Cerpen

46 Miliar Tahun Cahaya

Cerpen Fatimah Ridwan

Kau pernah mengatakan, kelak kita berdua akan pergi ke ujung alam semesta, 46 miliar tahun cahaya jaraknya dari bumi, tempat di mana jarak akan lenyap. Saat ini, jarum jam di tanganmu berhenti di 07.41, tak kulihat ia bergeser lagi sejak kau rebah di sisiku.

“Sejak awal aku merisaukan itu,” gumamku, nyaris tak terdengar. Begitu pelan. Sangat pelan.

“Apa?” tanyamu tanpa menoleh padaku, tak ingin mengalihkan pandanganmu ke arah laut, serupa memandang kekasih untuk terakhir kali.

“Jarak. Ternyata jarak bisa demikian kejam, jarak bisa membuatku kehilangan banyak hal, jarak nyaris membuat aku kehilanganmu,” jawabku, dengan air mata yang nyaris luruh. Aku merasa puluhan taut rantai terikat di dadaku. Sesak. Aku tersedak, pada detik berikutnya ia berganti menjadi isak.

***

Kelas selalu gaduh dengan cekikikan murid-murid perempuan tiap kali mata pelajaran astronomi berlangsung, bukan karena pelajaran itu menyenangkan, tetapi entah, dada mereka kembang kempis menahan kekaguman yang terus meluap saat pesonamu memanah tepat ke hati mereka.

“Astronomi bukan sekadar mempelajari benda-benda langit di alam semesta, lebih dari itu, astronomi mengajarkan tentang hakikat diri kita, selalu ada yang lebih besar dari kita, kejadian-kejadian yang lebih besar. Jika satu kematian terjadi di bumi, mungkin saja di saat bersamaan, satu peradaban musnah dalam ledakan supernova di bagian lain semesta, di gugus bintang lain atau di galaksi lain. Adik-adik sekalian, kita, manusia yang sombong ini sejatinya tak lebih besar dari setitik debu di alam semesta, sangat mudah untuk musnah,” jelasmu panjang lebar.

Kau berdiri di tengah-tengah ruang kelas dengan kedua tangan menggenggam di balik punggung, serta senyuman seteduh oase yang sejuk, menyusup ke hati para gadis, seakan menyelamatkan mereka dari ganasnya kegersangan gurun. Dan riuh tepuk tangan menggema di ruang kelas, membuatmu tidak terlihat seperti guru, namun lebih menyerupai musisi yang baru saja menyelesaikan sebuah konser.

“Sampai di sini ada yang ingin ditanyakan?”

“Saya, Pak.” Seorang murid perempuan yang berjarak dua bangku dari depan tempat dudukku mengangkat tangannya.

“Silakan.”

“Sebelumnya saya mohon maaf karena ini bukan pertanyaan, melainkan pengakuan saya,” ucap gadis itu, terjeda.

“Awalnya saya tidak percaya dengan Ibu saya yang mengatakan bahwa dengan bersekolah saya memiliki masa depan. Namun, setelah Bapak mengajar di sekolah ini, saya percaya bahwa masa depan saya ada di sekolah, dan bahkan saat ini ada di depan mata saya,” lanjutnya, lalu menundukkan wajah dalam-dalam menyembunyikan semu merah di pipinya.

Seketika kelas kembali riuh oleh sorak murid-murid lain yang muak mendengar rayuan klise itu. Sontak kau memandang ke arahku dengan tatapan sungkan, sedang aku membuang pandangan ke luar jendela, ada yang terbakar di ulu hatiku.

Siang itu, dalam perjalanan mengantarku pulang, kau melambatkan laju sepeda motor dan memanggil namaku dengan sedikit berteriak melawan angin dan bising kendaraan.

“Maretna?”

“Ya?”

“Maafkan aku soal kejadian di kelas tadi.”

“Itu bukan salahmu.”

“Tapi kau cemburu.”

“Tenang saja, itu yang terakhir kali aku cemburu karena aku takkan melihatmu mengajar lagi.”

“Kau pikir aku akan membiarkanmu putus sekolah begitu saja? Apa dengan kubiayai sekolahmu, itu membuatmu merasa direndahkan?”

“Sudah berulang kali kubilang, aku tak mau kau membiayaiku sebelum aku jadi istrimu. Atau jangan-jangan, kau yang merasa rendah jika menikahi bocah muridmu sendiri?”

Kali ini aku tidak mendengar kalimat Tidak semudah itu untuk kita dari mulutmu, hanya ada hening yang mengambang menabrak-nabrak angin, hingga kau membelokkan setir sepeda motormu memasuki pekarangan rumahku.

Ibu tengah mengambili sayuran sisa berjualan tadi pagi yang tak habis saat kita tiba. Kau menyapanya dengan akrab, larut dalam cengkerama serupa karib. Kalian membincangkan kawanan penyamun yang telah memasuki desa, sebelum Ibu masuk dan meninggalkan kita berdua yang memilih melanjutkan hening di beranda.

Lelaki itu adalah guru anakku, begitu yang Ibu pahami tentang kita berdua. Entah bagaimana jika Ibu tahu anaknya yang baru 17 tahun menjalin hubungan bersama seorang lelaki yang seusia dengan dirinya, membayangkannya pun aku tak berani. Kata-kata Ibu bahkan selalu terngiang tiap kali aku sadar paut usiaku denganmu terlampau jauh. 20 tahun! Persis seperti paut usia Ibu dengan Bapak.

“Nak, jika menikah nanti, carilah laki-laki yang paut usianya tak jauh denganmu, aku tak ingin nasibmu sepertiku. Harus menjadi tulang punggung, sementara bapakmu masih hidup. Lalu apa bedanya aku dengan janda sekarang?” tanya Ibu suatu kali. Pernah juga Ibu membahas masalah serupa, “Lihatlah bapakmu, sudah sepuh sementara anak-anaknya masih kecil, masih butuh biaya banyak.” Tetapi sungguh, tak ada yang bisa memilih ke mana hatinya berlabuh.

“Aku berangkat malam ini,” ucapku, memecah keheningan.

“Kau bilang seminggu lagi?”

“Tante Soraya baru bilang semalam, ternyata aku harus menjalani pelatihan selama seminggu sebelum mulai bekerja.”

“Jam berapa?”

“Jam delapan.”

“Datanglah ke dermaga jam tujuh, jika kau masih mau melihat bintang untuk terakhir kalinya bersamaku.” Kau beranjak menuju sepeda motormu, lalu melaju ke luar dari pekarangan rumahku, aku tak berpaling dari punggungmu yang kian mengecil, hingga kau lenyap di kelokan jalan.

***

Kukira, kau akan menunjukkan ekor-ekor meteor yang melintasi langit, atau Batara Kala menelan rembulan, atau ledakan supernova yang gempita di gulitanya ruang angkasa. Tetapi bahkan bintang juga redup malam ini, langit murung, hanya kepak gagak dan kita yang berbincang tanpa bicara di bawah daun-daun gugur.

“Kita akan pergi ke ujung alam semesta, Maretna,” katamu.

“Sampai kapan?”

“Sampai ada yang menemukan dua jasad itu,” ucapmu lalu melempar pandangan pada dua tubuh yang tergelepar sia-sia, kau memejamkan mata dengan getar hingga titik-titik bening bermuara di pipimu.

“Maafkan aku, Maretna. Seharusnya aku bisa melawan mereka, setidaknya membuatmu tetap hidup,” lanjutmu.

“Kau gemar sekali meminta maaf atas sesuatu yang bukan salahmu. Kukira itu hanya kau lakukan saat masih hidup,” ucapku, tak kusangka kau masih kuasa tersenyum dengan oase yang menghampar lebih teduh.

Saat kulihat seorang pria menyandarkan perahunya ke dermaga, aku tahu waktu kita akan segera tiba. Tubuh kurus itu nyaris ambruk saat mendapati dua jasad dengan isi perut terburai, gema pekiknya mengacaukan rencana malam yang ingin selalu terlihat senyap.

Sementara pasir pesisir yang tak terpijak itu menguarkan aroma mawar, ombak pasang berhenti berdebur, gemintang berhenti berdenyar, hanya derap kaki serdadu yang gaduh di dada saat kita saling mendekap, detik masih enggan berdetak dan kita lesap ke tempat di mana jarak akan lenyap.***


Fatimah Ridwan, Mahasiswi Pendidikan Agama Islam asal Luwu Utara. Sangat jatuh hati pada karya sastra fiksi, beberapa cerpen dan puisi pernah dimuat di media online dan cetak. Jejaknya bisa ditemukan di Instagram @fatimah.ridwan

Cerpen

Yudistira Moksa

Cerpen Caligula Zaragyl

/1/ Judi Dadu

Yudistira bersama dengan rombongannya pergi ke Hastinapura untuk bermain judi dadu. Ia tak ingin kehormatannya sebagai raja dipermalukan. Apalagi tradisi zaman itu, etika kesopanan, kehormatan, keberanian juga terletak pada undangan bermain judi dadu. Yudistira yang seorang arip bijaksana pun juga sebenarnya dapat mengirimkan orang untuk menghadiri undangan itu. Namun, terlalu percaya dengan sikapnya yang arip bijaksana, merasa dapat memenangkan permainana judi dadu dengan mudah, apalagi kegemarannya bermain judi menjadi faktor utama untuk menerima undangan itu.

Duryudana menyambut rombongan Yudistira dan mempersilakan untuk beristirahat di balairung yang telah disediakan. Mereka dijamu dengan istimewa, segala aneka makanan ada, dan telah menyiapkan ratusan wanita penghibur. Keesokan harinya, rombongan Yudistira diantarkan ke balairung tempat bermain judi dadu. Ruangan yang sangat luas, seluruhnya dihiasi oleh permata yang berkilau, dindingnya tersepuh oleh emas, plafonnya terbuat dari kristal, lantainya penuh dengan corak unik, sekeliling penuh dengan lukisan tangan dalam bentuk bas-relief[1]yang menjelaskan keagungan dewa, karya mozaik dengan corak rumit, dan patung-patung berbentuk dewa. Mereka saling menyapa dan menempati tempanya masing-masing. Kurawa dan Pandawa saling berhadapan. Mereka segera ingin melihat siapa yang memenangkan judi dadu. Yama Widura, Bima, Sengkuni, Drona, Kunti, Krepa, Gendari, Dursasana, Citraksa, Karna, Citraksi, Kurawa dan Drestarata menjadi saksi permainan.

“Mari kita bermain judi dadu, Yudistira,” kata Duryudana.

“Bermain judi dadu menyebabkan permusuhan. Segala cara akan dikerahkan untuk mengalahkan lawan.”

“Apa yang salah dengan permainan judi dadu ini? Permainan ini hanya adu keterampilan dan keberuntungan saja. Semua orang dapat memainkannya.” Duryudana berusaha memancing Yudistira untuk bermain judi dadu. Ia ingin menguras segala kekayaan miliknya dan berusaha menyingkirkan Yudistira.

“Baiklah mari kita mulai permainan ini!”

Balairung penuh gemuruh penonton, segala makanan telah tersedia, dan wanita penghibur. Suasana semakin panas ketika dua pihak mulai meneriakkan caci maki. Duryudana mulai melemparkan dadu ke meja, berputar cukup lama, dan muncul angka seperti yang ia katakan. Yudistira semakin emosi setelah kalah bertaruh permata, emas, perak, dan barang yang dibawa ke Hastinapura. Ia berpikir untuk bertaruh lebih banyak dan berharap dapat mengembalikan taruhan yang telah kalah. Namun, nasib sial menimpa Yudistira, segala angka yang dikatakan olehnya tak ada yang keluar.

Duryudana tertawa terbahak-bahak. Ia telah memenangkan semua yang dibawa oleh rombongan Yudistira dan kerajaanya. “Mengapa tak mempertaruhkan saudaramu saja? Barangkali semua yang kamu pertaruhkan akan kembali lagi atau kamu akan memenangkan permainan ini!”

Yudistira terus didera kekalahan. Ia semakin tenggelam dalam tipu muslihat yang dilakukan oleh Duryudana. Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima telah dipertaruhkan. Tak ada satu pun kemenangan yang diperoleh Yudistira. Semuanya telah habis untuk dipertaruhkan. Duryudana, Sengkuni, Karna, Kurawa, dan Dursasana tertawa mengejek. Mereka ingin melihat Pandawa sengsara. Duryudana dengan segala tipu muslihatnya berusaha mengambi semua yang dimiliki oleh Yudistira.

“Semua telah kamu pertaruhkan dalam permainan dadu ini. Kau sudah tak mempunyai apapun kecuali Drupadi! Jika kau mempertaruhkan Drupadi dan memenangkan satu permainan, aku akan mengembalikan semuanya! Ini tawaran yang luar biasa!”        

Rombongan Yudistira menundukkan kepala. Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan. Yudistira telah gelap mata dalam permainan judi dadu. Ia semakin terpancing untuk terus bermain dan berusaha untuk memenangkan permainan. Namun, Duryudana tetap yang memenangkan permainan. Ia telah mengambil kerajaan, kekayaan, prajuritnya, empat Pandawa, dan Drupadi.

Duryudana pun masih tak puas melihat Yudistira kalah. Ia tak hanya mengincar semua yang dimiliki Yudistira, tetapi juga ingin menyingkirkannya. “Aku ingin empat Pandawa mati!” kata Duryudana. Ia mengambil tumbuhan vida[2] dan menusukkannya ke jantung Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima. Mereka terkapar tak sadarkan diri. Tumbuhan vida itu tumbuh kelopak bunga berwarna merah. Setiap hari, bunga itu akan menyerap darah untuk sumber kehidupannya.

Yudistira hanya mampu menahan kesedihan. Ia tak bisa melarang Duryudana karena telah kalah taruhan. Pemenang bebas melakukan apapun terhadap barang, orang, atau hasil kemenangannya. “Kau dapat menghidupkan kembali saudara-saudaramu. Namun, kau harus mencari air suci untuk membunuh bunga itu. Jika kau mencabutnya dengan paksa atau memotongnya, saudaramu akan mati!” ucap Duryudana dengan nada mengejek dan sepersekian detik kemudian disusul oleh tawa terbahak-bahak dari Kurawa yang lain.

/2/ Moksa

Yudistira harus mencari air suci untuk menghidupkan saudaranya. Ia harus mendaki Gunung Candramurka yang dijaga raksasa, bernama Ruhmuka dan Rukmakala. Sepanjang perjalanan, Yudistira terus menyalahkan dirinya karena telah berbuat bodoh. Namun, penyesalannya tak akan pernah membuat semua kembali seperti semula, apalagi Dewata telah mencatatnya. Yudistira harus melewati sungai, lembah, tebing curam, dan di tengah jalan bertemu dengan burung elang yang mengigit Panca Kumala yang berbentuk ular. Ia ingin membiarkan saja karena merasa itu hukum alam. Semua hewan akan saling memangsa untuk bertahan hidup. Ketika melihat mata Panca Kumala lantas teringat dengan saudara-saudaranya yang sedang sekarat. Yudistira lantas mengambil ranting kayu, melemparkannya tepat di mata elang, hal itu membuatnya melepaskan mangsanya. Ia berlari untuk menangkap Panca Kumala.

“Terima kasih telah menolongku.”

“Siapakah kau sebenarnya? Apakah kau siluman ular?” Yudistira terkejut ketika mendengar Panca Kumala yang berbentuk ular dapat bicara. Ia tak pernah mengira bahwa ular yang ditolongnya adalah Panca Kumala.

Panca Kumala berusaha menjelaskan siapa dirinya. Ia mendekat ke Yudistira dan berkata, “Aku bukan siluman. Aku anak dari Batara Guru.”

“Tidak mungkin anak dari Batara Guru berwujud seekor ular!”

“Aku telah memakan buah nitya pralaya[3] dan dikutuk oleh Brahma menjadi seekor ular.”

Yudistira membawa Panca Kumala bersamanya. Mereka sampai di puncak Gunung Candramurka. Mereka telah dihadang Ruhmuka dan Rukmakala. Pertarungan tak dapat dihindari. Pertarungan terjadi tujuh hari-tujuh malam. Sampai pada akhirnya Yudistira dapat memenangkan pertarungan. Tubuh Panca Kumala berubah menjadi besar dan melilit tubuh Rukmakala sampai tak bernapas, sedangkan Yudistira dapat membunuh Ruhmuka dengan menghancurkan jantungnya.

Mereka lantas melihat ke puncak Gunung Candramurka, tetapi tak ada air suci, yang ada hanyalah magma. Yudistira menangis membayangkan nasib saudara-saudaranya yang sedang sekarat. Panca Kumala berkata, “Air suci itu hanya akan keluar pada naimittik pralaya[4].”

“Apakah itu artinya tak mungkin untuk mendapatkan air suci? Apakah saudaraku akan mati gara-gara kebodohanku?” Yudistira mendadak lemas dan menangis tersedu-sedu.

“Aku dapat memotong tumbuhan itu.”

“Aku minta tolong bantulah aku.”

Pada suatu malam, mereka menjalin tali asmara, dan hubungan intim yang mistis pun terjadi. Tubuh Panca Kumala kembali seperti semula. Kutukan itu dapat dihilangkan dengan cara hubungan intim. Ia kembali menjadi putri jelita yang mempunyai kecantikan dewi. Mereka menjalin hubungan suami istri. Hubungan berdasarkan saling suka, bersedia hidup bersama, dan itu menjadi syarat sah sebuah hubungan suami istri pada zaman itu.

***

Mereka menuju ke Hastinapura dengan waktu yang sangat cepat. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu beberapa tahun, tetapi hanya memakan waktu satu hari. Hal itu berkat kekuatan Panca Kumala yang mempunyai kekuatan mengendalikan waktu. Sesampainya di sana prajurit Duryudana menghadang mereka. Panca Kumala langsung memporak-porandakan seluruh kerajaan Duryudana. Melihat keadaan tersebut Sengkuni ikut terjun ke medan perang, dan pada akhirnya kalah di tangan Panca Kumala.

Yudistira berteriak supaya Duryudana keluar dan mengajaknya berperang. Akhirnya terjadi adu kesaktian, segala ilmu telah dikerahkan, dan semua ketangkasan memainkan senjata dikeluarkan. Namun, segala serangan tak ada yang mengenai tubuh Yudistira. Dia seakan di atas angin sedangkan Duryudana telah babak belur. Ia ingin menghancurkan kepala Duryudana. Namun, Drupadi berlari tergopoh-gopoh dan berkata, “Jangan bunuh dia!”

“Mengapa tak boleh membunuhnya, Istriku?”

“Aku mengandung anaknya. Aku tak ingin anak ini menjadi yatim!” Drupadi mengelus-elus perutnya yang sudah membuncit.

“Apa sebenarnya maksudmu?”

“Aku mengandung anak Duryudana.”

“Bukankah kau masih istriku?”

“Suami macam apa yang sudi menjadikan istrinya sebagai barang taruhan. Pergilah ke balairung, saudaramu masih berada di sana!”

Panca Kumala terkejut dengan kenyataan yang ada di depannya, mengelus-ngelus perutnya, dan berusaha untuk tabah. Ia tak pernah mengira Yudistira telah mempunyai istri. Mereka akhirnya pergi ke balairung. Yudistira tertunduk layu melihat saudaranya yang telah terbujur kaku. Ia mulai memegang jantung Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima. Mereka masih bernapas.

“Bagaimana aku harus memotong tumbuhan vida itu? Jika sembarangan maka saudaraku yang akan mati.”

Panca Kumala lantas  memotong taringnya, taring kanannya berubah menjadi senjata brahmanda astra, sedangkan taring kiri menjadi senjata nagapasham. Ia memotong tumbuhan vida dengan menggunakan senjata nagapasham. Seperdetik kemudian Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima hidup kembali. Yudistira memeluk mereka dan meminta maaf atas kesalahannya.

Panca Kumala pun memberikan senjata brahmanda astra kepada Yudistira. Berharap jika ada mara bahaya dapat membantunya. Namun, Yudistira menghunjamkan senjata itu tepat di jantungnya. Ia berpikir bahwa kematian menjadi gerbang menuju kehidupan selanjutnya untuk menjalani penebusan dosa.

                                                Ruang Sang Hyang Widhi, 11 Januari  – 23 September 2021.


Caligula Zaragyl, berdomisili di Demak. Bergiat di Prosa Tujuh. Penulis dapat disapa melalui Instagram @khafidhinnur.


[1] Pahatan pada permukaan yang sedikit menonjol

[2] Tumbuhan penghisap darah

[3] Pohon kematian

[4] Hancurnya Alam Semesta

Cerpen

Sekuncup Bunga dalam Luka

Cerpen Reka DRamadani

Saya menjulai di atas punggungnya yang damai. Tercium oleh saya peluhnya yang basah. Semerbak seperti aroma khas mama ketika memeluk saya. Bahunya saya kecup perlahan. Ia telah terpejam seolah bayi yang baru beberapa saat terlahir. Saya kira ia kelelahan setelah semenit lalu saya menghentaknya begitu keras dalam adu cinta di atas ranjang hotel bintang lima. Di pusat kota.

Saya bangun sebentar, melepaskan himpitan pada tubuhnya. Kini ia tengkurap dengan bagian belakang terbuka. Berkilau indah diterpa lampu kamar. Saya menarik selimut dan menutup tubuhnya. Puspalita. Begitu namanya. Sekuntum bunga liar yang saya temukan di riuhnya Jakarta.

“Kau sudah tidur, sayang?” Saya bertanya sembari membelai rambutnya yang panjang sepinggul.

Sambil menggeliat kecil dan tetap memejamkan mata, Puspalita menjawab dengan malas, “Belum. Tentu saja belum.”

Kemudian saya pandangi wajahnya yang putih dan bangir hidungnya. Seperti wajah kanak-kanak. Dan bibirnya tipis. Alisnya lengkung sabit. Ia punya mata bulat penuh. Mengiris-iris dada bila ia tikam saya melalui pandangnya, terutama sewaktu bercinta. Serta pipinya kemerahan, yang semakin merah setiap usai saya ciumi.

Dengan wajah seperti itu, ditambah bentuk tubuh yang sempurna, Puspalita tidak hanya milik saya seorang. Ia milik semua lelaki. Siapa saja lelaki yang mampu membayarnya. Mengenai itulah saya risau dan galau tak sudah-sudah. Hati saya gundah oleh rasa yang sebenarnya tak pernah saya sangka. Ketika saya hanya ingin bermain-main dengan perempuan nakal untuk menyalurkan kenakalan, malah terjebak cinta.

Telah lama saya pendam rasa kepadanya. Untuk itu dua bulan terakhir saya selalu menyewanya meski beberapa kali ditolak. Kali ini perasaan saya tumpah. Saya merasa begitu khidmat dalam mencintainya dan tak ingin kehilangan sejengkal pun. Sesuatu mendorong saya begitu kuat. Meluap dan meledak tak tertahan. Saya ingin mendekapnya dalam dada dan tak ingin mengakhirinya.

Puspalita yang masih tengkurap saya pandu untuk bangun. Tangannya yang seperti porselen saya tarik lembut. Ia duduk di hadapan saya dengan dada dililit selimut. Matanya sayu, menatap saya syahdu.

“Aku mencintaimu,” kata saya spontan.

Puspalita membelalakkan mata sejenak. Sedetik kemudian bergema tawanya pada daun telinga saya. Ia terkekeh-kekeh sambil menepuk-nepuk jidatnya. Saya melongo keheranan. Mungkinkah ia telah mendengar hal yang sama dari ribuan lelaki?

Saya melanjutkan, “Kamu bisa berhenti dari pekerjaanmu saat ini dan menjadi istri saya. Kita bisa memulai hidup baru yang lebih baik.”

Sekali lagi, Puspalita hanya tersenyum tipis tak berserius dengan pembicaraan ini. Namun, saya mendesak. Saya ingin tahu jawaban darinya.

“Mari kita menikah.” Saya menatap matanya yang bulat bidadari itu dengan tajam. Puspalita membalas seperti biasa; tatapan yang selalu mengiris-iris dada saya.

Tiba-tiba ditepuknya pundak saya. “Masalahnya… masalahnya saya tidak mencintaimu,” jawabnya enteng bukan main.

Saya melongo keheranan untuk kedua kali. Benar-benar jawaban yang mengejutkan. Namun saya masih teguh.

“Saya tidak membutuhkan balasan cintamu. Asal kamu suka atau sekadar ada keinginanmu untuk menikah dengan saya, tak mengapa,” kata saya memastikan.

Perempuan di hadapan saya menggosok-gosok pelipisnya seperti sedang kebingungan.

“Itulah masalahnya!” Puspalita menatap saya dengan wajah paling meyakinkan yang pernah diperlihatkannya pada saya. “Saya tidak ada perasaan apapun padamu. Sekadar suka atau ingin menikah. Tidak keduanya.”

Saya tercengang. Hal paling gila dalam hidup saya seolah baru terjadi. Tetapi Puspalita tetap santai, seperti itu bukan apa-apa baginya. Sedangkan saya dalam beberapa detik harus mengutuhkan kembali kesadaran saya.

“Benarkah?”

Saya melihat Puspalita turun dari ranjang dan mencari pakaiannya. Ia hendak pergi. Dipunguti pakaiannya yang berserak di lantai. Lalu ia mulai mengenakannya satu-satu. Dari celana dalam, beha, kaus, dan seterusnya.

“Beginilah saya. Saya tidak ada perasaan apapun padamu. Saya kira kamu sudah tahu. Tidak ada alasan lain. Saya tidak mencintaimu, ya, karena saya tidak cinta,” katanya seraya mengenakan potongan terakhir pakaiannya.

Puspalita kembali mendekati ranjang dan merogoh tas miliknya. Ia sudah siap untuk pergi. Saya masih menatapnya dengan tak percaya. Ia pun menjadi iba. Terlihat dari matanya. Mata yang mengiris-iris itu.

“Lagipula pelacur seperti saya tidak mengenal cinta. Kami hanya mengenal kepentingan. Mana uang saya?”

Sekarang lain lagi. Membicarakan uang pandangannya berubah. Berbinar-binar bak kristal. Karena itu, meski perasaan saya tercerabut berderai-derai, saya memaksakan diri menggapai dompet di atas nakas. Jasa sudah usai dan datang tagihan. Saya keluarkan beberapa juta dan saya berikan padanya. Kemudian Puspalita berlalu melewati pintu setelah mengecup pipi saya. Ia meninggalkan saya di antara keramaian Jakarta, dengan tubuh telanjang bulat, di sebuah kamar hotel yang sepi. Saya tidak bisa berkata apa-apa.

Sintang, 2021


Reka DRamadani, gadis kecil kesayangan bapak yang senang membaca buku dan sedang merantau di Kalimantan Barat.

Cerpen

Kenangan Pohon Srikaya

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Pohon srikaya itu tumbuh miring. Batang kecil ramping menjulang, dahan bercabang-cabang, ranting lentur bergelayut, daun-daunnya jarang, lembing membujur. Buah-buahnya tak pernah surut bergelantungan, dengan kulit benjol dan bersisik. Buah srikaya masak yang terlambat dipetik digerogoti codot, tinggal separuh. Berkali-kali, menjelang senja, Dewanti menerima kedatangan seorang nenek yang menghampirinya di pelataran, meminta buah srikaya yang ranum, kulit bermata banyak, hampir rekah. Nenek itu tak diketahui tempat tinggalnya, seperti datang dari tempat yang terselubung kabut, ramah, penuh perhatian, dan berlimpah kasih sayang. Selalu kembali terulang, bila nenek memetik buah srikaya, menyempatkan bercerita: dulu keluarganya memiliki kebun srikaya, yang kemudian  dijual suami. Ia masgul, semua  pohon srikaya ditebang pembeli lahan.  

Bila nenek tak datang, Dewanti memetik buah-buah srikaya dan meletakkannya di piring buah besar, bersisian dengan pisang, jeruk, dan jambu air. Dua atau tiga hari buah srikaya itu masak, harum, manis, dan lembut di mulut. Dia memakan srikaya dengan menyisihkan biji-bijinya, menikmati daging-daging yang tipis, putih dan harum. Ia  teringat akan Ibu yang  menanam pohon srikaya di pelataran, berhimpit dengan  garasi mobil.   

Seminggu setelah menikah, Dewanti menempati rumah baru. Pada mulanya Dewanti tak suka pelataran rumahnya yang sempit ditanami pohon srikaya. Begitu pohon srikaya tumbuh dan berbuah, mengundang seorang nenek dan tetangga untuk memetiknya. Dewanti mulai paham, buah-buah srikaya yang bergelantungan sepanjang tahun ini disukai banyak orang.

***

KisahIbu  semasa gadis dulu tak pernah dilupakan Dewanti. Ibu memetiki buah-buah srikaya di kebun usai subuh dan menjualnya ke pasar, sebelum berangkat sekolah. Buah-buah srikaya itu ditanam Nenek, yang kata Ibu, meninggal dunia ketika Ibu berumur sepuluh tahun. Semasa hidup Nenek, mengajarkan pada Ibu agar merawat pohon-pohon srikaya, memetiki buah-buahnya yang ranum, dan menjualnya ke pasar. Dengan menjual buah-buah srikaya, Ibu tak perlu mengutuki Kakek, yang tak pernah memberi uang untuk keperluan sekolah.

Sesekali Ibu mengisahkan lelaki muda tampan bernama Parto, dengan sepeda motor baru, menggodanya di jalan. Hampir tiap hari Parto mengganggu Ibu, yang berjalan kaki ke sekolah. Ibu tak pernah tertarik pada Parto, yang tidak hanya menggodanya, tetapi juga merayu gadis lain. “Jadilah kekasihku! Kau tak perlu jualan buah srikaya!”

Tak sekali pun Ibu memberi hati pada Parto. Sepertinya Ibu menyimpan kepedihan tentang kebun srikaya, yang kemudian dijual Kakek  pada orang tua Parto. Kebun srikaya itu ditebang  habis, dijadikan lahan pembuatan genting dan batu bata. Menahan rasa sedih, Ibu bercerita tentang penjualan kebun srikaya itu, karena Kakek kalah judi. Dewanti merasakan Ibu menyembunyikan kegetiran perasaannya, dan kehilangan mata pencahariannya. Ibu mencari daun-daun pisang klutuk di sepanjang lereng tanggul sungai, yang tumbuh liar, dan tak pernah dijamah siapa pun, untuk dijual ke pasar.

**

Duduk di teras rumah, semasa gadis, Dewanti memandangi pohon-pohon srikaya dengan buah-buah yang bergelantungan. Ia masih saja bimbang, apakah ia akan menerima lamaran Anto, putra Pak Parto. Bukan hanya karena orangtua Pak Parto membeli kebun srikaya keluarga Kakek, dan Ibu kehilangan mata pencariannya untuk biaya sekolah. Tapi Pak Parto pernah  menjadi atasan Bapak di kantor, dan Ibu mengeluh pada Dewanti, “Pak Parto itulah yang selalu menggeser posisi ayahmu. Kedudukan ayahmu selalu buruk. Lihat, kita tinggal di rumah yang sederhana, hidup dengan getir. Bagaimana mungkin kini kau menerima lamaran anak lelakinya?”

“Apa kejahatan itu menurun dari orangtua pada anaknya?”

Ibu terdiam. Lama. Memandangi Dewanti dengan merenung. “Aku tak ingin kau hidup menderita.”

“Doakan saya bahagia.”

“Kalau ayahmu masih hidup, mungkin akan berpendirian sama denganku,” kata Ibu. “Coba, kenalkan dia pada Ibu.”

***

Takada hal yang menyebabkan Ibu menolak Anto. Ibu merestui Dewanti menikah dengan Anto, seorang dokter muda. Dalam pandangan Dewanti, yang diam-diam selalu mengamati Ibu, tampak bahwa Ibu berkenan menerima Anto. Dewanti tinggal di rumah baru Anto, dan pertama kali yang dilakukan Ibu adalah membeli pohon srikaya, menanamnya di pelataran rumah.  

 “Pohon ini akan berbuah sepanjang tahun,” kata Ibu, ketika melepas Dewanti tinggal di rumah baru. “Sirami dia dengan sepenuh cinta. Biar dia berbuah. Syukur suamimu suka pada buah srikaya yang kutanam ini.”

Menempati  rumah baru yang cukup luas, Dewanti merasakan halamannya sempit. Ia mencoba memahami Anto, suaminya, seorang dokter muda, yang sibuk dan selalu pulang malam. Tiap sore ia selalu menyiram bunga-bunga di pelataran. Tak lupa menyiram pohon srikaya yang kini buahnya mulai bergelantungan.

Sesekali Dewanti melukis, mengisi waktu senggang. Selalu ada gagasan yang memikat. Sepulang memberi kuliah, ia tak mau kesepian seorang diri, memasuki ruang studio, dan melukis—sebuah kebiasaan yang dilakukannya semenjak kecil. Ia memiliki kanvas linen, easel aluminum, palette, pisau palette, kuas, cat minyak dan turpentine yang selalu memberinya kesuntukan melukis. Ingin sekali dia melukis pohon srikaya saat nenek memetik buah-buah yang bergelantungan rekah, masak, dan beberapa di antaranya ranum.

Ia lebih suka melukis bunga-bunga anggreknya: aneka warna, selalu bermekaran, berhari-hari masih mekar dan segar. Nenek yang memetik buah srikaya itu belum menggugah hasrat melukisnya.

***    

Sepulangdari kampus sore itu Dewanti tercengang. Pohon srikaya sudah ditebang empat orang tukang batu, yang bekerja memperluas garasi, agar bisa dimasuki dua mobil.  Anto pulang dengan mobil baru berkilau.

“Ini untukmu. Hadiah ulang tahun,” kata Anto penuh kebanggaan. Diserahkan kunci sedan sport merah seperti yang selalu diceritakannya.

Tubuh Dewanti bergetar. Ia tak bisa mengungkapkan rasa marahnya pada suami. Pohon srikaya yang ditanam Ibu, yang selalu bergelantungan buah-buahnya, ditebang begitu saja. Ia merasa bersalah pada Ibu, yang memiliki kenangan masa silam dengan pohon-pohon srikaya. Ia juga merasa berdosa pada seorang nenek yang senantiasa datang menjelang senja untuk meminta buah-buah srikaya matang dengan wajah berbinar-binar.  

Ketika tebangan pohon srikaya itu dibawa pick-up dengan batang pohon lain dan gundukan tanah yang harus dibuang, Dewanti ingin mengambilnya dan menanam kembali. Pohon srikaya itu layu, dengan buah-buah yang masih menyatu dengan tangkainya, sebagian sudah waktunya dipetik. Tentu nenek yang selalu datang menjelang senja, berjingkat memetik buah srikaya, akan sangat kecewa, bila tahu, pohon itu sudah ditebang.

Dewanti memasuki studio lukis. Ia mengembangkan ilusi tentang wajah nenek pemetik buah srikaya. Wajah yang keriput, menampakkan mata yang bening, berbinar-binar, dan menjelang pulang, mengucapkan terima kasih dengan santun. Nenek berjalan pulang dengan langkah tenang, melintasi gang dalam remang senja. Dewanti tak pernah mengerti tempat tinggal nenek pemetik buah srikaya.  

Dewanti mulai melukis. Sosok nenek dengan buah-buah srikaya bergelantungan begitu jelas pada benaknya. Dilukisnya pohon srikaya, dua belas buah di ujung-ujung ranting, kemudian nenek dengan wajah berkerut dan mata jernih, berjingkat, bertumpu pada ujung-ujung jari kaki, memetik buah srikaya masak. Ia melukis nenek dan pohon srikaya justru ketika pohon itu ditebang dan sebagian pelatarannya  berkurang untuk memperluas garasi dengan mobil sedan sport merah di dalamnya.

***

Gerimistipis menjelang senja, nenek yang biasa datang memetik buah srikaya mengetuk pintu. Ia tak berpayung. Dewanti membukakan pintu ruang tamu dan tercengang melihat nenek itu datang membawa pohon srikaya kecil di tangannya.

“Tanamlah! Kusemaikan biji srikaya, dan kupilih yang tumbuh paling subur.”

“Di mana mesti kutanam?”

“Carilah celah kecil di pelataran. Pohon ini akan cepat tumbuh dan berbuah.”

Masih tercengang Dewanti ketika nenek meninggalkan teras rumahnya. Tanpa payung nenek itu menembus gerimis tipis menjelang senja. Dewanti mengamati lantai teras yang dipijak nenek. Mestinya lantai itu basah tergenang air gerimis yang menetes dari tubuhnya. Tapi lantai teras tempat berpijak nenek tampak kering. Tak setitik pun air menetes di lantai teras. Dewanti memandang ke arah tubuh nenek yang meninggalkan rumahnya. Tubuh nenek sudah tak kelihatan sosoknya.

***

Ibuberkunjung kerumah Dewanti. Melihat  garasi baru, mobil sedan sport merah berkilau, dan pohon srikaya kecil pemberian nenek yang ditanam Dewanti di pelataran yang sempit. Tak sepatah kata pun Ibu mempertanyakan pohon srikaya yang sudah ditebang. Ketika Ibu melihat Dewanti menyelesaikan lukisan nenek memetik buah srikaya, tercengang. Mendekat. Mengamat-amati lukisan itu tanpa berkedip, meraba pelan, dan bertanya lirih, “Bagaimana mungkin kau bisa melukis nenekmu memetik srikaya? Kau belum pernah bertemu dengannya.”

“Nenek selalu hadir dalam pikiranku,” balas Dewanti, menyembunyikan keterkejutan. Masih memainkan kuas dan cat minyak, ia menyempurnakan lukisan dengan menahan goncangan dada yang berdegup kencang.***

                                                              Pandana Merdeka, Agustus 2021


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Kepiting Merah

Cerpen Jeli Manalu

Tirai awalnya ragu-ragu dan sempat menolak ajakan berlibur ke pantai dari Lumut, suaminya, tepat di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh. Saat itu, Tirai berkata, bila pada bulan September, badai yang tak selalu disertai hujan suka datang seperti sebuah kejutan.  

“Ketinggian ombak bisa mencapai empat meter,” katanya.

Tirai juga sempat menunjukkan satu berita media daring melalui layar ponselnya. Saat bersamaan, sembari masih memikirkan tentang ombak yang bisa datang tiba-tiba itu, sisi lain dirinya perlahan membayangkan bagaimana seandainya ketika berlibur di pantai nanti ada seekor kepiting merah muncul dari dasar lautan menghampiri dirinya—pastilah itu akan jadi peristiwa menyenangkan. Dalam pikirannya yang mulai berharap itu, ia membiarkan dirinya merasakan kaki-kaki si kepiting dari punggung tangan bergerak terus ke kedua paha telanjangnya, dan ia, sudah sangat lama memimpikannya. Cuaca ekstrem, atau, menunda bermain-main dengan kepiting karena mencemaskan situasi yang bahkan belum tentu terjadi? Dan bagaimana bila ini juga merupakan momen terakhirnya bersama Lumut. Lumut lebih tua darinya. Selisih lima belas tahun. Dan Tirai percaya, orang yang lebih tua pastilah lebih dulu matinya.

“O-ok,” jawab Tirai, kemudian—ia benar-benar sudah mengenyahkan pikiran buruk tentang cuaca. Kelak bila tiba masa kesendiriannya, ia tak lagi dihantui perasaan bersalah sebab selalu teringat tidak memenuhi pemintaan terakhir Lumut, yaitu berlibur ke pantai tepat di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh.

Selain itu, ia juga tidak ingin seperti Nuna. Lansia pemurung, tetangganya, yang hatinya direnggut sepi serta kehilangan api hidup akibat ditinggal mati suami. Membiarkan rambut lurus dan lebatnya menjadi kusut berpilin, juga rontok. Pada baju hitamnya, yang sudah lama tidak diganti, tampak bintik-bintik ketombe. Satu gigi depannya pun dibiarkan rompal tak dipasang yang baru. Tirai tidak mau seperti Nuna. Ia ingin masa depan kesendiriannya nanti berjalan sempurna. Ia sudah punya konsep tentang itu.

Sesudah mendengar kata ya dari Tirai, tentang istrinya itu tidak lagi ragu untuk menerima ajakannya berlibur ke pantai di ulang tahun pernikahan mereka kedua puluh, Lumut bergegas ke mobilnya. Kado yang sudah dipersiapkan ia sembunyikan ke bagasi. Ia berencana memberikannya nanti dengan cara membuka kotak kado, lalu menuntun isinya bergerak-gerak ke arah Tirai. Dan ia akan membiarkan Tirai merasa kado itu—seekor kepiting—datangnya dari kedalaman laut. Sebab ia tahu, istrinya menyukai momen bertemu kepiting ketika berlibur ke pantai.

Warna laut sama dengan langit ketika mereka tiba di sana. Biru, kesukaan Tirai. Hempasan angin juga tidak terlalu keras seperti pemberitaan media daring bulan September. Tak jauh dari tempat Tirai berdiri ia melihat para remaja membuat pola di atas pasir. Gambar manusia. Lelaki dan perempuan. Di sebelah gambar itu mereka buat gambar satu lagi. Lelaki berlari ke arah pepohonan yang ranting-rantingnya melambai. Si perempuan mengangkat ujung gaunnya hingga setinggi paha dan dengan rambut diterjang badai mengikuti serpihan ombak pulang ke tengah laut.

Tirai belum melepas sweter panjangnya sewaktu menyaksikan gambar-gambar itu dibuat para remaja. Dan tak lama setelahnya, ia berdecak kagum pada ombak yang bergerak ke luar. Ombak yang ia lihat kali itu datangnya serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai. Saat gorden menghadang gambar buatan para remaja, serempak mereka berseru. Sedangkan Tirai melangkah mundur karena gugup, dan sekali lagi, ia memang sudah begitu lama tidak pernah ke pantai.

“Tidak apa-apa!” teriak Lumut dari titik yang tidak terlampau jauh, untuk menenangkan hati Tirai.

“Hei, aku bahkan menyukainya,” balas Tirai, ia tidak ingin terlihat ketakutan sedikit pun. Ia juga berbicara keras-keras agar suaranya tak habis ditelan angin.

Kemudian ia memperhatikan Lumut yang sedang tidur-tiduran. Lelaki ini memang sungguh sudah tua, batinnya. Lengan Lumut bergelambir. Pipinya melorot. Uban, kerutan, juga bercak-bercak kehitaman pada kulit. Tirai membayangkan hari-hari pertama ketika nanti ditinggal mati lelaki itu. Ia mungkin masih menyeduh teh sebanyak dua cangkir—sebuah kebiasaan yang tak mungkin lepas dalam sekejap. Bila terjadi demikian, pada hari berikutnya ia akan mengganti jenis minumannya menjadi air kelapa muda campur krim kental manis, minuman yang sering ia nikmati sebelum menikah dulu. Hal lain, seandainya ia pergi ke pasar lalu pedagang langganan menyadari ada yang kurang kemudian membuka obrolan: tumben sendirian—biasanya diantar suami—ia juga mesti mengubah kebiasaan. Yaitu, mulai mencoba berbelanja di tempat baru. Pagi hari juga ia akan mengganti rutinitas, dari membaca berita media daring menjadi joging. Joging dengan rambut dikucir tinggi seperti gadis remaja. Sepatu merah muda. Beha berbusa, yang membuat payudara tampak montok.

Setelah sendiri nanti ia tidak mau rapuh serta kehilangan hasrat hidup. Ia justru semakin aktif berkegiatan. Belajar bermain TikTok dengan anak-anak muda di kompleks tempat tinggalnya. Ikut membahas herbal awet muda di komunitas ibu-ibu. Juga ikut bergosip-gosip kecil untuk mempererat tali persahabatan khas perempuan. Janda atau duda mana yang baru menikah lagi. Siapa baru ditinggal pasangan namun sudah punya pacar untuk diajak ke pantai.

Tepatnya, Tirai tidak mau seperti Nuna. Selain tak mengurus tubuh, Nuna juga membiarkan rumah layaknya tak berpenghuni. Tumpahan bubur nasi terakhir suaminya di taplak meja berwarna burgundi dibiarkan mengerak. Setiap sore duduk di balkon, tempat favorit ia dan suaminya biasa memandang matahari terbenam ditemani dua gelas teh ungu dari seduhan kembang telang yang diberi perasan lemon, dan ia tak merasa risih ketika salah satunya hanya dicicipi semut. Bila nanti Lumut sungguh telah tiada, Tirai tidak mau seperti tetangganya itu.

Ia bisa saja mencari keberadaan Frater, mantan kekasihnya. Bila bertemu, ia akan mengajaknya menikmati air kelapa muda ditambah krim kental manis. Dan saat itu, mungkin ia boleh bertanya: apa kamu pernah punya kekasih lagi setelah hubungan kita berakhir waktu itu, di tepi pantai, yang biru, dan sejak itu, aku kehilangan kepiting gendut dan sedikit genit?

Sejak berpisah, Tirai dengan Frater memang tak sekalipun pernah berjumpa lagi. Dulu, sekitar tujuh bulan menjadi kekasih Frater, setiap minggunya, Tirai pasti memasak kepiting. Dan kepiting-kepiting yang akan dimasak itu selalu Tirai pesan kepada Lumut.

Lumut waktu itu berprofesi sebagai pedagang seafood. Kepiting-kepiting yang Tirai beli akan dijadikan sup dengan tambahan bumbu kincung yang tinggal dipetik saja di belakang rumahnya. Jika hujan datang disertai angin sehingga Tirai malas keluar rumah, ia tinggal menelepon Lumut. Tak perlu menunggu lama, Lumut sudah berdiri di depan rumah Tirai dengan sekresek kepiting gendut-gendut, serta masih lincah menjelajahi celemek yang dikenakan Tirai. Hingga suatu hari ketika sebulan penuh Tirai tak ada kabar lalu di hati Lumut tumbuh sepotong rasa kangen, tiba-tiba, Tirai datang menemuinya, dan bertanya apakah Lumut mau jadi pacar Tirai. Tirai bercerita bila dirinya dengan Frater sudah putus. Frater masuk biara lagi supaya tiga tahun berikutnya bisa menjadi pastor. Kau tidak bersedih, tanya Lumut, sekadar memastikan. Waktu itu Tirai menjawab tidak terlalu. Ia tahu Lumut menyukai dirinya sejak lama, dan yakin lelaki itu pasti berusaha menghangatkan hatinya.

“Tirai, kemarilah,” teriak Lumut. Ia sudah tak sabar untuk membuka kado supaya Tirai segera menghampirinya.

Tirai berlari datang, dan segera melepas sweter panjangnya. Sebelum berbaring di samping Lumut dan menerima ciuman lelaki itu, sebentar ia memandanginya. Lengan, pipi, uban, dan bercak-bercak kehitaman pada kulit Lumut kian kentara. Ketika rasa sedih sedikit menyusup ke hati Tirai, ia cepat-cepat menghempaskannya. Kemudian memusatkan pikiran pada rancangan masa depan kesendiriannya.

“Kepiting merah!” teriak Tirai. Refleks bibirnya lepas dari bibir Lumut. Sedangkan angin bertiup kencang menerbangkan rambutnya. Juga botol-botol air mineral mereka yang sudah kosong terombang-ambing dalam pelukan arus ombak.

Seekor kepiting hitam kemerahan namun Tirai menganggapnya berwarna merah. Kepiting itu ia biarkan menggapai-gapai punggung tangannya, lalu bergerak miring melampaui kedua pahanya yang telanjang.

Para remaja yang menggambar dua manusia di atas pasir sudah tak ada. Hati Tirai sempat bertanya ke mana mereka pergi, tapi buru-buru ia tebak sendiri jawabannya. Mungkin mereka sudah puas bermain di pantai lalu lapar dan pulang. Atau mereka mendapat telepon bahwa nenek-kakek mereka baru saja mengembuskan napas terakhirnya.

Tirai memandangi laut lagi, dan untuk kesekian kali ia melihat gelombang air serupa gorden berwarna cokelat susu serta berumbai, megah, dan tingginya mencapai empat meter atau lebih ia tidak tahu persisnya.  

“Ya Tuhan, mestinya kita membawa keranjang tadi!” Tirai berteriak takjub tidak hanya mendapatkan seekor kepiting merah tapi juga menyaksikan ikan-ikan seolah menyerahkan diri.

Ia lalu membentangkan sweter panjangnya dan meletakkan kepiting di sana. Karena begitu asyik menangkapi ikan-ikan ia tak menyadari badai angin tak disertai hujan sudah menghempas-hempaskan bulan September, bulan ulang tahun pernikahan mereka.

Ia juga tak mendengar teriakan Lumut yang sudah semakin jauh meninggalkan bibir pantai. Ia, sekarang menuju kedalaman laut mengejar kepiting merah yang meninggalkan sweternya.****

Riau, April 2021


Jeli Manalu, senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober, dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018.

Cerpen

Kepadanyalah Peluru Ini akan Bersarang

Cerpen Yosef Astono Widhi

Sejenak, pemuda itu mengambil napas dalam-dalam. Ditahannya beberapa detik sampai membentuk seperti bola energi dalam perutnya, sebelum akhirnya ia embuskan perlahan. Dilakukannya beberapa kali dengan harapan bisa menenangkan pikiran dan mengurangi ketegangannya.

Si pemuda masih bersembunyi di sana. Tanpa suara, ia memperhatikan melalui celah sempit keadaan di luar lemari pakaian yang kini dijadikannya tempat persembunyian. Perempuan di luar sana, dilihatnya tengah menggelepar sambil telanjang tak lagi bertenaga. Sementara laki-laki itu, sama tak berpakaiannya, duduk bersandar pada tepi ranjang sambil memegang rokok yang hanya dihisapnya sesekali.

Sejenak lalu, dilihat dengan matanya sendiri mereka di atas ranjang, saling himpit, dan bergoyang beringas. Sekiranya itu terjadi sepuluh menit sebelum akhirnya si perempuan melolong panjang. Namun si laki-laki masih sempat menaiki tubuh si perempuan yang tidak begitu lama, akhirnya ikut tumbang dan mengisut.

Diintipnya lagi kini oleh si pemuda, keadaan di luar masih tak jauh berbeda. Lelaki itu masih dengan rokok yang tak habis-habisnya dihisap, sedang si perempuan sudah mulai nyenyak dalam tidurnya. Pemuda itu kini menatap tajam pada si laki-laki. Ia berharap lelaki itu turut berbaring dan tidur, namun mata lelaki itu nampak tak ada kantuk-kantuknya. Ditambah, ia juga merokok.

Ayolah tidur, bangsat.

Sejujurnya si pemuda masih ngeri betul membayangkan apa yang akan terjadi jika ia memang benar-benar melakukannya. Lelaki itu, adalah alasan mengapa ia harus rela-rela besembunyi di balik pintu lemari reot ini. Mengintip lewat sudut sempit bertemankan pistol di tangannya. Pistol yang sedari tadi digenggamnya itu sebenarnya sudah siap untuk ditembakkan kapan dan pada siapa saja. Namun kini, rasanya ia sendiri yang gemetar untuk menarik pelatuknya.

Rencananya ini sebenarnya sudah ia perhitungkan matang-matang. Ia akan mengendap masuk ke kamar si perempuan dan menyelinap ke dalam lemari pakaian. Sesuai info yang didengarnya, si perempuan itu akan datang pukul empat sore dengan si lelaki besertanya. Kemudian mereka akan menuju kamar setelah lima belas menit basa-basi di ruang depan. Waktu itu, ia sudah harus menyembunyikan dirinya di antara gantungan pakaian dan mencari posisi yang pas untuk membuat lubang guna mengintip.

Semua berjalan sesuai rencana sampai mereka memasuki ruangan. Sebenarnya mudah saja, setelah ini tinggal menunggu si lelaki sedikit lengah, dan ia bisa menarik pelatuknya. Si lelaki bakal mati dan pekerjaannya selesai. Namun, ia tidak bisa melakukannya tergesa karena ia harus benar-benar bisa menembak dan membunuh si lelaki dalam sekali tembakan. Ada dua alasan, yang pertama adalah pistolnya hanya terisi satu peluru dan alasan kedua adalah ia tidak ingin membunuh bahkan melukai si perempuan.

Si laki-laki kini merupakan orang yang paling dibencinya. Lelaki itu harus mati dengan tangannya. Tak peduli apa yang kiranya bakal terjadi kemudian, tapi ia benar-benar ingin lelaki itu mati. Sebenarnya ia tak begitu kenal dengan lelaki itu. Jangankan mengetahui nama, bahkan ia tidak pernah bertemu dengannya secara langsung sebelumnya. Satu-satunya info yang ia tahu adalah bahwa si laki-laki ini merupakan selingkuhan si perempuan.

Sedang si perempuan, ia masih terlihat begitu lelah dengan napas satu-satu. Tubuh telanjangnya ia biarkan terbuka, memperlihatkan sisa-sisa pertarungannya tadi. Perempuan ini cukup manis, terlebih di mata si pemuda. Perempuan ini adalah orang yang tidak akan dibiarkannya terluka sesenti pun. Perempuan ini, adalah yang kelak akan menjadi jalannya menuju surga. Tak lain dan tak bukan, perempuan ini adalah ibu dari si pemuda, dan ia tidak mau keluarganya dirusak oleh si laki-laki bajingan itu.

***

Si laki-laki kini sudah mengambil batang rokoknya yang ketiga. Di sampingnya, si perempuan terlihat meringkuk menekuk badan. Mungkin ia kedinginan, pikir si laki-laki. Maka ia mengambil selimut dan membentangkannya sampai sebagian tubuh si perempuan tenggelam di baliknya. Dilihatnya lekat-lekat wajah perempuan itu. Ah, mengapa berakhir seperti ini lagi?

Seharusnya si laki-laki tidak perlu repot-repot mengiyakan ajakan si perempuan untuk bertemu hari ini, mengingat ia sebenarnya sudah pula mengiyakan ajakan istrinya untuk pergi makan malam. Hari ini adalah hari jadi mereka yang kedua. Namun rasanya, tidak akan ada hari jadi yang kesepuluh apalagi dua puluh. Pilihannya untuk main serong dan pergi berkencan dengan perempuan kaya raya kurang sentuhan telah menjadi racun bagi pernikahannya itu. Bahkan untuk menyentuh tahun kelima saja sudah sangat mustahil. Racun itu kini berasal dari pilihannya untuk menemani tidur perempuan yang kini tengah terbaring di sampingnnya. Tentu saja ia tidak mencintainya, ia jauh lebih mencintai istrinya. Namun ia juga mencintai pekerjaannya, karena hal itu cukup mudah dilakukan dengan imbalan uang cukup banyak.

Si perempuan ini dikenalnya belum cukup lama. Waktu itu, ia datang dalam keadaan kesepian setelah berkata suaminya pergi bekerja cukup lama. Katanya, ia mendapatkan info dari sebuah lapak digital usang yang memang pernah dipasang oleh si laki-laki beberapa tahun yang lalu. Mulanya si laki-laki enggan untuk kembali terjun ke dunia gelap. Namun karena uang yang ditawarkan tidak main-main, ditambah juga perawakan si perempuan yang memang menarik, ia pun menyetujuinya.

Pertemuan pertama terjadi di awal bulan lalu. Dengan mengenakan pakaiannya yang cukup bagus, ia berangkat menuju hotel tempat perjanjian menggunakan taksi. Tentu saja ini terjadi setelah ia berbohong pada istrinya. Setelah mengecup bibir istri dan mengusap rambut putranya yang masih belum lancar bicara selain “papa-papa”, si laki-laki pergi dengan perasaan kalut. Tak tega ia untuk sekadar berbalik melihat dua orang yang begitu menyayanginya telah tega ia bohongi. Langkahnya gontai menembus jalanan gang sempit sampai akhirnya ia tiba di tepi jalan. Ia sempat-sempatkan melihat ke belakang meski ia yakin rumahnya sudah jauh tertinggal di sana. Masih ada kesempatan untuk membatalkan rencananya, pikirnya. Namun ia benar-benar butuh uang. Pikirannya begitu bimbang sampai akhirnya taksi yang dipesannya datang. Ah, kali ini sajalah.

Tentu saja tidak ada manusia yang bisa lepas dari jeratan dosa. Sekali terkena, manusia akan melakukan dosa yang itu-itu saja. Pun dengannya. Setelah pertemuan pertama, dan semua kebohongannya tidak terbongkar oleh istrinya, ia senang bukan main. Ia berencana untuk tetap menjaga pekerjaannya ini sebagai kerjaan sampingan. Namun kali ini ia tidak memasang lapak lagi. Ia hanya ingin mengencani si perempuan itu karena menjaga rahasia ini saja baginya sudah cukup berat. Maka, ketika si perempuan menawarinya kencan untuk kedua kali, ia langsung dengan cepat mengiyakannya.

Akhirnya terjadi lagi. Hari ini, di hari ulang tahun pernikahannya. Ia belum pamit hari ini karena ia tidak tega melihat kesedihan istrinya secara langsung. Ia berencana untuk mengabari istrinya mendadak karena pekerjaan yang tergesa ingin diselesaikan. Ia tahu itu tidak begitu jauh berbeda, namun setidaknya tidak ada air mata yang harus diseka sang istri di hadapannya.

Ia menoleh lagi pada si perempuan. Bagi si laki-laki, perempuan ini tentu saja memiliki segalanya jauh ketimbang apa yang dimiliki istrinya. Kekayaan melimpah dan fisik yang menawan. Tentu saja semua jenis laki-laki akan tergoda imannya jika diperbolehkan untuk menyentuhnya. Sedang si lelaki, ia tidak hanya diperbolehkan. Bahkan ia dibayar untuk itu. Namun membayangkan jika suatu saat menemui istrinya tengah membayar pria lain untuk menemani tidurnya, ia langsung bersyukur telah memiliki istri yang biasa-biasa saja.

“Bodoh!” umpatnya sambil membanting bungkus rokoknya yang telah kosong.

Seharusnya ia tidak pernah mengiyakan ajakan si perempuan itu. Bagaimana mungkin ia bisa begitu jijik membayangkan istrinya tengah tidur bersama pria lain, sedangkan ia kini baru saja menerima uang untuk menemani tidur seorang perempuan? Diambilnya sebuah cincin kawin yang sengaja ia selipkan di dalam dompet. Ia tidak berniat untuk menyembunyikan pernikahannya. Ia hanya merasa tidak pantas saja benda itu melingkari jari manisnya sedangkan ia tengah tidur bersama perempuan yang bukan istrinya. Dipandanginya benda yang telah menjadi tanda pengikat perkawinannya itu. Bagaimana bisa dengan mudahnya aku melepaskanmu dari jariku?

Ia benar-benar merasa dirinya hina. Maka diambilnya telepon genggam, dengan niatan untuk menghubungi istrinya di rumah. Ia tidak tahu apakah ia akan mengaku, berbohong lagi, atau bagaimana. Apa yang terjadi kelak biarlah, terpenting baginya kini adalah meminta maaf. Maka berjalanlah ia ke sudut kamar dekat lemari karena tidak ingin membangunkan si perempuan.

“Sa-sayang?” ucapnya sesaat setelah teleponnya diangkat.

“Halo, Sayang. Ada apa? Ditungguin di rumah loh.”

Si laki-laki kini benar-benar merasa berdosa. Suara istrinya terdengar begitu menenteramkan di telinganya. Ia tidak habis pikir mengapa ia betul-betul tega sampai harus mengkhianatinya.

“Ma-maaf,” ujar si laki-laki sambil menahan tangis.

“Kenapa minta maaf, Sayang?”

“Aku tidak bisa pulang tepat waktu. Pekerjaanku baru saja selesai.”

“Sayang, sekarang kan memang jam usai kerja. Bahkan ini belum gelap, kamu tidak akan terlambat.”

“Ta-tapi… Aku bakal terlambat.”

“Sayang, kamu terlambat pulang? Nggak papa. Tapi kamu nggak akan terlambat untuk pergi makan malam. Pulanglah segera setelah selesai berberes. Aku akan buatkanmu kopi dan memanaskan air untuk mandimu.”

“Ba-baik, Sayang.”

“Iya, ditunggu ya Sa…”

Oeek-oeeek papa-papa

“Aduh Yang, si kecil nangis nih dengar suaramu. Kangen kali dia, hahaha. Aku tutup dulu ya, nanti malah kamu nggak jadi pulang. Daagh.”

Tangis si laki-laki tak bisa lagi terbendung demi mendengarkan tangisan anaknya. Ia jatuh terduduk bersandar pada lemari.

“Sayang, kenapa nangis?”

“Aku sayang kamu…”

“Udah, ayo cepat pulang,” tutup istrinya sebelum menutup sambungan telepon.

“Maaf…. Maaf… Maaf…” Tangisannya semakin menjadi, dengan air mata yang telah membasahi sebagian dadanya. Ia melihat lagi cincin kawinnya dan memakainya. DUGG. Tiba-tiba dipukulnya kencang lemari di belakangnya, menimbulkan suara berdebum cukup keras.

“Honey, suara apa tadi? Kenapa kamu di situ?”

***

Ia tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Ia awalnya berpikir nyawanya telah usai setelah si laki-laki datang perlahan menghampiri lemari tempat ia bersembunyi. Namun beruntunglah karena si laki-laki hanya bersandar pada lemari dan menelepon seseorang. Ternyata nyawa si laki-laki itulah yang akan selesai, pikirnya. Ia bersiap untuk menarik pelatuknya ketika tiba-tiba terdengar suara di ujung telepon adalah suara perempuan. Entah mengapa, tiba-tiba ia hanya terdiam dan mendengarkan segala percakapan di telepon, termasuk dengan tangisan bayi dan tangisan si laki-laki.

Apa yang didengarnya barusan hanya membuat keyakinannya semakin goyah. Sebenarnya mudah saja, tinggal tarik pelatuk dan mati. Bahkan jarak sangat dekat sehingga kemungkinan target selamat pun sangat kecil. Namun, percakapan tadi hanya menyisakan si pemuda termangu tanpa kata-kata dan kebingungan yang menyesaki kepalanya.

Sebelumnya, ia melihat si laki-laki mengeluarkan benda berkilau menyerupai cincin. Dipikirnya, lelaki itu akan mengajak kawin ibunya. Bodoh, pikirnya. Kemudian terjadilah kejadian-kejadian yang membingungkan itu. Tak disangkanya ternyata laki-laki itu telah beristri dan mempunyai seorang bayi. Si pemuda mengambil kesimpulan bahwa cincin tadi itu adalah cincin kawin si laki-laki yang sengaja disembunyikan agar si perempuan tidak tahu.

Berbagai macam spekulasi berkelindan dalam benak si pemuda. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada si laki-laki. Yang diketahuinya kini, ia sudah beristri dan ia meminta maaf berkali-kali pada istrinya. Si laki-laki nampak begitu menyesali perbuatannya bahkan sampai terlihat air mata berjatuhan di pipi. Ia tidak tahu mana yang harusnya ia percaya. Pikirannya, kah? Penglihatannya? Atau pendengarannya? Semua tampak sama-sama menyesatkan.

DUG. Tiba-tiba pintu lemari di depannya dipukul keras. Si pemuda kaget, dipikirnya si laki-laki betul-betul telah mengetahui keberadaannya. Namun tidak ada pintu lemari yang dibuka. Hanya suara tangis si laki-laki yang semakin menjadi dan suara si perempuan terdengar sayup-sayup.

“Honey, suara apa tadi? Kenapa kamu di situ?”

“Bukan apa-apa.” Si laki-laki bangkit, menuju barang-barangnya. Ia memakai kembali pakaiannya dan berkemas.

“Kamu kenapa buru-buru? Dan kenapa matamu merah? Sini loh tidur dulu.”

Ia tidak menggubris omongan si perempuan. Ia malah mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya, menghitungnya cepat, dan memberikannya pada si perempuan.

“Apa ini, Honey?”

“Ambillah. Itu uang yang awal bulan lalu kamu berikan padaku, aku nggak membutuhkannya lagi. Dan untuk hari ini, aku harap adalah pertemuan terakhir kita. Sehingga kamu tidak perlu menghubungiku lagi. Oh ya, dan kamu tidak perlu membayar untuk yang tadi.”

Si perempuan terdiam membisu. Ia nampak tidak percaya apa yang di hadapannya sekarang. Sedang si pemuda, ia mendengarkan semua percakapan tersebut dari dalam lemari sambil tercengang dengan semua yang didengarnya. Ia tidak percaya bahwa ibunyalah yang menginginkan perselingkuhan ini, bukan sebaliknya. Padahal, ia tahu betul bahwa ibunya sangat mencintainya dan bapaknya. Oleh sebab itulah ia berada di sini hendak membunuh si penghancur rumah tangga itu.

“Kembalilah. Kembalilah pada suamimu. Sambutlah kelak ketika ia pulang. Pun aku, aku akan pulang. Ada yang telah menantikan kepulanganku di rumah. Mereka adalah orang yang mencintai sekaligus kucintai. Istri dan anakku.”

Si perempuan kembali terdiam. Ia tidak menyangka bahwa lelaki di depannya itu telah beristri dan beranak. Namun ia tetap berusaha menguasai keadaan dengan tidak menunjukkan kekagetannya.

“Honey, kamu ngomong apa sih? Aku tidak mencintainya. Jika bukan karena kekayaannya, jelas aku sudah pergi jauh-jauh. Juga anakku, sama saja. Bukan karena aku selalu memberi apa yang dia mau berarti aku menyayanginya. Aku nggak butuh mereka. Tingggalkanlah istri dan anakmu. Ayo kita meni…”

DOORR.

“Su-suara apa itu, Honey?”

“A-aku juga tidak tahu. Dari arah lemari.”

Ah, ternyata si pemuda telah menentukan kepada siapa peluru itu disarangkan.**

Di tengah pandemi, 2020


Yosef Astono Widhi, seorang anak muda yang gemar membaca dan berteater. Dapat dihubungi di Twitter: @ivecriedmybest dan Instagram: @yosefastono

Cerpen

Gadis Kecil dan Dendam yang Menunggu

Cerpen Adam Yudhistira

Satu minggu yang lalu, tepat pukul 6 pagi, Maria menemukan jasad Paul tergeletak di depan pintu kamar mandi. Jerit histeris perawat muda itu sontak mengagetkan seluruh penghuni panti. Tidak ada yang tahu bagaimana kejadiannya. Satu-satunya petunjuk hanya sebatang pipa besi yang menurut keterangan polisi telah menjadi penyebab lelaki tua itu mati.

Sepengetahuanku, Paul bukanlah orang jahat. Aku masih ingat saat dia pertama kali datang ke tempat ini. Sebatang tongkat membantu mengurangi lengkung pada punggungnya yang menyerupai bulan sabit. Senyum ramahnya tak pernah pudar. Tutur katanya hangat dan bersahabat. Penampilannya pun rapi. Dia mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Rambutnya putih berkilau, seperti diguyur cairan perak. Rasanya sulit dipercaya jika ada orang menginginkan kematiannya.

Perihal kematian Paul telah memunculkan berbagai dugaan. Sebagian penghuni panti bersepakat, seseorang telah datang dari masa lalunya dan membawa dendam lama. Dugaan ini diambil bukannya tanpa alasan. Berdasarkan cerita yang sering disampaikan Paul kepada kami, lelaki tua itu mengaku jika dirinya adalah pensiunan polisi yang sempat bertugas di distrik Tujuana—sebuah kota kecil di Meksiko.

Selama menjadi polisi, Paul mengaku telah menghabisi banyak penjahat. Dari sekian banyak penjahat, ada satu orang yang sepertinya paling sulit dilupakan. Penjahat itu bernama Arturo Cruz, seorang bandit yang cukup ditakuti di Tujuana. Pada saat penangkapannya, lelaki itu menyerang Paul dengan pisau dapur yang sebelumnya digunakan untuk menusuk istrinya sendiri. Paul menembak dada Arturo dua kali. Satu di kepala. Satu di dada.

“Bukan kenangan menyenangkan,” ucap Paul sambil mengusap lengannya yang berkulit kisut. “Arturo memiliki seorang anak berusia tujuh tahun. Kematian Arturo dan istrinya telah membuat gadis kecil itu menjadi yatim piatu. Tapi, aku harus melakukannya. Persetan dengan mereka yang menjulukiku hewan berdarah dingin. Penjahat itu ingin membunuhku.”

Selain cerita tentang Arturo dan istrinya, Paul mengaku telah menjebloskan banyak penjahat; psikopat, pedofil, pemimpin gangster, dan pembunuh bayaran. Dia bahkan  pernah melakukan operasi penyamaran tiga bulan dalam sindikat perdagangan heroin besar dan berhasil meringkus bos kartel narkoba kelas berat. Saat bos kartel itu tertangkap, dia bersumpah akan memenggal kepala Paul jika berani bersaksi di pengadilan. Tetapi, alih-alih meminta perlindungan, Paul malah pergi ke pengadilan dan tertawa di depan wajah bos kartel itu.

Awalnya cerita-cerita itu membuat kami tak nyaman, karena terkesan mengada-ada. Kami menganggap cerita-cerita itu omong kosong belaka, hiburan para lansia. Petualangan menegangkan yang diceritakannya memang lebih mirip alur film-film Holywood ketimbang cerita nyata. Sergio bahkan pernah berseloroh, katanya lelaki tua itu adalah pembual paling ulung. Dia hanya aktor, namun faktor usia dan pelupa membuat dirinya tak lagi berguna. Jalan hidup yang buruk membuatnya terbuang dan berakhir di tempat ini.

Sergio menjadi satu-satunya penghuni panti yang tak menyukai Paul. Lelaki itu paling pendiam dan paling jarang bergabung bersama kami—terlebih saat kami tengah menyimak cerita-cerita Paul. Setiap bersitatap dengan Paul, Sergio selalu bermuka masam. Hingga saat jasad Paul ditemukan, Sergio-lah yang dicurigai pembunuhnya. Namun untuk menuduhnya, polisi tak punya bukti-bukti apa-apa.

Sebenarnya, satu hari sebelum peristiwa mengerikan itu, pada tengah malam, aku sempat mendengar teriakan dari kamar Paul. Entah dia marah pada siapa. Caci maki itu berlangsung beberapa menit, lalu hening. Keesokan paginya, Paul berkunjung ke kamarku dan menceritakan pengalamannya.

“Seseorang ingin membunuhku,” katanya gemetar. “Tadi malam dia masuk ke kamarku dan mencoba mencekik leherku. Aku tak mengenalnya sebab kamarku gelap.”

“Tenanglah.” Kutarik sebuah kursi untuknya. “Duduklah dulu.”

Lelaki tua itu membeku seperti patung. Wajahnya menyiratkan kebingungan yang akut. Kepalanya terus menoleh ke kiri dan kanan, seolah mengkhawatirkan sesuatu yang tak kasat mata sedang bersiap menyerangnya. Saat itu, ceritanya tak berhasil membuatku percaya. Bagaimanapun juga, aku setuju pendapat Sergio. Paul pandai membual.

Gedung panti ini dipenuhi lelaki dan wanita tua. Di taman dekat Ruang Kesehatan, sekelompok nenek-nenek asyik memintal benang rajut. Di bagian lain sekelompok kakek-kakek berbincang santai di pelataran bangsal. Sungguh tak ada alasan untuk mencemaskan orang-orang seperti itu.

“Orang itu tampaknya betul-betul ingin membunuhku,” ujarnya terus bersikeras.

Aku mengubah posisi duduk agar bisa menatap langsung ke matanya. Aku ingin melihat yang tersisa dari lelaki yang mengaku bekas polisi berpengalaman itu. Tak ada gerakan pupil halus penuh waspada. Tak ada ketenangan sikap yang biasa ditunjukkan polisi kawakan. Wajahnya cuma menunjukkan ketakutan yang sempurna.

“Apakah Sergio pelakunya?”

Paul menggeleng, “Dia memang membenciku, tapi tak sampai ingin membunuhku.”

Saat kami sedang berbincang, di ambang pintu, Sergio tiba-tiba muncul. Dia menenteng secarik surat kabar yang digulung. “Apa lagi bualanmu hari ini? Kudengar dari luar, kau menyebut-nyebut namaku,” tanyanya sambil memukul-mukulkan gulungan koran ke telapak tangan.

“Jangan salah sangka dulu,” kataku mencoba menengahi. “Paul mendatangiku karena dia butuh pertolongan.”

“Pertolongan?” Sergio menyeringai. Lelaki tua bertubuh jangkung itu menudingkan telunjuknya ke wajah Paul. “Aku tak akan heran jika ada seseorang yang ingin menghajarnya.”

“Setidaknya kau bisa menunjukkan rasa pedulimu.” Aku memandang bolak-balik antara Paul dan Sergio, sedikit cemas akan terjadi perkelahian.

Sergio memajukan badan, jemarinya meremas gulungan koran. “Sudah kubilang, dia cuma pembual. Ingatannya sudah hilang. Kau tahu? Hilang ingatan di usia tua adalah keniscayaan. Apa pun yang dikatakannya, jangan percaya. Itu cuma bualan.”

“Sudahlah,” ucap Paul seraya berdiri. Bunyi desah agak keras keluar lewat celah giginya yang renggang. “Mungkin aku cuma bermimpi.”

Lelaki tua itu melirik Sergio dan memberinya senyum persahabatan. Sergio tidak membalas senyuman itu. Dia mendengus dan tak lama Paul pun pergi. Itulah saat terakhir aku berjumpa dan berbicara dengannya.

***

Satu minggu usai pemakaman Paul, aku melihat Maria duduk seorang diri di taman panti. Dia duduk menghadap ke kolam kecil di bawah pohon mapel. Seharusnya perempuan muda itu menggiring kami senam seperti biasa, tetapi pagi itu dia tampak murung. Aku menduga kematian Paul meninggalkan jejak trauma di kepalanya.

Kemarin kami sempat berbicara. Aku berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Dia harus menguatkan diri. Namun perempuan itu hanya diam dan mengerut di kamarnya. Duduk di atas selimut perca dengan lampu rendah sambil menonton televisi, dikelilingi artikel koran yang menjadikan berita kematian Paul sebagai tajuk utama.

“Apakah aku mengganggu?”

Maria menggeleng. Matanya menerawang, melihat ke langit yang tampak mendung. Ranting mapel bergoyang dan dedaunannya berjatuhan ke permukaan kolam.

“Kejadian itu sama sekali bukan kesalahanmu,” ucapku menghiburnya.

Mata biru itu menatapku sejenak, lalu beralih ke para lansia yang duduk-duduk di sepanjang lajur bangsal. Maria mendekatkan kepala dan berbisik ke telingaku. Napasnya berbau agak asam bercampur basi—bau alkohol yang mungkin diminumnya sepanjang malam.

“Wali kota berniat menutup tempat ini,” ucapnya terdengar seperti penyesalan. Dia menunjukkan sikap bersalah; telapak tangan bertumpu di atas lutut. “Jika itu terjadi, aku harus meminta maaf kepada kalian.”

“Aku tak mengerti.”

“Begini, aku akan memberitahumu sesuatu.”

Maria memajukan badan sambil mempermainkan sebatang rokok di sela jari telunjuk dan jari tengahnya dengan terampil. Entah mengapa, keterampilan itu terasa asing di mataku. Aku memperhatikannya dari samping, heran dengan perubahan itu. Entah sejak kapan dia punya kebiasaan merokok.

“Akulah yang membunuh Paul.”

Kalimat itu membuatku terhenyak dan terpaku. Asap putih bergumpal-gumpal di sekitar wajahnya, persis seperti gumpalan pikiran yang menyesakkan kepalaku. Aku berusaha menyangkal apa yang baru saja kudengar, tapi kesungguhan di matanya membuatku bergidik.

Dia menoleh padaku dan berkata dengan tenang. “Kedatangannya adalah jawaban dari doaku.”

“Maksudmu?”

“Bajingan tua itu membunuh orangtuaku tiga puluh tahun yang lalu,” ucapnya gemetar. “Ayahku memergokinya tidur bersama ibuku. Sekarang aku membalasnya. Dua hantaman pipa besi ke kepala. Bukankah itu harga yang setara?”

“Siapa yang kau maksud?”

“Arturo Cruz.”

Aku mengempaskan tubuh ke belakang, bersandar pada bangku kayu, berusaha keras mengendalikan keterkejutan yang membuat kepalaku sedikit pusing.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanyaku lunglai. “Kau ingin aku merasa kasihan, atau bagaimana?”

“Sama sekali tidak,” ujarnya tersenyum. “Aku hanya ingin berusaha menunjukkan padamu orang macam apa dia sebenarnya. Dan aku juga ingin bilang, bahwa setiap orang pasti akan mendapat bayaran dari perbuatannya.”

Aku menarik napas dalam-dalam, tapi paru-paruku seakan mengerut sebesar aprikot kering. Air liur pahit mengumpul di belakang mulut, menciptakan dorongan untuk menyemburkannya ke wajah Maria. Dia layak mendapatkannya. Itu harga yang pantas untuk perbuatannya pada Paul. Tetapi pandangan mataku malah jatuh ke permukaan kolam. Di sana aku melihat bayangan gadis kecil yang menderita lantaran kematian orangtuanya dan entah mengapa, ludah pahit itu menjadi sangat menyakitkan ketika ditelan.****


Adam Yudhistira, saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain bersastra, ia juga berbahagia mengelola sebuah Taman Baca untuk ikan-ikan kecil di aquariumnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Cerpen

Perihal Naskah Cerpen yang Dibaca Inspektur Konadi

Cerpen Nanda Winar Sagita

“Ah, kita memang selalu bisa mengandalkan seorang pembunuh untuk menulis prosa yang indah,” gumam Inspektur Konadi di hadapan kawan-kawannya sesaat setelah membaca tiga naskah cerpen yang dicomotnya dari kamar kos Parmin.

Inspektur Konadi tentu mengutip kalimat Vladimir Nabokov dalam Lolita. Hanya saja dia mengubah subjek jamak ‘kalian’ menjadi ‘kita’. Meskipun seorang polisi, dia suka membaca buku yang berkisah tentang, atau setidaknya menyinggung, pembunuhan. Secara mengesankan, kebiasaan itu pula yang membuatnya berhasil mengungkap kasus kematian Johan Gurdi, seorang bos redaktur koran lokal, yang tewas di dapur rumahnya sendiri karena lehernya tertikam garpu. Parmin, itu nama pembunuhnya. Dia adalah seorang penulis gagal yang berkali-kali mengirim naskah cerpen ke koran tersebut; sebanyak apa dia mengirim, sebanyak itu pula naskahnya ditolak.

Suatu hari, Parmin menghubungi Johan Gurdi yang sudah almarhum itu lewat surel. Dia ingin bertemu langsung, dan mengetahui alasan pasti ihwal kenapa naskahnya selalu ditolak. Dengan rendah hati, Johan Gurdi memenuhi dan menyuruh Parmin untuk datang ke rumahnya. Setiba di sana, Johan Gurdi mengajak Parmin untuk makan siang; dan menjelaskan penilaian subjektifnya atas naskah cerpen yang dikirim Parmin. Sebenarnya dia tidak menghina, hanya saja Parmin tidak terima dengan penjelasan itu. Mereka sempat bersawala sebelum pada akhirnya Parmin murka dan menikam leher Johan Gurdi dengan garpu.

Parmin kabur, dan keesokan harinya berita tentang kematian Johan Gurdi tersebar. Inspektur Konadi ditugaskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan itu. Sebenarnya tidak sulit untuk menemukan pelakunya, karena dia hanya melihat surel masuk di ponsel Johan Gurdi. Setelah itu, dia mencari tahu informasi tentang Parmin dan berhasil menangkapnya saat Parmin sedang menulis di kamar kosnya. Pada saat itulah, Inspektur Konadi sempat melihat bejibun kertas di meja kamar itu. Setelah memilah, dia melihat tergeletak tiga naskah cerpen dan mencomotnya begitu saja. Setibanya di kantor, ia baca satu per satu. Inspektur Gurdi tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada ide narasi yang ditulis oleh Parmin. Pada saat itulah dia bergumam di hadapan teman-temannya, “Ah, kita memang selalu bisa mengandalkan seorang pembunuh untuk menulis prosa yang indah.”

Bagaimana pun juga, bukan kelanjutan kisah itu yang akan kita bahas. Naskah cerpen Parmin, sebagaimana pun jeleknya menurut penilaian Johan Gurdi, perlu untuk kita tahu. Inspektur Konadi memang bukan ahli sastra, tapi kebanyakan dari kita memang orang awam sastra seperti dia; dan siapa tahu selera kita sama seperti seleranya. Oleh karena itu saya akan membeberkan ringkasan dari tiga naskah cerpen karya Parmin itu, sebagaimana berikut ini:

Memburu Tuan X

Cerpen ini dimulai dengan pengenalan karakter utama. Protagonis itu tanpa nama, tapi disebut sebagai seorang psikopat yang tinggal di Aceh. Dia punya obsesi aneh untuk membunuh korban dengan nama yang berurutan sesuai abjad. Saat cerita dimulai, sudah ada 23 korban yang mati (itu artinya, dia telah membunuh korban dengan nama diawali huruf A sampai W). Meskipun begitu, dia tersendat di korban dengan nama dari huruf X. Lantaran nyaris tidak ada nama orang Indonesia yang bermula dari X, sejauh yang dia tahu hanya almarhum Xarim MS, maka dia menyusun rencana garib. Untuk menemukan korban selanjutnya, dia mengumpulkan uang dengan berbagai cara: mulai dari memungut sedekah di tepi jalan sampai meminjam dari rentenir dengan agunan surat tanah rumahnya sendiri. Niatnya hanya satu, yakni pergi ke Timor Leste. Dia sudah punya target di sana, dan siapa lagi kalau bukan Xanana Gusmao. Singkat cerita, dia berhasil tiba di Dili dan bertemu langsung dengan mantan Perdana Menteri yang populer itu. Namun ketika sedang berbincang, dia baru tahu kalau nama asli Xanana Gusmao diawali dengan huruf K. Dia sudah telanjur tiba di Timor Leste, dan sudah berhadapan langsung dengan targetnya. Sialnya, dia terjebak dilema antara membunuh Xanana Gusmao atau tidak. Sudah, hanya sampai di situ saja akhirnya.

Pertemuan dengan Salman Rushdie

Cerpen ini punya tokoh utama, lagi-lagi tanpa nama, seorang ekstremis Islam yang terobsesi untuk membunuh Salman Rushdie. Meskipun harga kepala si penulis mahsyur itu cukup untuk membuatnya kaya seumur hidup, tapi dia tidak tergoda oleh uang. Niatnya tulus untuk membunuh si penista agama itu, demi mendapatkan pahala syahid. Dengan posisinya yang sekarang, dia tahu mustahil untuk bertemu dengan Salman Rushdie. Jadi dia berjuang dari nol untuk menjadi seorang penulis terkenal: membaca buku-buku sastra dan mengarang novel dengan mutu adiluhung. Beruntung, dia benar-benar menjadi seorang penulis terkenal yang karyanya diterjemahkan ke berbagai macam bahasa dan laris di seantero dunia. Atas prestasi itu, dia diundang untuk hadir ke acara festival sastra di London. Kebetulan target pembunuhannya juga ada di sana. Nah, pada saat itulah dia terjebak dilema antara membunuh Salman Rushdie atau tidak. Dia bimbang menimbang antara mendapatkan pahala syahid seperti yang diimpikannya atau melanjutkan popularitasnya sebagai seorang penulis. Sudah, hanya sampai di situ saja akhirnya.

Kronik Kematian Seorang Redaktur Koran

Cerpen ini tak perlu dijelaskan lebih lanjut lagi, karena kisahnya sama persis seperti alur kematian Johan Gurdi di tangan Parmin. Selain itu, nama tokohnya juga tidak disamarkan. Hanya saja bagian akhirnya sengaja dibuat berbeda. Setelah selesai bersawala dengan Johan Gurdi, Parmin memang murka dan siap menikam dengan garpu yang sudah berada di genggamannya. Namun dia bimbang memilih antara membunuh Johan Gurdi atau memaksanya untuk memuat salah satu cerpennya yang baru selesai ditulis di koran lokal itu. Tentu saja cerpen yang dimaksud adalah Membunuh Tuan X dan Pertemuan dengan Salman Rushdie.***


Nanda Winar Sagita, seorang penulis lepas dan guru sejarah. Karyanya berupa esai dan cerpen telah dimuat di berbagai media.

Cerpen

Sang Juru Kunci

Cerpen Ian Hasan

Sebab terlalu sering mengaitkan kejadian kematian beruntun warga dusun dengan kemarahan leluhur penunggu makam Sindang, nyaris tak ada warga Dusun Ngenthak yang menyukai Mbah Ngiso.

“Orang tidak waras,” kata Pak Bayan sembari bersungut-sungut, “tidak usah didengarkan!”

Tentu saja warga dusun yang sebagian besar kaum beriman dan terpelajar, menerima sepenuhnya pernyataan itu. Mereka lebih percaya, garis maut sudah ditentukan dan tidak ada siapa pun makhluk yang bisa memainkan goresannya, termasuk pandemi virus laknat sekalipun.

“Ya, maklumlah orang tidak pernah sekolah,” celetuk istri Ketua RW, terkesan bijak dari tutur kata dan penampilannya.

“Pssttt, awas ada orangnya, Bu!” Sambil berkata lirih, seorang ibu muda menyenggol lengan Bu RW.

Lelaki tua berkaki pincang sebelah itu tak begitu menggubris obrolan ibu-ibu yang sedang berkerumun mengelilingi tukang sayur di perempatan jalan menuju makam. Ia cukup mengerti perihal suasana dusun akan terus mencekam dalam beberapa hari ke depan. Termasuk gunjingan atas dirinya bakal kian meruncing, ia tak ambil peduli. Sekalipun tiap malam—dan sudah berjalan selama sepekan ini—masjid-masjid di Dusun Ngenthak, serentak menggelar acara doa tolak bala. Ia telah melihat sendiri, hujan yang turun hampir saban petang mengguyurkan kecemasan bagi warga dusun. Mereka yang memaksa diri hadir di masjid, tak bosan ndremimil, memanjatkan harap keselamatan atas kampung mereka dari pagebluk yang tak kunjung surut. Seolah tak putus sirene ambulans meraung dari kejauhan dan kabar lelayu kerap menggema lewat pengeras suara, membuat mereka yang bertahan mendekam di rumah pun tak lebih sama, mendaras pertolongan Yang Maha Kuasa agar keluarga mereka terhindar dari malapetaka.

Mbok ya sudah. Manut saja apa kata orang-orang, Kung.” Masih terngiang teguran istrinya semalam.

Mbah Ngiso—yang tak pernah lulus SD itu—tahu, sepintar apapun orang bersekolah, nyatanya sama saja tak berkutik tatkala wabah datang. Orang-orang pusat yang katanya terpilih dan hebat, menurutnya tak ada guna manakala sudah setahun lebih, gawatnya pandemi belum juga sanggup diatasi. Terlebih sekarang korban berjatuhan di antara tetangga sekitar. Ia lebih percaya dengan nasihat yang turun temurun ia terima dari leluhur, bahwa kejadian seperti ini merupakan akibat dari ulah tingkah sendiri. Mana mungkin Gusti Allah menimpakan tulah ke alamat yang salah? Demikian sederhana alasan yang melekat di benaknya.

Gegas lelaki itu mulai menugal tanah, menghunjamkan segenap kepatuhannya atas titah. Sesungguhnya dia pun tak rela sejak beberapa bulan belakangan, banyak warga yang tak menghiraukan lagi kata-katanya. Hal itu terlepas dari kenyataan, sepekan ini ia sudah menggalikan makam belasan mayat warga, tanpa sedikitpun berniat mengelak. Mata cangkul ia ayunkan, disambut sigap tiga orang warga lain membantunya, lalu sebentar saja tanah galian telah menumpuk di sekeliling lubang berukuran satu kali dua meter itu. Apa daya—pikirnya, Juru Kunci Makam Sindang hanyalah sebutan halus untuk tidak mengatakannya sebagai gedibal. Dan kata-kata yang keluar dari seorang gedibal, ibarat gemerisik rumput yang mengaduh terinjak kaki, kalaupun benar hanya terdengar tak lebih sebagai ratap belas kasihan.

Wis ta, Mbah. Aku jamin sampeyan dan keluarga nggak bakal kelaparan. Jadi nggak usah macam-macam!” tegas Pak Bayan tempo hari.

Sementara Mbah Ngiso tengah berkejaran dengan waktu menyiapkan lubang pemakaman, Pak Bayan justru terlihat sibuk menerima kedatangan para wartawan di balai desa. Terasa makin aneh kehadiran kuli tinta itu, tapi demikianlah kejadiannya. Mungkin sekali para remaja atau muda-mudi Dusun Ngenthak sudah tak sabar dusun mereka menjadi viral, meski kabar petaka yang harus mereka unggah ke media sosial, mengundang wartawan untuk meliput kejadian sebenarnya.

“Sebagai kepala lingkungan, kira-kira bagaimana tindakan Bapak untuk mengatasinya?” Seorang wartawan dari media lokal melontarkan pertanyaan yang terasa sedikit tergesa-gesa.

Pak Bayan terdiam sebentar sebelum kemudian memberikan tanggapan. Dia katakan di tengah kepanikan yang terus-terusan seperti sekarang, hanya ada satu cara paling baik, yakni meminta pertolongan Tuhan. Dia menambahkan, “Seluruh dunia sedang menderita akibat pandemi. Jadi mohon tidak menyebar berita yang tidak-tidak tentang dusun kami.”

Dan kedatangan wartawan itu sudah pasti tak membuat kepanikan mereda. Justru di hari berikutnya, berita tentang kematian beruntun di Dusun Ngenthak sukses terpampang di halaman pertama, bersebelahan dengan foto lambaian tangan bupati yang sedang menjalani isolasi mandiri.

Berita mengenai Dusun Ngenthak memang bukan baru kali ini, terlebih di dusun inilah rumah tinggal bupati berdiri, semenjak belum menjabat pertama kali. Tiga bulan sebelumnya, kabar penolakan pembangunan menara telekomunikasi yang tidak melibatkan persetujuan warga, juga sempat terpampang di koran yang sama. Sejatinya persoalan itu lumrah saja terjadi di mana tempat. Biasanya, warga setempat menolak karena tidak menyepakati uang kompensasi yang diberikan oleh pengembang menara. Sedikit berbeda yang terjadi di Dusun Ngenthak. Pertama, warga merasa tidak pernah diberitahu, apalagi dimintai persetujuan, terkait rencana pembangunan menara. Kedua, karena rencana pembangunan menara itu harus menghilangkan satu-satunya pohon tua yang ada di tanah kas desa, persisnya di sisi timur Makam Sindang. Yang terakhir, ada bukti dan saksi mata yang mengetahui perihal uang sewa, telanjur jadi bancakan tokoh-tokoh masyarakat dan perangkat desa. Ketiga alasan itu semakin meruncing ketika pada pertemuan di balai desa, Pak Bayan membawa-bawa nama bupati, “Kalau Bupati saja sudah merestui, kalian mau apa?” seolah dengan begitu penolakan warga bisa segera teratasi.

Sayangnya sebagian besar warga mengamini pernyataan Pak Bayan dan sebagian kecil sisanya ikut-ikutan bungkam ketika dana kompensasi dibagikan merata. Media pun tak kurang melempem setelah melakukan mediasi yang entah, menampilkan judul ‘Terganjal Mitos, Pembangunan Menara BTS Sempat Ditolak Warga,’ di salah satu kolom beritanya. Terkecuali Mbah Ngiso, meski dalam posisi terkunci, tetap saja menolak tanpa kecuali. Tetapi sikap itu tak mengubah itikad baiknya melaksanakan tugas sebagai juru kunci, sebagaimana yang dilakukannya hari ini.

Setelah kedatangan ambulans yang mengangkut jenazah, beserta mobil SAR yang membawa petugas berpakaian APD lengkap, Mbah Ngiso bergegas pulang. Sampai di rumah, lelaki tua itu disambut istrinya dengan wajah gelisah.

“Perasaanku kok nggak enak ya, Kung.”

“Lha ngapa? Ndak usah ikut-ikutan bingung.”

“Sampeyan ini, dieman-eman kok malah kayak gitu.”

“Apa kamu ikut-ikutan mengira Gusti Allah gegabah?”

“Ya bukan begitu. Tapi sampeyan kan juga harus hati-hati.”

“Kalau kamu ikut-ikutan menyalahkan pandemi, lantas kapan kita akan belajar perihal takdir yang sudah pasti?”

“Ah, ya sudah. Memang angel tenan bicara sama sampeyan,” tandas perempuan tua itu.

Matahari sedikit condong ke barat, dan Mbah Ngiso tetap bersikeras tak mau menyepelekan perihal kepastian takdir sebagai buah tindakan sendiri. Ia bahkan sempat menyebut—dan itupun sudah teramat sering dikatakannya—alasan kakinya pincang sebelah, sebab terpatuk ular saat berniat membawa pulang kayu bekas keranda dari Makam Sindang, berpuluh tahun silam. Lelaki tua itu berharap, cukup sekali itu saja dirinya tertimpa kemalangan akibat kemarahan leluhur penunggu makam.

Mbah Ngiso dan istrinya belum tahu, di saat mereka meributkan keselamatan atas pagebluk yang terjadi, sebuah pesan berantai menyebar dengan cepat selayaknya wabah menular. Siang terasa lebih panas di balai desa, ketika Pak Bayan yang baru saja mengisi absensi kehadiran, sampai terpental dari kursi, setelah membaca kabar lelayu kemangkatan bupati.***


Ian Hasan, kelahiran Ponorogo, saat ini bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Penulis dapat dihubungi lewat surel: [email protected] dan akun Instagram: @ian_hasan.

Cerpen

Pedagang Surga Keliling

Cerpen Indarka P.P

Kali ini aku akan bercerita tentang temanku yang gigih menjalani hidup sebagai pedagang surga keliling. Terus terang, kesungguhannya sangat membuatku kagum, terlebih ketika kutahu ia telah mencapai titik yang menggemberikan soal pekerjaannya itu. Sayang, sampai di suatu waktu, ia harus berhenti—tepatnya diberhentikan—sebagai pedagang surga keliling. Padahal saat itu aku belum sempat berhasil menjadi seperti dirinya.

***

Marno namanya. Lelaki tambun berkulit sawo—yang terlalu—matang. Seorang yang sudah bekerja selama sembilan tahun sebagai petugas TU di kantor kecamatan. Yang mana setiap harinya selalu cemas menanti kapan diangkat jadi pegawai negeri. Sebab pegawai honorer tak memiliki masa depan menjanjikan. Begitu kiranya saat ia mengeluh padaku.

“Gaji honorer itu pahit, Mul, pahit!” terangnya sambil melotot.

Aku tak berkomentar, kali itu aku bertindak sebagai pendengar, itupun Marno sudah senang. Setelah lega mencairkan unek-uneknya, Marno mengucap terima kasih, “Jangan pernah bosan mendengar sambatan-ku ya, Mul.” Ia lantas pulang.

Belum hilang keluhan Marno dari otakku, hari ini kabar tentang dirinya sudah sampai di telinga lagi. Aku lumayan terkejut. Malamnya aku langsung bertandang ke rumah Marno, menyelidiki kebenaran kabar itu. Setibanya di sana aku mendapat sambutan paling menyedihkan dari Marno sepanjang kami berteman. Wajahnya tampak kacau. Matanya—yang setiap hari sudah meredup—kini serupa lilin yang akan padam hanya dengan satu jentikkan jari. Kemalangan Marno itu diperparah ketika aku lihat tiga kancing paling atas di bajunya terlepas. Pemandangan yang sungguh tak baik bagi kesehatan mata.

Lalu aku bertanya mengapaia diberhentikan dari pekerjaanya. Ia menerangkan Pak Camat sedang melakukan reformasi birokrasi besar-besaran. Sebagai camat baru, Pak Camat ingin meremajakan pegawai. Bukan hanya remaja secara usia, melainkan juga soal kualitas sumber daya manusia yang mumpuni, berintegritas tinggi, cinta Pancasila dan NKRI. Karenanya, Pak Camat membentuk panitia yang bertugas mengadakan seleksi ulang guna pemberian SK jabatan. Seluruh pegawai wajib mengikuti, tak terkecuali Marno.

“Aku sudah ikut seluruh tahapan seleksi,” ucap Marno dengan suara lemas.

Marno melanjutkan ceritanya. Ia menduga telah mendapatkan skor buruk pada tahap Tes Wawasan Kecamatan. Ketika kutanya mengapa, Marno berkata kalau di tahap itu ia ditanya macam-macam yang tak mampu dijawabnya secara lugas dan cepat.

“Mul, kamu pilih kopiah atau caping?” tiba-tiba Marno melempar tanya padaku. Dan sedetik berselang ia menyebut angka-angka. “Waktu habis!!!” tandasnya setelah ia mengucap angka lima.

Ternyata Marno mencontohkan apa yang ia alami dalam Tes Wawasan Kecamatan. “Aku hanya diberi waktu lima detik.” Saat itu ia sangat bimbang. Jika memilih kopiah, ia sangsi kalau dianggap tidak pro rakyat kecil. Itu berarti ia tidak memiliki etos pelayanan yang baik. Sementara jika menjawab caping, ia takut kalau dicap sebagai orang yang tak peduli agama. Lebih-lebih kalau dituding sebagai penista.

Mendengar kesaksian itu, aku terheran-heran.

“Ada lagi yang lebih gila.”

Aku menajamkan mata dan pendengaran.

“Aku disuruh berpendapat, lebih mendahulukan Darma Bakti Kecamatan atau rukun iman.”

Aku melongo. “Terus kamu jawab apa, Mar?”

Ia menggelengkan kepala. Menurutnya lima detik hanya sesingkat satu kali tepuk tangan. Begitulah. Pada akhirnya di hari pengumuman ia harus menelan ludah karena tak masuk dalam daftar pegawai yang lolos seleksi. Lantaran tersulut amarah, dengan berani Marno merobek kertas pengumuman di papan informasi itu. Cara Marno bercerita berubah jadi heroik kali ini.

Atas tindakannya, Marno diusir satpam, dan pulang lebih awal di hari terakhir ia bekerja. Akhirnya, takdir meresmikan dirinya sebagai pengangguran. Marno yang merasa terzalimi lantas bersumpah, takkan pernah menginjakkan kaki di lantai kecamatan. Yang kemudian di lain hari sumpah itu ia revisi, “Jangankan lantainya, Mul, masuk gerbangnya pun aku tak sudi!”

Setelah nganggur berbulan-bulan, entah dapat referensi dari mana Marno menyatakan ingin berwirausaha. Sebagai teman yang baik, jelas aku dukung rencana itu. Namun, setelah mendengar jawaban Marno ketika kutanya usaha apa, aku berubah pesimis.

“Pedagang surga keliling, Mul.”

Marno meminta waktuku sebentar saat aku hendak pergi dari hadapannya. Ia menyebutkan nama pedagang sayur keliling, pedagang buah keliling, dan pedagang-pedagang keliling lainnya yang sukses. “Itu saingannya banyak. Nah, kalau surga, kurasa masih jarang penjualnya, Mul. Betul tidak?”

Karena tak ingin terlampau lama memandang wajah Marno yang kini jadi brewok itu, aku berlalu begitu saja. Aku yakin yang dikatakan Marno tadi hanya sebuah candaan—meski aku sama sekali tak tertawa. Sialnya, keyakinanku itu patah ketika esoknya aku melihat Marno berjalan kaki menggendong tas melintasi sebuah kampung sambil berteriak, “Surga, surga, surga… Surganya, monggo.

Aku tertegun. Aku menganggap Marno berlebihan dalam hal berinovasi. Karena penasaran, suatu kali kusempatkan bertanya pada Marno apa gerangan yang membuat ia terpikir menjadi pedagang surga keliling. Sayangnya Marno tak memberi jawaban tegas. Malah ia mengeluh padaku perihal surganya yang sepi pembeli.

“Apa namaku kurang hoki ya, Mul?” tanya Marno.

“Bisa jadi,” sambil tertawa kecil aku menjawabnya.

Nasib memang rahasia Tuhan yang tiada seorang pun tahu. Begitulah gumamku setelah mendengar usaha Marno sekarang berjalan sangat maju. Konon, surga yang ia jual laku keras. Di musala-musala kampung, pasar-pasar, terminal, bahkan di sekolah, banyak orang tertarik dengan dagangannya. Marno juga selalu memberi diskon serta berani menggaransi surga jualannya.

Hal tersebut kuketahui ketika suatu siang tanpa sengaja aku melihat Marno berbincang dengan tetanggaku yang baru lulus SMA di depan musala. Tetanggaku itu manggut-manggut mendengar Marno menjelaskan keunggulan surganya.

“Khusus buatmu aku beri garansi lama. Dua dua kali bulan puasa. Gimana?

Tetanggaku akhirnya sepakat. Ia lantas membayar surga pada Marno. Setelah itu ia bergegas masuk musala melaksanakan salat dalam waktu yang sangat lama. Sementara Marno melanjutkan perjalanan. Berkeliling sembari mendengungkan besaran diskon juga garansi. Aku yang menyaksikan kegigihan Marno dengan mata kepala sendiri, benar-benar salut.

Alhamdulillah. Ini semua buah ikhtiar dan kesabaranku, Mul,” ucap Marno suatu kali. Ia tersenyum sambil mengelus-elus jenggot yang telah memenuhi dagunya.

“Pokoknya aku bangga padamu, Mar.”

“Ssttt…” tiba-tiba Marno tempelkan telunjuknya di bibirku. “Jangan panggil aku dengan nama itu lagi, Mul. Tidak membawa hoki.” Ia menegaskan padaku telah mengubah nama menjadi Salman Ar-Rasyid. Dan saat itu pula ia minta aku selalu memanggilnya dengan nama itu.

“Siap, Mar. Eh, maksudku siap, Salman.” Kami pun terkekeh.

Melihat Salman meraup pundi-pundi sebagai pedagang surga keliling, lama-lama membuatku tertarik juga. Aku menyampaikan hal itu pada Salman, dan memang sudah sepatutnya ia menanggapi ketertarikanku dengan hangat. Tanpa perlu kujelaskan lebih gamblang, ia sudah mengerti maksudku. Ia pun janji akan mengajari cara menjadi seperti dirinya.

“Tetapi kamu harus tahu, Mul, sebelum terjun ke lapangan, kamu harus mondok di yayasan dulu.”

“Berapa lama kira-kira?”

“Tergantung. Semakin cepat kamu menguasai materi penjualan surga, semakin cepat pula kamu bisa mulai bekerja. Begitu sebaliknya.”

Aku mengiyakan apa yang ia utarakan. Setelah itu aku disuruh menunggu kabar darinya. Namun, sepekan dua pekan, Salman tiada menghubungiku. Berkali aku meneleponnya juga tak bisa.Ia seperti lenyap dalam kegemilangan. Aku yang sugguh-sungguh kepengin seperti dirinya merasa kecewa.

Suatu hari di siang yang terasa suntuk, ketika harapanku menjadi pegadang surga keliling mulai surut, tanpa terduga masuk panggilan dari nomor Salman. Aku antusias. Barangkali ini kabar bahwa aku sudah bisa memulai rencana yang sempat tertunda. Namun, setelah telepon itu kuangkat, bukan suara Salman yang terdengar, melainkan seorang yang mengaku dari kepolisian. Saat kutanya apa yang terjadi pada Salman, ia tak bisa menjelaskan. Ia memintaku menyusul Salman di kantor polisi kecamatan. Tanpa pikir panjang, segera aku berangkat ke sana.

Saat tiba di kantor polisi, aku menghadapi seorang petugas yang menanyaiku sebelum bertemu dengan Salman. Pada proses itu petugas memberitahuku terkait apa yang Salman alami.

“Teman Anda kena OTT,” katanya, “Surga yang ia jual ilegal, karena tidak ada izin dari Majelis Ulama Kecamatan,” lanjut petugas itu dengan wajah garang dan menjengkelkan.

Aku tercenung sekian waktu karena hampir tak percaya Salman berani melawan undang-undang. Meski begitu, Salman tetaplah temanku yang baik. Aku akan menemaninya melewati seluruh proses hukum ini. Ya, selain membuktikan bahwa aku teman yang setia, itung-itung dari proses ini aku juga bisa belajar bagaimana menjadi pedagang surga keliling yang baik dan benar.

“Nama Anda siapa?” pertanyaan petugas itu membuatku terkejut. Sudah kubilang, dari awal ia memang menjengkelkan.

“Husain. Ehm… Husain bin Muzaki,” jawabku sambil berdehem satu kali.***


Indarka P.P, lahir di Wonogiri, Jawa Tengah. Alumni Fakultas Syariah, IAIN Surakarta. Saat ini bermukim di telatah Kartasura dan bergiat di Komunitas Kamar Kata.