Cerpen

Kabar dari Jauh

Cerpen Jeli Manalu

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayangan. Uang hasil penjualannya kubelikan dua ekor anak lembu. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Hari-hari berlalu setelahnya. Musim juga berganti. Pepohonan menggugurkan daun, tumbuh lagi dan gugur lagi. Saat Natal tiba, Salomo pulang dari perantauan dan Anggoni yang tinggal di kampung menyambutnya dengan hati gembira. Tetapi malam itu satu peristiwa menegangkan terjadi. Salomo anak paling tua. Empat bulan lagi usianya genap tiga puluh enam tahun. Dua saudari mereka telah lebih dahulu berumahtangga, dan masing-masing sudah memiliki keturunan. Anggoni sendiri anak bungsu, tengah menjalin hubungan dengan seorang perempuan, dan orangtua sang perempuan acap kali menyuruh anak gadisnya menanyakan Anggoni kapan akan mempersunting putri mereka.

“Menikahlah, Abang,” satu kalimat yang terlontar pelan namun memantul seperti bola keras di kepala Salomo—itu perkataan dari adik kesayangannya, Anggoni, yang kemudian menyebabkan sebuah ledakan di rongga dada Salomo.

Malam itu, di tengah rapat keluarga serta bola-bola lampu yang dipasang pada pohon cemara tampak indah bercahaya, Salomo tertunduk memandangi pusaran kopi hitam di bagian atas cangkir. Ia berpikir apakah ke dalam gelas kopinya ia perlu menambahkan satu sendok gula lagi, atau sesekali perlu memvariasikannya dengan krimer kental manis—supaya hidup sedikit lebih manis? Ah ya, belum sempat Salomo memutuskan yang mana dari keduanya, Anggoni bicara lagi, “Kupikir sudah waktunya Abang berumahtangga.”

Dengan bibir bergetar Salomo menjawab bila sampai hari itu juga, belum ada perempuan yang mau diajak hidup bersamanya.

“Aku tak percaya. Abang itu ganteng, tidak perokok, tidak peminum, rajin pula ke gereja. Pokoknya, menikahlah Abang.”

Salomo membisu, tidak tahu dengan cara apa lagi dirinya menjelaskan kenyataan itu.

“Soal dana, kubantu pun nanti. Abang jangan khawatir,” Anggoni melanjutkan kata-kata yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya, meski saat itu, ia tidak menjelaskan tentang dana yang dimaksud adalah dua ekor anak lembu yang sudah ia beli dan rawat dua tahun.

Mendengar Anggoni menyinggung soal uang, Salomo kian geram. Ia merasa adiknya itu bukan saja mendesaknya perihal menikah tetapi sudah sampai pada tahap merendahkan dirinya soal mata pencaharian. Lantas, Salomo menyarankan adiknya itu agar berhenti mengusik hatinya dengan lebih baik mengurus kehidupan masing-masing saja. Dan di hadapan segelas kopi yang belum ditambahkan apakah gula atau krimer kental manis serta di sudut rumah bola-bola lampu yang dipasang pada pohon cemara bersinar indah Salomo meninggalkan rapat keluarga. Ia menemui kegelapan malam agar tak seorang pun melihat betapa sakit dirinya, lalu esok harinya ia pergi padahal semua orang seharusnya berkumpul untuk bergembira bersama.

Pada perjalanan sendu yang entah ke mana arahnya kali itu, Salomo terus mengutuki nasib. Ia ingat kisah cintanya yang tak pernah berjalan mulus. Gara-gara ditolak gadis pada masa SMA, ia jadi siswa yang tak bisa diatur. Ia memakan uang SPP dan suka cabut dari kelas. Kata orang yang pernah melihatnya hingga melapor ke guru mengatakan, ia jadi preman di sekitaran toko dan berlagak sebagai juru parkir atau tukang pungut uang kebersihan. Saat mendapat surat panggilan dari sekolah hingga terancam tak bisa mengikuti ujian akhir karena tidak membayar SPP, ibunya panik namun berupaya mencari jalan keluar dengan menjual dua karung buah kopi tanpa sepengetahuan bapak.

Sepanjang merantau dan menjadi orang baik, Salomo sering memikirkan bagaimana kelak ia akan menikah. Ia mulai rajin bertanya tentang besaran sinamot (mahar) untuk anak gadis orang yang profesinya sebagai perawat. Ia pun makin sering menghadiri berbagai undangan adat yang datang padanya. Ragam serta kualitas ulos juga ia pelajari: mana buatan pabrik dan mana hasil tenunan. Ia merasa seandainya kelak menemukan jodoh, dirinya yang sudah merantau lama dan konon di telinga orang bekerja di sebuah perusahaan asing itu kurang pantas saja bila pernikahannya dirayakan terlalu biasa—ia tidak ingin masyarakat sekampung bicara macam-macam ke depannya.

Pernah persiapannya mencapai tujuh puluh persen. Tanpa ada firasat Salomo mendapati hatinya teriris. Mulanya ia menghadiri satu undangan dari kerabat. Di sana, di acara yang dihadirinya itu, ia saksikan kekasihnya bermesraan dengan lelaki lain. Kekasihnya merangkul erat tangan lelaki lain itu. Dilihatnya lelaki lain itu masih kalah ganteng ketimbang dirinya. Apa kurangku, apa salahku?—ia bertanya pada hati yang lebam.Kata-kata makian sempat terlontar dari bibirnya.Hampir saja ia melayang untuk membanting tubuh lelaki lain itu namun apa daya, si perempuan, toh tak menjadikannya sebagai pusat tujuan.

Saat begitu galau, ia rajin menulis status di facebook. Banyak akun menaruh simpati akan keadaannya, termasuk adiknya, Anggoni mengirim emoji mata yang menangis. Di sisi lain, waktu itu, Salomo tidak tahu kalau Anggoni sebetulnya sudah tak sabar menunggu Salomo supaya menikah secepatnya, agar abangnya itu jangan pula ia langkahi sebagaimana dilakukan dua saudari mereka—Anggoni cemas seandainya itu ia lakukan maka dalam bayangannya Salomo bisa-bisa bernasib sial, yakni tidak mendapatkan jodoh sampai ubanan, dan Anggoni, tak ingin itu terjadi. Ia ingin Salomo bahagia selamanya. Akan tetapi Salomo tidak mengerti hutan hati Anggoni, adik kesayangannya itu. Ia tidak tahu bila Anggoni sudah merasa terdesak agar segera mengakhiri masa lajang. Ia tidak tahu Anggoni berada dalam kegelisahan yang apabila terlalu lama menunda untuk melamar, gadis pujaannya dikhawatirkan malah diembat orang—ada satu teman Anggoni ditinggal menikah sang pacar karena merasa digantung meski alasan temannya itu jelas, yakni menyelesaikan studi di luar negeri yang bersisa tak lebih dari sepuluh bulan.

Sejak rapat keluarga ketika pulang merayakan Natal di kampung yang membuat keduanya sama-sama terluka itu, setahun lamanya Salomo dan Anggoni saling menghindar. Tidak menelepon dan tidak saling berkirim pesan. Suatu hari sewaktu Salomo mengaktifkan lagi aplikasi messenger-nya, ada pesan yang mengakibatkan perasaannya sulit untuk didefinisikan. Pesan itu sudah dua tahun dikirim, pesan ketika dirinya masih akur-akurnya dengan Anggoni, pesan ketika ia belum putus cinta dengan perempuan yang berprofesi sebagai perawat, pesan yang tidak tahu bagaimana itu bisa lolos dari perhatian Salomo.

Kujual tiga puluh ekor ayam, empat puluh ekor bebek, dan dua ekor anjing kesayanganku untuk membeli dua ekor anak lembu, supaya ketika mereka besar nanti, bisa kita pergunakan untuk lauk daging pada masing-masing pesta pernikahan kita. Jadi, apakah sudah ada calon kakakku itu, Abang?

Salomo menyesal. Bibirnya bergetar menyadari kebaikan hati sang adik yang ternyata telah menyiapkan banyak untuk pernikahan mereka kelak. Ia menyesali pertengkaran yang tak menghasilkan apapun itu. Seandainya waktu itu ia tidak langsung tersinggung. Seandainya ia membiarkan adiknya mengutarakan maksud terlebih dahulu, sehingga ia paham akan orangtua kekasih dari adiknya sudah mendesak Anggoni supaya menikahi putri mereka. Salomo kini bersedih. Dalam pikirkannya sekarang hanyalah memperbaiki hubungan dengan sang adik, lebih tepatnya ia merestui Anggoni agar menikah lebih dahulu.

“Halo. Bapak?”

“Ya, aku.”

“Bagaimana kabar Anggoni?”

“Kau tidak tahu kabar?”

“Kabar? Kabar apa?”

“Sudah berapa lama kau tidak mau bicara dengannya?”

Salomo diam, menebak apa yang sedang terjadi.

“Kalian berkelahi lagi, kan?”

“Sudah lama ia tidak meneleponku.”

“Kalau ia tak meneleponmu, kaulah yang meneleponnya.”

Salomo tersentak dengan ponsel yang masih menempel di telinga, belum pernah ia dengar suara bapak ketus begitu. Biasanya bapak senang bercanda. Kali ini bapak terkesan menyerang seakan Salomo sudah melakukan kesalahan yang amat fatal.

Salomo lalu membuka facebook dan mencari nama Anggoni yang sudah sempat ia unfollow itu. Ia gulir ke bawah, ketemu foto adiknya. Posisinya duduk. Kedua tangan beserta dahi bertumpu di lutut. Pose dalam foto itu diambil dari samping. Dibuat gambar lembu sebagai bingkainya. Di bagian tengahnya terdapat tulisan. Salomo men-zoom-in supaya bisa membacanya.

Suatu pagi, aku begitu bahagia karena Tuhan masih memberiku kesempatan menolong orang yang lagi kesusahan. Ada yang menggedor-gedor pintu mencari lembu untuk dimasak di sebuah pesta sebab ia tahu aku memiliki apa yang mereka butuhkan. Dua orang yang datang pagi itu tampak begitu memelas. Wajahnya tak tega untuk kutolak. Mereka menawariku dengan harga satu setengah kali lipat atas dua ekor lembuku. Kata mereka, hewan yang mereka persiapkan mendadak pingsan lalu mati dalam perjalanan. Aku pun memenuhi permintaan mereka, mengira seandainya hal serupa menimpaku menjelang pesta pernikahanku kelak—bila itu terjadi, seseorang mungkin sudi membantu karena aku sudah terlebih dahulu melakukanya. Sehari kemudian, setelah daging lembu itu dimasak lalu diantarkan kepadaku sebagai ucapan terima kasih dan aku memakannya begitu lahap karena masakan itu sangat enak, aku baru tahu kalau yang menikah itu ternyata calon istriku.***

Riau, 2017-2020


Jeli Manalu, lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Ia saat ini mukim di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya Kisah Sedih Sepasang Sepatu tahun 2018.

Cerpen

Caraphernelia

Cerpen Fina Lanahdiana dan Zahratul Wahdati

“Selamat pagi!”

Dave mengucapkan kalimat itu kepada dirinya sendiri. Tangannya menyentuh baju, wajah, serta tas jinjingnya seolah-olah sedang memastikan tidak ada yang kurang atau pun tertinggal. Dia tersenyum kepada seekor kucing berwarna abu-abu gelap bermotif seperti pusaran gelombang berwarna hitam di salah satu sisi tubuhnya. Bagian kiri. Sekilas hampir tak tampak pemandangan itu jika tidak diamati dalam jarak dekat dan selekat-lekatnya. Kucing itu sedang duduk begitu saja di taman kecil halaman rumahnya. Tampak malas meskipun ia berada di dekat kolam dengan hiasan batu-batu di bagian tepi, tempat bagi para ikan koi menyambungkan napas hidupnya. 

“Kau tidak boleh nakal ya, Joni!”

Dia mengatakan kalimat itu seperti sedang menasihati anaknya sendiri. Tentu saja Dave tahu, belum pernah ada kucing yang menolak diberi ikan-ikan.

Sesekali matanya memandangi arloji bundar yang melingkari lengannya, “Masih pukul 05.45.”

Lagi-lagi dia tersenyum begitu puas, seolah-olah baru saja melakukan sesuatu yang berharga dalam hidupnya, sambil melanjutkan langkah demi langkah kakinya yang tegap dan penuh percaya diri.

Sekitar dua puluh menit selanjutnya, dia sudah sampai di peron. Menunggu kereta yang akan membawanya pergi ke sebuah tempat yang telah membawa lari hati dan pikirannya yang dipenuhi bayang-bayang. Tempat itu seolah seseorang yang mengulurkan tangan ketika Dave sedang jatuh-jatuhnya.

Di peron itu, dia hanya berdiri sendiri, tak ada penumpang lain yang menunggu. Tiba-tiba dia berpikir: Bagaimana jika ternyata kereta yang kau tunggu tidak akan membawamu kembali? Tetapi pikiran itu hanya selintas dan tidak perlu dipikirkan secara serius. Itu hanya ada dalam dongeng, batinnya.

Tetapi ia begitu heran. “Apa yang sedang terjadi dengan kota ini?”

Dia tak pernah benar-benar yakin sebelumnya dengan apa-apa yang berjalan di atas bumi. Segalanya berjalan normal dan tak mesti diperdebatkan. Lalu lalang orang-orang, lalu lintas yang selalu dipenuhi suara klakson di garis-garis lampu merah, anak-anak berseragam bergegas pergi dan pulang sekolah, remaja tanggung yang memainkan gitar dari angkutan umum satu ke angkutan umum lainnya, pedagang asongan, sepasang muda-mudi yang bertengkar di kafe-kafe ternama, dan hal-hal lain yang selama ini luput ia amati dengan serius.  Tiba-tiba saja kota ini teramat sunyi. Sunyi sekali.

Berkali-kali dia memastikan. Apakah ini mimpi? Tapi ini pasti bukan mimpi. Tidak ada satpam, petugas pemeriksa tiket, tidak ada suara yang memberikan informasi, bahkan tidak ada petugas yang mengatur jalannya kereta.

Dave mengamati tiketnya. Tiket berwarna kuning kecokelatan itu menjelaskan dia harus naik gerbong 5 dan duduk di bangku nomor 21 A.

Meskipun sebenarnya terlampau banyak pertanyaan yang melayang-layang di kepala, dia harus tetap bergegas untuk segera sampai ke kantornya, di sebuah gedung surat kabar lokal yang di dalamnya dia bekerja sebagai wartawan. Menjadi wartawan bukanlah cita-cita yang pernah dia harapkan. Tapi selanjutnya semesta begitu saja menariknya seperti dia tersedot begitu saja, sehingga pada akhirnya mau atau pun tidak mau, harus menyukainya. Dan mungkin memang bisa dikatakan dia telah mencintai pekerjaannya karena telah terlampau terbiasa.

Mulutnya menggumamkan 21 A berulang-ulang seperti sedang merapal mantra. Tak lama dia menemukan gerbong yang dicarinya dan dia segera duduk. Meskipun masih sambil memikirkan dugaan-dugaan kenapa kota ini seperti telah mati atau mungkin seluruh penduduknya telah berpindah tempat ke planet lain yang dipercaya sebagai pengganti bumi yang telah berusia sangat tua, rapuh, dan sakit-sakitan.

“Apakah kereta ini akan tetap berjalan bahkan jika tak ada penumpang-penumpang lain yang biasanya begitu berdesakan? Atau yang terjadi justru sebaliknya, bahwa dia harus menunggu dan menunggu dan menunggu, seperti yang terjadi dalam cerita Alan Lightman dalam wujud sebuah mimpi yang dialami Einstein,Di dalam dunia di mana waktu tidak bisa diukir, tak akan dijumpai jam, kalender, atau pun janji pertemuan yang pasti. Satu kegiatan didahului oleh kegiatan lain, bukan berdasar waktu …

Sepersekian detik selanjutnya, segalanya di luar kendali akal sehatnya. “Apakah ini hutan? Ataukah aku salah menumpang kereta?”

Sebagaimana sebuah mimpi yang cenderung acak dan absurd, pohon-pohon seolah tiba-tiba tumbuh dari bawah kereta. Seperti akar-akar yang bergerak cepat. Menempel di lantai, dinding-dinding hingga menyentuh atap kereta. Segalanya menjadi berwarna hijau. Warna yang sejuk. Seperti embun sisa pagi hari sebelum matahari memunculkan dirinya di awang-awang di atas bumi.

Lalu burung-burung bernyanyi, seperti siulan seorang lelaki yang sedang menggoda gadis yang membuatnya ingin tertarik. Jika hal ini terjadi di dalam hutan sungguhan ketika dia sedang mendaki, adalah hal yang menenangkan dan menyenangkan. Tapi, di sebuah kereta? Lantas dia kehilangan kata-kata apa pun yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Kehilangan bahasa yang tepat untuk mengungkapkannya.

Ini rimba. Kereta ini berisi rimba. Suara hewan rimba menyamarkan deru roda kereta yang beradu cium dengan rel. Tapi walaupun terdengar samar, Dave tahu kereta ini sudah mulai bergerak.

Meninggalkan peron. Menjauhkannya dari Joni dan ikan koi yang dipercaya sebagai pembawa keberuntungan, dan semua hal yang biasa dia sapa setiap hari.

Dave mengucek lagi matanya, tapi rimba di kereta itu malah makin lebat. Ditatap tiketnya, tulisan di tiket sudah berubah, entah sejak kapan, tujuannya bukan ke kota tempat kantornya ada. Tetapi sebuah kota yang tidak ada di jalur kereta. Kota itu bernama Mayapada.

Dia melongok ke belakang dan ke depan, ke barisan kursi kosong di depannya, yang tertutupi semua dengan akar dan daun.

Rasa penasarannya tak kunjung habis. Dia memutuskan untuk berjalan sepanjang gerbong. Beberapa kali terdengar bunyi kriuk ranting patah. Ini bukan lagi sesuatu yang bisa dianggapnya sebuah candaan. Ingin rasanya berteriak, lalu menampar pipi kanan dan kirinya, mencubit lengannya berkali-kali hingga lebam. Segalanya tampak terlalu nyata.

 Suara burung-burung semakin nyaring dan dia tetap tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Hutan itu meluas, lapang, seperti bukan di dalam sebuah kereta. Pengamatannya tidak ingin sekali pun berpaling, dan segalanya tetap berjalan melampaui apa-apa yang sanggup ditampungnya. Juga langit-langit yang membentuk jalan-jalan kecil dari bayangan pohon-pohon yang menjulang. Batas itu kian tak ada. Baik dinding atau atap kereta, segalanya kini lenyap.

Dia ingat sesuatu di kantongnya. Sebuah ponsel. Tangannya meraih dengan susah payah sebab tangannya sedikit bergetar. Ia tak ingat harus menghubungi siapa, tetapi kemudian yang pertama kali muncul adalah ingatan tentang atasannya.

Panggilan itu terhubung dan dia demikian penasaran dengan apa yang selanjutnya terjadi. Kira-kira, akan seperti apa reaksi atasannya?

“Halo?”

Terdengar suara dari seberang.

“Aku … Maaf …”

Dave kehilangan kata-kata.

“Kau baik-baik saja?”

“Aku tersesat …”

Dia mendengus kesal dan begitu mengharap pertolongan.

“Tersesat apa? Kau sedang mengajakku bercanda? Setiap hari kau pergi bekerja dan tak pernah ada masalah lalu tiba-tiba kau bilang dirimu tersesat? Konyol sekali, Dave. Jika kau sedang sakit, kau hanya perlu mengatakannya. Tak perlu mengarang cerita fiktif.”

“Tidak. Aku benar-benar tersesat.”

Lalu sambungan suara itu terputus dengan sendirinya.

Dave mengumpat. Mencoba menelepon atasannya kembali tetapi tidak terhubung. Sinyal penuh. Baterai masih empat garis. Pulsa masih tersisa 119 ribu. Mungkin ponsel atasannya mati. Jadi dia mencoba menelepon teman kantornya yang lain. Terhubung. Ahura.

“Halo, aku tersesat. Mungkin aku salah naik kereta. Tolong bilang ke atasan bahwa aku akan sangat terlambat. Dan kau harus tahu, di sini segalanya menjadi tak masuk akal, tidak ada orang sama sekali. Sunyi.”

“Dave, kau tahu kerjaanku banyak. Jangan main-main.”

“Sumpah! Kau dengar suara burung, kan? kereta yang kunaiki isinya rimba raya dan tak seorang pun bisa aku ajak bicara …”

“Gila, kau!”

Lalu sambungan suara itu terputus, kali ini Dave yakin, teman kantornya ini yang menekan gagang telepon warna merah.

Drrrttt … drrrttt … Suara itu membuat Dave terpelanting ke belakang. Suara rem. Kereta berhenti. Saat ia berusaha keras untuk beranjak dari duduknya, pemandangan itu lenyap dari hadapannya, hutan itu dengan pohon-pohon yang menaunginya. Seperti amblas. Pohon-pohon itu bergerak kembali masuk ke tanah.

“Apa lagi ini? Aku hampir saja dibuat gila.”

Dia ingin keluar, tapi pintu kereta tidak terbuka. Di luar tampak stasiun kecil, tempat singgah sementara, ada seorang nenek duduk memandang ke arah kereta.

Mata nenek itu mirip senja, indah namun sebentar lagi tenggelam dan lenyap. Begitu yang dirasakan Dave. Dave mengamati nenek itu, berteriak pun tidak akan dengar, tidak mungkin juga seorang nenek membantunya keluar dari kereta ini. Tiba-tiba ingatannya memilih sebuah perasaan terluka dan memasangnya ke dalam kepalanya. Seperti seorang perempuan yang sedang mengepas baju di depan cermin.

Kereta bergerak kembali. Hutan itu tumbuh kembali dari lantai gerbong, semakin lebat, dan hanya ada ruang kosong tempat bisa dia duduki, tempat duduknya. Beruntung tak satu pun tanaman-tanaman itu mencekik lehernya. Meskipun tanpa dicekik juga dia sudah kesulitan mengatur napas.

Dave mengingat nenek itu. Nenek itu pernah berada di dalam pelukannya, dan 14 hari kemudian, nenek itu berubah jadi senja yang tenggelam.

Hutan di dalam kereta itu makin lebat, lampu-lampu kereta tertutup, hingga gerbong itu gelap.

Dia mendengar namanya dipanggil, “Dave! Dave!”

Suara itu dari luar kereta. Suara neneknya. Dia coba berlari ke arah kaca jendela, memandang ke belakang, pohon-pohon di tepi rel seperti sedang berlari memunggungi kereta yang ditumpanginya. Namun seperti sebelum keretanya berhenti di stasiun kecil, pemandangan yang semula dialaminya kembali terjadi. Dia kurang suka situasi ini, karena itu membuat kepalanya berisik sekali.

Selain neneknya, perlahan tapi pasti, pemandangan itu kian nyata. Zora, Qui, Dante, Globe, Alofe, Koa, itu adalah sebagian teman-temannya dari masa yang jauh. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba mereka harus bertemu dalam situasi yang tidak tepat ini. Kilasan-kilasan peristiwa merambat seperti kaki laba-laba yang tengah membangun rumah jaringnya. Sedangkan dia adalah mangsa yang kelak terjebak di antaranya.

Situasi yang seolah-olah sengaja menjebaknya. Dia terduduk sambil berusaha keras mengatur ritme napasnya. Sekali lagi, dia mengingat ponsel di kantongnya. Kali ini ia benar-benar merasa butuh bantuan.

Jari-jarinya lincah menekan angka. Tapi tak satu pun bisa dia hubungi. Dipandanginya layar kotak yang sensitif terhadap sentuhan itu, segalanya telah lenyap dari sana. Tak ada tanda-tanda ponselnya terhubung dengan jaringan apa pun. Dia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya. Tapi menjadi seorang lelaki tak mengizinkannya untuk mudah menangis. Tidak satu pun bisa dia lakukan, kecuali bahwa dia hanya mampu berbicara kepada dirinya sendiri.***

Kendal-Pemalang, Maret 2020


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal.

Zahratul Wahdati, guru Bahasa Indonesia SMA N 1 Randudongkal.

Cerpen

Balada Rindu

Cerpen Indah Fai

Ya Tuhan, suara lembut ibu merambat anggun memenuhi segala sudut. Ada resonansi merdu ketika suara ibu menimpa perabotan di dalam ruangan ini. Aku mendengar rak buku, lemari pakaian, kasur lantai, meja, kursi, gelas, piring, pigura. Ah, bahkan dinding pun melantunkan suara ibu.

Aku bisa merasakan tatapan hangat  dari bola matanya ketika aku demam tinggi begini. Ibu menghabiskan sepanjang malam duduk di tepi ranjangku dengan mata terjaga. Setiap kali aku terbangun, ibu mencecarku dengan pertanyaan, “Sudah merasa baikan?” Aku mengangguk kemudian  ibu tersenyum dan mengusap punggung tanganku sampai aku jatuh tidur.     

Pada pukul sepuluh malam usai menonton TV, ibu akan bertandang ke kamarku, dan hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek apakah komputer sudah dimatikan. Kemudian ia beralih menuju ranjang dan memungut telepon genggam yang tergeletak dekat bantal dan membawanya ke atas meja belajarku. Ia membenahi selimut yang membungkus tubuhku jika ia rasa kurang pas dalam pandangannya. Selalu ada hal yang kurang pas di mata ibu; entah itu seragam sekolah atau pun kamarku yang katanya mirip sarang tikus.Ibu menegaskan bahwa semua akan nampak baik dengan sedikit saja sentuhan jemarinya.

Terakhir,  ibu menekan sakelar lampu pada dinding di sisi kanan pintu kamarku. Ruangan menjadi gelap ketika ibu beranjak keluar. Lantas aku bangkit dari ‘tidurku’ menuju meja komputer, menekuri lagi permainan sepak bola sampai larut, sampai aku benar-benar mengantuk.

Pernah di malam tahun baru aku pulang pagi. Ketika akan memasuki kamar, aku melihat ibu berdiri di ambang pintu kamarku dengan raut wajah kecewa. “Sekarang  pukul setengah empat pagi. Jangan sampai kau melakukan sesuatu yang akan kau sesali.” Suara ibu bergetar tapi masih lembut. Aku tidak menemukan  amarah di sana.

“Coba lihat rambut  pelangi dan jambulmu. Astaga!” Aku mengabaikannya dan melenggang ke kamar. “Cuma setahun sekali, Bu.” Aku menatap ibu sejenak sebelum menutup pintu kamar. Mata ibu dikelilingi lingkar hitam karena menahan kantuk. “Lebih baik ibu tidur saja.”

Ibu mengetuk pintu kamarku, “Tadi ibu memasak semur ayam kesukaanmu. Mungkin sekarang sudah dingin. Apakah kau sudah makan? Ibu akan menghangatkannya lagi supaya enak.”

Seandainya ibu tahu betapa merasa bersalahnya aku waktu itu. Aku bahkan tidak ingin berpura-pura tidur lagi setiap pukul sepuluh malam.

Suatu waktu, ibu menghampiriku di teras rumah. Aku sedang berkonsentrasi menggambar poster grup band kesukaanku yang akan kubawa pada konsernya di alun-alun kota minggu depan. Ibu mencermati gambarku dengan saksama. Ia berkata : “Bagus. Tapi kau tak akan pergi ke konser itu.” Aku menatap ibu tak percaya. “Mereka ini band pro rakyat, Bu. Lagu mereka suara hati rakyat. Menyanyi untuk rakyat. Kenapa tidak?”

Ibu balas menatapku. Senyumnya semanis tebu. “Tidak. Kau tak akan pergi ke konser itu. Percayalah, di sana hanya ada kerumunan pemuda malas yang merokok, minum-minuman beralkohol, berjoget, berteriak, tawuran, dan banyak lagi. Apa yang akan kau lakukan di sana?

Biar Ibu beritahu, lima belas meter dari rumah kita ada panti asuhan. Kau boleh mengajari mereka melukis dengan cuma-cuma. Tetangga kita, Bi Ami, malam kemarin rumahnya kemalingan. Sisihkan uang sakumu dan uang yang akan kau gunakan untuk membeli tiket konser lalu berikan padanya. Atau bantulah ibu menyapu halaman depan sore nanti. Pro rakyat yang lebih manusiawi, kan?”

Ibu tidak memerlukan sihir agar bisa membaca isi hatiku melaui ekspresi tubuh. Pada suatu siang, sepulang sekolah, aku memasuki pintu utama tanpa mengucap salam. Waktu itu ibu tengah menyiapkan makan siang, sekilas ia melihatku tersuruk-suruk menuju kamar. Aku mengurung diri sepanjang sore dan baru keluar ketika ibu mengetuk pintu kamarku untuk yang kesebelas kali—memintaku makan.

Hanya ada suara piring dan sendok makan yang beradu pada menit-menit pertama; kami hanyut dalam pikiran masing-masing. Ketika nasi di piring kami sisa separuh, ibu menatapku geli sambil menggeleng,  lalu berkata, “Ayahmu berjuang setengah mati untuk bisa menikahi ibu. Ibu selalu menolak setiap ayahmu mengutarakan perasaannya. Tapi, memang dasar ayahmu itu keras kepala. Semakin ditolak, semakin dia penasaran katanya.”

Aku mencerna kalimat ibu sambil terus mengunyah makanan di dalam mulutku. Aku sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. Aku berusaha mengaitkannya dengan apa yang berlaku padaku di sekolah pagi itu. Ketika aku memberi sekotak cokelat kepada Vani—dan ia langsung menolaknya.

Pipi ibu memerah seperti kelopak mawar. Aku mengamati kedua mata ibu berputar dengan senyum yang merekah. Jam makan itu diakhiri dengan sebuah pertanyaan dari ibu:

 “Apakah kau akan memerjuangkan gadis yang kau sukai itu?”

***

Pada pertengahan Agustus, aku mengepak barang-barangku ke dalam koper besar berwarna biru laut pemberian ayah. Ibu memandangiku dari ambang pintu kamar tanpa sepatah kata dan kemudian berjalan pelan menuju ranjang tempatku mengepak barang—ia duduk di sampingku. Aku mendengar ranjangku berderit menampung tubuh ibu. Kemudian ibu berujar lirih, “Kau sungguh ingin kuliah di Malang?” Aku menatap ibu sekilas sambil tesenyum, dan mengangguk mantap.

“Kenapa harus di Malang? Bogor tidak kekurangan Universitas.”

“Adit ingin belajar mandiri, Bu.”

“Di sini juga sama saja.”

“Malang, Bu.”

“Kau tahu berapa jarak Bogor-Malang?”

“Ayolah, Bu. Adit sudah delapan belas tahun.”

“Justru karena kau baru delapan belas tahun, Adit.”.

Aku menarik napas dalam kemudian menghempasnya pelan. Aku mengalihkan pandanganku ke kaca jendela kamar. Ada bulir-bulir embun mengalir zigzag di sana, sisa hujan semalam. Beberapa daun mahoni yang menguning berguguran tersapu semilir angin Agustus di pagi hari. Aku mengalihkan lagi pandanganku kepada ibu. Kepala ibu menghadap lurus ke depan dan matanya beradu pandang dengan dinding, tetapi seakan-akan ia menatap ke kejauhan.

Aku melihat ayah berdiri di ambang pintu kamar seperti yang dilakukan ibu sebelum duduk di sampingku. Entah, sudah berapa lama ayah berdiri di sana. Ayah menyandarkan punggungnya ke gawangan pintu. Ia berkata, “Sudahlah, Bu. Biar Adit belajar mandiri. Sebentar lagi juga liburan Natal, Adit pasti pulang, kan?”

Aku melihat mata ibu berkilau terpapar cahaya yang menerobos dari jendela kamar. Ada semerbak air yang akan tumpah di sana. Ibu berkata, “Siapa yang akan mengingatkanmu untuk mencukur rambut? Memasakkan semur ayam? Astaga, kau akan banyak-banyak makan mi instan di sana. Ya Tuhan, jagalah anak Ibu.” Lalu air di mata ibu tumpah seluruhnya.

***

Beberapa waktu terakhir, setiap pukul sepuluh malam, aku selalu mendengar derap langkah ibu menuju kamar kontrakanku. Ia membuka pintu, mematikan komputer, membenahi selimutku, dan mematikan lampu. Ketika bangun di pagi hari, aku tertegun karena komputer dan lampu masih menyala.

Sekarang, suara langkah itu semakin keras dan dekat. Aku tahu itu ibu. Sebentar lagi ibu akan sampai di depan kamarku dan membuka pintu. Berdiri di sana, lalu berujar, “Kenapa bisa sakit? Kau telat makan?” Sudah lama aku tidak melihat ibu berdiri di ambang pintu dengan suara lembutnya.

Aku menyingkirkan selimut yang membalut tubuhku dan kemudian mengangkat kepalaku ke arah pintu yang setangah terbuka. Aku bangkit dari tidurku, menyandarkan punggungku ke dinding. Aku berkata, “Ibu? Ibukah itu?”

Kemudian pintu terbuka seluruhnya dan aku melihat sosok itu berdiri di sana, kedua alisnya bertaut, “Ibu?”

Dia bukan ibu.

Aku kembali merebahkan punggungku ke kasur lantai. Rizal meletakkan nasi bungkus di atas rak piring mini dekat pintu. “Apa kau ingin aku mengantarmu ke dokter?” Aku menggeleng. “Tidak usah,” kataku pelan.

“Vani bilang akan menjengukmu besok.”

“Aku tahu, boleh minta tolong?”

“Iya?”

“Tolong beritahu Ibuku aku sedang sakit.”

“Kau ingin aku meneleponnya di wartel?”

“Tidak, pakai ponselku saja.”

“Oh, ya? Kenapa bukan kau saja yang meneleponnya?”

“Aku tidak bisa.”

“Apa kau pikir aku sehebat itu?”

Rizal menatapku kesal lantas ia duduk di  lantai di jalan masuk pintu. Ia membuka bungkusan nasi yang ia letakkan di atas rak piring tadi kemudian memindahkannya ke dalam piring. Rizal menyorok piring itu ke samping kanan kasurku. “Makanlah,” ujarnya. Aku melihatnya tanpa selera, kuamati  langit kamar yang cat putihnya mulai menguning dimakan waktu dan pandanganku terhenti pada lampu yang aku lupa mematikannya pagi tadi.

“Ini sudah bulan kedua kau bertingkah seperti orang gila.”

“Maksudmu?”

“Ayolah, Dit. Ibumu sudah meninggal. Kau harus menyikapi realita dengan baik.”

Aku masih memandangi lampu itu. Cahaya putihnya menyakiti mataku. Rizal bangkit dan menekan sakelar lampu di dinding di sisi kanan pintu masuk. Lampu mati dan ruangan menjadi redup. Hanya sedikit cahaya matahari sore yang menyusup dari jendela kamar kontrakan ini.

 Rizal pamit menuju kamarnya. Kemudian, samar-samar aku mendengar seluruh perabot melantunkan suara ibu lagi. Aku juga mengingat hari pertama aku tiba di  sini. Ibu menelponku sebanyak dua puluh sembilan kali, dan aku mengabaikannya.**


Indah Fai, kelahiran Banyuwangi, 15 Juli 1994. Tinggal bersama keluarga kecilnya di Buleleng, Bali Utara. Bisa disapa melaui akun Facebook: Indah Fai dan email: [email protected]

Cerpen

Mati Tanpa Nama

Cerpen Ken Hanggara

Ingin kuakhiri semuanya hari ini. Kota sudah terlalu busuk. Udara tak lagi nyaman kuhirup. Anjing-anjing yang menemaniku sudah kulepas ke tangan para pencinta satwa. Rumahku sudah dimiliki sejumlah gelandangan terbusuk di Kalodora. Tak ada keluarga, tak ada teman atau sahabat. Bahkan beberapa wanita yang sempat menemaniku selama belasan tahun terakhir kini entah di mana. Aku tak yakin mereka masih mengingat sosok lelaki kaya raya kesepian yang memutuskan tak pernah memiliki anak sampai mati ini. Itulah yang membuat mereka kabur satu per satu; mereka berharap menimang anak dari percintaan atau pernikahan kami, sedang aku menolak kehidupan seperti itu.

Hari ini, yang tersisa dariku selain baju yang kukenakan, adalah nyawa. Mungkin satu-satunya yang kupegang, yang bukan milikku, adalah nyawa. Aku yakin Tuhan di atas sana menunggu mengambil apa yang bukan jadi milikku.

Melihat situasi taman pusat Kota Kalodora yang nyaris tak pernah ramai ini, tiba- tiba membuatku ingin menangis. Bukan demi penyesalan, tapi demi keinginan yang tak pernah orang-orang pahami.

Maka, aku menangis. Di sebuah kursi besi panjang, aku menangis selama kira-kira sepuluh menit. Tak seorang pun tahu. Mungkin hanya malaikat dan setan sajalah yang tahu bagaimana aku menangis sebelum mengakhiri semua ini. Mungkin juga tidak ada yang tahu sampai beberapa hari kemudian bahwa aku berada di sini, memutuskan untuk selesai dari hidup ini di sini, hingga jasadku membusuk dan orang-orang baru akan menyadari itu jikapun ada yang melintas di bagian tenggara taman yang paling sering dijauhi karena terlalu senyap. Mungkin butuh waktu sebulan untuk menemukan jasadku, tapi apa pun itu aku tak peduli.

Namun, aku tak cukup yakin sudah berhasil ‘menghilangkan’ diri sejak tadi malam, meski kubuang identitas dan jejak yang membuat seisi kota, bahkan kaum gelandangan yang sehari-hari tak ada kesempatan menonton TV atau membaca berita tentang diriku di koran lokal, tak akan menemukanku.

Aku tak yakin tak ada seorang pun yang bertanya-tanya kenapa seorang lelaki tenar macam diriku berkeliaran di taman kota, di bagian yang paling senyap, seorang diri pula? Apa yang membuat lelaki itu berpakaian apa adanya, malah cenderung mendekati gaya gelandangan? Apa juga yang membuatnya menyerahkan rumah terbaiknya ke sejumlah gelandangan?

Para gelandangan itu mungkin sempat bertanya-tanya siapa aku, tapi aku tak ingin menjawab, dan pada akhirnya mereka bakal tahu juga setelah membongkar setiap sudut dari rumahku, lantas menemukan foto-foto, piagam dan piala, potongan berita tentang kisah suksesku, berbagai skandal, dan lain-lain.

Jejak-jejakku masih tertinggal di rumah, dan karena itu, menunda kematian kurasa akan jauh lebih baik ketimbang orang kota menemukan jasadku dan headline hari yang sial itu berbunyi: Ali Mudakir, pengusaha tersukses di Kalodora, ditemukan mati bunuh diri di bagian tersenyap dari taman kota setelah dengan sengaja meninggalkan seluruh hartanya untuk para gelandangan.

Itu bukan sesuatu yang kudamba. Orang-orang yang dulu pernah menjadi keluarga dan temanku pasti akan sangat terganggu.

Aku berharap sebuah kedamaian untuk akhir yang buruk ini. Aku mau tak seorang pun menyadari diriku saat sudah menjadi jasad nanti. Aku harap sebagian besar tubuhku bisa berguna untuk beberapa mahasiswa di sebuah fakultas kedokteran, di dalam ruang praktik di mana jasad-jasad tanpa identitas diotopsi demi ilmu pengetahuan, sekalipun mungkin sebagian diriku akan membusuk.

Maka, sisa hari itu kuhabiskan dengan berjalan lebih jauh, menuju pinggiran Kota Kalodora, menelusuri bagian-bagian sunyi dan kemungkinan jarang dilalui orang paling tidak hingga beberapa hari ke depan. Waktu itu hari sudah cukup gelap dan aku berjalan tak terlalu jauh dari jalan utama, tapi wajahku tetap terlindungi oleh kegelapan sebab di kawasan tersebut, lampu-lampu jalan banyak yang tidak berfungsi.

Pernah dulu terjadi perampokan di area sini. Seorang pegawai salah satu bioskop terbaik di Kalodora ditemukan berbaring melingkar bagai udang di kotak sampah dan mungkin saja saat ini lokasi tersebut tak terlalu jauh dariku. Aku pasti tak salah tebak. Kawasan ini memang sepi. Rumah-rumah kosong dibiarkan telantar, dan hanya dihuni beberapa orang gila dan orang liar yang tak tepat disebut gelandangan, melainkan lebih cocok menyandang gelar para pengganggu keamanan. Konon mereka datang dari kota sebelah yang sebagian besar hancur total karena kerusuhan beberapa tahun lalu, dan kini kehidupan di kota tersebut jauh lebih buruk ketimbang kesialan yang sehari-hari ditelan oleh orang-orang termiskin di Kalodora. Bisa dibayangkan seliar apa orang-orang itu jika turun, beraksi merampok, atau memalak orang-orang di jalanan. Bisa dibayangkan nyawa para mangsa tak bakal ada artinya demi kebahagiaan memiliki uang dan hidup bersenang-senang seminggu ke depan untuk mereka.

Tiba-tiba aku memikirkan gagasan itu; mati sebagai korban perampokan dari kaum liar ini, lalu jasadku dibuang, hingga ‘hilang’ dari dunia paling tidak sampai tiga atau empat minggu ke depan. Apa mungkin?

Namun, para pembegal pastilah memilih siapa yang layak menjadi korban, dan aku jelas bukan korban yang menggiurkan, sebab yang kubawa hanyalah pakaian lusuh yang tadi pagi masih dikenakan salah satu gelandangan yang kini kubiarkan menguasai tiap sudut rumahku.

Aku harus melakukan sesuatu untuk memancing orang-orang liar itu ke luar sarang. Mungkin kini mereka mengintai dari balik lorong-lorong gelap di antara rumah-rumah yang lama tidak disambangi pemiliknya sebab sebagian besar dari mereka mati dalam kecelakaan di pabrik bir. Para buruh di pabrik itu tewas dalam kebakaran yang dahsyat beberapa tahun lalu dan kini rumah mereka tak ada yang memiliki, kecuali orang-orang gila dan para begal itu.

Mereka mungkin hanya melihatku sebagai orang gila, atau gelandangan biasa yang tersesat, dan tidak cukup menarik untuk digasak. Demi tewas dengan cara seburuk itu, demi mati sebagai mayat tanpa identitas, aku pancing mereka. Dengan keras kukatakan, “Kalian mau uang dan emas? Ayo, keluar dan bunuh saya!”

Tak seorang pun merespons. Tetap sepi dan hanya terdengar bisik-bisik gerutuan di beberapa rumah: orang-orang gila yang terganggu tidurnya. Kembali kuucap tawaran, tapi tak seorang pun muncul.

Mereka baru tergoda setelah kutampakkan wajahku ke bawah sinar lampu jalanan. Mereka tentu tak sepenuhnya tahu siapa aku, tapi wajahku bukan ciri orang-orang yang lama hidup di jalanan. Mereka dengan sabar mendengarkan sejumlah arahan dariku jika nanti sudah menghabisiku dan menyembunyikan mayatku. Kusampaikan mereka bakal menjemput kekayaan di rumah—di alamat yang kutulis untuk mereka. Tentu alamat itu bukan alamat rumahku. Itu tak lebih alamat palsu sebab jika kutunjukkan rumahku, mati yang kualami bukan lagi mati yang rahasia. Bukankah aku mengharapkan berakhir dan tak seorang pun menyadarinya?

“Bagaimana kami yakin kau tidak bohong?” tanya seseorang dari balik kegelapan.

“Apa gunanya saya berbohong, sedang saya benar-benar bosan hidup?”

“Apa buktinya kau memiliki uang dan emas?”

Tanpa berkata-kata, kulempar sesuatu yang lupa kulepaskan sejak pergi dari rumah mewahku: sebuah arloji emas.

Demikianlah, mereka menghabisiku malam itu. Mayatku dibuang ke suatu selokan di pinggir kota, ditemukan dua hari kemudian oleh sopir taksi yang sedang kencing. Tak ada yang perlu dicemaskan tentang alamat palsu itu. Alamat itu tidak lebih dari sebuah tanah kosong di bagian utara kota, tempat dulu, dua puluh tahun lalu, aku bercinta untuk kali pertama dengan kekasihku yang tidak sudi melanjutkan hubungan kami sebab aku tak pernah berharap memiliki anak.

Aku ingat apa yang kekasih itu katakan usai kami bersetubuh malam itu, “Kamu pasti bisa menjadi ayah yang baik. Tak perlu takut memiliki anak.”

Aku hanya menjawab, “Oh, mustahil. Aku tak akan bisa menjadi ayah yang baik.” ***

Gempol, 14 April-15 Desember 2020


Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Museum Anomali 2: Dosa di Hutan Terlarang (2018). Segera terbit buku kumpulan cerpen terbarunya: Pengetahuan Baru Umat Manusia.

Cerpen

Suara Karenina

Cerpen Fataty

Sovia, Musim Gugur

Ia menatap cermin, lama. Melihat wajah yang berembun setelah dibasuh air hangat. Rambut merahnya dibiarkan tergerai tak teratur. Letih. Cekung matanya terlihat makin tegas. Lelah. Beban itu tiba-tiba menumpu di sekujur pundaknya. Ia menghela napas panjang. Mengusap perutnya.

Sebotol aspirin ia ambil dari balik cermin lemari obat yang tergantung tepat di atas wasafel. Ia minum satu butir. Handuk kecil yang ia basahi diperas, lalu dikompresnya kening, leher dan kedua pipinya. Ia kembali menghela napas panjang. Memandang cermin lagi. Memaksa bibirnya membingkai tipis senyum. Gagal. Kedua matanya membulirkan setetes.

Sepasang kaki jangkung itu melangkah sedikit jingkat, seperti menghindari pucuk-pucuk duri. Melangkah menuju peraduan, merebahkan diri, menarik selimut tebal sampai leher. Sebentar lagi musim dingin. Daun-daun pohon birkin mulai memerah dan gugur memenuhi jalanan. Gelisah. Ia belum bisa terpejam meski tempat tidurnya hangat.

“Selamat pagi, Karenina. Kau terlihat pucat. Tidurmu tidak nyenyak rupanya.” Wanita berusia senja menyapa dengan hangat, memakai celemek, menyiapkan kopi, beberapa slice roti panggang dan jeruk berjuring-juring ditata rapi di piring datar. Meja makan berenda itu sudah tertata menghidangkan sarapan. Karenina duduk. Merapatkan piyama, menyeruput kopi, dan menggigit roti. Menerawang keluar jendela dapur. Berkabut dan hening. Perempuan berusia senja itu, memandang dengan raut tanda tanya pada satu-satunya putri dari almarhum kakak perempuannya. Merasa diabaikan.

“Karen, Are you okay?” Menilik wajah keponakannya yang masih saja tidak memalingkan muka ke arahnya. Ia diam tidak menjawab. Ia tetap memandang bagian belakang gadis itu. Belum juga berpaling ke bibinya. Sambil tetap memandang ke arah jendela. “Bibi Anne. Besok aku mau ke Kopenhagen.” Suaranya lirih. Hampir lenyap ditelan hawa berkabut kota Sovia, Bulgaria.

Perempuan berusia senja ini memandang dengan muka penuh tanda tanya ke arah gadis itu yang masih memandang ke luar jendela. “Kau ada tugas lagi di sana? Tak biasanya kantormu mengirim ke tempat yang sama dalam waktu dua bulan,” sahutnya heran.

“Bukan, bibi Anne. Bukan tugas. Aku hanya harus ke sana. Besok aku berangkat.”

Bibi Anne menghela napasnya sebentar. Meletakkan sepinggan pie apel hangat yang baru keluar dari oven.

“Kau seperti ibumu. Teguh dan berkemauan keras. Kau tahu kan di Denmark suhu selalu di bawah lima derajat celcius. Apalagi sebentar lagi salju turun. Oh my dear Lil girl. Be careful. Dia memberi kecupan kecil di kepala gadis itu yang selalu disebutnya Lil Girl (gadis kecil).

Karenina tetap menatap ke luar jendela. Ia memang suka memandang ke luar jendela. Jendela kamar, jendela dapur, jendela rumah pohon di rumah masa kecilnya, jendela apartemen lantai 12, jendela mobil, jendela kereta dan kini jendela pesawat.

Beberapa menit, Karenina, gadis cantik berambut merah itu, garis-garis wajahnya yang tegas khas perempuan Kaukasia telah berada di angkasa. Mata berwarna hijau, bibir tipis ditopang leher yang jenjang, seimbang dengan postur tubuhnya yang semampai. Make up-nya tidak berlebihan. Rambut merah bergelombang bak ombak lautan Baltik. Tidak terlalu ada riak. Lembut. Diikat begitu saja.

Ia memandang ke luar jendela. Tidak ada apa-apa. Hanya desing mesin pesawat yang ujung sayapnya tertutup awan putih. Tak terlihat apa-apa. Karenina, ia tetap memilih memandang ke luar jendela.

Enam bulan yang lalu

Suasana dalam pesawat senyap. Beberapa penumpang tidur, sebagian membaca buku, majalah, brosur pariwisata. Sepasang muda-mudi yang bermesraan, dan ia menekuni layar notebook-nya. Kedua matanya tertuju pada monitor penuh huruf-huruf. Menjadi editor sebuah penerbitan besar yang memiliki cabang di beberapa negara Eropa, membuatnya sering mengunjungi berbagai negara. Kali ini Kopenhagen, Denmark. Negeri ujung hampir menyentuh Antartika ini dikenal sebagai negeri dingin, damai dan hampir nol persen konflik. Beberapa tokoh menyebutnya dengan:  A Piece Of Paradise.

Kelopak matanya terlihat lelah. Ia lepas kacamata lalu meminum seteguk air putih. Memandang sekeliling. Tenang. Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ada yang aneh. Duduk di sebelahnya perempuan sekitar 50-an tahun, sedari tadi menyapa, mengajaknya berbicara singkat, santun khas orang Inggris. Tidak berisik dan mengganggu.

Tiba-tiba terdengar seorang wanita bicara dengan nada tinggi dalam bahasa Jerman. Memelototi seorang pria yang duduk di sampingnya. Beberapa penumpang lain memandang ke arah mereka. Si wanita berdiri meninggalkan tempat duduknya. Semua orang melihat. Sepertinya mereka adalah suami-istri.

Semua berpusat pada mereka, termasuk Karenina. Ia lepas kacamatanya. Ia tekan tulisan shut down di layar notebook-nya, menutup dan memasukkannya dalam tas. Ia memilih memperhatikan sepasang suami-istri yang bertengkar itu, dalam bahasa Jerman. Puncaknya wanita itu menampar si lelaki, lalu berdiri berjalan cepat menuju toilet pesawat.

Karenina membuka sedikit bibirnya melihat adegan pertengkaran itu. Ia memang tidak fasih berbahasa Jerman tapi ia sedikit memahami pertengkarannya. Karenina memutar 45 derajat ke arah kiri. Pandangannya beradu dengan seorang pria berambut cokelat. Wajahnya penuh jambang di dagu dan pipi. Memegang sebuah kamera berteropong panjang. Mirip milik paparazi pemburu Lady Diana. Seperti fotografer profesional.

Pria itu hanya beberapa meter dari tempat duduknya. Dia tersenyum lebar ke arah Karenina. Memamerkan barisan giginya yang putih. Ia mengangguk. Sekadar membalas dari pandangan mata yang beradu tanpa sengaja. Karenina tersenyum tipis.

Rosenborg Palace

Karenina berjalan menyusuri jalan setapak yang menjulur menuju sebuah bangunan tua nan megah. Sebuah bangunan yang tidak berubah struktur eksteriornya. Besar, berdinding bata berwarna abu-abu. Benar-benar tua. Melihatnya laksana terjebak dalam kisah-kisah kolosal di masa lampau. Sebuah tempat megah pertemuan para Duke.

Rosenborg Palace kini hanya penyedap Image Capture para wisatawan Kastil tua abad pertengahan. Saksi berbagai cerita-cerita masa lalu. Ia juga saksi bisu kisah Karenina. Karenina menaikkan syalnya menutupi seluruh leher jenjangnya. Mendekap kedua tangan bersilang memeluk tubuhnya sendiri. Benar-benar dingin. Ia isap kuat-kuat hawa dingin kota Kopenhagen.

Dibiarkannya oksigen  memenuhi paru-parunya. Dibiarkan pula sebuah kisah singkat itu menyelam di labirin otaknya. Ia menutup kelopak matanya sebentar dan hologram seraut wajah nampak sekilas. Segera ia buka kedua mata itu lalu memandang lepas di lahan luas berumput hijau.

“Engkau seorang penulis?” Suara berat itu melontarkan sependek kalimat tanya. “Ya. Dulunya. Sekarang aku lebih banyak mengedit tulisan orang. Karena pekerjaan. Di kota ini aku ditugaskan menemui seorang penulis cerita untuk anak-anak. Perusahaan saat ini mulai concern menerbitkan tulisan untuk anak-anak.”

Pria itu menopang kamera berteropong panjang membidik bangunan dari berbagai sudut. Sesekali ia membidik Karenina sambil bicara. Karenina menikmati sejenak menjadi obyek kamera berteropong panjang itu.

“Apa yang kamu potret? Alam, manusia, bangunan?”

“Aku memotret apa saja. Tapi untuk pekerjaan fokus pada bangunan. Sebuah bangunan yang tua, modern, sempit, luas, unik, apa pun untuk sebuah program TV.”

“Oh, ya? Aku jarang nonton TV, aku pikir TV membosankan.” Karenina menyibak rambut merahnya. Ia mulai sedikit terkesan.

“National Geography. NatGeo People, tepatnya. Salah satu program bertema Humanity. Aku versi majalahnya, menyediakan foto-foto berbagai bangunan, rumah, pondok, apartemen, termasuk kastil.”

Karenina meninggalkan kompleks wisata Kastil Rosenborg Palace. Memberhentikan taksi dan turun tepat di Downtown Kopenhagen. Menyusuri trotoar. Ia tidak menuju ke mana-mana. Ia mengikuti ke mana kaki berbalut sepatu boot itu melangkah. Hanya mengamini kata hatinya. Hati itu kini dipenuhi sebuah nama yang sempat hadir dalam hidupnya. Merampok hatinya pelan-pelan.

Restoran kecil ala Italia tepat di depan kakinya yang berhenti melangkah itu memiliki sebuah riwayat bersamanya. Di sanalah ia pernah menikmati setepi senja yang syahdu bersama laki-laki yang selalu membawa kamera berteropong panjang. Membicarakan banyak hal. Tertawa bersama.

Tak bisa ia lupakan barisan putih giginya ketika tersenyum. Laksana senyuman seorang ksatria yang gagah dalam cerita-cerita klasik. Memberinya ruang teduh dari bisingnya rutinitas hidup. Di sudut ruangan restoran itu, Karenina tidak melupakan.

“Engkau memiliki mata yang indah, Karen. Kau tidak menyadarinya?” Pandangan laki-laki itu, pujian yang keluar dari bibirnya laksana dewa yang menyematkan sepasang sayap di antara kedua pundaknya. Ia merasa telah dinobatkan sebagai seorang bidadari yang cantik.

Ia menyeruput Cappucino, mengiris kecil dua lapis Wafel yang disiram sirup Mapple. Diam dalam temaram lampu-lampu meja. Wajahnya putih pucat. Riak mukanya menerbitkan kesedihan. Bibirnya menggumankan sebuah nama.

Kembali ia melihat wajahnya yang memantul di cermin yang menggantung di atas wastafel. Membasuhnya dengan air hangat. Mengambil sebutir aspirin dan menelannya sambil memejamkan mata. Melangkahkan kaki-kaki jangkungnya dengan sedikit berjingkat menuju tempat tidur dalam flat yang ia sewa selama tiga hari saja.

Desiran angin malam kota Kopenhagen menyerobot masuk di jendela kamar yang terbuka sedikit. Dingin. Karenina merebahkan diri, dan memeluk bantal, membauinya. Aroma tubuh laki-laki itu masih melekat. Bahkan bibirnya yang lembut dan jambang di dagu itu masih terasa pernah meninggalkan jejaknya di bibir, wajah, leher dan punggungnya.

Karenina menikmati setengah tidurnya dalam kenangan bersama pria itu. Ia tidak lupa betapa ia rela memainkan ritme percintaan dengannya.Ya. Setengah tidur saja. Ia sejenak menghadirkannya kembali. Kisah tempat tidur ini.

Tempat ia melabuhkan seluruh perasaannya. Menggemakan lagi lagu-lagu cinta dalam hangatnya pelukan lengan laki-laki itu, masih ia ingat suara lembut berbisik pelan, membunyikan kalimat yang seketika meruntuhkan stupa-stupa kuil cinta yang baru saja selesai ia susun. “I’m Married.“ Karenina tidak bisa memejamkan mata. Air matanya menggenang. Tangannya memegang perut yang di sana tinggal gumpalan darah yang berdenyut.***


Fataty, bernama asli Fatatik Maulidiyah, S.Ag, M.PdI. Seorang guru PAI di MAN 2 Mojokerto. Tinggal di Kemlagi, Mojokerto.

Cerpen

Percakapan Dua Ikan

Cerpen M.Z Billal

Dari rumahku, sekitar 35 kilometer, kita akan berhenti di perempatan. Makan siang di salah satu kedai yang menghadap langsung ke Tugu Patin yang elegan dan kokoh, berdiri pada bundarannya. Tugu itu adalah monumen kebanggaan kota Pematang Reba sebagai kota administratif di Indragiri Hulu. Dari kedai itu pula nantinya, kau bisa melihat dengan jelas sepasang ikan patin itu terlihat berenang riang saling bercengkerama satu sama lain di bawah naungan setangkai seroja merah muda. Membuatmu merasa seperti ikut berenang di dalam Sungai Indragiri yang cukup permai untuk disusuri. Namun belakangan, sayangnya sungai itu kian hari makin dangkal akibat penambangan pasir liar. Hal itu juga mengakibatkan pemukiman di sepanjang tepi sungai menjadi langganan banjir bila musim hujan tiba.

“Wah, kau memilih tempat dengan angle yang bagus untuk memandang tugu itu secara detail,” katamu saat kita baru saja duduk di dalam kedai seraya memesan masakan khas kotaku, yakni asam pedas ikan patin.

“Tentu saja. Sudah kukatakan padamu, aku tidak akan membuatmu kecewa bila mampir ke sini?” Aku tertawa kecil sambil memperhatikan sepasang matamu yang masih asyik memandangi tugu itu. “Apa kau mau berfoto di dekat tugu itu?” tanyaku kemudian.

“Ya ampun, aku senang sekali bila kau mau mengambil gambarku di sana! Itu akan jadi kenangan yang tidak terlupakan.” Kau kegirangan. “Tapi, pasti mengganggu kendaraan yang lewat.”

“Ah, tidak kok.” Aku cepat-cepat membuatmu merasa yakin. “Aku akan mengantarmu ke pinggir bundaran tugu itu, lalu aku mengambil gambarmu dari seberang jalan. Nanti kita atur pose yang bagus. Bagaimana?”

“Baiklah, aku akan menurut kata sang fotografer biar hasilnya bagus. Hehe.” Kau tersenyum ketika pelayan membawa hidangan makan siang yang kita pesan.

Sungguh, sampai detik ini aku masih tidak menyangka kalau kau benar-benar di hadapanku. Kau datang dari kota jauh untuk menemuiku. Padahal kita hanya berkenalan melalui sosial media Instagram. Bahkan bahan percakapan kita di sana pun tidak lebih dari seputar destinasi wisata, buku-buku yang kita sukai, atau sesekali kau menunjukkan artikel-artikel bagus yang kau tulis untuk media tempatmu bekerja, sementara aku memperlihatkan foto-foto hasil bidikanku di beberapa tempat yang pernah kukunjungi.

Aku berharap setidaknya kau akan menyukai salah satu hasil jepretanku yang masih amatiran. Aku bilang begitu karena aku yakin hasil foto buatanmu jauh lebih bagus, mengingat kau seorang jurnalis, sementara aku cuma tukang foto serabutan yang mencintai lanskap alam, bukan seorang fotografer. Pekerjaanku sebenarnya menjaga toko alat tulis dan fotokopi yang kurintis sendiri.

Entah apa yang membuat seorang sepertimu bisa serius menanggapi aku yang tidak terkenal. Bahkan benar-benar berkunjung ke kotaku ini.

Memang, kau punya alasan kuat untuk sampai kemari. Kau bilang ingin mencari inspirasi untuk artikel barumu. Sebab jiwa petualangmu merasa terpanggil meski kau  seorang perempuan. Tetapi, sekali lagi, aku betul-betul masih tidak menyangka itu akan sungguh terjadi. Aku sampai merasa sangat gugup mempersiapkan diri untuk menyambut kedatanganmu tatkala kau tiba-tiba mengirimi aku pesan di Instagram, bahwa kau akan datang ke tempatku. Aku jadi serba salah, takut kau kecewa karena aku tidak sekeren yang kaubayangkan ketika kita saling memuji di ruang chatting.

“Luar biasa! Ini masakan yang sangat lezat!” katamu sambil menyendokkan kuah asam pedas patin ke mulutmu.

“Apa kau betul-betul tidak pernah merasakan masakan ini?” tanyaku.

“Mungkin pernah. Aku tidak begitu ingat,” jawabmu seraya tersenyum. “Tapi yang kucoba sekarang ini benar-benar enak. Aku tidak merasa mual, padahal yang kutahu bau amisnya ikan patin cukup menyengat.”

“Wah, kau mahir juga menilai masakan.” Aku merasa senang bisa memujimu secara spontan. Kau langsung terlihat malu-malu. Kupikir jurnalis sudah kehilangan esensi malu-malu karena terlalu sibuk mengejar berita dan artikel yang dikejar tenggat waktu.Terlebih saat yang diburu berita-berita kriminal atau bencana alam.

“Aku tampak seperti juri Master Chef, ya?” Kau terkekeh. Membuat dadaku tiba-tiba dipenuhi perasaan yang tidak biasa. Ingin kukatakan tapi aku sendiri tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku cuma bisa ikut terbawa dalam tawa kecilmu. Maka kutambahkan saja bahan candaan serupa agar suasana semakin santai. “Asal kau tidak salah membedakan gula dan garam tanpa mencobanya, kau sangat cocok jadi juri.”

Lalu kita saling diam. Menikmati menu masakan jelang siang di kedai sembari sesekali melempar pandangan ke arah orang-orang yang masuk dan keluar. Makin siang, warung makan semakin bertambah ramai. Suhu ruangan pun semakin hangat. Karena matahari bersinar cerah sekali hari ini.

“Eh, setelah ini kau mau ajak aku ke mana tadi? Aku lupa,” katamu membuka percakapan lagi.

“Danau Raja. Tempat pemandian para putri Raja Indragiri zaman dulu.”

“Wah, keren! Aku sempat melihat danau itu di internet kemarin. Nanti sekalian kauceritakan ya tentang kota itu. Biar aku tidak repot-repot membuka laman internet. Hehe.”

“Aku kurang tahu banyak,” jawabku sambil membalas senyumanmu yang manis berulang kali. “Tapi aku akan tetap cerita semua yang kuketahui. Aku yakin sekali, sepotong cerita yang kututurkan pasti bisa kautulis sebanyak lima lembar A4.”

Tiba-tiba tawamu meledak. Sampai membuat orang-orang di dekat kita menoleh dan merasa aneh. Aku sungguh tidak menyangka kau benar-benar tertawa karena kalimat yang kukatakan. Padahal aku percaya eksistensimu sebagai jurnalis, bukan untuk bercanda. Namun melihatmu tertawa lebar, aku jadi merasa sangat nyaman. Ya ampun, aku berhasil menaruh sesuatu yang menyenangkan di dalam hatimu. Aku jadi merasa kita mirip patung sepasang ikan patin yang berdiri artistik di pusat kota Pematang Reba ini. Kita saling bercengkerama apa saja yang membuat kita akrab dan saling mengisi satu sama lain. Hanya saja, kupikir kau bukanlah ikan patin betina di perairan Sungai Indragiri ini. Kau adalah seekor ikan dari perairan jauh yang singgah sejenak kemari. Mengunjungi aku, ikan asli penghuni kedalaman Sungai Indragiri.

“Baiklah, selepas salat Zuhur nanti, kita langsung ke Rengat ya. Tapi sebelumnya kau harus memotretku di dekat Tugu Patin itu. Aku betul-betul tidak sabar pamer foto bagus di Instagram-ku. Kalau bisa kita foto bersama.”

Mendengarmu mengajak aku foto bersama. Dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya. Saking senangnya aku ingin cepat-cepat keluar dari kedai dan memotretmu. Bahkan ketika ponselku berdering aku sampai tidak dengar. Padahal itu telepon penting dari seorang teman. Ah, perasaan suka kadang benar-benar membuat orang-orang kehilangan daya fokusnya.

Selesai makan kita langsung keluar. Aku memotretmu dan kita berfoto bersama. Mulai dari pose-pose yang bagus sampai kepada ekspresi yang lucu. Kita memastikan  apa yang kita lalui pada hari ini adalah cerita-cerita yang layak dikenang untuk waktu yang tidak terbatas. Sampai akhirnya kita tiba di tepian Danau Raja yang sejuk dan aku mulai bercerita tentang sejarah kota bertuah ini. Kau tampak betul-betul mendengar seluruh yang kututurkan, hingga tanpa sengaja aku mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak boleh kuucapkan. Sepertinya aku telah mengacaukan suasana.

“Aku betul-betul senang sekali bisa bertemu denganmu, bahkan bisa menceritakan tentang kota ini. Aku berharap kau tidak pergi dan kita bisa berbincang lebih banyak lagi.”

Kau diam sejenak. Mengalihkan pandangan kepada gulungan ombak kecil di tengah danau. Menatap perahu mesin membawa beberapa pengunjung berkeliling dan menikmati sensasi mengambang di atas Danau Raja yang indah.

“Aku juga sangat senang bisa bertemu denganmu. Aku tidak salah memilih teman, meski lewat sosial media. Kau sangat ramah. Kota ini pun membuatku betah dan ingin tinggal lebih lama.” Kau mengatakan sesuatu yang membuat perasaanku tenang. “Tapi, sungguh maaf, aku tidak mungkin berada di sini. Kau akan selalu jadi salah satu teman terbaikku. Lain waktu aku akan kembali, atau saat kau mampir ke kotaku, aku akan mengajakmu berkeliling sampai puas.”

Aku mengangguk seraya tersenyum dan merasa lega. Tentu saja aku tidak bisa memaksamu, begitu pun dengan perasaanmu. Itu sikap yang konyol. Kupikir, dengan menyukaimu secara rahasia akan membuat hubungan ini akan baik-baik saja. Bukankah menjadi teman artinya kita bisa bebas menyatakan rasa suka?

“Hei, maukah kau naik perahu itu juga? Ayo!” Ajakmu seraya menarik tanganku.

***

Pagi-pagi sekali, di hari Minggu yang cerah, kau tiba-tiba mengirimi aku pesan melalui Whatsapp. Kau bilang: Kau harus baca ini! Kita keren!

Di bawah pesanmu tertera tautan sebuah laman online. Aku tahu betul itu laman berita resmi tempatmu bekerja. Tanpa pikir panjang segera kuklik tautan itu. Betapa tidak kusangka, foto-foto kebersamaan kita kau lampirkan sebagai foto pendukung artikel yang kautulis. Rasanya dadaku berdebar semakin cepat. Aku terharu, aku senang sekali, aku tidak tahu mau bilang apa. Aku semakin ingin pergi ke kotamu. Terlebih saat kaukutip sepenggal puisi yang kutulis di buku catatan kecilmu pada bagian akhir artikelmu. Hal itu semakin membuatku rindu ingin bertemu.

“Kita adalah sepasang ikan. Pembicaraan kita puitis. Nanti kita saling merindukan. Meski kita berenang di sungai yang berbeda.”**


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termaktub dalam kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Membaca Asap (2019), Antologi Cerpen Pasir Mencetak Jejak dan Biarlah Ombak Menghapusnya (2019). Karyanya tersebar di koran dan media daring. Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER), Komunitas Pembatas Buku Jakarta, dan Kelas Puisi Alit.

Cerpen

Perkutut di Pangkuan Laksmita

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Menukik dari dahan pohon randu alas, seekor perkutut terbang rendah, hinggap di pangkuan Laksmita. Perempuan yang hamil muda itu tengah duduk di pendapa, membiarkan perkutut itu bertengger di pangkuannya. Ia tak ingin menangkap perkutut itu dan mengurungnya dalam sangkar. Telah berhari-hari Laksmita mengamati perkutut itu. Jinak, perkutut itu senantiasa berkeliaran di sekitar telapak kaki Laksmita. Tidak beranjak ke mana-mana.

Baru pagi ini perkutut hinggap di pangkuan Laksmita. Burung itu seperti ingin ditangkap dan dipelihara dalam sangkar. Tetapi Laksmita tak ingin menangkapnya. Ia ingin mendengar kicau perkutut itu dari dahan pepohonan. Tenang, tanpa rasa takut,  perkutut itu bertengger di pangkuan Laksmita. Seperti  sudah sangat mengenal Laksmita, burung itu bermanja-manja di pangkuan. Tiap pagi Laksmita menggenggam ketan hitam dan jewawut, ditebar di pelataran, segera dipatuki perkutut itu, pelan, nikmat, dan tak tergesa-gesa. Perkutut  itu menjadi bagian hidup Laksmita.

Broto memperhatikan perkutut itu dan beralih menatap perangai istrinya yang penuh kesabaran.

“Sepertinya dulu perkutut ini tak pernah hinggap di pelataran?” Broto menggugat. Ia ingat, ketika gadis dulu, Laksmita seringkali berada di tepi sendang, usai mencuci dan mandi. Tetapi perkutut itu tak pernah menampakkan diri. Yang hinggap di antara dahan pepohonan randu alas adalah burung kacer. Broto pernah mengikuti terbang burung kacer dari rumah orangtuanya ke pelataran rumah Laksmita—yang mengantarkannya bertemu dengan gadis itu, dan kemudian menikahinya.

“Perkutut ini sudah lama datang padaku melalui mimpi,” kata Laksmita, seperti ingin menelan kembali kata-katanya.

“Aku juga telah lama datang dalam mimpimu?”

Laksmita menatap teduh Broto. “Engkau datang dalam mimpiku, empat puluh hari menjelang pertemuan kita.”

“Kenapa kau tak pernah cerita?”

“Aku tak ingin mendahului kehendak Yang Mencipta Mimpi.”

“Tangkap saja perkutut itu! Ia ingin kaupelihara.”

Memenuhi permintaan suaminya, perkutut  itu ditangkap Laksmita dan dimasukkan ke dalam sangkar. Perkutut  itu sangat jinak, berada di sangkar tanpa merasa asing. Mematuk jewawut dan ketan hitam, minum sesekali. Broto memang mempunyai pekerjaan baru, merawat perkutut itu tiap pagi. Membersihkan sangkar. Mengganti jewawut dan ketan hitam. Mengganti air yang keruh dan mengering. Ia tak pernah menggerutu. Ia sadar, perkutut itu telah lama hadir dalam mimpi dan kehidupan Laksmita, istrinya.

Laksmita sering memandangi perkutut itu, terutama ketika sedang berkicau. Ia seperti terhibur, dan tertegun mencari makna kicau burung itu.

“Apa yang kaupahami dari kicau perkutut itu?” desak Broto pada Laksmita yang kini sedang mengandung.

“Perkutut itu bercerita, bayi yang kukandung ini laki-laki.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Ia berkisah melalui kicauannya.”

Broto tercengang, dan bertanya-tanya dalam hati: Laksmita bisa memaknai kicau perkutut itu? Ia baru sadar sekarang, bila istrinya bisa menangkap percakapan perkutut melalui kicauannya. Ia juga bisa memahami suatu peristiwa melalui mimpinya. Lalu, kejadian apa lagi yang akan diketahuinya melalui mimpi dan kicau perkutut itu?

***

Dipendapa Broto senantiasa menyendiri, membayangkan gerakan-gerakan tari yang mesti diciptakannya. Selalu saja Broto menemukan berbagai gerak tarian “Sang Hyang Memedi Sawah” yang melibatkan tokoh petani, burung-burung, memedi sawah, dan Dewi Sri. Ia menciptakan tarian jenaka, gerakan-gerakan yang diperkirakan membangkitkan tawa dan kadang senyum terpendam. Broto selalu menemukan gerakan-gerakan tari, dan membayangkan burung-burung pipit di hamparan padi menguning, terbang-hinggap, menghindari memedi sawah.

Perkutut itu selalu berkicau, bila  Broto terdiam, memikirkan gerakan tari yang sedang ia ciptakan. Selalu muncul gerakan baru setelah kicau perkutut itu. Hari ini Broto berpuasa, seharian ia tak melihat perkutut itu makan dan minum. Benarkah perkutut itu ikut juga puasa? Sore hari,  Broto berbuka, dan ia melihat perkutut itu mulai makan dan minum. Broto melihat, ketika mematuk-matuk jewawut, sepasang mata perkutut itu tampak tajam. Tetapi tidak menakutkan. Ditenggelamkan paruhnya yang panjang dan melengkung tipis itu pada tempat air, minum. Terlihat perkutut itu berkicau sambil mengangguk-anggukkan kepala yang kecil, dengan ekor panjang yang berjingkat-jingkat. Ki Broto menemukan gerakan-gerakan tari, dari seluruh penampilan dan perilaku perkutut itu. Selalu saja ia menemukan gerakan tari yang tak pernah disadarinya, tak pernah direncanakan dengan kesadarannya. Ia menemukan gerakan yang tak sadar dari seluruh pengamatan dan suara kicau perkutut itu.

Menjelang pagi Ki Broto selesai menemukan gerak tari “Sang Hyang Memedi Sawah” yang mengusir wabah burung-burung pipit dan hama sawah. Ia didampingi beberapa orang penabuh lesung, yang mencari irama tetabuhan sesuai dengan gerakan-gerakan tari Broto. Gerakan-gerakannya kadang meloncat, menghardik burung-burung, menakut-nakuti serupa gerakan memedi.

Tarian itu dengan pakaian dari akar pohon, jerami, dan daun-daun pisang kering. Tarian yang diciptakan Broto diikuti penari-penari pedepokan. Begitu juga ketika pergelaran tari “Sang Hyang Memedi Sawah” diperagakan di pedepokan secara kolosal, dengan begitu banyak tamu berdatangan, memuji-muji Broto. Tetapi Broto tetap saja tegang, seperti masih ingin menyempurnakan gerak tari itu.

***

Selamaperkutut  itu berada di sangkar pendapa rumah Broto, di halaman sekitar pedepokan terdengar kicau perkutut bersahut-sahutan. Mereka berkicau bersamaan, menjelang fajar dini hari. Kicauan itu merayakan rekah matahari. Kadang mereka berkicau bersamaan, dari sudut-sudut kebun, di dahan-dahan pohon, terlindung lebat dedaunan. Menjelang siang perkutut-perkutut itu seperti lenyap meninggalkan kebun, kembali ke hutan lereng Merapi. Senyap. Tetapi tidak. Perkutut-perkutut itu terbang bersamaan, hinggap di pelataran, di sekitar sangkar perkutut sanggabuwana di pendapa rumah Broto. Mereka seperti menghormati sang pangeran putra mahkota, dan setelah itu kembali terbang ke dahan-dahan pohon, lenyap dari pandangan. Dari dahan-dahan pohon itu tak ada lagi suara kicau perkutut. Broto yang sedang melatih tari untuk pergelaran di sebuah hotel, tak lagi memperhatikan perilaku perkutut itu. Ia sibuk. Lagipula, ia lebih memikirkan istrinya, menanti kelahiran anak pertama. Sudah waktunya Laksmita melahirkan. 

***   

Taklagi memperhatikan perkutut, Broto mesti mengantar Laksmita ke rumah sakit. Lepas isya, Laksmita merasakan perutnya mulas, menahan rintihan sepanjang malam. Broto menahan kecemasan, gugup, meski ia mencoba menenangkan diri. Lewat tengah malam ia merasa tenteram, setelah mendengar suara bayi, kencang, dari ruang bersalin. Ia lebih tenteram lagi ketika perawat mempertunjukkan padanya bayi lelaki dengan mata terpejam, mulut mungil, rambut tipis.

Ketika  Broto mengantar Laksmita dan bayi lelakinya pulang ke pedepokan, semua orang menyambut bayi lelaki yang tampan. Mereka juga lebih takjub memandangi wajah Laksmita yang lebih bercahaya. Laksmita belum melihat perkututnya sepulang dari rumah sakit.

Menjelang matahari rekah, Laksmita menggendong bayinya ke pendapa, berdiri di bawah kurungan perkutut. Tengadah. Tak ada lagi perkutut itu dalam sangkar. Pintu sangkar setengah terbuka. Ia lepas. Laksmita turun ke pelataran. Tak terdengar lagi kicau perkutut yang biasanya bertengger di dahan-dahan pohon. Laksmita merasa kehilangan sasmita, mimpi-mimpi, dan kemampuannya melihat suatu peristiwa yang belum terjadi. Tapi tiap kali memandang wajah bayinya, Laksmita merasa tenteram. Ia kini memiliki masa depan: anak lelaki yang akan menjaganya.***

                                                         Pandana Merdeka, November 2020


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen yang segera terbit adalah Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020).

Cerpen

Lelaki yang Berjalan Bersisian

Cerpen Yuliani Kumudaswari

Ketika tubuh-tubuh terurai hancur, dan roh-roh terpisah adalah para pejalan, menyusuri takdir hingga tiba masanya pulang pada keabadian, meniti jalan menuju moksa. Kembali ke dalam dekapan cahaya kekal. Kematian bukan kemutlakan akhir, meski dunia para pejalan tertutup bagi mata telanjang manusia-manusia fana.

***

Seekor gagak berteriak parau, terbang di atasku,  hinggap dari ranting flamboyan satu ke ranting lain. Ia mengikuti langkahku dari sejak kumasuki jalanan sunyi ini. Tak pernah kusukai hewan bersayap yang satu itu. Tidak mata hitam dan bulunya yang pekat, terlebih kicau paraunya yang tak bernada. Seperti suara terompet sumbang dari neraka. Makhluk yang senantiasa menyeret aura gelap dunia orang mati.

Jl. Puspo, tulisan setengah kabur, tercetak di sebuah pelat seng yang sedikit penyok sisinya, tertempel pada tiang besi tinggi. Tertancap di ujung jalan yang hendak kulalui. Kelabu, hanya nuansa monochrome dan bayang murung berat, menggantung di udara lembap sepanjang arah yang hendak kutuju. Jalanan berkabut tipis membentang lurus beberapa ratus meter ke arah utara. Deretan flamboyan angkuh berjejer di kiri dan kanan trotoar,  menjulang diam menjalin ujung reranting di ketinggian menjadi kanopi rapat. Mirip payung-payung Marry Poppins yang siap meluncur ke langit. Angin menerbangkan rontokan bunga serupa confetti. Sia-sia perempuan bercaping itu menyapunya tiap pagi. Serakan bunga kelabu, di atas jalanan beraspal abu pucat. Bukankah seharusnya bunga-bunga flamboyanitu ceria, merah cerah serupa warna rok kesukaan gadisku?

Kunikmati setiap langkahku, menyusuri sisi barat jalan bertrotoar, yang terasa begitu ramah bagi pedestrian seperti aku. Rumah-rumah tua, berjendela seukuran pintu, bersisian tanpa pembatas tinggi. Hanya deretan perdu berbunga serupa mahkota mungil yang memisahkan batas pekarangan seseorang. Angin bertiup, bunga-bunga berguguran. Ah, flamboyan, serupalagu yang senantiasa didendangkan gadisku. 

***

“Aku tidak pernah minta apa pun padamu. Cuma satu, jaga dan lindungi aku,” gadisku berkata ketus. Jejak air mata membuyarkan riasan pupur tipisnya.

“Aku selalu menyayangi dan menjagamu, Miriam,” bisikku lembut seraya berupaya meraih tubuhnya ke rengkuhanku. Ia menepiskan lenganku.

“Bagaimana bisa? Bahkan menjemputku saja engkau telat berjam-jam!” serunya telak.

“Engkau tahu alasanku, bukan? Aku terlambat mengunci pintu kantor karena para pegawai telat mengalkulasi transaksi. Akibatnya aku terjebak antrian lift, dan aku harus mengambil rute memutar. Aku harus menyusuri ring road karena kebijakan penutupan jalan, hingga bisa tiba di sini.”

Kuraih setangkai mawar merah setengah menguncup dari balik kantung jaket model army yang kukenakan, dan menyodorkan kepadanya.

“Maafkan aku, ya,” bujukku, dan seperti biasa gadisku mulai tersenyum, masuk ke dalam dekapanku. Setangkai mawar merah hancur terjepit di antara kami.

***

Mawar merah, semerah kembang flamboyan di pucuk-pucuk pohon di atasku, di sepanjang jalan yang sedang kususuri. Langkahku kembali berderap di kesunyian. Kulewati sebuah rumah bertingkat mewah berlangkan besi berukir. Selalu kukagumi keasrian tamannya yang tertata, walaupun pasti menghabiskan pengeluaran yang tak sedikit, pikirku. Seorang kakek berwajah murung, yang selalu saja duduk di sebuah kursi di balkon tengah, menatapku dan melambaikan tangan. Kubalas lambaiannya dengan sedikit menganggukkan kepala. Sungguh ia seorang pejalan dalam sunyi, tak melangkah ke mana-mana, batinku. Seorang perempuan sedang menata pot bunga di teras depan, memandang ke arahku berdiri, namun tak menyadari kehadiranku. Kuayunkan kembali langkahku.

Lelaki paruh baya tambun itu telah menungguku di depan pergola yang menghiasi jalan setapak rumah berdinding terracota. Kami saling menggangguk.

“Bastian,” sapanya dengan senyum tipis.

“Jim.” Aku menjawab sapaannya, dengan memanggil nama lelaki itu, serupa caranya menyapaku.

Kami mulai berjalan perlahan, bersisian  menyusuri trotoar yang tetap lengang. Seperti biasa, tak ada percakapan hingga beberapa puluh langkah kemudian. Lelaki itu mulai  menyalakan sebatang rokok, asap kelabu meliuk dan hilang bersama kabut. Gumpalan asap tanpa api.

Suara-suara lirih percakapan, sayup terdengar dari sebuah kedai kopi. Sebagian besar kursinya telah diduduki pengunjung. Langkah kami berhenti tepat di depan kedai, sejenak berdiri diam mengamati kesibukan itu. Seorang perempuan dengan rambut gaya ekor kuda, dengan nampan penuh gelas kosong di tangannya, tersenyum pada kami. Mulutnya berkomat-kamit tanpa suara, tapi kami berdua tahu persis apa yang diucapkannya.

“Pak Jim, Pak Bastian, mari singgah. Kursi anda berdua tetap kosong.” Sungguh kalimat berulang yang sama persis. Kami berdua mengangguk, Jim melambaikan tangannya. Besok, di waktu yang sama seperti sekarang, ketika kami berdua berdiri di sini, perempuan itu akan kembali menyapa kami dengan kalimat itu. Aku akan menganggguk, Jim akan melambaikan tangannya.

Dari tempat kami berdiri, bisa terlihat jelas para penikmat kopi itu, hampir seluruhnya kami kenal. Kulihat Jack tetap di kursinya dekat jendela, kepalanya menunduk memperhatikan layar gadget-nya. Pak Moron dan kelompok bridge-nya sibuk membahas trik. Sepasang pemuda kembar, serius memindahkan bidak-bidak di papan catur di meja mereka. Tuan Gun sibuk bertelepon dengan suara keras. Sungguh suasana yang familier.

“Ah, Miriamku tak pernah lagi ke kafe ini sepertinya,” batinku, benakku dipenuhi bayangannya. Tubuh ringkih yang sedang memeluk dirinya sendiri. Menangis di kamar yang nyaris gelap. Kukecup dahinya yang berkerut, sebagai tanda perpisahan, sebab aku hanya bisa sekali itu menemuinya. Ia tak merasakan kehadiranku.

Aku dan Jim berlalu dari depan kedai, melanjutkan langkah kami. Gagak itu hinggap di ranting terendah, pohon flamboyan terbesar dan tertua di jalan ini. Berkoak-koak nyaring. Batang pohon cokelat kelabu pekat dipenuhi kulit kayu yang mengelupas. Di salah satu sisi, batang itu hancur, masih dipenuhi serpihan kayu. Kulihat Jim berdiri mematung, perhatiannya terpusat pada sisi pohon yang krowak seakan pernah terhantam sesuatu.

“Di sini mobil itu menabrakku, ujung bumper-nya membentur dan membenamkan tubuhku ke sisi pohon ini. Gadis itu mabuk dan tak melihatku yang sedang berdiri, berusaha menyalakan rokokku. Kudengar mereka membicarakan hal itu ketika mengangkat tubuhku.” Suaranya setenang angin yang berembus perlahan, menyibak rambut berubannya di pelipis. Aku mendengarkan cerita Jim dalam diam dan menggangguk menujukkan simpati. Gagak- gagak lain mulai berdatangan memenuhi ranting pohon. Teriakan parau bersahutan memecah udara.

Untuk beberapa saat, Jim dan aku hanya berdiri canggung. Kulihat Jim mendongakkan kepalanya dan membuang napasnya kuat-kuat. Dengan masih mendongak dan kedua mata terpejam, ia menggumamkan sesuatu yang selalu saja membuatku tercenung.

“Mengapa semua kenangan hidup itu terasa begitu indah di saat kita harus melepasnya?”

Aku mulai kembali melangkah, Jim mengikutiku dengan langkah lebih pelan. Di sisi kami adalah sebuah rumah tua yang nyaris hancur. Tembok-temboknya runtuh dan retak di banyak tempat. Daun pintu dan jendela hilang. Sejenis tanaman merambat berduri menutupi sebagian besar genting dan dinding yang masih berdiri. Pagar besi berkarat yang semula merupakan batas pekarangan dan sisi trotoar, nyaris rubuh ke rerumputan yang mengilalang.

Di sudut timur pekarangan rumah tua tak terurus ini, orang-orang menemukan tubuh itu. Meringkuk serupa bayi dengan dada penuh lubang tusukan. Konon, gagak-gagak yang hinggap di pagar setengah rubuh, dan terus riuh berkoak-koak itulah yang memberi petunjuk orang-orang.

“Tubuh itu terbaring di sana, sendiri berhari-hari. Perlahan hancur dimakan dingin dan panas, hanya disaksikan para gagak,” desahku. Kudengar Jim berdeham sebelum menjawab.

“Tubuhmu, bukan?” tanyanya yakin.

Aku terdiam cukup lama, lalu kuanggukan kepalaku lemah, “Ya, tubuhku, Jim.”

Sebelum tubuhku ditemukan, aku diberitakan hilang berhari-hari. Setahu mereka, orang-orang yang melihatku terakhir kali, aku pulang berjalan kaki dari kedai kopi dekat pintu selatan tadi. Membawa uang cash yang cukup banyak, sebab hari itu aku memenangkan bridge.

“Dan di sinilah kita, dua orang pejalan yang dipertemukan di jalan yang sama.” Jim tertawa lirih. Aku hanya mendengus, mencoba mengusir sesak yang menghimpit dadaku.

Kusadari, jalan ini dipenuhi beberapa pejalan. Aku, Jim, lelaki tua di balkon, gadis berkucir di kedai. Orang-orang yang hidupnya berakhir di sepanjang Jalan Puspo. Barangkali sebuah kebetulan belaka, atau takdir yang telah tertulis di buku hidup kami.

Aku teringat pikiranku malam itu, aku ingin membelikan Miriam sebuah laptop baru. Menggantikan miliknya yang lama, yang layarnya selalu tiba-tiba putih. Tetapi aku berakhir di sudut pekarangan tak terurus ini. Kali ini, aku yang menarik napas panjang, Jim hanya terdiam.  

“Ah, tubuh yang malang,” desahku.

“Mengapa kau katakan itu, Sebastian?”

“Tidakkah kau lihat, Jim? Tubuh hancur itu, hilang lenyap. Sungguh kesia-siaan belaka hidup ini, bukan?” tanyaku menuntut persetujuan.

“Tak ada yang sia-sia, Sebastian kawan pejalanku. Tak ada yang diciptakan untuk sebuah kesia-siaan sekecil apapun. Semua yang pernah hidup memenuhi takdirnya dengan sempurna. Bentukan yang sesuai cetakan, serupa gerabah.” Jim menekankan tiap kata yang diucapkannya, seakan sebuah keyakinan mutlak. Aku memandangnya bingung, baru kali ini jawabannya berbeda. Di waktu-waktu lalu, ia akan menjawab pertanyaanku itu dengan: “Ah, sungguh benar perkataanmu itu, Sebastian kawan pejalanku.” Kali ini tak sama. 

“Bagaimana tubuhku yang hancur bukan sebuah kesia-siaan, Jim?” Aku tergelitik mengajukan pertanyaan lain, di luar kebiasaanku. Seharusnya kami tak lagi bercakap, hanya melangkah berputar balik di titik ini, kembali ke arah kami datang. Kembali menyusuri jalan suram kelabu  menuju Selatan, di bawah bayang-bayang flamboyan yang tumbuh rapat  saling terjalin.

“Tubuh hancur itu sejatinya rumah tinggal ribuan anak-anak energi, yang akan purna memeluk debu, kembali pada kenadiran. Energi itu merabuki bumi, ya bumi, muasal sel-sel hidup yang baru.” Kali ini Jim tersenyum menatapku, wajahnya bersinar. Aku terkesiap, terpaku menatap perubahan itu.

“Kau telah sampai pada waktumu,” bisikku nyaris pada diriku sendiri.

“Sampai bertemu di Amardeep, cahaya terang kekal, Sebastian kawan pejalanku yang baik.” Sehabis berkata demikian, Jim mulai melangkahkan kakinya kembali menjauhiku. Berjalan dengan penuh kepastian ke arah pintu gerbang besar, tempat jalan ini berakhir. Keluar dari lindungan daun dan ranting flamboyan. Di saat yang sama gagak-gagak berkoak bersahutan, di antara sumbang dan nyaring.

Beberapa langkah ke depan, segalanya tampak berbeda. Ujung jalan ini terhenti di sebuah gerbang hitam  tinggi yang tertutup rapat. Tak menampilkan apa pun di baliknya selain benderang cahaya yang berpendar. Biasnya membuat jalanan di depan gerbang tak nampak kelabu, tak muram. Tak ada pohon flamboyan di situ, hanya sepenggal jalan tak tertutupi jalinan ranting, berkilau memantulkan bias cahaya yang lolos dari celah-celah pintu gerbang. Aku tahu, sesekali gerbang itu akan terbuka, menunjukan cahaya yang berpendar menyilaukan itu. Pada saat itu, cahaya akan menarik para pejalan yang telah sampai batas waktu, pulang menuju moksa. Kali ini, giliran Jim, kawanku.

Perlahan gerbang itu terbuka, cahaya serupa lorong putih gemerlap. Kulihat sejenak Jim menghentikan langkahnya, namun tanpa menoleh sekalipun ke belakang, ia mulai melanjutkan langkahnya masuk ke dalam cahaya. Aku tak dapat melihatnya lagi, Jim telah menghilang. Pintu gerbang mulai kembali tertutup, gagak-gagak itu tak lagi terdengar jerit paraunya. Keheningan yang menggetarkan hatiku.

Untuk beberapa saat mataku serupa buta, tak mampu melihat apa pun. Setelah pandanganku kembali seperti semula, kulangkahkan kakiku kembali ke arah aku datang. Lalu kulihat gadis itu, berdiri diam dengan wajah mungilnya di bawah remang kelabu. Kedua tangannya mendekap sebuah boneka teddy bear cokelat lusuh. Ia menatapku dengan bibir gemetar, matanya bulat purnama memandangku penuh tanya, ketakutan. Seorang pejalan baru yang belia di Jalan Puspo,  Roh baik yang akan menemaniku hingga waktu kami tiba. Kuulurkan tanganku kepadanya sambil tersenyum.***

Semarang, September 2020


Yuliani Kumudaswari,lahir di Bandung, 2 Juli 1971. Saat ini tinggal di Semarang bersama suami dan dua putri. Antologi puisi tunggal terakhir Kepada Paitua (Tonggak Pustaka, 2020) antologi puisi bersama terakhir Perempuan Bahari 2020 (KKK, 2020), antologi cerpen bersama Firdaus yang Hilang (Tonggak Pustaka, 2020).

Cerpen

Klub Pemakan Daging

Cerpen Adam Yudhistira

Hellena menyandarkan bahu ke jendela, kedua tangannya bersidekap, kepalanya melongok ke taman yang ada di seberang apartemen. Di bawah rimbun pepohonan willow, seorang pria paruh baya berkacamata hitam sedang berdiri. Tangan kirinya memegang sebatang tongkat dan tampak sedang linglung. Melihat penampilannya, Hellena menyimpulkan bahwa pria itu pastilah tuna netra. Nalurinya berkata bahwa pria itu sedang membutuhkan bantuannya.

Pria itu berdiri di sebelah kiri patung malaikat granit setinggi 2 meter. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah sedang mengikuti suara-suara di sekitarnya; deru mesin-mesin kendaraan, langkah orang-orang yang hilir-mudik, gaduh peralatan logam kuli jalan yang membongkar jalur drainase, dan dua orang yang berbincang santai satu sama lain di atas bangku taman.

Hellena menyaksikan adegan itu dengan perasaan iba. Pria itu mungkin berusia sekitar 50 tahun. Rambutnya sebagian telah memutih. Berkemeja biru, dengan dua kancing terbuka di bagian dada. Pada saku kemejanya, menyembul kertas putih persegi empat yang menyerupai amplop.

Pria itu merogoh kantong kemejanya tepat saat sebuah sedan melintas. Angin yang ditinggalkan sedan tadi menerbangkan bongkahan-bongkahan kerikil serta menghujani orang-orang dengan debu, tak terkecuali pria yang sedang diperhatikan Hellena.

“Dasar pengemudi tolol!”

Gadis berambut pirang itu mengumpat. Sedan tadi terus melesat dan lekas menghilang. Orang-orang yang terkena sapuan kerikil dan debu tampak bersungut-sungut. Pria buta itu masih berdiri di tempatnya, terbatuk-batuk sambil mengibas-ngibas tangan di depan wajah.

Hellena menyambar blazer di atas ranjang, lalu bergegas keluar kamar. Ia berlari tergopoh-gopoh menuruni tangga, bahkan tak sempat mengunci pintu kamar apartemennya. Pintu menutup pelan dan meninggalkan derit engsel yang terdengar mirip cericit tikus kesakitan.

***

Hampir sepuluh menit Hellena mendengarkan pria itu bercerita. Ia mengatakan sedang menunggu bantuan seseorang untuk mengantar sepucuk surat ke alamat yang tertera di amplop putih yang tadi melayang dan nyaris terjatuh ke dalam got. Berkat Hellena, sekarang amplop itu telah kembali berada di tangannya.

Mendengar cerita itu, hati Hellena berderak retak, namun dengan cepat menyatu kembali. “Aku akan menolongmu,” katanya sambil memegang lengan pria buta itu. “Berikan surat itu padaku. Aku akan mengantarnya.”

“Terima kasih. Tapi saya tak ingin membuang waktumu.”

“Tak apa,” jawab Hellena tulus. “Aku senang bisa membantu.”

Hellena tiba-tiba merasa sangat sedih ketika membayangkan menjadi pria buta itu. Membayangkan matanya berubah menjadi sepasang bola tak berguna. Menyeberangi jalan raya yang penuh kendaraan seperti ini pasti sesulit melintasi Samudera Atlantik dengan perahu. Kalau nasib sial, ia mungkin akan tertabrak, lalu patah tulang belakang dan lumpuh. Membayangkan semua itu, Hellena bergidik ngeri.

Beberapa bulan terakhir, Hellena memiliki semacam hubungan timbal-balik yang reflektif dengan Tuhan. Ayahnya meninggal, ia dipecat dari pekerjaan, teman dan kekasihnya menjauh, dan entah bagaimana membuat ia berpikir bahwa masalah-masalah berat yang menimpanya itu lantaran ia tak cukup berbuat baik pada sesama.

Hellena ingin membangun reputasi baik di mata orang-orang. Ingatan tentang ayahnya dan masalah-masalah yang tak kunjung selesai itu telah berhasil mencambuknya. Ia memutuskan akan memulainya sedikit demi sedikit. Hal pertama adalah dengan menolong pria buta di hadapannya.

“Boleh aku melihat surat itu lagi?” tanya Hellena. “Aku ingin melihat alamat tujuannya.”

Pria buta itu menyodorkan amplop ke depan, tapi Hellena tegak di sampingnya, membuat arah sodorannya keliru. Tapi dengan cepat gadis itu mengambilnya, lalu membaca alamat yang tertera; Cadbury Resto, Second Avenue.

“Aku tahu tempat ini,” kata Hellena tersenyum lebar. “Serahkan saja padaku. Aku akan mengantarnya dan kujamin surat ini akan tiba di alamatnya.”

“Terima kasih, terima kasih.” Pria buta itu membungkuk hormat. “Akhirnya Tuhan mengirim malaikat untuk menolongku.”

Hellena menepuk-nepuk pundak pria itu. Setelah berbincang-bincang sesaat, ia pun meninggalkannya. Hellena keluar dari taman kota dengan perasaan gembira, karena merasa telah melakukan perbuatan yang berguna.

Separuh perjalanan, gadis itu tiba-tiba berhenti. Ia berpikir, pria buta tadi pasti kesulitan mencari jalan pulang. Seharusnya ia mengantarnya pulang lebih dulu, setelah itu baru mengantarkan surat. Sambil melangkah berbalik arah, Hellena menepuk keningnya, menyadari kebodohannya. Namun setelah kembali, pria yang dicarinya sudah tak ada.

“Cepat sekali,” gumam Hellena terheran-heran.

Hellena berjalan mengikuti trotoar yang mengarah ke pusat kota. Lima menit berselang, ia melihat pria itu berjalan membelah kerumunan, berjejalan dengan orang-orang di halte yang sedang menunggu bus jemputan. Hellena menerobos kerumunan itu dengan susah payah. Sebuah teriakan keras membuat pria buta itu menoleh dan Hellena terkesima.

Pria buta itu dengan tangkas berlari di tengah kerumunan. Tanpa kaca mata dan tanpa tongkat penuntunnya. Hellena hanya bisa mengawasi dari kejauhan, tepat sebelum ia merasa yakin, pria buta itu baru saja menipunya.

“Brengsek!” umpat Hellena kesal.

***

“Tidak seperti biasanya, ya, Jhon?” Seorang pria berkuncir penuh lagak dari Unit Laporan Kejahatan berdiri di samping polisi muda yang baru saja menerima laporan Hellena. “Biasanya kaugalak sekali jika pelapor tidak sedap dipandang.”

“Menyingkirlah, Bung!”

Hellena merasa jengah mendengar perbincangan kurang ajar itu, tapi ia menahan diri untuk tidak mengumpat. “Jadi, apakah kalian akan menindaklanjuti laporanku atau tidak?” tanyanya dengan perasaan muak.

“Tentu saja,” jawab polisi muda yang duduk di belakang monitor. Pria berkuncir tadi sudah menjauh sambil terkekeh-kekeh. “Tapi keterangan Anda belum lengkap.”

“Memangnya apa lagi? Anda telah mendapatkan semua keterangan dariku. Tidakkah itu cukup?”

“Maaf, Nona, bukan Anda yang menentukan cukup atau tidak.” Polisi itu berkata dengan nada tinggi. “Kami memiliki prosedur sebelum menindaklanjuti laporan. Jawab saja pertanyaannya. Hei, Nona? Bisakah Anda berkonsentrasi?”

Perhatian Hellena memang teralihkan beberapa saat. Di meja lain, seorang perempuan paruh baya sedang menangis. Seorang pria berdiri di belakang perempuan itu sambil memijat bahunya. Hellena menduga, pria itu adalah suaminya. Dari perkataan mereka, Hellena memahami penyebab perempuan itu menangis. Anak bungsunya hilang.

Dengan tersendat-sendat, perempuan itu menjelaskan akivitas-aktivitas dan ciri-ciri anaknya. Ia berkata bahwa anaknya berumur 13 tahun dan bersekolah di St. Christoper. Setengah meratap, perempuan itu memuji-muji bahwa anaknya adalah anak yang baik dan berhati lembut. Ia tidak pantas disakiti. Polisi yang memproses laporan itu mengangguk-angguk.

“Nona?”

“Ah, ya. Maaf… “ Hellena tersadar dan kembali menatap polisi yang sedang mengolah laporannya. “Apa yang harus kulakukan?”

“Kukira kau bisa memulai dari awal.” Polisi itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi malas yang kentara. “Ceritalah dan aku akan memprosesnya.”

“Aku menduga pria itu berencana melakukan sesuatu yang jahat.”

“Apakah Anda yakin?”

“Tentu saja aku yakin. Ia baru saja menipuku,” sergah Hellena memasang wajah masam. Gadis itu merogoh sesuatu dari dalam kantung rok dan menaruhnya di atas meja. “Ia memberiku ini. Kupikir, Anda bisa memeriksanya atau mencari alamat yang tertera di sana untuk memastikan dugaanku.”

Polisi muda itu membuka amplop yang diberikan Hellena. Di dalamnya, ada secarik kertas. Keningnya mengernyit dan membuat Hellena penasaran. Polisi itu membaca dengan keras sebaris kalimat ganjil yang membuat kening Hellena mengerut.

***

Hellena menemukan restoran tua itu di Second Avenue. Tempat sederhana dengan papan nama bertuliskan Cadbury Resto dari jalinan neon merah di atas pintu masuk. Di ruangan dalam terdapat beberapa pasang meja dan kursi yang berwarna putih kusam. Toples permen mint berbaris rapi bersama gelas-gelas kopi dengan hiasan pilar-pilar gaya Yunani. Lantainya ditutupi karpet hijau mulus. Pada etalase kaca yang berada di dekat rak kayu tertera tulisan Iga Sapi Panggang Harga 8,95$.

Hellena masuk dengan jantung berdebar. Sebuah pisau steik berkilauan di atas meja. Hellena mengambilnya cepat-cepat saat bergegas menuju toilet. Bagaimana pun, gunting kuku tak akan cukup untuk melindungi diri jika sesuatu yang buruk terjadi.

Gadis itu datang sendiri, sebab polisi yang tadi menerima laporannya lebih tertarik melirik blazer berbelahan dada rendah yang dikenakannya, ketimbang menindaklanjuti laporannya.

Hellena mencuci tangan dua kali dengan sabun merah muda beraroma mawar, lalu keluar dan berusaha bersikap biasa saja. Restoran itu sepi. Hanya ada seorang pelayan pria berwajah seperti tirai merosot yang sedang berkonsentrasi mengisi botol saus yang isinya setengah kosong. Hellena melihat peluang itu dan mengendap-endap menuju ruang belakang.

Ketika Hellena membuka pintu ruangan itu, ia menemukan tiga orang sedang menetak potongan-potongan daging di atas meja beton bermarmer. Di antara tumpukan-tumpukan daging itu, yang paling mengerikan adalah onggokan kepala dan potongan kaki milik anak kecil.

Perut Hellena bersiap untuk meledak dan kepalanya terasa sakit luar biasa. Tiba-tiba gadis itu teringat tangisan perempuan paruh baya di kantor polisi yang sedang mencari anak bungsunya, lalu rasa takut hebat mencengkeram dadanya. Ia meraba saku untuk mencari pisau, tapi pisau itu entah di mana. Ia cuma menemukan amplop putih yang menjadi alasannya datang ke restoran itu.

Ini kiriman daging segar terakhirku minggu ini. Selamat menikmati. Tertanda, Sam, anggota Klub Pemakan Daging.’

Usai membaca tulisan di secarik kertas di dalam amplop itu, lidah Hellena tercekat. Ia tak sanggup bersuara, sesuatu seolah menggumpal di tenggorokannya. Hellena berpikir untuk keluar dari restoran itu dan melarikan diri. Tapi tepat saat pikiran itu muncul, sesuatu yang keras menghantam tengkuknya, membuat pandangannya gelap dan sekujur tubuhnya mati rasa.***


Adam Yudhistira, bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktivitas bersastra, ia juga berbahagia mengelola Taman Baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Ia aktif di komunitas sastra Pondok Cerita.

Cerpen

Dewi Sri

Cerpen Rizka Umami

Malam itu aku membantu ibumu lahiran. Saat semua orang memaksa bapakmu membawa Dewi Sri ke bidan desa atau rumah sakit, ibumu justru ngotot lebih percaya padaku, dukun bayi yang selama ini hanya punya bekal titen.

Jika semua selamat, seharusnya kamu anak kelima yang lahir dari rahim Dewi. Meski dalam hitungan orang-orang, kini kalian lebih familier dengan sebutan empat serangkai. Orang-orang pastinya tidak tahu apa yang akan aku katakan ini.

Sekarang aku ingin membayar utang cerita yang sempat tersendat tempo hari. Yang harusnya jadi anak keempat bukan kamu, karena sebelum kamu lahir sebenarnya ibumu sempat hamil. Sayangnya di usia dua bulan janin itu mati di perut ibumu. Jadilah kamu anak keempat.

Ketika kamu akan lahir, sore itu bapakmu menggedor-gedor pagar rumahku. Ia minta aku segera bersiap-siap. Aku hanya diberi waktu kurang dari 10 menit untuk mengambil beberapa jarik dan perlengkapan seperlunya. Setelah aku keluar dan mengunci pintu rumah, buru-buru bapakmu menarik lenganku, lalu kami melesat.

Jam lima sore, ibumu sudah buka tiga. Ada yang aneh, selain ibumu mengeluarkan banyak darah seperti orang haid, darah itu bergumpal-gumpal merah-hitam. Pekat.

Waktu magrib yang kala itu tiba pukul enam lebih sedikit, aku membantumu keluar dari perut Dewi. Memang tidak sulit, tapi yang membuat orang-orang di sekeliling bapakmu takut, karena kamu keluar bersama darah pekat itu, baunya anyir segar.

“Apa yang bapak lakukan waktu sadar banyak darah yang dikeluarkan ibu, Mbok?”

Aku tidak sempat memperhatikan ekspresi bapakmu. Tapi aku yakin dia orang yang paling tidak siap dengan semua itu. Tidak siap dengan kelahiranmu dan tidak siap menerima rasa sakit yang dialami ibumu.

“Sebentar, Mbok. Bagaimana orang-orang juga tahu kalau aku lahir bersama darah yang tak lazim itu?”

Aku yang waktu itu membantu ibumu berbaring di lantai ubin kamar tengah, tanpa alas apapun. Lantai ubin yang dingin itu rupanya letaknya lebih tinggi dan hal itu mendorong darah yang keluar dari liang ibumu mengalir ke segala arah, ke tempat paling rendah, bahkan sampai ke luar dari pintu kamar tengah.

Oh iya, kamu sengaja dilahirkan di senthong tengah sesuai permintaan ibumu. Sebab baginya senthong itu jadi tempat ibumu menghabiskan waktu sembahyang dan bertemu dengan Sang Hyang Asri, Dewi yang dihormatinya sepanjang hayat.

Aku salut saat pertama kali mendapat cerita dari mbah putrimu, soal ibumu yang di zaman modern seperti ini masih menaruh setia pada inangnya kesuburan, Dewi Sri, yang dianggap sebagai pengendali kehidupan, mengatur rezeki agar selalu cukup.

Jadi wajar jika kemudian seluruh isi rumahmu menaruh hormat pada ibumu, Dewi Sri. Sebab berkat kesetiannya itu, keluarga besarmu tidak pernah satu kali pun mengalami gagal panen, apalagi sampai kelaparan.

“Apa itu juga sebabnya namaku sama seperti nama ibu?”

Begitulah. Ibumu dan kelahiranmu adalah dua simbol yang tidak bisa kami maknai secara utuh. Jauh sebelum ibumu mengandung anak pertama, mbah putrimu sempat mendatangiku, bahkan beberapa kali hanya untuk menceritakan perihal mimpinya yang sama. Tahu kamu apa yang dimimpikan mbah putrimu? Dia memimpikan kelahiranmu.

Benar, Nduk. Jadi apa yang kulakukan saat menolong kelahiranmu, semacam sudah diramalkan mbah putrimu sendiri. Dan selang sepersekian menit setelah aku membersihkan bekas darah di tubuhmu, semilir angin berkesiur, seperti memberi bisikan, bahwa Dewi Sri telah melahirkan Dewi Sri. Ibumu telah melahirkanmu, Dewi Sri yang baru.

“Tapi kenapa beberapa orang menyebutku telah melenyapkan ibu?”

Orang-orang yang melihat aliran darah pekat keluar dari kamarmu pastinya ketakutan. Aku saja ngeri jika tidak melihat sorot mata ibumu yang menandakan semuanya baik-baik saja. Kukira wajar jika perkara darah yang membersamaimu dianggap sebagai pertanda buruk.

Tapi percayalah, Nduk. Anggapan itu akan berangsur lepas pesat sampai nantinya kamu tidak akan mendengarnya lagi. Seperti yang kukatakan berulang kali, kamu bukan penyebab dari apa-apa yang tidak kamu lakukan. Termasuk perkara hidup mati ibumu. Bukankah tiap-tiap kita memang sudah semestinya berawal dan berakhir? Begitu juga ibumu, dan aku atau kamu juga akan berakhir nanti, suatu hari.

Dewi Sri itu, selain dimaknai sebagai penguasa kelahiran dan kesuburan, ia juga mengendalikan kemiskinan dan bencana, memengaruhi kematian. Semua tergantung pemaknaan. Jadi  kuingatkan lagi. Kelahiranmu mesti bisa kamu maknai sendiri. Titenono! Kabeh perkoro mesti biso dititeni. Ada pola yang suatu saat bisa kamu baca dan pahami. Karena itu, Nduk… berhentilah menyalahkan kehadiranmu di bumi Tuhan ini. Semua akan baik-baik saja. Kecuali jika kamu tidak mau menghilangkan anggapanmu itu, bisa jadi kamu telah membiarkan petaka akan benar-benar hadir dalam kehidupanmu.***


Rizka Hidayatul Umami. Kelahiran Tulungagung, 28 Juni. Sedang menyukai sastra dan isu-isu perempuan dan anak. Bisa disapa via IG: @morfo_biru, Twitter: @morfo_biru, Fb: Tacin