Cerpen

Di Kedai Nori

Cerpen Jeli Manalu

Tampak awan sedang turun. Tak lama setelahnya, gerimis seukuran biji sawi yang berlapis-lapis, jatuh dan melayang membasahi ujung meja. Tuan Am, begitu Nori menyebutnya, menggeser duduk ke bagian dalam kedai. Ia paham gerimis seperti itu. Meski tidak selalu menjadi hujan deras, namun durasi yang panjang sering membuat jalan tanah bercampur batu menuju stasi di pedalaman desa licin.

Tujuh bulan lalu ketika baru dipindahtugaskan ke paroki yang sekarang, dalam situasi seperti itu, pernah suatu kali ia memaksakan berangkat. Masih setengah perjalanan, motor trail-nya tergelincir sewaktu mengelakkan cekungan tanah. Selanjutnya terhempas ke tepian, menyusul terguling ke rawa. Motor trail-nya menginap di antara lumpur dan eceng gondok, sedangkan dirinya berjalan kaki sejauh empat kilo. Ah, tidak. Tidak lagi. Saya tidak mau lagi itu terjadi, batin Tuan Am, yang saat peristiwa itu, ia ingat bagaimana kondisinya berhari-hari. Dengkul nyeri bercampur panas akibat tertusuk duri pandan hutan. Siku lecet. Dahi hingga pelipis memar. Ia kemudian demam, dan dengan perasaan sedih membatalkan misa hari Minggu sebanyak dua kali.

Gerimis seukuran biji sawi namun tebal serta bercampur angin menuntun Tuan Am memesan minuman. “Sudah ada kopi?” tanyanya lebih dahulu, sembari melepas jaket lalu meletakannya di sandaran kursi.

Nori, si pemilik kedai menjawab, “Belum.”

Tuan Am sudah pernah mendengar cerita tentang dua bulan ini Nori tidak lagi dikirimi biji kopi oleh petani langganan. Sekilas Tuan Am menangkap, si petani kopi langganan kehilangan semangat untuk apa saja, termasuk mengerjakan ladang. Ia ditinggal pergi perempuan yang dicintai. Rumor beredar mengatakan, si perempuan naik perahu menuju pulau seberang karena tidak tabah hidup serba terbatas di desa, dan katanya, bahkan pernah terlihat makan malam romantis dengan entah siapa.

Apa beberapa orang memang tercipta senang mencari kenyamanan dari satu hati ke hati lainnya? pikir Tuan Am. Gerimis yang menerobos jendela seolah menampar di pipinya. Kiri, juga kanan. Penuh semua wajahnya. Ia meninju dada dan buru-buru mengucap doa tobat: ia mengaku telah berdosa dalam pikiran. Saya sungguh berdosa, katanya. Setelah mengatakan amin paling pelan yang tak terdengar bahkan oleh gerimis, dengan ujung jari ia menarik rokok sebatang. Ia isap rokok itu sambil meluruskan pikiran. Ia menyadari, tak boleh berkesimpulan terhadap permasalahan orang: sebab yang berada di luar hanya tahu luarnya saja, tidak akan pernah mengerti kejadian utuhnya. Dan apabila ada konflik, baik ringan maupun besar, sejatinya, ia hanya perlu mengunci pintu, menyalakan lilin, lalu membicarakannya pada Tuhan.

“Ya sudah kalau begitu, cokelat panas lagi. Tambahkan gula sedikit ya, Nori.”

Kata, “ya” sayup-sayup di telinga Tuan Am.

No-ri. N-O-R-I. Tuan Am mengeja. Sempat ia ragu, apa tadi sungguhan menyebut nama si pemilik kedai? No-ri, ucapnya, sekali lagi. Sebentar senyumnya rekah. Ia juga menggigit ujung kunci motor trail, kemudian merasakan dirinya aneh.  

Dari arah dapur terdengar denting sendok. Lalu aroma cokelat menghampiri meja Tuan Am yang di sananya ia mulai khidmat mengetuk-ngetuk meja.

Ada mobil hijau berhenti di depan kedai. Dari dalamnya muncul suara yang Tuan Am tebak itu suara Ariel Noah duet dengan, apakah itu vokal BCL—Bunga Citra Lestari? Tanya hati Tuan Am. Ia merasa suara serak-serak merdu itu milik BCL, perempuan yang lima bulan lalu kehilangan suami tercintanya: …. Aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia. Aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia—Tuan Am menyanyikannya lagi, dan saat itu pula wajahnya berubah murung.

Pada bola matanya tampak semacam jala kemerahan. Bibirnya bergetar. Rokok yang diletakkan di atas asbak menyerupai sayap kupu-kupu padam dan dingin. Kesedihan tumpah di meja beraroma cokelat, beraroma kenangan.

Sepuluh tahun lalu saat bertugas di Paroki A dan usia Tuan Am waktu itu baru 34, hati serta pikirannya pernah diwarnai Lumi Ceri. Lumi Ceri seorang seniman: ia mendapat proyek membuat mural di sepanjang bangunan gereja bagian dalam—sebelumya, Lumi Ceri dikenalkan juru masak pastoran kepada Tuan Am. Tuan Am takjub bagaimana tangan serta jiwa Lumi Ceri lebur dalam dinding yang tadinya hanya putih kosong berubah jadi potongan-potongan kisah dalam kitab suci. Tuan Am merasa, belum pernah dirinya bertemu orang seistimewa Lumi Ceri. Ia juga ingat sudah berjanji menolak perempuan berkunjung ke hatinya. Ini bukan perasaan suka, cuma kagum, katanya pada diri sendiri menyangkal sesuatu yang bergejolak kuat.

Dalam piring, cangkir, asbak, dan pada sebatang rokok Lumi Ceri justru selalu muncul. Kadang kedatangannya dengan wajah sehangat cokelat. Kadang dengan sepasang mata sendu yang di dalamnya adalah hutan, dan dalam hutan itu Tuan Am melihat sebatang pohon berbuah lebat dan hampir saja ia memetiknya.

Suatu hari ia pergi retret. Ia merenungkan kembali pilihan hidup di mana dirinya tidak boleh menikah, meski jauh sebelum itu, orangtuanya memang pernah kurang merestui. Ia kemudian tekun berdoa novena[1]—ia katakan: bukankah hanya kau, hai Maria, ibu Yesus, dan ia, ibu yang telah melahirkan saya, perempuan yang boleh mengisi hati ini? Lalu mengapa sekarang ada yang hadir? Dalam doa tak sungkan Tuan Am mengaku berdebar tiap memikirkan Lumi Ceri. Rok kembang sepanjang betis yang bergoyang saat Lumi Ceri bergerak. Kemeja yang lengannya digulung sehingga Tuan Am bisa menyaksikan langsung kulit tangan Lumi Ceri. Atau syal hijau tua yang ketika akan melukis Lumi Ceri melepasnya dari leher dan meletakkannya di sandaran kursi—suatu hari, Tuan Am menyentuh syal itu, memegangnya dengan hati gelisah, namun saat itulah ia tahu aroma parfum Lumi Ceri perpaduan melati, jeruk, dan mungkin itu cokelat?

Sebotol cokelat selalu ada dalam tas Lumi Ceri. Pernah Lumi Ceri membagi Tuan Am. Ambil saja untuk Anda Pastor, katanya. Lumi Ceri bilang bibir Tuan Am tampak kering, dan napasnya saat bicara menandakan Tuan Am butuh minum. Tuan Am ingat dirinya menolak: ia bilang tidak sedang haus, menutupi hati yang mengatakan: nanti kekasihmu marah. Tapi Lumi Ceri malah bilang tidak ada yang akan marah.

Sejak itu Tuan Am semacam menantikan kapan Lumi Ceri menawarinya lagi sebotol cokelat. Apa ia membawanya dalam tas, atau adakah ia telah menyiapkan dari rumah untuk saya pribadi—Tuan Am tertawa, malu memikirkan dirinya yang mulai ke-geer-an. Untuk meredam perasaan itu, dirinya yang bijaksana berkata kepada dirinya yang kurang bijaksana: dasar Am tidak tahu diri, kau ini seorang pastor. Dilarang jatuh cinta, ingat itu! Sesudahnya ia mengucap doa tobat: Saya mengaku …. Saya berdosa dengan pikiran, dan perbuatan (?) Ah tidak kan, Tuhan. Saya tidak sedang berbuat dosa—ia meralat pada kata ‘perbuatan’. Namun di akhir doa, ia selalu bermohon agar jangan dimasukkan ke dalam pencobaan: agar hatinya jangan sampai menginginkan Lumi Ceri.

Tapi situasi memperindah bangunan gereja membuat kesempatan bertemu Lumi Ceri tak terhindarkan. Di lain sisi Lumi Ceri merasa terharu diperlakukan amat sopan oleh seorang imam, seorang pastor, yang kadang ia menemukan gelas bekas minumnya sudah menggantung bersih di rak—Tuan Am mencucinya selagi Lumi Ceri sibuk. Selain itu peralatan lukis Lumi Ceri juga sering dirapikan. Lumi Ceri merasa dicintai karenanya. Siapa saya, dalam hati ia berkata: hanya seorang hamba. Kebahagiaan pun melingkupinya.

Selesai membuat mural, yang salah satunya tentang Perkawinan di Kana, melalui juru masak pastoran Tuan Am mendengar kabar Lumi Ceri membatalkan pertunangan dengan sang kekasih. Malam harinya tunangan Lumi Ceri datang ke mimpi Tuan Am. Awan turun, gerimis jatuh. Tunangannya itu antara sedih dan murka. Dengan kuda hitam ia menuju Tuan Am, dan tampaklah sebilah pedang berkilat-kilat di tangannya.

Meski kedatangan itu hanya mimpi, Tuan Am tetap membicarakannya dengan Lumi Ceri. Lumi Ceri mengaku jatuh hati padanya. Tuan Am meyakinkan Lumi Ceri itu tidak benar. Itu tidak benar. Kamu hanya mencintai tunanganmu, katanya berkali-kali. Tapi Anda juga menyukai saya bukan, Lumi Ceri mendesak. Tuan Am gundah namun ia membohongi dirinya dan Lumi Ceri. Lumi Ceri bilang tidak mencintai tunangannya, itu hanya perjanjian antara orangtua kedua belah pihak saat mereka masih kecil. Tuan Am tetap meyakinkan Lumi Ceri bila perasaannya yang sekarang tidak benar. Setelahnya Tuan Am meninggalkan Lumi Ceri. Lumi Ceri berlari memeluk Tuan Am dari belakang. Seseorang dari kisi jendela ruang masak melihat peristiwa itu sebagai sebuah kebenaran. 

“Cokelatnya sudah sangat dingin, Tuan Am. Mari diminum dulu,” ujar Nori, membuyarkan Tuan Am dari ingatan.

“Ini tisu. Mata Tuan basah dan merah.”

Tuan Am kikuk, merasa malu ketahuan.

“Gerimis juga sudah reda,” tambah Nori.

Di luar sana Tuan Am melihat hari sudah mulai gelap. Tampak kunang-kunang terbang ke kebun sawi di samping kedai. Meski perjalanan hampir dua jam dan harus pelan-pelan menuju stasi di pedalaman desa, Tuan Am mengerti tidak mungkin menumpang tidur di kedai Nori.  

Tuan Am menyalakan motor trail-nya. Ia bunyikan “pip” saat roda mulai bergerak. Pada kaca spion yang masih diterangi lampu, ia melihat Nori berdiri sambil memegang sesuatu dalam botol dan itu mengingatkannya akan cokelat sepuluh tahun lalu. Dan seketika itu pula, dalam pikiran Tuan Am menyanyi Ariel Noah dan Bunga Citra Lestari: aku mencintainya, menjaganya dalam rahasia. ***

Riau, Juli 2020


Jeli Manalu, saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018. Buku keduanya “Semangkuk Sup Bayam untuk Tuhan” sedang proses terbit.


[1] Doa sembilan hari berturut-turut untuk memohon suatu wujud kepada Tuhan.

Cerpen

Insiden Martapura

Cerpen Han Gagas

Satu minggu setelah kota ini dikuasai Corona, gempa bumi menggulung rumah semua penduduk. Lori menyelamatkan diri dengan cara sembunyi di kolong meja. Nyawanya selamat, hanya kakinya nyaris lumpuh karena kena runtuhan balok rumah. Dengan usahanya sendiri sebisanya ia memulihkan luka itu walau hanya memakai obat-obatan terbatas yang kebetulan disimpan keluarganya.

Gagak berkerumun di setiap tonggak pohon yang tersisa. Langit nyaris kelabu setiap hari, mendung setiap waktu, malam tak ada bintang, udara menjadi dingin. Tak ada sinar matahari yang cukup bisa menerobos tebalnya mega-mega. Rumah-rumah yang telah kosong akibat kematian massal oleh corona membeku dalam kesunyian.

Lori menangis saat menyadari bahwa seluruh anggota keluarganya mati. Adiknya, Rara kena longsoran dan tertimbun rumah. Istrinya, Widuri juga mengalami nasib sama, termasuk kedua anaknya, Banu dan Margo. Ia nyaris bunuh diri, merasa sebatang kara, dan sejauh matanya memandang, tak ada lagi kehidupan yang terhampar di mukanya, selain dengung lalat dan kaok gagak yang memenuhi angkasa.

Tapi kehidupan berpihak padanya, sembari menyembuhkan diri sendiri, dan makan apa saja yang tersisa, ia mencoba bangkit. Lori mengayunkan satu kakinya, berjalan pincang menuju jalan. Ia tahu satu kakinya telah mati rasa, dan sadar bahwa tak ada orang di desanya yang selamat. Tak ada suara rintihan bahkan embusan napas dari binatang sekalipun.

Awalnya ia hendak meratap pada langit, namun saat langit pun terasa digulung mega hitam, ia menyadari bahwa alam tak sanggup melawan kekuatan gelap ini. Tampaknya hanya kekuatan gelap yang tega memporak-porandakan seluruh kehidupan.

Lori tak ingin percaya pada Tuhan, walau dulunya saat kehidupan masih normal sebelum corona mewabah, setiap pekan ia selalu sembahyang, namun melihat ini semua rasanya ia pilih tak punya iman. Iman tak bisa mencegah bencana menggulung kehidupan.

Martapura, Martapura, kampung yang semula indah menawan hingga mengundang banyak turis datang, kini seperti bak sampah yang dituangi isi comberan dan buangan limbah. Lori melangkah pincang dan saat badai debu beterbangan menutup pandangan, ia melihat sebuah lampu berkedip-kedip mendekat. Ia mencoba melambaikan tangan, walau lemah, pengemudi itu tahu ada setitik kehidupan di depannya. Lampu mobil menyala terang, dan sebelum badai debu menerjang masuk, ia membuka pintu, Lori meloncat masuk.

“Syukurlah kau selamat, Nak.”

Lori hanya mengangguk, memandang si pengemudi yang seperti ia kenal, namun lupa di mana mereka pernah bertemu.

“Kau lupa padaku?”

“Sesungguhnya kita kena apa?” Tak menjawab, Lori malah bertanya.

“Petaka, Nak. Petaka.”

“Tak adakah bantuan?”

“Virus, Nak. Tak baca beritakah kau, sebelum gempa bumi dan badai debu, virus menyebar lebih cepat.”

“Virus?”

“Ah kau, dasar lelaki tak kenal peradaban!”

“Sejak tiga bulan ini tak ada pasokan koran ke desa kami. Telepon telah lama dibuang karena tak ada sinyal, tak ada berita apa pun, yang kudengar dari seorang sejawat yang baru datang dari kota, negeri sedang genting, virus menyerang ganas. Kukira itu hanya khayalan, kau lihat sendiri, bukan perang yang menghancurkan kami, tapi si kutu kecil, kecil.”

“Iya, dan gempa.”

***

Kini Lori ingat, pengemudi itu teman ayahnya dahulu. Ia bernama Sukarta. Ayahnya sering bercerita tentang dia, lelaki bermoyang leluhur dari Jawa yang suka semadi, yang tak mengenal agama modern, yang selalu hidup dari satu kuburan ke kuburan lain, kuburan yang dikeramatkan penduduk lokal.

“Ia lelaki kuburan, tiap hari menggelandang berjalan dari satu makam ke makam lain, menolak tumpangan. Ia dituduh gila,” kata ayahnya suatu kali.          

Jamala, jamala sikile sèwu, jamala, jamala sikile sèwu,” Sembari menyetir Sukarta mengucapkan sesuatu.

“Bahasa apa kau ucap itu?”

“Jawa Kuno, dari negeri sebelum Majapahit berkuasa.”

“Bagaimana kau tahu virus bisa musnah karena mantra itu?”

“Dia tak bisa dimusnahkan, hanya saja aku masih ingin hidup, Nak. Bukankah kau juga begitu?”

“Artinya, mantra ini hanya semacam tolak bala?”

“Hmmm, semoga.”

Lori mencoba menirukan kata-kata itu. Lidahnya sempat selip karena sukar mengatakan sesuatu dari bahasa asing yang sama sekali belum ia kenal.

“Tenanglah, dan pelan-pelan,” ucap bibir si tua itu.

“Sing aama sing awulu, padha sira suminggaha, balia mring asalneki

Sukarta seperti bernyanyi, namun suaranya terdengar aneh, membuatnya seperti terisap ke alam lain, magis.

“Apa kau menyanyi?”

“Ini nembang, nak.”

“Bah, sulit sekali menirukannya!”

“Dalam keadaan yang kalut begini, hanya kesabaran dan ketenangan yang bisa menyelamatkan kita. Semua telah mati, kan?”

Kesadaran Lori seketika terisap. Hidup sehari-hari kecuali sepekan sekali yang ia harus bersembahyang, diisinya dengan mabuk. Lori heran kenapa orang seperti dia yang justru selamat, bukan istri atau adiknya, Rara yang saleh. Mereka rajin beribadah, melakukan pelayanan darma sosial, dan bermurah hati, sedang dia selain mabuk, juga suka main perempuan. Pelacur telah banyak ia tiduri. Namun anehnya wajah para pelacur itu tak satupun yang bisa ia ingat. Bahkan bayangan sosoknya sekali pun.

Kini yang terlihat justru puing-puing bangunan yang berserakan, tiang-tiang lampu kota yang ambruk, yang syukurnya kabel-kabelnya tak menghalangi jalan mobil mereka. Kawanan gagak terbang rendah dan melayang-layang di depan mereka. Jasad-jasad tubuh manusia dan hewan bergelimpangan. Bau busuk dan anyir telah menumpulkan penciumannya sejak lama.

Sukarta menaikkan semua kaca mobilnya hingga tertutup sempurna, namun anehnya bau busuk tetap menembus ke dalam mobil, tampaknya lewat berbagai lubang mesin dalam kap, dan menembus pori-pori karpet lantai di bodi mobil.

“Brakkkk!” Mereka tersentak kaget.

Tiba-tiba gagak-gagak mendekat dan sebagian menabrakkan dirinya ke kaca mobil, menciptakan secarik darah merah kental membercak di kaca. Untungnya tak menghalangi seluruh pandangan Sukarta buat menyetir. Setelah mengurangi gigi perseneling, ia menginjak pedal gas.

“Kita harus segera pergi meninggalkan tempat terkutuk ini.”

Perasaan Lori masih tercekat. Sukarta melihat wajahnya yang pucat macam mayat.

“Tenanglah, Nak. Perilaku mereka tambah aneh dan berbahaya, apalagi kalau malam, kelelawar lebih ganas, tetapi tenanglah.”

Jalan yang dipenuhi debu menghalangi pendangan, namun Sukarta seperti punya mata batin dan indera ke-6, selaksa kilat mobil melaju kencang.

Perbukitan sedikit terlihat di depan, dengan jalan berkelok-kelok dipenuhi hutan pinus yang kelabu. Daun-daunnya membercak putih terlengketi debu.

“Hendak ke mana kita?” tanya Lori.

“Ke makam di atas bukit.”

“Kuburan?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Hanya di sana tempat yang aman.”

“Kenapa?”

“Tempat itu diselubungi medan energi yang amat besar, ah kau tutup mulutlah.”

Martapura, Martapura, kini desa itu telah jauh di belakang mereka, meninggalkan kenangan yang menyumpal pahit di hati Lori. Rara, Widuri, Banu, dan Margo. Perasaan Lori gemetar hebat. Tanpa ia sadari matanya telah berkaca-kaca.

“Masih jauh perjalanan, tidurlah, kita akan sampai sana menjelang malam.”

***

Makam yang aneh. Sepanjang sepuluh meter. Di nisan tertulis Datuk Sanggul. Lori pernah mendengar nama ini. Seperti nama yang akrab dengannya tapi ia lupa menaruhnya di laci ingatan yang mana.

Kabut memenuhi seluruh hamparan makam yang diayomi Pohon Judas besar dengan jutaan daun-daun kecil yang berguguran kala ditiup angin. Berbeda sama sekali dari Martapura, area makam ini tampak kehijauan seperti terlindungi dari gempa. Benar apa yang dikatakan Sukarta, tak ada kerusakan sedikit pun, dan bahkan alam sekitar makam terlihat alami dan damai. Medan energi positif makam serasa menyebar ke sekitarnya. Seekor burung sendirian terbang berputar-putar di atas mereka, itu adalah elang yang putarannya seolah melakukan tawaf pada makam ini.

Sukarta duduk termangu, lalu ia tiba-tiba berdiri, membacakan sajak aneh yang terasa seperti nyanyian tembang dari bahasa antah berantah. Walau Lori tak mengerti artinya, bulu kuduknya berdiri, nyalinya tergelincir dari geming, suara itu menyatu dalam keheningan alam.

Teriak elang membahana, suaranya menghunus, memusar bersama desau angin. Dan angkasa tiba-tiba dipenuhi oleh titik-titik hitam. Jutaan titik-titik itu bergerak membesar, membentuk sesuatu yang mulai tampak mengerikan.

“Jangan gentar.”

Ternyata sajak itu telah selesai. Mulutnya menggetarkan kembali mantra yang aneh. Bibirnya komat-kamit, wiridan.

Jutaan titik-titik hitam itu ternyata ribuan kelelawar yang terbang dengan latar mega-mega yang menggumpal pekat dan hitam, tampak mengancam. Keserempakan itu seperti menatap nyalang ke arah mereka.

Tubuh Lori menggigil ketakutan.

Tanpa sepenuhnya Lori sadari, mulutnya mendaraskan segala doa yang masih bisa ia ingat. Hafalannya sejak kecil nyatanya tak bisa ia andalkan, banyak ayat-ayat yang terpotong, namun kali ini entah kenapa hatinya bergetar saat menyebut nama Tuhan.

Rara, Widuri, Banu, dan Margo. Mereka hadir seperti diturunkan begitu saja oleh Tuhan di hadapan Lori menjadi tameng yang aneh.

Sukarta meneriakkan kata-kata abstrak, seperti orang gila, ia berlari-lari memutari makam sembari menunjuk-nunjuk langit. Hawa terasa jadi begitu dingin, angin merajam tulang, dan rongga langit membesar, ada lubang hitam yang muncul dari dalamnya, menyedot apa saja.

Tiba-tiba Lori teringat wajah para pelacur itu, membayang jelas satu per satu di pelupuk matanya. Dosa membaur dalam pengakuan. Lelaki tua menyentuh bahunya, dan berkata, “Inilah saatnya.” Tangan keriputnya mendorong Lori hingga terjatuh.

Lori terduduk dan menitikkan air mata. Ia teringat sepuluh larangan dari Tuhan yang semuanya telah ia langgar.

Jutaan kelelawar menyebarkan jala hitam ke seluruh dunia. Lori tak berdaya.***


Han Gagas, penulis kumpulan cerpen Catatan Orang Gila (Gramedia Pustaka Utama, 2014), novel Orang-orang Gila (Buku Mojok, 2018), dan novel Jack dan Si Gila (Rua Aksara, 2020).

Cerpen

Suara di Tengah Malam

Cerpen Risen Dhawuh Abdullah

Bapak pulang dengan wajah lesu. Langkahnya tampak tak bertenaga. Ia seperti ingin segera roboh di tempat tidur. Langkahnya berhenti di ruang tengah lalu duduk di sebuah kursi. Sementara ibu sedang mengambilkan air minum di dapur untuk bapak. Perutku terus bernyanyi sedari sepulang sekolah. Sehari ini, aku baru makan pagi.

Aku sangat berharap, berhentinya bapak di ruang tengah membawa kabar gembira bagi kami—aku dan ibu yang menunggunya pulang dari mencari nafkah. Kata ibu, hari ini ia sama sekali tidak memegang uang, sehingga ia tidak bisa membeli lauk untuk makan siang dan malam. Tadi pagi, kami bertiga memang makan, dengan sisa lauk kemarin. Sebenarnya jika doyan, aku sudah mengambil nasi di soblok, dan menaburinya dengan garam, begitu mengetahui ibu tidak memasak lauk untuk makan siang dan malam hari. Ibu memang gemar memasak lauk tiga kali sehari, menjelang waktu makan, meski lauk yang dibuatnya sering apa adanya.

“Terpaksa ibu harus utang lagi ke warung Mbah Kami. Sebenarnya bapak sempat mendapat uang dari dua penumpang. Tapi entah di mana uang itu sekarang tidak ada. Bapak sudah cari di semua saku, di becak, sampai bolak-balik di jalan yang bapak lewati karena mungkin jatuh, tapi tidak ketemu,” ucap bapak setelah meminum teh hangat di gelas yang ibu sodorkan. Lantas ibu termangu di hadapan bapak.

Aku loyo mendengar kabar itu—sial betul bapak hari ini.

“Ibu malu kalau harus berutang lagi. Utang yang sudah-sudah saja belum dibayar. Ibu tidak enak dengan Mbah Kami,” kata ibu. “Dan lagi, tumben uang bisa hilang, biasanya bapak teliti.”

Aku sudah menduga ibu pasti keberatan bila berutang lagi bahan mentah untuk membuat lauk. Nelangsa sekali kurasakan. Aku sering miris dengan keadaan ini. Sebuah keprihatinan yang sering kualami. Terkadang muncul keinginan untuk melakukan sesuatu, agar keadaan ini cepat berubah—yang kubayangkan lebih sering pekerjaan yang enak dengan bayaran tinggi, tanpa susah payah memeras keringat. Jika menunggu aku menjadi orang sukses dengan sekolah yang sungguh-sungguh, bapak dan ibu masih akan lama menunggu. Sedang aku sebenarnya sudah tidak tega dengan mereka. Namun, jika melakukan hal selain itu, aku tidak tahu sesuatu apa yang harus kutempuh untuk mengubah keadaan.

Sebenarnya keadaan ini bisa membaik andai bapak mau berpindah pekerjaan, yang mana pekerjaan itu masih ada kaitannya dengan apa yang dikerjakan saat ini. Zaman sudah begitu maju, bapak bisa beralih ke ojek. Bapak sendiri pernah bilang padaku, kalau becak kayuh semakin hari semakin sepi peminat. Pelanggan becak kayuh satu per satu pindah ke ojek. Selain itu, sekarang ini membeli sepeda motor tidaklah sesusah dulu. Orang sekarang bisa pergi ke dealer untuk kredit kendaraan, hanya membawa beberapa lembar uang seratus ribuan.

Aku tidak paham dengan jalan pikiran bapak, yang tidak juga berganti dengan ojek. Kami memang tidak punya sepeda motor, tapi aku rasa itu bukan masalah serius. Ibu memiliki tabungan berupa kalung emas pemberian kakek dulu. Kalau hanya untuk membeli sepeda motor bekas kurasa bisa.

Aku berlalu menuju kamar, menutup pintu dan mencoba untuk tegar. Aku harap bapak dan ibu segera mencari jalan keluarnya. Rasa lapar ini begitu menyiksaku. Aku tidak mungkin memaksa ibu untuk berutang, aku tidak ingin menumbuhkan rasa malu di benak ibu. Beberapa menit kemudian, kerut wajahku menahan lapar mengendur, dan berubah menjadi kegembiraan. Ibu mengantar sepiring mie instan beserta nasi ke kamarku. Aku tidak menanyakan dari mana ibu memperoleh mie instan itu. Aku terlampau gembira.

Lega! Akhirnya perutku terisi. Aku bisa mengarungi malam dengan tidur nyenyak. Terlitas pertanyaan perihal nasib bapak dan ibu; apakah mereka sudah makan. Karena memikirkan itu aku tidak bisa tidur, tapi jika menanyakan kepada mereka, apakah sudah makan, rasanya begitu lucu. Menurutku ibu juga tidak tega kepada bapak, bila hanya aku yang diberi makan, apalagi bapak seharian keluar. Ahh, kukira ibu sudah mengupayakan bapak bisa makan juga.

Untuk menghilangkan pertanyaan seputar nasib perut bapak dan ibu, aku terus memupuk keyakinan mereka juga menikmati makan. Selagi aku di kamar tidur, tak kudengar suara mereka, aku tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan. Tidak juga kudengar suara yang menandakan mereka mengerjakan sesuatu. Jelang pukul setengah sepuluh aku tidur.

***

Telingaku risih, seperti digelitiki. Dengan setengah sadar aku mengusapnya. Aku mendengar suara langkah kaki, benda-benda beradu—seperti suara panci yang membentur lantai, suara pintu dibuka, suara plastik. Aku kembali mengusap-usap telinga, dan keadaanku masih setengah sadar. Mataku masih ingin mengatup. Aku tidak berpikir macam-macam perihal suara itu. Suara-suara itu tidak henti mengangguku dan aku kembali mengusap-usap telingaku. Aku terus berusaha fokus untuk kembali tidur. Namun, tiba-tiba ada suara aneh hinggap di telingaku, dan aku kaget.

Aku terjaga dengan posisi masih rebahan. Kudengar suara itu seperti jeritan melengking yang menyayat. Benakku memikirkan sesuatu, suara itu mirip suara binatang sekarat. Dugaanku, suara itu berasal dari belakang rumah. Karena rasa kantukku masih menguasai, hingga tidak mengundang minatku untuk mendatangi asal suara itu. Aku kembali berusaha memejamkan mata, dan tidak memedulikannya lagi.

Paginya, aku bangun dengan pegal di sekujur tubuh. Aku keluar kamar tidur tanpa merapikan tempat tidur setelah penglihatanku sempurna bekerja. Aku berjalan menuju ruang tamu dan melihat jam dinding, pukul enam lebih tujuh menit. Waktu yang masih terlampau pagi. Bagiku masih ada waktu panjang untuk sampai ke pukul tujuh. Aku gegas ingin mandi. Ketika melintasi dapur, kuhentikan gerak kakiku, mataku tertuju pada tungku yang rongganya ada sisa pembakaran kayu, serta wajan di atasnya yang kotor. Di samping tungku ada beberapa bilah kayu bakar yang ujungnya berwarna hitam. Ada pula sisa asap yang mengepul dari sana—sudah pasti kayu bakar itu baru saja digunakan dan disiram dengan air.

Ibu memasak? Memasak apa? Bukankah ibu sedang tidak memegang uang? Pertanyaan itu mengingatkanku pada hari kemarin, saat aku menikmati mie instan. Aku tidak memberi ibu pertanyaan perihal asal-usul mie instan itu. Aku semakin yakin mie instan itu hasil ibu berutang—lagi-lagi ibu kembali memaksakan diri berutang dan harus menanggung malu. Ya, ibu memaksakan diri untuk berutang. Kenapa aku bisa begitu yakin kalau ibu berutang? Logikanya begini, ibu sudah memasak, ibu tidak memegang uang, warung Mbah Kami belum buka sepagi ini. Apalagi kalau bukan mengutang di hari kemarin? Aku yakin, kemarin ibu berutang mie instan, sekalian bahan baku lauk untuk hari ini.

Pukul setengah tujuh lebih lima menit aku sudah mengenakan seragam sekolah putih biru. Sembari menenteng tas, aku menuju meja makan. Di atas meja makan telah tersaji daging semur yang baunya sedap sekali, tiga tumpukan piring beserta sendoknya, dan sebakul nasi yang masih mengepul. Perutku langsung melilit, nafsu makanku langsung naik. Aku mengambil nasi, sembari izin kepada ibu untuk makan lebih dulu. Bapak tidak tampak batang hidungnya, entah ke mana.

Sesuap nasi beserta secuil daging kumasukkan ke mulut dengan sendok. Aku antusias sekali. Aku mendadak berhenti mengunyah, digerakan kedua. Daging semur terasa aneh di lidahku. Tekstur kurasa tidak seperti daging ayam. Aku melanjutkan kunyahanku sembari menebak-nebak daging apa yang ibu masak. Namun hingga aku menelan seluruhnya, aku tidak menemukan jawaban. Aku masukkan lagi secuil daging, kembali kurasakan dengan lebih teliti. Aku tetap tidak menemukan jawabannya.

“Ini daging apa, Bu?”

“Makan saja. Bersyukurlah hari ini bisa makan enak, tidak usah banyak tanya!” kata ibu.

Setelah menghabiskan daging semur beserta nasi, lidahku kelu. Ada perasaan tidak enak mendarat di hatiku. Aku mengambil kesimpulan berdasarkan pengalamanku selama ini—walau aku ragu—daging yang baru saja kumakan ialah daging kelinci—aku memang pernah makan daging kelinci di rumah seorang temanku, saat mengerjakan tugas kelompok. Kesimpulan itu menerbitkan sebuah pertanyaan penting; jika ibu berutang kepada Mbah Kami, apa mungkin Mbah Kami menjual daging kelinci? Sepengetahuanku, langka sekali orang menjual daging kelinci, bahkan mungkin di sini tidak ada. Aku tidak mau ambil pusing, pertanyaan itu kubuang jauh-jauh dari kepala. Aku pamit kepada ibu untuk berangkat sekolah.

Di halaman rumah, terdapat pohon mangga yang terkena hama. Pohon itu tidak pernah menghasilkan mangga yang manis. Di bawah pohon itu sampah daun kering biasanya dikumpulkan dan dibakar. Di dekat pembakaran daun kering itu ada tempat sampah terbuat dari bambu. Langkahku terhenti, aku tidak sengaja melihat bercak darah yang masih segar di pecahan batubata. Darah itu juga ada di sisi tempat sampah. Saat kulongok isi tempat sampah perutku seketika mual. Aku teringat dengan suara aneh semalam. Aku teringat dengan daging yang baru saja kumakan. Di tempat sampah itu, aku melihat kepala kucing yang berlumuran darah.**

Jejak Imaji, 2020


Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Bila ingin berkomunikasi bisa lewat @risen_ridho.

Cerpen

Tokoh Perempuan dalam Cerpen

Cerpen Nana Sastrawan

“Sempurna!”

Tokoh kita melonjak girang dari tempat duduk walaupun hatinya berdebar-debar, dia terkejut, sangat terkejut. Di hadapannya seorang perempuan mengenakan kaus dan celana jins, meskipun tak minim, kausnya teregang ketat karena dada yang montok. Rambutnya tergerai, panjang dan lurus. Wajahnya putih, mata yang jernih, bibir merah pepaya dan hidung mancung. Sungguh, semua yang terlihat adalah bukan imajinasi. Bukan juga sebuah delusi, atau ilusi. Ini adalah kenyataan. Kenyataan yang sempurna.

Sementara itu, malam semakin malam, udara menusuk tulang. Di dalam kamarnya, tokoh kita mencoba menguasai diri, dia menyalakan rokok, tangannya gemetar, pemantik tak bisa menyala meski berulang kali dijentikan. Lalu, pemantik itu jatuh. Dia segera mencari pemantik itu, tangannya meraba-raba lantai, sementara matanya tidak lepas dari sosok perempuan itu. Lampu di kamarnya mati, hanya cahaya bulan yang menembus jendela sebagai penerang gelap. Pemantik itu ditemukan oleh jemarinya.

Klik. Api menyala, seperti unggun. Rokok terbakar.

“Shhhsh….”  Asap mengepul dari mulutnya.

Tokoh kita menatap takjub, dia seolah sedang meneliti setiap lekuk dan bentuk dari perempuan itu. Mata tokoh kita kini berbinar-binar, dia baru saja menemukan sesuatu yang selama ini ada dalam benaknya.

“Sebentar, sebentar!” ucapnya.

Tokoh kita mendekati tumpukan kertas yang berada dekat printer, tangannya kemudian meraup kertas-kertas itu lalu meneliti satu demi satu, sesekali rokoknya dihisap, asap menyelimuti remang malam di kamar.

“Angel? Jasmine atau Ferrina?”

Dia terus meneliti satu demi satu kertas itu sambil sesekali membacanya. Dalam benaknya ada banyak nama-nama yang diingat yang segera dia ingin yakini bahwa nama-nama itu adalah sesuatu yang terjadi pada malam ini.

“Ah, kalau melihatmu sepertinya kau wanita …. modern! Ya modern! Kalau tidak salah …. Jane!” dia lalu mengacak-ngacak tumpukan kertas yang lain.

Cahaya bulan membantu tokoh kita mencari apa yang dia cari, malam ini memang sangat sepi, suara sepelan apapun pasti terdengar, meskipun itu suara napas sendiri. Malam yang sering orang bilang malam yang paling keparat. Bagaimana tidak, malam yang sunyi seperti ini, tokoh kita masih terjaga dalam kegelisahannya.

“Bukan!” serunya, lalu membanting kertas-kertas itu.

Dia memandang kembali perempuan itu dengan rasa putus asa. Dihisaplah rokok berulang kali untuk menghilangkan rasa gugup dan gelisah yang semakin menyerang pikirannya.

“Namaku Neneng,” ucap perempuan itu.

“Neneng?”

“Iya? Ne-ne-ng.”

“Hahaha… kau terlalu modern, nama itu terlalu udik!”

“Aku memang wanita modern diciptakan untuk mengobati kesepianmu.”

Tokoh kita terperanjat, dia sadar akan sesuatu. Kemudian dia melihat layar laptop, dibaca tulisan-tulisan yang baru saja dia ketik. Lalu, matanya terhenti di sebuah nama, kemudian dia alihkan pandangannya kepada sosok perempuan itu. Persis seperti apa yang dia tulis, tidak ada satu pun yang salah, semuanya sempurna!

***

“Kamu seorang perempuan yang hidup di kampung, segalanya terbatas. Bahkan sekolahmu saja tidak sampai atas. Tapi bicaramu seperti intelektual saja!” ucapku sambil memandang sinis kepada perempuan yang berada di depanku.

Dia sama sekali tidak terusik dengan kata-kataku, tangannya terampil mengukir garis-garis di kain, membuat pola-pola binatang dan pohon.

“Memangnya salah jika perempuan kampung sepertiku terdengar lebih cerdas?”

Aku terdiam.

“Sekarang semua orang harus cerdas kalau tidak pemilihan kepala kampung saja bisa adu jotos karena tidak memakai kecerdasan.”

“Jadi, sebagai perempuan, kamu juga bisa adu jotos?”

Dia menghentikan tangannya, mata yang jernih menatap diriku. Dadaku berdesir melihat sorot matanya, wajahnya tampak bersinar, wajah perempuan lokal yang cerdas dan berpendirian.

“Pernahkan kamu melihat seorang perempuan muda yang tampak begitu rapuh?” tanyanya.

“Pernah. Di kota, banyak perempuan menjadi rapuh karena persoalan uang dan cinta.”

“Aneh bukan? Padahal di kota perempuan-perempuan disekolahkan tinggi. Terkadang pendidikan itu tidak membantu sama sekali untuk seseorang menjadi bijaksana dan dewasa.”

“Memangnya di sini tidak ada perempuan yang rapuh?” serangku.

“Kamu lihat sendiri di kampung ini, perempuan-perempuan bekerja sepanjang hari, bahkan terkadang melakukan apa yang biasa laki-laki lakukan. Memanggul beras, mencangkul, memotong kayu dan menggali sumur. Sejak dulu, wanita sudah ditakdirkan untuk perkasa.”

“Apakah itu artinya kamu ingin mengatakan bahwa perempuan lebih hebat dari laki-laki?” tanyaku semakin sinis.

“Setidaknya, kaum lelaki sadar bahwa perempuan itu bukan kaum yang lemah. Mereka pekerja keras dan setia, mereka juga layak untuk menjadi seorang pemimpin. Sebab, terkadang urusan rumah tangga memang dipimpin oleh perempuan,” jawabnya sambil tersenyum.

Dia kemudian melanjutkan pekerjaannya. Aku mengamati perempuan ini seluruhnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sungguh perempuan kampung yang luar biasa. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan perempuan secerdas dan sekeras dia. Sepertinya dia memang bergaul, dia mengamati seluruh kejadian di negeri ini. Mungkin juga, dia rajin membaca hingga wawasannya luas. Saking asyiknya berbincang dengannya aku tidak sadar di mana awalnya kami membicarakan tentang gender. Yang jelas, aku terpesona.

Jemari lentik perempuan itu terus bekerja, menggores kain polos dengan garis-garis halus, penuh penjiwaan dia mengukirnya, tampak garis-garis itu membentuk sesuatu yang indah dan berkarakter. Khas sekali, mungkinkah dia sedang menuangkan keresahan dalam dirinya kepada sebuah kain tenun? Atau, dia memang sebenarnya perempuan yang kesepian? Tetapi tidak terlihat olehku wajah-wajah sepi dalam dirinya, tidak seperti perempuan yang aku kenal di kota. Perempuan kesepian yang duduk di sudut gelap sebuah kafe sambil sesekali menenggak wine.

Perempuan yang duduk di kafe itu berwajah cantik, tubuh yang proporsional dan berpendidikan tinggi, namun itu semua tertutup oleh kemuraman yang terpancar dari raut mukanya. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu naik ke atas panggung kafe, dia meliukan tubuhnya mengikuti suara musik. Kemabukannya membuat perempuan itu semakin menikmati alunan musik, semua mata lelaki memandang dengan hasrat ingin memiliki. Lelaki memang bajingan.

Musik semakin berdentum keras memekakan telingaku. Di sini, aku semakin merasa tak nyaman. Hidup di kota memang serba bising, tak ada kenikmatan yang bisa aku rasakan, seolah semuanya hanya semu dan kemunafikan. Perempuan itu semakin lincah di atas panggung, liukan tubuhnya membuat hasrat lelaki membara. Aku tertegun menyaksikan itu semua. Tanpa kusadari bergelas-gelas wine kutenggak untuk meredam hasrat. Tetapi, tubuhku semakin memanas, kepalaku lunglai, jatuh ke meja.

“Kamu mabuk?” tanya perempuan itu yang entah sejak kapan berada di sampingku.

Aku mengangkat kepala, terasa berat. Kusaksikan kafe sudah tampak lengang. Rupanya, aku memang mabuk.

“Kepalaku hanya sedikit pusing,” jawabku.

“Mari ikut aku!” ajaknya.

“Ke mana?”

“Minum bir.”

Tanganku diseret oleh perempuan itu, aku tak berdaya mengikuti gerak kakinya menuju parkiran lalu masuk ke dalam sebuah mobil.

“Kamu boleh memilikiku dengan harga cocok,” ucapnya setelah di mobil.

Ah, sialan! Mengapa aku harus bertemu dengan perempuan cantik dan cerdas di kota ini tanpa cinta. Mereka hanya butuh uang, mereka tidak butuh kedewasaan dan kebijaksaan dalam menghadapi hidup ini.

“Mau tidak?” katanya setengah memaksa.

“Aku tidak punya uang,” jawabku.

“Miskin!” Perempuan itu melemparkan tubuhku ke luar dari mobil, lalu mobil itu melaju meninggalkanku yang masih setengah mabuk.

Aku melihat kelebatan cahaya lampu mobilnya saat berbelok dan menuruni tempat parkir, masih teringat dalam benakku, liukan tubuhnya, wajahnya yang cantik dan senyumnya yang manis. Semua itu hilang dengan sekejap hanya gara-gara uang.

“Kamu melamun?” tanya perempuan kampung itu.

Kulihat matanya yang semakin jernih, dia tersenyum. Guratan ketulusan dari bibirnya membuat dadaku berdesir.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Neneng.”

***

Tokoh kita mengucek-ngucek mata, untuk kesekian kali dia ingin memastikan apakah sosok perempuan di depannya adalah tokoh yang ditulis di cerpennya. Dan untuk kesekian kali dia menyakini bahwa ini memang terjadi. Tokoh cerpennya hidup, berdiri di hadapannya dengan tersenyum manis.

“Aku di sini,” ucapnya.

“Ini mustahil!”

“Tidak. Bukankah segalanya mungkin terjadi di dunia ini.”

“Tapi …”

“Namaku terlalu kampungan bukan untuk ukuran tokoh yang cerdas, modern dan dewasa?”

“Bukan itu. Tetapi mengapa tidak semua perempuan seperti dirimu?”

“Ah, mengapa juga semua laki-laki tidak sepertimu?”

Tokoh kita terdiam, berpikir mencari jawaban.

“Semua itu pilihan, bukan?”

“Pilihan?”

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, berulang kali, semakin lama semakin keras membuat daun telinga bergetar. Tokoh kita mengangkat kepala diiringi dengan mata terbuka, sorot cahaya matahari menembus kaca jendela, menyilaukan mata. Tokoh kita melihat ke sekeliling kamar, kertas berantakan di mana-mana, buku-buku berserakan dan asbak yang penuh abu, puntung rokok.

Tokoh kita bangkit dari tempat duduknya, berjalan menghampiri pintu yang digedor, dia membuka pintu, seorang wanita gemuk berdiri dengan wajah yang bengis.

“Bayar kos, udah tiga bulan kamu tidak bayar!” bentaknya.

“Maaf Bu, honor menulis cerpenku belum turun, bisa minta tempo sebulan lagi?”

“Tidak bisa. Bayar atau minggat!”

Perempuan itu tolak pinggang, tokoh kita berpikir mungkin inilah perempuan yang sebenarnya, dan dia adalah laki-laki yang sesungguhnya.***


Nana Sastrawan lahir, 27 Juli. Dia pernah menjadi peserta Mastera Cerpen (Majelis Sastra Asia Tenggara 2013) dari Indonesia bersama. Meraih Penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Solilokui (2019). Buku Kumcernya adalah Ilusi-delusi (2015), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Dan buku cerita anak Telolet (2017), Aku Ingin Sekolah (2018), Kids Zaman Now (2018). Buku antologi puisinya, Tergantung di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2011). Penulis bisa disapa di akun Facebook, Youtube, Twitter dengan nama pena di atas, atau kunjungi www.nanasastrawan.com.

Cerpen

Memancing Bersama Bapak

Cerpen Kiki Sulistyo

 “Ada suatu hari yang akan menjadi hari terakhirmu. Setelah hari itu tidak ada apa-apa lagi.” Begitu kata Bapak ketika suatu malam kami pergi memancing.

Bapak menggunakan pancing lontar tanpa joran. Setelah memasang umpan dan berjalan ke laut, Bapak memutar-mutar tali pancing di atas kepalanya dan melontarkannya sejauh-jauhnya. Lantas dia menjauh dari laut, mengikat tali pancing di sebatang tonggak kecil yang sudah ditancapkan di pasir, lalu duduk menunggu. Jika tali pancing bergetar bisa jadi ada ikan yang sedang memakan umpan. Bapak akan menarik tali untuk memeriksa, jika tali pancing semakin kuat getarannya, bisa dipastikan memang umpan sudah dimakan, saatnya menarik tali pancing untuk melihat hasil.

Kadang-kadang Bapak mengajakku. Satu-satunya tugas yang diberikan padaku hanyalah menemaninya; mendengarkan dia bicara. Sering aku tidak benar-benar paham apa maksud kata-katanya.

 “Terus kita masuk ke alam baka?” tanyaku.

“Iya, alam baka. Artinya tidak ada apa-apa.”

 “Bukankah ada malaikat di sana. Ada surga dan neraka?”

Bapak tidak langsung menjawab. Matanya diarahkan ke tali pancing, tak ada getaran di sana. Bunyi ombak yang tiada henti membuatku kadang tidak menyadari hempasan air itu memang ada, terhampar di hadapan kami.

Semenjak satu-satunya bioskop di kota kami berhenti beroperasi, Bapak tak lagi punya pekerjaan tetap. Semula Bapak bekerja sebagai pengantar rol film, kemudian dipindah ke posisi penjaga loket. Bersama kawan-kawan sebaya, hampir setiap malam aku bermain-main di teras bioskop itu. Kami senang melihat-lihat poster film, meski orang-orang dewasa kadang memarahi kami sebab dianggap mengganggu para calon penonton. Sebagai bocah kami memang berisik, tetapi kami tak pernah berniat mengganggu. Kami hanya gembira, dan kegembiraan dalam diri seorang bocah menjadi kegembiraan yang murni. Mungkin kemurnian itulah yang mengganggu orang-orang dewasa.

Bioskop Ramayana. Itulah nama bioskop di kota kami. Mulanya aku kira itu sekadar nama, mungkin nama si pemilik bioskop. Tetapi ketika kulihat di perpustakaan sekolah ada buku berjudul Ramayana, aku jadi mengerti kalau Ramayana adalah sebuah cerita tentang seorang istri raja yang diculik raksasa.

Meski tidak pernah memberikan karcis gratis padaku, aku senang melihat Bapak duduk di kursi  belakang kaca loket. Aku senang melihat dia memberikan karcis pada orang-orang. Aku bayangkan dia serupa malaikat yang memberikan karcis menuju surga pada orang-orang yang baik hatinya. Di mataku semua penonton bioskop adalah orang-orang baik yang akan masuk surga, sebab wajah mereka selalu tampak bercahaya. Sementara kami, bocah-bocah, hanya bisa berdiri di teras bioskop, melihat mereka satu per satu masuk ke dalam gedung tempat surga itu berada. Memang, sebelum lampu bertanda ‘film utama’ menyala, tirai di mulut pintu tidak akan ditutup. Dari luar kami masih bisa melihat beberapa cuplikan film yang akan diputar di masa datang. Saat-saat itu aku seperti diberi kesempatan untuk membayangkan surga, dan kelak akan tiba masa di mana aku bisa turut masuk ke dalamnya.

Tetapi, kata Bapak, surga itu tidak ada.

 “Berarti neraka juga tidak ada, Pak?” tanyaku. Aku menduga Bapak cuma bercanda, meski air mukanya kelihatan serius.

 “Menurutmu kalau surga tidak ada, apakah neraka ada?”

 “Tapi di sekolahan ada yang menjual buku siksa neraka. Orang-orang dibakar, dipotong lidahnya, ditusuk, disetrika, di..”

 “Ssst, lihat. Umpan sudah dimakan.” Bapak memotong kata-kataku. Aku lihat tali pancing bergerak-gerak. Bapak meraih tali itu dan menariknya pelan-pelan. Getarannya makin kuat, pertanda memang ada ikan yang sedang memakan umpan. Dengan sigap Bapak menarik kuat-kuat tali pancing itu, terus-menerus, seperti orang hendak menurunkan layang-layang. Aku bayangkan seekor ikan besar telah kami dapatkan; mungkin ikan pari, meski aku berharap itu ikan kerapu, ikan dengan daging yang lembut dan gurih. Aku lihat kegembiraan di wajah Bapak, kegembiraan yang murni. Aku bayangkan kegembiraan yang sama akan memancar di wajah Ibu, kalau nanti kami membawa seekor ikan besar sebagai hasil usaha.

Semenjak bioskop ditutup, Bapak dan Ibu sering bersitegang. Memang tidak pernah sampai berteriak-teriak. Tapi pernah kulihat Bapak dengan muka merah melempar gelas berisi teh panas ke tembok. Aku sempat berteriak, tetapi teriakanku tidak bisa menahan gelas untuk menghantam tembok dan pecah berkeping-keping. Saat itu Ibu menangis. Aku tidak tahu apa yang mereka permasalahkan, yang kutahu masalah itu tidak panjang. Mereka segera kembali seperti biasa, tenang dan tak banyak bicara. Sering aku berpikir ketenangan itu bisa terjadi berkat doa-doa Ibu; tidak seperti Bapak, Ibu memang rajin sembahyang. Tetapi di lain kali aku berpikir ketenangan itu terjadi karena Bapak selalu bisa menyadari kesalahannya dan tak sungkan meminta maaf.

Bioskop Ramayana terpaksa harus tutup karena tidak ada lagi orang yang mau menonton. Perlahan-lahan orang memilih membeli pemutar video yang memang baru saja masuk ke kota kami, memenuhi rak toko-toko elektronik. Bersamaan dengan itu, penyewaan maupun para pedagang video bajakan menjamur. Harganya jauh lebih murah dari harga tiket bioskop. Bahkan satu keping bisa berisi beberapa film. Aku merasa tidak ada lagi orang yang mau masuk surga bersama-sama. Mereka membangun surga mereka sendiri, di dalam rumah masing-masing.

Namun, tidak demikian dengan kami, Bapak tidak punya cukup uang untuk membeli mesin pemutar video, tidak cukup punya uang untuk membawa surga ke rumah kami. Tanpa surga, rumah kami terasa tenang, nyaris tanpa suara-suara. Berbeda dengan rumah para tetangga.  

Sejak bioskop tutup, Bapak beralih mengerjakan apa saja yang dia bisa; jadi tukang catut yang menjualkan barang orang, jadi tukang perbaiki alat-alat elektronik, membantu tukang kayu atau tukang batu, bahkan kadang-kadang membeli nomor porkas. Kami, para bocah yang beranjak remaja, tidak lagi gemar bergerombol di teras bioskop yang pelan-pelan mulai ditempati para pedagang batu akik, tembakau, atau jam tangan. Aku tak lagi menunggu Bapak selesai bertugas sembari menikmati permen Sugus dan melihat orang dewasa lalu-lalang di jalan.

“Nanti di surga kita tidak perlu mancing lagi ya, Pak. Ikan apa saja yang kita mau akan langsung tersedia.” Ternyata, bukan ikan pari atau ikan kerapu yang berhasil kami dapatkan. Ikan yang menggelepar-lepar di pasir itu berwarna keperakan dengan garis-garis hitam. Itu ikan korangan. Tapi aku tidak kecewa, seekor korangan juga enak digoreng, apalagi ditambah sayur bayam dan sambal. Air liur kutelan membayangkan santapan nanti.

Entah kenapa di saat yang sama aku juga teringat pada komik neraka yang kubeli di penjual mainan depan sekolah. Tiba-tiba aku takut Bapak akan masuk neraka karena pernah melempar gelas berisi teh ke tembok. Aku juga teringat pada buku cerita Ramayana, dan takut pada kemungkinan, bahwa pada saat melempar gelas berisi teh itu Bapak sebenarnya hendak meminta Ibu menceburkan diri ke dalam api, seperti permaisuri raja. Aku tidak mau Bapak masuk neraka, aku juga tidak mau Ibu masuk ke dalam api.

 “Sudah Bapak bilang, surga itu tidak ada,” jawab Bapak. Aku perhatikan parasnya untuk mencari jejak kemarahan. Tidak ada. Paras Bapak malah tampak bercahaya seperti ketika dia duduk di belakang kaca loket.

“Kalau surga tidak ada, kenapa Ibu rajin berdoa?” tanyaku sembari memperhatikan Bapak yang sibuk memasukkan ikan ke dalam keranjang dan menyiapkan umpan berikutnya. Bapak bilang, “Karena Ibu tidak ingin kita menderita. Ibu ingin kita hidup bahagia. Tapi kau lihat, tidak ada seorang pun yang membantu kita. Bukan karena orang-orang tidak mau, tetapi karena mereka sendiri juga tidak bahagia. Sebab orang-orang tahu, ada suatu hari yang akan menjadi hari terakhir mereka.”

 “Saya tidak mengerti, Pak.”  Bapak tidak membalas ucapanku. Aku tidak tahu dari mana dia mendapat kalimat-kalimat itu. Mungkin dari film-film yang dia tonton, mungkin dari pengalaman hidupnya yang tak banyak aku tahu. Kembali dia memutar-mutar tali pancing di atas kepalanya dan melontarkannya jauh-jauh ke tengah laut. Baru aku perhatikan tubuh Bapak yang pendek dan kecil seakan menyimpan kekuatan besar. Aku merasa akulah umpan itu, dilemparkan ke tengah laut dan tak tahu adakah ikan yang mau menyambut.

Bunyi ombak tak pernah sedikit pun berhenti, terus berulang-ulang, seperti mendapat siksa sebagaimana orang-orang berdosa dalam komik yang pernah kubaca. Kudongakkan kepala, menatap langit yang tak menampakkan bulan. Aku bayangkan di atas sana, di ruang lapang terbuka itu, berdiri sebuah bioskop. Lalu dengan kegembiraan yang murni, aku, Bapak, Ibu, dan semua kawan-kawanku, masuk ke dalamnya. ****

Mataram, 13 Juni 2020


Kiki Sulistyo, meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.

Cerpen

Selalu Ada Cara Diam-Diam untuk Satu Persoalan

Cerpen Ian Hasan

Ada satu cara manjur, nyaris sempurna kau yakini kebenarannya untuk menyelesaikan kebuntuan ketika berhadapan dengan suatu persoalan. Cara itu bukan didapat lewat pemikiran yang serba rumit atau semacam pertimbangan yang menguras energi dan kewaspadaan, tetapi lewat pemusatan perhatian dan ketenangan yang memadai untuk memutuskan tindakan. Keyakinanmu itu nyaris sempurna karena belum kau temukan cara lain, sedangkan kau sendiri cukup menyisakan dugaan bahwa mungkin masih ada sebagian orang berkeyakinan lain tentang hal itu.

Kau ingat suatu ketika pernah menghadapi situasi sulit semacam itu, setidaknya untuk ukuranmu sendiri di awal-awal punya anak. Kau sampai tak bisa berkata-kata apapun ketika seorang mantri menyebut biaya berobat anakmu yang nilainya dua kali lebih besar dari sisa uang harian yang kau punya. Hal berbeda kau lihat di raut wajah istrimu yang kemudian meminta kau keluar menggendong anakmu. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam ruang praktik, sehingga kalian tetap bisa membawa sejumlah obat di dalam kantong plastik putih, secerah langkah kalian pulang ke rumah setelahnya.

Sejak peristiwa itu kau mulai mengamati kecenderungan orang mengambil cara diam-diam demi mendapatkan jalan keluar terbaik di kehidupannya. Seperti halnya ketika beberapa waktu berikutnya kau setengah dipaksa menemani pimpinanmu yang diam-diam menikahi seorang gadis di lereng gunung. Dia putuskan itu karena tak ingin masa depan keluarganya hancur sedangkan istrinya sudah tak sanggup lagi meladeni kebutuhan pentingnya sebagai laki-laki. Hati kecilmu tentu saja berontak, tetapi mengingat hanya cara itu yang bisa menopang keberlangsungan aktivitas yang kalian jalani, kembali kau yakini kalau diam-diam adalah solusi.

“Jika kita pernah buruk pada suatu masa, bukan berarti kita akan mengotori sepanjang hidup kita dengan keburukan,” jelasnya, menjawab kegamanganmu terkait keputusannya, “dan setiap orang pasti memiliki cita-cita yang diperjuangkan, seburuk apapun cara meraihnya,” tambahnya sembari memutar kemudi mobil yang kalian kendarai.

Kau balas penjelasan itu dengan beberapa kali anggukan, sembari matamu menerawang jauh, membayangkan keburukan lain apabila tidak memilih cara diam-diam. Jujur, saat itu keyakinanmu mengenai cara halus itu belum sebulat sekarang. Kau masih terlalu percaya diri untuk berharap mengenai kehidupan yang serba lantang. Segala urusan diselesaikan dengan terbuka tanpa harus ditutupi. Perkara-perkara pelik bisa jadi lebih mudah diuraikan ketika berhadapan langsung dengan sumbernya, tak perlu dihindari dengan mencari jalan lain yang lebih sunyi. Tetapi apakah diam-diam itu juga berarti sembunyi-sembunyi? Sedangkan seorang pengecut pun bukan berarti mampu menguasai cara itu dengan baik, mengingat adanya sederet risiko yang harus disadari sejak awal, sebelum memutuskan bertindak dengan cara diam-diam. Kau pikir, melakukan cara itu juga harus dilandasi kepercayaan diri yang kuat, selain sikap tenang, dan perhatian penuh akan jalan keluar yang memang sudah di depan mata. Ibarat menangkap ikan tak perlu membuat airnya keruh.

Sebagai seorang aktivis, ingatanmu tiba-tiba menggapai satu kisah penting terkait berdirinya republik ini. Saat di mana secara diam-diam pula, para pemuda menculik dua pemimpin yang dianggap mewakili keutuhan bangsa. Dapatkah dikatakan tindakan para pemuda itu sebagai pengecut? Sedangkan pilihan cara lain justru bisa membuat nilai kemerdekaan bangsa ini jadi berbeda. Faktanya, keesokan hari setelah penculikan itu proklamasi kemerdekaan dibacakan, lebih lantang menyuarakan kebebasan dari skenario penjajah, juga terhindar dari kekonyolan cara-cara gegabah. Meskipun pada awalnya, perdebatan dan silang pendapat hampir saja menggagalkan semuanya.

Sebelum hari ini, kau sudah sering diperingatkan orang-orang terdekatmu terkait keyakinan yang ada dalam diri atas cara itu, termasuk oleh istrimu sendiri. Dia berkali-kali memintamu berhenti dari aktivitas bawah tanah yang menurutnya sangat berbahaya, terutama menyangkut keselamatan keluarga kalian.

“Memangnya kamu punya simpanan senjata?” tanya istrimu, ketika mengetahui siapa kekuatan yang sedang kau lawan.

Kau lalu menjelaskan perihal aktivitas kelompok yang belakangan ini bergerak sunyi. Siapa yang mau nyawanya hilang sia-sia ketika teriakan tuntutan dan selebaran protes, justru membangunkan kemarahan harimau dan ular yang bersarang di tampuk kekuasaan? Nyaris tak terhitung lagi berapa nyawa kawanmu yang melayang di keramaian demonstrasi atau cukup sial dengan hanya menjalani bui karena didakwa membahayakan.

“Takut?” Tak kau duga, istrimu bertanya begitu.

“Bukan begitu juga.”

“Lalu?” Istrinya mulai mencium ketidakberesan dan memandangmu penuh curiga.

“Sudahlah, aku tak mau malam ini berantakan sebab anak-anak terbangun oleh suaramu.”

Malam itu, ditemani irama rintik hujan yang menggairahkan, kau ajak istrimu melakukan cara diam-diam di tengah kesibukan yang menghujani malam-malammu sebelumnya.

Keesokan harinya, tatkala istrimu belum selesai menyiapkan kopi dan anak-anak masih tenggelam dalam nyenyak mereka, terdengar salam dan ketukan di pintu depan.

“Kenapa?” tanyamu begitu melihat Seno dan Jalal di depan pintu.

Hawa dingin pagi itu tak sanggup menyembunyikan kepanikan di wajah mereka berdua, membuatmu buru-buru mengajak mereka masuk.

“Kongres belum selesai, Serikat Petani Kang Din didatangi aparat,” setengah berbisik, Jalal menyampaikan kabar dari Salatiga.

“Mama Tata juga, ladang sorgum kelompoknya di Flores kena gasak, padahal tinggal seminggu lagi panen.” Seno menggebu menyampaikan itu seakan tak mau kalah dari Jalal.

“Maksud kalian ke sini?” tanyamu singkat.

“Jejaring gerakan mulai terbaca,” jawab mereka hampir bersamaan. Efektivitas gerakan bawah tanah mulai dipertanyakan beberapa kawan, karena tetap saja denyut sekecil apapun dibungkam dengan dalih penyelewengan kepercayaan. Kalian bersepakat menduga, ada oknum-oknum yang disusupkan. Kedua kawanmu langsung menyarankan agar kau menjauh dari keluarga untuk beberapa waktu sampai situasi aman. Hening beberapa saat membuatmu cukup punya waktu berpikir lantas memutuskan mengikuti mereka.

***

Ketika langit sore belum sepenuhnya berubah kelam, saat kebanyakan orang sibuk menyiapkan kedatangan malam, dua orang lelaki bergegas meninggalkan sepenggal kisah mereka di tepian telaga.

“Apa boleh buat, meskipun kita tahu tunduk dan tidak itu urusan hati.”

“Iya, Kang. Tindakan lahir juga belum tentu mewakili niatan, bisa saja itu siasat yang memang harus dilakukan untuk satu persoalan.”

Tanpa mereka ketahui, diam-diam kau ikuti ke mana pun mereka pergi, menghantui mimpi mereka tentang kebenaran yang diyakini.***


Ian Hasan, pegiat di Pasamuan Among Anak (Pamongan) di Karanganyar. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata di Karanganyar.

Cerpen

Gasing Tengkorak

Cerpen Siska Amelia

Wajahnya tampak gelisah. Rambut ikal sebahu tergerai dilapih kelembai. Sesekali mulut dibuka lebar, tertawa sambil membelalakkan mata, mengedarkan tatapan liar pada dinding bercat abu-abu. Penat melepas tawa tak beralasan, ia meraung-raung. Ditarik-tariknya rambut, lalu berteriak tidak menentu.

Berkerumun warga saat ini menontonnya. Rupanya pekik wanita itu, beserta bunyi gaduh dari benda yang dilempar sana-sini mengundang rasa tanya tetangga untuk melihat apa yang tengah terjadi. Pintu terbuka sangat lebar. Satu di antara tetangga yang datang, begitu menyaksikan perilaku tak wajar perempuan berlesung pipi ini, segera menekan tuts gawai dan menghubungi beberapa kawan. Tidak berselang lama, rumah dipenuhi banyak mata memandang, namun tak ada yang kuasa menjadi penenang.

Si wanita semakin menggila tingkah lakunya. Sama sekali tidak memedulikan banyak pasangan mata yang tengah menatap heran. Dia mulai membuka kancing bajunya satu demi satu. Sambil menari-nari, dilempar serampangan baju itu. Perlahan semua yang menutupi tubuh dilepas. Dengan menyuguhi pandangan beringas, ia menempelkan tubuh bagian depan pada dinding, di samping kiri ranjang. Kuku-kuku panjangnya mencakar-cakar dinding, lalu berteriak, menggeliat, mengamuk, tertawa, dan kadang mengeluarkan suara tangisan. Wanita tak berayah-beribu itu, nampak jelas begitu kesakitan.

Rosmayenti. Begitu warga memanggil namanya. Perawan usia 25 tahun, terkenal seantero kampung Karamba karena kemolekan tubuh dan paras dahayu yang Tuhan anugerahi. Tak ayal, berderet lelaki bertandang hendak mempersunting wanita yang kesehariannya berprofesi sebagai penjual jamu gendong. Sayang, wajah cantik tak selaras dengan tuturnya saat lelaki datang meminang. Rangkaian kata menghunus ulu hati acapkali terlontar dari bibir bergincunya. Menolak mentah dengan kata-kata pedas adalah hal lumrah baginya.

Hide. Satu di antara puluhan lelaki yang kerap mendapat perlakuan semena-mena dari Rosmayenti. Pria yang telanjur jujur mengungkapkan segala isi hati, malah disiram cerca-maki karena profesinya hanya penjual kayu bakar. Diusahakan Hide meredam hati yang memanas. Bergeming. Lelaki piatu tersebut memutuskan pergi tanpa wacana walau sepatah kata. Setiba di rumah, sengaja dia menutup rapat kejadian merendahkan harga diri, pada bapak yang begitu dihormati. Enggan Hide berbagi pilu dengan bapak yang turut dihina Rosmayenti. Suasana duka seratus hari kehilangan istri masih membekas basirah. Tentu ia tak mau menambah rasa sakit, jika dia bicara perihal apa yang dialaminya. Namun, saat wajah Hide tampak murung, justru bapak menenangkannya. Hide sedikit heran karena hal itu, dia coba menelisiknya mengapa bapak tampak tenang, tetapi diurungkannya, karena dia pikir itu bukan sesuatu yang buruk, justru dia menganggap apa yang ditunjukkan bapak melegakan hatinya. Hanya pada Mandaro, kawan karibnya, Hide menumpah-ruahkan segala isi hati.

Malam ini, langit tidak mengumbar banyak bintang. Hide yang dihubungi temannya agar menyegerakan langkah ke rumah ini, ternganga begitu melihat Rosmayenti berjingkrak tanpa busana, berkelakuan serupa binatang. Kemudian pikirannya mengembara, menjajaki setiap jengkal kejadian tujuh hari lalu.

“Pernah kau dengar tentang gasing tengkorak, Hide?” Mandaro melempar pertanyaan setelah mendengar semua yang Hide ceritakan. Kening Hide mengerut diiringi gelengan kepala, memberi isyarat bahwa dia tak paham dengan apa yang Mandaro ucap.

“Gasing tengkorak adalah gasing yang dibuat dari tengkorak jidat manusia yang mati berdarah,” tutur Mandaro. Ditatap seriusnya Hide yang mendengar dengan saksama.

“Almarhum kakek pernah bercerita tentang lelaki tua yang memiliki gasing tengkorak di kampung kita,” kata Mandaro melanjutkan obrolan.

“Lalu? Apa gunanya gasing tengkorak untukku, hah? Aku ini jatuh cinta, bukan ingin bermain gasing layaknya anak kecil.” Hide mengeluh kesal. Dihempas paksa tubuhnya pada kursi kayu bercorak kuno.

“Dasar bodoh! Tak tahukah kau cerita tentang gasing tengkorak yang mampu membuat wanita idaman kau menuruti maumu, hah?”

“Edan. Mana mungkin aku lakukan hal macam itu untuk taklukkan Rosmayenti?” ucap Hide. Ditekannya pemantik hingga mengeluarkan api kemerahan. Dia menghisap tembakau kuat sampai bara api meremang.

“Jangan naif, Kawan. Aku bisa saja mengantarmu ke rumah lelaki tua pemilik gasing tengkorak. Kakek bilang bahwa ia telah menurunkan ilmu gasing tengkoraknya pada seseorang.” Mandaro menyeruput  dan merasakan sejenak kopi tanpa gula mengalir, membasahi tenggorokan, lantas kembali angkat bicara.

“Kakek tak pernah bilang kepada siapa lelaki tua itu mewarisi ilmu gasing tengkorak. Kau dan aku bisa bertanya langsung pada lelaki tua tersebut.”

“Lalu?”

“Kita temui pemilik gasing tengkorak yang baru dan meminta agar Rosmayenti tunduk padamu.”

“Memangnya di mana rumah lelaki tua itu?”

Rimbo Data.”

Mereka beradu pandang. Bergeming. Hide hafal jalan menuju rimbo data. Beberapa kali bapaknya mengajak dia ke hutan lebat itu, mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Tetapi, Hide tidak mengetahui ada sebuah rumah di hutan yang lengang. Bapak juga tidak pernah bercerita. Barangkali terlalu sibuk dan fokus memilih kayu untuk keberlangsungan hidup.

Pikiran Hide menerawang, mengingat cerca-maki yang Rosmayenti lontarkan, tidak hanya padanya, tapi juga pada bapaknya. Untuk sesaat, darah dendam mengaliri tubuh Hide, namun raib begitu ia mengenang mendiang ibu yang selalu tanamkan nilai-nilai agama.

Mandaro mengambil secarik kertas dan pena bertinta biru. Ia nodai kertas itu, lalu menaruhnya di meja cokelat bermotif dedaunan.

Netra Hide tertuju pada kertas coretan Mandaro yang tertulis ‘Denah Lokasi Rumah Lelaki Tua Pemilik Awal Gasing Tengkorak’. Hide diam. Satu sisi ia menginginkan Rosmayenti, tapi di lain sisi, ia teringat mendiang ibu. Air muka Hide menampakan kebingungan yang sangat.

Rosmayenti kian meradang. Ia menerkam dan menerjang siapa saja yang ingin mendekatinya. Wanita paruh baya yang berniat menutupi tubuhnya dengan sarung, langsung dicekik hingga tak mampu memekik. Beruntung warga bisa melerai. Nahas, beberapa pemuda yang melerai malah dilempari apa saja oleh Rosmayenti. Tatapannya mendelik ke sekeliling, ia mulai menghalau orang-orang yang awalnya diacuhkan. Mereka ketakutan dan berhamburan, tak mau menjadi korban keberingasan wanita angkuh ini.

Pintu kamar telah dikunci Rosmayenti. Derap langkah warga perlahan menjauh, kembali ke-rumah masing-masing. Meninggalkan Rosmayenti yang terus saja mengerang.

***

Hide mengayuh sepeda begitu terburu. Kertas denah pemberian Mandaro digenggam erat. Ia mulai menapaki hutan rimbo data, membelah jalanan yang ditumbuhi banyak pepohonan besar, juga tinggi. Hawa dingin pagi langsung memagut tubuhnya, serta-merta menghujam wajah penasaran lelaki penjual kayu bakar itu.

Hide memutuskan tidak ingin menuruti saran Mandaro untuk menjadikan gasing tengkorak sebagai media menganiaya Rosmayenti dan patuh padanya. Hide hanya berencana menemui lelaki tua pemilik awal gasing tengkorak, memastikan apakah ada orang lain yang telah mendatangi lelaki tua tersebut. Dia juga hendak menanyakan siapa gerangan pemilik gasing tengkorak yang baru. Menguliti semua hal secara tuntas.

Rasa keingintahuan yang membuncah, membuat Hide semakin menambah kecepatan menga-yuh. Ia mau penderitaan Rosmayenti segera berakhir, walaupun kelakuan gadis berambut pirang itu malah membuatnya menderita. Belum pernah Hide menyayangi wanita begitu tulus, kecuali sayangnya pada Rosmayenti saat ini. Dia juga tidak mau gadisnya merasa sakit lagi.

Hanyalah gubuk reot beratapkan ijuk yang dilihat Hide di lokasi denah. Di sekeliling rumah tumbuh banyak ilalang, hal itu yang membuat Hide tak hirau sebelum-sebelumnya.

Pintu gubuk dibuka lebar seperti menunggu kedatangan tamu. Hide berencana masuk, tapi terhenti ketika melihat Rosmayenti yang berjalan perlahan menuju gubuk. Hide segera menyembunyikan diri di sisi kiri gubuk, memerhatikan langkah Rosmayenti yang memasuki gubuk.

Pintu gubuk ditutup saat Rosmayenti masuk. Hide mengendap-ngendap. Hide mengintip dari lubang gubuk yang ada. Dia melihat lelaki mengenakan topeng tengah memainkan gasing tengkorak. Gasing yang bertali kain kafan terus berputar diiringi sayup nyanyi samar. Asap mengepul dari kemenyan yang dibakar di dalam batok tempurung. Lelaki itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi tumpul begitu melihat kedatangan Rosmayenti. Dengan wajah penuh kemenangan lelaki itu berkata, “Ini ganjaran untukmu karena telah berani meludahi wajahku tiga hari lalu.”

Lelaki itu memerintahkan Rosmayenti untuk berbaring pada kasur tipis yang telah disediakan. Rosmayenti bagaikan boneka hidup yang menuruti saja kemauan lelaki bertopeng. Dengan beringas, dia mulai menggerayangi tubuh Rosmayenti.

Tak tinggal diam, Hide berniat menghentikan perbuatan itu. Namun, belum sempat hal itu dilakukannya, lidah Hide terasa kelu, hatinya getir, badan serasa kaku ketika melihat lelaki itu melepas topengnya dan mencium bibir Rosmayenti.

B … ba … bapak,” ujarnya terbata. Masih sulit hati Hide memercayai lelaki itu ialah orang yang dikenal, disayang, dan sangat dihormatinya.

Seseorang menepuk pundak Hide dari belakang. Segera Hide membalikkan badan. Di depannya berdiri seorang kakek dengan tongkatnya. Dialah lelaki tua pemilik awal gasing tengkorak. Dia menatap Hide tajam sembari menyisir jenggot yang telah memutih, lalu berkata, “Apa yang kau lakukan di gubuk yang telah aku wariskan kepada muridku?”


Siska Amelia, beberapa tulisannya pernah memenangkan lomba, yang terbaru adalah cerpen berjudul ‘Palasik’, menjadi juara favorit lomba menulis cerpen nasional yang diadakan lomba online tahun 2020.

Cerpen

Kari

Cerpen Sasti Gotama

Saya benci kari. Namun, hari ini saya terpaksa memasaknya. Kari yang saya maksud bukan kari ala India, tapi kari ala Indonesia. Shanti, kekasih saya yang memperkenalkannya. Ia berasal dari sana. Namun, seperti kari Indonesia yang menyimpan potongan ayam di balik kentalnya kuah santan, Shanti menyimpan banyak kisah rahasia yang dapat membakar isi koran lokal Warburton di musim salju yang beku.

Musim dingin di Warburton sangat menyedihkan. Kota yang berjarak tujuh puluh dua kilometer dari Melbourne ini di musim panas saja sudah sepi, apalagi di musim dingin seperti sekarang. Beberapa jalanan ditutup dan digunakan oleh anak-anak untuk berseluncur atau bermain bola salju.

Di salah satu jalan utama Warburton itulah, pertama kali saya bertemu dengan Shanti. Suatu hari di musim gugur, ia menggelar lapak makanan Indonesia dalam bazar komunitas. Kala itu, ia terlihat cantik sekali. Rambut hitam panjangnya sesekali dipermainkan angin  sehingga melayang menutupi matanya. Kulitnya yang sewarna kulit gandum tampak begitu menggoda. Bibirnya yang setebal bibir Kim Kardashian tampak sensual. Serasi dengan gaun merah berpotongan rendah yang dikenakannya.

Ia yang menyapa saya lebih dulu kala itu.

“Hai, Tuan. Anda harus mencoba kari kami.”

Awalnya saya tak peduli. Saya takut ternyata ia tak memanggil saya, melainkan lelaki lain di sekitar saya. Saya terbiasa tak terlihat, serupa hantu gentayangan. Namun, ia sepertinya tak menyerah. Ia keluar dari stan dan menghadang saya.

“Kari kami istimewa, Tuan!” katanya dalam bahasa Inggris beraksen Asia. “Ini khas Indonesia,” lanjutnya.

“Apa istimewanya?”

“Kari kami tidak sepekat kari India atau Malaysia. Selain itu juga banyak khasiatnya. Kami menggunakan daun jeruk dan serai segar. Bagus untuk daya tahan tubuh terutama di musim gugur seperti ini.”

“Saya tak suka masakan Asia.”

“Anda belum mencoba.”

“Saya tak ingin mencoba.”

“Anda harus mencoba. Aku beri cuma-cuma.” Ia memandang saya penuh arti. Pupilnya langsung tertuju pada mata saya.

Ia menarik tangan saya menuju stannya dan memberikan satu wadah plastik berbentuk bundar yang saya yakini bukan khusus untuk mengemas makanan. Pastinya kari di dalamnya sudah berubah menjadi makanan beracun yang 
terkontaminasi BPA.

“Aku yakin Anda akan menyukainya. Trust me!” Ia meletakkan bungkusan itu di tangan saya, lalu tersenyum puas.

Sesampai di rumah, bungkusan itu langsung saya lempar ke keranjang sampah. Buat apa? Hanya sekumpulan racun yang akan menyebabkan sel-sel saya bertransformasi menjadi sekumpulan alien ganas.

Namun, esoknya kami bertemu lagi di rumah makan tempat saya biasa sarapan. Rupanya ia bekerja sebaik pramusaji di sana. Ia yang mengantarkan kopi dan panekuk saya.

“Bagaimana karinya?” tanyanya. Hari itu ia memakai pakaian kasual: kaus putih sederhana dan jeans, membuatnya tampak lebih menarik. Rambut panjangnya ia ikat ekor kuda.

“Lumayan,” gumam saya. Saya harap, ia tak punya antena untuk mendeteksi kebohongan. Sebetulnya, saya ingin ia segera menyingkir dari saya.

“Ah, syukurlah. Itu pertama kali aku memasak kari. Biasanya ibuku di Indonesia yang memasaknya. Ia pandai membuat kari. Aku terpaksa belajar kilat membuatnya gara-gara teman satu apartemen memaksaku untuk mengisi stannya.”

Dalam hati, saya mengucapkan syukur banyak-banyak, lolos dari jebakan menjadi kelinci percobaannya.

“Jika Anda suka,  akan kubuatkan lagi. Besok aku antar ke rumah Tuan.”

Oh, tidak! Saya harus membuat alasan. Tapi saya urungkan niat saya. Gadis ini cukup menggoda. Ia sedikit membungkuk di depan saya sehingga dadanya agak terbuka.

“Boleh. Rumah saya di pojok sana.” Saya tunjukkan rumah bercat kelabu  yang tak jauh dari rumah makan ini. Terlihat jelas dari jendela di hadapan saya. “Dan, panggil saya Mark, jangan Tuan.”

Gadis itu tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya. “Shanti,” katanya.

Sejak kejadian setahun lalu itu, kami semakin sering bertemu. Ia kadang mampir ke rumah membawa semangkuk kari, menaruhnya di pantri, dan membiarkannya mendingin sembari kami berbincang. Dan saya selalu membuangnya setelah Shanti pulang.

Ia gadis yang pintar. Bahasa Inggrisnya cukup lancar. Banyak hal yang ia ceritakan, termasuk awal mula ia datang ke Warburton.

“Aku ingin melihat salju.”

Sudah kukatakan, alasannya  aneh. Tapi mungkin sama anehnya dengan alasan kami, warga Warburton, ke Bali hanya karena ingin berjemur di bawah sinar matahari.

Namun, tak lama, alasan Shanti ini berubah. Tepatnya setelah saya memberikan kunci duplikat dan menyilakannya tinggal di rumah.

“Aku melarikan diri,” katanya sambil bergolek malas di tempat tidur, memunggungi saya.

“Dari apa?”

“Pembedaan. Pengucilan.”

“Di?”

“Di rumah, lingkungan, kota, negara, semuanya.”

“Kenapa?”

“Karena aku berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

Ia berbalik badan dan melihat saya dengan mata redup. “Saat lahir, namaku Santo. Padahal, sejak berumur lima tahun, aku merasa sebagai Shanti. Dokter membantuku mengubah cangkang.”

Ia mengatakannya dengan lugas, satu menit sebelum kami bercinta. Hasrat saya sudah memuncak sebelum ia mengatakan hal itu, jadi untuk apa saya menghalangi  apa yang tertunda? Saya tak pernah dekat dengan siapa pun. Bagi saya, ia tetap Shanti yang saya kenal.

Di lain kesempatan, ia juga mulai terbuka tentang perasaannya. Malam itu kami sedang duduk di sofa,  menonton film Pursuit of Happiness.

“Aku  juga ingin bahagia,” bisiknya. Tangannya terbenam dalam mangkuk besar berisi popcorn.

“Berbahagialah.”

“Iya. Kupikir sekarang aku bahagia. Tidak seperti dulu.”

“Kenapa?”

“Karena dulu tidak ada yang mau mengerti. Menurut mereka, aku harus seperti cangkangku. Padahal, aku bukanlah kelomang yang bisa mudah berpindah cangkang. Jika cangkangnya sudah tak sesuai, ia bisa mencari cangkang siput, tutup botol, atau kerangka bulu babi.”

“Hmm ….” Saya tidak terlalu peduli dengan ceritanya. Mata saya lebih fokus ke akting Will Smith yang membosankan.

Shanti menyandarkan kepalanya di lengan kiri saya.

“Di negara asalku, mereka hanya melihat ini sebagai dosa, tanpa peduli apa yang kurasa. Misalnya ini pun memang dosa, lebih baik Tuhan yang menghukumku, karena Dia yang menciptakan dan tahu betapa berat cobaan yang kuhadapi. Aku pun tak ingin seperti ini. Sudah berkali-kali kucoba berlaku seperti cangkangku. Tapi, aku tak mampu.”

Sepertinya ia menangis. Suaranya bergetar. Namun, akting Will Smith yang memuakkan lebih menyita perhatian saya. Memang kenapa kalau dulu ia menderita? Toh, semua telah dilewatinya. Sekarang ia bebas menjadi apa saja yang ia mau.

“Kadang aku iri dengan yang senasib denganku di belahan dunia lain. Di sana, paling tidak mereka masih dianggap manusia. Mereka bisa menjadi pegawai pabrik, pilot, bahkan pramugari. Tapi, aku cukup bahagia saat ini. Hanya saja, aku rindu kampung halaman. Rindu kari buatan ibu.”

Tiba-tiba ia bangkit. “Akan kubuatkan kari!” ucapnya dengan suara serak yang diriang-riangkan. Jemarinya yang lentik mengusap air mata hingga tanpa sisa. Ia segera beranjak ke dapur. Aduh, sepertinya saya harus pura-pura tertidur atau mati saja sekalian. Saya benci kari!

***

Setelah enam bulan bersama, lambat laun ia mulai berubah. Semakin lama ia semakin mengekang. Bahkan untuk hal-hal kecil yang tak penting.

Misalnya saat kami berbelanja di supermarket kota untuk mengisi kulkas kami yang kosong. Ia mempertanyakan mengapa saya tak mau menggandeng tangannya.

“Apakah kamu malu terlihat bersamaku?”

Saya menggeleng. Ayolah, ini bukan masalah malu atau tidak. Memang inilah saya, biasa tak terlihat. Rasanya tidak nyaman, menunjukkan kemesraan di tempat umum. Namun, hal ini membuat Shanti berpikir lain. Ia mengomel di sepanjang lorong-lorong supermarket. Ia mengambil barang-barang di rak dengan kasar dan mencampakkannya ke keranjang belanjaan. Beberapa orang di sekitar memandangi  kami. Saya merasa risih. Saya paling tidak suka menjadi pusat perhatian. Apalagi di kota kecil seperti ini. Sudah saya katakan, hal-hal kecil bisa  membakar halaman-halaman gosip koran lokal.

Sifat paranoidnya semakin menjadi. Ia banyak menuduh saya ini dan itu. Saya pikir, ini berasal dari pikirannya sendiri. Ia merasa tidak aman hanya karena ketakutan-ketakutannya sendiri, bukan karena sesuatu yang nyata.

Puncaknya saat ia menuduh saya berselingkuh dengan rekan kerja saya di perpustakaan kota. Ayolah, saya ini hanya bayangan, tak menarik perhatian. Hanya pria paruh baya yang hampir botak dan membosankan. Tak ada yang melihat saya. Sheila, rekan kerja saya yang berdada rata dan berkaca mata itu paling hanya menanyakan katalog-katalog buku tersimpan di mana. Wajahnya juga biasa saja. Keunggulannya hanyalah ia benar-benar wanita. Namun, hal sederhana ini cukup menyulut kemarahan Shanti.

Saat marah, ia seperti beruang. Ia akan melempar semua benda-benda yang ada di dekatnya. Matanya melotot dan wajahnya berubah merah padam. Ia  banyak memaki dan menggeram.

Seperti pagi ini, ia kalap saat menemukan pesan dari Sheila yang mengharapkan kedatangan saya di pesta ulang tahunnya. Shanti mengamuk dan melempar semua benda di sekitarnya. Termasuk sebuah asbak dari kayu, oleh-oleh teman saya saat ia pulang berlibur dari Bali. Asbak itu cukup berat, dan sukses menghantam sisi kanan kepala saya.

Saya marah! Sudah banyak yang saya korbankan untuknya. Uang yang cukup banyak untuk menutup semua utang-utangnya, juga perlindungan dari jerat deportasi. Saya juga mendengarkan semua keluh kesahnya yang tak penting. Seharusnya ia berterima kasih atau bahkan menyembah saya sebagai dewa penyelamat. Tapi, rupanya ia hanya memandang saya sebagai alat. Atau lebih tepatnya saya diperalat olehnya.

Makanya, hari ini saya harus memasak kari. Harum rempahnya akan menutupi proses pembusukan. Baru kaki dan tangannya yang saya masak. Kepala dan organ dalamnya masih di kotak pendingin. Atau mungkin saya harus coba memasak rendang?


Sasti Gotama, seorang dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi. Beberapa cerpennya telah tersiar di media massa cetak maupun online.

Cerpen

Lelaki yang Memilih Jalan Memutar

Cerpen Iin Farliani

Lelaki itu datang lagi. Ia berjalan seperti biasanya. Ia memakai kacamata. Wajahnya selalu tampak pucat dan tak bertenaga. Aku memandangnya dari konter kedai milikku. Ia sudah memutari jalan sebanyak tiga kali. Artinya, ia juga sudah tiga kali memutari kedaiku. Trotoar ini cukup lebar, berada di depan gedung kesenian. Ada halaman bercoran semen juga yang bersambungan dengan trotoar. Di pinggirnya, pedagang kaki lima menggelar dagangannya. Aku pernah beberapa kali masuk ke dalam gedung kesenian, mengantar pesanan mi ayam dan bakso untuk seniman-seniman yang mengadakan pertemuan di sana. Mereka sangat senang berkumpul, berbicara yang tidak-tidak dan merencanakan hal besar yang tak pernah diwujudkan. Sedikit banyak aku mengetahui apa yang terjadi di gedung kesenian itu. Tapi, laki-laki ini, baru pertama aku melihatnya ketika tak sengaja aku memperhatikan penampilannya yang mencolok.

Beberapa hari terakhir ini, ia suka mengitari gedung kesenian. Ia berjalan sendirian di sepanjang trotoar. Ia akan menempuh jalan memutar untuk kembali lagi ke titik yang sama. Wajahnya selalu tampak serius seakan begitu banyak beban ditimpakan begitu saja di pundaknya dan ia tak punya kuasa untuk menolak. Lelaki itu berjalan, menatap lurus ke depan. Tubuhnya yang jangkung dengan kedua pundak yang berayun-ayun secara perlahan menghilang kemudian di belokan yang menghubungkan jalan lain menuju arah trotoar di belakang gedung.

Kali lain karena terlalu sering memperhatikannya lewat, aku menghitung sudah berapa putaran yang diselesaikannya. Aku yakin sembilan putaran. Kadang aku mendapati ia menggenapinya menjadi sepuluh. Tapi, pada hari itu ketika putarannya baru mencapai angka lima, ia berhenti di depan kedaiku. Ia duduk, terengah-engah membetulkan posisi kakinya yang diluruskan. Ia melepas kacamatanya. Kacamata yang menampakkan lelaki itu sebagai seorang kutu buku. Terlihat bintik-bintik keringat berkumpul di bawah hidungnya.

“Mi ayam atau bakso?” tanyaku. Pertanyaanku rupanya cukup mengejutkannya. Ia baru sadar ada seorang laki-laki yang berdiri di belakang konter.

“Pesan minum saja. Jus kalau ada,” katanya sambil melirik ke arah gedung kesenian.

Aku mengangguk. “Alpukat, jeruk, atau leci?”

“Alpukat? Ada alpukat, ya? Berikan alpukat kalau begitu,” pintanya masih dalam tekanan suara yang sedang mengatur irama napas agar dapat bercakap dengan tenang.

Ketika aku datang ke mejanya dan meletakkan gelas jus alpukatnya, lelaki itu tiba-tiba berkata, “Istri saya hilang.” Suaranya begitu datar hingga terdengar tidak nyata. Seolah ia sedang memberitahu peristiwa biasa di hari yang sangat biasa. Ia mengaduk jus alpukatnya, memiringkan gelasnya sedikit, memicingkan mata sebentar lalu menyereputnya perlahan, memiringkan gelas lagi seakan tengah memastikan apakah jus yang telah diseruputnya benar-benar jus alpukat.

“Hilang. Menghilang begitu saja. Malam terakhir ketika ia tampil di gedung kesenian ini,” lelaki itu berhenti sebentar lalu menunjuk gedung kesenian dengan sedotan limunnya. “Ia menyanyi tiga lagu. Menyanyi sambil bermain musik. Lalu dia menghilang. Sampai sekarang belum kembali. Teman-teman satu grup musiknya tidak tahu apa-apa tentang kepergiannya. ‘Kami tidak tahu. Bagaimana mungkin?’ begitu kata mereka. Dia terlihat baik-baik saja malam itu. Tidak terlihat ada sesuatu yang mencurigakan. Menyanyikan tiga lagu, berjingkrak di atas panggung, berpeluh bersama anggota grup yang lain. Lalu mengapa ia menghilang? Sampai kini tidak ada yang tahu. Tidak ada yang berhasil menghubunginya.”

Aku terdiam. Ia masih muda. Meskipun ketika mengenakan kacamata tebal, umur di wajahnya terlihat bertambah sedikit. Tetapi, tetap saja roman muka yang memancar darinya akan membuat orang-orang tidak menyangka ia sudah menikah. Aku menunggu kata-kata berikutnya. Aku ingin bertanya apakah ia sudah melapor  polisi. Tapi, rasanya pertanyaan itu kurang pantas. Benar-benar tak pantas diucapkan. Bila mengingat lagi hari-harinya yang dihabiskan untuk berjalan memutari gedung kesenian ini setiap sore, mengingat upayanya yang tampak betul-betul gigih, meminta bantuan polisi bukanlah suatu hal yang mesti dilakukan. Bahkan mungkin terdengar tidak penting.

“Lalu Bung memutari jalan ini setiap hari agar suatu saat bisa bertemu dengan istri Bung?”

Lelaki itu mengenakan kacamatanya kembali. Ia terdiam sebentar sambil mencecap sisa-sisa jus yang tertinggal di sudut bibirnya. “Tidak juga,” katanya.

“Saya setiap hari berjalan memutari gedung kesenian ini karena jalan memutari gedung ini memberikan kepada saya semacam ketenangan. Perasaan tenang yang sukar dijelaskan. Pokoknya, setelah mengelilingi gedung ini berkali-kali, pikiran yang semula kusut mendadak dapat diurai lagi. Setelah itu, saya dapat tertidur dengan nyenyak di malam hari. Saya kira hanya dengan pikiran yang tenang saya dapat mengumpulkan sedikit demi sedikit petunjuk tentang alasan kepergian istri saya.” Ia menyerahkan gelas jusnya yang sudah kosong lalu meletakkan uang pembayaran di atas konter. Ia sangat senang dengan jus buatanku. Benar-benar enak, katanya.

Sejak hari itu, lelaki berkacamata setiap kali lelah berjalan atau sesudah menyelesaikan putarannya akan datang ke kedaiku memesan jus alpukat. Kadang-kadang ia mengaku ia tak sempat makan dulu di rumah. Maka, ia memesan juga mi ayam. Menyantap mi dengan mulut penuh. Menyudahinya dengan meneguk jus alpukat. Orang-orang memandang heran. Melihatnya tiap sore berjalan memutari gedung tanpa terlihat bosan. Ada saja yang menasihatinya, kalau mau berolahraga pergilah ke taman kota. Di sana disediakan banyak jalur untuk mereka yang suka lari-lari kecil. Jangan di trotoar ini. Trotoar ini milik pedagang kaki lima. Di sini orang duduk-duduk, kongko-kongko sambil makan dan minum. Tiap kali diberitahu seperti itu, lelaki itu menggeleng. “Istri saya hilang,” jawabnya ringan. Lalu meninggalkan wajah-wajah yang terbengong- bengong kebingungan.

Kalau mengingat lagi cerita lelaki itu, aku mengingat seorang perempuan bernama Win. Aku juga baru sadar, akhir-akhir ini ia tidak pernah terlihat lagi di gedung kesenian. Dari balik jeruji gerbang pendek, aku tidak melihatnya lagi berlari-lari memutari lapangan rumput hijau di sana bersama aktor-aktor yang berlatih olah tubuh. Di gazebo yang dinamakan “kuil rembulan” tempat anak-anak belajar mengarang cerita, Win juga tidak ada. Dulu aku sering melihatnya bergurau bersama anak-anak kelas sastra di sana. Aku cukup mengenalnya sekilas. Ia pernah beberapa kali memesan mi ayam kala jam latihan telah rampung. Aku pernah menyaksikan pertunjukannya, dua atau tiga kali barangkali. Ia aktris teater yang cukup bagus menurutku. Ia perempuan muda yang menarik.

Suatu hari aku memberanikan diri bertanya pada lelaki berkacamata itu siapakah nama istrinya. Ia terdiam menatapku seakan aku telah mengajukan pertanyaan yang terlarang.

“Win. Namanya Win,” katanya pelan.

Aku benar-benar terkejut. Jadi, perempuan muda yang kukagumi selama ini ternyata adalah istri dari lelaki berkacamata? Dan kini ia telah hilang?

“Win? Win aktris teater itu?” tanyaku gugup.

Lelaki itu memandangku bingung. Ia menaikkan sedikit alisnya. “Bukankah sudah pernah saya ceritakan pada Bung kalau istri saya menghilang sesudah ia menyanyi dan bermain musik bersama kawan-kawannya di gedung kesenian ini?”

“Saya ingat, Bung! Saya ingat betul. Tapi, nama Win itu, saya kenal juga seorang bernama Win. Tidak kenal dekat. Hanya tahu ia cukup menonjol di lingkaran seniman. Pernah juga saya menonton pertunjukan teaternya. Jadi, selama ini selain menjadi aktris teater, Win juga punya grup musik?”

Lelaki itu bertambah bingung. Ia terdiam lalu lagi-lagi melihatku dengan pandang tajam. “Win siapakah yang Bung maksud? Win istri saya adalah penyanyi grup musik. Grup musiknya sedang naik daun dan sering diundang mengisi acara di gedung kesenian ini.”

“Nah! Apakah memang ada dua perempuan bernama sama? Dua perempuan bernama Win yang juga sering berkegiatan di gedung kesenian ini? Karena itulah saya bertanya, Bung. Win aktris teater itu juga akhir-akhir ini tidak pernah terlihat lagi di gedung kesenian. Saya kira, istri Bung adalah Win aktris teater itu. Tapi, sejauh pengamatan saya, saya tidak pernah melihatnya menyanyi dan bermain musik.”

Lelaki itu terdiam lagi. Ia menundukkan wajahnya dan menatap hampa pada buku menu yang ada di meja. Cukup lama ia terdiam. Lipatan di keningnya semakin berkerut. Ujung jari-jarinya mengetuk meja. Lalu ia mengangkat wajahnya, masih dalam roman muka seorang yang tengah berpikir keras.

“Sejujurnya…” Ia berhenti sebentar seolah sedang mencari kata-kata yang tepat.

“Sejujurnya, Bung. Saya tidak tahu apa-apa tentang istri saya. Tidak tahu perihal dunianya. Apakah ia memang hanya bernyanyi bersama grup musiknya? Apakah ia bermain teater? Saya tidak tahu. Benar-benar tidak tahu.”

Bagaimana mungkin? pikirku. Kau suaminya. Mustahil kau tidak tahu kehidupan istrimu di luar rumah? Tapi, aku tidak berkata apa pun. Aku diam seturut dengan diamnya yang sedang bersiap mengeluarkan kata-kata.

“Bagaimana bisa aku suaminya tidak tahu apa-apa? Barangkali Bung berpikir begitu. Tidak. Tidak. Pastinya berpikir seperti itu. Aku beritahu, hidupku memang terpisah dengan dunianya. Ia berkembang di kota ini. Terus berkembang. Sementara aku bekerja di daerah terpencil, pantai teluk yang jauh perjalanannya lima jam dari kota. Sebut saja aku ilmuwan. Aku mengurus segala macam tentang kerang di balai kelautan milik pemerintah di sana. Aku bekerja setiap hari di laboratorium dan sangat jarang punya kesempatan untuk pulang ke rumah. Tidak juga punya kesempatan untuk berbicara tentang kesenian. Tentu saja kami tetap berkomunikasi. Tetapi, tahun-tahun yang panjang itu ternyata lebih banyak diisi oleh cangkang kosong.”

“Bung tahu mengapa saya sebut cangkang kosong? Di laboratorium balai juga ada bertoples-toples cangkang kosong. Cangkang dari kerang-kerang yang sudah pernah dipanen. Tiap kali melihat cangkang kosong itu, aku teringat hubunganku dengan Win. Aku tahu ia berkesenian. Tapi, bagaimana hasratnya terhadap seni yang digelutinya itu, kendala apa yang ia hadapi, apa yang tidak ia suka atau apa yang betul-betul ia sukai, pandangannya terhadap sesuatu yang disebut seni, sungguh semuanya hanya dapat diraba. Ibaratnya, aku ini hanya penonton yang mencoba mengamati dari seberang tembok. Apa yang ada di sebalik tembok itu hanya kudapatkan sedikit, sangat sedikit. Tak sampai seujung jari.”

Karena itulah, ketika aku berkesempatan menonton pertunjukan musiknya, aku benar-benar dibuat terkagum-kagum. Ia menyanyi dan bermain musik dengan amat memukau. Bagaimana bisa aku baru menyadarinya? Win benar-benar hebat. Dan aku baru bisa melihat kenyataan itu di malam pertama aku menyaksikan pertunjukan musiknya. Melihatnya di panggung sudah membuatku tergila-gila. Usai pertunjukan, aku menemuinya di belakang panggung. Aku berkata dengan sungguh-sungguh aku akan meninggalkan duniaku dan ikut terjun ke dunianya. Tentu maksudku adalah aku akan pindah kerja dari pantai teluk yang sunyi itu agar kami terus saling berdekatan. Mari anggap saja kita memulainya dari awal lagi. Win tampak bahagia dan tak percaya. Aku menunggunya di luar gedung. Tapi malam itu ia tidak juga keluar. Ia menghilang. Menghilang begitu saja. Aku tahu pada akhirnya ia memang memutuskan untuk pergi.”

Lelaki itu menghela napasnya seakan beban berat telah ditimpakan lagi padanya. Ia seperti menyesal telah menceritakannya padaku. Ia lalu menatap tajam padaku dan berkata, “Jadi, bila Bung berpikir suami istri pasti saling mengetahui satu sama lain, pasti saling mengenal, Bung keliru! Kalau Bung berpikir seperti itu, Bung betul-betul keliru!”

Hari-hari berikutnya aku masih sering melihat lelaki berkacamata itu menempuh jalan memutar seperti biasanya. Namun, ia tidak lagi singgah di kedaiku. Ia bahkan tidak memberi sapaan hangat seperti dulu ketika secara tak sengaja pandangan kami bertubrukan. Hari-hari berlalu, aku tidak lagi terlalu memedulikan perubahan sikapnya itu.

Suatu hari tibalah hari yang tidak biasa ketika secara mendadak seniman teater menggelar pertunjukan di depan gedung kesenian, di halaman bercoran semen dekat lapak para pedagang kaki lima. Laki-laki dan perempuannya mengenakan pakaian serba hitam. Mereka menghias wajah dengan celak yang amat tebal, menyisakan bentuk lingkaran di bawah mata yang tak sepenuhnya selesai. Mereka berjalan beriringan mengikuti seorang pemuda berambut gimbal yang memegang lonceng. Mereka menggumamkan sesuatu bersama-sama, terdengar seperti sebuah mantra dalam ritual pemanggil setan. Orang-orang yang kebetulan lewat, mendadak berhenti lalu menepikan kendaraan mereka. Orang-orang mengeluarkan tustel dari saku dan memotret para aktor itu.

Hening sesaat. Para aktor membentuk lingkaran. Si pemegang lonceng menghampiri satu-satu aktor yang berdiri. Ia mengelilingi sambil membunyikan lonceng di dekat telinga mereka. Lalu tiba-tiba dari arah yang berlawanan, seorang perempuan muda mengenakan pakaian serba hitam dan penutup mata berlari ke arah lingkaran, memasukinya dengan paksa. Gerakannya melompat indah. Ia melakukan gerakan meroda dan mendaratkan tubuhnya yang ramping. Orang-orang memotret, bertepuk tangan. Mereka bertepuk tangan meski tak tahu maksud dari pertunjukan itu. Barangkali itulah yang disebut teater kontemporer. Serba baru, serba mengundang banyak tafsir.

Pertunjukan selesai. Orang-orang bertepuk tangan lagi. Perempuan yang masih mengenakan penutup mata itu menghadap ke penonton. Aku terkejut. Itu Win! Tidak salah lagi, itu Win! Aku bisa menandai bentuk wajahnya meski ia mengenakan penutup mata. Aku segera ingin menghampirinya. Tiba-tiba aku teringat dengan lelaki berkacamata. Langkahku terhenti. Aku berdiri di tempatku. Siapa yang peduli apakah ia memang Win? Apakah ia adalah Win yang kukenal atau Win, istri lelaki berkacamata itu? Ataukah Win kedua-duanya?       Aku mengedarkan pandang. Barangkali di antara penonton ada lelaki berkacamata itu. Tapi, tidak. Trotoar dipenuhi orang-orang yang masih mengira pertunjukan akan berlanjut. Aku tidak dapat meneliti dengan cermat. Barangkali di hari berikutnya aku akan tahu istrinya itu telah kembali atau tidak dengan melihat sendiri, apakah di hari esok lelaki itu masih tetap memilih jalan memutar?

Pejarakan, Juli 2020


Iin Farliani, lahir di Mataram, Lombok. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mataram. Menulis cerpen, puisi, dan esai. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Lombok. Kumpulan cerita pendeknya yang telah terbit berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (2019).

Cerpen

Suatu Hari, Aku Ingin Piknik

Cerpen Galuh Ayara

Dua pasang roti tawar, selai stroberi, susu kemasan, darah-darah menetes, pisau, padang rumput, keranjang piknik, dan aku ingat senyum ayah. Namira tak ada. Namira tak boleh ada.

***

Suatu hari, aku sangat ingin piknik bersama ayah. Tidak perlu jauh-jauh, cukup ke bukit kecil di dekat stasiun tua itu, atau padang rumput belakang pabrik teh. Aku akan membawa roti dan selai stroberi, juga buku-buku dongeng klasik tentang seorang putri dan ayahnya sang maharaja yang baik hati. Jangan, jangan ajak Namira. Aku hanya ingin berdua saja dengan ayah.

Aku ingin sekali merasakan bagaimana lembutnya belaian tangan kekar itu di kepalaku yang kadang terasa amat berat. Aku ingin merasakan bagaimana ia mencubit hidungku seperti ia melakukannya pada Namira lalu mereka berdua tertawa-tawa. Aku ingin ayah berhenti memarahiku setiap kali aku melakukan kesalahan dan meneriakiku bodoh dan ceroboh.

Suatu hari ibu dan ayah bertengkar hebat di ruang tamu. Aku coba melerai mereka tapi ayah mendorongku dan mengulang lagi ucapan menyedihkan itu, aku hanyalah anak hasil hubungan gelap ibu dengan lelaki yang entah siapa, lalu ayah menikahi ibu karena kasihan.

Ibu, tak pernah sekali pun ia membelaku setiap kali ayah memaki dan menghinaku. Perempuan itu hanya memandangku dengan tatapan paling biasa lalu pergi ke dapur atau ke kamar tidur.

Ibu bilang, aku hanya mengingatkannya pada seorang lelaki kurang ajar yang meninggalkan ibu setelah tahu hubungan gelapnya membenihkan janin. Ibu memang tak pernah memarahiku tapi juga tidak mencintaiku seperti ia mencintai Namira. Ibu selalu diam di depanku tapi banyak bicara jika di depan Namira.

“Ibu, kenapa dulu aku tidak mati saja dalam rahimmu, supaya Ibu tak pernah melihatku dan mengingat laki-laki itu? Dia bangsat kan, Ibu? Tapi aku tidak tahu menahu.”

Ibu bahkan tak melirikku, tangannya sibuk dengan parutan keju dan kue bolu.

Di sisi lain, adikku Namira begitu menyayangiku. Tak segan ia membagi apa pun yang ia miliki, bahkan ia pernah mengalah; menukar gaunnya yang amat berkilau dengan gaunku yang biasa saja di hari ulang tahun kami. Aku dan Namira lahir di bulan yang sama hanya tanggalnya berbeda sepuluh angka. Usiaku hanya selisih dua tahun dengan Namira.

Aku heran, mengapa Namira terlahir sempurna dengan wajah cantik dan disayangi semua orang. Sementara aku?

Malam itu ayah mengumpulkan kami di ruang makan. Ia berkata sembari mata berkaca-kaca.

“Aku kena PHK,” katanya.

Saat itu kami semua hanya diam. Tak ada satupun yang bicara.

Di hari-hari berikutnya keadaan kami mulai sulit. Rumah semakin sering diwarnai pertengkaran. Lalu, di hari yang mendung itu, ibu pamit pergi sembari membuka payungnya yang berwarna kelabu. Ibu akan ke luar negeri, mengadu nasib sebagai TKI. Namira menangis di pelukan ayah, dan aku hanya diam seperti orang bisu.

Tiga bulan sudah ibu pergi. Kadang aku melihat ayah keluar rumah, lalu pulang dalam keadaan mabuk. Ia selalu bilang hendak mencari kerja, tapi entahlah.

Seperti malam itu, ayah berteriak sambil menggedor pintu, sebenarnya aku malas sekali bangun, tapi Namira seperti orang mati kalau tidur.

Aku setengah berlari karena takut tetangga terganggu dengan suara ketukan pintu yang terus menerus. Begitu kubukakan pintu itu, ayah ambruk ke pelukanku. Aku tak tahan dengan mulutnya yang bau, tapi dia ayahku.

Susah payah aku menyeret tubuh kekar ayah ke kamarnya. Tak sempat kunyalakan lampu, buru-buru saja aku membaringkan tubuh itu di tempat tidur. Aku bukakan sepatunya, dan tiba-tiba aku merasa tangan kekar itu membelai rambutku. Kulihat ayah tersenyum, betapa senyum itu sangat kurindukan. Ayah duduk di sebelahku, lalu mengangkat daguku mendekat ke mulutnya yang bau. Aku terpejam, merasakan mulut yang beraroma alkohol itu melumat mulutku berkali-kali. Aku tidak tahu. Aku bingung. Dia melakukannya dengan sangat hangat. Aku berdebar, tapi entahlah.

Pada akhirnya malam itu ayah melakukan sesuatu padaku yang seharusnya dilakukan bersama ibu. Aku merasakan sakit yang luar biasa, tapi aku bahagia. Aku seperti menemukan kesejukan salju, di antara panas dan merah darah perawanku.

“Ayah, apakah nanti kita akan piknik? Berdua saja, jangan ajak Namira,” tanyaku sambil masih meringis merasakan nyeri.

“Iya,” katanya sambil memejamkan mata.

Aku lantas beranjak. Sebelum kembali ke kamar, kupakaikan lagi pakaian ayah yang sudah mendengkur, kuulurkan pula selimut bulu untuknya, lalu sejenak memeluk tubuh itu sebelum pergi dengan perasaan campur aduk.

Siangnya, aku membuatkan segelas susu untuk ayah. Aku bawa ke kamarnya sambil senyum paling cerah. Kulihat ayah masih mengenakan handuk. Rambutnya masih basah kuyup. Aku taruh susu itu di meja, lalu pergi dengan jantung berdebar-debar. Akan tetapi, belum juga menutup pintu, ayah tiba-tiba saja menarik lenganku.

“Kinanti, maafkan ayah,” katanya.

Aku tersenyum lagi, lalu memeluk tubuh itu tanpa ragu.

Malam-malam berikutnya kami mengulanginya lagi. Lagi, lagi, dan lagi. Lama-lama aku mulai terbiasa dengan sentuhannya. Benar, aku bergairah setiap kali berhadapan dengan tubuh kekar itu. Aku merasakan bahagia yang luar biasa dan membuatku semakin tidak ingin kehilangannya. Aku ingin terus bersama ayah sampai mati. Ayah hanya milikku. Tidak ada Namira, bahkan ibu. Esok lusa kami akan piknik berdua, di bukit dekat stasiun tua atau di padang rumput belakang pabrik teh.

Karena tidur terlalu larut malam, pagi itu aku bangun kesiangan. Keadaan rumah sudah kosong. Tak ada ayah, tak ada Namira. Di meja makan sudah tersedia roti selai stroberi, juga segelas susu yang sudah dingin. Aku menarik kursi. Saat hendak duduk tiba-tiba ponsel bergetar di saku piyamaku. Sebuah pesan daring masuk.

Kak, aku dan ayah pergi piknik. Tadi aku mau bangunkan kakak tapi nggak tega. Aku tahu kakak tidur larut malam. Kalau kakak mau nyusul, susul saja ke dekat pabrik teh.

Sial, hatiku kadung sakit. Teganya ayah membohongiku. Aku yang ingin piknik berdua dengannya, malah dia lupakan. Malah dia pergi dengan Namira. Ayah jahat. Ayah tidak pernah menyayangiku. Atau, aku yang bodoh? Ya, aku bodoh.

Aku pergi ke dapur, menyalakan keran di wastafel, kubiarkan airnya mengalir begitu saja. Aku lantas meraih pisau dari dekat kompor. Ya Tuhan, aku benci kehidupan.

***

Di padang rumput, di atas tikar piknik berwarna daun mapel, samar-samar kulihat ayah tersenyum. Kuperhatikan sekali lagi, ternyata bukan senyum. Ayah menjulur lidahnya keluar. Matanya masih ketakutan. O jangan takut, Ayah. Kupeluk tubuhnya yang membeku. Kuremas tangannya yang sedingin es. Dadanya bahkan sudah diam. Tebasan pisau di tanganku sepertinya berhasil membungkam detak jantungnya. Berapa kali tadi kuhujam dadanya? Sepuluh atau sebelas?

Namira tak ada, Ayah. Namira lari terbirit-birit. Biarkan saja. Sejak kecil dia takut darah.

Lihat, Ayah. Di sini hanya kita berdua ditemani kicau burung, capung-capung, dan matahari yang benam di balik ilalang. Kita sedang piknik. Berdua saja. Tanpa Namira. Tanpa siapa-siapa.

2020


Galuh Ayara, penulis yang masih belajar. Sudah menerbitkan buku pertamanya “Nyanyian Origami”.