Cerpen

14.400 Detik Sebelum Aku Lahir

Cerpen Seto Permada

Gemetar guruh menggetarkan dinding-dinding rahim yang menjagaku. Kudengar tetes hujan dari kecil-kecil hingga sebesar jempol. Beberapa detik sebelumnya, aku tidur pulas, bermimpi singgah ke negeri peri. Gadis-gadis berkemban dan bersayap putih menawariku segelas susu ekstra madu yang diambil dari sungai panjang nan lebar. Tawaran itu pun kuterima. Namun, saat kucoba menggapai gagang gelas, tangan mereka menjauh, menjauh, hingga kecil-kecil seperti kuman.

Itu suara Ibu. Suaranya mengaduh. Kedua tangannya mengetukku dari luar. Refleks, kedua tanganku pun meraba-raba dinding gelap ini. Ada apa, Bu? Ia bercerita siang tadi ke warung Mpok Jamilah. Di sana ada Pak Tob. Orang itu meledek, “Apakah kau mau melahirkan anak perempuan lagi, Marni, yang kelima kalinya? Tidak bosan?”

Di sela keluhan Ibu, kutangkap nadanya yang ingin aku lahir sebagai anak laki-laki. Kedua tangannya mengelusku dari luar. Rata. Tak ada benjolan kuat yang mengerucut. Pertanda kelak aku menjadi anak perempuan. Apa salahnya menjadi anak perempuan, Bu? Kakak-kakak perempuanku di luar sana pasti sudah banyak membantu; masak, mencuci, atau bahkan ikut mencari nafkah. Ya, kan, Bu?

Kini, suara keluh Ibu dibarengi suara jatuhnya hujan yang mengetuk dinding rahim keras-keras. Sering kutanya pada Tuhan, Mengapa tak Kau-sediakan lampu? Namun Dia tak menjawab. Barangkali ruangan khusus ini memang diciptakan agar tetap menjadi rahasia besar sepanjang zaman.

Kuhitung-hitung, sudah 8 jam Ibu tak makan apa-apa. Biasanya tidak selama ini. Selang yang menancap ke perutku tampak kempis. Bahkan saat kupencet hanya berisi udara. Apa Ibu ingin jadi pembunuh menjelang kelahiranku?

Dua jam penuh Ibu merintih dan meraung-raung tak tentu di tengah lebatnya hujan. Setelah itu, suaranya semakin lemah dan lemah hingga sepenuhnya tergantikan oleh hujan. Detak jantung Ibu yang berada di bawah kedua kakiku terdengar melambat. Ruangan ini pun terasa sesak dan pengap. Aku lemas.

***

“Marni! Marni! Kenapa kau tiduran di sini tengah hujan-hujan begini?”

“Ah, kau sudah pulang rupanya. Tiba-tiba tadi aku ingin jalan-jalan.”

“Di rumah anak-anak bagaimana?”

“Mereka tidur.”

“Ayo pulang. Jangan sampai dilihat orang. Apa kata Eyang nanti kalau dia tahu kau tergeletak di lapangan sepak bola.”

“Ya jangan bilang-bilang.”

“Kamu belum makan, ya? Wajahmu pucat. Ayo kita pulang.”

“Sudah, kok. Tadi makan ikan kalengan.”

Maaf tadi aku tidur sebentar. Jarang-jarang ada suara Bapak. Percakapan tadi, meski sepotong, kudengar dengan saksama, bahkan kata per kata. Ia jarang pulang karena kerja di luar kota, kata Ibu suatu waktu. Sama dengan Ibu, sebenarnya aku merindukan Bapak dan suara-suaranya yang besar itu. Di rumah, Eyang mendominasi suara-suara yang beredar. Kadang aku malu sendiri. Apalagi, kata Ibu, rumah kami diapit dua rumah dan berada di tengah-tengah puluhan rumah lainnya.

Sesampai di rumah, Ibu diantar ke kamar mandi oleh Bapak. Suara hujan deras tadi tergantikan oleh guyuran air kulah yang terasa jauh lebih hangat. Seakan-akan, air itu menyirami sekaligus menyelimuti seluruh permukaan tubuhku. Samar-samar, di luar juga terselip dengkuran Eyang. Mengapa harus ada dengkuran seberisik itu?

Saat Ibu menggosok gigi, ubun-ubunku terasa berdenyut. Apa ini? Udara asing bertiup di ujung kepalaku, membelai-belai sebagian rambutku. Serta-merta, Ibu menghentikan acara gosok gigi dan berteriak memanggil-manggil Bapak. Kudengar suara panik dan langkah kaki mendekat. Namun kepalaku terlalu pusing, dadaku berdetak kencang, dan tubuhku lemas. Suara-suara itu semakin mengecil seperti para peri yang beberapa jam lalu meninggalkanku….

***

Saat bangun tidur, kudengar Ibu teriak keras-keras, menggetarkanku, membuat ruangan ini semakin sempit dari detik ke detik. Getaran lain berasal dari bawah punggung Ibu, diiringi suara klakson dan derum mobil.

“Sebentar lagi sampai.”

“Eyang tidak ikut, Mas?”

“Masih tidur tadi. Sayang kalau dibangunin.”

“Syukurlah. Kita mau ke mana?”

“Rumah Sakit Kasih Ibu. Ya kan, Mang?”

“Ya, Bos,” itu suara Mang Kholil, tetangga sebelah.

“Tidak ke rumah sakit umum saja? Katanya gratis, kan?”

“Aduh, KIS kita kan belum jadi.”

***

Setelah beberapa kali tarikan ke kanan dan ke kiri diiringi erangan Ibu, akhirnya mobil yang kami tumpangi diam juga. Bapak membopong Ibu. Sedang Mang Kholil diminta ke resepsionis agar kamar bersalin cepat siap.

Setibanya di kamar, Ibu belum langsung melahirkan. Sesuai arahan suster, Ibu harus menjaga ritme pernapasan dulu. Jangan ada tekanan padaku. Lepas saja seperti bernapas biasa. Suster itu benar. Apabila Ibu mengerang dan menekan dirinya sendiri, rasanya aku teremas-remas. Sedangkan saat Ibu bernapas lepas, ruangan ini menjadi lapang dan perasaanku sangat lega. Mungkin Tuhan ingin aku dan Ibu saling bekerja sama dan saling mengerti.

“Anda suami dari Ibu Marni?”

“Saya, Bu Dokter.”

“Sesuai prosedur kami, suami dari pasien yang hendak melahirkan diharap ke luar ruangan.”

Meski agak ragu karena tak ingin meninggalkan Ibu, terdengar juga jawaban, “Baik, Bu Dokter.”

Suara Bu Dokter sangat mirip dengan Elisa, salah satu peri berkemban dan bersayap putih yang pernah mengajakku berdansa di atas lapisan salju dalam cuaca cerah. Kami berdansa di atas gerakan ikan hiu, anjing laut, penguin, dan udang. Gerakan kaki-kaki kami membentuk cetakan-cetakan indah.

“Ayo, terus ikuti langkahku dan lihat cetakan apa yang kauhasilkan,” kata Elisa memberi aba-aba.

“Bunga!”

“Ya, kelak kau akan jadi gadis tercantik di dunia.”

Aku tersipu.

“Lihat ada lagi.”

“Kucing!”

“Ya, kelak kau akan selalu menyayangi binatang dan melindungi mereka dari orang-orang jahat.”

“Sekarang kita menuju langkah terakhir. Gerakkan tanganmu ke atas dan berjinjit. Lihat cetakan yang kauhasilkan.”

Aku agak bingung karena cetakan terakhir berbentuk kotak persegi panjang, terdapat gambar di tengah-tengahnya, dan ada tulisan-tulisan di atasnya. Cetakan itu berbentuk lembaran-lembaran saat angin musim dingin meniupnya.

“Apa itu, Elisa?”

“Menurutmu?”

Kurasakan Bu Dokter menekan perutku dari luar. Tak lama kemudian, tangannya meraih kepala dan tubuhku. Tangan kasar itu tak sama dengan Elisa. Apakah Bu Dokter adalah Elisa versi jahat?

Selama prosesi melahirkan, Ibu kehilangan suaranya. Tak bisa kubayangkan bagaimana wajahnya sekarang. Pasti sangat kecapaian. Bu, besar nanti, aku akan rajin mencuci, memasak, merawat bunga-bunga, dan jadi gadis terpandai di dunia. Aku pasti bisa membuat Ibu bangga.

“Selamat. Bayi laki-laki Anda lahir dengan selamat,” kata Bu Dokter sebelum membawaku ke ruangan lain.

Ibu tidak menjawab apa-apa. Mungkin karena ia terlalu letih sekaligus terkejut. Saat Bu Dokter keluar membawaku, sebenarnya Bapak sudah tak sabar ingin menimangku. Namun Bu Dokter tetaplah Bu Dokter. Ia menyerahkanku ke salah satu suster dan membawaku ke ruang pencucian sekaligus peristirahatan.

Saat suster itu membilasku dengan air sehangat tubuh ini, aku terus bertanya pada diri sendiri. Benarkah aku seorang laki-laki? Laki-laki macam apakah aku nanti? ***

Purworejo, 22 April 2021


Seto Permada adalah nama pena dari Muhammad Walid Khakim. Ia berdomisili di Purworejo, Jawa Tengah. Beberapa kali karyanya termuat media lokal dan media online.

Cerpen

Seekor Kucing Titipan

Cerpen Ramli Lahaping

Aku tak pernah menduga bahwa kita akan bersama sebagai sepasang kekasih. Aku sama sekali tak punya perasaan spesial kepadamu di awal kebersamaan kita. Aku hanya menganggapmu sebagai teman biasa. Apalagi, dahulu, kau hanyalah teman dekat seorang perempuan yang menarik perhatianku. Sebab itulah, kau cuma kuanggap sebagai perantara untuk mendekatkan diriku kepadanya.

Tetapi jalan buntu kemudian memupuskan harapanku terhadap teman dekatmu itu. Setelah sekian lama aku menyusun rencana dan menjejaki jalan hatiku, ternyata ia malah jatuh ke dalam buaian lelaki lain. Sampai akhirnya, aku mesti berurusan dengan perasaan yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku harus meredam deru perasaan yang selama ini kupendam terhadapnya.

Namun keseringan bersamamu, ternyata membuatku terjerat dalam perasaan yang sulit kujelaskan. Aku merasa menemukan lahan baru untuk benih cintaku yang tak sempat kusemai di hatinya. Dan kurasa, perasaan itu bukanlah bentuk pelarian semata. Pasalnya, aku merasa semakin nyaman saja bersamamu, dan perasaanku kepadanya perlahan-lahan memudar.

Menjadikanmu sebagai kekasih ketika pada awalnya hatiku mengharapkan dirinya, tentu bukanlah perkara yang mudah. Keteguhanku kadang-kadang goyah, sebab aku kerap menyaksikan kehadirannya bersamamu. Apalagi kalian memang mempunyai banyak aktivitas yang sama, baik dalam soal perkuliahan, atau soal kesenangan semata, khususnya perihal pemeliharaan kucing yang sama-sama kalian gandrungi.

Entah bagaimana perasaanmu kalau tahu bahwa engkau hanyalah ketersesatan yang menyelamatkanku, seumpama cinta kedua setelah aku kalah atas cinta pertama. Barangkali kau akan kesal dan meragukan kesungguhan cintaku yang tumbuh secara perlahan dan semakin menguat. Tetapi kau memang tidak akan pernah tahu, sebab aku akan merahasiakan soal itu selamanya, sehingga kau tetap merasa sebagai yang pertama dan utama di dalam hatiku.

Akhirnya, di balik rahasiaku dan ketidaktahuanmu, hubungan kita berjalan baik-baik saja, seolah-olah kebersamaan kita adalah wujud dari rencana harapan kita sedari awal. Kita menjalani hari-hari yang menggembirakan. Kita terus berusaha untuk saling menyenangkan. Segala hal yang menjadi kepentinganmu, akan menjadi kepentinganku juga. Begitu pun sebaliknya.

Sampai akhirnya, empat belas hari yang lalu, kau pun bertandang ke kos-kosanku, sembari membawa seekor kucing kesayanganmu yang berwarna putih dengan bercak-bercak hitam. “Aku ingin pulang ke kampungku. Aku mendapatkan kabar bahwa sepupuku akan menikah. Aku harus hadir,” terangmu kemudian, sembari mengusap-usap peliharaanmu itu.

Kita lantas duduk bersampingan di teras depan kamar indekosku.

“Apa kau akan lama?” tanyaku, sembari berharap kau hanya sebentar.

Kau menggeleng pelan. “Aku akan kembali ke sini secepatnya,” jawabmu, lantas menyerahkan kucing itu kepadaku. “Tolong jaga dia baik-baik,” pintamu, dengan raut wajah yang redup, seperti menyiratkan keengganan untuk berpisah lama-lama dengannya, ataupun denganku.

Aku lalu mengangguk keras. Berusaha meyakinkanmu. “Aku janji, ia akan baik-baik saja bersamaku.”

Kau pun tersenyum singkat. Tampak memercayaiku sepenuhnya.

Aku balas tersenyum.

Lantas dengan sikap tenang, kau kembali mengelus-elus kepala kucing yang telah berada di dalam dekapanku itu. Kau tampak begitu menyayanginya. Hingga akhirnya, kau mengutarakan tafsiranmu atas hakikat keberadaan kucing, “Kau tahu, kucing adalah makluk yang ajaib. Setiap orang yang hatinya penuh dengan cinta, pasti akan cinta pula pada kucing. Karena itulah, kucing bisa menyatukan cinta orang-orang yang saling mencintai,” katamu dengan raut sayu.

Aku tertawa pendek menyaksikan kemanjaanmu.

Dan akhirnya, hari itu juga, sebuah kapal membawamu ke pulau seberang, ke tanah kelahiranmu.

Sebagai kekasih, aku pun berjuang menjaga kucingmu demi hubungan kita. Aku berusaha memastikan bahwa ia baik-baik saja, sampai aku menyerahkannya kembali kepadamu. Aku berupaya memperlakukannya sebagaimana kau memperlakukannya. Karena itu, di dalam kamar indekosku yang sempit, aku menyediakan tempat tidur sesukanya, makanan sepuasnya, dan belaian-belaian yang manja.

Tetapi aku hanya bertahan selama dua hari untuk memperlakukannya sebagai raja. Aku jadi tak sanggup juga menanggung beban atas air kencing dan tahinya yang menyebar sembarangan di dalam kamarku. Sampai akhirnya, aku mulai melepaskannya untuk menjelajah di sekitar lingkungan kos-kosanku, sembari terus memantau dan membatasi pergerakannya agar tidak pergi terlalu jauh.

Namun kekhawatiranku atas keadaan kucingmu di lingkungan luar, perlahan-lahan memudar. Pasalnya, aku menyaksikan bahwa ia telah mengenali kamarku sebagai tempatnya untuk pulang. Setiap saat, setelah ia menjelajah entah ke mana, ia akan kembali ke dalam kamarku dengan sendirinya, tanpa perlu kupanggil dan kubujuk-bujuk lagi.

Pada hari-hari kemudian, aku pun memperlakukan sepatutnya saja, sebagaimana seharusnya memelihara binatang. Aku membebaskannya bermain di dalam kamarku, tetapi juga membiarkannya menjelajah sesuka hati. Aku menyisakan bagian dari makananku untuknya, tetapi juga membiarkannya mencari makanan semaunya sendiri.

Atas kebebasan yang kuberikan, bebanku atas pemeliharaan kucing itu semakin berkurang.Aku tak perlu lagi repot-repot untuk memanjakan kemalasannya, menyediakan makanan pokoknya, atau mengurus kotorannya. Ia telah beradaptasi dengan lingkungan dan bisa mengatasi semua masalahnya sendiri.

Namun pada waktu kemudian, aku mulai mendengar keluhan penghuni rumah di sekitar kos-kosanku atas ulah para kucing. Mereka kesal pada kucing yang kerap menggarong isi meja makan mereka, membuang kotoran secara serampangan di lingkungan mereka, atau berkelahi dengan kucing-kucing peliharaan mereka. Dan setelah kucermati dan kutilik baik-baik, aku pun tahu bahwa kucingmu adalah salah satu kucing paling berandal yang mereka kutuki.

Tetapi sialnya, permasalahan yang harus kutanggung atas tingkah laku kucingmu itu, sepertinya masih akan berkepanjangan. Pasalnya, kau tak juga datang dari kampung halamanmu. Kau bahkan tak menjanjikan rencana waktu kepulanganmu kepadaku. Sampai akhirnya, di tengah ketidakpastian atas kedatanganmu, sejak tujuh hari yang lalu, kau tak lagi menjawab panggilan teleponku, atau sekadar membalas pesanku.

Aku sungguh tak tahu apa yang terjadi padamu. Aku tak bisa memahami kenyataanmu. Awalnya, kukira, kau akan pulang dengan sendirinya, dalam beberapa hari saja, seperti yang engkau janjikan. Atau setidaknya, dalam keberadaanmu yang tanpa kabar itu, kau akan pulang lima hari yang lalu, di hari ulang tahunku, dan memberikan kejutan yang menyenangkan untukku, seperti yang kubayang-bayangkan.

Atas kepergianmu yang entah sampai kapan, aku pun kelimpungan menghadapi perkara kucing kesayanganmu. Hari demi hari, aku terus mendengar kekesalan warga atas kenakalan para kucing. Beberapa di antara mereka bahkan mulai menyebut ciri-ciri dan menuding kucingmu sebagai pelaku kekacauan, sampai aku khawatir kalau-kalau mereka tahu bila akulah yang merumahkan kucingmu itu.

Hingga akhirnya, di tengah kerisauanku, kucingmu pun melakukan tindakan yang sungguh mengkhawatirkan. Sebuah tindakan yang sangat mungkin membuat hubungan baikku dengan para tetangga jadi bermasalah. Pasalnya, tiba-tiba saja,dua hari yang lalu, ia masuk ke dalam kamarku, sembari membawa seekor ikan hias dengan cengkeraman giginya. Seekor ikan yang kutaksir berharga mahal.

Seketika juga, aku jadi kelabakan. Aku dilema, di antara mengurungnya kembali di kamar, atau tetap membebaskannya untuk sekalian menuai buah dari tindakannya sendiri. Tetapi setelah mengingat-ingat janjiku kepadamu, dengan berat hati, aku putuskan mengurungnya kembali, demi menyelamatkannya dari bahaya, sekaligus menghindarkanku dari masalah.

Untuk menyamarkan statusku sebagai wali kucingmu dari pembacaan tetangga, aku senantiasa bersikap ramah kepada mereka. Kuharap, dengan begitu, mereka tidak sampai mencurigaiku, atau setidaknya tidak terlalu membenciku setelah mereka tahu kenyataan yang sesungguhnya. Apalagi, sebagai seorang pendatang yang hadir di lingkungan mereka hanya untuk kepentingan kuliah, aku sungguh tidak ingin dicap buruk.

Sampai akhirnya, kemarin, saat hari sudah sore, aku pun bertamu pada seorang warga yang tinggal seorang diri di rumah pribadinya yang berada di serong kanan depan bangunan indekosku. Aku menghampirinya setelah ia tampak murung saja di halaman depan rumahnya yang kerap menjadi tempat para kucing membuang hajat. Ia seperti masih sangat berkabung sejak kepulangannya dari pulau seberang untuk menghadiri pemakaman wanita yang hendak ia nikahi, setelah wanita itu meninggal akibat kecelakaan kapal tujuh hari yang lalu, sepulang dari kampung halamannya menuju kota ini, sebagaimana informasi yang kudengar dari warga yang lain.

“Aku turut berdukacita atas apa yang telah terjadi,” tuturku, sendu, setelah basa-basi yang singkat, sembari berharap ia lekas berdamai dengan kenyataannya.

“Terima kasih,” balasnya, begitu saja, lantas melayangkan senyuman simpul.

Aku lalu berusaha meramu kata-kata balasan. Aku tak ingin kami duduk bersampingan di dalam suasana yang hening. “Sabar, Kak,” tuturku kemudian, dengan sapaan sebagaimana biasa aku menyapanya.“Semua kejadian, ada hikmah dan tujuannya. Aku yakin, Kakak akan mendapatkan takdir jodoh yang lebih baik.”

Ia pun lekas mendengkus, kemudian menggeleng. “Aku tidak yakin, Dik. Kurasa, dia adalah cinta pertama dan utama bagiku. Aku ragu bisa mendapatkan perempuan sebaik dirinya, apalagi yang lebih baik daripada dirinya.”

Aku lantas menelan ludahku dengan perasaan bersalah kalau-kalau aku telah mengucapkan harapan yang tidak tepat dan tidak menyenangkan baginya. Sampai akhirnya, aku jadi kebingungan meramu kalimat tanggapan selanjutnya.

Tetapi untungnya, ia lekas menimpali, “Kau tahu, dahulu, aku telah berjuang keras untuk menaklukkan hatinya dari lelaki lain. Tetapi setelah aku berhasil, takdir nyawanya malah sampai sebelum aku benar-benar mencintainya dengan cara yang pantas.”

“Sabar, Kak,” tanggapku sekenanya.

Ia balas dengan senyuman singkat, lantas bergeming saja. Ia tampak kembali larut dalam menungannya.

Kami pun saling mendiamkan.

Sampai akhirnya, ia bertutur lagi, “Dan kesedihanku pun semakin bertambah, setelah aku menjumpai bahwa ikan hias yang ia hadiahkan untukku, telah lenyap entah bagaimana.”

Aku tersentak lantas bertanya dengan sikap yang lugu, seolah-olah kenyataan itu tidak akan ada hubungannya dengan kebengalan kucingmu, “Apa yang terjadi dengan ikan hias itu?”

“Entahlah,” katanya, dengan nada lemah. “Setibanya di rumah, aku hanya menemukan stoples akuariumnya pecah berserakan, dan ikan hiasan itu hilang entah ke mana.”

Aku pun terenyuh dengan perasaan bersalah, sebab aku yakin kalau kejadian itu ada hubungannya dengan tindakan kucingmu sehari sebelumnya.

“Aku dengar-dengar dari warga, di lingkungan ini, memang ada kucing pendatang berwarna putih dengan bercak-bercak hitam. Mereka menduga kucing nakal itulah yang memangsa ikan hiasku,” terangnya kemudian.

Seketika, rasa bersalahku berbalut kecemasan dan kekhawatiran. Aku hanya kuasa mengangguk-angguk bodoh dengan perasaan yang kacau.

Sampai akhirnya, setelah basa-basi penutup, aku lantas beranjak ke dalam lingkungan indekosku. Seiring langkah, aku terus menimbang-nimbang perihal tindakan apa yang seharusnya kulakukan terhadap kucing kesayanganmu itu, sebab aku sungguh tak ingin berada di dalam masalah dengan warga.

Tetapi setelah aku berada di depan kamar, aku malah menjumpai bahan pikiran yang baru. Aku melihat lengkungan perak di atas kusen pintu yang entah kapan adanya. Dan akhirnya aku tahu bahwa benda itu adalah gelang yang pernah kuhadiahku untukmu, tepat di hari ulang tahunmu. Maka seketika pula, aku pun semakin bertanya-tanya tentang arti kepulanganmu.

Perlahan-lahan, perkiraan-perkiraan pun bermunculan di dalam benakku tanpa kendali. Aku menduga bahwa keberadaan gelang itu ada hubungannya dengan kepulanganmu yang tanpa kabar. Aku menaksir, kau sengaja pulang untuk meninggalkanku begitu saja. Bahkan aku mulai meyakini bahwa kepulanganmu bukanlah untuk menghadiri pernikahan sepupumu, tetapi untuk menghadiri pernikahanmu sendiri.

Akhirnya, atas tafsiran yang berdasar, aku membulatkan tekad mengeluarkan kucing kesayanganmu dari kamarku. Aku sudah muak dan kehabisan cara untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul karenanya. Pada malam hari, aku memasukkannya ke dalam karung, membawa dan membuangnya di gerbang utama jalan, tanpa peduli lagi tentang apa yang akan terjadi kepadanya.

Waktu demi waktu bergulir. Kekalutanku atas keberadaan kucingmu semakin mereda. Aku tak perlu lagi mengkhawatirkan warga akan mengetahui peranku dan menyalahkanku akibat tindakan-tindakannya. Pun, aku tak perlu lagi bersusah payah untuk mengurusnya demi dirimu, sebab engkau telah meninggalkanku tanpa penjelasan apa-apa.

Sampai akhirnya, pagi ini, ketika aku hanya ingin berbaring di kasur dan tak ingin lagi menjalani hari dengan kenyataan yang memilukan atas dirimu, tiba-tiba, aku mendengar ketukan di daun pintu kamar. Dengan perasaan malas, aku bangkit dari pembaringan, mengayun langkah untuk menyelesaikan ganguan itu selekas mungkin, agar aku dapat segera kembali mengkhidmati dan meredakan kegalauanku sendiri.

Dan setelah menyibak daun pintu, tanpa kuduga, aku pun menemukan dirinya, teman baikmu yang pernah kuidam-idamkan, yang seketika menampakkan senyuman yang begitu manis. “Kucingmu,” katanya, sambil menyodorkan kucing putih dengan bercak-bercak hitam itu.

Aku pun menyambut sodorannya dengan penuh keterkejutan dan keheranan.

“Aku menemukannya di depan kos-kosanku,” terangnya, lantas menunduk dengan senyuman simpul.

Aku lantas menyadarkan diri untuk memberi respons, “Terima kasih.”

Ia pun mengangguk pelan, kemudian berbalik dan melangkah pergi.**


Ramli Lahaping, kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Twitter: @ramli_eksepsi

Cerpen

Burung-burung Origami

Cerpen Heru Sang Amurwabumi

Hampir setiap malam ketika menjelang tidur, Umi selalu membuatkan aku burung-burung origami dari lipatan kertas warna-warni. Kemudian aku menerbangkannya ke langit malam di halaman rumah, berharap bahwa burung itu bisa mengepakkan sayap hingga jauh ke atas sana. Aku berhayal bahwa burung-burung origami itu bisa mencapai tempat paling indah yang sering diceritakan Abi. Membawa pesan kepada Tuhan yang kutulis di punggungnya. Berisi doa dan harapan.

Abi memang sering bercerita kepadaku, hampir setiap malam juga, tentang sebuah tempat yang ditumbuhi kembang beraneka warna. Tempat yang jauh lebih indah dari taman-taman yang ada di kotaku. Di sana, peri-peri baik hati bertempat tinggal.

Sebenarnya bukan hanya kepadaku saja. Abi juga sering bercerita tentang indahnya taman yang dia sebut surga itu kepada dua kakak lelakiku: Azzam dan Azwin. Kebetulan tiga anak Abi dan Umi semuanya laki-laki. Akulah yang bungsu.

Suatu malam, pernah aku mengutarakan sebuah pertanyaan ketika Abi sedang menceritakan taman itu untuk kesekian kali.

“Bagaimana caranya kita bisa sampai ke sana, Bi?”

“Jalan ke taman itu sangat jauh dan berliku, Nak.” Umi menyela, coba menjawab pertanyaanku, yang barangkali juga mewakili pertanyaan semua anak-anaknya.

“Nanti, jika tiba saatnya, Abi akan mengajakmu, Umi, dan kakak-kakakmu ke sana, Nak,” timpal Abi.

Kemudian Umi sibuk melipat kertas menjadi burung-burung origami. Kembali aku menuliskan sebuah pesan kepada Tuhan. Tentang impian. Setelahnya, aku berlari ke halaman rumah, menerbangkan burung dari lipatan kertas itu ke langit malam.

***

Abi baru saja keluar dari sebuah ruangan di sudut rumah kami. Ruang yang selama ini dijadikan tempat bersimpuh kepada Tuhan. Setengah jam yang lalu, Abi memimpin kami di sana.

“Anak-anakku, kemarilah.”

Ada yang berbeda dengan suara Abi. Terdengar serak dan berat. Umi menutup bibirnya dengan ujung kain hijab. Aku menangkap ada yang aneh dengan sikap Abi dan Umi.

“Anak-anakku, bersyukurlah. Kita terpilih menjadi pengantin surga. Setelah ini, Abi akan mengantar kalian ke jalan yang selama ini kita cari,” lanjut Abi, “Azzam, tuntunlah adikmu Azwin. Jangan pernah kau biarkan dia jauh darimu sejengkal pun.”

“Iya, Bi.”

“Zulham, kau masih belum tahu apa-apa. Nanti kau menurut saja dengan Umi. Tak lama lagi kau juga akan bertemu dengan taman yang sering Abi ceritakan. Tentang peri-peri baik hati yang katamu ingin kautemui, Nak.”

Wajah Abah mendadak murung. Dari dua sudut matanya, butiran-butiran bening tampak menggenang. Sementara, Umni terisak-isak sambil memeluk dua kakakku: Azzam dan Azwin.

***

Abi menurunkan kami di depan sebuah gedung yang di hari Minggu pagi itu didatangi para pendoa. Mereka berpakaian rapi dan bersih. Barangkali memang seharusnya begitu ketika kita akan berdoa dan memuliakan Tuhan. Abi mengusap rambutku, lalu menciumnya, sebelum dia memacu mobil, meninggalkan aku dan Umi berdua di depan gedung itu. Aneh. Sempat kutemukan ada air mata Abi yang kembali menetes di pipi Abi. Tentu saja membuat aku semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Umi menggenggam erat tangan kiriku. Di tangannya yang lain, tampak sebuah benda mirip kotak mainan kecil dengan hiasan lampu—sejak kami berangkat dari rumah, lampu itu sudah menyala. Aku sedikit berat berjalan. Mungkin penyebabnya adalah mainan pipa besi sebanyak 5 batang yang dililit-lilit dengan kabel, lalu diikatkan dengan rapat di perutku.

Iya, setelah Umi menyuapi aku dengan semangkuk bubur ayam tadi pagi, Abi telah memasang mainan itu di perut dan punggungku.

“Kenapa Umi menangis lagi?”

“Maafkan Umi, Nak.”

Kurasakan genggaman tangan Umi semakin erat.

“Tahanlah, Nak. Sakit ini hanya sebentar. Setelahnya, kita tak akan merasakannya lagi. Kita akan berkumpul di taman penuh kembang warna-warni dan burung-burung origami yang setiap malam kau terbangkan untuk mengirimkan harapanmu.”

Terdengar suara ledakan yang asalnya sangat dekat dengan kami. Begitu keras, hingga gendang telingaku seperti pecah dan berdarah. Oh, ternyata aku memang benar-benar berdarah. Bukan hanya darah, panas yang luar biasa juga terasa sedang membakar sekujur tubuhku.

Hanya sesaat sakit itu kurasakan. Perlahan, ia berubah menjadi rasa dingin dan nyaman. Pandangan mataku seperti dipenuhi ribuan kunang-kunang yang turun dari langit. Kunang-kunang beraneka warna. Lalu, mendadak berubah menjadi burung-burung origami warna-warni. Pancaran warna itu melayang-layang, turun mendekatiku.

Sekejap kemudian, dari atas mega-mega, aku bisa melihat tubuhku sendiri, tubuh Umi yang diam tak bergerak dengan bersimbah darah, juga orang-orang yang sedang berdoa di dalam gedung itu berlarian menyelamatkan diri.

***

Aku tersungkur di sebuah taman yang dipenuhi kembang beraneka warna. Entah, taman di kota mana ini? Aku hapal taman-taman yang ada di kotaku. Hampir setiap akhir pekan, Abi dan Umi mengajak anak-anaknya ke sana. Aku yakin, ini bukan taman-taman yang sering kami kunjungi.

Kutebarkan pandangan ke segala arah mata angin. Semua dipenuhi pohon yang kembangnya sedang bermekaran. Sepertinya aku pernah melihat pohon-pohon itu. Tapi di mana?

Oh iya, kini aku mengingatnya. Pohon itu sama dengan pohon yang ada di makam nenek dan kakek. Abi pernah menyebut namanya: kemboja.

Makam? Apakah aku berada di pemakaman? Apakah kini aku sudah mati?

“Zulham …” Terdengar suara memanggil namaku. “Zulham, kemarilah, Nak.”

Aku mencari arah suara. Kembali kutebarkan pandangan ke sekeliling. Nihil. Hingga akhirnya dari balik sebuah pohon kemboja di taman itu, tampak punggung seorang perempuan menggunakan baju panjang berwarna putih. Mirip dengan baju yang biasa dipakai Umi. Perempuan itu berdiri membelakangiku.

“Umi?”

Wanita itu membalikkan badan. Oh, ternyata dia bukan Umiku.

“Aku peri yang tinggal di taman ini, Nak.”

“Di mana Abi, Umi, dan kakak-kakakku?”

“Tenanglah, Nak. Kalian pasti akan berkumpul. Tapi nanti, setelah mereka menyelesaikan perjalanan panjangnya. Perjalanan meniti jembatan penghakiman sebagai manusia yang telah baligh.”

“Kapan?”

“Bisa setahun, dua tahun, bahkan mungkin ribuan tahun. Kelak, kau akan mengetahuinya, Nak.”

“Apakah di tempat ini ada burung-burung origami yang mengirimkan pesanku?”

Perempuan itu menggeleng.

Angin berembus kencang. Gerimis mengundang hujan. Pohon-pohon kemboja bergoyang-goyang, hingga daunnya jatuh berserakan. Mendadak dedaunan itu berubah menjadi burung-burung origami, lepuh oleh hujan yang mengguyur tubuhnya. Mendadak pula aku merindukan Umi. Aku menangis sejadi-jadinya. ***


Heru Sang Amurwabumi, bergiat sastra di Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk. Pernah menjadi anggota redaksi Harian BERNAS. Cerpennya, “Mahapralaya Bubat”, mengantarnya terpilih sebagai penulis emerging Indonesia di Ubud Writers & Readers Festival 2019. Bisa disapa di Facebok Heru Sang Mahadewa.

Cerpen

Estradus Membenci Hujan

Cerpen Erwin Setia

Dua belas hari menjelang ulang tahun ketujuh Estradus, Ayah pergi meninggalkan Estradus dan Ibu. Hari itu hujan turun teramat lebat. Tangis Ibu mengucur deras serupa bendungan jebol, sementara Ayah tak mengacuhkan seruan Ibu yang memanggil-manggil namanya. Ayah membawa sebuah payung kecil berwarna biru tua ke luar rumah. Di sana, di depan pagar seorang perempuan seumuran Ibu menunggu Ayah. Perempuan itu tampak cemas dan terburu-buru. Begitu Ayah tiba di luar pagar, Ayah memayungi perempuan itu agar tak kehujanan. Keduanya melangkah cepat, menaiki sebuah taksi yang sudah dipesan. Seperti tetes pertama hujan hari itu, Ayah dan perempuan itu menghilang dengan cepat. Mereka pergi tanpa meninggalkan jejak kaki atau salam perpisahan.

Sejak hari kelam itu, Estradus membenci hujan. Saban hujan turun, ia akan menghindarinya jauh-jauh seperti orang yang takut tertular virus mematikan. Ia mengatupkan jendela, menutup pintu rapat-rapat, dan menyumpal telinga dengan kedua tangan. Ia tak mau melihat hujan, mendengar suaranya, terciprat percikannya, atau mencium bau tanah selepas hujan. Di lain sisi, mata Ibu semakin berkabut dan ia jarang mengeluarkan kata-kata. Tiap kali menatap mata Ibu yang selalu tampak basah, Estradus langsung memeluk Ibu. Ia tak tahan memandangi matanya lama-lama. Ia tak tega melihat Ibu begitu tersiksa. Ibu memang tak banyak bicara dan bergerak. Namun mata Ibu serupa pendongeng bisu yang melontarkan cerita-cerita sendu. Selain hujan, Estradus juga menghindari mata Ibu. Ia mencintai Ibu, tapi ia tidak berani lagi melihat matanya.

Ibu berhenti berjualan pakaian dan mengantarkan Estradus ke sekolah. Ibu telah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Selepas kepergian Ayah, Ibu seperti sosok yang datang dari masa depan yang selalu mengenang hari-hari silam. Ia tidak lagi memasak, mencuci, dan melakukan aktivitas semacamnya. Ibu cuma diam di atas satu di antara empat kursi yang mengelilingi meja makan. Di seberang kursi tersebut adalah kursi Ayah biasa duduk. Ibu sering berbicara dan mengatakan hal-hal yang indah sendirian. Tak sekali dua kali Estradus mendengar Ibu tertawa-tawa dan menceritakan dengan suara tinggi masa-masa manis saat ia dan Ayah masih berpacaran. Tiap kali tawa panjangnya berhenti, Ibu langsung tercekat, kemudian menangis tiba-tiba. Ibu memukul-mukul meja sambil meneriakkan nama Ayah. Memandangi itu, Estradus hanya bisa menahan tangisnya. Berkali-kali ia meminta Ibu berhenti bertindak seperti itu, alih-alih berhenti, Ibu malah semakin meninggikan suaranya dan semakin keras memukul meja.

Pada ulang tahun kesepuluh, Estradus mendapat hadiah yang tak pernah ia harapkan. Hadiah ulang tahun paling menyedihkan yang ia terima. Setelah dirawat di rumah sakit selama tiga hari akibat pendarahan parah di kepalanya, Ibu meninggal dunia. Estraduslah yang memergoki ketika Ibu membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Kepala Ibu sudah bocor dan lantai memerah saat Estradus memergokinya. Meski kepalanya berdarah-darah, Ibu tetap membentur-benturkan kepalanya dengan keras seakan kepalanya terbuat dari baja. Ia melakukan itu sambil meneriakkan nama Ayah. Estradus meminta bantuan tetangga untuk menolong Ibu. Ibu lekas dibawa ke rumah sakit. Saudara-saudara menjenguk Ibu. Tapi nyawa Ibu tak bisa diselamatkan. Pada hari kematian Ibu, hujan turun begitu lebat. Kebencian Estradus terhadap hujan pun semakin kuat.

Selepas kematian Ibu, Estradus tinggal di rumah Kakek Junus bersama Paman Darius. Paman Darius adalah satu-satunya anak Kakek Junus sekaligus adik Ibu yang belum menikah. Sebelum kehadiran Estradus, Paman Darius hanya tinggal bersama Kakek Junus yang pikun dan gampang menangis. Kakek Junus selalu menangis setiap kali ia sadar bahwa dirinya sudah lupa akan banyak hal. Kakek Junus menangis ketika lupa bahwa Paman Darius adalah anaknya, Estradus adalah cucunya, dan istrinya—Nenek Jasiah—telah meninggal dunia. Paman Darius yang mengaku tak ingin menikah merasa senang dengan keberadaan Estradus. Sebab ia tidak lagi hanya tinggal berdua bersama orang yang gampang menangis dan sulit diajak bicara. Paman Darius jelas mencintai ayahnya—Kakek Junus—tapi ia juga butuh teman serumah yang bisa diajak berinteraksi secara normal.

Estradus juga senang dengan Paman Darius. Paman Darius adalah seorang sarjana—entah jurusan apa, Estradus pernah menanyainya, tapi Paman Darius tak pernah mau menjawabnya. Ia pintar. Ia banyak baca buku dan mengenakan kacamata. Begitulah alasan Estradus menganggap Paman Darius pintar.

Estradus menjalani masa remaja di rumah itu. Beberapa hal berubah—Kakek Junus wafat, Paman Darius melanjutkan sekolah, Estradus mulai jatuh cinta—tapi kebencian Estradus terhadap hujan masih sama. Tiap kali hujan turun, ia berlari ke dalam kamar untuk mengurung diri. Ia tidak akan ke luar kamar sampai hujan benar-benar berhenti. Sampai petrichor tak tercium lagi. Kali pertama mengetahui keanehan Estradus, Paman Darius terheran-heran.

“Paman rasa kau mengidap ombrophobia, Estra. Sejenis ketakutan yang berlebihan kepada hujan.”

“Tidak, Paman. Aku tidak takut kepada hujan atau apa pun. Aku hanya membencinya.”

“Tapi kau tidak bisa terus-menerus menghindar dari hujan, Estra. Di negeri ini, hujan datang begitu sering dan tak bisa dicegah.”

“Biarlah, Paman. Aku tetap tidak mau menemui hujan.”

Pada akhirnya Paman Darius memaklumi keengganan Estradus terhadap hujan. Soal keanehan Estradus membuat Paman Darius teringat teman-temannya dan dirinya sendiri. Ia memiliki teman perempuan yang tidak pernah mau bertatap muka dengan lelaki, teman yang ketakutan setiap melihat jalan raya, cemas setengah mati kalau melihat warna merah, tidak mau berbicara lewat telepon, dan sebagainya. Paman Darius sendiri bertekat tidak pernah mau menikah. Suatu hal yang mulanya dianggap tak lazim oleh orang-orang sekelilingnya. Saat Kakek Junus masih hidup dan belum pikun, ia juga sering mengingatkan Paman Darius untuk cepat menikah. Paman Darius hanya menjawab “iya” sekadar untuk menyenangkan Kakek Junus. Kenyataannya, Paman Darius tak pernah menikah sampai Kakek Junus pikun dan meninggal dunia.

Paman Darius sedang mengetik rancangan tesisnya ketika suatu pagi Estradus yang telah menjadi mahasiswa membawa seorang perempuan ke rumah. Perempuan itu berambut lurus panjang, bermata kecil, dan bertinggi sedagu Estradus. Perempuan itu ceria sekali. Estradus memperkenalkannya sebagai kekasihnya. Paman Darius terlonjak dari tempat duduknya.

“Kau serius, Estra? Rasanya baru kemarin kau lulus SD, sekarang sudah punya kekasih saja.”

“Aku mencintai Helena, Paman. Suatu saat aku pasti akan menikahinya,” kata Estradus. “Kau mau kan nanti menikah denganku, Helena?”

Helena tersipu. Paman Darius menggeleng-geleng dan mencandai Estradus agar menempuh cara hidup seperti dirinya—tidak menikah.

“Helena terlalu cantik dan baik untuk tidak kunikahi, Paman.”

Setelah hari itu, Estradus makin sering membawa Helena ke rumah. Paman Darius yang tengah sibuk dengan tesisnya tidak keberatan dengan kedatangan Helena. Sama seperti Estradus, Helena tipe orang yang enak diajak bicara. Ketiganya bisa membahas apa pun kalau sudah duduk semeja. Meskipun usia Paman Darius berselisih jauh dari sepasang sejoli itu, ia merasa tidak berjarak dengan topik yang keduanya percakapkan. Barangkali karena Paman Darius rajin membaca dan bergaul sehingga ia tak pernah ketinggalan gerbong kereta zaman yang melaju kencang.

 Seiring waktu hubungan Estradus dengan Helena kian dekat. Helena berkali-kali mengajak Estradus main ke rumah, tapi Estradus belum memiliki keberanian untuk itu. Ia mesti mengumpulkan nyali dulu untuk bisa bertemu langsung dengan orang tua Helena. Selain kurang percaya diri, kenangan hitam akan Ayah dan Ibu membuat Estradus tidak sanggup tiap harus berjumpa dengan orang-orang seusia Ayah dan Ibunya. Meskipun Ayah dan Ibu meninggalkannya dengan cara yang berbeda, tapi keduanya menyisakan kesedihan yang sama di hati Estradus.

Sampai suatu hari Estradus memberanikan diri menerima ajakan Helena ke rumahnya. Keduanya telah menetapkan hari itu. Celakanya, tepat hari itu hujan lebat turun. Estradus sudah bersiap-siap ketika hujan turun tiba-tiba. Ia sangat membenci hujan. Ia ingin cepat-cepat mengurung diri di dalam kamar. Namun ia tidak dapat melakukan itu. Helena dan orang tuanya sudah menunggunya. Akhirnya Estradus memilih untuk melawan kebenciannya itu. Setelah sekian lama, ia mau menjumpai hujan.

“Akhirnya waktu ini tiba. Kau memang harus melawan kebencianmu, Estra,” ujar Paman Darius sebelum Estradus berangkat ke rumah Helena dengan mengendarai sepeda motor.

Estadus menerobos hujan. Tiap kali suara hujan tiba di telinganya atau tetes hujan menimpa tubuhnya, Estradus teringat hari saat Ayah pergi dan Ibu mati. Ingatan itu berganti-gantian menyiksanya seperti dua penjahat yang mengeroyoknya di suatu jalan yang sepi.

Estradus tiba di rumah Helena. Di teras, Helena menyambutnya dengan senyum mengembang. Ia lekas mengajak Estradus ke dalam. Sepasang orang tua Helena sudah ada di ruang tamu. Keduanya telah duduk menanti kekasih anak mereka. Begitu Estradus memasuki ruang tamu, Helena memperkenalkan, “Ayah, Mama, ini lelaki yang dari tadi kubicarakan. Ini kekasihku. Namanya Estradus.”

Begitu mendengar ucapan Helena, sepasang orang tua itu terperanjat. Terutama ayah Helena. Matanya mennyipit dan tubuhnya membeku. Sementara itu, leher Estradus menegang. Ia mengenali dua orang di hadapannya. Mereka adalah Ayah yang meninggalkan Etradus bertahun-tahun lampau dan seorang perempuan yang dulu dipayungi Ayah.

Tanpa mengatakan apa-apa kepada Helena, Estradus buru-buru pergi ke luar. Ia memacu sepeda motornya kencang-kencang. Sangat kencang. Hujan masih turun begitu deras. Di tengah jalan, Estradus tak henti-henti mengumpat dalam hati. Sejak hari itu, ia semakin membenci hujan dan Ayah. **

Tambun Selatan, 16 Februari 2020


Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Penulis lepas. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media cetak dan online. Buku perdananya Lelaki Patah Hati yang Menulis Cerita akan terbit dalam waktu dekat. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Sukab Anak yang Baik

Cerpen T. Sandi Situmorang

Pada awalnya, kupikir hal paling menyedihkan dalam hidup ini adalah melepas suami ke pemakaman. Lima tahun kemudian barulah kusadari bukan itu hal paling menyedihkan dalam hidup, ketika di sebuah senja dipenuhi gerimis kulepas Sukab. Beberapa lelaki mengangkat peti berisi anak sulungku itu sementara aku menimang luka di sudut rumah kami.

Aku berniat mengantar Sukab sampai pemakaman, melihat tubuhnya diturunkan ke lubang, kemudian menabur kembang di atasnya. Orang-orang melarangku. Menurut mereka aku terlalu lelah. Lebih baik kuantar Sukab dengan melepas doa-doa ke langit.

Jangankan melepas doa ke langit. Duduk pun aku tiada mampu. Para lelaki itu seperti membawa jiwaku pergi. Tidak kurasakan apapun dalam tubuhku, dalam hatiku, juga dalam pikiranku. Dua puluh dua tahun Sukab hidup bersamaku, sekarang dia pergi. Sepanjang tahun-tahun itu Sukab kutaburi cinta, sekarang dia mati.

Mati menyedihkan. Dengan alasan menyakitkan, yang tidak bisa kuterima. Tidak mungkin Sukab melakukannya. Sukab anak baik. Sedari kecil otaknya kujejali nasihat serta ajaran agama. Ia tahu apa yang baik juga buruk, apa yang pantas dan tidak pantas ia lakukan. Ia mengerti apa yang harus ia dekati juga apa yang harus ia jauhi.

Sukab selalu mengalah pada ketiga adiknya. Ia memilih perutnya melilit kosong sementara adiknya terbaring kekenyangan. Ia tidak mengeluh padaku. Ia selalu mengadu pada Tuhan, ketika diam-diam malam semakin tebal.

Sukab anakku. Anakku yang sangat baik. Yang paling baik dari keempat anakku. Aku yang paling tidak percaya Sukab mampu melakukan itu. Membunuh nyamuk yang mengisap setetes darah dari lengannya saja ia tidak mampu. Mana pula mampu melumat manusia. Bukan satu atau dua. Melainkan belasan.

Sukab bukan pelakunya. Anak tampanku itu sama seperti pemilik belasan tubuh yang terkapar mengerikan. Sukab hanya kebetulan berada di tempat itu, berada teramat dekat dengan pelaku ketika bom meledak. Itulah penyebab tubuh Sukab lebur, sementara tubuh pelaku menjadi abu.

Aku sedih hidup Sukab berakhir dengan cara seperti itu. Aku tidak terima Sukab dituduh begitu. Aku sakit hati rumah kami diobrak-abrik orang-orang yang tidak kukenal. Aku marah saat mereka sampai menguliti kasur tempat tidur Sukab.

Mereka meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Aku berteriak marah, sudah kubilang Sukab anak baik-baik. Mereka acuh saja. Pergi dengan mulut terkatub. Tidak meminta maaf padaku, apalagi sampai membenahi semua yang mereka obrak-abrik.

Tidak sampai satu jam kemudian, di layar tivi kusaksikan. Orang-orang itu bilang mendapat banyak bukti dari rumah, terutama dari kamar Sukab. Mereka jelas berbohong. Aku menjadi saksi mereka tidak mendapatkan apapun.

Barang-barang bukti ditunjukkan. Aku nyaris terkencing celana karena ledakan tawa. Lucu sekali. Apa mata mereka buta, atau tidak bisa membaca? Yang mereka bilang bukti-bukti itu  adalah buku-buku agama. Jangankan Sukab, aku pun memilikinya.

Ada-ada saja mereka. Bisa-bisanya penemuan buku agama itu mereka jadikan bukti kuat memang Sukab pelakunya. Mereka salah. Karena buku-buku itulah Sukab menjadi anak baik. Selalu berada di jalan Tuhan.

***

Duka masih kutimang-timang dalam hati. Kehidupan Sukab dikorek hingga dasar. Tiba-tiba saja orang-orang asing hilir mudik ke rumah tetangga kami. Tidak sampai sehari, bergantian tetangga muncul di tivi. Mereka bilang, tidak begitu tahu perihal Sukab sebab anakku itu kurang bergaul dengan mereka. Setelah Sukab tidak lagi membantuku di ladang, mereka tidak tahu pasti apa pekerjaan Sukab. Mereka jarang melihat Sukab.

Sukab ….

Ingin kulempar saja tivi itu. Bisa-bisanya mereka bilang begitu mengenai Sukab. Dengan jelas mereka tahu Sukab seorang pedagang yang sering ke luar kota. Mungkin benar Sukab kurang bergaul dengan tetangga. Tetapi Sukab selalu memberi senyuman setiap berpapasan dengan mereka. Apa mereka ingin setiap saat Sukab mendatangi mereka satu per satu ke rumah masing-masing?

Yang benar saja.

Aku memaki-maki tivi. Dua hari kemudian, tivi itu menghilang dari rumah kami. Semula kupikir tivi itu diangkut orang-orang yang mengobrak-abrik rumah kami. Ternyata tidak, salah satu adik Sukab mengungsikannya ke tempat yang tidak kuketahui. Mereka takut pikiranku semakin kacau karena menyaksikan pemberitaan mengenai Sukab.

Aku tertawa dibuatnya. Anak-anakku pun sudah sama anehnya dengan orang-orang itu. Pikiran mereka yang kacau, bukan pikiranku. Sekarang pikiran adik-adik Sukab ikutan kacau. Jauh di palung hati, sebenarnya aku marah pada adik-adik Sukab. Tidak sebutir pun kulihat kesedihan menancap di wajah mereka. Padahal Sukab, orang yang telah membantu mereka supaya tidak mati kelaparan, meninggal dengan cara teramat tragis. Sukab hanya korban, malah dituduh berbuat keji. Bisa-bisanya mereka tenang saja. Andai adik-adik Sukab itu marah besar sampai membakar stasiun tivi dan kantor polisi sekalipun, masih dapat kumaklumi.

Adik-adik tidak berguna mereka itu semua. Untuk apa aku punya anak seperti itu. Sia-sia menghidupi dan membesarkan mereka selama ini. Tahu begitu, kubuang saja mereka ketika lahir dulu. Karena aku masih punya akal, tentu mereka kutinggalkan di depan panti asuhan, atau di depan rumah orang kaya yang tidak memiliki anak. Bukan di tong sampah, atau menggencet lehernya kemudian mencampakkannya ke sungai.

***

Malam itu, ketika anak-anakku pulas sampai termimpi-mimpi, aku merayap keluar rumah. Jauh di puncak kepalaku, langit pekat. Aku berjalan menuju ladang dengan berbekal ingatan di mana tikungan kecil, di mana ada lubang, dan di mana letak tanjakan. Ladang kami tidak sampai satu kilometer jauhnya. Ada yang harus kukerjakan di sana, dan aku tidak ingin seseorang melihatku. Itu sebab senter di tanganku tidak kunyalakan. Aku harus sangat berhati-hati. Barangkali ada pihak yang memantau pergerakanku belakangan ini.

Sehari sebelum Sukab tewas, ia mengajakku masuk ke dalam gubuk reot di ladang kami. Gubuk itu berlantai tanah, Sukab menggalinya tidak terlalu lama. Kemudian memasukkan sebuah kotak besi ke dalam lalu menutupnya dengan tanah.

Aku bertanya apa isi kotak itu. Kenapa Sukab menguburnya di situ.

Kata Sukab, isinya sangat rahasia. Selain dia, hanya aku yang tahu. Sukab mengizinkanku melihat isinya. Tapi tidak saat itu. Sukab bilang akan tiba waktunya aku bisa melihat isinya.

Aku merasa sekaranglah waktunya. Aku sangat penasaran. Bila memungkinkan, akan kuperlihatkan isi kotak itu pada semua orang. Biar mereka tahu, Sukab anak baik-baik. Sukab bukan pembunuh.

Dengan cangkul kukeluarkan kotak itu. Kotak itu terbuat dari besi, jadi lumayan berat walau tidak terlalu besar. Keningku mengerut melihat isinya. Cahaya senter lebih kudekatkan lagi. Ada kertas putih terlipat di samping benda asing itu.

Di sini kutulis cara menggunakan bom ini. Ibu ledakkan saja apa yang ingin ibu hancurkan. Jangan takut, aku menunggu ibu di surga.

Tanganku bergetar memegang kertas itu. Sukab seperti terbangun dari kubur, wajahnya menari-nari di depan mataku. Anakku Sukab, yang sangat baik dan sayang keluarga ….

Kuenyahkan wajah Sukab. Kutimang luka dan sakit hatiku sembari memandang benda dalam kotak. Aku tersenyum. Sebilah rencana menancapi akalku, akan kuhancurkan mereka. Mereka yang telah memfitnah Sukab sebagai teroris. Sukab anakku yang paling baik. ***


T. Sandi Situmorang,  lahir di Hutaraja, sebuah desa kecil di Pulau Samosir. Suka menulis novel, cerpen dan puisi. Sekarang menetap di Binjai, Sumatera Utara.

Cerpen

Mantra Gaib Sanjiwini

Cerpen Nur Khafidhin

/1/ Kematian Sentanu.

Dewa Trimurti yang terdiri dari Siwa, Wisnu, dan Brahma menciptakan dunia menjadi tiga dunia. Mayapada[1], madyapada[2], dan marcapada[3]. Hal itu dilakukan untuk menyeimbangkan alam semesta. Namun, keseimbangan semesta itu hancur tatkala terjadi peperangan antara pihak dewata yang dipimpin oleh Resi Brihaspati dan pihak raksasa yang dipimpin oleh Sukrasarya. Pintu madyapada dan marcapada terbuka. Awalnya pintu itu hanya dapat dilalui seratus makhluk setiap hari, baik dari madyapada atau dari marcapada. Namun, sekarang pintu keduanya terbuka sangat lebar, ribuan makhluk dapat keluar masuk dengan bebas.

Peristiwa itu pun tak menghentikan peperangan. Pihak dewata tak pernah mau menyerah walau selalu kalah melawan para raksasa dalam peperangan yang berkepanjangan sampai berabad-abad. Mereka akan terus bertempur untuk membawa kembali Kacha—putra dari Resi Brihaspati yang disembunyikan pihak raksasa. Namun, tak ada satu pun kemenangan yang dimenangkan oleh pihak dewata karena Sukrasarya memiliki mantra gaib sanjiwini. Mantra tersebut dapat menghidupkan siapa saja yang mati. Alhasil, para raksasa yang mati dihidupkan kembali dengan mudah.

Resi Brihaspati dengan tipu muslihatnya lantas menyuruh Sentanu untuk berguru kepada Sukrasarya. Diam-diam Resi Brihaspati telah menuliskan kutukan di punggung Sentanu. Hal itu dipergunakan untuk berjaga-jaga jika Sentanu berkhianat. Kutukan itu tak hanya berlaku ketika ia hidup, tetapi juga semua keturunannya. Sentanu disuruh tapa brata sampai tujuh tahun. Bertapa yang tak hanya untuk menyucikan jiwanya. Namun, juga untuk memperkuat kutukan tersebut. Tujuh tahun pun berlalu, ia pergi ke istana Wrishaparwa untuk mengutarakan niat berguru kepada Sukrasarya.

“Hamba Sentanu, hamba ke sini atas utusan Resi Brihaspati. Hamba diutus untuk berguru kepada Sukrasarya.” Sentanu bersujud di hadapan Sukrasarya.

Sesuai tradisi yang luhur, seorang guru tak boleh menolak permintaan dari seorang murid yang hendak berguru. Sukrasarya yang seorang arif bijaksana tak bisa menolak siapa pun yang ingin berguru kepadanya walau seorang utusan dari musuh perangnya. Ia berkata, “Aku menghormati Resi Brihaspati. Aku akan menerimamu sebagai muridku.”

Sentanu seorang murid yang patuh dan mempunyai niat yang murni untuk berguru. Ia selalu melakukan perintah dari Sukrasarya. Alhasil, putri Sukrasarya—Dewi Gangga suka kepadanya. Mereka akhirnya menikah. Namun, kabar itu pun tersebar di kalangan raksasa. Mereka takut Sentanu dapat menguasai mantra gaib sanjiwini. Ilmu tersebut menjadi senjata pamungkas dalam setiap peperangan yang dimenangkan pihak raksasa.

Sukrasarya meminta Sentanu mencari rumput guna makanan sapinya. Kesempatan itu dipergunakan Rukmakala yang sebagai pemimpin raksasa untuk membunuh Sentanu. Rukmakala yang ahli membuat strategi pun dengan mudah dapat menjebak Sentanu. Beberapa raksasa mengikutinya secara hati-hati, menyekapnya, dan lantas memutilasi tubuhnya. Sore harinya, Sentanu tak pulang ke rumah Sukrasarya. Ia merasa khawatir karena biasanya ketika sore hari Sentanu akan pulang. Lantas Sukrasarya mengucapkan mantra gaib sanjiwini. Tubuh Sentanu yang telah terpotong-potong mulai bersatu di hadapannya.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?”

“Rukmakala memimpin raksasa untuk membunuhku dan tubuhku dimutilasi.”

Keesokan harinya, Sukrasarya sedang sibuk dan tak bisa melatih Sentanu. Alhasil, memintanya untuk melakukan bertapa brata seorang diri di mebaong[4]. Namun, Rukmakala dan prajuritnya diam-diam mengikutinya. Mereka melakukan hal yang sama, menyekap tubuh Sentanu lantas memotongnya menjadi dua bagian tepat di tengah-tengah pusarnya. Tubuh bagian atas yang terdiri dari kepala, dua tangan, dan setengah perut di kubur ke gunung. Bagian tubuh bawahnya yang terdiri dari perut, dan kedua kakinya di larung ke laut.

Berhari-hari, Sentanu tak pulang dan Sukrasarya mencarinya ke mebaong. Namun, tak bertemu dengan Sentanu. Sukrasarya mengucapkan mantra gaib sanjiwini. Bola mata Sentanu datang di hadapannya. Ia tak bertanya seperti biasanya, memilih untuk mengambilnya, dan melihat semua kejadian yang ada melalui bola mata Sentanu. Sukrasarya melihat kejadian beringas yang dilakukan para raksasa. Sentanu dipukul oleh ratusan raksasa, tubuhnya tak lagi utuh, bola matanya keluar, dan setelah tak bernyawa tubuhnya dipotong Rukmakala menjadi dua bagian. Namun, Sentanu tak mau melawan karena menghormati Sukrasarya. Ia tak mau menyakiti hati gurunya walau risikonya adalah kematian.

/2/ Impian Dewi Gangga.

Dewabrata terlahir menjadi sosok raksasa dalam wujud yang sempurna, sesuai dengan mantra sanghyang sarasija maya hireng[5]. Raksasayang memiliki wajah galak, mata yang melotot, mempunyai taring, serta mempunyai rambut api. Ia langsung dapat berjalan, berlari mengelilingi ibunya, tetapi matanya melihat percikan darah di baju ibunya—Dewi Gangga. Darah itu memicu naluri raksasadalam tubuhnya untuk menggigit ibunya. Namun, Drupada berusaha menghalaunya, tetapi nasib sial menimpanya. Dewabrata menggigit lehernya sampai putus. Hal itu membuat semua orang yang menunggu Dewi Gangga melahirkan menjadi murka.

Dewi Gangga dengan sisa tenaganya menghunjamkan ngad[6] tepat di leher anaknya. Seketika kekuatan raksasadalam tubuh Dewabrata melemah. Ia memeluk anaknya penuh kasih sayang, berusaha melindungi dari amukan warga, dan berusaha menjelaskan semuanya. Namun, semua sia-sia, tak ada yang mau mendengarnya.

“Bunuh bayi sialan itu!” Durna berusaha mengambil Dewabrata dari pelukan Dewi Gangga.

“Dia telah membunuh pamannya!” kata Kresna dengan penuh luapan emosi.

“Dasar anak sialan! Bunuh dia sekarang!” Kripa marah melihat Drupada tergeletak tak bernyawa.

“Aku akan membunuhnya!” kata Rukmakala yang sejak dulu mempunyai rasa iri terhadap Sentanu.

“Kita bunuh dia sekarang!” ujar semua warga.

Dewi Gangga merasa sedih melihat semua orang ingin membunuh anaknya. Ia pun berkata, “Aku tak akan membunuhnya! Aku akan merawatnya.”

“Kalau kau berniat merawatnya, pergi dari desa ini!” kata Durna penuh emosi. Beberapa warga berusaha untuk mengejar Dewi Gangga. Namun, Durna menghentikannya karena Dewi Gangga telah memenuhi janjinya untuk meninggalkan desa.

Dewi Gangga membawa anaknya ke mebaong. Ia bertapa brata untuk meminta pertolongan kepada Sukrakarya. Dewi Gangga memanggil Sukrakarya sampai beberapa kali. Namun, tak ada jawaban. Alhasil, Dewi Gangga menggigit jari telujuk kanannya, menuliskan mantra di tanah dengan darah yang keluar dari jari telunjuknya, dan melafalkan mantra: Segara minaka dasarku, danu minaka rangi ulunku, ih teka engko buta dengen, tluh tranjana, wani engko lumabu ring sagara danu, wani engko lamubu ring sagara danau, wani engko lumabu ring sagara danu, wani engko ring awak sariranku, tan wani engko lumabu ring sagara danau, tan wani engko ring awak sariranku, teka ngeb, teka ngeb, teka ngeb[7].

Seketika di depannya ada Sukrakarya. Ia bersemadi di ranting pohon dengan kondisi kepala di bawah. Dewi Gangga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sukrakarya perlahan turun dengan santai, berjalan di atas udara, dan mengucapkan mantra pamugpug desti[8]: Ono sang bua raja pati, ring kenetasira alungguh, yan ana leyak bebai ring rajianku, poma sira ngapusana ong sing akarya ala ring aku, poma alihakena saguna penaruhe ono sidi rastu tastastu astu, ono lang bang bang nama suaha. Sukrakarya memetik satu daun dan mengikatnya dengan sehelai rambut untuk dijadikan kalung. Hal itu dipergunakan untuk melemahkan kutukan Resi Brihaspati dalam tubuh Dewabrata.

“Anakku jangan bersedih, tak ada ujian yang melebihi ketabahan hati manusia. Kau pasti dapat mengatasi ujian ini!”

“Kutukan dari Resi Brihaspati telah tertanam dalam anakku.”

“Jika kau dapat menghadapi ujian ini. Kau akan berada di alam yang lebih tinggi dari mayapada, anakku!”

“Selama ini tak ada impian yang aku inginkan. Namun, sebelum mati aku hanya ingin anakku terbebas dari kutukan ini. Tolonglah cucumu!”

Sukrakarya mendekat pada Dewi Gangga dan mencium keningnya. “Setiap orang akan menanggung takdirnya masing-masing.” katanya. “Aku merasa orang yang paling bersalah dalam perang yang berkepanjangan ini.” Tubuh Sukrakarya perlahan mulai menghilang untuk menyucikan diri.

***

Lima belas tahun kemudian, Sentanu datang ke tempat Sukrakarya bertapa dengan tatapan yang muram dan tak bergairah hidup. Menceritakan proses ketika dapat hidup kembali. “Air hujan akan bermuara ke laut. Tubuhku yang telah membusuk dan telah bersatu dengan tanah perlahan mengikuti air hujan. Sedikit demi sedikit semua tubuhku telah bertemu di laut dan menjadi satu. Aku pikir aku sudah mati, tetapi mantra gaib sanjiwini dapat menghidupkan aku kembali.”

“Kau menjadi sengsara karena kesalahanku. Maafkan aku!” Sukrakarya bersujud di kaki Sentanu. Namun, Sentanu mencegahnya.

“Sukrakarya telah menjadi guru yang baik. Maafkan hamba yang sebagai muridmu membuat para raksasa murka.” Sentanu hendak bersujud di kaki Sukrakarya, tetapi dicegah.

Sentanu meminta maaf dan meminta izin pamit. Seiring kepergiannya, matahari yang mulai terbenam bergerak ke arah timur, ribuan makhluk dari madyapada dan marcapada bergerak mengikutinya. Semua korban peperangan antara pihak dewata yang dipimpin oleh Resi Brihaspati dan pihak raksasa yang dipimpin oleh Sukrasarya pun juga melakukan hal yang sama.

Sentanu terbang ke langit, tubuhnya berubah menjadi kereta kematian yang terbuat dari tengkorak. Ribuan makhluk yang mengikutinya satu demi satu masuk ke dalam kereta kematian, perlahan meluncur melewati panorama yang sunyi, dan muram. Sejauh mata memandang hanya terlihat ribuan makhluk dari madyapadadan marcapadadalam hamparan lautan api, terombang-ambing dalam ombak api yang menggulung tinggi, tercipta buih api yang terus bergerak mengikuti angin, dan menciptakan suara deburan ombak yang menyayat jiwa. Angin bergerak dengan cepat dan menciptakan angin topan. Mereka tersapu angin topan sampai menggapai langit, terus berputar-putar, meliuk-liuk, dan terdengar raungan kematian yang menyedihkan. Semua makhluk yang ada di dalam kereta kematian seketika diam mematung, tak ada satu pun yang berani bersuara, dan mereka ketakutan.***

                 Di Ruang Sang Hyang Widhi, 31 Desember 2020 – 6 Februari 2021


Nur Khafidhin, berdomisili di Demak. Alumni PBSI di Universitas Islam Sultan Agung Semarang.


[1] Dunia para dewa-dewi.

[2] Dunia bagi demit, jin, dan makhluk halus.

[3] Dunia yang dihuni oleh manusia, raksasa, dan margasatwa.

[4] Hutan yang mempunyai bentuk seperti leher manusia.

[5] Mantra untuk berubah menjadi raksasa berwajah angker dan galak.

[6] Pisau yang terbuat dari bambu.

[7] Mantra yang terdapat pada lontar wrespati kalpa.

[8] Mantra untuk menghidupkan jimat sebelum dipakai.

Cerpen

Elegi Sebatang Pohon

Cerpen Ardi Wina Saputra

Sialan! Lelaki tambun itu dengan lancangnya mengencingiku. Belum sirna bau kencing dari para pemabuk yang menempel di kaki-kakiku sejak semalam, eh sekarang ditambah lagi dengan bau kencing dari lelaki tambun berkepala plontos itu. Beginilah nasib menjadi pohon cemara tua, kekar dan rimbun saja tak cukup untuk disegani. Beberapa bagian tubuhku bopeng oleh luka. Sebulan ini, ada semacam kertas yang menempel di tubuhku. Aku tak mampu membacanya karena posisi kertas itu sehadap denganku. Biarlah, yang pasti aku tetap kokoh pada pendirianku menunggu SusterAgatha, perawat cantik dari Klinik St. Melania. Kesetiaan cintaku padanya telah mengakar menembus tanah. Menjalar dan terus menjalar ke bawah. Menembus kerikil, menembus pasir, menembus humus, dan menembus remah-remah peti matiku sendiri.

***

Sebelum menjadi pohon cemara, aku memanglah seorang lelaki yang gagah perkasa. Tubuhku tinggi dan kekar, hidungku mancung, daguku lancip, dan rambutku pirang seperti rambut papi dan mami di Roterdam sana. Kedatanganku di kota Madiun ini tak lepas dari prestasiku sebagai lulusan terbaik akademi militer di Belanda. Aku ditugaskan pemerintah untuk mengamankan objek vital mereka di Hindia. Salah satunya adalah  kota Madiun yang sedang berkembang pesat. Kota ini memiliki pabrik gula Pf. Pagoetan yang hasilnya mampu diekspor ke Burma dan Srilanka. Belum lagi kebun teh di Jamus dan kebun kopi di Dungus yang hasilnya sudah mulai dilirik pedagang dari Gujarat. Ada juga perusahaan kereta milik pemerintah, Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij[1] yang digunakan untuk membangun kereta api di seantero tanah Jawa. Politik etis juga membuat kota ini semakin penting. Ursulin, Lazaris dan beberapa ordo lainnya sudah memulai membangun sekolah untuk orang Jawa, Tiong Hoa, dan Belanda. Mulai dari Holands Chinese School[2], SD Eropa, Sekolah Pribumi Belanda, TK Eropa, TK Jawa, Sekolah Melania, Kursus Mengetik dan Stenografi, Kursus Jerman, Kursus Perancis, Kursus Musik, dan Panti Asuhan. Belum lagi pembangunan gereja di Wilstraat[3] Madiun dan tempat peribadatan lainya. Jumlah orang Belanda di kota ini semakin lama semakin meningkat. Itulah sebabnya aku ditugaskan untuk memberikan pengamanan ekstra.

Dulu, berbagai pertempuran dan pemberontakan baik dari dalam maupun luar kota sudah kuatasi. Bahkan tak jarang aku menumpas oknum tentara Belanda yang kedapatan bersekongkol dengan sempalan tentara Residen untuk menguasai pabrik gula. Desing peluru hingga suara mortir telah fasih menjamah telingaku. Tak jarang beberapa tembakan bersarang pada lengan dan pahaku. Semua itu membuatku semangat dan meningkatkan adrenalinku untuk menumpas segala bentuk pemberontakan. Namun ada satu peluru yang tak mampu kusembuhkan hingga kini. Peluru cinta dari bidadari pada lelaki yang telah lama merindukan belaian wanita.

Aku ingat betul, peluru itu mulai bersarang menembus tulang rusukku ketika Klinik St. Melania dibuka di Madiun pada Jumat 6 Februari 1931. Saat itu tepat setengah enam sore, Residen, Asisten Residen, Walikota, dan para donatur datang ke pembukaan Klinik St. Melania.Aku dan pasukanku diberi kepercayaan untuk menjaga prosesi pembukaanya. Ny. Wagemans, presidente[4] dari distrik Madiun selaku perwakilan dari Klinik St. Melania mempersilakan Ny Residen yaitu Ny. Van den Bosch untuk membuka pintu pertama dan mempersilakan para tamu serta donatur untuk masuk.

“Lihatlah salah satu wanita yang sejak tadi mendampingi Ny. Wagemas itu! Suster Agatha namanya!” ujar Robert, kawan yang saat itu berdinas denganku.

Mataku menurut saja pada arah telunjuk Robert. Telunjuknya yang berbulu mengarah pada wanita berseragam perawat, bukan biarawati. Kulitnya tidak cokelat juga tidak terlalu putih, tapi kuning langsat. Hidungnya mancung, tubuhnya tinggi semampai, wajahanya oval, dan bibirnya mungil. Bibir itulah yang ternyata mampu mengeluarkan sebutir peluru lalu melesat dan bersarang di dadaku ketika mulai diletupkan dalam bentuk senyuman.

“Agatha, Kemari!” panggil Robert.

Ia tidak menjawab, hanya melempar senyum yang mampu memporak-porandakan pilar-pilar cinta dalam lubuk hatiku. Ia lalu melanjutkan tugasnya kembali. Memeriksa beberapa pasien dan sesekali menjawab pertanyaan tamu.

“Kau mengenalnya?” tanyaku pada Robert.

“Dia sama sepertiku Pak, ayahnya Belanda dan Ibunya dari Jawa. Sebelum bekerja di sini, dia menjadi salah satu guru di Hollands Chinese School, sekolah anakku. Dia juga teman baik istriku,” jawab Robert lalu menyeret tanganku.

Sebagai rekan setim, tentu ini tidak sopan. Tapi apa daya, ada magnet yang amat besar membawaku ke arahnya. Saat itu, aku mencoba memberanikan diri berkenalan. Kuulurkan tangan dan dia menjabat tanganku. Ada arus yang begitu besar dari telapak tangan kanannya yang mampu merasuki sekujur tubuhku.

“Aku harus profesional Tuan Robert, kedatanganku ke sini adalah melayani pasienku dan aku tak akan berlama-lama dengan orang lain selain pasienku,” ujarnya pada Robert.

Memang dia lahir di Jawa, tapi kelogisan dan kelugasanya menunjukkan dia memang benar ada darah Belanda mengalir dalam tubuhnya. Sebelum ayah dan ibuku meninggal, mereka pernah berpesan padaku agar aku menikah dengan wanita berdarah Belanda. Kini usiaku bertengger mendekati penghujung kepala tiga, tapi istri pun aku tak punya. Aku terlalu sibuk dengan karier kemiliteranku. Inikah akhir dari pencarianku? Pertanyaan-pertanyaan itu mulai bergelayutan dalam kepalaku.

Pertemuan dengan Agatha terjadi begitu singkat. Aku ingin menemuinya lagi. Sesampainya di markas, aku bingung mencari cara agar aku bisa menemuinya. Tak ada cara lain selain menjadi pasien. Aku sadar bahwa pedang dan peluru tak dapat melukaiku, maka aku mencari cara lain. Kuminum obat-obatan yang entah apa namanya agar tubuhku demam. Satu, dua, tiga jam aku menunggu, aku tak merasakan apapun. Otakku bekerja keras mencari cara agar aku dapat sakit. Berbagai hal bodoh kulakukan agar aku dapat sakit tapi tak juga berhasil. Hingga sampailah pikiranku pada hal paling bodoh. Aku ingat, tak jauh dari sini ada semak belukar. Kuambil motorku dan kujelajah semak-semak itu sendirian di tengah malam yang masih gerimis.

“Dapat!” teriakku ketika menemukan beberapa lubang ular di semak-semak itu. Tanpa ragu, kumasukkan tangan kiriku ke dalamnya.

“Arghhhh!”

Sakit memang, seperti ada jarum yang menancap sangat tajam di tanganku. Satu, dua, dan tiga kali barulah kucabut tanganku dari lobang itu. Kulihat ada tiga pasang luka tusuk mirip bekas suntikan yang ukuranya berbeda menembus tanganku.

“Berhasil!” ujarku mantap. Kunyalakan kembali motorku dan aku bergegas menembus hujan menuju markasku.

“Aku digigit ular! Aku digigiit ular!” Sesampainya di markas, aku sengaja meronta-ronta di samping ruang tempat tidur prajurit, mencari perhatian sekaligus pertolongan. Beberapa prajurit terbangun, lalu datang mengerumuniku. Ada juga yang bergegas keluar mencari pertolongan pertama. Tubuhku mengigil dengan amat dahsyat, gigiku gemertakan, bahkan aku sempat muntah. Pengelihatanku mulai kabur.

“Bawa aku ke klinik St. Melania!” pesanku pada salah satu prajurit yang kepalanya paling dekat denganku. Setelah berucap demikian, mataku semakin kabur dan semua menjadi gelap.

***

Saat itu aku tak sadarkan diri cukup lama. Aku merasa tertidur sangat pulas sekali, hingga suatu ketika kubuka mata dan aku sudah berbaring di bawah salib yang menempel di dinding ruangan Klinik St. Melania. Ada Robert dan seorang prajurit di sampingnya. Samar-samar aku masih ingat wajah prajurit itu adalah wajah prajurit yang kuberi pesan agar bersedia membawaku ke Klinik St. Melania. Aku tersenyum pada prajurit itu, lalu pada Robert. Sayangnya, Robert malah menatap mataku dengan tatapan sinis.

“Di mana dia?” ujarku pada Robert yang aku yakin sudah sangat tahu maksudku.

“Hampir seharian penuh kau sudah tak sadarkan diri. Siang tadi, Suster Agatha berangkat bersama salah satu pemimpin Pabrik Gula di Madiun, Tuan Abelard namanya. Mereka berlayar menuju Amsterdam menggunakan kapal J.J. Johan de Witt yang diberangkatkan dari Surabaya siang ini,” jelasnya.

“Ada keperluan apa lelaki itu membawa Suster Agatha pergi?” tanyaku.

“Tuan Abelard mengajak Suster Agatha untuk menandatangani beberapa perjanjian donasi dari perusahaan di Amsterdam.”

“Lalu kapan Agatha kembali?” tanyaku penasaran.

“Mereka akan kembali paling cepat Natal tahun depan. Itu pun kalau tidak ada halangan,” ujar Robert lagi.

Mendengar Suster Agatha dibawa pergi laki-laki lain, semangat hidupku menurun drastis. Aku tahu benar sifat licik Tuan Abelard dalam memikat wanita, karena aku pernah bekerjasama denganya dalam misi pengamanan aset pabrik gula di Madiun sehingga kami menjadi akrab dan sering berkomunikasi. Andai Natal tahun depan Suster Agatha benar-benar kembali, aku yakin dia sudah tak sesuci dulu lagi dan pantang bagiku yang perwira tinggi ini untuk mendapatkan sisa dari laki-laki lain. Aku berjanji pada diriku sendiri, kelak jika aku sembuh maka aku akan membeli peti mati terbaik, mengeduk tanah di belakang klinik ini dan mengakhiri hidupku dengan membaringkan diri, menembakkan peluru dari ujung revolver kesayanganku.

***

Tak butuh waktu lama bagiku untuk menepati janji yang telah kubuat sendiri. Begitu sembuh, kubeli peti mati berbahan kayu berukir perjamuan terakhir Kristus. Lalu malamnya, kugali makamku sendiri tepat di belakang Klinik Melania. Dua petugas yang berjaga di klinik itu kuminta untuk membantuku mengangkat peti dan memasukkanya ke lubang galianku. Mereka tahu benar reputasi dan pangkatku di kota ini, sehingga tak berani bertanya dan hanya menunduk sambil mengerjakan setiap perintahku. Setelah itu, mereka kusuruh kembali ke pos jaga. Aku terjun masuk ke peti mati lalu berbaring, dan kuletakkan ujung revolver di samping pelipisku. Pada hitungan ketiga kutekan pelatuknya dan semua menjadi terang seterang cahaya yang menarikku dengan sangat cepat untuk keluar dari jasadku. Kini sukmaku benar-benar terbebas tapi pergerakanku terbatas. Aku tak bisa pergi terlalu jauh dari jasadku, karena apabila hal itu terjadi maka sukmaku perlahan akan sirna. Mau tidak mau aku harus berdiam di sini menatap jasadku, melihat dua petugas jaga yang tergopoh-gopoh memanggil warga dan polisi untuk menutup petiku, melihat keributan malam itu, melihat upacara militer sederhana di atas pemakamanku, dan melihat para pelayat yang datang silih berganti. Namun, wajah Agatha tak muncul dari puluhan pelayat di kota itu.

Lambat laun, kulihat sendiri kulit, daging, dan seluruh organ tubuh beserta seluruh tulang belulangku hancur lebur bercampur dengan tanah tempatku dipendam. Peti matiku juga telah rapuh, rengat, keropos, dan tergerus menjadi remah-remah bercampur dengan tanah tempatku dipendam. Namun kerinduanku pada Agatha tak bisa sirna begitu saja. Kerinduan ini harus tetap kujaga. Tanah pemakamanku sangat gembur oleh hujan dan subur karena jasadku yang terurai di dalamnya. Pelayatku bermacam-macam profesinya, termasuk petani dan tukang kebun. Beberapa dari mereka tampaknya tak sengaja menjatuhkan benih ketika melayat. Oleh sebab itu kuputuskan untuk menyatukan jasadku pada salah satu benih yang telah tercampur aduk dalam tanah kuburku. Lalu benih itu mengeluarkan akar, merambat ke bawah menembus humus, menembus tanah, menembus kerikil, dan merambat ke atas menjadi tunas menyembul di atas permukaan tanah. Semakin lama semakin meninggi, tumbuh daun satu demi satu hingga rimbun dan barulah kusadari bahwa wujudku sekarang adalah pohon cemara. Aku masih berharap kalau Agatha sampai di Madiun, dia tak perlu bingung mencari pohon Natal karena dia bisa memelukku sewaktu-waktu. Tubuh baruku juga semakin kokoh, tahan angin, tahan petir, tapi tak tahan menimang rindu.

Dari bentuk baruku ini aku menunggu kedatangan Agatha sambil menjaga Klinik St. Melania yang semakin lama semakin sepi, semakin kosong, ditinggalkan pengelolanya, dibiarkan, lapuk, roboh, dan hancur tergerus zaman. Ribuan tamparan sinar matahari dan ratusan tangis purnama telah kulewati sendiri. Jutaan manusia silih berganti melintasiku, puluhan ribu jenis debu kendaraan telah kuhirup.

Hingga suatu ketika dari arah utara, ada sekelompok komplotan turun dari mobil, mukanya garang tubuhnya gempal juga legam, jumlahnya lima. Mereka turun di dekatku berdiri, bergerombol tapi tak mau mendekat karena bau kencing yang masih menyengat.

Salah satu dari mereka berperawakan rapi, berjas dan berdasi, mengarahkan telunjuknya ke arahku dan berkata pada orang-orang berbadan gempal yang mengitarinya, “Sesuai dengan isi poster yang telah tertempel di pohon cemara itu, maka besok saya minta kalian semua untuk membersihkan wilayah ini sekaligus menebang pohon itu! Kita akan bangun proyek besar di tempat ini!”


Ardi Wina Saputra,Anggota Komunitas Pelangi Sastra Malang.


[1] Perusahaan jawatan kereta api Belanda

[2] Sekolah untuk Belanda dan China

[3] Jalan raya

[4] Pimpinan

Cerpen

Cinta Seorang Pelukis

Cerpen A. Warits Rovi

Wajah Lin adalah inspirasi cinta yang melebihi keindahan lanskap sebuah pantai, yang menggugah hatiku untuk melukis sesuatu yang indah. Dan harus kuakui, sebulan terakhir aku tak perlu datang ke pantai atau datang ke tempat wisata untuk melahirkan lukisan yang indah. Cukup melihat wajah Lin, maka lukisanku akan indah. Bahkan aku merasa, seandainya satu minggu tak bertemu Lin, mungkin—atau bisa dipastikan—bakat melukisku akan pudar. Setelah cinta berkuasa, segalanya seperti harus menghamba.

***

Lin kerap menunjukkan gambar sketsa yang sebenarnya jelek, tapi dengan dorongan hati yang entah kenapa, aku mengacungkan jempol atas gambar itu. Lin tersenyum. Sementara teman-temannya berdehem, sembari bisik-bisik, lalu bersama-sama menertawakanku. Aku membentaknya dengan suara lantang dan sebuah amuk telapak tangan mendarat keras di datar meja. “Duarrr.” Aku berjalan sambil berkacak pinggang dari satu bangku ke bangku lain, kutatap tajam mata anak didikku yang hanya bisa menunduk dan gemetar. Tiba-tiba kelas menjadi sepi. Aku marah-marah sekitar dua menit. Kulihat semua siswa menunduk tegang, hanya jemari mereka yang bergerak-gerak iseng, ada yang memencet pelan cat air, ada yang menggores-goreskan pensil, ada yang melipat-lipat ujung kertas. Jafri, siswa paling potensial yang duduk di pojok ruangan hanya memutar-mutar pensil.

“Baiklah, sekarang kita akhiri saja materi pada kesempatan kali ini. Dan kalian akan kukasih tugas. Buatlah lukisan absurd bertema cinta, utamakan dominasi warna hijau di lukisan kalian, dengan spasial tak lebih dari ukuran folio, boleh menggunakan pensil, cat atau crayon. Setelah berdoa, kalian boleh keluar,” ujarku bersamaan ketika kuhempas pantat di atas kursi, anak-anak membaca doa. Kurapikan buku-buku yang berisi materi yang sedianya ingin kuajarkan kepada mereka. Tapi laju waktu selama 20 menit sangat memisau perasaanku ketika aku ditertawakan mereka. Aku masih dengan wajah memerah dan dada serasa hendak meledak dengan emosi yang membuncah. Anak-anak pulang satu per satu dengan wajah yang seperti diselimuti mendung. Entah kenapa sebulan terakhir aku sering sentimen dan selalu bersikap kasar di depan anak-anak, tak selayaknya perupa yang mestinya menggunakan kelembutan hati untuk mencipta. Padahal selama enam tahun aku mengajar les melukis hanya saat ini aku seperti ini, seperti sebuah lukisan yang diciprat warna hitam oleh pelukisnya dan diabai terjemur di bawah terik matahari; kasar dan semrawut.

Ruang kelas semakin senyap, menyisihkan desir angin lirih dari arah pintu. Dalam ruangan hanya tinggal Lin dan Jafri, masih sibuk memasukkan alat-alat lukisnya ke dalam tas. Sore masih membias cahaya putih tak begitu kuning, membentuk segaris sorot memanjang di datar tembok, itu artinya senja masih lama. Anak-anak pasti sadar bahwa mereka keluar terlalu dini.

“Saya pamit pulang, Pak,” suara Lin dan Jafri hampir bersamaan membelah senyap. Sontak aku mengangguk dan entah dari mana tiba-tiba aku merasa ada sesungging senyum di bibirku. Wajah Lin yang dibalut jilbab ungu sempurna menaklukkan luapan emosi yang memuai dalam dada. Aku hanya bisa mengangguk, sebagai patung yang diam atas kehendak pemahatnya, betapa Lin adalah pemahat ulung bagi hatiku yang beku.

“Aku mencintai Lin, Bu. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikannya, karena Lin terlalu menghormatiku sebagai seorang guru. Tentu kewibawaanku akan ternoda bila harus menyatakan cinta kepadanya. Walau aku sadar mau tidak mau cinta itu harus diungkapkan dengan jalan yang baik. Dan yang paling kukhawatirkan, aku tidak sanggup menahan rasa sakit hati misalnya Lin menolak cintaku. Aku bingung, Bu,” ungkapku suatu pagi di depan lukisan almarhum ibu. Tanganku meraba-raba lukisan wajah ibu, dan air mataku menetes jatuh.

***

Aroma cat dan pensil kuhidu dari kertas dan belacu yang menumpuk di atas meja. Anak-anak baru saja menyetor tugas lukisan bertema “cinta”. Beragam bentuk dan kombinasi warna tertuang di datar kertas, seperti embun pecah di daun singkong. Aku mengoreksinya satu per satu.

Rata-rata material utama dari lukisan anak-anak adalah gambar hati tertembus anak panah. Itu pertanda imaji anak-anak tentang cinta masih statis, mengacu pada simbol cinta masa lampau. Jujur hanya Jafri yang punya kecerdasan visual-spasial dan imaji yang inovatif. Lukisan cinta yang ia setor berupa gambar sebuah gembor yang menyiram bunga, dengan sapuan cat abu-abu menyerupai tetes-tetes air yang jatuh dari lubang kecil di ujung leher gembor yang melengkung. Aku tertarik dengan lukisan itu. Tapi aku tidak bisa untuk mengacungkan jempol kepada Jafri. Karena jika itu kulakukan, Lin pasti jadi orang yang terkalahkan.

Sejenak kutatap wajah anak-anak. Mereka berwajah dingin, menunggu karya-karyanya dinilai dan diulas. Ruangan lebih senyap dari sebelumnya. Angin sore memainkan gantungan anak kunci.

“Lukisan kalian yang ada di depanku ini, semuanya salah. Minggu kemarin aku menyuruh kalian membuat lukisan bertema cinta. Tapi kenapa malah seperti ini?” ungkapan pertamaku membuat anak-anak saling pandang, dan tidak ada yang berani nyeletuk. Jafri menoleh ke arah Lin. Lin menoleh ke arah Jafri.

“Aku ingin pertemuan yang akan datang, kalian bisa melukis cinta dengan tepat.”

“Mohon maaf, Pak! Apa dari semua lukisan itu tidak ada yang bagus?” tanya salah seorang siswa dengan tatap mata sedikit awas, karena mungkin ia takut salah. Aku hanya bisa tersenyum. Aku memilah lukisan itu dengan selusup ibu jari memisah lembar demi lembar.

“Kalau bicara soal bagus, lukisan ini yang bagus. Tapi masih kurang mengena ke tema,” kataku seraya menunjukkan selembar kertas, hasil lukisan Lin. Lukisan setengah absurd berupa gambar hati tertusuk peniti dengan dominasi warna jingga.

Anak-anak terpaku menatap lukisan yang kupegang. Dan aku berbohong untuk kesekian kalinya. Sebenarnya hatiku sadar, jika lukisan Lin tak begitu bagus. Aku sadar bahwa apa yang baru saja kulakukan hanyalah suara cinta.

“Jadi, lukisan itu yang paling bagus ya, Pak?”

“Iya. Ini yang paling bagus.”

Lin tersipu mendengar ucapanku yang menobatkan lukisan miliknya paling bagus. Sementara anak-anak sebatas saling pandang, tak lagi berani bisik-bisik dan mengoceh. Aku malu kepada diri sendiri. Cinta telah menuntutku jadi begini.

Sore itu pikiranku tak keruan oleh godaan wajah Lin. Akhirnya materi harus segera kusudahi. Aku menyuruh anak-anak untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, lagi-lagi untuk membuat lukisan cinta.

***

Di sela waktu, ketika anak-anak mengawali pelajaran dengan berdoa. Tak kubuang kesempatan untuk merogoh isi tas, mengeluarkan sebuah lukisan dan menggelarnya di atas meja. Aku tak pernah bosan mengamati lukisan wajah Lin di selembar kain belacu buatanku itu. Aku tersenyum dan hatiku bahagia, anak-anak selesai berdoa, lekas kulipat dan kumasukkan kembali lukisan itu ke dalam tas. Biar ia menjadi rahasiaku sendiri yang mampu berbicara kepada perasaan tanpa sepengetahuan siapa-siapa.

Anak-anak menyetor tugas lukisnya ke hadapanku. Kembali kuamati 20 lukisan aneka rupa dengan kuar harum cat menusuk hidung. Aku menggeleng-geleng, seraya kulepas jimpitan lembar-lembar yang telah kukoreksi. Anak-anak memandang dengan sedikit cemas.

“Semua lukisan yang kalian setor, sama seperti yang minggu lalu. Tak satu pun yang pantas untuk disebut lukisan cinta,” kata-kataku membuat anak-anak terdiam, sebagian saling pandang dan sebagian yang lain menjaga tatap matanya yang tajam tertuju kepadaku.

“Dan lukisan yang paling bagus, tetap karya Lin.”

“Huuuuuu!” suara anak-anak serentak, membuat lecut pecut ke telingaku, sontak aku naik darah. Dan telapak tanganku memukul meja. Duarr!!

“Sekarang kalian pulang! Cepat!” Amarahku memuncak, jantungku seperti mendidih. Anak-anak keluar menenteng tas. Sekali lagi aku merasa bahwa cinta telah membuatku semakin jadi patung yang tak kuasa atas tubuhnya sendiri, beruntung aku punya prinsip, tak apa menjadi patung, asal hati bahagia.

Setelah semua siswa keluar, tiba-tiba Lin berdiri di hadapanku, ia menunduk, menampakkan wajah yang minta dikasihani.

“Lin!’

“Iya, Pak.”

“Mengapa kamu berdiri di sini?”

“Saya ingi tahu. Lukisan cinta itu sebenarnya seperti apa, Pak?”

Aku terdiam. Dan dadaku berkecamuk, tapi hatiku bahagia bisa berhadap-hadapan setengah meter dengan orang yang diam-diam kucintai. Dengan pertanyaan itu, Lin seperti membuka sebuah jalan bagiku untuk masuk ke hatinya. Aku tak ingin membuang kesempatan.

“Lukisan cinta seperti ini, Lin,” jawabku seraya menyodorkan lukisan wajah Lin yang kubuat di kain belacu. Lin menerima lukisan itu dengan tangan gemetar. Aku tersenyum bahagia. Magma cinta yang berabad bergelegak, kini telah meledak.

“Terima kasih, bapak telah memberitahu lukisan cinta yang sebenarnya kepada saya. Saya akan memberikan lukisan cinta ini kepada Jafri. Karena saya sudah lama mencintai Jafri, Pak,” ucap Lin sembari mencium kain belacu itu tiga kali.***

Rumah FilzaIbel, 2021


A. Warits Rovi, lahir di Sumenep, Madura. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media nasional dan lokal. Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472. Bisa disapa melalui email: [email protected]

Cerpen

Suatu Hari yang Tiada Disangka-Sangka

Cerpen Arafat Nur

Sudah tiga tahun lebih Laila menunggu, tetapi belum ada kabar tentang Khaidir, suaminya. Meskipun tidak terlalu yakin, dia masih berharap suaminya kembali. Cuma itu sisa hidupnya sesudah putranya juga pergi.

Hari-harinya begitu sepi tanpa suaminya dan semakin hampa setelah anak lelakinya yang digerogoti penyakit aneh meninggal dunia setahun lalu. Laila tidak tahu apa jadinya ketika suaminya nanti kembali begitu tahu anaknya telah tiada.

Kekalutan terus menyelimuti perempuan yang sudah lima tahun berumah tangga itu. Kerutan halus di bawah matanya menunjukkan betapa buram kehidupannya. Cuma sepenggal harapan yang menyulut gairahnya dalam menjalani hari-hari sepi di kampung yang terpencil itu.

Ketika senja hari, dia selalu duduk di beranda seraya melemparkan pandangan ke jalan menikung menuju ke jalan utama kampung. Di sana hatinya berdebar-debar, berharap-harap cemas kalau-kalau yang datang itu adalah Khaidir. Suaminya sering muncul di sana ketika senja dengan cangkul di pundaknya.

Benar saja. Ada lelaki yang sedang menuju ke situ. Jantung Laila berdegup kencang antara harap dan ragu. Perasaan itu memang menyiksanya, sekaligus menyenangkan. Menyenangkan karena dia masih bisa berharap suaminya itu pulang.

“Laila, kenapa termenung?!”

Ternyata lelaki itu bukan Khaidir. Perempuan itu tersipu karena ketahuan melamun lagi.

“Oh, Bang Alan rupanya. Dari mana?”

“Baru pulang melaut. Ini kubawakan sedikit ikan untukmu, tapi tak segar lagi.”

“Kapan Bang Alan mulai melaut?” Laila agak terkejut.

“Baru seminggu ini.”

“Abang tak lagi membajak sawah?”

“Payah. Wereng begitu merajalela. Lagi pula sudah terlalu lama hujan tidak turun-turun. Sawah-sawah di lembah sudah kekeringan. Bagaimana padi bisa tumbuh di tanah kerontang yang pecah-pecah?”

Perempuan itu tertegun. Itu pula alasan Khaidir menyingkir dari dusun itu untuk mencari penghidupan lain. Namun, suaminya bukan pergi melaut, melainkan bekerja di Pelabuhan Kota Banda. Jaraknya begitu jauh bagi perempuan semacam Laila. Lagi pula dia belum pernah pergi ke luar kampung selain ke kota kecamatan.

“Ini ikannya,” Alan mengacungkan bungkusan plastik hitam.

“Apa di Kuala, Bang Alan ada dengar-dengar kabar tentang Bang Khaidir?”

“Belum sih. Abang sudah tanya-tanya sama beberapa nelayan, tapi tidak ada yang tahu,” sahutnya.

Wajah perempuan itu berubah muram. 

“Kamu jangan bersedih begitu. Kalau ada umur, pasti Bang Khaidir pulang.”

Laila berusaha tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih. Lelaki yang masih membujang itu pamit. Sepi kembali menghimpit dada perempuan itu.

Sebenarnya, harapan-harapan Laila tidak beralasan. Dunia pun tahu kalau ombak besar tiga tahun lalu itu sudah menenggelamkan sebagian besar Kota Banda dan sejumlah tepi pantai. Dua puluh lima ribu lebih orang meninggal, dan belasan ribu lainnya hilang tanpa jasad dan tanda digulung ombak.

Oh, Laila tak menginginkan ombak itu menelan suaminya. Barangkali saja ketika ombak itu menghantam daratan, Khaidir tidak lagi di sana. Hari itu Minggu, bisa saja suaminya pergi ke tempat lain karena libur kerja. Dia yakin itu meskipun sampai sekarang dia tidak menerima kabar apa-apa.

Tentunya jika Laila tidak memiliki harapan lagi, dia sudah menerima lamaran tuan tanah, Ampon Lah, yang istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Atau Bang Gani berkepala empat yang masih terus membujang. Lagipula tiga tahun baginya belum terlalu lama untuk menunggu suaminya pulang.

“Tapi berapa lama lagi kamu harus menunggu?” tanya Cek Midah, bibinya, yang cemas dengan keadaan Laila.

“Aku tak tahu, Cek. Tapi kalau sudah terima kabar tentang Bang Khaidir, baru nanti bisa aku putuskan….”

***

Rumah yang terletak di pinggang bukit menawarkan hamparan pemandangan indah. Kadang-kadang Laila bisa merasakan bau laut yang dibawa angin menjelang petang. Sedangkan malam, cuma angin gunung yang mengusupkan dinginnya kesunyian. Suara serangga menyelinap sampai ke dalam tidurnya. Tengah malam Laila terbangun, ditemui dirinya terbenam dalam kesepian.

Empat tahun sudah berlalu hidup yang dijalani sendiri. Orang-orang mendesak agar dia segera menikah lagi. Selagi masih muda, masih ada lelaki yang suka. Lagipula tidak mungkin dia terus-terusan sendirian tanpa suami dan anak lagi. Bagaimana hari tuanya nanti? Hidupnya semakin sepi, tanpa seorang pun yang menemaninya.

“Diam-diam Bang Alan juga menyukaimu,” kata Cek Midah.

“Yang betul?” Laila terhenyak.

Alan lelaki sederhana, baik, dan pekerja keras. Dia mau bekerja apa saja demi bertahan hidup. Selama ini dia pula yang menghidupi kedua orang tuanya. Ketika mudah rezeki, Alan tidak sungkan-sungkan membantu Laila. Tidak ada lagi yang memberikan nafkah kepada perempuan itu sejak suaminya pergi. Satu-satunya sumber penghidupannya adalah sepetak kebun kelapa di belakang rumah yang buahnya sudah jarang. Akar-akarnya kekurangan air selama kemarau ini.

Laila teringat Alan, tetangga paling akrab dan paling peduli. Dia yakin, perhatian lelaki itu padanya tulus tanpa pamrih. Semata-mata bantuan yang diberikan Alan itu atas rasa kemanusiaan. Alan pula yang sering menghibur gundah hatinya yang tak berkesudahan.

“Betul,” jawab Cek Midah.

“Dari mana Cek Midah tahu?”

“Dia sendiri yang bilang.”

“Apa katanya?”

“Katanya dia belum ingin kawin, kalau suamimu belum pulang.”

“Apa hubungannya?”

“Ya, kamu pikir sendiri.”

Kening Laila berkerut.

“Dia juga bilang, dia akan kawin kalau kamu sudah kawin lagi.”

Alan memang mempunyai kesamaan dengan Khaidir. Selain rajin, dia juga gigih. Lagipula Alan memiliki rupa tidak jelek, meskipun tidak terlalu tanpan. Sebagaimana wajah lelaki Aceh kebanyakan, begitulah Alan. Dia memiliki rahang kuat sebagaimana jamaknya petani atau nelayan. Kulitnya agak legam, memang, karena sering terbakar matahari.

“Kamu tahu?” tanya Cek Midah. “Itu artinya dia menaruh hati padamu.”

“Hmmm….” pipi Laila merona.

“Jika kamu bersedia, orangtuanya akan datang melamar. Kita bikin saja acara yang sederhana….”

***

Lengkungan ujung janur kuning melambai-lambai di pintu pagar rumah itu. Dua tenda terpasang, menaungi orang-orang yang sibuk menyiapkan dan menyantap hidangan. Tercium aroma masakan kari ayam. Terdengar sentuhan sendok, gelas, dan piring kaca, sesekali orang tertawa.

Mereka tidak menyadari kehadiran seorang lelaki berkaus hitam. Dia menerobos kerumunan orang-orang yang sedang sibuk satu sama lain atau dengan diri mereka sendiri. Di depan pintu rumah, lelaki itu memandang Laila dan Alan sedang bersanding di pelaminan. Keduanya terlihat bahagia tanpa sadar kehadirannya.

“Aku pulang….” ucap lelaki itu.

Seketika ruangan hening. Sangat hening.

Laila berusaha meyakinkan penglihatannya. Tidak lama kemudian dia terpekik menghambur ke tubuh lelaki itu. Sedangkan Alan terpana, tubuhnya terlonjak berdiri. Tubuh pengantin pria itu seperti beku.

“Bang Khaidir!” pengantin perempuan itu bersimpuh di kakinya.

Sesaat saja ruangan pelaminan yang sempit itu sesak oleh orang-orang yang berada di luar. Tidak hanya tamu, para pekerja pun memasakkan tubuhnya melesak dalam kerumunan. Pintu rumah itu seakan ingin terkuak lebih lebar lagi.

Tak ada yang tahu kalau lelaki itu masih hidup dan terdampar oleh gelombang raya di sebuah pulau terpencil selama hampir empat tahun lamanya.***

Aceh, 2016-Ponorogo, 2020


Arafat Nur, dosen Bahasa dan Sastra di STKIP PGRI Ponorogo. Novel Lampuki (Gramedia) meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2011 dan memenangkan sayembara DKJ 2010. Buku kumpulan cerpen terbarunya Serdadu dari Neraka (Diva Pres, 2019).

Cerpen

Yin dan Yang

Cerpen Romi Afriadi

“Dari sekian banyak pelacur yang aku tiduri, kamu jelas spesial bagiku.”

“Jangan bilang kau jatuh cinta padaku, seorang pelacur tak berhak untuk menaruh hati pada lelaki, apalagi pelanggannya.”

“Bukan, tapi aku menemukan ketenangan kala memandang matamu.”

“Omong kosong macam apa itu. Lekas lucuti pakaianmu, lalu tunaikan hasratmu. Aku tak punya banyak waktu untuk mendengarkan gombalanmu.”

Percakapan itu terjadi pada saat pertemuan ketiga kita. Malam itu kau tak hendak menjamahku, bahkan saat aku sudah membuka kancing baju.

“Kali ini aku hanya ingin menemuimu untuk bercerita bukan bercinta,” ujarmu.

“Kau kira aku ini psikiater?” Aku berseru galak, kesal bukan main pada sikapmu.

Namun pada akhirnya memang tak terjadi apa-apa di antara kita malam itu. Kau berubah dari seorang lelaki penjelajah vagina sebagaimana di malam pertama kita berkenalan menjadi lelaki sendu. Hilang semua seringai nakal dan wajah memerah penuh kenikmatan saat pertemuan kedua kau begitu bergairah di ranjang.

“Bodo amat dengan ceritamu, aku bekerja di sini bukan untuk mendengar itu.” Aku masih protes.

“Aku akan membayarmu sesuai tarifmu kencan dengan lelaki lain, bukankah yang terpenting bagimu adalah uang.”

Malam itu, kau menjadi seorang pencerita. Sedangkan aku meski mendengarkan, meski awalnya tidak suka.

***

Hujan masih deras turun dari langit, dari balik bilik wisma remang yang bersiap menanti tamu asing dari tempat-tempat jauh, aku bisa menatap di luar, sepanjang gang basah di mana-mana. Di seberang jalan, sebuah warung milik lelaki tua sedang melayani dua pemuda yang sepertinya membeli rokok. Di sampingnya ada warung menjajakan makanan. Tak banyak perubahan di sana, kecuali tidak adanya belasan pelacur yang hilir mudik menghiasi jalanan, menggoda dan mengajak lelaki mana pun untuk singgah.

“Mia, lebih baik kita turun ke bawah mencari mangsa.”

Sherly mengerling kepadaku. Aku melirik jam, tertera angka 22:37, masih terlampau dini untuk ukuran dunia hiburan. Tapi aku tetap membuntuti Sherly yang melenggang mendahuluiku.

Di bawah, alunan musik sudah mulai mengentak, belum ramai betul. Aku memilih duduk di sofa, mencoba menggoda seorang pria berkemeja panjang yang lewat. Dengan harap cemas, aku menunggu pelanggan di situ. Berapakah pria hidung belang yang akan aku ladeni malam ini? Aku hanya berharap Tuhan berbaik hati dengan mengirimkan banyak lelaki berduit yang tidak pelit. Dan semoga Tuhan tak bosan mendengar permintaan seorang hina sepertiku. Terlepas apakah semua doaku akan ditolak, aku tetap tak punya jalan selain mengirimkan doa kepada-Nya. Sebab, dalam kamus kehidupanku tak ada yang pasti, mungkin akan ada puluhan laki-laki, atau hanya hitungan sebelah jari yang menghampiri.

Barangkali yang datang seorang pemuda tampan, seorang eksekutif muda yang sedang mencari kesenangan tersebab istrinya yang sibuk. Pejabat yang sedang terlibat jual beli jabatan, pria paruh baya yang penisnya akan layu dalam dua kali genjotan. Tapi peduli setan, bagiku yang terpenting cuma uang. Toh, semua lelaki yang tiba sama-sama mencari selangkangan.

“Brengsek!” desahku kesal. Sambil kembali mengisap rokok, aku mengedarkan pandang ke berbagai penjuru.

Jam sebelas malam telah lewat seperempat menit, tapi belum ada satu pun pelanggan yang berhasil aku gaet. Apakah malam ini aku sial? Padahal biasanya aku sudah menuntaskan hasrat tiga pria, paling buruk, setidaknya dapat satu pelanggan.

Kondisi ini tentu tidak aku ingini, targetku untuk mengumpulkan uang banyak akan tersendat. Padahal aku sudah merencanakan membawa banyak oleh-oleh saat kepulangan pada bulan Ramadan kelak. Sebab, ketika bulan agung itu sudah datang, tempat ini sudah pasti ditutup pemerintah. Aku tak punya pilihan selain pulang kampung.

“Boleh saya temenin, Mbak.”

Dalam suasana itulah kau muncul memberi pengharapan. Aku menatapmu yang sedang cengengesan. Diawali tatapan kaget, karena wajahmu masih sangat anak-anak bagiku. Tapi di kamar, kau menunjukkan keahlian yang seharusnya belum dimiliki lelaki seusiamu. Kau buas, memangsa setiap jengkal tubuhku dengan dengus napas yang memburu.

Dua hari berikutnya, kau kembali datang. Bahkan mem-bookingku lebih lama. Malam itu aku senang sekali, sebab tak harus mengangkang untuk banyak lelaki namun mendapatkan uang yang cukup. Lewat kamu, pertama kali aku merasakan sensasi kenikmatan yang berbeda. Apakah aku menyukaimu? Aku buru-buru menghapus itu dari daftar kemungkinan. Kau anak orang terhormat, aku seorang yang nista. Mungkin karena itulah kau memanggilku dengan sebutan Yin, lalu kau menyebut dirimu Yang. Aku melambangkan kegelapan, sedangkan kau kecerahan. Meski bagimu, Yin dan Yang memiliki arti yang berbeda.

***

“Mulai saat ini aku akan memanggilmu Yin, sebaliknya sebut saja aku Yang.”

“Aku tak paham maksudmu.”

“Yin dan Yang itu pertanda keserasian hubungan seksual antara lelaki dan perempuan, keduanya saling melengkapi. Setiap ada Yin pasti ada Yang, begitu pun sebaliknya,” katamu.

Belakangan aku tahu dari sebuah artikel, bahwa itu mitos Cina tentang seksualitas yang muncul pada abad IV sebelum Masehi.

Sejak kunjungan ketiga itu, pertemuan kita selalu diawali dengan bercerita sebelum bercinta. Tentang ayahmu yang merupakan pejabat tinggi negeri ini, tapi tak pernah kau sukai. Bahkan beberapa kali kau berterus terang ingin membunuhnya.

“Dia hanya memberiku banyak uang, bukan kasih sayang.”

Maka, setiap pertemuan aku terus menyiapkan diri terlebih dahulu mendengar curahanmu yang membuatku sakit kepala, sebelum kau mengakhiri dengan kembali merampok selangkanganku.

Aku melihat banyak keanehan dalam dirimu. Setiap berhubungan, kau selalu ingin berada di posisi atas, dan aku selalu di bawah. “Yang harus berada di atas, karena dia laki-laki,” ucapmu. Mana peduli seorang pelacur dengan aturan semacam itu. Di hari lain, kau juga menjuluki alat kelaminku dengan nama Teratai Emas. Aku kembali mencari tahu, itu ternyata juga sebutan dalam teks Cina klasik.

Seiring keanehan itu, kelihaianmu di atas ranjang kian menjadi. Kau menunjukkan kepadaku berbagai posisi bercinta yang tak pernah aku bayangkan kendati aku bersanggama dengan puluhan lelaki hampir tiap malam. Dan kau selalu memberi nama yang tak lazim terkait gaya bercinta kita.

Tapi setelah percumbuan kita yang membara entah pada pertemuan ke berapa. Kau tak lagi berkunjung, jejakmu menghilang, walau aku menunggumu sampai malam terakhir sebelum tempat ini tutup di bulan Ramadan. Lalu aku sadar mulai merindukanmu.

***

Sepanjang Ramadan aku terus memikirkanmu. Aku menjalani kehidupan normal layaknya manusia biasa di bulan suci itu. Siang hari aku puasa, malamnya aku tarawih lalu menyambung dengan tadarus. Tidak ada orang di kampung ini yang mengetahui pekerjaanku, makanya aku bersikap seperti pada umumnya. Berharap Ramadan bisa sedikit membasuh kesalahanku yang menggunung. Sebelum pada waktu-waktu mendatang, aku kembali bergelimang dosa.

Namun aku menyadari, ingatan tentangmu selalu mengusik batok kepalaku, meski aku selalu berusaha mengusir tanpa jeda. Berbagai prasangka juga berkembang biak dalam pikiranku.

“Aku tak akan senang, jika ayahku tidak celaka di tanganku.” Terngiang lagi ceritamu.

“Jangan begitu, bagaimana pun ia tetap ayahmu.”

“Kau tidak tahu betapa bejatnya ayahku. Dia punya istri simpanan di mana-mana, dia jelas melukai ibu. Kadang, jika pulang, dia membawa perempuan-perempuan muda itu dan memasukkannya ke kamar.”

“Bukan ayahmu saja pejabat yang seperti itu, mereka punya uang banyak, punya kekuasaan, segalanya,” jawabku.

Apakah kau sekarang berhasil membunuh ayahmu? Lalu polisi meringkusmu dan mendekapmu dalam penjara? Aku sekarang malah berharap Hari Raya Idul Fitri cepat tiba, dan aku akan menunggumu lagi di tempat biasa kita bertemu.

Tujuh hari pasca lebaran, masa itu datang juga. Pagi sekali aku sudah berkemas, memasukkan pakaian dengan tergesa. Aku senang sekaligus gamang. Gerimis malah turun satu-satu saat aku mulai melangkah menuju jalan kampung sembari menunggu sepupu yang akan mengantarkanku ke terminal kecamatan. Tapi langkahku terhenti saat sebuah mobil sedan menerobos jalanan dan berhenti persis di depan rumah. Aku terkejut, lebih-lebih orang yang datang itu adalah kamu.

“Aku sekarang bukan lagi anak ayahku. Aku sudah memutuskan hubungan apa pun dengannya. Mulai sekarang, apa kau ingin hidup denganku, Yin? Tinggalkan pekerjaan itu, kita bisa mulai semuanya dari bawah.”

Bibirku terkatup, tak tahu harus bercakap apa.

“Mia…, Apakah ada tamu?” Dari dalam rumah, suara ibu menggema.***


Romi Afriadi, dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau, pada tanggal 26 November 1991. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Beberapa cerpen dan tulisannya pernah dimuat di media online dan cetak. Beberapa lainnya juga terpilih dalam Antologi, di antaranya: Antologi cerpen #di rumah aja Apajake, Antologi cerpen Rumah Kayu Pustaka, Antologi cerpen genreSosio-Religi Unsa Press, dan Antologi cerpen Mbludus.com. Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di SSB Putra Tanjung. Bisa dihubungi lewat email: [email protected], akun Facebook Romie Afriadhy.