Buku, Resensi

Revolusi dari Ladang Bawang dan Gandum

Oleh Setyaningsih

Puisi-puisi Pablo Neruda (1904-1973), meski diberi judul 100 Soneta Cinta (2019) yang secara personal dipersembahkan kepada seorang perempuan sekaligus istri dari pernikahan ketiga, Matilde Urrutia, adalah cara lain untuk mencintai kejelataan, rakyat, alam, negeri. Neruda sengaja tidak memilih cara yang keras atau megah seperti tertulis di persembahan, “Tetapi, dengan penuh kerendahan hati, aku membuat soneta-soneta dari kayu belaka; aku memberi mereka bunyi dari benda yang kusam dan murni ini, dan begitulah mereka akan menyentuh telingamu.”

Sebagai penyair yang turut dalam percaturan politik Cile, puisi-puisi Neruda memang suara dari revolusi yang tenang. Di sini, unsur tetumbuhan begitu lekat muncul sebagai metafora sekaligus lanskap kehidupan rakyat yang dekat dengan tanah, matahari, keringat, batu bara, dan kehidupan. Tetumbuhan pernah hadir memperdengarkan manis dari cinta, di sisi lain tepat menggambarkan manis peluh perjuangan.

100 Soneta Cinta terbagi dalam empat babakan waktu; Pagi, Siang, Petang, Malam dengan penomoran romawi. Cerap puisi I, Matilde, nama tetanaman atau anggur atau batu,/ semua apa yang berasal dari bumi dan bertahan:/ kata kepada siapa tumbuh mekar pagi permulaan,/ kepada siapa kemarau memancarkan kilau limau./…/ O nama yang telentang telanjang di selusur bunga/ seperti sebuka pintu menuju lorong labirin rahasia/ yang mengabarkan dan mengobarkan wangi dunia!

Rubrik Iqra majalah Tempo, 6 Mei 2001, menampilkan ulasan tentang peraih Nobel Sastra 1971 berjudul “Pablo Neruda, Batavia, dan Kudeta”. Pada 1930, Neruda sempat dikirim ke Batavia sabagai staf konsulat Cile. Inilah masa-masa penuh kesepian akut dan tidak teredakan meski Neruda menikah dengan perempuan Jawa-Belanda. Selama dua tahun di Batavia, lahirlah puisi-puisi yang cenderung gelap dan surealis. Saat kembali ke Santiago pada 1952, Neruda beralih ke hal-hal biasa yang sangat keseharian. “Ia menulis ode untuk benda-benda remeh-temeh sehari-hari yang menjadi bagian hidup orang jelata seperti bawang, seledri, garam, gunting, tomat, sikat gigi, sepatu tua, dan anggur. Menurut Neruda, sebuah cakrawala benda yang tumbuh dalam bauran keringat, asap, diliputi bunga bakung dan air kencing. Benda-benda yang menurutnya dimiliki sosok rakyat dan dipenuhi noda tetesan sup.”

Peralihan corak puisi juga dipengaruhi oleh sikap politik Neruda yang menguat antara 1943-1947. Dengan melibatkan diri di Partai Komunis Cile dan terpilih menjadi senator, mendukung pemogokan besar pekerja tambang melawan kekuasaan Gonzalez Vida yang pro asing, melawan kediktatoran militer, justru menguatkan potret kejelataan dan perlawanan tenang dalam puisi-puisi. Politik memang ganas, puisi meredakan. Cerap, puisi XXXVI, Kekasih hatiku, ratu di sarang lebah dan pekarangan,/ macan kecil dari untaian benang dan bawang-bawang,/ aku senang memandang kerajaan kecilmu berkilauan:/ anggur, minyak, dan cahaya lilin yang serupa pedang,/ bawang putih, dan tanah yang terbuka bagi tanganmu,/ bahan-bahan biru yang berpendar di telapak tanganmu,/ perpindahan dari alam mimpi ke lembar-lembar selada,/ seekor ular yang melingkar di ladang, di parit-paritnya.

Terutama nuansa agraris hadir di puisi Neruda yang begitu romantik bersahaja memang suatu ironi saat Amerika Latin dirongrong kekuatan asing dan dibawa ke arus industrialisasi yang destruktif. Dari bawang, lembar selada, ulat, ladang, atau anggur, hadir pernyataan sikap moral Neruda untuk mencintai rakyat, negeri, dan Matilde secara khusus. Dari keterlibatan politik dan pengasingan yang keras, pembaca justru mendapati ketakjuban dari hal-hal yang tampak biasa saja.

Tentu, nuansa cinta yang sensual tetap masih dapat tersimak seperti pada puisi XII, Perempuan penuh, daging-tubuh apel, bulan panas berkobar,/ kental aroma rumput laut, lumpur dan sinar yang menyamar,/ rahasia terang macam apa yang terkuak dari tiang-tiangmu?/ Malam purba apa yang lelaki mampu sentuh dengan akalnya? Namun, Neruda bisa saja membolak-balikkan persepsi kita pada kemolekan perempuan yang sebenarnya menunjukkan kemolekan (tubuh) alam. Di sini, gejolak keseharian jauh dari yang politis sanggup diwakili, salah satunya oleh gandum yang menghidupi dan dihidupi setiap rakyat. Cerap puisi XIII, Rerumputan gandum padamu, pada hari yang baik,/ pada musim panen, serbuk tepung itu mengembang:/ bagaikan adonan yang tumbuh jadi buah dada cantik./ Cintaku, menunggu di bumi, adalah bara batu arang.

Kecintaan Neruda pada rakyat pun direkam oleh novelis kelahiran Cile, Antonio Skármeta, di novel Il Postino (2002) dalam hari-hari terakhir Neruda di desa nelayan Isla Negra. Neruda mengatakan kepada Mario si tukang pos bahwa dia lebih butuh penggali kubur daripada dokter, “Penggali kubur adalah profesi terhormat, Mario. Tidakkah kau ingat dalam Hamlet penggali kubur berkata: Tidak ada gentlemen kuno kecuali tukang kebun, penggali parit, dan para pembuat liang kubur; merekalah para penerus profesi Adam.” Gubahan Shakespeare tidak hanya referensi dalam kehidupan bersastra. Ada penghormatan sekaligus kekudusan besar dari profesi yang bersentuhan dengan hal-hal “bawah” secara harfiah maupun esensial.

Mereka yang dekat dengan tanah, tetumbuhan, dan keringat justru mewujudkan religiositas sehari-hari. Di puisi C, Neruda menulis, Alangkah indah dunia! Alangkah wangi peterseli!/ Di hamparan kemanisan, O kapal yang mengarungi! Dan kau, barangkali, permata—dan aku, barangkali./ Tidak akan ada lagi perpecahan pada genta-genta./ Tidak ada lagi apa pun selain segala adalah udara/ terbuka, buah-buah apel dimain-mainkan angin,/ lembar-lembar halaman buku lembab di beranda:/ Dan di sana bunga anyelir bernapas, kita akan/ mulai meluruhkan pakaian yang menghalangi/ keabadian sebuah ciuman kemenangan.

Puisi cinta Neruda memberi keberpihakan pada rakyat biasa, yang dalam kepentingan politik sering menjadi sasaran perbudakan, kapitalisme, kemarjinalan, dan kesengsaraan. Neruda mencintai kaum bawah dengan serius tapi manis seolah menemukan wangi peterseli, bau ladang anggur, atau apel-apel yang membawanya turut berada di pinggir untuk merasakan apa yang benar-benar dialami oleh rakyat dan negerinya. Memang, terkadang revolusi tidak dimulai dari wilayah serba melimpah dan mewah serta di bawah todongan bedil atau panji militer.


Setyaningsih, esais dan penulis Kitab Cerita (2020). Bisa dihubungi lewat surel: [email protected]

Buku, Resensi

Menanyakan Identitas: Orang Korea di Jepang

Oleh Setyaningsih

Dituturkan dalam empat generasi merentang selama 80 tahun, novel Pachinko (2019) garapan Min Jin Lee adalah rekonsiliasi panjang nan rumit orang-orang Korea di Jepang. Terutama diwakili oleh generasi kedua, tokoh perempuan bernama Sunja dinikahi dan diselamatkan misionaris Kristen asal Pyongyang, Baek Isak, dari Busan ke Osaka. Saat itu masa-masa kolonialisme Jepang di Korea. Sunja dihamili oleh seorang Korea yang mapan tapi telah beristri dan memiliki tiga anak di Jepang. Sunja menolak menjadi istri simpanan.

Bersama Isak yang siap mengakui anak di perut Sunja sebagai anak sendiri, Sunja memulai kehidupan yang sama sekali berbeda. Di Osaka, Jepang, orang-orang Korea ditempatkan di wilayah terkumuh, sulit memiliki properti strategis, dikondisikan bekerja lebih rendah dari orang Jepang, dicap malas dan kriminal. Diskriminasi di negeri penjajah tidak terelakkan, tapi tanah air yang ditinggalkan pun dalam kondisi krisis. Myung Oak Kim dan San Jaffe (The New Korea, 2013), membabarkan bahwa orang Korea di Jepang terbagi dalam dua kelompok yang sama-sama terdesak, rakyat miskin yang memilih pindah untuk mencari pekerjaan dan yang terpaksa pindah untuk bekerja di tambang dan pabrik demi membantu Jepang pada masa Perang Dunia II.

Situasi politik yang kacau, desakan ekonomi, ketiadaan makanan, membuat orang-orang Korea bermigrasi ke Jepang di masa kolonial dan bertahan sampai generasi keempat atau kelima. Namun, mereka tetap saja dianggap asing atau disebut dengan istilah ambigu-menyakitkan, Zainichi (penduduk asing yang tinggal di Jepang). Hidup yang telah sedemikian berkompromi menjalani naturalisasi yang tidak mudah, tetap menempatkan orang-orang Korea sebagai pihak “lain” dan “luar”.

Min Jin Lee benar-benar memilih tokohnya di Pachinko sebagai representasi kekuatan dari kalangan bawah yang terpinggirkan. Para perempuan meski tidak terpelajar begitu tangguh menderita dan tetap bekerja untuk membesarkan anak-anak. Mereka memberesi urusan domestik berbekal cara hidup tradisional yang kuat dan ulet. Secara psikologis, para perempuan Korea lebih memiliki tameng untuk bertahan menjalani hidup.

Memutus

Noa, anak lelaki pertama Sunja, menjadi generasi yang sadar bahwa modernitas, kebebasan individu, kesetaraan, dan kebebasan tanpa diskriminasi harus diraih dengan intelektualitas. Namun dalam perjalanan akademis yang membuatnya bertemu aneka manusia dengan beragam cara pikir, ia justru semakin mengalami kehampaan identitas. Puncaknya ketika Noa marah kepada kekasih Jepang tak rasisnya, Akiko. Noa marah justru karena sikap Akiko yang terlalu santai dan abai pada identitas “kekoreaan” Noa seolah hal itu sangat eksotis dan menantang. Diceritakan,“… sebab Akiko tidak akan pernah percaya dia tak ada bedanya dengan orangtuanya, bahwa melihat Noa hanya sebagai orang Korea—baik atau buruk—sama saja dengan hanya melihatnya sebagai orang Korea yang buruk. Akiko tidak bisa melihat sisi manusiawi Noa, dan Noa menyadari inilah yang paling diinginkannya: dilihat sebagai manusia” (hal.361-362).

Di babak inilah, semakin memuncak kerapuhan jiwa seorang Noa yang semasa kecil begitu berbakti, berjuang untuk diakui bermartabat, ingin setara dengan Jepang, dan berambisi masuk kuliah untuk membanggakan keluarga serta hidup terhormat. Ditambah terkuak bahwa ayah kandung Noa seorang gengster atau yakuza, kehampaan semakin menjadi-jadi. Noa memutuskan hubungan dengan keluarga, meninggalkan kuliah, bekerja di arena pachinko, dan menikah. Semua ini berhasil dijalani dengan pertaruhan dilematis, menyembunyikan serapat-rapatnya identitasnya sebagai orang Korea. Bunuh diri akhirnya dipilih Noa untuk memutus seputus-putusnya dunia yang selalu meragukan identitasnya.

Mozasu, adik Noa-anak Sunja dan Isak, sebaliknya sejak kecil begitu membenci sekolah dan belajar. Ia lebih berkompromi dengan situasi diskriminatif dengan cara berkelahi atau melawan. Mozasu memilih bekerja di pachinko dengan keteladanan yang gemilang meski lagi-lagi, pekerjaan ini jelas dicap buruk bahkan oleh Noa. Yang dilakukan tetap berupaya hidup dengan keras, “Negara ini tidak akan berubah. Orang Korea seperti aku tidak bisa pergi. Kami mau ke mana? Tapi orang Korea di kampung juga tak berubah. Di Seoul, orang seperti aku dijuluki bajingan Jepang, dan di Jepang, aku hanya orang Korea kotor berapa pun yang kudapat atau sebaik apa pun aku. Lalu kenapa? Semua orang yang kembali ke Utara mati kelaparan atau ketakutan setengah mati” (hal. 440). Mozasu sadar bahwa uang dan kesuksesan tidak bisa mengubah identitas sebagai orang Korea. Pun tidak mampu mengubah cara pandang orang Jepang atas orang Korea.

Noa ataupun Mozasu yang mewakili dilema orang Korea sejak awal abad ke-20, mewakili dilema identitas hari ini. Batas geografis negara memang ada, tapi tidak menampik setiap orang menjadi bagian dari dunia. Sedang kekerasan, stigma, atau prasangka atas nama identitas di mana pun masih begitu lekat terjadi. Hal ini mengingatkan pada penuturan biografis jurnalis cum sastrawan Amin Maalouf (2004) saat disodori pernyataan apakah merasa “lebih Prancis” atau “lebih Lebanon”? Pertanyaan ini tidak sekadar memosisikan di antara dua negara, tapi juga bahasa dan tradisi budaya pembentuk identitasnya. Dalam pertalian fundamental yang bersifat etnis, religius, nasional, rasial ini, akhirnya setiap orang dipaksa menonjolkan identitas tunggal. Ramuan lain misalnya selera makanan, minat berbahasa, cita rasa kesenian tidak dihitung sebagai “pengalaman yang subur dan memperkaya bila si anak muda tersebut merasa bebas untuk menghidupinya sepenuhnya, bisa ia didorong untuk menerima segenap keberagamannya.”

Dan Korea yang merengkuh abad gemilangnya hari ini lewat teknologi dan budaya pop, terutama atas Jepang, belum akan selesai menanyakan identitas lewat Pachinko. Permainan pachinko memang tidak terelakkan dari kesan kotor dan citra sosial yang rendah serta tidak terhormat. Min Jin Lee menggunakannya untuk menandai gejolak-gejolak memaknai identitas. Ada pilihan untuk terus berekonsiliasi atau bersekutu dengan kematian. Bagi Mozasu, hidup memang seperti permainan pachinko, “yang pemainnya bisa mengatur tombol tapi juga mengantisipasi ketidakpastian dari faktor yang tak bisa dikendalikannya […] sesuatu yang tampak sudah pasti tapi tetap menyisakan ruang untuk ketidakteraturan dan harapan.”


Setyaningsih, esais dan penulis Kitab Cerita (2020). Bisa dihubungi lewat surel: [email protected]