumah itu terjatuh dan kabelnya menjuntai-juntai. Tapi masih menyala. Setelah membaringkan tubuh nenek di atas sofa, Bono mengangkat telepon itu. Rupanya telepon dari kepolisian tempat tinggal ibu dan ayah. Ketika suara di seberang telepon mencapai inti persoalan, Bono nyaris pingsan dan membuat telepon terjatuh sebagaimana nenek barusan, namun ia menahannya. Bono mengucapkan terima kasih kepada polisi tersebut, menutup telepon, dan duduk melamun di sofa bersampingan dengan neneknya yang belum siuman.

Bono melamun terus-menerus hingga ia jatuh tertidur. Dalam tidurnya Bono bermimpi persis seperti isi cerita polisi di telepon tadi. Mimpi itu begitu nyata, terang-benderang, dan tak terhalangi suatu apa pun. Dalam mimpi itu, Bono melihat darah begitu merah, cahaya mentari begitu menyilaukan, dan desing pisau begitu tajam. Dalam mimpi itu, Bono melihat dua orang yang begitu dikenalnya, dua orang yang menjadi perantara Bono lahir ke muka bumi dan merasakan hidup. Dalam mimpi itu, Bono merasakan hawa begitu dingin dan aroma anyir darah begitu pekat. Dalam mimpi itu, Bono duduk di sebuah kursi dan menyaksikan dua kematian. Seorang lelaki berjas rapi yang tak lain adalah ayahnya, ternganga seolah menjerit dalam kebisuan dengan dada berlubang di atas tempat tidur. Seorang perempuan dengan pakaian koyak moyak dan rambut berantakan yang tak lain adalah ibunya, tersenyum pilu dengan nadi terputus di atas lantai.

Sebangun dari tidur, bayangan mengerikan mimpi itu masih terus menghantui Bono dengan amat jelas. Bono melihat ke arah neneknya dan ia ingin seperti nenek agar yang dilihatnya hanya kegelapan. Sebab, bagi Bono, kegelapan adalah sebaik-baik pemandangan.***


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis karya fiksi dan esai. Tinggal di Bekasi. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Berkabung

Cerpen Rahma Syukriah Sy

Hendak kuapakan tubuh suamiku yang terbujur kaku ini? Bisakah kusimpan saja? Kalau ia yang kusayangi membusuk bagaimana?

“Pak, aku harus bagaimana?”

***

Orang-orang membawa nasi berkat, berjalan gontai penuh tawa, berbincang riang entah apa saja. Besek, kata mereka. Isinya tak tanggung-tanggung, nasi lengkap dengan lauk, lalapan serta sambal. Lalu ditambah buah-buahan, kue basah dan agar-agar. Bahkan di antara mereka saling rebut, demi mendapatkan lebih banyak berkat untuk dibawa pulang. Bagi mereka berbagi besek, bentuk berkat untuk semua tetangga dan sanak saudara. Tak jarang di antara mereka membawa dua sampai tiga besek.

Dari wajah mereka yang gembira, siapa sangka sesungguhnya nasi berkat itu mereka bawa dari rumah duka. Ah, kegembiraan dan kesedihan kadang begitu lekat, dan doa-doa hanya sebentuk ritual, selebihnya untung rugi. Jika kita ingin beruntung dan tak mau rugi, cukup pergi ke rumah duka, lalu mengaji. Nasi berkat sudah menanti.

Aku mengintip dari kaca jendela, orang-orang bersarung pulang mengaji dari rumah Pak Waluyo yang meninggal sore kemarin.

“Serius benar, ada apa?” Suamiku yang sebelumnya tengah terbaring di kasur menguntit, lalu mengejutkanku.

“Itu, Pak. Orang-orang pulang melayat.”

“Memangnya kenapa?”

Kupalingkan badan, kamar kontrakan kami berukuran tiga kali empat, dari tempatku berdiri aku masih bisa melihat senyumnya. Aku berjalan mendekatinya, memandangnya, mengelus tangannya yang kian keriput, gurat-gurat menua sudah memenuhi wajahnya. Tapi senyumnya masih sama.

“Tidak, Pak. Aku hanya berpikir. Maut bisa datang tiba-tiba. Kemarin aku masih melihat Pak Waluyo lewat di depan rumah. Sorenya sudah diumumkan di musala beliau berpulang.”

“Iya, tinggal kita menunggu giliran.”

“Pak.” Kuelus tangannya, “Jangan ngomong gitu, kita akan bersama selamanya.”

Perbincangan itu tak berlanjut lagi, aku hanya berbaring di sampingnya, sesekali terdengar ia terbatuk-batuk sedang matanya terpejam. Puluhan tahun hidup di perantauan bersamanya tak pernah ia mengeluh. Walau hidup serba berat, tapi berdua bisa kami lewati. Mungkin itu cara Tuhan mencintai kami, hingga usia senja, tak dikaruniai anak juga anugerah. Untuk bertahan hidup berdua saja kami susah, apalah nasib jika punya anak?

Hidup di kota tak seenak di kampung. Di kota serba uang, jangankan bertahan hidup, mati saja masih perlu uang. Masih teringat perbincangan kami dulu. Dua tahun lalu, teman kami sesama pemulung meninggal dan tak punya biaya sepeser pun. Beruntung keluarganya dari kampung datang menjemput setelah sebelumnya dibawa dengan ambulans ke rumah sakit.

Sejak saat itulah, aku dan suami memutuskan menabung setiap hari barang dua ribu atau lima ribu perak. Persiapan kematian kami. Mengingat tak ada siapa-siapa yang akan mengurus kami.

“Untuk biaya pemakaman delapan ratus ribu katanya, Bu.”

“Ooo.” Itu saja komentarku, semoga uang segitu bisa terkumpul nanti.

“Ada lagi, uang penyelenggaraan jenazah sejuta lima ratus.”

Tak tanggung terkejutnya aku mendengar perkataan suamiku. Hah? Penyelenggaraan jenazah yang dimaksud memandikan, mengafani, mensalatkan, mendoakan. Itu dibayar? Melihat aku yang tak ada respon. Suamiku hanya tersenyum lalu berkata, “Memang begitu, Bu! Semuanya bayar, belum nanti nasi berkat, uang tahlilan, dan lain-lainnya.” Kenapa urusan mati menjadi berat begini? Tak bisakah kita mati lalu disalatkan oleh jemaah musala, dan dikubur di TPU, tanpa ada tetek bengek lainnya?

Aku memejamkan mata mengingat-ingat perbincangan itu. Sebelum akhirnya terlelap tidur di sampingnya, aku masih mendengar beberapa kali suamiku terbatuk.

Entah pukul berapa aku terbangun, rasanya dingin sekali, biasanya kalau tidak selepas hujan tak dingin begini. Aku beranjak dari tempat tidur lalu memeriksa jendela, barangkali lupa ditutup. Tidak! Sudah terkunci rapat, lalu aku beringsut mengambil minum. Tepat di sebelah suamiku yang tertidur kusediakan termos, agar jika nanti ia butuh minum, aku bisa langsung mengambilnya. Suamiku suka minum hangat. Sejak menderita batuk parah enam bulan lalu, air hangatlah satu-satunya yang bisa melegakan dadanya. Kadang ia sesak,  semalaman batuk tak berkesudahan sampai-sampai suaranya parau. Sempat beberapa kali kubawa ia ke puskesmas. Kata dokter, suamiku sakit paru-paru. Obatnya sangat banyak, dan harus ditebus setiap bulannya. Hal itu yang menyebabkan tabungan kami terkuras. Setelahnya kami tak ke puskesmas lagi.

Anehnya, setelah rutin minum obat badannya makin menyusut. Tak ada tenaga lagi, ia banyak berbaring. Tak kuizinkan lagi memulung bersamaku.

“Pak, mau minum dulu?”

Aku membangunkan suamiku yang tampak lelap tidurnya. Sedari tadi aku terbangun tak sekalipun kudengar suara batuknya. Kulihat jam dinding sudah pukul tiga pagi, biasanya ia bangun sekadar meminta minum atau hendak ke kamar mandi.

“Pak,”

Tak ada jawaban, kugenggam pergelangan tangannya yang hanya tinggal tulang itu, dingin. Aku khawatir, spontan kuguncang-guncang bahunya, memanggil-manggilnya tapi tak ada jawaban. Perasaan risau menjalar sampai ke hati, rasanya perih. Kukuatkan hati mendekatkan telinga ke hidungnya. Benar, tak ada suara, tak ada deru napas.

Lama aku termenung, tak bisa membendung air mata. Tak menyangka sesakit ini rasanya ditinggalkan. Kubaringkan diri di sampingnya kembali, menatap lama wajahnya yang lusuh, tirus. Pak, aku harus bagaimana?

Seharian itu aku hanya berbaring di samping jenazah suamiku, tak tahu hendak apa, aku tak punya uang sepeser pun. Kembali kuhitung-hitung, berapa kira-kira total biaya yang diperlukan. Kepalaku menjadi sakit, rasanya tak bisa berpikir apa-apa lagi.

Hari itu rasanya berlangsung lama sekali. Sesekali kuhalau lalat yang hinggap di jasad suamiku. Aku benar-benar hilang akal, tidak tahu harus minta pertolongan kepada siapa. Hingga magrib menjelang jasad suamiku belum terurus. Aku berjalan ke sisi jendela, lagi orang-orang yang sama lewat di depan rumah, membawa nasi berkat dari rumah pak Waluyo, pengajian hari ketiga.

“Pak, apa aku minta tolong orang-orang itu? Minta belas kasihan menguburkanmu dengan cuma-cuma.”

Hening, malam makin dingin. Kembali kubaringkan diri di samping tubuh suamiku yang mulai kaku.

“Tak apa-apa, Pak. Ada aku, aku akan menemanimu.”

Entah jam berapa, aku tertidur lelap sekali, rasanya lelah menangis dan berpikir seharian. Ketika terbangun kurasakan gelap gulita, mungkin lampu mati, kuraba-raba di sebelahku, masih ada suamiku yang kaku, lalu kupeluk ia erat-erat. Dulu semasa hidup, ia selalu ada untukku, apa pun ia lakukan untukku, satu saja yang ia tak bisa. Ia tak bisa berada dalam kegelapan, tidur pun kami menyalakan lampu terang. Jika gelap, tiba-tiba ia akan sesak dan panik, ia benci gelap. Kembali kueratkan pelukan.

“Tak apa, Pak! Ada aku.”

Pagi menjelang, aku masih bingung hendak diapakan suamiku yang semakin banyak dihinggapi lalat. Apa aku kubur saja di lantai rumah ini? Bagaimana kalau aku bongkar saja ubinnya, rasanya tak begitu susah. Kutempelkan telinga mengetuk-ngetuk ubin, mencari bagian yang suaranya agak redam. Satu, dua, tiga, empat, kutandai bagian yang mungkin bisa dilepas.

Dengan peralatan seadanya, palu, pisau dapur dan gunting mulai memecah satu per satu ubin. Dua ubin berhasil kulepas, tapi ubin lainnya sulit dipecah. Lalu kuputuskan menggali lewat dua ubin itu.

Ketika proses penggalian lewat dua ubin itu aku perpikir tentang bagaimana cara menguburkan suamiku. Aku perlu memotong-motongnya menjadi bagian-bagian kecil. Tentu saja setelah itu lubang ini akan cukup mengubur tubuhnya. Tak kupikir lebih lama lagi, dengan alat yang kupakai untuk menggali, kupotong-potong suamiku dengan perlahan, agar ia tak merasakan sakit.

“Pak, sabar ya! Sebentar lagi akan kukubur.”

Sesekali di sela pekerjaanku memotong-motong suamiku, kuhalau lalat yang kian banyak. Tak cukup pisau, kuambil gergaji, sepertinya bisa mempercepat pekerjaanku. Aku tak mau menunggu malam tiba, aku ingin menguburkan suamiku secepatnya. Kasihan, sudah terlalu lama jenazahnya terlantar.

Sedang konsentrasi dengan pekerjaanku, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Aku kaget, pekerjaanku belum selesai. Baru kaki dan tangan yang berhasil kupotong. Tak kuhiraukan ketukan itu. Aku melanjutkan memotong bagian dada. Pikirku, ini tak akan lama, sejam atau dua jam lagi ubin akan tertutup. Namun, ketukan itu terus terjadi, bahkan sudah menjadi gedoran, tampak tak sabar. Gedoran pun beralih ke jendela, aku masih tak menghiraukan, pekerjaanku kulanjutkan.

“Tak apa-apa, Pak! Sebentar lagi selesai.”

Tiba-tiba pintu didobrak, dibuka paksa. Orang-orang masuk, aku merasa kami diserang. Aku melihat mereka yang lalu lalang membawa nasi berkat beberapa hari lalu. Mereka menunjuk-nunjuk ke arahku sembari berteriak-teriak, lalu beberapa orang memegangiku, berusaha menyeretku ke luar.

“Aku ingin menguburkan suamiku!” Berkali-kali kuteriakkan itu, tapi mereka abai.***


Rahma Syukriah Sy, seorang ibu (agak) muda, penikmat puisi dan karya sastra yang menghabiskan hari-hari bermain bersama dua buah hati yang lucu-lucu dan adik-adik di Rumah Belajar Ka Rahma. Sekarang tengah aktif mengikuti event-event menulis dan menerbitkan beberapa antologi bersama. Bisa mengunjunginya di FB, IG dan akun Opinia dengan username yang sama @RahmaSyukriahSy