Cerpen

Pemanah

Cerpen Rumadi

Apa yang ia takutkan telah menjadi kenyataan. Tangannya menggenggam kuat dengan tangis yang berusaha ditahan sejadi-jadinya. Ia abaikan amis darah yang menguar memenuhi udara. Ia usap berkali-kali kandungan di dalam perutnya yang semakin membesar. Ia selalu mengajaknya berbicara setiap hari tanpa henti, diiringi doa-doa, supaya kelak anak yang sedang dikandungnya akan memiliki nasib yang lebih baik dari sang ayah. Ia hanya duduk di samping suaminya yang sudah terbaring dengan anak panah yang masih menancap di tenggorokannya. Bukan anak panah milik seorang ksatria. Namun, panah itu milik seorang pengecut yang dielu-elukan di seberang sana. Berkali-kali petugas pengobatan ingin mengangkut jenazah suaminya, tetapi ia masih ingin membersamai suaminya meski sudah tak bernyawa lagi. Ia pandangi lekat-lekat mata suaminya yang telah memejam. Ia raba tubuhnya. Luka itu masih ada. Ia cemburu pada brahmana tua yang meminta baju zirahnya. Baru kali ini ia meraba dada suaminya sendiri yang semasa hidupnya senantiasa tertutupi baju zirah yang melekat dalam tubuh itu sejak dilahirkan. Ia masih mengingat, malam pertama di hari pernikahan, hingga hari-hari sebelum kematiannya, ia belum pernah merabai kulit dada suaminya secara langsung. Ada kelegaan saat ia menyentuhnya. Tetapi juga kecemburuan. Ia yang pertama menjadi istrinya, menemaninya hingga akhir hayatnya, tetapi ia tidak pernah bisa memenangkan perasaan hati suaminya yang dipenuhi misteri.

Semua ini seharusnya tak perlu terjadi kalau saja suaminya mendengar dan menuruti Krisna dan Dewi Kunti. Namun suaminya yang sudah memendam terlalu banyak kekecewaan terhadap Dewi Kunti dan kelima anaknya—terutama Arjuna—tidak akan pernah memihak mereka. Ia mengintip dari biliknya ketika Dewi Kunti datang hampir tengah malam. Karna yang tampak gelisah tak bergegas memejam, membuka pintu dengan sedikit enggan ketika pintu diketuk. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan yang hendak bertamu tengah malam begini.

Karna terperanjat melihat siapa yang datang. Wrusali yang hanya mengintip dari dalam bilik menyimak dengan sedikit merapatkan kuping ke arah pintu. Ia melihat sorot mata suaminya yang terluka.

“Mengapa baru sekarang mengatakannya wahai Ibu? Ke mana ibu selama ini? Ibu macam apa yang tega membuang anaknya? Ke mana ibu waktu saya diludahi Guru Durna? Ke mana Ibu ketika Arjuna mengatakan tidak akan pernah mau bertanding dengan anak seorang kusir kereta? Saya ditertawai seluruh penduduk Hastina kecuali Suyudana. Dia bahkan mengangkat saya menjadi seorang raja. Ke mana Ibu waktu Drupadi menghina anak kusir ini? Aku tidak akan menikah dengan anak seorang kusir kereta! Kata-katanya melukai setiap aliran darah saya Ibu.”

Wrusali melihat perempuan di depan suaminya teramat sedih. Bahkan meski ditahan sedemikian rupa, tangisnya memecah malam. Perempuan itu berdiri hendak merengkuh anak lelaki yang pernah dibuangnya. Di luar dugaan Karna menghindar.

“Tubuh seorang anak kusir ini akan mencemari tubuh Ibu, oh tidak, maaafkan kelancangan saya, maksud saya, Mahadewi Kunti.” Karna memandang ke arah lain. Melihat ke arah pintu yang sengaja ia buka lebar-lebar. Angin malam menghempas dingin.

Tangis Dewi Kunti terdengar lebih memilukan. Lebih menggema dan air matanya semakin deras.

“Hastina akan jadi milikmu, Nak. Jika kamu kembali ke pangkuan Ibu bersama adik-adikmu. Kamu putra sulungku.” Iba Dewi Kunti dengan suara yang agak serak.

“Drama macam apa lagi yang hendak Dewi Kunti mainkan? Saya anak kusir kereta Adhirata dan ibu saya Radha. Tak selayaknya kusir kereta bermimpi menjadi raja. Lagipula saya tidak mungkin meninggalkan Suyudana. Seseorang yang sudah memberikan saya kedudukan. Seseorang yang membuat saya tidak lagi dilecehkan ketika anak-anak Dewi mencemooh saya.”

Ingin rasanya ia keluar dari bilik dan membujuk suaminya agar mau memberikan maaf kepada Dewi Kunti.

“Jika itu ketetapanmu Nak, berjanjilah pada Ibu untuk tidak membunuh adik-adikmu.” Dewi Kunti sudah terlihat putus asa.

Karna menghela napas, memainkan jarinya di meja.

“Anakmu ada lima, Ibu. Dan akan tetap ada lima selesai perang nanti. Saya tidak akan membunuh anak-anakmu kecuali Arjuna. Entah saya atau dia yang mati.”

“Bagaimana dengan Drupadi? Bukankah kau mengharapkannya lebih dari apa pun? Kau pun berhak mendapatkannya sebagaimana adik-adikmu.”

Licik. Batin Wrusali. Dan tentu saja perkataan Dewi Kunti yang terakhir membuat hatinya sakit. Namun ia masih menunggu dengan harap cemas.

“Pelacur itu? Tidak. Tidak. Saya pernah mengharapkannya, tetapi tidak lagi. Perempuan itu pernah menghina saya habis-habisan. Saya tidak akan merubah pendirian saya wahai Ibu. Sudah malam. Saya hendak istirahat. Ibu hendaknya juga segera istirahat. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan.”

Pembicaraan itu tidak akan menemui titik temu. Suaminya memihak Kurawa, yang artinya ia akan berhadapan dengan adik-adiknya sendiri. Namun hari pertama di medan perang, ia tersenyum. Karna pulang dengan wajah tertunduk lesu. Karna langsung menghambur ke dalam pelukannya dan mengelus kandungan istrinya. Bisma, senopati agung Kurawa tidak menghendaki anak kusir kereta seperti dirinya berada di medan perang. Ada rasa bahagia di dalam dadanya. Suaminya masih menjadi miliknya. Meski tidak dengan hatinya.

Rasa cemburu itu takkan bisa dilupakan dan dihilangkan. Ia membersamai suaminya ketika mereka hendak mengikuti sayembara di kerajaan Pancala. Ia tidak berada satu kereta dengan suaminya. Ia tahu kedudukannya. Ia tidak pernah ingin mempermalukan suaminya di depan umum. Ia memilih berada di barisan paling belakang dengan kereta tanpa hiasan sama sekali, meski pun ia adalah istri seorang Raja Angga. Ia yang meminta kepada suaminya untuk tidak menghias keretanya. Semula Karna ingin memintanya untuk satu kereta dengannya, tetapi ia menolak. Bukan tempatnya. Namun ia mengiringi suaminya dari belakang untuk memenangkan sayembara kerajaan itu.

Meski dari jauh, ia mampu melihat putri Raja Pancala yang memang memiliki kecantikannya sendiri. Ia menatap suaminya dari kejauhan. Baru kali itu ia melihat suaminya tak berkedip melihat seorang perempuan. Bahkan ia sangat iri dengan tatapan itu. Ia tidak pernah ditatap suaminya semacam itu. Matanya berkaca-kaca dengan menyimpan kecemburuan yang mendalam.

Satu per satu para raja dan putra mahkota maju dan mengangkat busur pusaka kerajaan Pancala. Namun belum ada yang berhasil. Mereka yang berhasil mengangkat busur, yang melebihi berat badan mereka sendiri, tidak ada yang bisa memanah mata anak ikan yang berputar-putar di udara dengan tepat. Mereka diharuskan menghadap ke arah kolam, sementara panah harus diarahkan ke arah anak ikan yang berputar di udara. Ada salah seorang dari mereka yang ambruk setelah berhasil mengangkat busur pusaka yang mengundang gelak tawa para raja. Hingga tiba giliran suaminya. Entah mengapa, dadanya ikut bergemuruh ketika nama suaminya dipanggil. Karna memberi hormat kepada semua yang hadir.

Semua mata terdiam. Dengan mudahnya ia mengangkat busur pusaka itu. Semua orang tercengang, bahkan sebagian ternganga tak percaya melihatnya. Karna memejam sebentar seperti membaca doa. Ia mengambil satu anak panah yang berada di samping busur pusaka. Ia arahkan anak panahnya ke langit, di mana mata ikan yang menjadi sasarannya berputar-putar di udara. Ia melihat ke bawah sebagaimana yang menjadi syarat dalam perhelatan sayembara itu. Dengan satu bidikan pasti, dan dengan satu lesatan anak panah, dia berhasil tepat mengenai sasaran. Beberapa raja terkesiap tak percaya. Suyudana dan teman-temannya bersorak kegirangan.

Namun ia tertunduk. Setelah Supriya, kini dia harus membiarkan suaminya membagi perhatian kepada Drupadi. Kepada Supriya, ia tidak pernah merasa cemburu. Sikap Karna terhadap Supriya justru lebih dingin dibandingkan terhadapnya. Tetapi perempuan yang duduk di atas paseban itu, telah membuatnya cemburu sejak ia tiba di sini. Ia merasakan tatapan suaminya sebagaimana tatapannya terhadap Karna sejak dulu. Sorot mata jatuh cinta.

“Aku tidak akan pernah menikah dengan anak seorang kusir kereta!” suara Drupadi menghentikan sorak sorai Suyudana, sekaligus mengejutkan semua yang hadir.

Karna menunduk. Ia meletakkan begitu saja busur yang membuatnya dibicarakan banyak orang di perhelatan itu. Ia turun dari gelanggang seperti seorang yang kalah. Suyudana hampir saja mengangkat senjata, tetapi Karna menggenggam tangan sahabatnya.

“Kita pulang,” kata Karna lemah. Ia menarik tangan Suyudana dan meredam amarah sahabatnya itu tanpa kata-kata. Suyudana pasrah. Mereka meninggalkan gelanggang. Dan tak lama setelah mereka menaiki kereta, mereka mendengar sorak sorai. Karna berhenti sejenak di atas kereta. Ia melihat di kejauhan seorang brahmana berhasil mengenai sasaran sebagaimana dirinya.

“Saudara semuanya, ini adalah Arjuna. Seorang ksatria, putra yang mulia Maharaja Pandu. Ia telah selamat dari peristiwa kebakaran di Waranawata.”

Wrusali tak mendengar lagi apa yang diucapkan oleh Krisna di gelanggang itu. Kereta mulai melaju. Peristiwa ini tentu akan lebih melukai hati suaminya. Karna pernah dibuat patah semangat ketika hari kelulusan Pandawa dan Kurawa di Sokalima.

Saat Arjuna memasuki gelanggang, Guru Durna mengatakan kepada semua yang hadir, Arjuna adalah pemanah terbaik di antara ksatria lainnya. Saat hendak menunjukkan kebolehannya, tiba-tiba datang seorang pemuda berbadan gelap memasuki gelanggang. Debu mengepul. Arjuna tak terpengaruh dengan kedatangan pemuda itu. Ia tetap memanah sasaran yang telah dipasang Guru Durna. Namun setiap kali Arjuna hendak mengenai sasaran, ada anak panah lain yang menepis panah Arjuna, yang justru mengenai sasaran. Begitu seterusnya. Dan pemuda berbadan gelap itu mengelilingi gelanggang Arjuna. Memanah dengan tepat sarung tempat Arjuna menaruh anak panahnya hingga anak panahnya berceceran di tanah. Tak puas dengan itu, pemuda itu, memanah dengan tepat busur di tangan Arjuna hingga busur itu juga terlepas dari tangannya, karena Arjuna tidak terlalu kuat menggenggam busurnya. Ia masih terlalu kaget dengan kehadiran lelaki misterius tidak diundang.

Pemuda itu melompat dari atas pelana ke arah gelanggang. Berdiri di samping Arjuna. Kemudian duduk menghaturkan sembah kepada Raja Destarastra.

“Mohon maaf atas kelancangan hamba. Hamba hendak menantang Arjuna untuk membuktikan siapa pemanah terbaik di antara para ksatria.” Pemuda itu masih menunduk.

Semua orang masih terheran-heran, masih bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. Hingga akhirnya Guru Krepa angkat bicara.

“Siapakah kau, Nak?”

“Nama hamba Karna.”

Belum lama peristiwa itu terjadi, Adhirata mendekat ke arah gelanggang. Seketika Karna turun gelanggang dan mendekati ayahnya tanpa ragu.

“Anakku! Anakku!”

Seketika semuanya tertawa.

“Ksatria hanya boleh bertanding dengan ksatria. Tidak layak seorang ksatria bertanding melawan anak seorang kusir kereta!” Arjuna dengan lantang berteriak menolak adu tanding memanah. Semuanya tertawa hingga tiba-tiba Suyudana ikut berdiri di atas gelanggang.

“Hendaknya kemampuan seseorang tidak dilihat dari kastanya. Siapa pun bisa menjadi ksatria. Bukankah nenek moyang kita adalah anak seorang nelayan?”

Semua orang diam menunggu apa yang akan dikatakan anak dari pemangku Hastinapura.

Suyudana menyembah Destarastra.

“Jika ksatria hanya boleh bertanding dengan ksatria, maka aku akan memberikan kerajaan Angga kepada Karna, yang kini menjadi sahabatku. Masihkah kau tidak mau bertanding layaknya ksatria wahai pengecut? Atau kau takut kalah? Kau malu ada seorang pemanah yang mampu menjatuhkan anak panah dan busurmu? Atau perlukah Karna menelanjangimu dengan anak-anak panahnya?” Suyudana tersenyum. Kali ini dia menang. Setelah di pertandingan sebelumnya dia hampir saja menjatuhkan Bima.

Namun Karna telanjur pergi. Ia telah pulang bersama ayahnya, Adhirata. Karna mengharap pengakuan Guru Durna, dan hinaan dari anak didik terkasihnya yang didapat. Wrusali melihat itu dengan geram. Tak selayaknya seorang pangeran menghina seseorang yang memiliki kemampuan yang lebih baik darinya, hanya karena ia anak seorang kusir. Ia tak suka melihat lelaki yang dicintainya dilukai.

Wrusali juga tak suka ketika mengatakan Drupadi seorang pelacur. Ia tahu, suaminya mengatakan demikian bukan untuk menghina putri dari Raja Pancala tersebut. Setelah sayembara itu, begitu Karna tahu seorang perempuan beristrikan lima orang, ia mengatainya pelacur. Seorang perempuan hanya boleh bersuamikan empat orang, itu yang sering dikatakan para brahmana. Tetapi Drupadi menikahi lima orang sekaligus. Hanya pelacur yang bisa melakukan demikian. Karna yang menyarankan kepada Sengkuni dan Suyudana dengan bisik-bisik agar Yudhistira mempertaruhkan istrinya ketika Pandawa tertua itu tidak memiliki apa-apa lagi. Demi mendapatkan kembali Indraprasta, mendapatkan kembali Hastinapura, dan yang terpenting mendapatkan kembali kemerdekaannya dan saudara-saudaranya, Yudhistira menyanggupi dengan mempertaruhkan istrinya.

“Lelaki bodoh,” umpat Karna, “lelaki macam apa yang mau mempertaruhkan istrinya di meja judi?”

Wrusali mendengar itu dengan sangat jelas. Karna menginginkan Drupadi lebih dari apa pun. Namun dia tahu, Karna tidak akan menikahi perempuan yang sudah telanjur menghinanya meski ia sangat menginginkannya.

Sebagaimana malam ketika Bisma gugur. Drupadi mendatangi perkemahan mereka dengan tangis berderai.

“Seandainya aku tahu sejak awal. Seandainya aku tahu kau adalah putra Dewi Kunti. Perang ini tak perlu terjadi. Aku tak perlu menjadi suami dari lima orang. Maukah kau menerima cinta yang datang terlambat ini wahai Karna? Kau berhak atas cintaku. Kau berhak atas hidupku karena kau adalah Pandawa tertua.”

“Putri, kau mengharapkan pengandaian yang takkan pernah kembali. Kalau saja kau tak menghinaku karena putra seorang kusir kereta. Seandainya kau mau menetapkan aku sebagai pemenang. Seandainya kau melihat kemampuan seseorang bukan dari golongan kastanya. Namun semua sudah terjadi putri. Aku mengharapkanmu dan masih. Tetapi tidak berarti harus bersama. Semoga di kehidupan selanjutnya, kita dipertemukan sebagai sepasang kekasih.” Karna bahkan tak mau melihat wajah Drupadi.

Dan Wrusali mendengar semuanya dengan jelas. Ada rasa sakit yang lebih menusuk. Dan ia tetap memilih diam. Sebagaimana suaminya yang tak pernah kurang memberinya perhatian sebagai seorang suami. Bukan sebagai seorang kekasih. Ia menggenggam jemarinya sendiri, seolah itu adalah jemari suaminya.

Hari kelima belas Karna mengamuk begitu mendengar semua anaknya gugur dalam pertempuran. Tanpa rasa takut ia meminta Prabu Salya memasuki arena pertempuran Pandawa dengan beberapa pasukan. Sepuluh anak panah, dilesakkan bersamaan, dan ia berhasil membunuh setiap prajurit yang ditemuinya. Setiap kali ada pedang, tombak, atau anak panah yang hendak mengenainya, Prabu Salya dengan lihai membelokkan kereta. Sementara Karna dengan membabi buta menyerang semua pasukan yang ditemuinya. Ia berhasil mengenai bagian yang tak terlindung dari musuh-musuhnya. Yudhistira, Bima, Nakula, dan Sadewa telah berhasil ia lumpuhkan. Bima berhasil ia buat pingsan dengan melesatkan anak panah yang tidak tumpul di bagian tengkuknya. Karna memanahnya berkali-kali hingga Pandawa terkuat itu tak berdaya. Sebagaimana janji yang ia ucapkan kepada ibunya di malam sebelum ia berangkat berperang, ia tak akan membunuh adik-adiknya.

Prabu Salya mengamuk.

“Dasar bodoh! Kenapa kau tidak menghabisi mereka selagi bisa?”

“Bukankah Bisma sudah mengatakan tidak boleh menyerang musuh yang sudah tak berdaya, yang tak bersenjata, dan lawan yang sudah menyerah? Juga tak boleh menyerang perempuan. Aku menghormati tata cara perang sebagaimana Suyudana tidak mencederai perjanjian perang ini.”

“Bukankah Bisma dibunuh karena Arjuna menjadikan Srikandi sebagai tameng? Bukankah Guru Durna dibunuh dengan kebohongan? Bukankah Lesmanakumara dibunuh selagi tak bersenjata? Kau mau menjadi sok bijak sementara lawan sedemikian curang?” Prabu Salya tak bisa menahan kegeramannya lagi.

“Itu mereka. Bukan kita. Aku adalah ksatria yang menjunjung tinggi nilai-nilai ksatria dan perjanjian peperangan.”

Prabu Salya hanya menanggapi dengan meludah ke tanah.

Karna melihat Arjuna yang berusaha berlari dari kejaran pasukan Kurawa, maka Karna menuding ke arah kereta Arjuna dengan Krisna yang menjadi sais kereta. Karna menunggu saat ini. Ia tidak menyesali telah melesatkan panah Kunta yang sebenarnya telah ia siapkan untuk membunuh Arjuna. Kemarin Gatotkaca begitu mengerikan. Ia mengamuk dan hampir saja menghampiri pertahanan terakhir Kurawa sebelum akhirnya Karna melesatkan panah itu tepat di pusarnya. Gatotkaca meregang nyawa. Dan ia melihat Krisna tersenyum. Rekan macam apa yang tersenyum melihat salah seorang dari anggotanya terbunuh?

Ia juga tak menyesali mengiris baju zirahnya kepada seorang brahmana tua. Ia sudah berjanji untuk memberikan apa saja kepada siapa pun yang meminta derma kepadanya. Dari brahmana itu pula ia memperolah senjata Kunta yang hanya bisa dipakai sekali saja.

Ia akan bertarung tanpa pelindung dan tanpa senjata mematikan itu. Lima belas anak panah ia bidik ke arah kereta Krisna. Tidak, ia tidak membidik Arjuna mau pun Krisna. Ia membidik roda-rodanya. Dalam sekali lesatan anak panah itu mengganjal roda Krisna yang melaju kencang dan membuatnya terguling. Sebagaimana yang ia lakukan di peristiwa kelulusan Pandawa dan Kurawa di Sokalima, Karna memanah tali yang menggantung di pundak Arjuna sehingga anak panah dari Pandawa ketiga itu tercecer. Ia membidik lagi. Jemari Arjuna. Meski mereka lari, Karna mampu membidik dengan tepat, sehingga busur Arjuna terlepas dari tangan. Karna tersenyum. Dua kali dia mempermalukan seseorang yang menghinanya bertahun-tahun silam. Arjuna dan Sri Krisna tak lagi bersenjata. Prabu Salya menarik tali kekangnya sehingga kereta mereka berhenti. Krisna dan Arjuna pasrah.

“Habisi dia selagi ada kesempatan!” hardik Prabu Salya.

“Aku seorang ksatria dan akan bertarung layaknya seorang ksatria.”

Krisna yang mendengar pertengkaran dua orang itu mencoba berbicara.

“Jika Tuan berkenan kami menaiki kereta kembali, dan membiarkan Arjuna mengambil busur dan anak-anak panahnya, maka kita akan bertarung selayaknya ksatria.”

Karna mengangguk tanda setuju. Krisna dan Arjuna membalikkan kereta mereka yang terguling dibantu beberapa pasukannya. Setelah mereka dalam kereta, tidak boleh seorang pun mencampuri pertempuran antara dua ksatria ini.

Krisna memacu kudanya. Begitu pun Prabu Salya, Karna belum lagi membidik anak panah, Arjuna sudah siap membidik dengan lima anak panah yang siap dilesatkan. Bukan Karna yang jadi sasaran tembakan. Namun Prabu Salya. Tidak adil batin Karna. Kereta Prabu Salya melaju tanpa arah karena dihujani anak panah tanpa henti.

“Kau teruskan sendiri pertarunganmu anak bodoh! Sudah kubilang habisi mereka selagi ada kesempatan!”

Prabu Salya melompat turun dari kereta membuat Karna kewalahan menghindari anak panah Arjuna. Kali ini ia sendirian. Tapi ia tidak menyerah, ia mengikat tali panahnya, ke pinggir tiang penyangga kereta. Ia memanah sesempatnya. Tetapi hanya tiga anak panah yang mampu ia lesatkan. Dengan arah bidikan sempurna, ia yakin Arjuna akan roboh dengan bidikannya kali ini. Kalau saja Krisna tidak membelokkan keretanya, Arjuna pasti tumbang oleh anak panahnya. Saat Karna sedang sibuk membidik, tanpa sengaja kudanya tersandung kaki gajah yang roboh, membuat ia terguling dan terjerembap. Krisna menarik tali kekangnya, membuat kereta berhenti. Karna berdiri. Sebagaimana yang ia lakukan terhadap Arjuna ketika tak berdaya, ia pun meminta hal yang sama.

“Tunggu aku membalikkan keretaku Arjuna.”

Karna berjalan mendekati keretanya, hendak mendirikannya kembali. Dibantu beberapa orang dari pasukannya. Tanpa disangka Krisna menarik tali kekangnya. Arjuna membidik. Semua orang yang hendak membantunya dipanah Arjuna satu per satu hingga tinggal Karna seorang.

Arjuna masih membidik. Karna yakin, Arjuna akan bersikap ksatria sebagaimana dirinya. Tidak akan membidik seseorang yang tidak bersenjata. Karna masih berusaha, untuk membalikkan keretanya. Ia masih ingat pernah menabrak sapi seorang brahmana, dan dikutuk keretanya terperosok di saat paling penting di dalam hidupnya. Dan ini adalah saat yang benar-benar genting.

Ia mencoba mengingat mantra penyelamat saat terdesak seperti saat ini. Beberapa kali sebelumnya ia pernah mencobanya dan berhasil. Saat ia kabur dari Parasurama karena dikira membodohinya. Parasurama mengutuknya, ia akan lupa terhadap semua yang diajarkan ketika menghadapi pertarungan antara hidup dan mati. Celakanya, Karna tidak mengingat sama sekali mantra yang pernah diajarkan Parasurama.

Anak panah Arjuna telah dilepaskan. Senopati Kurawa lagi-lagi tumbang setelah Bisma dan Durna. Krisna lagi-lagi menyunggingkan senyumnya. Panah itu menembus tenggorokannya, bahkan saat Karna belum lagi mendirikan kereta, dan sedang tidak memegang senjata.

Wrusali masih memandang suaminya. Berharap ia ada sedikit saja menempati perasaan Karna. Tidak pernah selama menikah, Karna memanggilnya dengan sebutan kekasih. Karna selalu memanggilnya dengan namanya. Wrusali. Karna tak henti-hentinya membicarakan Drupadi setelah peristiwa sayembara. Dan kini ia gugur, di tangan salah seorang suaminya.

Saat ia terlarut dalam tangisnya yang tak terbendung, seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh. Mengangkat wajah. Seketika ia murka. Ia meraung hendak menyerang orang yang menepuk bahunya. Namun beberapa orang segera memegangnya, khawatir kandungannya terganggu.

“Maafkan salah seorang dari suamiku. Tak selayaknya dia berbuat semacam itu.”

Wrusali hanya tertunduk. Ia lemas tak berdaya. Air matanya semakin menderas. Satu-satunya orang yang berusaha ia senangkan seumur hidupnya, tetapi tidak pernah bisa ia ambil perhatiannya.

Drupadi mendekat. Menggenggam jemari Wrusali.

“Anak dalam kandunganmu, kelak akan lebih hebat dari ayahnya.” Wrusali rebah dalam pelukan orang yang pernah diharapkan suaminya itu. Ia memejamkan mata. Begitu teduh. Ia membayangkan seandainya saat ini tubuh yang dipeluknya adalah tubuh suaminya. Dan seandainya ia pernah memeluk suaminya tanpa baju zirahnya.

Ciputat, 30 April 2021


Rumadi, lahir di Pati, 1990. Menulis cerpen. Saat ini aktif di Forum Lingkar Pena cabang Ciputat dan komunitas cerpen Prosatujuh.

Cerpen

Tamagochi, Hantu, Burung, Sumur, Orang Bunuh Diri

Cerpen Kiki Sulistyo

Beberapa detik sebelum tubuh Ismael meluncur, ingatan di benaknya lebih dulu meluncur pada seekor burung yang meluncur cepat ke dalam rumahnya. Ismael sedang berbaring menghadap televisi. Beberapa detik sebelum melihat burung, dalam televisi dia melihat peluru-peluru kendali diluncurkan. Pada detik yang sama ingatannya meluncur pada sesosok tubuh yang meluncur dari lantai tertinggi rumah susun, menimbulkan suara gedebuk yang pada saat nyaris bersamaan teriris suara teriakan.  

Burung itu menabrak tembok di atas televisi, membuat tubuhnya nyaris meluncur turun. Tetapi sebelum mencapai lantai, ia bisa kembali mengepakkan sayap dan terbang dengan susah payah. Sambil tetap berbaring, perhatian Ismael pindah dari televisi ke burung yang berputar-putar tak menemukan arah keluar. Ismael bangkit seraya terus memperhatikan burung. Orang-orang berdatangan. Satu per satu atau bergerombol. Sebagian di antaranya menutup muka atau berpaling, meski tak beranjak dari tempatnya berdiri. Beberapa detik sebelum tubuh itu berhenti berkejat-kejat, ingatan Ismael meluncur pada telapak tangan yang meluncur cepat menghantam pipinya. Telapak itu lebih besar dari pipinya. Itu telapak tangan pamannya. Meluncur oleh suatu amarah lantaran Ismael mengajak sepupunya bermain di belakang sebuah rumah di mana terdapat sumur tak terpakai yang kata beberapa orang dihuni oleh hantu yang gemar menangkap dan menyembunyikan anak-anak.

Perhatian Ismael teralihkan sebentar ketika penyiar berita mengabarkan kematian anak-anak akibat perang. Ketika Ismael menoleh, tak ada gambar anak-anak yang mati, hanya ada kerumunan orang di tengah puing-puing bangunan. Ismael kembali berpaling ke burung yang beberapa detik sebelum dia menoleh telah hinggap-susah payah berpegangan pada besi gorden. Ismael ingin menangkap burung itu. Sebelum polisi datang dan memasang pita kuning di sekitar kejadian perkara, Ismael melihat seorang perempuan tua berlari kencang dari lantai dasar rumah susun. Perempuan itu meraung-raung, sebagian polisi berusaha menenangkannya, sebagian yang lain menghalau orang-orang yang kian banyak berkumpul. Sayang sekali Ismael sedang sendirian, kalau saja dia sedang bersama sepupunya, dia bisa menyunggi anak itu dan memintanya menangkap burung.

Setelah tamparan pamannya, Ismael jadi jarang bertemu sepupunya. Padahal keduanya sangat dekat. Ibunya meraung-raung ketika mengetahui peristiwa penamparan itu. Ismael mengikuti ibunya saat perempuan itu mendatangi saudaranya lalu langsung mencaci maki. Mereka bertengkar seperti dua ekor kucing saling meninggikan suara, sampai para tetangga berdatangan. Bibinya juga datang. Juga sepupunya. Juga kawan-kawannya. Hanya bapaknya yang tidak datang; memang sudah  lama lelaki itu menghilang entah ke mana.

Di antara kawan-kawannya ada dua orang yang kemudian berlagak seolah-olah mereka reporter televisi. Satu orang pura-pura menyorot dengan kamera –menekuk tangannya dan menjadikan ujung siku sebagai kamera- satu orang lagi pura-pura berbicara sambil mendekatkan tangan kanannya yang menggenggam ke arah mulutnya.

“Sering saya dengar mereka bertengkar. Anaknya itu ndak punya kerjaan…” begitu kata seseorang pada reporter berita yang datang belakangan, ketika mayat orang bunuh diri sudah dibawa-beberapa detik sebelum Ismael meninggalkan kawasan tempat rumah susun itu berdiri. Ismael memikirkan bagaimana cara menangkap burung itu. Kalau berhasil menangkapnya, burung itu bisa dijual untuk melunasi utang pada Marlon, kawan sepermainannya. Ismael melihat meja dan kursi, mengira-ngira apakah kalau semua benda itu disusun, akan cukup menjangkau si burung. Lalu pelan-pelan digesernya meja, suara derit kaki meja di lantai mengiris suara penyiar televisi. Ismael menatap layar kaca dan melihat penyiar televisi seperti menatap padanya. Beberapa detik setelah itu ingatannya meluncur pada tangan pamannya, menabrak pipinya hingga terasa perih. Rasa perih yang sama yang dia bayangkan menimpa orang yang terjun dari rumah susun. Beberapa detik setelah itu, dia lihat burung itu terbang dan tanpa sengaja meluncur ke pintu, menemukan jalan keluar.

Ismael termangu. Sampai dengan hari yang sudah ditentukan dia belum bisa melunasi utang. Mainan Tamagochi milik Marlon tanpa sengaja jatuh ke dalam sumur tak terpakai ketika dia meminjamnya. Itu gara-gara sepupunya sibuk memintanya membantu mengikat rambut. Marlon menangis melihat mainannya lenyap di dalam sumur yang gelap itu. Marlon mengaku tidak berani pulang sampai kemudian Ismael berjanji untuk menggantinya. Ismael tak memberitahu ibunya soal peristiwa itu. Begitu juga Marlon. Itu rahasia mereka berdua, tapi sepertinya bukan rahasia bagi sepupu Ismael. Ismael juga tak pernah memberi tahu ibu dan bapaknya kalau dia melihat sendiri orang itu terjun dari lantai teratas rumah susun.

Ketika mendengar seorang tetangga bercerita pada ibunya perihal orang yang bunuh diri itu, Ismael ingin membantah keterangan si tetangga kalau orang itu kemungkinan didorong oleh ibunya sendiri hingga jatuh. Ismael melihat bagaimana orang itu melompat. Dia juga melihat bagaimana perempuan tua itu meraung-raung menangisi kematian anaknya. Karena itu dia juga meragukan keterangan si tetangga kalau orang yang bunuh diri itu baru saja pulang dari Afghanistan. Namun beberapa detik setelah mendengar keterangan si tetangga, ingatannya meluncur dan memancar kembali sebagai lintasan-lintasan berita perang di televisi yang tak pernah bosan mengabarkan jumlah orang yang mati.

Ismael tak jadi mengejar burung itu, sebagaimana dia tak jadi membantah tetangganya. Meski beberapa detik sebelumnya timbul suatu tekad dalam dirinya untuk tak membiarkan kesempatan membayar utang lenyap begitu saja. Ismael menjelaskan semuanya pada Marlon, namun kawannya itu seperti cuma punya satu tujuan ketika di hari yang sudah ditentukan mereka kembali bertemu di belakang rumah kosong itu; Marlon hanya ingin mendapatkan mainan tamagochinya kembali. Roman muka Marlon langsung murung setelah Ismael mengatakan kalau dia tak bisa mengganti mainan itu. Marlon bahkan mulai sesenggukan, mengusap-usap mukanya dengan kaus yang dipakainya. Beberapa detik kemudian ingatan Ismael meloncat lantas meluncur balik menampar pipinya hingga terasa perih. Dia bayangkan rasa perih yang sama di pipi kawannya itu saat satu telapak tangan yang lebih besar dari pipi itu sendiri mendarat.

Saat itu, sepupunya muncul dari tepi jalan, berlari-lari kecil. Anak itu terlongo melihat Ismael. Segera Ismael menyuruh sepupunya itu pulang. Ismael takut pamannya akan mengira dialah yang mengajak bocah itu ke belakang rumah tua tempat sebuah sumur tak terpakai dihuni hantu yang gemar menangkap dan menyembunyikan anak-anak.

Tetangganya lantas melanjutkan cerita. Dia bilang orang yang bunuh diri itu sudah berubah jadi hantu. Tetangganya itu mendengar cerita dari tetangga si perempuan tua yang ditinggal mati anaknya itu, bahwa beberapa malam setelah orang itu bunuh diri, seorang tetangga lain menjerit ketakutan. Setelah para tetangga menenangkannya, orang itu bercerita bahwa dia melihat hantu keluar dari televisi. Wujud hantu itu mirip orang yang bunuh diri, tubuhnya remuk dan berkelejatan, melangkah menghampirinya. Mulut hantu itu kian lama kian lebar, seperti sebuah lubang yang hendak menelannya. Di hari yang lain, kata tetangga itu lagi, yang mendengar cerita dari tetangga lain, orang bunuh diri itu berubah jadi burung. Berputar-putar di sekitar rumah susun dan kerap tiba-tiba masuk mengganggu salah satu penghuni.

Ismael tak percaya pada cerita itu, jadi ketika seekor burung masuk ke rumahnya dan di televisi dia melihat peluru-peluru kendali diluncurkan, ingatannya meluncur pada tubuh orang bunuh diri yang meluncur dari lantai teratas rumah susun, dan bukan pada cerita orang bunuh diri yang berubah jadi hantu. Di rumah kosong itu, Ismael juga tak pernah melihat hantu, apalagi saat itu, saat di hadapannya berdiri dua orang anak; Marlon dan sepupunya.

Apa yang dia lihat adalah dua roman muka yang berubah dari sedih menjadi marah. Tatapan yang menajam dan seperti meluncurkan peluru-peluru kendali ke arahnya. Sepupunya itu berteriak, berkata kalau dia jahat. Marlon juga berteriak, berkata kalau dia jahat. Seruan yang sama dengan seruan ibunya pada pamannya, dan seruan pamannya pada ibunya, ketika mereka bertengkar setelah peristiwa penamparan itu.

Sepupunya yang bertubuh kecil itu lantas meluncur bagai seekor burung ke arahnya. Ismael tak bisa menduga apa yang akan dilakukan bocah itu. Mungkin dia akan menangis sambil memeluk Ismael sebagaimana sering dilakukannya. Mungkin dia akan menunjuk-nunjuk muka Ismael sembari marah sebagaimana yang dilakukan ayahnya pada bibinya. Beberapa detik sebelum mencapai tubuh Ismael, kaki sepupunya tersandung. Tubuh bocah itu oleng, terjengkang ke depan, menabrak tubuh Ismael hingga dia kehilangan keseimbangan. Ismael berusaha berpegangan, tapi tak ada apa-apa di depannya. Sementara di belakang, lubang sumur tak terpakai itu menganga seperti mulut hantu. Tanpa bisa dicegah lagi Ismael terjatuh ke lubang itu.***

Mataram, 23 Mei 2021


Kiki Sulistyo,meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.

Cerpen

Ketakutan Memandang Kepala

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Bangkrut sudah perusahaan Jendra. Habis kekayaannya. Tak tersisa. Tagihan utang mengalir. Kadang penagih begitu keras, kasar dan memaksa. Bahkan seorang penagih utang, kekar bertato, begitu kalap. Menghantam kepala Jendra. Seketika Jendra tergeletak. Tak terhindarkan kepalanya membentur lantai. Keras. Jendra tak sadarkan diri.

Sehari semalam lamanya Jendra pingsan. Tergeletak di rumahnya yang kosong. Istri dan kedua anaknya sudah lebih dulu kembali ke rumah mertua. Rumah megah yang ditempatinya itu pun disita bank. Jendra sudah tak memiliki semua hartanya. Tinggal dirinya sendiri, kebangkrutan, dan kepalanya yang memar nyeri.

Sungguh kaget Jendra. Dia melihat kepala keledai terpantul pada cermin itu. Lama Jendra terdiam, merenung, terheran-heran. Mestinya yang terpantul pada cermin itu kepalanya sendiri, bukan kepala keledai. Tangan Jendra mengepal. Menghantam cermin. Seketika cermin retak.

Masih saja yang terpantul dalam cermin retak itu kepala keledai. Jendra meraba-raba kepalanya. Masih seperti bentuk sediakala. Tapi kenapa yang dipandanginya dalam cermin, bukan kepala manusia?

“Kepala keparat!” kutuk Jendra. Dia sangsi, mungkin bukan kepalanya yang berubah bentuk. Tapi matanya yang tak dapat dipercaya. Toh dia merasa malu meninggalkan rumah pada siang hari. Takut bila mata orang juga salah memandang kepalanya sebagai kepala keledai.

Tak mungkin Jendra tinggal di rumah megahnya untuk beberapa hari. Rumah itu sudah disita bank, dan dia mesti segera pergi. Belum dimengerti, ke mana ia mesti pergi. Dia belum memiliki tempat tinggal baru.

Berlindung dalam gelap malam, Jendra meninggalkan rumah. Tanpa tujuan. Tanpa harapan. Terbersit keinginannya untuk mendatangi rumah bekas tukang kebun kantornya. Jendra bimbang. Betapa jauh perjalanan menuju rumah bekas tukang kebun itu. Asal mengayunkan langkah, Jendra meninggalkan rumah. Tanpa bekal, tanpa uang. Lewat rumah mertuanya, laki-laki itu sempat termangu. Istri dan kedua anaknya tinggal di rumah mewah itu. Dipandanginya seluruh jendela dan pintu yang tertutup, serta kelebukan malam yang menyelimutinya. Harga diri Jendra menahan langkahnya untuk memasuki pelataran rumah mertuanya. Dia bisa memohon maaf pada mertua dan minta perlindungan.

Teringat Jendra akan sepasang mata bapak mertuanya yang sinis, merendahkan, di saat menjelang perusahaannya bangkrut. Mata itu menindas. Jendra tak ingin menyelamatkan diri. Dia menanggung semua malapetaka sendirian.

Lama Jendra berdiri macam tonggak terpancang di tepi jalan depan rumah mertuanya. Ada yang membuatnya lebih malu lagi: mungkin mertua, istri dan kedua anaknya tak mengenali dirinya, lantaran mereka memandangnya berkepala keledai. Ia benar-benar gundah, belum bisa menerima pandangan matanya sendiri.

Kini berkembang rasa cemasnya menjadi rasa malu yang menikam. Ia malu dilihat orang. Kepercayaannya pada diri sendiri sudah hancur. Tak mungkin ia menampakkan diri sebagai manusia berkepala keledai, menjadi tontonan, dan takut diikuti orang-orang. Ia pernah mendengar dongeng tokoh manusia berkepala sapi dan manusia berkepala kerbau yang sakti, melawan dewa-dewa. Tapi manusia berkepala sapi dan manusia berkepala kerbau itu dihancurkan kepalanya, dengan jalan dibenturkan, hingga pecah—darah dan otak berhamburan. Yang membunuh pun manusia yang terkutuk menjadi seekor kera, lantaran kesalahan masa lalu.

Jendra pun merasakan keserakahan, dosa, dan ketamakan di masa lalu. Kini dia melihat kepalanya sendiri dengan keinginan memancungnya. Menjadi manusia berkepala keledai, sungguh memalukan. Sama sekali tak ada kewibawaan, kegarangan, dan kebanggaan.

Dalam gelap malam Jendra bergegas meninggalkan kota. Ia memutuskan untuk tinggal di desa yang sunyi di lereng gunung, menyepi, atau bahkan—kalau mungkin—bertapa.

Berhari-hari Jendra berjalan, menahan lapar juga haus. Dia takut bertemu manusia, dan tak bisa membaur dengan binatang. Bila rasa lapar datang, dia masih membayangkan nasi, dan bukan rumput, yang harus dimakan. Jendra cuma minum, meneguk air yang mengalir di sungai-sungai. Dalam pantulan air, bayangan kepalanya masih saja kepala keledai.

Ada ketakutan pada diri Jendra untuk meraba kepalanya sendiri. Takut bila kepalanya benar-benar kepala keledai. Berhari-hari bersembunyi agar tak bertemu manusia, membangkitkan kerinduan hati Jendra untuk bisa tersenyum, bertegur sapa, dan mengadukan suasana hatinya pada orang lain. Ia dicekam keinginan berbincang-bincang. Begitu sadar yang tertangkap pada cermin, kepalanya membentuk bayangan kepala keledai, Jendra berhenti berbincang-bincang. Ngeri rasanya mendengar suara seekor keledai dari mulutnya sendiri.

***

Di lereng sebuah gunung, pagi berkabut, Jendra menemukan desa bekas tukang kebunnya. Dia tak tahu persis letak rumah si tukang kebun. Lagi pula, kakinya sudah sangat letih. Tubuhnya gemetar, lapar, lemas, tanpa daya. Tergeletak.

Ketika siuman, Jendra melihat bekas tukang kebunnya tersenyum. Di sisi bekas tukang kebun itu seorang lelaki tua berjenggot putih.

“Kau berada di rumah guru saya,” kata bekas tukang kebun.

“Apa kepala saya jadi kepala keledai?”

“Yang berubah bukan kepalamu. Tapi pandanganmu,” balas guru berjenggot putih, meyakinkan.

“Apa pandangan saya bisa normal?”

“Butuh waktu, Nak,” sahut guru berjenggot putih. “Kau tinggal di lereng gunung ini beberapa waktu, menyepi. Tenteramkan dirimu. Kalau kau sudah melihat kepala sendiri seperti sediakala, boleh turun gunung.”

“Berapa lama, Guru?”

“Jangan pikirkan berapa lama tinggal di sini. Jalani saja!”

Saat Jendra bisa melihat kepalanya bukan lagi kepala keledai, ia sudah sangat kerasan tinggal di rumah guru berjenggot putih. Tak terhitung matahari muncul dan tenggelam, Jendra selalu mengikuti guru berjenggot putih menyepi di goa, di lereng gunung, menenteramkan hati. Dia telah akrab dengan hutan, kicau burung, desis ular, aroma kemarau yang menyengat, dan dingin kabut malam. Dia telah menjadi bagian kehidupan guru berjenggot putih dan bekas tukang kebun yang kembali bertani.

Telah terbiasa bagi Jendra mencangkul ladang sampai telapak tangannya lecet berdarah, tubuh bercucuran keringat. Tubuhnya yang semula gendut, kini ramping berotot. Wajahnya sejuk, menampakkan ketenteraman.

“Sudah saatnya kau meninggalkan lereng gunung ini, Nak,” kata guru berjenggot putih.

“Apa guru tak mau ketempatan saya lagi?”

“Bukan begitu, Nak. Bukan di sini tempatmu. Kembalilah ke kota.”

“Saya ingin tinggal di sini bersama guru.”

“Apa kau tak ingin melindungi istri?”

“Tidak.”

“Apa kau tak ingin melindungi anak-anak?”

Tak bisa menjawab, Jendra memandangi tatapan guru berjenggot putih. Kebimbangan hati Jendra makin menggoncang.            

“Anak-anakmu terlantar, butuh pertolongan.”

Memasuki kota, Jendra merasa bagai binatang purba yang tersesat, asing dan aneh. Tak seorang pun mengenalinya. Yang mula-mula dilakukannya, kembali bergulat dengan kehidupan kota, kebisingan dan kerakusannya. Tanpa tempat tinggal, kehilangan keluarga, kehilangan kekayaan dan bawahan, Jendra mencari kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan dan rumah kontrak.

Terbiasa mencangkul, bekerja pada terik matahari, Jendra menerima pekerjaan sebagai tukang kebun dan pesuruh. Tak terpikirkan, ini pekerjaan yang hina tak bermartabat. Sudah tak dihiraukannya lagi cemoohan orang.

Malam turun, Jendra berjalan meninggalkan kamarnya yang pengap di sudut kota. Berjalan menyusuri trotoar, sampailah ia di depan rumah mertuanya. Berdiri termangu di depan pagar besi, memandang ke dalam rumah. Malam larut, Jendra belum menemukan tanda-tanda kebenaran pesan guru berjenggot putih bahwa anak-anaknya terlantar.

Menjelang pagi, ketika angin mengembuskan embun, Jendra terperanjat. Sebuah mobil yang ditumpangi seorang bos dan istri Jendra, memasuki halaman rumah mertuanya. Jendra berlindung di balik rimbunan pohon asam.

Kedua orang itu turun dari mobil, tertawa-tawa, berangkulan. Jendra terkesiap melihat keduanya bermesraan. Aneh, selama beberapa detik, Jendra melihat keduanya berkepala kucing. Tak tahu malu, mereka persis kucing bercumbu. Tersipu-sipu sendiri, Jendra makin memasuki kegelapan naungan pohon asam. Ia terbiasa menahan diri untuk tak murka. Didengarnya suara kucing-kucing mengeong dan dua bocah—anak Jendra, lelaki yang sulung dan perempuan yang bungsu—tertawa tertahan di ambang jendela kamar.

Ditonton dua anaknya yang bersembunyi di balik tirai, istri Jendra bukannya surut, malah marah.

“Apa yang kaulihat!” hardik istri Jendra.

“Kuciiing!” seru dua anak itu.

Terperanjat, Jendra mendengar kedua anaknya menirukan suara-suara kucing, gaduh, bersahut-sahutan. Apa mereka—anak-anak itu—juga memandang ibunya berkepala kucing?

Malam berikutnya, Jendra kembali lagi berlindung dalam kegelapan pohon asam, menanti istrinya pulang. Turun dari mobil bersama seorang lelaki, tampak mereka berkepala anjing. Lagi-lagi dua anak Jendra menyalak-nyalak garang. Merinding ketakutan Jendra, setelah memandangi kenekatan istrinya bercumbu, dan keliaran anak-anaknya.

Dalam pandangan Jendra, tiap malam kepala istrinya berubah-ubah. Ia tak ingin mendekat, hanya memandangi istrinya bercumbu dengan laki-laki lain. Di kejauhan ia menanti suara anak-anaknya yang menirukan suara binatang. Kadang didengarnya suara serigala, kadang suara macan, kadang suara gajah.

Ketika istri Jendra pulang bersama seorang lelaki lain, tak ada suara apa pun yang terlontar dari mulut anak-anaknya di ambang jendela kamar. Dia merasa curiga. Diam-diam dia mendekati pohon asam, mengintip ke pelataran rumah. Tampak istrinya dan lelaki itu berkepala badak. Barangkali anak-anak tak bisa menirukan suara badak. Mereka membungkam. Ketakutan. Ngeri. Anak perempuan Jendra menjerit-jerit. Histeris. Anak lelakinya marah dan memberontak.

“Apa yang kamu lakukan? Pergi sana! Pergiii!” usir istri Jendra.   

Naluri Jendra mengusiknya untuk menenteramkan anak-anaknya. Dia menghambur ke pelataran, mengejutkan istrinya dan lelaki itu. Anak-anak memburu Jendra. Terutama anak perempuannya, memeluk, meminta gendong. Anak lelakinya dituntun. Mereka meninggalkan dua manusia yang tampak berkepala badak, sedang mabuk cumbu.**

Pandana Merdeka, Mei 2021


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Cara Berdoa

Cerpen Fahrul Rozi

Aku terbangun dari tidur panjang dan mendapatkan diriku ada di atas batu besar. Aku melihat di sekitarku ada banyak pohon yang melindungi batu ini. Karena penasaran aku segera turun, dan, batu ini amat besar melebihi perkiraanku. Saking besar dan tingginya aku tidak merasakan sakit ketika mendarat. Ini sangat aneh. Mungkin karena sudah lama disakiti tubuhku menjadi kebal terhadap sesuatu. Aku berjalan sebentar di sekitar batu besar dan pohon-pohon rimbun. Sebuah rumah kayu berdiri di antara pohon-pohon. Aku mencoba mengingat sesuatu, perihal rumah, mengapa aku di atas batu besar, dan di mana ini. Ingatan itu datang serupa bom, kepalaku seolah meledak dan tidak ada yang tersisa kecuali kepingan ingatan. Aku tersadar bahwa aku terlempar jauh dari tempa asalku. Jin cilik sepertiku gampang sekali ditendang. Aku pikir saat itu—mungkin 50 tahun lalu—aku akan mati ketika dipukul habis-habisan oleh mereka. Tapi aku masih hidup. Aku tidak tahu apa yang direncanakan Tuhan padaku, aku juga tidak peduli dengan hidup ini.

Sebelum ditendang mereka aku pernah berteman dengan manusia bernama Iran, gadis yang baik dan selalu menerimaku apa adanya. Aku ingat sekali dengan kata-katanya, “kamu itu jin yang lucu,” bukannya aku menyangkalnya tetapi ucapan Iran membuatku tidak ingin pergi meninggalkannya.

“Jika suatu hari kamu tersesat dan tidak tahu jalan pulang, ketahuilah bahwa di atas sana ada Tuhan yang selalu melihatmu. Mintalah pada-Nya petunjuk jalan, niscaya Tuhan akan menunjukkan jalan padamu.”

Aku tahu kali ini aku sedang tersesat dan tidak menemukan jalan pulang, tapi aku bukan manusia yang selalu berdoa. Aku jin kecil yang tidak tahu cara berkomunikasi dengan Tuhan, bahkan berdoa saja tidak tahu. Memang aku pernah melihat manusia mengangkat tangan beramai-ramai setelah salat, tetapi apakah itu disebut doa?

Aku harus mencari cara agar tahu caranya berdoa. Bagaimanapun aku harus keluar dari hutan ini. Walau pun aku suka dengan batu besar ini, tapi aku tidak bisa terus-terusan tinggal di sini.

Sebelum aku beranjak pergi, aku mendengar kasak-kusuk dari balik semak-semak. Suara tapak kaki manusia, aku hafal betul. Aku duduk di atas batu, dan keluarlah perempuan setengah telanjang membawa daging ayam yang baru saja dipanggang. Ia letakkan ayam dan segentong air di depan batu, lalu ia mendekap telapak tangan dan menaruhnya di depan dada. Aku tidak pernah melihat manusia berlaku seperti ini. Aku tetap duduk dan memperhatikannya. Tidak lama seorang laki-laki—yang juga setengah telanjang—datang dan menaruh dupa di samping makanan. Aku semakin asik melihat mereka. Mata mereka terpejam dan mulutnya merapal entah apa, mungkin doa, mungkin juga mantra. Aku semakin tertarik dan tetap duduk sampai mereka pergi. Sebelum pergi mereka sempat cekcok karena hal sepele.

Aku mengingat apa yang pernah kulihat sebelumnya, seperti melihat manusia memakai pakaian rapi dan pergi ke masjid. Mereka berlutut, bersujud, dan macam-macam lagi. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tetapi nyatanya mereka tidak bisa diganggu. Sebab waktu aku menghampiri mereka dan menggoda salah manusia di barisan depan, mereka tetap melakukan gerakan itu sampai selesai. Mungkin itu bisa dibilang “berdoa”, seperti dua manusia barusan.

“Kenapa aku bisa melihatmu? Karena Tuhan membuka indera keenamku. Aku sudah biasa melihat makhluk sejenismu, tetapi dari sekian jin, cuman kamu jin yang lucu. Hahah.”

Humor Iran sangat kering. Aku memaksakan tawa agar ia tidak tersinggung. Aku sering mendengar humor Iran. Tidak ada satu pun humornya yang membuatku ngakak, tapi ia sangat suka ketawa. Ia selalu ceria dan tidak pernah memikirkan masalah yang sedang ia hadapi.

Satu hari di musim panas aku menemuinya. Ia sedang mengangkat kedua tangan dan membaca beberapa lafal doa, mungkin. Setelah selesai ia menoleh ke belakang. Ia tahu saja kehadiranku. Aku segera mendekatinya dan bertanya apa yang tadi ia lakukan, walau sudah sering melihat ia melakukan itu, tapi aku enggan bertanya. Ia kemudian menaruh tangannya di atas kepalaku dan berkata di dekat telinga.

“Berdoa,”

“Apa itu berdoa? Apakah itu mendapatkan makanan?”

“Bukan, teman. Berdoa seperti kita sedang mengobrol. Tapi kau perlu tahu bahwa berdoa bukan sembarang mengobrol. Berdoa wujud kita mengobrol pada Tuhan. Kau bisa berdoa dengan caramu.”

Sayangnya, aku tidak pernah diajarkan berdoa oleh orang tuaku di dunia jin. Aku bahkan tidak pernah mendengar mereka berdoa. Aku tidak tahu apakah aku boleh berdoa pada Tuhan atau mungkin sudah lambat untukku berdoa.

Apapun alasannya aku harus menemukan cara berdoa untukku. Segera mungkin aku pergi dari batu besar dan mencari manusia, jin, dan makhluk Tuhan yang lain.

Tidak jauh dari rumah kayu aku menemukan pohon meranti yang amat besar nan tinggi. Aku duduk di atas akar yang menonjol dari tanah. Selama beberapa detik angin bertiup dari arah selatan, menyebabkan bunyi gesekan ranting dan bunyi hewan kecil yang tinggal di pohon besar ini. Aku merasakan getaran pelan di akar yang kududuki. Mungkin ini adalah cara pohon meranti berdoa. Tidak salah lagi. Aku bisa merasakan getaran yang berbeda setiap satu menit, angin yang bertiup, bunyi hewan, ini seperti ratusan doa dari banyak makhluk yang hidup di hutan ini lalu bersatu di pohon meranti. Aku bisa merasakan hal itu, karena aku dapat melihat energi doa terpancar dari batang pohon meranti makin panjang dan membubung tinggi ke langit. Tiba-tiba langit tersibak seolah menyambut energi doa tersebut agar masuk. Aku memperhatikan awan seolah berhenti  dan burung yang terbang terdiam di langit.

Aku sadar telah menemukan sesuatu yang harus kubawa pulang. Pulang ke batu besar. Aku meninggalkan pohon meranti besar. Sebentar lagi aku akan berdoa pada Tuhan.

Di atas batu besar aku duduk menyilangkan kaki lalu mengikuti apa yang dilakukan Iran kemudian berdoa: Wahai Yang Maha Dengar aku berdoa untuk pertama kalinya, aku berdoa karena aku baru mengetahui cara berdoa, aku berdoa karena meminta petunjuk jalan pulang. Wahai Yang Maha Dengar, aku berdosa, sudah sepantasnya aku dihukum, jika hukumanmu adalah pengasinganku di sini, maka aku terima. Tapi aku pun tahu Kau adalah dzat yang Maha Pengampun, maka izinkanlah aku bertemu kembali dengan Iran. Ia manusia yang sangat baik dan selalu menyembunyikan masalah dariku. Aku ingin bersamanya…

Sebelum menyelesaikan doa aku membayangkan Iran di kamarnya. Tapi aku lupa dengan wajah Iran. Lalu aku melanjutkan doa. Langit gelap, tapi doaku terus berlanjut sampai pagi, sampai malam lagi. Aku tidak tahu sudah berapa hari aku berdoa. Kemudian sadar, aku tidak tahu cara mengakhiri doa.**

Jakasampurna, 06-04-2020


Fahrul Rozi, lahir di Bekasi. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Tukang cuci piring di PPM Hasyim Asya’ari.

Cerpen

14.400 Detik Sebelum Aku Lahir

Cerpen Seto Permada

Gemetar guruh menggetarkan dinding-dinding rahim yang menjagaku. Kudengar tetes hujan dari kecil-kecil hingga sebesar jempol. Beberapa detik sebelumnya, aku tidur pulas, bermimpi singgah ke negeri peri. Gadis-gadis berkemban dan bersayap putih menawariku segelas susu ekstra madu yang diambil dari sungai panjang nan lebar. Tawaran itu pun kuterima. Namun, saat kucoba menggapai gagang gelas, tangan mereka menjauh, menjauh, hingga kecil-kecil seperti kuman.

Itu suara Ibu. Suaranya mengaduh. Kedua tangannya mengetukku dari luar. Refleks, kedua tanganku pun meraba-raba dinding gelap ini. Ada apa, Bu? Ia bercerita siang tadi ke warung Mpok Jamilah. Di sana ada Pak Tob. Orang itu meledek, “Apakah kau mau melahirkan anak perempuan lagi, Marni, yang kelima kalinya? Tidak bosan?”

Di sela keluhan Ibu, kutangkap nadanya yang ingin aku lahir sebagai anak laki-laki. Kedua tangannya mengelusku dari luar. Rata. Tak ada benjolan kuat yang mengerucut. Pertanda kelak aku menjadi anak perempuan. Apa salahnya menjadi anak perempuan, Bu? Kakak-kakak perempuanku di luar sana pasti sudah banyak membantu; masak, mencuci, atau bahkan ikut mencari nafkah. Ya, kan, Bu?

Kini, suara keluh Ibu dibarengi suara jatuhnya hujan yang mengetuk dinding rahim keras-keras. Sering kutanya pada Tuhan, Mengapa tak Kau-sediakan lampu? Namun Dia tak menjawab. Barangkali ruangan khusus ini memang diciptakan agar tetap menjadi rahasia besar sepanjang zaman.

Kuhitung-hitung, sudah 8 jam Ibu tak makan apa-apa. Biasanya tidak selama ini. Selang yang menancap ke perutku tampak kempis. Bahkan saat kupencet hanya berisi udara. Apa Ibu ingin jadi pembunuh menjelang kelahiranku?

Dua jam penuh Ibu merintih dan meraung-raung tak tentu di tengah lebatnya hujan. Setelah itu, suaranya semakin lemah dan lemah hingga sepenuhnya tergantikan oleh hujan. Detak jantung Ibu yang berada di bawah kedua kakiku terdengar melambat. Ruangan ini pun terasa sesak dan pengap. Aku lemas.

***

“Marni! Marni! Kenapa kau tiduran di sini tengah hujan-hujan begini?”

“Ah, kau sudah pulang rupanya. Tiba-tiba tadi aku ingin jalan-jalan.”

“Di rumah anak-anak bagaimana?”

“Mereka tidur.”

“Ayo pulang. Jangan sampai dilihat orang. Apa kata Eyang nanti kalau dia tahu kau tergeletak di lapangan sepak bola.”

“Ya jangan bilang-bilang.”

“Kamu belum makan, ya? Wajahmu pucat. Ayo kita pulang.”

“Sudah, kok. Tadi makan ikan kalengan.”

Maaf tadi aku tidur sebentar. Jarang-jarang ada suara Bapak. Percakapan tadi, meski sepotong, kudengar dengan saksama, bahkan kata per kata. Ia jarang pulang karena kerja di luar kota, kata Ibu suatu waktu. Sama dengan Ibu, sebenarnya aku merindukan Bapak dan suara-suaranya yang besar itu. Di rumah, Eyang mendominasi suara-suara yang beredar. Kadang aku malu sendiri. Apalagi, kata Ibu, rumah kami diapit dua rumah dan berada di tengah-tengah puluhan rumah lainnya.

Sesampai di rumah, Ibu diantar ke kamar mandi oleh Bapak. Suara hujan deras tadi tergantikan oleh guyuran air kulah yang terasa jauh lebih hangat. Seakan-akan, air itu menyirami sekaligus menyelimuti seluruh permukaan tubuhku. Samar-samar, di luar juga terselip dengkuran Eyang. Mengapa harus ada dengkuran seberisik itu?

Saat Ibu menggosok gigi, ubun-ubunku terasa berdenyut. Apa ini? Udara asing bertiup di ujung kepalaku, membelai-belai sebagian rambutku. Serta-merta, Ibu menghentikan acara gosok gigi dan berteriak memanggil-manggil Bapak. Kudengar suara panik dan langkah kaki mendekat. Namun kepalaku terlalu pusing, dadaku berdetak kencang, dan tubuhku lemas. Suara-suara itu semakin mengecil seperti para peri yang beberapa jam lalu meninggalkanku….

***

Saat bangun tidur, kudengar Ibu teriak keras-keras, menggetarkanku, membuat ruangan ini semakin sempit dari detik ke detik. Getaran lain berasal dari bawah punggung Ibu, diiringi suara klakson dan derum mobil.

“Sebentar lagi sampai.”

“Eyang tidak ikut, Mas?”

“Masih tidur tadi. Sayang kalau dibangunin.”

“Syukurlah. Kita mau ke mana?”

“Rumah Sakit Kasih Ibu. Ya kan, Mang?”

“Ya, Bos,” itu suara Mang Kholil, tetangga sebelah.

“Tidak ke rumah sakit umum saja? Katanya gratis, kan?”

“Aduh, KIS kita kan belum jadi.”

***

Setelah beberapa kali tarikan ke kanan dan ke kiri diiringi erangan Ibu, akhirnya mobil yang kami tumpangi diam juga. Bapak membopong Ibu. Sedang Mang Kholil diminta ke resepsionis agar kamar bersalin cepat siap.

Setibanya di kamar, Ibu belum langsung melahirkan. Sesuai arahan suster, Ibu harus menjaga ritme pernapasan dulu. Jangan ada tekanan padaku. Lepas saja seperti bernapas biasa. Suster itu benar. Apabila Ibu mengerang dan menekan dirinya sendiri, rasanya aku teremas-remas. Sedangkan saat Ibu bernapas lepas, ruangan ini menjadi lapang dan perasaanku sangat lega. Mungkin Tuhan ingin aku dan Ibu saling bekerja sama dan saling mengerti.

“Anda suami dari Ibu Marni?”

“Saya, Bu Dokter.”

“Sesuai prosedur kami, suami dari pasien yang hendak melahirkan diharap ke luar ruangan.”

Meski agak ragu karena tak ingin meninggalkan Ibu, terdengar juga jawaban, “Baik, Bu Dokter.”

Suara Bu Dokter sangat mirip dengan Elisa, salah satu peri berkemban dan bersayap putih yang pernah mengajakku berdansa di atas lapisan salju dalam cuaca cerah. Kami berdansa di atas gerakan ikan hiu, anjing laut, penguin, dan udang. Gerakan kaki-kaki kami membentuk cetakan-cetakan indah.

“Ayo, terus ikuti langkahku dan lihat cetakan apa yang kauhasilkan,” kata Elisa memberi aba-aba.

“Bunga!”

“Ya, kelak kau akan jadi gadis tercantik di dunia.”

Aku tersipu.

“Lihat ada lagi.”

“Kucing!”

“Ya, kelak kau akan selalu menyayangi binatang dan melindungi mereka dari orang-orang jahat.”

“Sekarang kita menuju langkah terakhir. Gerakkan tanganmu ke atas dan berjinjit. Lihat cetakan yang kauhasilkan.”

Aku agak bingung karena cetakan terakhir berbentuk kotak persegi panjang, terdapat gambar di tengah-tengahnya, dan ada tulisan-tulisan di atasnya. Cetakan itu berbentuk lembaran-lembaran saat angin musim dingin meniupnya.

“Apa itu, Elisa?”

“Menurutmu?”

Kurasakan Bu Dokter menekan perutku dari luar. Tak lama kemudian, tangannya meraih kepala dan tubuhku. Tangan kasar itu tak sama dengan Elisa. Apakah Bu Dokter adalah Elisa versi jahat?

Selama prosesi melahirkan, Ibu kehilangan suaranya. Tak bisa kubayangkan bagaimana wajahnya sekarang. Pasti sangat kecapaian. Bu, besar nanti, aku akan rajin mencuci, memasak, merawat bunga-bunga, dan jadi gadis terpandai di dunia. Aku pasti bisa membuat Ibu bangga.

“Selamat. Bayi laki-laki Anda lahir dengan selamat,” kata Bu Dokter sebelum membawaku ke ruangan lain.

Ibu tidak menjawab apa-apa. Mungkin karena ia terlalu letih sekaligus terkejut. Saat Bu Dokter keluar membawaku, sebenarnya Bapak sudah tak sabar ingin menimangku. Namun Bu Dokter tetaplah Bu Dokter. Ia menyerahkanku ke salah satu suster dan membawaku ke ruang pencucian sekaligus peristirahatan.

Saat suster itu membilasku dengan air sehangat tubuh ini, aku terus bertanya pada diri sendiri. Benarkah aku seorang laki-laki? Laki-laki macam apakah aku nanti? ***

Purworejo, 22 April 2021


Seto Permada adalah nama pena dari Muhammad Walid Khakim. Ia berdomisili di Purworejo, Jawa Tengah. Beberapa kali karyanya termuat media lokal dan media online.

Cerpen

Seekor Kucing Titipan

Cerpen Ramli Lahaping

Aku tak pernah menduga bahwa kita akan bersama sebagai sepasang kekasih. Aku sama sekali tak punya perasaan spesial kepadamu di awal kebersamaan kita. Aku hanya menganggapmu sebagai teman biasa. Apalagi, dahulu, kau hanyalah teman dekat seorang perempuan yang menarik perhatianku. Sebab itulah, kau cuma kuanggap sebagai perantara untuk mendekatkan diriku kepadanya.

Tetapi jalan buntu kemudian memupuskan harapanku terhadap teman dekatmu itu. Setelah sekian lama aku menyusun rencana dan menjejaki jalan hatiku, ternyata ia malah jatuh ke dalam buaian lelaki lain. Sampai akhirnya, aku mesti berurusan dengan perasaan yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku harus meredam deru perasaan yang selama ini kupendam terhadapnya.

Namun keseringan bersamamu, ternyata membuatku terjerat dalam perasaan yang sulit kujelaskan. Aku merasa menemukan lahan baru untuk benih cintaku yang tak sempat kusemai di hatinya. Dan kurasa, perasaan itu bukanlah bentuk pelarian semata. Pasalnya, aku merasa semakin nyaman saja bersamamu, dan perasaanku kepadanya perlahan-lahan memudar.

Menjadikanmu sebagai kekasih ketika pada awalnya hatiku mengharapkan dirinya, tentu bukanlah perkara yang mudah. Keteguhanku kadang-kadang goyah, sebab aku kerap menyaksikan kehadirannya bersamamu. Apalagi kalian memang mempunyai banyak aktivitas yang sama, baik dalam soal perkuliahan, atau soal kesenangan semata, khususnya perihal pemeliharaan kucing yang sama-sama kalian gandrungi.

Entah bagaimana perasaanmu kalau tahu bahwa engkau hanyalah ketersesatan yang menyelamatkanku, seumpama cinta kedua setelah aku kalah atas cinta pertama. Barangkali kau akan kesal dan meragukan kesungguhan cintaku yang tumbuh secara perlahan dan semakin menguat. Tetapi kau memang tidak akan pernah tahu, sebab aku akan merahasiakan soal itu selamanya, sehingga kau tetap merasa sebagai yang pertama dan utama di dalam hatiku.

Akhirnya, di balik rahasiaku dan ketidaktahuanmu, hubungan kita berjalan baik-baik saja, seolah-olah kebersamaan kita adalah wujud dari rencana harapan kita sedari awal. Kita menjalani hari-hari yang menggembirakan. Kita terus berusaha untuk saling menyenangkan. Segala hal yang menjadi kepentinganmu, akan menjadi kepentinganku juga. Begitu pun sebaliknya.

Sampai akhirnya, empat belas hari yang lalu, kau pun bertandang ke kos-kosanku, sembari membawa seekor kucing kesayanganmu yang berwarna putih dengan bercak-bercak hitam. “Aku ingin pulang ke kampungku. Aku mendapatkan kabar bahwa sepupuku akan menikah. Aku harus hadir,” terangmu kemudian, sembari mengusap-usap peliharaanmu itu.

Kita lantas duduk bersampingan di teras depan kamar indekosku.

“Apa kau akan lama?” tanyaku, sembari berharap kau hanya sebentar.

Kau menggeleng pelan. “Aku akan kembali ke sini secepatnya,” jawabmu, lantas menyerahkan kucing itu kepadaku. “Tolong jaga dia baik-baik,” pintamu, dengan raut wajah yang redup, seperti menyiratkan keengganan untuk berpisah lama-lama dengannya, ataupun denganku.

Aku lalu mengangguk keras. Berusaha meyakinkanmu. “Aku janji, ia akan baik-baik saja bersamaku.”

Kau pun tersenyum singkat. Tampak memercayaiku sepenuhnya.

Aku balas tersenyum.

Lantas dengan sikap tenang, kau kembali mengelus-elus kepala kucing yang telah berada di dalam dekapanku itu. Kau tampak begitu menyayanginya. Hingga akhirnya, kau mengutarakan tafsiranmu atas hakikat keberadaan kucing, “Kau tahu, kucing adalah makluk yang ajaib. Setiap orang yang hatinya penuh dengan cinta, pasti akan cinta pula pada kucing. Karena itulah, kucing bisa menyatukan cinta orang-orang yang saling mencintai,” katamu dengan raut sayu.

Aku tertawa pendek menyaksikan kemanjaanmu.

Dan akhirnya, hari itu juga, sebuah kapal membawamu ke pulau seberang, ke tanah kelahiranmu.

Sebagai kekasih, aku pun berjuang menjaga kucingmu demi hubungan kita. Aku berusaha memastikan bahwa ia baik-baik saja, sampai aku menyerahkannya kembali kepadamu. Aku berupaya memperlakukannya sebagaimana kau memperlakukannya. Karena itu, di dalam kamar indekosku yang sempit, aku menyediakan tempat tidur sesukanya, makanan sepuasnya, dan belaian-belaian yang manja.

Tetapi aku hanya bertahan selama dua hari untuk memperlakukannya sebagai raja. Aku jadi tak sanggup juga menanggung beban atas air kencing dan tahinya yang menyebar sembarangan di dalam kamarku. Sampai akhirnya, aku mulai melepaskannya untuk menjelajah di sekitar lingkungan kos-kosanku, sembari terus memantau dan membatasi pergerakannya agar tidak pergi terlalu jauh.

Namun kekhawatiranku atas keadaan kucingmu di lingkungan luar, perlahan-lahan memudar. Pasalnya, aku menyaksikan bahwa ia telah mengenali kamarku sebagai tempatnya untuk pulang. Setiap saat, setelah ia menjelajah entah ke mana, ia akan kembali ke dalam kamarku dengan sendirinya, tanpa perlu kupanggil dan kubujuk-bujuk lagi.

Pada hari-hari kemudian, aku pun memperlakukan sepatutnya saja, sebagaimana seharusnya memelihara binatang. Aku membebaskannya bermain di dalam kamarku, tetapi juga membiarkannya menjelajah sesuka hati. Aku menyisakan bagian dari makananku untuknya, tetapi juga membiarkannya mencari makanan semaunya sendiri.

Atas kebebasan yang kuberikan, bebanku atas pemeliharaan kucing itu semakin berkurang.Aku tak perlu lagi repot-repot untuk memanjakan kemalasannya, menyediakan makanan pokoknya, atau mengurus kotorannya. Ia telah beradaptasi dengan lingkungan dan bisa mengatasi semua masalahnya sendiri.

Namun pada waktu kemudian, aku mulai mendengar keluhan penghuni rumah di sekitar kos-kosanku atas ulah para kucing. Mereka kesal pada kucing yang kerap menggarong isi meja makan mereka, membuang kotoran secara serampangan di lingkungan mereka, atau berkelahi dengan kucing-kucing peliharaan mereka. Dan setelah kucermati dan kutilik baik-baik, aku pun tahu bahwa kucingmu adalah salah satu kucing paling berandal yang mereka kutuki.

Tetapi sialnya, permasalahan yang harus kutanggung atas tingkah laku kucingmu itu, sepertinya masih akan berkepanjangan. Pasalnya, kau tak juga datang dari kampung halamanmu. Kau bahkan tak menjanjikan rencana waktu kepulanganmu kepadaku. Sampai akhirnya, di tengah ketidakpastian atas kedatanganmu, sejak tujuh hari yang lalu, kau tak lagi menjawab panggilan teleponku, atau sekadar membalas pesanku.

Aku sungguh tak tahu apa yang terjadi padamu. Aku tak bisa memahami kenyataanmu. Awalnya, kukira, kau akan pulang dengan sendirinya, dalam beberapa hari saja, seperti yang engkau janjikan. Atau setidaknya, dalam keberadaanmu yang tanpa kabar itu, kau akan pulang lima hari yang lalu, di hari ulang tahunku, dan memberikan kejutan yang menyenangkan untukku, seperti yang kubayang-bayangkan.

Atas kepergianmu yang entah sampai kapan, aku pun kelimpungan menghadapi perkara kucing kesayanganmu. Hari demi hari, aku terus mendengar kekesalan warga atas kenakalan para kucing. Beberapa di antara mereka bahkan mulai menyebut ciri-ciri dan menuding kucingmu sebagai pelaku kekacauan, sampai aku khawatir kalau-kalau mereka tahu bila akulah yang merumahkan kucingmu itu.

Hingga akhirnya, di tengah kerisauanku, kucingmu pun melakukan tindakan yang sungguh mengkhawatirkan. Sebuah tindakan yang sangat mungkin membuat hubungan baikku dengan para tetangga jadi bermasalah. Pasalnya, tiba-tiba saja,dua hari yang lalu, ia masuk ke dalam kamarku, sembari membawa seekor ikan hias dengan cengkeraman giginya. Seekor ikan yang kutaksir berharga mahal.

Seketika juga, aku jadi kelabakan. Aku dilema, di antara mengurungnya kembali di kamar, atau tetap membebaskannya untuk sekalian menuai buah dari tindakannya sendiri. Tetapi setelah mengingat-ingat janjiku kepadamu, dengan berat hati, aku putuskan mengurungnya kembali, demi menyelamatkannya dari bahaya, sekaligus menghindarkanku dari masalah.

Untuk menyamarkan statusku sebagai wali kucingmu dari pembacaan tetangga, aku senantiasa bersikap ramah kepada mereka. Kuharap, dengan begitu, mereka tidak sampai mencurigaiku, atau setidaknya tidak terlalu membenciku setelah mereka tahu kenyataan yang sesungguhnya. Apalagi, sebagai seorang pendatang yang hadir di lingkungan mereka hanya untuk kepentingan kuliah, aku sungguh tidak ingin dicap buruk.

Sampai akhirnya, kemarin, saat hari sudah sore, aku pun bertamu pada seorang warga yang tinggal seorang diri di rumah pribadinya yang berada di serong kanan depan bangunan indekosku. Aku menghampirinya setelah ia tampak murung saja di halaman depan rumahnya yang kerap menjadi tempat para kucing membuang hajat. Ia seperti masih sangat berkabung sejak kepulangannya dari pulau seberang untuk menghadiri pemakaman wanita yang hendak ia nikahi, setelah wanita itu meninggal akibat kecelakaan kapal tujuh hari yang lalu, sepulang dari kampung halamannya menuju kota ini, sebagaimana informasi yang kudengar dari warga yang lain.

“Aku turut berdukacita atas apa yang telah terjadi,” tuturku, sendu, setelah basa-basi yang singkat, sembari berharap ia lekas berdamai dengan kenyataannya.

“Terima kasih,” balasnya, begitu saja, lantas melayangkan senyuman simpul.

Aku lalu berusaha meramu kata-kata balasan. Aku tak ingin kami duduk bersampingan di dalam suasana yang hening. “Sabar, Kak,” tuturku kemudian, dengan sapaan sebagaimana biasa aku menyapanya.“Semua kejadian, ada hikmah dan tujuannya. Aku yakin, Kakak akan mendapatkan takdir jodoh yang lebih baik.”

Ia pun lekas mendengkus, kemudian menggeleng. “Aku tidak yakin, Dik. Kurasa, dia adalah cinta pertama dan utama bagiku. Aku ragu bisa mendapatkan perempuan sebaik dirinya, apalagi yang lebih baik daripada dirinya.”

Aku lantas menelan ludahku dengan perasaan bersalah kalau-kalau aku telah mengucapkan harapan yang tidak tepat dan tidak menyenangkan baginya. Sampai akhirnya, aku jadi kebingungan meramu kalimat tanggapan selanjutnya.

Tetapi untungnya, ia lekas menimpali, “Kau tahu, dahulu, aku telah berjuang keras untuk menaklukkan hatinya dari lelaki lain. Tetapi setelah aku berhasil, takdir nyawanya malah sampai sebelum aku benar-benar mencintainya dengan cara yang pantas.”

“Sabar, Kak,” tanggapku sekenanya.

Ia balas dengan senyuman singkat, lantas bergeming saja. Ia tampak kembali larut dalam menungannya.

Kami pun saling mendiamkan.

Sampai akhirnya, ia bertutur lagi, “Dan kesedihanku pun semakin bertambah, setelah aku menjumpai bahwa ikan hias yang ia hadiahkan untukku, telah lenyap entah bagaimana.”

Aku tersentak lantas bertanya dengan sikap yang lugu, seolah-olah kenyataan itu tidak akan ada hubungannya dengan kebengalan kucingmu, “Apa yang terjadi dengan ikan hias itu?”

“Entahlah,” katanya, dengan nada lemah. “Setibanya di rumah, aku hanya menemukan stoples akuariumnya pecah berserakan, dan ikan hiasan itu hilang entah ke mana.”

Aku pun terenyuh dengan perasaan bersalah, sebab aku yakin kalau kejadian itu ada hubungannya dengan tindakan kucingmu sehari sebelumnya.

“Aku dengar-dengar dari warga, di lingkungan ini, memang ada kucing pendatang berwarna putih dengan bercak-bercak hitam. Mereka menduga kucing nakal itulah yang memangsa ikan hiasku,” terangnya kemudian.

Seketika, rasa bersalahku berbalut kecemasan dan kekhawatiran. Aku hanya kuasa mengangguk-angguk bodoh dengan perasaan yang kacau.

Sampai akhirnya, setelah basa-basi penutup, aku lantas beranjak ke dalam lingkungan indekosku. Seiring langkah, aku terus menimbang-nimbang perihal tindakan apa yang seharusnya kulakukan terhadap kucing kesayanganmu itu, sebab aku sungguh tak ingin berada di dalam masalah dengan warga.

Tetapi setelah aku berada di depan kamar, aku malah menjumpai bahan pikiran yang baru. Aku melihat lengkungan perak di atas kusen pintu yang entah kapan adanya. Dan akhirnya aku tahu bahwa benda itu adalah gelang yang pernah kuhadiahku untukmu, tepat di hari ulang tahunmu. Maka seketika pula, aku pun semakin bertanya-tanya tentang arti kepulanganmu.

Perlahan-lahan, perkiraan-perkiraan pun bermunculan di dalam benakku tanpa kendali. Aku menduga bahwa keberadaan gelang itu ada hubungannya dengan kepulanganmu yang tanpa kabar. Aku menaksir, kau sengaja pulang untuk meninggalkanku begitu saja. Bahkan aku mulai meyakini bahwa kepulanganmu bukanlah untuk menghadiri pernikahan sepupumu, tetapi untuk menghadiri pernikahanmu sendiri.

Akhirnya, atas tafsiran yang berdasar, aku membulatkan tekad mengeluarkan kucing kesayanganmu dari kamarku. Aku sudah muak dan kehabisan cara untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul karenanya. Pada malam hari, aku memasukkannya ke dalam karung, membawa dan membuangnya di gerbang utama jalan, tanpa peduli lagi tentang apa yang akan terjadi kepadanya.

Waktu demi waktu bergulir. Kekalutanku atas keberadaan kucingmu semakin mereda. Aku tak perlu lagi mengkhawatirkan warga akan mengetahui peranku dan menyalahkanku akibat tindakan-tindakannya. Pun, aku tak perlu lagi bersusah payah untuk mengurusnya demi dirimu, sebab engkau telah meninggalkanku tanpa penjelasan apa-apa.

Sampai akhirnya, pagi ini, ketika aku hanya ingin berbaring di kasur dan tak ingin lagi menjalani hari dengan kenyataan yang memilukan atas dirimu, tiba-tiba, aku mendengar ketukan di daun pintu kamar. Dengan perasaan malas, aku bangkit dari pembaringan, mengayun langkah untuk menyelesaikan ganguan itu selekas mungkin, agar aku dapat segera kembali mengkhidmati dan meredakan kegalauanku sendiri.

Dan setelah menyibak daun pintu, tanpa kuduga, aku pun menemukan dirinya, teman baikmu yang pernah kuidam-idamkan, yang seketika menampakkan senyuman yang begitu manis. “Kucingmu,” katanya, sambil menyodorkan kucing putih dengan bercak-bercak hitam itu.

Aku pun menyambut sodorannya dengan penuh keterkejutan dan keheranan.

“Aku menemukannya di depan kos-kosanku,” terangnya, lantas menunduk dengan senyuman simpul.

Aku lantas menyadarkan diri untuk memberi respons, “Terima kasih.”

Ia pun mengangguk pelan, kemudian berbalik dan melangkah pergi.**


Ramli Lahaping, kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Twitter: @ramli_eksepsi

Cerpen

Burung-burung Origami

Cerpen Heru Sang Amurwabumi

Hampir setiap malam ketika menjelang tidur, Umi selalu membuatkan aku burung-burung origami dari lipatan kertas warna-warni. Kemudian aku menerbangkannya ke langit malam di halaman rumah, berharap bahwa burung itu bisa mengepakkan sayap hingga jauh ke atas sana. Aku berhayal bahwa burung-burung origami itu bisa mencapai tempat paling indah yang sering diceritakan Abi. Membawa pesan kepada Tuhan yang kutulis di punggungnya. Berisi doa dan harapan.

Abi memang sering bercerita kepadaku, hampir setiap malam juga, tentang sebuah tempat yang ditumbuhi kembang beraneka warna. Tempat yang jauh lebih indah dari taman-taman yang ada di kotaku. Di sana, peri-peri baik hati bertempat tinggal.

Sebenarnya bukan hanya kepadaku saja. Abi juga sering bercerita tentang indahnya taman yang dia sebut surga itu kepada dua kakak lelakiku: Azzam dan Azwin. Kebetulan tiga anak Abi dan Umi semuanya laki-laki. Akulah yang bungsu.

Suatu malam, pernah aku mengutarakan sebuah pertanyaan ketika Abi sedang menceritakan taman itu untuk kesekian kali.

“Bagaimana caranya kita bisa sampai ke sana, Bi?”

“Jalan ke taman itu sangat jauh dan berliku, Nak.” Umi menyela, coba menjawab pertanyaanku, yang barangkali juga mewakili pertanyaan semua anak-anaknya.

“Nanti, jika tiba saatnya, Abi akan mengajakmu, Umi, dan kakak-kakakmu ke sana, Nak,” timpal Abi.

Kemudian Umi sibuk melipat kertas menjadi burung-burung origami. Kembali aku menuliskan sebuah pesan kepada Tuhan. Tentang impian. Setelahnya, aku berlari ke halaman rumah, menerbangkan burung dari lipatan kertas itu ke langit malam.

***

Abi baru saja keluar dari sebuah ruangan di sudut rumah kami. Ruang yang selama ini dijadikan tempat bersimpuh kepada Tuhan. Setengah jam yang lalu, Abi memimpin kami di sana.

“Anak-anakku, kemarilah.”

Ada yang berbeda dengan suara Abi. Terdengar serak dan berat. Umi menutup bibirnya dengan ujung kain hijab. Aku menangkap ada yang aneh dengan sikap Abi dan Umi.

“Anak-anakku, bersyukurlah. Kita terpilih menjadi pengantin surga. Setelah ini, Abi akan mengantar kalian ke jalan yang selama ini kita cari,” lanjut Abi, “Azzam, tuntunlah adikmu Azwin. Jangan pernah kau biarkan dia jauh darimu sejengkal pun.”

“Iya, Bi.”

“Zulham, kau masih belum tahu apa-apa. Nanti kau menurut saja dengan Umi. Tak lama lagi kau juga akan bertemu dengan taman yang sering Abi ceritakan. Tentang peri-peri baik hati yang katamu ingin kautemui, Nak.”

Wajah Abah mendadak murung. Dari dua sudut matanya, butiran-butiran bening tampak menggenang. Sementara, Umni terisak-isak sambil memeluk dua kakakku: Azzam dan Azwin.

***

Abi menurunkan kami di depan sebuah gedung yang di hari Minggu pagi itu didatangi para pendoa. Mereka berpakaian rapi dan bersih. Barangkali memang seharusnya begitu ketika kita akan berdoa dan memuliakan Tuhan. Abi mengusap rambutku, lalu menciumnya, sebelum dia memacu mobil, meninggalkan aku dan Umi berdua di depan gedung itu. Aneh. Sempat kutemukan ada air mata Abi yang kembali menetes di pipi Abi. Tentu saja membuat aku semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Umi menggenggam erat tangan kiriku. Di tangannya yang lain, tampak sebuah benda mirip kotak mainan kecil dengan hiasan lampu—sejak kami berangkat dari rumah, lampu itu sudah menyala. Aku sedikit berat berjalan. Mungkin penyebabnya adalah mainan pipa besi sebanyak 5 batang yang dililit-lilit dengan kabel, lalu diikatkan dengan rapat di perutku.

Iya, setelah Umi menyuapi aku dengan semangkuk bubur ayam tadi pagi, Abi telah memasang mainan itu di perut dan punggungku.

“Kenapa Umi menangis lagi?”

“Maafkan Umi, Nak.”

Kurasakan genggaman tangan Umi semakin erat.

“Tahanlah, Nak. Sakit ini hanya sebentar. Setelahnya, kita tak akan merasakannya lagi. Kita akan berkumpul di taman penuh kembang warna-warni dan burung-burung origami yang setiap malam kau terbangkan untuk mengirimkan harapanmu.”

Terdengar suara ledakan yang asalnya sangat dekat dengan kami. Begitu keras, hingga gendang telingaku seperti pecah dan berdarah. Oh, ternyata aku memang benar-benar berdarah. Bukan hanya darah, panas yang luar biasa juga terasa sedang membakar sekujur tubuhku.

Hanya sesaat sakit itu kurasakan. Perlahan, ia berubah menjadi rasa dingin dan nyaman. Pandangan mataku seperti dipenuhi ribuan kunang-kunang yang turun dari langit. Kunang-kunang beraneka warna. Lalu, mendadak berubah menjadi burung-burung origami warna-warni. Pancaran warna itu melayang-layang, turun mendekatiku.

Sekejap kemudian, dari atas mega-mega, aku bisa melihat tubuhku sendiri, tubuh Umi yang diam tak bergerak dengan bersimbah darah, juga orang-orang yang sedang berdoa di dalam gedung itu berlarian menyelamatkan diri.

***

Aku tersungkur di sebuah taman yang dipenuhi kembang beraneka warna. Entah, taman di kota mana ini? Aku hapal taman-taman yang ada di kotaku. Hampir setiap akhir pekan, Abi dan Umi mengajak anak-anaknya ke sana. Aku yakin, ini bukan taman-taman yang sering kami kunjungi.

Kutebarkan pandangan ke segala arah mata angin. Semua dipenuhi pohon yang kembangnya sedang bermekaran. Sepertinya aku pernah melihat pohon-pohon itu. Tapi di mana?

Oh iya, kini aku mengingatnya. Pohon itu sama dengan pohon yang ada di makam nenek dan kakek. Abi pernah menyebut namanya: kemboja.

Makam? Apakah aku berada di pemakaman? Apakah kini aku sudah mati?

“Zulham …” Terdengar suara memanggil namaku. “Zulham, kemarilah, Nak.”

Aku mencari arah suara. Kembali kutebarkan pandangan ke sekeliling. Nihil. Hingga akhirnya dari balik sebuah pohon kemboja di taman itu, tampak punggung seorang perempuan menggunakan baju panjang berwarna putih. Mirip dengan baju yang biasa dipakai Umi. Perempuan itu berdiri membelakangiku.

“Umi?”

Wanita itu membalikkan badan. Oh, ternyata dia bukan Umiku.

“Aku peri yang tinggal di taman ini, Nak.”

“Di mana Abi, Umi, dan kakak-kakakku?”

“Tenanglah, Nak. Kalian pasti akan berkumpul. Tapi nanti, setelah mereka menyelesaikan perjalanan panjangnya. Perjalanan meniti jembatan penghakiman sebagai manusia yang telah baligh.”

“Kapan?”

“Bisa setahun, dua tahun, bahkan mungkin ribuan tahun. Kelak, kau akan mengetahuinya, Nak.”

“Apakah di tempat ini ada burung-burung origami yang mengirimkan pesanku?”

Perempuan itu menggeleng.

Angin berembus kencang. Gerimis mengundang hujan. Pohon-pohon kemboja bergoyang-goyang, hingga daunnya jatuh berserakan. Mendadak dedaunan itu berubah menjadi burung-burung origami, lepuh oleh hujan yang mengguyur tubuhnya. Mendadak pula aku merindukan Umi. Aku menangis sejadi-jadinya. ***


Heru Sang Amurwabumi, bergiat sastra di Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk. Pernah menjadi anggota redaksi Harian BERNAS. Cerpennya, “Mahapralaya Bubat”, mengantarnya terpilih sebagai penulis emerging Indonesia di Ubud Writers & Readers Festival 2019. Bisa disapa di Facebok Heru Sang Mahadewa.

Cerpen

Estradus Membenci Hujan

Cerpen Erwin Setia

Dua belas hari menjelang ulang tahun ketujuh Estradus, Ayah pergi meninggalkan Estradus dan Ibu. Hari itu hujan turun teramat lebat. Tangis Ibu mengucur deras serupa bendungan jebol, sementara Ayah tak mengacuhkan seruan Ibu yang memanggil-manggil namanya. Ayah membawa sebuah payung kecil berwarna biru tua ke luar rumah. Di sana, di depan pagar seorang perempuan seumuran Ibu menunggu Ayah. Perempuan itu tampak cemas dan terburu-buru. Begitu Ayah tiba di luar pagar, Ayah memayungi perempuan itu agar tak kehujanan. Keduanya melangkah cepat, menaiki sebuah taksi yang sudah dipesan. Seperti tetes pertama hujan hari itu, Ayah dan perempuan itu menghilang dengan cepat. Mereka pergi tanpa meninggalkan jejak kaki atau salam perpisahan.

Sejak hari kelam itu, Estradus membenci hujan. Saban hujan turun, ia akan menghindarinya jauh-jauh seperti orang yang takut tertular virus mematikan. Ia mengatupkan jendela, menutup pintu rapat-rapat, dan menyumpal telinga dengan kedua tangan. Ia tak mau melihat hujan, mendengar suaranya, terciprat percikannya, atau mencium bau tanah selepas hujan. Di lain sisi, mata Ibu semakin berkabut dan ia jarang mengeluarkan kata-kata. Tiap kali menatap mata Ibu yang selalu tampak basah, Estradus langsung memeluk Ibu. Ia tak tahan memandangi matanya lama-lama. Ia tak tega melihat Ibu begitu tersiksa. Ibu memang tak banyak bicara dan bergerak. Namun mata Ibu serupa pendongeng bisu yang melontarkan cerita-cerita sendu. Selain hujan, Estradus juga menghindari mata Ibu. Ia mencintai Ibu, tapi ia tidak berani lagi melihat matanya.

Ibu berhenti berjualan pakaian dan mengantarkan Estradus ke sekolah. Ibu telah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Selepas kepergian Ayah, Ibu seperti sosok yang datang dari masa depan yang selalu mengenang hari-hari silam. Ia tidak lagi memasak, mencuci, dan melakukan aktivitas semacamnya. Ibu cuma diam di atas satu di antara empat kursi yang mengelilingi meja makan. Di seberang kursi tersebut adalah kursi Ayah biasa duduk. Ibu sering berbicara dan mengatakan hal-hal yang indah sendirian. Tak sekali dua kali Estradus mendengar Ibu tertawa-tawa dan menceritakan dengan suara tinggi masa-masa manis saat ia dan Ayah masih berpacaran. Tiap kali tawa panjangnya berhenti, Ibu langsung tercekat, kemudian menangis tiba-tiba. Ibu memukul-mukul meja sambil meneriakkan nama Ayah. Memandangi itu, Estradus hanya bisa menahan tangisnya. Berkali-kali ia meminta Ibu berhenti bertindak seperti itu, alih-alih berhenti, Ibu malah semakin meninggikan suaranya dan semakin keras memukul meja.

Pada ulang tahun kesepuluh, Estradus mendapat hadiah yang tak pernah ia harapkan. Hadiah ulang tahun paling menyedihkan yang ia terima. Setelah dirawat di rumah sakit selama tiga hari akibat pendarahan parah di kepalanya, Ibu meninggal dunia. Estraduslah yang memergoki ketika Ibu membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Kepala Ibu sudah bocor dan lantai memerah saat Estradus memergokinya. Meski kepalanya berdarah-darah, Ibu tetap membentur-benturkan kepalanya dengan keras seakan kepalanya terbuat dari baja. Ia melakukan itu sambil meneriakkan nama Ayah. Estradus meminta bantuan tetangga untuk menolong Ibu. Ibu lekas dibawa ke rumah sakit. Saudara-saudara menjenguk Ibu. Tapi nyawa Ibu tak bisa diselamatkan. Pada hari kematian Ibu, hujan turun begitu lebat. Kebencian Estradus terhadap hujan pun semakin kuat.

Selepas kematian Ibu, Estradus tinggal di rumah Kakek Junus bersama Paman Darius. Paman Darius adalah satu-satunya anak Kakek Junus sekaligus adik Ibu yang belum menikah. Sebelum kehadiran Estradus, Paman Darius hanya tinggal bersama Kakek Junus yang pikun dan gampang menangis. Kakek Junus selalu menangis setiap kali ia sadar bahwa dirinya sudah lupa akan banyak hal. Kakek Junus menangis ketika lupa bahwa Paman Darius adalah anaknya, Estradus adalah cucunya, dan istrinya—Nenek Jasiah—telah meninggal dunia. Paman Darius yang mengaku tak ingin menikah merasa senang dengan keberadaan Estradus. Sebab ia tidak lagi hanya tinggal berdua bersama orang yang gampang menangis dan sulit diajak bicara. Paman Darius jelas mencintai ayahnya—Kakek Junus—tapi ia juga butuh teman serumah yang bisa diajak berinteraksi secara normal.

Estradus juga senang dengan Paman Darius. Paman Darius adalah seorang sarjana—entah jurusan apa, Estradus pernah menanyainya, tapi Paman Darius tak pernah mau menjawabnya. Ia pintar. Ia banyak baca buku dan mengenakan kacamata. Begitulah alasan Estradus menganggap Paman Darius pintar.

Estradus menjalani masa remaja di rumah itu. Beberapa hal berubah—Kakek Junus wafat, Paman Darius melanjutkan sekolah, Estradus mulai jatuh cinta—tapi kebencian Estradus terhadap hujan masih sama. Tiap kali hujan turun, ia berlari ke dalam kamar untuk mengurung diri. Ia tidak akan ke luar kamar sampai hujan benar-benar berhenti. Sampai petrichor tak tercium lagi. Kali pertama mengetahui keanehan Estradus, Paman Darius terheran-heran.

“Paman rasa kau mengidap ombrophobia, Estra. Sejenis ketakutan yang berlebihan kepada hujan.”

“Tidak, Paman. Aku tidak takut kepada hujan atau apa pun. Aku hanya membencinya.”

“Tapi kau tidak bisa terus-menerus menghindar dari hujan, Estra. Di negeri ini, hujan datang begitu sering dan tak bisa dicegah.”

“Biarlah, Paman. Aku tetap tidak mau menemui hujan.”

Pada akhirnya Paman Darius memaklumi keengganan Estradus terhadap hujan. Soal keanehan Estradus membuat Paman Darius teringat teman-temannya dan dirinya sendiri. Ia memiliki teman perempuan yang tidak pernah mau bertatap muka dengan lelaki, teman yang ketakutan setiap melihat jalan raya, cemas setengah mati kalau melihat warna merah, tidak mau berbicara lewat telepon, dan sebagainya. Paman Darius sendiri bertekat tidak pernah mau menikah. Suatu hal yang mulanya dianggap tak lazim oleh orang-orang sekelilingnya. Saat Kakek Junus masih hidup dan belum pikun, ia juga sering mengingatkan Paman Darius untuk cepat menikah. Paman Darius hanya menjawab “iya” sekadar untuk menyenangkan Kakek Junus. Kenyataannya, Paman Darius tak pernah menikah sampai Kakek Junus pikun dan meninggal dunia.

Paman Darius sedang mengetik rancangan tesisnya ketika suatu pagi Estradus yang telah menjadi mahasiswa membawa seorang perempuan ke rumah. Perempuan itu berambut lurus panjang, bermata kecil, dan bertinggi sedagu Estradus. Perempuan itu ceria sekali. Estradus memperkenalkannya sebagai kekasihnya. Paman Darius terlonjak dari tempat duduknya.

“Kau serius, Estra? Rasanya baru kemarin kau lulus SD, sekarang sudah punya kekasih saja.”

“Aku mencintai Helena, Paman. Suatu saat aku pasti akan menikahinya,” kata Estradus. “Kau mau kan nanti menikah denganku, Helena?”

Helena tersipu. Paman Darius menggeleng-geleng dan mencandai Estradus agar menempuh cara hidup seperti dirinya—tidak menikah.

“Helena terlalu cantik dan baik untuk tidak kunikahi, Paman.”

Setelah hari itu, Estradus makin sering membawa Helena ke rumah. Paman Darius yang tengah sibuk dengan tesisnya tidak keberatan dengan kedatangan Helena. Sama seperti Estradus, Helena tipe orang yang enak diajak bicara. Ketiganya bisa membahas apa pun kalau sudah duduk semeja. Meskipun usia Paman Darius berselisih jauh dari sepasang sejoli itu, ia merasa tidak berjarak dengan topik yang keduanya percakapkan. Barangkali karena Paman Darius rajin membaca dan bergaul sehingga ia tak pernah ketinggalan gerbong kereta zaman yang melaju kencang.

 Seiring waktu hubungan Estradus dengan Helena kian dekat. Helena berkali-kali mengajak Estradus main ke rumah, tapi Estradus belum memiliki keberanian untuk itu. Ia mesti mengumpulkan nyali dulu untuk bisa bertemu langsung dengan orang tua Helena. Selain kurang percaya diri, kenangan hitam akan Ayah dan Ibu membuat Estradus tidak sanggup tiap harus berjumpa dengan orang-orang seusia Ayah dan Ibunya. Meskipun Ayah dan Ibu meninggalkannya dengan cara yang berbeda, tapi keduanya menyisakan kesedihan yang sama di hati Estradus.

Sampai suatu hari Estradus memberanikan diri menerima ajakan Helena ke rumahnya. Keduanya telah menetapkan hari itu. Celakanya, tepat hari itu hujan lebat turun. Estradus sudah bersiap-siap ketika hujan turun tiba-tiba. Ia sangat membenci hujan. Ia ingin cepat-cepat mengurung diri di dalam kamar. Namun ia tidak dapat melakukan itu. Helena dan orang tuanya sudah menunggunya. Akhirnya Estradus memilih untuk melawan kebenciannya itu. Setelah sekian lama, ia mau menjumpai hujan.

“Akhirnya waktu ini tiba. Kau memang harus melawan kebencianmu, Estra,” ujar Paman Darius sebelum Estradus berangkat ke rumah Helena dengan mengendarai sepeda motor.

Estadus menerobos hujan. Tiap kali suara hujan tiba di telinganya atau tetes hujan menimpa tubuhnya, Estradus teringat hari saat Ayah pergi dan Ibu mati. Ingatan itu berganti-gantian menyiksanya seperti dua penjahat yang mengeroyoknya di suatu jalan yang sepi.

Estradus tiba di rumah Helena. Di teras, Helena menyambutnya dengan senyum mengembang. Ia lekas mengajak Estradus ke dalam. Sepasang orang tua Helena sudah ada di ruang tamu. Keduanya telah duduk menanti kekasih anak mereka. Begitu Estradus memasuki ruang tamu, Helena memperkenalkan, “Ayah, Mama, ini lelaki yang dari tadi kubicarakan. Ini kekasihku. Namanya Estradus.”

Begitu mendengar ucapan Helena, sepasang orang tua itu terperanjat. Terutama ayah Helena. Matanya mennyipit dan tubuhnya membeku. Sementara itu, leher Estradus menegang. Ia mengenali dua orang di hadapannya. Mereka adalah Ayah yang meninggalkan Etradus bertahun-tahun lampau dan seorang perempuan yang dulu dipayungi Ayah.

Tanpa mengatakan apa-apa kepada Helena, Estradus buru-buru pergi ke luar. Ia memacu sepeda motornya kencang-kencang. Sangat kencang. Hujan masih turun begitu deras. Di tengah jalan, Estradus tak henti-henti mengumpat dalam hati. Sejak hari itu, ia semakin membenci hujan dan Ayah. **

Tambun Selatan, 16 Februari 2020


Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Penulis lepas. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media cetak dan online. Buku perdananya Lelaki Patah Hati yang Menulis Cerita akan terbit dalam waktu dekat. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Mantra Gaib Sanjiwini

Cerpen Nur Khafidhin

/1/ Kematian Sentanu.

Dewa Trimurti yang terdiri dari Siwa, Wisnu, dan Brahma menciptakan dunia menjadi tiga dunia. Mayapada[1], madyapada[2], dan marcapada[3]. Hal itu dilakukan untuk menyeimbangkan alam semesta. Namun, keseimbangan semesta itu hancur tatkala terjadi peperangan antara pihak dewata yang dipimpin oleh Resi Brihaspati dan pihak raksasa yang dipimpin oleh Sukrasarya. Pintu madyapada dan marcapada terbuka. Awalnya pintu itu hanya dapat dilalui seratus makhluk setiap hari, baik dari madyapada atau dari marcapada. Namun, sekarang pintu keduanya terbuka sangat lebar, ribuan makhluk dapat keluar masuk dengan bebas.

Peristiwa itu pun tak menghentikan peperangan. Pihak dewata tak pernah mau menyerah walau selalu kalah melawan para raksasa dalam peperangan yang berkepanjangan sampai berabad-abad. Mereka akan terus bertempur untuk membawa kembali Kacha—putra dari Resi Brihaspati yang disembunyikan pihak raksasa. Namun, tak ada satu pun kemenangan yang dimenangkan oleh pihak dewata karena Sukrasarya memiliki mantra gaib sanjiwini. Mantra tersebut dapat menghidupkan siapa saja yang mati. Alhasil, para raksasa yang mati dihidupkan kembali dengan mudah.

Resi Brihaspati dengan tipu muslihatnya lantas menyuruh Sentanu untuk berguru kepada Sukrasarya. Diam-diam Resi Brihaspati telah menuliskan kutukan di punggung Sentanu. Hal itu dipergunakan untuk berjaga-jaga jika Sentanu berkhianat. Kutukan itu tak hanya berlaku ketika ia hidup, tetapi juga semua keturunannya. Sentanu disuruh tapa brata sampai tujuh tahun. Bertapa yang tak hanya untuk menyucikan jiwanya. Namun, juga untuk memperkuat kutukan tersebut. Tujuh tahun pun berlalu, ia pergi ke istana Wrishaparwa untuk mengutarakan niat berguru kepada Sukrasarya.

“Hamba Sentanu, hamba ke sini atas utusan Resi Brihaspati. Hamba diutus untuk berguru kepada Sukrasarya.” Sentanu bersujud di hadapan Sukrasarya.

Sesuai tradisi yang luhur, seorang guru tak boleh menolak permintaan dari seorang murid yang hendak berguru. Sukrasarya yang seorang arif bijaksana tak bisa menolak siapa pun yang ingin berguru kepadanya walau seorang utusan dari musuh perangnya. Ia berkata, “Aku menghormati Resi Brihaspati. Aku akan menerimamu sebagai muridku.”

Sentanu seorang murid yang patuh dan mempunyai niat yang murni untuk berguru. Ia selalu melakukan perintah dari Sukrasarya. Alhasil, putri Sukrasarya—Dewi Gangga suka kepadanya. Mereka akhirnya menikah. Namun, kabar itu pun tersebar di kalangan raksasa. Mereka takut Sentanu dapat menguasai mantra gaib sanjiwini. Ilmu tersebut menjadi senjata pamungkas dalam setiap peperangan yang dimenangkan pihak raksasa.

Sukrasarya meminta Sentanu mencari rumput guna makanan sapinya. Kesempatan itu dipergunakan Rukmakala yang sebagai pemimpin raksasa untuk membunuh Sentanu. Rukmakala yang ahli membuat strategi pun dengan mudah dapat menjebak Sentanu. Beberapa raksasa mengikutinya secara hati-hati, menyekapnya, dan lantas memutilasi tubuhnya. Sore harinya, Sentanu tak pulang ke rumah Sukrasarya. Ia merasa khawatir karena biasanya ketika sore hari Sentanu akan pulang. Lantas Sukrasarya mengucapkan mantra gaib sanjiwini. Tubuh Sentanu yang telah terpotong-potong mulai bersatu di hadapannya.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

“Rukmakala memimpin raksasa untuk membunuhku dan tubuhku dimutilasi.”

Keesokan harinya, Sukrasarya sedang sibuk dan tak bisa melatih Sentanu. Alhasil, memintanya untuk melakukan bertapa brata seorang diri di mebaong[4]. Namun, Rukmakala dan prajuritnya diam-diam mengikutinya. Mereka melakukan hal yang sama, menyekap tubuh Sentanu lantas memotongnya menjadi dua bagian tepat di tengah-tengah pusarnya. Tubuh bagian atas yang terdiri dari kepala, dua tangan, dan setengah perut di kubur ke gunung. Bagian tubuh bawahnya yang terdiri dari perut, dan kedua kakinya di larung ke laut.

Berhari-hari, Sentanu tak pulang dan Sukrasarya mencarinya ke mebaong. Namun, tak bertemu dengan Sentanu. Sukrasarya mengucapkan mantra gaib sanjiwini. Bola mata Sentanu datang di hadapannya. Ia tak bertanya seperti biasanya, memilih untuk mengambilnya, dan melihat semua kejadian yang ada melalui bola mata Sentanu. Sukrasarya melihat kejadian beringas yang dilakukan para raksasa. Sentanu dipukul oleh ratusan raksasa, tubuhnya tak lagi utuh, bola matanya keluar, dan setelah tak bernyawa tubuhnya dipotong Rukmakala menjadi dua bagian. Namun, Sentanu tak mau melawan karena menghormati Sukrasarya. Ia tak mau menyakiti hati gurunya walau risikonya adalah kematian.

/2/ Impian Dewi Gangga.

Dewabrata terlahir menjadi sosok raksasa dalam wujud yang sempurna, sesuai dengan mantra sanghyang sarasija maya hireng[5]. Raksasayang memiliki wajah galak, mata yang melotot, mempunyai taring, serta mempunyai rambut api. Ia langsung dapat berjalan, berlari mengelilingi ibunya, tetapi matanya melihat percikan darah di baju ibunya—Dewi Gangga. Darah itu memicu naluri raksasadalam tubuhnya untuk menggigit ibunya. Namun, Drupada berusaha menghalaunya, tetapi nasib sial menimpanya. Dewabrata menggigit lehernya sampai putus. Hal itu membuat semua orang yang menunggu Dewi Gangga melahirkan menjadi murka.

Dewi Gangga dengan sisa tenaganya menghunjamkan ngad[6] tepat di leher anaknya. Seketika kekuatan raksasadalam tubuh Dewabrata melemah. Ia memeluk anaknya penuh kasih sayang, berusaha melindungi dari amukan warga, dan berusaha menjelaskan semuanya. Namun, semua sia-sia, tak ada yang mau mendengarnya.

“Bunuh bayi sialan itu!” Durna berusaha mengambil Dewabrata dari pelukan Dewi Gangga.

“Dia telah membunuh pamannya!” kata Kresna dengan penuh luapan emosi.

“Dasar anak sialan! Bunuh dia sekarang!” Kripa marah melihat Drupada tergeletak tak bernyawa.

“Aku akan membunuhnya!” kata Rukmakala yang sejak dulu mempunyai rasa iri terhadap Sentanu.

“Kita bunuh dia sekarang!” ujar semua warga.

Dewi Gangga merasa sedih melihat semua orang ingin membunuh anaknya. Ia pun berkata, “Aku tak akan membunuhnya! Aku akan merawatnya.”

“Kalau kau berniat merawatnya, pergi dari desa ini!” kata Durna penuh emosi. Beberapa warga berusaha untuk mengejar Dewi Gangga. Namun, Durna menghentikannya karena Dewi Gangga telah memenuhi janjinya untuk meninggalkan desa.

Dewi Gangga membawa anaknya ke mebaong. Ia bertapa brata untuk meminta pertolongan kepada Sukrakarya. Dewi Gangga memanggil Sukrakarya sampai beberapa kali. Namun, tak ada jawaban. Alhasil, Dewi Gangga menggigit jari telujuk kanannya, menuliskan mantra di tanah dengan darah yang keluar dari jari telunjuknya, dan melafalkan mantra: Segara minaka dasarku, danu minaka rangi ulunku, ih teka engko buta dengen, tluh tranjana, wani engko lumabu ring sagara danu, wani engko lamubu ring sagara danau, wani engko lumabu ring sagara danu, wani engko ring awak sariranku, tan wani engko lumabu ring sagara danau, tan wani engko ring awak sariranku, teka ngeb, teka ngeb, teka ngeb[7].

Seketika di depannya ada Sukrakarya. Ia bersemadi di ranting pohon dengan kondisi kepala di bawah. Dewi Gangga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sukrakarya perlahan turun dengan santai, berjalan di atas udara, dan mengucapkan mantra pamugpug desti[8]: Ono sang bua raja pati, ring kenetasira alungguh, yan ana leyak bebai ring rajianku, poma sira ngapusana ong sing akarya ala ring aku, poma alihakena saguna penaruhe ono sidi rastu tastastu astu, ono lang bang bang nama suaha. Sukrakarya memetik satu daun dan mengikatnya dengan sehelai rambut untuk dijadikan kalung. Hal itu dipergunakan untuk melemahkan kutukan Resi Brihaspati dalam tubuh Dewabrata.

“Anakku jangan bersedih, tak ada ujian yang melebihi ketabahan hati manusia. Kau pasti dapat mengatasi ujian ini!”

“Kutukan dari Resi Brihaspati telah tertanam dalam anakku.”

“Jika kau dapat menghadapi ujian ini. Kau akan berada di alam yang lebih tinggi dari mayapada, anakku!”

“Selama ini tak ada impian yang aku inginkan. Namun, sebelum mati aku hanya ingin anakku terbebas dari kutukan ini. Tolonglah cucumu!”

Sukrakarya mendekat pada Dewi Gangga dan mencium keningnya. “Setiap orang akan menanggung takdirnya masing-masing.” katanya. “Aku merasa orang yang paling bersalah dalam perang yang berkepanjangan ini.” Tubuh Sukrakarya perlahan mulai menghilang untuk menyucikan diri.

***

Lima belas tahun kemudian, Sentanu datang ke tempat Sukrakarya bertapa dengan tatapan yang muram dan tak bergairah hidup. Menceritakan proses ketika dapat hidup kembali. “Air hujan akan bermuara ke laut. Tubuhku yang telah membusuk dan telah bersatu dengan tanah perlahan mengikuti air hujan. Sedikit demi sedikit semua tubuhku telah bertemu di laut dan menjadi satu. Aku pikir aku sudah mati, tetapi mantra gaib sanjiwini dapat menghidupkan aku kembali.”

“Kau menjadi sengsara karena kesalahanku. Maafkan aku!” Sukrakarya bersujud di kaki Sentanu. Namun, Sentanu mencegahnya.

“Sukrakarya telah menjadi guru yang baik. Maafkan hamba yang sebagai muridmu membuat para raksasa murka.” Sentanu hendak bersujud di kaki Sukrakarya, tetapi dicegah.

Sentanu meminta maaf dan meminta izin pamit. Seiring kepergiannya, matahari yang mulai terbenam bergerak ke arah timur, ribuan makhluk dari madyapada dan marcapada bergerak mengikutinya. Semua korban peperangan antara pihak dewata yang dipimpin oleh Resi Brihaspati dan pihak raksasa yang dipimpin oleh Sukrasarya pun juga melakukan hal yang sama.

Sentanu terbang ke langit, tubuhnya berubah menjadi kereta kematian yang terbuat dari tengkorak. Ribuan makhluk yang mengikutinya satu demi satu masuk ke dalam kereta kematian, perlahan meluncur melewati panorama yang sunyi, dan muram. Sejauh mata memandang hanya terlihat ribuan makhluk dari madyapadadan marcapadadalam hamparan lautan api, terombang-ambing dalam ombak api yang menggulung tinggi, tercipta buih api yang terus bergerak mengikuti angin, dan menciptakan suara deburan ombak yang menyayat jiwa. Angin bergerak dengan cepat dan menciptakan angin topan. Mereka tersapu angin topan sampai menggapai langit, terus berputar-putar, meliuk-liuk, dan terdengar raungan kematian yang menyedihkan. Semua makhluk yang ada di dalam kereta kematian seketika diam mematung, tak ada satu pun yang berani bersuara, dan mereka ketakutan.***

                 Di Ruang Sang Hyang Widhi, 31 Desember 2020 – 6 Februari 2021


Nur Khafidhin, berdomisili di Demak. Alumni PBSI di Universitas Islam Sultan Agung Semarang.


[1] Dunia para dewa-dewi.

[2] Dunia bagi demit, jin, dan makhluk halus.

[3] Dunia yang dihuni oleh manusia, raksasa, dan margasatwa.

[4] Hutan yang mempunyai bentuk seperti leher manusia.

[5] Mantra untuk berubah menjadi raksasa berwajah angker dan galak.

[6] Pisau yang terbuat dari bambu.

[7] Mantra yang terdapat pada lontar wrespati kalpa.

[8] Mantra untuk menghidupkan jimat sebelum dipakai.

Cerpen

Suatu Hari yang Tiada Disangka-Sangka

Cerpen Arafat Nur

Sudah tiga tahun lebih Laila menunggu, tetapi belum ada kabar tentang Khaidir, suaminya. Meskipun tidak terlalu yakin, dia masih berharap suaminya kembali. Cuma itu sisa hidupnya sesudah putranya juga pergi.

Hari-harinya begitu sepi tanpa suaminya dan semakin hampa setelah anak lelakinya yang digerogoti penyakit aneh meninggal dunia setahun lalu. Laila tidak tahu apa jadinya ketika suaminya nanti kembali begitu tahu anaknya telah tiada.

Kekalutan terus menyelimuti perempuan yang sudah lima tahun berumah tangga itu. Kerutan halus di bawah matanya menunjukkan betapa buram kehidupannya. Cuma sepenggal harapan yang menyulut gairahnya dalam menjalani hari-hari sepi di kampung yang terpencil itu.

Ketika senja hari, dia selalu duduk di beranda seraya melemparkan pandangan ke jalan menikung menuju ke jalan utama kampung. Di sana hatinya berdebar-debar, berharap-harap cemas kalau-kalau yang datang itu adalah Khaidir. Suaminya sering muncul di sana ketika senja dengan cangkul di pundaknya.

Benar saja. Ada lelaki yang sedang menuju ke situ. Jantung Laila berdegup kencang antara harap dan ragu. Perasaan itu memang menyiksanya, sekaligus menyenangkan. Menyenangkan karena dia masih bisa berharap suaminya itu pulang.

“Laila, kenapa termenung?!”

Ternyata lelaki itu bukan Khaidir. Perempuan itu tersipu karena ketahuan melamun lagi.

“Oh, Bang Alan rupanya. Dari mana?”

“Baru pulang melaut. Ini kubawakan sedikit ikan untukmu, tapi tak segar lagi.”

“Kapan Bang Alan mulai melaut?” Laila agak terkejut.

“Baru seminggu ini.”

“Abang tak lagi membajak sawah?”

“Payah. Wereng begitu merajalela. Lagi pula sudah terlalu lama hujan tidak turun-turun. Sawah-sawah di lembah sudah kekeringan. Bagaimana padi bisa tumbuh di tanah kerontang yang pecah-pecah?”

Perempuan itu tertegun. Itu pula alasan Khaidir menyingkir dari dusun itu untuk mencari penghidupan lain. Namun, suaminya bukan pergi melaut, melainkan bekerja di Pelabuhan Kota Banda. Jaraknya begitu jauh bagi perempuan semacam Laila. Lagi pula dia belum pernah pergi ke luar kampung selain ke kota kecamatan.

“Ini ikannya,” Alan mengacungkan bungkusan plastik hitam.

“Apa di Kuala, Bang Alan ada dengar-dengar kabar tentang Bang Khaidir?”

“Belum sih. Abang sudah tanya-tanya sama beberapa nelayan, tapi tidak ada yang tahu,” sahutnya.

Wajah perempuan itu berubah muram. 

“Kamu jangan bersedih begitu. Kalau ada umur, pasti Bang Khaidir pulang.”

Laila berusaha tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih. Lelaki yang masih membujang itu pamit. Sepi kembali menghimpit dada perempuan itu.

Sebenarnya, harapan-harapan Laila tidak beralasan. Dunia pun tahu kalau ombak besar tiga tahun lalu itu sudah menenggelamkan sebagian besar Kota Banda dan sejumlah tepi pantai. Dua puluh lima ribu lebih orang meninggal, dan belasan ribu lainnya hilang tanpa jasad dan tanda digulung ombak.

Oh, Laila tak menginginkan ombak itu menelan suaminya. Barangkali saja ketika ombak itu menghantam daratan, Khaidir tidak lagi di sana. Hari itu Minggu, bisa saja suaminya pergi ke tempat lain karena libur kerja. Dia yakin itu meskipun sampai sekarang dia tidak menerima kabar apa-apa.

Tentunya jika Laila tidak memiliki harapan lagi, dia sudah menerima lamaran tuan tanah, Ampon Lah, yang istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Atau Bang Gani berkepala empat yang masih terus membujang. Lagipula tiga tahun baginya belum terlalu lama untuk menunggu suaminya pulang.

“Tapi berapa lama lagi kamu harus menunggu?” tanya Cek Midah, bibinya, yang cemas dengan keadaan Laila.

“Aku tak tahu, Cek. Tapi kalau sudah terima kabar tentang Bang Khaidir, baru nanti bisa aku putuskan….”

***

Rumah yang terletak di pinggang bukit menawarkan hamparan pemandangan indah. Kadang-kadang Laila bisa merasakan bau laut yang dibawa angin menjelang petang. Sedangkan malam, cuma angin gunung yang mengusupkan dinginnya kesunyian. Suara serangga menyelinap sampai ke dalam tidurnya. Tengah malam Laila terbangun, ditemui dirinya terbenam dalam kesepian.

Empat tahun sudah berlalu hidup yang dijalani sendiri. Orang-orang mendesak agar dia segera menikah lagi. Selagi masih muda, masih ada lelaki yang suka. Lagipula tidak mungkin dia terus-terusan sendirian tanpa suami dan anak lagi. Bagaimana hari tuanya nanti? Hidupnya semakin sepi, tanpa seorang pun yang menemaninya.

“Diam-diam Bang Alan juga menyukaimu,” kata Cek Midah.

“Yang betul?” Laila terhenyak.

Alan lelaki sederhana, baik, dan pekerja keras. Dia mau bekerja apa saja demi bertahan hidup. Selama ini dia pula yang menghidupi kedua orang tuanya. Ketika mudah rezeki, Alan tidak sungkan-sungkan membantu Laila. Tidak ada lagi yang memberikan nafkah kepada perempuan itu sejak suaminya pergi. Satu-satunya sumber penghidupannya adalah sepetak kebun kelapa di belakang rumah yang buahnya sudah jarang. Akar-akarnya kekurangan air selama kemarau ini.

Laila teringat Alan, tetangga paling akrab dan paling peduli. Dia yakin, perhatian lelaki itu padanya tulus tanpa pamrih. Semata-mata bantuan yang diberikan Alan itu atas rasa kemanusiaan. Alan pula yang sering menghibur gundah hatinya yang tak berkesudahan.

“Betul,” jawab Cek Midah.

“Dari mana Cek Midah tahu?”

“Dia sendiri yang bilang.”

“Apa katanya?”

“Katanya dia belum ingin kawin, kalau suamimu belum pulang.”

“Apa hubungannya?”

“Ya, kamu pikir sendiri.”

Kening Laila berkerut.

“Dia juga bilang, dia akan kawin kalau kamu sudah kawin lagi.”

Alan memang mempunyai kesamaan dengan Khaidir. Selain rajin, dia juga gigih. Lagipula Alan memiliki rupa tidak jelek, meskipun tidak terlalu tanpan. Sebagaimana wajah lelaki Aceh kebanyakan, begitulah Alan. Dia memiliki rahang kuat sebagaimana jamaknya petani atau nelayan. Kulitnya agak legam, memang, karena sering terbakar matahari.

“Kamu tahu?” tanya Cek Midah. “Itu artinya dia menaruh hati padamu.”

“Hmmm….” pipi Laila merona.

“Jika kamu bersedia, orangtuanya akan datang melamar. Kita bikin saja acara yang sederhana….”

***

Lengkungan ujung janur kuning melambai-lambai di pintu pagar rumah itu. Dua tenda terpasang, menaungi orang-orang yang sibuk menyiapkan dan menyantap hidangan. Tercium aroma masakan kari ayam. Terdengar sentuhan sendok, gelas, dan piring kaca, sesekali orang tertawa.

Mereka tidak menyadari kehadiran seorang lelaki berkaus hitam. Dia menerobos kerumunan orang-orang yang sedang sibuk satu sama lain atau dengan diri mereka sendiri. Di depan pintu rumah, lelaki itu memandang Laila dan Alan sedang bersanding di pelaminan. Keduanya terlihat bahagia tanpa sadar kehadirannya.

“Aku pulang….” ucap lelaki itu.

Seketika ruangan hening. Sangat hening.

Laila berusaha meyakinkan penglihatannya. Tidak lama kemudian dia terpekik menghambur ke tubuh lelaki itu. Sedangkan Alan terpana, tubuhnya terlonjak berdiri. Tubuh pengantin pria itu seperti beku.

“Bang Khaidir!” pengantin perempuan itu bersimpuh di kakinya.

Sesaat saja ruangan pelaminan yang sempit itu sesak oleh orang-orang yang berada di luar. Tidak hanya tamu, para pekerja pun memasakkan tubuhnya melesak dalam kerumunan. Pintu rumah itu seakan ingin terkuak lebih lebar lagi.

Tak ada yang tahu kalau lelaki itu masih hidup dan terdampar oleh gelombang raya di sebuah pulau terpencil selama hampir empat tahun lamanya.***

Aceh, 2016-Ponorogo, 2020


Arafat Nur, dosen Bahasa dan Sastra di STKIP PGRI Ponorogo. Novel Lampuki (Gramedia) meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2011 dan memenangkan sayembara DKJ 2010. Buku kumpulan cerpen terbarunya Serdadu dari Neraka (Diva Pres, 2019).