Berisi puisi tentang akar dari kenyataan hari ini yakni kehidupan budaya, karakter manusia, persepsi, politik, kehidupan agama, gejolak pemuda, urusan negara, cinta, lingkungan.
Puisi-puisi Listio adalah contoh bukti dari sebuah sikap sadar situasi. Membaca puisi-puisi Listio seperti kita sedang diajarkan bagaimana sebaiknya kita menghadapi hidup ini dengan wajar.
Pemilihan judul Tokoh Utama untuk buku puisi ini pun juga telah mengarahkan pada bahasan tersebut. Membaca Tokoh Utama, seperti kita sedang mempelajari tentang materi kepedulian, hingga kita bisa menjadi berarti dalam hidup ini. Dan jika saya boleh mengatakan kesimpulannya ke dalam sebuah pernyataan bahwa sesungguhnya setiap orang akan diberi kesempatan untuk menjadi tokoh utama dalam hidup ini.
Berisi 24 cerpen. Secara garis besar, cerpen-cerpen dalam buku ini berbicara tentang karakter manusia. Sifat hantu ada yang buruk dan baik, pun demikian dengan manusia.
Penulis: Agusanna Ernest, Astrid Wahono, Chan, Dewi Laxmi, Dhianitha, Lily N. D. Madjid, Meivany Azarini, Puput Sekar, Rahma Syukriah Sy, Widyaningsih, Yeni Kartikasari, Yuditeha
Ini bermula ketika hujan turun dari pagi sampai petang hari Jumat. Satu warga melapor melihat sosok misterius dengan mata besar berwarna hijau dan mulut selebar kuali menculik anak gadisnya. Warga yang lain melaporkan melihat dewi bersayap hitam dengan rambut pendek—serupa Milda, anak Pak Diman—telah membawa pergi anak gadisnya dan tidak pernah kembali. Yang lain lagi melaporkan melihat lelaki dengan ekor belang berjalan dengan istrinya di malam hari dan ia tidak pernah pulang ke rumah. Semua laporan itu aku tulis di kolom kasus orang hilang. Tidak diragukan lagi. Aku menulis semua laporan tidak masuk akal itu di atas kertas folio.
Saat pulang ke rumah aku berkata pada diriku sendiri bahwa semua laporan yang aku terima hari ini adalah rekayasa biasa. Mereka hanya iseng datang ke kantor polisi untuk membuat laporan palsu. Tapi itu menyelamatkanku dari kebosanan. Jika mereka tidak datang, sudah pasti aku bakal membusuk di kantor polisi.
Aku berhenti di sebuah kedai dekat stasiun. Memesan kopi. Duduk di bawah langit gelap, aku mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Ketika pelayan menaruh cangkir, aku teringat bahwa besok libur. Aku punya banyak waktu malam ini. Besok aku bisa berkunjung ke rumah adikku atau menghabiskan waktu di luar. Menaiki kereta, transit kemudian berhenti di stasiun selanjutnya. Setelah itu berjalan kaki di trotoar. Membeli roti dan duduk di teras toko. Aku tidak sabar menantikan besok.
Selesai menghabiskan kopi aku keluar kedai. Menyusuri jalan pulang. Malam sudah larut, angkutan umum tidak beroperasi jadi aku berjalan kaki di sepanjang jalan gelap. Di gang sekelompok pemuda membentuk lingkaran. Menyembah sebotol alkohol. Berkelakak.
Rumahku gelap, segelap malam ini. Aku membuka pintu dan menghidupkan satu persatu lampu. Melepaskan semua pakaian, memasukkannya ke dalam bak lantas merebahkan diri di atas ranjang. Aku langsung tertidur. Nyenyak sekali. Aku tidak pernah tidur senyenyak ini dalam hidupku. Aku bermimpi mendengar jeritan perempuan. Ia seperti meminta tolong. Dalam mimpiku, suara itu tiba-tiba lenyap dan berganti suara biola. Aku mendengarkannya dengan saksama. Di mimpiku yang gelap dan hanya gesekan biola yang terdengar, aku bangkit seperti vampir.
Tubuhku tergerak secara naluriah. Berjalan layaknya boneka. Mungkin ini mimpi tapi aku mendengar dengan jelas gesekan biola itu. Aku tidak tahu. Lagi pula membedakan dunia realitas dengan dunia lain merupakan hal yang sulit.
Aku berjalan keluar dari kegelapan. Perempuan dengan kulit kuning sawo tidur di atas bangku. Perempuan itu tidur sangat pulas. Aku tidak tega membangunkannya. Ia tidak terlihat seperti gelandangan yang tinggal di pinggir rel kereta atau gang kecil berbau tengik. Ia memakai gaun hijau dengan rambut hitam sepinggul. Sepatu bot hitam. Mungkin ia jelmaan Nyi Roro Kidul atau semacamnya. Dengan berat hati aku menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ia menggeliat. Matanya terbuka perlahan. Ia berkata sesuatu tapi aku tidak menangkap maksudnya. Setelah ia sadar, aku pergi meninggalkannya. Mimpi yang aneh.
***
Matahari menyembul dari ventilasi kamar. Aroma tanah yang diguyur hujan meruak dari kisi-kisi jendela. Aku bangkit, pergi berjemur di luar rumah. Sebelum menikmati hari libur, aku membersihkan rumah. Pukul 10.21, aku membatalkan niatku karena tiba-tiba hujan mengguyur deras. Memikirkan liburan yang gagal, aku bingung mau melakukan apa. Selama satu jam lebih aku hanya duduk di teras, menyaksikan hujan turun.
Aku kembali ke kamar dan tidur. Hari sudah malam ketika aku bangun. Di luar masih hujan. Pintu rumah diketuk. Pelan. Aku diam. Siapa yang berkunjung di tengah hujan deras begini? Ketukan pintu terulang setelah jeda sejenak. Tetap pelan. Dengan malas aku bangkit dan membukakan pintu. Seorang perempuan, yang sepertinya aku kenal berdiri di depan rumah.
“Akhirnya aku menemukanmu,” lirihnya. Ia melepas jas hujan, menepuk-nepuk pakaiannya. “Aku sudah mencarimu sejak terakhir kita bertemu. Apa aku boleh masuk?”
Dengan ragu-ragu aku memintanya masuk. Ia melihat sekeliling rumah. “Rumah yang bersih,” Aku lupa kapan bertemu dengan perempuan ini. Mungkin sudah bertahun-tahun. Aku mencoba mengingat wajah teman SD, SMP, dan SMA, tapi yang muncul wajah orang hilang.
Perempuan itu duduk di kursi, menciptakan hening. Aku pergi dari keheningan, membuat teh. Usai menyajikan teh aku berdiri tidak jauh darinya. Seperti pengawal putri kerajaan, aku menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya. Hening kembali. Ia menyeruput teh.
“Mengapa kamu tahu rumahku… dan Siapa namamu?” sayangnya pertanyaan-pertanyaan itu tenggelam di tengah hujan lebat, dan namanya tidak aku ketahui. Ia berdiri lantas menarik tanganku keluar.
“Kita mau ke mana?” tanyaku di antara deru hujan.
“Ke tempat teman-teman kita,” katanya dengan suara keras.
Kami berlari di bawah langit hitam. Tangan kami bergandengan seperti kekasih yang melarikan diri dari nasib. Jalanan gelap dan hujan mengguyur tanpa henti. Cahaya berpendar di depan kami. Cahaya yang hangat. Lamat-lamat hujan berhenti. Seorang lelaki berdiri di bawah tiang lampu, berbalut cahaya kuning dia memberi hormat.
“Selamat datang di Big House. Teman-teman sudah menunggu kalian di dalam.”
“Ayo, masuk,” bisik perempuan itu. Kami masuk ke halaman rumah yang luas. Rumah besar berdiri dengan gagah. Bukan. Itu istana. Dua lelaki berpakaian serba hitam berdiri di depan pintu. Mereka membukakan pintu setelah memberi hormat. Aku diam. Yang ada di depanku sekarang bukan mimpi. Ini benar-benar nyata.
Laki-laki dan perempuan berdansa di bawah sinar lampu. Sementara perempuan bergaun merah duduk mantap di depan piano. Jari lentiknya menari di atas tuts, memainkan Ballade milik Chopin. Seorang perempuan bergaun hitam datang menghampiriku. Ia menarik tanganku ke tengah ruang dansa. Kami berdansa. Sepasang kekasih tersenyum ke arahku. Menjelang permainan pianis berakhir langkah kami melambat dan berhenti. Semua bertepuk tangan. Semua tersenyum bahagia. Perempuan yang membawaku bertanya.
“Apakah kamu menikmatinya?”
Aku mengangguk mantap. “Terima kasih telah mengajakku kemari. Terima kasih banyak,”
“Jika berkenan, tinggalah di sini bersama kami,”
“Terima kasih, tapi aku ada kerjaan besok. Maaf.”
***
“Bangun Jun.” Seorang berteriak di telingaku. Aku mengenal suara ini. Dia Bagas, atasanku. “Kamu sudah makan siang?”
Aku melihat Bagas berdiri di sampingku. Foto orang hilang berserakan di atas meja kerjaku. Awalnya aku tidak tertarik, tetapi setelah diperhatikan aku pernah bertemu dengan mereka. Sebentar. Beri aku waktu untuk berpikir. Semalam aku tidur, seorang perempuan datang ke rumah lalu ia mengajakku pergi. Kami berlari di tengah hujan, seorang lelaki menyambut di bawah tiang lampu. Seorang perempuan lain mengajakku berdansa, dan setelah itu aku tidak ingat. Aku mengambil secarik foto, melihatnya dengan saksama. Mengambil yang lain. Memeriksanya kembali. Ini sungguh mengejutkan.
“Jun, kamu baik-baik saja? Jangan memaksakan diri, oke.”
Di luar masih hujan. Suara Bagas lenyap. Aku bangkit menepuk bahu Bagas sembari berkata, “aku menemukan mereka. Aku berhasil menemukan mereka, Pak. Mereka tidak jauh dari sini.”
Bagas membelalak serupa sapi. Dia balik menepuk bahuku dan berkata. “Sebaiknya kamu pulang lebih awal lalu istirahat. Aku akan meminta Andi mengurus kasus ini.”**
Sewon, 18-10-2022
Fahrul Rozi, lahir pada 10 Agustus. Penulis lepas dan buruh tata letak buku. Saat ini tinggal di Jogja. Bisa dihubungi di Instagram @Ojiy__ atau melalui email: [email protected]
Kerinduan kepada anak lanang yang tak tersampaikan menumpukkan kabut di bola mata Sanyoto. Semisal kisah Yakub yang merindukan Yusuf hingga rabun bola matanya[i].
Ya, tahun-tahun belakangan ini anaknya memang jarang sekali pulang. Kecuali, pulang setahun sekali ketika lebaran. Anak lanangnya pulang bersama dua anaknya: laki dan perempuan, serta dua pembantu sekaligus rewang mereka. Jadi mobil itu dipenuhi dengan rewang dan barang bawaan.
Namun yang kadang membuat Sanyoto dan istrinya galau, biasanya anaknya itu juga cepat pergi dari rumahnya. Keluarga putranya itu sekadar transit di rumahnya terus pergi lagi ke villa di Tawangmangu. Di sana mereka berwisata sekaligus ngadem selama seminggu. Sanyoto kadang berkecil hati kalau rumahnya ini tak cukup menyenangkan bagi anak dan terutama cucu-cucunya itu.
Sanyoto tidak tahu mengapa hal ini terjadi pada dirinya dan mengapa anaknya bersikap begitu. Rasanya begitu sedikit sekali waktu anaknya untuk menyinggahi orang tua sendiri.
“Itu karena anakmu terlalu takut dengan istrinya,” kata Paimin, tetangganya.
“Ah, kelihatannya tidak begitu,” bantah Sanyoto.
“Tetapi mengapa cepat sekali pergi, dan manut saja kalau istrinya mengajaknya ke Tawangmangu? Masak singgah di rumah orang tua, cuma maknyuk[ii] saja.”
Sanyoto tak bisa menjawab. Ia jadi terkenang dengan masa-masa dulu ketika anaknya masih tinggal bersama mereka. Anak lelaki semata wayang itu ia besarkan dengan tirakat dan beragam laku prihatin. Dengan kungkum[iii] di tempuran sungai, puasa mutih[iv] dan ngrowot[v] selama tujuh tahun, dengan nyepi ke puncak Lawu. Seorang peziarah di Argo Dalem[vi] pernah menujumkan kalau anaknya akan menjadi tokoh penting di negara ini. Seperti yang sekarang ia ketahui anaknya duduk di parlemen, duduk sebagai anggota DPR yang terhormat. Dikenal sebagai politikus ulung.
Tetapi, mengapa ia merasa makin tak kenal dengan darah dagingnya itu. Ya, ia tahu wajah itu adalah turunan wajah miliknya. Tubuh itu yang pendek gempal dan rahang yang kukuh yang sama dirinya. Ia merasa dapat mengenali diri sendiri ketika muda pada sosok anak lanangnya itu. Tetapi selain itu, mengapa ia merasa makin tak kenal? Anak lelakinya Ngadiyo yang ketika SMA masih tinggal bersama dirinya, kemudian ia kuliahkan di Jogja, di salah satu universitas ternama di Kota Pelajar itu. Hingga kemudian ia nikahkan dan ia kontrakan di sebuah rumah kecil karena mereka belum bisa mandiri.
Saat-saat awal anaknya berumah tangga, Sanyoto dan istrinya masih sempat rajin menengok anaknya itu, meskipun sebulan sekali. Membawakan beras, sayur mayur, atau ayam dari desa. Biasanya suplai makanan itu juga cepat habis dimakan bersama dengan teman-teman kuliah anaknya yang sering datang ke kontrakannya itu.
Hal itu tak mengapa bagi Sanyoto. Ia senang anaknya tidak pelit kepada temannya. Tetapi, mengapa sekarang anaknya malah pelit kepada orang tuanya sendiri. Bukan pelit soal harta tapi pelit soal waktu untuk pulang menengok. Menginap satu dua hari saja. Seolah itu perjalanan paling jauh yang akan ditempuh anaknya itu.
Oh, tidak, ia tak pernah bisa puas dengan percakapan di telepon atau sekadar chatingan dengan telepon pintar yang dibelikan anaknya. Adalah istrinya yang biasa menjawab telepon atau membalas pesan dari anaknya yang seminggu sekali masih bertukar kabar.
Juga terkadang ia bertanya sendiri, apakah nasibnya yang dicueki anak sendiri merupakan ganjaran karena ia juga sama menelantarkan kedua orang tuanya dulu? Rasanya hal itu tidak ia lakukan. Ia tinggal nyaris seumur hidup bersama mereka hingga keduanya meninggal. Ia sendiri yang menguburkan mereka berdua, nyelameti[vii]hingga sewunan[viii].
Memang ia sendiri agak pangling[ix]ternyata anaknya berbeda dengan dirinya dan orang di desa, yang kebanyakan petani atau pergi ke pabrik, tetapi anaknya ternyata melampaui orang di desa ini. Menjadi seorang tokoh politik yang terkenal, bahkan mungkin di tingkat internasional. Rasanya mongkog[x] punya anak menjadi pejabat penting. Tetapi, ia merasa tidak siap dengan konsekuensi yang tidak normal itu; kesibukan anaknya yang melalaikan keberadaan orang tuanya sendiri.
Sebagai kesibukan ia dan istrinya menanam padi dan pelbagai sayur di sawah yang dibelikan anaknya. Di sawah itu Sanyoto membuat sebuah gubug dari bambu. Dengan kesibukan begini mereka merasa tidak akan nglangut di rumah. Pun kalau panen, pisang dan sayuran sering ia bagikan kepada tetangga-tetangganya. Toh, makanan rasanya tak pernah habis di rumah.
***
“Menurutmu apa kita yang harus ke Jakarta sana, menengok cucu kita lagi, Bu? Kalau anak kita belum ada waktu, biar kita saja yang ke sana. Entahlah, rasanya aku pengin ke sana. Anggap saja ini keinginan terakhirku.”
“Halah, mbok jangan bilang gitu, Pak. Panjenengan baru umur enam puluh tahun.”
“Rasanya itu tak berlaku padaku, Bu.”
“Mbok jangan pesimis to, Pak.”
Percakapan itu terjadi malam ini. Ketika mereka akan berbaring di penghujung Rajab.
Suaminya diam. Suasana tambah ngelangut saja di kamar.
“Oh ya, Dio telepon tadi siang. Katanya, selama tiga bulan dia ada safari keliling Indonesia. Tidak bisa mampir,” istrinya bicara.
“Tiga bulan? Artinya lebaran ini tidak bisa mampir?”
“Kira-kira begitu.”
“Duh, kok sibuk banget to.”
Istrinya berbaring duluan. Cepat sekali memejamkan mata. Mungkin karena seharian di sawah. Akan tetapi Sanyoto masih saja sulit memejamkan mata. Hingga, ia bisa memejamkan mata kemudian setelah memantapkan dalam hati, ia akan mengajak istrinya ke Jakarta besok. Ya, besok pagi, hendak ia nyatakan keinginan itu pada istrinya.
****
Istrinya tidak terkejut ketika suaminya dadakan mengajak ke Jakarta pagi itu. Diiyakan saja. Sebab ia tahu keadaan hati suaminya. Betapa lelaki itu ingin sekali melihat anaknya. Karena hanya Ngadiyo itulah anak semata wayangnya. Tapi, siapa sangka anak laki-laki semata wayangnya itu seakan milik menantunya. Ia tahu hal itu tapi tak ingin ia nyatakan kepada suaminya. Takut membuat suaminya tambah terluka.
“Apa ditelepon dulu. Biar mereka persiapan menjemput kita di stasiun, Pak?”
“Kamu aja yang telepon.”
Istrinya mengambil telepon pintar yang mahal itu. Ia menekan nomor kontak anaknya. Tersambung.
“Assalamu’alaikum, Dio… apa kamu sedang sibuk sekarang?”
“Wa’alaikum salam. Tidak Bu. Tapi, masih dinas luar kota. Wonten dhawuh napa?[xii]”
“Oalah, ini Bapakmu kangen, ngajak nengok Dodo dan Lusi,”
Istrinya melirik pada suaminya yang cemberut saja disinggung begitu.
“Ya, silakan Bu. Tapi, dalem[xiii] tidak tahu bisa pulang kapan. Jadi mungkin nanti di sana hanya ketemu dengan Ndari dan anak-anak.”
“Yo wis. Tak apa. Ini kami berangkat pagi. Tolong nanti ada yang jemput di stasiun ya?”
“Iya Bu. Tak kasih gaji dua kali lipat biar dia kerasan.”
Ibunya manggut-manggut. Kemudian pamitan. Telepon ditutup.
“Gimana Pak, jadi berangkat? Ngadiyo masih di Bali sekarang.”
“Ya, jadi berangkat. Nanti kita nginep di sana seminggu. Kunci rumah kamu titipkan kepada Mbakyu Giyem saja.”
Perempuan yang telah menjadi istrinya lebih dari 40 tahun itu tersenyum saja, mengiyakan semua keinginan suaminya. Paham apa yang ada di dalam dada lelakinya.
“Pak, aku mau tanya?”
“Soal apa?”
“Bapak ridha anak kita jadi orang besar seperti sekarang? Bapak, yang rutin tirakat kungkum setiap malam Jumat. Suka puasa mutih dan ngrowot selama tujuh tahun biar si Ngadiyo itu jadi sukses, tapi akhirnya jarang pulang menengok kita?”
Lelaki itu terkesiap dengan pertanyaan istrinya. Sejenak ia menghela napas.
“Kalau mau jujur, sakjane[xv] tidak seperti ini harapanku Bu. Tapi, kalau memang sudah begini pinastine[xvi], mau apa lagi? Ya, semoga saja, anak itu masih menangi jasadku di atas bumi kalau aku mati, Bu.”
Perempuan itu mengangguk. Sendika dhawuh[xviii] dengan perintah suaminya. Seakan perintah suaminya memang harus ia turuti karena begitu rapuh sekali umur mereka. Entah hari ini, atau besok rasanya ajal itu begitu dekat. Sementara tidak ada yang tahu, akankah ajal mau berkompromi dengan rindu?*****
Andri Saptono, tinggal di Karanganyar. Sibuk berbuku dan mengelola penerbitan indie. Sedang menyiapkan novel untuk ulang tahunnya yang ke-40. Alamat surelnya: [email protected].
[i] Kisah Nabi Yakub yang rindu dengan Yusuf yang hilang karena “dibuang” oleh saudara-saudaranya.
[ii] Maknyuk, Jawa, ungkapan superlatif yang maknanya waktu yang sangat singkat.
[iii] Tirakat dengan berendam di sungai pada malam hari, di waktu tertentu. Sungai pun dipilih yang terkenal angker. Misal berendam di sendang atau tempat mata air atau tempuran.
[iv] Puasa dengan berbuka makan nasi putih saja, atau umbi-umbian yang berwarna putih.
[v] Puasa dengan berbuka hanya dengan makan umbi-umbian. Kesemua laku prihatin tersebut menjadi tradisi orang Jawa yang ingin hajat dirinya terkabul.
[vi] Argo Dalem, salah satu dari tiga puncak di Gunung Lawu, Jawa Tengah; yang lainnya ada Argo Dumilah dan Argo Dumuling. Konon merupakan pusat lokasi mistis di pulau Jawa ini.
[vii] Selametan, upacara atau ritual yang maknanya agar arwah leluhur selamat di kehidupannya (alam Barzah).
[viii] Sewunan, bagian dari acara selametan untuk orang meninggal, atau selametan seribu hari.
[ix] Takjub, tidak kenal, lebih dimaksudkan sebagai pujian.
[xi] Menangi, Jawa, masih bersua baik zahir maupun batin.
[xii] Wonten dhawuh napa? Jawa, terjemah bebasnya ada perintah apa. Tetapi, ini biasa dipakai untuk berbasa-basi dalam budaya Jawa sekaligus menunjukkan ikram (ingin memuliakan kepada orang yang dihadapi, entah karena lebih tua, atasan, atau mungkin orang tua sendiri)
Orhan Fatih menetap di Ankara. Sudah tiga tahun ia mendirikan toko roti yang laris dikunjungi pembeli. Ia mempekerjakan imigran gelap asal Suriah. Ketika leluhurnya, keturunan Ottoman, diusir Ataturk dari bumi Turki, mereka melakukan pelarian ke Suriah. Mencari perlindungan di Damaskus. Kini, keturunan Ottoman diperkenankan kembali ke Turki, ia memilih tinggal Ankara. Dibawa istri, dan dua anak lelakinya, mencoba peruntungan nasib di Ankara. Beberapa pegawai yang setia—seperti Saad—merupakan imigran gelap dari Damaskus. Mereka memperoleh kehidupan baru di toko roti Orhan Fatih, meskipun kadang bermusuhan dengan penduduk setempat.
Tiap sore Orhan Fatih melihat seorang polisi tua mampir ke toko rotinya. Membeli baklava[1]. Saad menemui polisi tua itu dengan wajah ramah. Kadang mereka berbincang akrab. Orhan Fatih diam-diam selalu memperhatikan keakraban mereka. Ia berharap tidak akan pernah mendapat perseteruan dengan penduduk setempat yang tak menghendaki kehadiran imigran gelap.
Suatu peristiwa menyedihkan tak pernah diduga Orhan Fatih. Terjadi kerusuhan, malam hari, anak-anak muda murka menyerbu dan membakar toko roti. Perkelahian antara karyawan toko roti dengan anak muda setempat telah membangkitkan rasa marah banyak orang. Mereka menyerbu toko roti, membakar, dan menganiaya para imigran gelap. Orhan Fatih tak bisa mencegah beberapa karyawannya terkena amuk, terbakar, dan luka memar kena hajar anak-anak muda.
Polisi tua itu datang untuk menyelamatkan toko roti yang terbakar dan melindungi beberapa karyawan yang terluka karena pembantaian anak-anak muda. Ia mengusir anak-anak muda yang beringas, termasuk di antaranya Anka, anak sulungnya. Pekerja toko yang terluka diangkut ambulans ke rumah sakit. Orhan Fatih tak meratapi toko rotinya terbakar, tetapi ia lebih memikirkan para pekerja yang terluka.
Setelah peristiwa pembakaran toko roti, Orhan Fatih tak lagi pernah bertemu polisi tua. Ia membangun toko rotinya, dan membuka kembali dengan banyak pelanggan baru yang datang. Tetapi polisi tua itu tak pernah hadir. Orhan Fatih sempat mendengar kisah, polisi tua itu pensiun, dan meninggalkan Ankara. Pensiunan polisi itu tinggal di Konya, bekerja sebagai aparat keamanan di Mevlana Museum. Ia menikmati hidup sebagai darwis, penari sema di Mevlana Cultural Center, pada malam ketika para turis duduk terpaku di gedung pertunjukan itu.
***
Siang itu Orhan Fatih menerima kedatangan pensiunan polisi yang melakukan perjalanan jauh dari Konya ke Ankara, mengendarai sedan tua. Pensiunan polisi masih tampak ramah seperti semula. Tetapi kini wajahnya terlihat sunyi. Pensiunan polisi itu betapa bahagia melihat toko roti kembali ramai dikunjungi para pembeli. Ia mencari-cari Saad, yang dulu selalu menyalami dan mengambilkan baklava kesukaannya.
“Bisa bertemu Saad?” tanya pensiunan polisi, ketika bertemu Orhan Fatih. Pemilik toko roti itu memandanginya sebentar. Tajam dan penuh selidik.
“Ia masih kerja di dalam.”
“Boleh saya bertemu dengannya?”
Orhan Fatih mengantar pensiunan polisi itu ke dapur. Saad tengah membuat adonan roti dengan wajah menunduk, dan mengabaikan kehadiran pensiunan polisi. Ketika punggungnya tegak, memandang pensiunan polisi itu, segera menyalaminya. Kening dan pelipis kanan Saad menampakkan bekas luka. Tetapi tetap tampak tampan wajahnya.
“Mau kau ikut aku ke Konya?” tanya pensiunan polisi itu serius. “Aku selalu merasa bersalah, tak bisa melindungimu dari serangan anak-anak muda yang marah sampai menyerang dan membakar toko roti.”
Lama Saad memandangi pensiunan polisi itu. “Kalau saya ikut ke Konya, apa yang bisa saya kerjakan?”
“Kau bisa bekerja di Mevlana Museum,” balas pensiunan polisi. “Kita akan bersama-sama menari sema. Sesekali kita pentas di Mevlana Cultural Center.”
“Biar saya pikirkan dulu,” kata Saad, tak ingin menolak permintaan pensiunan polisi. Orhan Fatih memandangi Saad. Ia ingin memastikan, apakah lelaki imigran gelap itu akan meninggalkannya atau tetap bersamanya di toko roti. Teman-teman Saad memilih meninggalkan toko roti, mencari pekerjaan lain, takut bila kembali diserang anak-anak muda yang tak suka pada mereka.
Pensiunan polisi itu meninggalkan toko roti dengan harapan Saad akan menyusulnya tinggal di Konya. Orhan Fatih mulai cemas dengan kebimbangan Saad, yang kadang ditampakkannya saat merenung seorang diri. Ia tak ingin kehilangan Saad. Dulu leluhurnya berada di Damaskus senantiasa dilindungi leluhur Saad turun-temurun. Ketika Orhan Fatih berpamitan hendak kembali ke Turki, ayah Saad sempat berpesan, “Aku titip anak bungsuku, Saad, agar tetap hidup bersamamu. Anak lelakiku yang sulung sudah meninggal dalam pertempuran sebagai pemberontak. Aku tak mau Saad juga ikut mati di medan perang. Berangkatlah lebih dulu ke Turki. Tiba waktunya nanti biar Saad menyusulmu. Kau akan tinggal di mana? Ankara? Baik. Saad akan mencarimu di kota itu. Sering-seringlah memberi kabar pada kami di sini.”
Orhan Fatih merasa tak bisa melindungi Saad, ketika pemuda itu benar-benar pamit padanya, untuk mengikuti pensiunan polisi ke Konya. “Saya mau kerja di Mevlana Museum. Saya ingin menjadi penari sema.”
“Baiklah. Aku akan menengokmu sesekali,” kata Orhan Fatih, tak tega melepas Saad. Ia teringat pesan ayah pemuda itu. Tetapi ia merasa tak mungkin menguasai jiwa pemuda itu. Saad boleh memilih kehidupannya sendiri. Ia ingin menjadi penari sema. Pensiunan polisi itu memang memiliki daya tarik yang luar biasa.
Orhan Fatih melepas Saad meninggalkan Ankara dengan menumpang bis ke Konya. Ia mulai mencemaskan pemuda itu. Ia teringat akan anak lelaki pensiunan polisi, Anka, yang menyusup diam-diam dalam penyerangan dan pembakaran toko roti. Anka tidak pernah ditangkap, apalagi diadili. Ia bebas berkeliaran. Orhan Fatih mulai mencemaskan kelakuan anak lelaki pensiunan polisi itu. Ia tak ingin kebencian Anka pada Saad terus membara sampai saat ini.
***
Mimpi mengenai penembakan Anka terhadap Saad di pelataran Mevlana Cultural Center menggelisahkan Orhan Fatih. Mimpi itu sangat jelas, seperti bakal terjadi. Anka mengarahkan senapan berburu untuk menghabisi Saad dengan perangai bengis. Pagi harinya Orhan Fatih berpamitan pada istri dan kedua anaknya, mengendarai mobil menuju Konya. Ia belum pernah melakukan ziarah ke makam Rumi. Sejak kecil di Damaskus, ia mendengar kisah kebesaran Rumi, tarian sema dan Mevlana Museum yang selalu dikunjungi para peziarah. Ia juga ingin menonton pertunjukan tari sema di Mevlana Cultural Center, satu kilometer sebelah timur Mevlana Museum. Laju mobilnya melewati hamparan padang-padang tandus sepanjang jalan. Ia mencapai Konya siang hari, dan bertemu Saad yang sedang membersihkan taman di Mevlana Museum. Saad tampak rajin seperti ketika bekerja di toko roti, dan tak banyak mengeluh.
Wajah Saad tampak sangat bahagia melihat kedatangan Orhan Fatih.
“Kau tak ingin kembali kerja padaku?” tanya Orhan Fatih, yang selalu tampak ramah. “Aku akan mudah melindungimu, bila kau bekerja di toko roti.”
“Saya sangat bahagia tinggal di kota ini,” tukas Saad, “bisa menari sema di Mevlana Cultural Center.”
Kembali terlintas dalam benak Orhan Fatih akan mimpinya semalam: Anka menembak Saad dengan senapan berburu, pada senyap malam, di pelataran Mevlana Cultural Center. Orhan Fatih sempat singgah di apartemen Saad sebelum berangkat ke Mevlana Cultural Center dan menonton pertunjukan tari sema. Ia juga melihat pensiunan polisi turut serta menari sema dengan iringan tabla[2], flute, dan baglama[3]. Orhan Fatih sempat terlupa akan mimpinya saat pertunjukan tari sema itu dipergelarkan. Tetapi saat malam turun, dan lelaki pemilik toko roti itu mengantarkan Saad kembali ke apartemen, di pelataran Mevlana Cultural Center, ia kembali teringat akan mimpi penembakan yang dilakukan Anka. Ia cemas, mencari-cari sosok tubuh Anka yang berkelebat di pelataran Mevlana Cultural Center. Ia melihat sosok itu sedang membidikkan senapan berburu ke tubuh Saad. Ia menutup pandangan Anka agar tak tepat membidik ke arah tubuh Saad. “Kau mesti meneruskan keturunan keluarga, seperti harapan ayahmu,” kata Orhan Fatih.
Ledakan senapan berburu itu sangat mengejutkan. Orhan Fatih melindungi tubuh Saad dari bidikan Anka. Peluru melukai bahu kanan Orhan Fatih. Lelaki setengah baya itu tergeletak.. Gaduh. Saad berlutut di sisi tubuh Orhan Fatih. Terdengar suara langkah kaki orang berderap meringkus Anka, yang melakukan perlawanan saat ditangkap. Betapa gugup pensiunan polisi itu memanggil ambulans untuk mengantar tubuh Orhan Fatih ke rumah sakit, “Maafkan aku! Mengapa kebencian anakku tak terkendali serupa ini?”***
Konya, Turki, Juli 2022
Pandana Merdeka, Maret 2023
[1] makanan ringan terdiri dari kacang walnut yang dicincang diberi pemanis dan dibungkus adonan roti tipis.
[3] instrumen musik yang dipetik, kecapi berleher panjang.
S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, di antaranya penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah dan nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022).
Nama Rudi Koplak akhir-akhir ini menjadi buah bibir di desaku, Desa Sambisari. Pemuda yang sehari-hari tidak jelas apa pekerjaannya, kini setiap hari didatangi banyak orang. Berbagai jenis kendaraan silih berganti parkir di halaman rumahnya. Dari kabar yang sampai di telingaku, Rudi Koplak kini telah menjadi “orang pintar”. Menurut salah satu tamu, setiap permohonan dari orang yang datang kepadanya pasti terkabul, termasuk perkara menolak hujan.
Besok malam, tepatnya Jumat Kliwon, Desa Sambisari akan mengadakan pertunjukkan seni dalam ajang pesta rakyat di balai Desa Sambisari. Sedangkan saat ini sedang musim hujan. Kepala Desa memintaku untuk mencari pawang hujan agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan lancar. Sebenarnya aku tidak percaya atau mungkin bisa dikatakan belum percaya atas perihal yang aku anggap tidak masuk akal. Dalam pemahamanku, keberhasilan seorang pawang hujan bisa menghentikan hujan hanyalah kebetulan belaka. Karena memang saat itu sudah waktunya hujan reda atau memang bukan waktunya turun hujan.
Pagi ini, aku memutuskan untuk menemui Rudi Koplak karena desakan terus-menerus dari warga desa. Rudi Koplak adalah satu-satunya pawang hujan yang pernah kudengar. Setelah mengutarakan maksud kedatanganku. Rudi Koplak mulai menjelaskan tentang profesinya. Setiap orang yang datang kepadanya mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Mulai dari menyingkirkan hujan, permintaan nomor togel, pencarian residivis, sampai perkara ranjang. Dia bercerita bahwa pernah ada seorang guru ngaji yang datang ke rumahnya untuk meminta “syarat” agar para anak didiknya bisa diajak untuk memadu kasih. Namun dia tidak bersedia memenuhi keinginan guru ngaji tersebut. Bukan karena dia tidak mampu, namun baginya apa yang dirasa tidak baik, akan menjadikan buah yang buruk di kehidupannya.
Rudi Koplak berbicara lantang dengan suara serak-serak basahnya,.“Sudah. Yang penting yakin ya!”Aku hanya mengangguk saja. Dalam hatiku menahan tawa atas apa yang diucapkannya. Karena seumur hidup baru kali ini, aku berhubungan dengan dukun. Kemudian Rudi Koplak berdiri dari duduknya. Dia melangkah keluar rumah. Aku menunggu dengan sabar sambil mengisap rokok dan melihat sekeliling ruangan tamu. Tidak beberapa lama, Rudi Koplak masuk ke rumah sambil membawa sebuah daun merah kecil yang dibalik, ditusuk dengan lidi dan di bawah daun itu terdapat satu siung bawang merah. Dari penjelasan dukun itu, daun itu bernama sinom merah. Menurutnya, sinom merah sebagai simbol atas sebuah permintaan. Dia bercerita kalau pohon itu adanya hanya di puncak Gunung Kendalisodo yang bernama puncak Hanoman. Dengan lelaku tirakat, puasa dan tidak tidur sebulan penuh di gunung itu, akhirnya dia mendapatkan wangsit untuk mengambil pohon sinom merah. Dia mengatakan kalau Kyai Anoman yang selama ini membantunya sebagai pawang hujan. Kyai Anoman memiliki ajian Sappo Angen pemberian Dewa Bayu yang akan menyingkirkan segala penghalang yang ada di depan mata, termasuk hujan. Aku hanya manggut-manggut mendengarkan kisah itu..
“Syarat ini dibawa dengan tangan kiri. Nanti ditancapkan di tanah, di tempat yang jarang disambangi orang. Jangan sampai ambruk!” pesannya kepadaku. “Oh, iya. Satu lagi, jangan berbicara dengan orang lain mulai sekarang sebelum kamu menancapkan syarat ini di tanah,” tambahnya sebelum kakiku melangkah keluar dari rumahnya.
***
Sejak pagi, mendung hitam menggantung rata di langit Desa Sambisari. Setiap orang berkali-kali menengadah berharap mendung segera menyingkir. Aku turut cemas. Aku terus berdoa agar “syarat” berupa daun sinom merah yang diberikan Rudi Koplak benar-benar bisa menjadi penyingkir mendung agar hujan tidak terjadi nanti malam. Aku masih ingat suara serak-serak basah dari mulut Rudi Koplak. Yang penting yakin ya!
Kesibukan dalam persiapan acara sedikit mengalihkan perhatianku. Namun sesekali, aku melihat langit. Warna hitam itu perlahan-lahan mulai bergeser menjauh. Ada sedikit perasaan lega. Aku merasa malam ini tidak terjadi hujan, juga menjadi tanggung jawabku. Karena aku yang mencari pawang hujan dan menaruh “syarat” penolak hujan.
Ketika semua perlengkapan untuk acara pentas seni selesai dipersiapkan, aku beranjak ke tempat “syarat” yang aku letakkan, yaitu di belakang balai desa. Jantungku berdebar-debar dengan keras. Terdengar riuh suara gerombolan bebek. Mereka bergerak ke arah benda yang kutancapkan. Belum sempat aku mengusir mereka, gerombolan bebek itu menerjang daun sinom merah dan bawang yang ditusuk lidi itu. Benda itu ambruk. Kebetulan di belakang balai desa adalah rumpun bambu yang berbatasan dengan area persawahan. Aku tidak menyadari bahwa tempat itu menjadi jalur bebek yang sedang digembala. Memang sebenarnya aku sedikit menyepelekan benda yang diberikan dukun itu. Sehingga aku tidak begitu mempertimbangkan pemilihan letak untuk menancapkan “syarat” yang diberikan Rudi Koplak. Gegas aku mengusir gerombolan sialan itu. Mengambil benda yang diberikan Rudi Koplak dan mencari tempat yang kurasa lebih aman dari segala gangguan.
Langit sore tampak ayu dengan semburat jingga keunguan. Aku lega, apa yang terjadi dengan “syarat” yang diberikan si dukun ternyata tetap bekerja dengan baik. Bahuku ditepuk seseorang dari belakang. Spontan, aku menoleh. Setelah selesai memindah benda itu, aku kembali ke halaman balai desa melihat tim dekorasi menyelesaikan pekerjaannya.
“Yang penting yakin ya!”. Suara serak-serak basah itu kembali bergema di gendang telingaku.
“Terima kasih, Kang Koplak. Nanti malam, acara pasti ramai,” jawabku. Anggukan kepalanya sebagai tanda setuju sambil melangkah meninggalkanku.
Aliran kedatangan warga ke balai desa seperti air sungai Desa Sambisari yang deras. Warga riuh bertepuk tangan setiap kali pertunjukkan pentas selesai. Malam ini, setiap dusun menyajikan penampilan yang terbaik. Maklum saja, sejak adanya pandemi wabah penyakit, jarang sekali diadakan hiburan di desa ini. Sehingga antusias warga begitu besar. Semua wajah penonton berbinar-binar. Pertunjukan yang paling ditunggu adalah pementasan tari Kethek Ogleng.
Gendhing Suwe Ora Jamu mengalun sebagai tanda pementasan tari Kethek Ogleng dimulai. Penari itu bergerak gesit menyerupai gerakan kera. Naik ke atas kursi. Kemudian dia memanjat batang bambu di mana terdapat tali yang menggantung di antara di batang bambu. Dengan luwesnya, penari itu bergelantungan. Tepuk sorak dan teriakan memberi semangat penari Kethek Ogleng itu.
Di tengah-tengah gerak lincah yang penari kera putih itu, hujan turun dengan hebatnya tanpa ada tanda-tanda rintik hujan atau langit yang menghitam. Aku berlari tergopoh-gopoh menuju daun sinom merah yang tadi kutancapkan. Benda itu masih berdiri tegak. Tetapi hujan tetap turun dengan derasnya. Aku teringat kejadian tadi sore. Aku merasa sangat bersalah. Kelalaianku membuat acara pentas seni malam ini berakhir berantakan.
Dari jauh, aku melihat Rudi Koplak lari tergopoh-gopoh. Pakaiannya basah menerjang hujan. Kemudian dia menghampiriku. “Maaf. Hari ini, hari nahasku,” ucap Rudi Koplak lirih hampir tak terdengar, terkalahkan deras hujan. Aku melangkah gontai meninggalkan Balai Desa Sambisari dengan penyesalan yang mungkin tak akan bisa terobati.***
Kesit Himawan Setyadji, lahir di Saradan, Wonogiri. Kini tinggal di Sukoharjo. Selain berkecimpung di bidang arsitektur, saat ini juga bergiat menulis di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Surat menyurat bisa melalui alamat surel: [email protected]
Mustika merasakan telinganya berdenging. Saat pandanganya dibuang ke luar jendela, kebenciannya bagai bara dalam sekam. Baginya, dendam bukanlah sebuah kejahatan, jika dibalas sedikit demi sedikit. Di samping kolong amben, ia menata sesajen. Jerami dibakar, dupa dinyalakan. Ia bergerak dengan perlahan supaya tidak diketahui siapapun, sekalipun ibunya yang sakit dan bergumam tentang karma. Mustika tak tahu persis apa yang dimaksud ibunya. Hanya kesumat yang saat ini Mustika pikirkan.
“Mampus!” gumam Mustika.
Serabut kelapa ditata memajang. Ujung-ujungnya dipangkas rapi sebelum ditekuk menjadi dua bagian. Mustika mengikat lengkukan seperti membentuk kepala hingga dua cabang di bawahnya seolah menyerupai kaki. Ketika bagian lengan telah ditambahkan, ia sedikit menjauhkan tangannya—memastikan boneka telah berbentuk. Sebuah foto dikeluarkan dari kantong. Kedua matanya memandang dengan amarah. Selesai ritual nanti, ia ingin segera menusuk-nusuknya.
Namun, hati Mustika berkecamuk saat memutarkan boneka di atas anglo. Jika upayanya menjauhkan Kinanti dari Damar berujung kematian, Mustika akan menanggung dosa besar. Apalagi, ibunya pernah mengatakan perbuatan syirik dapat mendatangkan kesialan. Saat asap jerami berlenggak-lenggok di udara, Mustika terseret bayangannya.
“Kamu pasti lupa,” ucap Kinanti seraya mengulurkan sampur di pentas bulan purnama. Mustika menerimanya dengan terpaksa. Ia sempat berpikir, apakah Kinanti rela kehilangan pamor?
Kenangan itu tidak dapat diusir dari benak Mustika. Sampur itu mengembalikan kepercayaan dirinya, sehingga ia dapat melenggang ke kanan-kiri, sesekali dikalungkan ke leher bujang ganong yang menghampiri. Saat itu, Mustika sangat menginginkan Damar mendekat di tengah tariannya. Tetapi, kenyataan memang sering mencurangi harapan. Damar justru meninggalkan lapangan di saat penonton semakin bergairah. Langkah Mustika berubah lemah setelah pandangannya bertemu dengan jathil lainnya. Dari gerakan mulut mereka, ada dua kata yang terserap; Kinanti dan masuk angin. Menyadari keberadaan Kinanti nihil, anggainya mencuat, nuraninya berdebar-debar. Perlahan, Mustika menepi dan berlari memikul bimbang.
Sejak mengetahui bahwa Damar menemani Kinanti di bilik rias, Mustika menyaksikan bahwa cinta tidak bergerak atas muruwah dan petuah. Di ambang kelambu, Mustika berdiri dengan punggung terguncang dan bibir bergetar. Damar menadahi muntahan Kinanti dengan rompinya. Bau telur busuk dan amonia menguar seiring dengan keluarnya sari-sari makanan. Hal yang memerihkan perlahan terjadi, Damar mengusap air liur, mengolesi minyak kayu putih, dan mengeluarkan sebuah koin untuk mengerok tubuh Kinanti. Lagi, kerelaan itu membuat Mustika menangis.
Kebenciannya mendarah daging pada pementasan berikutnya. Pada pagelaran reyog obyok di telaga Ngebel, hatinya terasa ditusuk ribuan jarum. Di antara keriuhan penonton yang berteriak cabul, Damar berjalan sambil menenteng topeng bujang ganong ke tengah panggung. Sebelum dipakai, ia berjalan memutari Kinanti dan mencolek pinggangnya. Gong berdentang-dentang, terompet ditiup panjang. Damar melakukan gerakan magak dengan iringan senggakan. Mustika sangat geram menyaksikan Damar memajukan kepala dan mengulir tangannya seperti hendak merengkuh Kinanti. Lekas, api cemburu menyulut dengan ganas.
Mustika yang merasa muak dengan kejadian itu akhirnya mulai merencanakan pembalasan. Lewat ilmu sihir yang dipelajari dari internet, ia mengumpulkan barang-barang perlengkapan; anglo, jerami, dupa, tanah kuburan, paku, jarum, serabut kelapa, dan bunga setaman. Ia ingin menunjukan bahwa orang-orang yang tersakiti tidak dapat terkalahkan.
“Tikus tengik!” umpatnya.
Satu persatu, air mata Mustika berjatuhan. Beriring dengan gerakan memutar boneka di atas anglo, jerit tangis memekik telinganya. Samar-samar, Mustika mendengar kata ibu. Dalam beberapa saat, pintu kamarnya digedor-gedor.***
Yeni Kartikasari, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Ponorogo. Dapat disapa melalui @yeni_kartikasarii.
mengapa dunia begitu kejam sejak manusia mengenal kekuasaan?
(Karanganyar, 2023)
TUDING
1/
hidup adalah nasib yang tergantung
di ujung jari telunjuk
orang-orang yang mengorbankan saudaranya
demi nyawa diri sendiri.
tanpa peduli kelak hidup atau mati.
nasib itu telah raib
sejak jari tangan diacungkan:
“Ia PKI, Ia penari,
Ia Gerwani, Ia penulis puisi.”
2/
apa yang diimpikan lesap.
apa yang dibayangkan hilang
tanpa sisa.
sebab, cap dan stigma sangat mahal
dan seringkali menakutkan.
segala yang ditunjuk
telah berubah jadi firman.
lantas, langit yang cerah
akan berubah kelabu
tanpa hujan, hanya rintihan.
3/
dunia ini
tak lebih dari kebohongan
demi menutupi siapa diri sendiri
sebab, ujung jari telah menjadi belati.
jika tak ingin mati,
maka jari telunjuk harus bekerja
agar bisa dipercayai.
(Karanganyar, 2023)
MARS
: Paduan Suara Dialita
kenangan itu getir di bibir
dan tak pernah jadi senyum
ketika lagu-lagu didengungkan.
senyum itu
tak lebih dari penghibur dan pengabur
dari kisah masa lampau
yang tak akan pernah diampuni.
sebab masa depan telah beku.
tak ada lagi harapan
selain bersandar dan bertumpu
pada nyanyian.
lagu-lagu yang dikumandangkan
telah jadi penghibur
ketika masa lalu mencoba dikubur.
tapi tentu, seluruhnya lamat-lamat menguar begitu saja.
apa yang bisa dipercaya dari hidup ini?
seluruhnya kegamangan
seperti nada-nada sumbang
dari mulut orang-orang yang membenci
dan seringkali menuduh tanpa bukti.
(Karanganyar, 2023)
PELAJARAN DARI PENGASINGAN
dituduh tak jelas
dibuang paksa
diseret
diperkosa
dikencingi
diinjak-injak
dimaki-maki
disiksa
tak dimanusiakan
seutas tali panjang
sebuah jarum
sehelai kain panjang
tikar dari daun pandan
kebun bunga
menyiangi rumput
menyiram kembang
Bagaimana cara membalas dendam dengan baik dan benar?
(Karanganyar, 2023)
Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan(2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022), & Manten (2022). Buku Mengunjungi Janabijana meraih Penghargaan Prasidatama 2021 Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.